Tuesday, 29 April 2014

Resensi Buku: CeweQuat by Bunga Mega

Judul: Cewequat
Penulis: Bunga Mega
Penerbit: Buku Kompas
Tahun Terbit: 2013
Jumlah halaman: xii + 220 halaman
ISBN: 978-979-709-773-8

Jomblo itu bukan sebuah status, pun ada kategorinya.
“...dua kategori, yaitu kategori single atau kategori lonely....” (hal 89)

Yang jomblo ayo merapat!

Ini adalah buku kedua dari penulis, judulnya eye catching banget. Buku ini berisi tentang relationship yang menitik-beratkan pada 3 poin penting, yaitu Life, Love, and Career. Ya, bukan sebatas relationship kepada pasangan (pacar, suami) melainkan sampai kepada orangtua dan teman. Ah, tidak hanya judulnya, gambarnya saja sudah bikin penasaran pembaca.

Terselip tujuan mulia dari penulis, yaitu hendak mengajarkan kepada setiap perempuan betapa pentingnya meng-edukasi diri tentang relationship.

“Dalam hidup kita tidak memeroleh apa yang kita mau, melainkan apa yang pantas untuk kita. Jika kamu menginginkan LEBIH, maka kamu harus menjadikan dirimu LEBIH juga.” (hal 47)

Sudah putus dengan pacar. Tak punya teman. Ahh...dunia seakan mau runtuh! Benarkah seperti itu? Sudahlah beli buku ini, dan baca! Ditinggalkan teman, pacar, bukan berarti Anda adalah manusia yang paling tidak beruntung, buruk, tak berguna, dsb. STOP. Tak pantas Anda mengutuki diri sendiri. Mengumpat dengan kata-kata yang semestinya.

Betah rasanya membaca buku ini, dikemas seperti block note, lengkap dengan ilustrasi yang atraktif, dan bertabur dengan kalimat inspiratif.



“Membiasakan diri mengucapkan kata-kata yang baik untuk diri kita adalah asupan obat untuk kesehatan gambar diri. Hidup kamu, keistimewaan kamu, tidak bergantung dengan pujian atau hinaan orang lain.” (hal 7)

Mari bersugesti yang terbaik bagi diri sendiri. Mengenali nilai dan potensi diri dan lanjutkan kehidupan serta hadapi semuanya. Kalau pun bertemu dengan masalah, “...sikapmu yang akan menentukan perbedaan tentang berapa lama masalah ini boleh terus berada dalam hidupmu.” (hal 117)

Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini terdiri dari beberapa sub bab, akan tetapi pembaca bisa membaca secara acak dan tak harus berurutan. Yang pasti, setiap kali membaca satu kalimat demi kalimat, pembaca akan terbuai dengan rasa penasaran sehingga ingin mebaca agi dan lagi.

Dari buku ini saya dapat pelajaran baru juga lho tentang EYD, kalau teryata yang betul itu bukan memperoleh, tapi memeroleh. Betul? Ada lagi, bukan sekedar tapi sekadar. Di dalam buku ini, saya juga bisa mengetahui kepribadian saya lho, ada semacam tes mini gitu deh.

Anda jomblo? Sedang galau karena belum mengetahui jati diri Anda? Bingung mencari kerja yang cocok untuk kepribadian Anda? Sudah baca saja buku ini.

*typo di halaman 111, medi > medis

Saturday, 26 April 2014

Miss Perfecto Move On

Pagi ini, ketika internet sudah meracuni netbook, langsung deh, klik, abakadabra, akun facebook sudah terbuka sedetik setelah akun blog terbuka pula. Melihat beberapa notifikasi, selesai, lanjut melihat beranda. Ke bawah lagi nggak ada yang menarik, tarik lagi ke bawah dan deg! Sampai pada akun punya teman. Deg...deg...deg!

Segera saya lihat kalender di netbook, Astaghfirullah....bulu kuduk saya tambah merinding saat melihat kumpulan foto teman-teman yang bisa wisuda. Duh Gusti, harusnya hari ini saya wisuda!!! Ada perasaan aneh yang menyelinap dalam hati saya. Oke Ika, kamu kuat. Inilah hidup, tak selamanya yang kamu inginkan harus terwujud. Kalau tak bisa lulus 3,5 tahun, 4 tahun juga tak apa. Bukankah kamu sudah janji tidak akan lembek lagi? Go go go!

***

Entah bagaimana ibu mendidik saya, tapi saya sangat mencintai ibu. Bukan kesalahan ibu jika saya ditakdirkan sebagai sosok yang perfeksionis. Apa-apa ingin saya lakukan semua, berharap mampu menuai hasil yang paling terbaik dibandingkan yang lain, dan ketika semua tak sesuai dengan apa yang saya inginkan, saya akan ambruk.

Semua ke-perfeksionis-an saya selalu diaminkan Allah, jarang yang gagal. Karena saya selalu mempercayai bahwa siapa yang bersungguh-sungguh, maka Allah akan menjanjikan sebuah keberhasilan. Setiap melakukan sesuatu, saya rela menghabiskan waktu tidur dan istirahat saya untuk membuat sesuatu yang perfect.

Disaat semua sedang liburan, 
saya ke rumah teman untuk membuat Media Pembelajaran MTK.
Saat tugas membuat mind-maping,
saya rela tidur hanya 2 jam untuk membuat ini agar beda dari teman yang lainnya.
Hasilnya, saya tersenyum :)
Rela pulang jam 12 malam sendirian menempuh perjalanan 1 jam hanya untuk latihan nari.

Masih banyak hal yang saya lakukan, dan semua berbuah indah. Dari semua yang saya lakukan datang berbagai pujian, baik itu dari teman dan dosen. Semua itu membuat saya murka. Saya begitu gila pujian. Semua berjalan sangat lancar tanpa kerikil sedikit pun.

Tapi itu dulu sampai ada kejadian yang rasa-rasanya saya sebut sebagai tamparan indah dari Allah datang menghampiri saya. Segala kemudahan secara pelan menjauhi saya. Saya semakin beringas. Lupa, bahwa saya ini adalah milik Allah, begitu pula segala yang saya miliki.

Semenjak September 2013-lah, Allah mulai mendongeng-i saya tentang hidup. Inilah hidup yang sebenarnya, Ika. Berbagai kemudahan seperti dana pendidikan dari bapak ibu mulai sekarat. Saya harus berhemat. Meskipun ibu tak pernah cerita tapi saya sudah cukup dewasa untuk membaca situasi di rumah. Bapak ibu mulai sering bertengkar, saya yang saat itu mulai menyusun proposal skripsi mulai ciut nyali. Dari mana saya mendapatkan dana untuk membeli kertas, tinta, dan uang saku untuk perjalanan ke kampus? Alhamdulillah saat itu Mas Khusna datang bak pangeran berkuda putih menawarkan bantuan.

“Jangan-lah, saya masih tanggung jawab bapak dan ibu.”
“Tapi sampeyan ini calon istri saya.”
"Kan baru calon..."
"Terus?" tanya Mas Khusna.

Saya masih menolak pemberian uang dari Mas Khusna. Meskipun dalam hati, mau banget. Hahahaha. Tapi lama-kelamaan atas bujukan maut Mas Khusna saya pun menerima. Akhirnya proposal saya pun kelar. Alhamdulillah...

Sudah selesai-kah cerita saya? Belum! Semua tak berhenti begitu saja. Awal tahun 2014, gunjangan perekonomian keluarga semakin sekarat, denyut nadinya semakin lirih terdengar. Berbagai kegagalan demi kegagalan lain datang, salah satunya yang paling membuat saya down adalah target wisuda saya. Dengan bangga saya pernah menceritakan di Aku Wisuda April 2014, tapi sayang itu hanya isapan jempol belaka.

Dari hari ke hari saya banyak belajar. Faktor kegagalan tak hanya masalah dana, tapi juga faktor dalam diri saya sendiri. Apalagi kalau bukan sifat sok perfeksionis saya.

Sifat tersebut ada kalanya hadir di saat yang tepat tapi ada kalanya justru mematikan sang empunya. Ya, sifat itu melekat terlalu kuat dalam diri saya setiap mengerjakan skripsi. Begitu bimbingan skripsi, saya selalu berekspektasi bahwa tak akan ada revisi yang terlalu banyak, eh ternyata tetap ada revisi yang banyak sekali. Alhasil, karena saya terbiasa mendapat pujian, tapi kini mendapat feedback yang sebaliknya, akhirnya saya down. Sampai rumah dengan suasana rumah yang masih tak lagi hangat seperti dulu, saya semakin malas me-revisi skripsi saya. Kalaupun sedang bersemangat me-revisi maka banyak sekali pertimbangan agar skripsi saya sempurna. Tentunya itu memakan waktu berhari-hari. Begitu seterusnya, sampai akhirnya pendaftaran wisuda ditutup dan saya terpuruk.

