Kamis, 07 Maret 2019

Kuliner Ini Wajib Kamu Coba Saat Lewat di Gubug, Grobogan


Kuliner Ini Wajib Kamu Coba Saat Lewat di Gubug, Grobogan - Asyiknya tinggal di perbatasan kabupaten adalah jalan lima langkah saja sudah berada di kabupaten tetangga. Kemudian mau tidak mau akan lebih sering blusukan, termasuk kalau berburu kuliner pun di daerah lain. Untung saja rasa masakannya tidak jauh beda di lidahku.


Nah, mumpung dalam dua minggu terakhir ini kerjaan di sekolah lagi numpuk banget,  pulang selalu sore karena melatih murid yang lomba OSN, aku dan abi sering ajak Kak Ghifa makan di luar. Sudah capek sampai rumah, daripada harus uprek di dapur, nanti malah tambah capek (semua orang bisa kukasih taringku). Mendingan jajan keluar, sampai rumah kenyang, pulang tinggal tidur atau mengerjakan yang lain.

Gubug adalah wilayah kecamatan di Kabupaten Grobogan yang akan kita lewati saat hendak mau ke Semarang. Jarak rumahku sampai ke Gubug hanya 10 menit. Karena sering terlewati, tak banyak yang tahu kalau sebenarnya kecamatan dengan predikat layak anak ini memiliki kuliner yang patut dicoba di setiap kesempatan.

Kamu melewati Gubug saat pagi hari dan bingung mau sarapan di mana? Cobain Bubur Ayam dan Nasi Uduk depan Masjid An-Nur, yuk!

Sejak pukul 06.00 WIB, di depan masjid raya Gubug ada beberapa pedagang yang berjejer menjajakan dagangannya. Pedagang bubur ayam dan nasi uduk ini dua diantaranya. Pertama kali aku (mau) nyoba bubur ayam ini karena dapat rekomendasi dari teman. Tapi, waktu ke sini berangkat dari rumah pukul 06.00, hari libur pula. Alhasil, yang kudapati adalah antrean panjang banget. Aku keburu malas antre deh. Akhirnya, abi ngajakin buat mencoba nasi uduk yang ada di sebelahnya yang kebetulan ada kursi kosong. Ternyata nasi uduknya enak banget dan murah pula.

Seporsi nasi uduk 4000 sudah lengkap dengan sayur lodeh, oseng mie dan tempe, lengkap dengan kerupuk. Plus telur dadar atau telur bacem tinggal nambah 3000.

Saat kedua kalinya ke sini, aku sengaja dari rumah pukul 05.30 WIB, eh, sampai depan masjid malah masih kosong mlompong alias pedagangnya belum datang. Hahaha.

Tepat pukul 06.00, sambil menunggu penjualnya merapikan gerobak dorong dan meja kursi, kami sudah siap menjadi pembeli pertama bubur ayam.

Bagaimana rasanya? Enak. Kusuka banget. Isian bubur ayamnya tuh macam-macam. Ada suwiran ayam, daun bawang, kacang kedelai goreng, bawang goreng, parutan kelapa yang digoreng sangrai, irisan cahkwe, dan setengah butir telur bacem.

Ada yang tanya, kamu termasuk tim yang diaduk apa nggak? Hahaha.

Seporsi bubur ayam plus kerupuk hanya 7000

Awalnya nggak diaduk, saat tinggal setengah, kemudian kutambahkan sambal sama kuah, aduk sampai rata. Aku makin betah menghabiskan buburku sampi lupa kalau banyak yang antre kursi, ups. Karena makan bubur ayam di sini mau nuang kuah (kuning bening rasanya gurih) seberapa banyak, terserah. Penjualnya nggak pelit.

Sebagai penyuka kuah, aku merasa merdeka banget. Tapi, ingat ya, jangan sampai kuahnya sisa banyak lho. Kan sayang banget. Oiya, bubur ayam ini bisa dibungkus juga ya. Sayang, bungkusnya masih pakai kemasan styrofoam.


Bagaimana kalau kamu lewat di Gubug saat siang hari? Tenang, aku ada satu tempat makan siang yang cocok banget untuk dicicipi, baik saat musim penghujan atau kemarau. Makanan yang satu ini memang juaranya, segar sekali.

Soto Pak Mul yang ada di Jalan A. Yani No 78 ini terkenal banget lho. Mobil berplat luar kota sering parkir di depannya, setiap kali jam makan siang.


Letak rumah makan Soto Pak Mul ini kalau dari simpang lima Gubug masih lurus ke arah Semarang. Letaknya sebelah kiri jalan sebelum pom bensin.

Apa sih spesialnya soto Pak Mul ini? Kuahnya beda dari soto-soto yang ada. Bening, asinnya pas, dan kalau sekali nyerutup, pengen lagi dan lagi. Didukung sama matahari yang terik di luar sana, dijamin, besok kalau lewat lagi harus mampir.

