Kamis, 26 Maret 2020

Benarkah dengan Ngeblog Kita Bisa Dapat Uang?



Kalau kamu yang sudah menikmati hasil dari ngeblog, menjawab pertanyaan, benarkah dengan ngeblog kita bisa dapat uang?, pasti akan langsung, IYA.

Benarkah? Semudah itukah? Bagaimana caranya?


Aku akan bercerita tentang ngeblog yang menghasilkan uang ala versi aku. Kalau beda dengan bloger lain, jelas, itu wajar.

Awal ngeblog dulu, tahun 2010an, saat aku kuliah, jujur, alasanku karena ingin namaku bisa tercantum di daftar pustaka tugas sekolah bikinan orang. Keterusan, nulis curhat sana-sini, bahkan pernah menulis tentang teman sekelasku yang akhirnya malah bikin ramai dunia persilatan. Kuhapus deh tulisan tersebut.

Aku pernah juga melewati fase menggunjing orang lewat tulisan di blog ini. Tapi, nggak lagi-lagi deh. Kapok. Hahaha.

Dari sana aku merasakan bahwa ngeblogpun memiliki fase. Bak  pelajaran pertumbuhan dan perkembangan manusia, mulai dari bayi hingga dewasa. Dimulai saat cupu-cupunya sampai akhirnya paham untuk apa sih menulis?

Saya pernah masuk koran, eh, mana muat?


Awalnya Ikut Lomba Menulis Akhirnya Ketagihan


Pertama kalinya blog ini menghasilkan tuh saat aku kepedean ikutan lomba blog dari seorang bloger senior. Alhamdulillah, sekalinya ikut kok langsung nyantol. Zaman dulu hadiahnya bukan berupa uang. Hanya berupa baju dan buku yang dikirim ke rumah sudah membuat hatiku keheranan dan sangat girang. Ternyata hanya dengan menulis aku dapat gratisan baju dan buku. Begitu batinku dulu.

Maklum, saat itu, awal-awal kuliah, berangkat dari keluarga yang tak bergelimang harta, bisa beli baju dan buku sendiri hal yang sangat langka bagiku. Bisa sarapan nasi dan mendoan saja alhamdulillah. Terpenting bisa kuliah. Makanya, mulai muncul tekad untuk sering ikut lomba blog di tengah sibuknya kuliah pendidikan, yang harus berangkat pukul 07.00 bak anak SMA lagi.

Berbagai lomba blog kuikuti. Entah sampai berapa lomba yang kuikuti, ratusan mungkin ada. Tapi, yang nyantol paling hitungan puluhan saja.

Waktu itu ngarep laptopnya, alhamdulillah nyantol HPnya.

Apakah aku mutung alias ngambek karena sering kalah? Awalnya iya, tapi, karena keseringan kalah itulah yang membentuk diriku menjadi sedikit kuat mental. Yah, sedikit. Karena kalau pas kalah lomba blog pasti muncul rasa kecewa juga. Meskipun tak berlangsung lama.

Alhamdulillah, sampai sekarang bisa merasakan berkah dari ikut lomba blog, mulai dari baju, buku, uang, sampai 5 gadget kukantongi. Tapi, kuyakin, aku bisa dapat lebih dari itu kalau mau MAKSIMAL saat niat ikut lomba blog.

Hal yang kupelajari dari ikut lomba blog itu adalah tentang totalitas. Sekalinya lomba blog kalau tidak totalitas, jangan berharap menang deh. Apalagi sekarang banyak sekali bloger bermunculan dengan segala keahliannya. Hooo mengerikan. Tulisannya sudah keren, infografisnya dan video pelengkapnya ciamik. Kalau kita nggak bisa mengikuti itu semua, bakalan ketinggalan.

Aku sering merasa beruntung jadi seorang bloger, terutama yang hobi ikut lomba. Karena merasakan manfaat ngeblog itu justru membuatku makin cerdas. Ya, itu tadi, jadi bloger harus banyak dan mau belajar. Ada perkembangan apa, baca, praktik, kemudian dishare. Perkembangan selalu ada. Dulu yang awalnya nggak paham ilmu nulis sesuai PUEBI, sekarang mau gak mau jadi paham. Sedikit-sedikit paham cara ambil foto yang bagus. Kemudian tahu cara edit video dengan aplikasi ini dan itu.

Kamu tahu nggak? Semua ilmu yang kudapat dari ngeblog itu sangat-sangat berguna untuk profesiku sebagai guru. Eh, ada PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), ilmu desainku pakai Canva kepakai untuk membuat poster sekolahku. Ada acara ngem-si di sekolah, karena terbiasa membuat tulisan yang runut, kepakai juga deh tuh di situ. Ada teman bikin PTK (Penelitian Tindakan Kelas), ilmu PUEBI-ku kepakai juga.

Wis lah, pokoke selain menghasilkan uang, ngeblog itu banyak keuntungannya.

Selain dari Ikut Lomba Blog, Dapat Uangnya Dari Mana Saja?


Pertanyaan itu sering muncul dari teman-teman yang kenal aku sebagai bloger. Kamu juga pengen tahu?


Sejauh ini, selain dari lomba blog, aku dapat uang dari:

Pertama, iklan adsense di blogku. Ini bukan asli milikku. Adsense di blogku ini titipan dari teman bloger. Kami bagi hasil. Lumayanlah, beberapa bulan kalau cair bisa dipakai beli paket internet.

Kenapa nggak daftar adsense sendiri? Dulu pernah daftar. Tapi, ditolak terus. Akhirnya, nggak pernah otak-atik lagi. Yo wis, sakmlakune ngene wae sik.