"Itu hasil dari pekerjaan kamu sendiri kan? Selalu ingin sempurna tapi tak bisa sesuai deadline. Coba kalau kamu kemarin mengerjakannya nggak harus sempurna, mungkin tak seperti ini." nasihat ibu.

"Heem...." jawab singkat saya yang sebenarnya mengharapkan kata-kata yang keluar dari mulut ibu adalah kata-kata yang menguatkan saya.

Berhari-hari hanya diam di kamar. Melihat netbook dan justru menghibur diri dengan menulis di blog.

"Mungkin saya butuh refreshing."


BBM dari Pak Budi
Setiap Minggu, saat Mas Khusna libur kerja, beliau datang ke rumah dan membujuk saya, "Ayo, katanya mau renang. Sudahlah, lupakan sejenak. Mau kapan pun wisuda yang terpenting sampeyan semangat. Siapa tahu nanti kalau wisuda Oktober ada sesuatu yang berbeda. Oke? Sudahlah, ini adalah...."

"Rencana Allah....gitu kan?"

Kami tertawa.

Ibu sudah berkata seperti itu, Mas Khusna juga, rasanya saya ingin sekali mencari nasihat dari seseorang yang bisa menguatkan saya, lagi. Akhirnya saya mengadu pada seseorang yang sangat care kepada saya, siapa lagi kalau bukan Pak Budi, guru musik SMA sekaligus wali kelas saya yang paling care kepada siswanya. Saya ceritakan segala kegelisahan saya, dan segala nasihat tercurah darinya.

Hampir satu minggu saya tak memegang skripsi saya. Merenung, introspeksi diri, mengingat-ingat apa yang selama ini saya lakukan dan tak lupa meng-iyakan nasihat-nasihat dari mereka yang sayang kepada saya.

"...Jangan gampang terbuai keamanan dan kemapaman. Hidup itu kadang perlu beradu, bergejolak, bergesekan. Dari gesekan dan kesulitanlah, sebuah pribadi akan terbentuk mapan..." Rantau 1 Muara hal 12

Kalimat di atas-lah yang saat ini paling tepat saya gunakan sebagai pegangan. Inilah proses hidup saya. Pun dengan yang lainnya, Anda juga. Masalah pasti akan dialami oleh setiap manusia. Dengan masalah maka seseorang akan semakin matang menghadapi masalah nantinya. Saya harus mengubah mindset saya bahwa saya adalah manusia yang paling tak beruntung. Sudah saatnya saya benar-benar move on! Tak hanya di mulut, tapi juga di hati dan diucapkan dengan penuh niat.

"Bismillah, saya move on!"

Setelah saya move on, apakah masalah akan menjauhi saya? Tidak! Masalah lain datang. Skripsi tinggal ACC, surat ijin penelitian saya tidak jelas keberadaannya. Apakah saya galau? Tidak, saya segera move on!

Demak,
23 April 2014

Wednesday, 23 April 2014

Resensi Buku: Menanti Cinta by Adam Aksara

Judul: Menanti Cinta
Penulis: Adam Aksara
Penerbit: Mozaik Indie Publisher
Jumlah halaman: xiii + 221 halaman
ISBN: 978-602-14972-3-4
Genre: Novel

Cinta itu milik siapa saja. Begitu pula untuk laki-laki disable seperti Alex yang memilih Claire sebagai tambatan hatinya. Siapa itu Claire? Gadis disable pula-kah? Bukan! Dia adalah anak pelacur yang rela menjual anaknya demi uang.

“....Dari tempat duduk kuliahnya, dia dapat melihat seorang pria yang mendorong kursi rodanya memasuki ruangan dan memperkenalkan diri sebagai dosen mereka yang bernama Alex...” halaman 22.

Itulah kali pertama Claire bertemu dengan Alex. Dosen kimia di jurusannya, perawat. Setiap manusia itu memiliki sisi keunggulan tersendiri. Seperti Claire, berasal dari keluarga miskin akan tetapi memiliki kesempatan kuliah dari beasiswa sedangkan Alex?

Dilahirkan dari keluarga yang mumpuni dalam hal ekonomi, Alex tumbuh di luar dugaan. Bisa sekolah di sekolah umum sampai dengan mendapat gelar profesor di usianya yang ke 20 karena hasil temuannya di bidang kimia. Selain itu, Alex juga banyak menciptakan produk-produk sabun yang membantu pekerjaan rumah.

Berhasil menciptakan produk-produk yang luar biasa tak sejalan dengan kisah cintanya. Alex seperti tenggelam dengan dunianya sendiri. Sampai suatu hari ia dibuat penasaran oleh sosok Claire.

“Mahasiswa yang duduk di kursi sayap barat?” hal 26.

Atas dasar rasa penasaran dan kasihan yang diramu begitu indahnya, tumbuhlah bibit-bibit cinta yang siap disemai oleh Alex. Begitu abadi, hingga cinta itu sukses mencipta seorang Alex yang sadis. Menghalalkan segala cara untuk cinta Claire. Akankah Claire menyambut cinta Alex?

***

Berikut saya uraikan kekurangan dan kelebihan buku ini:
Kekurangan
  1. Ini kali pertama saya membaca karyan Adam Aksara. Ide cerita yang membuat saya bingung, antara biografi dan novel asli semua hanya fiksi. Kalaupun biografi, latar tempat dan waktu tak jelas digambarkan dalam cerita ini.
  2. Penggambaran tokoh Claire ambigu antara sosok yang tegar dan lemah.
  3. Font pada cover pada tulisan, “Cinta tak pernah membebani...Ia meringankan yang memilikinya...” akan lebih tampak eye catching apabila dipilih font yang lebih ramping.
  4. Penggunaan kata pada dan yang sering tumpang tindih sehingga menimbulkan pemahaman ganda.
  5. Typo-nya banyak banget, seperti di halaman 25, 26, 30, 32, 36, 42, 44, 45, 50, 51, 60, 83, 86, 97, 101, 104, 121, 131, 132, 135, 136, 137, 138, 141, 148, 153, 156, 161, 165, 167, 175, 198, dan 203.
  6. Banyak juga halaman yang lepas, seperti halaman 5-8, 33-36, 89-92, dan 145-148.
  7. Pada halaman i, pada tulisan Adam Aksara ada bercak tinta hitam di bawah tulisan tersebut.

Kelebihan
  1. Alur cerita yang yang maju-mundur berhasil membuat saya penasaran untuk membaca lagi dan lagi sampai tuntas.
  2. Pemilihan warna cover terlihat sangat manis yang memadukan warna pink, merah hati, putih dan kuning. Apalagi ditambah dengan gambar botol cebol yang tertutup, kunci dan bentuk love yang terpisah.
  3. Endingnya itu lho, bikin nyesek banget, “Kenapa seperti itu?” Bisa request ending yang lain nggak?
  4. Banyak pelajaran hidup dari novel ini, diantaranya:

“Cinta itu tak pernah memandang bulu, siapa pun berhak merasakannya”
“Hidup itu keras, karena itu kita harus berjuang.”
“Manusia itu hidup dengan segala kekurangan dan kelebihannya.”
Dan masih banyak lagi, makanya baca yuk...


Anda bisa dapatkan novel ini di Mozaik Indie Publisher.

Hobi Nonton Tinju dan Sepak Bola

Ini adalah kisah 7 bulan ibu saat mengandung saya. Anak semata wayangnya yang kini siap untuk menikah. Tak ada kisah yang spesial saat itu. Ibu melewati masa-masa kehamilannya seperti perempuan lainnya. Mungkin ada yang sedikit berbeda, yaitu hobi ibu saat hamil saya.

Saat 7 bulan ibu mengandung saya, ibu sangat menggilai pertandingan tinju dan sepak bola. Ya, saat itu tahun 1992-an. Setiap malam, ibu rela duduk di lantai rumah tetangga untuk memenuhi hasratnya untuk menonton sosok Ellyas Pical dan penjaga gawang ganteng Firmansyah. Di rumah nenek tak ada televisi. Makanya larangan nenek untuk tidak keluar malam, dilanggar oleh ibu. Semua karena tinju dan sepak bola.

Ibu bercerita, saat 7 bulan ibu mengandung saya, ibu memiliki cita-cita agar anaknya nanti akan menjadi seorang petinju atau pemain sepak bola. Nah, dulu ibu memang mengidamkan bayi mungil yang lahir dari rahimnya adalah bayi berjenis kelamin laki-laki. Tapi sayang, Tuhan berkehendak lain. Justru saya yang nongol. Seorang gadis yang justru sampai SMA masih gila dengan main futsal. Rela begadang demi nonton piala dunia, dan selalu ada di depan TV setiap ada pertandingan tinju.

