Saturday, 5 August 2017

Gara-gara Film Taree Zameen Par, Aku Selalu Merasa Tidak Pantas Menjadi Guru



Kalau aku bilang, tahun ajaran kemarin aku meninggalkan satu anak di kelasku (tidak naik kelas), apakah kamu juga akan menghujatku sebagai guru yang tak pecus mendidik muridku?

Aku sudah berlari ke sana ke mari, bertanya, curhat atas keadaan muridku ke beberapa teman sejawat, konsultasi dengan pimpinan, keluarga, sampai pengawas SDku, "Sudah ditinggal saja. Asalkan itu tidak membuat anak tersebut drop out."

***

"Bu Ika, kemarin Y tidak mau sekolah. Katanya malu karena diejek sama teman-temannya (perkara tidak naik kelas)." curhat ibu Y.

Deg! Ini salahku! Kenapa aku tidak menaikkannya saja? Karenaku dia jadi bahan ejekan teman-temannya. Tapi, nyatanya anak tersebut gini gini gini. Keluarganya di rumah juga gitu gitu gitu. Aku mencari pembenaran sendiri. Ngademke pikirku.

Ah, tapi sekarang anak tersebut juga mau menulis walau harus pulang paling akhir. Mau ikut pembelajaran ya walau masih seenaknya sendiri, nggak terlalu sering mengganggu temannya, tidak pernah lagi memukulku, menendangku.

Tapi, itu tak bertahan lama. Hari ini dia malah mengulanginya lagi...

Dia mengambil uang temannya.  Tak hanya satu tapi beberapa temannya. Memukulku, menendangku... Hiks.

***

Beban. Sebenarnya beban banget tidak menaikkan murid. Dilema tujuh purnama. Tapi, mau bagaimana lagi kalau memang selama setahun belum terlihat perubahan? Di kelas hanya bermain sendiri, teman-temannya asyik berdiskusi dia malah rebahan di kursi sampai waktu istirahat tiba. Aku harus bagaimana?

Menegurnya? Rasanya literan air liurku sudah tidak cukup lagi untuk menegurnya. Tak mempan. Otakku selalu berusaha mencari solusi terbaik. Solusi lainnya, lain lagi. Tapi, sering sekali berakhir dengan kekecewaanku sendiri. Setengah hari jadi anak manis, entah selanjutnya. Anak ini susah ditebak.

Yah, mungkin aku yang tak sabaran.

Ada yang bilang di tubuh Y ada 'penghuninya' dan susah sekali diusir. Percaya nggak percaya sih. Tapi pola pikir, cara bicara, tingkah polahnya memang tak sesuai dengan usianya.

Oiya, anehnya lagi, uyeng-uyeng (pusaran di kepala) Y itu lebih dari 3 lho. Kalau orang sepuh bilang makin banyak uyeng-uyeng ya berarti makin susah diatur. Apakah benar?

***

"Hey, Bu Ika, Kowe bojoku (kamu istriku)." kalimat yang sesekali dilontarkan Y kepadaku saat 'kumat'. Setiap hari ada saja teman perempuannya yang menangis sesenggukan lantaran dicium pipinya secara paksa. Setiap kali ketahuan olehku, alasannya, "Wonge ayu kok. Aku seneng wonge. (Dia cantik kok. Aku suka dia)."

Aku harus bagaimana? Memarahinya? Membentaknya? Memujinya? 

"Bu Ika, kowe ayu (kamu cantik), emmuach (sambil kiss bye)." Aku hanya melongo. Heran.

Bisa dipastikan kalau dari rumah sudah nggak mood, jangan tanya, di sekolah dia bisa mukul, nendang, madoni (membantah) dan dunia persilatan masuk kelasku. Temannya pun jadi korbannya juga. Pokoknya Y dan Y terus yang jadi tokoh utamanya. Kalau aku sudah capek, ku biarkan saja dia. Maunya apa ya monggo. Kalau aku sudah nyerah gini dia malah anteng di tempat duduknya.

Aku terus harus bagaimana?

***

Bukan, dia bukan anak disleksia seperti dalam film favoritku, Taree Zameen Par. Entah apa aku harus menyebutnya. Tapi, dari semua saudaranya (2 kakaknya juga muridku) memang terlambat dalam hal akademik. Akan tetapi yang ini akademik jauh, tata kramanya juga. Terlalu 'berani'. Mau dibilang kurang ajar? Ehm, entahlah.


Berbeda dengan Ishaan (Daraheel Safary) yang dilahirkan sebagai anak disleksia di film yang harus ditonton oleh orangtua dan guru itu. Dia susah sekali membedakan antara huruf p dan r, a dan e, dan huruf lain yang hampir mirip-mirip. Dia hidup dengan imajinasinya yang kuat. Sampai-sampai saat diminta gurunya membaca suatu tulisan dia mengaku kalau tulisannya melayang-layang. Hal itu membuat gurunya jengkel dan menganggapnya sebagai anak yang nakal.

