Selasa, 16 Februari 2021

Profesi Petani itu Tak Kalah Keren Kok, Nak!


"Kalau beli sawah garapan setahun 5 juta, eh, pas panen sekali hanya laku 4 juta. Rugi bandar. Belum pupuknya. Biaya kombi. Tenaga yang ngangkut. Wis tobat tenan."

 

Begitulah obrolan orang-orang sepuh di sekitarku saat musim panen padi tiba seperti sekarang ini. Ini bisa jadi salah satu faktor kenapa orang-orang pada malas garap sawah. Lebih memilih untuk menjual garapan (disewakan) kepada orang lain dibandingkan menanaminya sendiri.

Ironisnya, saat harga gabah (padi yang sudah dipanen) murah meriah, tapi di pasaran harga beras masih mahal. Kan lucu.

Di sana tuh yang ada rumahnya, dulu, di sana itu, ya, sawah semua.


Faktor lain adalah harga pupuk yang mahal terus dapetinnya juga susah. Lengkap sudah alasan untuk tidak jadi petani. Orang-orang di sekitarku memilih cari kerja serabutan di Semarang dari pada mencangkul di sawah yang hasilnya ora mbejaji (tidak menguntungkan).

Wajar juga kalau lama-lama banyak juga lahan persawahan yang dijual kaplingan. Banyak juga yang melepas lahan sawahnya dengan harga fantastis untuk pembangunan pabrik. Tapi, apa kabar dengan anak cucu nanti yang di tahun 2050 masih berjuang survive mengarungi kehidupan nan fana ini? Apakah mereka tak akan melihat lagi sawah-sawah nan hijau? Apakah mereka hanya akan melihat gedung-gedung yang mengeluarkan asap hitam perusak dinding semesta ini? Kelak, berapa harga beras yang harus dibayar anak cucu kita kalau orang-orang tak mau lagi berprofesi sebagai petani?

Kalau setiap hari anak didikku mendengar keluhan orangtuanya seperti di atas, bagaimana mungkin mereka mau jadi petani di kemudian hari? Mereka hanya tahu kalau jadi petani itu rekoso (tak sebanding hasilnya).

Kemudian, apa yang bisa kulakukan untuk mengajak anak didikku untuk mau meneruskan profesi nenek moyangnya sebagai petani?


Oh, Green Job itu...

#SelasaSharingISB, 9 Februari 2021 lalu, aku mengikuti zoom meeting yang digawangi oleh ISB dan Coaction Indonesia dengan mengangkat tema tentang "Green Jobs dan peluangnya di Indonesia."

Awalnya, aku yang saat ini berprofesi sebagai guru SD, dengar kata "Green Jobs" itu terasa asing. Apakah gerangan? Profesi yang seperti apakah itu? Dan kenapa tema ini diangkat?

Sungguh beruntung aku bisa mendapatkan kesempatan ini.

Ternyata eh ternyata...

Setelah mendengarkan Teh Ani, Mbak Koiromah, dan Kak Ve menyampaikan tentang Green Jobs, aku baru manggut-manggut. Paling tidak inilah yang bisa kuserap dan mengendap di dalam ingatanku dari apa yang beliau-beliau paparkan.

Semua berawal karena dunia ini memang sudah sepuh, tua. Perubahan iklim yang ekstrem sangat memprihatinkan. Sekarang saja kita sudah merasakan, bulan apa, eh musim apa. Banjir, longsor, gempa, dan angin ribut di mana-mana.

Data dari BNPB, sepanjang bulan Januari 2021 ada 263 bencana. Per hari bisa 9 bencana terjadi. Ya Allah.


Kalau kita sebagai manusia hanya begini saja, jalan seperti ini, sampah di mana-mana, pohon-pohon ditebangi, lahan sawah jadi pabrik semua, tanah ditambang terus menerus, jangan tanya 20-30 tahun ke depan dunia jadi apa. Bisa-bisa gulung tikar sebelum kiamat. Amit-amit.

Maka dari itu, nantinya, manusia itu akan mengalami yang namanya perubahan besar-besaran. Terutama soal profesinya. Di saat anak didikku tumbuh di usia produktif nanti, mereka diharapkan memiliki profesi yang tak hanya mengenyangkan perut, akan tetapi juga menciptakan rasa nyaman di lingkungannya.

Tentu, nggak enak kalau bisa makan mie rebus lengkap dengan telur dan cabe rawit tapi dalam keadaan dikepung air, kan?

Nah, profesi yang seperti apakah yang dibutuhkan kelak bahkan digadang-gadang bakal menggusur profesi konvensional saat ini?

Profesi inilah yang dikategorikan dalam green jobs, pekerjaan yang ramah lingkungan. Ada banyak macamnya, dan saat ini, anak muda mulai banyak merambahnya. Apa sajakah itu? Diantaranya ada; petani urban, perencana perkotaan, ilmuwan lingkungan, insinyur lingkungan, ilmuwan konservasi, ahli hidrologi, Geoscientists, pengacara lingkungan, Chief Sustainability Officer, dsb.

Sembari mendengarkan Mbak Koir menjelaskan hasil penelitiannya.

Ssstt...dengar-dengar, gaji dari macam green jobs di atas tuh sangat fantastis lho. Wow. Kantong penuh, lingkungan terjaga, siapa yang nolak, bukan?

Aku juga ngiler banget pas Kak Ve memaparkan cerita di atas. Jelas, aku sudah nggak bisa mengejar green jobs tersebut. Tapi, Mbak Koiromah juga mengingatkan, bahwa saat ini, profesi apapun yang kita jalani sekarang, kita masih bisa berkontribusi untuk lingkungan.

