Thursday, 30 April 2015

Oh...Mukena Parasit

Assalamualaikum.

Oh...Mukena Parasit.

Saking menikmatinya hidup ini, tak terasa ramadhan akan datang lagi. Sungguh kebahagiaan yang tak ada gantinya bila bisa bersua lagi dengan bulan yang suci itu. Dulu, saat takbir berkumandang memenuhi relung-relung dunia ini, doa itu pasti terselip.

Ya Allah pertemukanlah kami dengan ramadhan-Mu tahun depan.

Ramadhan, apa sih yang identik dalam hal menyambut bulan ramadhan? Di keluarga saya sendiri yang paling identik dengan ramadhan adalah nyuci mukena. Ih, seminggu sebelum ramadhan pasti mukena akan berjejer di jemuran dan saat masuk ke almari sudah wangi semua. Jadi, saat adzan sholat tarawih berkumandang, kami sekeluarga tinggal cus ke masjid dengan semakin mantab.

Ngomong-ngomong soal mukena, saya jadi ingat salah satu postingan di blog saya yang satu ini, "Mukena Parasit". Di postingan tersebut saya ceritakan pengalaman saya mengenakan mukena parasit yang sering menimbulkan gangguan. Salah satunya adalah mukena yang terbang karena terkena angin. Bisa ditebak itu menyebabkan sholat yang tidak khusyuk.

Gangguan yang sering muncul saat sholat dengan mukena parasit
Tak lupa saya juga menawarkan solusi untuk mengatasi gangguan yang sepele tapi tidak bisa disepelekan.
Solusi yang saya tawarkan
Berani menulis, berani mem-publish, harus berani juga menerima konsekuensi yang muncul setelah tulisan kita dibaca orang. Ya, setelah postingan tersebut dibaca sekitar 500 kali dan dikomentari banyak orang, saya justru tercengang. Seperti mendapat tamparan halus dari Allah.


Bagaimana tidak? Di antara komentar yang diberikan pembaca, komentar berikut sangat menohok untuk saya.

Komentar tentang mukena yang sangat nendang

Inti dari komentar tersebut adalah begini.

"Untuk duniawi mau mengeluarkan uang segepok, kenapa untuk urusan dengan Allah jadi perhitungan?"

Tarik napas dalam-dalam. Benar, benar, dan benar. Hati saya rasanya luluh lantah. Dengan alasan lebih simpel dan murah tega merelakan urusan sholat. Sangat benar. Bukankah sudah jelas, bagaimana kita memposisikan Allah, begitu pula Allah memposisikan kita.

Semenjak adanya komentar itu, sedikit demi sedikit saya berusaha mengurangi penggunaan mukena parasit yang saya miliki. Setiap kali pergi, mukena parasit itu saya tukar dengan mukena yang lebih tebal dan jatuh kainnya (agar tidak terbang saat ada hembusan angin). Dulu alasannya saat pergi lebih memilih membawa mukena parasit karena lebih simpel dan ringan. Ah, kalau membawa mukena yang bukan parasit kan tak ada 1 kg ya beratnya?

Nah, apakah Anda masih sering memilih mukena parasit dibandingkan mukena lainnya? Yuk, ah kita pensiunkan mukena parasit! 

Wednesday, 29 April 2015

Faza Hilang

Assalamualaikum.

Saat istirahat pertama usai, seperti biasa anak-anak langsung berbaris di depan kelas. Barisan yang paling rapi dan tertib akan mendapat giliran masuk pertama. Aktivitas ini ternyata bisa jadi ajang bersaing untuk tiap kelompok. Seru!

Setelah semua masuk, ini giliran saya beraksi.

“Tepuk 2 kali....(prok..prok...)” anak-anak masih heboh.

“Tepuk ikan......” teriak saya mengkondisikan anak-anak.

“Berenang (prok...prok...prok...), cari makan (prok..prok...prok...), dimakan (prok..prok...prok..), sudah kenyang (prok..prok...prok...), diam!” sahut anak-anak.

Anak mulai diam. Mata saya menyisir semua tempat duduk. Eits! Ada yang kosong satu.

“Ada yang tahu Faza dimana?” anak-anak menggeleng. Saya mulai panik. Tasnya ada tapi anaknya tidak ada.

Saya meminta anak-anak untuk melanjutkan tugasnya yang belum selesai karena terpotong waktu istirahat. Saya mencari Faza ke kantin, sekitar sekolah dan satu tempat lagi, kamar mandi. Nihil. Saya tanyakan ke penjaga sekolah. Tak ada yang tahu. Baiklah, saya putuskan untuk kembali ke kelas. Anak-anak menunggu saya.

Selama mengajar, otomatis saya tidak fokus. Masih mengira-ngira hilangnya ke mana si Faza. Eh, tepat setengah jam setelah aya kembali masuk ke kelas, pintu kelas saya diketuk oleh seorang ibu yang saya kenal. Ibu Faza. Bersama Faza pula.

Ternyata, Faza pulang. Dia ganti celana karena celananya kotor terkena beraknya yang tak sengaja kelepasan keluar. Oh tidak. Anak-anak. Anehnya, Faza menangis sesenggukan. Setelah saya tanya, ternyata dia takut diejek teman-temannya. Padahal teman-temannya tidak tahu kalau Faza tadi BAB di celana.

Saya bujuk dia. 10 menit baru berhasil mengajaknya kembali ke kelas. Tak lama dia pun kembali berbaur lagi dengan temannya. Saya pun lega. Faza yang hilang sudah kembali. Dasar, anak-anak. Unik.