Seporsi soto ini 8000

Soto Pak Mul ini bisa kita lahap bersamaan dengan kerupuk, perkedel, sate telur puyuh, sate usus atau jeroan. Satu lagi yang khas, yaitu, tempe keripik. Tempe keripik ini beda, bukan tipis, tapi tebal. Dipotong-potong kemudian campurkan ke kuah soto, wenak tenan, kriyuk-kriyuk sedap.

Tips dariku, kalau kamu mau mampir ke Soto Pak Mul datanglah sebelum jam makan siang (12.00 WIB). Karena dijamin bakalan nggak kebagian kursi. Hihi. Paling aman datang sekitar pukul 13.00 WIB. Biar makannya agak nyantai dikit lah.

Es jeruk 5000, perkedel 1000, tempe keripik 1000, sate 2000an.

Bubur ayam dan nasi uduk untuk sarapan sudah. Makan siang sama soto Pak Mul yang segar tiada tanding juga sudah. Kalau makan malam?

Untuk menu makan malam, aku akan merekomendasikan tempat makan Sea Food 36 Sherin Jaya, buka mulai pukul 16.00 sampai 03.00 pagi. Menu makan di sini lumayan komplit. Dari ayam, bebek, nila, cumi sampai kepiting ada di sini. Akan tetapi, karena di rumah sudah sering makan ayam, ya kalau di sini jangan pesan ayam. Yang lain dong ah.

Daftar menu lengkap dengan harganya

Kami sampai di kedai sea food yang letaknya tak jauh dari Soto Pak Mul (masih ke Barat), sekitar habis maghrib. Setelah duduk, sambil memilih menu makan, air kobokannya sudah datang. Kupikir, wastafelnya ada nggak ya? Ternyata, ada juga lho, di pojok dekat tempat duduk lesehan. Untuk emak-emak penganut cuci tangan di mana-mana, kalau makan harus ada wastafelnya.


Kupesan nasi uduk, gurame saus padang, cumi goreng tepung, dan teh hangat. Sekitar 10 menit pesanan kami datang. Semua masakan di sini masih fresh dan baru dimasak setelah kita pesan. Pun kita bisa lihat langsung pramusaji sedang bergulat dengan kompor dan panci.

Setelah icip-icip, bagaimana rasanya? Gurame saus padangnya menggoyang lidah. Aku yang suka pedas, hajar terus, sedangkan Abi yang tidak terlalu suka pedas kok malah lebih mawut makannya, nggak mau kalah.

Cumi goreng tepungnya jadi favorit, Kak Ghifa. Tepungnya kripsi banget sih. Dicocol sama saus sambal juga endes.

Cumi goreng tepungnya krispi banget

Seporsi 30000 dimakan berdua masih sisa. Ikannya terasa fresh.

Nggak nyesel deh ya mampir ke kedai Sea Food 36 Sherin Jaya. Dengan mengusung tema hitam dan merah, kedai makan ini layak dikunjungi. Nasi uduknya dengan porsi besar bakalan bikin kangen nih. Apalagi lalapan sama sambalnya nggak harus bayar lagi. Duh, siapa yang mau nolak?

Lalapan dan sambalnya banyak, nggak bayar lagi. Kusuka

Nasi uduk dengan porsi banyak

Dengan uang sekitar 150 ribu, aku, abi dan Kak Ghifa bisa makan kenyang. Kemudian ditambah dua porsi makan lagi dengan lauk gurame juga bisa kubawa pulang. Murah, bukan?

Pokoknya kalau ada urusan pekerjaan atau memang liburan ke Grobogan, jangan sampai lewatkan kuliner-kuliner di atas! Apalagi sekarang kalau mau menginap di pusat kota Grobogan juga sudah banyak hotel yang tersedia. Coba deh cari hotel di aplikasi Pegipegi.

Booking hotel di Pegipegi mulai 170 ribuan

Mulai dari harga 170 ribuan, kita sudah bisa booking hotel. Mau yang ada sarapan paginya? Siapkan kocek sekitar 300 ribuan. Banyak juga promo yang ditawarkan. Tapi, kalau aku nih ya, ada rencana pengen staycation sama abi dan Kak Ghifa di Grobogan, weekend ini. Aku mau cari hotel yang 170 ribuan, kemudian nanti sarapannya mau hunting di acara car free day. Siang hari, aku mau ngajakin Kakak berenang. Wow, weekend yang menyenangkan. Kamu? Punya rencana apa weekend ini?


Pelajaran penting dari kulineran kali ini adalah hidup ini sebenarnya sederhana, nggak serumit yang kubayangkan. Capek kerja, malas masak, ya sudah jajan. Hidup dibikin santai sajalah. Mau ngoyo bagaimanapun, kalau capek kok malah dipaksain, malah berantem sama pasangan, anak jadi korban kemarahan, duh duh duh, malah serba nggak enak.

