Senin, 10 Juni 2019

7 Alasan Ini yang Membuatku Jatuh Cinta pada Pemakaian Pertama dan Masih Setia Menggunakan Veet Hair Removal Cream Sampai Sekarang




Bukan bermaksud tidak bersyukur. Kenyataan membuktikan, aku memang tidak nyaman dikaruniai tubuh dengan keadaan rambut dan bulu yang sangat berlebihan. Tapi, hanya ngomong tidak nyaman, kemudian tak ada usaha, lucu, bukan? Nah, apa yang kulakukan? Kepoin, yuk!

Dulu, satu bagian tubuhku yang begitu menyebalkan adalah lutut ke bawah. Kenapa? Karena bulu kakiku seperti punya bapak. Bulunya tuh banyak banget. 

Kaos kaki selutut adalah salah satu barang yang wajib kupakai setiap hari saat sekolah. Tak heran, jika di jalan, aku sering diteriaki orang sebagai pemain sepak bola.

"Woy, itu mau sekolah atau mau main bola?"

Ah, aku sudah kebal. Cuek, walau diteriaki seperti itu saat menunggu lampu hijau menyala.

Daripada bulu kakiku yang panjang dan keriting terlihat. Kemudian membuat orang yang melihatnya syok berat. Aku juga sudah hafal kok, kalau mereka melihat bulu kakiku pasti akan bergumam,

“Ini kaki perempuan atau laki-laki?”
Serba salah, kan?

Maka dari itu, daripada dapat cibiran di atas yang membuatku down, mending pakai kaos kaki ala pemain sepak bola saja.

Bertahun-tahun hidup dengan bulu yang berlebihan itu sangat menyiksa lho. Nah, gara-gara melihat bapak sering menyukur kumisnya, ide nakalku pun muncul. Aku pengen coba juga mencukur bulu kakiku dengan pisau cukur milik bapak. Hihihi.

https://pixabay.com/Capri23auto

Kupilih metode cukur bulu (shaving) kakiku karena yang paling murah dan mudah. Ya, cukup pinjam pisau cukur kumis milik bapak, kelar deh. Nggak modal banget, kan? Apalagi dulu aku masih sekolah, uang jajan pas-pas-an pula. Kalau ada yang gratis, kenapa harus pilih yang bayar?

Eits, jangan dibayangkan saat shaving aku menggunakan krim khusus ya! Nggak ada! Pokoknya tinggal garuk, garuk, dan garuk. Awas, kalau meleng sedikit, pisau cukur akan melukai kulit! Meskipun sudah hati-hati, tetap saja, shaving yang kulakukan akan meninggalkan luka. Hadeh.

Sudah terluka, eh, baru tiga hari, bulu-bulu baru sudah bermunculan. Kasar pula bulunya. Kalau bergesekan dengan kulit, terasa perih dan gatal. Padahal lukanya belum kering betul lho ya. Oh, tidak. Masalah baru datang. Mana tahan?

Hayo, siapa yang senasib denganku?

Santai, itu dulu kok, sebelum aku kenal dengan Veet Hair Removal Cream.

Tahun 2014, seminggu sebelum aku menikah di bulan Desember, aku diharuskan untuk fitting baju pengantin. Satu hal yang menggangguku saat itu adalah bagaimana dengan bulu kakiku? Kalau nanti Si mbak periasnya lihat bulu kakiku yang panjang, keriting, dan banyak ini, gimana? Ah, aku tidak mau moodku rusak begitu saja! Aku mau menikah lho ini. Pokoknya aku nggak mau jadi bad mood!

Ternyata dunia berpihak kepadaku, Teman. Saat itu lagi booming-boomingnya Veet Hair Removal Cream yang dirilis ulang dengan inovasi dan teknologi baru. Iklannya bertebaran di setiap stasiun TV membuatku kepincut untuk mencobanya.

Ibarat peribahasa, pucuk dicinta ulampun tiba. Cus deh ke minimarket dekat rumah, kemudian segera aku aplikasikan di kakiku.

Bahagiaku makin berlipat-lipat saat hari pernikahanku, karena masalah bulu kaki bye-bye sejak ada Veet.

Sekali memakai Veet, kemudian melihat hasilnya, hatiku senang sekali. Saat itu, aku pergi fitting baju pengantin dengan hati yang meloncat-loncat. Bahagia. Tidak ada komentar, ini kaki perempuan atau laki-laki sih?. Makanya, sampai sekarang, aku masih setia dengan Veet Hair Removal Cream untuk mengusir bulu-bulu di kakiku.

Nah, 7 alasan inilah yang membuatku jatuh cinta dan selalu setia dengan Veet Hair Removal Cream. Hati-hati, setelah baca ulasanku ini, kamu bakal teracuni juga. Hahaha.

