Minggu, 07 Juli 2019

Pelajaran Penting di Dalam WC


Satu hal yang aku senangi saat ikut seminar, pelatihan, sampai event bloger di hotel itu adalah akan adanya hal baru yang aku dapatkan. Ke-ndeso-anku akan muncul seketika. Lha terus apa hubungannya sama WC? Cekidot.

Kemarin, aku mengikuti sarasehan yang diadakan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah di salah satu hotel dekat Pasar Johar yang lama. Cerita ini bermula saat teman sebelahku bercerita tentang, "Airnya nggak keluar, Mbak. Aku cuma pakai tisu."

Halo, salam kenal dariku berkerudung biru yang bermuka bantal. Lama tak pergi meninggalkan rumah, malam sebelum acara malah tidak bisa tidur.


Pikiranku langsung, "Lah kepeten dong." Kepeten kalau di bahasa Indonesia tuh apa ya? Kayaknya kok belum nemu. Pokoknya jorok banget, pipis kok nggak cebok pakai air. Begitu pikirku.

Di lain sisi, insting ke-kepoanku muncul. Apa iya, WC kok nggak ada airnya sama sekali?

Saat itu sebenarnya aku kebelet pipis juga. Akan tetapi, ogah meninggalkan ruangan karena tiga hal. Satu, letak WCnya tidak strategis, harus muter melewati 400 peserta. Dua, materinya lagi bagus. Terakhir, narasumbernya ganteng banget. Hahaha. Alasan yang terakhir ini jujur. Tapi, tolong, jangan bilang ke abi!

Ini lho narsum yang kumaksud. Abang Ivan Lanin. Ciaaah, abang. Dilempar cucian diriku nanti. Materi yang disampaikan tentang kebahasaan, bergizi banget lah.

Akhirnya, aku berhasil menahan pipis sampai acara selesai, kemudian makan di lantai bawah.

Makanan di piring kulahap dengan cepat. Kebelet pipiiisssssss.

Kulihat di pintu sebelah kiri ada tulisan toilet. Aku mempercepat langkahku. Saat masuk, oh, sepi.

Kukunci pintu dan menggantungkan tasku. Kuperhatikan klosetnya. Ehm, memang beda dari biasanya. Biasanya kan ada bagian yang buat semprot cebok. Kali ini tidak ada.

Saking kebelet, aku langsung pipis. Sambil pipis, kubaca kertas yang menempel di tembok.

"Putar pelan keran yang ada di sebelah kanan, apabila akan digunakan."

Keran? Mana keran?

Ternyata memang ada keran di sebelah kanan kloset. Kecil. Kucoba dengan pelan.

Cuuurr...
Tubuhku terguncang. Kaget.

Ada air yang keluar dari kloset, tepat di area tubuhku yang memang harus dibersihkan.

Oh, oke, oke, paham aku.

Akhirnya, kuselesaikan buang hajatku, kemudian mempraktikkan lagi yang barusan kualami. Selesai, kemudian pakai tisu.

Bagi aku yang ndeso, kemudian di rumah pakainya kloset jongkok, hal ini tentunya ilmu baru. Ben ora ketok ngisin-ngisini (Biar tidak kelihatan malu-maluin).

Keluar dari bilik, aku hendak mencuci tangan. Biasanya kan tersedia sabun, tisu, dan pengering otomatis. Nah, di situ tidak ada sabun dan pengering.

Hatiku bergejolak to ya, secara di sekolah aku koar-koar kepada murid-muridku untuk CTPS (cuci tangan pakai sabun). Eh, ini, aku malah melanggarnya sendiri.


Mau gimana lagi, dengan kesadaran diri kalau cuci tangan ini kurang bersih, akhirnya ya cuci tangan kemudian pakai tisu doang.

Oiya, aku punya cerita nih, saat pertama kali kenalan sama pengering tangan.

Dulu, entah tepatnya kapan, pertama kali lihat pengering tangan otomatis ini tuh pas makan di salah satu mall.

Nah, karena harus menyuapi Kak Ghifa pakai tangan, kucari tuh tempat cuci tangan. Padahal cuci tangan pakai sabun itu wajib ya meskipun makan pakai sendok.

Sembari cuci tangan pakai sabun, aku sudah mikir, lah ini nanti tangan masih basah kuyub dilap pakai apa. Tidak ada tisu yang terlihat. Kalau di rumah kan ada serbet.

Kuperhatikan orang sekitar yang sedang cuci tangan pula. Setelah bersih, tangannya didekatkan ke kotak ajaib, terdengar suara menderu (kayak suara motor), kemudian tangannya sudah kering.

Oh, ya ya. Kucoba praktik. Awalnya tidak bisa. Loh, kenapa? Mulai panik. Malu kalau ada yang memperhatikan.