Minggu, 03 Maret 2019

Tips Mencetak Anak Sebagai Pemenang


Tips Mencetak Anak Sebagai Pemenang - Wong ndeso juga berhak berprestasi.

Alhamdulillah, tahun ajaran 2018/2019 ini, aku sengaja menawarkan diri untuk terjun dalam meng-handle murid yang akan dikirim lomba akademik dan yang berbau-bau bahasa. Keikutsertaanku ini memberikan pelajaran penting dalam hidupku, bahwa setiap anak bisa kita jadikan seorang pemenang. Bagaimana caranya?
Inilah wajah-wajah pemenang sekolah kami

Tulisan ini kutulis dari sudut pandangku sebagai guru.

Minggu ini, tanggal 27 Februari dan 1 Maret, aku mengantarkan muridku lomba LCC (Lomba Cerdas Cermat) dan OSN (Oliempiade Sains Nasional) MTK dan IPA di tingkat kecamatan. Seluruh peserta yang mengikuti lomba ini berjumlah 44 sekolah.

Bagaimana hasil yang kami dapat? Tak henti-henti aku bersyukur, karena mereka yang dikirim sekolah mampu mempersembahkan prestasi yang luar biasa. LCC juara 5, OSN MTK juara 1 (go ke kabupaten), dan OSN IPA juara 8. Ini adalah prestasi baru untuk sekolahku.

Bukan, aku tidak ingin songong kemudian mengumbar berita ini semua karena aku, pelatih mereka. Justru aku mau mengaku, aku ini tidak melakukan hal yang luar biasa. Sekadar melaksanakan tugasku dan murid-muridku lah yang luar biasa.

Dari temuan baruku ini, khususnya untuk Ryan yang insyaallah tanggal 12 Maret 2019 nanti go ke kabupaten mewakili kecamatan, kudapati pelajaran penting bahwa mencetak anak sebagai pemenang itu sangatlah mungkin dan bisa kita ciptakan. Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya?

Nah, berikut kushare hasil temuanku, yaitu tips mencetak anak sebagai pemenang.

Semua berawal dari anak

Setiap manusia dilahirkan memiliki bakat. Tugas kita sebagai orangtua, temukan bakat tersebut dan dukung semaksimal mungkin (bentuk dukungannya bermacam-macam, nanti kuceritakan yang dilakukan Mama Ryan). Jangan sampai kita memaksakan bakat yang kita miliki untuk dimiliki oleh anak kita juga.

Bagaimana cara menemukan bakat anak? Setiap orangtua pasti tahu. Apalagi yang setiap hari berkutat menemani si anak. Atau bisa juga dengan mengikuti tes bakat di rumah sakit tertentu atau cari aplikasi di web-web parenting.

Keluarga yang penuh perhatian

Tentu kamu juga percaya kalau usaha tidak akan menghianati hasil, bukan? Nah, yang kutemukan di lapangan, peran keluarga untuk memberikan dukungan ke anak saat hendak mengikuti lomba begitu jelas dampaknya. Insyaallah yang pol-pol-an akan memberikan hasil yang serupa.

Cerita dari Ryan, dia bisa sampai juara satu karena persiapannya memang sejak satu tahun lalu. Kedua, orangtuanya membelikan buku khusus OSN MTK dan mengingatkan Ryan untuk selalu berlatih mengerjakan soal OSN, setiap hari. Aku sebagai gurunya hanya melatih sekitar satu minggu.

Ryan dan kedua orangtuanya di POPDA tingkat eks karesidenan Semarang

Jelas usaha Ryan dan keluarganya berbeda dengan anak lainnya. Bisa jadi mereka persiapannya hanya seminggu saja. Karena pengumuman lomba dari kecamatan pun mendadak.

Kemudian satu hal yang tidak terlewatkan. Yaitu, tentang reward. Kedua orangtuanya tidak pernah sungkan memberikan reward sesuai keinginan Ryan. Tentu mengenai harga dan bentuknya masih masuk akal. Misalnya, sepatu, tas, atau alat-alat sekolah lainnya yang jelas kegunaannya.

Cerita Ryan menunjukkan bahwa untuk mencetak anak sebagai pemenang itu tidaklah instan, bukan?

Sekolah yang mendukung

Yang tidak banyak diketahui orang luar, ada lho oknum sekolah yang tidak ingin sekolahnya maju lomba. Kalaupun ikut lomba paling hanya sebagai partisipan. Karena apa? Soal biaya. Kalau mengirim murid lomba, otomatis kan memakan biaya. Baik biaya untuk melatih, konsumsi keseharian, sampai nanti saat hari H.

Bahkan ada juga lho yang justru membebankan biaya tetek bengek ke wali murid. Syukur-syukur kalau ketemu wali murid yang punya ekonomi lebih dan tidak masalah saat mengeluarkan biaya untuk anaknya. Kalau tidak? Blaik. Bisa jadi masalah sama LSM.