Iya, ya. Aku jadi mikir, apa ya yang selama ini sudah kulakukan untuk lingkungan? Dan apa yang bisa kulakukan lagi agar bisa lebih berkontribusi terhadap lingkungan?

Sembari Mbak Koir dan Teh Ani tektokan, aku jadi menelisik profesiku sebagai guru SD ini sudah berkontribusi apa untuk lingkungan? Ternyata...

  1. Sekarang administrasi kelas sudah meminimalisir penggunaan kertas. Kalau dulu RPP aja untuk satu pertemuan/hari bisa 12 lembar. Kalau sebulan bisa habis berapa lembar? Setahun? Itu baru satu guru, padahal di sekolahku ada 12 guru. Bayangkan berapa banyak pohon yang harus ditebang? Sekarang, kebijakan baru Mas Menteri, 1 RPP 1 lembar. Lumayan ngirit, kan?
  2. Pandemi ini membawa dampak ramah lingkungan juga. Kalau pas anak-anak tatap muka, otomatis setiap seminggu sekali akan ada ulangan harian. Nah, selama pandemi ini ulangan selalu kulakukan lewat google form. Bukankah ini juga termasuk langkah mendukung ramah lingkungan?
  3. Soal penggunaan listrik di kelas, saat ini kelas kosong dan hanya berisikan kursi terbalik. Tentu saja lampu dan kipas angin tak pernah nyala.
  4. Otomatis, karena anak-anak tak masuk sekolah, semua kegiatan guru terpusat di ruang guru. Nah, di sini nih colokan terpakai semua. Ada yang untuk kipas angin, printer, ngecharge laptop dan HP. Pas pulang, biasanya pada lupa tuh nyabut colokan, yah, nggak ada salahnya mulai dari diri sendiri, kucabut colokanku dan kalau masih ada teman yang kelupaan, ya, saling mengingatkan.
Coba tengok, colokan di ruanganmu masih nyantol?

Adakah yang bisa kulakukan lagi? Jelas, ada. Peranku sebagai guru, digugu dan ditiru oleh anak didikku harus kulaksanakan. Kira-kira, apakah itu?

Lahan Ada, Nenek Moyangnya Petani, Apa Iya Mau Alih Profesi?! Jangan!!

Salah satu contoh green jobs yang mencuri perhatianku adalah urban farmer/petani urban. Karena apa? Mereka yang tak ada lahan saja ada kemauan untuk menjadi petani. Nah, kondisi sebaliknya di sini, ada lahan, orangtua punya pengalaman, eh, kini hanya kakek nenek yang mau menjadi petani.

Sebenarnya ini sejalan dengan temuan artikel yang kubaca di Kompas.com bahwa hanya ada 1% anak muda yang mau jadi petani dibandingkan yang berusia tua. Ironis, bukan?

Ini tentu jadi masalah. Padahal peluang ke depan, kesempatan bekerja sebagai petani begitu menjanjikan.

Kalau diperhatikan lebih lanjut, teknologi yang memudahkan pekerjaan seorang petani pun mulai banyak bermunculan. Misalnya, dulu panen padi secara manual atau menggunakan tenaga manusia, kini panen padi sudah tak pakai tenaga manusia lagi. Tak laku karena sudah ada combine harvester, orang sini menyebutnya kombi.

Kombi bak robot di tengah sawah
dok: mongabay.co.id


Kombi ini termasuk sangat efisien, dulu panen padi sehektar, dengan tenaga manusia, bisa memakan waktu seharian penuh baru bisa selesai. Tapi, dengan kombi, tinggal duduk manis sambil ngopi, tiga jam pun bisa selesai dan padi hasil panen bisa diangkut pulang ke rumah atau ke tengkulak. Hanya saja, memang, biaya penggunaan kombi di sini masih terhitung mahal. Ini bisa jadi karena belum banyak orang yang punya alat ini. Lama-kelamaan, masalah ini insyaallah pasti bisa diminimalisir.

Masih ada peralatan lain yang canggih dan bisa memudahkan pekerjaan petani, diantaranya ada;

  • Tranplanter, alat untuk menanam bibit padi
  • Mesin pemilah bibit unggul
  • Alat pengering kedelai
  • Instalasi pengolahan limbah
Tidak menutup kemungkinan secepat mungkin akan ada inovasi teknologi lainnya yang akan bermunculan.

Dasar aku terlanjur kepo, kucari tuh ada nggak sih petani muda yang sukses bisa berlimpah materi. Ternyata ada, lho. Banyak lagi, tiga diantaranya:
  • Rayndra, usianya di bawah 30 tahun, dari Magelang, omsetnya per bulan 100 juta sampai 250 juta.
  • Sandi Octa Susila, S2 IPB, penggerak 373 petani, mengelola total 120 hektare, omsetnya sampai milyaran.
  • Roni Hartanto, 27 tahun, alumnus Teknologi Benih, Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, omsetnya sampai 240 juta per bulan.
Bukankah ini bukti kalau jadi petani itu nggak kalah kerennya dengan profesi yang lain? Materi insyaallah tercukupi, lingkungan juga tetap terjaga.

Mengenalkan Dunia Petani Kepada Anak Didikku dengan Cara yang Mudah


Nah, selesai mengikuti #SelasaSharingISB kemarin, aku langsung mikir, iya, ya, ini aku bisa melakukan apa agar anak didikku yang notabene anak petani bisa ada kesan kalau ternyata jadi petani itu nggak selamanya akan seperti nasib orangtuanya yang banyak rugi dibandingkan untungnya?

