Minggu, 19 Mei 2019

Guru Honorer dapat THR? Dari mana?


Ada yang pernah bertanya seperti judul tulisan ini? Kalau PNS kan jelas ya, dapat THR dari pemerintah, bahkan kabar THR ini sudah booming sebelum bulan ramadan tiba. Mereka juga dapat THR dari koperasi (PGRI). Ada juga THR dari sekolah. Wow, melimpah ruah. Apa kabar dengan guru honorer sepertiku ini?



Ini adalah ramadan keempatku sebagai guru honorer. Meskipun hanya guru honorer, aku nggak ngenes-ngenes banget kok. Tetap dapat THR.

Dari mana?

Kalau diurutkan secara detail, ujung-ujungnya ya dari pemerintah juga sih. Aku kurang paham secara detailnya dari mana. Pokoknya setiap rapat, melaksanakan kegiatan kan kadang ada uang sisa tuh,  dikumpulin degh selama satu tahun, kemudian ada uang lain-lain yang dipegang oleh bendahara, nah, uang itulah yang dibagi-bagi kepada seluruh guru dan kepala sekolah. Banyak sedikitnya THR ya tergantung pengeluaran sekolah selama satu tahun pelajaran itu tadi.

Tahun pertama di sekolah, aku pernah dapat THR sekitar 600 ribu, yang guru PNS 650 ribu, sedangkan kepala sekolah 700 ribu. Semua plus dapat bingkisan senilai 200 ribuan.

Tahun kedua, aku dapat 400 ribu plus bingkisan juga. Tahun ketiga, ini yang paling ngenes, setelah ganti kepala sekolah, aku hanya dapat THR 150 ribu. Tanpa bingkisan pula. Sekolah baru dilanda hutang.

Kalau dipikir-pikir, ada yang aneh, kenapa kok banyak sedikitnya THR tergantung statusnya di sekolah. Kenapa tidak yang guru honorer yang diberi THR paling banyak ya? Kenapa justru yang guru PNS dan kepala sekolah, padahal jelas-jelas mereka sudah dapat dari pemerintah dan organisasi koperasi? Hihi. Kalau tidak, ya semua guru sama, wong tugasnya sama. Logikaku seperti itu. Tapi, ya manut pimpinan walau kesannya, dunia ini memang lucu.

Ya Allah, kenapa kesannya aku jadi irrisama rezeki mereka. Astagfirulah.

Bukankah, banyak atau sedikit memang harus tetap disyukuri? Apalagi ternyata Allah tidak pernah tidur. Benar-benar tidak tidur.

Alhamdulillah, selama ini ada saja THR datang dari arah yang tak pernah aku duga-duga. Eh, ada wali murid datang ke sekolah memberi bingkisan, ada yang membawa mukena, kerudung, bed cover, bahkan ada yang sampai iuran bersama untuk memberikan bingkisan sekardus besar isi kue lebaran, minyak goreng, gula, susu bahkan diselipkan amplop putih untukku.

Mataku selalu berkaca-kaca setiap kali melewati momen seperti ini. Betapa mereka sangat menghargaiku sebagai wali kelas anak-anaknya. Tahu sendirilah ya, apalah guru honorer itu, khususnya di SD negeri sepertiku. Kesenjangan antara PNSsamahonorer begitu nyata terpampang. Seringkali dianggap sebelah mata.

Terima kasih, terima kasih banyak atas cinta kasih dari wali muridku.

Nah, tahun ini, apakah aku akan dapat THR dari sekolah? Entahlah. Aku tidak berani berharap. Apalagi dari wali murid. Kok kesannya pamrih banget ya. Tapi, kemarin waktu ulang tahun, aku juga  sudah dapat kado dari wali murid. Hihi.

Sekali lagi, terima kasih banyak.

Yang jelas, rezeki kita memang sudah sesuai takaran Allah. Kalau jatahnya kita dapat 2 juta, kok, baru dapat 1 juta, insyaallah, kurangnya akan digenapi oleh Allah. Entah bagaimanapun caranya. Betul, bukan? Pokoknya jangan iri dengan rezeki orang lain. Semangat!

Sabtu, 18 Mei 2019

Serumah dengan Orangtua Bisa Tetap Akur? Harus Bisa Dong!


Setelah menikah, apakah hidup kita pasti akan bahagia? Belum tentu. Bahkan, ada yang mengumbar cerita, bukan bahagia yang datang, melainkan bencana. Ada saja masalah yang menyapa. Mau perkara kecil maupun yang segedhe gajah.



Bagaimana dengan menurutku?

Sepertinya, dulu, aku tidak pernah baca buku lika-liku pernikahan. Atau mungkin belum ada buku yang membahas betapa 'menyedihkannya' kehidupan setelah menikah?

