Thursday, 2 May 2013

APLIKASI KETRAMPILAN MENGGAMBAR MELALUI KEGIATAN MENDONGENG PADA SISWA KELAS 1 SD NEGERI 1 KEBONAGUNG, DEMAK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    LATAR BELAKANG

Menggambar yang dalam bahasa Inggris di kenal dengan kata drawing memiliki arti kegiatan-kegiatan membentuk imaji, dengan menggunakan banyak pilihan teknik dan alat. Bisa pula berarti membuat tanda-tanda tertentu di atas permukaan dengan mengolah goresan dari alat gambar (wikipedia.org).

Menggambar adalah kegiatan yang digemari oleh siswa-siswa. Melalui menggambar, mereka bisa menuangkan imajinasinya. Selain itu, dari karya mereka dapat diketahui pula bagaimana perkembangan kecerdasan dan ketrampilan sang siswa. Kegiatan menggambar bisa dilakukan di mana saja, di rumah, di taman bermain, ataupun sekolah.

Di sekolah, misalnya, guru sering memberikan tugas menggambar kepada siswa. Dengan dalih memberikan kebebasan berekspresi kepada siswa dalam menggambar, guru memberikan tugas tersebut tanpa memberikan stimulus kepada siswa sebelum menggambar.

Menggambar merupakan salah satu kegiatan untuk menuangkan suatu ide atau cerita dalam bentuk dua dimensi. Dibutuhkan sebuah stimulus untuk menciptakan suatu ide. Banyak cara untuk memberikan stimulus kepada siswa sebelum melakukan kegiatan menggambar. Salah satunya adalah dengan kegiatan mendongeng yang dilakukan oleh guru.

Mendongeng adalah suatu kegiatan membacakan cerita untuk siswa. Mendongeng juga dipercaya memiliki banyak sekali manfaat bagi perkembangan siswa. Salah satunya adalah dapat meningkatkan daya imajinasi siswa. Oleh karena itu, dengan kegiatan mendongeng yang digunakan guru sebagai stimulus dapat menciptakan daya imajinasi siswa yang selanjutnya bisa dituangkan dalam bentuk gambar.

Pada tulisan ini akan membahas tentang implementasi kegunaan kegiatan mendongeng sebagai stimulus yang membentuk imajinasi pada siswa dalam mempermudah ketrampilan menggambar pada siswa.

1.2    IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1.    Ketidaksadaran guru tentang pentingnya stimulus sebelum pemberian tugas menggambar.
2.    Ketidakpahaman guru akan pentingnya mendongeng bagi perkembangan kecerdasan siswa.
3.    Kurangnya kreatifitas guru dalam pembuatan media yang menunjang proses mendongeng.

1.3    RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah disajikan, disusunlah rumusan sebagai berikut:
1.    Mengapa ketrampilan menggambar dibutuhkan oleh siswa SD?
2.    Apakah dampak dari kegiatan mendongeng bagi perkembanagn kecerdasan siswa?
3.    Bagaimanakah peranan kegiatan mendongeng sebagai stimulus ketrampilan menggambar pada siswa SD?

1.4    TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menggambarkan imajinasi dari hasil stimulus guru pada siswa kelas 1 di SD Negeri 1 Kebonagung, Demak.
Sedangkan tujuan penelitian secara khusus adalah sebagai berikut:
1.    Mengetahui hasil gambar dari siswa.
2.    Memahami peran penting dari kegiatan mendongeng sebagai stimulus.
3.    Mengetahui cara guru dalam proses pembelajaran.
4.    Mengetahui manfaat menggambar bagi siswa.
5.    Mengetahui manfaat dari kegiatan menggambar bagi siswa ke depannya.
1.5    PENEGASAN ISTILAH

Untuk mempermudah memahami isi dari tulisan ini, maka alangkah lebih baiknya pembaca mengetahui beberapa istilah seperti di bawah ini:
1.    Imajinasi          : daya pikir untuk membayangkan
2.    Menggambar   : membuat gambar
3.    Mendongeng   : menceritakan dongeng
4.    Stimulus          : merangsang organisme bagian tubuh untuk menjadi aktif
5.    Respon            : tanggapan; reaksi; jawaban

1.6    MANFAAT PENELITIAN

a.       Manfaat Praktis
1.    Bagi siswa,  diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi strategi yang memudahkan siswa dalam menggambar.
2.    Bagi guru, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pembelajaran menggambar kepada murid-muridnya.
3.    Bagi orang tua dan masyarakat pada umumnya, diharapkan melalui hasil penelitian ini dapat menambah pemahaman terhadap dunia siswa dan selalu menjadikan kegiatan menggambar sama pentingnya dan bahkan dapat saling mempengaruhi antara bidang satu dengan bidang yang lainnya.

b.      Manfaat Teoritis
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan untuk khasanah ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang pendidikan seni yang berkenaan dengan kolaborasi keterampilan bahasa dengan keterampilan menggambar


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1    Ketrampilan Menggambar pada Siswa SD
2.1.1        Karakteristik Siswa SD

Siswa usia sekolah dasar pada umumnya ada pada usia 6 sampai dengan 12 tahun. Pada rentang usia tersebut siswa mengalami fase tertentu, yaitu masa usia sekolah dasar sering disebut juga sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Ditinjau dari sudut pandang psikologis masuk dalam kategori childhood, di mana siswa mengalami masa peralihan dari masa siswa menuju awal remaja.

Menurut Piaget (1950: 45-49) ”pada masa itu adalah siswa mengalami yang disebut dengan tahap operasi konkret (concrete operations)” dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Siswa sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang bersamaan. Pemikiran siswa dalam banyak hal sudah lebih teratur dan terarah karena sudah dapat berpikir seriasi, klasifikasi dengan lebih baik, bahkan mengambil kesimpulan secara probabilitas.