Inilah cerita ibu selama 7 bulan ibu mengandung saya. Kalau Anda, punya cerita apa tentang kehamilan Anda atau saat ibu hamil Anda?

Tuesday, 22 April 2014

10 Mei 2013: Oh Ibu . .

Pukul 13.45 WIB saya sudah sampai rumah. Ini tadi ngapain juga berangkat ke kampus? Dosen mendadak minta libur tanpa memberi kabar ke mahasiswa sebelumnya. Padahal mahasiswa juga sudah bertanya dari tadi malam. Mungkin kurang puas kalau nggak ngerjain mahasiswa kali yaa...Kasian yang rumahnya jauh, termasuk saya. Kasian juga mereka yang mau pada pulang kampung, weekend. Suatu hari kalau saya jadi dosen nggak mau seperti itu ah. Aamiin.

Karena kejadian tersebut, rasa emosi dalam diri saya masih meninggi sekalipun sudah sampai rumah. Saya putuskan untuk segera ambil air wudhu dan sholat. Setelah itu, saya baru ingat perut saya masih sakit, diare. Lapar pula. Lengkap deh ya.

“Bu, masak apa?”

“Ibu nggak masak!” jawab ibu.

Masyaallah, batin saya, ‘Ibu seharian ngapain?’

“Sariminya masih buk?” tanya saya pada ibu.

“Masih.”

Saya berjalan gontai menuju dapur. Saya hidupkan kompor dan meletakkan panci kecil, mengisinya dengan air.

‘Ya Allah, akhir-akhir ini ibu kenapa? Mulai cuek dengan saya. Apakah saya terlalu menuntut? Apa saya terlalu manja? Sekarang kalau masak tidak perduli selera saya. Bapak mulu yang dipenuhi. Akhirnya saya jarang makan. Kurang bersyukurkah saya ini? Masyaallah, saya cemburu dengan bapak?

Bukan, seharusnya ibu kan bisa lebih adil. Saya berdialog dengan diri saya sendiri sambil menyajikan bumbu mie instan di dalam mangkuk.

Air-nya sudah mendidih. Saya masukkan mie instan. Aduk perlahan menunggu empuk. Setelah cukup empuk, saya tiriskan dan saya bawa mangkuk berisi mie itu ke ruang TV bersama ibu.

Uap kuah mie instan itu menyeruak menembus lubang hidung saya. Ada sesuatu yang aneh. Baunya tak seperti biasa. Ternyata ibu menyadari apa yang saya alami.

“Itu tadi pakai panci yang kecil ya?”
Saya mengangguk.

“Ya, rasanya aneh kan? Soalnya kemarin panci itu hangus pas ibu pakai masak ikan.” terang ibu.

Masyaallah, ibu! Rasanya darahku langsung nancep sampai ubun-ubun. Kenapa sih nggak mau bilang dari tadi? Kalau seperti ini kan mie-nya jadi mubadzir.

Ah, tidak. Mau nggak mau mie itu tetap harus saya makan. Sungguh nggak selera. Ya Allah, ingin rasanya membuang mie ini. Ha! Ibu.

Selesai sudah acara makan mie aneh ini. Saya bawa mangkuk ke belakang dan kembali bersama ibu.

“Ibu nggak maem?”

“Lagi males.” jawab ibu singkat.

Mendengar jawaban ibu ingin rasanya saya segera menidurkan tubuhku. Namun tak lama ibu berjalan ke belakang. Ada suara gesekan-gesekan layaknya orang yang sedang marut kelapa. Ngapain ibu ini?

“Dek, mau?”

Saya mendekati ibu. Ternyata ibu membuat nasi urap kelapa. Huooo, enak nih. Ah...ibu selalu tahu apa yang saya inginkan. Dengan sigap ibu langsung menyuapi saya. Sekali, duakali dan berkali-kali hingga piring itu bersih.

Suasana mulai mencair.

Ah, ibu. Selalu saja membuat anakmu ini malu dengan sikapnya sendiri. Malu karena terlalu berpikiran buruk kepada ibu. Pikiran saya langsung melayang-layang. Melakukan flashback tentang ibu. Semuanya! Terlebih apa yang telah ibu berikan kepada anak tunggalnya ini.

Disaat emosi sedang memuncak, seringkali saya lupa bagaimana pengorbanan ibu, ya pengorbanan sekaligus menjadi kebiasaan ibu yang mengalah untuk kami (saya dan bapak). Misalnya, ibu selalu memilih lauk ayam yang ukurannya paling kecil dibandingkan ayam untuk saya dan punya bapak, sampai pada kebiasaan ibu yang mengalah untuk makan belakangan pas nasi di magic com ternyata habis dan ibu harus nunggu sampai nasinya matang lagi.

Saya baru sadar, semua ibu di dunia ini memiliki sisi mengagumkan seperti ibu. Ibu Anda juga kan? Huh! Ingin rasanya saya segera memeluk ibu dan meminta maaf. Tapi lagi-lagi saya terlalu gengsi, saya tidak bisa seperti itu. Kaku rasanya. 

Saya malu. Saya hanya bisa mengungkapkannya melalui tulisan, entah ibu membacanya atau tidak.
Kalau bicara tentang ibu, mungkin tidak akan ada buku yang muat untuk mencatat semua yang telah ibu lakukan. Dan yang satu pasti untuk kejadian siang ini, saya baru sadar baju di almari telah tertata rapi lengkap dengan bau wangi parfum setrika. Oh ibu.... maafkan saya telah mempertanyakan apa yang ibu lakukan seharian ini. Maafkan adik buk...

Buku dari Abi

Yeay, ulang tahun ke 22 ini saya minta kado ke Abi berupa buku.
“Mau beli buku yang mana?” tanyanya mesra.

Alhasil, ini dia.

Terimakasih Abi. 

Menanam Bunga Lagi

Saat masih SD, saya suka sekali menanam bunga. Bahkan sangat suka membeli bunga. Yang saya beli bukan bunga yang mahal-mahal lho ya. Murah, Rp 1.500 sudah dapat bunga mawar. Karena waktu SMP sekolahnya jauh dari rumah, sampai di rumah sudah capek dan kurang perhatian lagi dengan bunga-bunga yang ada di depan rumah. Pun sampai kuliah.

Ibu saya sebenarnya juga gemar sekali merawat bunga. Tapi karena sibuk dengan mencari kebutuhan, kegemaran ibu beralih menjadi pedagang tanaman holtikultura. Yang di rumah jarang diurus lagi. Yang di toko saja, katanya lebih menghasilkan uang. Hehehe.

Kini, setelah semester akhir, keinginan untuk menanam bunga (lagi) tumbuh dalam diri saya. Lagi-lagi prinsip menanam bunga yang murah meriah selalu saya gunakan. Yeah, melihat halaman rumah yang hanya ada pohon nangka dan mangga, saya jadi tergiur untuk menggunakan lahan kosong tersebut. Larilah saya ke rumah tetangga.
“Mbak, minta bibit bunga pacar, boleh?”

Satelah di-iyakan oleh pemiliknya, saya mencabut 8 bibit bunga pacar.

“Makasih, Mbak.”

Langsung saya ambil sekop kecil dan pupuk kandang dari toko ibu. Gali...gali...gali...gali... Sudah jadi 4 lubang, saya masukkan pupuk kandang seujung sekop. Saya letakkan 2 bibit bunga pacar untuk setiap lubang dan saya tutup dengan sisa tanah galian yang dicampur dengan pupuk kandang. Saya siram dan selesai.
“Tumbuh dan berbungalah....”, batin saya.

Rencana ke depan, saya ingin menanam bunga lagi, bahkan mau membeli bunga gantung, seperti bunga krokot. Rp 10.000 dapat 3. Mau saya gantung di depan rumah. Biar hidup dan asri kembali rumah saya. Rencana lainnya, saya ingin menanam cabe, bayam, kangkung, dan tomat di pot. Hehehe...Biar bisa dipanen sendiri. Lumayanlah ya, mengurangi pengeluaran.

Nanti kalau bunga pacarnya sudah berbunga pasti akan saya posting di sini.

Kalau di rumah Anda, ada bunga apa saja? Atau tanaman apa saja?

Monday, 21 April 2014

Surat Cinta untuk Allah

Ya Allah...
Terimakasih, sampai detik ini masih mengijinkan hamba untuk menikmati dunia ini. Hamba sendiri sadar, di usia ke 22 tahun ini masih sedikit bekal yang bisa hamba bawa pulang kepada-Mu. Mungkin di bawah takaran sedikit. Jangan ijinkan hamba terlalu lama berbuat sesuatu yang mengurangi takaran itu.