Kedua, dari job nulis artikel atau titipan artikel dari klien dan ngliput event. Sekarang ini kalau kita mau beli sesuatu kan sering kali mencari review di internet, ya. Nah, salah satu job aku ya itu, menuliskan review atau sekadar penjelasan suatu produk, layanan perusahaan, sampai pengalaman saat mengunjungi suatu tempat. Jadi, secara gampangnya, aku nyobain dulu, setelah itu diceritakan di blog. Ntar kalau kamu mau cari info, eh, siapa tahu ketemu sama tulisanku tadi atau dari bloger lainnya.

Nah, jobnya ini ada yang nulis asli dari pengalamanku sendiri, ada juga yang tinggal pasang saja artikelnya dari klien. Harganya juga bervariasi.

Kalau job yang datang ke event brand tertentu, kewajibannya beda lagi. Datang ke tempat, ngikutin acaranya -seringkali bertabur hadiah-, makan gratis (hahaha...ini penting banget ya?), ketemu bloger lain yang seringkali membuatku dapat energi lagi untuk semangat ngeblog, sampai rumah nulis artikel tentang event atau produk yang dikenalkan, baru deh dapat fee, kadang dapat produknya saja, atau malah ikutan lomba blognya. Enak, tapi capek juga kok. Ada usaha ada hasillah. Nggak enaknya doang yang dipamerin.

Kemudian dari mana bisa dapat job ini? Seringkali di grup facebook atau grup WhatsApp (khusus komunitas bloger) ada kok yang share google form atau semacam formulir dengan syarat tertentu dari klien yang mau ngasih job. Kalau blog kita memenuhi syarat, maka kita akan dihubungi lewat email atau kadang via WhatsApp.

Pernah dapat kesempatan berbagi tips menang lomba blog

Syarat? Emang apa saja syaratnya? Macam-macam sih. Ada yang DA sekian, usia bloger sekian, usia blognya sekian tahun, page view per bulan sekian, niche blognya apa, dll. Tentang syarat-syarat di atas itu apa saja pengertiannya, kamu bisa googling, ya.

Santai, kelihatannya memang rumit. Tapi, kalau kamu sudah nyemplung di dunia bloger, seperti yang kuceritakan di atas, mau nggak mau harus jadi cerdas. Belajar otodidak itu harus kalau nggak mau ketinggalan dapat job. Hahaha.

Tips Ngeblog dariku Bloger Guru yang Angot-angotan


Sering lho muncul keingianan untuk jadi bloger full time. Nggak usah jadi guru tapi fokus jadi bloger. Bisa ke sana-ke mari ikutan nge-event yang makin ramai saja di Semarang. Akan tetapi, nggak mungkinlah. Brandingku saja jadi guru bloger. Kemudian mengajar adalah passionku. Ditambah lagi ini adalah profesi yang diidamkan oleh almarhum ibuku. No no no, pokoke tetap jadi guru bloger. Perkara rezeki ben Allah yang atur.


Nah, bagaimana sih aku ngatur waktu biar tetap bisa menulis dan menghasilkan cring cring untuk blogku ini. Aku bikin poin-poin saja ya.

  1. Senjata utamaku adalah HP dan buku batik kerbau yang kubawa ke manapun aku pergi. Di HPku ada dua aplikasi penting, yaitu notepad dan google keep. Aku sering pakai yang kedua. Di situ aku menuliskan ide-ide yang sering muncul di otakku. Kalau ada waktu senggang agak lama, aku langsung corat-coret di buku batik kerbauku. Membuat mind mapping di sana. Bikin poin-poin pentingnya saja.
  2. Waktu nulisnya sampai kelar jadi artikel kapan? Kan sudah ngajar, sampai rumah paling tinggal teparnya doang, belum masak, mandiin anak, ngobrol sama anak, dkk-nya? Seringkali nulis pas dini hari. Ini karena aku tipe orang yang nggak bisa fokus banget pas suasana ramai Aku bisa maksimal nulisnya kalau bangun tidur, suasana sepi, langsung deh cus ketak ketik sana-sini. Aku nggak harus ngetik di laptop. Aku seringnya pakai HP kalau ngeblog. Nulis ini dan pasang foto pun pakai HP semua. Apalagi laptopku layarnya baru soak. Duh, doain ya bisa dapat hadiah laptop tahun ini. Aamiin Ya Allah. Jadi, apapun senjatamu untuk menulis, ya, gunakan secara maksimal. Jangan banyak alasan untuk tidak menulis!
  3. Kalau mau nulis postingan, pastikan dulu, mau nulis duhulu apa mau edit foto atau video. Karena, untukku nih ya, kalau nulis, edit foto, nulis lagi, edit foto lagi, nggak bakal kelar-kelar deh nulisnya. Entah ini berlaku juga nggak untukmu? Makanya, aku kalau mau bikin postingan, di HP atau di buku batik kebo-ku tadi langsung aku beri catatan (kasih gambar yang ini)/(sisipin gambar pas ke Saloka), dll. Baru deh nanti pas sudah selesai semua, lanjut ngurusin tentang foto atau video. Atau sebaliknya, edit foto atau ambil video dulu, kelar, baru nulis. Jangan dicampur aduk! Karena proses editing foti dan video kan gak hanya semenit dan dua menit. Takutnya ntar idenya ambyar kalau diselang-seling.
  4. Jangan malas editing. Ini sekaligus juga reminder untukku yang akhir-akhir ini agak loyo soal editing. Sebelum dipublish, bahkan setelah dipublish, kudu banget diedit lagi. Baca sambil bersuara, kira-kira enak nggak sih kalau dibaca. Alurnya sudah benar belum? Kira-kira bikin bosen pembaca apa nggak? Infonya lengkap nggak nih? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu wajib muncul dalam benak kita setiap kali memosting artikel di blog.



