Monday, 30 June 2014

Pentingnya Konfirmasi

“Seharusnya kamu SMS beliau dulu kalau nggak jadi bertemu. Jadi, ada tembunge.”
“Hehehe.”
“Kalau dosenku pasti sudah kena semprot.”
“Tadi aku juga disemprot, tapi nggak terlalu juga sih. Namanya juga lupa, mau diapain lagi.”

Itu sepenggal obrolan saya bersama teman saat saya menceritakan kalau saya baru saja kena semprot dosen penguji sidang skripsi saya. Ceritanya saya bertanya kepada beliau hari Senin bisa bertemu pukul berapa dan beliau menyanggupi pukul 08.00 WIB. Tanpa diduga motor saya dipinjam kondangan sampai sore, saya pun tak jadi ke kampus dan sibuk nyelesaikan pekerjaan rumah dan nge-print kerjaan. Awalnya saya  berpikir, saya SMS dosen nggak ya, ah nanti, ah bentar lagi, alhasil deh, saya lupa SMS dosen saya untuk memberi tahu bahwa saya tidak bisa ke kampus sesuai janji saya.

Ah, besok ke kampus sambil minta maaf.

“Kamu itu bagaimana? Kan janjinya datang hari Senin kok baru ke sini hari ini (Selasa).” kata dosen penguji saya sambil sedikit marah.

Kata teman saya itu memang benar. Pantas kalau dosen penguji saya marah. Alangkah baiknya saya bisa meluangkan waktu untuk mengkonfirmasikan kabar bahwa saya tidak bisa ke kampus. Berapa lama sih ketik SMS? Berapa rupiah pula biaya SMS?

Rasa-rasanya setelah kejadian tersebut saya tahu kalau saya memang yang salah. Keadaan lupa tak lagi bisa ditolerir. Mungkin ini hanya perkara sepele tapi ini berkaitan dengan tata krama. Saya juga tidak boleh minta selalu dingertiin, “ah, paling si itu juga tahu kalau saya begini. Ah, si itu tahu lah mungkin begono...”. Betapa kecewanya mereka dengan sikap saya. Egois sekali ya.

Karma itu tak lama. Saya bersikap seperti itu dengan dosen (meskipun dengan embel-embel lupa), gantian ibu dan abi yang bersikap seperti itu kepada saya. Hasilnya? Saya sangat kecewa. Bukankah ini buah dari sikap saya sendiri?

Tak mau lagi menyepelekan perkara ini. Pernahkah Anda merasakannya?

Sunday, 29 June 2014

Beasiswa untuk Pelajar dan Mahasiswa

Sumber gambar di SINI

Siapa mau beasiswa? Beasiswa yang saya infokan kali ini adalah beasiswa yang beda dari yang lain. Kalau Anda suka menulis, maka jangan sampai ketinggalan untuk ikutan beasiswa yang satu ini.

Beasiswa ini diberikan oleh Dataprint. Adalah suatu brand yang sejak 1992 telah berhasil melayani kebutuhan konsumen yang berkaitan dengan komputer. Beasiswa ini setiap tahunnya diberikan sebanyak dua periode. Setiap periodenya terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta dengan jumlah siswa per tahunnya sampai 700 penerima beasiswa.

Mau juga memperoleh beasiswa ini? Cukup tulis sebuah esai minimal 100 kata dan maksimal 500 kata dengan ketentuan tema untuk pelajar adalah Seandainya saya menjadi Menteri Pendidikan dan untuk mahasiswa dengan ketentuan tema Mempersiapkan generasi muda menghadapi era Pasar Bebas ASEAN. Tema akan berubah untuk tiap periodenya.

Kapan sih periodenya berakhir? Untuk periode pertama di tahun 2014, akan berakhir tanggal 30 Juni 2014. Untuk lebih jelasnya langsung saja baca syarat dan ketentuannya secara lengkap di SINI.

Saturday, 28 June 2014

Ziarah Kubur Sebelum Ramadan

Sumber gambar di SINI
Alhamdulillah, bisa bertemu dengan ramadan tahun ini.

Sebelum ramadan tiba, ada kebiasaan bahkan menjadi kewajiban bagi keluarga saya untuk ziarah kubur kakek dan buyut di Pati sana. Harus ada satu hari yang harus saya luangkan agar bisa ke Pati. Perjalanannya sih hanya 2,5 jam kalau menggunakan motor dan 4-5 jam dengan naik bus, tapi kalau tidak dijadwal dari awal pasti ada saja halangannya.

Rabu lalu, selepas subuh akhirnya saya berangkat ke Pati bersama ibu dengan naik motor. Kami berencana tidak menginap, sorenya akan pulang.

“Nginep kenapa??” rengek nenek saya.
“Bapak sendirian di rumah dan besok Ika mau ke kampus.” terang ibu.

Nenek meminta kami menginap karena setibanya di sana nenek hendak resepsi ke Kudus. Ya, hanya bertemu sebentar. Selepas nenek pergi, saya dan ibu langsung mengambil air wudhu dan tancap gas ke makam. Berbekal buku tahlil dan yasin, kami pun berdoa beriringan.

“Besok pasti makamnya ramai.” Ibu membuka obrolan setelah selesai berdoa sambil membersihkan nisan kakek yang mulai dimakan rayap.
“Iya, besok kan Kamis terakhir, Bu.”
“Nggak terasa ya, sudah 8 tahun. Pak, wis yo aku tak bali.”

Mendengar kata ibu, “Pak...wis yo aku tak bali”, rasanya hati saya pilu. Saya merasakan betapa ibu rindu kakek. Ya, hanya ziarah kubur yang bisa ibu lakukan untuk mengobati rasa rindu ibu. Selalu, setiap kali pulang ke Pati, ibu pasti menyempatkan diri ke makam kakek.

Ziarah kubur, pada masa awal-awal Islam, Rasulullah saw pernah melarang umat Islam berziarah ke kuburan, mengingat kondisi keimanan mereka pada saat itu yang masih lemah. Serta kondisi sosiologis masyarakat Arab masa itu yang pola pikirnya masih didominasi dengan kemusyrikan dan kepercayaan kepada para dewa dan sesembahan. Rasulullah saw mengkhawatirkan terjadinya kesalah pahaman ketika mereka mengunjungi kubur baik dalam berperilaku maupun dalam berdo’a. (sumber: http://www.nu.or.id/)

Berbeda dengan masa kini, alasan tersebut tidak lagi sesuai dengan keadaan saat ini. Rasulullahpun telah memperbolehkan berziarah kubur dengan tujuan mengingatkan kita kepada akhirat. Bagaimana? Apakah Anda sudah berziarah kubur? Meskipun belum ada dalil yang mengkhususkan berziarah kubur sebelum ramadan tapi setidaknya jangan sampai lupa untuk berziarah kubur ya.