Kesempatan di depan mata

Kalau pepatah mengatakan, kesempatan itu belum tentu datang untuk kedua kalinya, jelas aku setuju. Makanya, setiap kali ada kesempatan untuk mengikuti lomba, baik sebagai murid, guru, dan wali murid, hajar dengan sungguh-sungguh.

Pasang target dengan jelas, usaha semaksimal mungkin. Bismillah, juara bisa diraih. Menurutku penting sekali lho dapat juara. Apalagi untuk masuk ke sekolah tingkat di atas SD. Karena sertifikat sebagai juara lomba menjadi penyumbang poin yang menjanjikan. Sayang bukan kalau ada kesempatan yang baik, tapi justru terlewatkan?

Foto terbaru Ryan dengan piala kejuaraan OSN se-kecamatan

Mengikuti suatu lomba turut mengajarkan kepada siswa bahwa hidup ini memang penuh kompetisi. Akan tetapi, poin terpenting adalah membentuk karakter anak bahwa saat kita menginginkan sesuatu, kita harus berjuang, bekerja keras bahkan melebihi kerja keras orang lain. Merawat semangat berjuang dalam diri anak adalah hal yang harus kita lakukan terus menerus, baik sebagai guru dan wali murid.

Bagaimana? Dari poin-poin di atas, apakah ada tambahan? Kuyakin di luar sana banyak sekali pejuang-pejuang pembentuk anak sebagai pemenang. Monggo kutunggu sharingnya.

Terakhir, juara apapun anak-anak kita, baik akademik ataupun tidak, mereka tetaplah anak-anak kita yang harus diperjuangkan masa depannya, bukan?

Ah, aku jadi ingat cerita kepala sekolah yang mengkarantina muridnya demi goal pemenang. Cerita perjuangan kepala sekolah bisa kamu baca di Menjadi Guru Honorer yang Open Minded? Harus Dong!

Mohon doa juga ya, Teman, semoga Ryan diberikan hasil yang terbaik untuk OSN Matematika nanti, sekaligus lomba bercerita tingkat kabupaten. Tunggu juga update-an ceritaku mengantarkan anak-anak mengikuti lomba selanjutnya ya.

Rabu, 27 Februari 2019

4 Hal Ini Jadikan Rumah Milenial Menjadi Sempurna

4 Hal Ini Jadikan Rumah Milenial Menjadi Sempurna - Seperti pasangan lainnya, inginku dulu, lima tahun tahun yang lalu sebelum menikah, sebagai pasangan milenial, memiliki rumah sendiri adalah sebuah keharusan. Kenapa demikian?


Karena printilan yang ada dalam hunian kami merupakan upaya dalam membentuk kesempurnaan hidup. Identik dengan idealisme yang tinggi, seorang milenial biasanya memiliki cara pandang yang berbeda. Ini hidup baruku dengan pasangan, maka tidak boleh ada campur tangan secara langsung dari orangtua.

Tidak heran, kalau seorang milenial diketahui memiliki perencanaan yang sangat kompleks saat memutuskan memiliki rumah sendiri. Baik saat membeli rumah hingga mengubah suasana hunian mereka. Tujuannya tentu untuk memberikan suasana yang terbaik, mulai dari mereka beristirahat dari kepenatan sehari-harinya, atau melakukan aktivitas produktif pada huniannya. Rumah adalah tempat kembali setelah seharian berkutat dengan kegiatan yang padat merayap. Setidaknya saat kembali rumah, kenyamanan adalah hal yang utama.

Melihat tren di tahun ini, ada beberapa poin yang sekiranya dapat mewakili konsep kesempurnaan dalam hunian seorang milenial.

Area Multifungsi
Kebiasaan milenial yang multi-tasking akan menuntut adanya sebuah area yang dapat mengintegrasikan aktivitas produktif di dalam huniannya. Dibanding harus memberikan satu area untuk satu aktivitas, milenial lebih cenderung untuk memaksimalkan satu ruangan untuk beragam aktivitas. Misalnya saja dengan memasukkan area bekerja mereka ke dalam kamar tidur atau membuat meja bar dalam dapur mereka.



Area Terbuka
Tidak sedikit dari para milenial yang mulai mementingkan keberadaan area terbuka dalam area huniannya. Selain memberikan kesan yang berbeda, desain area terbuka dikatakan dapat meningkatkan nilai positif baik secara visual maupun psikologis. Pandangan tersebut juga diketahui menjadi landasan generasi milenial saat memilih hunian baru mereka. Berdasarkan pandangan tersebut, saat ini tidak terlalu sulit menemukan rumah dijual dengan kondisi baru yang menawarkan area terbuka baik pada area taman depan rumah maupun bagian belakang rumah. Dalam memaksimalkan nilai positif secara visual dan psikologis, buat ruang terbuka pada rumah dengan memasukkan elemen-elemen alam. Misalnya dengan memberikan sentuhan dari tanaman-tanaman hidup atau memilih furnitur berbahan dasar kayu.

