Saturday, 28 January 2017

Karma itu Tak Selalu Menyakitkan


Karma itu tak selalu menyakitkan. Sejak awal semester 2 ini, keuangan keluargaku terombang-ambing. Semua karena anak itu. Aku pertahankan dia dan menolak 3 anak lainnya. Tapi ternyata apa?

Sebelumnya aku pernah membuat postingan dengan judul Saat Uang Begitu Menggoda. Ini kelanjutan ceritanya. Akhir yang tak pernah ku duga-duga.



Uang les sebulan tak dibayar. Saat ku tanyakan kehadirannya karena absen 2 minggu, "Minggu depan berangkat, Mbak." Oke, ku tunggu. Sampai-sampai kalau mau pergi juga aku tunda, siapa tahu dia berangkat. Tapi setelah hampir sebulan berangkat sekolah, tak tampak juga batang hidungnya. Otomatis, keuanganku jadi berantakan.

Aku memang tergantung sama uang les itu untuk menyukupi keuangan keluarga kecilku. Kalau tahu seperti ini kemarin aku terima saja anak yang lainnya. Paling tidak aku tidak akan mengalami masa krisis keuangan. Sedihnya lagi, tak ada itikad baik dari orang tuanya. Kalau dulu baik-baik datangnya, paling tidak kalau mau berhenti les kan juga pamit yang baik-baik. Atau mungkin kalau aku ada salah, atau anaknya merasa aku marahi ya tolong aku ini diingatkan. Paling tidak kalau memang berhenti les aku bisa menerima murid baru lagi. Jadi, tidak menggantung seperti ini. Istilahnya kok seperti  (mematikan rezeki orang).

Mulanya, aku sedih sekali menghadapi semua ini. Alhamdulillah suami selalu menguatkan, "Nanti pasti ada gantinya."

Selama ini, selain menerima nafkah suami, aku mendapat rezeki dari honorku menjadi guru wiyata bakti dan menjadi guru les privat. Anak itu memang baru les denganku di tahun ajaran ini. Sebelumnya aku sudah jadi guru les privat selama 5 tahun di suatu keluarga yang baik hati. Awalnya kakaknya, karena cocok, kakaknya lulus SD sekarang gantian adiknya dari kelas 3 sekarang sudah kelas 5 SD. Selama seminggu les hanya dua kali. Karena ada kekosongan empat hari, ku pikir tak ada salahnya untuk menerima murid les lagi. Akhirnya anak baru itu les denganku seminggu tiga kali.

Awalnya aku ragu menerima anak tersebut. Karena aku harus rela meninggalkan Kak Ghifa. Tapi karena ada dukungan dari ibu dan suami, akhirnya aku iya-in.

Sebulan les privat jalan aku mulai merasa nggak nyaman. Selain karena sering meninggalkan Kak Ghifa, juga karena anak baru ini kalau datang nggak terduga. Sering tak sesuai jadwal. Sudah jam pulang dia baru datang. Tidak ada jadwal les dia datang untuk mengerjakan PR. Hidupku bagai dikejar-kejar anak ini. 

Eh, ending-nya malah kayak gini.


Aku sempat berpikir, inikah karma? Karma karena aku sudah menolak 3 anak demi dia. Mereka kecewa padaku, makanya kini aku jadi dikecewain orang.

Aku juga berpikir apakah ini jawaban doaku karena aku memang lama-lama merasa nggak srek dengan anak tersebut?

Inti dari absennya anak itu adalah keuangan keluargaku jadi sangat memprihatinkan. Tapi di lain sisi Allah memberikan kedamaian di dalam hatiku. Terutama karena aku bisa berkumpul sama Kak Ghifa. Hanya dua hari dalam seminggu aku meninggalkannya, saat sore hari. Aku bisa bermain dengannya, memandikannya saat sore hari (biasanya pas dia mau mandi aku sudah pergi), dan menyiapkan makan sekaligus menyuapinya. Aku merasa peranku sebagai ibu jadi lebih berarti.

Allah selalu memiliki rencana yang lebih indah dari apa yang kita pikirkan. Bukan begitu?

Lebih-lebih, intensitas Kak Ghifa ngASI makin sering. Makannya makin lahap. Berat badannya pun naik drastis. Alhamdulillah ya Allah. Padahal kemarin-kemarin berat badannya jarang naik dan tetap di angka itu-itu terus.

Alhamdulillahnya lagi, benar kata suami, Allah memberikan ganti yang lainnya. Kini, suami mulai membuka usahanya sendiri. Pesanan pagar, pintu tralis, satu per satu datang. Karena baru memulai, kami tak banyak ambil untung, yang penting usaha ini bisa jalan dahulu. Doain ya makin lancar dan barokah.

