Wednesday, 21 June 2017

Hobi Mengkritik Orang


Ku lirik jam dinding.

"Ah, sudah pukul 14.00. Aku belum ini belum itu." Ku pakaikan baju lengan pendek ke Kak Ghifa. Tak lupa topi di kepalanya.

"Kakak turun dulu. Ummi mau ngeluarin motor ya."

Saat motor hendak ku starter, tiba-tiba ada tetanggaku lewat.


"Panas-panas mau ke mana? Mau keluar kok cuma pakai baju singlet. Tega banget sama anak." komentarnya sambil menyuapi anaknya.

Entah setan mana yang membuat mulutku ini menyambar tetanggaku yang terkenal rese itu.

"Apa? Nggak salah dengar? Jenengan bilang saya tega sama anak? Lha harus pakai baju apa to kalau keluar siang-siang gini? Jaket? Sudah pakai baju lengan pendek, pakai topi. Masih dibilang tega sama anak? Situ punya kaca nggak sih di rumah? Sebelum komentar itu mbok ya o ngaca dulu. Situ tadi pagi, masih pagi buta, dingin pula, bawa anak ke pertigaan hanya pakai kaos dalam. Saya rese ke jenengan? Nggak kan? Kayak gitu tega nggak sama anak? Huh!"

Dia hanya diam. Mak cep.



Aku langsung tancap gas ke apotek. Di jalan aku hanya beristighfar. Kok ya, aku ini turah lambe banget. Tapi, dalam hati aku gemeeessss. Kok ya bisa-bisanya komentar seperti itu padahal apa yang dilakukannya saja belum tentu sudah baik.

Jangan-jangan selama ini aku juga seperti itu, hobi banget mengkritik orang. Terus membuat kesal orang lain. Ya Allah...

Sering kali kita sibuk dengan kehidupan orang, mengomentari ini dan itu. Akan tetapi, kita lupa mengomentari hidup kita sendiri. Pernah seperti itu?

Sebenarnya, ada juga yang berkomentar dengan tujuan yang baik. Tapi, cara penyampaiannya yang salah. Eh, ada juga, komentar yang kayak tetanggaku itu, hanya untuk membenarkan kalau dirinya yang paling baik dalam mengasuh anaknya.

Apa yang tidak kita suka dari orang lain, sesungguhnya kita pun juga tak mau itu ada dalam diri kita. Bagaimana caranya agar 'itu' tak ada dalam diri kita? Caranya, sering introspeksi diri. Tapi, introspeksi diri kan tak mudah dilakukan. Karena hal itu butuh hati yang lapang selapang-lapangnya untuk menerima kekurangan dalam diri dan mengubahnya ke hal yang lebih positif.

Mampukah kita melakukannya?

Kesimpulan,
Jikalau diam itu lebih baik, kenapa harus berkomentar? Kalau tak tahu caranya berkomentar yang baik, cukuplah mendoakannya.

Sesungguhnya, sebaik-baiknya pribadi kita adalah yang bisa mengintrospeksi diri sendiri dibanding berkomentar atas hidup orang lain.

Sudah berapa kali, hari ini, kita mengomentari hidup orang lain? Berapa banyak orang yang tersakiti atas komentar kita?

17 comments:

  1. Mb tampilan blognya gantikah? Dibuka dari tabku lumayan manglingi ini

    Hmm bicara tentang kritik mengkritik abiz baca ini langsung manggut manggut, oiya ya kadang harus kita yang jadi wasit atas cara kerja lisan diri sendiri, mana tau kita juga sering bikin kesal orang ya.., jadi sebelum berkata kata or berbahasa tulis, kita harus timbang timbang dulu yes mb kira2 ntar gimana respon yg diajain interaksi.aih tx for the reminder mb

