Thursday, 29 May 2014

Generasi Terkotak-Kotak?

Hai, apakah Anda termasuk dalam generasi terkotak-kotak? Atau mungkin Anda belum paham maksudnya apaan sih ini? Baiklah saya akan mengilustrasikannya dalam beberapa kejadian yang pernah saya alami.

Ilustarsi 1
Pernah, saat saya memperoleh mata kuliah dari Pak Erik, yaitu Pendidikan HAM, beliau berkata kepada kami, “Tolong keluarkan selembar kertas, tuliskan apa yang kalian tahu tentang HAM.”

Beliau memberikan waktu kepada kami kira-kira 10 menit. Setelah itu ada beberapa mahasiswa yang membacakan HAM menurut mereka, suara terbanyak mengungkapkan bahwa HAM adalah hak mutlak yang dimiliki manusia, ini dan itu sesuai teori yang didapatkan selama kuliah. Tapi tahukah Anda, apa jawaban beliau.

“Inilah yang saya takutkan pada kalian. Saya bilang HAM maka di otak kalian hanya keluar teori. Jangan jadi generasi yang terkotak-kotak. Kalau saya jawab HAM itu.....(beliau meng-klik power point-nya dan keluar gambar....)”

HAMBURGER

Hahaha! Lucu nggak? Sangat lucu dan saya mentertawakan diri saya sendiri. Kok nggak terpikirkan ya? Ah, saya termasuk generasi terkotak-kotak nih!

Ilustrasi 2
Baru juga beberapa hari yang lalu, Kak Hani menulis status seperti berikut ini.

Benarkah? Apakah Anda hidup seperti template yang beliau sampaikan? Kalau iya, bisa jadi Anda juga generasi yang terkotak-kotak.

Tenang, saya juga kok.

Ilustrasi 3
Saya pernah menulis artikel dengan judul Kerja Tak Sesuai Jurusan, Masalah?, banyak sekai komentar yang masuk. Tapi dari beberapa komentar yang masuk, ada satu komentar yang menurut saya (dulu) sangat sombong banget. Mau tahu komentarnya apa? Nih, saya sajikan.

Sekarang? Hahaha. Kata beliau memang sangat benar ya? Awalnya saya merasa beliau sangat sombong, tapi ternyata komentar itu BENAR SEKALI. Maklum saya kan generasi terkotak-kotak. Hahaha. Bangga banget yak.

Bagaikan katak dalam tempurung. Kalau saya berpikir kalau kuliah itu buat cari kerja, hellooo...kapan saya bisa maju? Saya akan selalu berada dalam dunia yang itu-itu saja. Ya, kalau semua lancar. Setelah diwisuda langsung kerja sesuai jurusan. Kalau tidak? Setres? Bunuh diri? Ih...jangan sampai deh.

Nah, dari ketiga ilustrasi di atas apakah Anda juga termasuk generasi terkotak-kotak?

Tuesday, 27 May 2014

MASUK STAN ? BERPIKIRLAH 2X

Dapat dari facebook teman yang juga anak STAN. Semoga bermanfaat untuk yang lain.

Beberapa hari yang lalu akun twitter Kementrian keuangan Republik Indonesia mengeluarkan kicauan yang berbentuk sebuah pengumuman. Pengumuman yang oleh beberapa orang telah lama ia menantinya.

Ya, bertepatan dengan hari dimana pengunguman kelulusan Ujian Nasional tingkat SMA tahun ajaran 2013/2014 KEMENKEU mengeluarkan berita bahwa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara telah resmi dibuka.

Hal ini membuat beberapa anak SMA yang memang bercita – cita menekuni pendidikan di STAN setelah tamat SMA tidak berkonsentrasi lagi menunggu hasil Ujian Nasional . Dia lebih tertarik membuka link dan menghubungi senior – senior atau orang yang iya kenal yang lebih dulu menginjakkan kaki di STAN.

Bukan Cuma mereka para anak generasi 2014, tetapi para korban kegagalan ketatnya USM STAN tahun sebelumunya yang masih penasaran akan kemampuannya. Bahkan mereka siap meninggalkan kampus tempat belajarnya sekarang demi 1 kursi di STAN.

Timbul pertanyaan di benak saya. Apa yang sebenarnya membuat mereka begitu tertarik memasuki kampus tempat saya belajar ini. Apa yang sebenarnya mereka inginkan dan apa dasar mereka sebegitu inginnya mengabdi pada Negara. Cita – cita ? Uang ? Pekerjaan? Atau sama sekali tidak tau?.

HAL YANG HARUS DIPIKIRKAN

Masa kecil adalah masa yang indah, masa dimana imajinasi kita mampu menembus batas – batas logika dan ketidak mungkinan. Masa dimana kita punya segudang cita – cita yang ingin kita capai.

Dokter, Arsitek, Guru, Polisi, tentara, hingga astronot dan sebagainya sering menjadi jawaban kepolosan kita saat kecil. Sebuah khayalan yang sebenarnya dapat diwujudkan dengan langkah yang jelas yang dapat kita susun. Bayangkan betapa bahagianya hati kita jika cita – cita kita tersebut terwujud menjadi kenyataan. Melakukan hal yang disukai dan diimpikan, dibayar, dan membahagiakan serta membanggkan orang tua.