TERAKHIR

Sudah banyak yang bilang kalau menulis itu bukan bakat, bukan? Aku nih salah satu contohnya. Bukan lulusan dari sekolah bahasa juga. Aku belajar otodidak dari internet. Sering kalah lomba, aku jadi mau belajar dari tulisan pemenang. Dari sana kupelajari tentang teknik menulis yang baik. Bagaimana cara membuat desain grafis sederhana? Aplikasi yang bisa dipakai untuk desain infografis selain PicsArt tuh apa?

Yakin, kamu nggak mau jadi bloger? Belajar dunia menulis yang rasa rumit binti pemaksaan untuk mau belajar karena nggak mau ketinggalan? Syukur-syukur bisa menghasilkan uang juga? Yakin, nggak mau?

Jumat, 20 Maret 2020

Kanker Payudara dan Spondylosis yang Diidap Ibuku : Pola Makan Sehat untuk Pengidap Kanker Payudara


Sampai sekarang, setelah ibuku nggak ada, aku masih sering berpikir, apakah aku salah mengajak ibuku makan dengan pola makan yang sehat? Apakah ibuku tersiksa dengan pola makan yang aku terapkan? Tapi, kenyataannya, memang ada perbedaan saat ibu sudah menerapkan pola makan sehat dibandingkan dengan sebelumnya.

Selamat ulang tahun, Buk, 6 Juni 2019

Aku masih ingat betul ibuku pindah total ke pola hidup sehat, khususnya makan sehat tanggal 29 Desember 2019. Sebelumnya, aku menjelaskan terlebih dahulu ke ibu, kenapa harus mengubah pola makannya? Apa itu kanker?

Alhamdulillah, ibu adalah sosok yang cerdas. Dengan sadar diri ibu mau membaca artikel yang kushare ke ibu lewat WhatsApp. Setelah membaca dengan lengkap, cus lah pola makan sehat itu dimulai.

Saat memulai pola makan sehat ini, kanker payudara ibu sudah mulai keluar daging bak bunga kolnya walau kecil. Keadaan payudaranya sudah membesar seperti bola sepak ukuran kecil. Anggap saja sudah terlambat dan ini sudah takdir ibu dari Allah, jalan dariNya harus seperti ini.

Maaf, aku cerita tentang kanker payudara ibu loncat-loncat, ya. Hatiku rasanya masih amburadul nggak karuan. Tapi, aku janji akan menuliskannya pelan-pelan.

Sebelumnya, aku hendak berterima kasih ke Mbak Widi, yang sudah mengajakku untuk masuk ke grup Sehat Dengan Food Combining (SDFC). Tak lupa juga Bu Anung yang dengan sabar menjawab segala pertanyaan dan keluh kesahku selama merawat ibuk. Banyak tips sehat yang kudapatkan semenjak mengenal mereka.

Kangen ibuk 😍

Grup SDFC adalah grup tertutup. Kalau masuk grup tersebut harus diundang oleh anggota grup lama. Kalau kamu ingin gabung bisa colek aku atau Mbak Widi.

Di grup SDFC kamu bisa baca-baca berbagai artikel tentang Food Combining, kenapa harus buah, buah dan sayur harus dipisah, kanker, GERD, tumor, program hamil, dan masih banyak lagi.

Berikut kutuliskan pola makan sehat yang ibuk jalani.

Bangun tidur, setengah enam, segelas air hangat yang diberi perasan 1 buah jeruk nipis.

Pukul 05.45 jus buah.

pukul 07.30 sepiring kecil buah potong campuran (maksimal 3 macam buah, disarankan yang banyak mengandung air dan manis)

pukul 09.00 buah lagi.

pukul 10.30 buah lagi, akan lebih baik kalau makan pisang.

Jangan lupa diselingi air putih. Kebutuhan air putih tetap 10 gels sehari

Pukul 12.00 jus wortel

Makan siang:

Menu karbohidrat: jagung, ubi, kentang, nasi merah. Lauknya tahu, tempe, jamur. Sayurnya kalau mentah akan lebih baik.

Pukul 15.00 jus sayur, bisa dengan campuran 2-3 macam sayuran.

Pukul 16.00 kudapan dengan segenggam kacang-kacangan (tidak boleh kacang tanah), atau satu buah alpukat. Kudapan ini wajib, ya. Beri jeda minimal 15 menit baru kemudian minum teh rempah.

Cara membuat teh rempah; didihkan air, tuang dalam gelas. Masukkan salah satu rempah-rempah, tunggu hingga suam-suam kuku baru kemudian diminum.

Pukul 17.30 jus sayur lagi

Pukul 18.30 makan malam, menunya sama dengan makan siang.

Pukul 20.30 sebelum tidur minum jus wortel.



Setidaknya, itulah jadwal pola makan sehat ibu. Jadwal itu kudapatkan dari grup SDFC.

Kok nggak makan daging?

Yes, intinya, nggak makan daging agar tidak memberi makan sel kankernya. Kapan-kapan akan aku jelaskan lebih lanjut. Kalau kamu penasaran, bisa deh coba masuk ke grup SDFC. Gratis. Bu Anung juga baik banget.

Banyak pertanyaan pas ibu menerapkan pola makan sehat seperti di atas. Apa kenyang? Kenyang, asal patuh sama jadwal. Awal-awal memang merasa lapar terus. Ya, makan sesuai jadwal saja. Kalau belum waktunya makan karbohidrat, ya, makan buah lagi. Minum air putih.

Perhatikan juga teknik mengunyanya, ya.

Ibu dan Kak Ghifa makan mie ayam, Ibuk masih tampak sehat. Padahal sel kanker diam-diam menggerogotinya.

Terus BABnya gimana? Ya, kayak orang normal. Oiya, selama menerapkan pola makan sehat ini tentu ada efeknya ditubuh, ya. Ibuku makin kurus, pernah BAB sehari 5 kali dan berlangsung selama semingguan. Untuk masing-masing orang, efeknya tentu beda-beda, ya.