Baiklah, mungkin ceritaku ini akan memberikan sedikit gambaran, betapa kehidupan setelah menikah itu SESUATU BANGET.

Aku ini anak tunggal. Masih hidup serumah sama bapak dan ibuku. Aku menikah dengan abi yang punya empat saudara. Jelas, karena lahir dari rahim yang berbeda, punya tetek bengek yang berbeda. Salah satunya adalah perbedaan pola asuh dari kedua orangtua kami.

Nah, karena perbedaan itulah kerikil-kerikil kecil setiap hari muncul. Kalau tidak lapang dada menghadapinya, dijamin, bakalan bubar jalan. Dikit-dikit jadi masalah. Emosi sampai ke ubun-ubun. Huaaaaaaaaa. Stres.


Baru-baru ini, puasaku juga sedang diuji sama Allah lewat ibu dan abi. Pokoknya, apa yang dilakukan abi selalu dapat komentar pedas dari ibuku yang notabene orangnya ceplas-ceplos.

"Bojomu kuwi lho, egois. Ngerti yen bue numpak bus kok yo ora dijemput." (Suamimu itu lho, egois. Tahu kalau ibu naik bus kok ya tidak dijemput.

Detik itu juga, saat selesai membaca isi pesan WA dari ibu, aku langsung naik pitam. Langsung deh pikiran burukku ke abi muncul. Abi tuh emang gitu orangnya. Sama orangtua tidak ada peduli-pedulinya. Tahu kalau ibu fisiknya mudah loyo, eh, malah. Bla bla bla bla. *Mulutku komat-kamit tidak jelas*

Aku buru-buru WA abi. Apa yang ada dalam pikiran dan perasaanku, kutumpahkan semua. Tapi, apa yang terjadi? Abi malah balik marah. Abi yang kukenal selama ini tak pernah marah, tiba-tiba sekasar itu (menurutku).

Apa aku sudah keterlaluan?

Aku yang saat itu masih di sekolah, bersama Kak Ghifa, sampai nangis dleweran. Buru-buru kuseka air mataku, takut dilihat Kak Ghifa. Tapi, nggak tahu kenapa, makin kuseka, kok, makin dleweran.

"Ummi nangis, ya?" tanya Kak Ghifa.

Aku cuma bisa peluk dia. Eh, dia malah ikut menangis.


Sampai rumah, suasananya jadi canggung banget. Karena di rumah ada bapak dan ibu, kamu tahu kami berkomunikasi lewat apa? Yes, WA.

Aku minta maaf kepada abi.

"Lain kali, Ummi jangan langsung marah-marah! Cari tahu dulu duduk perkaranya. Ummi kan baru dengar cerita versi ibu. Belum dari abi juga." Terang abi via WA.

Iya, juga ya. Aku begitu gegabah. Emosiku terlalu meledak-ledak. Kalau dipikir-pikir, masalah ini kan hanya sepele.

Kalau dirinci tuh begini, 

Ibu itu orangnya kan disiplin banget, pengennya, abi itu tanpa disuruh sudah paham apa yang harus dilakukan. Tek, tek, tek, kerjaan kelar. Kalau ibu harus memberitahu mulu, gengsi. Padahal, kalau ibu WA abi saat itu untuk minta dijemput di pertigaan, kan kelar. Tapi, ya, karena besar gengsi dan pekewuhnya, terjadilah seperti itu.

Sebaliknya, abi (dan mungkin laki-laki lain di luar sana) mempunyai sifat, yaitu kalau bertindak harus didikte terlebih dahulu. Kudu ini dulu, kemudian itu, baru ini lagi. Kalau tidak didikte, mana jalan?

Benar nggak sih, semua laki-laki seperti itu?


Akhirnya, tanpa ingin menjadikan ibu sebagai pengadu domba dalam keluarga kecilku, aku dan abi yang sadar diri. Kami yang kurang sabar dan telaten saat menghadapi ibu.

Aku meminta maaf atas nama suami, kalau ada yang tidak berkenan di hati ibu. Pokoknya aku tidak mau kalau sampai ibu jadi jengkel, kemudian jadi beban pikiran. Akhirnya, suasana pun kembali seperti biasa.

Ahhhh, cuman gini doang lho. Benar adanya kalau semua yang terjadi di dalam kehidupan ini butuh yang namanya KOMUNIKASI INTENSIF. Benar, bukan?

Ngomong, woy, ngomong, jangan diem saja. Emangnya aku dukun, bisa baca isi hati dan pikiranmu?

Hihi. Kira-kira seperti itulah ya 👆

Apa kabar dengan abi?

Sebenarnya, kami termasuk pasangan yang tidak pernah bisa diem-dieman lama. Pokoknya kalau hari ini ada masalah, sebelum tidur harus kelar.

