Tuesday, 15 January 2019

Tahukah Kamu Sisi Lain Guru Honorer? Sssttt....Sekolah Membawa Anak



Tahukah Kamu Sisi Lain Guru Honorer? Sssttt....Sekolah Membawa Anak. Memangnya ada? Ada, aku. Kalau saja diminta memilih antara mengajar dengan membawa anak atau tidak, jelas, aku akan memilih tidak membawa anakku, Kak Ghifa. Aku terpaksa membawanya.

Saat aku melihat nilai ujian CPNSku hanya berada di peringkat kedua, satu hal yang terasa berat di hatiku, yaitu tentang siapa nantinya yang akan momong anakku. Selain karena aku ingin memperjuangkan mimpi kedua orangtuaku agar aku jadi CPNS, aku mengikuti semua proses ini agar aku bisa menitipkan anakku di tempat penitipan anak atau orang lain.




((Wajahku gitu banget 😅😅)) Kalau bisa memilih antara membawa anak ke sekolah atau tidak, jelas, aku akan memilih tidak. Ini terpaksa. Kemarin, Senin (14 Januari 2019), aku terpaksa membawa (lagi) Kak Ghifa ke sekolah. Kupikir, Senin aku hanya mengajar pukul 08.00 sampai 08.35, nggak papa lah. Jujur. Namanya bawa anak, fokus mengajarku jelas terbagi. Tapi, aku sangat berusaha untuk maksimal mengajar. Beruntung, Kak Ghifa nggak rewel. Bahkan dia selalu hepi ketika ikut sekolah. Pun ada anak-anak kelas 6 yang dengan senang hati ikut momong Kak Ghifa saat mereka sedang istirahat. Jadi, saat anak-anakku pulang sekolah, aku bisa membereskan administrasi kelas, menyiapkan pembelajaran esok hari dan tetap bisa mengajari mereka membaca. Oiya, aku akan menuliskan cerita atau sisi lainku menjadi seorang guru honorer di blog. Insya Allah nanti agak siang akan aku share link hidupnya di bio. #ceritabuguru
Sebuah kiriman dibagikan oleh Ika Hardiyan Aksari (@diya_nika) pada


((Plis, jangan bilang kalau demi mengajar dan mendidik anak orang aku malah menitipkan anakku kepada orang lain!))


Pikirku, kalau aku jadi PNS, jelas, gajiku akan berkali-kali lipat dari gajiku sebagai guru honorer dan aku bisa menitipkan anakku setengah hari. Ternyata Allah punya rencana lain.

(Ini menurutku) Masalah pun datang. Ibuku yang dulu momong Kak Ghifa, kini ikut bapakku jualan di pasar dan baru pulang pukul 10.00, kadang dzuhur baru pulang. Suamiku memang kerja di rumah, tapi akhir-akhir ini sering mendapat panggilan kerja ke luar rumah. Sempat Kak Ghifa ikut sekolah dengan tetanggaku yang punya anak PAUD, dia mau berangkat semingguan, eh, selanjutnya nggak mau. Lha terus anakku melu sopo?

Tetanggaku berseloroh, "Kamu apa nggak tega kalau anakmu dititipkan di penitipan anak?"

Ini bukan perkara tega nggak tega, wong makan saja masih ndompleng sama orangtua.

Ya Allah, cukupkanlah rezeki keluarga kami. Kutahu semua yang terjadi ini atas kehendak-Mu.

Di situ aku makin merasa gagal menjadi seorang ibu. Apalagi Kak Ghifa kini pintar sekali memprotesku. Setiap pagi pun sering memancing emosiku. Disaat aku sudah siap berangkat sekolah atau dia melihatku membawa handuk, mulai deh.

"Ummi, dulang neh, Ummi." Kak Ghifa minta disuapin lagi padahal sudah makan sepiring.

Susu ditumpahin lah.

Telur sudah digoreng minta digoreng lagi.

Minta pup atau pipis dan kutunggui.

Kaki robotnya pada lepas minta aku yang mencari dan masangin.

Huaaaaaa.....

Aku makin bertanya-tanya dengan kelanjutan hidupku, apakah aku harus bertahan menjadi guru atau lebih baik di rumah menemani anakku?

Kalau saat ini juga ibu dan suamiku bilang stop untuk mengabdi menjadi guru, aku akan berhenti. Sungguh. Hatiku rasanya pilu. Aku sering kelepasan marah-marah sama Kak Ghifa. Padahal ini jelas bukan salahnya. Maafkan, Ummi.