Kamu perlu tahu nih, Teman. Selama ibu kmenerapkan pola makan sehat ini, ibuk kelihat segar wajahnya. Nggak pucat kayak orang sakit. Aku punya Bulek yang sama-sama sakit, Bulekku malah kelihatan pucat banget bak mayat hidup.

Segitu dulu, ya, aku cerita tentang pola makan sehat yang diterapkan ibukku. Hari ini aku baru saja melaksanakan 40 hari meninggalnya ibuk. Kapan-kapan aku akan ceritakan lebih detail lagi. Atau mungkin kalau kamu ada pertanyaan bisa tanya-tanya di komentar atau japri aku langsung.

Kalau boleh jujur, seperti paragraf pertama, aku takut kalau ternyata ibuku tersiksa dengan pola makan sehat ini. Aku takut banget. Tapi, aku nggak ada maksud apa-apa. Karena memang banyak tetangga dan saudara yang pada bilang ini dan itu, sudah sakit malah dibatasi makannya. Ya Allah, kalau ingat ini malah sedih.

Aku hanya ingin ibuk sembuh. Itu saja. Kini Allah memang sudah menyembuhkan ibuk, selamanya.

Buk, maafin Ika, ya, Buk. Maaf, kalau Ika pernah ngeluh pas merawat Ibuk. Ika kangen ibuk.

Selasa, 10 Maret 2020

Jajan Murah dengan Cara yang Mudah


"Maya dari mana, Mak?" tanyaku kepada bulek.


"Biasa to, jajan sama Akbar. Wong tadi bilang nggak cocok sama lauk di rumah. Padahal, ya, ada sayur lodeh, bakwan, telur bacem, sama kerupuk lho."

Tersenyum. Itulah ekspresi yang bisa kutunjukkan. Terkadang aku juga heran, memangnya semua anak zaman now tuh gitu ya? Sering tidak cocok dengan masakan tempo dulu atau masakan rumahan?


Kenapa aku bertanya begitu? Karena kejadian seperti itu tidak hanya terjadi kepada satu keponakanku, melainkan yang lain juga. Mereka lebih sering jajan di luar dibandingkan makan masakan ibunya sendiri.

Wajar kan kalau aku heran? Soalnya, aku yang dulu (bukanlah yang sekarang-ihiiirr) memang tidak seperti itu. Pas zaman kuliah jarang banget jajan di luar. Selain karena keadaan keuangan yang serba mepet, ya, kuperhatikan kafe atau kedai yang menjajakan jajanan memang belum menjamur di mana-mana. Malah kesannya kafe itu tempat yang 'mahal dan elit'. Hanya orang-orang berduit yang bisa ke sana.

Berbeda dengan sekarang. Kafe dengan interior yang unik ada di setiap sudut kecamatan, malah. Tren makanan dan minuman pun banyak bermunculan. Harga miring ditawarkan untuk menarik banyak pembeli. Lengkap sudah kemudahan yang ditawarkan, bukan? Gitu kok Maya, keponakanku, nggak makin malas makan di rumah?

Oh iya, satu lagi, mungkin karena adanya keinginan untuk diakui "nih gue juga nongkrong lho di sini" oleh teman di sosial media kah yang jadi faktor anak muda zaman now pada berlomba-lomba jajan ke sana-ke mari?

Wajar, kok, wajar, bukankah salah satu kebutuhan manusia adalah diakui keberadaannya oleh manusia lain? Makanya, pemilik usaha kuliner di luar sana juga membaca peluang yang menggiurkan. Kafe berjejer di mana-mana. Contoh nyata yang kutemui sendiri adalah sekitar kampusku, dua tahun setelah aku diwisuda, duh, semua sudah berubah. Depan kampus penuh dengan kafe atau tempat tongkrongan yang eye cathing. Sesekali kulihat pengunjungnya berselfie ria. Kuyakin pasti fotonya akan diunggah lewat sosial media. Orang yang lihat pada kepo, di manakah itu? Kalau sudah ketemu, besok pada datang juga, dan seterusnya.

Coba deh kamu lihat beberapa foto sudut tempat nongkrong yang satu ini, namanya #NikosBarandKitchen, terletak di jalan Singotoro nomor 14, Semarang.





Bagaimana? Tempat tongkrongan yang satu ini memberikan kesan yang berbeda dari Semarang 'panas' bukan? Siapkan saja uang mulai 15 ribuan, kamu sudah bisa duduk cantik di salah satu sudut Nikos. Mau? Cus buka aplikasi Traveloka Eats dan temukan kalau di Semarang dan sekitarnya banyak banget tempat jajan yang murah tapi yang ditawarkan dengan segala keunikannya.

#PengalamanMenyenangkan-ku Jajan Kebab Rafi dengan Traveloka Eats

Kamu merasa heran kah, kok, Traveloka? Bukannya itu aplikasi untuk booking hotel atau beli tiket pesawat dan transportasi lainnya? Eits, kamu sudah update aplikasi Traveloka yang terbaru apa belum atau kapan terakhir buka aplikasi tersebut? Karena kalau kamu buka aplikasi berlogo burung berwarna biru ini, sebelah kanan atas akan ada menu baru, yaitu menu Eats.


Apakah kamu sudah menemukannya? Nah, kalau sudah ketemu, sini, sini, aku ceritakan bagaimana pengalamanku jajan lewat aplikasi Traveloka Eats.

Jujur nih, ya, sampai punya anak pun, aku termasuk yang jarang banget jajan di luar. Paling mentok jajan bakso atau mie ayam. Lainnya, babar blas. Karena prinsip keluargaku, ya, masak sendiri itu juara banget, pun lebih hemat.