Siapkah kita membuang semua angan dan impian kita itu ?
Ketika memasuki Sekolah Tinggi Akuntansi Negara hanya 1 yang dapat kau lakukan setelah tamat dari kampus itu. Bekerja di lingkungan kementrian keuangan sampai hari tuamu. Kehidupan datar dan monoton yang akan kau rasakan. Jauh dari angan dan cita – cita mu saat masih kecil. Bekerja pagi hingga sore, ber istirahat malam hari, dan melakukan itu sampai umurmu tak memungkinkan lagi untuk bekerja. Siapkah kau akan hal itu?.

Kau akan melihat teman – teman sma mu yang belajar di tempat lain wisuda dan bebas memilih menjadi apa yang mereka mau. Mereka mencoba untuk meraih mimpi mereka dan mereka berhasil melakukannya. Sedangkan kau?. Kau gagal meraih cita – citamu karena tidak memikirkan dan tidak sadar dengan memasuki kampus STAN kau telah mengubur impian mu dalam – dalam.

Bersiaplah hidup dalam kesederhanaan

Jangan pernah bermimpi untuk menjadi kaya raya dengan bekerja menjadi pegawai negeri, sebesar apapun gaji pegawai kemenkeu diterima mereka yang telah kau dengar, tidak akan dapat membuatmu kaya raya. Kalau kau bermimpi untuk kaya dengan menjadi pegawai negeri sebaiknya kau lupakan kampus ini.
Sebagian orang mengidentikkan kampus ini dengan Gayus Tambunan, salah satu alumni yang telah mencoreng nama baik kampus ini. Jika kau punya keinginan sedikit saja menjadi seperti dia, segera pergi, kau hanya akan menjadi parasit dan semakin mencekik masyarakat negeri ini,
Bersiap untuk iri kepada teman – teman mu yang menjadi . . . . .
Kau akan melihat orang lain menghasilkan uang ratusan juta dengan menjadi arsitektur, kau akan melihat temanmu menghasilkan jutaaan dalam sehari dengan menjadi dokter, kau akan melihat temanmu duduk santai tanpa beban namun berpenghasilan miliyaran dalam setahun karena dia merupakan seorang pengusaha besar. Atau kau akan melihat temanmu menjadi bintang terkenal atau pengacara kondang yang penghasilnnya per detik.

Sedangkan kau ? kau akan di gaji sebagaimana yang telah ditentukan. Gajimu yang bekerja keras dengan temanmu yang tidak bekerja keras akan sama saja asalkan masih dalam golongan yang sama.

Bersiap untuk tak merasakan menjadi mahasiswa seutuhnya
Disini kau tidak akan merasakan yang namanya perubahan suasana dari sekolahmu yang dulu, Aturan ketat, pakaian yang ditentukan, semua akan tetap kau dapat. Tidak akan ada namanya bersolek memperindah penampilan dengan pakaian yang bagus, semua sudah di atur dengan warna dan style yang sama.

Tidak ada bagimu orasi akan ketidak puasanmu terhadap kebijakan dan perintah kampus, kau akan di depak jika melawan aturan yang telah ditentukan.

Bersiap untuk tinggal antara Sabang sampai Merauke, atau Miangas sampai Rote. Bersiap lah untu merasakan suasana tinggal di Jayapura, Mamuju atau Pare – pare. Kau tidak akan tau nasibmu kelak, kau tidak akan tau dimana kau akan bekerja, bersiaplah untuk tinggal di tempat – tempat yang tak akan pernah kau bayangkan.

UBAH PEMIKIRANMU !!!!!

Jika kau masuk STAN karena ingin kaya raya maka sebaiknya kau tidak usa kesini. Cobalah kau mulai membiasakan diri dengan mensyukuri apa yang kau punya. Tidak ada gunanya koleksi puluhan mobil jika didapat dari uang yang bukan hak kita. Tidak ada gunanya rekening gemuk miliyaran jika bukan gaji kita atau penghasilan halal kita isinya.

Peraturan ketat tersebut adalah untuk mendidikmu dari awal agar nantinya di instansi kau belajar mentaati peraturan dan membiasakan diri dengan keadaan yang tidak kau sukai. Kau di latih untuk dapat bertahan dalam suasana yang mungkin tidak kau sukai

Mulai lah belajar untuk berharap secukupnya, Usaha sekuatnya, kecewa sewajarnya, dan bersukur sebanyak – banyaknya dengan apa yang kita miliki.
Siapkan dirimu seutuhnya untuk menjadi abdi negara. kau adalah salah satu calon pahlawan negari ini karena kontribusimu turut membangun negeri. Siapkan dirimu untuk berani berdiri paling muka, STAN pandai menempah cita baja.

Ubah niatan awal yang hanya ingin mendapat jaminan penghasilan tetap dengan niat ingin mengubah bangsa ini lebih baik. Jadi lah permata Harapan Negeri.

Source: http://objeknyasar.wordpress.com/2014/05/23/masuk-stan-berpikirlah-2x/

Dompet Bekas Laris Manis

“Mbak...”
“Ya, piye?”
“Boleh pinjam dompetmu yang kemarin?”
“Oh, ya ya...(sambil masuk kamar mengambil dompet dan mengeluarkan isinya). Mau ke mana?”
“Kondangan, Mbak. Teman SMP-ku nikah.”
“Ya, ya...ini.”
“Tak pinjam dulu ya, Mbak.”
“Ya, hati-hati.”

***

Dialaog tersebut terjadi dua hari yang lalu. Dompet kok dipinjam? Apakah Anda berpikiran seperti itu? Hehehe, itu hal lumrah di keluarga saya. Tapi ya lihat-lihat dulu lah barangnya apa yang dipinjam, kalau dompet tersebut sih oke-oke saja.