Secara umum pada usia sekolah dasar ini, dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap I pada usia 6-7 tahun, tahap ke II usia 8-9 tahun, dan tahap III pada usia 10-12 tahun. Berikut ini karakteristik siswa usia sekolah dasar pada setiap tahapnya, namun demikian perlu diketahui adanya perbedaan tingkat kecepatan kematangan siswa sangat dipengaruhi oleh kehidupan lingkungan sosial budaya masyarakatnya.

Menurut Brandy (1991: 35-37) yang didukung beberapa ahli yang lain, mengemukakan ciri-ciri siswa pada siswa pada usia 6 dan 7 tahun sebagai berikut:
a.    siswa beralih dari daya pikir siswa yang bersifat imajinatif, ke cara berpikir tahap operasional konkret, hal ini juga didukung oleh Piaget yang mengemukakan, bahwa siswa mulai berpikir tentang perbedaan bahkan menentang dan bersikap hati-hati;
b.    siswa mulai mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri;
c.    menerima konsep secara benar (baik) berdasarkan hadiah dan persetujuan;
d.   melanjutkan perkembangan pemerolehan bahasa;
e.    sudah mulai memisahkan antara fantasi dari realitas;
f.     belajar berangkat dari persepsi dan pengalaman langsung;
g.    mulai berpikir abstrak, namun belajar lebih banyak terjadi berdasarkan pengalaman konkretnya;
h.    lebih membutuhkan suatu pujian dan persetujuan dari orang dewasa;
i.      menunjukkan sensitivitas rasa dan sikap terhadap siswa disekitarnya dan orang dewasa;
j.      belajar berpartisipasi dalam suatu kelompok sebagai anggota;
k.     mulai menumbuhkan rasa keadilan dan menginginkan perasaan yang bebas dari orang dewasa;
l.      menunjukkan perilaku yang egosentris bahkan sering menuntut apa yang menjadi keinginannya.


Selanjutnya dikemukakan lagi oleh Brandy (1991: 35) bahwa siswa usia 8 dan 9 tahun:
a.    pemfungsian tahap berpikir operasional konkret menurut Piaget, bahwa siswa sudah mulai berpikir lebih fleksibel dan hati-hati;
b.    Erickson berpendapat bahwa siswa mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri;
c.    mulai menerima konsep yang benar berdasarkan aturan;
d.   memiliki perhatian dan penghormatan dari kelompok kini lebih penting;
e.    mulai melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain bahkan sifat egosentris sudah semakin berkurang;
f.     mulai mengembangkan konsep dan hubungan spasial;
g.    menghargai petualangan imaginatif;
h.    mulai menunjukkan minat dan keterampilan yang berbeda dengan kelompoknya;
i.      mempunyai ketertarikan pada hobi bahkan koleksi yang lebih bervariasi;
j.      adanya peningkatan kemampuan mengutarakan sebuah ide ke dalam kata-kata; dan
k.    sudah mulai membentuk persahabatan yang khusus dengan temannya.

Perkembangan siswa pada usia 10 sampai 12 tahun:
a.    pemfungsian tahap operasional konkret menurut Piaget, bahwa siswa sudah dapat melihat hubungan yang lebih abstrak;
b.    siswa mulai berpengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri;
c.    dapat menerima masalah yang benar berdasarkan ke-fairan;
d.   sudah mempunyai ketertarikan yang kuat dalam sebuah aktivitas sosial,
e.    minat pada kelompok sudah lebih meningkat bahkan mencari kekariban dalam sebuah kelompok;
f.     mengadopsi orang lain menjadi model daripada orang tua;
g.    mulai menunjukkan minat pada aktivitas yang khusus;
h.    mulai mencari persetujuan dan ingin mengesankan;
i.      ingin menunjukkan kemampuan serta kemauan untuk melihat sudut pandang orang lain;
j.      mencari nilai-nilai;
k.    menunjukkan adanya perbedaan di antara individu;
l.      mempunyai cita rasa keadilan bahkan kepedulian terhadap orang lain; dan
m.  memahami dan menerima adanya aturan berdasarkan perbedaan jenis kelamin.

2.1.2        Pengertian Menggambar


Menggambar merupakan bagian dari bidang seni rupa murni yang berwujud dua dimensi, sehingga menggambar merupakan karya yang terlepas dari unsur-unsur kegunaan praktis. Lebih jelas lagi menggambar merupakan suatu pengucapan pengalaman artistik seseorang yang dicurahkan ke dalam bidang dua dimensi dengan menggunakan garis, warna, bidang, dan tekstur (Retnowati, 2010: 52).

Menggambar yang dalam bahasa Inggris di kenal dengan kata drawing memiliki arti kegiatan-kegiatan membentuk imaji, dengan menggunakan banyak pilihan teknik dan alat. Bisa pula berarti membuat tanda-tanda tertentu di atas permukaan dengan mengolah goresan dari alat gambar (wikipedia.org).
Sedangkan menurut Sudjono yang dilansir melalui carapedia.com mengungkapkan menggambar adalah proses jiwa kita dan bukan gambar jiplakan karya orang lain.

Di dalam menggambar ada beberapa hal yang harus diperhatikan menurut Retnowati (2010: 52-58), diantaranya adalah sebagai berikut:

a.    Garis
Pada dasarnya garis merupakan elemen utama dalam seni lukis, karena garis yang pertama menentukan bentuk suatu karya lukis secara keseluruhannya.
Garis merupakan hasil suatu goresan yang diakibatkan oleh sebuah titik bergerak lurus sehingga membentuk jejak. Garis adalah batas limit suatu benda, massa, ruang, warna, dan susunan dari objek-objek. Wujud garis dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1.      Garis nyata, garis ini dihasilkan dan terjadi karena suatu goresan, sehingga meninggalkan bekas yang nyata,
2.      Garis semu, yaitu garis yang terjadi karena kesan yang dapat ditangkap oleh mata yang sesungguhnya merupakan batas limit suatu benda, massa, ruang, warna, dan susunan objek.

