Wednesday, 23 July 2014

Yuk, Menabung Emas!

Saya termasuk orang yang sangat sulit untuk menabung. Mungkin karena dari kecil saya tidak terbiasa. Jadi, kalau punya uang agak lumayan pasti langsung beli ini dan itu. 

Kebiasaan saya itu tak angsur berkurang meskipun saya sudah memiliki buku tabungan sendiri. Menabung seakan jadi kebiasaan musiman bagi saya. Iya, sesekali rajin nabung tapi lihat saldo di buku tabungan nambah kok ya rajin pula untuk mengambilnya sedikit demi sedikit lama-lama jadi ludes. Bahkan pernah sampai minus lho saldo di tabungan saya. Hahaha.

Saya sadar, itu bukan kebiasaan yang baik. Toh, saya juga tidak pernah tahu apa yang terjadi kemudian. Tidak selamanya orang tua saya selalu sehat, selalu menemani saya, selalu bisa memberi saya uang. Sudah saatnya saya harus mengubah kebiasaan saya itu.

Hingga akhirnya pernah saya mengutarakan kabar kelanjutan uang saya kepada ibu.

“Bu, adik dapat uang ini. Adik pengen beli mesin jahit mini. Boleh ya?” tanya saya.

Seperti biasa ibu langsung berkata, “Sudah ibu duga. Pasti nggak betah kalau punya uang. Sekali-kali uangnya itu disimpan apa dimasukkin ke bank. Wong urip ki kudu duwe cekelan (Orang hidup itu harus punya pegangan-uang). Kalau ada apa-apa nggak perlu ngrepotin saudara.”

“Kalau ditabungin nanti  juga tak titili (ambil sedikit-sedikit), Bu. Ibu kan tahu.” rajuk saya.
“Mending itu dibeliin emas saja. Dapat yang biasa tak apa. Kalau dalam bentuk emas kan nggak mungkin kamu titili (ambil sedikit-sedikit), kan?”

Wah, ide ibu bagus juga. Kenapa tidak saya lakukan dari dulu ya? Rasa-rasanya menabung emas atau bahasa kerennya investasi emas itu lebih menjanjikan dibandingkan menabung uang di bank yang saat ini banyak sekali potongan administrasinya. Kalau saya lagi butuh uang juga bisa dijual ya. Macam emas yang bisa saya beli juga banyak, bisa cincin, kalung, anting, atau mungkin emas batangan. WOW.

Wejangan ibu memang top markotop, saya lebih baik membeli emas-nya saat harga emas agak rendah atau saat masih stabil. Dan satu lagi catatan penting dari ibu, “Meskipun memiliki banyak emas, tak perlu lah emasnya dipakai semua. Norak.”
Saya dan ibu tertawa.

Kalau Anda sudahkah memulai menabung emas? Bagi dong pengalamannya.

Tuesday, 15 July 2014

Ngabuburit Lompat Pagar

Ngabuburit? Saya artikan sebagai kegiatan ‘ringan’ yang bermanfaat. Tapi sayang, ngabuburit saya tak selamanya ringan.

Seperti anak perempuan yang lainnya, tiap kali waktu ngabuburit tiba, tepatnya pukul 16.00 WIB saya sudah selesai membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah, yaitu menyapu lantai rumah dan halaman depan rumah. Setelah itu mandi dan kemudian bersiap-siap untuk melanjutkan tugas selanjutnya. Tugas apakah itu?

Ngabuburit di toko tanaman 
Memasak. Bukan. Urusan memasak ibu yang megang. Ramadan kali ini saya mendapat tugas rutin oleh ibu untuk menyiram tanaman di toko tanaman milik keluarga kami. Namanya juga toko tanaman ya, bisa dibayangkan tanaman di sana tak hanya satu jenis, tapi banyak. Toko kami menjual berbagai macam tanaman holtikultura, seperti bibit mangga, jambu, kelengkeng, jeruk, sawo, duren, jati, mahoni, dsb.

Untuk menyiram tanaman yang jumlahnya ratusan itu biasanya saya membutuhkn waktu lebih dari 30 menit. Itu termasuk paling kilat, karena biasanya bisa sampai berjam-jam kalau penyedot air (sanyo) ngadat. Ya, toko kami menggunakan sanyo  yang airnya dari sungai di belakang toko kami.

Namanya juga ramadan, katanya setan-setan pada dimasukkan dalam penjara oleh Allah, tapi tetap saja manusia harus lebih ekstra menahan hawa nafsu di bulan suci ini, termasuk saya.

Sungai di belakang toko kami akhir-akhir ini seringkali surut. Hal itu menyebabkan sampah-sampah yang lewat pada nyangkut pada pralon sanyo. Tahu kan apa yang terjadi? Iya, sanyo saya mampet. Dan itu terjadi setiap hari.
Sampahnya nyangkut :(

Fiuh~ ngabuburit yang nggak ringan banget kan. Jangan dipikir kalau tinggal ambil kayu kemudian disentil hilang deh tuh sampah. Tidak!

Saya yang berpakain panjang ini harus rela naik pagar belakang toko kami yang tingginya sepuser orang dewasa untuk bisa menyentil sampah yang nangkring di pralon. Aih, kalau terlalu semangat lompatnya dijamin kejebur sungai deh. Soalnya jarak pagar dan sungai hanya 50 cm. Jadi, harus melipir-melipir layaknya orang lagi uji adrenalin.

Sukses melewati pagar, maka urusan nyentil-menyentil sampah pun dimulai. Ingat ini pralon ya, kalau terlalu diangkat (melawan arus air) bisa jadi pralon akan patah. Jadi, harus ekstra hati-hati. Angkat pelan, kemudian sentil, ke bawah lagi, angkat, sentil, sampai bersih. Apakah kegiatan siram menyiram sudah bisa dimulai?

Belum.

Kan harus melewati pagar lagi. Tengok kanan-kiri memastikan apakah ada orang kemudian baru melompat pelan. Sudah siap dimulai? Masih belum. Karena pralon yang kena sampah, biasanya pralon tidak ada airnya. Alhasil deh, ketika sanyo dihidupkan slang tidak langsung bisa menyemburkan air. Harus dipancing dulu.

Loh..loh..kok ada pancing-memancing. Tenang, memancing yang satu ini hanya dengan cara melipat slang agar air tidak keluar. Tunggu sampai 10 menit atau sampai slang bergerak-gerak (air sudah mulai penuh dan siap menyembur), kegiatan menyiram pun siap saya mulai. Ya, seperti itulah kegiatan ngabuburit saya setiap sore.