Dompet itu kayak apa sih? Itu tuh, dompet bekas yang saya renov. Kalau mau tahu coba lihat postingan saya yang ini >> Permak Dompet Lawas

Murah tapi nggak murahan. Dompet tersebut adalah dompet bekas yang sudah lama tidak saya gunakan kemudian saya renov dengan menempel kain perca. Sekarang bukan dompet bekas lagi, tapi dompet kasru (bekas tapi baru). Sebenarnya yang pinjam dompet tersebut tidak hanya adik keponakan, melainkan ibu juga langsung daftar mau pinjam waktu mau resepsi dan nganter penganten. Wuih, dompet saya laris manis. Apa buka penyewaan dompet ya? Atau memproduksi dompet semacam ini? 

Monday, 26 May 2014

Kembaran (Jauh) Al

Dalam keluarga besar saya, Abas sering dibilang mirip dengan Al. Itu lho anaknya Ahmad Dhani. Mirip nggak? Hihihi..

Hai kembaran (jauh) Al, sedang apa kau di sana?

Kemarin siang dia berangkat ke Solo. Bukan mlancong apalagi liburan melainkan bekerja di salah satu restoran di sana. Abas baru dinyatakan lulus dari SMK Farmasi tahun ini, belum juga ijazah-nya keluar tapi dia langsung berangkat kerja dengan bekal uang Rp 200.000 bersama temannya. 

Abas ini adalah adik keponakan saya. Orangnya itu pendiam tapi sekali ngomong, alamaaaak, A-Z pun jadi bahasan. Setahu saya dia itu mengidap insomnia, suka banget sama kopi, jarang banget tidur (lah iya insomnia kok ya), hobi banget nonton bola. Cocok deh.

Catatan penting yang saya dapatkan dari sosok Abas, dia tak suka meminta-minta dan tak suka berpangku tangan. Dia nekat pergi ke Solo dengan modal uang hanya Rp 200.000, padahal dia bisa minta sama nenek dan saudara lain agar dapat suntikan dana, tapi itu tidak ia lakukan.

“Aku pengen kuliah hukum, Mbak.” Cerita dia pada saya.
“Nggak lanjutin sesuai jurusan kamu saja, Farmasi?”
“Farmasi uangnya banyak, aku SMK saja mamak sudah meracau ke mana-mana apalagi kuliah.”
“Kerja dulu setahun baru kuliah.” Terang saya.

Saat saya seusia Abas saya tak pernah memiliki pikiran saya harus bekerja untuk bisa kuliah. Saya hanya tahu bapak ibuk pasti minta saya untuk kuliah saja. Oleh karena itu, kalau saya ada di posisi Abas belum tentu saya bisa sekuat dia.

Selama sekolah dia memang bukan tergolong anak yang cerdas. Bahkan cenderung biasa saja. Namun, dia tetap jadi orang penting di kelasnya. Ada acara apa dia yang handle, pergi ke mana dia yang handle. Padahal dia selalu menanggung rasa malu karena uang sekolahnya selalu nunggak. Semua itu karena menejemen ekonomi keluarganya-mamak yang kurang beres. Saya? Dulu waktu SMA saat telat 1 hari bayar SPP saya sudah ngambek nggak ketulungan, heeemm...

Pernah suatu pagi saat saya sedang menyapu di teras saya lihat Abas sedang mematut sepatunya. Tak lama kemudian dia pergi ke sumur. Apa yang dia lakukan? Membasahi sepatunya. Ya, sepatunya sudah njepluk, alias pudar warnanya dari hitam menjadi agak keputih-putih-an. Ya Allah... Sepatu saya banyak, tapi rasanya ingin beli lagi dan lagi. Dan adik saya...

Abas, nomor dua kiri 

Ya, saya tak mungkin sekuat Abas. Hei, kembaran Al! Ayo bertahan-lah di sana! Jadilah laki-laki tangguh setangguh postur badanmu. Mbak yakin suatu hari nanti kamu akan jadi orang sukses! Bertahanlah dalam keadaan apapun.


Sunday, 25 May 2014

The Liebster Award: Ijinkan Saya Mengenal Anda

Ih senangnya dicolek Mbak Irowati dan dapat tongkat estafet Award ini. Jujur saja, pas lihat postingan teman tentang award ini saya iri dan berpikir ada nggak ya yang nanti nyolek saya. Ternyata ada! Makasih Mbak Ir :D. 

Saya tahu Mbak Ir dari blog-nya yang identik dengan warna ungu. Selain itu karena ketertarikan saya pada postingan blog Mbak Ir tentang craft. Saya selalu kagum pada orang-orang yang memiliki keterampilan membuat barang unik dari barang bekas. Dan itu saya temukan pada Mbak Ir. Jadi jangan lelah untuk berkreasi ya, Mbak.

***

Bagi saya award ini bisa jadi bentuk cinta kasih antar blogger, ajang silaturahmi untuk semakin kenal, dan bisa jadi bahan postingan blog. Hihihi.

***

Bagi Anda yang nantinya dapat lemparan tongkat The Liebster Award dari saya, tolong perhatikan aturan mainnya berikut ini ya.