Tentu yang kusampaikan harus sesuai dengan materi pembelajaran. Pas, di kelas dua SD ini, semester dua, ada materi tentang merawat hewan dan tumbuhan di tema 6. Karena saat ini baru masuk sub tema 3, semenjak minggu lalu anak-anak sudah kuberi tugas dari rumah untuk menanam tanaman yang bisa dikonsumsi sehari-hari dengan memanfaatkan sampah plastik yang ada di rumahnya. Begini penampakannya.


Tidak hanya sekadar menanam kemudian selesai. Tugas ini akan berkelanjutan sampai kenaikan kelas. Jadi, nanti per minggu anak-anak wajib mengirimkan foto tanamannya, adakah perubahan yang terjadi? Atau jangan-jangan malah mati kering kerontang?

Nah, dari situ aku berharap akan ada kesan tersendiri, -oh, menanam tanaman itu nggak susah kok- di hati anak-anak selama bertanggung jawab merawat tanamannya. Dan rasa itu akan dibawa sampai kelak mereka dewasa.

Siapa tahu, ini siapa tahu, ya, akan muncul petani muda sukses di antara murid-muridku ini. Semoga. Aamiin.

Terakhir, kita yang saat ini sudah memiliki profesi tetap, ya, apapun itu, kita wajib mendukung dan berkontribusi untuk lingkungan. Sekecil apapun! Yuk, bergerak!


Sumber bacaan:

https://blog.tanihub.com/en/peralatan-teknologi-canggih-petani-indonesia-untuk-memenuhi-kebutuhan-pangan-kita/

https://borobudurnews.com/kisah-sukses-petani-muda-asal-ngablak-magelang-beromzet-ratusan-juta-tiap-bulan/

https://paktanidigital.com/artikel/roni-hartanto-petani-sayuran-hidroponik

https://www.trubus-online.co.id/kisah-sukses-45-petani-muda/

https://kompas.com/edu/read/2020/08/13/081606071/petani-muda-indonesia-hanya-1-persen-pakar-ipb-peluang-usaha-tani-besar

https://coaction.id/green-jobs-pekerjaan-ramah-lingkungan/

Minggu, 07 Februari 2021

Pengalaman Memakai Rangkaian Body Care Scarlett Whitening yang Viral Banget


Kotak cokelat berisi 3 jenis produk body care Scarlett Whitening itu kuterima hari Senin pagi. Tidak langsung kubuka karena aku masih sibuk dengan urusan dapur. Apalagi siang nanti harus cus rombongan dengan keluarga besar ke Jepara, ada kondangan.

"Duh, buru-buru malah baru ingat kalau body lotionku habis." Gerutuku.

Kemudian aku ingat kalau kotak cokelat tadi kan ada body lotionnya. Kubuka, buang bubble wrapnya, kemudian mencari mana yang body lotion.


Awalnya kesulitan bukanya. Oh, ternyata ada lock unlocknya pula. Saat kupencet, teksturnya nggak encer, setelah di kulit juga nggak lengket. Wanginya enak.

Pergi deh kondangan.

Berangkat habis dzuhur, mau maghrib baru sampai rumah. Pas mau wudhu, eh, kok wangi body lotion tadi masih ada, ya. Padahal tadi juga sudah wudhu untuk salat ashar.

Aku penasaran. Sembari leyeh-leyeh di kamar, kuuprek semua produk body care dari Scarlett Whitening tadi.

Kamu sudah pakai produk body care dari Scarlett Whitening, belum? Itu tuh yang lagi viral banget. Aku nih kepincut sama produk ini karena keseringan lihat iklannya di instagram, kemudian sering ada promo di online shop kesayanganku. Ya, sudah, angkut.

Nah, biar nggak penasaran, aku akan bikin reviewnya di sini, ya. Aku berharap kamu juga kepincut. Review ini kubuat setelah pemakaian selama satu bulan lebih lho. Review kumulai dari body scrub, shower scrub, dan body lotion yang sudah duluan kuceritakan secara singkat di atas. Cekidot dan nggak pakai lama lagi. Yuk, dibaca sampai tuntas!

Scarlett Whiteng Body Scrub Romansa With Glutathione Vitamin E

BPOM NA18190705488

Untuk body scrub, aku baru nyobain yang romansa, ada juga yang pomegrante, ya. Bagaimana reviewku untuk yang romansa?

Pertama kali buka, sama sih dengan body scrub yang lain. Lulur ini warnanya putih bersih, tentu ada butiran scrubnya. Hanya saja, pas diaplikasikan ke kulit, teksturnya seperti body lotion yang diberi scrub. Kan biasanya lulur teksturnya kering dan kasar, ya. Ini nggak kayak gitu.

Saat digosok secara perlahan, eh, scrubnya nggak nyakitin lho. Biasanya kan kalau mau bersih, harus mau sakit dulu biar dakinya keangkat. Produk ini tidak.

Kemudian pas mau dibilas, kena air, kulit langsung terasa halus. Dakiku yang ada di lipatan lengan kabur, kulit jadi terasa bersih, halus banget, dan tentunya wangi lembut. Menurutku dalam sekali pakai pun kulitku memang lebih tampak putih dari sebelumnya. 

Untuk kemasan, tube seperti body scrub yang lain, gambar bunga-bunganya lucu, dan tutupnya diulir jadi nggak mudah terbuka dan kecampur sama air. Di kemasannya ada hologram bertuliskan Scarlett, kemudian ada logo halalnya juga.

