Cegah Stunting dengan Kebiasaan CTPS di Sekolah - Diyanika Journal

Friday, 28 September 2018

Cegah Stunting dengan Kebiasaan CTPS di Sekolah


Menurut dr Atmarita, MPH, cuci tangan pakai sabun dapat mengurangi risiko stunting hingga 15%*


Setelah kamu membaca judul dan kutipan di atas? Apa yang muncul dalam benakmu? Apakah pertanyaan berikut?

Apa kaitan antara CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) dengan stunting?

Infografis ini kubuat dengan canva.com

Dari infografis di atas dapat dijelaskan kaitan antara stunting dan CTPS adalah apabila seorang anak rajin mencuci tangan, maka dia bisa menurunkan risiko diare. Apabila dia tidak diare, maka gizi yang dikonsumsinya dapat diserap dengan baik oleh tubuh sehingga menurunkan risiko stunting.

***

Orang awam sering mengartikan stunting adalah keadaan kerdil atau lebih pendek dibandingkan orang lain yang seumurannya. Secara rinci, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi**.

Stunting bisa terjadi saat janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Akan tetapi, intervensi gizi saja belum cukup untuk mengatasi masalah stunting. Karena faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan juga berpengaruh untuk kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak.

Aku sudah CTPS, tanganku bersih, aku bebas dari stunting

Dari sisi faktor sanitasi, cuci tangan pakai sabun (CTPS) menjadi salah satu solusi paling sepele yang bisa dilakukan setiap orang untuk pencegahan stunting. Mengapa dianggap sepele? Karena mudah dilakukan, masyarakat tahu akan pentingnya cuci tangan, tapi sering diabaikan.

Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2 persen, meningkat dari tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Artinya, pertumbuhan tak maksimal diderita oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau satu dari tiga anak Indonesia. Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%).***

Membaca hasil riset di atas, bukankah keadaan Indonesia sangat memprihatinkan? Saat ini memang belum terasa. Akan tetapi, apabila anak-anak Indonesia mengalami stunting, otomatis memiliki kemampuan kognitif yang rendah, dan tentu ke depannya akan mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang bagi Indonesia. Oleh karena itu, kenapa tidak kita biasakan CTPS di lingkungan kita untuk membantu kemajuan Indonesia Sehat dengan cara yang paling mudah?


Terima kasih PAMSIMAS

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) adalah salah satu program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia, program ini dilaksanakan di wilayah perdesaan dan pinggiran kota sejak tahun 2008. Karena menuai kesuksesan, PAMSIMAS menjadi salah satu program andalan nasional (Pemerintah dan Pemerintah Daerah) untuk meningkatkan akses penduduk perdesaan terhadap fasilitas air minum dan sanitasi yang layak dengan pendekatan berbasis masyarakat.

Dua kamar kecil dari PAMSIMAS

"Selamat, Bu Ika, harapan njenengan untuk punya wastafel di kelas akan terkabulkan." 

Aku bahagia sekali saat guru senior memberitahu kalau sekolah kami akan mendapat sumbangan dua kamar kecil dan enam wastafel dari PAMSIMAS. Selama ini aku memang sering mengeluh kepada teman sejawat ataupun pimpinan untuk dibuatkan kran di beberapa titik. Akan tetapi, karena dana sekolah sering kekurangan, akhirnya aku pendam saja keinginan itu.

Bagiku, keberadaan tempat cuci tangan di sekolah itu sangat perlu. Apalagi untuk anak SD. Aku yang tiga tahun ini mengajar di kelas 1 SD, mengaku sangat butuh. Terlebih lagi untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013. Pada pembelajaran ini anak-anak sering sekali membuat keterampilan seperti menggunting, menempel berbagai benda, plastisin, figura dari bubur koran, finger dan hand painting, membuat gantungan kunci, dsb. Semua keterampilan tersebut tentu membuat tangan anak-anak kotor dengan bahan yang digunakan. Belum lagi kalau mereka jajan sembarangan. Bukankah kuman itu ada di mana-mana?

