Friday, 19 October 2012

This is Sekolah Malam


Akhirnya, setelah berjalan selama dua bulan kegiatan les tambahan ini saya beri nama SEKOLAH MALAM. Dengan beberapa alasan dan salah satunya adalah karena dilaksanakan waktu malam hari. Itu pasti!
Sebenarnya tak banyak yang bisa saya lakukan dalam sekolah malam ini. Karena masih banyak keterbatasan, baik itu dari tempat, media belajar dan pastinya tentang biaya. Lagi-lagi jurus berkah dari Allah yang bisa saya terapkan. Semua pati akan ada jalan kalau kita ada niat.
Cerita lain dari SEKOLAH MALAM ini yang perlu pembaca ketahui bahwa sekolah ini tidak dipungut biaya dalam artian untuk tenaga saya. insyaAllah saya lakukan untuk saling belajar. Saya belajar, mereka juga belajar. Sekolah ini dimulai setelah adzan isya (setelah mereka mengaji). Dan dilaksanakan selama satu jam (60 menit), mengingat mereka yang sudah beraktifitas selama seharian. Takutnya malah tidak efektif dan efisien apa yang saya sampaikan. Selain itu, mereka iuran Rp 1000 bagi yang mampu, itu juga digunakan untuk membeli kertas, fotokopi materi dan sebagainya.
Saya mohon doa dan dukungan dari pembaca, semoga apa yang saya lakukan ini segera mendapatkan titik terang. Karena jujur saja, masih banyak yang harus dibenahi berkaitan dengan SEKOLAH MALAM ini. Saat ini, saya juga sedang mencari donatur yang ingin menyumbangkan meja panjang dan lampu agar SEKOLAH MALAM ini berjalan lebih efektif dan efisien. Jika Anda berminat, bisa hubungi saya di 085727351413. Atau facebook saya, searching aja, ichameweek@yahoo.co.id. Terimakasih.
Harapan saya, semoga di luar sana ada anak muda yang ikut serta mengikuti jejak saya dalam rangka mencerdaskan anak bangsa. Aamiin.

Wednesday, 3 October 2012

TAK MAU MELIHAT IBU MENANGIS KARENAKU

Ibu sedang asyik dengan gadget


Baru saja saya melihat salah satu status FB teman kuliah saya, yang setidaknya isinya seperti ini, “Jangan marah dengan saya yaa, karena saya tidak bisa pulang banyak tugas.” Sebenarnya inti dari pembicaraan status itu menceritakan bahwa dia tidak bisa pulang ke rumah alias tetap di kost karena sedang banyak tugas. Tapi kembali lagi pada pribadi masing-masing, memilih tugas atau keluarga.
Dan malam ini, karena status teman saya di atas dan juga karena momennya yang pas, saya teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. Siang itu saya melihat ibu menangis karena ulah saya. Yang intinya karena tugas.
Hari itu ibu meminta saya untuk mengantarkan ibu ke Pati, tempat nenek karena kebetulan sedang ada acara penting. Sebenarnya ada bapak. Tapi karena bapak harus kerja, pelampiasan mengarah pada saya. Lagi – lagi dengan alasan tugas saya mengotot untuk tidak mau mengantar ibu. Tidak tahu apa yang saya pikirkan saat itu. Yang saya pikirkan hanyalah tugas, tugas, tugas, dan tugaaaassss terus. Saya berpikir kalau tugas ini tidak selesai-selesai maka nanti saya kaan mendapat nilai yang jelek!
Adu mulutpun terjadi anatara saya dan ibu, sampai keluar kalimat dari mulut saya, “Ibu naik bus aja, beres!” Seketika ibu diam dan pergi dari hadapanku sekalaigus mengakhiri pembicaraan kami.
Saya masuk kamar melanjutkan tugas kembali. Dari dalam kamar saya mendengar ada suara tangisan. Saya yakin itu adalah suara tangisan ibu. Saya berpikir, apakah ibu tersinggung dengan perkataan saya tadi? Padahal saya tadi hanya bicara seperti itu. Apa iya karena soal tadi?
Saya memberanikan diri menghampiri ibu. Karena pada dasarnya saya adalah orang yang tidak pernah kuat melihat ibu menangis. Saat itu juga, bendungan dalam diri saya akan sebera jebol. Dan akhirnya air mata tumpah bersamaan dengan pelukan yang saya berikan kepada ibu. Saya meminta maaf kepada ibu dan bercerita kalau sebenarnya saya capek karena satu minggu sudah aktif kuliah. Dan tahukah apa yang dibicarakan ibu? “Selama ini ibu tidak pernah minta apa-apa ke adik, tapi kenapa giliran ibu hanya minta dianterin ke temapat nenek nggak mau? Sakit rasanya hati ibu.”
Malam ini juga, ibu meminta dianter ke tempat nenek yang perjalanannya sekitar 2,5 jam dari rumah. Dalam keadaan yang sama, tugas sedang menumpuk. Tapi hari ini saya tidak ingin membuat ibu menangis untuk kedua kalinya.