Selanjutnya Ruta (2005: 22) mengatakan bahwa garis dapat menyatakan bentuk, gerak, irama, tekstur, gelap terang, suasana, dan kontur.

Apabila dilihat dari bentuk garis, Djelantik (1999: 19) mengemukakan bahwa garis sebagai bentuk mengandung arti lebih daripada titik karena dengan bentuknya sendiri garis menimbulkan kesan tertentu pada pengamat. Garis yang kencang memberikan perasaan yang berbeda dari garis yang berbelok atau melengkung. Yang satu memberi kesan yang kaku, keras, dan yang lain memberikan kesan luwes dan lemah lembut. Kesan yang diciptakan juga tergantung dari ukuran, tebal-tipisnya, dan dari letaknya terhadap garis-garis yang lain, sedangkan warnanya berfungsi sebagai penunjang dan menambahkan kualitas tersendiri.
Sesuai dengan pendapat di atas, garis merupakan sebuah goresan, kumpulan dari beberapa titik dan sebuah bentuk yang mengandung arti yang melebihi daripada titik, karena bentuknya yang menimbulkan perasaan tertentu kepada si pengamat.

b.    Bidang
Bidang merupakan suatu area yang dibatasi oleh garis, baik garis nyata maupun garis semu. Dengan demikian, titik dapat berupa bidang, namun bidang belum tentu titik. Demikian juga dengan garis, bahwa garis dapat berupa bidang, namun bidang belum tentu berwujud garis. Jenis bidang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu:
1.      Bidang geometris, dibuat secara terukur
2.      Bidang organik, dibatasi oleh garis lengkung bebas yang mengesankan keceriaan dan pertumbuhan
3.      Bidang bersudut, dibatasi oleh beberapa garis lurus yang secara matematis tidak bertalian.
4.      Bidang tak beraturan, dibatasi oleh garis lurus dan lengkung yang secara matematis tidak bertalian.

c.    Ruang
Ruang dapat diartikan sebagai keluasan yang dibatasi oleh limit baik keluasan positif maupun keluasan negatif. Keluasan positif yaitu ruang yang sering menggambarkan objek sedangkan keluasan negatif yaitu keluasan dalam bentuk dua dimensi ruang negatif ini sering menjadi background.

Beberapa teknik dalam pencapaian ruang dalam karya dua dimensi yaitu:
1.   Penumpangan, satu bentuk menumpang pada bentuk lain. Bentuk yang nampak berada di depan atau di atas bentuk lain.
2.   Pergantian warna, semakin jauh suatu benda warnanya semakin memudar atau warna panas akan berkesan mendekat, sedangkan warna dingin berkesan menjauh.
3.   Pergantian bentuk dan ukuran, yaitu semakin jauh suatu bentuk akan terlihat semakin kecil.
4.   Pergantian tekstur, tekstur yang kasar akan tampak lebih dekat dibandingkan dengan tekstur halus.
5.   Pelengkungan atau pelekukan, hal in terjadi dengan menukarkan kedudukan bentuk untuk membangkitkan ruang maya.
6.   Penambahan bayangan pada bentuk, yaitu penambahan dapat dilakukan di belakang atau di depan.
7.   Manipulasi dengan teknik gelap terang atau dengan perbedaan/perubahan tekstur.

d.   Tekstur
Tekstur merupakan nilai raba suatu permukaan benda. Nilai raba suatu permukaan benda tersebut dapat berbeda-beda, ada yang kasar, halus, keras, lunak, kasap, dan licin. Jenis tekstur ada dua macam, yaitu: tekstur nyata dan tekstur semu. Tekstur nyata yang dimaksud disini adalah nilai raba suatu permukaan benda secara fisik dapat dirasakan oleh indra raba, misalnya tekstur batu. Sedangkan tekstur semu adalah nilai raba suatu permukaan benda hanya dapat dinilai secara visual, tetapi tidak dapat dinilai atau dirasakan oleh alat indra raba.

e.    Warna
Warna yang sering kita lihat atau gunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi tiga dimensi, yaitu:
1.   Hue, yaitu istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna, seperti merah, oranye, kuning, hijau, biru, dan lain-lain.
2.   Value, yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan terang gelapnya warna. Terangnya seluruh warna adalah putih dan gelapnya seluruh warna adalah hitam. Oleh karena itu putih dan hitam tidak termasuk dalam lingkaran warna. Merubah value menjadi terang dapat dengan cara menambah warna putih secara bertingkat disebut tint, sebaliknya merubah value menjadi gelap dengan cara menambah warna hitam secara bertingkat disebut shade.
3.   Intensity, berkaitan tentang cerah dan suramnya warna, yaitu kualitas dari suatu warna yang menunjukkan suatu hue. Hue yang murni adalah cemerlang dan kuat. Hue dalam intensitasnya yang lebih rendah adalah lebih lembut. Mengurangi intensitas suatu warna dapat dicapai dengan mencampur atau menambah hue yang murni dengan warna-warna netral seperti putih, hitam, dan abu-abu atau mencampur dengan warna komplemennya atau dapat juga dengan warna-warna yang ada di sebelahnya.

