Kamis, 17 September 2020

TKI yang Pulang ke Indonesia Saat Masa Pandemi Wajib PCR Test

 

Dampak apa yang kamu alami selama pandemi ini terjadi? Banyak? Sabar. Kamu tak sendirian. Banyak hal terjadi juga kepadaku, dia, dan mereka di luar sana.

Paling terasa adalah saat aku harus menerima kenyataan kalau keluargaku yang di luar negeri tidak bisa pulang pas lebaran kemarin. Ada tanteku yang lama menetap di Malaysia karena bersuamikan orang sana. Ada sepupu perempuanku yang jadi TKI di Hongkong dan sepupu laki-lakiku yang jadi TKI di Jepang. Mereka semua menggantungkan rasa rindunya sampai berbulan-bulan.

Akhirnya, tanteku batal pulang. Semula mau pulang lebaran haji, tapi karena harus PCR dulu dengan biaya yang tak sedikit dan harus mengurus ini dan itu. Mending uangnya dikirim ke rumah saja dan menunda kepulangannya. Begitu pikirnya.

Berbeda dengan kedua sepupuku, mereka memang sudah jatahnya pulang. Sepupu perempuan memang kontraknya sudah habis dan nggak mau perpanjang lagi, sedangkan sepupuku yang laki-laki jatah cuti tiga bulan.

Nah, menjelang kepulangan mereka, keluarga besar pada heboh. Ini bagaimana prosesnya? Nanti gimana PCRnya? Biayanya siapa yang nanggung? Kalau sampai rumah bagaimana karantinanya? Wis pokoke heboh semua.

Akhirnya bisa pamer koper setelah bisa dapat izin pulang

Aku sampai tanya-tanya juga ke teman komunitas bloger, mungkin ada yang punya pengalaman melakukan perjalanan ke luar atau dalam negeri dengan pesawat selama pandemi ini. Selain itu, aku juga searching di internet, tata caranya gimana, bagaimana langkah-langkah kalau mau refund tiket pesawat?

Eh, pas hari H tiba, kok, ya, biasa saja. Hahaha. Maklum, kan belum ada pengalaman.

Sebentar lagi meninggalkan Hongkong

Awal Agustus, sepupu laki-lakiku terlebih dahulu yang pulang. Alhamdulillah, lolos. Dia bersih. Gantian tanggal 20 Agustus, sepupuku yang perempuan. Dasar emak-emak rempong, begitulah, ya. Bisa membayangkan?

"Ntar kalau gini gimana?"

"Aku takut pulang sendiri."

"Sekamar sama orang asing dong."

Berikut kubikin list deh ya apa-apa yang harus diperhatikan kalua mau pulang ke Indonesia selama pandemi ini. Tentu ini berdasarkan pengalaman saudaraku, ya. Akan tetapi, ini jangan dijadikan rujukan paten ya, karena semua bisa berubah kapanpun. Kamu aja yang awalnya sayang sama aku, sedetik kemudian jadi ilfil. Ih…. Jangan!

1. Kalau misal dari negara kamu saat ini ada tes PCR dan kamu milih tes di sana, ya, nggak papa. Akan tetapi, kalau soal harga, ya, jangan ditanya. Kalau dibayarin sama majikan atau perusahaan, ya, kenapa tidak? Biar nanti kalau sampai Indonesia nggak perlu tes lagi. Cukup menunjukkan hasil PCR tadi.

Kalau saat ini kamu butuh info PCR Test yang nggak pakai keluar rumah, bisa langsung buka aplikasi Halodoc. Di sana kamu bisa masukkan keyword PCR Test kemudian lokasi kamu. Nanti akan keluar banyak pilihan. Kamu perhatikan juga soal harga, berapa lama hasilnya keluar, kemudian proses pembayarannya seperti apa, agar tes yang kamu lakukan lebih efektif. Yah, namanya orang, kan nggak pernah tahu butuhnya seperti apa. Kalau ada yang lebih nyaman kenapa harus pilih yang bikin hati cemas di tengah pandemi gini, kan?