Saturday, 21 June 2014

Ketika SD, Saya Dibully (Part 1)

Usia saya sudah 22 tahun, tapi kejadian ketika saya SD masih lekat betul di dalam otak saya. Apakah mungkin karena apa yang saya ingat adalah hal yang tidak mengenakkan?

Dibully, dari kata bully yang mendapat imbuhan di- di awal kalimat. Bully itu apa? Menurut  Dr. Dian P. Aldilla, Psi, bully adalah suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku. Siapa yang nge-bully saya?

Saya akan menceritakan pengalaman saya dibully oleh beberapa orang dalam beberapa postingan. Kali ini saya akan bercerita bagaimana saya dibully oleh orang nomor satu di SD tempat saya sekolah. Panggil saja beliau Miss A.

Tepatnya kelas 5 SD, saya mengikuti lomba sinopsis tingkat kecamatan dan alhamdulillah memperoleh juara 1. Senangnya hati saya, tak berselang lama lomba sinopsis untuk tingkat kabupaten pun akan segera diselenggarakan, saya pun harus tetap berlatih.

Miss A adalah tipe orang yang sangat disiplin dan perfeksionis. Hal itu menyebabkan apapun yang terjadi harus sesuai dengan keinginan beliau kalau tidak masalah besar pun datang. Seperti hari itu, saat saya hendak maju lomba sinopsis tingkat kabupaten (lomba diadakan di  sekolah saya). Beliau menunggu saya di depan ruangannya dengan muka tak sedap dipandang. Saat itu saya tak berpikir apa-apa, hanya bermaksud menghampiri beliau kemudian mencium tangan beliau untuk meminta restu. Tapi apa yang terjadi?

Ibu jari dan telunjuknya tiba-tiba bersarang di pinggang saya, memelintirnya seakan menunjukkan bahwa beliau sangat geram dengan saya. Sakiit sekali, bahkan sampai sekarang sakitnya masih saya rasakan, bukan di pinggang tapi di dalam hati saya.

“Kemarin sore kenapa tidak berangkat latihan?!!” tanya beliau.
“Maaf, Bu. Kemarin saya demam, Bu. Ibu saya kan sudah ijin ke rumah, Ibu.” jawab saya sambil menahan tangan beliau yang masih nempel di pinggang saya.
“Awas kalau nanti nggak juara!” kata beliau sambil melepaskan tangannya dari pinggang saya, tapi masih dengan wajah garangnya. 

Saya pun berjalan menuju ruangan lomba diantar oleh beliau. Saya hanya diam, menahan rasa sakit di pinggang saya. Sore sebelumnya, saya memang demam dan ibu meminta saya untuk tidak berangkat latihan di rumah Miss A (selama 1 minggu sebelum lomba sering latihan di rumah beliau). Karena ibu berpikir daripada esok harinya saya tidak bisa ikut lomba. Tapi ternyata yang saya dapatkan berbeda.

Dulu, saya hanya berpikir betapa jahatnya Miss A, kenapa sampai memarahi saya seperti itu dan mencubit pinggang saya? Sepanjang perjalanan lomba, saya teringat kejadian itu dan berakhir saya hanya memperoleh juara 4. Apa yang saya dapatkan lagi dari Miss A?

“Kalau kemarin kamu berangkat pasti bisa jadi juara 1. G*****!!”

Saya hanya diam dan itu semua masih teringat jelas sampai detik ini. Apakah ibu saya tahu? Ya, sampai rumah saya menangis dan mengadu pada ibu. Tapi karena saya hanya dari keluarga biasa dan beliau adalah orang ternama di kampung, kami hanya diam.

Pernahkah juga Anda bahkan orang di sekitar mengalaminya? 

Thursday, 19 June 2014

[Review Produk] Pouch dari La Conchita

Tentunya sebagai konsumen ketika menggunakan suatu produk akan ada komentar yang secara tak sengaja keluar dari mulut kita, eh kok gini ya, ih bagus deh, dsb. Nah, kali ini saya akan mereview salah satu produk dari La Conchita. Apa hayo? Yaitu pouch cantik dengan motif bunga-bunga yang satu ini.

Saya mendapatkan pouch ini secara gratis kira-kira satu tahun yang lalu saat La Conchita mengadakan GA. Ini dia penampakan pouch-nya.



Saya sering menggunakannya untuk tempat make up.
Nggak terlambat deh ya kalau saya membuat review pouch ini setelah 1 tahun lamanya saya menerima pouch ini *iya*. Hihihi. Justru seteah 1 tahun produk buatan La Conchita yang satu ini memang perlu diberi 4 jempol. Karena apa?
  1. Jahitannya rapi banget, awalnya saya mengira kalau pakai jahit tangan eh ternyata pakai mesin jahit. Hehehe.
  2. Bahan terbuat dari linen jadi tidak terlalu halus dan licin, kalau dipegang nempel aja di tangan.
  3. Warnanya yang putih dengan bunga-bunga kecil cocok kalau dipadu-padankan dengan baju apapun dan tentunya cocok kok untuk pergi kondangan.
  4. Tanpa resleting, jadi kalau ada barang yang ukurannya kecil bisa tumpah.
  5. Desainnya simpel dan terdiri dari 3 bagian, 1 bagian ukuran 10 cm x 16 cm, dan 2 bagian ukuran 5 cm x 8 cm yang dilengkapi dengan aksesoris kancing dari besi. Jeleknya kalau sudah 1 tahun jadinya besinya agak karatan. Mungkin cara nyucinya salah kali yaa...

Pas banget digenggaman tangan

Desainnya simpel banget, terdiri dari 3 bagian. 1 bagina utama, dan 2 sebagai variasi tapi tetap bisa digunakan.

Kancing dari besi tampak karatan setelah 1 tahun

Tampak dari atas, dalamnya dengan puring kanvas
Nah, apakah kamu tertarik dengan produk La Conchita ini? Anda bisa lihat koleksi dari La Conchita di facebook, twitter, atau blog. Yang pasti produknya lucu-lucu banget.

Mau juga produk Anda saya review secara gratis? Kirim email ke ichaituika@gmail.com

Ritme Kerja Sesuai Golongan Darah

Semalam, saat saya membuka beranda facebook tak sengaja membaca status yang dibuat oleh Annida online. Status tersebut menampilkan sebuah gambar “Time Management” seseorang berdasarkan golongan darah. Mata saya langsung tertuju pada huruf B, dan ternyata time management yang digambarkan sekaligus didiskripsikan tersebut sesuai dengan saya.

Saya adalah tipe orang yang bekerja menyesuaikan dengan mood. Mau revisi skripsi setelah sidang menyesuaikan dengan mood, mau buat postingan juga menyesuaikan mood. Ya, saya tahu harusnya mood itu diciptakan, bukan dicari, namun seringkali saya masih kalah dengan mood itu sendiri. Bisa jadi karena komitmen saya kurang bagus. Hal itu ditandai dengan ketidakmampuan saya yang harus bekerja dengan deadline yang sangat ketat. Oh, tidak! Kalau terus-terus-an ngandalin mood datang kapan saya bisa sukses ya?