  1. Post Award ke blog Anda
  2. Sampaikan terimakasih kepada blogger yang mengenalkan award ini dan link back ke blognya
  3. Share 11 hal tentang diri Anda
  4. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan kepada Anda
  5. Pilih 11 blogger lainnya dan berikan kepada mereka 11 pertanyaan yang Anda inginkan

***

Sekarang saatnya saya menerangkan diri saya dalam 11 hal.
  1. Saya anak tunggal. Tapi saya paling tidak suka kalau ada orang yang belum mengenal saya sudah berkata kalau semua anak tunggal pasti manja.
  2. Masih berusaha untuk belajar tentang islam. Terutama dalam berhijab yang syar’i. Karena selama ini setiap kali berpakaian gamis selalu dianggap lebih tua dari usia saya. Hiks :( Tua di mata manusia, tapi muda di mata Allah. Aamiin.
  3. Saya lebih nyaman melakukan semua sendiri. Kalau kepentok baru minta tolong orang.
  4. Setia, hihihi. Dengan apapun, terutama masalah pasangan. Begitu juga dengan suatu hal. Ketika mempelajari suatu hal kalau belum berhasil tidak akan berpindah ke hal lain. 
  5. Sulit berkomitmen dengan waktu alias kurang lihai memenejemen waktu.
  6. Masih sibuk menetapkan apa impian saya yang sebenarnya.
  7. Ingin menikah muda, semoga tahun ini ya. Aamiin.
  8. Hobi membaca saat di ‘belakang’-maaf ya.
  9. Suka ikan, suka memelihara ikan, tapi seringkali lupa memberi makan ikan, akhirnya mati, kemudian beli lagi. Jahatnya...:(
  10. Paling nyaman saat berkutat dengan blog, tanaman, buku, dan renov kamar.
  11. Kalau ibu minta saya jadi PNS, saya lebih nyaman nantinya kerja di rumah. Misalnya usaha rental, fotokopi dan buka toko peralatan sekolah, buka toko online, dan nge-blog.

Sudah ya? Genap 11 kan? Sekarang saatnya saya menjawab pertanyaan Mbak Irowati.

  1. Sejak kapan Anda mulai nge-blog? Pertama kali punya blog itu sejak tahun 2010 tapi kalau aktif nge-blog baru setahun ini.
  2. Apa motivasi Anda dalam nge-blog? Jujur saja, nge-blog itu salah satu dari kegiatan yang bisa saya gunakan sebagai pembeda saya dengan orang lain (teman). Karena di lingkungan saya masih jarang sekali orang yang kenal dunia blog. Selebihnya, ingin berbagi kepada orang lain.
  3. Apa manfaat nge-blog bagi Anda ? Kalau dibilang nambah teman, iya. Tapi di dunia maya. Kan saya belum pernah ikutan kopdar. Kalau nambah pinter iya. Hihihi. Karena BW, betul, nggak? Tapi kalau manfaat yang pasti adalah saya menemukan siapa diri saya, apa hobi saya, dan hidup saya jadi sedikit terarah (kalau ada waktu luang jadi ada kegiatan yang bisa saya lakukan).
  4. Apa suka duka yang Anda rasakan dalam nge-blog ? Ehm...sukanya adalah saat dapat hadiah, jujur banget nih. Hehe tapi lebih suka kalau tulisan saya ada yang baca dan bermanfaat. Kalau dukanya apa ya? Tidak bisa update postingan dalam satu hari dan lupa diri kalau sudah di depan layar karena saking asyiknya.
  5. Apa yang paling Anda inginkan di dalam kehidupan Anda sekarang? Entah kenapa saat membaca pertanyaan ini jadi agak melow Mbak. Yang saya inginkan sekarang adalah lekas kelar skripsi saya. Jujur, saya sudah mengantongi acc dari dosen utama saya, tinggal dosen kedua saya. Semoga segera acc dan bisa diberi rezeki untuk daftar sidang. Sidang lancar, memperoleh nilai yang barokah, ilmu saya berkah dan segera menikah. Laaahh...yang terakhir itu pasti buat bapak ibu senang :D
  6. Hal apa yang paling membuat Anda bahagia dan sedih? Hal yang membuat saya bahagia adalah saat saya, ...Pulang ke rumah bawa uang gaji dan mengajak ibu belanja membeli kebutuhan dapur. Hal yang membuat saya sedih adalah....Saat ada orang yang tidak suka dengan sikap saya. Saya tipe orang pemikir, tiap ada orang yang berkomentar A sampai Z, saya akan memikirkannya sampai berhari-hari bahkan bisa membekas dalam hati saya sampai kapan pun.
  7. Siapa orang yang paling menginspirasi Anda? Ibu Kartini
  8. Apa motto hidup Anda? Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh disebut oleh manusia ialah menundukkan diri sendiri (Ibu Kartini).
  9. Sebutkan 3 kata tentang Anda? Serius, nggak tega-an, moody.
  10. Di mana tempat favorit Anda di dalam rumah? Di dalam kamar, semua ada. Sampai-sampai ibu bilang kalau kamar saya itu kayak susoh manuk (rumah burung), hahahaha.
  11. Hal apa yang paling anda benci di dunia ini? Saat saya meninggalkan sholat.
Sekarang saatnya saya ingin mengenal teman-teman blogger yang lainnya. Tapi sebelumnya maaf ya kalau ada yang berkenan saya colek. Hihihi.
  1. Mbak Christanty Putri Arty (http://www.omahantik.com/)
  2. Dik Intan Novriza Kamala Sari (http://goresanpemenang.blogspot.com)
  3. Mbak Rindang Yuliani (http://bintangpamungkas.blogspot.com/)
  4. Mbak Ila Rizky Nidiana (http://ilarizky.blogspot.com/)
  5. Mbak Agustinadian Susanti (http://moocensusan.blogspot.com/)
  6. Dik Ranii Saputra (http://raniisaputra.blogspot.com/)
  7. Mbak Nunu El-Fasa (http://www.nunuelfasa.com/)
  8. Mbak Tanti Amelia (http://nengdiary.blogspot.com/)
  9. Bunda Ida Nur Laila (http://ida-nurlaila.blogspot.com/)
  10. Mbak HM (http://akizeyek.blogspot.com/)
  11. Mbak Tha (http://argalitha.blogspot.com/)
Dan pertanyaan yang ingin saya ajukan kepada 11 teman blogger di atas adalah
  1. Siapakah nama Anda sesuai akta?
  2. Di mana Anda tinggal?
  3. Menurut Anda, apa itu blog?
  4. Apakah Anda membuat peraturan untuk postingan blog setiap hari berapa postingan, setiap bulan berapa, dst?
  5. Paling suka menulis tentang apa?
  6. Apa pendapat Anda tentang ibu rumah tangga?
  7. Apa pendapat Anda tentang menikah muda?
  8. Apa pendapat Anda tentang cita-cita sebagai Guru?
  9. Lebih milih pergi jalan-jalan bersama teman atau sendiri?
  10. Lebih milih radio atau TV? dan yang terakhir...
  11. Lebih milih pete apa jengkol? Ini bukan berarti Anda suka lho ya.

