Diyanika Journal

Monday, 19 November 2018

Terpaut Usia yang Jauh, Keluarga Tetap Harmonis

November 19, 2018 24
Terpaut Usia yang Jauh, Keluarga Tetap Harmonis

Aku wisuda di bulan Oktober 2014. Kemudian Desember memutuskan untuk menikah dengan laki-laki pilihan hatiku. Usiaku dan suami terpaut sepuluh tahun. Kini, setelah pernikahan berjalan hampir empat tahun, apakah aku bahagia?

Makin subur apakah bisa jadi tolok ukur kalau aku bahagia? Hihi.

Aku mengenal abi lewat sosial media. Aku kuliah di Kudus dan abi kuliah sambil kerja di Jogja. Sebulan sekali kami belum tentu bisa bertemu.

Intensitas komunikasi lewat chat Facebook, SMS dan telepon ternyata tidak membuatku benar-benar mengenal abi. Tahu sendiri kan kalau masih belum resmi menikah masih sering ada jaim-jaiman. Baru deh setelah menikah ketahuan aslinya. Ini sungguh membenarkan ajaran Islam untuk tidak pacaran. Taaruf aja, yuk!

Sifat pasanganmu akan ketahuan lagi kalau sudah punya anak.

Begitulah nasihat ibuku. Kukira tidak hanya aku yang kaget dengan ke-asli-an abi. Begitu juga dengan abi kepadaku. Lha mau bagaimana, dari membuka mata sampai menutup mata selalu bersama? Lu lagi lu lagi.

Aku sempat kecewa saat tahu ternyata tak semua yang diceritakan abi itu benar. Tapi, banyak juga yang membuatku kagum kepada abi sehingga tertutupilah kekecewaanku. Cieee...habis ini dibeliin es krim.



Banyak sekali penasihat pernikahan yang menyebutkan, itulah seninya menikah. Menyeimbangkan dua kepala. Bukan menyatukan ya. Hihi.

Aku yang perfeksionis sedangkan abi yang apa adanya. Aku yang kuat jumpalitan ke sana-sini sedangkan abi punya alergi debu dan dingin. Yes, kami bagaikan langit dan bumi. Ditambah lagi perbedaan usia yang sangat jauh.

Penelitian membuktikan, pasangan yang menikah dan terpaut usia 10 tahun, kemungkinan bercerai mencapai 39%.

Amit-amit ya?

Semua kembali ke masing-masing pasangan. Banyak juga yang cerita kepadaku dengan kasus yang sama (menikah dengan suami yang jauh perbedaan usianya) bahwa mereka sering mendapat cemooh dari masyarakat luas. Mereka dikira menikah dengan suami dengan terpaut usia yang jauh karena iming-iming harta. Duh duh duh.

vemale.com

Apakah kamu ingin bertanya, kenapa aku memilih suamiku? Alasan yang pasti adalah karena abi orangnya sabar dan ngemong banget. Alhamdulillah, sifat yang ini sudah kutemukan semenjak kami kenal.

Rumah tangga terdiri dari satu atau lebih orang yang tinggal bersama-sama di sebuah tempat tinggal dan juga berbagi makanan atau akomodasi hidup, dan bisa terdiri dari satu keluarga atau sekelompok orang. (Sumber dari wikipedia)

Nah, bagaimanakah cara kami merawat kelangsungan keluarga tetap harmonis meskipun banyak perbedaan dan terpaut usia yang jauh?

Saling Membantu

Sebelum menikah, aku sudah membicarakan hal ini dengan abi. Apalagi aku ibu yang bekerja. Setiap hari aku membagi tugas rumah dengan abi. Saat aku memasak sambil mencuci piring, abi membantu menyapu lantai dan siram-siram tanaman.

alomuslim.com

Apakah semua mulus-mulus saja? Tidak. Saat sama-sama capek, terkadang ya adu mulut. Ini wajar saja. Nanti saat sarapan, saling lirik-lirikan, kemudian cekikikan, semua kembali seperti semula.

Aku dan abi memiliki satu kesamaan, yaitu tidak suka diem-dieman. Kalau ada masalah hari itu, ya harus selesai hari itu juga. Alhamdulillah.