Nah, agar suasana hati kami benar-benar cair, kuajak abi dan Kak Ghifa untuk buka bersama di luar, tidak ke restoran atau kafe, melainkan ke seberang rumah yang sering kita gunakan sebagai tempat untuk ngabuburit.


Nggak perlu yang ribet-ribet. Cukup bawa tikar, makanan dan minuman, serta seperangkat alat makan Amethyst Colander Dining Set dari Medina, yang piring dan mangkuknya mudah ditumpuk. Rasa-rasanya waktu berbuka, kemarin, terasa sangat berbeda, apalagi didukung dengan suasana nan hijau. Hihi. Padahal hanya di seberang rumah. Alhamdulillah, sukses membuat suasana hati lebih adem ayem.

Saat aku share foto di atas via instagram, ada temanku yang kepincut sama peralatan makan yang kupakai. Warnanya memang cantik banget kan? Aku banget malah. Unyuk-unyuklah. Hihi.


Kalau kamu pengen punya juga, Amethyst Colander Dining Set dari Medina ini, kamu bisa cek instagram @dusdusan. Untuk satu set isi 12 dibanderol dengan harga 565 ribu. Saat kucek di websitenya dusdusan.com, malah sedang ada promo dan harganya hanya 499 ribu (ada ketentuan waktunya, buruan beli).

Satu set Amethyst Colander Dining Set dari Medina berisi berikut:

Ada garansi seumur hidupnya lho

Ini biasanya kita lihat sebagai wadah sambal. Tapi ini ukurannya cukup besar. Untuk wadah sayur juga bisa.

Dua mangkuk
Aku menyebutnya mangkuk anti tumpah. Bentuknya unik, cekung, kemudian mulutnya lebar. Jadi, kalau dipegang nyaman. Kemudian ringkas. Bisa ditumpuk.

Dua piring, garpu, dan sendok
Piring ini favorit Kak Ghifa. Katanya, piring bagus sama sendok lucu.

Tempat nasi lengkap dengan tutup dan centong

Kenapa aku pilih Medina untuk melengkapi peralatan makan keluargaku?

Sesuai pengalaman dan info yang kudapat dari http://www.inspirasimedina.com, Medina memiliki beberapa keunggulan.
  • Plastic Foodware Halal pertama di Indonesia dan mendapat sertifikat dari MUI, sehingga kalau kita menyimpan makanan dan minuman kan makin tenang. Perlu kita tahu juga kalau jaminan Halal ini dimulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, serta distribusi. Tentunya ini berpengaruh juga dengan tingkat konsistensi higienis yang tinggi.
  • Karya anak bangsa alias diproduksi oleh perusahaan Indonesia.
  • Medina memberikan garansi produk seumur hidup (*S&K berlaku dan tertera di buku garansi) dengan kualitas produk yaitu BPA Free, Phtalate Free, Heavy Material Free, serta FDA Approved.
  • Produk Medina lolos uji Air Tight atau kedap udara.
  • Aman kalau kita masukkan ke microwave dan freezer.
  • Mudah banget dicuci. Saat terkena minyak pekat, kalau peralatan makan dari plastik biasa, meskipun sudah memakai sabun cuci, minyaknya membandel. Kalau produk Medina, tidak. Mudah sekali dibersihkan.

Kalau orang Jawa bilang, ono rego ono rupo, ada harga ada rupa. Tapi, aku tidak menyeseal sudah memilih produk dari Medina ini.

Terpenting, Medina sudah jadi saksi kalau aku juga manusia biasa. Sering khilaf kepada suami. Alhamdulillah, dengan kegiatan buka bersama di luar ini, suasana hatiku dan abi bisa lebih baik lagi.

Kami juga berjanji akan selalu saling menghargai satu sama lain. Khusus untukku, aku akan mengurangi grusa-grusuku. Tidak cepat terpancing emosi juga.

Awalnya aku tidak pernah sampai hati memikirkan perasaan abi yang ikut aku. Bagaimanapun keadaannya, abi sangat butuh dukunganku. Belum tentu juga kalau aku ada di posisi abi, ikut mertua, bisa sekuat abi. Apalagi kalau mertuanya bawel seperti bapak dan ibuku. Ups.

Aku kemarin sempat bilang ke abi, "Jadi menantu bapak dan ibu itu susah kan? Aku saja yang anaknya, 27 tahun hidup bersama mereka, insyaallah kuat. Abi juga. Kita niatkan untuk ibadah."

Ya, kami memang harus saling menguatkan. Apapun yang terjadi. Abi adalah suami pilihanku. Masak iya, pilihanku mau kujelek-jelekin sendiri? Bukankah lebih baik kalau saling mendukung dan tak lupa mengingatkan dalam kebaikan?