    ReplyDelete
  2. Instropeksi diri sendiri lebih baik, mantap jadi renungan

    ReplyDelete
  3. Aku bukan type orang yang "cangkeman" jadi suka gemesh banget sama orang yang hobi komentar sana-sini.. kalau ada orang yang rese kek gitu paling aku senyumin aja, paling banter aku sautin pake kata-kata sarkas; "situ oke?" atau "udah selesai ngomongnya? makasih loh ya" hahahahaaa



    dhe-ujha.com

    ReplyDelete
  4. Hihihi... Galak amat?😘😁

    ReplyDelete
  5. xixixi... kadang kita memang suka nggak sadar saat mengucapkan kata-kata bisa menyakiti orang lain. Ya yang terpenting intropeksi diri. Setuju saya dengan itu ^_^

    ReplyDelete
  6. Skenario yang terjadi sama Mba Ika, sering banget terjadi di kehidupan ini. Nggak apa2 mba ke turah an Lambe untuk sesuatu yang benar, #sayadukung 😂😅.
    Banyak orang memang lebih pintar menilai orang lain, di banding menilai dan mengaca untuk dirinya sendiri ya.

    ReplyDelete
  7. sering bangett mbakk kayak gitu..
    terkadang saya anggap itu sebagai basa-basi,,
    tapi kok ya basii banget :p

    ReplyDelete
  8. Duh..saya pun kadang gak sadar sibuk ngomentarin hidup orang sampai lupa introspeksi diri sendiri.
    Makasih pencerahannya ya mbak, semoga kita semua bisa lebih bijak dalam berprilaku.

    ReplyDelete
  9. Jadi bahan koreksi buat saya :') memang jaga mulut biar terkendali selalu ada tantangannya tersendiri

    ReplyDelete
  10. Sering banget menghadapi yang begitu Mbak Ika..kadang kalo udah males banget, saya diem aja, tapi doanya minta pahala orang itu yang banyak ditransfer buat saya...hahaha

    ReplyDelete
  11. Waaaa. Aku banget nih. Aku kadang suka ngritik orang mbak, tapi karena tahu itu salah, jadi ya cuma batin aja.

    Meskipun begitu, itu malah buat aku merasa benar sendiri dan enggan berbenah. Hiks.

    Semoga aku bisa berubah.

    ReplyDelete
  12. hmm.. ya begitulah. berkata baik atau diam saja lah :)

    ReplyDelete
  13. Setuju mba.. Memang terkadang lbh bgs diam ya, drpd ntr malah keucap kata2 yg nyakitin.. Aku jg prnh, sesekali pgn ngebalas komen ato kata2 temen, yg nulis di sosmed ttg hal berbau sara. Udh sempet nulis tuh balasannya, tp sblm klik tombol send, mikir lg apa bakal nyeleseiin masalah kalo aku bls begitu, apa ga berarti aku bkl sama aja kyk temenku itu.. Akhirnya ga jd kukirim mba. Tp blsannya aku delete dianya :p

    ReplyDelete
  14. Setuju banget Mba, dikritik dengan tidak baik pasti gak enak, jd jangan semena2 mengkritik orang lain. Saya suka sama kalimat ini Mba, " sebaik-baiknya pribadi kita adalah yang bisa mengintrospeksi diri sendiri dibanding berkomentar atas hidup orang lain."

    ReplyDelete
  15. Aku jarang, malah ga pernah komentar sama orang soalnya aku juga ga mau dikomentarin *kecuali di blog..wkwkwk

    ReplyDelete
  16. Saya kayak gitu juga. Padahal menurut orang lain yang liat,bicara saya biasa aja. Gak nylekit atau nyindir. Tapi malah mikir sendiri, dia gimana ya

    ReplyDelete
  17. Emang yang suka nyebelin itu yang lambe turah itu ya mbak, aku kalau dikritik ma tetangga wah pulang terus ke bandung, garut atau ponorogo, ngenteke duit, banyak duit, tak Aaminkan wae wes, terusan di kantor enak ya duitnya turah2 jalan2 mulu belum ada anak sih, hmm MasyaAllah deh, kalau mood lagi baik kitanya gak apa, tapi kalau pas capek aku jawabin juga, sebel abisnya, ngapain komen wong gak nyusahin mereka kok ya 😀

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!