Saling Menghargai


Aku percaya cinta akan terpupuk dari hari ke hari melalui hal-hal kecil. Dulu, aku sering sekali marah saat hasil kerjaan abi kurang beres. Tapi, lama-kelamaan aku yang capek sendiri. Kasian juga abi.

Lama-kelamaan, kuucapkan terima kasih kepada abi sebagai bentuk aku menghargai apa yang dilakukannya. Ya, meskipun setelahnya aku harus menyapu atau mengepel di bagian tertentu yang masih kotor. Hahaha.

Paling tidak, ini sebagai bentuk syukurku, betapa abi tidak pernah sungkan untuk berbagi suka, duka dan lelah bersamaku. Abi tidak ingin aku lelah. Karena kata terima kasih saja, semua lebih baik dari sebelumnya.

zaikei.co.jp

Saling Melengkapi

Saat pertama kali bertemu dengan abi, aku syok berat. Penampilannya, Maa Syaa Allah, acakadut banget. Sekarang?

Setiap kali kumpul dengan keluarga besar suami,

Sekarang Pak Da (nama suami) beda. Bersih tambah ganteng.

Siapa yang senang? Aku dong. Inilah gunanya pasangan, saling melengkapi.

Kasus lain, aku yang cerewetnya kayak burung beo, eh, suami orangnya pendiam. Padahal aku pernah lho marah sama suami, "Kalo Ummi lagi marah, abi jawab dong. Jangan malah diam."

Eh, giliran abi jawab, aku nangis. Hahaha. Lah iya, nggak pernah bicara kencang, sekalinya bicara, aku kaget. Hadeh. Dasar perempuan, emang susah dimengerti ya.

Setelah itu, semarah-marahnya aku, abi hanya mendengarkan saja. Ya, abi memang sabar dan suka mengalah denganku. Ini termasuk keuntungan memiliki suami dengan jarak usia yang jauh.

Saling Menghibur

Apa sih yang dilakukan pasangan saat kita lelah bekerja? Favoritku adalah dipijat suami. Aku sering bilang gini, "Bi, sesakit-sakitnya tubuh ini, kalau sudah dipijat abi pasti langsung sembuh."

Ahay.

Berbeda dengan abi, beliau lebih senang kalau pas capek minta dikerok. Hampir setiap dua minggu sekali, abi pasti minta kerok. Kalau tidak, ya wassalam, bisa bersin-bersin sepanjang hari.


Saling Mendukung

Aku dan abi memiliki profesi yang berbeda. Tapi, itu tidak mengurangi keharmonisan keluarga kami. Abi sangat mendukung profesiku. Setiap kali aku lembur kerjaan sekolah, seperti menulis rapot, abi selalu ambil bagian untuk momong Kak Ghifa.

Ketika ada event bloger, abi juga selalu mendukungku. Bahkan abi malah yang sering mengomporiku untuk ikut kegiatan-kegiatan seperti itu.

Mumpung masih muda. Ada kesempatan pula. Gali ilmu sebanyak-banyaknya.


Saling Menjaga Komunikasi

Ulang tahun pertamaku setelah menikah dengan abi berlangsung sangat dramatis. Dua hari aku diam saja. Tak banyak bicara.  Aku menolak tidur seraya dipeluk abi. Rasanya campur aduk, ingin nangis, jengkel, marah menjadi satu. Hal itu hanya karena abi lupa hari ulang tahunku.

tenor.com

Aku nggak kuat. Di hari kedua, kukirim SMS ke abi. Kucurahkan semua apa yang ada di dada. Jawaban abi apa?

Selamat ulang tahun, Mi. Semoga panjang umur.

Sudah, begitu saja. Tidak ada ucapan minta maaf. Hatiku makin jengkel.

Saat sampai rumah, rasanya sedikit lega karena aku sudah meluapkan isi hatiku. Sore hari saat abi pulang, beliau membawa cokelat. Aku menolaknya.

Pas abi mandi, kumakan cokelat tadi. Ketika abi kembali dan mendapati aku makan cokelat, abi senyam-senyum.