Tanpa lupa mengucapkan syukur pada Allah, saya selalu berusaha menikmati ramadan tahun ini. Karena saya percaya tiap kali ada kesusahan akan ada kemudahan dan setelah kesedihan akan ada kebahagiaan. Kegiatan menyiram tanaman harus tetap saya lakukan, melompat pagar juga, tapi akan tersenyum lebar kalau pulang dari toko pulang membawa buah tangan, jeruk 3 biji ini.

Suatu sore, saya membawa pulang jeruk buah ini

Masjid Darul Ilmi di Kampus Universitas Muria Kudus, Kudus

Perkenalkan, Universitas Muria Kudus (UMK) adalah kampus tercinta saya. Kampus saya ini beralamat di Gondangmanis PO.BOX 53 Bae 59324 Kudus Jawa Tengah. Tepatnya 10 km dari alun-alun Kudus yang terkenal dengan Masjid Agung dan Sunan Kudus-nya. Ada apa di kampus saya?

Sama seperti kampus-kampus lain, selain gedung perkuliahan, taman yang rindang, auditorium yang megah, parkiran yang selalu berjubel dan kantor sekretariat yang menjulang tinggi, ada satu bangunan yang selalu membuat saya rindu untuk kembali lagi ke sana. Apalagi kalau bukan Masjid Darul Ilmi, masjid megah yang terletak di kompleks UMK tepatnya berada di sebelah Barat.

Masjid di kala pagi hari dengan pintu utama yang masih tertutup
Darul Ilmi memiliki arti tempat mencari ilmu. Nama tersebut sangat cocok diberikan kepada masjid ini karena terletak di dalam kompleks UMK. Bukan hanya untuk mencari ilmu agama, ilmu lain pun dapat diperoleh di sana. Karena di sana seringkali menjadi tempat pelaksanaan berbagai event yang diadakan oleh mahasiswa, misalnya training ESQ, peringatan Maulid Nabi, Ospek, workshop, dll.

Jalan menuju Masjid dari gedung FKIP

Pintu samping menuju ke aula, kamar mandi dan tempat wudhu yang bisa menuju lantai dua dan tiga dengan bantuan anak tangga. Pengunjung bisa meletakkan sepatu pada rak yang telah disediakan.
Masjid Darul Ilmi ini tergolong masih muda. Tepatnya akhir Desember 2009 lalu masjid ini baru selesai dibangun oleh 100 pekerja bangunan. Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 650 m2. Terdiri dari tiga lantai, lantai pertama berfungsi sebagai sentra kegiatan dan aktivitas kerohanian Islam (terdapat di aula). Lantai dua diperuntukkan bagi jamaah pria sedangkan lantai tiga sebagi tempat jamaah perempuan atau mezanin.

Setelah melewati rak sepatu pengunjung akan menemui kamar mandi yang cukup bersih. Saat pengunjung berjalan masuk akan menemui banyak sekali kran untuk berwudhu. Ini adalah tempat wudhu perempuan, laki-laki pun desain dan arsitekturnya sama persis.
Sambil melepas sepatu, pengunjung bisa menikmati taman mini yang di bagian bawahnya juga terdapat kran untuk wudhu.
Di samping taman mini tersebut terdapat aula yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan.
Perasaan adem akan langsung dirasakan oleh setiap orang yang datang ke masjid dengan tinggi 50 meter ini. Dinding yang didesain dengan model berlubang-lubang, membuat udara secara bebas masuk ke dalam masjid. Selain itu lantai yang menggunakan batu alam marmer dan keramik menambah kenyamanan setiap pengunjungnya, tak terkecuali saya. Dulu, seringkali setiap menunggu pergantian jam kuliah yang terlalu lama, saya dan teman-teman memilih beristirahat di masjid yang pembangunannya berlangsung selama setahun lebih ini. Bahkan tidur di lantai tiga secara beramai-ramai. Oiya, ada satu tempat lagi yang menjadi favorit mahasiswa saat mengerjakan tugas kuliah, yaitu serambi masjid yang berada di samping kanan kiri masjid. Sebelah kiri untuk perempuan sedangkan yang sebelah kanan untuk laki-laki.

Ketika pengunjung naik dari pintu utama, selain langsung sampai ke lantai dua (tempat sholat laki-laki), pengunjung juga bisa menikmati suasana kampus dari area serambi masjid yang sejuk.
Dari lantai satu, pengunjung perempuan yang ingin sholat bisa naik ke lantai tiga dengan anak tangga, tepat di lantai dua akan menemukan rak sepatu dan tas. Rak tersebut akan penuh saat sholat Jumat.
Inilah suasana di lantai tiga, dinding dengan lubang berbentuk segitiga delapan, dan tiang yang diameternya melebihi pelukan dua orang.

Di sebelah kanan kiri mimbar terdapat sebuah kamar yang digunakan sebagai tempat teknisi (kiri) dan kamar marbot masjid (kanan). Denger-denger kalau ingin jadi marbot di sana ada seleksinya.
Secara pribadi ada satu hal lagi yang membuat saya sangat semangat untuk datang ke masjid ini, yaitu suara muadzin. Lengkap deh, masjid yang megah dan suara muadzin yang merdu dan menggetarkan hati membuat saya semakin semangat untuk datang ke rumah Allah ini. Ceritanya, dulu saya pernah kos di depan kampus, jadi setiap maghrib, isya, dan subuh, saya dan teman sekamar selalu pergi jamaah di Masjid Darul Ilmi. Sampai pernah bela-belain lompat gerbang kampus untuk bisa jamaah, hihihi. 

Pengunjung bisa menikmati suasana kampus dari lantai tiga melalui celah-celah segitiga delapan.
Selama ramadan Masjid Darul Ilmi ini, selain melaksanakan sholat tarawih di malam hari, setiap selesai sholat duhur ada ceramah yang disampaikan oleh dosen UMK secara bergilir. Oiya,  jangan dikira kalau shalat tarawih tiba akan banyak jamaah yang datang ya, paling banyak hanya 3 saf. Hal itu karena letak masjid yang cukup jauh dari perkampungan. Jadi, yang datang untuk berjamaah adalah mahasiswa maupun dosen yang kos di sekitar kampus. Sayang banget ya masjid yang megah ini kalau ramadan tidak begitu ramai? Harapan saya sendiri semoga masjid ini semakin ramai pengunjung yang sejalan dengan ramainya pembangunan di sekitar kampus. Aamiin. Sayang banget kan kalau rumah Allah yang megah ini hanya dianggurin.
Hehe, numpang narsis ya. Cermin besar ini bisa ditemui pengunjung di lantai satu. Ini adalah sudut paling digemari mahasiswa perempuan di UMK, hihihi.
Nah, itu tadi liputan saya untuk masjid Darul Ilmi di kampus saya. Kalau berkunjung ke Kudus, jangan lupa mampir ke Masjid kebanggan kampus saya ini ya?