Langit-langit yang tinggi
Untuk mendapatkan nuansa hunian yang lebih segar pada hunian, membuat langit-langit yang tinggi dapat menjadi solusi tanpa harus mengeluarkan budget untuk perangkat-perangkat pendingin ruangan seperti air conditioner atau cooler. Keunggulan lainnya, kita akan mendapatkan pasokan udara alami yang lebih segar dibanding dari perangkat pendingin ruangan.



Selain memunculkan pertukaran udara yang baik, membuat langit-langit ruangan menjadi lebih tinggi, dalam pandangan desain interior, juga dapat memberi kesan yang lebih luas dalam sebuah ruangan, sekalipun bangunan hunian kita tidak terlalu besar. Lebih lanjut, langit-langit yang tinggi juga dapat memberikan kesan ruangan yang lebih terang. Untuk kesan yang lebih maksimal, sekiranya tinggi 3-4 meter merupakan ukuran yang paling ideal dalam membentuk nuansa ruangan yang luas, terang, dan segar.

Sudut Ruang yang Instagramable
Sebuah spot yang menarik untuk berfoto atau spot instagramable dapat menjadi pelengkap yang terbaik dalam rumah milenial. Ini juga mendukung kebiasaan 'update'  dalam media sosial bagi para milenial. Tidak harus membuat ruangan khusus untuk berfoto, setiap sudut ruang di dalam rumah sudah pasti dapat dijadikan sebagai objek foto atau latar belakang (background) untuk berfoto. Hal ini juga menunjang bagi para milenial yang tinggal dalam rumah bersubsidi yang hanya memiliki sedikit ruang pada huniannya. Spot tersebut bisa ada di dalam atau di wilayah luar rumah, bisa juga berjumlah satu atau lebih. Tinggal bagaimana kita memadukan sejumlah elemen dalam spot tersebut.


Ada beberapa cara dalam membuat spot yang instagramable, mulai dari memajang aksesoris-aksesoris (seperti lukisan, cermin, kain, atau hiasan logam), menggantung tanaman dalam ruangan, hingga memunculkan kesan artistik dan kreatif melalui penggambaran mural.

Bagaimana, kira-kira sudah ada pandangan rumah seperti apa yang cocok untuk kita, milenial? Atau dalam waktu dekat berencana untuk mencari atau membangun rumah milenial? Semoga 4 hal di atas bisa jadi gambaran ya. Terpenting, selain memiliki hunian, cari dulu pasangan hidup, sudah ketemu yang pas?


Semua foto direupload dari IG @kanyaka_wara_apsari

Sabtu, 23 Februari 2019

Jalan Kaki Sebagai Olahraga Murah Meriah untuk Ibu Bekerja



Jalan Kaki Sebagai Olahraga Murah Meriah untuk Ibu Bekerja - Sudah tiga hari ini, setiap pagi aku selalu jalan kaki. Kegiatan ini kulakukan karena terinspirasi dari Jeremy Teti. Sekarang ini dia tampil beda, bukan? Salah satu olahraga yang dilakukannya setiap pagi adalah jalan kaki. Pun, jalan kaki adalah olahraga yang paling disarankan oleh dokter untuk pria bertato itu karena dia memiliki riwayat sakit jantung (pasang ring). Setiap harinya dia diharuskan berjalan kaki sejauh 10 km.


Melihat tayangan keseharian Jeremy, aku langsung berpikir, iya ya, kenapa aku tidak mencoba olahraga murah meriah ini untuk menurunkan berat badanku? Tapi, bisakah hanya dengan jalan kaki berat badanku menjadi turun?

Ngomongin soal berat badan, setelah sakit tifus hampir dua bulan, di bulan September-Oktober, berat badanku sampai 60 kg. Pas nyobain timbangan berat badan yang baru kubeli seminggu yang lalu, berat badanku berapa coba? 66 kg. Buset dah. Hahahaha. Makanya baju seragam PSH-ku kelihatan ketat banget. Ampuni aku Ya Allah karena terlalu gendut.

Gendut itu nggak enak. Lebih sering ngantuk, capek, lari dikit ngos-ngosan, dan aku sering banget kena ruam di area tubuh yang terlipat. Intinya, produktivitasku jadi menurun karena ngantuk mulu.

Aku menyebut diriku gendut karena sebelum hamil Kak Ghifa, berat badanku hanya 52 kg. Sesaat sebelum melahirkan Kak Ghifa, berat badanku 78 kg. Nah, sekarang, setelah anakku usianya hampir 3,5 tahun, angka timbangan ajeg di 66an. Bahkan, pernah menyentuh angka 69 kg.

