Rabu, 20 Mei 2020

Buk, Kumohon Jangan Marah Padaku, ya?


Rasanya susah sekali merampungkan tulisan ini.

Hari ini, 20 Mei 2020, hari ke 100 ibuku meninggalkanku dan bapak untuk selamanya. Sampai detik ini pula aku masih seperti mimpi.

Maafkan aku buk
Ibukku sudah tidak bisa kupeluk dan kusayang.
Aku kangen banget.

Loh, aku ini sudah nggak punya ibuk, to? Ah, masak sih? Kutengok kamar bapak, ibukku memang sudah nggak ada di sana. Kemudian aku tertawa sendiri. Apalagi kalau bukan menertawakan jalan cerita hidupku?

Masak sih aku ini sudah nggak punya ibuk? Sepertinya kemarin ibuk masih ngobrol denganku?

Aku baru sadar kalau aku sangat kehilangan ibuk. Bahkan aku sangat gila.

Setiap saat, perasaan dan pikiran seperti itu muncul. Pas ngapain saja. Masak, pegang HP, nyuapin Kakak, bahkan saat mandi. Ujung-ujungnya aku menertawakan diriku sendiri.

Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apa aku waras?

Di antara perasaan dan pikiran itu, ada satu hal yang paling aku sesali saat merawat ibuk. Aku sudah ceritakan ke abi.

Apa aku salah, Bi? Aku takut ibuk merasa tersiksa dengan langkah yang kuambil. Aku takut ibuk marah padaku.

Suamiku menjawab, tidak.

Tapi, aku masih merasa sangat bersalah. Sangat. Sampai ibuk menghembuskan napas terakhir, aku belum meminta maaf atas hal itu.

Tentang apa to?

Akan kuceritakan kepadamu, tolong jawab dengan jujur, ya, apakah aku salah? Janji, tolong jawab dengan jujur, jangan bohong kepadaku.

OK?

Itu semua keputusanku tentang mengajak ibuk menjalankan food combining.

Sejak akhir Desember lalu, aku mengajak ibuk untuk menjalani pola makan sehat itu. Karena setelah kupelajari, kanker itu akan cepat menyebar ke mana-mana kalau pola makan kita salah.

Kanker itu akan hidup bebas dan makin subur kalau diberi makan terutama seperti gula, daging, tepung-tepungan, susu dan olahannya. Upayakan penderita kanker itu makannya vegetarian.

Bukan bermaksud membenarkan atau melakukan pembelaan diri, semenjak ibuk melakukan terapi punggungnya itu (nggak tahu kalau ternyata itu efek kanker yang sudah menyebar), ibuk sudah mulai ogah-ogahan makan. Katanya malas ngunyah, padahal ibuk masih bisa aktivitas seperti biasa, jalan sendiri walau punggungnya terasa sakit. 

Ya Allah, sampai sini, rasanya aku begitu membenci diriku sendiri. Sangaaaaaatttt. Kenapa to kenapa ibuk harus meninggal?

Jeda nulis.

Jeda nulis lagi.

Ibuk kalau makan sedikit banget. Kupikir, kalau misalnya aku ajak menerapkan food combining kan malah lebih enak. Buah yang dimakan bisa dijus. Tinggal tenggak. Makan nasinya kan hanya dua kali, siang dan malam.

Makin lama ibuk makin kurus. Bapakku mulai marah. Semua pada nyalahin aku. Termasuk tetanggaku.

Kenapa ibuknya sakit malah diajak diet aneh-aneh? Sampai pagi sebelum ibuk meninggal sore harinya, aku diamuk bapak di depan perawat.

Aku memang goblok.

Kalau aku nggak menerapkan food combining ke ibuk, mungkin ibukku masih hidup.

Aku memang goblok.

Aku waras?

Tapi, aku merasakan sendiri kalau makan pola sehat itu di badan memang enteng. Toh, meskipun ibuk makin kurus, wajahnya tetap segar dan nggak sepucat sebelumnya. Aku masih membela diriku.

Tapi, aku goblok.

Aku benci diriku sendiri yang sok tahu.

Tapi, ibuk malah makannya lahap kok. Apalagi pas lama-kelamaan ibuk minta dibuatkan bubur saja. Katanya sudah nggak kuat kalau harus mengunyah nasi.