Salam.


Monday, 14 July 2014

Alhamdulillah, 250.000 Masuk Kantong

Tetap, saya ucapkan ahamdulillah karena saya berhasil menjadi salah satu dari 250 pelajar atau mahasiswa yang bisa menerima beasiswa dari DataPrint kelompok pemeroleh beasiswa sebesar Rp 250.000 (lihat di SINI). Saya sebut kalau saya termasuk gagal, karena tiak ada peningkatan. Karena dulu, saya juga pernah mendapat beasiswa ini yang juga memperoleh Rp 250.000.

Saya mungkin bisa mendapatkan lebih dari itu (Rp 1.000.000 atau Rp 500.000). Salah saya juga sih, karena kurang persiapan. Beasiswa ini kan masa pengiriman essay hampir setengah tahun, tapi saya baru membuat essainya beberapa jam sebelum penutupan. Salah satu faktor penyebabnya karena saya sulit mendapatkan produk DataPrint yang ada kupon terbaru untuk tahun 2014. Di toko-toko sekitar rumah hanya ada yang tahun 2013 lalu.

Baru segini kok ya rezeki saya, hihihi.
Oya, di tahun ini ada juga lho Beasiswa DataPrint untuk periode kedua. Syarat-nya mudah banget lho!
  1. Silahkan membeli produk DataPrint yang ada kuponnya.
  2. Buatlah essay maksimal 500 kata sesuai dengan tema yang ditentukan.
  3. Kirim deh.
Nah untuk info lebih lanjut, silahkan baca di SINI ya? Yuk, persiapkan dari sekarang, agar Anda bisa dapat beasiswa ini. Berikut saya share essay yang saya buat dan berhasil dapat beasiswa Rp 250.000 dari DataPrint :D


Temukan Passion untuk Pasar Bebas ASEAN

Desember 2015 nanti, pasar bebas ASEAN resmi masuk ke Indonesia. Adakah dampak yang ditimbulkan? Pasti ada. Dampak positif yang ditimbulkan yaitu semakin meluasnya jangkauan pelaku usaha, sedangkan dampak negatifnya? Tentu saja produk dari luar negeri akan masuk pula ke Indonesia. Jika produk Indonesia tidak mampu bersanding dengan produk luar negeri, Indonesia hanya akan menjadi negera konsumer. Keadaan tersebut akan mengakibatkan perekonomian Indonesia semakin memburuk.

Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni dengan menciptakan produk yang inovatif. Produk inovatif hanya tercipta dari tangan-tangan manusia yang profesional. Keprofesionalan tenaga kerja bisa diukur dari kesesuaian jenis pekerjaan dengan passion yang dimiliki. Tenaga kerja yang bekerja sesuai dengan passion-nya akan berbeda dengan mereka yang bekerja tidak sesuai dengan passion-nya. Hal tersebut dibenarkan oleh seorang psikolog, Dinda Nocyandri, M.Psi (dilansir dari tesbakat.com), bahwa mereka yang bekerja sesuai dengan passion yang dimiliki cenderung lebih memiliki motivasi untuk mengembangkan diri, sehingga secara otomatis hasil kerjanya akan terlihat lebih baik. Mereka tidak akan pernah puas dengan hasilnya dan akan selalu mencoba untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan terbaik. 

Kenyataan di Indonesia berkata lain, banyak sekali sarjana muda yang bekerja tidak sesuai dengan passion-nya. Hal itu karena, satu, kurangnya lapangan pekerjaan, dan kedua, mereka belum menemukan passion-nya. Alasan yang pertama tentunya sudah menjadi hal yang lumrah, karena semakin membludaknya jumlah sarjana muda tiap tahun tidak seimbang dengan tersedianya lapangan kerja. Melalui cara menemukan passion yang mereka miliki, alasan pertama dapat diminimalisir.

Tuhan menciptakan setiap makhluk-Nya lengkap dengan segala kelebihan. Tidak ada manusia yang tidak memiliki kelebihan, yang ada hanyalah manusia yang malas untuk menemukan passion yang ada dalam dirinya. Adapun cara yang bisa dilakukan untuk menemukan passion yang kita miliki adalah. 
1.Catat
Catat kegiatan yang kita suka saat kecil. Misalnya, menggambar, menulis, main masak-masakan, atau menulis bisa jadi sebagai contoh kegiatan yang kita suka dulu. Cara lain yang bisa kita lakukan yakni dengan pergi ke toko buku. Di sana banyak sekali pilihan buku yang dipajang, buku tentang apa yang menarik perhatian kita bisa menjadi tanda arah passion yang kita miliki.
2.Lakukan secara konsisten dan eksplor
Setelah tahu passion yang kita miliki, maka lakukan secara konsisten dan eksplor secara maksimal. Misalnya, passion kita di dunia menulis, menulis di blog dan aktif mengikuti lomba menulis sangat tepat jika kita lakukan.
3.Komunitas
Kemudahan teknologi informasi masa kini memudahkan kita untuk mengembangkan passion yang kita miliki. Banyak jejaring sosial, misalnya facebook, twitter, dan blog yang memfasilitasi suatu komunitas untuk lebih mudah berkomunikasi guna membahas suatu passion yang dimiliki. Jadi, jangan lupa untuk gabung dalam suatu komunitas.
4.Kembangkan
Jika ketiga cara di atas telah dilaksanakan secara maksimal, langkah selanjutnya yakni mengembangkan passion kita lebih optimal lagi. Misalnya, membuka bisnis sesuai dengan passion kita. Kita suka memasak, maka kita bisa membuka bisnis catering.

Tidak ada kata tidak mungkin kalau kita mau mencoba. Tidak akan ada kegelisahan saat pasar bebas ASEAN tiba. Tidak ada kata pengangguran kalau kita mau membuka usaha. Tapi akan ada produk inovatif karena kita bekerja karena passion.