Kak Ghifa yang hobi naik sepeda

Sampai akhirnya aku berada di titik terendahku, aku kelepasan menangis di depan Kak Ghifa. Selama ini aku hampir nggak pernah menangis di depannya. Tapi, kelepasan.


“Ummi, Ummi nangis? Ojo nangis, Mi.” ucapnya sambil menyentuh ujung mataku yang meneteskan airmata.


Hati ibu mana yang tak luluh lantah? Ummi ini nggak lagi strong seperti dulu, Kak. Maaf, Ummi menangis di depanmu.

Hari ini (14 Januari 2019), aku terpaksa membawa (lagi) Kak Ghifa ke sekolah. Karena hari Senin aku hanya mengajar dari pukul 08.00 sampai 08.35. Setelah itu anak-anak akan diajar oleh guru pendidikan agama islam dan budi pekerti. Okelah, nggak masalah, pikirku.

Akan tetapi, apa yang terjadi kalau aku sampai membawa anak ke sekolah? Jelas, pembelajaran tidak bisa berjalan maksimal seperti biasa. Saat asyik-asyiknya ngajar anakku minta minum, nggak fokus deh, mau nggak mau pembelajaran jadi berhenti sebentar. Anak-anak pun ikut-ikutan memperhatikan anakku.

Sebenarnya anak-anak hepi kalau anakku ikut sekolah, tapi aku sendiri merasa ruang gerakku terbatas. Pernah lho, saat pembagian rapot semester 1 kemarin, aku presentasi di depan wali murid dengan menggendong Kak Ghifa yang rewel. Setelah digendong, dia tidur. Satu jam lebih aku presentasi di depan wali murid dengan menggendong Kak Ghifa, luar biasa rasanya. Terima kasih, Bapak Ibu mengerti keadaanku. Mereka juga dengan senang hati membantuku saat membagikan rapot dan selebaran informasi. Terima kasih banyak.

Bagaimana dengan teman guru yang lain saat aku membawa anak ke sekolah? Mereka biasa saja. Asalkan tugasku terselesaikan. Akan tetapi, namanya orang hidup, pasti ada yang suka dan tidak. Aku sadar akan hal itu. Merekapun tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi soal menaikkan gaji. Uhuk!

Aku beruntung memiliki anak-anak yang mengerti akan posisiku. Baik Kak Ghifa maupun anak-anak di sekolah. Selama di sekolah, Kak Ghifa kalau rewel ya nggak se-ekstrim kalau di rumah, dia tahu sedang berada di mana. Terima kasih, Kakak.

Kak Ghifa main dengan anak-anakku kelas 6

Kemudian, Kak Ghifa juga betah kalau di sekolah. Dia tidak pernah meminta untuk pulang. Jadi, pulangku ya tepat sesuai jam pulang seperti biasa. Mungkin karena di sekolah banyak teman-temannya. Saat muridku kelas 1 sudah pulang, jelas aku harus menyiapkan pembelajaran esok hari dan melengkapi adminstrasi kelas. Nah, anak-anak kelas 5 dan 6 sering ke kelasku, kemudian mengajak Kak Ghifa bermain. Alhamdulillah, bukankah benar, bersama kesulitan ada kemudahan yang Allah berikan.

Sampai saat aku menuliskan postingan ini, sepanjang sujudku, tak kenal lelah, satu doa ini tak pernah kulupakan. Aku memohon kepada Allah, jika memang menjadi guru ini adalah jalan hidupku, kumohonkan atas rezekiku di sana. Kumohon kepada-Nya agar menjaga selalu anakku di saat aku mengabdi ke masyarakat. Kalaupun tidak, aku ingin sekali mendidik Kak Ghifa di rumah. Aku mohon dimudahkan.

Sesungguhnya, kini, menjadi guru adalah passionku. Ah, sudahlah, kupercayakan semua kepada Allah

Kamu pernah mengalami hal yang serupa (tapi tak sama) sepertiku?

Thursday, 3 January 2019

Pras dan Kotak P3K

Pras dan Kotak P3K - Aku makin sadar bahwa tugasku menjadi guru tidak hanya mendidik, melainkan juga merawat dan melayani anak didikku dengan sepenuh hati.

Pagi tadi, saat anak-anak berolahraga, aku berkutat dengan laptop dan buku tabungan mereka. Saat aku sedang serius menghitung uang, tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundakku. Jelas aku terkaget.



"Loh kamu nggak ikut olahraga?"

Wajah anak laki-laki di depanku tampak pucat dan berkeringat.