Pas itu tanteku marah-marah, katanya aku nggak boleh malas. Aku harus semangat merawat ibuk. Harus mau membuatkan bubur ibuk.

Ya Allah, rasanya dipaido merawat orang sakit padahal dia nggak tahu apa yang kulakukan selama ini itu rasanya sakiiiiiiitttt. Kudu nangis, nggembor, tapi, aku nggak bisa.

Jeda nulis lagi.

Aku seperti orang gila.

Mimpi ibuk.

Beliau malah minta maaf kepadaku, wajahnya tampak pucat.

Ibuk nggak salah. Aku yang salah, Buk. Apakah ibuk minta maaf karena sudah meninggalkanku? Iya, Buk, aku kehilangan ibuk. Sangat.

Aku nangis.

Aku ingat ibuk.

Jeda nulis lagi.

Aku tahu aku tidak akan pernah bisa bertanya kepada ibuk tentang semua ini. Buk, apakah ibuk marah kepadaku tentang food combining ini? Aku hanya ingin ibuk bertahan hidup lebih lama lagi. Ah, dulu pikirku aku ingin ibuk bisa mengalahkan kanker jahaaaaaaaaaaatttt itu, Buk. Bukan malah kayak gini.

Aku takut ibuk benar-benar marah padaku. Aku tersiksa dengan perasaan dan pikiran ini, Buk.

Pagi hari saat ibuk sarapan dan terakhir makan, ibuk minta minum Pocari habis 3 botol tanggung, makan sop yang ada baksonya, makan tempe goreng, makan Sari Roti (yang kata ibuk terasa susah sekali dikunyah), makan siomay yang kubeli depan Puskesmas.

Aku ingat betul sebelum makan ibuk bilang, "Ka, nanti ibuk boleh makan sembarang, ya."

Ya Allah...

Saat itu aku makin yakin kalau ibuku akan ...

"Iya, Buk, boleh makan apapun yang ibuk mau. Sing penting ibuk sehat, ya. Semangat." Aku lanjutin nyuapin bakso ke ibuk dengan potongan sangat kecil.

Ibuk makan dengan lahap. Makan apapun yang ada di depan ibuk.

Siangnya ibuk sesak napas.

Sore, ibuk meninggal.

Buk, apakah ibuk benar-benar merasa tersiksa dengan pola makan sehat itu? Sampai-sampai ibu izin ke aku pengen makan semua yang kularang sebagai bekal terakhir kali.

Aku menangis. Lagi. Lagi. Ingat ibuk saat terakhir kalinya dilarikan ke rumah sakit. Ibuk menggenggam tanganku dengan sangat erat.

Buk, jangan marah kepadaku. Ika takut ibuk marah kepadaku. Ika mohon, Buk. Aku mohoooooonnn.

Aku nangis lagi.

Jeda nulis lagi.

Kepalaku masih sakit banget karena terus-terusan menangis. Wajar, kah?

Aku tahu diriku ini sedang bermasalah. Ada sesuatu yang belum selesai sehingga setiap saat aku bisa seperti orang gila. Nangis nggak jelas. Tapi, setiap kali menangis, aku merasa sedang menyembuhkan luka dalam diriku.

Ya, menangis jadi salah satu pilihanku untuk melakukan self healing. Mungkin, kalau aku dihipnotis, aku akan lebih histeris lagi. Mungkin.

Apa sih yang bisa kulakukan? Aku serius bertanya kepadamu. Mungkin kamu pernah punya pengalaman yang sama denganku.

Saat ini yang bisa kulakukan untuk mengatasi perasaan dan pikiran bersalahku, ya, menangis dan istighfar berkali-kali. Baru itu.

Tulisan ini, rasanya berat sekali untuk kuselesaikan. Nangis berkali-kali saat ibuk seakan-akan muncul di hadapanku. Ingatanku saat merawat ibuk muncul sesuka hatinya.

Nangis lagi.

Aku berharap banget dengan menuliskan ini semua bisa jadi obat sembuhku juga.

Aku ingin melanjutkan tulisan kisah perjuangan ibuk melawan kankernya yang mandeg.

Saat ibuk terbujur kaku di depanku, bahkan saat aku membawa jenazahnya pulang dengan ambulan, aku tak bisa menangis. Tapi, makin ke sini, tangisku tak bisa kukendalikan.