Sama halnya dengan orangtuanya, Ishaan dianggap sebagai anak yang nakal, nggak mau nurut, sering buat onar, dan dicap sebagai anak idiot. Sedihnya, sediiih banget, saat akhirnya Ishaan dikirim ke asrama. Jauh dengan kedua orangtuanya. Pas sampai bagian ini Ya Allah, aku nangis dleweran. Kasihan sekali.

Ishaan pun kecewa sekali dengan keputusan kedua orangtuanya. Bukannya makin membaik, justru di asrama Ishaan jadi anak yang pemurung. Di kelas pun dia tetap bermasalah.


Sampai akhirnya, dia dipertemukan dengan guru yang diperankan oleh Aamir Khan, yaitu Pak Guru Ram Shankar Nikumbh. Dengan beliau, Ishaan pun diperlakukan berbeda. Dia diajari melukis, membaca, menulis, dan berhitung dengan cara Pak Nikumbh tadi.

Ishaan ini beruntung bisa bertemu dengan guru yang tepat. Karena eh karena Pak Nikumbh bisa menaklukkan Ishaan karena dulunya beliau juga memiliki kelainan disleksia.


Ketelatenan Pak Nikumbh makin membuahkan hasil saat Ishaan mengikuti lomba melukis. Dari sana, semua orang akhirnya mengakui kalau Ishaan bukanlah anak idiot, sama halnya dengan kedua orangtuanya. Mereka sangat bangga saat tahu Ishaan bisa mendapat juara 1 dalam lomba melukis.

***

Kembali ke Y, bisa jadi aku ini bukan guru yang tepat untuk Y. Setiap kali dia bikin ulah di kelas, aku selalu ingat film yang pertama ku tonton 10 tahun yang lalu ini. Aku juga ingin menjadi Pak Nikumbh yang mampu mengantarkan anak didiknya menjadi anak yang cerdas. Tapi, kok ya rekosone (susah payah) kayak gini? Beginikah cobaan untuk guru? Atau memang aku yang terlalu banyak mengeluh?

Sejauh ini, setiap kali menghadapi anak-anak yang menurutku spesial seperti Y, aku hanya berpikir begini, bahwa setiap anak itu cerdas, punya jalan cerita hidup sendiri. Aku percaya anak yang nilainya selalu di bawah 50 nanti kalau besar juga bisa jadi pilot, pemain film, saudagar kaya, dokter bedah, dsb. Tidak lain yang sering dapat nilai 100 juga bisa kok jadi orang yang biasa-biasa saja. Anak punya sejarah masing-masing. Terakhir, tak melulu penilaian itu tentang angka, melainkan budi pekerti dan keterampilannya juga.

Ah, akhir-akhir ini banyak sekali kejadian yang membuatku makin merasa 'kecil banget' jadi guru. Terimakasih untuk Mbak Untari dan Mbak Isul karena sudah mengulik tentang film favoritku di arisan blog ke 8 ini. Aku makin sadar banyak sekali PR ku untuk menjadi guru yang baik, yang dirindukan anak muridku. Masih pantaskah aku ini jadi guru?

21 comments:

  1. Guru memang sosok yang pantas digugu ditiru, semoga jadi guru yg dibutuhkan semua kalangan . . Kunbal y

    ReplyDelete
  2. Masya Allah mbaa, berat sekali tantanganmu menghadapi murid 'spesial' itu... Betul mba, saya juga percaya setiap anak akan ketemu guru yg akan klik dgnnya shg bisa membuatnya berubah jd lebih baik :)

    ReplyDelete
  3. Mbaak diyaaan semangaaat yaaa. Semogaa terus bisa mengarahkan Y ke arah yang benar. Meskipun saya tahu, cobaannya banyak, rintangannya gak mudah. Heran kok si Y sampai kaya begitu ya, mungkin dia perlu perhatian yang lebih. Atau bisa jadi kabar kalau diri Y ada "penghuni"nya juga benar :" hmmm

    Oiyaa mbak fim Taree Zameen Par jugaa fil favoritkuu, mesti terharu kalau nonton filmyaa. Salut bangeet sama Pak Nikumbh :D nice sharing mbak diyaan :)

    ReplyDelete
  4. aku jd penasaran sama filmnya belum nonton samsek 😁
    btw jgn merasa bersalah mb jd guru mmg tanggungjawabnya besar apa yg sdh mb lakukan menurutku pasti yg lain jg lakuin hal yg sama. dan yg justru aku mau tanyain ortu si Y gmn mendidiknya y dirumah sampe Y begitu?

    ReplyDelete
  5. Lama tidak nonton film india. Habis baca ini trus cari link downloadnya. ntar malam baru nonton.