"Nggak, Bu. Aku tadi eek lagi."

"Lho kamu eek lagi? Bukannya tadi sebelum berdoa kamu sudah eek? Perutmu sakit? Tadi pagi makan sambal?"

Anak bernama Pras itu hanya mengangguk lesu. Segera kuantarkan dia ke tempat duduknya. Sembari berjalan kupikirkan langkahku selanjutnya.

"Ibumu di rumah?"

"Ndak, tandur (menanam padi di sawah)."

"Bapakmu?"

"Kerja di tempat si mbah."

"Ok, Bu Ika antar pulang saja ya? Badanmu gemeteran gini."

Maukah dia kuantar pulang?

Tidak.

Berkali-kali kutawari tetap saja tak mau. Dia malah mau menangis. Oke, option lain nih.


"Kamu di sini saja, Bu Ika beli obat dulu. Kamu mau kan minum obat? Biar cepat sembuh perutnya."

Dia mengangguk.

"Perutmu mules? Pokoknya kalau mau eek lagi, keluar saja. Kalau nggak kuat, teriak ya."

Aku segera bergegas mengambil motorku di gudang. Di tengah jalan aku bertemu penjaga sekolahku yang membawa teh hangat. Kuingat bahwa teh hangat bagus untuk mengatasi masalah perut.

"Pras, ini ada teh hangat, diminum sedikit-sedikit ya."

Kulihat tangannya masih gemetaran.

"Nggak papa, Bu Ika bantu. Pelan-pelan saja. Nggak usah nangis. Kamu gemeter karena perutmu kosong."

Setelah beberapa kali meneguk teh hangat, aku pun pamit kembali. Kunyalakan motorku dan segera menuju toko terdekat. Kubeli obat anti diare dan beberapa perlengkapan kotak P3K ku yang sempat raib digondol tikus, liburan kemarin.

Sesampainya di kelas lagi, keadaan sudah ramai.

"Pras kenapa, Bu?" pertanyaan yang sama dilontarkan oleh semua anak yang ada di sana.

"Mencret."

Mereka semua diam seketika. Kubagi dua tablet anti diare kemudian kuhaluskan dengan sendok yang sudah kuambil dari dapur sekolah. Kuminta Pras untuk makan roti yang tadi kubeli.

"Berani, kan?" tanyaku kepada Pras.

Dia meminumnya dengan semangat. Bismillah. Alhamdulillah obat masuk dengan lancar. Kuoleskan minyak kayu putih ke perut Pras.

"Hiiiii...udele (pusar) Pras ketok (kelihatan)." ucap Dhea.

Semua yang mendengar malah tertawa. Begitu juga dengan Pras. Ah, anak-anak. Hal sepele selalu bisa membuat mereka hepi.

Selesai minum obat, kusarankan Pras untuk tetap minum teh hangat dan memakan rotinya sedikit demi sedikit. Aku juga sempat membujuknya untuk pulang, tapi tetap saja nggak mau.

Baiklah. Setelah kunasihati, "Pokoknya kalau ada apa-apa, panggil Bu Ika ya."

Eh, tahu-tahu pas jam istirahat mau selesai, sekitar pukul 09.00 WIB, dia pegang sapu.

"Lho Prass, perutmu nggak sakit lagi?"

Dia cengengesan dan mengaku sudah enakan. Raut mukanya juga sudah memerah. Tak sepucat tadi pagi.


Belajar dari kasus Pras, aku makin sadar kalau kotak P3K itu memang benar-benar harus ada di setiap kelas. Sebenarnya sekolahku ada UKSnya. Tapi, karena nggak ada yang mendapat tugas jaga dan merawat, kemudian digunakan untuk ruang latihan tenis meja, yaaa gituuu deh. Hilang semua tuh.

Akhirnya semenjak tahun ajaran baru kemarin, kubeli deh perlengkapan P3K dan kusimpan di kelasku sendiri. Ada obat merah, minyak kayu putih, pembalut luka, kapas, dan revanol.

Namanya juga tempat umum ya, kabar kalau P3K kelas 1 lengkap, eh, selalu jadi tujuan kalau ada anak yang terluka. Aku ya nggak masalah. ASALKAN kalau sudah selesai dikembalikan. Begini deh kalau KEDISIPLINAN siswa nggak dipupuk sejak dini dan dari hal yang sepele. Bahkan saat aku sakit tipes, ketika aku kembali ke sekolah, isi kotak P3K ku berantakan semua dan hilang satu per satu. Hadeh.