Ya Allah...
Lebih dari 8000 hari sudah hamba menghabiskan waktu hamba di dunia ini. Itu artinya waktu hamba pun semakin berkurang, berkurang dan berkurang. Tapi apa? Sholat wajib pun hamba masih belum niat betul untuk-Mu. Bimbing hamba Ya Allah...Sholat sunah pun tak pernah genap setiap harinya, Ya Allah...ampuni hamba. Kuasai-lah hati hamba. Hamba ingin hidup dan mati hamba hanya untuk-Mu.

Ya Allah...
Hamba tahu, hamba bukanlah hamba yang terbaik diantara hamba-hamba-Mu. Tapi bolehkah hamba meminta kepada-Mu, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dari segala-galanya?

Ya Allah...
Jika esok hari, jika hari ini, bahka jika detik ini pula adalah terakhir kalinya hamba merasakan nikmat dunia-Mu, ijinkanlah hamba untuk hidup sebentar lagi. Restuilah hamba untuk membahagiakan bapak ibu. Hanya saya yang dimiliki oleh mereka. Rasanya hamba tak kuat jika harus meninggalkan mereka tanpa membahagiakan mereka terlebih dahulu. Ijinkan hamba...

Ya Allah...
Terkhusus di hari ulang tahun ini, hamba memohon pada-Mu, perlancar-lah skripsi hamba Ya Allah... Tinggal sedikit lagi. Ya tinggal sedikit lagi, tapi kabar surat ijin penelitian hamba masih terkatung-katung. Jika memang surat ijin penelitian itu harus hilang, permudahkanlah hamba untuk mengurusnya ulang. Permudahkanlah Ya Allah...

Ya Allah...
Ijinkanlah hamba untuk wisuda Oktober 2014 ini. Hamba tahu kegagalan hamba wisuda April 2014 tak lain dan tak bukan adalah rencana terbaik-Mu untuk hamba. Sekalipun terlalu berat melewatinya, hamba harus kuat dan menerima semua ini. Terimakasih...

Ya Allah...
Tak ada kebahagiaan yang berarti bagi hamba kecuali melihat bapak dan ibu selalu mendampingi hamba. Ya Allah...ijinkanlah bapak dan ibu menemani hamba wisuda, menikah, sampai melihat cucu dan cicitnya nanti. Ijinkanlah...

Ya Allah...
Restuilah segala doa hamba. Aamiin.

Demak, 20 April 2014.

Sunday, 20 April 2014

Kontes Istri Cerdas

DL : 19 April 2014

Istri cerdas? Berhubung saya belum menikah saya belum terlalu menghayati bagaimanakah istri cerdas yang sesungguhnya. Melihat dan menganalisis lingkungan, istri cerdas bagi saya adalah TAHU DIRI.

Sejak wali nikah berkata “sah” maka seorang istri itu harus tahu diri. Tahu apa hak dan kewajibannya. Tak menganggap bahwa dirinya sebagai budak laki-laki dan berhak untuk mengembangkan dirinya sekalipun harus mengurus suami dan anak-anaknya nanti.

Kalau istri cerdas menurut Anda apa? Eits...jangan ditulis di komentar ya? Mendingan ikut Kontes Istri Cerdas dan dapatkan voucher belanja dari Kispray. Info lebih lanjut klik DI SINI.

Saturday, 19 April 2014

Inilah Saya (Saya Banget)

Ini adalah hasil tes kepribadian saya dan hasilnya saya banget. Hihihi...

Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala. 

Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan. Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen – mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang gemilang.

Sebagai pasangan, tipe Idealis Penyelaras setia dan dapat diandalkan; hubungan permanen sangat penting bagi mereka. Mereka jarang jatuh cinta hingga mabuk kepayang dan juga tidak menyukai hubungan-hubungan asmara singkat. Kadang-kadang mereka sulit menunjukkan rasa sayang mereka dengan jelas sekalipun perasaan mereka dalam dan tulus. Dalam hal lingkaran pertemanan, semboyan mereka adalah: sedikit berarti lebih banyak! Sejauh menyangkut kenalan baru, mereka hanya dapat didekati hingga jarak tertentu; mereka lebih suka mencurahkan tenaga ke dalam pertemanan akrab yang jumlahnya sedikit. Tuntutan mereka kepada teman dan pasangan mereka sangat tinggi. Karena mereka tidak menyukai konflik, mereka akan diam sejenak sebelum menyuarakan masalah-masalah yang tidak memuaskan dan, ketika melakukannya, mereka berusaha sangat keras untuk tidak menyakiti siapa pun karenanya.

Mau tahu juga kepribadian Anda seperti apa? Klik DI SINI

Seminggu Tak nge-Blog

Hampir satu minggu saya tidak menuis di blog. Alhamdulillah, masih diberikan kesibukan untuk mengurus skripsi saya yang tinggal satu langkah lagi ACC dosbing utama. Tapi revisinya kali ini sangat padat merayap. Alhamdulillah. Ada juga cerita lain, dosbing kedua saya mau menikah, jadi cuti dua minggu. Beliau berjanji awal Mei akan membimbing saya lagi. Dobsing utama ACC beliau akan ACC pula. Aamiin.

Tak hanya dosbing kedua saya yang menikah, adik saya juga menikah, Tanggal 17 April kemarin. Adik keponakan, samping rumah saya. Tak mungkin juga kalau saya egois dan kekeh mau menyelesaikan skripsi saya sedangkan di rumah juga ramai sekali karena banyak tetangga dan tamu yang datang. Akhirnya saya jadi seksi riwa-riwi ngurus ini dan itu beberapa hari belakangan.

Baiklah, semua hampir selesai. Hari ini adik juga langsung sepasaran jadi besok bisa istirahat, tidur seharian.


Happy Wedding, Dik J

Lomba Blog PMI

DL: 30 April 2014

Kalau mendengar kata PMI yang saya ingat adalah kata “donor darah”. Tapi jangan ditanya ya saya sudah berapa kali donor darah. Alhamdulillah belum pernah. Saya sangat takut dengan jarum.

Karena tak memiliki cerita yang berkesan dengan PMI, saya tidak bisa mengikuti Lomba Blog PMI. Nah, bagi Anda yang memiliki pengalaman apapun yang berhubungan dengan PMI, buruan ikutan Lomba Blog PMI yang satu ini ya?

Akan ada laptop dan gadget bagi sang juara. Tidak hanya itu saja, 25 pengirim pertama akan medapatkan merchandise menarik. Siapa saja boleh ikut. Untuk info lebih lanjut, segera kunjungi DI SINI.


Give Away Blog Kak Hani

DL: 26 Juni 2014

Perempuan yang berhijab pasti tak lepas dengan yang namanya peniti, jarum pentul, dan bross. Terakhir, bross, kini banyak bermunculan berbagai macam bross. Dulunya yang paling nge-trend adalah bross yang terbuat dari kayu, dari alumunium sampai dengan besi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga memunculkan ketertarikan pembeli.

Nah, kalau sekarang bross nge-trend lagi dengan berbagai varian. Contohnya seperti yang dibuat oleh Kak Hani.



Bagaimana? Unyu-unyu kan? Anda bisa mendapatkannya dengan gratis lho. Per orang bisa dapetin 1 paket yang berisi 5 macam bross. Mau tahu bagaimana caranya agar Anda bisa dapatin bross tersebut?

Sunday, 13 April 2014

Perkara Sholat

Dalam keadaan apapun harusnya tak perlu meninggalkan sholat. Apalagi sholat wajib. Apa susahnya ya hanya  5 menit, kelar. Tapi alasan demi alasan selalu muncul. Manusia jangan mau dikalahkan dengan setan.

Sholat, ya saat ini saya ingin membiasakan diri sholat tepat pada waktunya. Ketika mendengar adzan dari masjid atau mushola terdekat akan langsung berdiri dan ambil wudhu kemudian sholat. Jangan menunda.

Sekarang sudah jarang kuliah, waktu pasti lebih banyak yang kosong, ayolah jangan main-main terus, skripsi segera dikelarkan, jangan menunda pula dan luangkan waktu sejenak untuk sholat sunnah.

Apakah tak ingat, tak ada yang tahu Allah akan meminta kembai diri kita?

Ayo, bismillah.

Sarapan dari Ibu

Capek pun tak terasa, tertawa saja..
Perjalanan 1 jam selalu saya tempuh untuk bisa sampai di kampus. Sebagai mahasiswa PGSD, kampus mendidik kami-mahasiswa-nya untuk disiplin berangkat pagi. Tepatnya pukul 07.00 WIB perkuliahan telah dimulai.