Nah, sekarang apa golongan darah Anda, silahkan dicocokkan ya? Kalau pun tidak cocok ya jangan dicocok-cocokkan. Siapa tahu dengan mengenali diri Anda seperti apa, sukses akan segera menghampiri. Aamiin. 

Golongan darah A
Biasanya akan terus mencicil pekerjaannya dari jauh-jauh hari hingga selesai.

Golongan darah O
Biasanya mereka adalah kaum deadliners yang menyelesaikan pekerjaan saat mendekati deadline

Golongan darah B
Biasanya mengerjakan pekerjaan dengan santai ataupun mengikuti mood mereka

Golongan darah AB
Mereka tidak akan berhenti bekerja sebelum pekerjaan mereka selesai, lebih memilih mengerjakannya dengan tuntas di awal lalu kemudian bisa bersantai

Bagaimana? Apakah cocok dengan Anda?

Tuesday, 17 June 2014

Mudah dan Cepat dengan Google URL Shortener

Manusia masa kini menyukai hal yang mudah dan cepat, salah satunya untuk menyelami dunia sosial media. Saya sebut saja dalam dunia blog, seorang blogger perlu sekali untuk men-share artikelnya agar banyak diketahui, dibaca oleh pengguna sosial media lainnya.


Salah satu hal yang tak pernah dilupakan oleh seorang blogger adalah memendekkan URL dari artikel yang akan di-share. Apa sebenarnya tujuan memendekkan URL suatu postingan? Jawab yang pasti adalah agar lebih ringkas dan eye-cathing.

Mudah dan cepat. Itulah yang saya temukan ketika menggunakan Google URL Shortener sebagai salah satu website asli dari Google yang memudahkan kita untuk memendekkan URL suatu postingan, tidak percaya? Yuk, kita buktikan!
  1. Buka postingan yang ingin ada share di sosial media
  2. Klik dan copy URL-nya.
  3. Buka http://goo.gl/.
  4. Paste pada kotak gambar no 1
  5. Klik pada no 2
  6. Akan muncul URL yang telah dipendekkan.
  7. Terakhir copy URL yang telah dipendekkan seperti pada gambar dengan nomor 3
  8. Di bawah gambar nomor 3 juga tampak preview dari artikel yang akan kita share.
  9. Share URL tersebut pada sosial media Anda.

Bagaimana? Mudan dan cepat dengan Google URL Shortener, bukan? Selamat mencoba ya?

Begini nih tampilannya kalau sudah di-share di facebook

Monday, 16 June 2014

Pendaftaran CPNS Diundur Juli 2014

Wah, pendaftaran CPNS diundur Juli 2014 ya? Saya lansir dari tribunnews.com memang diundur. Rencana semula pendaftaran CPNS akan dimulai pada bulan Juni ini, akan tetapi dengan dalih untuk mengoptimalkan persiapan penyeenggaraan CPNS maka pendaftaran CPNS akan mulai dibuka pada minggu ketiga dan ke-empat Juli.

Persiapan untuk CPNS tahun ini memang lebih ekstra, hal ini disebabkan karena untuk tes yang diperkirakan akan dilaksanakan secara serentak pada Agustus nanti  menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT). Tak perlu berkeluh kesah karena jadwal pendaftaran CPNS diundur Juli 2014, ambil positifnya saja, waktu untuk belajar lebih banyak lagi. Iya kan?

Saya sendiri untuk tahun ini belum bisa ikut CPNS, karena jadwal wisuda adanya Oktober nanti. Pernah saya tanya dengan beberapa pihak terkait kira-kira bisa daftar tidak apabila dengan SKL (sudah sidang tapi belum wisuda-ijazah belum keluar), ternyata memang tidak bisa. Yahah, memang belum kesempatan saya kali ya?

Nah, bagi Anda yang bisa ikut CPNS Juli tahun ini, jangan menyerah ya? Semangat!!

Hidup Tak Cukup dengan Rasa Suka

Saya masih ingat betul ketika salah satu dewan penguji yang sekaligus dosen pembimbing 1 saya berkata, “Kamu itu sama dengan anak saya yang kedua. Hanya melakukan sesuatu yang dia suka. Apakah hidup cukup dengan kata suka?”

“Bukankah kalau kita melakukan apa yang kita suka akan lebih maksimal hasilnya dibandingkan dengan sesuatu yang tidak kita suka, Pak?” sanggah saya.

“Saya berikan kamu pilihan, kamu memilih menjadi guru honorer selama 10 tahun dengan gaji hanya Rp 150.000/bulan atau menjadi pegawai bank yang gajinya hampir Rp 5.000.000/bulan?” tanya beliau lagi.

Dengan sangat polos, saya menjawab, “Karena saya suka mengajar, suka dengan anak-anak, saya memilih jadi guru honorer, Pak.”

“Cukup-kah kamu hidup dengan sebulan hanya Rp 150.000?”

“Ya tidak cukup, Pak. Tapi kan saya bisa sambil usaha.”

“Itu bedaa lagi. Jadi, kamu tidak bisa hidup dengan Rp 150.000/bulan kan? Hidup itu harus realistis. Banyak orang bilang kalau hidup itu pilihan. Tak betul itu, hidup itu sering tak ada pilihan. Mau tidak mau ya harus dipilih. Kamu kira saya suka dengan bahasa Indonesia? Saya suka Matematika. Tapi karena saat lulus SPG itu tidak bisa pilih Matematika dan saya itu dendam dengan bahasa Indonesia. Apalagi saat saya lulus SPG nilai saya tertinggi tapi tahu nilai bahasa Indonesia dapat merah, hanya 5, saya semakin dendam dengan bahasa Indonesia.”

“Itu artinya bapak dulu terpaksa?”

“Ya, bukan. Saya balas dendam kemudian saya tekuni dan syukuri. Bahasa itu kunci dari segala ilmu. Kita bisa menggenggam dunia ini karena bahasa. Betul tidak?”

“Iya, Pak.” Saya manggut-manggut.

“Kalau kamu selama ini pergi ke hutan kan karena terpaksa dengan keadaan, aslinya kan tidak suka.”

“Hehehe, harus saya tekuni ya, Pak.”

“Disyukuri juga.”

"Hehehee..." ending yang nyrempet tak jelas.

Sadar tidak sadar kesuksesan hidup ini bisa dinikmati dengan baik oleh seseorang yang biasanya tahu betul apa yang harus dilakukan. Bahkan dapat berkembang justru karena terhimpit. Ya, hidup ini seringkali memang tidak ada pilihan, kalau sudah seperti itu nikmati dan syukuri.

