Sunday, 13 April 2014

Sarapan dari Ibu

Capek pun tak terasa, tertawa saja..
Perjalanan 1 jam selalu saya tempuh untuk bisa sampai di kampus. Sebagai mahasiswa PGSD, kampus mendidik kami-mahasiswa-nya untuk disiplin berangkat pagi. Tepatnya pukul 07.00 WIB perkuliahan telah dimulai.

Hidup ini pilihan. Awalnya saya dulu nge-kos, karena terlalu banyak pengeluaran, akhirnya saya memilih untuk nglajo (pergi-pulang). Sudah bisa kuliah saja sudah bejo. Makanya, dengan jam disiplin (masuk 07.00 WIB) itu saya pun harus merelakan tubuh sedikit lelah karena harus berangkat lebih awal 05.30 WIB dibandingkan teman-teman yang mungkin jam segitu baru bangun tidur.
“Kalau kamu nglajo ya ibu akan tetap bangun pagi untuk buatin sarapan kamu.” terang ibu saat awal saya memutuskan untuk nglajo.“Iya, Bu. Terimakasih.”
Sejak awal saya nglajo, ibu selalu bangun pukul 03.00 WIB. Menanak nasi dan membuat lauk untuk sarapan saya. Saya yang sudah terbiasa mendengar keributan di dapur pun selalu ikut bangun. Tak boleh ikut membantu, “Kamu belajar saja.” Itu yang selalu ibu katakan pada saya. Saya tahu ibu pasti capek sekali, tapi semua dilakukan oleh ibu tanpa mengeluh.

Karena sarapan saya tetap ceria ngek-sis
dengan teman-teman
Biasanya pukul 05.00 WIB, saya pun telah sarapan dan siap untuk mandi. Tak lupa ibu selalu memasukkan bekal ke dalam tas ransel saya. “Jangan telat makan siang.” Perkuliahan memang tak tentu jam-nya. Kadang mulai pukul 07.00-09.00 WIB, nanti ada kuliah lagi pukul 13.00-15.00 WIB. Dengan bekal yang telah ibu siapkan, saya akan menanti perkuliahan lagi dengan menghabiskan bekal saya di serambi masjid. Kalau ada tenggang waktu yang lama saya akan memilih belajar dan tidur di sana sambil bercengkrama dengan Mbak Eka, teman yang juga ikutan bawa bekal ke kampus.
“Ibu tidak ingin kamu seperti ibu dulu, mau sarapan saja susah. Banyak-banyaklah bersyukur ya..”cerita ibu yang selalu saya ingat ketika saya sudah mulai jenuh dengan rutinitas yang saya lalui itu. Tak hanya masalah sarapan, saya harus bersyukur karena bisa kuliah.
Berbicara tentang sarapan, secara sadar, saya paham betul rutinitas sarapan yang saya lakukan membawa dampak dalam diri saya. Saya lebih mudah berkonsentrasi saat perkuliahan berlangsung. Berbeda dengan teman saya, perkuliahan baru berjalan setengah jam pasti ada aja teman yang ndlosor atau meletakkan kepala di meja, berpangku dagu, dan tidak lagi dapat berkonsentrasi pada apa yang sedang disampaikan oleh dosen.

Teman yang ngantuk
saat perkuliahan (capek + lapar)
“Kamu nggak laper?” tanya teman pada saya.
“Nggak. Tadi pagi sudah sarapan. Kamu belum, ya?” tanya saya balik.
“Mana sempat.” kata teman saya yang letak rumahnya tak jauh dari kampus.

Saya lansir dari health.liputan6.com, Dr. Soedjatmiko, SpA(K) mengungkapkan bahwa dengan sarapan maka fisik sehat dan kuat, pikiran penuh semangat, dan perilaku yang baik akan ada dalam diri seseorang. Selebihnya sarapan pun terbukti dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan stamina seseorang.

Ah, saya patut bersyukur memiliki ibu yang sangat memperhatikan saya. Sekalipun ibu tak pernah tahu bahwa sesungguhnya sarapan itu sangat penting bagi seseorang. Bagi ibu yang penting anakku sarapan sebelum berangkat kuliah.Terimakasih ibu.


2 comments:

  1. Begitulah seorang ibu...jafi ingat ibuju juga nih. Tiap hari kebiasannya bangun sebelum subuh nyiap2in masak nyuci habis subuh buka warung. Siangnya ngantuk deh:)

    ReplyDelete
  2. hai hai, artikel yang menarik.

    Terima kasih sudah ikut berpartisipasi ya

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!