Hidup ini pilihan. Awalnya saya dulu nge-kos, karena terlalu banyak pengeluaran, akhirnya saya memilih untuk nglajo (pergi-pulang). Sudah bisa kuliah saja sudah bejo. Makanya, dengan jam disiplin (masuk 07.00 WIB) itu saya pun harus merelakan tubuh sedikit lelah karena harus berangkat lebih awal 05.30 WIB dibandingkan teman-teman yang mungkin jam segitu baru bangun tidur.
“Kalau kamu nglajo ya ibu akan tetap bangun pagi untuk buatin sarapan kamu.” terang ibu saat awal saya memutuskan untuk nglajo.“Iya, Bu. Terimakasih.”
Sejak awal saya nglajo, ibu selalu bangun pukul 03.00 WIB. Menanak nasi dan membuat lauk untuk sarapan saya. Saya yang sudah terbiasa mendengar keributan di dapur pun selalu ikut bangun. Tak boleh ikut membantu, “Kamu belajar saja.” Itu yang selalu ibu katakan pada saya. Saya tahu ibu pasti capek sekali, tapi semua dilakukan oleh ibu tanpa mengeluh.

Karena sarapan saya tetap ceria ngek-sis
dengan teman-teman
Biasanya pukul 05.00 WIB, saya pun telah sarapan dan siap untuk mandi. Tak lupa ibu selalu memasukkan bekal ke dalam tas ransel saya. “Jangan telat makan siang.” Perkuliahan memang tak tentu jam-nya. Kadang mulai pukul 07.00-09.00 WIB, nanti ada kuliah lagi pukul 13.00-15.00 WIB. Dengan bekal yang telah ibu siapkan, saya akan menanti perkuliahan lagi dengan menghabiskan bekal saya di serambi masjid. Kalau ada tenggang waktu yang lama saya akan memilih belajar dan tidur di sana sambil bercengkrama dengan Mbak Eka, teman yang juga ikutan bawa bekal ke kampus.
“Ibu tidak ingin kamu seperti ibu dulu, mau sarapan saja susah. Banyak-banyaklah bersyukur ya..”cerita ibu yang selalu saya ingat ketika saya sudah mulai jenuh dengan rutinitas yang saya lalui itu. Tak hanya masalah sarapan, saya harus bersyukur karena bisa kuliah.
Berbicara tentang sarapan, secara sadar, saya paham betul rutinitas sarapan yang saya lakukan membawa dampak dalam diri saya. Saya lebih mudah berkonsentrasi saat perkuliahan berlangsung. Berbeda dengan teman saya, perkuliahan baru berjalan setengah jam pasti ada aja teman yang ndlosor atau meletakkan kepala di meja, berpangku dagu, dan tidak lagi dapat berkonsentrasi pada apa yang sedang disampaikan oleh dosen.

Teman yang ngantuk
saat perkuliahan (capek + lapar)
“Kamu nggak laper?” tanya teman pada saya.
“Nggak. Tadi pagi sudah sarapan. Kamu belum, ya?” tanya saya balik.
“Mana sempat.” kata teman saya yang letak rumahnya tak jauh dari kampus.

Saya lansir dari health.liputan6.com, Dr. Soedjatmiko, SpA(K) mengungkapkan bahwa dengan sarapan maka fisik sehat dan kuat, pikiran penuh semangat, dan perilaku yang baik akan ada dalam diri seseorang. Selebihnya sarapan pun terbukti dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan stamina seseorang.

Ah, saya patut bersyukur memiliki ibu yang sangat memperhatikan saya. Sekalipun ibu tak pernah tahu bahwa sesungguhnya sarapan itu sangat penting bagi seseorang. Bagi ibu yang penting anakku sarapan sebelum berangkat kuliah.Terimakasih ibu.


Buku Diary

Pertama kali terbiasa menulis di buku diary sejak kelas 3 SD. Siapa lagi kalau bukan Alm. Bapak Sudarno yang mengajari saya untuk terbiasa menulis segala kejadian yang saya alami setiap harinya. Sampai sekarang buku diary itu masih ada. Saya simpan dan ketika saya sedang rindu cerita masa lalu maka saya akan selalu membuka-buka dan membacanya.

Kegiatan membaca ulang buku diary masa lalu itu sangat menyenangkan. Sering kali saya bergumam,

“Ih, saya norak banget ya waktu kecil.”
“Kan harusnya saya nggak seperti itu ya...”
“Hahahaha”

Banyak tawa setiap kali membaca ulang buku diary di masa lalu. Bagi saya sendiri buku diary itu sudah menjadi sahabat setia. Sekalipun buku diary tak pernah bisa memberikan respon atau pendapat setiap kali saya membutuhkan masukan, tapi kalau nggak nulis di buku diary itu rasanya seperti ada yang kurang. Seperti ada rasa lega setelah menulis di buku diary.

Pendapat saya di atas sepaham dengan pendapat Alice D. Domar yang saya lansir dari id.wikipedia.org bahwa menulis buku harian/buku diary adalah sebuah langkah untuk mengungkapkan emosi dan perasaan kita dan membantu kita untuk merawat pikiran kita.

Buku Diary Masa Lalu
Sayang seribu sayang, kegiatan menulis di buku diary kini mulai saya tinggalkan. Blog ini saja sudah terlampau menjadi diary online. Hihihi. Tapi kalau menulis tangan di buku diary itu rasanya beda. Semua bisa saya ceritakan, kalau di blog ini nggak mau juga-lah ya marah-marah kemudian saya publish di sini. Kasihan yang baca.

Ah, kapan ya terakhir saya menulis di buku diary? Sudah lama banget dan rasanya jari-jari saya cepat capek tiap kali nulis. Saking lamanya tak pernah menulis tangan. Saya akan kembali lagi ke kegiatan ini. Bernostalgia sambil melemaskan jari-jemari. Menulis diary itu menyenangkan.

Kalau Anda kapan terakhir menulis di buku diary? Atau mungkin tak pernah? Manfaat apa yang Anda dapatkan dari kegiatan menulis di buku diary?

Saturday, 12 April 2014

Catridge, Kecerobohan, dan Uang

Kecerobohan itu harus di bayar mahal. Itulah yang saya alami. Saya akan berbagi cerita tentang kecerobohan saya akan penggunaan printer saya. Saya membeli printer ini pada 23 September 2013. Printer yang saya beli adalah printer merek Canon ip 2770.

Printer ini saya beli dari toko printer yang sekaligus mempunyai bengkel khusus printer. Saat membeli printer ini saya tergiur dengan harganya yang murah, paling murah dari beberapa harga yang ditawarkan oleh beberapa toko printer di Kudus. Senilai Rp 475.000, itulah harga yang harus saya bayar untuk seperangkat printer lengkap dengan infus-nya. Jadi tinggal dipakai saja sampai di rumah. Kalau di toko lain harganya masih di atas Rp 500.000.

Bulan September saya kan PPL di SD, jadi banyak sekali berkas yang harus saya print tiap harinya. Sesuai dengan petunjuk yang nempel di printer (petunjuk yang diberikan oleh toko), saya harus nge-print 10 lembar dalam sekali print kemudian berhenti 1 menit. Seperti itu terus. Oke-lah ya semua baik-baik saja. Printer saya sukses nge-print ber rim-rim kertas.

Kemudian hari ada teman yang SMS saya menanyakan keadaan printer saya.
“Punya saya lancar kok. Punya kamu eror?” jawab saya.
“Iya, catridge-nya kayaknya kena deh.”
“Loh, kamu nge-printnya banyak-banyak ya?” tanya saya.
“Hehehe...iya. Sekali jalan 20 lembar lebih.”
“Nah, itu tuh.”

Sok nasihati teman, eh saya sendiri ikut-ikutan. Iya, sudah hampir seminggu printer saya ngambek, setiap kali buat nge-print pasti hasilnya tidak sempurna. Ada garis di tengah tulisan per kalimatnya. Sudah saya cleaning berkali-kali kemudian deep clean ternyata hasilnya sama. Nyari tutorial di youtube, Mbah Google, sebisa mungkin saya cobain semua. Alah, nihil. Alamat deh...

Kemarin-kemarin saya memang ngoyo banget. Tak memperdulikan lagi petunjuk yang masih nempel di printer, print 10 lembar kemudian diamkan 1 menit. Langsung sekali nge-print pernah sampai 50 lembar kemudian tanpa istirahat blabas nge-print lagi. Huuuaaa, karena kecerobohan saya ini alamat saya harus membuang-buang uang saya untuk membeli catridge lagi.