Saturday, 14 June 2014

Karya Siswa Sendiri

Kemarin, ada anak tetangga yang datang ke rumah.
“Mbak, buatin prakaryaku.”
“Lho?? Memangnya buat apa?” tanya saya.
“Alat musik terus ditempel-tempel, Mbak.”
“Nanti kalau Mbak yang buat berarti Mbak yang dapat nilai dong.”
“Hehehe...ya ndak, aku yang dapat nilainya. Lha suruh cari di warnet. Warnet situ kan tutup. Piye?”
“Memangnya kamu bisa buka internet?” tanya saya penasaran.
“Nggak. Ya, mas e to yang buka.”
Oalah. Hehehe.
***
Kira-kira seperti itulah ilustrasi obrolan saya dengan anak tetangga yang kemudian diikuti juga dengan keponakan saya yang sekelas dengan dia. Ehm, mereka itu kelas 3 SD. Karena Sabtu ini adalah hari UKK yang terakhir, mereka disuruh membuat karya. Tapi kok justru orang lain yang membuat.

Karya yang mereka buat adalah papan gambar alat musik. Mereka harus mencari gambar alat musik di internet kemudian diberi keterangan nama bagian-bagian alat musik tersebut dan tidak lupa diberi nama kelompok. Berikut penampakannya.

Tanpa ada maksud untuk menggurui, paling tidak sejelek apapun karya siswa, itu adalah hasil siswa sendiri dan harus dikerjakan di sekolah tidak di rumah. Karena ini adalah hasil kerja siswa.

Kenapa seperti itu? Banyak hal.
  1. Guru akan tahu seberapa jauh kemampuan siswa.
  2. Meningkatkan kreativitas siswa.
  3. Melatih siswa untuk mengapresiasi karya sendiri maupun orang lain.
  4. Tidak menyusahkan orang tua.


Untuk poin yang terakhir ini adalah poin yang paling menimbulkan polemik di kalangan ibu rumah tangga. Iya, kalau ibunya bisa membuatkan karya sesuai dengan yang diminta guru? Kalau tidak? Perang duniaaa deh *lebay. 

Hal itulah yang terjadi pula di lingkungan saya. Jujur, saya memang mendapat keuntungan dari kejadian tersebut. Karena ada beberapa siswa yang datang ke rumah untuk meminta tolong dibuatkan, pundi-pundi uang datang deh. Tapi ini nggak yes banget. Ini pembodohan.

Banyak hal yang bisa guru laksanakan untuk memperoleh nilai keterampilan siswa. Contohnya.
  1. Membuat origami, setiap siswa iuran 200, kemudian uang dikumpulkan untuk membeli kertas origami. Guru bisa memilih cara membuat origami bentuk hewan atau bunga (semampu guru kalau perlu cari di internet kan banyak ya? Jangan lupa disesuaikan dengan kemampuan siswa). Kemudian saat hari H, kertas origami itu dibagikan ke siswa dan guru bersama siswa bisa praktik bersama.
  2. Membuat gantungan kunci dari kain flanel. Siswa cukup iuran 2000-3000 untuk membeli kain flanel dan gantungan, nanti bersama-sama bisa membuat di kelas. Hasilnya bisa digunakan siswa untuk gantungan tas maisng-masing. Ini akan sangat berkesan.
  3. Membuat boneka jari dari kertas seperti yang pernah saya ulas di sini. Ini sangat murah. Bahkan tidak perlu modal uang. Siswa hanya membuat crayon atau pensil warna dan lem.


Masih banyak lagi kegiatan yang bisa guru dan siswa lakukan. Tak harus yang mengeluarkan dana banyak. Murah saja ada kenapa harus mahal? Sebagai guru memang harus jeli dengan lingkungan, karena lingkungan sekitar telah menyediakan semuanya. Ah, terima kasih untuk pelajarannya :D Semoga suatu hari jika saya jadi guru yang bisa memberikan yang terbaik untuk siswa saya.

Friday, 13 June 2014

Bismillah Sidang (Part 2)

Assalamualaikum, sudah baca Bismillah Sidang (Part 1), alangkah baiknya kalau mau baca Bismillah Sidang (Part 2) baca dulu yang Bismillah Sidang (Part 1) ya, agak maksa. Hihihi. Soalnya kan ini cerbung.

Sebelumnya saya ceritakan kalau saya telah mendaftar sidang pada Sabtu, 7 Juni 2014. Adakah yang menyangka kalau Sabtu mendaftar, Minggu saya agak bernapas lega-istirahat, dan Senin siang saya mendapat SMS dari teman kalau jadwal sidang saya sudah keluar. Alaaaaaamaaak, kok singkat padat dan mengejutkan sekali. Pertanda buruk nih! Ternyata iya, Rabu, 11 Juni 2014 saya sidaaaaang skripsi.

Nama saya ada pada urutan ke-5
Senin, pukul 14.30 WIB saya meluncur ke perpustakaan kampus. Untuk apa? Sebenarnya, saya sudah mewanti-wanti kalau seandainya Senin jadwal keluar maka saya harus melengkapi buku yang ada di daftar pustaka skripsi saya. Ada 10 buku yang saya pinjam dari perpustakaan kampus, paling tidak saya harus mendapatkan kopiannya. Karena sebelumnya saya mendapat kabar dari teman kalau satu per satu daftar pustaka di skripsinya dicek satu per satu. WOW banget kan ya?

Sepanjang perjalanan ke kampus hati saya tak karuan. Jedag-jedug tidak jelas. Memikirkan apa-apa yang harus saya siapkan, powerpoint, baju, sepatu, bahkan kerudung yang akan saya kenakan. Ya Allah. 

Tepat pukul 15.30 WIB, saya sudah sampai di pinggiran kota Kudus, tepatnya di kampus saya daerah Gondang Manis, Bae. Segera saya melihat jadwal sidang yang ditempel di depan kantor sekretariat. Meminta lembar penilaian, revisi, dan berita acara pula. Selanjutnya saya segera menelepon salah satu adik tingkat untuk membantu saya mencari buku di perputakaan. Alhamdulillah, paling tidak ada 6 buku yang masuk tas saya dan dapat tambahan 3 buku saya sendiri yang sebelumnya dipinjam oleh teman. Saya pun pulang dengan tersenyum.

Adzan maghrib berkumandang, saya masih ada di daerah Gajah, Demak. Paling tidak masih setengah jam lagi untuk sampai rumah. Saya memutuskan untuk sholat dan istirahat sebentar. Tepat adzan Isya’, saya baru masuk rumah. Alhamdulillah.

Hari Selasa, saya menyiapkan semua yang akan saya bawa esoknya. Setelah semua siap, ada satu yang justru belum siap, yaitu powerpoint. Seharian saya membuat video tutorial yang akan saya sisipkan dalam powerpoint dengan tujuan agar presentasi saya lebih berkesan. Tapi hasilnya malah seperti ini. Powerpoint baru selesai Rabu, pukul 04.00 WIB.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Saya mendapat jadwal sidang pukul 12.30 WIB. Ya Allah dapat giliran terakhir, di tengah-tengah hari pula. Ini akan membuat saya semakin grogi dan bingung bagaimana nanti harus sholat dulu, bolak-balik padahal gedung sidang dan masjidnya jauh. Saya pun mengatasinya dengan membawa mukena dari rumah dan berencana akan sholat di ruang sidang yang kosong. Tapi tahu apa yang terjadi?