Saat kucoba lagi, aha, bisa. Hihi. Ternyata, letak tanganku kurang dekat dengan lubang pengeringnya. Alat pengering otomatis itu kan pakai sensor ya. Hihi. Kalau tangan kita terlalu jauh dari lubang, ya nggak bakalan nyala. Kalau ingat kok geli banget. Dasar, ndeso!

Nah, gimana ceritanya kalau pas cuci tangan tidak ada tisu, serbet, atau mesin pengering? Begini solusinya...


Tadi pagi, saat aku blog walking ke tempat Mbak Ade Anita, kudapat solusi tentang masalah di atas.

Setelah cuci tangan, kok tidak ada tisu, serbet dan pengering, cukup tepuk tangan sebanyak 30 kali, tangan akan kering sendiri. Tidak percaya? Coba saja!

Kalau kamu mau ikut menyelamatkan hutan dan harimau sumatra, walau di sana ada tisu, tepuk tangan saja, yuk!

Secara pribadi, terima kasih untuk Mbak Ade Anita. Solusinya ces pleng banget. Akan aku praktikkan juga, di mana pun berada. Terutama di sekolah, kepada anak didikku nanti.

Kalau kamu punya solusi apa nih misal mendapati masalah tersebut? Atau mungkin sudah menerapkan hal serupa yang disampaikan Mbak Ade Anita?

Terakhir, aku ini memang wong ndeso, tapi ojo dipoyoki, yo (jangan diejek, ya)! Maklum, jarang piknik dan tidur di hotel.

Pesan dari tulisan ini, malu sekali boleh. Selanjutnya? Ya, jangan malu-maluin! Hahaha.

Jumat, 05 Juli 2019

Keterbatasan Bukanlah Penghalang


Pagi ini aku pengen banget bahas tentang 'keterbatasan'.

Dan ini berlaku untuk semua hal dalam kehidupan ini. Tapi, karena obrolanku ini berawal dari chat dengan bloger kondang panutanku, maka, akan menyinggung hal berkaitan dengan bloger.


Semua berawal dari...

Kami membahas banyak hal lewat chat. Sampai obrolan tentang acara liputan bloger.

Temanku ini aktif sekali ikut liputan bloger. Jangan samakan denganku ya, hahaha, bisa ikut liputan kalau pas libur sekolah, atau memang sengaja bolos sekolah karena lagi ogah/jenuh/stres yang berkepanjangan. Hahaha.

Bisa stres juga ya? Ya bisa lah, aku juga manusia biasa kok. Ups.

Bahasan kami lama-lama mulai mengerucut tentang kamera dan HP.

Aku tanya, "Mbak, bloger sekarang keren-keren ya, liputan pada pakai kamera."

"Siapa? Aku pakai HP. Ngevlog (bikin video) juga pakai HP."

Kemudian aku mikir, iya ya, temanku ini memang sering kulihat pakai HP pas liputan, sepertiku. Tapi, kebanyakan bloger di luar sana, hooo, kameranya ajib-ajib lah.

Aku mikir lagi, mau pakai HP, pakai kamera, bayaran liputan kami ya sama saja. Memang sih, hasil jepretan agak beda. Tapi, kamera HP zaman now kan keren-keren juga hasilnya. Nggak kalah lah sama kamera yang mehong itu.

Lagian, iya, kalau pakai kamera nan mahal itu hasil ambil fotonya keren. Kalau gak mahir kan ya sama saja.

Obrolan berlanjut sampai kalimat, "Opo yo ditekoni liputane nganggo (Apa ya ditanya liputan mau pakai) HP apa kamera. Yang penting tugas liputan kelar. Tanggungjawab kita selesai."

Hahaha. Benar juga ya. Pernah lho ada perasaan minder ya envy juga, Ya Allah, aku liputan pakai HP, yang lain pakai kamera keren-keren. Wajar banget nggak sih punya pikiran demikian?

Kesanku, kalau pakai kamera tuh kelihatan profesional banget. Tapi, balik lagi, profesional tidaknya kan bukan hanya perangkat yang dipakai ya?

Profesional sebagai bloger pas meliput kan banyak faktornya. Diantaranya, tugas on the spot, kelar, laporan liputan di blog dengan ketentuan yang berlaku juga selesai dengan baik. Konten tulisannya harus sesuai pesanan juga.

Toh, nyatanya, selama ini baik-baik saja.

Aku jadi pengen salto.

Oiya, pas notebook jadulku ini soak, padahal banyak deadline tulisan, aku mengerjakan semuanya lewat HP atau tablet punya Kakak. Semua ternyata bisa kelar. Bahkan beberapa kali menang lomba, dapat HP ASUS yang dipakai ibuk saat ini ya hasil dari nulis via HP.