2. Kalau memilih nggak pakai PCR test dari negara kamu kerja, ya, kudu siap kalau sampai Indonesia nggak bisa langsung pulang. Harus mondok dulu di Wisma Atlet.

3. Sampai bandara, tentu ada petugas khusus yang bakal ngurusin. Nanti diangkut dengan bus atau mobil petugas. Nah, bocorannya, tapi ini sangat wajar karena sudah dibantuin nurunin koper, ya, memberi sedikit salam tempel sama petugas yang ngangkut koper nggak papa kan? Jangan nggrundel, nggak seberapa juga.

4. Sampai di Wisma Atlet, tenang, makanan terjamin, kamar nyaman, ada AC, ada sofa, sekamar berdua. Kemudian kapan PCRnya, kan keburu kangen keluarga? Sesuai kedatanganmu. Sepupuku sampai Wisma Atlet malam hari, tes PCRnya esoknya. Pelaksanaannya dikelompok, ya

5. Hasil tes keluar sekitar 4 sampai 5 hari. Kalau negatif, cus pulang. Naik apa? Kalau yang punya tiket pesawat terusan, ya, ke bandara. Bisa juga ke stasiun atau ke pool bus. Menuju ke sana bisa naik ojek online atau sewa bareng-bareng travel yang ada di sekitaran Wisma Atlet.


Hasil review sepupuku, baik yang laki-laki atau perempuan, pelayanan selama di Wisma Atlet sangat memuaskan. Gratis. Tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.

Siapa yang tak ikut bahagia mendengar kesan yang baik tersebut?

Alhamdulillah, sampai hari ini keluarga besar kami sehat wal ‘afiat dan bisa berkumpul dengan lengkap. Semoga seterusnya. Aamiin.

Setelah masa karantina selesai, kami sempat piknik tipis-tipis juga, naik kapal. Gini doang kami sudah hepi.

Kamis, 10 September 2020

Setelah Ujian SKB, Mau Wisata Ke Mana?

Lama sekali aku nggak nulis di blog ini. Ada deh kalau sebulan lebih. Hai, blog, kamu lumutan, ya?

Maafkan aku.

Sebenarnya tetap menulis di Google Keep saat ide bermunculan. Bahkan kalau pas nemu momen untuk bisa dijadikan foto postingan, ya, aku potret. Tapi, nggak aku selesaikan. Hanya sekadar outline kasar doang.

Bahkan, ada draft lomba blog yang sudah kususun detail banget, tapi nggak tak lanjutin.

Kenapa?

Aku baru berusaha fokus sama satu hal, yaitu ujian SKB-ku. Sekadar info, ujian ini adalah tahap kedua CPNS 2019 lalu yang sempat tertunda karena ada pandemi ini.

Untuk cerita ujian tahap pertamaku, SKD, sudah pernah aku ceritakan di postingan MAMPUKAH AKU MENJADI SANG BINTANG?

Ibarat mau naik kelas, ujian ini memang sangat penting bagiku. Ini adalah jalanku untuk menggapai cita-citaku, sekaligus impian almarhumah ibuku, agar aku bisa jadi 'orang', guru SD yang berstatus PNS. Bukan hanya guru wiyata.

Nggak tahu kenapa, aku juga merasa kerjaan rumah seperti nggak ada habisnya. Ada mulu. Ditambah dengan kerjaan bapakku yang mau nggak mau aku harus ikut turun tangan. Setiap malam baru bisa tidur di atas pukul 22.00 WIB.

Lelah. Jadi, ya, sudahlah, harus ada yang kulonggarkan. Dalam hal ini urusan ngeblogku ini.

Sedikit cerita tentang persiapan SKB-ku, insyaallah, aku maju perang tanggal 22 September 2020. Masih ada beberapa hari lagi, ya. Tapi, rasa deg-deg-an sudah menyelubungi perasaanku dari awal jadwal SKB diumumkan.

"Ini saatnya. Ini yang aku tunggu-tunggu, bukan? Jangan gentar!" bisikku pada diri sendiri.