Aku waras 'kan? Aku harus melanjutkan hidupku, bukan?

Ya Allah, sampaikan ke ibuku, tolong, jangan marah kepadaku. Aku hanya ingin ibuk ada di sisiku. Itu saja.

Buk, maafkan aku. Aku janji akan menjaga bapak, Buk. Ika kangen ibuk. Kangen pengen peluk ibuk.

Minggu, 10 Mei 2020

Bye Bye Khawatir

bye bye khawatir saat pandemiTak pernah sedikitpun terpikirkan olehku kalau suasana ramadan tahun 2020 ini harus kulalui tanpamu, Buk.

Ika kangen.

Kangen yang tak mungkin terobati seperti ramadan yang lalu, lalu, dan lalu.

Begini, ya, rasanya setelah kehilangan ibuk?

Kalau saja bisa memilih, aku ingin bisa menangis sekeras dan selama mungkin saat ibuku meninggal.

Sayang, aku tak bisa.

Mungkin benar kata orang, aku tak bisa menangis karena aku terlalu berduka. Tangisku tertahan.

Imbasnya, kini, aku merasa ada yang aneh dengan diriku.

Aku lebih mudah marah.

Setiap kali ada bunyi yang agak keras atau orang berteriak, dadaku langsung tratapan (deg deg an nggak karuan), dan terakhir, aku terlalu khawatir banget banget banget kepada bapak.

Saat Wabah Corona Datang, Bapakku, Bapakku, Bagaimana dengan Bapak?

Kamu tahu sendiri, kan, kalau tidak semua orang bisa work from home selama pandemi ini? Dua orang terdekatku yang harus tetap keluar rumah, ya, bapak dan suamiku.

Terutama bapak. Pekerjaannya terlalu beresiko karena setiap hari harus bertemu banyak orang dan bolak-balik rumah-Semarang-Purwodadi. Setiap hari seperti itu.

Apalagi setelah meninggalnya ibuk, bapak seperti gila bekerja. Bahkan bapak kalau dari Semarang tidak pulang ke rumah lebih dahulu. Langsung cus ke Purwodadi. Pulangnya nanti selepas maghrib.

Seperti itu setiap hari. Hati anak mana yang tak khawatir? Aku nelangsa.

Setiap kali sendirian,

"Ya Allah, izinkan aku merawat bapakku lebih lama lagi. Izinkan aku membahagiakan bapak, Ya Allah. Lindungilah bapak."

Aku sempat mikir, kenapa harus ada wabah Corona ini? Apakah Allah ingin aku lebih berduka lagi setelah kepergian ibuk, 11 Februari 2020 lalu? Dukaku belum benar-benar berkurang, kini, malah Allah membuatku sangat cemas akan keselamatan bapak.

Berbagai berita tentang wabah virus corona ini kubaca. Kucari tahu, aku harus bagaimana agar bapak terhindar dari virus corona ini?

Hampir semua grup whatsapp yang kuikuti membahas virus corona. Pengertiannya, gejalanya, langkah-langkah mencegahnya, masalah kekurangan APD, harga masker yang melambung tinggi dan mulai langka, vitamin C yang semula harga 5000 jadi 20000 sampai korban jiwa yang makin hari makin bertambah.

Semua informasi bertubi-tubi masuk ke dalam relung otakku. Kulahap semua. Setiap kali ada status whatsapp teman kubaca demi tahu info terupdate dari virus corona ini.

Sayang, ada satu hal yang kulupakan sebelumnya. Yaitu, mentalku yang masih down setelah ditinggal ibuk. Pun fisikku yang masih sangat lelah dengan perubahan rutinitas di rumah, yang awalnya menyelesaikan berdua dengan ibuk, enam bulan terakhir ibuk benar-benar nggak bisa aktivitas, kemudian bolak-balik menemani ibuk di rumah sakit untuk kemo, aku oleng.

Lengkap sudah, fisik lelah, mental down, masuk semua informasi tentang virus corona. Sialnya informasi tersebut justru lebih sering yang bersifat negatif, menakutkan dan menghantuiku.

Satu minggu lebih aku tidak berangkat ke sekolah. Saat itu aku masih aktif ke sekolah, tapi anak-anak sudah diliburkan.