1. Kenyamanan itu yang membuatku setia dengan Veet Hair Removal Cream



Kenapa dulu aku lebih memilih shaving daripada waxing? Karena dulu tahunya ya shaving. Tahu waxing kan saat kenal dengan internet. Tapi, baru lihat penjelasannya saja sudah bergidik. Mana berani mencoba? Menyakitkan, begitu dalam bayangku.

Berbeda saat memakai Veet Hair Removal Cream. Saat krim dioleskan ke kulit, tahu nggak apa yang kurasakan? Adem banget. Bak mata yang sedang memakai masker mentimun. Bahkan saat spatula mulai kugarukkan ke kulit, tak ada rasa sakit yang muncul.

2. Mudah didapat, di minimarket ada, online shop banyak banget



Alhamdulillah, Veet Hair Removal Cream ini mudah banget ditemukan. Aku yang hidup di pusat kecamatan, bisa membeli produk ini di minimarket dan apotek terdekat. Terakhir, aku malah borong Veet di Lazada lho. Bahkan, kalau kamu mau beli, di Tokopedia juga lagi ada promo berhadiah Confidence Journal.

3. Jangan bingung memilih, sesuaikan dengan kulitmu



Satu hal yang harus kita pahami sebelum memakai produk ini adalah kita harus tahu jenis kulit bagian tubuh yang hendak kita bersihkan bulu-bulunya. Kenapa kok per bagian? Menurut pengalamanku, ternyata bagian ketiakku (sensitif) itu jenis kulitnya berbeda dengan kaki. Makanya, jenis Veet yang kugunakan pun berbeda. Karena efeknya pun akan berbeda di kulit.

Varian Veet ini untuk mengusir bulu ketiakku

Cara mudah untuk mengecek apakah jenis produk Veet itu cocok dengan kulitmu adalah dengan cara oleskan krim Veet sedikit saja di bagian tubuh. Kalau tidak ada reaksi yang sifatnya negatif (pedih), baru lanjut oleskan ke seluruh permukaan tubuh yang ingin dibersihkan bulunya. Aman lagi kalau sudah 24 jam tidak ada efek samping, maka lanjut!

Nah, Veet Hair Removal Cream ini ada 3 varian, untuk kulit kering, sensitif, dan ada juga normal. Kalau kulit kamu, pakai varian yang mana?

instagram.com/veetindonesia

4. Tiga langkah saja, bulu kabur seketika, #BeAConfidentYou



Cara pakainya sangat mudah, pertama, oleskan krim Veet ke seluruh permukaan kulit. Tunggu 3 - 6 menit. Bulu akan keriting kecil-kecil seperti di foto. Kedua, bersihkan bulu dengan spatula. Ketiga, bersihkan bagian tubuhmu tadi dengan air. Kelar deh.

Simpel, bukan? Kamu yang awalnya nggak pede karena bulu kaki yang panjang, keriting, dan lebat, langsung deh #BeAConfidentYou. Apapun profesi dan aktivitasmu, Veet Hair Removal Cream memang musuhnya bulu-bulu nakal.

5. Santai, bahannya aman kok



Penting sekali saat hendak menggunakan produk ini adalah baca aturan pakainya yang tertera di kemasan. Selain itu, di situ juga dijelaskan komposisi bahannya. Tidak mungkin ada nomor BPOMnya kalau bahan yang terkandung di dalamnya berbahaya, bukan?

Untuk produk Veet Hair Removal Cream yang kugunakan untuk mengusir buku kakiku, adalah yang khusus untuk kulit kering. Dengan kemasan yang simpel, tutup ulir, cukup pencet perlahan, krim dengan warna putih susu, dan kental ini akan keluar.

Bagaimana dengan aromanya? Tidak terlalu menyengat. Harum shea butter dan lily tetap tercium. Saat digunakan di kulit, ketika sudah ada sekitar 4 menit, aromanya berubah seperti aroma semir rambut. Lumayan menyengat, tapi setelah dibersihkan dengan air juga hilang. Tidak berbekas. Mungkin bau itu bukti kalau krimnya memang benar-benar bekerja membersihkan bulu.


6. Tahu banget konsumen ingin dimanjakan, ada hadiah menarik yang ditawarkan




Sering-sering saja ya Veet untuk ngadain promo. Hihihi.

Di atas, aku ceritakan kalau aku habis borong Veet di Lazada. Karena, beli tiga Veet Hair Removal Cream varian apa saja, dengan ukuran 60 g, pembeli bakalan dapat Confidence Journal seperti yang kupegang di atas. Kupikir jurnalnya kecil lho. Ternyata besar. Bagus banget. Di dalamnya ada beberapa pesan-pesan dari Tatjana Saphira. Pun qoutes. Pokoknya kamu bisa bikin jadwal, mau gambar, atau sekadar menuangkan ide tulisan di jurnal ini, bisa banget.

Siapa yang nggak hepi coba? Sudah dapat Veet dengan setengah harga, kemudian dapat jurnal yang kece abis. Kamu nggak mau? Jangan sampai kehabisan jurnalnya lho ya.