Belajar, pasti. Mulai dari mendengarkan penjelesan di youtube. Belajar dari buku juga iya, bahkan buku ratusan ribu kubeli. Hihi. Padahal biasanya ada rasa 'eman' emak-emak muncul. Ah, semoga ini bisa jadi jalan ikhtiarku yang membuahkan hasil. Oiya, aku ikut try out berbayar juga, dan nimbrung pembahasan-pembahasan soal di Zoom.

Katanya waktu terbatas, lha kapan belajarnya?

Ehm....

Aku pernah melempar kalimat ini di grup SKB yang berisikan teman-teman seperjuanganku, hanya 9 anggotanya, hihi, begini,

Sangat-sangat kuusahakan.

Sangat-sangat kumaksimalkan.

Pokoknya kalau ada jeda, langsung buka HP, ngerjain soal try out. Ada luang sebelum ngelonin Kak Ghifa tidur siang, baca buku materi. Malam sebelum tidur, kuusahakan juga ngerjain 5 sampai 10 soal. Pas masak atau cuci piring, sambil dengerin pembahasan di youtube.

Hidupku penuh dengan soal. Nggak papa. Aku hepi. Aku sangat menikmati.

Aku berusaha semaksimal yang kubisa. Karena aku tak ingin mengecewakan orang-orang di sekitarku. Terkhusus untuk almarhumah ibuku.

Kesempatan. Ini kesempatan berhargaku. Berada di peringkat 1. Skor selisih 68 dengan yang peringkat di bawahku. Aku nggak mau leha-leha.

Apalagi bulan ini adalah bulan spesial juga untukku. Kakak Ghifa ulang tahun kelima dan peringatan hari pernikahanku. Ingin rasanya memberikan hadiah yang spesial untuk mereka dengan kelulusanku.

Selain itu, setelah ujian SKD dulu-ujian tahap pertama, aku punya keinginan akan mengajak Kakak pergi ke Kebun Binatang Mangkang Semarang. Kenapa? Karena Kakak suka dan heboh sekali lihat berbagai macam binatang secara langsung.

Sayang, virus Corona datang menyerang.

Sumber foto: https://galamedia.pikiran-rakyat.com/

Nah, inginku nih ya, selesai SKB dengan kabar baik-aamiin, kemudian bisa berangkat menikmati wisata Semarang, yaitu ke Kebun Binatang Mangkang Semarang bersama keluarga besar. Sekarang saja Kak Ghifa sudah nanya mulu kapan aku ujian dan kapan ke kebun binatang. Duh, sabar, ya, Kak.

Kenapa memilih Kebun Binatang Mangkang Semarang atau Semarang Zoo?

  1. Alasan utama tentu karena letaknya. Paling nggak sih dua jam perjalanan dari rumah. Wong yang di Jogja saja dijabanin, ini di kandang sendiri masak dilewatin begitu saja? Bisa tuh ya bernagkat pagi pulangnya sore. Biar puas banget.
  2. Kemudian yang kedua, akses ke sana pun mudah. Kalau misal bapakku nggak bisa nganter kan bisa naik bus dua kali. Pertama ambil yang jurusan Purwodadi - Semarang, kemudian lanjut naik bus transsemarang dengan tarif murah meriah.
  3. Tiket masuknya pun masih terjangkau, kalau mau mengajak semua anggota keluarga untuk menikmati wisata keluarga di kebun binatang ini kan nggak bikin kantong jebol.
  4. Dengar-dengar kalau masuk ke sini bisa bawa makanan dari luar, ya? Banyak yang bawa tikar untuk beramah tamah dengan keluarga sambil menunggu anak-anak keliling kebun binatang. Benar nggak sih? Kalau nggak boleh, tolong konfirmasi ke aku, ya.
  5. Bearda di alam terbuka dan kulihat di IG milik Pak Hendrar Prihadi, kebun binatang ini menerapkan protokol kesehatan semenjak dibuka lagi bulan Juli lalu. Lumayan tenang jugalah kalau mau wisata di tengah pandemi kayak gini.

