Minggu, 11 Oktober 2020

Guru Harus Memiliki Gaya Komunikasi yang Baik


Guru kelas sebelah tergopoh-gopoh mendatangiku.

"Ini siapa sih, Mbak?"

Beliau menunjukkan nomor seseorang di grup kelasnya. Aku tentu kenal siapa yang dimaksud karena grup tersebut dulu yang pegang dan buat aku. Grup wali muridku tahun lalu.

Komentarnya panjang lebar dan masuk akal, menurutku. Akan tetapi, bagi teman sejawatku tadi justru membuatnya kurang nyaman.

"Aku pusing, Mbak. Setiap hari ada masalah terus."

Beberapa kali wali murid kelas sebelah memang banyak yang japri aku mengeluhkan kinerja teman sejawatku.

"Masak seminggu nggak ada tugas sama sekali, Bu."

"Tugas anak diberikan tiga hari sekali."

"Grup dibuat 'hanya admin'  yang bisa komentar. Lah, buat apa dibuat grup kalau anggotanya tidak bisa komentar?"

Begitulah inti komentar wali murid. Ini bukan hanya satu wali murid yang berani mengungkapkan uneg-unegnya lho ya.

Jujur, aku tidak munafik, sempat berpikir kalau selama satu tahun aku pegang juga jarang wali murid yang komplain atau berkeluh kesah sampai menusuk dada. Tapi, jahat bangetlah kalau aku sampai merendahkan atau bahkan menjelek-jelekkan teman sejawatku di depan wali murid. Aku berusaha banget untuk memberikan komentar netral. Nggak memihak pihak manapun.

Di lain sisi, temanku tadi kan kalau ada apa-apa cerita ke aku. Betul, paginya pas ketemu sama aku pasti langsung cerita tentang masalah dengan wali murid. Di sinilah aku berusaha untuk memberikan masukan kepadanya, tanpa menggurui atau sok sok an jadi guru yang paling aman berhubungan dengan wali murid. Karena rasanya tuh seperti nggak ada ajine (harganya) di depan wali murid kalau sampai ada masalah terus.

Dari kejadian yang dialami temanku di atas, aku jadi benar-benar tersadar kalau pandemi ini tuh mengingatkanku kalau guru harus memiliki gaya komunikasi yang baik secara langsung atau tatap muka dan juga secara tulisan.

Aku sendiri juga tentunya memiliki masalah dengan grup kelasku. Ada yang sampai sekarang tidak pernah kirim tugas. Ada juga yang kirim suka telat-telat, pakai banget malah. Tapi, alhamdulillah, aku sikapi dengan caraku sendiri dan sampai sekarang aman-aman saja.

Nah, di sinilah aku bisa menarik benang merah dari kejadian yang dialami oleh temanku tadi, pun juga dari pengalamanku. Kuakui pandemi ini sungguh menuntut kami kerja lebih ekstra dan tk terhingga pula.

Berikut hal-hal yang harus digaris bawahi oleh guru selama memberikan tugas kepada anak-anak via apapun, terutama via WhatsApp.

  1. Setiap kali memberikan tugas, jangan lupa sampaikan salam, tanyakan kabar, beri pembukaan, baru kemudian sampaikan tugas untuk anak-anak. Basa-basi itu sangat penting. Kalau kamu nggak bisa basa-basi, latihan.
  2. Saat menyusun kalimat untuk poin 1, jangan lupakan tiga kata ajaib, yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Ini sangat ngaruh banget lho. Nggak percaya, coba saja.
  3. Tentukan pada pukul berapa akan memberikan tugas ke anak. Kalau pukul 08.00 ya pukul segitu terus. Karena ada wali murid yang cerita, setiap kali pukul 09.00 (aku memberikan tugas ke anak setiap pukul 09.00), anaknya sudah siap dengan buku tugas dan seperangkatnya di meja belajar. Tentunya sudah mandi dan sarapan. Kalau sampai kelewat, meskipun lima menit, jangan lupa sampaikan maaf. Jangan gengsi untuk meminta maaf.
  4. Setiap kali ada hal yang menyangkut satu kelas, kalau bisa kamu ambil keputusan tanpa merugikan anak-anak, ya, ambil saja keputusan. Kalau ada apa-apa divoting, nanti akan menimbulkan kesan yang tidak baik bagi mereka yang tidak terpilih hasil votenya. Ini terjadi di kelas sebelah.
  5. Jangan pernah lupa untuk memberikan apresiasi ke orang tua yang selama ini menemani anak. Tidak gampang bukan menemani anak-anak belajar di rumah? Sangat. Tolong jangan sampai ada kalimat kutukan yang keluar dari mulut kita, "Rasain deh, baru menemani satu anak saja sudah kerepotan, apalagi sepertiku, setiap hari ngadepin 30 anak." Helo! No no. Jangan sampai ada juga anggapan, "Enak ya gurunya, nggak ngajar dapat bayaran." Oh, tidaaaaaakkk!