Bukan berarti Ummi sudah memaafkan abi ya.

Hahaha. Kalau ingat kejadian ini jadi senyum-senyum sendiri. Sekarang kalau ada apa-apa ya langsung bicara. Kalau lagi malas berdebat, tinggal ketik, kirim. Kelar urusan.

Saling Menumbuhkan Rasa Cinta

Awal menikah dengan abi, cintaku baru mulai tumbuh. Aku mencintai abi karena kulino alias terbiasa. Bisa dibilang, abi adalah laki-laki pertama yang mencintaiku dengan apa adanya. Tanpa bersyarat.



Sebelum aku memutuskan untuk menikah dengan abi, aku sedang mengharapkan seseorang. Tapi, harap itu tak terbalas karena laki-laki itu juga tidak tahu apa yang kurasakan. Aku memendam perasaan itu sampai akhirnya aku tahu laki-laki itu juga menikah tak lama setelah aku menikah.

Ibarat luka yang menganga, abi datang menawarkan cintanya yang luar biasa. Sungguh, aku adalah perempuan beruntung itu. 

Ada satu kejadian yang makin membuatku tahu betapa abi sangat mencintaiku. Tiga hari setelah melahirkan Kak Ghifa, bidan memvonis jahitanku ada yang putus satu. Bu bidan mempersilakan abi untuk melihatnya dengan maksud abi bisa menerima keadaanku.

Insya Allah, saya menerima istri saya apa adanya, Bu. Bagaimanapun keadaannya.

Maknyes hatiku.

Sampai sekarang tak sedikitpun perlakuan dan perasaan abi berubah kepadaku. Semua masih sama. Bahkan yang kurasakan semakin hari kami makin kompak.

Sebagai istri pun aku tahu diri. Sibuk bekerja dan mengurus anak, tidak bisa jadi alasan untuk melalaikan kebahagiaan suami.

Seorang pakar pernikahan mengatakan kunci pernikahan yang harmonis adalah komitmen, komunikasi, dan keintiman. Ngomong-ngomong soal keintiman, dengan kekuranganku, aku berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk abi. Apalagi untuk membina keintiman itu belum tentu bisa kami lakukan setiap hari.



Salah satu cara untuk mewujudkan keintiman yang berkualitas adalah dengan rajin merawat daerah istimewaku agar selalu bersih, sehat, dan kencang. Kupilih #ResikVKhasiatManjakaniWhitening menjadi #pembersihkewanitaan yang kuandalkan saat ini.

Produk #pembersihkewanitaanyangaman ini mudah didapatkan di toko-toko terdekat dengan kisaran harga 17 ribu per botol 90ml. Bentuknya agak kental, akan tetapi kalau dibusakan, busanya tidak terlalu banyak dan cepat menghilang. Ini menandakan kalau pembersih yang teruji secara klinis #mengencangkanareakewanitaan dan #mencerahkanareakewanitaan ini tidak mengandung deterjen.

Kental seperti sampo


Busanya tidak melimpah

Cara membersihkan area kewanitaan dengan #ResikVManjakaniWhitening juga sangat mudah. Tuangkan ke telapak tangan, busakan dengan air, basuhkan ke area kewanitaan (pangkal paha), diamkan 1-2 menit. Bilas hingga bersih.

Penggunaan Resik V Khasiat Manjakani Whitening secara teratur bisa menjadi penyumbang terwujudnya #keharmonisakeluarga. Karena dari 200 pengguna Feminine Hygiene menunjukkan produk dengan botol berwarna putih ini #2xmencerahkanmakinmengencangkan. Hal itu karena bahan penyusun utamanya adalah Ektrak Bengkoang (mencerahkan kulit) dan Ekstrak Manjakani (mengembalikan kekencangan area kewanitaan dan menghilangkan bau tidak sedap).