Entah apa yang saya makan, Rabu pagi tiba-tiba saya diare. Hanya air yang saya keluarkan. Sudah 3x saya bolak-balik kamar mandi. Untungnya ibu saya tercinta segera membelikan obat anti diare di warung terdekat. Dengan bismillah, saya berangkat pukul 11.00 WIB menuju kampus (perjalanan 1 jam). Ya, Allah apapun yang terjadi nanti saya ikhlas, batin saya.

Sepanjang perjalanan, diare saya sudah tak terasa. Mungkin obatnya sudah bekerja. Saya jadi ingat, dulu saat seminar proposal skripsi saya juga diare, apa ini bagian dari setres? Iya, kali ya?

Eh? Belum selesai lho ceritanya. Sudah bosan ya? Ada yang lebih seru lho. Hihihi... Baca sampai selesai ya?

Tepat pukul 12.00 WIB, “Waduh, kalau saya langsung ke kampus pasti waktunya mepet banget, sebaiknya saya sholat dulu di masjid dekat-dekat sini.” Harusnya pukul 12.00 WIB saya sudah sampai kampus dan bisa sholat di gedung sidang, tapi rencana Allah berbeda. Di daerah Karanganyar, Demak ada perbaikan jalan yang baru dimulai alhasil menyebabkan kemacetan. Maklum jalur pantura. Kegelisahan semakin bertumpuk-tumpuk.

Pukul 12.20 akhirnya saya sampai di kampus. Di parkiran ada teman yang datang membantu barang bawaan saya. Alhamdulillah. Eh mau tahu tidak bagaimana penampakan motor saya seperti apa lengkap dengan bawaan saya?

Taraaaa.....


Saya yang mengenakan rok panjang harus ngangkang seksi lengkap dengan celana dan kaos kaki yang sama panjang. Maaf bagian yang ini tidak ada fotonya, malu-maluin. Dan tahu tidak di setiap traffic-light, pasti ada yang iseng bilang, “Ya Allah dik, itu kaos kakinya kayak pemain bola.”, “Mbak, kaos kakinya kok sampai paha to?” Halah, wis ah pokoke rak perduli.

Kembali ke tekapee...

Saya segera bergegas ke ruang sidang. Masih kosong, dengan bantuan teman-teman yang hadir (terima kasih yaaa...) saya pun mempersiapkan semuanya. Buku-buku, boneka tangan, netbook, speaker, dan alat tulis. Saya pun menghidupkan netbook dan segera uji coba powerpoint. Tancap dan layar LCD pun telah bergambar powerpoint saya. Karena saya menyisipkan video, saya pun cek sound juga. Bisa, aman. Alhamdulillah. Klik ke bawah, mengecek satu per satu slide untuk memastikan kalau semua tulisan dan gambar tampak dengan baik. Tepat di BAB IV HASIL PENELITIAN, sesuatu terjadi.

Oh, TIDAAAKKK!!! Semua chart atau bagan tak tampak. Dosen pembimbing saya yang cantik jelita pun telah hadir. Beliau menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan powerpoint saya. “Kenapa?” tanya beliau. “Anu, Bu. Tahu-tahu diagramnya tidak muncul. Padahal tadi di rumah ada, Bu.”

Dalam kegelisahan yang bertumpuk-tumpuk, beliau menyarankan saya untuk meng-copy printout powerpoint saya dan menganjurkan kepada saya untuk ijin kepada ketua dewan penguji kalau powerpoint saya bermasalah. Saya pun keluar dan menemui ketua dewan penguji yang sekaligus dosen pembimbimng 1 saya. Beliau pun dengan senang hati meng-iyakan, karena 2 dosen yang lain belum hadir untuk menguji skripsi saya. Dan lagi-lagi ada teman yang berbaik hati memberikan pertolongan kepada saya untuk mengcopy-kan printout powerpoint saya.

Saya pun kembali ke dalam ruangan dan mencoba mengutak-atik powerpoint saya sambil bergumam, “Ya Allah, apa rencanaMu sehingga membuat awal sidang saya seperti ini? Ya Allah, ampuni hamba. Ampuni hamba ya Allah.” Tak lepas-lepasnya saya mengucapkan sholawat.

Entah dapat ide darimana, saya pun me-restart netbook saya. Setelah proses booting selesai, saya pun membuka kembali file powerpoint saya dengan judul UJIAN SKRIPSI. “Ya Allah jika Engkau ridhoi hamba membahagiakan bapak dan ibu, tunjukkanlah keajaibanMu.” Kun faya kun, powerpoint saya sembuh, diagram di BAB IV dan V muncul kembali. Allahuakbar. Tak lama 2 dosen tamu yang menjadi dewan penguji saya pun hadir.

Sidang pun dimulai. Dengan perasaan yang masih campur aduk, saya berdoa sangat lamaaa. Semua saya pasrahkan kepada Allah. Dengan tubuh yang menggigil kedinginan entah karena grogi atau lapar (diare sampai 3x), saya mempresentasikan skripsi saya. Saya merasa penampilan saya tak se-memukau dulu saat saya seminar proposal (baca di sini). Saya sadar itu. Saya hanya percaya akan ada sesuatu di balik ini semua. Ya, saya percayakan semua pada Allah. Sebisa mungkin saya menyampaikan apa yang harus saya sampaikan sesuai dengan isi skripsi saya. Sampai pada saat video tutorial cara membuat boneka tangan dari kain perca muncul, saya mulai bisa mengendalikan diri saya lebih baik. Saya lebih optimal menyampaikan presentasi tersebut.

Selesai presentasi, saatnya tanya jawab dengan 4 dewan penguji. Pada saat itu saya sudah tak grogi lagi, saya justru penasaran apa yang ingin dewan penguji tanyakan. Dosen penguji tamu mendapat giliran lebih dulu untuk bertanya dan memberikan saran kepada saya.

Dewan penguji tamu 1, beliau ini adalah dosen saya sejak semester 1, paling tidak saya tahu karakter beliau, akan tetapi belum tahu model beliau kalau sedang menguji. Info dari mahasiswa bimbingannya, beliau sering santai, tidak pernah memberi pertanyaan, bahkan tidur tiap kali menguji baik proposal maupun skripsi. Tapi saya yakin, kali ini tidak. Apalagi skripsi saya cukup ke-kinian karena mengangkat tema pembelajaran tematik. Tebakan saya betul, beliau bertubi-tubi memberi pertanyaan kepada saya dan saya tak kalah semangat untuk menjawab tak peduli jawaban itu tepat atau tidak. Bagi saya, antusias itu sangan penting dimunculkan agar penanya jadi respect kepada saya. Hampir setengah jam beliau bertanya dan diskusi dengan saya. Mulai dari seandainya saya menikah dengan orang bule, sampai pada praktik joget di depan dewan penguji dan teman-teman. Alhamdulillah, saya mendapat apresiasi yang sangat luar biasa, “Yah, cukup, skripsi Anda ini sangat menarik dan sangat dibutuhkan oleh guru di lapangan. Tapi yang pasti jawaban-jawaban Anda sangat baik sekali.” Aamiin. Semoga sejalan dengan nilai yang beliau berikan kepada saya. Sedikit bocoran, saya snagat beruntung karena mendapat dewan penguji yang tingkatnya sama dengan lektor saya (dosen pembimbing 1).