Nah, itu dia pertanyaan dari saya. Semoga Anda dengan senang hati mau menjawab pertanyaan tersebut. Sebelumnya terima kasih banyak. Happy Blogging :D

Saturday, 24 May 2014

Keyboard rusak? Semangat Kerja Yuk!

Yeay! Keyboard netbook saya ada yang error. Tepatnya yang bagian kursor arah ke bawah, amblek. Kalau kesentuh dikit saja layar jadi turun sendiri. Hihihi...kayak berhantu. Nggak tahu apa penyebabnya. Apa karena ada kotorannya ya? Eh, selama ini saya kan tidak menggunakan mouse, terlalu sering dipencet kali ya? Ah, solusinya ya harus membeli mouse.

Netbook saya ini merek HP mini 110. Saya beli akhir tahun 2011 lalu seharga 2.750.000 lengkap dengan aksesorisnya (mouse, pelindung keyboard, dan backgroun netbook). Alhamdulillah sejak baru tak pernah rewel. Pernah sih, bluetooth-nya error. Setelah saya bawa ke konter penjualnya, bisa lagi dan nggak bayar karena masih ada sisa 6 bulan garansi.

Kembali ke keyboard error. Awalnya saya mikir, haduh, pas dompet mulai menipis kok ya ada-ada saja sih. Gemes. Apalagi mulai bulan depan saya tidak nge-lesi Nicho lagi dan hanya ngurus rental di rumah. Berkurang deh pemasukan saya.

Eh, siapa yang sangka kalau pekerjaan satu hilang yang lain datang. Tiba-tiba datanglah tetangga yang mau minta tolong buatin makalah untuk kuliahnya. Asyiikkk, akan ada uang tambahan masuk nih, pikir saya. Ah, Allah itu memang tidak akan membiarkan hambaNya kelaparan ya? Alhamdulillah bisa membeli mouse baru. Yuk, segera selesaikan kerjaan ini!

Monday, 19 May 2014

Bukan Jadi yang Terbaik, Tapi Satu-Satunya

Tadi malam nonton Golden Ways-Pak Mario Teguh? Kalau iya, pasti tak asing dengan judul postingan saya ini.

"Bukan jadi yang terbaik, tapi satu-satunya." kata Pak Mario.

Apabila dicerna secara seksama memang betul, sangat betul malah. Hoo, setidaknya kalimat itu berhasil mengubah mindset saya selama ini. Selama ini saya memiliki prinsip, JADILAH YANG TERBAIK. Tapi ternyata apa? Saya merasa lelah, lelah karena kata-kata itu selalu menyihir saya untuk selalu berkompetisi dalam hal mencetak nilai selama kuliah bukan ilmu. Jadi seakan-akan saya belajar hanya berekspektasi pada nilai bukan ilmu karena saya ingin mendapat nilai yang terbaik di kelas. Kalau saya tak mendapatkan itu semua maka saya akan kelelahan sendiri bahkan membenci diri saya sendiri. Ya, itulah yang saya rasakan. Bagaimana dengan Anda?

Berbeda kalau JADILAH SATU-SATUNYA.
Kita akan sibuk dengan diri kita, ehm...tepatnya sibuk untuk mensyukuri apa yang ada dalam diri kita, tidak membandingkan dengan orang lain, dan selalu-selalu menggali potensi dalam diri. Benarkah? Saya akan mencobanya! Anda juga ya?

Friday, 16 May 2014

Yang dari kemarin pergi, apakah hari ini akan pulang? Saya sudah masak sayur asem dan lauk ayam plus tempe goreng :(

Pulanglah, Pak Bu.
Ika kangen.

Ah, Abaikan

Ada masalah dalam diri saya. Saya tak se-semangat yang dulu, tak se-kreatif yang dulu dan kini saya mudah sekali bosan. Itu berlaku juga saat saya mengerjakan skripsi ini. Bahkan berkali-kali saya juga kecewa dengan diri saya sendiri. Meskipun saya tahu kekecewaan itu bertubi-tubi datang juga karena faktor lingkungan. Tapi apa guna juga kalau saya menyalahkan lingkungan. Ah, abaikan.