Setidaknya itulah yang jadi alasanku ingin mengajak Kak Ghifa dan keluarga yang lain ke Kebun Binatang Mangkang Semarang. Semoga bisa terwujud keingananku ini. Lolos SKB cus jalan-jalan. Aamiin.

Kalau kamu mulai berani 'keluar rumah', maunya ke mana? Yang sekiataran Semarang-lah, jangan yang jauh-jauh!

Selasa, 25 Agustus 2020

5 Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Jakarta


dezeen.com


Dalam masa pandemi ini kamu pastinya bosan diam di rumah saja atau masih merasa takut untuk pergi ke tempat tujuan yang kamu inginkan. Bisa saja kamu belum punya kendaraan pribadi dan takut untuk pergi dengan kendaraan umum. Ya, seraya menunggu sampai tepat waktu untuk pergi, coba deh kamu baca ulasanku berikut ini. Ada 5 tempat wisata yang wajib dikunjungi di Jakarta dan siapa tahu ini menarik minat kamu.

Oiya, jika masih bingung mau naik kendaraan apa, kamu bisa menggunakan layanan sewa mobil yang aman dan terpercaya di Jakarta seperti TRAC. Nah, beberapa tempat wisata ini bisa jadi referensi kamu untuk berwisata di Jakarta:

1. Taman Impian Jaya Ancol

Taman Impian Jaya Ancol menyediakan berbagai objek wisata mulai dari pantai, taman, dunia fantasi dan lainnya. Kamu bisa berlibur bersama keluarga kamu di sini karena ancol menyediakan berbagai wisata yang kamu suka.

alampriangan.com/


2. Pulau Seribu 

Untuk yang ingin bermain ke pantai, kamu tidak perlu datang jauh-jauh ke Bali karena di Jakarta juga ada pulau yang indah, yaitu Pulau Seribu. Selain indah, kamu bisa melepas semua kepenatan kegiatan kamu yang membosankan itu. 

travelwisataindonesia.com/


3. Monumen Nasional 

Siapa yang tidak tahu Monumen Nasional ini, pasti semuanya tahu. Jika kamu berkunjung ke Jakarta kamu jangan lupa untuk mengunjungi Monumen Nasional karena di sini akan ditunjukkan diorama perjuangan bangsa Indonesia dan monas adalah simbol kemerdekaan Indonesia.

helpmerhondadotcom.wordpress.com/

4. Kebun Binatang Ragunan 

Kebun Binatang Ragunan ini cocok untuk anak kamu yang menyukai binatang. Karena di sini memiliki banyak satwa yang bisa dilihat oleh anak-anak.

ayojakarta.com


5. Taman Mini Indonesia Indah

Taman Mini Indonesia Indah ini sangat bagus dikunjungi oleh kamu dan keluarga. Karena di sini kamu bisa melihat 26 budaya Indonesia dan kamu juga tahu budaya-budaya Indonesia. Selain memperkenalkan budaya-budaya Indonesia, TMII menyediakan kereta gantung, museum dan lainnya. Bagi kamu yang memiliki anak, kamu bisa mengajak mereka ke sini agar mereka mengenal budaya-budaya Indonesia.


notif.id

Mengunjungi tempat wisata di Jakarta tersebut bisa dilakukan dengan mudah. Utamanya di era new normal seperti saat ini disarankan menggunakan kendaraan yang lebih nyaman secara personal ataupun bagi keluarga. Misalnya dengan memilih kendaraan rental dibandingkan kendaraan umum.   

Salah satu perusahaan rental mobil yang direkomendasikan adalah TRAC. TRAC menerapkan protokol kesehatan baik bagi calon penumpang maupun para supirnya yang dicek suhu tubuhnya di bawah 37 derajat celcius.

Bagaimana dengan pengemudi yang bertugas untuk mengantar penumpang? Pengemudi armada TRAC pun mengikuti pemeriksaan kesehatan meliputi pengecekan suhu tubuh dan kesehatan fisik. bahkan pengemudi tersebut diwajibkan menggunakan masker dan sarung tangan agar meminimalisir kontak fisik dengan penumpang dan pada saat membawa barang bawaan penumpang pun begitu.