Dewan penguji tamu 2, saya juga kenal beliau. Saya pernah ikut penelitian beliau tapi entah kenapa kali ini beliau agak bermuka garang. Sengaja kali ya? Biar saya ciut nyali. Hihihi. Beliau lebih condong menguji pemahaman saya berkaitan dengan isi skripsi saya. Beberapa pertanyaan juga beliau sampaikan berkaitan dengan alasan saya kenapa saya mengambil judul skripsi tersebut. Saya jawab dengan hati. Karena saya suka anak-anak dan saya suka mendongeng. Naif banget ya? Hihihi..tapi ada lanjutannya kok, “...dan saya ingin anak-anak tidak takut untuk mengungkapkan pendapatnya. Karena selama ini banyak sekali kasus yang muncul di kelas tinggi adalah siswa sulit sekali menyampaikan pendapat. Kenapa perbaikannya selalu setelah mereka di kelas tinggi. Kenapa tidak sejak di kelas rendah apalagi kelas 1 dilatih untuk berani berpendapat?” Dan saya pun mendapat kata puas dari beliau. Alhamdulillah.

Dewan penguji 3 dan 4 adalah dosen pembimbing saya sendiri. Beliau tak banyak bertanya bahkan lebih memberikan penguatan kepada saya berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan dari dewan penguji 1 dan 2. Terima kasih :)

Tapi ada sesuatu yang membuat saya khawatir sampai sekarang. Menurut dewan penguji 4 (dosen pembimbing 1), ada data yang harusnya tidak saya masukkan justru saya masukkan, bahkan beliau sampai berkata, “Wah, ini bisa-bisa tidak lulus”, kata beliau sambil tersenyum jahil. Ya Allah...jangan sampai. Aamiin.

“Jangan-lah, Pak...” rengek saya.
“Lha kenapa saat bimbingan tidak kamu tanyakan?” kata beliau. Saya hanya diam. Pasrah.

Sidang pun dilanjutkan, bukan pertanyaan melainkan ngobrol santai dari dewan penguji 4 yang saat itu bertindak sebagai ketua sekaligus moderator. Mau tahu apa yang beliau sampaikan? Bersambung saja ya ya?

Eh tapi, bagaimana hasilnya? Saya lulus tidak? Saya juga belum tahu. Ada insiden lagi saat hendak pengumuman. Nantikan cerita selanjutnya ya?

Kejadian demi kejadian yang saya alami ini benar-benar membuat saya semakin sadar kalau hidup itu memang penuh dengan pilihan. Bahkan terkadang tidak ada pilihan dan saya harus tetap menghadapinya. Kalau boleh memilih, saya memilih sidang saya lancaaaar jaya selancar jalan tol seperti teman saya yang sebelumnya. Sidang hanya 1 jam, tak ada pertanyaan yang terlalu sulit, tapi inilah hidup. Dan saya harus belajar sekaligus introspeksi diri kalau saya bisa kuat menghadapi semua ini. Bahkan yang tak terduga.

Berfoto bersama Mbak Alfi yang sidang juga bersamaan dengan saya akan tetapi di ruang sebelah :)
Foto ini jadi saksi bagaimana saya melewati hari penentuan saya mendapat gelar S.Pd.

Terima kasih untuk Bapak, Ibu, Mas Khusna, keluarga besar, guru-guru saya, sahabat, dan juga teman yang telah memberikan suport kepada saya. Ika sayang kalian :*

Tuesday, 10 June 2014

Besok, pukul 12.30 WIB saya mendapat jadwal sidang. Semoga lancar ya Allah...

Saturday, 7 June 2014

Bismillah Sidang (Part 1)

Saat saya menulis postingan ini saya mau bilang kalau saya sudah daftar sidaaaaang (teriak kegirangan), tapi mata saya rasanya pengen nempel. Sejak pukul 03.00 WIB saya sudah terjaga, hayo bisa tebak saya ngapain? Hihihi. Lanjut nge-print dokumen skripsi sebanyak 4 eksemplar yang tiap eksemplar berisi 398 halaman. Ah, punya saya mah dikit, ada teman saya yang sampai 600 halaman. ‘Itu skripsi apa kitab suci?’ Begitu komentar dosen pengujinya saat dia sidang

Untuk sampai pada tahap ‘daftar sidang’ ini, prosesnya sangat WOW bagi saya. Dimulai dari komentar dosen, “Mbak, jangan terburu-buru daftar ya?” Haduh, Bu. Ini mumpung sudah banyak teman yang daftar jadi bisa langsung sidang. Tapi ya, nyatanya saya tetap membaca ulang skripsi saya untuk yang keberapa kalinya. Dan betul juga kata beliau, masih saja ada yang salah. Terima kasih, bu dosen cantik.

Kamis setelah selesai revisi ulang, saya hendak nge-print dokumen skripsi saya, eh eh eh. Tahu apa yang terjadi? Catridge saya jeboooolll. Padahal paginya ada orang rental juga nggak masalah, nah pas mau saya pakai malah sudah rusak gitu. Semaleman saya otak-atik hasilnya sama saja. Oke, jalan satu-satunya saya harus ganti catridge untuk yang ketiga kalinya. Tapi uangnya siapa? Jurus ngrengek ke ibu pun jadi jalan satu-satunya.

“Ibu, ini kalau nge-print di luar dengan jumlah segini banyaknya adik hitung habis sampai Rp 240.000 ribu. Bagaimana?” sumpah, wajah saya waktu ngomong gini sama ibu pasti melas banget.

“Ya sudah-sudah, besok beli. Tapi ibu cuma punya uang Rp 125.000, selebihnya pakai uang adik sendiri.”

“OK”

Jumat pagi saya pun pergi membeli catridge, olala ternyata harganya lebih mahal dari harga biasanya jadi Rp 190.000. Oke tak apalah. Terpenting sekarang skripsi kelar. Sampai rumah catridge saya pasang, mencobanya dan lancar. Proses printing pun saya mulai. Tahu-tahu ada orang yang rental datang, mau tidak mau harus melayani ditambah lagi di rumah bulek ada yasinan, pasti harus ikut bantu-bantu bentar. Waktu printing pun tertunda sampai maghrib menjelang.