Sumber: http://tesbakat.com/beda-kesusksesan-orang-yang-bekerja-sesuai-bakat-dan-minat-passion-dengan-yang-tidak-sesuai/#sthash.jbyGRWeD.dpuf

Thursday, 10 July 2014

My Silly Moment: Mr. Biologi

Seperti biasa, setiap kali ada kesempatan liburan, saya dan kedua teman SMP saya, sebut saja A dan B membuat janji untuk bertemu. Nah, saat itu saya dan si A berkunjung ke rumah si B. Kami bernostalgia dengan cerita masa SMP, saya pun menceritakan suatu rahasia pada kedua teman saya satu ini sambil makan bakso.
***
Saat itu saya masih duduk dibangku kelas 3 SMP. Sama dengan anak SMP masa kini, kalau sudah kelas 3 pasti ada les tambahan baik di pagi hari atau setelah pulang sekolah. Saya rasa anak manapun akan merasa bosan bahkan jenuh kalau sudah sampai masa ini meskipun tahu ada tujuan dibalik itu semua. Tapi berbeda dengan saya.

Saya punya kecengan. Bukan teman satu sekolah lho ya melainkan cowok yang sering saya temui di bus. Jadi, setiap berangkat dan pulang sekolah kita selalu bertemu karena kita naik bus yang sama. Entah kebetulan atau bagaimana tapi bus langganan kita sama. Eh tahu nggak, cowok kecengan saya itu kelas 3 SMA lho. Tak tahu diri banget kan saya?

Singkat cerita, saya cerita tuh sama teman saya. Eh, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata teman saya itu sedikit tahu tentang cowok yang saya maksud. Lebih tepatnya dia tahu cowok itu dari kakaknya yang ternyata satu sekolah-satu kelas pula dengan cowok yang saya maksud. Asyiikkk...Darinya saya tahu namanya dan ternyata dia itu jago banget dengan mata pelajaran Biologi sampai-sampai di kelasnya mendapat julukan Mr. Biologi. Catat!

Seringnya bertemu, seringnya curi-curi pandang kok hati saya jadi ser-ser-an ya. Ihiirr...setan cinta pun mampir ke otak saya. Pokoknya saya harus tahu nomor hape Mr. Biologi, bagaimanapun caranya. Tapi, saya malu kalau harus minta sama teman saya. Gengsi dong, saya juga takut kalau teman saya itu juga tertarik dengan Mr.Biologi.

Mengingat minggu depan anak SMA sudah mau ujian, maka saya prediksikan intensitas saya dan dia untuk bisa bertemu dalam bus akan semakin berkurang. Oke, saya pun merencanakan sesuatu agar saya bisa mendapatkan nomor hapenya. Sepulang sekolah, saya pun naik bus langganan saya. Clingak-clinguk mencari sosoknya, Mr. Biologi. Oh tidak, mata kami beradu, jantung saya berdegup kencang melebihi kencangnya laju bus yang saya tumpangi. Saya pun memilih tempat duduk dua baris di depannya.

“Oke, Cha. Kamu yakin akan melakukan semua ini?” tanya saya pada diri saya sendiri.

Jantung saya sudah tak karuan. Oke, sebentar lagi akan sampai di pertigaan dan saya harus turun. Rencana itu harus saya realisasikan. Saya pun berdiri dari tempat duduk saya. Berjalan menuju ke arah Mr. Biologi dan saat sampai di baris kursinya, wuiiingggg...benda itu tepat kena hidung mancungnya.

Apa yang saya lempar ke arah Mr. Biologi? Ini dia.

Sebuah kertas kucel yang berisi pesan singkat

***
“Hahahahaha...kamu beneran? Nggak bohong?” tanya si A yang diikuti tawa si B.
“Ya, beneraaan. Kenapa?” tanya saya.
“Nggak papa sih. Lha, Mr. Biologi habis itu hubungi kamu?” tanya teman saya.
“Hem, nggak!” jawab saya malu.
“Hehehe...mungkin karena saat itu Mr. Biologi kan pacar Mbakku.” Kata teman saya seakan ngece saya.
“Hakk??” buru-buru saya minum es teh.
“Kenapa? Keselek?” tanya teman saya lagi.
“Nggak. Pengen minum saja.” Kata saya jengkel.

#497 kata

Wednesday, 9 July 2014

Sujud dan Ketaqwaan

Foto ini saya jepret di lantai tiga Masjid Darul Ilmi, masjid kebanggaan kampus saya, Universitas Muria Kudus.
Disaat menunggu pergantian jam kuliah, saya sering ngadem di masjid ini. Menikmati bekal saya dan seringkali membaca ulang mata kuliah yang telah disampaikan oleh dosen. Akan tetapi, saya juga seringkali menikmati pemandangan jajaran laki-laki yang sedang sholat di lantai dua. Sungguh, saat sujud seperti itu semua sama. Bersujud kepada Allah. Tak kenal kaya-miskin, tua-muda, ganteng-kurang ganteng, apalagi cerdas dan tidak cerdas. Karena hanya ada satu hal yang bisa digunakan sebagai patokan pembeda antara manusia satu dengan yang lainnya, apalagi kalau bukan ketaqwaan.

The Liebster Award (lagi)

Seperti yang saya ceritakan di SINI, saya cukup gelisah, kira-kira ada nggak ya yang melempar Liebster Award ke saya, eh ternyata ada. Hihihi, bahkan dapat lagi dari dua orang blogger yang saya sendiri kurang kenal betul. Tapi inilah keuntungan adanya Liebster Award, paling tidak bisa saling kenal walaupun dengan 11 hal dari mereka dan 11 pertanyaan.

Berhubung saya sudah pernah dapat Liebster Award, kali ini saya jawab pertanyaan dari teman-teman saja ya? Boleh kan? Boleh lah.

Pertanyaan dari Andik 
  1. Kalau ketemu blog bagus apa yang biasa mas bro dan mbak sis lakukan : bookmark / follow socmed /langganan lewat email / save di komputer / lanjut ke blog lain kalau jodoh nanti juga ketemu lagi. Biasanya saya langsung follow untuk blog yang sama-sama blogspot, kalau yang wordpress saya jarang.
  2. Lebih suka baca buku yang bergenre apa? Buku yang berbau motivasi dan inspiratif
  3. Apa yang membuat mas bro dan mbak sis masih ngeblog hingga sekarang ? Biar tetep eksis :D
  4. Nge-blog paling enak ditemenin siapa sih? Nggak ada. Senang sendiri.
  5. Kalau komputer / laptop mas bro dan mbak sis error dikit (masih bisa dipakai tapi lemot / sedikit menggangu), apa yang mas bro dan mbak sis lakukan ? Saya langsung update antivirus, kalau nggak ya saya restart.
  6. Pernah dapet gebetan dari blog nggak ? Nggak..
  7. Kapan aja mas bro dan mbak sis pakai baju batik? Semasa kuliah tiap hari Selasa, Kamis, sama Jumat. Sekarang di rumah ya jarang.
  8. Pernah beli online engggak ? Kalau pernah apa yang membuat mas bro dan mbak sis percaya sama penjualnya. Jujur yaa, saya belum pernah sama sekali.
  9. Lebih suka nonton berita di tv atau baca berita di internet ? Ehm, sebenernya penyuka berita, mau di TV atau internet sih oke-oke saja, tapi lebih cepet update dari internet.
  10. Berapa minimal kuota internet mas bro dan mbak sis dalam sebulan ? Saya cari yang murah dengan paket 8 gb.
  11. Piala dunia 2104 ini , jagoin tim mana ? Waduh, kurang suka bola. Jadi, angkat tangan.


