Sunday, 30 June 2013

Hai LiveOlive, Bekal Makanan Jadi Solusiku

Oleh: Ika Hardiyan Aksari


sumber gambar di sini

Aku dan Keluargaku
Dilahirkan menjadi anak tunggal, tidak langsung membuatku manja dan menuntut segala sesuatu harus serba ada di depan mata. Keluargaku, terutama ibu selalu mengajarkanku apa arti usaha untuk mendapatkan segala sesuatu yang aku inginkan. Dan salah satu cara ibu untuk membelajarkanku arti usaha itu melalui pemberian uang saku yang ‘cukup’.
Melihat teman-teman mendapat uang saku yang lebih dari orangtuanya, seringkali membuatku iri. Kenapa aku tidak bisa seperti itu? Bisa Jajan, shopping, membeli buku kesukaanku dan lain sebagainya. Sering aku melakukan protes kepada ibu. Tapi sama saja, tak menambah juga besar uang sakuku.

Ini foto aku pas lagi galau.

Di usiaku yang menginjak 21 tahun dan saat ini aku masih kuliah semester 6, kesadaran akan kata ‘cukup’ dari besaran uang sakuku mulai muncul. Bagaimana tidak? Dengan uang saku per hari sebesar Rp 20.000, aku harus menggunakannya dengan cerdas.

Pilihan menjadi Penglajo, Pulang-Pergi Kampus
Dulunya, selama 1 tahun aku berstatus anak kos, namun karena begitu banyak pengeluaran yang harus dikeluarkan ibu, aku memilih untuk menjadi penglajo. Kata ibu ini adalah pengorbanan. Memang, jarak rumah sampai kampus membutuhkan waktu 1 jam. Tapi inilah pilihanku untuk meringankan keuangan kedua orangtuaku.
Menjadi penglajo adalah sebuah pilihan. Banyak teman-teman yang sering bertanya, “Apa tidak capek?”. He, selalu ku jawab dengan tawa. Dalam batinku, “Pertanyaan bodoh!” Namun, lagi-lagi ini adalah pilihan. Dan pilihan ini menuntutku untuk cerdas dalam membagi waktu sekaligus keuangan. Lha iya, secara sehari aku hanya mendapat uang saku dari ibu sebesar Rp 20.000. Bisa dibayangkan?
Dengan seabrek kebutuhanku, aku tidak mau terjerat masalah keuangan kemudian kuliahku terganggu. Apalagi menyusahkan keduaorangtuaku. Untung saja ada LiveOlive yang hadir dengan berbagai artikel keuangan untuk aku yang berumur 20 tahun.
Dan inilah hasilnya. Aku selalu membuat list input dan output keuanganku. Mau tahu? Cekidot!


Hal
Sehari
Seminggu
Sebulan
Jumlah
Input
Rp 20.000
5 x Rp 20.000
(aktif kuliah 5 hari)
20 x Rp 20.000
(5 x 4 minggu)
Rp 400.000



Rp 150.000
(Jadi guru bimbel)
Rp 150.000
Jumlah
Rp 550.000
Output
Sehari
Seminggu
Sebulan
Jumlah
Bensin
Rp 10.000
(pulang pergi)
5 x Rp 10.000
20 x Rp 10.000
Rp 200.000
Beli Buku



Rp 100.000
Iuran wajib (Kas Kelas)

Rp 2.500
20 x Rp 2.500
Rp 50.000
Makan+jajan
Rp 10.000
5 x Rp 10.000
20 x Rp 10.000
Rp 200.000
Tugas+foto kopi


Rp 50.000
Rp 50.000
Jumlah
Rp 600.000

Nah, dari tabel di atas, ketahuan bukan kalau input dan outputku nggak seimbang. Trus, apakah aku harus meminta uang lagi kepada ibuku? Rasanya tidak mungkin. Biaya kuliahku saja sudah mahal. Keinginan untuk tidak membebani orangtua pasti akan muncul di hati setiap anak.