Saya juga tak tahu kenapa komitmen saya begitu lemah, akhir-akhir ini. Saya merasa semakin jauh pula sama Allah. Mau jadi apa saya ini?  Hari ini berkomitmen harus menyelesaikan revisi tapi apa? Nggak kelar juga. Ya Allah...Hidup saya jadi tak berarah.

Kebiasaan buruk itu muncul lagi. Benar kata orang sekali teracuni maka akan teracuni terus menerus. Tak seharusnya saya selalu melakukan kebiasaa buruk ini. Ah, mulai abaikan.

Saya hanya ingin, revisi ini cepat kelar. Cepat sidang. Saya juga sudah nggak betah dengar kata teman yang sangat rajin bimbinga bilang, "Loh? Aku kira kamu sudah daftar sidang??" Hem, saya harus jawab apa? Senyum getir saja. Seringkali saya nge-yem hati saya sendiri, "Hello Ka, ini sudah jalanmu ayo nyebut. Ynag penting kamu tetap usaha" sambil dalam hati nangis dleweran ngadu sama Allah, ya Allah kenapa?

Ah, abaikan...

Saya memang kunci utama semua ini. Ya saya sendiri. Seberapa kuat saya ngadepin semuanya. Ini kan baru cobaan kecil, nanti kalau sudah terjun di dunia kerja hoooo pasti lebih wow.

Oya, dulu saya pernah nyepelein saudara waktu ngerjain skripsi, sekarang mungkin saya gantian disepelein orang, "Ih, kamu itu kayak nggak niat aja bimbingan sekali dalam satu minggu. Bukannya kamu dulu waku kuliah gini ya,  gitu ya?" Ah, abaikan sajalah...

Manusia berencana Alah berkehendak.Aamiin. Alhamdulillah, ini jalan saya. Yang penting saya nyaman, bapak dan ibu bahagia, meskipun ya saya tahu bapak dan ibu juga capek lihat saya. Padahal mereka sudah sangat capek dengan urusannya. Maafin saya...

Ah, Abaikan... 

Thursday, 15 May 2014

Fokus Anda Hari Ini Apa?


Alhamdulillah, pagi ini setelah pekerjaan rumah sudah hampir selesai saya menyalakan TV untuk lihat acara Mamah & Aa Beraksi. Tema hari ini adalah Sedih-Bukan Solusi. Dari berbagai ulasan materi dan pertanyaan dari penonton ada satu pertanyaan dari penelepon yang nyantol di hati saya.

“Mamah, saya ini sudah melaksanakan sholat 5 waktu, ngaji, berdzikir, tapi kenapa saya masih merasa takut ya, Mah?” tanya penelepon “hamba Allah”.

“Takut-nya karena apa, Bu?” tanya Aa.

“Takut menjalani kehidupan ini.” jawabnya lagi.

Dengan tegas Mamah langsung menjawab, “Fokuskan diri Anda untuk hari ini. Jangan besok! Tadi pagi saya bisa memakai baju ini sendiri, apakah nanti pasti saya bisa melepas baju saya sendiri? Belum tentu. Siapa tahu baju ini akan dilepas oleh mereka yang memandikan jenazah.” Kira-kira seperti itulah yang disampaikan oleh Mamah.

Mamah juga menerangkan kita bisa mem-fokuskan diri kita hari ini dengan banyak hal, misalnya sholat 5 waktu, beramal, berguna bagi orang lain, dan menanamkan mindset bahwa kita tak pernah tahu kapan akan kembali kepada-Nya. Maka jangan pernah menunda kebaikan-kebaikan yang ingin kita lakukan.

Surat Luqman

034. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Hem, saya menghela napas panjang. Selama 22 tahun saya hidup, diberikan kesempatan oleh Allah, tak banyak yang saya isi dengan hal-hal kebaikan. Fokus, fokus, dan fokus untuk hari ini.
Fokus saya hari ini apa ya?

  1. Sholat 5 waktu tepat waktu.
  2. Sholat dhuha.
  3. Download video kartun tata cara sholat.
  4. Menukarkan voucher belanja.
  5. Menyelesaikan revisi skripsi
  6. Kondangan
Enam fokus saya hari ini. Berharap semua bisa terealisasikan. Kalau Anda? Apa fokus Anda hari ini? Semoga juga bisa terealisasikan ya? Aamiin.

Wednesday, 14 May 2014

Sampel Gratis Deodorant Dove

Siapa yang mau gratisan? *saya!!
Kali ini saya ingin berbagi info sampel gratis deodorant dari Dove. Caranya sangat mudah kok.

  1. Like fanpage Dove
  2. Pilih menu FREE SAMPEL
  3. Isi formulirnya dan SUBMIT.

Sampel deodorant dove 15 ml akan dikirim ke alamat Anda yang menjadi bagian dari 1000 orang yang meregister.

Permak Dompet Lawas

Dompet lawas
Saya tipe orang yang tidak gemar menyimpan uang di dompet khusus. Biasanya saya menyimpan uang dan surat-surat berkendara di sebuah pouch. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini saya ingin membeli dompet yang bentuknya agak panjang. Sekalian membeli yang agak bagus-harganya juga sedikit mahal pastinya ya... Kalau kata ibu, “Kan kalau digunakan untuk resepsi pantes, Dik.”


Kain perca
Rencana hanya rencana, kalau punya uang lebih rasanya sangat eman untuk membeli dompet. Buat kebutuhan yang lain lebih baik. Ya sudah deh.