Untuk info ingredientsnya berikut ini, ya:

Aqua Demineralista, Polyethylene, Cetearyl Alcohol, Cetyl Alcohol, Mineral Oil, Glycol Distearate, Propane 123 Triyl Trinitrate, Propane Diol, Fragrance (Parfum) Component and Finished Fragrances, Glutathione, Dmdmhydanton, Trisopropanolamine, Acrylates C10 30 ALKYL Acrylate Crosspolymer, Glass Bead Vit E.


Aku nggak ada tips khusus untuk pemakaian body scrub ini. Ya, seperti biasa;

  1. Pas kulit masih kering, langsung deh aplikasikan body scrub ke tangan, kaki, leher, dan anggota badan lainnya. Tunggu agak kering.
  2. Setelah kering, kira-kira 3 menit, baru deh dibersihkan dulu scrubnya, baru deh dibilas sambil digosok-gosok perlahan.

Yang perlu digaris bawahi dari body scrub ini adalah scrubnya nggak nyakitin, wanginya lembut, dan sekali pakaipun sudah kelihatan kulit bersih. Kalau mau rutin memakainya seminggu dua kali, kulit bisa lebih bersih dibandingkan kalau kamu nggak pakai body scrub ini. Kuncinya, jangan malas luluran kalau mau hasilnya maksimal.

Scarlett Whitening Shower Scrub Pomegrante 300 ml

BPOM NA18180701928

Sabun mandi cair ini jadi salah satu produk dari Scarlett Whitening yang paling cepat habis kupakai. Padahal aku sehari mandi juga dua kali. Cuma, kalau mandi tuh bawaannya lihat sabun ini hepi banget. Warnanya ungu kesukaanku, terus lihat butiran-butiran berwarna biru dan merah yang melengkapi tuh lucu. Butiran ini digadang-gadang bisa memaksimalkan usaha kita untuk membersihkan tubuh lho.

Kalau pas mandi, inginku tuang lagi, lagi, dan lagi. Apalagi teksturnya yang memang nggak terlalu kental. Berhasil keblabasan mulu deh kalau nuang.

Tapi, begini, apa mungkin karena aku pakai shower puff (anakku sering nyebutnya usek-usek), ya, jadi butirannya nggak terasa di kulitku? Soal busa, lumayan, bukan termasuk yang berbusa-busa, tapi nggak sedikit juga busanya. Wanginya? Menurutku biasa saja. Lebih wangi lulurnya dibandingkan sabun cair ini.

Setelah mandi, apa yang kurasakan? Aku pernah pakai sabun mandi cair yang kesan habis mandi tuh licin banget kulitku, ada yang lengket seperti nggak bersih saat kubilas, ada yang keset banget sampai kulit rasanya ketat. Ada juga yang biasa-biasa saja tapi wanginya nampol banget. Nah, produk yang kemasannya kayak botol minuman dengan tutup flip flop ini kesannya enak saja. Pas. Nggak keset tapi nggak licin juga. Kalau pas lagi bepergian, bawa shower scrub ini wajib deh. Soalnya gampang dibawa ke mana-mana.



Untuk info ingredientsnya berikut ini, ya:
Aqua, Sodium Laureth-2 Sulfate, Acrylates/Steareth-2-Methacrylate Copolymer, Lauryl Betaine, Coconut Fatty Acid Diethanolamide, Fragrance (Parfume) Component and Finished Fragrances, Sodium Lauryl Sulfate, Cocamidopropyl BetaineAmmonium Salt, Collagen, Pomegranate fruit peel extract octenylsuccinate, Glutathione, Polyethylene, Dmdm Hydantoin, Glass beads Vit E, EDTA, Citric acid.

Oiya, hampir saja kelupaan, untuk shower scrubnya ini ada varian lain ya, yaitu Mango dan Cucumber. Aku penasaran sama yang Mango, makanya ini lagi nungguin yang Mango datang. 

Scarlett Whitening Body Lotion Charming 300 ml

BPOM NA 18190123882

Ada nggak sih yang pakai baju menutup aurat terus jadi malas pakai body lotion? Kadang-kadang aku kayak gitu. Apalagi kalau pas buru-buru berangkat kerja. Keburu pencet finger print jadi bawaannya pengen cepat sampai sekolah. Tapi, sejak kenal body lotion ini kebiasaan jelekku itu sudah nggak berlaku lagi. Soalnya, body lotion ini selalu ada di tasku. Botolnya kan hampir sama kayak shower scrubnya, tapi tutupnya ini ada pengaman dan bentuknya kayak pompa gitu. Jadi, aku bawa di tasku nggak makan tempat plus nggak takut tumpah.

Pastikan di kemasan ada hologramnya

Setiap kali sampai sekolah yang jaraknya hanya selemparan kolor, kelar finger, terus melipir ke meja kerjaku yang letaknya di pojokan, cus pakai body lotion ini. Ya, walau nggak bersua langsung sama anak-anak, tampil bersih dan wangi kan harus to. Mosok kumpul sama teman sejawat bau terasi?

Oiya, body lotion ini tuh wangi banget menurutku. Tahan lama pula, walau dipakai wudhu salat dhuha dan dzuhur baunya masih ada. Apakah ini yang membuat body lotion dari Scarleet Whitening begitu viral di luar sana? Baunya mirip parfum Baccarat Rouge 540 Eau De yang harganya jutaan rupiah sih.

Selain itu, menurutku yang bikin viral tuh ya, body lotion ini memang ngasih hasil yang maksimal tapi bukan abal-abal. Ada kan body lotion yang before after pemakaian perubahan warna kulit jadi lebay banget. Nah, kalau aku pakai body lotion ini tuh memang ada bedanya, tapi nggak yang sampai mencolok banget. Terus paling nyaman pakai ini karena teksturnya keset di kulitku, nggak yang encer gitu, cepat meresap. Terus bulu-bulu kakiku nggak makin panjang. Ini penting banget. Ada kan body lotion yang malah manjangin bulu kaki? Yang kayak gitu bukannya bikin hepi malah nyebelin. Kamu harus cobain body lotion dari Scarlett Whitening ini biar nggak penasaran.