Berbeda setelah banyak kejadian yang kulewati dalam sebulan terakhir ini. Apalagi ucapan ibuku sebelum beliau meninggal, "Nduk, nek capek mbok ya o jajan wae! (Nak, kalau capek, jajan sajalah!). Jaga kesehatanmu. Kalau kamu sakit, semua jadi repot."

Seminggu setelah ibuku meninggal, bapak mengajak keluarga besar kami makan di luar. Aku tahu bapak kasihan kepadaku yang sudah lelah mengurus semua proses tujuh hari ibuk. Makanya daripada masak lagi, semua anggota diangkut ke tempat makan.

Belum genap empat puluh hari ibuku meninggal, suamiku harus bekerja di luar kota. Hatiku sudah berduka, eh, ini ditambah kesepian. Entahlah, hawanya jadi melow mulu.

Aku berusaha menikmatinya. Sesekali aku cerita dengan keluarga besarku yang lain. Mereka mengajukan saran, "Sudah makan es krim? Bakso yang pedas?"

Semua sudah kulahap, tapi yang namanya kehilangan seorang ibu, begitulah. Makanan selezat apapun tidak akan bisa mengobatinya.

"Kamu butuh piknik tuh, Mbak." Komentar Maya, keponakanku.

Tanggal 4 Maret kemarin aku akhirnya ikut piknik bersama Kak Ghifa, anakku. Toh, rasanya, ya, sama saja. Hampa.

Sampai akhirnya aku punya keinginan pas abi pulang, pengen banget motoran bertiga, aku, abi, dan Kak Ghifa, ke mana gitu. Yang penting bertiga menikmati ramainya jalanan kemudian berhenti untuk jajan apa gitu.

Sembari menunggu abi pulang, aku ingat dengan aplikasi Traveloka bagian Eats. Kucoba cari jajanan yang masuk penawaran spesial. Alias cari yang diskonan. Maklumlah, kami kudu berhemat untuk biaya empat puluh hari kepergian ibuk juga. Kupikir, yang penting bisa jajan bersama-samalah, sekalian jalan bertiga.



Dari banyaknya pilihan, aku tertarik dengan Kebab Turki Baba Rafi yang sedang didiskon 21%. Harga normalnya sekitar 51 ribu, setelah didiskon jadi 40 ribu sudah termasuk pajak.

Lumayan, bukan? Emak-emak, yes, beda 500 aja dikejar, apalagi ini 10 ribu, Gaes! Dapat bawang merah setengah kilo deh. Hahaha.

Kalau yanga ada di Jakarta dan sekitarnya malah enak lagi. Soalnya sudah ada menu Treats by Traveloka Eats. Kenapa kok enak? Karena kalau kita pergi ke suatu tempat makan, kita bisa menyimpan atau bookmark tempat tersebut di aplikasi Traveloka kita agar nanti kalau ada promo dan diskon di tempat tersebut kita dapat pemberitahuan dan dapat tambahan diskon pastinya. Hooo, ini mah kesukaan emak-emak banget, ya. Sudah makan enak, eh, harganya banyak diskon pula. Bahkan, bisa ikutan undian berhadiah juga ke luar negeri. Siapa sih yang mau nolak? Jajan murah dengan cara yang mudah. Bisa berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri gratis pula.

Senin, 09 Maret 2020

Traveling Impian 2020-ku Alhamdulillah Sudah Terwujud, Begini Ceritaku


Manusia hanya bisa berencana, Allah yang memutuskan.

Ceritaku ini kumulai dari kalimat tersebut.

Pertama kali ada kabar kalau sekolah Kak Ghifa akan ada piknik, aku sudah pesimis tidak bisa ikut mendampingi Kakak.

Apa mungkin Kakak aku titipkan ke bulek yang selama ini mengantarnya sekolah? Hatiku sebagai umminya kok nelangsa banget.

Bismillah, kami berangkat dulu, ya.

Selama ini sekolah tidak pernah kutunggui, ini piknik, kok, ya, aku nggak bisa dampingi. Tapi, bagaimana dengan ibuku?

Aku tidak pernah membahas soal piknik ini ke ibuk. Saat itu niatku tidak ingin meninggalkan ibuk di rumah bersama bapak saja. Aku hanya ingin menemani ibuk. Merawat ibuk sepenuh hati. Aku pasrah, entah apa yang terjadi nanti pokoknya. Meskipun seringkali saat Kak Ghifa merajuk, "Kakak piknik sama Ummi, ya?" Ku-iya-in saja agar dia senang dan segera meninggalkanku yang saat itu sedang mengurus ibuk.

Ternyata, Allah punya rencana lain. Sebelas Februari ibu meninggal dan tanggal empat Maret lalu aku pergi menemani Kak Ghifa piknik ke Cimory On The Valley Semarang dan Saloka Park.

Allahuakbar.

Allah Sang Maha Pencipta alam semesta ini benar-benar pemilik rencana terbaik untuk hambaNya. Alhamdulillah.

Inilah yang diinginkan ibukku.
"Mangkato Nduk, sakne Kakak. Kancane do diterke ibune, mosok Kakak ora." (Berangkatlah, Nak. Kasihan Kakak. Teman-temannya diantar ibunya, masak Kakak tidak?), begitu ucap ibuk setiap mendengar rajukan Kakak.

Oleh karena itu, sore sebelum aku dan Kakak berangkat piknik, saat ziarah sore ke makam, aku pamit ke ibuk,

"Buk, besok aku  jadi nganter Kakak piknik, sesuai keinginan ibuk. Aku izin ke Bu Warni (kepsekku), Buk, alhamdulillah boleh, padahal anak-anak sedang PTS."