Beda hal-nya saat saya menemukan dompet bekas yang saya beli 2 tahun lalu. Dalamnya masih bagus tapi luarnya sudah mulai mengelupas. Karena sedang bosan merevisi skripsi, saya melirik kain perca yang saya kumpulkan dari tempat sampah penjahit di sekitar rumah saya. Tenang kainnya sudah saya cuci lengkap dengan aroma pewangi pakaian kok.

Ide permak dompet lawas pun muncul. Mau tahu bagaimana saya mermak dompet saya? Perhatikan uraian berikut ya?
Bahan:
Kain perca
Lilin
Lem tembak

Alat:
Gunting
Pistol lem tembak

Caranya:
  1. Potong-potong kain perca sesuai dengan keinginan Anda
  2. Bakar sisi-sisi kain perca dengan lilin supaya rapi.
  3. Panaskan lem tembak
  4. Bersihkan permukaan dompet
  5. Tempelkan kain perca satu per satu (warna/corak sesuai selera) dengan bantuan lem tembak ke permukaan dompet. Mulailah dari sisi yang paling pinggir.
  6. Lakukan langkah nomor 5 sampai semua permukaan dompet tertutup. Rapikan.

Mudah bukan? Mau tahu hasilnya seperti apa? Ini dia. Lumayanlah ya? Paling tidak adik keponakan saya sudah tertipu, tahu dia dompet saya ini baru dan harganya mahal. Padahal....hihihi...Selama mencoba ya?

Taraaaa......

Tuesday, 13 May 2014

Kamera Merekatkan Kami

Laily, Nuning, Ni'mah, Jejer, Rina Ayu, Rina Agus, Izza, Elyana, Saya

Di mana saja kalau ada kamera pasti mendekatkan yang tak pernah dekat dan merekatkan yang telah erat-beneran? Ih, sama dengan kami, narsis bingiiit.

Ketika di kampus kami memang sering bersama-satu kelas, saat ke Bromo tahun lalu kami menjadi lebih dekat. Ada satu, dua, tiga teman yang takut naik ke puncak Bromo, semua jadi tak ikut naik. 

Kami menikmati Bromo dari sisi lain. Menikmati mie rebus, mengukir pasir bersama dan tak lupa mencetak pemandangan Bromo lewat jepretan kamera.

Sampai saya berujar, “Suatu hari kalau kita ke sini lagi, harus berani naik ya?”
Yang lain hanya drengesan.

Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS

Monday, 12 May 2014

Jangan Belajar, Membaca-lah

Skripsi saya tinggal selangkah lagi. ACC dari dosen pembimbing 1 telah berhasil saya kantongi, tinggal ACC dari dosen pembimbing 2. Semoga lekas dapat jalan yang terbaik. Meskipun sampai sekarang skripsi saya masih acakadul. Hiks.

Kali ini saya tidak akan menceritakan bagaimana skripsi saya, melainkan cerita sosok dosen pembimbing 1 saya. Sejak awal bertemu dengan beliau, ada sesuatu yang berbeda. Beliau itu unik. Ehm, uniknya itu ceplas-ceplos tapi kok ya pas terus, gemar menciutkan nyali mahasiswa, dan suka mengobrak-ngabrik hati mahasiswa. Hahaha.

Bagaimanakah cara beliau mengobrak-abrik hati saya?

“Kamu itu kenapa kalau ketemu saya kelihatan takut.” kata beliau kepada saya seminggu yang lalu.
“Gimana nggak takut pak, setiap kali ke sini selalu diusir.”
“Lha kamu pantas diusir ndak?” tanya beliau sambil drengesan. Hahaha.
Saya hanya diam dan menyodorkan berkas bimbingan saya.

Pernah juga,
“Kamu itu ngapain bimbingan? Sana pulang saja.” Setelah itu berkas bimbingan saya malah diminta dan dikoreksi. Yes!

Atau,
“Kamu itu kan hobinya menunda-nunda, makanya nggak ikut wisuda April.” Aduh, kata-kata ini yang sempat membuat saya hampir nangis dleweran di depan beliau. Tapi saya masih kuat dan dari kalimat itu sampai sekarang setiap kali saya bimbingan beliau selalu bertanya, “Kamu kapan ke hutan lagi? Jarang lho ada anak kuliahan yang mau terjun ke sawah bantu orangtuanya apalagi keluar masuk hutan kayak kamu. Segera selesaikan skripsimu, ndang masuk hutan lagi. Hahahaha.” Terimakasih ya Allah.

Masih banyak lagi cerita unik yang saya dapatkan dari beliau. Tapi perbincangan saya dengan beliau tempo hari, membuat saya kembali berpikir dan menyesali kenapa kebiasaan membaca saya masih kurang optimal.

“Jadi perempuan itu harus cermat. Dibaca dan dibaca lagi skripsi kamu. Kalau nggak cermat nanti tidak ada laki-laki yang naksir kamu. Pokoknya itu nanti dibaca lagi sebelum kamu print ulang dan mendaftar sidang. Ingat, baca saja, tidak usah dipelajari.”

“Kok gitu pak?”

“Kamu tahu kan saya begitu nglothok dengan cerita Ramayana dan Mahabarata? Itu karena apa? Saya sudah membaca bukunya lebih dari 10 kali. Saya tidak pernah mempelajarinya. Saya hanya membaca.”

“Membaca itu tidak sama dengan belajar ya, Pak?”

“Ya, tidak! Belajar. Coba saya bilang, jangan lupa kamu pelajari tentang A, pasti mindset kamu langsung ah ini paksaan. Beda kalau saya bilang coba kamu baca tentang A. Mindset kamu akan berbeda.”