2.1.3        Tipologi Gambar pada Siswa SD Kelas Rendah


Siswa dalam usia 6 sampai 12 tahun memiliki karya seni rupa yang bersifat khas sebagai cerminan dari tingkat kemampuan dan kesenangannya. Pertumbuhan dan perkembangan realitasnya tidak dapat dipisahkan. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran struktur yang mempengaruhi perkembangan intelektual dan mental siswa.
Dalam In Education Through Art, Read (1958: 140) mengklasifikasikan gambar siswa-siswa menjadi 12, yaitu: Organic, Lyrical, Impresionist, Rhytmical Pattern, Structur Form, Shematic, Haptic, Expresionist, enumeratif, Decorative, Romantic, dan Literary.
a.    Organic
Berkaitan serta bersimpati dengan objek-objek nyata, siswa-siswa lebih suka objek dalam kelompok daripada yang sendiri. Tipe ini juga mengenal proporsi yang wajar dan hubungan organis yang wajar pula, misalnya pohon yang menjulang di atas tanah, gambar manusia dan hewan bergerak sesuai dengan bentuk aslinya
b.    Lyrical
Penggambaran objek bersifat realistis, tetapi tidak bergerak seperti organic. Objek yang digambarkan statis dengan warna-warna yang tidak mencolok. Biasanya digambarkan oleh siswa perempuan.
c.    Impresionist
Lebih mementingkan detail/kesan suasana yang digambarkan daripada konsep keseluruhan
d.   Rhytmical Pattern
Gambar memperlihatkan benda-benda yang dilihat, Contohnya gambar siswa yang melempar bola, kemudian mengulang gambar tersebut sampai bidang gambar terisi seluruhnya. Sifatnya bisa organis atau lyris.
e.    Structur Form
Tipe ini jarang ditemui pada gambar siswa. Objeknya mengikuti rumus ilmu bangunan yang diperkecil menjadi satu rumusan geometris dimana rumus yang aslinya diambil dari pengamatan.
f.     Shematic
Penggambar menggunakan rumus ilmu bangunan tanpa ada hubungan yang jelas dengan susunan organis. Skema dari objek semula disempurnakan menjadi satu desain yang ada hubungan dengan objek secara simbolis.
g.    Haptic
Gambar yang dibuat mewakili image-image hasil rabaan dan sensasi fisik dari dalam. Gambar-gambar yang dibuat tidak berdasarkan pengamatan visual suatu objek, tapi bukan skematik.
h.    Expresionist
Berhubungan dengan dunia dalam dirinya. Tidak hanya mengekspresikan sensasi egosentrik tetapi juga objek dunia dari luar seperti hutan, gerombolan orang, dan lain-lain.
i.      Enumeratif
Penggambar pada tipe ini dikuasai oleh objek dan tidak dapat menghubungkan dengan sensasi keutuhan sehingga semua bagian-bagian kecil yang dapat dilihatnya pada bidang gambar tanpa ada yang dilebih-lebihkan. Persepsi gambar bukan merupakan persepsi seniman melainkan persepsi arsitek.
j.       Decorative
Menampilkan bentuk-bentuk dua dimensi dengan pola-pola warna-warni dan mengusahakannya menjadi pola yang menggembirakan. Bentuk-bentuk natural diekspresikan sehingga timbul perasaan senang, melankolis, dan sebagainya. Dengan demikian siswa yang menggambar dapat menghasilkan gambar dan memanfaatkan warna untuk menghasilkan pola-pola yang riang.
k.    Romantic
Pada tipe ini tema diambil dari kehidupan yang dipertajam dengan fantasi. Gambar merupakan gabungan antara ingatan dengan image eidetic sehingga menyangkut sesuatu yang baru.
l.       Literary
Tema yang ditampilkan semata-mata khayal yang berasal dari raasa yang disarankan gurunya atau imajinasi sendiri. Tema ini merupakan gabungan antara ingatan dan imajinasi untuk disampaikan kepada orang lain.

Sedangkan Victor Lowenfeld dalam Sobandi (2013: 4) mengkategorikan karya gambar siswa menjadi:

a.       Tipe visual
Tipe visual adalah gambar siswa yang menunjukkan kecenderungan bentuk yang lebih visual-realistis (memperlihatkan kemiripan bentuk gambar sesuai obyek yang dilihatnya, atau obyektif). Gambar yang diungkapkan mementingkan kesamaannya karya dengan bentuk yang dihayatinya serta memperhitungkan proporsinya secara tepat. Penguasaan ruang telah terasa dengan cara membuat kecil objek gambar bagi benda yang jauh. Begitu pula penguasaan warna, pemakaian warna sesuai dengan warna-warna pada bendanya. Batas-batas tertentu gambar atau lukisan siswa yang tergolong tipe visual dapat dipersamakan dengan lukisan karya pelukis naturalistis, yang membuat lukisannya sangat teliti, karena ingin menggambarkan keadaan sebagaimana kelihatannya (dari pengalaman visual)
  
Gambar 2.1 tipe visual

b.      Tipe haptik
Gambar siswa yang memiliki tipe haptik menunjukkan kecenderungan ke arah kebentukan yang lebih visual-emosional atau upaya penggambaran secara subyektif yang berisi tentang ekspresi pribadi dalam merespon lingkungannya. Benda yang digambarkam merupakan reaksi emosional melalui perabaan dan penghayatannya di luar pengamatan visual. Biasanya benda yang dianggap penting digambarkan lebih penting dibuat dengan ukuran lebih besar dibandingkan dengan benda yang kurang penting. Dalam gaya lukisan, gambar siswa yang bertipe haptik dapat disamakan dengan lukisan bergaya ekspresionisme. Lukisan ekspresionisme adalah karya lukis yang memperlihatkan ungkapan rasa secara spontan, dan sebagai pernyataan obyektif dari dalam diri pelukisnya (inner states). Lukisan yang bersifat ekspresionistis nampak berkesan sangat subyektif dari kebebasan pribadi masing-masing pelukisnya.
 
Gamabr 2.2 tipe haptik
2.1.1        Manfaat Menggambar bagi Siswa SD Kelas Rendah

Menggambar adalah salah satu aktivitas yang melibatkan serangkaian kercerdasan yang dimiliki oleh seseorang. Karena untuk menggambar dengan baik umumnya seseorang harus memilki imajinasi dan kreativitas (intelegensi), selain itu seseorang juga harus memilki kesebaran (emosi) dan kecakapan tangan yang baik (psikomotor).