Lama-kelamaan, isi kotak P3K ku kembali seperti semula bahkan kutambah sisir, jarum, benang, pemotong kuku, dan gunting. Ah, semua untuk anak-anakku. Rencana ke depan ingin kutambah tablet diare dan penurun panas.

_____________________________________

Betapa aku makin sadar bahwa menjadi guru itu tidaklah mudah. Perkara printilan seperti kotak P3K saja harus kuperhatikan. Apalagi di sana juga terselip pelajaran-pelajaran hidup yang harus dipahami dan diterapkan oleh anak didikku agar kelak menjadi anak yang berkarakter.

Betapa bodohnya diriku karena sempat muncul keinginan untuk memulangkan Pras saja karena tidak mau repot. Tapi, jujur aku takut kalau dia kenapa-napa. Beruntung, Pras memiliki semangat belajar yang tinggi sehingga dia tetap bertahan di kelas.

Sehat selalu ya, anak-anak Bu Ika. Terima kasih kalian memberikan pelajaran atas nama "bertanggungjawab" kepada Bu Ika. Bukankah memang tugas Bu Ika di sekolah seperti orangtua kalian di rumah? Merawat kalian dalam sehat maupun sakit. Baik suka maupun duka. Uhuk!

Tuesday, 1 January 2019

Uang Hasil Ngeblog untuk Apa?


Uang hasil ngeblog untuk apa? Hayo untuk apa? Atau ngeblog sudah dapat apa? Halah, penghasilan belum seberapa sudah pamer. Bukan, bukan gitu maksudnya. Justru kalau belum seberapa harus bisa menjawab judul di atas. Sebelum terlambat sepertiku. Kalau sudah terencana dengan baik, boleh lah sharing di komentar.



Aku teringat kisah seorang bloger, perempuan pula, dia bisa membeli beberapa hewan ternak berkaki empat dari ngeblog. Keren ya? Nah, saat aku membaca kisahnya, otomatis aku mikir, lha aku ngeblog selama ini dapat apa? (Plis jangan jawab dapat ilmu dan networking lah, ini sudah pasti)

Aku ngeblog yang benar-benar bisa menghasilkan uang itu sekitar tiga tahun terakhir ini. Uangnya bisa dari menang lomba atau fee menulis. Kalau soal hadiah lomba blog dalam bentuk barang nggak aku bahas ya. Nah, soal uangnya ini ke mana saja?

Setelah kurenungkan, muncul deh kesalahan-kesalahan yang ternyata kubuat sendiri dan ini fatal banget. Satu, selama ini aku tidak pernah mengalokasikan uang hasil ngeblogku itu khusus untuk apa. Pokoknya kalau dapat transferan ya butuhnya apa, ya dipakai. Uang dicampur aduk jadi satu dengan pemberian suami. Kedua, aku tidak pernah membuat catatan keuangan. Yo wis, uang blabas ke mana nggak jelas. Tahu-tahu dompet kosong saja. Penyesalan datang belakangan.

Nah, belajar dari pengalaman dari tahun ke tahun, kemudian mendapat inspirasi dari bloger lain, akhirnya kuberanikan diri untuk berubah. Sekarang, setelah jalan setahunan, memang rasa ngeblogku berbeda. Lebih terarah. Agak pintar sedikit. Hihihi. Namanya juga belajar ya.

Saat ini aku sudah lumayan sukses konsisten dengan perubahan pengelolaan uang hasil ngeblog. Dan aku pun sangat bangga dengan diriku sendiri. Kenapa seperti itu? Ya karena aku ini bukan tipe orang yang bisa hemat alias boros akut. Tipsnya apa? Setidaknya ada tiga catatan penting yang kuterapkan agar uang hasil ngeblogku lebih terarah. Diantaranya berikut ini:
  1. Aku menggunakan mobile banking yang hanya bisa untuk mengecek saldo saja. Jadi, tanganku nggak gatel untuk transfer sana-sini, beli ini itu yang nggak jelas.
  2. Kugunakan hanya satu nomor rekening untuk menerima uang ngeblog.
  3. Kukumpulkan dulu uang ngeblog paling nggak sekitar sejutaan baru kemudian kucairkan.
Kalau ditanya, uang hasil ngeblog untuk apa? Aku sudah bisa menjawab dengan percaya diri, kira-kira kugunakan untuk:


50% untuk ditabung

Dari kecil aku nggak terbiasa menabung. Untuk makan saja susah, begitu kalau kata ibuku. Akan tetapi, semenjak punya anak, keadaan yang mengubahku. Aku teringat saat Kak Ghifa masuk rumah sakit karena nggak bisa kentut (aku ceritakan di Mau Kentut Kok ke Rumah Sakit Dulu). Saat itu aku nggak pegang uang sepeserpun. Aku tidak lagi mengandalkan BPJS. Kalut pikiranku. Alhamdulillah, lagi-lagi pertolongan Allah selalu ada.