Sebelum ada wastafel, pagi-pagi sebelum masuk kelas, aku selalu berinisiatif menyediakan ember besar berisi air di depan kelas. Saat selesai pembelajaran, satu per satu mereka akan antre mencuci tangan. Apa yang aku lakukan? Aku berdiri di dekat mereka untuk mengawasi dan mengantisipasi apabila ada anak yang main air dan sabun.

Wastafelnya siap dipakai


Sungguh, secara pribadi, aku mengucapkan terima kasih kepada PAMSIMAS karena sudah melirik SDku untuk mendapat jatah sumbangan kamar kecil dan wastafel. Ini sangat membantu kinerjaku sebagai guru. Terlebih lagi ini membuktikan bahwa pemerintah tidak main-main dalam menggarap negeri ini agar terbebas dari stunting.


Guru Berperan dalam Pencegahan Stunting Sejak Dini

Digugu lan ditiru, dipercaya dan dijadikan teladan, begitu kepanjangan dari guru dalam bahasa Jawa. Orang tua anak-anak di sekolah adalah aku, gurunya. Keberlangsungan hidup mereka selama di sekolah adalah tanggung jawabku. Oleh karena itu, aku memiliki andil cukup besar dalam membentuk kebiasaan hidup mereka ke depan.

Kamu pasti pernah mendengar atau mungkin mengalami sendiri.

"Anakku itu kalau yang memberi perintah gurunya mau menurut. Tapi, kalau dengan orang tuanya malah melawan."

Aku sering sekali mendapat pengaduan seperti di atas. Bahkan, aku sering dimintai tolong.

"Bu, Danu masih ngedot, tolong diberi tahu ya, Bu."

"Bu Ika, Afika tolong dinasihati kalau sekolah suruh bawa sepeda sendiri. Jangan minta dijemput terus. Kapan mandirinya?"

"Bu, Arif kalau di sekolah kok mau ya nulis. Tapi, kalau di rumah, suruh belajar susah. Tolong dinasihati ya, Bu."

Dan masih banyak lagi keluhan-keluhan orang tua muridku.

Kugunakanlah peran itu untuk menanamkan hal atau kebiasaan baik kepada anak didikku. Salah satunya adalah kebiasaan untuk CTPS. Apalagi CTPS ini juga masuk dalam materi pembelajaran pada Tema 1 Diriku, Sub Tema 3 Aku Merawat Tubuhku. Tak lupa kusampaikan juga kepada anak-anak tentang 5 waktu CTPS yang disarankan, diantarnya sebelum makan, sesudah buang air besar, sebelum memegang bayi, sesudah menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan.

Materi CTPS di buku siswa

Tepatnya dua minggu yang lalu, akhirnya wastafel di kelasku sudah bisa digunakan. Karena materi CTPS sudah berlalu, aku tinggal memberi penguatan saja akan pentingnya CTPS dengan menggunakan video yang aku download dari Youtube seperti berikut.




***

"Tadi kan baru selesai Jumat bersih (memungut sampah di lapangan), kalian tidak cuci tangan dulu sebelum makan bekal?!"

Tantangan yang kuhadapi adalah ketidak-disiplinan anak-anak. Aku sering marah-marah kalau ada anak yang lupa mencuci tangan sebelum makan bekalnya. Akan tetapi, aku sendiri pun sadar kalau ini adalah hal baru bagi mereka. Jadi, aku tak henti-hentinya untuk memberikan teladan kepada mereka dan tidak lelah untuk mengingatkannya.

Selain itu, sebagai guru, untuk menyukseskan CTPS di sekolah, aku harus memperhatikan betul kebutuhan untuk CTPS. Misalnya, menyediakan sabun untuk cuci tangan dan handuk/lap/tisu. Tidak lupa juga selalu mengingatkan tata cara CTPS yang benar.

