Tuesday, 17 September 2013

Rencana Allah Lebih Indah



Siapa menyangka apa-apa yang sudah dipersiapkan dengan matang tiba-tiba berantakan di jalan? Rasanya sangat menjengkelkan dan seakan ingin bilang, “Kenapa sih Allah jahat?” Hal itulah yang terjadi pada saya kemarin pagi ketika berangkat ngajar.

Mempersiapkan alat peraga atau media untuk mengajar, bagi seorang guru adalah wajib hukumnya. Apalagi untuk guru praktikkan seperti saya. Maka saya persiapkanlah media “Styrofoam (gabus) Hitung”. Dengan gabus tersebut saya ingin membelajarkan tentang penjumlahan dan pengurangan di bawah angka 20 bagi siswa kelas 1 SD melalui cara menempelkan berbagai macam gambar.

Gabus yang saya gunakan tebalnya 1,5 cm, panjang 80 cm, dan lebarnya 40 cm. Sekitar pukul 05.45 WIB saya berangkat dari umah. Riangnya hati saya membayangkan betapa ceria anak-anak nanti ketika saya masuk kelas membawa media yang satu ini. Pasti pembelajaran akan berlangsung dengan menyenangkan, yakin saya.

Takdir berkata lain. Sekalipun saya sudah memposisikan gabus tersebut dengan posisi senyaman mungkin agar tidak terkena hembusan angin, tiba-tiba “Krek”. Sontak saya menjerit, “Aww...”. Iya, gabus yang saya bawa itu retak setelah ada bus antar provinsi menyalip saya. Padahal sudah setengah jalan (30 menit perjalanan). Berhentilah saya. Saya perhatikan gabus itu.

“Buang-tidak-buang-tidak.”

Saya putuskan untuk membawa sisa gabus yang patah tadi dan merelakan sebagian gabus yang melayang entah kemana. Sebelumnya saya ambil hiasan-hiasan yang masih menempel. Pelan-pelan, takut sobek. Saya tempelkan hiasan tersebut pada spedometer motor. Selesainya, saya mencari cara bagaimana posisi yang pewe agar gabus ini nggak patah lagi dan mudah dibawa. Tapi sebenarnya saya sudah lillahi ta’ala misalnya gabus tersebut patah lagi. Hiks.

Posisi diantara kaki dan bertumpu pada dada sayalah yang setidaknya menjadi posisi paling pewe saat itu. Bismillah. Saya lanjutkan perjalanan ke sekolah. Di perjalanan tak sedikitpun ada masalah dengan gabus tersebut. Inikah cara Allah? Mematahkan gabus  saya untuk mempermudah perjalanan saya?

Sesampainya di sekolah, teman sejawat pada nyengir, “Patah?”
“Iya.” Saya langsung nyelonong masuk dan bersalaman dengan kepala sekolah yang selalu rajin berangkat pagi tiap hari Senin. Segera setelah itu, saya letakkan tas dan mengeluarkan penggaris serta cutter. Cia..cia...cia...membereskan hiasan dan selesai. Media yang saya rancang telah kembali seperti semual. Ya, meskipun ukuran panjangnya sedikit berbeda. Tak apalah.

Dari kejadian ini, saya justru flasback pada beberapa kejadian satu bulan ini. Saya merasa kalau akhir-akhir ini banyak sekali perubahan dalam diri saya. Dulunya saya yang terlalu ambisius dan apabila sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan saya, maka stress-lah saya kemudian pekerjaan yang lain akan keteteran semua. Tapi pagi ini? Saya dengan santainya mengatasi masalah tersebut, lillahi ta’ala. Inikah nikmat Allah yang lupa saya sadari dari dulu? Nikmat ketika memasrahkan apa—apa yang terjadi pada Allah. Dan hasilnya? Mengajar hari ini sangat lancar dan anak-anak juga bersemangat. Sekalipun mereka tidak tahu kalau ada kejadian gabus patah. Hari ini saya belajar apa itu pasrah.

Sunday, 15 September 2013

Ikutan GA dari Mbak Dian Nafi Yuk!