Untuk body lotion ini ada tiga varian, yaitu charming, romansa, dan fantasia. Kalau yang romansa baunya seperti lulur yang kuceritakan di atas, ya, wanginya lembut. Kalau yang fantasia aku belum pernah nyobain. Kalau kamu sudah nyobain bisa dong ceritakan di kolom komentar.

Untuk info ingredientsnya berikut ini, ya:
Aqua Demineralisata, Cetearyl Alcohol, Cetyl Alcohol, Mineral Oil, Propane 1 2 3 triyl trinitrate, Fragrance (Parfume) Component and Finished Fragrances, Propanediol, Kojic acid, Niacinamide, Titanium Dioxide, Glutathione, Dmdm Hydantoin, Triisopropanolamine, Glass Beads Vit E, Acrylates C10 30 Alkyl Acrylate Crosspolymer, CI 60725.


Semua rangkaian body care dari Scarlett Whitening yang aku sebutkan di atas itu mengandung GLUTATHIONE dan VIT E, ya Teman-teman. Gunanya untuk mencerahkan, melembabkan, dan menutrisi kulit kita. Selain itu, tak kalah penting, produk ini not tested on animals.

Pesanku nih misal kamu beli produk dari Scarlett Whitening, belilah di official storenya saja atau langsung lewat DM sosial media Scarlett Whitening. Karena aku sendiri pernah lihat di marketplace yang jual produk ini tapi dalam kemasan kecil, maksudku yang dibagi-bagi di wadah sendiri agar harganya lebih murah. Hati-hati kalau kena penipuan. Toh, semua produk yang aku ceritakan di atas harganya cukup terjangkau kalau melihat manfaat yang kita dapat, yaitu Rp 75.000. Itupun sering ada promo lho. 

Kamu bisa pilih salah satu nih mau order via apa,
WhatsApp di 087700163000).
Line (@scarlett_whitening)
DM instagram @scarlett_whitening
Ataupun shopee (Scarlett_whitening)

Oiya, sebelum kututup nih reviewku, ada tips untuk kamu yang takut kena tipu produk abal-abal, kamu bisa cek produk Scarlett Whitenging yang kamu beli itu di websitenya langsung. Caranya begini.
  1. Buka website https://scarlettwhitening.com/

  2. Di pojok kanan, cari menu Verifikasi. Klik, masukkan data dan kode yang ada di hologram kemasan produk Scarlett Whitening yang kamu miliki

  3. Lihat hasilnya. Kemudian cocokkan kembali nomor yang tampil. Kalau sama berarti produk kamu nggak abal-abal.
Bagaimana? Nggak ragu lagi dapat produk yang asli kan?

Senin, 25 Januari 2021

Review Kabel USB Merek Anker Harga 35 Ribu

 

Serumah, tapi kabel charger yang masih bisa dipakai secara waras hanya satu. Bisa membayangkan bagaimana aku, abi, dan bapakku bergantian memakainya? Lebih tepatnya bukan bergantian sih, tapi keroyokan. Siapa cepat dia dapat.

Ada banyak kabel USB yang kubeli di konter dekat rumah. Harganya kalau nggak salah tuh sepuluh ribu per biji. Aku beli dua. Tapi, ya, itu tadi, ternyata, kalau dipakai nge-charge tuh nggak penuh-penuh. Sering banget kalau nggak sengaja kesenggol, bukannya nambah, eh, malah berkurang tuh persentase baterai HP kami.

Menyebalkan.

Mau beli lagi di konter dekat rumah, cari yang harganya lebih mahalan dikit, tapi takut kalau abal-abal lagi. Yo wis, akhirnya aku coba nyari di marketplace kesayanganku, JD.ID.

Nemu tuh merek ANKER, harga aslinya (entah asli atau palsu) Rp 119.000. Tapi, untuk warna tertentu ada promo jadi 35 ribu saja. Aku baca-baca review dari pembelinya kok bagus, akhirnya checkout untuk 2 biji kabel USB ini.

Kamis order, Sabtu sore sampai rumah. Langsung kubuka dong, ya. Kesannya;

  1. Ada box-nya nih, meyakinkan. Soalnya pas beli di konter, kabelnya telanjang, alias nggak pakai kardus.
  2. Garansinya 18 bulan, tapi kok nggak ada buku garansinya?
  3. Warna merah yang kupilih ngejreng banget, tapi bagus. Karena niat kupilih dari awal biar kalau nyari mudah. Warnanya kan mencolok banget.
  4. Diameter kabel USB lebih besar dari kabel USB bawaan pabrik milik HPku.
  5. Diameter lebih besar tapi tetap lentur
  6. Terdapat plester, jadi bisa dilipat setiap kali habis dipakai
Nah, setelah dipakai untuk nge-charge, kabel USB Anker ini peformanya seperti apa?

Cepet banget.

Awalnya, pukul 06.00 bateraiku tinggal 12%, kucolokkan. Pukul 07.38 sudah penuh. Biasanya kalau pakai chargerku, baru keisi 50%. Ah, senangnya. Aku nggak salah pilih. Cocoklah, ya, dnegan harga 35 ribu. Cocok banget malah.