Salam,
Bu Guru

Dia Anak Baru yang Spesial

Assalamualaikum.

Dia adalah anak baru di kelas saya, kelas 3 SD. Pindahan dari ibu kota. Awal masuk, pakde-nya sudah mewanti-wanti saya kalau anak ini spesial. Spesial? Dia cilat atau cadel, pemalu, di usianya yang sama seperti anak kelas 3 umumnya, dia masih sangat kurang dalam hal calistung, membaca, menulis dan berhitung. Sangat terlambat.

Kesulitan membacanya bisa jadi karena keadaannya yang cilat atau cadel. Kesulitan menulisnya terletak dari hurufnya yang belum sempurna, antara d dan b dia masih sulit membedakan, menulis huruf d masih sering seperti c dan l yang berdampingan, berhitung ya untuk kelas 3 harusnya sudah bisa penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Tapi dia belum mampu.

Ah, sudahlah. Dia adalah anugerah bagi saya di siang bolong. Yang penting dia tidak mengganggu teman lainnya. Mau berbaur dengan teman sebayanya itu sudah sangat cukup. Apakah melelahkan? Mulai lelah padahal baru 3 hari. Akan tetapi jangan terlanjur lelah. Ini tanggung  jawab saya agar bisa menaklukan dia, si anak baru yang spesial.

Salam,
Bu guru.

Tuesday, 28 April 2015

#BeraniLebih Ala Bu Guru

Assalamualaikum.

#BeraniLebih Ala Bu Guru. Setiap hari bertemu dengan anak-anak, rasanya tak pernah ada kata bosan. Jengkel? Ho, kalau itu pasti ada. Eits! Tak hanya itu. Perasaan gemes, geregetan, sebal, ah...lengkap deh. Namanya juga anak-anak.

Tahukah Anda? Dari mereka saya baru tahu kalau di sekolah yang belajar tidak hanya mereka, saya juga. Bahkan saya merasa kalau saya lah yang belajar banyak dari mereka. Oleh karena itu, setiap kali hendak berangkat sekolah, saya selalu berdoa, semoga kami bahagia.

Saya bersama anak-anak
Hari, minggu, dan berbulan-bulan menjadi guru di kelas 3 SD, saya semakin menyadari bahwa tugas guru sangatlah kompleks. Tidak hanya menyiapkan RPP, media pembelajaran, melengkapi administrasi, bersosialisasi dengan guru dan masyarakat, menghadapi anak yang unik, melatih kedisiplinan anak-anak, ah masih banyak hal. Satu hal yang pasti, semenjak menjadi guru secara sadar saya #beranilebih sering berbohong kepada anak-anak.

Berbohong? Bukankah saya ini guru? Mau jadi apa anak-anak saya nanti kalau gurunya sering berbohong?

“Tidak akan pernah ada berbohong demi kebaikan.”

Suatu siang, saat saya bercerita tentang upacara adat ngaben yang ada di Bali terlihat mata mereka sangat berbinar-binar, antusias.

Salah satu bentuk antusiasme anak-anak
“Mayatnya itu akan dibungkus kain warna putih dan akan diletakkan di angkruk yang tingginya bisa melebihi pohon kelapa. Nanti apinya akan diletakkan di bawah angkruk, dan akan membakar angkruknya. Setelah terbakar.....hiii...kasihan mayatnya akan terjatuh kalau kayu penyangganya terbakar.”

“Hiiiiiiihiiii....” teriak anak-anak serempak.

Saat saya hendak melanjutkan cerita...

“Memangnya Bu Ika pernah ke Bali?” tanya Iwan, salah satu murid saya yang aktif bertanya.

“Pernah.” jawab saya.

“Pernah lihat langsung upacara adatnya, Bu?” timpal Tata.

“Belum sih....(menggantung).”

Tanpa komando, anak-anak membentuk paduan suara, “Laaahhh.......(kecewa).”

Wajah mereka tampak kecewa. Tak tertarik lagi pada saya. Sebagai guru, apakah saya sedih? Iya lah. Tapi tak cukup dengan sedih. Harus mencari solusinya.

Dari hari itu, entah berawal dari apa, saya justru #beranilebih berbohong. Demi! Agar anak-anak tertarik kepada saya, mau mendengarkan saya, mau tahu apa yang akan saya sampaikan. Terpenting bagi saya, apa yang saya sampaikan memang begitu adanya. Mereka menerima pengetahuan dengan utuh sekalipun gurunya harus berbohong.

#Beranilebih berbohong saya terulang lagi. Tapi kali ini berhasil atau gagal?

Terdengar suara pesawat di luar sana. Namanya anak-anak, ke-kepo-annya pasti muncul apabila menemukan sesuatu yang unik baginya.

“Bu, ada pesawat.” kata Tegar dengan polosnya.

“Naik pesawat itu bagaimana rasanya, Bu?” tanya Tata, si kreatif.

“Naik pesawat? Ehhmm...(saya mikir bagaimana menjelaskannya). Siapa yang pernah naik bus? (anak-anak mengacung) Nah, naik pesawat itu hampir sama dengan naik bus. Tapi tahukah, Kalian? (diam sejenak, biar anak-anak penasaran) Di langit itu kan ada awan, nah pesawat itu pasti sekali dua kali akan melewati awan. Tahu tidak apa yang akan kamu rasakan kalau pesawatnya melewati awan? (mereka diam semua, memperhatikan saya) Gludak-gludak-gludak, pesawatnya itu seperti bus yang melewati lubang di jalanan.”

Tahukah apa reaksi mereka? Mengangguk dengan pasti sambil berbisik-bisik kepada teman yang di sampingnya. Tahu tidak apa yang saya rasa dan pikirkan?