7. Hadir dengan produk yang menjawab kebutuhan masyarakat


snapdeal.com

Yang kusuka dari Veet sejak dulu adalah termasuk produk yang tahu banget kebutuhan konsumen. Makanya, tidak heran kalau kini hadir Veet dengan kemasan ekonomis. Hanya dengan uang 5000, kini, kita sudah bisa melibas bulu-bulu di tubuh kita. Murah, nggak ribet pula.

Selain itu, kalau Veet yang kuulas di atas kan hanya tiga varian. Kini, ada juga lho Veet Sensitive Touch yang bisa mencukur alis, ketiak dan daerah kewanitaan. Kamu bisa cek langsung dan kepoin ke akun sosial medianya. Bahkan di instagramnya, admin aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan dari followers, termasuk pertanyaan seputar harga produk Veet.


Terakhir, kapan kamu mau coba usir bulu di kakimu? Kalau aku sih seminggu lagi, soalnya seminggu yang lalu baru kubersihkan. Terpenting, pakai Veet Hair Removal Cream itu enak kok. Produk ini kan tidak membumihanguskan bulu di tubuh kita secara permanen. Jadi, kalau pengen sesekali kaki berbulu, biar tetap alami, ya sudah, tidak usah dibersihkan. Kalau pengen bersih, tinggal pakai saja krim Veet ini. Beres deh.

Rabu, 29 Mei 2019

GO-MASSAGE, Mau Pijat di Kos-kosan Sepetak, Bisa!


Menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus bekerja paruh waktu itu BERAT. Jangan, kamu tidak usah ikut-ikutan, biar aku saja!

Senin sampai Jumat sibuk di sekolah. Sabtu (18/5), aku mengikuti pelatihan dari pagi buta sampai ashar. Eh, Minggu, bukannya istirahat, Kak Ghifa malah pengen ikut Mbah Uti jualan di pasar kremnyeng Semarang. Yo wis, aku mengalah.

Sabtu malam, pukul 22.00 WIB, aku baru selesai memasak untuk menu sahur. Kemudian, aku pergi tidur, dan Minggu dini hari, tepatnya pukul 01.30 WIB, kami berangkat ke pasar. Di perjalanan, aku berharap Kak Ghifa mau tidur di mobil, biar aku bisa tidur lagi, eh, ternyata tidak, Saudara.

Dua kali mobil bapak berhenti, di Pasar Karangawen dan Pasar Ganepo (ini pasar yang viral gara-gara ada ibu-ibu jatuh kena palang pintu kereta api karena tidak sabar) untuk membeli sayuran. Sambil menunggu, aku dan ibu sahur di mobil. Hingga akhirnya, tepat pukul 03.30 WIB, kami sampai di pasar tempat bapak berjualan.

Sampai sana, mataku sudah nggak kuat melek. Kak Ghifa? Haduh, ternyata matanya tetap on fire. Ya Allah... Ingin rasanya mata ini kuberi batang korek api, biar tetap terjaga.

Ibu paham betul keadaanku yang kurang tidur. Beliau menawarkan kos-kosan Bulek (yang juga jualan di pasar yang sama) untuk kugunakan tidur. Daripada tidur di mobil, sumpek, tawaran itu kusambut dengan suka cita.

Berjalan kaki sekitar lima menit dari pasar, akhirnya aku sampai di kos-kosan Bulek yang letaknya di belakang pasar. Sampai sana langsung cuci muka dan kaki, kemudian tepar. Kak Ghifa? Dia masih belum mau tidur. Senjata terakhirku pun keluar, Youtube untuknya. Entah jam berapa Kak Ghifa mulai tertidur, saat aku bangun sekitar pukul 05.00 WIB untuk salat subuh, Kak Ghifa sudah tertidur pulas di sampingku dengan HP yang masih menyala.

Selesai salat subuh, aku tidur lagi. Badanku rasanya tidak karuan. Ya, capek, berasa kurang tidur pula. Kepalaku pusing dan tengkukku pun terasa berat dan sakit.

Aku bangun kembali saat jam dinding di kos Bulek, yang hanya berukuran 2x2 meter ini, menunjukkan pukul 07.00 WIB. Kak Ghifa masih tertidur pulas. Kubuka HPku. Saat itu aku hanya berpikir, sepagi ini apakah ada terapis dari GO-MASSAGE yang mau menerima job memijat?

REVIEW GO-MASSAGE
Apa itu GO-MASSAGE? Adalah layanan pijat panggilan yang praktis dan bisa dilakukan di mana saja. Termasuk di kantor dan kos-kosan sepetak milik Bulekku.

Karena baru pertama kali memakai layanan GO-MASSAGE, saat kuklik di aplikasi GOJEK, aku diminta menginstal aplikasi GO-LIFE. Nah, dari aplikasi ini ada beberapa pilihan layanan yang ditawarkan. Karena saat itu aku butuh layanan pijat panggilan ke rumah, kupilihlah GO-MASSAGE.