Nah tooo...
Malu deh.

Berikut salah satu tulisanku yang kutulis lewat HP, mulai dari edit foto, bikin infografis, semua pakai HP, dan keluar jadi juara (walau bukan juara utama).


Akhirnya, sadar deh ya. Kemarin sempat terpuruk, lupa, kurang bersyukur, wis pokoke paket komplit lah.


No no minder lagi. Apa yang kamu punya, ayo dicakke! Ojo meri gone wong liyo. Gunakan, manfaatkan apa yang kita punya, semaksimal mungkin.

Kalau kita menunggu semua ada, semua sama dengan yang lainnya, kita bakal tertinggal jauh dari yang lain.

Catatan penting, jangan menunggu keadaan yang membuat kita profesional. Justru kita jadikan profesional itu untuk mengubah keadaan kita.

Ecieehhhh...

Aku sarapan apa ya pagi ini? Hahaha.

Sepakat?

Ehm, atau kamu punya pengalaman serupa? Dengan senang hati akan aku tunggu ceritamu.

Kamis, 04 Juli 2019

Perempuan Tangguh di My Secret, Terrius


Alhamdulillah, kelar nyuci piring, terus tiba-tiba pengen pemanasan nulis nih. Masih ogah-ogahan buka draft blog yang menumpuk, nulisnya di sini saja kali ya.


Tulisan ini adalah kumpulan status WhatsApp ku. Ternyata enak juga ya. Habisnya aku nyaman kalau nulis status. Dan ini manjur banget untuk membangkitkan mood menulisku setelah absen menulis di blog ini. Lihat saja, berapa tulisan yang kuhasilkan bulan kemarin? Mengenaskan banget. Ini juga ada banyak draft yang tidak selesai-selesai. Salah satunya draft tulisan lomba juga. Huft.

Ehm, aku pengen cerita tentang 'value' yang kudapat setelah nonton drakor My Secret, Terrius.

Hahaha. Jangan heran, aku juga suka kok nonton drakor! Tapi, ya tetap kubatasi. Awalnya aku dulu mikir orang yang punya kebiasaan nonton drakor tuh buang-buang waktu doang. Lha sekarang aku sendiri juga nonton drakor. Hahaha.

Ojo moyoki, mundak nemplok. Jangan meledek, nanti kamu juga kayak gitu.

Nonton drakor pas weekend, atau lagi liburan gini, its OK. Kalau pas kerjaan menumpuk, jangan sekali-kali buka aplikasi IFLIX, VIU, KLIK FILM, dkk. Dijamin bakalan nyeseeeel.

Lha nonton drakor itu nagih lho. Sumpah. Satu episode kelar, penasaran, klik lagi, nonton lagi, tahu-tahu sudah tengah malam. Nyesel? Rasakno dewe.

Jadi, kusarankan, nonton drakor pas weekend saja, tak papa. Kalau aku nih, pas mau nonton download tuh aplikasinya. Aku paling suka pakai IFLIX.  Kualitas gambar dan suaranya paling TOP. Tapi, termasuk boros juga sih. Kalau sudah kelar full pol mentok (misal 32 episode), yo tak hapus aplikasinya. Berhasil. Berhasil nggak pengen nonton lagi. Sampai ketemu di weekend berikutnya. Hihihi.

Balik lagi soal drakor My Secret, Terrius. Oiya, judul lainnya tuh Terius Behind Me.

Film ini tuh gak ada bagian 'uhuk-uhuk'nya. Adanya tembak-tembak-an, tapi pakai pistol beneran. Hahaha.

Inti ceritanya sih tentang mata-mata negara. Aku sukaaaaa genre kayak ginian. Rak ketang (meskipun) sepanjang nonton jantungku deg-deg-an banget. Pokoke tegang maksimal.



Terus, yang paling nendang banget di film ini itu tokoh perempuannya, GO AE RIN, namanya.

GO AE RIN ini (awalnya) adalah ibu rumah tangga biasa. Ngurus anaknya yang kembar, usia TK.

Suaminya seorang penulis. Kemudian dibunuh karena jadi saksi mata meninggalnya salah satu orang penggede negeri.

Otomatis lah ya ditinggal suami, Ae Rin harus berjuang mobat-mabit (kerja keras) untuk menghidupi anaknya.

Bisakah Ae Rin berjuang? Lha wong cuma ibu rumah tangga.

Bisa Gaes, bisa!

Bahkan Ae Rin keterlaluan cerdas dan tangguh. Serba bisa. Padahal ya hanya ibu rumah tangga lho.