Setelah kejadian itu, mau nggak mau harus punya tabungan. Aku nekad, entah uang darimana, pokoknya harus punya tabungan. Kucoba berbagai tabungan, mulai dari tabungan berencana, tabungan emas di Pegadaian, investasi emas, investasi reksadana, sampai ikut arisan RT. Akhirnya, kutemukan tabungan yang paling nyaman dan tepat untukku, sesuai kebutuhanku pula.

Untuk tabungan ini aku memiliki beberapa pos, setiap kali mencairkan uang hasil ngeblog, kupilih salah satu pos. Nanti saat pencairan berikutnya mengisi pos yang lainnya. Alhamdulillah, melihat hasilnya membuat hati bungah. Aku percaya akan pertolongan Allah, tapi paling tidak kalau punya tabungan (walau tidak seberapa) hidup lebih terencana lho.

25% untuk orangtua

Kita tak akan bisa membalas jasa orangtua. Kebahagiaan mereka memang tidak bisa kita beli dengan uang, paling tidak bisa berbagi dengan mereka rasanya begitu menyenangkan. Eh, membelikan mereka pulsa, buah-buahan, baju, atau tas. Kesannya sepele, tapi insya Allah akan memberikan kesan tersendiri kepada orangtua.


Sebenarnya aku sering sekali sedih. Aku anak tunggal, tapi kok aku hanya guru wiyata bakti dengan gaji per bulan 300 ribu. Usaha suamiku juga baru merintis, kadang ada orderan, seringnya nihil. Aku masih numpang sama orangtua, duh, pokoknya kalau dihitung-hitung soal materi memang nggak akan ada ujungnya. Maka dari itu, sekecil apapun penghasilanku, ingin rasanya berbagi kepada orangtua, pun mertua. Tak lupa kuucapkan syukur kepada Allah, sekalipun gajiku hanya segitu, Allah selalu menghadirkan rezeki (materi) lewat passion menulisku.

 

10% untuk membeli buku

Ibarat otak selalu bekerja tapi masak iya sih nggak pernah diberi makan? Aku ini lagi gandrung-gandrungnya membeli buku. Lah dulu mana bisa beli buku sendiri?

Aku ingat saat masih kuliah, setiap kali akan ada bazar buku, kurela makan hanya sama nasi putih dan tempe mendoan  (2 ribu perak seporsi) berminggu-minggu. Setelah itu cari stand dengan diskon paling gede. Buku apapun kubeli, asal aku bisa baca. Kalau mentok nggak punya uang ya harus bahagia hanya dengan nongkrong di perpustakaan sepanjang jam istirahat.



Dasar manusia, sekarang bisa beli buku malah alasannya nggak punya waktu untuk membaca. Duh, parah! Tapi kuusahakan paling tidak sehari membaca buku selama 30 menit. Biasanya kulakukan saat menunggu jam pulang ngajar atau hendak tidur siang.

Oiya, terkadang aku kalau pas lihat diskon buku, apalagi online kemudian gratis ongkos kirim sering kalap. Kalau sampai harganya melewati jatah uang membeli buku, berarti pas pencairan uang ngeblog selanjutnya nggak ada jatah membeli buku.

 

15% lain-lain

Ehm…ini biasanya buat jajan, beli susu, bakso atau beli es krim di minimarket. Aku, Abi, dan Kak Ghifa sering sekali beli es krim kemudian dihabiskan langsung di depan indom***t sambil menghitung kendaraan yang lewat. Hahaha. Gitu saja sudah bahagia banget. Kalau uangnya masih sisa untuk bantu bayar cicilan motor (Alhamdulillah, Januari ini L.U.N.A.S).


Nah, itu jawaban dari pertanyaan yang ada di judul postingan ini, uang hasil ngeblog untuk apa? Kalau kata orang bijak sih kita perempuan harus melek literasi keuangan. Ya, semoga saja, aku sudah termasuk yang sedikit melek literasi keuangan ini ya. Satu hal juga yang membuatku ingin berubah dalam mengelola rezekiku, yaitu pertanggungjawabannya sama Allah. Rasanya tuh sayang banget kalau pas kita sadar ternyata banyak uang yang kita hasilkan selama ini ternyata untuk hal yang sebenarnya bisa ditunda.