Bukan tanpa usaha, aku sudah mencoba beberapa macam diet. Mulai yang tidak makan karbohidrat, hanya makan buah, sarapan telur saja, tidak makan di atas pukul 18.00. Hasilnya? Iya, bisa turun berat badanku, tapi tidak seberapa. Dan, godaannya tuh gede banget. Dari soal materi sampai perkara ngiler setiap lihat keluarga atau orang sekitar makan dengan menu sesuka mereka. Akhirnya, aku nyerah.

Bagiku, semua diet yang kulakukan itu ekstrim dan memang bisa menurunkan berat badan. Akan tetapi, kalau orangnya mudah bosen dan dana untuk diet masih molor modod kayak aku, ya sudah, wassalam.

Oleh karena itu, aku berpikir, percuma juga sih kalau aku diet ketat gitu tapi olahraga per minggu hanya sekali. Kucari deh solusi yang paling mudah apa ya? Akhirnya nemu tuh, dengan jalan kaki setiap pagi.

Sebelum Jalan Kaki Siapkan Sarapan Pagi

Olahraga pagi hari, mana sempat? Aku dulu berpikir gitu juga lho. Tinggal niatnya, kuat, tidak?

Kalau sudah ada niat untuk olahraga jalan kaki, siapkan tetek bengek untuk sarapan. Setiap malam, aku sudah menyiapkan masakan apa yang akan aku masak esok hari. Misalnya, besok pagi aku mau masak tumis kangkung sama goreng tahu bakso. Semua bahan disiapkan. Kangkung sudah dipotong-potong, bumbunya diiris sekalian. Jangan lupa, kalau tahunya mau digoreng dengan tepung, disiapkan sekalian.

Bangun sekitar pukul 04.00 WIB. Siapkan alarm di beberapa HP. Jadi, nggak ada alasan kalau bangun kesiangan. Dada good bye tidur kebo. Hahaha. Jangan lupa minum air putih ya setelah bangun tidur.

Usahakan pukul 05.00 masakan sudah siap. Kalau nasi belum masak tak masalah. Kalau mau beli lauk, pastikan masak nasi dulu, nanti pas olahraga jalan kaki tinggal bawa uang sekalian dan tentukan rute jalannya menuju warung yang jualan lauk.

Jalan kaki mau pakai sepatu atau nyeker (tanpa alas kaki), monggo. Kalau aku lebih memilih nyeker. Kembali ke tanah.

Tampilan aplikasi Pacer

Oiya, biar makin semangat, aku download aplikasi Pacer di playstore. Di aplikasi ini kita bisa tahu berapa jumlah langkah kita (taksirku, aplikasi ini menghitungnya dari getaran tubuh kita saat melangkah), kalori yang terbakar, waktu, dan seberapa jauh kita berjalan. Aku sendiri punya target, per jalan kaki minimal 1000 langkah. Tiap kali lihat jumlah angka di aplikasi ini bawaannya makin semangat.

Jalan kaki yang beberapa hari kulakukan paling lama hanya memakan waktu sekitar 30 menit.

Seru lagi kalau jalan kakinya ditemani Kak Ghifa. Karena dia bakalan ikutan dan aku harus mendorongnya yang duduk di atas mobil-mobilan. Seru lho. Kaloriku yang terbakar makin banyak.

Ada Efeknya Nggak Sih?

Setelah hari pertama jalan kaki, punggung kakiku memang terasa cekot-cekot. Betis agak pegel dikitlah. Akan tetapi, karena punya tekad yang kuat untuk turun berat badan dan punya habit yang lebih baik, hajar. Pas hari kedua jalan kaki, keluhanku itu sudah berkurang. Apa mungkin karena hari pertama jalan kaki belum terbiasa dan lupa pemanasan ya?

Nah, pemanasan itu tetap penting ya.

Heranku tuh gini, biasanya, kalau Jumat di sekolah kan ada kegiatan jalan keliling kampung. Malamnya, aku sering ngeluh sama abi karena lututku terasa sakit. Kalau pas jalan kaki di tiga hari ini kok nggak ya?

Aku juga merasa badanku lebih segar dari biasanya. Ini karena pagi-pagi tubuhku sudah mengeluarkan keringat kali ya.

Terus, ini nih timbanganku yang baik hati atau apa, tadi aku nimbang lagi kok angkanya jadi 65 kg dari 66 kg ya? Apa iya, secepat itu berat badanku turun?


Catatan penting untukku pribadi, meskipun sebagai ibu bekerja, aku harus tetap olahraga. Hanya 30 menit lho. Setiap hari mengerjakan tugas domestik di dapur, kemudian ngajar kelas 1 yang super duper aktif itu belum cukup dikatakan olahraga untuk tubuhku. Jadi, siapa yang mau ikutan jalan kaki sepertiku?

Aku bakalan update terus untuk olahraga jalan kaki ini. Karena barusan aku baca di website kesehatan, ternyata olahraga jalan kaki ini bisa efektif untuk menurunkan berat badan dengan menerapkan beberapa teknik. Apa saja itu? Akan kucoba dan buktikan dulu. Tunggu ulasanku selanjutnya ya.