Awalnya, dia kesulitan mendapat pekerjaan karena statusnya sebagai ibu beranak. Tapi, karena status suaminya yang sebagai korban pembunuhan, pelakunya justru mempekerjakannya.

Bersama kesulitan ada kemudahan, bukan? Tapi, kalau boleh memilih, nggak mau lah ya suaminya meninggal secara mendadak, tak bersalah pula.

Mulai dari sekretaris, penjaga outlet tas, mata-mata, sampai jadi barista dilakukan.

Kurang strong piye meneh coba? Kadang, keadaan kepepet tuh justru membuat kita untuk mau nggak mau kudu survive ya. Ora kerjo ora mangan (Nggak kerja nggak makan). Jiwa kreatifnya keluar semua. Hahaha.

Nah, dari Go Ae Rin, aku belajar tentang mimpi (baik mimpi jangka pendek atau panjang). Kita, perempuan, apalagi ibu-ibu, meskipun pekerjaannya nggak akan ada habisnya, ingat satu hal, kita nggak boleh nggak punya mimpi walau sudah jadi seorang Ibu.

Kita juga harus jadi perempuan yang mandiri, tangguh, dan tentunya cerdas di setiap saat.

Kalau saat ini mimpi itu belum bisa kita raih, jangan kubur mimpi itu! Pupuk terus, sekalipun dalam diam. Percayalah suatu saat nanti mimpi itu akan terwujud.

Oiya, di drama korea ini, Go Ae Rin ini adalah perempuan dari keluarga nelayan yang kemudian merantau ke Seoul. Sepertinya dia anak tunggal, wong nggak ada saudara yang dimunculkan. Tapi, sumpah, dia patut jadi panutanku banget banget. Aku yang juga anak tunggal percaya kalau anak tunggal kuwi ora tidak (semua) manja. Bahkan, seringkali orangtua mendidik kami (terutama perempuan) agar serba bisa. Ojo njagake wong. Jangan bergantung kepada orang lain.

Terus, pas Ae Rin latihan nyetir mobil, lha mobile nganggur nganti bobrok ora dipakai (mobil suaminya rusak karena tidak dipakai), aku envy, pengen juga latihan nyetir.

Pas nembung (izin) bapak, komentarnya langsung, "Apeh lahpo (mau ngapain) latihan nyetir barang (juga)?"

Lah mosok aku kudu jawab (apa iya aku harus jawab), "Aku pengen koyok (seperti) Go Ae Rin, Bapak. Hahaha."

Aku pengen jadi anak (tunggal) bapak yang bisa diandalkan. Embuh kapan? Saiki (sekarang), jelas, durung iso diandalke babar blas (belum bisa diandalkan sama sekali).

Hahaha.
Sudah, sudah, ini tukang ngereview drama korea abal-abal banget ya. Endingnya malah curhat. Maafkan 🙏

My Secret, Terrius ini rekomended banget untuk ditonton. Tentang Kim Bon, tetangga Go Ae Rin, nggak aku bahas. Soalnya sing nyantol banget di film ini ya sosok Go Ae Rin.


Kamu, kamu, kamu, sudah nonton drama korea yang satu ini? Tokoh mana yang paling nyantol di hati kamu?

Senin, 10 Juni 2019

7 Alasan Ini yang Membuatku Jatuh Cinta pada Pemakaian Pertama dan Masih Setia Menggunakan Veet Hair Removal Cream Sampai Sekarang




Bukan bermaksud tidak bersyukur. Kenyataan membuktikan, aku memang tidak nyaman dikaruniai tubuh dengan keadaan rambut dan bulu yang sangat berlebihan. Tapi, hanya ngomong tidak nyaman, kemudian tak ada usaha, lucu, bukan? Nah, apa yang kulakukan? Kepoin, yuk!

Dulu, satu bagian tubuhku yang begitu menyebalkan adalah lutut ke bawah. Kenapa? Karena bulu kakiku seperti punya bapak. Bulunya tuh banyak banget. 

Kaos kaki selutut adalah salah satu barang yang wajib kupakai setiap hari saat sekolah. Tak heran, jika di jalan, aku sering diteriaki orang sebagai pemain sepak bola.

"Woy, itu mau sekolah atau mau main bola?"

Ah, aku sudah kebal. Cuek, walau diteriaki seperti itu saat menunggu lampu hijau menyala.

Daripada bulu kakiku yang panjang dan keriting terlihat. Kemudian membuat orang yang melihatnya syok berat. Aku juga sudah hafal kok, kalau mereka melihat bulu kakiku pasti akan bergumam,

“Ini kaki perempuan atau laki-laki?”
Serba salah, kan?

Maka dari itu, daripada dapat cibiran di atas yang membuatku down, mending pakai kaos kaki ala pemain sepak bola saja.