Nggak jadi datang ke bedah acara bedah buku MESIR SUATU WAKTU dari Mbak Dian Nafi rasanya jadi jengkel sendiri. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin memang sudah ada rencana lain. Ya, sudahlah ya. Dengan harapan nggak bisa ikutan acara bedah bukunya, bisa dapetin buku gratis dari Mbak Dian Nafi, syukur-syukur kalau dapat tanda tangan juga. Hihihi.

Nah, ada juga yang mau dapetin buku gratis dari Mbak Dian Nafi? Ada tiga orang lho? Yuk buruan cek di SINI.

Caranya mudah banget kok, nggak percaya? Hanya menulis pengalaman berkesan yang berhubungan dengan AYAH, HAJI dan TRAVELLING sebanyak 2 paragraf. Mudah bukan??? Tenang saja, milih salah SATU saja. Info lebih lanjut langsung ke SINI.

Berikut pengalaman berkesanku dengan ayah (bapak).

2 tahu lalun ketika perekonomian keluarga sedang tidak stabil, motor ayah atau yang sering aku panggil bapak terpaksa harus dijual. Padahal  motor adalah senjata utama bapak untuk menafkahi ibu dan aku. Akhirnya motorku berpindah tangan ke bapak agar bapak tetap bisa bekerja. Itu juga demi membiayai kuliahku, batinku. Aku harus mengesampingkan egoku.


Pernah suatu malam, sudah jatahnya aku pulang ke rumah. Ya, bapaklah yang menjemputku. Aku tahu bapak lelah setelah seharian bekerja. Tapi demi aku, bapak rela jauh-jauh menjemputku di kos-an. Dia tak ingin anaknya mengalami pelecehan lagi di bus. Lama tak melihatnya, ku rasa tubuhnya makin kerempeng. Dadaku rasanya sesak. Baru 15 menit perjalanan, hujan turun. Dibukanya bagasi motor, hanya ada satu jas hujan spiderman dan satu atasan jas hujan yang tak ada celananya. Dengan sigap bapak memakaikan jas hujan spiderman itu padaku. “Pak, bapak pakai yang ini saja, adik pakai yang baju itu. Kan kaki adik nanti bisa ketutup jas bapak.” Bapak hanya menjawab. “Nanti kamu masuk angin.” Entahlah apa yang saat itu aku rasakan, memang hanya seperti itu, tapi rasanya sepanjang perjalanan pulang air mataku tak henti-hentinya menetes. Aku hanya bisa berjanji pada diriku sendiri aku akan kuliah dengan sungguh-sungguh agar kelak bisa membuat bapak dan ibu tak perlu serba kesulitan seperti ini. Aamiin.

Nah, aku contekin deh buku apa saja yang bisa kamu dapetin. Ini nih!




Misalnya aku ditanya, pengen hadiah yang mana? Aku pengen banget yang pertama, Ayah Lelaki Itu Mengkhianatiku...Aamiin. Semoga dapat.

Thursday, 12 September 2013

Bimbingan 1



Antara yakin dan tidak yakin kalau proposal skripsi ini akan selesai pada waktunya. Karena apa? Menurut keterangan dosen, September akhir harus sudah siap ujian proposal sedangkan SK bimbingan baru keluar 26 Agustus 2013. Saat ini saya baru mulai bimbingan. Bisakah kalau bimbingan hanya satu bulan?

Dengan bekal niat dan bismillah, akhirnya saya menemui dosen pembimbing saya. Maunya dua-duannya bisa langsung bertemu, tapi ternyata? He, bukan mahasiswa kalau nggak ngesot-ngesot dulu di kampus ya?
***
Pulang dari PPL, sekitar pukul 12.30 WIB saya menuju kampus. Tak langsung masuk, saya mampir di rental sebentar untuk mencetak daftar pustaka dan cover proposal skripsi saya. Kemudian memarkir motor dan masuk masjid. Bukan untuk sholat karena kebetulan saya sedang berhalangan, melainkan istirahat di serambi masjid sejenak untuk makan siang. Memang saya terbiasa membawa bekal makanan sendiri dari rumah, masakan ibuk tercinta.