TRAC juga telah memiliki standar kebersihan dan higienitas agar kamu nyaman dan aman. Lalu apabila kamu memiliki gejala demam, batuk atau flu secara berkala selama perjalanan. Jangan ragu untuk memberitahu pengemudi karena TRAC akan mengantar kamu ke rumah sakit terdekat agar mendapatkan pelayanan kesehatan. 

Lalu bagaimana untuk kamu yang baru menyelesaikan perjalanan dari luar negri? Kamu harus mengikuti prosedur kesehatan yang telah ditetapkan. TRAC akan memberi formulir deklarasi kesehatan yang harus kamu isi sebagai konfirmasi kondisi kesehatan.

TRAC juga menyediakan hand sanitizer di dalam setiap mobil dan mengikuti aturan physical distancing sesuai aturan. Yaitu, untuk mobil mengangkut 1 pengemudi dan 3 penumpang. Sementara untuk kendaraan medium yaitu 1 pengemudi dan 8 penumpang. Untuk bus 1 pengemudi dan 13-27 penumpang sesuai ukuran bus.

Untuk pemesanan armada TRAC, kamu tidak perlu bingung. Karena kamu dapat memesan layanan rental mobil atau sewa bus melalui nomor ini 1500 009. TRAC tersebar di lebih 50 kota di indonesia, TRAC perkiraan harga rental mobil sesuai jenis mobil di Jakarta dan kamu bisa ke 5 Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Jakarta, TRAC melayani kebutuhan transportasi kamu.

Rabu, 05 Agustus 2020

Arti Keluarga Bagiku dan Alasan Kenapa Aku Harus Melindunginya




"Saat kamu pernah mengalami kehilangan, di situlah kamu bisa merasakan arti yang sesungguhnya dari kelengkapan anggota keluarga."
 
Berbeda, sangat berbeda saat aku harus benar-benar menyadari bahwa ibuku telah tiada.

Terhitung saat aku menulis postingan ini, sudah 100 hari lebih ibuk meninggalkanku, tapi rasanya, Ya Allah, aku masih seperti mimpi. Aku selalu berharap ini adalah mimpi panjangku dan saat aku bangun ibuk masih ada di kamarnya. Aku masih merasa ibuk ada di sisiku. Ada di rumah ini.

Hampa. Begitulah yang kurasakan. Aku rela jungkir balik di luar sana, asalkan semua bisa ditukar dengan kehadiran ibuku kembali. Bisa?

Tidak.

Itu tidak mungkin.

Aku harus benar-benar belajar ikhlas dan menerima bahwa aku telah kehilangan ibuku tercinta. Jantung dalam hidupku. Tempatku berpulang, berkeluh kesah, di saat aku telah kelelahan berlari di luaran sana.

Kini rumahku kosong. Setiap kali pulang, tak ada lagi yang benar-benar kutengok di kamar sebelah. Tak ada. Benar-benar tak ada.

Ya Allah, maaf, rasanya begitu berat bagiku untuk membuat postingan ini.

Rasa rindu ini berada di ujung pelupuk mataku. Mengambang, tapi tak bisa meluap. Beku.

Aku sadar betul, aku berusia 28 tahun, beranak satu, tapi aku begitu mengidamkan keluargaku yang lengkap. Ada bapak, ibu, aku, suami, dan anakku dalam satu rumah mungil ini. Tapi, kini keluargaku sudah berbeda.

Sangat-sangat berbeda.


Arti Keluarga Bagiku


Keluarga Adalah Tempatku Berpulang

Pergi ke manapun, sekalipun ke tempat terindah di dunia ini, aku akan tetap merasa rindu dengan keluargaku. Aku ingin bertemu dengan mereka, selalu berada dekat dengan mereka dan menghabiskan waktu bersama.


Mungkin, saat aku pulang dari suatu tempat, lelah mendera begitu hebat, tapi saat melihat semua anggota keluargaku, lelah itu sirna seketika. Semburat cahaya muka mereka begitu meneduhkan.

Keluargalah yang Bisa Menerimaku Apa Adanya

Aku adalah korban bullying semasa sekolah. Orang di luar sana bilang aku seperti orang Timur. Orang di luar sana bilang aku seperti mak lampir dengan rambut mengambangnya. Orang di luar sana bilang aku seperti Omas, aktris dengan bibir agak maju.


Sedih. Terpojokkan setiap hari. Bertahun-tahun mendapat perlakuan seperti itu selama sekolah dari SMP sampai SMA. Kamu bisa membayangkan, apa yang kurasa?

Tidak dengan keluargaku. Mereka menerimaku apa adanya. Penuh dengan cinta dan kehangatan. Hingga kini.

Sama halnya saat harus keluar rumah, aku harus berpakaian rapi, berdandan cantik, di rumah, keluargaku dengan senang hati menerimaku hanya dengan berdaster.

Keluarga adalah Motivatorku

Selain selalu memberikan kehangatan dan kebahagiaan, keluarga adalah motivator untukku. Kalau kamu pernah membaca tulisanku tentang ibu yang sering meremehkanku, kamu pasti tahu, di keluargaku, siapa yang jadi motivator utamaku, ya, ibuku.




Kupikir, setelah ibu nggak ada, aku kehilangan motivator dalam keluargaku. Ternyata tidak. Suami dan anakku kini menjadi motivator utamaku untuk melanjutkan hidup. Melihat mereka setiap hari membuatku semakin kuat. Tak terpuruk apalagi menyalahkan diri sendiri atas kepergian ibuku.


Kurasa, apa yang aku ungkapkan di atas berlaku juga untukmu, bukan? Betapa berharganya mereka untuk kita. Sampai-sampai aku baru menyadari tanpa mereka aku ini apa, to? Nothing. Oleng.

Baru ditinggal ibuk saja aku sudah seperti helaian kapas yang dihempaskan oleh angin. Apalagi kalau sampai amit-amit aku harus kehilangan seluruh anggota keluargaku. Tapi, kelak, dan itu pasti, memang kita, manusia, akan sendiri. Kita akan berteman dengan amalan kita selama hidup di dunia. Bagaimana kita bisa menjaga dan melindungi keluarga yang saat ini masih benar-benar berada di samping kita?

Sebenarnya ada banyak cara. Salah satunya mewujudkan berkah keluarga dengan mendaftarkan mereka dalam asuransi syariah dari Sun Life Indonesia. Ngomong soal perbedaan antara asuransi syariah dengan asuransi konvensial terletak pada pengelolaan dananya. Pada asuransi syariah tentu menganut investasi syariah dan jauh dari unsur ribawi. Tentunya sebagai keluarga muslim, siapa yang tak ingin menjauhi riba, ya, sekalipun itu kecil banget sifatnya? Aku dan suami pun sedang belajar pelan-pelan menjauhi riba ini. Bismillah.

Apa Itu Asuransi Salam Anugerah Keluarga?


Kamu pernah dengar Sun Life Indonesia? Aku dulu pernah mengulas salah satu platform online milik Sun Life, yaitu Bright Advisor di tahun 2016.  Yang kuingat tentang Sun Life tuh ya asuransi jiwa. Tapi, kali ini aku ingin menyinggung tentang Asuransi Salam Anugerah Keluarga.


Adalah asuransi dengan mengangkat tagline “Selalu menemani, selamanya melindungi”. Produk asuransi ini dikaitkan dengan investasi (unit link) yang hadir sebagai solusi perencanaan keluarga secara menyeluruh. Asuransi ini juga hadir dengan santunan asuransi untuk pasangan suami istri dan dua orang anak.

Asalkan bersama mereka, mau makan apa saja, di mana saja, kok ya bawaannya hepi mulu 

Ada yang berbeda dari asuransi ini, setidaknya ada empat pembeda dibandingkan asuransi yang lainnya. Diantaranya:
  1. Satu polis memberikan perlindungan asuransi untuk empat peserta sekaligus.
  2. Kontribusi yang terjangkau (minimal 1,5 juta per top up, padahal untuk 4 peserta, ya) dengan perlindungan yang menyeluruh.
  3. Dilengkapi asuransi tambahan asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga hingga maksimal enam peserta.
  4. Kesempatan untuk bersedekah jariyah dengan berwakaf
Mengenai manfaat dan fiturnya secara lengkap bisa kamu lihat di infografis di bawah ini.


Bagiku, Asuransi Salam Anugerah Keluarga ini cukup menarik, terutama keunggulannya berkaitan perawatan bagi penderita kanker. Asuransi ini meng-cover cukup banyak perawatan bagi penderita kanker, seperti radioterapi atau kemoterapi, imuoterapi, dan pengobatan hormonal, rawat jalan cuci darah, ICU, operasi rekonstruksi akibat kanker sesuai tagihan.

Yah, mau bagaimana lagi, karena kenyataannya, aku kehilangan ibuku karena beliau mengidap kanker payudara. Tentu aku ingin memilih asuransi yang memberikan perlindungan bagi keluargaku, seluruhnya. Karena kehilangan itu rasanya menyesakkan.

Kalau di drama korea yang kutonton dengan judul Rain or Shine ada pesan yang menurutku apik, apa itu?


Saat ini, jika kamu masih memiliki kesempatan untuk melindungi keluargamu, segerakan!

Semoga Asuransi Salam Anugerah Keluarga ini bisa jadi referensi buatku dan kamu untuk melindungi keluarga kita dengan cara kita pula.

Jumat, 10 Juli 2020

Berburu Iwak Manuk


Kok diburu? Memangnya di hutan?

Bukan. Ini di pasar. Apakah akhirnya kudapati iwak manuk yang selama ini sebagai ikonnya Mintreng, dukuh tempatku tinggal?

***

"Ayo, Mi, abi habis ini mau cari besi."

"Ya sudahlah, nggak usah saja. Sudah siang pula. Paling sudah habis." Antara jengkel karena abi dan Kakak pada lelet, malah main di kamar mulu.

"Dicoba dulu." Bujuk abi lagi.

Tepat pukul 09.30, aku, abi, dan Kak Ghifa pergi ke Pasar Wonopolo, Dempet. Santai, kami tetap memperhatikan protokol kesehatan kok.


Perjalanan sekitar 15 menit kami tempuh. Pasar sudah mulai lengang. Firasatku kalau nggak akan nemu iwak manuk (burung) pun mulai meningkat.

Seingatku, biasanya, di dekat parkiran ada yang jualan. Ini kok nggak ada.

Kak Ghifa dan abi menunggu di parkiran, aku segera meluncur ke lapak khusus lauk. Muter ke lapak sebelah Timur, nihil. Sebelah Barat? Semoga ada. Eh, ternyata nggak ada juga.

Saat melewati lapak buah, melihat buah naga kok aku jadi ingat pesan Kak Ghifa. Akhirnya, ke pasar hanya belanja buah naga, pir, dan apel pesanan Kak Ghifa.

Kami pulang tanpa membawa iwak manuk.

Kata tukang parkir, "Kawanen, Mbak. Kalau pagi ya banyak kok yang jual."

Iya, ya, mungkin kami datang kesiangan.


Iwak manuk, ini adalah satu-satunya makanan tradisional yang identik dengan daerah tempat tinggalku.

Saat pertama kali tugas di SD yang lama, saat ada pengawas yang tanya rumahku, dan kusebutkan kata Mintreng, beliau langsung tanya balik,

"Lha kalau sama warung makan iwak manuk, rumahmu sebelah mananya?"

Bahkan, kemarin pas ada akreditasi di sekolahku yang sekarang, oleh-oleh untuk peniliknya juga iwak manuk.

Iya, di pertigaan sana tuh ada warung makan yang sangat terkenal dengan oalahan iwak manuk. Sekarang warungnya masih ada. Tapi, nggak setenar saat dipegang oleh pemilik utamanya dulu (sudah almarhumah). Sekarang yang megang adalah anak perempuannya.

Sebenarnya, asal mula daerah tempat tinggalku dikenal dengan iwak manuk-nya tak lepas dari jasa warganya.

Kok bisa? Bukan karena memang banyak iwak manuk?

Begini, dulu, orang sini tuh banyak yang berprofesi sebagai tukang golek manuk, atau pencari burung. Mereka membawa sepeda lengkap dengan klaras (daun pisang yang kering sebagai perangkap) di boncengan, berkeliling dari satu sawah ke sawah yang lain. Dari satu desa ke desa yang lain. Setiap kali pulang membawa hasil tangkapannya, ya, warung makan itu yang membelinya.

Lama-kelamaan, burung makin berkurang jumlahnya, pencari burung pun mulai banyak yang beralih profesi. Hanya mereka yang bisa naik dan memiliki motor yang masih bertahan sebagai pencari burung. Kalau dulu dari desa ke desa untuk mencari burung, kini bisa dari kabupaten ke kabupaten.

Ya, semua karena memang alam yang berbicara. Populasi burung semakin berkurang dan manusia hobi menebang pohon.

Kini, iwak manuk mulai langka. Sayang sekali bukan, kuliner Indonesia liner Indonesia yang satu ini terancam punah.

Oiya, adakah yang penasaran jenis burung apa yang terkenal dan mendapat julukan iwak manuk paling endeus. Yaitu, manuk mbom-mbok. Burungnya besar, daging nggak alot, bau nggak apek, dan paruh warna putih. Kalau kata sesepuh, pas hamil kok bisa makan burung ini, nanti kalau anaknya lki-laki akan tampan, kalau perempuan bakalan cantik. Benarkah?

Buktinya, aku. Apakah anakku tampan? Hahaha. Karena dulu pas hamil Kak Ghifa, ibuk sengaja beliin iwak manuk mbom-mbok ini untukku. Bahkan sampai dua kali. Satunya bisa sampai 25 ribu.

Nah, terus, yang kuburu ke pasar itu burung apa? Apakah mbom-mbok ini?

BUKAN.

Sekarang mah sudah susah. Bahkan nyaris nggak ada. Sekarang ini yang dijual iwak manuk puyuh, yes, burung puyuh yang rasa dagingnya agak apek-apek gitu deh. Tapi, enak sih menurutku. Hahaha.

Cus kelanjutan ceritaku berburu iwak manuk.

Tadi pagi, selesai bikin sarapan, aku langsung ke pasar dekat rumahku. Biasanya memang ada yang jual iwak manuk.

Masih pukul 07.00, tapi penjual lauk sudah mulai penuh. Mataku jelalatan ke sana-sini.

NIHIL.

Tak ada satupun iwak manuk yang dijual. Terus bagaimana? Apa kabar dengan foto konten? Hahaha. Demi konten blog ini sampai berburu iwak manuk.

Akhirnya, tanpa pikir panjang, belum mandi, masih pakai celana kolor buat tidur, tapi, tetap pakai masker dong, aku meluncur ke Pasar Wonopolo, Dempet, pasar yang kuceritakan di atas.



Pikirku, "Kemarin kan kesiangan, siapa tahu ini ntar ada tuh iwak manuk. Wong masih pagi."

Kutarik gas motorku. Dingin euy. Nggak pakai jaket pula. Ah, peduli amat. Yang penting sampai dan dapat iwak manuk.

Setelah parkir, kok, penjual yang di sini juga nggak ada.

Masuk lebih dalam ke pasar, kok nggak ada juga.

"Kok kayaknya nggak ada iwak manuk ya, Mbak?" tanyaku ke penjual ikan asap.

"Memang lagi nggak musim puyuh, Mbak. Kalau pas musim, ya, banyak."

Oke, fix. Aku pulang dengan tangan kosong. Sampai jumpa di musim iwak manuk.

Di tempat kamu, ada juga nggak kuliner iwak manuk kayak gini?