Bertahun-tahun hidup dengan bulu yang berlebihan itu sangat menyiksa lho. Nah, gara-gara melihat bapak sering menyukur kumisnya, ide nakalku pun muncul. Aku pengen coba juga mencukur bulu kakiku dengan pisau cukur milik bapak. Hihihi.

https://pixabay.com/Capri23auto

Kupilih metode cukur bulu (shaving) kakiku karena yang paling murah dan mudah. Ya, cukup pinjam pisau cukur kumis milik bapak, kelar deh. Nggak modal banget, kan? Apalagi dulu aku masih sekolah, uang jajan pas-pas-an pula. Kalau ada yang gratis, kenapa harus pilih yang bayar?

Eits, jangan dibayangkan saat shaving aku menggunakan krim khusus ya! Nggak ada! Pokoknya tinggal garuk, garuk, dan garuk. Awas, kalau meleng sedikit, pisau cukur akan melukai kulit! Meskipun sudah hati-hati, tetap saja, shaving yang kulakukan akan meninggalkan luka. Hadeh.

Sudah terluka, eh, baru tiga hari, bulu-bulu baru sudah bermunculan. Kasar pula bulunya. Kalau bergesekan dengan kulit, terasa perih dan gatal. Padahal lukanya belum kering betul lho ya. Oh, tidak. Masalah baru datang. Mana tahan?

Hayo, siapa yang senasib denganku?

Santai, itu dulu kok, sebelum aku kenal dengan Veet Hair Removal Cream.

Tahun 2014, seminggu sebelum aku menikah di bulan Desember, aku diharuskan untuk fitting baju pengantin. Satu hal yang menggangguku saat itu adalah bagaimana dengan bulu kakiku? Kalau nanti Si mbak periasnya lihat bulu kakiku yang panjang, keriting, dan banyak ini, gimana? Ah, aku tidak mau moodku rusak begitu saja! Aku mau menikah lho ini. Pokoknya aku nggak mau jadi bad mood!

Ternyata dunia berpihak kepadaku, Teman. Saat itu lagi booming-boomingnya Veet Hair Removal Cream yang dirilis ulang dengan inovasi dan teknologi baru. Iklannya bertebaran di setiap stasiun TV membuatku kepincut untuk mencobanya.

Ibarat peribahasa, pucuk dicinta ulampun tiba. Cus deh ke minimarket dekat rumah, kemudian segera aku aplikasikan di kakiku.

Bahagiaku makin berlipat-lipat saat hari pernikahanku, karena masalah bulu kaki bye-bye sejak ada Veet.

Sekali memakai Veet, kemudian melihat hasilnya, hatiku senang sekali. Saat itu, aku pergi fitting baju pengantin dengan hati yang meloncat-loncat. Bahagia. Tidak ada komentar, ini kaki perempuan atau laki-laki sih?. Makanya, sampai sekarang, aku masih setia dengan Veet Hair Removal Cream untuk mengusir bulu-bulu di kakiku.

Nah, 7 alasan inilah yang membuatku jatuh cinta dan selalu setia dengan Veet Hair Removal Cream. Hati-hati, setelah baca ulasanku ini, kamu bakal teracuni juga. Hahaha.

1. Kenyamanan itu yang membuatku setia dengan Veet Hair Removal Cream



Kenapa dulu aku lebih memilih shaving daripada waxing? Karena dulu tahunya ya shaving. Tahu waxing kan saat kenal dengan internet. Tapi, baru lihat penjelasannya saja sudah bergidik. Mana berani mencoba? Menyakitkan, begitu dalam bayangku.

Berbeda saat memakai Veet Hair Removal Cream. Saat krim dioleskan ke kulit, tahu nggak apa yang kurasakan? Adem banget. Bak mata yang sedang memakai masker mentimun. Bahkan saat spatula mulai kugarukkan ke kulit, tak ada rasa sakit yang muncul.

2. Mudah didapat, di minimarket ada, online shop banyak banget



Alhamdulillah, Veet Hair Removal Cream ini mudah banget ditemukan. Aku yang hidup di pusat kecamatan, bisa membeli produk ini di minimarket dan apotek terdekat. Terakhir, aku malah borong Veet di Lazada lho. Bahkan, kalau kamu mau beli, di Tokopedia juga lagi ada promo berhadiah Confidence Journal.

3. Jangan bingung memilih, sesuaikan dengan kulitmu



Satu hal yang harus kita pahami sebelum memakai produk ini adalah kita harus tahu jenis kulit bagian tubuh yang hendak kita bersihkan bulu-bulunya. Kenapa kok per bagian? Menurut pengalamanku, ternyata bagian ketiakku (sensitif) itu jenis kulitnya berbeda dengan kaki. Makanya, jenis Veet yang kugunakan pun berbeda. Karena efeknya pun akan berbeda di kulit.