Alhamdulillah, setelah dua minggu ada wastafel, kesadaran mereka untuk CTPS sudah lumayan. Tanpa disuruh, saat jam istirahat mereka sudah mencuci tangan. Bagusnya lagi, mereka tidak berebutan wastafel yang jumlahnya satu berbanding tiga puluh tiga.

Harapanku untuk CTPS di sekolah adalah anak-anak bisa membawa kebiasaan baik ini di keluarganya. Karena apabila kebiasaan itu terjadi juga di rumah, secara tidak langsung anak-anak menjadi tangan panjangku. Mereka akan mengedukasi anggota keluarganya yang lain untuk sadar akan pentingnya CTPS.

Tetap mendampingi anak-anak saat CTPS

Melalui tulisan ini, aku juga ingin mengajak guru di luar sana untuk ikut serta dalam mencegah stunting dengan membiasakan CTPS di sekolah. Kalau di sekolahmu sudah ada wastafel, gunakanlah dengan baik dan selalu beri perhatian khusus kepada anak-anak akan tata cara CTPS yang benar. Kalau sekolahmu belum ada wastafel, gunakanlah air yang ada, khususnya air mengalir dan sabun untuk CTPS. Karena keterbatasan materi dan media bukanlah penghalang bagi kita untuk berkontribusi membangun negeri ini agar lebih maju lagi ke depannya.

Yakinlah, kamu bisa kok membanggakan Indonesia hanya dengan CTPS!



Sumber bacaan:
*dilansir dari lifestyle.okezone.com
** dan *** www.mca-indonesia.go.id
http://new.pamsimas.org/media.php?module=detailberita&id=936&cated=11
http://www.ampl.or.id/program/program-nasional-penyediaan-air-minum-dan-sanitasi-berbasis-masyarakat-pamsimas-/2
https://lifestyle.okezone.com/read/2017/10/21/196/1799877/kebiasaan-mencuci-tangan-ternyata-membawa-dampak-positif-bagi-perkembangan-anak
http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20180918/3827958/kemenkes-utamakan-pencegahan-dan-perlindungan-kesehatan-bagi-generasi-penerus-bangsa/
http://www.depkes.go.id/article/view/18091700004/menkes-nila-moeloek-generasi-indonesia-jangan-stunting.html

39 comments:

  1. Iya ctps memang betul bisa mencegah stunting, wah pamsimas, inget kakak iparku dan suaminya yang kerja kontrak di pamsimas oernah di purwodadi, sragen, pacitan, surarejo dan ponorogo heuheu

    ReplyDelete
  2. Bu Guruuu komplit banget perannya. Sampai ctps pun diajarkan. Kalo ngga salah ni ada jingle atau lagunya juga mbak di youtube. Biar makin semangat anak2 ctps nya ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  3. Salah satu program PHBS ya. Jd inget dulu pas turun lapang ke SD SD salah satu yang ditekankan cara mencuci tangan yang benar. Sampai buat poster & lagu2 :)

    ReplyDelete
  4. Kukira stunting itu udah bawaan lahir...

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah... Akhirnya Bu guru Ika nggak repot nyediain air di ember lagi dan anak-anak bisa mudah ctps.
    Di rumah pun harusnya selalu dibiasakan ya, lha tapi anakku masih maunya cuci tangan sambil mainin sabun cuci ๐Ÿ™ˆ

    ReplyDelete
  6. Yah, kadang anak-anak tuh cuci tangannya cuma pake air aja, males kalo diminta cuci tangan pake sabun. Padahal penting banget ya agar bersih terbebas dari kuman penyakit. Aku baru tau CTPS itu bisa mencegah stunting, kirain itu memang udah dari bawaan nya gitu.