Iseng-iseng aku ngecek harga juga di Shopee. Eh, lebih murah, RP 27 ribu. Tapi, itu belum termasuk ongkir. Kalau sampai ke rumahku, total dengan ongkir, harga satuannya mencapak 50 ribu. Beda kalau di JD.ID, kalau beli 1, aku kena ongkir 9 ribu. Karena kalau belanja minimal 36 ribu gratis ongkir, makanya aku beli dua saja sekalian. Biar nggak berebutan dengan anggota keluarga yang lain.

Terakhir, aku puas dengan hasil belanjaanku kali ini. Kalau saat ini kabel USB kamu lagi eror juga, bisa lho pilih kabel USB merek ANKER ini. Bocoran di detail produknya, kabel USB ini tidak hanya bisa dipakai untuk nge-charge HP (bisa berbaga merek), tablet, kamera, MP3 player, hard drives, pun juga bisa.

Kamu, sudah berapa kali ganti kabel USB? 

Rabu, 20 Januari 2021

Aku Memilih Anakku Tidak ke Sekolah Selama Pandemi


Bukannya memang tidak boleh ke sekolah, ya?

Oh, tidak. Sekolah anakku tetap masuk. Akan kuceritakan secara lengkapnya.

Kakak sedang mengerjakan tugas dari bunda gurunya

Maret 2020 mulai heboh kan karena ada Corona, sekolah daring semua. Termasuk anak didikku kelas 1 SD. Mau tidak mau. Semua kaget dengan rutinitas itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Kabarnya kan virus ini mengerikan, mematikan.

Ya, walaupun orang-orang di daerahku pada santuy. Ke mana-mana nggak pakai masker. Seperti kuceritakan di New Normal di Sekitarku.

Awal pandemi, anakku dapat tugas daring. Mulai diminta kirim foto setelah mandi pagi, kirim foto hasil gambar anak, dan itu berjalan nggak lama kok. Sebulan juga nggak ada terus stop, grup sepi kayak kuburan.

Sampai akhirnya setelah lebaran bulan Mei 2020, guru PAUD anakku share informasi kalau sekolah mulai masuk. Katanya daripada klumbrak-klumbruk (tidur nggak jelas) di rumah.

Aku mulai kelabakan tuh. Weh? Berani, ya, masukkin anak-anak di saat pandemi gini? Pikirku. Ada apa gerangan?

Apakah karena letak sekolah yang nyempil di dalam kampung kemudian jarang kena sidak? Berbeda dengan sekolahku yang terletak di pinggir jalan raya, bisa kapan saja kena sidak.

Eh, eh, ternyata oh ternyata, hampir semua walimurid pada setuju anak-anaknya sekolah. Wow.

Jujur, aku langsung izin di grup kalau anakku nggak bisa berangkat dulu karena alasan pandemi. Lha aku kerja pula, gimana aku ngawasin anakku kalau kutinggal sendiri di sekolah. Bersenggolan dengan teman, pastilah, namanya anak-anak.

((Kesannya aku lebay banget nggak, sih?))

Berbulan-bulan Kakak nggak sekolah. Kalau pagi, dia ikut aku ke sekolah. Sampai akhirnya, sepupunya yang sama-sama nggak pernah masuk kayak Kakak, eh, mau berangkat ke sekolah. Awal mula orangtuanya sepemikiran denganku, pandemi gini kok anak-anak ke sekolah. Tapi, karena melihat sikon di sekitar kok kayaknya aman, Corona nggak sampai sini, akhirnya dia mengizinkan anaknya ke sekolah.

((Corona nggak sampai sini, Gaes, katanya))

Namanya anak-anak, lihat temannya sekolah, dapat cerita ini dan itu, Kakak ingin sekolah juga.

Okelah. Tapi, masalah datang.

Entah karena apa, awalnya selama satu minggu Kakak mau sekolah sendiri meski ada drama menangis dulu. Eh, lama-lama setiap kali aku pulang kerja dia selalu bilang nggak mau sekolah, nggak mau sekolah.

Duh, kenapa ini?

Kegiatan senam pas hari Jumat doang


Sekadar info, selama pandemi ini Kakak masuknya seminggu hanya tiga kali, Senin, Rabu, dan Jumat. Mulainya seperti biasa, pukul 08.00 sampai 09.45.

Setiap kali jatahnya sekolah, dia malah rewel banget kalau pagi. Nggak mau sekolah. Dulu, sebelum pandemi dan almarhumah ibuku meninggal kan bulekku yang antar dan nunggui. Sekarang nggak ditunggui.

Muncul deh rasa bersalahku. Jangan-jangan dia pengen ditungguin juga seperti teman-temannya?!

Info lagi, di sekolah Kakak ini walimuridnya memang boleh banget masuk. Jadi, kalau pas kegiatan menulis dimulai, walimuridnya siap sedia pada masuk dan ngajari menulis. Ini nih yang bagiku nggak banget. Jadi, nggak dihandle sama gurunya. Padahal muridnya nggak sampai 30 anak dan gurunya ada 2.

((Maaf, ya, Bunda guru, aku kesannya agak julid))

Akhirnya, "Oke, Ummi tunggui, tapi semua kegiatan Kakak harus lakukan sendiri."

Aku bela-belain izin sama kepsekku nih, kalau pagi nganter Kakak dulu, ntar pulangnya langsung ke sekolah. Jalan tuh, sebulanan mungkin.

Kulihat di sekolah Kakak hepi banget, dia mau mengikuti semua kegiatan di kelas secara mandiri. Hanya saja aku harus duduk di sebelah bangkunya. Oh, tidak. Duduk dekat pintu, no no no.

Sampai walimurid lain pada berseloroh, "Kalau ditunggui Umminya kok ya ceria banget. Kalau nggak ditunggui kok cemberut sampai pulang."