Kamu, orang tua? Kamu, guru? Masa pandemi ini memang terasa sangat sulit bagi kita. Tapi, tolong, jangan semua hal dijadikan masalah. Kalau kita bisa padamkan pecikan api, kenapa harus kita sulut?

Kamu kalau ada komentar atau keluh kesah berkaitan cara komunikasi bersama guru anak-anak atau ke wali murid, boleh lho ditulis di kolom komentar. Yah, setidaknya bisa mengurangi beban perasaan kamu. Atau mau menambahkan poin di atas, boleh banget. Ku tunggu ya.

Sabtu, 10 Oktober 2020

Rilis Dalam Waktu Berdekatan, Simak Perbedaan Realme C11 Dan C15!

Kemarin aku habis bahas HPku yang sempat mati total, kali ini aku mau ngasih bocoran tentang HP Realmi C11 dan C15.

Baca juga, yuk Cara Mengatasi ASUS ASUS Zenfone Max M2 Mati Total


sumber : selular.id


Realme adalah brand smartphone dengan beberapa pilihan handphone dengan harga terjangkau. Suamiku juga pakai merek HP ini lho. Bagi kamu yang memiliki budget minim, tentu bisa menjadikan Realme sebagai  ponsel terbaik. Salah satu pilihannya yaitu Realme C11 dan C15. 

Kedua smartphone ini punya jadwal rilis yang berdekatan. C11 rilis pada Juni 2020 kemudian diikuti dengan C15 yang rilis pada Agustus 2020. Keduanya memiliki spesifikasi yang mirip, tapi tentunya ada  perbedaan di beberapa sektor.

1. Kamera

Dari sektor kamera, kedua smartphone ini punya beberapa perbedaan. Untuk C11 dibekali dengan 2 kamera dengan lensa utama 13 MP dan sisanya kamera 2 MP dengan fitur depth sensor. Sementara untuk realme C15 punya 4 kamera, dengan kamera utama sebesar 13 MP, lalu kamera kedua 8MP yang memiliki fitur Ultra-wide. Untuk dua kamera lainnya memiliki resolusi 2 megapiksel dengan lensa B&W dan retro. 

2. RAM

Realme C11 dan C15 punya dua opsi RAM dan memori internal yang berbeda. Pada C11 menawarkan RAM 3 GB dan 2 GB dengan memori internal 32 GB. Sementara untuk Realme C15 punya dua opsi RAM dan memori internal. RAM 3GB dilengkapi dengan memori internal 64GB, sementara untuk RAM 4GB dilengkapi dengan memori internal sebesar 128 GB. Bisa dibilang, C15 adalah smartphone Realme pertama dengan C series yang punya memori internal sebesar 128 GB. 

3. Baterai

Apa perbedaan Realme C11 dan C15? Perbedaan cukup terlihat pada daya baterai yang diusung. Untuk C11 didukung daya baterai sebesar 5000 mAh, dengan klaim bisa bertahan selama 40 hari dalam mode standby. Sementara untuk C15 didukung baterai yang cukup besar yaitu 6000 mAh. Lalu handphone Realme seri ini memiliki fitur fast charging sebesar 18 watt. Sementara C11 belum memiliki dukungan fitur pengisian cepat tersebut. 

4. Sidik Jari

Untuk C11 belum dilengkapi adanya sensor sidik jari. Tapi seri ini sudah dilengkapi dengan sistem Face Unlock untuk membuka kunci pengaman ponsel. Pada Realme C15 sudah dilengkapi dengan fitur fingerprint pada bagian belakang smartphone letaknya ada di dekat kamera. Kemudahan ini tentu sangat ditunggu-tunggu oleh para fans setia smartphone Realme di kelas entry level. 