Setelah makan malam bersama bapak dan ibu, printing pun saya mulai. Baru 1/12 dokumen yang telah di-print. Baru jalan beberapa lembar, tiba-tiba listriknya padam. Subhanallah, Masyaallah, Astaghfirullah....rencana Allah itu memang indah. Hihihi. Akhirnya semua saya matikan, dan saya memilih untuk berangkat tidur.

Baru deh pukul 03.00 pagi tadi saya mulai lagi printing-nya. Target pukul 09.00 selesai, tapi nihil. Target lagi pukul 11.00 kelar, ternyata tambah nihil. Alhamdulillah pukul 13.00 WIB semua kelar. Tapi ketakutan muncul, kira-kira petugas sekretariat kampus sudah pulang belum? Biasanya kalau Sabtu kan pulang cepat. Sudah deh, langsung galau mendadak. Sekali dua kali sambil menata dokumen tersebut saya bilang sama ibu, “Ini nanti kalau sampai sana sudah tutup gimana, Bu?” Ibu hanya diam saja.

Oke, saya pun nekat ke kampus. Perjalanan 1 jam saya lalui, tepat pukul 14.30 WIB saya sampai di depan kantor sekretariat. “Pak, petugasnya masih ada semua?”, tanya saya pada Pak OB yang ramah.

“Masih.”

Saya pun berlari dan menggotong dokumen saya. Tak perduli lagi dengan sekitar yang penting saya daftar dulu. Di depan kantor sekretariat saya malah disapa oleh teman saya. “Hei, mau daftar?” Ngobrol sebentar dengannya kemudian saya menemui petugas sekretariat. “Ini masukan ke plastik mika biru dulu, Mbak.” Kata petugasnya. Saya pun keluar untuk membeli plastik mika yang dimaksud petugas di depan kampus. Ah, naik motor lah, jalan kaki lama banget keburu petugas pulang.

Plastik mika sudah kebeli, saya pun balik ke kantor sekretariat. Sudah masuk saya keluar lagi, nota pembayaran waktu seminar proposal skripsi dulu harus difotokopi terlebih dahulu. Alamaaakkk...Semangat!!!!!!! Selesai fotokopi saya kembali lagi, dan tahu apa yang terjadi? Semua jadi lancaaaarrr dan saya pun keluar kantor dengan wajah lega. Alhamdulillah...Lega dan bahagia itu beda ya? Tapi selesaikah sampai di sini cerita saya?

Sepanjang perjalanan pulang saya jadi mikir, ini nanti sidang skripsi saya seperti apa ya? Ehm, ada yang kurang nggak ya tadi? Oh tidak, ada satu daftar pustaka yang belum saya masukkan. Hem.

Bersambung....

Thursday, 5 June 2014

Memahami Keinginan Konsumen

Alhamdulillah sudah 1 minggu ini penjualan bros seperti di sini lancar. Kadar lancar bagi saya adalah uang modal mulai kembali walaupun sedikit demi sedikit. Namanya kan baru awal ya, semua butuh proses. Dan saat proses seperti inilah yang dibutuhkan kesabaran dan menentukan seberapa kuat produsen mempertahankan bisnisnya. Ciieee...bahasanya sekarang bisnis. Hihihi...

Selama 1 minggu ini pula saya mendapat pelajaran baru, bahwa konsumen itu memang segalanya. Bros yang menurut saya kece badai eh ternyata bagi mereka biasa saja, akhirnya bros nggak laku dan dikembalikan ke saya. Selain itu usia konsumen juga mempengaruhi lho. Konsumen yang lebih muda (anak SMP) biasanya itu lebih suka bros dengan warna yang cerah sekali, berukuran besar, dan modelnya yang simpel, sedangkan yang sudah SMA, lebih suka bros yang kecil dan modelnya agak kompleks. Ya, konsumen di setiap tempat itu memang berbeda ya. Semoga bisa memenuhi permintaan konsumen.

Awalnya saya berencana membuat katalog yang berisi tampilan bros-bros gitu dengan alasan karena bros yang dibawa pengecer dan nggak laku bungkusnya jadi lecek semua. Kalau seandainya menggunakan katalog kan tidak ya? Ah, semoga segera terlaksana. Kalau mau bisnis itu harus benar-benar kreatif ya? Yuk, berkarya!

Wednesday, 4 June 2014

Diremehkan? Ah, Rak Popo

Judulnya tak apa ya kalau pinjam dari Mbak Jupe. Habisnya pas aja kalau dibaca. Hehehe. Ah, rak popo. Ya tidak masalah kalau diremehkan orang. Karena saya percaya hidup ini pasti saling berkaitan, ada sebab ada akibat, ada masalah ada tujuan. Dan tidak semua orang langsung bisa memahami dan menerima suatu kejadian sebagai awal munculnya kejadian yang selanjutnya. Termasuk saya.

Menikmati hari-hari dengan introspeksi diri lama kelamaan sering membuat saya melongo, oh ternyata ada kemarin karena ada hari ini. Oh, tidak boleh pergi karena ada ini dan itu, dst.

Saya ambilkan contoh dalam kehidupan saya, salah satunya adalah sifat ibu yang seringkali meremehkan saya. Saya yakin selama ini ibu meremehkan saya karena ada maksud dan tujuan, meskipun saya sering tersentak dan kejadian tersebut tak akan lekang dari ingatan saya.

Pernah, waktu saya masih SD, ketika pembagian raport, saya lari dari sekolah sampai rumah demi memberitahukan ke ibu kalau saya mendapat rangking 2. Sampai rumah apa yang saya dapatkan? “Ah, rangking 2 nggak 1.” Oh, tidak.

Bertahun-tahun mendapat perlakuan seperti itu dari ibu membuat saya terbiasa, bahkan saya bisa menirukan apa yang akan diutarakan ibu nantinya. Hahaha. Hal itu juga yang mungkin membuat saya lebih memilih diam dan tidak memberitahu kalau saya memperoleh apapun. Tahu-tahu loh kamu dapat ini? Loh kamu dapat itu? Biasanya ekspresi ibu seperti itu. Saya hanya tersenyum.

Cara mendidik setiap ibu kepada anaknya itu memang berbeda. Kadang saya juga iri dengan teman-teman kalau ibunya seperti ini dan seperti itu. Tapi saya percaya kalau ibu itu sangat sayang kepada saya. Ya iyalah secara saya anak semata wayangnya. Hihihi. Ada udang di balik bakwan. Ada maksud indah kenapa ibu seperti itu kepada saya. Agar saya lebih kuat menghadapi kehidupan ke depan. Betul?

Ya, sangat betul. Kalau seandainya ibu selalu memuji saya mungkin saya tak akan sekuat ini. Ciiiaah....Saras 008 kali. Hihihi. Ceritanya sambil menikmati masa-masa pengerjaan skripsi, saat ini saya juga merintis usaha kecil-kecilan. Ada dua usaha, yang satu adalah rental komputer dan satunya lagi membuat aksesoris. Alhamdulillah, keduanya berjalan dengan lancar. Tapi tak selancar dengan omongan tetangga. Beberapa kali ada tetangga yang bilang, “Nanti kalau dapat pesenan banyak apa bisa ngayahi (mengerjakan), lha itu kerjanya klemat-klemet (pelan-pelan pake banget).”