Wow, banyak pilihannya

Ternyata, ada banyak sekali pilihan layanan yang ditawarkan. Kalau untuk di Semarang ada body rejuvenation, reflexology, dan beauty massage. Masing-masing layanan punya banyak pilihan juga. Dijelaskan juga bagian tubuh mana yang akan dipijat. Aku sampai bingung mau pilih yang mana lho. Hihihi.

Bisa pilih waktu berapa lama kamu mau dipijat?
Pokoknya kalau kamu mau pesan GO-MASSAGE ini, kamu bisa pilih, mana yang kamu butuhkan. Tak lupa, di sana juga ada pilihan waktunya. Ada yang hanya 30 menit, sampai di atas 1,5 jam. Tentu biayanya berbeda. Oiya, yang kusuka dari pijat panggilan ini adalah, kita bisa pilih jenis kelamin terapis yang kita inginkan. Insyaallah ini aman dan sesuai janji dari GO-LIFE, akan menindak tegas semua pelanggaran yang terjadi, termasuk pelecehan seksual.

Pin yang dipakai oleh terapis

Pagi itu, ternyata pesanan GO-MASSAGE dengan layanan body massage & foot reflexology-ku disambut oleh terapis dengan nama Titik Harfiah. Pun, ternyata kita bisa menentukan waktu yang akan kita gunakan untuk pijat. Karena sekitar pukul 09.30 WIB aku harus kembali ke rumah, kupilihlah pukul 07.45 WIB untuk mulai terapi dan akan berlangsung selama 90 menit.

Ini dia Bu Titik

Setelah berhasil memesan layanan pijat panggilan ini, ada SMS masuk ke HPku. Ternyata nomor Bu Titik, terapis yang akan memijatku. Kusampaikan alamat kos bulek lebih detail dan kuminta beliau untuk memberi kabar kalau sudah sampai di depan pasar. Maklum, kos bulek ada di gang tikus. Hihi.

Tepat pukul 07.45 WIB, Bu Titik sudah berada di kos Bulek dan mulai memijat kakiku. Saat tangan Bu Titik mulai memijat, duh, gimana ya aku menggambarkannya? Ya Allah, rasanya, nyer nyer nyer. Sakit, tapi enak.

"Mbak Ika, mohon maaf, ini di bagian betis njenengan (kamu) gosong/lebam. Mbak Ika kecapekan banget ini."

Kutengok bagian tubuh yang ditunjuk Bu Titik. Ternyata iya, betisku ada lebam yang membentuk lingkaran. Aku memang seperti itu. Kalau kecapekan, bagian tubuh tertentu pada lebam. Seringnya sih kaki dan tangan.

Kamu juga gitu nggak sih? Capek tidak dirasa, tahu-tahu sudah pada lebam?

Kunikmati pelayanan dari terapis yang kutaksir usianya 40 tahun ke atas ini.

"Njenengan( kamu) sudah lama kerja sebagai terapis di GOJEK?"

"Sudah 2 tahunan, Mbak."

"Bagaimana ceritanya bisa kerja seperti ini?"

Bu Titik pun menceritakan proses awal mulanya beliau kerja sebagai terapis layanan GO-MASSAGE.

"Syarat utamanya harus punya pengalaman memijat selama tiga tahun. Lha saya sudah 10 tahun lebih memijat. Saya ini dukun bayi juga kalau di kampung, Mbak. Ikut sekolah di Puskesmas berkali-kali. Alhamdulillah, ada ini (GO-MASSAGE) makin ramai."


Bu Titik saat memijat kakiku

Kudengarkan cerita Bu Titik sambil sesekali menengok ke Kak Ghifa yang masih tertidur pulas di sampingku.

Kak Ghifa masih tertidur pulas

"Pantes ya. Tangan njenengan (kamu) terasa hangat. Ternyata memang sudah terbiasa memijat dan ada bakat. Enak, Bu."

Kepala, tengkuk, pundak, dan tanganku tak lepas dari perhatian terapis GO-MASSAGE, yang kuanggap di atas kata profesional ini. Dijelaskannya satu persatu kenapa bagian tubuhku sakit dan ditunjukkan titik-titik yang bisa jadi alarm kalau tubuhku mulai kecapekan.

Alhamdulillah, Mingguku terasa menyenangkan. Awalnya, kuanggap bakalan makin melelahkan, tapi karena ada GO-MASSAGE, berbeda lagi ceritanya.

Setelah aku selesai dipijat, Kak Ghifa pun kubangunkan karena kami juga akan pulang. Sebelum berpisah dengan Bu Titik, kuucapkan terima kasih banyak karena sudah melayaniku dengan sangat baik dan ramah. Kami pun menyempatkan untuk berfoto bersama. Tentunya, kujadikan Bu Titik sebagai terapis favoritku.



“Kalau ke Semarang, pesan saya lagi saja, Mbak.”

‘Oh, ya, tentu, Buk.”