Amel, saya bertemu dengan teman satu kelas dan kini jadi teman satu sekolah ketika PPL. Di sana, kami ngobrol sana-sini, bertemu dengan teman satu jurusan, dan keluhannya sama, “capek dan kapan bimbingan skripsi”. Entahlah, saya hanya diam. Saya rasa lebih banyak diam akan lebih baik dibandingkan berkeluh kesah di depan teman-teman. Toh tidak akan menyelesaikan masalah pula.

Pukul 14.00 WIB, saya menuju ruang dosen. Ramai sekali. Banyak kakak tingkat yang pada ngesot di depan ruang dosen. Apalagi kalau bukan untuk bimbingan. Saya yang notabene adik kelas ya lontang-lantung sendirian. Mengecek dosen pembimbing saya, “eh, ada tas dan jaketnya, tapi beliau tidak ada.” Mondar-mandirlah saya dan bertemu dengan Mas Ipud, kakak tingkat yang berbeda jurusan sekaligus teman seperjuangan ketika dulu masih jadi penyiar radio kampus. Caileh, lama tak bertemu dia tambah bening, dan suaranya itu lho, mateng banget. Ya, secara sekarang dia tambah aktif di salah satu radio swasta di Kudus.

“Lho, kamu PPL sama buat proposal? Mau wisuda bareng aku?”

Mas Ipud sok lebay, “Aku hanya mencoba Mas.”
“Ok, tahu deh aku. Yang penting kamu fokus PPL dulu, yang ini no dua kan?”
“Maunya ya jalan semua lah. Mas, baru satu bulan temanku pada ngeluh capek, emang seperti itu ya, Mas Ipud dulu gimana?” tanya saya.
“Ya, kan kalau nggak enjoy memang seperti itu Cha. Hawanya pengen cepet selesai. Tapi kamu nggak kan?”
Saya hanya nyengir.
“Aku yakin, ini passion-mu.”
“Aamiin, doakan Mas.”
Mas Ipud menghilang di tengah kerumunan deretan kakak tingkat yang berjejer di setiap sudut ruangan gedung Orange. Saya memilih duduk di kursi dekat pintu dan mengeluarkan modul untuk tugas kuliah yang harus direview akhir September ini.

Setengah jam berlalu, Saya bertemu Chamelia. Anak 7C. Kenal dia baru-baru ini, itu juga lewat facebook. Keseringan sharing lewat chat membuat kami mulai akrab di dunia yang sebenarnya. Ternyata tujuan kami sama. Bertemu dengan dosen pembimbing utama. “Oh, Pak Murtono, kami menggu Anda”.

Ngobrol sana-sini, cerita tentang masing-masing SD tempat kami PPL menjadi topik utama. Nimbrunglah Anis, teman sekelas Chamelia. Semakin seru.

“Ini Pak Mur mana to?” Chamelia mulai gusar ketika melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB.
“Mbak, misalnya nanti Pak Mur nggak ada terus gimana?” Chamel bertama pada saya.
“He, nanti punyaku tak taruh di meja Bu Mila aja.” Bu Mila adalah dosen pembimbing kedua saya. Tadi beliau ada, tapi hanya lewat dan menear senyum pada kami dan langsung pergi.

Sebelumnya, ada kejadian yang membuat saya kelelahan dan berhasil membuat lutut ini mau copot. Apa coba? Lagi-lagi, bacalah buku panduan skripsi dengan teliti dari awal sampai akhir, apa-apa saja yang harus dibawa ketika bimbingan? Ini hal penting! Hal bodoh yang saya lakukan:
1.    Saya tak tahu kalau harus membawa lembar berita acara bimbingan, saya kira berita acara tersebut ditulis pada buku panduan. Soalnya di buku panduang memang ada lembarannya. Fiuh~
2.    Format penulisan itu harus sesuai (sama plek), baik itu font sampai mengenai spasinya. Hanya tulisan nama saja di halaman cover bisa jadi masalah, nah saya? Nggak mau penampilan pertama saya sangat mengecewakan, saya segera mengeditnya, tapi apa coba? Salah sampai dua kali dan harus bola-balik ke rental.
3.    Di stopmap harus ditulis nama dan keterangan lengkap, jangan lupa no HP, saya sudah tapi tak ada judul saya. Saya kira karena di cover proposal sudah ada jadi nggak perlu lagi. Tapi yang lain ada. Hiks, benahin lagi. Balik ke rental lagi.