“Ehm....”

“Tesis saya itu 1000 halaman, kalau saya pelajari bisa-bisa saya botak. Tapi apa yang saya lakukan? Saya hanya membaca, membaca, dan membacanya sampai nglothok.”

“Baik, Pak. Sayaakan membaca lagi.”

“Biasakan dalam dirimu sehari itu harus membaca. Kalau sudah terbiasa pasti nanti akan ada yang kurang kalau sehari saja kamu tidak membaca.”

“Hehehehe...” saya manggut-manggut.

Wednesday, 7 May 2014

Resensi Buku: Rantau 1 Muara

Judul: Rantau 1 Muara
Penulis: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Utama Pustaka
Terbit: Mei 2013
Jumlah halaman: xii + 407 halaman
ISBN: 978-979-22-9473-6
Genre: Novel

Man jadda wajada.
Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Man shabara zhafira.
Siapa yang bersabar akan beruntung.

Man saara ala darbi washala.
Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan.

Masih muda, agamanya joss, jebolan pondok, cerdas, anak rantau, eh dapat beasiswa menjadi Duta Muda ke Kanada juga. Idih, siapa lagi kalau bukan Alif Fikri. Di buku ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara ini merupakan lanjutan cerita perjalanan Alif Fikri setelah pulang dari Kanada. Bagaimana kisahnya?


....”Mana mungkin kamu mengurus KRS kalau sudah terlambat seperti ini. Sudah, kembali saja semester depan!”....(halaman 7)

Baru juga pulang dari Kanada, bukan Alif Fikri kalau nggak dapat masalah. Ia didamprat habis-habis-an oleh Pak Wangsa, petugas administrasi kampus. Dapatkah Alif Fikri mengatasinya? Penulis akan selalu memberikan jawaban-jawaban yang tak terbayangkan oleh pembaca, termasuk saya.

Satu urusan selesai, urusan yang lain siap antre. Tepatnya bukan urusan, melainkan masalah. Selama ini Alif membiayai hidupnya di rantau dengan menjadi penulis lepas di berbagai media massa. Lumayanlah, masih ada sisa untuk dikirimkan ke kampung. Sayangnya, krismon pada tahun 1998 membuat hidupnya seperti nyala lilin yang kena tiupan angin. Ketar-ketir.

Belum juga masalah keuangan teratasi, Alif yang telah diwisuda pun mengatasi masa-masa galau mencari pekerjaan. Bagian ini menyadarkan kepada saya, hanya orang yang benar-benar kuat-lah yang akhirnya berani berkata, “bye-bye pengangguran.”

Seperti petani menyebar jaring, puluhan lamaran kerja ia kirimkan. Tapi kenyataan berkata lain. Kerjaan tak datang, gigolo bin penagih hutang yang datang. Jalan satu-satunya yang dipilih Alif adalah minggat ke Jakarta. Apa yang terjadi pada Alif Fikri si anak rantau? Apa saja yang ia temui? Kerjaan? Jodoh? Atau Randai yang akhirnya melejitkan mimpi Alif untuk mendapatkan beasiswa lagi? Yuk, baca buku yang satu ini. Nggak bakal rugi deh, apalagi buat Anda yang sedang mencari pekerjaan, jodoh, dan keluarga impian. Buku ini bisa Anda jadikan buku penyumpal semangat untuk melanjutkan perjuangan.

***

Ah, kalau ngomongin tentang buku karya penulis yang satu ini saya angkat tangan deh. Suka. Banyak sekali pelajaran hidup yang tak pernah terpikirkan oleh anak zaman sekarang (saya zaman sekarang bukan ya?). Tak banyak anak muda sekarang yang bisa tahan banting seperti Alif Fikri. Ada-ada saja yang dia lakukan untuk mengatasi berbagai masalah. Miris saja kalau anak muda jaman sekarang harus mengalami apa yang Alif alami. Kemarin saja lihat berita ada anak yang tidak dibelikan rokok ibunya kemudian bunuh diri. Astagfirullah...

Kembali ke topik. Sebenarnya saat saya membeli buku ini, ada ekpektasi yang lebih di buku ini. Karena dari dua buku sebelumnya saya mendapatkan sesuatu yang sangat lebih. Buku ini tidak jelek, tapi seperti ada lompatan-lompatan cerita yang akhirnya ada bagian cerita yang tak tersampaikan. Seperti contohnya, cerita Alif yang dapat beasiswa di Singapura ini juga tidak disampaikan dengan jelas dan detail, seingat saya di buku yang kedua juga tidak disampaikan. Kemudian bisnis Uda Ramon juga tidak diterangkan secara gamblang dan cerita Uda Ramon juga menghilang begitu saja. Satu lagi yang membuat saya kecewa, itu Mas Garuda ke mana? Di ending-nya juga tidak disebutkan. Oh...Mas Garuda lenyap di manakah dirimu? 

Ada kelemahannya, ada juga pasti kelebihannya. Apalagi kalau bukan penggambaran atau pendeskripsian suatu tempat oleh penulis. Detail tapi tetap membiarkan pembaca secara liar untuk meng-imajinasikan bagaimana tempat tersebut. Untungnya lagi, di balik cover buku ini juga diberikan peta tempat terakhir Alif tinggal.

Sudahlah, ayo buruan beli buku yang satu ini. Kalau belum punya ketiganya, buruan ke toko buku ya? Selamat membaca.