Kami pun berpisah dengan melepas tawa bersama. Kalau dengan pelayanan seperti Bu Titik, rasa-rasanya harga layanan yang kukeluarkan sebesar 105 ribu untuk 90 menit, kemudian mendapat potongan 25 ribu, jadi 80 ribu, kok murah banget. Puas pula.


Nah, kalau kamu mau pesan GO-MASSAGE juga, tenang, harganya bervariasi kok, ada yang hanya 40 ribu. Kalau mau dapat potongan, kamu bisa memakai kode IKAHARDIBAIK (Berlaku sampai 10 Juni 2019). Bagaimana? Benar kan kalau pijat, kini, bisa di mana saja?!

Minggu, 19 Mei 2019

Guru Honorer dapat THR? Dari mana?


Ada yang pernah bertanya seperti judul tulisan ini? Kalau PNS kan jelas ya, dapat THR dari pemerintah, bahkan kabar THR ini sudah booming sebelum bulan ramadan tiba. Mereka juga dapat THR dari koperasi (PGRI). Ada juga THR dari sekolah. Wow, melimpah ruah. Apa kabar dengan guru honorer sepertiku ini?



Ini adalah ramadan keempatku sebagai guru honorer. Meskipun hanya guru honorer, aku nggak ngenes-ngenes banget kok. Tetap dapat THR.

Dari mana?

Kalau diurutkan secara detail, ujung-ujungnya ya dari pemerintah juga sih. Aku kurang paham secara detailnya dari mana. Pokoknya setiap rapat, melaksanakan kegiatan kan kadang ada uang sisa tuh,  dikumpulin deh selama satu tahun, kemudian ada uang lain-lain yang dipegang oleh bendahara, nah, uang itulah yang dibagi-bagi kepada seluruh guru dan kepala sekolah. Banyak sedikitnya THR ya tergantung pengeluaran sekolah selama satu tahun pelajaran itu tadi.

Tahun pertama di sekolah, aku pernah dapat THR sekitar 600 ribu, yang guru PNS 650 ribu, sedangkan kepala sekolah 700 ribu. Semua plus dapat bingkisan senilai 200 ribuan.

Tahun kedua, aku dapat 400 ribu plus bingkisan juga. Tahun ketiga, ini yang paling ngenes, setelah ganti kepala sekolah, aku hanya dapat THR 150 ribu. Tanpa bingkisan pula. Sekolah baru dilanda hutang.

Kalau dipikir-pikir, ada yang aneh, kenapa kok banyak sedikitnya THR tergantung statusnya di sekolah. Kenapa tidak yang guru honorer yang diberi THR paling banyak ya? Kenapa justru yang guru PNS dan kepala sekolah, padahal jelas-jelas mereka sudah dapat dari pemerintah dan organisasi koperasi? Hihi. Kalau tidak, ya semua guru sama, wong tugasnya sama. Logikaku seperti itu. Tapi, ya manut pimpinan walau kesannya, dunia ini memang lucu.

Ya Allah, kenapa kesannya aku jadi iri sama rezeki mereka. Astagfirulah.

Bukankah, banyak atau sedikit memang harus tetap disyukuri? Apalagi ternyata Allah tidak pernah tidur. Benar-benar tidak tidur.

Alhamdulillah, selama ini ada saja THR datang dari arah yang tak pernah aku duga-duga. Eh, ada wali murid datang ke sekolah memberi bingkisan, ada yang membawa mukena, kerudung, bed cover, bahkan ada yang sampai iuran bersama untuk memberikan bingkisan sekardus besar isi kue lebaran, minyak goreng, gula, susu bahkan diselipkan amplop putih untukku.

Mataku selalu berkaca-kaca setiap kali melewati momen seperti ini. Betapa mereka sangat menghargaiku sebagai wali kelas anak-anaknya. Tahu sendirilah ya, apalah guru honorer itu, khususnya di SD negeri sepertiku. Kesenjangan antara PNS sama honorer begitu nyata terpampang. Seringkali dianggap sebelah mata.

Terima kasih, terima kasih banyak atas cinta kasih dari wali muridku.

Nah, tahun ini, apakah aku akan dapat THR dari sekolah? Entahlah. Aku tidak berani berharap. Apalagi dari wali murid. Kok kesannya pamrih banget ya. Tapi, kemarin, waktu ulang tahun, aku juga  sudah dapat kado dari wali murid. Hihi.

Sekali lagi, terima kasih banyak.

Yang jelas, rezeki kita memang sudah sesuai takaran Allah. Kalau jatahnya kita dapat 2 juta, kok, baru dapat 1 juta, insyaallah, kurangnya akan digenapi oleh Allah. Entah bagaimanapun caranya. Betul, bukan? Pokoknya jangan iri dengan rezeki orang lain. Semangat!

Sabtu, 18 Mei 2019

Serumah dengan Orangtua Bisa Tetap Akur? Harus Bisa Dong!