Bekal Makan jadi Solusi
Setiap ada masalah, aku pun cerita dengan ibu. Dan salah satu masalah yang wajib aku ceritakan pada ibu adalah masalah keuanganku itu. Bukan untuk meminta tambahan, tapi meminta urun rembuk ibu untuk memberikan solusi.
Dan alhasil, bekal makanan adalah solusi jitunya. Memang, dengan membawa bekal makanan justru akan merepotkan ibu. Ibu harus bangun lebih pagi dari biasanya. Rasa iba ku mulai muncul.
“Bu, apa sebaiknya adik nggak usah bawa bekal saja? Adik kasihan sama ibu, setiap pagi harus bangun pagi bu.” kataku pada ibu di suatu hari.
“Tidak masalah dik, yang penting adik tetap bisa makan siang. Biar nggak lemas. Kalau lemas malah nggak bisa konsen sama kuliahnya.” Jelas ibu padaku.
Subhanaallah, hatiku kelu. Inilah bentuk cinta seorang ibu pada anaknya. Aku memeluk ibuku dengan erat.
Nah, dengan membawa bekal makanan ke kampus tentunya pengeluaranku jadi tidak melampaui pendepatan. Dan bisa ditabung untuk keperluan lainnya nanti. Yang pasti, salah satunya adalah membelanjakan ibu, walaupun hanya sabun satu sachet.
Ini ceritaku, apa ceritamu?

Apa kamu juga ingin mendapatkan solusi cerdas dalam mengatur keuangan sepertiku? Ya dari LiveOlive, yuk "Like" Facebook Fan Page-nya atau follow twitterGoogle+ Page, ada lagi, “Subscribe” ke channel YouTube.


Cetak Kalender 2014? Ke Ceraproduction.com Aja


“Menyesal itu datangnya di belakang”, ucap saya ketika tahu ada sebuah perusahaan percetakan dan merchandise sekeren Ceraproduction.com.
Alasannya apa?
Dulu, tepatnya empat tahun yang lalu ketika saya menjabat sebagai Seksi Kewirausahan OSIS di SMA, salah satu job list saya adalah membuat kalender. Dua bulan berjuang mondar-mandir untuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari pemotretan, pengiriman file, memilih desain semua saya lakukan sendiri. Tak ada sedikitpun campur tangan dari pihak percetakan. Melelahkan. Terlebih ketika tepat di hari pengambilan kalender yang sudah saya pesan, bukan terbayar kelelahan saya selama dua bulan itu, melainkan kekecewaan yang saya dapatkan. Hasilnya begitu buruk, dan pemilik percetakan justru menyalahkan pihak saya dan memberikan alasan kalau foto yang kami berikan ya begitu hasilnya. Menyebalkan.
Janji percetakan pada kesepakatan awal akan memberikan hasil yang memuaskan dengan harga yang menurut saya sama dengan percetakan lain, hanya membuat saya kecewa. Tak hanya saya yang kecewa, bahkan pihak sekolah semakin kecewa. Rasa sungkan begitu saya rasakan, meskipun pihak sekolah tidak menyalahkan saya sepenuhnya. Rasanya tanggungjawab itu tidak dapat saya emban dengan baik. Apalagi keberadaan kalender tersebut untuk dibagikan kepada orangtua siswa sekaligus sebagai promosi untuk tahun pelajaran baru nanti.
Kenapa? Kenapa tidak dari dulu ada Ceraproduction.com? Kalau saya bertemu dengan Ceraproduction.com pasti kekecewaan itu tidak akan muncul. Ceritanya juga pasti tidak akan seperti itu. Promosi sekolah juga akan berjalan dengan baik. Tapi semoga apa yang saya alami tidak dialami oleh Anda nantinya.
Tahukah Ceraproduction.com itu apa? Ceraproduction.com itu adalah sebuah perusahaan Percetakan dan  Merchandise yang didirikan oleh para profesional media dan periklanan berbasis pengetahuan tentang media. Ternyata Ceraproduction.com juga telah melayani banyak klien Korporat seperti Bank BRI, Bank BTPN, Bank Syariah Mandiri, PT.Kaltim Prima Coal, PT Inti Duta Surya Batam, PT.Hexagon Batam, Body And Soul Indonesia, dan masih banyak lagi.
Apalagi yang Anda ragukan?
Kalau Anda masih kurang yakin, Anda bisa melihat tayangan yang satu ini.