Kalau kamu, uang hasil ngeblog untuk apa saja? Bagaimana mengelolanya? Kalau panjang jawabannya bisa lho jadi satu postingan di blog kamu. Jangan lupa colek-colek link url-nya ya! Insya Allah akan kusambangi.

Friday, 28 December 2018

Sasha Halal Toothpaste, Pasta Gigi Berbahan Siwak



Sasha Halal Toothpaste, Pasta Gigi Berbahan Siwak - Tidak ada alasan lagi untuk tidak mengamalkan sunah Rasul. Karena di zaman now banyak produsen berlomba-lomba untuk memudahkan kita untuk menggapainya. Salah satunya adalah Sasha Halal Toothpaste. Kamu sudah pernah memakainya?

Sasha Toothpaste Herbal Antibacterial

PT. Kino Indonesia telah meluncurkan dua produk varian dari Sasha Halal Toothpaste. Yaitu, Sasha Toothpaste Herbal Antibacterial (dengan siwak dan sirih) dan Sasha Whitening Toothpaste (dengan siwak, lemon dan garam).

Kedua pasta gigi di atas mengandung siwak. Siwak adalah dahan atau akar pohon Salvadora Persica yang digunakan untuk membersihkan gigi, gusi dan mulut. Bahkan dalam Islam dengan jelas diterangkan tentang siwak sebagai berikut:


Dari brilio.net, siwak memiliki banyak manfaat, diantaranya:
  1. Mengandung mineral alami yang dapat membunuh bakteri
  2. Mencerahkan gigi
  3. Menghilangkan plak
  4. Menstimulasi produksi air liur
  5. Bahan antiseptik
  6. Mencegah gigi berlubang
  7. Memelihara gusi

Betapa banyak sekali manfaat siwak, bukan? Sebagai umat muslim pun, aku merasa kehadiran Sasha Toothpaste menjadi kabar yang menggembirakan. Bukankah jalan menuju kebaikan untuk mendapat rida Allah begitu dipermudah?

Sepekan Menggunakan Sasha Halal Toothpaste


Sejak pertama kali mencoba Sasha Halal Toothpaste, aku tidak sabar ingin segera berbagi cerita di sini. Aku sebut, produk ini sebagai pasta gigi terbaik yang pernah kucoba. Rasanya unik.

Sasha Toothpaste Herbal Antibacterial (dengan siwak dan sirih)


Kemasan pasta gigi ini berwarna gold dengan berat 65g. Saat pertama kali melihat isinya, warnanya putih tulang, ada siwak asli dan bau sirihnya kuat. Setelah dicoba, lembut dan semriwing, segar sekali di mulut. Napasku juga harum sirih. Setelah beberapa saat, mulut rasanya terasa kencang. Baru kali ini aku pakai pasta gigi dengan sensasi yang berbeda.



Heranku, kenapa pasta gigi ini pakai sirih? Aku jadi ingat nenek-nenek zaman dulu yang hobi nginang, makan sirih. Menurut Asian Pacific Journal of Cancer Prevention tahun 2011, ternyata mengunyah daun sirih bermanfaat untuk mencegah bau mulut, serta menjaga kesehatan gigi dan gusi. Saat ini sudah jarang orang yang mau mengunyah daun sirih karena rasanya yang 'aneh'. Agar tetap bisa merasakan khasiatnya, Sasha Toothpaste hadir dengan inovasi yang modern.

Sasha Toothpaste Whitening (dengan siwak, lemon dan garam)

Awalnya aku berencana mau menghabiskan pasta gigi yang Sasha Toothpaste Herbal Antibacterial dulu. Akan tetapi, saat berhias diri, tidak sengaja gigiku ternodai oleh gincu. Kusunggingkan bibirku sebelah kanan. Apa yang kudapati? Kok ternyata gigiku kuning ya?



Malam hari sebelum tidur, kucoba Sasha Toothpaste Whitening. Jujur, setelah kejadian gincu yang ternoda itu, tingkat kepercayaanku langsung turun drastis. Betapa selama ini aku percaya diri teriak-teriak dan ngecupris di depan anak-anak ternyata gigiku kuning. Malu.