Masih merasa, ah, seharusnya saya tak beli catridge lagi. Meluapkan perasaan tersebut saya memposting status di facebook. Ternyata banyak teman yang komentar dan pernah mengalami hal yang sama. Ada juga yang memberikan tutorial, sudah saya coba, tapi tetap saja nihil.


Oke, fine. Akhirnya saya membeli catridge lagi senilai Rp 180.000 (termasuk jasa) dan kini printer saya tidak ngambek lagi. Yakin se-yakin-yakinnya tidak mau ceroboh apalagi nggak sabar-an. Sayang banget kan, uang itu kan seharusnya bisa buat yang lainnya. 

Kirim Foto Buah Hati ke Kompas

Anak kecil itu memang sangat lucu ya? Melihat anak kecil saja tak cukup, rasa-rasanya pengen mencubit pipinya. Ih..gemessss...Ah, kalau Anda mempunyai anak atau keponakan yang lucu jangan dinikmati sendiri ya? Yuk, kirimkan foto anak atau keponakan Anda ke rubrik BUAH HATI koran Kompas halaman 38. Caranya mudah kok.
  1. Foto anak atau keponakan Anda yang berusia 0-3 tahun
  2. Resolusi foto minimal 300 dpi
  3. Sertakan data identitas sang anak dan orang tua.
  4. Kirim ke ab.dini@kompas.com
  5. Foto yang dimuat akan mendaptkan merchandise dari Kompas yang bisa di ambil di ksntor Kompas Jalan Tri Lomba Juang nomor 5 Semarang atau Jalan Suroto nomor 2A Kotabaru Yogyakarta.
Selamat mencoba.

Friday, 11 April 2014

Sample Gratis dari Mizone Fres'in

Siapa mau yang gratis-gratis? Yuhuu....Saya mau berbagi info nih. Alfamart dan Mizone sedang bagi-bagi Mizone Fres'in nih. Caranya mudah banget.
  1. Klik di pendek ayam.
  2. Log in dengan akun facebook atau masukkan NAMA, EMAIL, dan Masukkan KATA-KATA. Jangan lupa beri cek list pada kotak "Saya sudah membaca dan setuju dengan syarat & ketentuan yang berlaku."

  3. Klik Dapatkan Kode
  4. Akan ada email masuk pada alamat email yang Anda gunakan untuk Log In.
  5. Klik pada link yang ada di isi email, dan akan muncul voucher yang bisa Anda tukarkan dengan Mizone Fres'in.
  6. Anda bisa menyimpan atau mencetak voucher tersebut.
  7. Apabila menggunakan akun facebook, akan lebih cepat Anda mendapat voucher tersebut tanpa membuka Email.
Selamat mencoba.

Thursday, 10 April 2014

Kerja Tak Sesuai Jurusan, Masalah?

Sudah hampir 4 tahun saya kuliah S1 PGSD. Saat ini masih menyusun skripsi (tinggal merapikan dan melengkapi data) tapi tak kelar-kelar juga karena saya sok asik di dunia maya.

“Makanya nggak usah nge-blog terus, skripsi nggak kelar-kelar kan? Aku yang dulu kuliah biasa-biasa saja, bisa wisuda April, nah kamu?” ceplos seorang teman.
Saya membenarkan perkataan teman saya itu. Tapi saya juga tak mau menyalahkan kalau semua ini karena dunia blog yang saya geluti. Karena masih banyak lagi cerita yang tak perlu saya uraikan kenapa saya sampai gagal wisuda April ini. Cukup orang-orang tertentu saja yang tahu.

Oke, tinggalkan perkara skripsi, pelan-pelan dan secara pasti saya akan tetap memperjuangkannya. Saya tak perduli lagi celotehan orang-orang yang sangat iri dengan saya. Sudah, saya tahu kalau saya itu spesial. Hahaha...PEDE *gubrak

Belum wisuda bingung, sudah wisuda tambah bingung. Itulah yang kiranya teman-teman dan saya rasakan.

“Mau apa habis ini? Sudah daftar wisuda? Kok masih berkeliaran di kampus saja? Nggak daftar kerja di mana gitu atau apa-lah?” tanya saya pada teman yang sudah mau wisuda tapi masih sering nongkrong di kampus.
“Nemenin si itu, mau ini, mau itu.” jawabnya. 
“Nggak nyoba daftar kerja atau apa gitu?” tanya saya. 
“Wah, kalau daftar jadi guru honorer gajinya segitu, nggak cucuk. Mau kerja di luar itu apa? Kok nggak sesuai dengan jurusan. Rasanya kurang srek. Lagian ibuku juga bilang, masak lulusan S1 mau jadi pesuruh? Ibuku katanya nggak rela.” terang seorang teman.

Kerja tak sesuai jurusan. Saya dulu berpikir, kok mau ya? Terus ilmunya selama kuliah untuk apa? Nggak ada guna dong? Saya rasa itu adalah idealisme seorang mahasiswa. Betul? Masih gengsi untuk mengakui kalau dunia itu tak seindah yang dibayangkan, skripsi > wisuda > CPNS > Kerja > Berkeluarga. Oh ya? Lancar banget. Tapi kan ada yang kayak gitu? Berapa? Paling segelintir orang? Nah kalau itu tidak berpihak pada diri kita?
Sumber gambar DI SINI

Saya korelasikan dengan cerita saya. Sejak semester awal saya jadi guru honorer di TK (harusnya kan di SD ya? Kan jurusannya PGSD) dekat rumah, per bulan dapat gaji Rp 50.000. Dengan alasan ini dan itu saya akhirnya mengundurkan diri atas persetujuan ibu. Sekarang? Saya bingung mau kerja di mana nantinya. Dulu, saat masih semester 4 begitu banyak tawaran dari SD sekitar, tapi sekarang? Hilang semua.

“Ah...saya nanti kan bisa tetap aktif nulis di blog dan gabung lagi di komunitas A. Itu juga dapat bayaran untuk artikel yang saya buat.” Hibur diri saya.
"Tapi ilmu saya tidak terealisasikan dong?" timpal saya lagi.

Saya pikir makin ke sini rasanya itu akan menjadi beban ibu dan bapak. Anaknya yang di sekolahkan sampai S1 hanya ngejogrok di rumah meskipun berpenghasilan. Akhirnya saya mencari info sana-sini (belum maksimal sih) ada tawaran menjadi admin di SD IT (swasta). Nah, apakah harus saya coba? Padahal kan nggak sesuai dengan jurusan saya? Tapi sudah buat lamaran. Hehehe....Tak melangkah begitu saja. Berbagai saran dari orang-orang terpercaya saya kumpulkan.

“Ah, mending kamu cari di SD negeri saja, kalau di swasta kamu hanya buang-buang waktu.” kata si A.“Diambil ah, kan lumayan.” kata si B.“Ambil saja daripada ngganggur.” kata si C.

Nah, kalau menurut Anda bagaimana? Saya ambil atau tidak? Menurut Anda kerja tidak sesuai dengan jurusan kuliah itu seperti apa? Idealisme saya sebagai mahasiswa baru setengah-setengah nih. Mohon saran ya.

Wednesday, 9 April 2014

Lomba Foto Selfie Pemilu

Hari gini GOLPUT? Nggak gaul ah.

Yuk, segera ke TPS dan coblos caleg pilihan Anda. Eits, jangan lupa, celupkan jari Anda pada tinta dan ambil kamera. *Chiirrrsss... Foto selfie pun jadi. Mau foto selfy Anda mendapatkan apresiasi berupa hadiah? Berikut saya informasikan beberapa website yang ikut meramaikan pemilu dengan mengadakan LOMBA FOTO SELFIE PEMILU.

Tuesday, 8 April 2014

Foto Selfy Bisa Dapatkan Voucher Makan di Kafe

Hari gini siapa sih yang nggak suka berfoto ria? Yang lagi tenar banget sih foto selfy ya? Eh, mau nggak foto selfy Anda ada manfaatnya? Apalagi kalau dapat voucher makan?

Nah, beruntung banget Anda membaca postingan ini. Karena cukup dengan berfoto sambil menunjukkan jari Anda yang masih bertinta (setelah nyoblos nih ya??), Anda bisa dapatkan voucher makan di kafe. Akan ada 5 foto yang terpilih dan lomba ini hanya berlaku pada tanggal 9 April 2014. Mau apa lagi? Buruan ikut.

Info lebih lanjut Anda bisa klik DI SINI.

Cara Giant Mensukseskan Pemilu

Wah, nggak terasa besok sudah nyoblos ya? Sudah punya pilihan? Ingat, jadilah pemilih yang cerdas, atau mau golput? Jangaaannn!!! Siapapun pilihan Anda dan termasuk pemilih yang seperti apa, harapannya pemilu kali ini bisa sukses dan tidak ada yang golput.