Terus airmataku ngambang deh di ujung mata. Aku merasa jalan cerita manusia memang tidak pernah ada yang tahu, ya? Kuyakini semua inilah yang terbaik untukku dan keluarga.

Bismillah, akhirnya, aku dan Kak Ghifa berangkat piknik.



Nah, apa saja yang terjadi selama kami piknik? Ceritaku akan kurangkum dalam beberapa poin ya, agar lebih mudah dan tidak membosankan membacanya.

Oke, sebelum kulanjut cerita traveling impian 2020-ku, perlu kamu tahu, ini adalah piknik pertamaku hanya bersama Kak Ghifa (4,5 tahun). Kejadian konyol dan menyebalkan apa saja yang kualami? Tips apa saja yang bisa kubagi? Cekidot.

Kumulai dari persiapan

Pertama yang kulakukan jelas membuat list barang-barang yang akan kubawa. Diantaranya:

  • baju gantiku dan Kak Ghifa (khusus Kakak, aku bawa 3)
  • mukena
  • handuk
  • tas kecil berisi kosmetik dan seperangkat alat lenong kakak
  • powerbank
  • minuman dan makanan kecil yang kutaruh di tas yang berbeda
  • bantal kecil
  • tisu dan tisu basah
  • plastik bersih untuk baju kotor
  • topi kakak

Semua itu kumasukkan dalam tas ransel, khusus makanan dan minuman kupisahkan di tas tenteng yang lain.

Nah, dari persiapanku ini ada satu barang yang terlewatkan, lebih tepatnya ketinggalan, yaitu sandal kakak. Ternyata, destinasi wisata yang kami tuju itu kebanyakan jalaaaaan terus. Apalagi untuk Cimory, medannya naik turun bikin ngos-ngosan. Akan lebih nyaman kalau pakai sandal atau sepatu yang benar-benar ringan. Jangan sampai kaki lecet.

Oiya, satu lagi, payung. Ya Allah, pastikan kalau piknik jangan pas musim hujanlah. Menyedihkan. Meskipun ada payung yang disediakan petugas di tempat wisata, tapi, Ya Allah, hujan membuat kita nggak bisa menikmati wahana yang ada.

Saat perjalanan dan di tempat wisata


Apa saja yang terjadi?