Kakak sesekali nengok ke arahku untuk memastikan apakah aku masih setia menunggunya


Bunda gurunya juga pernah cerita, Kak Ghifa pernah nangis mulai berangkat, masuk, sampai mau pulang. Pas bunda gurunya bilang, "Mas Ghifa nggak usah nangis. Dilihatin temannya tuh lho. Temannya saja nggak ada yang nangis." Kakak malah nangis sekencang-kencangnya.

Lah, iya.

Hahaha.

Saat kubawa kesekolahku, hanya ada aku dan Kakak saja, kami ngobrol dari hati ke hati, kenapa kok dia nangis setiap kali di sekolah?

"Aku maunya ditunggui Ummi, enak."

"Pas nangis, malah dimarahin."

Hahaha. Sesuai perkiraanku, deh. Tapi, maaf, aku juga nggak mau menghakimi bunda gurunya. Karena setiap guru dan anak itu kan unik.

Sebulan nungguin Kakak sekolah, aku juga dapat cerita baru. Maaf, bukan aku sok sok an mengkritisi cara mengajar bunda gurunya, tapi rasanya gatel banget, sih, toh dulu aku juga pernah ngajar anak-anak usia PAUD dan TK.

Tapi, yang perlu digaris bawahi, ini bukan sepenuhnya salah bunda gurunya yang masih lajang, satunya belum memiliki buah hati, ya. Salahku juga memilihkan sekolah seperti ini untuk anakku. Salahku dewe. Dadi yo rasak-rasakno.

Jadi, setiap kali masuk, anak-anak langsung berdoa, kemudian langsung buka majalah, mengerjakan tugas majalah, selesai dikumpulkan, istirahat jajan (lamaaaaaaa banget), kemudian masuk, nyanyi sebentar, pulang betek-betek-an (mencongak).

Seperti itu kegiatan umumnya. Kalau Jumat, setelah berdoa, kadang olahraga/jalan-jalan keliling kampung, nyanyi-nyanyi bentar, nanti terus kegiatan menulis lagi.

Aku bisa bayangin, sih, Kakak yang kinestetik merasa tertekan dengan rutinitas di dalam kelas yang seperti itu-itu saja. Yang dipikirkan anak-anak di kelas adalah jam istirahat. Sering banget anak-anak saat menulis atau mewarnai pada ngambek (kebanyakan gitu semua), maunya istirahat saja.

Ehm...

Maka dari itu, saat aku dapat sentilan dari kepala sekolah tentang izinku nganter Kakak sekolah, setelah curhat juga di IG story, aku mantab untuk bawa Kakak ke sekolahku saja. Kuajari sendiri. Hahaha.

Entahlah, keputusanku itu tepat atau tidak sebagai pola parenting Kakak? Tapi, melihat Kakak tidak nyaman di sekolah kok aku merasa makin bersalah.

Aku sampai berpikir, jangan-jangan aku yang terlalu lebay?! Aku yang terlalu protektif dengan Kakak? Kalau aku ikhlas melepas Kakak, nanti kan Kakak juga jadi terbiasa sendiri. Seminggu, dua minggu menangis, kan wajar?

Tapi,

Melihat cara bunda gurunya megang murid, aku kok ragu kalau Kakak akan baik-baik saja. Maaf, maaf, banget. Aku tak bermaksud menyalahkan bunda gurunya. Sekali lagi ini salahku yang begitu saja melepas anakku. Karena selama ini aku percaya bahwa, 'anak cerdas mau sekolah di mana saja bakalan cerdas'.

Aku sampai mengoreksi lagi kalimat yang kupercaya itu, iya, bisa terwujud kalau anak memang sudah mandiri, paling tidak paham betul mana yang baik dan tidak. Kalau anak seusia Kakak kok rasanya seribu satu. 

Sampai detik ini aku menuliskan postingan ini, Kakak masih sering ikut aku ke sekolah. Sesekali dia kutinggal di rumah saat abinya ada proyek di rumah.

Ketika di rumah bersama abinya, Kakak akan memilih kegiatan menangkap ikan dengan bakul tempat berkat. Hahaha. Dan aku takjub, Kakak sekarang sudah jago menangkap ikan sendiri dengan bakul yang diberi tangkai kayu.

Kalau ikut denganku, apa nggak ganggu? Ya, dikatakan ganggu sih ya agak ganggu, tapi lebih baik seperti itu. Aku jadi tahu Kakak sedang ngapain saja. Bisa pantau dia sedang belajar apa.

Bergaya dengan topi pemadam hasil karyanya

Pokoknya kalau baru sampai sekolahku, aku bersih-bersih, Kakak sering bantuin nyapu juga. Kalau pas nggak mood, ya, dia duduk saja nunggu aku selesai bersih-bersih kelas dan halaman. Setelah itu, baru deh kegiatan Kakak. Mulai dari berdoa, kemudian senam, nyanyi-nyanyi, lanjut kadangkala menggunting, mewarnai, menulis angka, menulis huruf, menyusun balok, kemudian istirahat. Kulatih dia seperti di sekolahnya tapi ada kegiatan menyanyi dan gerak terlebih dahulu. Alhasil, dia hapal semua tepuk ice breaking yang sering kugunakan untuk pembelajaran bersama anak didikku.

Ending dari semua drama sekolah Kakak ini, akhirnya Allah jawab dengan hasil ujian CPNSku. Sembari menunggu SK CPNS-ku turun Februari ini, sejak awal semester 2 Kakak sudah kucabut dari sekolahnya dan akan kubawa ke sekolah yang baru. Sekolah Kakak ini nanti satu komplek dengan tempat tugasku yang baru. Bedanya, sekolahnya ini memang tidak boleh ditunggui. Selama daring pun tugas tetap jalan. Grup WA selalu ramai tak seperti kuburan.