5. Harga

Perbedaan kedua smartphone dari segi harga cukup berbeda jauh. Realme C11 harga dijual pada harga 1,4 jutaan saja. Sementara Untuk C15 jauh lebih mahal yaitu dua jutaan. Kedua harga yang berbeda ini tentu punya pengaruh dari kapasitas RAM dan memori internal yang lebih besar. Jika kamu ingin mendapatkan harga yang lebih terjangkau untuk kedua smartphone ini bisa langsung mengunjungi Blibli. Seperti diketahui, Blibli merupakan salah satu marketplace terbesar di Indonesia yang menjual berbagai produk dengan promo besar-besaran termasuk pula untuk penjualan produk smartphone. 


Dari perbandingan di atas, tentu kamu bisa menyimpulkan bahwa C15 punya beberapa fitur yang bisa dibilang lebih unggul dari Realme C11. Maka dari itu kamu bisa menyesuaikan penggunaan produk dengan kebutuhan sehari-hari. Jika memang menyukai smartphone dengan gaya yang stylish bisa memilih C11. Namun, bagi kamu yang menginginkan smartphone dengan fitur unggulan maka pilihan terbaik adalah Realme C15.


Jumat, 09 Oktober 2020

Cara Mengatasi ASUS Zenfone Max M2 Mati Total


Lagi nggak ada rencana untuk ganti HP, eh, tiba-tiba pas dipakai kerja, HP malah mati total. Bagaimana perasaanmu? Menjengkelkan, bukan?

Aku mengalaminya.

Saat membuat video pembelajaran dengan tripod, tahu-tahu pas dipasang belum ada 5 menit kok HP mati. Padahal baterai masih setengah. Kupikir, ah, apa mungkin tadi tanpa sadar baterai sudah mepet banget? Jadi, mati.

Kucoba isi daya. Aneh, lampu indikatornya nggak nyala. Bagaimana ini? Aku mulai panik.

Kucabut charger, kusambungkan lagi, tetap saja nggak nyala. Aku sampai ngecek, jangan-jangan listrikku yang bermasalah. Loh, listrik nggak padam kok.

Duh, HPku mati nih.

Terus piye?

Akhirnya aku pinjam HP suami. Kucari di internet siapa tahu ada solusi di sana. Kutuliskan tipe HPku, ASUS Zenfone Max M2 mati total.

Kubuka beberapa artikel. Kucari ulasan sesuai dengan kejadian yang kualami.

  • HP Mati total
  • Dicharge tidak ada gambar baterai.
  • Lampu indikator mati total

Yap, kutemukan ciri-ciri yang sama. Kucoba saran yang dituliskan di artikel tersebut. Bagaimana caranya?

Cukup tekan tombol power dan volume up/volume yang untuk menaikkan secara bersamaan. Agak lama sampai terasa ada getaran. Dan nyala lagi seperti semula.

Yeay, alhamdulillah.

Kucek semuanya dan berjalan seperti biasa.

Oalah.

Apa mungkin HPku mati total karena tombol power dan voluemnya kepencet tanpa sengaja pas kuletakkan di tripod, ya?

Ah, melegakan sekali melihat HPku bisa nyala lagi. Alhamdulillah.

Kamu kalau ada keluhan yang sama bisa menggunakan cara di atas. Kalau masih nggak bisa, ya, bawa ke service centernya atau ke konter terdekat.

Kamis, 08 Oktober 2020

Jangan Nunggu Sekarat Baru Punya Dana Darurat



Seminggu sakit, aku jadi belajar tentang banyak hal yang berhubungan dengan kesehatan, pun soal dana darurat. Dana apakah itu? Bagaimana caranya mengumpulkan dan menyimpan? Gunanya untuk apa dan apa hubungannya dengan kesehatan?

Minggu ini aku masih dalam masa pemulihan. Sebenarnya aku juga cukup heran, kok tiba-tiba oleng? Kamis sampai Senin aku izin nggak masuk sekolah.

Selama rebahan itulah aku mengurai, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Karena selama ini asupan yang masuk dalam tubuh sangat kuperhatikan. Kalau perkara pekerjaan dan banyak pikiran/tekanan, ya, biasalah. Bedanya memang kemarin mau ujian SKB CPNS.

Ternyata oh ternyaya, memang salahku sendiri. Aku tahu betul tubuhku ini bakalan oleng kalau telat sarapan. Karena kesibukan di sekolah, persiapan ujian SKB CPNS dan faktor 'halah', dua hari aku absen sarapan. Pukul 10.00 baru nyemil buah.