Sebenarnya, sampai hari ini masih ada rasa yang mengganjal soal ketidakjelasanan anak baru itu. Masak iya sih aku yang harus mendatangi mereka untuk meminta kejelasan (lagi)?

Ah, sudahlah. Kalau memang ini semua karma. Yang pasti karma itu tak selalu menyakitkan.

Dari kejadian ini, aku belajar beberapa hal:
  1. Pekerjaan yang dilakukan dengan setengah hati, akhirnya bakalan nggak enak.
  2. Apa yang kita pikir nggak baik belum tentu begitu juga di mata Allah
  3. Rezeki yang memberi adalah Allah, bukan manusia. Jadi, berharaplah kepadaNya saja.
  4. Penting bagi setiap ibu menyusui untuk memiliki rasa happy di dalam diri. Karena apa yang ibu menyusui rasakan, si kecil juga merasakan. Ibu tenang, si kecil juga tenang.
Pernah mengalami hal yang sama sepertiku?

16 comments:

  1. Insya Allah ini yg terbaik menurut-Nya ya mba.. Pasti ada hikmah di balik tiap peristiwa hidup kita.. Tetap semangat mb Ika..

    ReplyDelete
  2. Sabar mbak, biarin aja ikhlasin, gak usab dipikir, insyaAllah akan dapet rezeki yang lebih baik lagi 😊, selama kita sehat, diberi keselamatn, nikmat iman islam dan dekat dengan orang tersayang itu juga rezeki, masalah uang mah nanti bakal diganti lebih baik dan lebih banyak, soalnya aku juga pernah mengalami

    ReplyDelete
  3. Semangat Kak Ika! Semoga dapat ganti anak les yang manis, jadi ga puyeng ngajarnya (juga nungguin bayaran uang lesnya). Yey!! Semoga job blog juga lancar. Aamiin :D

    ReplyDelete
  4. Saya sepakat dengan poin 3. Rezeki sudah ada yang mengatur yakni Allah SWT. Dan setiap orang sudah mendapat "jatah" rezeki masing masing dari Allah SWT Yang Maha Kaya. Saya sepakat dengan artikel ini. Salam hangat selalu dari Pontianak. Kalimantan Barat

    ReplyDelete
  5. Nglesi privat jg mba? Hmmm, aku jg punya murid les kek gt. Jadwal jam stg7mlm skg berangkatnya jam stg8 mlam. Hhmh, akhirnya akubtegesin aja, les jam sth7 bukan stg 8. Ta smsin ke hpir sluruh anggota keluarganya. Jd biar diingetin. Coz uda blg ke anake ga ngaruh :) soal rejeki, bener mb. Insyaallah mau dikasih yg lbh gede dari itu..

    ReplyDelete
  6. Aku jg pernah ngalami itu mak. Suka dukanya jd guru les.hihi.

    ReplyDelete
  7. iya, saya juga kadang males kalo anak les datang tak sesuai jadwal.
    bukan apa2 sih mbak ya disiplinnya itu loh
    kita juga ada kegiatan lain lkan?

    ReplyDelete
  8. Pernah ngalamin Mbak.. nyeseg, tp memang rejeki nggak dari mana2 kok. Ya dari Allah, walau sulit coba iklhas dan fokus ke yg lain, biar nggak keinget2 terus hehehe. Makin berkah semua dan semangat ya Mbak :)

    ReplyDelete
  9. Sabar ya..jangan disesali krn ternyata dapat kenikmatan yg lain. Semoga besok2 bisa lebih baik
    Aamiin

    ReplyDelete
  10. jika bersabar insyaallah akan lebih banyak rejeki yg banyak sbg pengganti mbak.. mgkn itu bukan karma, tetapi hanya tanda berhikmah baik, terbukti si kecil malah jd lahap makan dan ASI, waah itu rejeki yg berlipat ganda :-)

    semangt

    ReplyDelete
  11. Nich anak kok seenak udele yaaa, dulu aku juga les tapi jadwal nya pasti ngak seenak nya. Seminggu 3x senin rabu jumat jam 2 siang hehehe

    ReplyDelete
  12. Anaknya gak dibilangin sama emaknya apa gemana ya, masa seenaknya aja gitu

    ReplyDelete
  13. rizki gak pernah salah alamat atau datang terlambat, ka... tetep semangat mendidik yaa :)

    ReplyDelete
  14. Semua profesi memang butuh kesabaran ngadepinnya ya. Seperti anak yg les itu, dia dikirim Allah pasti ada hikmah yang baru kita sadari kemudian. Ikhlaskan dan sabar, insyaaAllah ada ganti yang lebih baik :)

    ReplyDelete
  15. Buka usaha pagar dan teralis di daerah mana mbak? kali deket rumahku #malahnanya :D

    ReplyDelete
  16. Semangat mbak ika..rezeki tidak pernah tertukar :D

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!