Kamis, 21 Februari 2019

Tips Memilih Bus Pariwisata untuk Piknik Sekolah


Tips Memilih Bus Pariwisata untuk Piknik Sekolah - Yang muda siap bergerak. Begitu kalau kalimat singkat dari kepala sekolahku. Alasannya jelas, agar aku, guru muda, memiliki banyak pengalaman untuk bekal ke depannya. Salah satu pengalaman berharga yang kudapatkan saat aku menjadi guru ya soal booking bus pariwisata untuk piknik sekolah, tempatku mengajar.


Ngomongin soal booking bus pariwisata, sebenarnya ini bukan pengalaman pertama untukku. Karena sejak SMA sampai kuliah aku selalu mendapat jatah meng-handle perkara ini. Akan tetapi, setiap kesempatan ini hadir, pasti ada saja pengalaman baru yang kudapatkan. Apa sajakah itu?

Saat pertama kali memutuskan jadwal piknik sekolah, hal yang harus dirundingkan bersama dengan guru lain adalah perjalanan nanti mau pilih pakai biro atau tidak?

Apa bedanya? Jelas berbeda. Soal harga, kalau biro pasti lebih mahal. Bisa sampai selisih jutaan. Akan tetapi, kalau pakai biro, sebagai panitia, kita tinggal ongkang-ongkang, terima beres. Soal tiket, tempat makan, guide, anak mabuk, ada yang sakit, milih tempat oleh-oleh sampai bersihin bus kotor semua mereka yang handle. Pokoknya tinggal wus saja. Oiya, kalau pakai biro, kita juga dapat souvenir, misalnya jaket, handuk, tas, dsb.

Berbeda kalau semua kita yang handle. Pokoknya tetek bengek kita yang urus. Lempoh ya lempoh deh. Seakan-akan mau merem saja susah. Baru mau merebahkan punggung, eh, sudah ada anak yang muntah. Luar biasa pokoknya. Keunggulan kalau semua dihandle sendiri ya panitia dapat uang lelah agak tebel. *ups

Kalau aku disuruh milih antara pakai biro atau dihandle sendiri, ya pilih pakai biro lah. Ini mau piknik apa mburoh? Hahaha. Akan tetapi, sebagai anak buah, apalagi masih unyu-unyu gini di dunia kerja, ya ngikut saja sama pimpinan.

Beberapa kali sukses memilih bus pariwisata untuk piknik sekolah, begini pengalamanku.

1. Pesan bus jangan lewat calo, langsung datang, telepon, atau via online.

Pas pertama kali mau pesan bus, aku kan tanya-tanya teman dulu nih. Nah, diberilah nomor sopirnya. Ditawari harga 3 juta. Kupikir murah banget. Semua guru juga sudah OK. Akan tetapi, mungkin karena feeling, aku masih tanya teman lainnya. Sampai akhirnya aku disaranin buat datang langsung atau telepon ke kantornya.

Zaman teknologi makin maju, komunikasi lewat WhatsApp pun bisa menghandle untuk urusan booking bus. Akhirnya setelah nego ini dan itu, dengan tipe bus yang sama, aku malah dapat harga hanya 2,3 juta. Gila banget, kan? Untung saja nggak termakan sama calo sebesar 700 ribu.

Piknik bersama teman-teman OSIS SMA (tahun 2008-2009) dan ini pengalaman pertamaku meng-handle booking bus

Akhirnya, aku dan teman guru meluncur ke kantor tersebut untuk mengecek bus pariwisatanya secara langsung. Dari CS-nya aku baru tahu kalau ternyata bus pariwisata tersebut bisa juga dipesan secara online dan aku nggak perlu ribet datang langsung ke pool.

Alhamdulillah, sejak itu, aku kalau mau pakai bus tersebut tidak pernah datang langsung ke pool. Semua serba mudah ya? Pilihan bus pariwisata juga banyak sekali dan kurasa di setiap daerah pun seperti itu.

Sebut saja di area Jakarta-Bandung, ada berbagai perusahaan bus yang menawarkan pelayanan terbaik. Misalnya, yang melayani rute tersebut adalah bus primajasa. Bus ini banyak pilihannya, mau yang bus kelas ekonomi AC, ekonomi non-AC, dan eksekutif juga ada. Semua bisa kita pilih cukup dengan booking di aplikasi Traveloka. Selain itu, bus primajasa juga menawarkan pelayanan bus pariwisata untuk piknik anak sekolah juga bus reguler yang mudah kita temukan di terminal-terminal besar.

2. Empat pertanyaan saat memesan bus

Empat pertanyaan berikut akan disampaikan oleh CS saat kita hendak memesan bus, kapan, berapa lama, ke mana dan berapa jumlah penumpang yang akan naik bus? Saranku, jawaban atas 4 pertanyaan itu harus kita siapkan dari awal. Salah satu pertanyaan yang paling penting adalah tentang hari keberangkatan. Bagaimana kalau ternyata pada hari yang kita pilih sudah tidak ada bus yang bisa digunakan?