“Alhamdulillah, tidak ada yang tanya, Bu Guru pernah naik pesawat?” lega.

Yeay! Saya berhasil #beranilebih berbohong kepada anak-anak. Ah, bolehkah kali ini kalau berbohong itu tidak dosa demi kebaikan anak-anak?

Monday, 27 April 2015

Cara Mengubah Kartu Aku Menjadi Kartu Ponta

Assalamualaikum.

Cara Mengubah Kartu Aku Menjadi Kartu Aku Ponta. Apakah Anda juga member dari Alfamart? Punya kartu membernya? Sudah ditukar dengan Kartu Aku Ponta? Apakah baru dengar kata Ponta?

Nah, hari ini saya telah menukarkan kartu Aku menjadi kartu Aku Ponta lho. Memang apa bedanya? Selama menggunakan katu Aku, keuntungan yang sering saya dapatkan adalah potongan belanja dan poin. Kalau kartu AkuPonta? Adalah singkatan dari Point Terminal. Terminal itu bisa diartikan sebagai tempat berkumpulnya bus  (poin). Point terminal diartikan suatu kartu yang memudahkan member alfamart untuk mengumpulkan poin (setelah belanja) tanpa harus memiliki kartu member lainnya. Dulu, kan ada tuh kartu member Aku, dan bla bla...

Sekarang dengan satu kartu Aku Ponta kita bisa dengan mudah mengumpulkan poin. Juga kita tidak perlu memamerkan berbagai kartu member Alfamart lainnya di dompet kita. Hihihi.

Bagaimana Cara Mengubah Kartu Aku Menjadi Kartu Aku Ponta? Mudah sekali.
  1. Bawalah kartu Aku yang lama.
  2. Jangan lupa bawa juga KTP.
  3. Datang ke Alfamart, ke kasir dan utarakan maksud kita ke kasir.
  4. Isi formulir dan tunggu prosesnya. 

Tak ada 10 menit kartu Aku sudah diganti dengan kartu Aku Ponta. Gratis lho. Selain itu, otomatis kita mendapat 50 poin dengan melakukan penukaran kartu Aku menjadi kartu Aku Ponta. Ih, enak banget kan?


Yuk, yang belum ditukar kartunya segera ditukar!

Saturday, 25 April 2015

Ikut Seminar untuk Apa?

Assalamualaikum.

Ikut Seminar untuk Apa?

Jumat (17/4), diantarkan suami saya berangkat mengikuti seminar yang berhubungan dengan profesi saya saat ini, guru. Sedih, sepanjang pagi sampai siang cuaca tidak mendukung, bahkan saat saya pulang dari sekolah pun hujan mengiringi perjalanan saya. Eh, alhamdulillah pas selesai sholat Jumat tiba-tiba cuaca cerah. Matahari tersenyum.

Kalau sesuai jadwal acara seminar akan dimulai pukul 13.00 WIB. Saya berangkat jam berapa? 12.45. Hihi nunggu suami pulang jamaah. Padahal perjalanan sampai tujuan memakan waktu kurang lebih satu jam.

Ihhh, saya yang maunya disiplin waktu agak ngedumel di jalan. Suami sih enjoy saja. "Nanti pasti molor." kata suami. Saya hanya manyun.

Mungkin Allah marah kepada saya kali yaa. Sudah dianterin suami yang bela-belain libur kerja malah manyun, tiba-tiba gerimis turun di tengah jalan. Hiks. Padahal sebentar lagi sampai. Suami menawarkan untuk mengenakan jas hujan. Saya menolak. Pokoknya kudu cepat sampai di tempat acara.

Gerimis menjadi. Hati saya mulai tenang, motor kami sudah masuk kawasan tempat seminar. Lah kok sepi banget? Di sana hanya ada satu mobil dan seorang laki-laki berpakaian necis.

"Maaf, Ibu peserta seminar ya? Mohon maaf karena gedung ini mau digunakan untuk acara kabupaten jadi tempat seminarmya dipindahkan ke daerah kota." dengan tampak yang diimut-imutkan

Duh duh duh. darah saya langsung naik. "Kenapa pemberitahuannya tidak dari kemarin sih, Mas. Saya yang datang dari jauh kan tidak tahu persis tempat itu. Tempat ini saja saya sudah survey dari seminggu lalu. Ah, tidak profesional!"

Suami ikut-ikutan marah. Kami pergi meninggalkan laki-laki yang ku taksir usianya sepantaran saya. Sepanjang jalan saya tanya-tanya pada orang sekitar. Tanya alamat yang dimaksud. Cukup jauh. Butuh waktu 20 menit.

Masuklah kami ke parkiran tempat seminar yang baru. Ah, belum dimulai. Alhamdulillah. Padahal sudah pukul 14.00 WIB. Hihihi. Saya jadi bingung harus senang atau sedih. Setelah dibantu suami melepas helm, saya langsung mencium tangannya dan izin masuk.

Dari meja daftar hadir kelihatan penuh, eh ternyata depan masih melompong. Saya pilih kursi yang paling depan dong. Biar nanti kalau difoto untuk dokumentasi oleh penyelenggara saya kena *modus*.