Berbeda dengan Sasha Toothpaste Herbal Antibacterial, pasta gigi yang dipercaya sebagai pemutih gigi alami ini, warnanya putih bersih, serpihan siwaknya tetap terlihat, dan baunya seperti pasta gigi biasa. Sensasi unik yang kurasakan setelah selesai menggosok gigi adalah rasa lemonnya baru terasa. Ini unik sekali. Saat menggosok gigi nggak terlalu terasa, pas selesai, baru deh berasa lemonnya.

Jadi, sepekan memakai Sasha Toothpaste ini kesan yang kurasakan adalah segar, baunya unik (sirih),  teksturnya lembut, bau mulut kabur dan bibir tidak terasa kering setelah memakainya. Satu lagi, pasta gigi ini halal dan tentunya merasa nyaman karena pasta gigi Sasha mengandung siwak asli, bahan yang disunahkan dalam agama Islam.

Nah, kamu penasaran dengan Sasha Halal Toothpaste? Kamu bisa mendapatkannya di beberapa online shop seperti duniahalal.com. Kutengok harga Sasha Halal Toothpaste Antibacterial yang 150 gr lagi promo 50% jadi 7.800 lho. Atau kamu juga bisa cari di Shopee atau supermarket terdekat. Jangan lupa share ya apa komentarmu setelah pakai Sasha Halal Toothpaste di kolom komentar!

Monday, 24 December 2018

Awas Pneumonia Mengancam Si Kecil


“Anakku ini pernah kena radang paru-paru, Mbak. Dari kelas 3 SD sampai kelas 3 SMP minum obat terus. Setiap bulan kontrol ke dokter. Tapi, saat ini sudah lebih baik keadaannya.” Begitu cerita seorang ibu yang pernah kutemui tahun lalu, di klinik saat antre menebus obat Kak Ghifa yang terkena tifus.

Masih menurut cerita ibu itu, sakit yang menimpa anaknya bermula dari batuk yang tidak kunjung sembuh. Beliau juga menambahkan kalau radang paru-paru itu diperparah dengan kebiasaan ayahnya yang perokok berat dan penggunaan obat nyamuk bakar di rumah.

Batuk yang sembuh dalam kurun waktu lama, orang rumah ada yang merokok, penggunaan obat nyamuk bakar, kok sama dengan keadaan Kak Ghifa dan lingkunganku? Berangkat dari kesamaan itulah, aku jadi waspada setiap kali anakku batuk. Si kecil mana yang tidak pernah batuk? Kak Ghifa pernah lho sebulan bolak-balik ke tenaga medis karena batuk, pilek dan demam.

Batuk, pilek dan demam seperti sudah menjadi sakit langganan bagi si kecil. Aku juga jadi punya jurus andalan untuk menghadapinya. Setiap kali tanda-tanda mulai tampak, aku langsung membuat 'ramuan' yang terdiri dari parutan bawang merah, minyak telon, dan air jeruk nipis (optional). Ramuan itu kubalurkan ke dada, perut, punggung, ketiak, belakang telinga, dan telapak kaki. Kalau hanya batuk biasa, tidak ada 3 hari insya Allah sudah membaik. Kalau lebih dari 3 hari, langsung kularikan ke tenaga medis. Pokoknya kalau pas anakku batuk, pilek dan demam, sinyal kewaspadaanku langsung full mengingat cerita ibu di atas.

Itulah sekilas pemahamanku tentang radang paru-paru dan kewaspadaanku. Sampai akhirnya saat kulihat siaran ulang talkshow di #RuangPublikKBR yang bertemakan Mengenal dan Mencegah Pneumonia pada Anak, Kamis (13/12/2018) lalu. Oiya, KBR ini sering banget mengulas materi parenting dan kesehatan lho. Terakhir juga membahas tentang kebiasaan anak main gadget yang harus dikurangi. Kapan-kapan aku akan mengulasnya juga. Insya Allah.

pneumonia
Narasumber di talkshow tentang pneumonia

Balik lagi ke talkshow ya.

Menurut dr. Madeleine, pneumonia adalah infeksi paru-paru yang diakibatkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Namun, seringnya diakibatkan oleh virus dan bakteri. Beliau menuturkan bahwa orang awam sering menyebut kalau pneumonia adalah radang paru-paru. Ada juga yang menyebutnya itu paru-paru basah. Semua betul, tapi kalau secara medis sebutannya adalah pneumonia.

Sepanjang melihat tayangan talkshow di layar smartphoneku, ada rasa was-was tapi penasaran juga, sebenarnya pneumonia ini benar-benar bisa sembuh nggak sih? Teryata, pneumonia ini bisa dideteksi sedini mungkin, bisa dicegah dan tentunya bisa sembuh secara total. Nah, kira-kira bagaimanakah caranya? Aku rangkumkan di bawah ini.