Hasilnya?

Pulang ujian, dari UNNES sampai rumah, aku muntah mulu. Lemes deh badan. Bangun-bangun badan nggak karuan. Masih bertahan tuh nggak periksa. Cukup memperbanyak makan buah, makanan bergizi, dan istirahat.

Baca cerita ujian SKB ku di postingan dengan judul Belajar Yakin Pada Diri Sendiri

Empat hari kemudian berangsur membaik, tapi kepala masih berat. Suami ngajakin periksa, aku masih nolak. "Besok sudah mendingan. Istirahat saja lagi."

((Aku ngurangin banget minum obat))

Eh, pas Minggu pagi, memang sudah mendingan, tapi kepala masih kliyengan. Apa yang salah nih?

Baru deh aku mau periksa. Tapi, hari Minggu. Puskesmas tidak melayani periksa. Dokter keluarga juga pada tutup. Ini kalau nggak pegang uang, gimana mau periksa?

Nah, dari sinilah aku disadarkan kembali kalau DANA DARURAT itu memang harus PUNYA dan ada di rumah.

Kalau nggak?

Ngenes. Mau periksa kok nggak ada uang.

Dari awal merasa nggak enak badan, aku mengandalkan DANA DARURAT. Misalnya, beli makanan, karena aku nggak bisa bangun, meski di kulkas ada bahan-bahan buat dimasak, tapi kasihan suami karena sudah mengurus semua urusan rumah, ya, sudah mendingan lauknya beli saja. Belum lagi untuk beli buah dan vitamin. Eh, mau beli susu beruang, per hari satu, kalau seminggu sudah berapa?

Kalau nggak ada DANA DARURAT, terus mau beli pakai apa? Sudah sakit, nggak pegang uang sama sekali.

Atau malah ada cerita gini, ada DANA DARURAT, tapi di ATM. Lah, lagi kliyengan masak iya harus jalan ke ATM. Apalagi suamiku orangnya anti banget sama yang namanya ATM. Dari dulu memang nggak mau yang berbau ATM. Nabung ya ke bank yang nggak usah pakai ATM. Nah, mau ambil uang dulu ke bank, hari Minggu. Kalau pas hari biasa nggak tega ninggal aku lama-lama karena antrenya di bank lama.

Bukankah memang DANA DARURAT itu memang harus ada? ADA DI RUMAH juga. Bukan hanya disimpan di bank?

Aku punya cerita saat menemani almarhumah ibuku selama kemoterapi.

Jadwal kemoterapi keluar, dokter mewanti-wanti paling nggak bakalan rawat inap selama seminggu untuk jaga-jaga misal ada efek samping yang dirasakan ibu. Sebelum dapat kamar, ibu sudah bilang ke aku kalau harus pegang uang paling nggak dua jutaan, duh, aku kalau ingat merasa bersalah banget, dulu nggak punya DANA DARURAT. Ibuku sakit tapi masih mikir perkara uang.

Untuk semua perawatan di rumah sakit ibuku pakai BPJS mandiri. Tapi, aku yang nunggu ibu selama seminggu apa nggak makan dan minum? Eh, tisu basahnya habis. Ibu sudah susah jalan masak iya harus bolak-balik ke kamar mandi? Eh, perutnya terasa kembung, beli minyak balur. Begitulah.

Sesal yang ada di dada. Kenapa dari dulu nggak sadar tentang DANA DARURAT? Ya, meskipun tangan Allah ada di mana-mana, akan tetapi kalau kita berusaha untuk memiliki dana tersebut bukankah endingnya nggak nyesek seperti yang kualami?


Dari situlah aku mulai sadar.

DANA DARURAT itu penting.

Masalahnya, gimana cara mengatur duit kita agar bisa punya dana darurat? Menurutku begini setelah aku berhasil menerapkannya, meskipun rasanya susah-susah sedap dan butuh perjuangan untuk tidak belanja online mulu.