Kupercaya, tak ada orangtua yang ingin anaknya hidup ketulo-tulo, alias sengsara. Satu pesan dari Ustadz Danu yang selalu kuingat, "sebejat-bejatnya orangtua kita. Tugas kita sebagai anak ya tetap sama, menghargai, menghormati, dan mengayomi mereka."

Nah, kalau kamu, ada pengalaman atau cerita apa dengan orangtua atau mertua yang serumah?

Sabtu, 11 Mei 2019

3+1 Hal Ini yang Membuatku Tergiur Promo Belanja Online


Berbagi parsel, hadiah, atau salam tempel di hari lebaran itu seperti jadi tradisi orang Indonesia. Makanya, walau bulan ramadan baru saja datang, ibu-ibu sudah mulai pening. Bahkan sebulan sebelumnya sudah ancang-ancang beli baju untuk lebaran. Hahaha.

Duh, salah kaprah nggak sih?


Dalam hati, pokoknya harus punya uang sekian, terus bisa dipakai untuk ini dan itu. Pengeluaran harus benar-benar hemat agar bisa membeli semua kebutuhan.

Alhasil, jurus irit ibu-ibu muncul. Salah satunya adalah dengan cara (terlalu) sering mengintip online shop untuk berburu promo belanja online. Ada juga yang seperti ini?

Aku.
Aku.
Aku.
Kamu?

Akan tetapi, ternyata tidak mudah lho berburu promo belanja online. Karena kalau salah taksir, nanti malah jatuhnya lebih mahal dibandingkan belanja di toko dekat rumah.

Nah, ada beberapa hal yang kuperhitungkan saat berburu promo belanja online.

Gratis ongkos kirim
Aku kan tinggal di Demak, kalau belanja di Jakarta, ongkos kirimnya bisa sampai 24 ribu. Bahkan ada yang sampai 27 ribu. Itupun kalau belanjanya hanya sekilo. Kalau berkilo-kilo, apa kabar? Makanya, aku paling senang kalau online shopnya ngasih gratis ongkos kirim.

Harganya lebih murah dibandingkan di toko dekat rumah
Lah iya, ngapain belanja di online shop kalau di toko sebelah ada dan harganya lebih miring? Walau promo belanja online di mana-mana, aku masih pegang prinsip, kalau di dekat ada dan bisa pilih langsung, pun harganya tidak terlalu jauh beda, kenapa tidak beli di tempat tetangga saja?


Pengalaman nih, di minimarket kuintip Veet harganya 29 ribu. Kemudian di salah satu online shop lagi ngadain promo belanja online dengan memberikan gratis ongkos kirim tanpa minimal belanja. Kucoba deh check out, eh, ternyata gratis ongkos kirimnya bersyarat, yaitu maksimal. Jadi, aku tetap bayar ongkos kirim 7 ribu, dan harga produknya 22 ribu. Nah, jatuhnya harganya di minimarket sama online shop kok sama saja. Ya mending aku beli ke minimarket lah. Langsunh dapat produknya.

Beda lagi saat aku beli Veet di Lazada. Harganya di minimarket kan 29 ribu. Di Lazada, lagi ada promo beli 3 hanya 64.900 kemudian dapat buku jurnal pula. Ini baru untung berlipat-lipat. Emak-emak bahagia

Barang tidak ada di toko sebelah
Pasti ada beberapa barang yang tidak dijual di toko sebelah. Misalnya, sabun mandi Velvy yang kupakai. Jalan satu-satunya ya beli secara online. Apalagi sabun mandinya memang punya efek yang bagus untuk tubuh. Semenjak pakai sabun kambing ini, eksim di punggung Kak Ghifa jadi kabur. Alhamdulillah.

Proses pembayaran bisa COD
Sayang, tidak semua online shop memberikan fitur pembayaran COD. Ada juga yang bisa COD tapi untuk JABODETABEK. Satu yang paling favorit, online shop yang selalu bisa bayar secara COD itu JD.ID. Makanya, aku sering belanja di sana. Kalau memang terpaksa butuh banget barangnya di online shop lain yang tidak ada fitur COD, kupilih yang bisa membayar di minimarket. Itupun dikenakan biaya jasa sekitar 2.500. Ehm, dapat sekotak susu UHT Kak Ghifa ya. Hihi.


Semua syarat di atas terpenuhi, apakah kemudian jadi hobi banget berburu promo belanja online? Jelas tidak. Prinsip kebutuhan atau keinginan tentu harua tetap kuutamakan. Satu yang membuatku untuk berpikir ulang untuk belanja online adalah, kapan mau bayar asuransi pendidikan Kakak kalau belanja mulu? Hahaha.

Nah, kalau kamu, apa yang membuatmu tergiur dengan promo belanja online? Atau mungkin, kamu punya barang incaran dan menungu promo belanja online?

Papua Butuh Guru yang Peduli



“Tin tin…tin tin tin…,” laki-laki berjaket oranye yang ada di depanku itu menyapa segerombolan anak SD. 