Oleh karena itu, menggambar adalah salah satu kegiatan yang dapat dimasukkan dalam proses pembelajaran. Menggambar adalah salah satu kegiatan yang mampu melatih berbagai kemampuan siswa, diantaranya:

a.    Melatih kepekaan siswa
Binham mengungkapkan, (2012: 1) bahwa dewasa ini gambar sering digunakan sebagai alat peraga di berbagai sekolah dari semua tingkatan. Hal ini menunjukkan bahwa menggambar adalah hal yang sangat positif untuk melatih kepekaan berbagai kecerdasan pada diri seseorang dan hal ini paling efektif diterapkan sejak usia dini.
b.    Melatih motorik halus siswa
Menurut Tubagus Amin Fa, psikolog dari Aminfa Institute bahwa  untuk mengembangkan saraf motorik halus siswa dengan baik, dapat ditempuh cara dengan melatihnya melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu secara rutin sedari dini. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan menulis dan menggambar atau mewarnai.

Sedangkan sumber lain (dilansir dari mommygadget.com/2009/07/07/manfaat-mewarnai-bagi-si-kecil/) mengungkapkan bahwa menggambar dan mewarnai memiliki manfaat bagi siswa sebagai berikut:
a.    Sebagai media berekspresi
Seperti halnya orang dewasa, aktifitas mewarnai terutama mewarnai bidang kosong merupakan cara bagi siswa untuk mengungkapkan perasaaan dirinya. Melalui gambar yang dibuatnya dapat terlihat apa yang sedang dirasakannya, apakah itu perasaan gembira atau perasaan sedih.
b.    Membantu mengenal perbedaan warna
Membiasakan siswa untuk melakukan aktifitas mewarnai baik dengan krayon, pensil warna maupun spidol warna sejak dini dapat membantu mereka mengenal warna, sehingga mereka dapat membedakan antara warna yang satu dengan warna lainnya. Hal ini juga dapat mempermudah mereka dalam mencampur dan memadukan warna. Kemampuan inilah yang akan membantu siswa dalam berkreasi seiring dengan perkembangan usia mereka.
c.    Warna merupakan media terapi
Warna merupakan sebuah media terapi bagi banyak orang, bahkan warna kerapkali digunakan sebagai bahasa global untuk membaca emosi seseorang. Seorang siswa yang mewarnai matahari dengan warna-warna gelap seperti hitam atau abu-abu bisa jadi menandakan kemarahan mereka saat itu. Selain itu cara siswa menorehkan warna juga dapat mengekspresikan sifat dasar mereka, sebagai contoh, jika siswa mewarnai dengan cara menorehkan garis-garis teratur pada gambar menunjukkan bahwa siswa memiliki kecenderungan gaya hidup teratur. Terlepas dari itu warna sendiri menjadi alat terapi untuk meringankan stres pada siswa setelah lelah seharian beraktifitas.
d.   Melatih siswa menggenggam pensil
Bagi sebagaian siswa, krayon adalah benda pertama yang digenggamnya sebelum mereka menggenggam pensil. Saat mewarnai dengan krayon itulah pertama kali siswa belajar menggengam dan mengontrol pensil di tangannya. Kemampuan tersebut yang nantinya akan membantunya dalam.
e.    Melatih kemampuan koordinasi
Kemampuan berkoordinasi merupakan manfaat lain yang bisa diperoleh dari aktifitas mewarnai. Dalam mewarnai diperlukan koordinasi yang bagus antara mata dan tangan, mulai dari bagaimana cara yang tepat menggenggam krayon, hingga memilih warna dan menajamkan krayon. Kemampuan dasar berkoordinasi inilah yang dapat mengembangkan kemampuan dasar siswa hingga mereka besar nanti.
f.     Mengembangkan kemampuan motorik
Aktifitas mewarnai merupakan aktifitas yang dapat membantu meningkatkan kinerja otot tangan sekaligus mengembangkan kemampuan motorik siswa. Kemampuan tersebut sangat penting dalam perkembangan aktifitasnya kelak, seperti dalam mengetik, mengangkat benda dan aktifitas lainnya dimana dibutuhkan kinerja otot lengan dan tangan dalam prosesnya.          
g.    Mewarnai meningkatkan konsentrasi
Aktifitas mewarnai dapat melatih konsentrasi siswa untuk tetap fokus pada pekerjaan yang dilakukannya meskipun banyak aktifitas lain yang terjadi di sekelilingnya. Seorang siswa yang sedang menyelesaikan tugas mewarnai akan fokus pada lembar gambar yang sedang diwarnainya, sehingga sekalipun di sekelilingnya ribut dengan aktifitas siswa-siswa lain, ia akan tetap fokus menyelesaikan tugas mewarnainya. Kemampuan berkonsentrasi inilah yang kelak berguna bagi siswa dalam menyelesaikan soal matematika atau pelajaran lainnya yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
h.    Mewarnai melatih siswa mengenal garis batas bidang
Mengenal batas bidang gambar merupakan manfaat lain dari aktifitas mewarnai. Di masa awal siswa memulai aktifitas mewarnai, mereka tidak akan peduli dengan garis batas gambar di hadapannya, hal tersebut wajar-wajar saja, biarkan si kecil merasa nyaman dan exited terlebih dahulu dengan aktifitas mewarnainya. Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia siswa, mereka akan mulai menghargai dan memperhatikan garis-garis batas tersebut, dan berusaha untuk mewarnai gambar di hadapannya tanpa keluar garis. Membiasakan siswa belajar mewarnai sejak kecil akan melatihnya lebih peka terhadap batasan garis sejak dini. Kemampuan inilah yang menjadi bekal mereka saat mereka mulai belajar menulis di buku tulis bergaris.
i.      Mewarnai melatih siswa membuat target
Proses mewarnai membutuhkan satu target yaitu berhasil mewarnai seluruh bidang gambar yang tersedia. Dengan melakukan aktifitas mewarnai sejak dini siswa akan belajar untuk meyelesaikan tugas yang dihadapinya. Di sinilah akan terpupuk rasa tanggung jawab siswa dengan pekerjaan yang diterimanya sekaligus memupuk kepercayaan diri siswa bahwa ia dapat menyelesaikan tugas yang sedang diembannya. Sikap ini akan membantunya menyelesaikan tugas-tugasnya kelak, dan juga melatihnya untuk tidak mudah menyerah dengan tantangan yang akan dihadapinya.