Cerita di hari bimbingan 1 ini diakiri dengan ketidakhadiran dosen pembimbing. Saya berinisiatif SMS Bu Mila kalau saya menaruh bimbingan saya di meja Bu Mila. Dengan bahagianya saya dapatkan balasan SMS dari beliau, “Iya mbak...”


Catatan penting: banyak komunikasi dengan teman, kalau bisa malah sama kakak tingkat!

Tuesday, 10 September 2013

Memanfaatkan tombol Alt, E, dan S



Setiap orang secara sengaja atau tidak pasti seringkali mengutip data baik dari internet (blog, website, dsb), PDF, E-Book atau yang lainnya dan dipindah ke word. Menge-blok semua data kemudian menggunakan tombol spesial pada komputer, seperti Ctrl + C dan diakhiri dengan Ctrl + V. Hasilnya bagaimana? Data yang berupa paragraf akan tampak tidak karuan. Baik dari jenis font, ukuran font dan tata letaknya. Adakah solusi lain?

Sepele. Tapi banyak orang yang tidak memperhatikan hal ini. Berikut, saya akan berbagi tombol spesial agar masalah yang biasanya dialami ketika mengutip data bisa lebih mudah diatasi. Cukup dengan Alt, E, dan S. Pernahkah menggunakan tombol spesial di atas? Ikuti cara di bawah ini.
1.    Blok semua paragraf yang ingin di-copy




2.    Tekan Ctrl + C
3.    Buka Ms. Word halaman baru
4.    Tekan Alt, E, dan S (tidak ditekan secara bersamaan, tapi berurutan)
5.    Maka akan muncul kotak dialog seperti di bawah ini.


6.    Pilihlah “Unformatted Text” kemudian klik Ok.
7.   Maka paragraf akan tertata sesuai dengan format default komputer masing-masing.


8.    Paragraf siap diedit sesuai dengan keinginan.


Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

Sunday, 8 September 2013

Serba-Serbi Warnet


Sumber gambar di sini

Dulu, ketika awal mula jadi mahasiswa baru barang bernama laptop dan netbook atau notebook masih menjadi hal yang mewah, bagi saya. Karena bagi orang lain memang tidak. Beberapa di antara teman satu kelas sudah banyak yang memiliki. Saya yang belum memiliki pastinya harus tetap memutar otak karena mau bagaimanapun alasannya tugas harus tetap dikerjakan. Baik itu yang sifatnya individu maupun yang kelompok.

Keberadaan warnet sangatlah membantu saya untuk menge-larkan segala urusan kampus. Meskipun, biaya yang saya keluarkan tidak sedikit. Ada memang tempat pengetikan yang harganya lebih murah atau sering dikenal sebagai rental komputer. Namun yang murah atau mahal pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Yang tempat rental, untuk mengetik itu per jamnya hanya Rp 1.500 ada yang Rp 1.000 tapi tidak bisa sambil berselancar mencari data. Sedangkan kalau di warnet bisa sambil berselancar per jam nya itu sekitar Rp 2.500- Rp3.000. Semua tergantung kantong. Dan saya selalu memilih yang warnet saja. Oya? Kalau di rental itu tempatnya alamaaak pasti selalu ramai, maklum saja yang tidak punya laptop kan tidak hanya satu atau dua orang saja. Jadi siapa cepat dia dapat. Itulah ungkapan yang tepat. Padahal kan kalau mengerjakan tugas kuliah nggak hanya satu atau dua jam, bisa-bisa kalau nunggu jadi jamuran.

Bertahan sampai tiga semester, akhirnya rejeki menghampiri saya. Ibuk dengan berbaik hati mengajak saya, “Dik, yuk ke Matahari. Sudah saatnya adik punya notebook.” Alhamdulillah. Tak usah merengek minta, orangtua pasti sudah memikirkan kebutuhan anaknya. Bukankah begitu?