Setelah sepekan menggunakan Resik V Khasiat Manjakani Whitening ini yang kurasakan adalah lebih harum, cerah dan semakin kencang. Saat aktif beraktivitas di sekolah, tentu berkeringat, di area kewanitaanku tidak terlalu bau (bakteri). Selain itu aku juga tidak mengalami ruam (akibat kulit sering bergesekan saat aktif bergerak). Jadi, aku makin percaya diri saat bersama suami. Wanginya itu lho, khas banget. Seperti bunga melati, tapi beda dikit lah. Meskipun sudah dibilas, tetap nempel.


Nah, itulah caraku untuk mewujudkan keluarga yang harmonis meskipun terpaut usia yang jauh dengan pasangan. Intinya, setiap kali ada masalah, aku selalu ingat bahwa manusia itu ada kurang dan lebihnya. Tugas pasangan adalah melengkapi. Pokoknya ilmu mengingat, menimbang, kemudian memutuskan harus digunakan.

Selama empat tahun menikah maka setiap hari aku belajar hal baru. Pokoknya learning by doing lah. Aku juga sering sekali belajar dari mereka yang sudah menikah dengan usia pernikahan puluhan tahun. Dari sekian poin di atas, kalau kamu ada pengalaman lain, boleh lho di share di kolon komentar. Aku dengan senang hati akan belajar lagi.

Monday, 5 November 2018

Pengalaman Membeli Tiket Pesawat Dengan PayLater Traveloka

November 05, 2018 1
Pengalaman Membeli Tiket Pesawat Dengan PayLater Traveloka

Semenjak adanya fitur baru dari Traveloka yang bernama Paylater, membeli tiket pesawat sudah tidak lagi sama. Jika dahulu kita harus memiliki uang terlebih dahulu sebelum membeli tiket, kini kita tak harus membayar di awal. Kita bisa membayarnya di bulan berikutnya, bahkan bisa dijadikan cicilan sampai dengan satu tahun. Enak, bukan?

Fitur ini akan mengakomodasi liburan kita menjadi semakin mudah dan menyenangkan, tanpa merasa berat di kemudian hari. Buat kamu yang masih bingung tentang cara penggunaannya, berikut ini aku sajikan khusus pengalaman membeli tiket pesawat dengan Paylater Traveloka.

Aktifkan akun paylater kamu


Untuk mengaktifkan akun paylater traveloka, kamu hanya perlu mengisi data diri serta menyiapkan kartu identitas asli saat proses verifikasi. Masuklah ke menu paylater, dan ikuti petunjuk yang ada dalam menu tersebut. Tak perlu takut data kamu akan disalahgunakan, karena paylater traveloka adalah metode pembayaran resmi yang diawasi langsung oleh OJK. Verifikasi akun hanya akan membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam setelah pendaftaran.

Pilih tiket pesawat yang kamu inginkan

Setelah akunmu terverifikasi, kamu sudah bisa langsung menggunakannya. Pilihlah tiket pesawat yang hendak kamu beli. Bagaimana kalau liburan akhir tahun ini liburan sekitar Asia, mumpung ‘dibayarin dulu’ sama Traveloka. Masukkan bandara keberangkatan, bandara tujuan, dan tanggal keberangkatan yang kamu pilih. Setelah itu, pilih maskapai yang sesuai dan isi data penumpang. Sama seperti saat melakukan pembelian tiket pesawat pada umumnya. 

Ubah metode pembayaran dengan paylater


Pada saat pemilihan metode pembayaran, pilih metode pembayaran dengan klik tombol paylater yang ada di layar ponselmu.

Pilih jumlah cicilan yang kamu inginkan


Karena Paylater Traveloka adalah salah satu terobosan baru dalam hal cicilan. Kamu bisa cicil tiket pesawat tanpa kartu kredit lho. Di menu tersebut, kamu bisa memilih jumlah cicilan yang sesuai dengan budget kamu. Cicilan ini bisa dimulai dari 1 bulan hingga 12 bulan lamanya, namun dengan syarat minimal cicilan per bulan adalah Rp. 100.000. Untuk pilihan cicilan 1 sampai dengan 3 bulan, kamu tidak akan dikenakan bunga sepeserpun. 