Tak lama, acara pun dimulai. Seperti biasa, ada sambutan ini dan itu. Pihak panitia juga menyampaikan mohon maaf atas beberapa hal, diantaranya:

  1. Pindah tempatnya acara ini. Iya sih, kenapa juga tidak ada konfirmasi sebelumnya. Padahakan di formulir pendaftaran ada nomor HP kami, peserta seminar.
  2. Ini nih yang kedua yang bikin saya samsoyo esmosi, pembicara atau narasumbernya ganti. Yang semula Prof. dari universitas ternama, eh malah ganti kepala sekolah dari kabupaten seberang. Jujur saja, salah satu motivasi saya untuk ikut seminar ini ingin menimba ilmu lebih banyak dari beliau yang sudah Prof. *tanpa mengurangi rasa hormat ke narasumber yang mengganti*. Tapi rasanya seperti ditipu gitu sama penyelenggara. Mulai setengah hati deh ikut seminar ini.
  3. Pas narasumber eksen, nah kan benar, tak sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Yang disampaikan kurang menarik. Sama seperti seminar-seminar yang sudah lalu. Tak dapat apa-apa? Tidak juga sih, ada beberapa pengetahuan baru yang saya dapatkan. 
Sepanjang seminar, telinga saya mendengarkan narasumber tapi tangan saya utak-atik SMS-an dengan suami yang menunggu di luar gedung. Cukup bosan. Bisa jadi karena materinya sudah familiar bagi saya dari sejak kuliah. Ditambah penyampainnya yang kurang menarik. Eh, peserta lain yang kebanyakan sudah sepuh-sepuh malah tambah heboh lagi, alias ngomong dewe. Narasumbernya sampai dicuekin. Ih, kasihan.

Akhirnya, sampai juga di sesi tanya jawab. Beberapa orang bertanya dan narasumber menjawab. Sampai giliran seorang laki-laki yang duduk di pojok seberang sana.

"......Apakah sertifikat dari seminar ini bisa digunakan untuk tambahan angka kredit nanti apabila ada kenaikan pangkat??"

Berawal dari pertanyaan itu, ruangan seminar menjadi panas. Terjadi perbincangan yang sengit antara panitia (narasumber tidak tahu masalah ini) dengan sang penanya.

Intinya panitia mengatakan sertifikat tersebut diakui dinas setempat akan tetapi tidak dapat digunakan untuk tambahan angka kredit bagi PNS yang mengajukan kenaikan pangkat. Sang penanya merasa ditipu karena merasa sudah membayar Rp 100.000 dan jauh-jauh kok tidak berguna. Dan meminta kepala dinas setempat ikut menandatangi sertifikat tersebut agar dapat digunakan untuk kenaikan pangkat.

Saya mulai takut ini akan berakhir dengan adu jotos. Karena satu sama lain berbicara sangat ngotot dan menggunakan mikrofon. Seakan ruangan jadi sesak seketika.

Suami SMS. "Mi, keluar saja."

Loh, suami kok tiba-tiba SMS seperti itu. Berarti sudah ramai di luar. Ternyata, yang duduk di bangku belakang sudah banyak yang kabur. Saya ikutan. Berlari mencari suami di luar. Saya lihat suami sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang sedang menunggu istrinya pula.

".....Kalau seminar ini jelas lah sertifikatnya tidak bisa digunakan, lah niatnya ikut seminar untuk apa? Niatnya yang salah." saya mendengar obrolan suami dengan laki-laki tersebut.

Suami yang melihat saya langsung minta pamit. Kami berjalan menuju parkiran. "Umi niatnya apa ikut seminar ini? Menyesal?" tanya suami. "Ya, ilmu. Tapi agak nyesel juga sih. Pertama karena tempat, kedua, narasumbernya yang kurang menurut ummi. Tapi laki-laki yang ngotot tadi menurut ummi ya keterlaluan. Apa nggak malu sama seragam yang digunakan?" jelas saya.

Tak banyak kata. Kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah sakit meninggalkan gedung yang semakin panas dengan suara mikrofon semakin melengking. Menjenguk tetangga yang sakit.

Friday, 24 April 2015

Internet Memudahkan IRT untuk Berpenghasilan

Obrolan singkat bersama teman di BBM.

“Aku tak pernah menyesal sudah menikah muda. Akan tetapi, ternyata begini ya jadi IRT. Seharian berkutat dengan urusan rumah. Bangun tidur memasak, nyiapin baju suami, mencuci, nyetrika, sampai harus ngepel dua lantai rumah. Fiiuuhhh, capek banget. Untung saja suami ngerti. Kalau aku capek dan males bersih-bersih dia nggak nuntut ini dan itu. Mungkin karena dia yang paling mendukungku untuk resign.”

“Loh, kamu resign? Sejak kapan?”

“Empat bulan lalu.”

“Cicilan?”

“Gaji terakhirku aku gunakan untuk modal usaha. Lumayan buat nambah nyicil ini dan itu.”

Pikiran saya langsung melesat ke usaha dia yang baru-baru ini dirintis. Jualan jam tangan secara online. Cukup laris. Hal itu tentu karena dia sangat aktif mempromosikan dagangannya di beberapa media online, seperti BBM, facebook, dan instagram. Dia juga memanfaatkan waktu yang tepat, kapan dia harus mempromosikan dagangannya disaat calon konsumennya sedang berkeliaran di sosial media.

“Yang penting kita aktif promosi dan orang kenal kita sebagai pedagang barang tersebut. Nanti kalau mereka butuh pasti cari kita sendiri.” celotehnya di BBM.

***

Semakin maraknya penggunaan internet memang tak sedikit manfaatnya bagi pengguna. Tak terkecuali bagi IRT yang mau melek internet. IRT zaman sekarang bukan lagi IRT yang hanya bisa 3M (macak, manak, masak). Mereka juga bisa berpenghasilan. Sambil tetap menjalankan tugasnya sebagai IRT, tetap di dalam rumah, mereka bisa menjalankan berbagai kegiatan yang bisa mendulang rupiah.

IRT zaman sekarang itu rasanya malu kalau hanya menerima gaji dari suami. Meskipun suami tidak menuntut kita untuk berpenghasilan, kalau kita bisa membantu sedikit keuangan keluarga kan enak. Ingat, izin suami tetap nomor satu ya.

Salah satu contoh kegiatan yang bisa memberikan penghasilan bagi IRT adalah seperti yang dilakukan oleh teman saya di atas. Bisnis online. Pun saya juga merasakan manfaat internet saat ini. Sampingan saya hanya jualan pulsa. Keuntungan memang tak seberapa, tapi lumayan lho bisa buat nambah beli garam dan cabe. Lagi pula sekarang juga tidak perlu ke konter untuk membeli saldo. Lagi-lagi internetlah yang memudahkan kegiatan saya. Cukup buka internet banking, transfer uang, saldo pulsa masuk. Kalau ada yang beli pulsa, tak perlu takut pulsa SMS berkurang, cukup gunakan YM atau WhatsApp pulsa sudah masuk ke pelanggan. Beres kan? Keuntungan bisa dimaksimalkan, tapi otot dan materi tak perlu dikuras habis.

Ngomong-ngomong soal internet saat ini, hampir semua provider yang ada di Indonesia sangat mendukung kemudahan tersebut. Bagaimana tidak? Kemenkominfo menyebutkan bahwa saat ini jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 57% penduduk, atau hampir 137 juta pengguna. Oleh karena itu, provider berlomba-lomba menarik konsumen dengan menawarkan berbagai paket internet dengan harga yang sangat terjangkau namun tidak lelet.

Sebut saja XL, banyak sekali berbagai macam paketan yang ditawarkan. Kalau saya sendiri lebih suka menggunakan paketan Xtra ON. Kenapa? Yang pasti karena harganya miring banget, hanya 30.000 sudah dapat kuota 2GB dengan kecapatan internet download sampai 7.2Mbps dan upload sampai 1 Mbps. Untungnya lagi ada bonus BBM, WhatsApp & LINE. Gratisan itu sangat berguna banget untuk usaha jualan pulsa saya.

Selain Xtra ON, ada juga Super HotRod, HotRod 3G+, Paket Internet Hotrod Pro (Baru), dll. Nah, bagi kamu yang IRT, tunggu apalagi? Gunakan internet dengan sebaik mungkin. IRT berpenghasilan? Siapa takut?! Pesan saya, "Asyik bermain internet? Anak-anak jangan sampai dilupakan ya."

Sumber DI SINI

Postingan ini pernah saya ikut-sertakan lomba tapi tidak nyangkut. Hihihi :D

Thursday, 23 April 2015

Kecil Sih Tapi Berarti Besar

Assalamualaikum,

Kecil Sih Tapi Berarti Besar. Apakah itu?

Saya termasuk orang yang sulit percaya dengan orang lain. Oleh karena itu, sulit pula bagi saya untuk  memiliki teman dekat. Tapi bukan berarti selama ini saya tidak memiliki teman dekat lho ya?

Sebut saja dia, Mitha. Dia adalah teman satu kamar saya selama 1 tahun kos saat berstatus mahasiswa. Bersamanya saya merasa cocok. Kecocokan itu bisa jadi karena kita memilliki nasib yang sama. Yaitu, sementara gagal meraih mimpi. Hihihi...pendek cerita kita kuliah di kampus kami karena pelarian.

Sebagai bentuk hormat kami kepada orang tua, kami pura-pura semangat kuliah. Sepanjang hari kegiatan kami kuliah tapi lebih banyak mengumbar mimpi. Menguatkan satu sama lain kalau kami pasti bisa, suatu hari nanti. Tak jarang, kami merasa terlalu muak dengan hari-hari kami. Merasa tak adil. Baiklah, kalau sudah seperti itu, saatnya tutup pintu kamar, menyalakan musik dengan volume maksimal dan berteriak sepuas-puasnya sampai kami menangis seakan mengadu kepada Allah, “Kami lelaaahhh....”

Sampai akhirnya, kami pun sama-sama keluar dari kos. Jadi mahasiswa penglaju-berangkat pulang. Komunikasi tetap jalan sekalipun kami beda program studi. Sesekali bertemu saat kami sama-sama free. Mengumbar mimpi, mengucapkan berbagai rencana, hingga akhirnya saya membuat sebuah pengakuan. 

“Sepertinya inilah jalanku, Thul (panggilan untuk Mitha). Tak ingin pergi. Ini sudah takdirku. Semakin aku mencoba menjauh tapi Allah selalu menunjukkan berbagai kemudahan untuk meraihnya. Aku mantab. Kamu bagaimana? Aku tetap mendukungmu. Kamu pantas mendapatkan mimpimu!!”

Semenjak perbincangan itu, saya mendengar Mitha semakin gila untuk meraih mimpinya. Kamu bisa! Saya tak mau kalah. Saya pun tak mau kalah berusaha.  Hingga akhirnya kabar bahagia itu hadir. Akhirnya dia keluar dari kampus. Itu artinya dia berhasil.

“Ini oleh-oleh dari Mitha. Tahun baru kemarin dia mampir ke rumahku untuk memberikan ini. Untukmu juga.” kata teman memberikan sebuah oleh-oleh yang membuat saya sumringah.

