Saturday, 25 December 2010

Mengapa Sarjana Menganggur ?


Pastinya dalam benak kita akan muncul pertanyaan , mengapa ? Mengapa banyak Sarjan yang menganggur ?Apakah karena secara ideologi dunia pendidikan sudah menjadi agen kapitalis atau menganut faham neoliberalisme?Apakah karena kurangnya sarana dan prasarana pendidikan yang sekarang ini banyak dikeluhkan?Apakah karena sistem (politik) pendidikan yang tidak benar?Ataukah karena sistem belajar mengajar yang tidak beres?Jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah mungkin.
Dan ada banyak factor yang menyebabkan sarjana menganggur , antara lain :
1.        mereka tidak memiliki keterampilan yang memadai
2.       tidak menguasai bidang yang digelutinya
3.       tidak memiliki wawasan yang luas
4.       tidak mampu membaca peluang apalagi menciptakan pekerjaan
Nah , dari beberapa factor tesebut bisa kita simpulkan bahwa mereka semua ( sarjana ) tidak memiliki ilmu pengetahuan yang memadai pada saat menamatkan pendidikannya .
            Keadaan tersebut terjadi karena sejak awal memasuki perguruan tinggi mereka memiliki motivasi yang keliru yaitu kuliah dengan tujuan hanya sekedar untuk mendapatkan selembar ijazah atau gelar kesarjanaan bukan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Atau mereka tidak diberikan pembekalan bagaimana seharusnya studi di perguruan tinggi, karena perkuliahan hanyalah salah satu agenda yang harus dijalani tapi bukan satu-satunya. Untuk mencapai IPK yang bagus sebetulnya tidak terlalu sulit, asalkan rajin mempelajari modul atau pelajaran yang diberikan oleh dosen pasti nilainya akan bagus. Tapi di dunia nyata IPK hanya sebagian kecil saja untuk meraih tangga kesuksesan. Kadang-kadang IPK juga tidak identik dengan luasnya ilmu pengetahuan yang dimiliki atau keterampilan yang dikuasai.
Sebetulnya bekal kesuksesan yang sudah pasti adalah banyaknya ilmu serta luasnya wawasan seseorang dan salah satu cara termudah dan paling fundamental untuk memperolehnya adalah dengan rajin membaca. Sebenarnya yang menjadi pemicu terjadinya tragedi pendidikan dan bencana pengangguran adalah malas membaca . Diperparah lagi dengan tidak adanya rangsangan dan dorongan dari lingkungan perguruan tinggi yang dapat membangkitkan minat dan kebiasaan membaca baik untuk mahasiswa maupun dosennya.
Ada sebuah pepatah mengatakan buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya. “Kunci” inilah yang sekarang ini hilang dalam tradisi pendidikan kita sehingga banyak orang yang melarat dan kelaparan padahal ada di depan gudang. Sebenarnya semua permasalahan atau masalah pendidikan bisa diselesaikan dengan membaca. Karena membaca adalah esensi pendidikan. Secara ekstrim mungkin dapat dikatakan lebih baik tidak sekolah atau kuliah tapi memiliki kegemaran membaca yang tinggi, daripada menjadi orang kuliahan tapi tidak memiliki tradisi membaca yang baik. Sejarah telah memberikan bukti kepada kita bahwa banyak orang yang sukses walaupun bermasalah dalam sekolahnya, misalnya novelis Agatha Christie, ratu reality show dan ratu baca Oprah Wimfrey, ilmuwan Michael Faraday, ahli debat Ahmad Deedat, entrepreneur Microsoft Bill Gates, dll. Di tanah air pun kita mengenal budayawan yang hidup tanpa ijazah seperti Ajip Rosidi dan Emha Aiun Nadjib yang oleh teman-temannya sering dijuluki “perpustakaan berjalan”. Mereka semua sukses karena membaca bukan karena sekolahan.
Sekarang ini, tanpa dibarengi dengan tradisi membaca yang baik, institusi pendidikan tinggi tidak dapat dijadikan jaminan untuk menjadi orang sukses dikemudian hari. Malah boleh dikatakan bahwa institusi yang paling banyak memproduksi pengangguran adalah institusi pendidikan. Dalam sejarah belum pernah ditemukan ada orang yang banyak ilmu atau pandai tapi menganggur. Sebenarnya para pengangguran tamatan perguruan tinggi yang ada sekarang ini adalah mereka yang memiliki permasalahan dengan minat membacanya atau minat membacanya rendah. Padahal memiliki kegemaran membaca merupakan conditio sine quanon untuk menjadi seorang intelektual maupun orang sukses.