Klik Bayar dengan paylater


Setelah proses di atas, kamu tinggal klik bayar dengan paylater pada menu bagian bawah aplikasi kamu. Kamu akan mendapatkan password OTP yang menjamin keamanan ordermu. Setelah memasukkan OTP, kode booking tiket pesawatmu akan dikirimkan via email beberapa saat kemudian. Mudah bukan?

Keuntungan lain jika menggunakan paylater traveloka adalah kamu akan mendapatkan diskon khusus yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan membayar normal. Terlebih lagi, tak hanya tiket pesawat yang bisa dibayar menggunakan fitur baru ini. Kamu juga bisa membeli tiket kereta, booking hotel, tiket bus, dan juga tiket tempat wisata yang ada di Traveloka. Jadi, yuk jalan-jalan sekarang dan bayar nanti hanya di paylater traveloka.

Wednesday, 31 October 2018

Jadi Guru Kelas 1 SD itu Seru

October 31, 2018 9
Jadi Guru Kelas 1 SD itu Seru


Apa yang ada di benak kamu saat muncul kata ‘guru kelas 1 SD’? Perempuan, penyabar dan sepuh? Ternyata tidak selalu seperti itu lho.

Tahun ini adalah tahun ketiga aku menjadi guru kelas 1 SD. Rasanya? Seru banget. Ada saja cerita yang ingin kutiliskan di sini. Terutama tentang tuntutan multitalenta seorang guru kelas 1 SD. Apa saja itu?

#Tukang Sisir
Berbaris adalah kegiatan di pagi hari yang selalu jadi favoritku. Karena saat kegiatan ini, taringku pasti keluar. Mak lampir datang. Heeeeh...eh...eh...eh...eh...

“Bajunya yang masih di luar dimasukkan dulu.”

“Tali sepatu, dilihat!”

“Yang pakai jilbab, ayo, dimasukkan rambutnya yang masih kelihatan.”

“Rizki, rambutmu besok dipotong ya, sudah kena telinga itu. Biar tambah ganteng gitu lho.”

“Belakang, belakang, kalau tidak bisa lurus tidak usah masuk saja.”

Saat mataku mengamati satu per satu, ”Alya, kamu tidak menyisir rambutmu lagi?”

Yang dipanggil namanya hanya nyengir dan berdalih takut terlambat. Tidak hanya Alya, seringnya malah anak laki-laki yang tidak menyisir rambutnya. Setelah kusisir, mereka hanya cengar-cengir. Ini sebenarnya mereka sengaja atau bagaimana? Andai saja nanti kalau mereka sudah kenal rasa ‘suka’, berapa kali sehari mereka akan menyisir rambut? Sekarang sih masih polos, sebentar lagi?

#Penjual Pensil
“Sudah puas bermain? Yuk, kita lemaskan juga jari kita dengan menggambar.”

Di tengah asyiknya menggambar, berkelilinglah aku. “Puji, kok masih kosong bukunya?”

“Tidak punya pensil, Bu.”

Kasus tidak punya pensil, pensil ketinggalan, atau pensil hilang ini menjadi makananku setiap hari. Bahkan sering juga wali murid yang cerita kalau sebenarnya dari rumah sudah bawa pensil dua, eh, di kelas hilang, dsb.


“Kalau tidak bawa atau tidak punya pensil, pinjamlah ke teman. Atau Bu Ika jualan pensil saja di kelas?”

Apa yang mereka lakukan saat mendengar perkataanku di atas?

“Hahahaha”

Mereka itu keterlaluan banget ndableknya. Tapi, sangat menggemaskan. Sehari saja aku tak jumpa, rasanya rindu.

#Dokter Idaman
“Aku mau disuntik Bu Ika saja." rengek Syifa saat ada imunisasi campak. Saat itu aku memang berpura-pura pegang jarum suntik dan memeluknya dengan erat.

"Kalau takut, jarumnya tidak usah dilihat, Syifa. Siap ya, Bu Ika suntik." dia mengangguk dan seketika petugas langsung menyuntiknya.

Berbeda lagi dengan Greva. Muridku yang gendut dan berkulit sawo matang ini langsung memelukku dengan erat saat petugas kesehatan kecamatan setempat hendak mengimunisasinya.