Aku ambruk.

Badanku sedikit demam, kepalaku pusing, dan batuk-batuk.

Aku kena virus corona????

Tapi, aku tidak ke mana-mana. Ya, hanya ke sekolah, belanja, pulang, sudah. Jangan-jangan bapak yang bawa virus corona?

Pikiranku nggak karuan. Tubuhku nggak enak banget. Mau ngapa-ngapain jadi malas.

Sampai akhirnya, aku ketemu sebuah artikel yang nyelip di antara berita virus corona. Yaitu, psikosomatik. Adalah aku mengalami gejala-gejala seperti virus corona. Hal ini hanya keluhan bukan sebuah penyakit. Apalagi kalau bukan karena gempuran informasi tentang viris corona yang membuatku stress dan cemas secara berlebihan.

Maklumkah dengan kondisiku yang baru saja ditinggal ibuk kemudian ada virus corona ini? Maklum, bukan?

"Sudah, Mbak, kalau ada yang share informasi tentang virus corona nggak usah dibaca." Begitu nasihat kepala sekolahku saat aku tak kunjung ke sekolah juga.

Ya Allah, nggak semudah itu. Info itu terus masuk ke grup whatsapp. Aku tidak buka, terpaksa membuka. Karena kupikir ada info yang penting. Sampai akhirnya, aku keluar dari beberapa grup whatsapp.

Ada yang memberi saran, "Puasa sosial media saja."

Ya, nggak semudah itu juga. Lha wong semua pekerjaan menulisku harus mengandalkan sosial media.

Akhirnya, aku bertekad. Kalau ini benar psikosomatik, aku pasti bisa sembuh. Aku yang harus bisa mengendalikan diriku sendiri. Bukan orang lain.

Dengan keluhan batuk-batuk, kupaksakan diriku ke sekolah. Sampai sekolah, ya, semua baik-baik saja. Bahkan, aku merasa lebih baik daripada saat aku hanya di rumah saja.

Sejak saat itu aku merasa kalau aku memang benar-benar mengalami yang namanya psikosomatik. Aku harus bisa lepas dari penyakit aneh ini. Begitu pikirku.

Langkah yang kuambil untuk bisa lepas dari psikosomatik adalah sebagai berikut.
  • Aku menerima kalau diriku memang sangat cemas.
  • Pasrah dan selalu ikhtiar untuk keselamatan bapak dan suami.
  • Tidak lagi sok menyibukkan diri agar lupa dengan kenyataan kalau aku mengalami psikosomatik.
  • Istirahat sangat cukup.
  • Selalu berdoa dan mendekatkan diri ke Allah.
  • Membaca buku motivasi.
Apakah sekarang, setelah hampir dua bulan #dirumahaja, psikosomatikku hilang?

Kurasa belum sepenuhnya sembuh. Toh aku juga masih batuk sampai sekarang meskipun sudah nggak parah-parah banget seperti di awal datangnya virus corona. Kalau capek sedikit badanku masih nggak karuan rasanya. Seperti panas dingin. Semoga segera pergi deh tuh ya psikosomatik. Tapi, ya, balik lagi ke aku, bagaimana aku mengolah rasa dan pikiranku.

Persiapan Lebaranku Selow Banget


Iya, persiapan lebaranku seloooowwwww banget.

Ya, mau ngapain?

Tahun lalu aku heboh banget bikin nastar, brownies dan kue cokelat. Tahun ini nggak lah. Karena nanti sebelum lebaran aku dan bapak akan melaksanakan kirim doa di 100 hari ibuk. Apalagi juga ada pandemi seperti ini, mending uangnya buat tabungan saja.

Terlebih lagi, alhamdulillah, aku sudah dapat jatah enam tabungan jajan lebaran ditambah satu punya ibuk. Kemudian bapak juga ikut tabungan jajan lebaran dan sembako di pasar, ya sudah, itu lebih dari sekadar cukup.

Bikin nastar dan kawan-kawannya itu juga sangat melelahkan, bukan? Padahal aku lagi fokus untuk lepas dari psikosomatik.

Soal mudik, ehm, tahun ini nggak bisa ke Pati dong yang hanya dua jam dari rumah? Masak sih? Apa kabar nenekku?