Di atas aku sudah singgung tentang batuk, pilek dan demam. Sebenarnya, tiga gejala itu pulalah yang mengawali munculnya pneumonia dalam tubuh si kecil. Makanya, kalau si kecil kok batuk, pilek dan demam jangan diremehkan. Ah, cuma gitu doang. Jangan!

Kapan kita harus waspada agar tahu itu sakit biasa atau pneumonia? Bedanya dengan batuk biasa, apabila itu pneumonia, maka semakin hari (seminggu lebih) batuk akan semakin parah, terjadi sesak napas dan tampak ada cekungan yang dalam saat menarik napas.

Duh, aku ngebayanginnya kok jadi nyesek sendiri. Apalagi kalau terjadi pada anak-anak. Betapa kasihan sekali mereka.

Sedihnya lagi, menurut data Kemenkes, pneumonia ini adalah pembunuh kedua anak-anak di bawah lima tahun. Kebanyakan, penyebab pneumonia itu diakibatkan oleh kebiasaan yang tidak baik dari orangtua dan lingkungan yang tidak sehat.

Dalam satu menit, ada dua anak meninggal karena pneumonia.

Ngeri kan baca temuan di atas? Yuk, kita jadi salah satu orang yang sadar akan bahaya pneumonia ini!

Apalagi pneumonia ini adalah penyakit menular. Salah stau cara penularannya adalah lewat batuk. Siapapun juga bisa kena pneumonia, baik tua, muda, balita dan bayi. Oleh karena itu, kita harus tahu betul cara pola hidup bersih dan sehat agar terhindar dari penyakit pneumonia.

Suasana talkshow


Narasumber lain, yaitu Salita Patta Sumbung, ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik Partner of Save the Children mengungkapkan bahwa kita harus tahu betul bagaimana caranya untuk mencegah pneumonia ini. Caranya sebenarnya mudah, tapi karena mudah banyak yang menyepelekan atau tidak menjadikannya suatu kebiasaan yang harus dilakukan. Diantaranya adalah dengan cara:

  1. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan memberikan MPASI yang tidak hanya enak akan tetapi juga nilai gizinya tercukupi.
  2. Memberikan imunisasi dasar secara lengkap kepada si kecil. Syukur-syukur diberikan imunisasi tambahan yang kini juga sudah banyak yang di-cover oleh negara dan harganya sudah terjangkau.
  3. Menciptakan lingkungan hidup yang bersih dari asap rokok. Makanya, kalau #RokokHarusMahal aku setuju banget.
  4. Menyediakan air bersih, baik untuk mandi, makan, dan minum.
  5. Membiasakan diri untuk selalu cuci tangan pakai sabun di 5 waktu kritis, yaitu sebelum membuat makanan, sebelum menyuapi si kecil, setelah BAB, setelah menceboki anak, dan sebelum menyusui.

Dari kelima cara di atas, mudah bukan kita terapkan? Poin 1 dan 2 itu membutuhkan peran dan kesadaran penuh kita sebagai seorang ibu. Poin yang lain pun butuh peran kita-ibu, tapi butuh peran dari lingkungan juga.

Pembawa acara dan narasumber


Di talkshow itu ada beberapa pertanyaan yang kira-kira seperti ini,

Kalau kita sering pakai kipas angin, AC atau keluar malam, apakah bisa kena pneumonia?

Kira-kira, bagaimana jawaban dokter? Bisakah? Hayo, aku juga pakai kipas angin nih setiap kali tidur siang ataupun malam.

Ternyata secara langsung tidak. Akan tetapi kalau kipas angin dan AC kotor, jarang dibersihkan tentu akan mengandung banyak virus dan bakteri. Takutnya, salah satu virus atau bakteri itu adalah pemicu pneumonia. Tentang keluar malam kalau di jalanan tidak pakai masker, sering kena debu, ini mengarah ke virus dan bakteri itu lagi. Jadi, semua kembali ke pola hidup yang bersih dan sehat.

Nah, itulah rangkuman tentang pneumonia yang kudapat dari talkshow KBR. Semoga bermanfaat dan apabila dilingkungan sekitar kita ada balita atau orang yang memiliki sakit dengan ciri-ciri batuk dan demam tak kunjung sembuh, nafas makin sesak, ingatkanlah! Semoga keluarga kita selalu diberikan kesehatan ya.


COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES