Tuesday, 20 December 2016

Terimakasih telah Mengingatku, Pak


Pohon-pohon di pinggir jalan bergoyang kencang. Jas hujan yang ku kenakan seakan ingin terbang. Butiran air yang jatuh begitu menyakiti kulitku. Ku lirik ke atas, langit hitam pekat.

Ingin rasanya berteduh bersama pengendara lain. Tapi percuma. Tubuhku juga sudah basah kuyup. Terlebih lagi PD ku sudah kencang, pertanda Kak Ghifa harus nenen.

sumber gambar di sini

Sambil melajukan motorku pelan, pandanganku tertuju kepada salah satu pengendara yang berteduh di depan bengkel. Beliau sedang menata jas hujan untuk menutupi barang bawaannya yang tertumpuk tinggi. Aku seperti mengenalnya. Motor, helm, dan postur tubuhnya tak asing bagiku. Aku kenal. Tapi siapa? Ah, itu kan beliau yang selalu kurindukan kehadirannya dengan paketan hadiahku.

Sesampaiku di rumah, benar saja, Kak Ghifa sudah merengek minta nenen. Waktunya dia tidur siang pula. Setelah membersihkan diri sejenak dengan ditemani rengekan Kak Ghifa, ku keloni dia dan tak lama tertidur.

“Mbak Ika ada, Budhe?” aku kenal siapa pemilik suara ini. Afit, keponakanku.

“Lagi ngelonin Kak Ghifa di kamar.” terang ibuku sambil menjahit baju pelanggan.

Singkat cerita, setelah nenen Kak Ghifa lepas, ku temui Afit yang masih menungguku di ruang tamu.

“Ada apa?”

“Mbak, ini nomor Pak JNE, ya?” Afit menyodorkan HPnya ke mukaku.

“Aku nggak nyimpen, sih. Kenapa?”

“Hehehe. Aku kan belanja online. Katanya mau nganter barangku. Terus tanya alamatku, bilangnya gini, ‘Kalau sama rumah Mbak Ika sebelah mana?’, gitu. Ya aku bilang, saya ini adiknya, Pak. Rumah saya samping rumah Mbak Ika.”

“Oh ya?” mendengar cerita Afit aku langsung GR. Segitunya Pak JNE mengingatku. Sepele sih. Tapi aku merasa dihargai saja sebagai customer-nya. Apalagi ini bukan pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi. Dulu, pas tetangga depan rumahku dapat paketan juga tanya alamatnya seperti itu, “Kalau sama rumah Mbak Ika sebelah mana?” Makin GR kan diriku. Oh, sebegitu berguna aku untuk Pak JNE demi mencari alamat seseorang?

Selama aku mengenal Pak JNE, ingin rasanya aku membalas jasa-jasanya. Paket hadiah dan belanja onlineku selalu tiba dengan selamat, tepat waktu, dan bonus senyumnya yang khas. Tapi ya dengan cara apa? Lha sejak aku masih perawan sampai kini beranak setiap kali aku tawari untuk mampir sejenak, sekedar minum, beliau selalu menolak. Kalau dengan cara menggunakanku sebagai 'patokan' menyampaikan paketan-paketan untuk penerimanya itu bisa membantu, besar kebahagiaanku.

“Tapi ini bapaknya ke Pilang dulu. Nanti baru ke sini.”

Berarti benar, yang ku lihat di depan bengkel tadi adalah bapak JNE.

“Kamu beli apa sih?” aku penasaran.

“Beli rok Mbak. Mumpung nggak kena ongkos kirim.”

“Kok bisa? Punya voucher?”

“Ih, tumben Mbak Ika ketinggalan info. Hari ini (26 November 2016) sama besok itu JNE Express menyelenggarakan Hari Bebas Ongkos Kirim dalam rangka ulang tahun JNE yang ke-26 lho.”

“Iya tho?” aku cuma manggut-manggut. Aku baru ingat postingan status teman tentang info ini yang hanya aku ‘halah’ kan. Ternyata benar tho

Di luar masih hujan. Aku dan Afit masih asyik mengobrol. Apalagi dia pamer model rok yang berhasil dia beli. Di luar sana terdengar ada suara motor masuk.