  • Siapapun bisa punya dana darurat. Bukan hanya mereka yang punya gaji bulanan. Semua tergantung kita-perempuan yang harus mengencangkan sabuk keuangan keluarga.
  • Dana darurat ini beda dengan uang tabungan ya.
  • Seperti menabung, dana darurat ini harus kita ambil di awal bulan atau pas kita dapat uang. Jangan di akhir setelah membelanjakan uang baru sisanya kita jadikan simpanan dana darurat.
  • Tentu hal ini harus kita bicarakan dengan pasangan. Biar ada yang ngingetin kalau kita mulai tergiur online shop.
  • Pasang target mau punya dana darurat berapa, 10 juta, 25 juta, atau 100 juta. Kalau belum sampai target ya lanjut terus. Jangan diambil apalagi mau dipakai beli motor baru.
  • Bagi kamu yang lemah iman dalam hal menabung, bikin celengen berbagai keperluan. Celengan uang receh, celengan tabungan, dan celengan dana darurat. Kalau perlu beli celengan dengan bentuk yang unyuk-unyuk biar kesannya sayang banget kalau mau dibelah.
  • Misal sudah dapat sejuta nih dana daruratnya, ya, sebagian bisa disimpan di bank. Kalau memungkinkan cari bank yang tidak perlu pakai ATM. Sebagian disimpan di celengan rumah saja. Kalau mendadak perlu tinggal dibuka deh celengannya.

Ada yang mau nambahin nggak poin di atas?

Aku bukan seorang ahli, ya. Sering kebobolan juga sih misal suami butuh modal untuk beli besi pesanan dari pelanggan. Akan tetapi, ya, harus ketat lagi, selesai proyeknya, ya, harus kembaliin uang tersebut ke asalnya.


Pas awal-awal latihan ngumpulin dana darurat ini tuh berat banget. Ada saja godaannya. Tapi, pas bisa memakai dana darurat ini di saat tak terduga tuh rasanya mau bilang, "Untung saja ada dana darurat."

Kamu ada pengalaman sama dana darurat juga, nggak? Pokoknya jangan sampai sepertiku saat merawat ibuku, ya. Ngenes banget. Atau kamu punya cara tertentu untuk mengumpulkannya? Share dong.

Kamis, 01 Oktober 2020

Belajar Yakin Pada Diri Sendiri dari Drakor yang Satu Ini

Oh My Venus, sudah pernah nonton? Drakor jebolan tahun 2015 ini menjadikan So Ji-sub sebagai pemeran utamanya. Yang tetap berperan sebagai laki-laki sok cool tapi hatinya selembut kapas. Dipasangkan dengan Shin Min-a, seorang pengacara yang gendut. Pesan dari drakor ini cukup nendang untukku dan akhir-akhir ini berhasil kuterapkan dalam kehidupanku. Siapa tahu nendang juga untukmu. Pesan apakah itu?

https://today.line.me/id


Drakor ini bercerita tentang seorang perempuan yang dulunya sangat populer, karena cantik dan kecerdasannya. Setelah dewasa, 15 tahun kemudian, wkwkwk, dia jadi pengacara tapi gendut semlohay sepertiku. Bermacam-macam diet dilakukan tapi gagal mulu. Sampai-sampai, dia menggunakan korset ke mana pun dia pergi. Biar apa coba? Ya, biar perutnya nggak kayak nggembol dedek bayi. Hahaha.

kapanlagi.com


Suati hari Shin Min-a ketemu sama So Ji-sub di pesawat. Bukan pertemuan yang manis. Lha wong dia pingsan, pas bajunya dibuka, eh, ternyata nyelip tuh korset dan ditemukan obat pelangsing di tasnya.

Kok So Ji-sub bisa menangani Shin Min-a yang pingsan? Iya, karena dia itu ya dokter plus pelatih pribadi seorang atlet yang kebetulan se-pesawat dengan Shin Min-a. Ngisin-ngisini pokoke.

Dari sini, perjalanan cinta pun dimulai.

So Ji-sub mau membantu Shin Min-a untuk menjalankan diet sehat. Awalnya So Ji-sub nggak yakin sih kalau dia bisa diet. Tapi, karena Shin Min-a punya keyakinan yang kuat, bismillah.


Nah, dari cerita perjalanan Shin Min-a melakukan diet, aku baru tahu, ternyata kalau mau diet tuh nggak boleh asal. Harus periksa lebih lanjut, tubuh kita tuh kok nggak bisa kurus-kurus kenapa, ada masalah di bagian apa. Kalau sudah tahu semua, baru deh, lakukan diet. Bukan hanya, OK, aku mau diet ini.

Apalagi kalau...

Lihat teman diet pakai cara A, berhasil, terus ikut-ikutan. Eh, di kamu nggak berhasil, kamu ngamuk. Mencoba diet ala B, gagal lagi. Ala C, gagal mulu gagal mulu. Kamu seperti itu juga? Ya, karena memang tidak boleh sembarangan kalau mau diet. Salah-salah ntar tubuh kita yang ngedrop.