“Assalamualaikum, Pak.” Kompak, anak-anak itu menyapa beliau sambil melambaikan tangan.

Bulu romaku seketika berdiri.

Aku baru ingat, laki-laki berjaket oranye ini adalah guru purnabakti yang sering bersimpangan denganku ketika berangkat ke sekolah. Ternyata, dulu, beliau mengajar di SD ini to, batinku.


Satu yang membuatku kagum kepada sosoknya, yaitu berkali-kali, beliau membunyikan klakson motornya setiap kali bertemu dengan (mantan) anak didiknya. Tak pandang bulu, baik itu anak didik yang sudah duduk di kelas tinggi maupun rendah, semua dengan kompak menyapa kembali gurunya.

Seketika, aku menebak, ini guru pasti sangat diidolakan oleh anak didiknya. Pun, beliau juga tidak jaim. Nyatanya sepanjang jalan, beliau selalu menyapa mereka sekalipun ada yang tidak menjawab sapaannya, karena tidak mengetahui kehadirannya.

Aku, berstatus guru juga, ketika bertemu dengan anak didikku yang sudah lulus saja kadang malas menyapa. Biar mereka dulu lah. Iya, kalau mereka masih ingat aku sebagai gurunya. Kalau tidak? Begitu pikirku.

Ah, laki-laki berjaket oranye ini begitu inspiratif. Kuyakin, Indonesia sangat butuh guru sepertinya. Guru yang sangat peduli kepada anak didiknya, meskipun kepedulian itu dalam hal yang sering kita anggap sepele.

Guru yang Peduli itu, Harus!

Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama yang pernah menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta pernah berujar dengan tegas, "Kalau tidak peduli terhadap murid-muridnya, saya minta diberhentikan saja sebagai guru. Kalau guru tapi hatinya enggak mau jadi guru, ngapain? Mending ngurus kuburan aja. Saya masih bisa cari guru les."

Kesan ungkapan Ahok begitu arogan. Tapi, memang harus demikian, bukan? Karena guru memang harus peduli kepada anak didiknya. Peduli secara fisik maupun psikisnya.

Jangan heran, beginilah cara Pak guru David mensimulasikan mandi dengan sabun. Dulu, mereka tidak bisa membedakan antara berenang dan mandi. Tapi, karena guru yang peduli, semua mulai berubah.
Sumber foto dari instagram Pak David @david.prabowo

Karena guru yang peduli itu,
Tahu apa yang dibutuhkan oleh anak didik.
Tahu bahwa tugasnya tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran.
Tahu karakteristik anak didik. 
Tahu di mana dia berada.
Paham apa yang harus dipelajari dan dibutuhkan oleh anak didiknya.
Bisa menjadi panutan dan mengayomi anak didik.
Mampu menciptakan kegembiraan.
Mampu menciptakan keamanan dan kenyamanan.
Mau mengabdikan diri.
Memiliki loyalitas tinggi di dunia pendidikan.
Memberikan harapan untuk mereka yang 'bermasalah'.
Dan guru yang peduli akan mampu menarik hati anak didiknya sehingga akan memudahkan proses pembelajaran. Bukankah saat anak didik 'tertarik' dengan gurunya, itu akan memudahkan anak-anak untuk memahami apa yang disampaikan oleh guru?

Menjadi guru yang peduli itu memang tidak mudah. Banyak godaan. Diremehkan. Dicaci maki. Dikira cari muka. Padahal guru yang peduli rela berkorban lelah jiwa dan raga untuk secercah harapan untuk generasi gemilang negeri ini.

Benar kata seorang sahabat, Mas Ulil namanya, guru yang peduli di SD Inpres Kulur, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, "Kita harus tetap semangat jadi guru yang peduli. Tetap dipaksa untuk ikhlas. Wajib. Bukan seberapa besar yang kita dapat, tapi seberapa besar yang kita beri, dengan kesungguhan hati. Idealnya, kita mencontoh yang baik. Akan tetapi, jika di sekitar kita tidak ada contoh yang baik, berarti kita sendiri yang melakukan kebaikan itu. Syukur-syukur akan dicontoh yang lain. Bukan mengharapkan ke-ria-an, tapi mengharap kebaikan itu menular sehingga kita tahu ada yang berjuang bersama-sama untuk melakukan kebaikan itu, bukan hanya kita sendiri."

Apakah kita termasuk guru yang peduli itu? Aku? Ah, masih jauh dari kata peduli. Tapi, yakin, kita pasti bisa!

Mas Ulil bersama anak didiknya. Tetaplah jadi guru yang peduli. Di mana pun kita berada. Yes?!
Foto dokpri Mas Ulil


Berilah Papua Guru yang Peduli, Peran Serta Pemerintah, dan Program Guru Pelosok

Kenapa Papua?