“Itu Pak JNE datang.” tebakku karena saking hafal suara motor Pak JNE.

“Mana? Nggak ada.”

Benar. Pak JNE datang. Lengkap dengan jas hujan yang masih menempel. Ibuku berteriak, “Ka, ada Pak JNE.”

“Afit, Bu, yang dapat paketan.” jawabku sambil ke depan menemani Afit menemui Pak JNE.

“Oh...” ibuku heran dan sedikit kecewa.

Senyumnya yang khas berkembang. Dibukanya tas bawaannya. Mengorek paketan untuk Afit. Agak lama karena tertumpuk dengan paket lainnya. Ketemu. Senyumnya berkembang lagi. Setelah tanda tangan tanda terima beliau langsung pamit.

“Tidak mampir dulu, Pak? Hujannya makin deras lho, Pak.” tawarku.

“Terima kasih, Mbak. Masih banyak barang yang diantar.” suaranya terdengar meneduhkan dan selalu itu jawabnya.

“Ada HARBOKIR jadi banyak barang yang harus diantar ya, Pak?”

“Iya, Mbak. Alhamdulillah.”

Pak JNE berlalu. Sambil melihatnya menghilang dari gang rumahku, aku malah teringat bapakku yang saat itu juga mungkin sedang melawan hujan demi mencari nafkah untuk keluarga. Terenyuh hatiku. Apalagi Pak JNE, usianya tak muda lagi. Tapi, demi kata “profesional” beliau rela menerjang hujan demi tumpukan paket itu sampai di tangan penerimanya tepat waktu.

Sedang asyik dengan pikiranku, ibu menegur, “Kok kamu nggak dapat paketan lagi? Nggak pernah menang lomba ya? Kamu sih kalau nulis sering lebay.”

Aku melongo. Dasar ibu. Hihihi.


27 comments:

  1. Nah, moga menang lombanya ini ya Mbak. Biar dapet paketan lagi, amin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih sudah didoain, ya, Mbak.

      Delete
  2. Perjuangan banget ya Bapaknya.. Terharu.. T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Usianya sudah sepuh, Mbak, jadi akunya sering kashan. Tapi bapaknua strooong banget.

      Delete
  3. Waah..haha, kok sama. Pak kurir JNE yang sering nganter paketanku juga sampe hafal sama aku, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nama kita mudah banget diingat kali ya, Mbak.

      Delete
  4. terharu mbk, aku jg pernah dianterin paket sm pak jne pas ujan lebat bgd,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disaat kita ongkang2 di rumah eh ada orang lain yang sedang berjuang mencari sesuap nasi. Di situ aku mau bilang, lindungi dia ya Allah.

      Delete
  5. iya sama mba, pak JNE juga sudah hapal banget kalau ngantar paketan atas nama saya :)

    ReplyDelete
  6. Nggak nyangka, usia JNE sudah dewasa. :D

    ReplyDelete
  7. Good luck ya mb...jne memang oke.aku jg sering pk

    ReplyDelete
  8. Pas malem dan hujan lebat, tiba2 ada orang ketok pintu. Ternyata kurir JNE. :'D Terharu sekaligus nggak enak. Padahal nggak masalah kalau ditunda besok. Tapi orangnya bilang, ini sudah amanah. :'D

    ReplyDelete
  9. Aku juga harus mengucapkan terima kasih sama Pak Kurir JNE. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Terima kasih sudah mampir ya, Mbak.

      Delete
  10. Pak JNE = Pahlawan bagi emak2. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha....sepakat!
      Terima kasih sudah mampir ya, Mbak.

      Delete
  11. JNE, Para kru, dan para kurirnya, adalah sahabat buat saya. I love them

    ReplyDelete
  12. terharu ama pak kurir JNE yaaaa.. hiks hiks.. barakallahu pak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin alhamdulillah. Semoga diberi balasan yang setimpal ya, Mbak.

      Delete
  13. Halo,

    Terimakasih sudah ikut blog competition Cerita Baik bersama JNE, ya. Semoga beruntung :D

    Salam bahagia,
    Pungky Prayitno

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!