Bukti nyata telah terpampang bahwa Ceraproduction.com sungguh terpercaya. Dengan mengusung slogan, “Maximize Your PromotionCeraproduction.com menjanjikan pelayanan yang mudah tapi memuaskan.
Pastinya Anda tidak ingin menyesal seperti saya bukan? Nah, berhubung kita telah berada di pertengahan tahun, tidak ada salahnya Anda mengintip website dari Ceraproduction.com. terdapat penawaran menarik lho, khususnya untuk menyambut tahun 2014 yang akan datang, apalagi kalau bukan cetak kalender murah.
Ceraproduction.com memberikan penawaran cetak kalender 2014 dalam dua paket, yaitu paket kalender meja/duduk dan paket kalender dinding. Berikut gambarnya saya sajikan.


Adapun keterangan harga yang dapat Anda pilih adalah sebagai berikut:
Majalah Dinding


Kalender Dinding
Spesifikasi
500 Eksemplar
1000
Eksemplar
2000
Eksemplar
3000
Eksemplar
5000
Eksemplar
Bulanan
Ukuran 35x52 cm.
12 lembar tanpa cover.
Full Color. Art Paper 150.
Finishing Klem Seng
Rp 15.000,-
Rp 11.000,-
Rp 8.000,-
Rp 7.500,-
Rp 7.000,-
Dwiwulan
Ukuran 35x52 cm.
 6 lembar tanpa cover.
Full Color. Art Paper 150.
Finishing Klem Seng
Rp 10.000,-
Rp 7.000,-
Rp 5.000,-
Rp 4.500,-
Rp 4.000,-
Triwulan
Ukuran 35x52 cm.
4 lembar tanpa cover
Full Color. Art Paper 150
Finishing Klem Seng.
Rp 8.000,-
Rp 5.000,-
Rp 4.000,-
Rp 3.500,-
Rp 3.000,-
Caturwulan
Ukuran 35x52 cm.
3 lembar tanpa cover.
Full Color. Art Paper 150.
Finishing Klem Seng.
Rp 5.500,-
Rp 4.000,-
Rp 3.500,-
Rp 3.000,-
Rp 2.500,-
Semester
Ukuran 35x52 cm.
2 lembar tanpa cover.
Full Color. Art Paper 150.
Finishing Klem Seng.
Rp 4.500,-
Rp 3.400,-
Rp 2.500,-
Rp 2.100,-
Rp 1.800,-
Tahunan
Ukuran 35x52 cm
1 lembar tanpa cover
 Full Color. Art Carton 210.
Finishing Klem Seng.
Rp 4.000,-
Rp 2.800,-
Rp 2.000,-
Rp 1.700,-
Rp 1.500,-
Kalender Poster Standart
Ukuran 30x42 cm.
1 Lembar Full Color
Rp 1.850,-
Rp .1.250,-
Rp 850,-
Rp 800,-
Rp 575,-
Kalender Poster
Jumbo
Ukuran 64x44 cm
 1 Lembar Full Color
Rp 4.500,-
Rp 2.300,-
Rp 1.500,-
Rp 1.200,-
Rp 1.000


Namun, bagi Anda yang telah memilki spesifikasi tersendiri untuk ukuran, bahan dan bahkan finishing kalender dinding 2014 bisa menghubungi Ceraproduction.com  untuk mengkonsultasikan harga cetak kalender dinding 2014

Kalender Meja/Duduk


Jenis Kalender
Spesifikasi
500 Eksemplar
1000 Eksemplar
Kalender mini
Kalender mini
10x13Cm Portrait
7 Lembar Dengan Cover
Full Color Ivory 260
Tatakan hardboard Carton
Covered With Linen
Binding 8 Ring
Rp. 9000
Rp.7000
Kalender Standar Landscape
20x15Cm
7 Lembar Dengan Cover
Full Color Ivory 260
Tatakan hardboard Carton
Covered With Linen
Binding 8 Ring
Rp.14.300
Rp. 10.600

Kalender Standar Portrait
20x15Cm
7 Lembar Dengan Cover
Full Color Ivory 260
Tatakan hardboard Carton
Covered With Linen
Binding 6 Ring
Rp.14.100
Rp. 9900