Plisss, lihat gantungan kuncinya saja ya *hihihi*
Gantungan kunci berbentuk seorang abdi negara yang mengenakan baju berwarna coklat, rambut pendek, tampak pantas. Polisi wanita. Ya! Mitha telah meraih mimpinya. Mimpi gilanya selama ini. Saya? Saya masih ada di kampus yang telah (terlanjur) saya cintai sepenuhnya. Memutar arah mimpi saya yang awalnya menjadi psikolog anak menjadi seorang guru.

Lihatlah! Kecil bentuknya, tapi ini sungguh besar bahkan lebih dari sekedar oleh-oleh pada umumnya. Gantungan kunci itu adalah sebuah pembuktian bahwa dia memang telah berhasil mencapai mimpinya. Ada getar-getar aneh dalam hati, “Kalau Mitha bisa, kenapa saya tidak?” Gantungan kunci itu adalah alarm saya. Tiap kali melihatnya, saya teringat kebersamaan bersamanya, Mitha. Ingat mimpi kami masing-masing.

Gantungan kunci yang tinggal kepala saja :(
Karenanya, saya berjanji pada diri saya sendiri kalau gantungan kunci itu tidak akan pernah saya buang. Selalu bersama saya. Oleh-oleh kecil tapi besar pengaruhnya. Sampai sekarang pun (dari 3 tahun lalu), gantungan kunci itu masih ada.

Saya tak pernah menggubris ketika ada yang berkomentar tentang gantungan kunci itu,

"Kenapa sih Mbak kok gantungannya dah jelek gitu dipakai terus??" komentar murid les saya.

"Nggak kuat beli gantungan kunci ya? Pakai itu terus." komentar pedas teman kerja.

Ah, sayang, gantungan kunci itu bentuknya sudah tidak utuh. Tapi saya tidak akan pernah meninggalkannya. Makanya, saat tempat pensil di atas rusak, gantungan kunci itu saya pindah tempatkan. Menjadi gantungan kunci motor saya.

Nah, itu cerita tentang oleh-oleh yang paling berkesan dari teman saya. Kalau saya sendiri lebih srek membawakan oleh-oleh dalam bentuk kaos khas daerah tersebut. Misalnya saja pas pergi ke Kudus, Bali, Lamongan, Madura atau ke Jogja.

Ngomong-ngomong soal oleh-oleh kaos, di Semarang juga ada lho pusat oleh-oleh yang menjual kaos khas Semarang. Kampoeng Semarang, namanya.

Web Kampoeng Semarang
Kampoeng Semarang adalah salah satu “One Stop Shopping & Leisure” terkemuka di Semarang yang berlokasi di Jalan Raya Kaligawe KM 1 No.96 Semarang yang berjarak 3 km dari Bandara Ahmad Yani dan 2 km dari Pelabuhan Tanjung Mas. Tapi bagi kalian yang tidak mau ribet, bisa juga lho belanja langsung ke webnya. Tenang saja, harga yang ditawarkan tidak membuat kantong jebol kok. Seperti kaos di bawah ini. Setelah diubek-ubek ternyata...

Kaos dengan tulisan Semarang
Harganya ih pas di kantong :D
Harganya hanya Rp 43.000. Kalau harga segitu kan memang harga pasaran ya. Nah, tunggu apalagi. Yuk, buruan serbu pusat oleh-oleh Kampoeng Semarang! Eh, ingat! Di sana tidak hanya menyediakan kaos lho. Apa saja? Hayuk ah, cek langsung ke websitenya, Kampoeng Semarang. Selamat berbelanja :)

Wednesday, 22 April 2015

Pengalaman Pertama Bumil Berpuasa

Assalamualaikum.

Pengalaman pertama bumil berpuasa. Memiliki kegilaan makan yang luar biasa selama hamil, membuat saya sedikit was-was apabila bulan puasa nanti datang. Takut kalau tidak bisa ikut puasa. Tepatnya sih takut kelaparan. Makanya, hari Minggu kemarin saya bertekad untuk latihan puasa sekaligus dalam rangka menyambut bulan rajab.

Alhamdulillah niat saya untuk berpuasa didukung oleh ibu saya.

"Anakmu biar latihan juga. Latihan prihatin." Jelas ibu.

Karena ini adalah pengalaman pertama berpuasa bagi saya selama jadi bumil, jadi agak deg-degan. Semoga kuat semoga kuat semoga kuat. Begitu terus doa saya.

Saya yakin, selain niat yang kuat tentu puasa saya akan berjalan dengan lancar apabila persiapan saya juga matang. Nah, ini saya share beberapa persiapan saya.
  1. Bangun 1 jam sebelum imsak. Dengan catatan makanan sudah siap saji.
  2. Niat, ini pasti sudah tentu.
  3. Makanan, karena saya memiliki riwayat darah rendah selama hamil, saya menyiapkan sayuran hijau untuk sahur. Tentu dengan nasi dan lauk yang seimbang.
  4. Minuman, nah untuk minuman saya menyiapkan minuman sampai 3 macam. Hihi. Rempong. Minuman tersebut terdiri dari air putih, susu khusus bumil, dan susu biasa (susu untuk kalsium). Jadi, bayi dalam kandungan saya minum, pun saya.
  5. Gosok gigi, kalau biasanya pas tidak hamil habis makan langsung gosok gigi, kali ini menunggu sekitar setengah jam, takut kalau makanan keluar alias muntah.
  6. Jangan tidur setelah makan. Sebenarnya tips ini bukan hanya untuk bumil saja. Karena kalau setelah sahur langsung kembali tidur nanti bangun-bangun badan jadi lemes. Padahal kan mau beraktivitas lagi.
Itu tadi beberapa tips dari saya saat mengalami pengalaman pertama berpuasa sebagai bumil. Oya, ada cerita lucu yang sampai saat ini membuat saya semakin terharu bisa jadi bumil. Apakah itu?