Memiliki perangkat ‘mewah’ ini, dulunya saya beranggapan kalau tugas akan selalu cepat selesai. Karena tidak harus ngantri ataupun pergi jauh-jauh ke warnet. Caileh, ternyata salah. Justru memiliki notebook sendiri saya jadi agak malas mengerjakan. “Ah, nanti lah. Kan sudah punya notebook sendiri.” Seperti itu batin saya tiap kali mau mengerjakan. Dan ternyata, ketika saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman, hal yang sama terjadi juga pada mereka. Unsur prihatin karena nggak punya notebook sendiri mungkin dulu menjadi penyemangat untuk mengerjakan tugas lebih cepat dan tepat. Sekarang? Apakah kamu juga merasakan hal yang sama? Aduh, segera benahi yuk! Karena dulu 2 hari sebelum hari pengumpulan sudah selesai tugasnya, sekarang sudah punya notebook sendiri jadi SKS alias Sistem Kebut Semalam. Benarkah? Jangan sampai.

Sore tadi ketika saya sedang nge-print di warnet, daripada menunggu sambil bengong, saya putuskan untuk masuk di salah satu kabin di sana. Ada rasa, “Ah, aku kan dulu sering begini.” Rasanya seakan bernostalgia dengan masa lalu. Ya, semenjak memiliki notebook dan modem sendiri, rasa-rasanya hal yang saya lakukan itu sangat langka. Dari pengalaman tempoe doeloe, ada beberapa hal yang justru  menjadi catatan penting yang mungkin bisa diambil hikmahnya ketika kita hendak pergi mengerjakan tugas di warnet dan juga memilih warnet:
1. Memilih warnet yang dekat dengan tempat tinggal kita atau tempat kos menjadi pilihan pertama. Nggak mungkin kan misalnya anak perempuan lembur tugas sampai pulang malam sendirian lagi. Nggak kebayang.
2. Lihat tarifnya. Ini hal penting nih, tapi tenang saja, sudah banyak warnet-warnet yang menawarkan paket berselancar. Misalnya 1 jam Rp 3.000, maka ada paket 2 jam hanya Rp 4.000, paket 3 jam Rp 6.000 dan sebagainya. Maka nggak ada salahnya buat ambil paketan tersebut.
3.Pastikan suasana warnet nyaman. Kenyamanan suatu tempat memang tergantung dari masing-masing orang. Tapi bagi saya sendiri, kenyamanan saya ukur dari beberapa hal, seperti penerangan dan sirkulasi udaranya baik, ada kamar mandinya (di tengah jalan mengerjakan tugas tiba-tiba kebelet harus pulang dulu?), kabinnya cukup luas tapi tidak terlalu tertutup, ada AC/kipas angin, bersih dari sampah, bersih dari asap rokok, ada tempat ngeprint dan jilid sekalian dan sebagainya. Ada satu lagi, pamor warnet tersebut baik tidak di lingkungan sekitar? Jangan pilih yang berlabel ‘tempat mesum’.

Setelah syarat warnetnya terpenuhi, ada juga lho yang harus diperhatikan berkaitan dengan kegiatan kita ketika akan mengerjakan tugas di warnet. Jangan sampai tujuannya mengerjakan tugas malah keblinger main facebook, twitteran, YM-an, atau kawan-kawannya itu. Jadi, coba perhatikan beberapa hal di bawah ini.
1.  Buatlah list apa saja yang akan kita kerjakan atau data apa saja yang akan kita cari. Tentunya prioritaskan yang terpenting dahulu. Misalnya mau membuat makalah tapi ternyata belum memiliki data sedikitpun maka carilah data atau informasi sebanyak-banyak terlebih dahulu baru kerjakan makalahnya.
2. Jangan lupa membawa flashdisk. Akan lebih nyaman apabila menyimpan data kita langsung di flashdisk kita. Biasanya warnet menyediakan, tapi kan jumlahnya terbatas. Mau ngantre lagi?
3.Bawa uang secukupnya saja. Uang untuk nge-net, nge-print dan jilid misalnya. Lah? Masak? Nanti kalau kurang bagaimana? Ini adalah disiplin diri saya sendiri. Siapa tahu nanti berguna juga untuk yang lain. Sebagai anak kos dengan uang bulanan atau mingguan yang terbatas, pembatasan uang ketika ke warnet ini harus dicoba. Karena apa? Misalnya dari kos atau rumah kita berencana untuk nge-net hanya 2 jam tapi karena tidak membuat list kegiatan jadinya waktu 2 jam habis hanya untuk main facebook jadinya nambah lagi 2 jam, nah lo? Malah tekor kan? Bukan hanya tekor uang tapi tekor waktu juga.