Balik lagi ke Oh My Venus 💗

Witing tresno jalaran soko kulino, kutemukan jalan cerita cinta tersebut dari drama korea ini. Apalagi Shin Min-a juga dikejar deadline menikah setelah putus dengan pacarnya yang sudah 15 tahun menjalin hubungan. Cocok sudahlah, ya.

Setiap hari bertemu. Lama-kelamaan jadi tahu siapa sebenarnya So Ji-sub. Anak orang kaya raya, pewaris tunggal pula. Shin Min-a sih biasa saja. Lha wong dia cinta bukan karena hartanya sih.

Konflik muncul ketika So Ji-sub mau menjabat jadi direktur utama. Si sirik berulah sampai akhirnya So Ji-sub mengalami kecelakaan yang sangat parah. Bahkan kecelakaan kali ini lebih mengenaskan dibanding perjuangannya di masa kecil saat dia melawan kanker tulang di lututnya.

Saat So Ji-sub mengalami kecelakaan


Bisa bayangin nggak sih, harus berjuang sendirian, tanpa siapapun? Bukan Shin Min-a nggak mau menemani. Bahkan dia menawarkan diri. Ngemis-ngemis malah. Tapi si tampan tak mau. Dia tak mau orang yang disayangi melihat dia menderita. Uluh-uluh ~

Pas bagian ini, aku kalau ingat kok menyakitkan banget. Setahun lebih lho dia berjuang melawan kelumpuhannya. Jelas, ini sangat menyiksa.

Tapi, eng ing eng, So Ji-sub membuktikan apa yang diyakini Shin Min-a, KALAU KITA YAKIN, PASTI BISA.


Kamu yang belum pernah nonton drakor dengan 16 episode ini, bisa coba nonton nanti pas weekend atau pas lagi ada waktu luang. Untukku pribadi, Oh My Venus ini bisa masuk list drakor favorit, yang bisa aku tonton ulang pas aku lagi butuh banget suntikan semangat.

Dan menurutku, setiap kali aku nonton drakor, ada saja momen 'kok pas ya sama aku'. Awalnya pas nonton drakor ini karena pakai keyword aktor drakor favorit, So Ji-sub di Iflix, eh, yang muncul Oh My Venus, ya sudah, cus maraton nonton.

Terus hubungannya dengan 'aku' apa?

Pas nonton ini tuh aku lagi galau-galaunya,

1. Badanku melar banget, ngerasa ngantukan, cepat capek, dan susah fokus.

2. Padahal aku lagi persiapan SKB CPNS

~*~

Pertama, aku sadar, iya, ya, aku ingin juga turun berat badan, yah sekilo dua kilo saja sudah cukup, biar nggak banyak keluhan. Bagaimana mau belajar kalau belum apa-apa sudah ngantuk? Akhirnya, aku balik lagi dengan pola makanku seperti dulu, sarapan pakai buah saja. Kelewat pukul 12.00 WIB, aku baru makan nasi.

Nggak langsung turun sih BB-ku, seminggu berjalan, di badan agak enteng, nggak ngantukan. Ke sekolah nggembol buah. Teman pada makan siomay di depan mata, aku hanya nelen ludah. Hahaha.

Dalam hatiku, "Aku bisa. Aku harus sehat."

Kedua, ini nih, nasibku ke depan, bagaimana? Guru SD PNS, ini impianku, juga almarhumah ibuku. Meskipun di ujian tahap pertama, di SKD dulu, sudah mengantongi skor tinggi, rasa cemas sangat menggelayuti sanubariku. Hahaha. Bahasa apaan sih ini? Pokoknya aku deg-deg-an banget. Menurutku malah berlebihan, tapi aku susah mengendalikannya.


Kamu bisa baca perjuangan SKD CPNS ku di MAMPUKAH AKU MENJADI SANG BINTANG?


Di lain sisi, waktuku belajar makin berkurang banget. Ditambah masalah kok makin sering datang seiring dengan mendekatinya hari ujianku. Aku makin sering gontok-gontokan sama suami, Kak Ghifa uring-uringan, sekolah maunya kutunggui, kemudian apa-apa yang kulakukan selalu salah di mata bapakku. Yakin, deh, aku merasa kalau sebelum ujian kok aku sudah diuji sama Allah. Bertubi-tubi.