  • Saat perjalanan Kakak terlihat senang sekali. Dia sembari main dengan teman yang duduk di bangku depan dan belakang kami. Tapi, ada satu kejadian yang bisa jadi tidak akan terlupakan oleh Kak Ghifa sampai kapanpun. Apa itu? Dia ngompol di celana. Sebenarnya sebelum berangkat dia sudah kutawari untuk pipis. Pun saat aku melihat dia sering memegang tititnya, dia menggeleng dan menolak untuk diajak pipis. Pas masuk tol dan hampir sampai di rest area, eh, dia sudah gak tahan dan ngompol deh di celana. Basah semua deh termasuk kaos kaki dan celananya. Dia sempat histeris karena malu. Kuyakinkan dia dengan kupeluk dan bilang, "Ummi nggak papa. Ummi nggak marah, Kak. Kakak nggak usah nangis." Dia baru bisa tenang dan mau turun untuk ganti baju. Wajar sih kalau Kakak sampai histeris. Wong mulut dan mata-mata bunda yang lain pada membunuhnya. Ada yang berkomentar sinis, "Kok nggak dipakaikan pempes." Lah, anakku sudah nggak pakai pempes kok ini malah pakai pempes lagi, bukannya malah aneh? Kemunduran menurutku. Aku saja yang kurang sigap mengatasi keinginan pipis Kak Ghifa. Dia memang kalau pas hawa dingin sering banget pipis. Pas dia bilang pengen pipis kok ya aku nggak kepikiran pakai botol dulu untuk menampung pipisnya (hihihi...ide konyol tapi cukup bermanfaat pas kondisi mepet). Yaaahh, saking panik dan inilah pengalaman pertama. Berharga bangetlah.
    Biasanya lihat komodo di Youtube, ini bisa lihat secara langsung. Heboh dia.
  • Urusan pipis kelar dan Kakak lanjut menikmati perjalanan. Karena sepatunya basah dan aku nggak bawa sandal ganti, akhirnya pas di Cimory, Kakak nyeker alias nggak pakai alas kaki. Dia jalan ke sana ke mari sesukanya. Apalagi pas lihat hewan-hewan. Hepi banget dia. Kubiarkan dia memilih apa yang ingin dia lihat. Namanya pergi rombongan kan gitu, ya, A ke sana terus pada ikutan ke sana. Aku nggak, hihi, kuturuti apa yang ingin Kakak kunjungi. Menurutku kemarin itu kurang lama pas di Cimory. Banyak tempat yang belum kami eksplor. Padahal Kakak senang sekali kalau ketemu sama hewan-hewan. Akhirnya, perjalanan di sana kami tutup dengan membeli oleh-oleh khas Cimory. Apalagi kalau bukan yoghurt. Oiya, entah ini aku aja yang kurang sigap atau malas mengeluarkan HP, dokumentasi di Cimory ini nggak banyak. Aku sibuk ngintilin Kak Ghifa ke sana kemari. Kalau nggak gitu ya sibuk gendong dia pas melewati jalanan yang terlalu kotor atau menanjak naik. Kalau pergi sama Abi sih enak, Abi yang jagain Kakak, aku bisa tuh dokumentasiin kegiatan yang kami lakukan. Tapi, sisi positifnya, aku bisa pol-pol an dampingi Kak Ghifa. Ehm, bukankah memang itu, ya, tujuan awalku?
    Mau milih yang mana?
  • Oiya, di Cimory itu ada 3 macam harga tiket, ya. Ada yang 15 ribu, 25 ribu, dan 35 ribu. Setiap tiket dapat gratis yoghurt, diskon 20% saat beli es krim dan lemon tea. Kalau misal awalnya beli yang 15 ribu dan ingin masuk ke wahana yang seharga 25 ribu, kita bisa dapat diskon 20% juga.
  • Belum puas bermain, sekitar pukul 12.00 rombongan langsung capcus ke Saloka Park. Oiya, sebelumnya kami makan bekal dulu di dalam bus. Alhamdulillah, Kakak gampang banget urusan makan. Jadi, nggak ada tuh drama-drama kayak anak lain yang ogah makan terus jadi masuk angin.
  • Baru jalan 5 menit dari Cimory, hujan gerimis menyambut kami. Duh, alamat nih, sampai Saloka nggak bisa maksimal eksplor wahana yang ada. Benar saja. Baru masuk Saloka, kemudian dijemput shuttle bus, hujan gerimis makin rapat. Wis pokoke udan terus. Baru nyobain bianglala, hujan makin deras. Bajuku basah semua. Alhamdulillah Kakak nggak terlalu basah. Dia ngumpet di dalam kerudungku. Karena nggak pakai alas kaki, ya, mau bagaimana lagi, depan gendong Kakak, belakang gendong ransel. Ya Allah, luar biasa nikmat Allah. Hahahaha.
    Dari parkiran bus kita dijemput pakai shuttle bus
  • Banyak sekali wahana di Saloka, bisa semua usia. Tapi, kalau mengajak anak seusia Kak Ghifa menurutku nggak bisa maksimal apalagi kok ditambah dengan hujan. Lengkap sudah. Berasa sedikit menyesal. Tapi, kalau ke sana lagi bareng Abi terus pas cuaca bagus, ehm, nagih pastinya.
  • Pas masuk Saloka Park tuh nggak boleh bawa makanan dan minuman yang berlabel. Kalau bawa minuman dengan wadah botol kita sendiri boleh kok. Ada pemeriksaan di depan. Tapi, menurutku pemeriksaannya nggak terlalu ketat. Nyatanya ada teman satu rombongan yang bisa membawa snacknya masuk. Terus, bagaimana kalau lapar? Ada yang jualan kok. Tapi, harganya lumayan mahal. Kalau di toko-toko biasanya harga 8000an, di Saloka bisa dua kali lipatnya. Lha kalau lapar kan ya mau nggak mau tetap beli kan ya? Pintar-pintar saja pilih menu atau memanfaatkan diskon. Aku kemarin bisa beli minuman isotonik seharga 10 ribu/2 botol. Kalau beli 1 harganya 8 ribu. Saranku sih ya, sebelum masuk Saloka makan saja yang kenyang di luar. Baik itu makan bekal yang kita bawa atau jajan di tempat parkir bus. Banyak kok warga yang jualan. Harganya masih banyak yang masuk akal. Kayak mie ayam semangkuk 10 ribu, pop mie besar 8 ribu, kopi 3 ribu, dan kalau beli mainan jangan lupa ditawar. Hihi, emak-emak banget deh ya. Habisnya banyak bunda-bunda yang pada ngiri pas aku beli balon busa 25 ribu/2 botol sedangkan mereka beli sebotolnya 15 ribu. Ramai deh dalam busa.
    Yeay, sampai Saloka Park yang nggak ada kolam renangnya.
  • Dari beberapa wahana yang bisa kami kunjungi, paling berkesan tuh pas masuk museum atau apa ya aku lupa namanya, pokoknya di depan pintu masuk. Di sana Kak Ghifa hepi banget lihat patung tiruan dinosaurus yang bisa mengeluarkan suara dan bergerak geleng-geleng. Alhamdulillah pas di sini, aku bisa mengabadikan kegiatan Kakak dalam bentuk video. Jadi, sampai rumah bisa diputar terus-menerus.
  • Peristiwa ngompol Kakak menjadikanku untuk sigap setiap saat tanya apakah dia ingin pipis atau tidak. Nyatanya dari pukul 07.00 sampai 21.00 Kakak pipis lebih dari 10 kali lho. Alhamdulillah, konsumsi minum Kak Ghifa tetap bagus. Setiap saat minta minum air putih.
  • Apa kabar dengan oleh-oleh? Kalau di Cimory kebanyakan ya makanan ringan, puding, jus, yoghurt, susu, boneka sapi, kaos Cimory, tas, dan mainan. Kisaran harganya di atas 10 ribuan. Untuk kaos khas Cimory harganya 75 ribuan untuk ukuran anak-anak. Bagaimana di Saloka? Khusus di Saloka kebanyakan barang sih oleh-olehnya. Kemarin Kak Ghifa beli topi yang bertuliskan Saloka dengan harga 50 ribu (semua ukuran harganya segitu) dan kaos (atasan dan celana) bergambar dinosaurus dengan harga 90 ribu. Pokoknya siapkan kocek yang lumayan deh ya kalau ke sini.

Segitu dulu cerita tentang traveling impian 2020-ku bersama Kak Ghifa. Perjalanan selama 19 jam itu banyak memberikanku pelajaran penting. Terutama tentang memahami dan penerimaan atas keadaan yang terjadi dalam hidupku. Nikmati. Sekalipun itu terasa berat. Kalau dipikir-pikir, dalam keadaan hujan, gendong ransel dan Kak Ghifa itu sangat melelahkan. Tapi, kenyataanya, ya, semua baik-baik saja.

Maaf, ya, Kak, kalau Ummi sesekali ngeluh capek pas gendong Kakak. Melihatmu duduk di atas kloset dalam keadaan terkantuk-kantuk membuat ummi merasa bersalah, belum bisa sepenuhnya memberikan cinta kasih ke Kakak. Semoga pergi berdua saja dengan Ummi bisa jadi kenangan yang indah untukmu. Ummi sayang Kakak 💗

Kamu sudah pernah ke Cimory On The Valley Semarang dan Saloka Park?