Nah, itu beberapa hal yang bisa saya bagi berkaitan dengan warnet dan aktivitas kita di sana. Oya, satu hal terpenting lagi adalah ketika kita mengerjakan tugas di warnet atau tempat rental jangan lupa segera men-SAVE kerjaan kita setiap saat. Misalnya dapat satu kalimat, SAVE. Satu paragraf SAVE. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, yaitu ketika komputer hang atau parahnya listrik padam melanda. Huwaa....bisa-bisa rugi uang, tenaga, dan juga waktu kan?


Di akhir postingan ini, saya hanya ingin berpesan bagi kamu yang saat ini masih berselancar di warnet dan masih dalam rangka selalu berdoa memiliki netbook, notebook atau laptop, bersabarlah. Semoga secepatnya diturunkan Allah rejekinya. Tenang saja, berlatih prihatin itu juga sangat perlu, kata ibuku seperti itu. Selamat berselancar.

Thursday, 5 September 2013

Ngobrolin Sorong-Papua

Sumber: Klik gambar

Komunikasi antara guru dan orangtua siswa memang perlu dilakukan. Tak harus yang berbau formal seperti membicarakan kemajuan belajar siswa, hal yang sepele juga bisa. Seperti halnya yang saya alami. Berlagak menjadi guru, hihihi.... saya menghampiri seorang bapak yang duduk di depan ruang kelas 5.
“Bapak ini mau jemput anaknya.” batin saya.
Usianya di atas 50 tahun. Hal itu saya ketahui setelah lama mengobrol dengan beliau yang mengaku pensiunan dari salah satu kantor instansi pemerintah yang cukup mentereng.
Lama sekali ngobrol sana-sini (saya nggak ngajar, dapat jatah piket), pembicaraan mengerucut tentang Papua. Ah! Saya selalu semangat deh kalau membicarakan daerah Timur Indonesia ini.
Menurut beliau yang sebenarnya berdarah Madiun itu, hidup di Jawa itu sangat berbeda dengan di sana (Sorong, Papua).
“Bedanya apa Pak?” tanya saya penasaran.
Hidup di perumahan lah yang menjadi sorotan pembicaraan bapak tersebut.
“Di sini (Jawa) itu individualnya terlalu Mbak. Saya kan baru 2 tahun ini di sini, selama itu pula saya itu bingung. Orang sini kalau nggak ditegur (baca: menyapa) nggak mau negur duluan Mbak.”
Saya manggut-manggut.
“Tidak tahu juga kenapa. Kalau di Sorong sana tidak seperti itu. Di sana itu saya juga hidup di kompleks perumahan Mbak. Orangnya ramah semua. Meskipun dalam satu kompleks itu berbeda-beda suku Mbak. Jadi kalau di sana itu tiap blok beda suku, tapi kalau ketemu ya saling nyapa. Beda dengan di sini. Setiap sekali sebulan juga ada kumpul-kumpul gitu Mbak, jadi untuk tiap suku ada kepala sukunya. Jadi ya kayak keluarga semua.”
Saya manggut-manggut lagi.
“Ini nanti kalau istri saya pensiun (istrinya juga pegawai instansi negara yang mentereng), saya ada rencana mau pindah ke Sorong lagi Mbak. Saya di sini kan hanya kontrak Mbak. Semuanya ada di Sorong sana.”
“Ternyata seperti itu ya Pak...”
“Iya Mbak, padahal kita kan terkenal sebagai negara yang ramah ya?”
Saya diam saja mendengarkan.
“Ada lagi Mbak bedanya di sini dengan di sana, gaji saya berbeda Mbak.”
Saya mendelik. “Oya?”
“Iya Mbak, kalau di sana bisa 25 juta, di sini tinggal 23 juta Mbak.”
Saya tambah mendelik. Itu uang kayak apa ya bentuknya? Tiap bulan dapat gaji segitu, hu~ bisa naik hajiin ibuk. Batin saya.
“Yah...ayoo...” suara anak bapak itu sudah keluar kelas dan mengajak pulang. Ternyata anak tersebut siswa kelas 3 yang selalu dapat nilai 100 untuk pelajaran bahasa Inggrisnya.
Bapak itu berpamitan dengan bahasanya yang masih kental dengan logat Papua. Saya nyengir nggak paham.