Ketentuan  :
1.    Harga dapat berubah sewaktu-waktu, mengikuti harga kertas
2.    Harga belum termasuk jasa desain
3.    Harga belum termasuk ongkos kirim (Gratis ongkos kirim untuk wilayah Jogja)
4.    Harga sudah termasuk klem seng dan jasa klem
Bagaimana penawarannya? Menggiurkan bukan? Segera cetak kalender sekarang juga, karena mencetak lebih awal juga memungkinkan banyak waktu yang tersedia untuk merevisi desain jika memang ada yang perlu dirubah agar mendapat hasil yang maksimal dan Anda puas. Selamat berpromosi!
Yuk, hubungi Ceraproduction.com secepatnya, di:
TONDEO BUILDING
Jl. Pawirokuat 21 Condongcatur,
Depok, Sleman, Yogyakarta
Indonesia 55283
Telpon. +62(0) 274 – 828 5208-8255152
Email: cera.production@gmail.com
marketing@ceraproduction.com

Thursday, 27 June 2013

Cerpen Anak-anak: "Andaikan Ada Bapak"

(Ika Hardiyan Aksari)

Lima belas menit yang lalu hujan mulai reda. Bau tanah yang telah lama tak terguyur hujan kini berkawan dengan hidung mancung Yasinta. Matanya masih menerawang jauh ke langit. Alisnya pun tampak naik turun
“Yas, sudah malam, tutup jendelanya!” Perintah ibu Yasinta.
“Bentar lagi, Bu. Yas masih ingin melihat bulan.” Jawab Yasinta.
“Tapi jangan lama-lama ya? Nanti nyamuknya pada masuk ke kamar kamu, Yas.”
“Iya.” Jawab Yasinta singkat.
Tak berapa lama Yasinta pun menutup jendela kamarnya. Merapikan tempat tidurnya sebentar dan keluar kamar menemukan ibu yang sedang menyiapkan makan malam.
“Bu, Yasinta boleh tanya?”
“Mau tanya apa Yas?”
“Ibu pernah lihat bulan kan?”
“Ya pasti lah, Yas.” Kata Ibu Yasinta sambil membelai rambut Yasinta.
“Ibu tahu kan kalau di dalam bulan itu seperti ada seorang ibu yang menggendong bayi?” tanya Yasinta.
“Ya, terus....” tanya ibu Yasinta semakin penasaran.
“Setiap hari hanya ibu itu terus yang menggendong bayinya. Apa bayi itu juga tidak punya bapak seperti Yasinta?” kata Yasinta sambil melirik ke arah ibu.
“Hush! Kamu itu ngomong apa? Yasinta itu punya bapak.”
“Kalau Yas punya bapak, pasti Sabtu kemarin Yas bisa ikut sepeda santai bareng teman-teman.”