    ReplyDelete
  6. Waduh kalo aku jadi guru ya mati gaya juga ngadepin si Y nih. Coba dirukyah kali ya.

    ReplyDelete
  7. iya dilema ya, tapi keputusan harus diambil , semangat

    ReplyDelete
  8. Hampir semua muridku begitu mba. Krna social background mereka. Anak2 yg ditinggal ortunya entah kemana. Kalo mba ika lwt film. Aku ngelingene bukunya toto chan mba. Mencoba jadi guru yg baik itu memang ga mudah ya mba. I feel u. Banget2. Tp at least we've tried kalo aku lah... sambil baca alfatihah yg dikhususon untuk kelas yg akan ak ajar setiap hari. Hahahaaa.... toss mba ika. Tetap sumangit yaaaaa

    ReplyDelete
  9. Apakabar aku yang sekolah keguruan tapi ga jadi guru :))) anw aku jadi penasaran sama filmnya. Suka nnton kisah2 inspiratif kek gini juga... Front of the class juga bagus lhoo filmnya.

    ReplyDelete
  10. Biasanya anak yang seperti itu tuh kurang perhatian di rumah, atau ortunya kasar ma dia, tapi muridku mah dulu dari kelas 1 smk pe d1 yang usia belasan pe duapuluhan, aku belum pernah ngajarin anak sd atau tk, mesti keterimanya ngajar tingkat smu keatas, kalau smp ke bawah butuh kesabaran tingkat tinggi, jadi diriku mungkin kurang ya kesabaran buat adepin anak tk, sd, smp mah, pernah dulu ngelamar jadi guru tk dan sd gak keterima hehehe, mesti keterimanya itu tingkat smu ke atas hihi

    ReplyDelete
  11. Kayaknya ada beberapa anak seperti Y, jahil dan kelihatannya sih krn ingin diperhatikan. Cuma dia juga gak tahu kelebihan yg dimilikinya kah, selain tingkah menyebalkannya itu, Ka? Semangat cari tahu ya, karena kita nggak pernah tahu gmn masa depannya. Kalo dia bisa ketemu guru yg bisa mengenai hatinya dlm arti positif, bisa aja dia berubah lebih baik

    ReplyDelete
  12. Selalu suka gaya penulisanmu mba. Sampe nggrantes bayangke Y. Tp anak2 yg keadaan sosialnya dibawah sejahtera memang banyak yang sulit diatur karena ortu sibuk cari uang. Sebenernya sama saja sama anak org kaya banget, ortunya juga jarang punya waktu. Kenapa oranv pny anak kl memang g meluangkan waktu ya. Jd pusing sendiri

    ReplyDelete
  13. mbak ika keren ...jadi pingin lihat filmnya..btw aku juga suka ma amir khan...ganteng bgt n jago akting

    ReplyDelete
  14. Baca ini bikin aku merasa jadi remahan peyek. Ngajar ekskul berasa enteng banget dibanding ngadepin anak-anak spesial kayak muridmu ya mbak

    ReplyDelete
  15. Mbak salut banget dengan perjuangannya...tapi kayaknya memang bukan lingkungan (+guru) yang tepat buatnya... Siapa tahu kalau ditangani wajah baru di tempat baru, dia akan lebih baik...#usul nih :)

    ReplyDelete
  16. Luar biasa anaknyaaa :D.. Salut ama kamu mba, bisa sabar. Itulah kenapa aku ga bisa jd guru, bisa emosi jiwa kalo harus handle murid spesial gitu :(

    ReplyDelete
  17. sebagai pengajar selalu dihadapkan dengan situasi dilema begini ya mbak....
    tetap semangaaat

    belum nonton filmnya, tp pengen nonton banget

    ReplyDelete
  18. Ya ampun, kudu sabarrr yo Mbak. Ada juga ya yg berani bilang seperti itu ke gurunya. Aku baca sambil gedeg2, wah.. memang harus dowo ususe yp Mbak. Harus semangat pantang menyerah!!

    ReplyDelete
  19. saya sepakat sama pendapat yang bilang kalau murid Y pasti punya latar belakang kenapa dia begitu. maka itu dulu yang harus diketahui betul betul oleh guru. kerjasama dengan ortu dalam mengatasi anak itu saya rasa baik. karena kita yakin ya tak ada anak yang terlahir dalam keadaan nakal. pasti ada penyebab. dengan paham masalah, insya allah kita bisa mengatasi dengan sebanyak mungkin cari info tentang masalah si anak dan solusinya.. semangat terus ya buk guru :)

    ReplyDelete
  20. Hai mba. Sebagai guru yang pernah mengajar anak berkebutuhan khusus. Film diatas adalah salah 1 film faviridku n banyak banget lagi ilmu parentingnya. 😃

    ReplyDelete
  21. Ga pernah nonton film india jd ga ngeh klo ada film bagus kek gini. Tak cari ah jd pengen nonton

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!