Menurut Lisa Duwiry -seorang aktivis muda yang berasal dari Papua- yang kulansir dari suara.com (2019), pendidikan di Indonesia memang sudah mengalami kemajuan. Akan tetapi, belum merata. Karena di Papua, hampir 40% anak-anak mengalami buta huruf. Bukankah angka tersebut sangat memprihatinkan?

Kepala Staff Kodam XVII/ Cendrawasih Brigjen TNI Irham Waroihan saat FGD di Markas Besar Angkatan Darat Jakarta menambahkan, bahwa pendidikan di Papua mengalami ketertinggalan bukan hanya perkara kurangnya sarana dan prasarana saja. Melainkan karena mindset warga yang belum menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Mereka berkeyakinan untuk apa sekolah, lebih baik pergi ke ladang agar bisa makan.

Anak-anak tetaplah anak-anak. Haknya sama. Seperti halnya berteduh di langit yang sama. Kenapa keadaan harus berbeda?
Foto dokpri Mas Ulil

Padahal, anak-anak Papua itu tidak bodoh. Mereka sama dengan anak-anak Indonesia lainnya. Mereka hanya kurang beruntung atas nama keadaan. Toh, kabar terbaru yang kulansir dari papuanews.id, ada anak muda asli Papua, yaitu Sherina Fernanda Msen, yang mengeyam pendidikan di Universitas Corban Oregon Amerika Serikat telah berhasil lulus dengan predikat Magna Cum Laude atau predikat kehormatan. Bukankah ini membuktikan, bahwa anak-anak Papua juga memiliki kesempatan masa depan yang gemilang, apabila memiliki keadaan yang sama dengan yang lainnya?

Satu lagi faktor penunjang ketertinggalan pendidikan di Papua, yaitu kurangnya tenaga guru. Mungkin, banyak guru yang belum terketuk pintu hatinya untuk mau menjadi guru yang peduli terhadap anak-anak Papua. Karena untuk mengajar di pedalaman sangatlah berat dan butuh modal yang besar. Ini tak sebanding dengan apa yang diterima oleh guru, sebut saja gaji.

Alhamdulillah, angin segar pun datang.

Langkah besar dan patut kita acungi jempol, dalam rangka bangun perbatasan jadi terasnya Indonesia di tahun 2019 ini (Mei 2019 mulai terjun), pemerintah mengirim 900 prajurit TNI-AD untuk menjadi guru pengganti setelah mengikuti pelatihan sebelumnya. Mereka akan menjadi guru bagi anak-anak Papua, selama belum ada guru tetap.

Merinding nggak sih, sebanyak itu lho prajurit TNI-AD mengabdikan dirinya. Kita (eh, kita) sudah melakukan apa untuk negeri ini?

Pemerintah memang tak sendiri, pun tidak bisa berjuang sendiri agar bisa mewujudkan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. Anak muda bangsa ini pun banyak yang tergerak hatinya untuk ikut serta membangun Papua dengan caranya. Satu diantaranya lewat program guru pelosok. Banyak sekali macamnya. Diantaranya:
  • GGD (Guru garis depan), ini adalah program pemerintah, akan tetapi, kabarnya sudah ditiadakan. Tolong koreksi kalau aku salah informasi.
  • Indonesia Mengajar, saat ini sedang ada pembukaan untuk yang ke 19. Siapa tahu ada yang mau ikutan?
  • 1000 Guru
  • Komunitas Jendela
  • Indonesia Menyala
  • Skholatanpabatas (STB)
  • Sure Indonesia
  • Akademi Berbagi
  • Guru Penggerak Daerah Terpecil
  • Komunitas Jalan Bagi
  • Dan mungkin masih banyak lagi yang belum terekspos oleh media.
Semua program guru pelosok di atas diperuntukkan untuk anak muda Indonesia. Tidak harus yang lulusan guru. Kalau kamu tertarik salah satu di antaranya, kamu bisa cari informasi detailnya di sosial media.

Mimpiku untuk berbagi di pelosok negeri memang tidak terlaksana. Tapi, aku selalu mendapat kekuatan setiap kali melihat potret-potret kawan yang berjuang di sana.
Foto dokpri Mas Ulil

Dulu, saat aku masih kuliah dan baru kenal salah satu program guru pelosok, yaitu Indonesia Mengajar, aku adalah kompor bagi teman-temanku. Aku mengajak mereka untuk sungguh-sungguh kuliah, berjuang, agar kelak saat lulus kuliah bisa ikut program tersebut dan mengajar di pelosok negeri. Bertemu dengan anak-anak negeri yang belum beruntung.

Sayang, mimpiku itu pupus oleh tangis pilu ibuku, "Kamu anak satu-satunya, Bapak Ibu. Kalau kamu pergi, Bapak Ibu terus piye (bagaimana)?"