Lanjut ke pertanyaan kedua dari Bulan
  1. Kapan pertama kali ngeblog? Tahun 2010, tapu lupa pastinya.
  2. Kenapa suka ngeblog? Biar tetep eksis :D
  3. Siapa idola lo yang paling mempengaruhi kehidupan lo? Kenapa? Saya tipe orang yang tidak pernah mengidolakan seseorang, saya lebih suka memotivasidiri saya sendiri.
  4. Apa yang pengen lo lakukan sebelum lo meninggal? Membahagiakan bapak dan ibu
  5. Udah pernah blogwalking ke blog gue? Belum pernah sama sekali.
  6. Siapa blogger favorit lo? Yang pperlu dicontoh itu Kak Hani dan PakDhe Cholik
  7. Hal terbodoh apa yang pernah lo lakukan bersama sahabat lo? Berantem karena masalah sepele.
  8. Negara mana yang paling pengen lo kunjungi? Kenapa? Saya ingin ke Finlandia. Karena saya ingin tahu pelaksanaansistem pendidikan di sana.
  9. Impian apa yang paling pengen lo wujudkan? Pengen punya usaha sendiri dan lolos CPNS tahun ini.
  10. Kalo hari ini adalah hari terakhir lo hidup, hal-hal apa aja yang bakal lo lakukan seharian ini? Tertawa dengan ibu.
  11. Apa pendapat lo tentang blog gue? Pertama kali berkunjung, menurut saya blog kamu simpel, tapi sayang banyaknya font yang beragam dan ada yang sulit dibaca jadi agak terganggu.
Done. Alhamdulillah sudah tejawab semua ya :D
Sayang, sebenarnya ada satu Liebster Award dari satu blogger lagi dari salah satu komunitas yang saya ikuti, tapi saya ubek-ubek lagi kok malah nggak ada. Ya sudah-lah ya. Mohon maaf kalau belum bisa memanfaatkan Liebster Award yang dia berikan.

Monday, 7 July 2014

Menguapnya Mimpi untuk Indonesia

Orang bilang saya itu cerdas. Bukan, saya hanya tekun. IQ saya juga hanya memenuhi angka rata-rata orang Indonesia pada umumnya. Masih jauh kalau disebut cerdas apalagi melampaui Albert Einstein. Hihihi.

Orang juga bilang saya ini memiliki motivasi diri yang sangat besar. Nah, kalau ini saya setuju. Namun, ada satu hal yang tidak orang tahu tentang saya. Introvet. Saya adalah seorang introvet yang suka bermimpi. Akankah mimpi saya terwujud begitu saja?


Hidup. Saya sebut hidup ini adalah pilihan. Bahkan seringkali tidak ada pilihan. Mau tak mau harus menjalani yang ada.

Setahun ini, seringkali rasa iri menghampiri hati saya. Iri dengan mereka yang saat ini bisa menyalurkan ilmunya kepada orang lain. Dalam hal ini, mendidik anak bangsa.

Proses PTK saya untuk menempuh S1 PGSD
***
Jalan Mimpi Saya

Awalnya saya tidak ingin menjadi seorang guru. Dulu, saya ingin menjadi seorang psikolog. Sayang, restu orangtua tak sanggup saya kantongi, mau jadi apa saya nanti. Mana ada psikolog yang masuk kampung? Begitulah pikir kedua orang tua saya.

Dengan berat hati saya pun mengikuti keinginan bapak dan ibu. Pergi merantau untuk kuliah mengambil program studi S1 PGSD. Selama satu semester kuliah, saya belum merasakan apa-apa meskipun saya memperoleh IPK di atas rata-rata.

Tak pernah hidup jauh dari orangtua, membuat saya semakin kurus dari hari ke hari. Salah satunya karena tidak cocok dengan masakan orang Kudus. Kenapa? Di lidah rasanya manis, sedangkan kalau orang Demak itu identik dengan masakannya yang asin. Hihihi...Indonesia.

Saya pun mencoba menikmati hidup saya, itung-itung latihan mandiri. Tapi, ada satu hal yang tidak saya suka saat hidup jauh dari orangtua, yaitu ibu selalu merahasiakan beberapa hal dari saya, terlebih soal keuangan keluarga. Saya tahu, bapak dan ibu menguliahkan saya dengan modal nekat. Mereka berkeinginan, saya-anaknya bisa sekolah lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya lulusan SD dan SMP.

Mereka rela jauh-jauh ke Ungaran-Semarang untuk nebas (membeli secara borongan) ketela pohon dan dijual kembali di pasar sekitar rumah. Jangan dibayangkan untungnya banyak, cara membawanya saja hanya menggunakan sepeda motor dan ibu duduk di atas ketela yang tersusun tinggi di atas keranjang bapak. Ya Allah, jika saat musim hujan datang, saya sering menangis perih membayangkan bapak dan ibu saat pulang dari memanen ketela itu. Inilah Indonesia, tak semua tanahnya subur untuk ditanami ketela dengan hasil yang bagus dan pulen saat dimasak. Karena untuk mendapatkan ketela yang bagus harus naik gunung terlebih dahulu. Butuh perjuangan tapi harga jual sangat murah.

Jaguar bapak :D

Kala ketela tak lagi musim, bapak beralih profesi sebagai penjual pisang buah, pengumpul rosok, penggarap hutan, dan ibu beralih peran sebagai penjual tanaman di rumah. Serabutan, memanfaatkan apapun yang bisa dijual dan menghasilkan uang.

Semua dilakukan untuk saya, anak semata wayangnya. Durhaka sekali jika saya tak mewujudkan mimpi bapak dan ibu. Pikir saya dan saya rasa itu sudah sedikit terlambat. Perjuangan bapak dan ibu membuat hati saya luluh. Saya bukan anak orang punya. Sudah beruntung bisa kuliah. Saya harus menjadi guru!!