Jumat, 28 Februari 2020

Kanker Payudara dan Spondylosis yang Diidap Ibuku : Bismillah Kumulai Dari Sini



Tulisan dengan topik Kanker Payudara dan Spondylosis yang Diidap Ibuku ini akan bersambung ke tulisan berikutnya. Karena kalau kutulis dalam satu postingan takutnya malah nggak selesai-selesai karena terlalu panjang ceritanya.

Ibu, aku, dan Kak Ghifa.
Foto ini kuambil saat kami hendak arisan di kampung. Tepatnya bulan Juli 2019

Tulisan ini juga sebagai healingku untuk proses mengikhlaskan segala hal, terutama kepergian ibuku. Pun sebagai langkah awalku untuk kembali menulis setelah berbulan-bulan absen di blog ini karena merawat ibuku tercinta.

Baiklah. Nggak usah bertele-tele. Cekidot.

Semua berawal dari bulan Juni atau Juli tahun 2019. Mau cari kertas rujukan ibu yang lama kok belum ketemu.

Ibuku pulang dengan mata berkaca-kaca.

"Aku nggak mau dioperasi pokoknya, Ka." ucap ibuku. Kalimat yang sama disampaikan ke bapak.

Rasanya saat itu aku ya bingung, bagaimana mau merespon kondisi ibu?

Ibu diharuskan ke dokter bedah oleh dokter keluarga karena ada dua benjolan di payudaranya.

Akhirnya ibu mau periksa ke dokter keluarga saja aku sudah hepi banget. Tapi, ternyata respon ibu demikian. Aku berusaha maklum. Tak heran memang, divonis punya benjolan di payudara kan memang menakutkan. Bayangan yang aneh-aneh muncul. Apalagi ibu termasuk orang yang jarang banget sakit.

Akhirnya, perkara benjolan itu dilupakan sejenak. Ibuku terus melanjutkan hari-harinya untuk membantu bapakku jualan di pasar.

Sesekali aku mengingatkan ibu tentang bagaimana rencana ke dokter bedah. Rasa takut dalam diri ibuku masih menggunung.

Kalau kupikir-pikir, sebenarnya banyak hal yang dipertimbangkan ibuku. Salah satunya adalah perkara merepotkan orang-orang di sekitarnya. Apalagi aku anak tunggal yang punya balita pula.

Oiya, ibuku juga berusaha menjalani terapi urut di Semarang. Kalau menurut cerita ibu, terapi urut ini hanya di titik-titik tertentu pada tubuh. Mungkin gunanya melancarkan peredaran darah yang tersumbat karena lemak darah ya.

Selama menjalani terapi pijat ini yang dirasakan ibuku adalah badan agak entengan. Perkara benjolan nggak ada pengaruhnya.

Ibuku menjalani terapi itu kurang lebih selama setahun. Karena tidak ada perubahan pada benjolan di payudaranya, ibu mulai memberanikan diri periksa ke dokter keluarga, seperti yang kuceritakan di atas.

Agar lebih jelas tentang kanker payudara yang diidap ibuku, begini.

Ibuku merasakan ada benjolan di payudaranya pertama kali saat anakku, Kak Ghifa berusia 8 bulan, sekitar pertengahan tahun 2016. Benjolan sebesar kelereng dan perkembangannya sangat lambat. Tidak merasakan sakit. Hanya terasa sengkring-sengkring saat menstruasi datang.

Baru deh sekitar dua tahun kemudian muncul lagi benjolan di payudara yang sama (payudara sebelah kiri) tapi di bagian atas. Kira-kira begini kalau kugambarkan secara sederhana.


Benjolan kedualah yang mengganas dan merenggut nyawa ibuku.

Sampai sini, pelajaran penting yang bisa kupetik adalah sekecil apapun benjolan yang ada di tubuh kita, ayo segera periksa ke dokter! Jangan takut! Cari dokter terbaik juga. Kalau perlu ketemu beberapa dokter. Jangan hanya satu dokter!

Perlu banget kita memiliki asuransi kesehatan. Yah, paling nggak BPJS. Ini akan sangat membantu pengobatan kita. Bahkan semua pengobatan ibu sampai akhir hayatnya semua ditanggung sama BPJS.

Muncul pertanyaan, lah itu terapi pijat juga? Nggak efektif? Kok masih ke dokter? Nanti di tulisan berikutnya akan aku bahas lebih lanjut.


Bersambung...

*ada yang tanya, benjolannya itu di dalam atau di luar?

Benjolan di dalam, kalau diraba terasa keberadaannya seperti kelereng. Awalnya bisa bergerak ke sana-sini, lama-lama seperti mencengkeram dan tidak bergerak.

Kamu menemukan benjolan di payudara juga? Jangan langsung takut apalagi menduga itu kanker. Langkah terbaik segera ke dokter keluarga. Jangan ditunda-tunda.

Kemudian, kalau ketemu dokter bedah kok kemudian langsung diharuskan melakukan pembedahan atau pengangkatan, coba deh cari opsi lain. Misalnya cari dokter kedua. Apa kata dokter tersebut. Akan lebih baik kalau langsung ketemu sama dokter onkologi.

Mohon maaf, maaf banget, ada lho oknum dokter yang main langsung bedah. Tapi, percayalah, sertakan Allah di setiap langkah kita, mohon dipertemukan dengan dokter terbaik untuk menangani masalah kesehatan kita.

Asal bedah bisa menyebabkan sel kanker malah makin mengganas. Pembedahan pada kanker itu ada prosedurya. Di postingan selanjutnya akan aku bahas.

Jangan takut! Karena setiap sakit akan ada obatnya. Bersama kesulitan ada kemudahan, ini prinsip yang selama ini kupegang.