Varian Veet ini untuk mengusir bulu ketiakku

Cara mudah untuk mengecek apakah jenis produk Veet itu cocok dengan kulitmu adalah dengan cara oleskan krim Veet sedikit saja di bagian tubuh. Kalau tidak ada reaksi yang sifatnya negatif (pedih), baru lanjut oleskan ke seluruh permukaan tubuh yang ingin dibersihkan bulunya. Aman lagi kalau sudah 24 jam tidak ada efek samping, maka lanjut!

Nah, Veet Hair Removal Cream ini ada 3 varian, untuk kulit kering, sensitif, dan ada juga normal. Kalau kulit kamu, pakai varian yang mana?

instagram.com/veetindonesia

4. Tiga langkah saja, bulu kabur seketika, #BeAConfidentYou



Cara pakainya sangat mudah, pertama, oleskan krim Veet ke seluruh permukaan kulit. Tunggu 3 - 6 menit. Bulu akan keriting kecil-kecil seperti di foto. Kedua, bersihkan bulu dengan spatula. Ketiga, bersihkan bagian tubuhmu tadi dengan air. Kelar deh.

Simpel, bukan? Kamu yang awalnya nggak pede karena bulu kaki yang panjang, keriting, dan lebat, langsung deh #BeAConfidentYou. Apapun profesi dan aktivitasmu, Veet Hair Removal Cream memang musuhnya bulu-bulu nakal.

5. Santai, bahannya aman kok



Penting sekali saat hendak menggunakan produk ini adalah baca aturan pakainya yang tertera di kemasan. Selain itu, di situ juga dijelaskan komposisi bahannya. Tidak mungkin ada nomor BPOMnya kalau bahan yang terkandung di dalamnya berbahaya, bukan?

Untuk produk Veet Hair Removal Cream yang kugunakan untuk mengusir buku kakiku, adalah yang khusus untuk kulit kering. Dengan kemasan yang simpel, tutup ulir, cukup pencet perlahan, krim dengan warna putih susu, dan kental ini akan keluar.

Bagaimana dengan aromanya? Tidak terlalu menyengat. Harum shea butter dan lily tetap tercium. Saat digunakan di kulit, ketika sudah ada sekitar 4 menit, aromanya berubah seperti aroma semir rambut. Lumayan menyengat, tapi setelah dibersihkan dengan air juga hilang. Tidak berbekas. Mungkin bau itu bukti kalau krimnya memang benar-benar bekerja membersihkan bulu.


6. Tahu banget konsumen ingin dimanjakan, ada hadiah menarik yang ditawarkan




Sering-sering saja ya Veet untuk ngadain promo. Hihihi.

Di atas, aku ceritakan kalau aku habis borong Veet di Lazada. Karena, beli tiga Veet Hair Removal Cream varian apa saja, dengan ukuran 60 g, pembeli bakalan dapat Confidence Journal seperti yang kupegang di atas. Kupikir jurnalnya kecil lho. Ternyata besar. Bagus banget. Di dalamnya ada beberapa pesan-pesan dari Tatjana Saphira. Pun qoutes. Pokoknya kamu bisa bikin jadwal, mau gambar, atau sekadar menuangkan ide tulisan di jurnal ini, bisa banget.

Siapa yang nggak hepi coba? Sudah dapat Veet dengan setengah harga, kemudian dapat jurnal yang kece abis. Kamu nggak mau? Jangan sampai kehabisan jurnalnya lho ya.

7. Hadir dengan produk yang menjawab kebutuhan masyarakat


snapdeal.com

Yang kusuka dari Veet sejak dulu adalah termasuk produk yang tahu banget kebutuhan konsumen. Makanya, tidak heran kalau kini hadir Veet dengan kemasan ekonomis. Hanya dengan uang 5000, kini, kita sudah bisa melibas bulu-bulu di tubuh kita. Murah, nggak ribet pula.

Selain itu, kalau Veet yang kuulas di atas kan hanya tiga varian. Kini, ada juga lho Veet Sensitive Touch yang bisa mencukur alis, ketiak dan daerah kewanitaan. Kamu bisa cek langsung dan kepoin ke akun sosial medianya. Bahkan di instagramnya, admin aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan dari followers, termasuk pertanyaan seputar harga produk Veet.


Terakhir, kapan kamu mau coba usir bulu di kakimu? Kalau aku sih seminggu lagi, soalnya seminggu yang lalu baru kubersihkan. Terpenting, pakai Veet Hair Removal Cream itu enak kok. Produk ini kan tidak membumihanguskan bulu di tubuh kita secara permanen. Jadi, kalau pengen sesekali kaki berbulu, biar tetap alami, ya sudah, tidak usah dibersihkan. Kalau pengen bersih, tinggal pakai saja krim Veet ini. Beres deh.