Saya jalani sisa masa kuliah saya dengan sungguh-sungguh. Saya pun memutuskan untuk tidak kos, pilih pergi-pulang selama satu jam untuk bisa sampai kampus. Bapak ibu berjuang maka saya pun juga harus berjuang untuk meminimalisir pengeluaran keuangan keluarga yang semakin memprihatinkan. Jalanan yang tak semulus tol menjadi tantangan saya setiap hari. Ah, itu tak ada apa-apanya dengan perjuangan bapak dan ibu.

Allah memberikan jalan lain karena suatu tujuan. Menjadi mahasiswa yang nglajo (pergi pulang), saya lebih sering menggunakan waktu jeda sebelum kuliah selanjutnya dimulai dengan membaca buku atau koran di masjid. Yang dulunya saat jadi anak kos lebih sering menggunakan waktu luang untuk tidur atau berbincang-bincang dengan teman, kali itu saya menemui dunia baru.

Pasang Surut Mimpi Saya

Buku pertama yang menemani saya di kala senggang adalah Indonesia Mengajar. Sebenanya buku tersebut sudah lama saya miliki tapi tak katam-katam juga. Tapi, kala itu, lembaran demi lembaran saya nikmati, maknai, dan saya resapi.
“...Salah satunya Ismail. Anak yang duduk di bangku kelas 5 SD ini mampu ’menyulap’ dinamo mobil mainan menjadi sebuah mesin potong rumput mini, memperbaiki korek api gas yang batu apinya sudah habis, dan membuat miniatur gitar dari potongan kayu. Ada bakat engineering dan seni dalam diri anak yang ternyata belum lancar membaca ini.” (Indonesia Mengajar-166)
Pas pada momennya. Pas juga jenis buku yang saya baca. Dan kenapa? Kenapa dari dulu saya tak ingin menjadi guru? Bukankah menjadi guru itu sungguh mulia. Saya yakin di luar sana banyak sekali Ismail-Ismail yang butuh tangan saya. Ismail yang akan meneruskan cita-cita negara kita, Indonesia.

Menjadi guru adalah mimpi bapak, tapi melalui saya beliau ingin mewujudkannya. Demi bakti kepada bapak dan ibu saya mengukuhkan mimpi baru saya, menjadi seorang guru. Pucuk dicinta ulam pun tiba, tawaran ngajar di sekolah pun datang meskipun di TK bukan di SD, saat itu saya masih kuliah semester 5. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Kesempatan ngajar di TK
Kelonggaran kepala sekolah membuat saya nyaman dengan kegiatan ngajar dan kuliah. Saya diberi izin untuk tetap kuliah dan ngajar di hari di mana saya libur kuliah atau berangkat kuliah di atas pukul 11.00 WIB. Ketika hati tulus, pekerjaan seberat, sepadat, dan semurah apapun semua akan terasa menyenangkan. Itulah yang saya alami.

Bonus terindah yang belum pernah saya dapatkan selama saya hidup adalah ternyata kehadiran saya dinantikan oleh anak-anak. Bahagia lagi saat ada orangtua murid yang mengapresiasi saya. Ya Allah, sungguh bahagia. Sehari, seminggu ngajar, kemana pun saya pergi, setiap orang menyapa saya, "Bu Ika..."

Ya Allah, hati saya tersanjung. Tapi, bapak selalu bilang, "Bukan itu yang kamu butuhkan. Kamu hanya butuh tempat berbagi ilmu."

Tawaran ngajar di tempat lain pun datang. Saya menolaknya dengan alasan saya harus memenuhi mata kuliah PPL selama dua bulan. Artinya tak akan ada waktu libur untuk ke TK.

***

Sayang, itu tak lagi terjadi satu tahun ini. Saya sudah tidak mengajar di TK lagi. Saya pun tinggal menunggu wisuda. Tawaran demi tawaran mengajar yang dulu datang kini seakan pergi menjauh. Idealisme saya akan tingginya IPK, keterampilan, dan pengalaman mengajar seakan membuat saya luluh lantah.

Volunteer Pendongeng untuk anak PAUD
"Ya Allah, saat saya ingin mengabdikan diri secara totalitas untuk negara ini, justru jalannya terasa sulit. Apa rencana-Mu?"

Tak hilang akal, saya pun mengutarakan niat kepada bapak dan ibu untuk mencoba peruntungan untuk menjadi Pengajar Muda (seperti dalam buku Indonesia Mengajar) yang dikirim ke berbagai pelosok negeri untuk mengabdi di sana. Tapi apa yang saya dapatkan?

"Berbagi ilmu itu tidak harus pergi jauh ke pelosok negeri. Kamu bisa berbagi mulai dari sekitar. Seperti untuk anak-anak kampung sini."

Anak-anak Sekolah Malam yang saya dirikan
Dunia mimpi saya seakan menjadi gelap seketika. Indonesia Mengajar tak dapat tiket, apalagi SM3T? Namun, ada benarnya pula kata bapak. Untuk berbagi saya tidak harus pergi jauh. Saya pun mulai mencari lowongan menjadi guru honorer di SD. Banyak tanya sana-sini, mencari info begini sampai begitu, hasilnya?

Harus punya orang dalam. Yah, wajar, ini juga yang saya takutkan selama ini. Apalagi saya tinggal di pusat kecamatan. Sekalipun memiliki kompetensi yang unggul kalau tidak memiliki orang dalam siapa yang akan 'membawa'. Lagi-lagi saya hanya diam. Setiap berdoa, saya hanya bertanya pada diri sendiri, "Tidakkah saya memiliki kesempatan untuk berbagi?"

Saya tak menyerah begitu saja. Saya tetap berusaha, tapi belum ada lampu terang. Saya seperti manusia lainnya, memiliki titik jenuh dan memilih untuk membakar mimpi saya. Bukan untuk tumbuh menggelora, melainkan menjadikannya abu dan membiarkannya terbang bersama udara.

Menguapnya Mimpi Saya

Hingga suatu hari, karena tikus saya membuka kembali buku Indonesia Mengajar yang saya ceritakan di atas. Ada rasa kelu dalam hati. Rasa-rasanya hati saya begitu miris jika saya harus mengubur mimpi bapak, sekaligus mimpi saya. Saya baca ulang buku tersebut, saya berhenti pada lembar yang menceritakan sepasang suami istri dari Jawa yang rela merantau ke pelosok negeri untuk mendirikan sekolah mulai dari nol. Door to door. Mendatangi anak-anak dan orangtuanya untuk diajarkan tata tulis dan baca. Ya Allah, mulia sekali mereka. Indonesia masih memiliki orang baik macam mereka.