Terakhir telepon, beliau nangis-nangis, habis sakit pula.

"Lebaran nanti dua yang nggak ada. Ibukmu sama bulekmu yang nggak bisa pulang karena virus corona."

Bulekku yang sekarang bermukim di Penang, Malaysia, gagal pulang. Padahal kalau pulang dua tahun sekali.

Nah, kalau aku nggak bisa mudik juga, ngenes banget kan nenekku?

Ke mertua, bagaimana? Kan hanya 30 menit dari rumah. Sebenarnya beberapa kali suami jenguk mertua pas awal-awal adanya virus corona sih masih bisa. Tapi, sekarang kan makin banyak gang-gang yang pada ditutup. Kalau nggak gitu kudu bermasker, cuci tangan, kemudian disemprot dulu.

Entahlah, aku mah manut sama sopirnya. Kalau kudu stay di rumah, ya, nggak masalah. Karena aku nggak pernah bermasalah kalau harus ndekem di rumah saja. Hihi. Kelihatan banget kan introvertku 😃.

Kamu, lebaran nanti ke rumah mertua nggak? Atau di rumah saja ngabisin astor? Beneran nih nggak mudik?

Ya, apapun yang akan kita lakukan, pokok e dinikmati saja. Jangan terlalu cemas apalagi sangat khawatir. Karena kita punya Allah. Minta saja kepada-Nya. Nanti juga bakal dikabulkan.

Untukku, jangan khawatir lagi! Semangat! Ayo usir psikosomatik!

Kamis, 30 April 2020

Koleksi Vintage Dresses di kis.net



Selepas sahur, beres-beres rumah, dan tilawah, sembari nunggu adzan subuh, kamu ngapain?

Tidur lagi?

Duh, aku pernah tidur sekali setelah salat subuh, kok, badanku malah sakit semua. Itu terbawa sampai seharian. Makanya, sekarang, aku pilih melek sampai siang. Ntar selepas dzuhur baru tidur. Seperti itu malah lebih nyaman di tubuhku.

Nah, selama menunggu matahari nongol, ngapain saja?

Salah satu yang kulakukan dan itu ampuh banget mengusir kantukku adalah window shopping. Salah satu situs belanja yang baru-baru ini kupantengin adalah kis.net.

Kuamati, kis.net ini memiliki visi menjadi produsen pakaian berkualitas di dunia. Mereka fokus dengan produksi pakaian berdesain menarik, hasil jahitan yang rapi, berkualitas, dan pilihan bahan pakaian yang terbaik. Sssttt, satu lagi, harganya grosir lho.

Pilihan yang tepat kalau kamu mampir ke kis.net. Karena semua pakaian khusus perempuan ada di sana. Mulai dari daleman, gaun, bawahan, atasan, baju tidur, sampai baju renang juga ada.

Yuk, coba kita kunjungi websitenya langsung.

Begini penampakannya via mobile.


Penampakan pertamanya sudah menggoda, gaun biru pastel yang menawan. Lalu aku coba lihat menu pilihannya dan log in.


Tuh, kan ternyata memang banyak sekali pilihan menunya. Aku paling penasaran dengan menu dress. Koleksi dresses for womennya tuh kayak gimana, sih?

Setelah diklik, pilihannya banyak boookkk.


Jariku berhenti di bagian vintage dresses. Ah, ini gaya aku banget. Begitu batinku.

Pas lihat baju yang ini, aku jadi ingat ibuku. Beliau ingin sekali memiliki baju dnngan latar hitam kemudian bermotif bunga-bunga yang agak besar. Yap, seperti ini. Memang cantik banget.


Baju di atas kalau dipadu-padankan dengan celana panjang dan ditambah manset agar lebih tertutup pasti makin cantik. Pun cocok untukku yang berhijab.

Atau yang satu ini, lagi sale juga malah. Warnanya hijau cantik. High waist skirt v-neck long sleeve print dress, ternyata ada banyak pilihan warnan dan ukurannya pula lho. Mulai dari S sama XL.

Ya Allah, ini mah kesukaan perempuan banget, yak. Terutama yang bertubuh tak begitu langsing sepertiku. Hey, kamu, meskipun kita tak langsing seperti modelnya, kita juga tetap bisa tampil cantik kan?