2.2    Mendongeng sebagai Stimulus Ketrampilan Menggambar pada Siswa SD Kelas Rendah
2.2.1          Pengertian Mendongeng


Kata mendongeng pastinya tidak asing lagi ditelinga kita. Dongeng dalam bahasa inggris dikenal sebagai fairy tales, yang memiliki arti cerita-cerita (tales) mengenai atau yang di dalamnya terkandung tokoh-tokoh berwujud peri (fairy, fairies) Wintarto (2012:8-17). Istilah fairy tales mulai muncul sejak abad ke-17, hampir bersamaan dengan kelahiran cerita-cerita dan buku-buku yang khusus ditujukan untuk siswa-siswa. Pencetusnya adalah pengarang Perancis, Madame d’Aulnoy, yang menciptakan frase “conte de fee”, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi fairy tales.

Wikipedia.org mengartikan dongeng sebagai suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan makhluk lainnya. Dongeng juga merupakan dunia hayalan dan imajinasi dari pemikiran seseorang yang kemudian diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Dongeng menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah cerita yang benar-benar tidak terjadi, sedangkan mendongeng adalah kegiatan membacakan dongeng kepada seserang atau sekelompok orang tentang kisah yang tidak nyata. Secara luas, mendongeng bisa diartikan sebagai membacakan cerita atau mengkomunikasikan cerita kepada siswa. Baik itu cerita nyata, tidak nyata, ataupun pengalaman orangtua. Walaupun terlihat sederhana, namun sebenarnya siswa-siswa biasanya sangat serius mendengarkan dongeng jika ceritanya dianggap menarik.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa mendongeng adalah kegiatan menceritakan suatu cerita untuk siswa yang seharusnya bisa dilakukan oleh siapapun, termasuk guru.

2.2.2          Ketika Guru Mendongeng


Untuk menjadi guru yang profesional, guru harus kompeten, harus memiliki kompetensi yang mumpuni baik kompetensi pribadi sosial, kompetensi akademik dan kompetensi pedagogik metodologisnya.
Siswoyo (2013:2) memberikan artian khusus pada kompetensi akademik, pedagogik dan metodologis yang harus dimiliki guru dalam bahasa Jawa yaitu “nduwe barang, pinter ngrancang, wasis mulang lan biso nimbang.” Secara spesifik lagi Siswoyo menyebutkan salah satu poin yang ada pada kompetensi akademik adalah guru yang kompeten secara akademik harus inovatif.

Inovatif ini dimaksudkan ketika guru melaksanakan proses pembelajaran. Guru tidak seharusnya menggunakan model, metode maupun teknik yang itu-itu saja, yang hanya guru kenal, yang hanya guru kuasai. Melainkan seorang guru harus selalu berinovatif demi terciptanya suatu pembelajaran yang menyenangkan, menarik, menantang dan tidak menjemukan. Sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai secara optimal.

Pada tulisan ini, penulis menawarkan salah satu inovasi yang sebenarnya tidak baru namun masih jarang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Inovasi metode ini adalah dengan cara mendongeng.

Dalam Permendiknas tahun 2006 tentang Standar Isi di mana ada sebagian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mengisyaratkan bahwa pembelajaran mendongeng/bercerita tetap mendapat porsi yang strategis dan aktual untuk dibelajarkan pada siswa mulai jenjang pendidikan dasar sampai menengah.
Ada ungkapan yang berbunyi ”Seorang guru yang tidak bisa bercerita, ibarat orang yang hidup tanpa kepala”. Oleh karena itu, kegiatan mendongeng seharusnya tidak menjadi kegiatan yang asing bagi guru di dalam proses pembelajaran.

”Kalau seorang guru bisa bercerita atau mendongeng, berarti dia memiliki kedekatan emosional dengan siswa didiknya,” kata Bimo, seorang pendongeng yang mengembangkan konsep dongeng edukatif (diakses melalui oktomagazine.com).

Jadi, tidak ada alasan lagi sebagai guru kalau tidak melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Terutama dengan menggunakan kegiatan mendongeng untu mendongkrak agar tujuan pembelajaran bisa tercapai secara maksimal dan memberikan warna baru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

2.2.3          Manfaat Mendongeng dalam Proses Pembelajaran

Dongeng biasanya disampaikan kepada siswa-siswa yang masih kecil oleh ayah, ibu, kakek, nenek sampai pada guru mereka. Dongeng biasanya disampaikan untuk menina-bobokan anak yang hendak tidur. Padahal kalau kita bisa mengkajinya lebih dalam sebenarnya dongeng justru dapat digunakan meningkatkan kedekatan ibu dan siswa, dan mengembangkan kemampuan otak siswa. Selain itu juga bisa membantu perkembangan psikologis dan kecerdasan emosional siswa. Namun sayangnya, orangtua sering melupakan dan menyepelekan penyampaian dongeng kepada siswa. Mereka menganggap bahwa mendongeng itu merepotkan dan membuat mereka semakin lelah setelah seharian bekerja.

Direktur Jenderal Pendidikan Siswa Usia Dini, dan Nonformal, Informal (PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog, pada pembukaan pelatihan Dongeng Bunda PAUD di D Mall, Depok, Jumat (22 Pebruari 2013) mengungkapkan bahwa mendongeng adalah salah satu cara ampuh dalam membentuk karakter siswa.

Ketika orangtua di rumah tidak bisa meng-cover hal ini, tidak menjadikan seorang guru membela dirinya untuk tidak menggunakan mendongeng dalam kegiatan pembelajaran.