"Greva takut?" (badan boleh gede, kalau di kelas paling heboh, tapi namanya anak-anak lihat jarum suntik kayak kerupuk masuk kuah bakso, mlempem)

Kalau boleh jujur, saat ada jadwal imunisasi (biasanya 2 kali dalam setahun), aku pun ketar-ketir. Kenapa? Aku takut muridku banyak yang menangis atau memberontak. Dulu ada lho yang sembunyi di rak buku, masuk lemari, disuntik malah ngajak berantem, nendang perutku, dan macam-macam reaksinya.

Sudah, sudah kuberi pengertian pastinya saat hendak diimunisasi. Ditambah lagi penjelasan dari petugas kesehatan yang datang. Tapi, yang paling menyebalkan adalah seringkali muridku dapat kabar bocor dari kakak kelas kalau esok hari akan ada imunisasi. Alhasil, esok harinya nggak berangkat. Atau berangkat tapi pakai acara rewel minta ditunggui ibunya. Ini nyebelin banget.


Jadi, kalau ada jadwal imunisasi, aku meminta semua teman sejawat untuk meng-keep kabar tersebut. Alhamdulillah, tahun ini sukses. Nggak ada yang menangis sama sekali. Kelas sebelah pada teriak-teriak tuh. Murid Bu Ika mah jempol.

#Satpam Keliling
Namanya anak-anak, kalau sudah telanjur istirahat, inginnya main terus. Giliran sudah bel masuk, mereka ogah berbaris dan masuk kelas. Kadang ada juga yang sudah dengar bel berbunyi malah tenang-tenang saja di kantin. Alhasil, saat sudah masuk semua dan, "Siapa yang belum ada?"

"Faza, Bu."

Lari deh ke kantin, menyisir ke kamar mandi, tempat parkir, kalau semua tidak ada? Larinya ke grup WhatsApp wali murid. Tanya deh ke wali murid, apakah anak mereka pulang? Ternyata, iya.

Ada yang pulang ke rumah karena pengen pup-lah, uangnya habis, sampai ada yang hanya mau mengadu karena giginya copot. ((gerbang sekolahku nggak lengkap euy, anak-anak bisa kabur kapan saja :( terutama saat jam istirahat))

Tarik napas. Lega. Sering banget seperti itu, keliling sekolahan, keringat mengucur di dahi, baju bagian punggung basah. Tapi, kok ya nggak kurus-kurus ya aku ini.

#Tukang Cebok
Pelajaran sedang berlangsung. Muridku sedang asyik menggambar lambang dalam sila Pancasila. Berkelilinglah aku menengok hasil kerja mereka. Semakin ke belakang, kok seperti ada bau yang tak asing. Aku mulai curiga.

"Bu, kok seperti ada bau sepiteng ya?" tanya salah satu muridku yang duduk di belakang.

Mulai ada yang curiga nih.

Tak ada yang mengaku. Aku mencurigai murid laki-laki yang duduk paling depan. Tak biasanya dia bertingkah aneh. Akan tetapi, teman yang lainnya menuduh temannya yang duduk di belakang (mengira sumber bau dari belakang). Bahkan, ada anak yang dengan sigap mencium pantat anak tersebut.

"Nggak bau kok, Bu."

Berarti benar dugaanku.

"Kenapa harus pup di dalam celana. Apakah Bu Ika menakutkan? Kalaupun kamu mau pup, pasti bu guru tunggu sampai kamu kembali baru kemudian lanjut menggambar lagi."

Sebagai guru aku pasti kecewa. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku malah lebih senang kalau ada yang jujur, "Bu, aku nggak bisa cebok." Setelah itu kuceramahi deh orangtuanya. Hahaha. Lain kesempatan, saat dia pup lagi sudah bisa sendiri.

Tahun lalu ada anak perempuan yang pup di pojok kelas. Tahun ini malah anak laki-laki yang pup di celana. Berasa gagal deh jadi guru.