Alhasil, aku tetap di sini, dan berjanji akan tetap mengabdikan diriku sebagai guru. Mungkin memang tidak ke pelosok negeri. Saat ini di pelosok desa pun tantangannya begitu luar biasa. Bismillah, di manapun kita berada, wajib hukumnya untuk selalu berusaha menjadi guru yang peduli. Kamu, yang memiliki kesempatan untuk mengabdikan diri ke pelosok negeri, hajar terus!

Korindo dan Papua

Pernah mendengar Korindo? Adalah sebuah perusahaan non-publik yang berasal dari Korea. Perusahaan ini mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1969 dan bergerak di bidang perkayuan di Kalimantan. Kemudian, perusahaan ini tidak hanya mengelola hutan industri yang luas di Kalimantan, tapi juga melakukan diversifikasi ke bidang lain, seperti industri berat (antara lain konstruksi turbin dan bus), keuangan, dan real estate.

Korindo termasuk dalam perusahaan terdepan di berbagai industri di Asia Tenggara. Visinya perlu diapresiasi, yaitu membangun hubungan yang harmonis antara kegiatan bisnis perusahaan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan terkait lainnya, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian secara terus-menerus.

Kenyataannya, di tahun 1993, Korindo mulai masuk ke Papua. Sepak terjangnya di sana membawa angin segar bagi penduduk setempat, khususnya di bidang pendidikan, dengan memberikan beasiswa kepada 2.500 siswa dari SD-Universitas, pemenuhan fasilitas sekolah, pembangunan 20 gedung sekolah, 25 bus sekolah hingga menyiapkan honor bagi 179 guru-guru di daerah terpencil.

tampilan website korindo.co.id
Terbaru, di tahun 2018 lalu, Korindo membangun dua asrama khusus pelajar yang berasal dari Kampung Taga Epe, Kampung Ihalik, Kampung Nakias dan Kampung Salam Epe Distrik Ngguti. Asrama ini letaknya dekat dengan perusahaan. Tujuannya, agar anak-anak dari karyawan bisa tetap sekolah dan jarak tempuh ke sekolah tidak terlalu jauh. Karena kebanyakan dari mereka tinggal di daerah pedalaman. Orangtua sibuk bekerja, anak-anak tetap sekolah.

Peran Korindo sangat besar di Papua. Tidak hanya fokus ke anak-anak Papua, selaras dengan visi yang diusung, Korindo juga mengedukasi warga setempat untuk menanam sayur dan menyediakan lahan untuk menanam padi. Tak heran kalau perusahaan ini menyabet berbagai penghargaan bergengsi.

Tentu banyak sekali peran Korindo untuk Papua di bidang lain. Kamu bisa cari tahu langsung di website atau akun sosial medianya. Terpenting, besar harapanku, banyak perusahaan-perusahaan lain yang juga tergerak hatinya untuk ikut membangun Papua lewat dunia pendidikan. Karena kita tahu, dengan pendidikan, SDM (sumber daya manusia) Indonesia yang lebih berkualitas bisa tercipta. Kalau SDMnya berkualitas, tentu akan memberikan efek ke bidang lainnya, seperti perekonomian warga yang meningkat.

Nah, untuk kita, yang saat ini belum bisa berkontribusi secara langsung untuk Papua, khususnya di dunia pendidikan, paling tidak, kita berusaha semaksimal mungkin untuk menjalani kehidupan kita saat ini. Ciptakan SDM yang mumpuni dalam diri kita. Ingat, bukan apa yang kita terima dari negeri ini, tapi apa yang sudah kita beri?

Potretku saat melayani anak-anak.
Foto dokpriku

PR besarku, kini, aku tak boleh lelah untuk menjadi guru yang peduli. Karena guru yang peduli sesungguhnya tidak hanya dibutuhkan di Papua saja. Di manapun. Untuk mencetak anak-anak bangsa yang berkualitas, baik itu di ranah akhlak ataupun intelektual. Bismillah, guru yang peduli untuk Papua, guru yang peduli untuk Indonesia.