Sumber gambar di sini
***
Satu minggu yang lalu . . .
“Nah, anak-anak, bu guru mempunyai pengumuman bagus untuk kalian.” kata Bu Munifah kepada seluruh siswa kelas lima.
“Apa Bu???” tanya siswa secara serempak.
“Dalam rangka menyambut hari ulang tahun sekolah kita, maka akan diadakan acara sepeda santai. Oleh karena itu, Sabtu nanti kalian semuanya membawa sepeda ya? Jangan lupa juga sepeda kalian dihias. Sepeda yang paling bagus hiasannya akan mendapat hadiah dari ibu.”
“Horee.......!!!!”
Semua siswa tampak gembira. Beberapa dari mereka sudah  memiliki rencana akan menghias sepedanya sepulang sekolah nanti. Namun, tidak bagi Yasinta. Wajahnya tampak murung. Dia lebih memilih diam dan duduk di bangkunya.
Sesampainya di rumah, Yasinta ingin segera masuk kamar. Tak lupa ia meletakkan sepatu di rak dan mencuci tangannya.
“Yas, salamnya mana?”
“Assalamualaikum!” kata Yasinta dengan cepat.
“Wallaikumsalam Yas....”
Tidak ada lagi percakapan selanjutnya. Yasinta segera menutup pintu kamar dan membuang dirinya di atas ranjang. Yasinta kesal, marah.
Tok. . . tok . . tok . .
“Boleh ibu masuk, Yas?” tanya ibu di depan pintu kamar Yasinta.
“Ya.” jawab sang pemilik kamar.
“Kamu kenapa Yas? Pulang sekolah malah cemberut?” tanya ibu sambil mendekati Yasinta.
“Bu, kapan bapak pulang?” jawab Yasinta sambil bangkit dari posisi berbaringnya.
“Memangnya kenapa?”
“Yas tanya, kapan bapak pulang?” tanya Yasinta dengan nada suara mulai meninggi.
“Yas kangen bapak? Kalau Yas kangen bapak, ibu akan telpon bapak sekarang.” kata ibu dengan suara lembutnya.
“Nggak, Yas maunya bapak pulang sekarang! Yas, mau belajar naik sepeda sama bapak, Bu. Yas, mau ikut sepeda santai. Yas, pengen bapak pulang, Bu! Bapak harus pulang sekarang! Sekarang! Pokoknya sekarang!” akhirnya Yasinta pun menangis. Menyadari hal itu, ibu segera menghamburkan pelukannya untuk Yasinta.
Ibu Yasinta benar-benar menyadari keinginan Yasinta. Tapi apa daya, orang yang dinantikan kehadirannya memang tidak bisa hadir dalam waktu sekejap.
“Yas, ibu yang akan melatih Yas naik sepeda. Yas mau kan?”
“Nggak, Bu. Yas, maunya bapak. Ibu pasti nggak kuat kalau megangin sepedanya. Yas sudah besar, Bu. Pasti berat. Hanya bapak yang kuat.”
Berkali-kali ibu selalu membujuk Yasinta untuk berlatih naik sepeda dengannya. Tetapi, Yasinta tak bergeming.
Sampai pada hari Sabtu, Yasinta memilih untuk tidak berangkat sekolah. Dia berdiam diri dekat jendela kamar. Menantikan rombongan sepeda santai dari teman-temannya lewat di depan rumah. Tampak jelas rasa iri menghinggapi diri Yasinta. Ibu yang melihat Yasinta begitu murung, hatinya semakin gelisah. Apalagi, setiap malam Yasinta sering mengigau memanggil-manggil bapaknya.
***
Yasinta tampak lelap sekali tidurnya. Sebenarnya ibu tak tega membangunkan anak semata wayangnya ini. “Yas, bangun sayang. Coba lihat siapa yang datang?” kata ibu sambil menepuk pipi Yasinta lembut.
Yasinta mulai membuka matanya pelan. Sedikit demi sedikit Yasinta mengumpulkan kesadarannya. Dia mengucek-ngucek matanya. Ada sosok gagah yang sudah setahun ini tak pernah ia temui karena harus menjalankan tugasnya sebagai nahkoda sebuah kapal pesiar milik negara asing.
“Ba...pak.....” suara Yasinta terdengar parau.
Bapak yang selama ini ia rindukan kini sudah ada di depan mata. Dipeluknya dengan erat. Sangat erat. Yasinta seakan-akan tak percaya. “Pak, kenapa baru pulang? Seandainya Bapak pulang satu minggu yang lalu, pasti....” Yasinta tidak melanjutkan kalimatnya.
“Iya, bapak tahu. Ibu sudah cerita dengan bapak. Oleh karena itu, sekarang bapak pulang untuk mengajari anak bapak yang cantik ini untuk naik sepeda. Masak sih sudah kelas lima belum naik sepeda? Hahahaha....”
“Bapak!” teriak Yasinta seraya memeluk bapaknya kembali.


#Hak Cipta Milik Majalah BOBO

Monday, 24 June 2013

Beginikah Jakartaku?



Suara klakson terdengar membuana. Ya, tepat di saat jam istirahat sampai nanti tengah malam. Eh, ketika ayam mulai berkokok mungkin juga seperti itu. Jakartaku, selalu macet. Puluhan hingga ratusan kendaraan berdempetan. Bahkan kesan itu muncul disaat pertama kali aku mencium udara busuknya, 6 tahun yang lalu. Keingin gadis desa untuk melihat kemegahan Jakarta, justru waktunya lenyap oleh keminiman kendaraanya bergerak. Oh, ternyata, beginikah Jakartaku?

Beberapa bulan yang lalu, genangan air bercorak coklat menenggelamkan bundaran Hotel Indonesia. Bukan hanya tempat megah itu, bahkan hampir seluruh bagian jakarta seakan mengambang. Beginikah Jakartaku?

Yang terhangat, ‘pertempuran’ antara polisi dan mahasiswa yang mendemokan masyarakat dengan adanya rencana kenaikan harga BBM. Mengharukan. Semua rusak, bahkan mereka yang punya tampang tak tahu menahu menjadi korban. Beginikah jakarta?


Inilah catatan pada buku hitam Jakarta. Kalau pun diurutkan semuanya, ku rasa akan melebihi tumpukan perkara Joko Susilo.