Kamu yang penasaran dnegan koleksi kis.net, buruan lihat-lihat dan check out deh. Karena barangnya kan nggak banyak. Ntar keburu diambil orang malah eng ing eng deh.

Asyik lihat-lihat, aku jadi penasaran soal pembayaran dan pengiriman baju yang akan kita beli.

Nah, ternyata, kita bisa membayar dengan Paypal atau kredit. Untuk pemrosesan sampai pengiriman paling lama sekitar 3 mingguan. Lumayan lama, ya. Tapi, ya, wajar, kan dari luar negeri.

Kamu, yang lagi cari-cari referensi vintage dresses atau yang lainnya, khusus perempuan, bisa tuh, kunjungi saja kis.net.

Happy window shopping 😃

Rabu, 29 April 2020

Alhamdulillah, Berikut Ceritaku tentang Kemudahan Mengenalkan Virus Corona Ke Anak Balita



Sampai detik ini, masih adakah yang mengutuki kenyataan adanya virus corona?

Percayalah kalau di setiap kesulitan selalu dibarengi dengan kemudahan-kemudahan yang dikirimkan Allah.

Di mana ada Ummi, di situ ada Kak Ghifa juga

Contoh nyata itu adalah yang kualami berikut.

Jelas, aku tidak pernah menyangka kalau virus corona ini akan membuat cerita tersendiri di hidupku. Selain karena aku tidak bisa berangkat mengajar tapi masih dapat gaji, juga dihadapkan dengan kewajiban memberikan pemahaman kepada Kak Ghifa, anakku yang berusia 4,5 tahun, tentang bahaya dari virus corona.

Kenapa anak balita seperti dia harus tahu tentang virus corona? Ya, karena siapa saja bisa terpapar oleh virus ini. Kubaca dari situs Halodoc, bayi dan anak kecil, kemudian orang dengan kekebalan tubuh yang lemah akan lebih mudah terpapar virus ini.

Virus corona ini tentu bahaya. Meskipun belum ada korban jiwa yang murni meninggal karena kena virus ini, sebelumnya ada penyakit bawaan, tapi, preventif adalah langkah paling tepat.

Terlebih lagi untukku, Kak Ghifa ini adalah tipe anak yang nempel banget ke aku. Jadi, aku ke mana, dia kudu ikut. Kami tak terpisahkan.

Ini menjadi masalah tersendiri untukku di saat virus corona menghantui di mana-mana.

Meskipun aku nggak ngajar, aku kan tetap ke sekolah setiap hari Selasa. Aku juga harus tetap keluar rumah untuk belanja keperluan memasak per tiga hari sekali. Lah, kalau dia ngintil aku terus, bahaya dong.

Piye iki?

Akhirnya, aku juga mulai mikir, ini gimana, ya, cara nerangin ke Kak Ghifa tentang virus corona ini? Bagaimana caranya dia mau di rumah saja? Kemudian mau juga pakai masker pas ikut aku sekolah dan tidak ada yang bisa dititipin Kak Ghifa?

Eh, pucuk dicinta ulam pun tiba.

Di salah satu grup job bloger, ada teman yang share PDF berisi gambar-gambar lucu virus corona. PDF itu berisi tentang pengertian virus corona yang mudah dipahami oleh anak-anak. Ada juga cerita-cerita ringan, pun poster  yang bergambar lucu.

Ini salah satu PDF yang kuceritakan

Nah, ini nih.

Langsung deh, PDF itu aku share juga di grup kelasku dan grup guru SD tempatku bekerja.

Pas mau tidur, seperti biasa, ritual membaca cerita bersama Kak Ghifa kuisi dengan menceritakan tentang virus corona.

"Kakak, Kakak, Ummi punya cerita bagus. Ada gambarnya lucu-lucu."

"Endi (mana), Kakak lihat, Mi. Lihat." Kak Ghifa antusias.

Dua kali cerita tentang virus corona itu kusampaikan. Alhamdulillah, Kak Ghifa tertarik.

Esok harinya, pas ada iklan di TV, "Ummi, itu virus corona yang lucu tapi jahat, kan?"

Ini PDF yang lainnya

Alhamdulillah, berarti 'kena' deh cerita semalam, batinku.