Setelah menikah, apakah hidup kita pasti akan bahagia? Belum tentu. Bahkan, ada yang mengumbar cerita, bukan bahagia yang datang, melainkan bencana. Ada saja masalah yang menyapa. Mau perkara kecil maupun yang segedhe gajah.



Bagaimana dengan menurutku?

Sepertinya, dulu, aku tidak pernah baca buku lika-liku pernikahan. Atau mungkin belum ada buku yang membahas betapa 'menyedihkannya' kehidupan setelah menikah?

Baiklah, mungkin ceritaku ini akan memberikan sedikit gambaran, betapa kehidupan setelah menikah itu SESUATU BANGET.

Aku ini anak tunggal. Masih hidup serumah sama bapak dan ibuku. Aku menikah dengan abi yang punya empat saudara. Jelas, karena lahir dari rahim yang berbeda, punya tetek bengek yang berbeda. Salah satunya adalah perbedaan pola asuh dari kedua orangtua kami.

Nah, karena perbedaan itulah kerikil-kerikil kecil setiap hari muncul. Kalau tidak lapang dada menghadapinya, dijamin, bakalan bubar jalan. Dikit-dikit jadi masalah. Emosi sampai ke ubun-ubun. Huaaaaaaaaa. Stres.


Baru-baru ini, puasaku juga sedang diuji sama Allah lewat ibu dan abi. Pokoknya, apa yang dilakukan abi selalu dapat komentar pedas dari ibuku yang notabene orangnya ceplas-ceplos.

"Bojomu kuwi lho, egois. Ngerti yen bue numpak bus kok yo ora dijemput." (Suamimu itu lho, egois. Tahu kalau ibu naik bus kok ya tidak dijemput.

Detik itu juga, saat selesai membaca isi pesan WA dari ibu, aku langsung naik pitam. Langsung deh pikiran burukku ke abi muncul. Abi tuh emang gitu orangnya. Sama orangtua tidak ada peduli-pedulinya. Tahu kalau ibu fisiknya mudah loyo, eh, malah. Bla bla bla bla. *Mulutku komat-kamit tidak jelas*

Aku buru-buru WA abi. Apa yang ada dalam pikiran dan perasaanku, kutumpahkan semua. Tapi, apa yang terjadi? Abi malah balik marah. Abi yang kukenal selama ini tak pernah marah, tiba-tiba sekasar itu (menurutku).

Apa aku sudah keterlaluan?

Aku yang saat itu masih di sekolah, bersama Kak Ghifa, sampai nangis dleweran. Buru-buru kuseka air mataku, takut dilihat Kak Ghifa. Tapi, nggak tahu kenapa, makin kuseka, kok, makin dleweran.

"Ummi nangis, ya?" tanya Kak Ghifa.

Aku cuma bisa peluk dia. Eh, dia malah ikut menangis.


Sampai rumah, suasananya jadi canggung banget. Karena di rumah ada bapak dan ibu, kamu tahu kami berkomunikasi lewat apa? Yes, WA.

Aku minta maaf kepada abi.

"Lain kali, Ummi jangan langsung marah-marah! Cari tahu dulu duduk perkaranya. Ummi kan baru dengar cerita versi ibu. Belum dari abi juga." Terang abi via WA.

Iya, juga ya. Aku begitu gegabah. Emosiku terlalu meledak-ledak. Kalau dipikir-pikir, masalah ini kan hanya sepele.

Kalau dirinci tuh begini, 

Ibu itu orangnya kan disiplin banget, pengennya, abi itu tanpa disuruh sudah paham apa yang harus dilakukan. Tek, tek, tek, kerjaan kelar. Kalau ibu harus memberitahu mulu, gengsi. Padahal, kalau ibu WA abi saat itu untuk minta dijemput di pertigaan, kan kelar. Tapi, ya, karena besar gengsi dan pekewuhnya, terjadilah seperti itu.

Sebaliknya, abi (dan mungkin laki-laki lain di luar sana) mempunyai sifat, yaitu kalau bertindak harus didikte terlebih dahulu. Kudu ini dulu, kemudian itu, baru ini lagi. Kalau tidak didikte, mana jalan?

Benar nggak sih, semua laki-laki seperti itu?


Akhirnya, tanpa ingin menjadikan ibu sebagai pengadu domba dalam keluarga kecilku, aku dan abi yang sadar diri. Kami yang kurang sabar dan telaten saat menghadapi ibu.

Aku meminta maaf atas nama suami, kalau ada yang tidak berkenan di hati ibu. Pokoknya aku tidak mau kalau sampai ibu jadi jengkel, kemudian jadi beban pikiran. Akhirnya, suasana pun kembali seperti biasa.

Ahhhh, cuman gini doang lho. Benar adanya kalau semua yang terjadi di dalam kehidupan ini butuh yang namanya KOMUNIKASI INTENSIF. Benar, bukan?

Ngomong, woy, ngomong, jangan diem saja. Emangnya aku dukun, bisa baca isi hati dan pikiranmu?