Rabu, 29 Mei 2019

GO-MASSAGE, Mau Pijat di Kos-kosan Sepetak, Bisa!


Menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus bekerja paruh waktu itu BERAT. Jangan, kamu tidak usah ikut-ikutan, biar aku saja!

Senin sampai Jumat sibuk di sekolah. Sabtu (18/5), aku mengikuti pelatihan dari pagi buta sampai ashar. Eh, Minggu, bukannya istirahat, Kak Ghifa malah pengen ikut Mbah Uti jualan di pasar kremnyeng Semarang. Yo wis, aku mengalah.

Sabtu malam, pukul 22.00 WIB, aku baru selesai memasak untuk menu sahur. Kemudian, aku pergi tidur, dan Minggu dini hari, tepatnya pukul 01.30 WIB, kami berangkat ke pasar. Di perjalanan, aku berharap Kak Ghifa mau tidur di mobil, biar aku bisa tidur lagi, eh, ternyata tidak, Saudara.

Dua kali mobil bapak berhenti, di Pasar Karangawen dan Pasar Ganepo (ini pasar yang viral gara-gara ada ibu-ibu jatuh kena palang pintu kereta api karena tidak sabar) untuk membeli sayuran. Sambil menunggu, aku dan ibu sahur di mobil. Hingga akhirnya, tepat pukul 03.30 WIB, kami sampai di pasar tempat bapak berjualan.

Sampai sana, mataku sudah nggak kuat melek. Kak Ghifa? Haduh, ternyata matanya tetap on fire. Ya Allah... Ingin rasanya mata ini kuberi batang korek api, biar tetap terjaga.

Ibu paham betul keadaanku yang kurang tidur. Beliau menawarkan kos-kosan Bulek (yang juga jualan di pasar yang sama) untuk kugunakan tidur. Daripada tidur di mobil, sumpek, tawaran itu kusambut dengan suka cita.

Berjalan kaki sekitar lima menit dari pasar, akhirnya aku sampai di kos-kosan Bulek yang letaknya di belakang pasar. Sampai sana langsung cuci muka dan kaki, kemudian tepar. Kak Ghifa? Dia masih belum mau tidur. Senjata terakhirku pun keluar, Youtube untuknya. Entah jam berapa Kak Ghifa mulai tertidur, saat aku bangun sekitar pukul 05.00 WIB untuk salat subuh, Kak Ghifa sudah tertidur pulas di sampingku dengan HP yang masih menyala.

Selesai salat subuh, aku tidur lagi. Badanku rasanya tidak karuan. Ya, capek, berasa kurang tidur pula. Kepalaku pusing dan tengkukku pun terasa berat dan sakit.

Aku bangun kembali saat jam dinding di kos Bulek, yang hanya berukuran 2x2 meter ini, menunjukkan pukul 07.00 WIB. Kak Ghifa masih tertidur pulas. Kubuka HPku. Saat itu aku hanya berpikir, sepagi ini apakah ada terapis dari GO-MASSAGE yang mau menerima job memijat?

REVIEW GO-MASSAGE
Apa itu GO-MASSAGE? Adalah layanan pijat panggilan yang praktis dan bisa dilakukan di mana saja. Termasuk di kantor dan kos-kosan sepetak milik Bulekku.

Karena baru pertama kali memakai layanan GO-MASSAGE, saat kuklik di aplikasi GOJEK, aku diminta menginstal aplikasi GO-LIFE. Nah, dari aplikasi ini ada beberapa pilihan layanan yang ditawarkan. Karena saat itu aku butuh layanan pijat panggilan ke rumah, kupilihlah GO-MASSAGE.

Wow, banyak pilihannya

Ternyata, ada banyak sekali pilihan layanan yang ditawarkan. Kalau untuk di Semarang ada body rejuvenation, reflexology, dan beauty massage. Masing-masing layanan punya banyak pilihan juga. Dijelaskan juga bagian tubuh mana yang akan dipijat. Aku sampai bingung mau pilih yang mana lho. Hihihi.

Bisa pilih waktu berapa lama kamu mau dipijat?
Pokoknya kalau kamu mau pesan GO-MASSAGE ini, kamu bisa pilih, mana yang kamu butuhkan. Tak lupa, di sana juga ada pilihan waktunya. Ada yang hanya 30 menit, sampai di atas 1,5 jam. Tentu biayanya berbeda. Oiya, yang kusuka dari pijat panggilan ini adalah, kita bisa pilih jenis kelamin terapis yang kita inginkan. Insyaallah ini aman dan sesuai janji dari GO-LIFE, akan menindak tegas semua pelanggaran yang terjadi, termasuk pelecehan seksual.