Semenjak hari itu Kak Ghifa juga makin paham, kenapa harus sering cuci tangan, pakai masker kalau terpaksa keluar rumah, dan harus di rumah saja, nggak boleh main-main di playground. Hahahaha.

Kak Ghifa pasti kangen pengen main ke sini nih

Bahkan, saat aku mau ke pasar untuk belanja, dia langsung komentar, "Ummi, kan harus di rumah saja. Kok Ummi ke pasar?"

Blaik. Hihi.

Kujelaskan deh ke dia kalau aku terpaksa harus keluar rumah karena bahan makanan di kulkas mulai habis.

"Ummi juga mau beli otak-otak kesukaan Kak Ghifa." Keluar deh jurus andalanku agar dia bolehin aku pergi, tanpa dia ngintil ikutan.

"Oke. Pakai masker, ya, Mi. Ojo suwi-suwi lho. (Jangan lama-lama lho)."

*** 
Alhamdulillah, alhamdulillah, banget. Aku merasa sangat terbantu dengan adanya PDF cerita tentang virus corona tersebut.

Kalau tidak salah, tiga hari yang lalu, saat aku akan membacakan cerita untuk Kak Ghifa lewat aplikasi LET'S READ, seperti biasa, kubiarkan Kak Ghifa untuk memilih cerita mana yang ingin kubacakan.

"Ummi, ada cerita virus corona di sini."


Aku cukup kaget, apa iya? Memang sih, pagi itu aku sempat update aplikasi tersebut. Wah, kalau benar ada, ya, lumayan.

Ternyata, setelah aku cek, memang ada. Cerita itu pun salah satu cerita dari PDF yang aku temukan di grup job bloger, yang kuceritakan di atas.

Namanya anak-anak, meskipun sudah pernah baca, ya, minta dibacakan lagi. Itu juga diwarnai dengan celotehan dia yang memang sudah hapal dengan alur ceritanya.

Itulah cerita kemudahanku mengenalkan virus corona ke Kak Ghifa. Terpenting lagi, selain ada media yang pas untuk mereka, kita sebagai orangtua wajib memberikan contoh kepada anak-anak. Percuma juga kita bercerita sampai berbusa, tapi tak ada contoh nyata untuk mereka.

Terus, yang tak jauh lebih penting lagi, anak seusia Kak Ghifa itu kan kalau nanya bisa ke mana-mana. Nah, aku juga berusaha memperbanyak bacaan tentang virus corona ini di situs Halodoc. Di sana lengkap sekali ulasan tentang pengertian virus corona, sampai wanti-wanti kapan harus ke dokter saat ada keluhan pada saluran pernapasan.

Terakhir, untuk kamu yang pengen punya PDF di atas, WA aku saja di 085727351413. Atau kamu juga bisa coba cari di internet. Yuk, jangan lupa bersyukur di tengah mewabahnya virus corona ini!

Senin, 27 April 2020

Verbal Bullying yang Biasa Terjadi di Kelas 1 SD


"Kalau ada temannya yang salah, jangan ditertawakan. Disemangatin, dong!" ucapku ke anak-anak, aku emosional banget.

***

Pas ada temannya yang jatuh,

"Sukuriiiiiiiiiinn."

Bukan malah ditolongin, malah...

Hiiiihhh

***

"Bu Ika, mohon maaf, anak saya tidak mau berangkat karena takut sama si G. Katanya diejek terus, rambut keriting-keriting."

***

Saat istirahat, A dipukul F. Saat F kutanya, kenapa?

"A ngejek aku kok, Bu. Katanya Ibuku di Hongkong kerjaannya nyanyi terus pakai HP."

***

"D nggak bisa baca. D nggak bisa baca.  D nggak naik kelas."

***

Penggalan-penggalan cerita di atas sering sekali kutemukan di sekolah. Bahkan setiap hari kutemukan kasus seperti itu. Mungkin banyak kasus lain yang tidak kutemukan dan hanya dipendam sendiri oleh sang korban. Memang bisa seperti itu? Bisa banget.

Aku adalah salah satu korban verbal bullying di masa SD. Kurasa pas masa ini adalah masa-masa paling parah. Setiap hari aku dibully oleh teman-temanku, terutama anak laki-laki. Kuketahui kini, sebenarnya mereka membullyku bukan hanya karena tidak suka denganku, tapi ada juga yang karena ingin menggodaku saja.