#Wasit Paling Cantik
Anak-anak kelas 1 SD itu hobi banget bertengkar. Perkaranya sepele, seperti diejek temannya lah, tasnya kesenggol dikit, pensilnya direbut temannya, ada teman belakangnya pinjam penghapus nggak bilang, dll. Ujung-ujungnya nangis atau teriak-teriak nggak jelas, kemudian ngadu, "Bu Guru si ini nakal."

Kalau dipikir pakai nalar orang dewasa, ini apaan sih? Tapi, inilah anak-anak. Aku harus jadi anak-anak juga untuk menyelesaikannya.



Kudatangi mereka, bicara baik-baik (tatap mata mereka dengan posisi mata sejajar alias merendahkan tubuh di hadapan mereka), maaf-maafan, berpelukan, kelar, mereka ketawa-ketiwi lagi. Sesimpel itu.

#Pelatih Handal
Sebutan ini berlaku sejak di kelasku pakai kurikulum 2013. Karena PJOK kan gabung dalam satu tema dan guru PJOKnya agak errrr... Nanti kalau urusan rapotan aku suruh mengarang sendiri nilainya. Duh, duh, duh. Mendingan aku ajar sendiri deh murid-muridku.

Materi PJOK anak kelas 1 SD kan ya nggak berat-berat banget. Misalnya, lempar bola dari berbagai arah, berjalan di titian, bergelantungan, berjalan berurutan, berjalan lurus sambil berkelompok, sampai guling ke depan.

Nah, untuk kegiatan yang terakhir, aku punya cerita lucu. Kegiatan guling ke depan itu kan dilakukan di kelas. Tentu aku harus memberi contoh terlebih dahulu ya.

Dengan semangat yang membara, kuangkat pantatku dan bruuukk. Pantatku mendarat tidak sempurna. Aku bagaikan gajah yang duduk terbengong-bengong. Muridku melongo, takut aku kenapa-kenapa.

"Hahahahaha...Bu Ika kan kayak gajah, jadi susah berguling. Maaf ya hahaha..."

Murid-muridku ikut tertawa. Alamaaak, ternyata matras yang kupakai untuk berguling tak seempuk bayanganku. Kalau dipakai anak-anak sih masih oke. Nah, aku? Benar-benar gajah berguling yang gagal total.

Cool gray surface pink side air tumble track

Cool gray surface pink side air tumble track

Pas lagi asyik download video untuk materi pelajaran esok hari, kulihat iklan di Youtube tentang air track hire kok tergiur. Bentuknya tipis tapi bisa mental gitu kalau dipakai. Jenisnya juga banyak, salah satunya air track tumbling mat. Seru ya kalau di rumah punya sendiri. Bisa untuk main bersama Kak Ghifa yang suka jumpalitan juga. Terlebih lagi bisa dipakai saat di air. Mumpung ada airtrack mat for sale juga. Ah, bisa usul nih kepada kepala sekolah kalau mau beli semacam matras pakai merek ini saja. Biar nggak kejadian sepertiku. Gajah yang oleng.

#Pelukis Amatiran
Sejelek-jeleknya gambar yang kuhasilkan di papan tulis, mereka pasti bilang, "Wah, baguuuuus, Bu." ((Mata mereka langsung keluar love love-nya))

Padahal, aku nyontek di Google. Aku kan nggak jago-jago amat menggambar. Tapi, karena menjadi guru kelas 1 SD, aku dituntut harus mau belajar menggambar. Ternyata, aku berhasil. Berhasil membohongi mereka, karena sesungguhnya gurunya adalah pelukis amatiran. Hihi.

Bagaimana, seru kan jadi guru kelas 1 SD itu? Kalau misalnya kamu ada tawaran untuk menjadi wali kelas 1 SD, hajar saja! Kita patahkan tradisi kalau guru kelas 1 SD itu harus perempuan, sepuh dan penyabar. Karena semua bisa dipelajari.

Menjadi guru kelas 1 SD itu intinya harus paham karakteristik siswa, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, sajikan media pembelajaran yang konkret dan siapkan stok sabar. Yah, ada kalanya harus bertingkah seperti anak-anak juga agar kelas semakin hidup. Satu lagi, jangan jadi guru yang jaim sama anak didik.



Salam,
Diyanika-Guru Kelas 1 SD.