Untuk meminimalisir warga yang golput, berbagai macam cara telah dilakukan pemerintah. Diantaranya, blusukan ke rumah warga (meskipun tidak semua dan kurang jelas juga), mengadakan jalan santai, membuat event di pusat perbelanjaan, dsb. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar pemilu kali ini berjalan dengan sukses.

Saya di Koran Radar Kudus

Ingin Sebagai Sumber Referensi

TIDAK banyak anak muda yang suka menuangkan ide dan tulisannya di media sosial, seperti blog. Bagi Ika Hardiyan Aksari hal itu tidak berlaku. Perempuan yang masih aktif kuliah di Universitas Muria Kudus ini merupakan salah satu penulis blog. Perempuan yang lahir di Pati, 20 April 1992 ini mengungkapkan, mulai tertarik dalam dunia blog pada 2009 lalu. Saat itu dia masih duduk di kelas XII
SMA. Karena banyaknya tugas sekolah yang mengharuskan mengambil referensi dari internet, akhirnya dia mempunyai keinginan suatu saat namanya tercantum sebagai sumber referensi.

“Biar namaku nanti ada di daftar pustaka,” ungkapnya sambil tersenyum.

Dari ketertarikannya itu, dia mulai bergabung dengan komunitas blogger di dunia maya. Ternyata dari situ ketertarikannya semakin kuat. Komunitas blogger ini merupakan tempat berkumpulnya para penulis blog, tempat sharing dan belajar bagi para blogger-sebutan penulis blog. Dalam komunitas blog ini, dia menjelaskan, banyak mendapatkan teman dari berbagai kalangan. “Di sini saya kenal banyak orang dari mahasiswa hingga mantan jenderal,” ungkapnya kemarin.

Bahkan setelah mengikuti komunitas tersebut, Ika dapat ikut dalam berbagai kompetisi yang diselenggarakan oleh komunitas blogger dan perusahan pemilik brand terkenal.

“Kalau buku dan kaus sudah tidak terhitung, yang baru kemarin dapat gadget,” ungkapnya yang mendapatkan barang-barang tersebut dari kompetisi. Selain itu, dia sering dilibatkan dalam penulisan antologi. Dari keahlian menulisnya itu, dia
sampai diminta tolong temannya untuk mengedit artikel. Dan artikel tersebut dipakai sebagai bahan referensi skripsi temannya.

Perempuan yang berada di semester akhir ini mempunyai cita-cita menyelesaikan buku yang ditulisnya. Nantinya buku itu akan dipersembahkan untuk almamaternya. Selain itu, mahasisiwi yang mempunyai cita cita sebagai guru dan tetap aktif menulis ini mengungkapkan menulis itu mudah jika dibiasakan. Dia menganjurkan bagi anak muda sekarang untuk aktif menulis. “Dunia menulis itu menyenangkan,” paparnya.

Itulah tulisan tentang saya oleh Mas Ilham Jabbar Prabowo, seorang wartawan koran Radar Kudus (koran regional Jawa Pos) edisi Kamis 3 April 2014.

***

Dua hari sebelumnya saya mendapat SMS dari nomor yang tidak saya kenal. Ternyata SMS dari seorang wartawan koran lokal di Kudus. Beliau mendapat nomor saya dari teman saya, Mbak Nungky, dan kemudian menghubungi saya untuk menanyakan keaktifan nulis di blog.

Setelah saya menyetujui untuk diwawancara, maka beliau segera menelepon saya dengan nomor kantor. Karena kebetulan saya sedang di hutan, daerah Salatiga. Wawancara hampir selama 30 menit pun berjalan. Berbagai pertanyaan lancar saya jawab dan diselingi dengan obrolan ringan. Telepon beliau akhiri dengan ucapan terimakasih.

Ini adalah pengalaman kedua saya diwawancarai oleh suatu media massa. Pertama, dulu saat masih SMA menjadi sosok di rubrik “Siswa Berprestasi” majalah milik SMA, dan kedua, masuk di koran Radar Kudus pada rubrik “Inspirasi She”, ini.

Kalau ditanya apakah saya bahagia? Dengan lantang saya akan menjawab, SANGAT! Tapi saya juga introspeksi diri, apakah saya berhak atas semua ini? Apakah saya berhak dijadikan sebagai contoh? Ini juga belm seberapa jika dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya. Apalagi saya juga belum bisa membuktikan ke ibu kalau saya memang benar-benar bisa menulis, apalagi menulis sebuah buku.

Ah, bismillah. Tahun ini saya ingin menulis sebuah buku sesuai dengan isi artikel di atas. Semoga saja ada penerbit yang melirik saya. Aamiin. Buat teman-teman blogger, terimakasih atas dukungannya. Ini semua karena Anda yang sangat menginspirasi saya.

Sunday, 6 April 2014

Oh...Sosial Media

Sumber Gambar di SINI
Saya ingin bertanya, aplikasi sosial media apa yang ada di hape Anda?

“Facebook, twitter, G+, Chat On, BBM, WA, Hangout, dan bla bla bla....”

Dari aplikasi sosial media yang saya sebutkan di atas, semua ada di hape saya. Tapi sebelum saya menghapus beberapa darinya, semalam. Itupun masih tersisa facebook, twitter, G+, dan BBM.

Akhir-akhir ini saya merasa sangat terganggu dengan sosial media yang saya miliki. Facebook, di sosial media yang satu ini saya masih cukup aktif, itupun untuk berbagi postingan di blog dan bincang-bincang dengan teman blogger tentang hal yang patut diperbincangkan. Sering lihat beranda, membaca, menganalisis postingan teman, kemudian SKIP. Twitter, G+, intensitas saya di sosial media yang satu ini hampir sama dengan facebook. Chat On, Hangout dan WA sama sekali tak aktif. BBM paling baca notifikasi saja, selesai, tutup.

Tak pernah aktif tapi notifikasinya bejibun. Itulah yang saya rasakan untuk sosial media BBM dan WA. Ada beberapa teman kontak pada BBM dan WA yang dengan sengaja memasukkan saya ke dalam sebuah grup tanpa ijin. Jadi, setiap saya meng-on-kan internet di hape saya, langsung deh hape bergetar terus tanpa henti. Alhasil harus menunggu beberapa saat sampai hape kembali tenang baru melanjutkan kegiatan yang ingin saya lakukan sebelumnya. Jengkelnya, paket internetan pun akan berkurang padahal kita belum melakukan apa-apa.

Menghadapi keadaan tersebut, saya seringkali memilih untuk menghapus aplikasi tersebut dari hape atau segera keluar dari grup. Apalagi grup yang ternyata topik pembicaraannya kurang menguntungkan bagi saya. Lebih cenderung mengganggu. Terkadang saya berpikir, bisakah hidup tanpa sosial media? Jawabannya ternyata bisa. Ada teman sekelas yang sampai saat ini tidak pernah berhubungan dengan sosial media seperti facebook, twitter, dll. Dia tetap bisa hidup dengan normal. Bahkan ketika saya analisis dia juga tetap bisa mengikuti pergaulan dengan teman-teman lainnya. Bukankah orangtua saya juga hidup tanpa sosial media yang saya sebutkan di atas? Mereka juga oke-oke saja ya?

Bisakah itu berlaku untuk saya? Anda bagaimana? Saya rasa titik klimaks itu akan juga hadir dalam diri saya, entah kapan, tapi keinginan untuk hidup tanpa sosial media mulai muncul sedikit demi sedikit. Saya hanya ingin mengisi hidup saya dengan apa adanya. Menghabiskan waktu dengan menulis di blog (sosial media juga kaliii...), menikmati kebersamaan keluarga, membaca koran, mengurus perpustakaan, mendongeng, dan lain sebagainya.

Entahlah, saat ini saya mulai merasa terganggu dan bosan dengan hingar-bingar sosial media...
Saya jenuh...

Ini Blog Ika Hardiyan Aksari, Keponakanku

Tujuan awal saya untuk nge-blog adalah agar nama saya bisa dikenal orang, meskipun tak pernah tahu saya secara fisik. Siapa sih Ika Hardiyan Aksari itu? Anaknya siapa, rumahnya mana? Alhamdulillah, terealisasikan meskipun belum seberapa.

Nah, kalau ceritanya seperti ini apakah tujuan awal saya terealisasikan?

Dua hari yang lalu saat Om Teguh (adik ibu yang tinggal di Pati) telepon ibu, “Mbak, Ika kok punya blog yang ngajari siapa?” tanya Om.

Lho yo embuh, aku gak reti (Embuh...akuu ndak tahu.) Lha kenapa?” jawab ibu.