Ending-endingnya, kalau bukan aku sendiri yang jaga mood-ku, ya, siapa lagi. Tiga laki-laki yang ada di dalam rumahku tidak akan pernah mau tahu apa yang kurasakan. Ini NYATA.

Lelah. Ingin menyerah begitu saja. Tapi, nasihat almarhumah ibuku selalu menguatkanku. Aku bisa, tinggal selangkah lagi.

Dari Shin Min-a juga lah aku mendapat penguatan, ya, kalau aku nggak yakin sama diriku sendiri, siapa lagi? Dulu ada ibuk yang selalu menguatkanku. Kini, ya, aku sendiri.

22 September 2020, Selasa Legi (Manis), aku ujian di UNNES. Berangkat sudah dibikin emosi sama bapak, janjian pukul 06.00, sejam kemudian baru berangkat. Eh, di jalan malah nurutin permintaan orang tak diundang yang ikutan nganter aku, nah, kesasar deh. Sampai di lokasi pukul 09.00, padahal pukul 09.30 aku sudah registrasi. Sampai di tempat, baru duduk sejenak, orang asing tadi malah malangkirik (berkacak pinggang) sambil bilang, 

"Ka, kowe duwe kuping ora? Kupingmu dungokke.....bla...bla....."

(Ka, kamu punya telinga tidak? Dengarkan telingamu)


Kalau orang Jawa pasti paham seberapa kasarnya orang asing ini ngomong ke aku.

Aku syok. Ini orang apa-apaan? Bukan siapa-siapaku, bentak-bentak, padahal aku mau ujian. Orang-orang di sekitarku juga nggak peduli orang itu ngomong kasar kepadaku, apalagi bapakku.

Aku nggak peduliin lagi deh tuh orang. Langsung aku cus ke masjid untuk dhuha. Selesai dhuha sudah pukul 09.30, maksud hati mau balik ke mobil, kemudian pamitan sama bapak dan saudara-saudara (pada ikut semua, berasa piknik, bukan bantuin jagain anakku, malah, ya gitu deh, suamiku yang pontang-panting ngurusin aku dan Kak Ghifa, sebel banget, sabaaaaaarrrr).

Eh, bapakku malah ngilang tuh sama orang asing tadi. Berat hati deh aku menuju tempat registrasi tanpa pamitan sama bapakku.

Selama antre, kulihat ke belakang, siapa tahu bapakku ke sini. Beberapa kali, nggak ada. Entah yang ke berapa, akhirnya, kulihat bapakku datang.

"Mbak, aku nitip antre-ku, ya, aku belum pamitan sama bapakku." ucapku ke perempuan yang antre di belakangku.

Kemudian aku berlari mendekati bapakku. Karena pasti bapakku nggak bisa menemukanku di antara ratusan orang yang antre. Ya, seperti drakor ala-ala gitulah. Saat itu aku pengen nangis bahagia, akhirnya, aku bisa ketemu bapak dulu sebelum berjuang. Tapi, melihat wajah orang asing tadi nongol juga di belakang bapakku, duh, lenyap sudah. Terpenting, aku sudah sungkem, mencium bapakku, kemudian aku balik lagi ke barisanku. Terima kasih, Ya Allah.

Terus, ending ujian SKB-ku bagaimana?

Alhamdulillah, Ya Rabb. Sujud syukurku kepada-Nya, aku masih berada di posisi pertama dari sainganku. Tapi, aku nggak mau bahagia berlebihan dahulu karena pengumuman resmi masih lama, akhir Oktober nanti. Jika Allah mengizinkan, benar-benar tidak ada yang memiliki serdik, insyaallah, dan semoga ini jadi rezekiku, kado indah untuk ibuku di surga, dan tentunya untuk Kak Ghifa, agar aku bisa memberikan yang terbaik untuknya.

Semoga amanah itu memang untukku, Guru SD dengan status PNS. Aamiin.

Terima kasih untuk semuanya. Teruntuk teman-teman bloger yang selalu memberikan lingkungan dan dukungan yang sangat kubutuhkan. Terima kasih banyak. Aku kuat karena kamu. Aku selalu berharap kalian juga bisa yakin pada diri kalian sendiri, sampai akhirnya kamu bilang, "Oh, ternyata, aku juga bisa!"

Yuk, yakin pada diri kalian!