Bahan bacaan:

https://megapolitan.kompas.com/read/2016/01/19/14015171/Ahok.Berhentikan.Saja.Guru.yang.Tidak.Peduli.pada.Muridnya
https://nasional.kompas.com/read/2012/11/26/0537173/pendidikan.perlu.guru.yang.serius.dan.peduli
https://mediaindonesia.com/read/detail/222642-pendidikan-di-papua-butuh-solusi-luar-biasa
https://www.idntimes.com/life/education/pinka-wima/program-guru-pelosok-yang-wajib-diikuti-anak-muda
https://www.korindo.co.id/beasiswa-korindo-untuk-anak-bangsa
http://www.rri.co.id/post/berita/385841/ruang_publik/csr_korindo_group_papua_bantu_pendidikan_anakanak_kurang_mampu.html
https://www.pasificpos.com/item/23932-bangun-asrama-pelajar-wujud-kepedulian-perusahaan
http://csr-indonesia.com/2016/11/02/ada-untuk-asiki-sekelumit-sejarah-47-tahun-korindo-di-papua/
https://papuanews.id/2019/05/05/satu-lagi-putri-asal-papua-berhasil-ukir-prestasi-di-amerika/

Kamis, 09 Mei 2019

Resep Soto Ayam Segar Anti Gagal


Kalau ditanya, apa masakan ibu yang paling ngangenin? Aku akan menjawab, soto.

Soto masakan ibu tidak pernah ada yang bisa nandingin. Termasuk soto buatan Pak Mul yang pernah kuceritakan di sini.

Berkali-kali aku mencoba resep soto ayam segar ala ibu, berkali-kali juga aku gagal. Pernah, rasa kuahnya sengur, karena aku menumis bumbunya kurang matang. Pernah juga, kebanyakan kunyit.


Dari kesalahan-kesalahan itulah, aku jadi tahu kalau memasak itu memang tidak mudah. Butuh proses dan kudu mau belajar. Akan tetapi, aku percaya, ibarat menulis, memasak itu bukan bakat. Kita bisa pandai memasak kalau setiap hari mau terjun ke dapur.

Nah, kamu-kamu yang belum bisa memasak enak untuk suami, santai. Nikmati saja prosesnya. Aku ngerasa cukup lihai di dapur tuh ya setahun terakhir ini. Pun juga kadang sering bikin kesalahan kok. Asin lah, hambar, bikin adonan nggak jelas bentuknya, masak rebung nggak pakai direbus air panas yang berakhir pahit. Hahaha. Kalau ingat malah pengen senyum-senyum sendiri.

Untuk latihan kamu, nih, aku share resep soto ayam segar anti gagal. Jangan lupa dicatat di buku resep ya. Daripada buka-buka blogku mulu. Tapi, kalau mau memyumbang PV untuk blogku ya nggak papa sih. Hahaha.

Bahan:
1/2 kg dada ayam
1/4 kg Kecambah
Bawang goreng (secukupnya)
Kecap manis
2 Bihun 
1 batang onclang 
1 batang seledri (potong tipis-tipis)
1 buah tomat (potong jadi 6 bagian)
1 buah jeruk nipis (potong jadi 4 bagian)
Minyak goreng untuk menumis
1,5 liter air


Bumbu yang dihaluskan:
3 siung bawang putih
3 siung bawang merah
1/2 sendok makan merica
1/2 sendok makan ketumbar
Sejempol kuni
1/2 jempol kencur
1/2 jempol jahe
1 sendok makan gula
1 1/2 sendok garam
1/2 jempol jahe
Sejumput jinten

Bumbu yang tidak dihaluskan, dimasukkan ke dalam kuah:
1/2 jempol laos
5 lembar daun jeruk
3 lembar daun salam
3 biji cengkeh

Bumbu sambal:
Cabai rawit 5 dan 5 cabai merah, direbus, uleg secara kasar

Cara memasak:
  1. Ulek bumbu yang harus dihaluskan.
  2. Panaskan minyak dan tumis bumbu sampai harum. Jangan lupa sertakan laos, daun jeruk, daun salam, cengkeh, dan tomat. Pastikan bumbu sudah masak betul, kalau tidak nanti sengur alias tidak sedap. Cirinya klu sudah matang, bumbu dan minyak mulai memisah dan aroma harumnya keluar.
  3. Masukkan dada ayam, kemudian tambahkan air. Koreksi rasa kuah dan tunggu sampai dada masak.
  4. Setelah dada masak, angkat, kemudian goreng dan suwir-suwir.
  5. Panaskan air lagi, rebus kecambah dan bihun. Angkat, tiriskan.
  6. Sajikan soto ayam segar dengan komposisi, kecambah, bihun, ayam suwir, onclang, seledri, bawang goreng, sambal, kecap, perasan jeruk nipis, kemudian siram dengan kuah soto ayam segar saat masih panas.


Paling jempolan itu, pas makan soto ayam segar ini kuahnya panas ditambah sambal dua sendok. Mantab. Kalau lagi flu, insyaallah, kabur.

Kalau hari ini masih bingung mau masak apa, yuk, bikin soto ayam segar! Jangan pernah takut gagal untuk mencoba resep soto ayam segar ini! Apalagi yang baru menjabat sebagai istri, kalau kamu tidak pandai memasak, jangan sungkan untuk terjun ke dapur! Enak nggak enak, suami akan kecantol kok sama masakan buatan kita, istrinya. Lha onone kuwi.