Aku berharap apa yang kualami ini tak dialami keluarga yang lain. Sudah, cukup Kakak saja yang mengalami salah pilih sekolah. Semoga di sekolah Kakak yang baru nanti Kakak bisa bertemu dengan teman-teman yang bisa saling mendukung dan dipertemukan dengan guru yang tepat.

Beginilah cerita drama sekolah anak seorang guru, hihi. Terlebih di masa pandemi. Semua kerja ekstra. Tapi, Ummi nggak papa kerepotan ngajarin Kakak dibandingkan harus melihat dan mendengar cerita kalau Kakak harus menangis setiap hari.

Senin, 07 Desember 2020

Aku Adalah Korban Kekerasan Berbasis Gender, Jangan Sampai Ini Menimpa Anak Didikku


Di dalam bus patas Surabaya-Semarang, kunikmati perjalananku. Di luar gerimis. Syahdu. Karena seharian kuliah, lelah, kupejamkan mataku sejenak.

Tiba-tiba bus berhenti, menaikkan penumpang. Kusadari penumpang baru itu duduk di sampingku. Parfumnya begitu menohok. Tak kupedulikan kehadirannya. Kugeser posisiku dan kupeluk erat tas ranselku. Maksud hati hendak melanjutkan tidur tahi ayamku, tapi aku merasa orang di sebelahku makin mendesak bahuku.

"Maunya apa sih nih orang?"

Kugeser lagi dudukku sambil kupicingkan mataku. Duh, ternyata laki-laki, berjaket kulit hitam dan kelihatan terlalu klimis.

Tapi, kok duduknya makin mendesakku?

Secepat kilat tangan setan itu menyentuh sedikit bagian payudaraku. Sontak, aku berdiri. Dia kaget. Kupelototi. Dia menyingkir dan aku memilih berdiri dekat kernet saja.

***

Bodoh sekali, aku ini!!

Aku ingin mengumpat setiap kali ingat kejadian itu. Kenapa dulu nggak teriak minta tolong biar laki-laki itu digebukin orang banyak? Kenapa hanya menghindar dan diam?!

Kejadian yang terjadi lebih dari sewindu lalu ini tersingkap kembali dalam ingatanku saat menyaksikan Webinar 15 - Anti Kekerasan Berbasis Gender oleh Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Sabtu, 21 November 2020 pukul 10.00 - 12.00 WIB. Sampai sekarang, setiap kali ingat kejadian itu rasanya ingin marah, jengkel, jijik, malu, sedih, semua campur aduk.

Benar adanya kalau kejadian ini membawa trauma dalam diriku. Apakah akan kubawa seumur hidupku? Ya Allah, ini begitu menyiksa.

Dari rasa itulah, sebagai guru, aku ingin sekali kejadian yang kualami tidak dirasakan juga oleh anak didikku. Apa yang harus kulakukan untuk mencegah adanya kekerasan berbasis gender di kelasku?



Baca juga tulisanku: VERBAL BULLYING YANG BIASA TERJADI DI KELAS 1 SD


1. Aku tetap stay di kelas saat jam istirahat

Enam tahun menjadi guru di kelas satu membuatku terbiasa untuk duduk manis di kelas saat jam istirahat tiba. Kenapa? Karena saat itulah mereka 'bersinggungan' dengan temannya. Ada saja yang mereka lakukan.


Seperti yang disampaikan Mbak Ella, Gisella Tani Pratiwi, selaku narasumber webinar, bahwa anak melakukan kekerasan gender karena dia tidak tahu kalau apa yang dilakukannya itu adalah sebuah kekerasan. Makanya, sebagai guru aku harus selalu mengawasi kegiatan anak-anak karena inilah tugasku, tidak hanya mengajar, melainkan mendidik juga.

2. Menyampaikan materi tentang jaga diri dengan cara menyenangkan

Kurikulum 2013, di kelas satu, pada tema satu subtema dua ada materi tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh dipegang orang lain. Aku merasa sangat dimudahkan dengan adanya materi ini. Karena ini melancarkan upayaku untuk mencegah adanya kekerasan berbasis gender di kelasku.


Tugasku sebagai guru adalah membuat materi ini mudah dipahami dan bisa diterapkan anak-anak. Salah satu caraku adalah membuat kreasi tepuk jaga diri seperti video di atas.

3. Sigap setiap kali ada keluhan

Setiap kali ada keluhan, seadil mungkin aku pertemukan pelaku, korban, dan saksi kejadian. Kemudian akan aku selesaikan di lingkup kecil ataupun kelas, tergantung tingkat parah tidaknya suatu kasus. Hari itu juga harus selesai. Setelah itu, aku hubungi secara personal wali murid terkait, dan terakhir akan kukomunikasikan kejadian tersebut di grup kelas, agar semua wali murid juga tahu apa yang terjadi di kelas.

Alhamdulillah, sejauh ini semua berjalan dengan baik. Yuk, kita mulai lawan kekerasan berbasis gender di lingkungan terdekat kita. Aku sudah mulai, kamu, kapan?


Tulisan ini terinpirasi setelah mengikuti Webinar 15 - Anti Kekerasan Berbasis Gender oleh Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Sabtu, 21 November 2020 pukul 10.00 - 12.00 WIB. Follow sosial medianya agar kamu juga bisa ikutan juga webinar lainnya dengan tema yang selalu uptodate.