Hihi. Kira-kira seperti itulah ya 👆

Apa kabar dengan abi?

Sebenarnya, kami termasuk pasangan yang tidak pernah bisa diem-dieman lama. Pokoknya kalau hari ini ada masalah, sebelum tidur harus kelar.

Nah, agar suasana hati kami benar-benar cair, kuajak abi dan Kak Ghifa untuk buka bersama di luar, tidak ke restoran atau kafe, melainkan ke seberang rumah yang sering kita gunakan sebagai tempat untuk ngabuburit.


Nggak perlu yang ribet-ribet. Cukup bawa tikar, makanan dan minuman, serta seperangkat alat makan Amethyst Colander Dining Set dari Medina, yang piring dan mangkuknya mudah ditumpuk. Rasa-rasanya waktu berbuka, kemarin, terasa sangat berbeda, apalagi didukung dengan suasana nan hijau. Hihi. Padahal hanya di seberang rumah. Alhamdulillah, sukses membuat suasana hati lebih adem ayem.

Saat aku share foto di atas via instagram, ada temanku yang kepincut sama peralatan makan yang kupakai. Warnanya memang cantik banget kan? Aku banget malah. Unyuk-unyuklah. Hihi.


Kalau kamu pengen punya juga, Amethyst Colander Dining Set dari Medina ini, kamu bisa cek instagram @dusdusan. Untuk satu set isi 12 dibanderol dengan harga 565 ribu. Saat kucek di websitenya dusdusan.com, malah sedang ada promo dan harganya hanya 499 ribu (ada ketentuan waktunya, buruan beli).

Satu set Amethyst Colander Dining Set dari Medina berisi berikut:

Ada garansi seumur hidupnya lho

Ini biasanya kita lihat sebagai wadah sambal. Tapi ini ukurannya cukup besar. Untuk wadah sayur juga bisa.

Dua mangkuk
Aku menyebutnya mangkuk anti tumpah. Bentuknya unik, cekung, kemudian mulutnya lebar. Jadi, kalau dipegang nyaman. Kemudian ringkas. Bisa ditumpuk.

Dua piring, garpu, dan sendok
Piring ini favorit Kak Ghifa. Katanya, piring bagus sama sendok lucu.

Tempat nasi lengkap dengan tutup dan centong

Kenapa aku pilih Medina untuk melengkapi peralatan makan keluargaku?

Sesuai pengalaman dan info yang kudapat dari http://www.inspirasimedina.com, Medina memiliki beberapa keunggulan.
  • Plastic Foodware Halal pertama di Indonesia dan mendapat sertifikat dari MUI, sehingga kalau kita menyimpan makanan dan minuman kan makin tenang. Perlu kita tahu juga kalau jaminan Halal ini dimulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, serta distribusi. Tentunya ini berpengaruh juga dengan tingkat konsistensi higienis yang tinggi.
  • Karya anak bangsa alias diproduksi oleh perusahaan Indonesia.
  • Medina memberikan garansi produk seumur hidup (*S&K berlaku dan tertera di buku garansi) dengan kualitas produk yaitu BPA Free, Phtalate Free, Heavy Material Free, serta FDA Approved.
  • Produk Medina lolos uji Air Tight atau kedap udara.
  • Aman kalau kita masukkan ke microwave dan freezer.
  • Mudah banget dicuci. Saat terkena minyak pekat, kalau peralatan makan dari plastik biasa, meskipun sudah memakai sabun cuci, minyaknya membandel. Kalau produk Medina, tidak. Mudah sekali dibersihkan.

Kalau orang Jawa bilang, ono rego ono rupo, ada harga ada rupa. Tapi, aku tidak menyeseal sudah memilih produk dari Medina ini.

Terpenting, Medina sudah jadi saksi kalau aku juga manusia biasa. Sering khilaf kepada suami. Alhamdulillah, dengan kegiatan buka bersama di luar ini, suasana hatiku dan abi bisa lebih baik lagi.

Kami juga berjanji akan selalu saling menghargai satu sama lain. Khusus untukku, aku akan mengurangi grusa-grusuku. Tidak cepat terpancing emosi juga.

Awalnya aku tidak pernah sampai hati memikirkan perasaan abi yang ikut aku. Bagaimanapun keadaannya, abi sangat butuh dukunganku. Belum tentu juga kalau aku ada di posisi abi, ikut mertua, bisa sekuat abi. Apalagi kalau mertuanya bawel seperti bapak dan ibuku. Ups.

Aku kemarin sempat bilang ke abi, "Jadi menantu bapak dan ibu itu susah kan? Aku saja yang anaknya, 27 tahun hidup bersama mereka, insyaallah kuat. Abi juga. Kita niatkan untuk ibadah."

Ya, kami memang harus saling menguatkan. Apapun yang terjadi. Abi adalah suami pilihanku. Masak iya, pilihanku mau kujelek-jelekin sendiri? Bukankah lebih baik kalau saling mendukung dan tak lupa mengingatkan dalam kebaikan?