Solusi
Maka solusi untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan memberikan kepada mereka semua bekal ilmu pengetahuan yang banyak dengan cara rajin membaca. Sesungguhnya problematikan pendidikan dan pengangguran bisa diatasi dengan membaca. Namun di sini akan mucul pertanyaan lagi , mengapa mereka tidak mau membaca? Pertama, karena tidak ada sarana untuk membaca. Jawaban ini adalah jawaban klise tapi paling banyak dipakai. Bagaimana mau menumbuhkan minat baca apabila bahan bacaannya tidak ada. Dengan anggapan seperti ini maka baik pemerintah maupun masyarakat berusaha untuk membuat perpustakaan atau taman bacaan dimana-mana. Memang harus diakui sarana pendidikan yang paling diabaikan oleh sekolah adalah perpustakaan. Perpustakaan juga tidak dijadikan salah satu faktor atau indikator untuk penilaian akreditasi. Banyak lembaga pendidikan terutama sekolah yang mendaptkan akreditasi “A” tetapi tidak memiliki perpustakaan. Sampai saat ini banyak dinas pendidikan yang tidak memiliki data perpustakaan sekolah yang ada didaerahnya, sebuah indikator ketidakpedulian terhadap perpustakaan. Profesor Sulistyo Basuki mengatakan bawa baru sepuluh persen sekolah di Indoneisa yang memiliki sarana perpustakaan memadai. Dalam dunia pendidikan sudah disepakati bahwa perpustakaan merupakan jantung pendidikan. Bisa kita bayangkan apa yang terjadi apabila seseorang memiliki jantung yang sakit, bahkan bagaimana mungkin tubuh tidak memiliki jantung? Maka dapat dipastikan dunia pendidikan akan senantiasa bermasalah apabila tidak membenahi perpustakaannya.
 Kedua adalah dengan menumbuhkan kesadaran pentingnya membaca untuk memperbaiki kualitas hidup. Salah satu penyebab tidak mau membaca adalah karena tidak ada kesadaran pentingnya membaca dalam diri seseorang. Menyediakan sarana memang penting tetapi bukan satu-satunya cara untuk merangsang minat baca masyarakat. Pada zaman sekarang ini, apalagi yang hidup di perkotaan, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mendapatkan bahan bacaan. Tetapi tetap saja mereka enggan ke perpustakaan atau membeli buku alias tidak memiliki kebiasaan membaca. Perpustakaan yang sudah dibuat di perguruan tinggi kalah menarik dengan kantin-kantin yang tumbuh subur di sekitar kampus, taman bacaan masyarakat yang bertebaran dimana-mana tetap saja sepi pengunjung. Ini adalah sebuah indikator bahwa kesadaran membaca masyarakat belum tumbuh.
Menumbuhkan atau menanamkan kesadaran membaca sebenarnya tidak terlalu sulit dilakukan. Ibarat membangunkan seseorang yang sedang tidur kemudian tersadar kembali. Metode yang digunakannya pun sangat simpel yaitu dengan pelatihan selama sehari penuh. Dengan mempelajari tradisi membaca orang-orang besar atau orang-orang sukses baik tingkat dunia maupun nasional, pelatihan ini telah berhasil menumbuhkan kesadaran pentingnya membaca bagi mereka yang belum pernah datang ke perpustakaan sekalipun.
Nah untuk mahasiswa sendiri pelatihan menumbuhkan kesadaran pentingnya membaca bisa dilakukan pada saat menjalani perkuliahaannya, atau paling bagus adalah saat orientasi studi mahasiswa baru. Pelatihan ini bersifat andragogis atau diperuntukan bagi remaja dan orang dewasa. Mengingat budaya masyarakat yang selalu menginginkan semuanya dapat dilakukan serba cepat atau instant, metode ini merupakan metode yang sangat efektif, karena tidak memerlukan waktu lama dan dapat dilakukan secara massif.
Saya solusi yang paling jitu untuk menanggulangi pengangguran, juga dapat dijadikan program nasional untuk mensejahterakan rakyat Indonesia adalah beternak “kutu buku” secara massif dan simultan.



Perlunya Mata Kuliah Ilmu Sosial Dasar Bagi Calon Pendidik

Perlu kita ketahui terlebih dahulu apa itu Kompetensi social . Pakar psikologi pendidikan Gadner (1983) menyebut kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Sedangkan kompetensi social adalah kemampuan seseorang berkomunikasi, bergaul, bekerja sama, dan memberi kepada orang lain. Kompetensi sosial ialah kemampuan seorang guru dan dosen untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar.
Itulah kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen, yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya.
Untuk mengembangkan kompetensi social seorang pendidik , ada 15 dimensi yang perlu kita ketahui , yaitu :
  • kerja tim,
  • melihat peluang,
  • peran dalam kegiatan kelompok,
  • tanggung jawab sebagai warga,
  • kepemimpinan,
  • relawan sosial,
  • kedewasaan dalam berelasi,
  • berbagi,
  • berempati,
  • kepedulian kepada sesama,
  • toleransi,
  • solusi konflik,
  • menerima perbedaan,
  • kerja sama,
  • komunikasi.