Saya? Apa yang saya sudah lakukan? Segini saja perjuangan saya? Kuliah selama empat tahun tak akan ada guna kalau saya hanya duduk diam menunggu waktu ada lowongan untuk menjadi guru.


Berkali-kali saya putar lagu tersebut, berkali-kali pula saya mengutuki diri saya sendiri. Buat apa selama kuliah saya selalu menggebu-gebu menjelaskan hasil PISA dan TIMSS anak negeri yang semakin melorot? Buat apa saya selalu mengagung-agungkan peran guru sebagai tombak pendidikan? Bagaimana saya mempertanggungjawabkan semua yang saya katakan? Tidak kah ada jalan lain untuk membantu negara membayar hutang untuk mencerdaskan anak bangsa?

Mimpi saya sebagai guru menguap. Menguap melalui buku. Tertulis jelas di Saya di Koran Kudus, saya ingin mencerdaskan anak bangsa ini lewat buku. Buku yang sekaligus ingin saya persembahkan untuk almamater saya. Buku yang bertemakan tentang keterampilan membuat sebuah karya dari barang bekas untuk anak-anak. Sejak dua bulan lalu saya mengamati, membaca, melihat sekitar, buku ini akan dibutuhkan di sekolah. Pernah saya memposting artikel Karya Siswa Sendiri ini sebagai bukti temuan saya sekaligus bahwa buku yang akan saya susun ini benar-benar dibutuhkan.

Butuh perjuangan, bahkan butuh tenaga untuk melakukan riset dan uji coba untuk membuat buku tersebut. Tapi, atas izin Allah, mimpi saya yang menguap ini akan terealisasikan. Banyak cara untuk mencerdaskan anak bangsa, salah satunya lewat sebuah buku. Semoga, suatu hari nanti.

JUAL SOUVENIR KODE D20


Mencari souvenir untuk pesta ulang tahun si kecil? Diyanika-Shop menawarkan pensil hias dengan tokoh berbagai macam dan bisa request.
Dijamin harga terjangkau.
Minat SMS ya 085727351413
atau BBM 761D85E7

JUAL BROS KODE D21


Bros bunga mawar merah.
Bahan dari pita satin 
Yuk, percantik tampilan diri dengan bros dari Diyanika-Shop.
Minat SMS ya 085727351413
atau BBM 761D85E7

Hari Ketiga Jualan di Pasar

"Kamu nggak malu dulu ngajar kok sekarang malah jualan di pasar?"
"Kamu kan kuliah, kok malah jualan?"

Tak ada memang orang yang berkata seperti itu secara langsung kepada saya. Tapi mata mereka mengisyaratkan seperti itu. Apa saya yang terlalu sensi? Sejujurnya saya juga maju mundur, antara mau jualan dan tidak. Tapi buat apa saya capek-capek buat souvenir kayak gini (lihat Diyanika-Shop) kalau nggak bisa masarin sendiri. Gagal dong saya sebagai produsen.

Jujur, saya memang masih malu-malu setiap bertemu dengan teman saat jualan di pasar. Tapi saya juga balik tanya, apa yang harus saya maluin? Bahkan nabi saja menganjurkan berdagang sebagai salah satu cara untuk memperoleh rezeki halal Allah. Gengsi? Ini hidup yang sebenarnya. Saya harus memilih. Terlebih lagi banyak teman kuliah saya justru standing applause karena saya sudah bergerak dan tidak diam selama menunggu wisuda Oktober nanti dengan memproduksi aksesoris tersebut.

"Yang namanya jualan itu butuh kesabaran, Nok." kata simbah yang jualan senjata (sabit, bendo, pisau, cangkul, jebakan kucing, dkk)
"Iya, Mbah."
"Ini kan baru diuji, yang penting berangkat terus, dapat sedikit-sedikit kan lumayan. Mbah saja pernah sehari nggak dapat apa-apa. Padahal pergi pulang naik bus. Butuh biaya. Kamu kan rumahnya dekat sini. Enak."

Saya diam mendengarkan sambil menggenggam uang Rp 5.000 hasil jualan hari ini.

Hari Kedua Jualan di Pasar

Ini (5 Juli 2014) adalah kali kedua saya jualan aksesoris di pasar. Sudah baca cerita hari pertama saya jualan?

Masih dengan semangat yang menggebu saya berangkat pukul 06.00 WIB. Tak lupa berpamitan dengan ibu mohon doa agar jualannya laris. Tak berbeda dengan jualan di hari pertama. Banyak sekali pengunjung pasar yang menggelengkan kepala ke arah saya, “Bros, Mbak. Jepit rambut, apa pensilnya ini, Dik.”

Sebagai penjual saya selalu introspeksi diri. Jangan-jangan apa yang saya jual kurang menarik. Kemahalan? Atau kurang macam-macam jenisnya ya? Kok tidak ada yang mampir.

Padahal pukul 09.00 WIB nanti saya ada kumpulan di balai desa acara sosialisasi PAMSIMAS untuk desa saya. Ya sudah nggak terlalu berharap bakal laku banyak jualan saya. Tapi tetap dong, sholawat nariyah saya dengungkan. Doa wajib itu.

Satu jam tak ada satu pun pembeli yang mampir. Tepat setengah jam sebelum saya pulang, ada satu pembeli. Alhamdulillah, beli 10 biji tapi kan mau dijual lagi, jadi ya uangnya tak seberapa. Sampai akhirnya saya pun memutuskan untuk pulang karena sudah pukul 09.00 WIB dan saya pulang dengan membawa uang Rp 24.000. Alhamduillah....

Kalau di rumah juga nggak ada yang ngasih uang segitu. 

Friday, 4 July 2014

Daftar Pemerintah JATENG yang Membuka CPNS 2014

Ada yang nunggu-nunggu pemerintah Jateng yang membuka CPNS 2014? Ini dia saya informasikan pemerintah Jateng yang membuka CPNS 2014.

  1. Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Semarang
  3. Kabupaten Kendal
  4. Kabupaten Demak
  5. Kabupaten Grobogan
  6. Kabupaten Pekalongan
  7. Kabupaten Batang
  8. Kabupaten Tegal
  9. Kabupaten Brebes
  10. Kabupaten Pati
  11. Kabupaten Jepara
  12. Kabupaten Blora
  13. Kabupaten Banyumas
  14. Kabupaten Cilacap
  15. Kabupaten Purbalingga
  16. Kabupaten Banjarnegara
  17. Kabupaten Magelang
  18. Kabupaten Temanggung
  19. Kabupaten Purworejo
  20. Kabupaten Kebumen
  21. Kabupaten Klaten
  22. Kabupaten Boyolali
  23. Kabupaten Sragen
  24. Kabupaten Sukoharjo
  25. Kabupaten Wonogiri
  26. Kota Semarang
  27. Kota Salatiga
  28. Kota Pekalongan
  29. Kota Tegal
  30. Kota Magelang
  31. Kota Surakarta
Info lebih lanjut bisa dilihat di SINI.