“Kemarin pas aku lagi buka internet cari info kok yang muncul nama Ika Hardiyan Aksari, terus tak buka. Aku mikir ini kan nama keponakanku, eh iya. Blog Ika ternyata. Ada fotonya juga. Gayaaa...banget. Lha yang ngajari siapa to?” saya yang mendengar suara Om dari hape ibu yang selalu diloudspeaker ketawa-ketiwi di kamar.

Embuh sopo (entah siapa), tapi dia suka ngutak-ngutek netbook. Lha isinya saru-saru nggak?” tanya ibu curiga, saya mengernyitkan dahi.

“Gak, Mbak.”

Hahaha...ending yang menjengkelkan. Ibu..ibu.. sukanya berpikiran seperti itu. Wajah saya mesum banget ya?

Saturday, 5 April 2014

Cari Uang Tambahan dengan 8Share

Saya tahu tentang 8Share dari searching di Google dengan keyword “Mencari uang lewat internet”. Setelah membaca info di beberapa artikel yang saya temukan, saya tahu bahwa saya bisa mendapatkan uang dari 8Share hanya dengan men-share artikel, info lomba, video, dan foto.

Uang tersebut akan terkumpul apabila link yang kita buat diklik oleh orang lain. Per kliknya kita mendapat Rp 250 atau dalam bentuk poin. Menurut saya, ini salah satu kesempatan berbagi yang sangat baik dan bermanfaat. Kenapa? Karena saya bisa berbagi dengan orang lain tapi juga bisa mendapatkan uang. Pun orang lain juga bisa mendapatkan informasi yang bermanfaat dari apa yang saya posting.

Ini 8share saya, alhamdulillah lumayan...:D
Berkaitan dengan share artikel, info lomba, video, dan foto, 8Share memberi kebebasan kita untuk men-share informasi tersebut lewat sosial media, diantaranya twitter, facebook, blog, G+, dll. Yang tentunya akan semakin banyak orang yang meng-klik postingan kita dan banyak pula yang mendapat info dari postingan kita. Artikel, info lomba, video, dan foto juga hampir setiap hari ada yang baru, jadi kita bisa sering men-share-nya.

Bagaimana, apakah Anda tertarik? Untuk bergabung dengan 8share kini sangat mudah. Anda bisa mendaftar 8Share melalui website 8Share atau mengunduh aplikasinya melalui Android ,I-tunes dan Google Play. Bagi saya yang kini menggunakan smarthphone, sharing artikel, info lomba, video, dan foto bisa saya lakukan dengan mudah dan cepat.

Yuk, cari tambahan uang lewat 8Share.com

In Memoriam Ika Wulandari

Namanya Ika Wulandari, teman SD saya. Dulu, kami memang tak terlalu dekat, tapi karena sosoknya memiliki sifat yang hampir sama dengan saya-lah yang membuat saya nyaman ketika bersama dia. Betah bersama dia.

Saya ingat betul, ketika jam istirahat datang, kami selalu keluar dari sekolah dan pergi ke rumah Mbah Haji Tofa (jaraknya 1 KM dari sekolah). Ngapain? Kami manjat pohon kresen/talok bersama. Mengumpulkan kresen-kresen itu dan kembali ke sekolah ketika bel masuk tepat berbunyi. Selalu seperti itu.

Yang saya ingat tentang dia, Ika itu seorang kompetitor yang sportif banget. Dia adalah salah satu teman yang sering kali bersaing dengan saya dalam bidang olahraga. Dia sangat ramah, hangat, dan selalu saja ada yang dibicarakan saat bersama dia.

Terakhir kali saya bertemu dengannya saat Mbak Nurul (teman SD kami sekaligus tetangga dia) menikah, hampir setahun yang lalu. Hari itu-lah yang jadi hari terakhir kami bertemu dan mengobrol mengenang masa lalu. Ika...
***
Pagi itu, Kamis 3 April 2014, dia kembali kepelukan-Nya. Dia berpulang kepada Sang Pencipta. Saya tak kuasa saat mendengar namanya disebut oleh penyiar berita duka dari toa masjid. Ya Allah...kenapa Engkau jemput teman hamba secepat ini? Saya belum sempat bertemu dengannya. Menanyakan kabarnya dan memeluknya untuk sekedar mengucapkan, “Lekas sehat ya?”

Malamnya, saya berbicara pada diri saya sendiri, “Kapan ya saya jenguk Ika. Ini sudah gajian, saya harus jenguk dia. Ah, besok.” pikir saya saat itu. Tapi kenapa saya menjenguk dia saat dia sudah kembali kepada-Nya?

Ya Allah...inikah takdir-Mu?

Melihat kerandanya diangkat, hati saya rasanya remuk, Ika...kenapa kamu pergi secepat ini? Inikah jalan terbaik untukmu agar kamu bahagia di sana? Apakah kamu tahu saya hadir untuk menemuimu? Maaf..maaf...

Ya Allah...

Kenapa kemarin-kemarin saya menunda untuk menjenguk Ika? Bukankah saya bisa meminjam uang ke orang lain dulu nanti bisa diganti setelah gajian? Ya Allah...inilah rencana-Mu. Rencana-Mu yang begitu indah untuk teman hamba dan untuk kami yang masih ada di surga dunia-Mu ini.

Sedetik kemudian, saya, kami tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Melakukan yang terbaik adalah hal yang harus kita lakukan setiap detik, berbagi dengan yang lainnya, semampu kita.

Ika, semoga kamu bahagia di sana. Maafkan saya...maaf karena tak pernah sempat menjengukmu hanya karena masalah materi. Di sini, kami merindukan-Mu. Di sini kami belajar darimu. Kamu meninggalkan kami dengan cerita indah. Bahagialah di sana, teman. Di sini kami akan mendoakanmu.

Selamat jalan, teman.

Friday, 4 April 2014

Ikut Survey Bisa Dapetin Ipad?

Pagi ini saat buka twitter, eh ada mention dari Mbak Tanti. Ternyata Mbak Tanti mengajak saya untuk ikut survey tentang "Tampilkan dirimu cantik seutuhnya".


Dengan mengikuti survey dari Majalah Cosmopolitan ini, kita bisa memiliki kesempatan mendapatkan 3 Ipad bagi 3 pemenang dan voucher belanja setiap minggunya @Rp500.000 untuk 2 orang pemenang.

Survey ini khusus untuk perempuan lho, yang laki-laki maaf yeee...

Mau ikutan juga? Bisa klik di SINI

Berbagi Voucher Beli Buku di Gramediana

I’m participating in the Pay-it-Forward initiative. The first 5 people who comment on this status with “I’m in” will receive a surprise from me at some point in this calendar year – anything from a sweet dessert, a lovely CD, a ticket, a book or just absolutely any surprise I see fit! There will be no warning and it will happen when I find something that I believe would suit you and make you happy! These 5 people must make the same offer in their status (FB or Path or Twitter, etc.) and distribute their own joy. Simply copy this text onto your profile, (don’t share) so we can form a web of connection and kindness.

Let’s do more nice and loving things for each other in 2014, without any reason other than to make each other smile and show that we think of each other. Here’s to a more enjoyable, more friendly and love-filled year!
***

Kalau sudah baca dua paragraf di atas jangan langsung di SKIP ya? Saya tahu event ini dari blog Mbak Efi, dan saya mendapatkan hadiah berupa sebuah alquran mungil yang sangat saya favoritkan setiap kali tilawah.

Jelas dalam event ini diharapkan setiap penerima hadiah bisa melaksanakan event serupa. Berkaitan dengan hal itu, kita mau balik berbagi dengan blogger lainnya atau tidak itu terserah pada diri kita masing-masing. Bukankah, tangan di atas itu lebih mulia dengan tangan di bawah? Ah, tak perlu hadiah yang mahal-mahal, yang penting kita berbagi dan hadiah itu bisa bermanfaat bagi orang lain.

Kali ini dan untuk pertama kalinya, saya ingin berbagi voucher buku Rp 50.000 dari Gramediana untuk 5 orang teman blogger (@Rp 10.000) yang berlaku sampai 31 Juli 2014. Saya akan menampilkan kode vouchernya di bawah ini, dan tolong bagi yang sudah menggunakan voucher tersebut bisa meninggalkan komentar agar yang lainnya tahu.

Berikut vouchernya.
Voucher 1 = Rp 10.000
6558087998145299

Voucher 2 = Rp10.000
6921691326469327

Voucher 3 = Rp 10.000
9950535522607538

Voucher 4 = Rp 10.000
0198510167342453

Voucher 5 = Rp 10.000
3028655268908271

Selamat menggunakan ya? Semoga bermanfaat. Jangan lupa kalau ada rezeki, mari berbagi dan cantumkan dua paragraf di atas ya? Terimakasih.

*perhatikan font yang bercetak tebal