Oh, tidak. Ingin rasanya langsung saya bantah. Heemmm....hirup udara sedalam-dalamnya. Sabar. Saya jawab, “Wah, nanti kalau dapat orderan banyak tenagane jenengan kan juga terpakai daripada nganggur kayak sekarang?” Dalam hati saya berkata, “Terima kasih, Bu. Karena sifat ibu yang suka meremehkan saya, saya jadi bisa mengatasi mereka-mereka yang merehkan saya. Bahkan saya lebih siap.”

Ika sayang Ibu :D

Monday, 2 June 2014

Go! Sidang!

“Loh Mbak, kok kamu malah belum ACC? Padahal duluan Mbak lho bimbingannya.”
“Mbak, kamu kapan sidang kok tidak sidang-sidang?”

Ah, ucapan teman-teman itu rasanya sudah biasa di telinga saya. Bahkan sudah sangat kebal. Kalau dulu pertama kali ada yang bilang seperti itu rasanya nyesek banget. Hihi. Mungkin karena belum terbiasa. Kalau sekarang kan?

Ceritanya, saya sebenarnya bingung harus mengucapkan alhamdulilah atau astaghfirullah karena dapat dosen pembimbing yang perfecto. Sampai-sampai ibu bilang, “Yah, pas to perfeksionis ketemu perfeksionis, tidak kelar-kelar!” Hahahaha.

Dosen kedua saya itu memang masih muda, bisa jadi karena alasan itu beliau sangat menggebu-gebu dan perfeksionis banget kalau masalah revisi skripsi. Misalnya saja, tanda titik, koma, sampai lembar fotokopian yang ada bercaknya sedikit saja dikomentari. “Nanti ditambah ini ya, Mbak. Terus sini diganti gini. Terus ini taruh sini.” Ah, ini memang cerita saya yang mampu membuat teman-teman geleng-geleng bahkan prihatin dengan saya. Tapi saya? Sudah kebal.

Impian setiap mahasiswa tingkat akhir adalah segera di ACC skripsinya. Saya? Alhamdulillah sudaaaaaahhhhh *teriak. Ya, ACC dua dosen sudah saya kantongi. Tinggal minta tanda tangan dekan, dan daftar.

Eits!

“Mbak Ika jangan terburu-buru daftar sidang, dibaca ulang sampai semuanya benar-benar siap untuk disidangkan, ya.” kata dosen pembimbing saya yang paling cantik se-kantor dosen FKIP.

Ada cerita yang sempat membuat saya tidak nyenyak tidur (bukannya kalau belum ACC memang tidak bisa tidur nyenyak ya?) sebelum akhirnya ACC hari Sabtu kemarin. Rabu, saya mengumpulkan berkas bimbingan. Saya datang sekitar pukul 08.00 WIB, karena dulu beliau pernah bilang kalau mengumpulkan lagi ditinggal saja esoknya datang menghadap beliau. Saya pun melaksanakan perintah beliau dan kemudian mengirim SMS ke beliau memberitahukan kalau saya mengumpulkan bekas bimbingan. Selesai SMS saya pun pulang (mampir ke beberapa tempat dulu sih), sampai di rumah pukul 11.00 WIB, saya pun istirahat dan cerita dengan ibu kalau tidak bertemu dengan dosen pembimbing saya itu.

Tepat pukul 11.20 WIB beliau SMS meminta saya untuk bertemu dan beliau hanya bisa menemui saya sampai pukul 12.30 WIB. Waduh, perjalanan saya sampai kampus kan 1 jam, mana cukup? Saya pun mau minta izin ke ibu, e malah tidak dapat izin karena saya belum siap-siap, pas juga toa masjid mendengungkan suara adzan, "Besok Jumat saja lah, Dik. Ini sudah jam berapa? Nanti kamu buru-buru di jalan malah ada apa-apa." Oke, saya pun menuruti kata ibu.

Jumat, pukul 08.00 WIB saya sudah standby di kampus berharap sekali bisa bertemu dengan dosen saya itu. Karena sudah hampir pukul 09.000 WIB beliau tidak hadir juga saya pun mengirim SMS ke beliau menanyakan beliau akan ke kampus pukul berapa. Lamaa sekali beliau tidak datang, SMS balasan pun tak kunjung datang. Pukul 12.30 WIB akhirnya saya pun memutuskan untuk pulang karena harus jemput ibu di Salatiga. Tepat di depan gedung FKIP, teman yang juga menunggu beliau dapat SMS kalau beliau tidak bisa hadir dan akan ke kampus besok pagi. Olalalala... Saya yang daritadi SMS tidak di balas eh teman saya yang baru saja SMS di balas. Saya lihat hape saya, eh, tidak ada SMS. Baiklah saya pun pulang dengan kekecewaan yang menumpuk.

"Sabar, Mbak." kata teman.

Sabtu pagi, tepatnya pukul 08.00 WIB, saya pun melihat senyum manis dosen pembimbing saya itu. Tapi sebelumnya saya sudah masuk kantor dan melihat berkas bimbingan saya. Ternyata sudah ACC. Kenapa tak ada sensasi perasaan yang WOW ya dalam hati saya? Biasa, lebih tepatnya datar banget.

Dengan masih berbalut busana olahraga beliau menyapa saya, "Mbak, bentar ya, saya mau istirahat sebentar."

"Iya, Bu." Saya menunggu sampai 15 menit kemudian masuk ke kantor dan bertemu dengan beliau. Di dalam ya seperti biasa dapat wejangan A sampai Z, tapi ada kejadian terlangka. Apa coba? Saya ngobrol santai dengan tiga dosen (termasuk dosen pembimbing saya), dua diantaranya adalah dosen yang paling killer di kampus. Hihihi. Tahu apa yang kami obrolkan? Perkara hutan dan tanaman. Kami berbicara tanpa batas antara mahasiswa dan dosen killer, semua berjalan sangat menyenangkan apalagi saya yang dijadikan narasumber. Lebih WOW lagi ternyata dua dosen tersebut rumahnya masih satu kecamatan dengan saya. Alamaaakkkk...

Keluar kantor saya jadi tambah bingung harus senang atau malah cemberut setelah dapat ACC dari dosen saya yang satu ini? Ada rasa takut juga apakah skripsi saya ini nanti bisa saya pertanggung-jawabkan dengan baik. Bismillah saja ya? Sekarang mau revisi ulang, minta tanda tangan ke SD, minta tanda tangan ke dekan, baru daftar. Bismillah, ini tahap yang saya nantikan, semoga lancar. Agar saya bisa melanjutkan hidup saya dengan kegiatan yang selanjutnya.

Go! Sidang!

Saya percaya, kalau belum dijalani pasti bingung, setelah dijalani? Oooo...cuma gini doang ya?