Saturday, 10 November 2012

Ada apa dengan Sekolah Malam?



Beberapa hari ini saya merasa Sekolah Malam banyak mengalami kendala. Baik itu dari saya sendiri dan dari pihak anak-anak. Dari saya sendiri karena saya seminggu ini sedang Ujian Tengah Semester. Jadi semua terbagi. Saya lebih fokus pada ujian saya. Sedangkan pada anak-anak, saya tdak tahu pasti tapi yang pasti anak-anak ada yang mulai bosan.
Selain itu, ada satu lagi masalah berkaitan dengan Sekolah Malam. Dana dari Akbar Riyanti yang sedia menjadi donatur Sekolah Mlama untuk membeli meja dan lampu tidak sampai-sampai. Tidak tahu masalahnya apa? Tapi yang pasti karena beda bank. Tapi menurut info yang saya tanyakan paling lambat tiga  hari sudah sampai, tapi ini sudah hampir dua minggu tapi tidak ada tanda-tanda kalau uang transferan itu sampai di rekening saya.
Padahal saya sudah bercerita kepada anak-anak kalau nanti akan membelikan meja. Saya takut kalau hanya memberikan harapan palsu kepada mereka. Tapi tidak, saya mohon doa dari pembaca semoga uang itu segera ada kejelasannya. Dan saya bisa melihat senyum bahagia dari anak-anak. Dan pembelajaran di Sekolah Malam bisa berjalan dengan sewajarnya. Dan mohon doa lagi, semoga saya masih berada pada keteguhan hati saya, mencerdaskan anak bangsa. Aamiin.

Bambang Oh Bambang

Lepas maghrib saya sampai di rumah. Selesai memberikan les privat untuk Nicho. Sholat kemudian istirahat sebentar membuka materi UTS untuk esok hari. Tapi hasilnya malah ngantuk.
He, besok adalah UTS mata kuliah filsafat pendidikan. Mata kuliah yang diampu oleh profesor perempuan yang saya idolakan, meskipun terkadang ketika beliau mengajar di kelas, tak ada yang benar-benar bermakna apa yang disampaikannya. Ya, mungkin karena ada rasa tertekan. Dan ini tidak hanya saya yang mengalami. Bahkan semua mahasiswa akan dipusingkan dengan maa kuliah yang berhubungan dengan filsafat, ditambah dosennya yang ehm......
Tapi bukan itu maksud saya memposting tulisan ini, tapi cerita saya yang satu ini.
Selesai memberikan Sekolah Malam untuk kelas enam, tiba-tiba ada keponakan datang. Bambang namanya. Katanya dia ada PR. Dengan senang hati kulihat lah buku miliknya. DAM! Yang kulihat pertama kali adalah lingkaran peyok besar sekali berwarna merah lengkap dengan emotion orang bersedih.
MasyaAllah, hati ini rasanya begitu pedih. Selama ini saya mencerdaskan anak orang meskipun tanpa bayaran dan kini aku melihat kenyataan bahwa saudara terdekat saya sangat butuh bantuan saya. Kemana saja saya selama ini?
Meskipun saya bukan ahli agama, tapi saya pernah mendengar sebuah hadist yang intinya adalah beramallah untuk orang sekitarmu terlebih dahulu baru yang jauh. Tapi apa yang sudah saya lakukan?
Mari koreksi diri sendiri. Lihat terdekat Anda, baru menengok keluar. Mungkin para pembaca juga mengalami apa yang saya alami? Atau mungkin pembaca sudah sangat paham betul dengan bunyi hadist itu.