Pin yang dipakai oleh terapis

Pagi itu, ternyata pesanan GO-MASSAGE dengan layanan body massage & foot reflexology-ku disambut oleh terapis dengan nama Titik Harfiah. Pun, ternyata kita bisa menentukan waktu yang akan kita gunakan untuk pijat. Karena sekitar pukul 09.30 WIB aku harus kembali ke rumah, kupilihlah pukul 07.45 WIB untuk mulai terapi dan akan berlangsung selama 90 menit.

Ini dia Bu Titik

Setelah berhasil memesan layanan pijat panggilan ini, ada SMS masuk ke HPku. Ternyata nomor Bu Titik, terapis yang akan memijatku. Kusampaikan alamat kos bulek lebih detail dan kuminta beliau untuk memberi kabar kalau sudah sampai di depan pasar. Maklum, kos bulek ada di gang tikus. Hihi.

Tepat pukul 07.45 WIB, Bu Titik sudah berada di kos Bulek dan mulai memijat kakiku. Saat tangan Bu Titik mulai memijat, duh, gimana ya aku menggambarkannya? Ya Allah, rasanya, nyer nyer nyer. Sakit, tapi enak.

"Mbak Ika, mohon maaf, ini di bagian betis njenengan (kamu) gosong/lebam. Mbak Ika kecapekan banget ini."

Kutengok bagian tubuh yang ditunjuk Bu Titik. Ternyata iya, betisku ada lebam yang membentuk lingkaran. Aku memang seperti itu. Kalau kecapekan, bagian tubuh tertentu pada lebam. Seringnya sih kaki dan tangan.

Kamu juga gitu nggak sih? Capek tidak dirasa, tahu-tahu sudah pada lebam?

Kunikmati pelayanan dari terapis yang kutaksir usianya 40 tahun ke atas ini.

"Njenengan( kamu) sudah lama kerja sebagai terapis di GOJEK?"

"Sudah 2 tahunan, Mbak."

"Bagaimana ceritanya bisa kerja seperti ini?"

Bu Titik pun menceritakan proses awal mulanya beliau kerja sebagai terapis layanan GO-MASSAGE.

"Syarat utamanya harus punya pengalaman memijat selama tiga tahun. Lha saya sudah 10 tahun lebih memijat. Saya ini dukun bayi juga kalau di kampung, Mbak. Ikut sekolah di Puskesmas berkali-kali. Alhamdulillah, ada ini (GO-MASSAGE) makin ramai."


Bu Titik saat memijat kakiku

Kudengarkan cerita Bu Titik sambil sesekali menengok ke Kak Ghifa yang masih tertidur pulas di sampingku.

Kak Ghifa masih tertidur pulas

"Pantes ya. Tangan njenengan (kamu) terasa hangat. Ternyata memang sudah terbiasa memijat dan ada bakat. Enak, Bu."

Kepala, tengkuk, pundak, dan tanganku tak lepas dari perhatian terapis GO-MASSAGE, yang kuanggap di atas kata profesional ini. Dijelaskannya satu persatu kenapa bagian tubuhku sakit dan ditunjukkan titik-titik yang bisa jadi alarm kalau tubuhku mulai kecapekan.

Alhamdulillah, Mingguku terasa menyenangkan. Awalnya, kuanggap bakalan makin melelahkan, tapi karena ada GO-MASSAGE, berbeda lagi ceritanya.

Setelah aku selesai dipijat, Kak Ghifa pun kubangunkan karena kami juga akan pulang. Sebelum berpisah dengan Bu Titik, kuucapkan terima kasih banyak karena sudah melayaniku dengan sangat baik dan ramah. Kami pun menyempatkan untuk berfoto bersama. Tentunya, kujadikan Bu Titik sebagai terapis favoritku.



“Kalau ke Semarang, pesan saya lagi saja, Mbak.”

‘Oh, ya, tentu, Buk.”

Kami pun berpisah dengan melepas tawa bersama. Kalau dengan pelayanan seperti Bu Titik, rasa-rasanya harga layanan yang kukeluarkan sebesar 105 ribu untuk 90 menit, kemudian mendapat potongan 25 ribu, jadi 80 ribu, kok murah banget. Puas pula.


Nah, kalau kamu mau pesan GO-MASSAGE juga, tenang, harganya bervariasi kok, ada yang hanya 40 ribu. Kalau mau dapat potongan, kamu bisa memakai kode IKAHARDIBAIK (Berlaku sampai 10 Juni 2019). Bagaimana? Benar kan kalau pijat, kini, bisa di mana saja?!