Dengan mendongeng seorang pendidik akan terasa mudah dalam memasukkan nilai positif pada diri siswa didik, sebagai instalasi benteng pertahanannya terhadap virus-virus yang tidak baik disekitar lingkungan siswa tersebut.

Mendongeng juga sangat membantu saat siswa berada dalam proses peniruan, dimana yang akan ditiru adalah perbuatan baik tokoh dalam dongeng, memberikan dan memperkaya pengalaman batin, sarana hiburan yang menarik perhatian, menggugah minat baca, dan sarana membangun watak mulia. Selain itu, melalui metode mendongeng para pengasuh, pendongeng, akan mampu menularkan pengetahuannya dan menanamkan nilai budi pekerti yang luhur secara efektif, dan siswa-siswa pun akan menerimanya dengan senang hati.

Dari uraian di atas sudah sangat jelas kalau mendongeng banyak memberikan manfaat bagi siswa. Hana (2011: 68-100) menyebutkan beberapa manfaat mendongeng:

a.    Meningkatkan kecerdasan siswa
Cerita dalam dongeng menawarkan kesempatan bagi siswa untuk menafsirkan dongeng tersebut dengan kehidupan nyata, seperti apa yang pernah dialami, dilihat, dan dirasakan olehnya. Melalui dongeng, ia juga dikenalkan pada berbagai pendekatan, pola, dan tingkah laku manusia sehingga ia akan mendapatkan bekal untuk menghadapi masa depan.
b.    Melejitkan daya imajinasi siswa
Imajinasi siswa akan muncul ketika, misalnya ketika memulai dongeng dengan kalimat: “Dulu, ada seorang raksasa.” Dari sinilah daya imajinasi siswa bekerja dan membayangkan sosok raksasa tersebut. Selama kita bercerita, imajinasinya terus berlarian mengikuti jalan cerita. Pengembangan daya imajinasi adalah hal penting sebagai dasar untuk mengembangkan kreativitas siswa.
c.    Membangun karakter siswa
Pengembangan karakter yang baik adalah jika dimulai sejak usia dini. Sebuah ungkapan yang dipercaya secara luas menyatakan, “Jika kita gagal menjadi orang baik di usia dini, maka di usia dewasa pun kita akan menjadi orang yang bermasalah atau orang jahat.” Oleh karena itu, mempersiapkan siswa adalah sebuah strategi investasi manusia yang sangat tepat.
Sudah terbukti bahwa periode yang paling efektif untuk membentuk karakter siswa adalah sebelum ia berusia 10 tahun. Oleh karena itu, dongeng yang kita ceritakan kepada siswa akan masuk ke alam bawah sadarnya. Alam bawah sadar inilah yang kemudian paling berperan membentuk karakter siswa. Jadi, kalau dongeng itu diceritakan terus menerus, maka yang masuk ke alam bawah sadarnya pun semakin banayk.
d.   Memberikan contoh teladan bagi siswa
Mendongeng adalah aktivitas yang memberikan pengalaman psikologis dan linguistik sesuai minta, tingakt perkembanagn, dan kebutuhan siswa. Hasil belajar melalui mendongeng akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna, juga mengembangkan ketrampilan berpikir siswa dengan permasalahan yang dihadapinya.
Melalui mendongeng kita dapat memberikan contoh sikap-sikap atau perbuatan terpuji dan menghindari sikap atau perbuatan yang buruk dari dongeng yang kita ceritakan. Mendongeng adalah cara paling efektif untuk menanamkan gagasan atau pemikiran, nilai moral, budi pekerti serta konsep sebab-akibat.
e.    Terapi baca-tulis bagi siswa
Mendongeng atau bercerita adalah cara paling sederhana dan instan untuk merangsang kemampuan membaca siswa. Siswa yang gemar mendengar dan membaca dongeng akan memiliki kemampuan berbicara, menulis, dan memahami gagasan rumit secara lebih baik.
f.     Terapi berbahasa bagi siswa
Kemampuan menggunakan bahasa pada siswa tentu diperoleh dengan proses pembelajaran. Sebagai guru kita dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa perbendaharaan kosa kata yang sering didengarnya melalui mendongeng. Semakin banyak kosa kata yang dikenalnya, maka semakin banyak pula konsep tentang sesuatu yang dikenalnya. Selain melalui kosa kata, kemampuan berbahasa siswa juga dapat diasah melalui ketepatan berbahasa sesuai dengan suasana emosi di dalam cerita dongeng.
g.    Terapi berbicara bagi siswa
Siswa yang mengalami gangguan berbicara, maka mereka akan susah bersosialisasi dengan temannya. Dan hal ini akan menambah kesulitan siswa dalam bidang menulis. Karena ketika siswa menuis itu membutuhkan kemampuan berbicara yang ada di dalam otak.
Melalui mendongeng banyak hal positif yang dapat kita sampaikan pada siswa. Salah satunya adalah memancing siswa untuk berinteraksi komunikasi dengan kita. Hal itu dapat menunjang kemampuan berbicaranya.
h.    Terapi emosi bagi siswa
Jika siswa suka mendengarkan dongeng, maka ia bisa menghilangkan rasa tegang, mood yang buruk, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Artinya, dongeng itu telah membantu siswa dalam mengatasi emosi.

2.2.4          Teknik Mendongeng di Kelas Rendah

Banyak yang beranggapan bahwa mendongeng itu sulit. Namun, kita sebagai guru jangan mudah putus asa, kita harus mencoba. Syarat utama yang harus kita miliki ketika hendak mendongeng untuk siswa-siswa adalah percaya diri dan komunikatif. Banyak guru yang tidak percaya diri ketika mendongeng sehingga pesan yang disampaikan sulit dicerna oleh siswa. Siswa pun menjadi bosan.