Alhamdulillah saat ini gerak bayi dalam perut saya sudah sangat terasa. Tiap pagi saat bangun tidur dia pasti bergerak. Seakan-akan ingin membangunkan saya.

Begitu juga saat hendak makan, saya selalu mengelus perut saya seakan mengajak dia untuk makan. Gerakannya sangat inten dan terasa banget. Eh, kemarin pas puasa gerakan dia berkurang. Apakah saya takut terjadi sesuatu padanya? Tentu. Dia hanya bergerak beberapa kali saja. Itupun tendangannya tak begitu kuat. Saat saya cerita kepada ibu, ibu malah tertawa.

"Itu artinya anakmu juga sedang lapar. Tak apa." Ibu mengakhiri kalimatnya dengan tertawa lagi.

Saya hanya diam, mengiyakan perkataan ibu dan mengelus perut saya.

"Kita kuat."

Beberapa kali setelah saya cerita kepada ibu, ibu malah menggoda saya.

"Kalau tidak kuat, makan saja."

Saya menggeleng dan berkata, "Kita kuat kok."

Alhamdulillah dengan niat yang kuat dan persiapan yang matang, akhirnya saya buka puasa dengan tersenyum lebar. Lucunya, saat suapan pertama dia bergerak seakan berkata, "Selamat datang makanan."


Sunday, 19 April 2015

Cara Mendapatkan Sample Gratis Susu Lactamil

Assalamualaikum.

Cara Mendapatkan Sample Gratis Susu Lactamil. Sungguh saya harus berkali-kali bersyukur, karena selama hamil saya termasuk pemakan segala. Hihihi. Doyan segala maksudnya, tanpa muntah. Apalagi susu, ho doyan banget.

Ngomong-ngomong soal susu, saya ingin berbagi informasi bagi Anda yang mungkin saja sedang program hamil, hamil seperti saya, atau menyusui agar bisa mendapat sample gratis susu lactamil. Caranya mudah. Coba ikuti langkah-langkah berikut ya.
  1. Buka dahulu website mamacare.co.id.
    Tampilan website mamacare.co.id, perhatikan sebelah kanan pojok bawah "Minta Sampel"
  2. Lihat sebelah kanan bawah dan klik “Minta Sampel”
  3. Akan muncul formulir yang harus Anda isi. Pastikan lengkap ya kemudian klik SUBMIT. Eitsss...sebelum Anda klik SUBMIT pastikan semuanya sudah benar ya.
    Tampilan forrmulir yang harus Anda isi
  4. Setelah itu akan muncul tampilan seperti ini. Tunggu deh, sampel susu dari lactamil sampai di rumah Anda.
    Sampel susu dari Lactamil akan meluncur ke rumah

Bagaimana mudah bukan Cara Mendapatkan Sample Gratis Susu Lactamil? Jadi, tunggu apalagi, yuk segera klik mamacare.co.id sekarang juga! Selamat mencoba :D

Thursday, 16 April 2015

Mudahnya Memperpanjang SIM C di Bus Pelayanan SIM Keliling Semarang

Assalamualaikum.

Mudahnya memperpanjang SIM C di bus pelayanan SIM keliling Semarang. Apakah Anda seorang pengendara sepeda motor? Kalau iya, sebaiknya Anda memiliki SIM C ya. Hehehe, jadilah warga Indonesia yang tertib lalu lintas. Ciiiaahh...

Ngomong-ngomong soal SIM C, akhirnya hari ini saya telah berhasil memperpanjang SIM C saya lho. Yeay! Prosesnya ternyata kilat banget. Syukur deh tempo hari saya cerita dengan teman kalau saya hendak memperpanjang SIM C saya, makanya dia menyarankan saya untuk mendatangi bus pelayanan SIM keliling Semarang. Alhamdulilah, saya merasakan kemudahan memperpanjang SIM C di bus pelayanan SIM keliling Semarang.

Sebenarnya sebelum berangkat saya mengalami kegamangan, benar nggak ya busnya berhenti di dekat kantor BLKI Semarang samping Gedung Bulog Majapahit? Kalau nggak di sana bagaimana? Masak jauh-jauh pulang lagi? *sedih*

Bismillah, saya berangkat dari rumah pukul 08.30 WIB. Selama perjalanan saya hanya berdoa semoga bus-nya nangkring di alamat tersebut. Kalau tidak, percuma dong saya absen ngajar. Kasihan juga dekbay dalam perut saya ini yang loncat-loncat di dalam perut selama perjalanan.

Doa saya terkabul. Bus yang memberikan pelayanan SIM keliling Semarang nangkring di depan gedung Bulog Majapahit. Alhamdulillah. Perjuangan selama satu jam perjalanan menerjang kemacetan kota Semarang akan segera berakhir.

bus pelayanan SIM keliling Semarang
Saya belokkan motor saya di sekitar busa tersebut. Kemudian tanya kepada orang yang sudah ada di sana tempat pendaftarannya. Hanya 20 menit SIM C saya sudah jadi. Tapi, saya agak kaget juga saat harus membayar Rp 180.000, mahal banget ya? Kalau di kantor dengar-dengar tak sampai 100.000. Tapi ya antre-nya itu yang nggak ketulungan. Padahal teman saya yang Februari kemarin juga memperpanjang SIM nya di situ hanya habis Rp 140.000. Apa mungkin beda kabupaten jadi berpengaruh ya? Ah, melihat prosesnya yang begitu cepat, saya jadi tak mempermasalhkan lagi masalah biaya. Yang penting selama di jalan saya sudah menjadi warga negara Indonesia yang tertib.