    ReplyDelete
  7. Tulisannya inspiratif bu Ika, bener sekali guru memang menjadi teladan, dan bu ika sudah berhasil memberi telada kepada para murid untuk CTPS

    ReplyDelete
  8. seneng deh melihat sekolah tersedia kamar mandi, air bersih dan wastafel seperti itu. Jadi, stunting itu permasalahan yang bisa dilihat dari berbagai sudut ya. Tks sharinya Mbak,

    ReplyDelete
  9. Anak-anak saya juga sedang saya biasakan selalu ctps, Mbak. Dan dengan sabun yg memang mudah mereka pake, tinggal pencet gitu. Karena kadang cuci tangan gak pake sabun salah satu alesannya ya itu, ribet dgn sabunnya.

    ReplyDelete
  10. Tadinya aku nggak nangkap korelasinya loh, setelah baca blog mba IKa jadi ngerti deh. Wah, biasain anak CTPS ah biar gak stunting

    ReplyDelete
  11. ak baru tau hubungannya CTPS ke stunting seperti itu. Tapi memang wajib banget ya cuci tangan itu apalagi anka stunting di Indonesia cukup tinggi

    ReplyDelete
  12. Bener banget, CTPS juga bisa mengurangi risiko stunting ya. Dengan CTPS, anak jadi lebih sehat. Gizi yang masuk tubuh pun semakin banyak. Semoga gerakan CTPS bisa memasyarakat di seluruh lapisan.

    ReplyDelete
  13. Ketoke simple yo mba. Mung cuci tangan bisa timbul perkoro sing macem2. Dari diare hingga stunting

    ReplyDelete
  14. Jadi ingat dulu zaman sekolah sengaja disediakan tempat cuci tangan tiap kelas. Pokoknya kudu belajar bersih2 mulai dr cuci tangan. Ini juga kuajarin pd ponakanku

    ReplyDelete
  15. Jadi inget waktu SD, karena ngga ada wastafel, anak-anak yang kebagian piket dapet tugas mengisi air pake ember, lalu ditaruh di depan kelas. Sekarang Alhamdulillah banyak sekolah yang sudah ada wastafelnya yaa..

    Betewe, ngga hanya orang tua muridnya Mbak Ika yang merasa kalau anak-anak lebih mudah dikasih tau sama guru. Anakku juga gitu.

    ReplyDelete
  16. kebiasaan cuci tangan pakai sabun memang sering dilupakan ya,a contoh aja kebiasaan orang biasanya ctps cuma pas setelah makan karna biar tangan ga bau, sebelum makan biasanya suka pada cuci tangan biasa aja ga pake sabun padahal lebih beresiko makan tanpa ctps ya

    ReplyDelete
  17. anakku masih TK dan pemberian info ctps sering banget jd materi disekolahnya biar jd habit ternyata ngaruh jg y mba sama stunting

    ReplyDelete
  18. aku nih rewel banget sama anak2 untuk cuci tangan pakai sabun ini

    ReplyDelete
  19. Sebenernya CTPS yg baik dan benar ini juga masih jadi pr di rumah kami, anak2 kalau cuci tangan maunya buru2 aja. Moga2 semua sekolah makin mendisiplinkan program ctps yaa, membantu ortu membiasakan anak2 cuci tangan yg benar.

    ReplyDelete
  20. bagus nih penjelasannya...mudah-mudahan banyak anak yang paham dengan pentingnya cuci tangan ya mbak.

    ReplyDelete
  21. Oo CPTS itu Cuci Tangan Sebelum Makan ya, saya kirain semacam alat atau apa gitu. Memang nih harus dibiasakan CPTS dulu sebelum makan, bukan hanya pada anak bahkan semua ya :)

    ReplyDelete
  22. Wah, betul juga ya Ika.... Saya baru ngeh kalau cuci tangan juga bisa mencegah stunting dari sudut pandang baru. Memang ngeri si ya mbak kalau anak-anak sampai diare.... Kelihatan sepele untuk orang dewasa, tapi bisa fatal juga dampaknya....

    ReplyDelete
  23. Huaaaa.. Pantes aja saya gendut karena saya suka cuci tangan. Makasih infonya mba.