Kupercaya, tak ada orangtua yang ingin anaknya hidup ketulo-tulo, alias sengsara. Satu pesan dari Ustadz Danu yang selalu kuingat, "sebejat-bejatnya orangtua kita. Tugas kita sebagai anak ya tetap sama, menghargai, menghormati, dan mengayomi mereka."

Nah, kalau kamu, ada pengalaman atau cerita apa dengan orangtua atau mertua yang serumah?

Sabtu, 11 Mei 2019

3+1 Hal Ini yang Membuatku Tergiur Promo Belanja Online


Berbagi parsel, hadiah, atau salam tempel di hari lebaran itu seperti jadi tradisi orang Indonesia. Makanya, walau bulan ramadan baru saja datang, ibu-ibu sudah mulai pening. Bahkan sebulan sebelumnya sudah ancang-ancang beli baju untuk lebaran. Hahaha.

Duh, salah kaprah nggak sih?


Dalam hati, pokoknya harus punya uang sekian, terus bisa dipakai untuk ini dan itu. Pengeluaran harus benar-benar hemat agar bisa membeli semua kebutuhan.

Alhasil, jurus irit ibu-ibu muncul. Salah satunya adalah dengan cara (terlalu) sering mengintip online shop untuk berburu promo belanja online. Ada juga yang seperti ini?

Aku.
Aku.
Aku.
Kamu?

Akan tetapi, ternyata tidak mudah lho berburu promo belanja online. Karena kalau salah taksir, nanti malah jatuhnya lebih mahal dibandingkan belanja di toko dekat rumah.

Nah, ada beberapa hal yang kuperhitungkan saat berburu promo belanja online.

Gratis ongkos kirim
Aku kan tinggal di Demak, kalau belanja di Jakarta, ongkos kirimnya bisa sampai 24 ribu. Bahkan ada yang sampai 27 ribu. Itupun kalau belanjanya hanya sekilo. Kalau berkilo-kilo, apa kabar? Makanya, aku paling senang kalau online shopnya ngasih gratis ongkos kirim.

Harganya lebih murah dibandingkan di toko dekat rumah
Lah iya, ngapain belanja di online shop kalau di toko sebelah ada dan harganya lebih miring? Walau promo belanja online di mana-mana, aku masih pegang prinsip, kalau di dekat ada dan bisa pilih langsung, pun harganya tidak terlalu jauh beda, kenapa tidak beli di tempat tetangga saja?


Pengalaman nih, di minimarket kuintip Veet harganya 29 ribu. Kemudian di salah satu online shop lagi ngadain promo belanja online dengan memberikan gratis ongkos kirim tanpa minimal belanja. Kucoba deh check out, eh, ternyata gratis ongkos kirimnya bersyarat, yaitu maksimal. Jadi, aku tetap bayar ongkos kirim 7 ribu, dan harga produknya 22 ribu. Nah, jatuhnya harganya di minimarket sama online shop kok sama saja. Ya mending aku beli ke minimarket lah. Langsunh dapat produknya.

Beda lagi saat aku beli Veet di Lazada. Harganya di minimarket kan 29 ribu. Di Lazada, lagi ada promo beli 3 hanya 64.900 kemudian dapat buku jurnal pula. Ini baru untung berlipat-lipat. Emak-emak bahagia

Barang tidak ada di toko sebelah
Pasti ada beberapa barang yang tidak dijual di toko sebelah. Misalnya, sabun mandi Velvy yang kupakai. Jalan satu-satunya ya beli secara online. Apalagi sabun mandinya memang punya efek yang bagus untuk tubuh. Semenjak pakai sabun kambing ini, eksim di punggung Kak Ghifa jadi kabur. Alhamdulillah.

Proses pembayaran bisa COD
Sayang, tidak semua online shop memberikan fitur pembayaran COD. Ada juga yang bisa COD tapi untuk JABODETABEK. Satu yang paling favorit, online shop yang selalu bisa bayar secara COD itu JD.ID. Makanya, aku sering belanja di sana. Kalau memang terpaksa butuh banget barangnya di online shop lain yang tidak ada fitur COD, kupilih yang bisa membayar di minimarket. Itupun dikenakan biaya jasa sekitar 2.500. Ehm, dapat sekotak susu UHT Kak Ghifa ya. Hihi.


Semua syarat di atas terpenuhi, apakah kemudian jadi hobi banget berburu promo belanja online? Jelas tidak. Prinsip kebutuhan atau keinginan tentu harua tetap kuutamakan. Satu yang membuatku untuk berpikir ulang untuk belanja online adalah, kapan mau bayar asuransi pendidikan Kakak kalau belanja mulu? Hahaha.

Nah, kalau kamu, apa yang membuatmu tergiur dengan promo belanja online? Atau mungkin, kamu punya barang incaran dan menungu promo belanja online?