Nah, bagi Anda yang memiliki rencana hendak memperpanjang SIM C di tempat yang sama, berikut syarat dan tata caranya.

Syarat:
  1. SIM C (akan ditarik dan diganti yang baru) dan KTP asli
  2. Fotokopi SIM C dan KTP masing-masing 2 lembar (di pendaftaran terdapat jasa fotokopi)
  3. Uang

Tata Cara:
  1. Mengisi formulir pendaftaran ( Nama, Alamat, No HP) kemudian membayar administrasi Rp 2000
  2. Mendapat berkas warna biru dan dibawa ke bagian kursi samping pendaftaran, di bagian ini hanya menempelkan jari telunjuk sebanyak 3x sampai berbunyi “tit”.
  3. Setelah itu, akan dipersilahkan untuk menunggu panggilan dari dalam bus.
  4. Setelah dipanggil, masuklah ke dalam bus. Di sana akan ada dua petugas dari pihak polisi yang akan menanyakan kebenaran nama lengkap, TTL, dan pekerjaan. Setelah itu, kita akan difoto dan tanda tangan, tunggu 2 menit, jadi deh! Tinggal bayar total Rp 182.000 + Rp 2000 (parkir) dan pulang.
Kanan: Pendaftaran, Kiri: Cap jari telunjuk 3x
Bagaimana? Mudah bukan? Untuk jadi warga negara yang tertib itu memang mudah kalau ada niat. Yuk, siapa yang mau menyusul saya untuk menikmati mudahnya memperpanjang SIM C di bus pelayanan SIM keliling Semarang.

Thursday, 9 April 2015

Kata Transfer

Assalamualaikum.

Malu bertanya sesat di jalan. Tak mau bertanya tak dapat solusi. Ah, untung saja urat malu saya semakin hari semakin berkurang, hahaha. Makanya kalau ada kesulitan saya tak malu bertanya. Hehe, sebenarnya itu juga kalau kadar gengsi lagi krisis.

Ceritanya, kemarin saya pergi ke bank Mandiri Syariah. Semenjak memiliki usaha jual pulsa saya memilih bank tersebut karena pelayanan dan kantornya yang tidak terlalu jauh. Akan tetapi, saya mengalami kesulitan dalam hal transfer uang. Secara kan usaha jual pulsa saya selalu menggunakan jasa transfer tersebut.

Kesulitan yang terjadi adalah saya tidak menemukan kata “Transfer” di atm milik Mandiri Syariah (samping kantor). Makanya, setiap kali mau transfer saya harus lari ke Indomaret terdekat yang ada atm Mandirinya. Di sana saya temukan kata “Transfer”. Lama-lama setiap kali setelah nabung kemudian mau transfer harus ke tempat lain kok ya repot banget.

Akhirnya, kemarin setelah menabung, saya tanya tuh pada teller bernama Dimas. “Lho, ada kok, Bu.” Saya ngotot, nggak ada. Kemudian saya dipersilahkan untuk duduk sebentar selama ia mencetak transaksi saya di buku tabungan.

“Bu Ika..” panggilnya.

Saya mendekat. Kemudian ia membahas lagi tentang kata “Transfer”.

“Bu, mohon maaf saya baru ingat, kalau di Mandiri itu kata Transfer yang digunakan, akan tetapi kalau di Mandiri Syariah menggunakan kata Pemindahbukuan.”

“Oalah, kalau kata itu saya ya lihat. Terima kasih Mas. Saya mau coba sekarang.” Meninggalkannya dan saya menuju ke atm Mandiri Syariah.

Setelah saya coba. Hehehe. Bisa. Ternyata?! Andai saja dari awal saya tanya, kan tidak perlu capek-capek ke Indomaret untuk transfer uang. Malu bertanya memang sesat di mana-mana ya?

Wednesday, 8 April 2015

Rezeki Sudah Ada yang Mengatur

Assalamualaikum.

Setuju tidak dengan judul di atas? Harus setuju ya.

Untuk menambah uang jajan, sejak awal bulan Maret lalu saya memilih untuk jualan pulsa. Konsumen sasaran saya adalah anggota keluarga saya dan teman guru di sekolah. Alhamdulillah, seminggu bisa habis pulsa kurang lebih 200.000. Menurut saya itu sudah lumayan sekali bagi pemula seperti saya. Dari 200.000 itu paling tidak saya bisa mendapat keuntungan 20.000.

Usaha lancar,  tapi sayang, ada yang tidak lancar. Jadi, ceritanya, di gang depan rumah saya itu ada konter. Otomatis dia jualan pulsa juga ya. Nah, tidak sengaja pas dia main ke rumah lihat tempelan JUAL PULSA di depan rumah saya. Semenjak itu, ada yang berubah dari dia.

Dulu, sebelum dia tahu kalau saya jualan pulsa, setiap kali melihat saya pasti selalu menegur saya. Kalau tidak ya saya yang menegurnya dengan memanggil cucunya yang sedang diajak jalan-jalan. Sekarang?

Setiap kali bertemu dengan saya sikapnya berbeda. Bahkan, setiap kali saya memanggil cucunya, dia malah pura-pura tidak dengar. Inikah yang namanya saingan bisnis?

Saya sangat percaya dengan kalimat seperti judul di atas, bahwa  rezeki sudah ada yang mengatur. Kalau sudah seperti ini apa yang bisa saya lakukan? Tetap bersikap biasa saja dan jangan sampai berhenti sampai di sini usaha jualan pulsa. Bukankah begitu?