Untuk menumbuhkan imajinasi di pikiran siswa, kita sebagai guru harus memiliki ketrampilan khusus dalam mendongeng. Mulai dari cara menyampaikan cerita, kontrol volume dan intonasi suara sampai pada menirukan suara maupun memperhatikan perilaku pada setiap karakter yang ada di dalam dongeng.
Mengenai teknik mendongeng, kita dapat memilih salah satu teknik di bawah ini:

a.       Membaca dari buku cerita
b.      Mendongeng dengan ilustrasi dari buku
c.       Menceritakan dongeng
d.      Mendongeng dengan menggunakan boneka
e.       Dramatisasi atas suatu donegng
f.       Mendongeng sambil memainkan jari-jari tangan

Apabila mendongeng ini dikaitkan dengan perkembangan siswa yang duduk di kelas rendah atau berusia sekita 6-9 tahun, yang perlu guru ketahui bahwa siswa yang berada di usia tersebut waktu mendongeng guru hanya sekitar 10 – 15  menit. Hal ini berkaitan dengan lama tidaknya siswa mampu berkonsentrasi. Mengenai jumlah tokoh yang ditampilkan dalam dongeng maksimal adalah empat tokoh.
Pada usia tersebut, guru tidak perlu memberi kesimpulan di akhir dongeng karena mendongeng bukan berarti memberi nasihat. Kalau guru ingin menyelipkan pesan moral bagi siswa, hal itu bisa dilakukan ketika kegiatan mendongeng berlangsung dengan memancing siswa-siswa dengan sebuah pertanyaan. Misalnya, “Anak-anak, kalau makan boleh sambil bicara tidak?” Kalau siswa menjawab, “Tidak”. Hal ini menandakan bahwa pesan yang ingin kita sampaikan kepada siswa telah tercapai.

Leksono (2012: 57-58) menambahkan berkaitan dengan teknik mendongeng, guru juga harus memperhatikan berapa banyak pendengar dongeng yang ada di kelas. Di Indonesia, masih banyak kelas-kelas yang gemuk atau kelas yang jumlah siswanya melebihi dari standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sekitar 25-50 siswa per kelas. Oleh karena itu, ketika seorang guru hendak mendongeng di kelas dengan jumlah siswa seperti yang diuraikan di atas, langkah fleksibelnya adalah menggunakan cara pemerataan. Guru tidak harus terpaku di satu tempat. Penguasaan ruang kelas saat mendongeng merupakan salah satu bentuk keberhasilan praktik mendongeng bagi guru. Sesekali berinteraksi dengan siswa dalam bentuk pertanyaan atau sejenisnya.

Guru ketika mendongeng pun bisa menghadirkan media, alat peraga. Atau menggunakan alat musik sederhana. Juga bisa melibatkan penerima dongeng, mengajak terlibat dialog dalam alur cerita. Karena dalam kelas dengan jumlah yang banyak. Tingkat kontrol guru lebih berat dan perlu diketatkan lagi.


DAFTAR PUSTAKA

Binham. 2012. Menumbuhkan Kepekaan Siswa Lewat Menggambar. Terdapat di http://binham.wordpress.com/2012/04/06/menumbuhkan-kepekaan-siswa-lewat-menggambar/. Diunduh pada 4 April 2013.
Brandy, Laure. (1991). “Children and their books: The right book for the right child I”. dalam Maurice Saxby & Gordon Winch (EDS). Give them wings, the experience of children’s literature. Melbourne: The Macmillan Company.
Carapedia.com. 2013. Pengertian Definisi Gambar Menurut Para Ahli. Tersedia di http://carapedia.com/pengertian_definisi_gambar_menurut_para_ahli_info514.html. Diunduh pada 4 April 2013
Djelantik, A. A.M. (1999). Estetika sebuah pengantar. Bandung: MSPI.
Gosong, I Made. 1998. Pertanyaan yang Diajukan oleh Guru dalam Pembelajaran Membaca. Disertasi tidak diterbitkan Malang: IKIP Malang
Hana, Jasmina. 2011. Terapi Kecerdasan Anak dengan Dongeng. Yogyakarta: Berlian Media.
Kemdikbud. 2013. Mendongeng media Transfer Pengetahuan dan Moral. Tersedia di http://www.paudni.kemdikbud.go.id/dirjen-paudni-mendongeng-media-transfer-pengetahuan-dan-moral/. Diunduh pada 18 Maret 2013.
Leksono, Aidyo Babahe. 2012. Ndongeng Enteng Sreng....Semarang: Gigih Pustaka Mandiri.
Oktomagazine.com. 2013. Dongeng untuk Siswa itu Penting.           Tersedia di http://www.oktomagazine.com/oktofamily/parenting/1837/dongeng.untuk.siswa.itu.penting. Diunduh pada 17 Maret 2013.
Piaget, J. (1950). The psychology of intelligence. New York: Harcourt, Brace & World.
Read, H. 1958. Education Through Art. London: Faber and Faber
Retnowati, Tri Hartiti dan Bambang Prihadi. 2010. Pendidikan Profesi Guru Pendidikan Seni Rupa Pembelajaran Seni Rupa. Yogyakarta: Kementerian Pendidikan Nasional
Ruta, I Made. (2005). Implikasi Garis dalam Seni Rupa. Jurnal Rupa volume 4 no 1 September 2005.
Siswoyo, Rasdi Eko. 2013. Implementasi Guru Profesional dan Berkarakter dalam Pembangunan SDM di Era Globalisasi. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional di Universitas Muria Kudus, Kudus tanggal 30 Maret 2013.
Sobandi, Bandi. 2013. Karakteristik Lukisan/Gambar Anak. Tersedia di docjax.com. Diunduh pada 31 Maret 2013.
Wikipedia.org. 2013. Menggambar. Tersedia di        http://id.wikipedia.org/wiki/Menggambar. Diunduh pada 26 Maret 2013.
Wintarto, Wiwien. 2012. Dongeng Karya Sendiri. Semarang: Penerbit Gigih Pustaka Mandiri.

No comments:

Post a Comment

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!