Benarkah berbeda kehidupan di Sorong dan di Jawa? Padahal daerah Timur Indonesia selama ini terkenal dengan label ‘keras’. Hum~ Ada yang memiliki pendapat lain?

Tuesday, 3 September 2013

Butuh Dukungan




Di Indonesia masih ada kebiasaan antre! Salah satunya adalah kebiasaan antre yang pernah saya temui di sekolah dasar. Masuk sekolah siswa disambut oleh guru di depan gerbang dan bersalaman, berbaris di depan kelas sebelum masuk kelas setelah bel berbunyi, antre ketika ganti baju olah raga, menunggu giliran namanya dipanggil saat guru mengabsen, dan yang penting lagi adalah ketika meminta nilai kepada guru atas tugas yang dikerjakan.

Masih banyak sekali kegiatan yang lainnya. Namun itu tak seimbang dengan jumlah sekolah di negara kita yang sudah membiasakan kebiasaan antre. Hal ini harusnya jadi keprihatinan semua kalangan. Lagi-lagi tanpa peran orangtua dan masyarakat yang mendukung penanaman kebiasaan antre, kebiasaan antre yang ditumbuhkan di sekolah tak akan berbuah manis. Jangan biarkan kebiasaan antre menjadi asing di negara kita.

#tulisan ini saya ikutkan tantangan kampus dari Kompas, dan tidak lolos. Hahaha!

Ibuku ‘Menipu’ di Puskesmas



Siapa yang tak kenal lagu berikut ini?

Kasih ibu
Kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya
Menyinari dunia

Ah, saya hanya ingin pamer betapa cintanya ibuk kepada saya. Sudah seminggu ini saya memang sedang tidak fit. Alhamdulillah, ini adalah bentuk cinta Allah. Semua jadi berantakan, jadwal PPL, mengerjakan silabus dan RPP, proposal skripsi (kapan bimbingan woy?). Ah~ woles saja deh kalau kata keponakanku.

Eh, malah ngelantur kemana-mana ya?
Dari sakitnya saya ini lagi-lagi ingin mengucapkan Alhamdulillah, meskipun tidak dilahirkan dari keluarga yang serba ada, tapi memiliki Ibu macam ibuk Hartini, saya sungguh sangat bahagia lahir batin.

Ibu saya, rela menipu di Puskesmas. Menipu? Aduh, kesannya negatif banget ya? Ya, negatif kalau buat pihak Puskesmas, tapi bagi saya? Mampu melelehkan perasaan saya.

Cerita bermula Senin kemarin, karena saya harus tetap berangkat PPL, saya pun tidak bisa ikut ke Puskesmas. Ibu saya mencari obat gratisan di Puskesmas. Benar saja, meskipun sudah ke bu bidan, membuat obat tradisional, beli obat di apotek dan di warung tapi tetap saja batuk yang saya derita tak sembuh juga. Bisa jadi karena saya kurang istirahat. Ibuk mana yang tak khawatir anak semata wayangnya ini sakit? Ibuk yang lainnya pasti juga seperti itu.

Di Puskesmas, ibuklah yang mengaku sebagai si sakit. Ditanya sama pak mantri, “Keluhannya apa Bu?” ibuk saya menjawab, “Batuk ngekel (berdahak) Pak. Kalau malam sampai nggak bisa tidur Pak.”

“Mriki kulo tensi rumiyin, (setelahnya) wah normal Bu, 120.” Ibuk saya katanya hanya senyum, tapi saya yakin nih ibuk pasti di dalam hatinya ketawa terbahak-bahak dan bilang, “Lha iya, wong aku waras e (Lha iya, lha saya sehat) Pak.”

Sukseslah ibuk menipu pak mantri Puskesmas. Dibawanya pulang obat tersebut, dan batuk saya kini mulai membaik. Ah~tak melihat salah apa betul yang dilakukan oleh ibuk. Saya tahu, ibuk rela berkorban bagi saya, anaknya.


Adik sayang Ibuk.