    ReplyDelete
  24. Ctps, hal yg sederhana tp banyak pengaruhnya buat kesehatan ya mbk. Salah satunya soal stunting ini. Makasin infonya bu guru kecee

    ReplyDelete
  25. Oh...betapa pentingnya cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
    Memang adab makan Rosululloh kalau diterapkan benar-benar dalam kehidupan, banyak mengandung hikmah yaa, mba...

    ReplyDelete
  26. Bagus mbak programnya. Pas banget ya antara pembelajaran dan penerapannya. Semoga kasus stunting di Indonesia akan semakin bisa ditekan dengan usaha usaha bersama

    ReplyDelete
  27. Wah iya ya mba, kebiasaan yang terlihat sepele ternyata bisa efektif juga untuk.mencegah stunting

    ReplyDelete
  28. Aku pribadi berpendapat semua bermula dari keluarga.
    Jika di rumah terbiasa higienis dan menjaga kebersihan, buah hati akan menjadikan itu kebiasaan.
    Memberikan reward setiap buah hati mengamalkan kebaikan bisa juga tuh diamalkan.
    Ga mesti yang mahal, sebuah pujian atau pelukan, lebih dari cukup!
    Mencegah stunting memang kewajiban moral kita semua.

    ReplyDelete
  29. Selamat ya mbak. Yeay asik sekarang ada wastafel di kelas.
    Fasilitas oke, gurunya juga oke banget. Emang cuci tangan pakai sabun kesannya hal kecil, tp pengaruhnya besar. Semoga stunting bisa teratasi di Indonesia tercinta ini.

    ReplyDelete
  30. Bagus ya programnya cuci tangan sebelum makan ini di sekolah-sekolah. Apalagi dapat mencegah stunting biar kuman-kuman tidak bisa tidak masuk ke dalam perut keren juga nih program gurunya jadi bisa bersinergi antara di rumah dan di sekolah

    ReplyDelete
  31. Stunting di Indonesia masih merupakan terutama di daerah, moga para ibu semakin teredukasi untuk nutrisi anak. Tentu juga didukung pendapatan ekonomi yang menunjang

    ReplyDelete
  32. Anakku pun masih sering ngeyel kalau diminta untuk CTPS. Cuma mau cipik cipik doang basuh tangannya. Kebersihan memang pangkal kesehatan dan awal disiplin kebersihan dari orang tua dan guru ya. Penting banget nih.

    ReplyDelete
  33. Stunting di kita ini memang masih banyak terlebih karna faktor ekonomi dan kurangnya ilmu pengetahuan. 1000 hari pertama bayi ini yang menentukan kesehatannya di masa depan. Tfs ya mba.

    ReplyDelete
  34. Terkesan sepele padahal tapi imbasnya bisa mencegah stunting.harus diterapkan kebiasaan cuci tangan pakai sabun ini apalagi di sekolah.

    ReplyDelete
  35. Cuci tangan pakai sabun memang terlihat sederhana namun bawa banyak manfaat yaaa

    ReplyDelete
  36. Keren banget deh dari tindakan sederhana bisa mencegah stunting pada generasi anak Indonesia yaa

    ReplyDelete
  37. Kesannya sepele dan mudah yaa cuma cuci tangan doang tapi banyak yang abai. Udah selak lapar langsung aja lap lep apalagi kalo tempat cuci tangan jauh. Untung di kelas udah ada wastafel.

    ReplyDelete
  38. Aku selalu dapat pengetahuan bergizi kalo baca tulisannya Bu Ika. Alhamdulilah ya, Bu Ika sudah mengajarkan dan mengarahkan anak didik ibu untuk melakukan CTPS dalam rangka mencegah stunting.

    ReplyDelete
  39. Aku jadi speechless bacanya, andai banyak ibu guru seperti Diyanika yang aware dengan PHBS. Dan bener loh kalo guru itu lebih digugu dan ditiru oleh anak muridnya

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!