Di awal berunding dengan panitia, pastikan cari alternatif hari, jangan hanya satu saja! Karena berdasarkan pengalamanku, apabila kita menunda untuk memesan pada hari itu, belum tentu hari berikutnya kita masih mendapat bus. Apalagi kalau musim liburan anak sekolah. Bakalan keroyokan bus deh. Siapa cepat dia dapat.

Di Selecta, Malang bersama teman-teman kuliah


3. Jenis bus mempengaruhi harga

Berapa orang yang akan pergi piknik? 10, 25, 37, atau 44. Jumlah kursi akan mempengaruhi harga bus. Selain itu tipe dan tahun bus juga.

Catatan penting berkaitan jumlah kursi, bagaimana kalau jumlah orang yang ikut piknik melebihi jumlah kursi? Pakai kursi tambahan? Jangan! Kita tengok dulu seberapa jauh perjalanan yang akan kita tempuh. Kalau dekat sih bisa ditolerir ya. Karena ini perkara keselamatan penumpang. Jangan coba-coba mengakalinya. Kalau pihak bus sih nggak mau tahu urusan ini. Mereka hanya akan menyiapkan tetek bengek sesuai jumlah standarnya.

4. Jangan lupa tanyakan fasilitasnya!

Pertama kali memesan bus pariwisata, aku kecolongan. Pasalnya, saat aku survey ke dalam bus dengan CS, aku diperlihatkan bus terbaru lengkap dengan fasilitas dispenser, selimut, dan empat TV. Akan tetapi, pas hari H yang datang malah bus lain dengan fasilitas yang berbeda.

Jengkel banget. Perjalanan piknik pun jadi kurang menyenangkan. Saat melakukan komplain ke pihak CS-nya mereka berdalih kalau ada fasilitas itu harus nambah 300 ribu lagi. Pun, saat survey mereka hanya menunjukkan contoh bus, bukan fasilitasnya. Errrrrr.

Oleh karena itu, setiap kali booking bus, baik secara online maupun langsung kupastikan betul fasilitasnya. Kalau perlu minta tanda bukti agar saat hari H kok tidak sesuai yang kita pesan, komplain akan diterima.

Satu hal penting lagi, saat kita membayar uang sekian juta, pastikan biaya itu untuk apa saja? Lengkap mulai dari sopir, uang makan, parkir, tol, dan bensin atau tidak?

5. Waktu Pesan dan Pembayaran

Waktu yang kusarankan untuk memesan bus pariwisata dalam rangka liburan adalah dua bulan sebelum keberangkatan. Di awal aku sudah ceritakan, kalau liburan anak sekolah tiba, bus pariwisata itu bak kacang goreng, laris manis. Jangan sampai kita kehabisan bus, malah gagal pergi!

Piknik bersama saat PPL tahun 2013

Kemudian untuk pembayaran sewa bus, bisa DP terlebih dahulu minimal 25%. Sisanya kapan? Tergantung perjanjian. Aku biasanya saat berangkat atau hari H. Pun pembayarannya bisa dilakukan dengan cara yang mudah, langsung oke, secara online juga tak masalah.

Catatan penting, sebelum DP diberikan, maka hari dan bus yang kita pilih bisa diserobot oleh orang lain. Siapa memberi DP, maka dia yang dicatat sebagai pemesan.

Oiya, hati-hati, aku dulu pernah lho dapat ancaman sebelum rombongan berangkat liburan. Kernetnya berulah. Dia mengancam kalau bus tidak akan berangkat karena alasan apa gitu, aku kok lupa. Pokoknya nggak masuk akal. Kemudian minta penambahan biaya sekitar 500 ribu. Sebagai ketua panitia, aku naik darah. Gantian aku yang mengancam, "Kalau memang tidak bisa mengantar kami ke Jogja, ya sudah uang kembalikan semua sekarang. Kesepakatan awal bagaimana, ya harus dijalankan. Tidak amanah berarti perusahaan Anda."

Apakah rombonganku jadi pergi? Ya, jadi. Taringku berhasil keluar dengan tajam. Hahaha. Ternyata, pengalamanku ini juga terjadi pada orang-orang di sekitarku tetapi dengan perusahaan bus yang lain. Nah, berarti banyak oknum sopir dan kernet yang nakal kan? Hati-hati ya.


Ini sudah bulan Februari ya? April nanti anak-anak kelas 6 mau UNBK. Itu artinya tak lama lagi aku akan booking bus untuk acara piknik sekolah. Nah, kalau kamu ada rencana piknik bareng keluarga besar, teman sekantor, atau se-kampung, semoga pengalamanku di atas bisa kamu jadikan acuan biar nggak salah pilih bus pariwisata ya.