Kelima belas kecerdasansosial  ini dapat dijadikan topik silabus dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial bagi calon pendidik. Oleh karena itu , topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita.
Cara mengemas kompetensi social ini harus memerhatikan karakteristik masing – masing , baik yang berkaitan dengan aspek psikologis maupun sistemnya .
Untuk para mahasiswa sendiri , khususnya calon guru, dapat dimasukkan ke dalam mata kuliah dasar, seperti ”ilmu sosial dasar” yang sejajar dengan mata kuliah ”ilmu budaya dasar” dan ”ilmu sains dasar” dengan perubahan paradigma. Kalau sebelumnya ilmu sosial dasar berorientasi kepada penyampaian pengetahuan, dalam paradigma baru ini perlu ditambah dan ditekankan pada penanaman nilai-nilai atau kearifan-kearifan sosial.
Harapan yang dapat dinantikan dari adanya ilmu social dasar sebagai mata kuliah adalah :
1.    Calon guru ketika sudah lulus kemudian terjun ke masyarakat dirinya mampu beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik.
2.       Dapat melaksanakan berbagai program dalam lingkungan kerja untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan.
Dari poin tersebut maksudnya yaitu seorang guru bersedia ditempatkan dan ditugaskan dimanapun dia berada. Selain itu, seorang guru diharapkan pula mampu beradaptasi dengan lingkungan tempat ia ditugaskan.
Pada kurikulum KTSP, dijelaskan bahwa kurikulum tersebut menekankan pada pengembangan kemampuan peserta didik, sehingga dengan adaptasi yang baik dari seorang guru dimana ia ditugaskan, guru tersebut mampu melihat pola interaksi yang dipakai atau diterapkan dalam lingkungan tersebut, sehingga guru mampu membuat suatu metode yang bersifat inklusif, sehingga anak didik itu mampu menyerap apa yang disampaikan oleh pendidik dengan baik. Karena metode ceramah lebih banyak diterapkan dalam proses belajar mengajar sehari-hari, guru mampu memposisikan diri dengan lingkungan tempat ia mengajar, sehingga tujuan dari proses belajar mengajar itu dapat berhasil dengan metode ceramah terebut.
Dengan penerapan kurikulum KTSP yang menekankan pada sasaran pembelajaran, sehingga guru dapat memilih materi-materi pembelajaran yang efektif dan berguna sesuai dengan kondisi lingkungan dimana ia mengajar.
Namun demikian, banyak guru yang ditugaskan di daerah-daerah terpencil atau pedalaman, merasa tidak betah karena sarana dan prasarana yang tidak memadai seperti dimana tempat ia tinggal sebelumnya. Padahal sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007 mengenai kompetensi sosial pada poin diatas, seharusnya guru bersedia ditempatkan dimanapun dia berada. Guru diharuskan profesional dengan peraturan tersebut. Guru juga diharuskan memiliki kompetensi dalam hal adaptasi dengan lingkungan dimanapun di seluruh Indonesia yang memiliki keragaman sosial dan budaya yang berbeda dengan daerah asalnya.
Guru bukan hanya bertugas di kelas. Guru juga merupakan panutan dan teladan bagi lingkungan. Sehingga, guru diharuskan dapat berkomunikasi juga dengan lingkungan. Dengan hubungan sosial yang baik dengan lingkungannya, guru dapat bekerjasama dengan tokoh masyarakat guna melaksanakan berbagai program dalam lingkungan kerja di sekolahnya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan tersebut. Contohnya, jika guru perempuan dapat aktif di PKK daerah tersebut, maka guru juga dapat mengajarkan ilmu atau keterampilan yang dimilikinya guna diajarkan kepada masyarakat. Jika guru laki-laki, dapat berperan dalam pembinaan karag taruna atau pembinaan terhadap remaja masjid atau mushalla di daerah pedalaman atau terpencil tersebut. Jadi, selain dapat mencerdaskan peserta didiknya, guru juga dapat membina serta bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungannya. Dengan demikian, guru dapat memberikan manfaat kepada lingkungan dimana ia ditugaskan serta dapat pula menjalankan tugasnya dengan baik. Apabila guru tersebut telah berdedikasi terhadap lingkungannya, maka guru yang tidak betah tersebut dapat beradaptasi dan bertahan di tempat ia ditugaskan. Maka dari itu , mata kuliah ilmu social dasar sangatlah penting bagi mahasiswa yang mengmbil jurusa keguruan dan ilmu pendidikan.