Thursday, 3 July 2014

Beasiswa Fresh Graduate Dalam Negeri

Anda mahasiswa yang baru saja wisuda? Mau dapat beasiswa? Yuk cek info berikut ini.

  1. Beasiswa Fresh Graduate diberikan oleh DIKTI dan diperuntukkan mahasiswa S1/D4 yang lulus pada periode wisuda satu tahun terakhir (lulus paling lambat 1 Juni 2013).
  2. Komponen biaya yang ditanggung oleh BPPDN Fresh Graduate hanya SPP selama maksimum 4 semester.
  3. Mempunyai IPK >= 3.00/4.
  4. Masa Studi <= 10 semester.
  5. Menandatangani pernyataan untuk menyelesaikan S2.
  6. Program S1/D4 harus sebidang dengan Jurusan S2.
Info lebih lanjut lihat di SINI ya?
Selamat mencoba, semoga tahun depan saya bisa ikutan.

Lowongan Kerja Dosen di Universitas Muria Kudus

Berbagi informasi siapa tahu ada yang tertarik dan membutuhkan. Kmapus tercinta saya, Universitas Muria Kudus sedang membuka lowongan kerja dosen untuk beberapa progdi, diantaranya.

  1. Program Studi Strata 1- Akuntansi (4 orang)
  2. Program Studi Strata 1- Ilmu Hukum (2 orang)
  3. Program Studi Strata 1- Bimbingan dan Konseling (1 orang)
  4. Program Studi Strata 1- Pendidikan Guru Sekolah Dasar (4 orang)
  5. Program Studi Strata 1- Teknik Informatika (3 orang)
  6. Program Studi Strata 1- Psikologi (1 orang)

Syarat apa saja yang harus Anda penuhi?

  1. Minimal berpendidikan Strata-2 (S2), khusus Program Studi Ilmu Hukum diutamakan berpendidikan Strata-3 (S3)
  2. Pendidikan S1 dan S2 sejalur.
  3. Usia maksimal 35 tahun (kecuali S3), pada tanggal 30 Juli 2014.
  4. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Tidak terikat sebagai dosen PNS/dosen tetap non PNS pada perguruan tinggi lain dan/atau sebagai pegawai tetap pada lembaga lain.
  6. Tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
  7. Sehat jasmani, rohani dan dapat menjalankan tugas sebagai dosen.

Dokumen yang harus Anda lampirkan diantaranya adalah.
  1. Surat lamaran yang ditujukan kepada Rektor Universitas Muria Kudus.
  2. Fotokopi Ijazah S1 dan S2 (dan S3 bagi yang memiliki) yang dilegalisir
  3. Fotokopi Trankip nilai S1, S2 (dan S3 bagi yang memiliki) yang dilegalisir
  4. Melampirkan sertifikat TOEFL.
  5. Melampirkan data pendukung prestasi maupun penghargaan lain yang dimiliki,
  6. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk
  7. Pas foto berwarna ukuran 4x6
  8. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)
  9. Surat keterangan sehat dari dokter
Semua berkas lamaran dan lampiran dikirimkan kepada Rektor Universitas Muria Kudus melalui e-Mail ke: muria@umk.ac.id dan humas.umk@gmail.com . Paling lambat 31 Juli 2014.

Pelamar yang memenuhi syarat administrasi akan dipanggil untuk mengikuti tahapan tes berikutnya dan diumumkan melalui website Universitas Muria Kudus (www.umk.ac.id)

Tuesday, 1 July 2014

Cara Menghadapi Kegagalan

Tak ada manusia di dunia ini yang ingin gagal. Semua pasti ingin sukses. Tapi apakah semua akan terjadi sesuai dengan apa yang kita inginkan? Jawabnya, TIDAK.

Seringkali kita dengar, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Hal itu tak selamanya benar. Karena banyak sekali orang yang gagal dan akhirnya stres berkepanjangan dan frustasi. Tuh di jalan banyak yang bersliweran. Apakah mereka sukses?


Nah, sebagai makhluk Tuhan yang memiliki akal pikiran, kegagalan itu bisa kita siasati menjadi motivasi diri yang sangat kuat. Bagaimana caranya?
  • Jangan terpuruk

Saat kegagalan itu datang, janganlah terpuruk. Jangan terlalu lama menangisi apa yang telah terjadi. Berdiam diri di kamar hanya akan membuat diri kita semakin terpuruk. Pergi keluar untuk menghirup udara segar. Tak harus ke mall, kita bisa jalan-jalan di sekitar kompleks, ke toko buku (tak harus beli), atau pergi ke rumah teman.
  • Belajar dari kegagalan

Kegagalan itu bisa kita pelajari, kuliti, sampai pada sisi apa yang sebenarnya menjadi penyebab kegagalan ini? Kita bisa mengingat-ingat, introspeksi diri agar tahu penyebab dari kegagalan tersebut. Kalau perlu ceritakan kegagalan tersebut kepada orang terpercaya agar kita lebih mudah untuk mengenali penyebab kegagalan tersebut.
  • Tetap semangat

Life must go on. Kalau kita hanya berdiam diri menikmati kegagalan, siapa yang akan melanjutkan hidup kita? Jalan satu tertutup jalan lain akan terbuka. Memang, jika sesuatu yang kita idam-idamkan tidak dapat tercapai, rasanya begitu menyakitkan, tapi bukankan Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan? Yakinlah, ke depan akan ada kesuksesan yang lebih besar untuk kita. Saat ini Tuhan hanya menguji kita sebesar apa mental kita untuk menjadi sukses. Agar nantinya kita lebih siap untuk sukses.
  • Berdoa dan mencoba lagi

Berdoa. Kita memiliki Tuhan, maka kita tak boleh lupa ataupun melupakan kekuatan berdoa. Curahkan segala keluh kesah dalam dada, selesai, plong? Yuk, mencoba lagi! Sesungguhnya setelah mengalami kegagalan, greget kita untuk meraih kesuksesan itu akan naik satu level. Jadi, yuk raih kesuksesan kita!
Kunci kesuksesan kita ya kita sendiri. Kita harus pintar-pintar mengendalikan diri kita. Karena musuh terbesar kita bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri. Betul? Apakah Anda mempunyai cara lain untuk menghadapi kegagalan? Share yuk!