"Trondol pitik."-Karena rambutku selalu pendek.

"Cebol."-Karena tubuhku yang pendek, dulu.

"Siteng." -Kulitku lebih gelap

"Boto setugel." Karena tubuhku pendek, seperti ukuran setengah batu bata

"Bibir monyong."-Kalau marah, bibirku kan mecucu, maju.

Itulah kata-kata yang singkat tapi begitu menusuk hati. Aku nggak mau anak-anak didikku merasakan hal yang sama.

***
Setiap kali pulang ke rumah, aku pasti menangis, kemudian mengadu ke ibuk.

"Buk, Si J lho, Buk, ngarani (mengejek) aku trondol pitik terus. Aku sebel."

Ibuku seringkali menjawab, "Sudah, sudah. Nggak usah kamu gagas (pikir). Besok kalau diulangi lagi, wis biarin saja. Nanti kalau capek lah diem sendiri."

Duh, buk, ibuk kan nggak mengalami. Aku jengkel banget. Pengen banget kujambak-jambak rambutnya. Kujedotin kepalanya di tembok. Ahhhh...Sampai-sampai aku malas sekolah kalau ingat kejadian seperti itu. Padahal kan ada banyak anak perempuan yang lain, kenapa harus aku? Kenapa?

Jujur, ya, jujur banget ini. Sampai sekarang aku masih hapal betul siapa-siapa saja yang dulu sering membully aku di masa SD. Bahkan kalau ketemu di jalan, aku masih sering membatin, "Dulu kamu sering membullyku dengan mengejek ini."

Membekas. Lekat banget di ingatanku.

Oleh karena itu, sekarang, aku mendapat kesempatan untuk menjadi agent of change dalam mengurangi adanya verbal bully khususnya di kelasku. Aku nggak tahu persis bagaimana setiap guru menindaklanjuti kasus verbal bullying. Kalau pas zamanku dulu sih, ya, setiap kali aku ngadu soal verbal bullying, guruku, kebanyakan, akan selalu menjawab begini,

"Ya, nanti si A bu guru marahi. Sudah sana main lagi."

Setelah itu guruku tak beranjak dari mejanya di kantor guru. Entah beliau benar-benar memarahi si A atau tidak. Toh, nyatanya si A lagi dan lagi mengejekku sampai aku lulus SD. Mungkinkah verbal bullying seperti itu memang dianggap sebagai guyonan anak kecil yang biasa terjadi? Biasalah anak-anak, nanti juga main bersama lagi. Begitu?

Sebagai fungsi peranku di kelas, apalagi aku adalah mantan korban verbal bullying, aku selalu berusaha untuk menyelesaikan masalah saat itu juga. Pokoknya kudu selesai dan mereka saling maaf-maafan, kemudian berpelukan.

Seperti ini yang seringkali kulakukan saat ada kasus di kelas.

"Siapa saja yang membuat D menangis? Masuk kelas, yang lain keluar!"

Nanti anak-anak akan bilang, ini bu, itu bu.

Semua yang bermasalah masuk kelas. Di dalam kelas, kuinterogasi mereka satu per satu, awalnya bagaimana, siapa saja yang terlibat, urutan-urutannya seperti apa, dll.

Setelah alurnya semua jelas, anak-anakku yang di luar aku suruh masuk sedangkan yang bermasalah tadi tetap di depan kelas seperti saat awal kuinterogasi.

Kuceritakan semua duduk permasalahannya. Kemudian semua kukembalikan ke anak-anak untuk menilainya.

"Menurut kalian, yang mereka lakukan itu baik nggak? Benar nggak? Patut ditiru nggak?"

"Menurut kalian, harusnya teman-teman ini ngapain setelah ini?"

Mereka pasti akan menjawab, "Maaf-maafan, Bu, terus berpelukan. Kalau nggak mau maaf-maafan nanti hatinya menghitam, busuk."

Bagian ini, bagian ini tuh sangat penting buatku. Aku pernah memposting salah satu kejadian ini di highlight IG storyku (@diya_nika) dengan label Saling Memaafkan. Kamu bisa cek di sana.

Susah lho bermaaf-bermaafan. Kita yang sudah dewasa saja seringkali kegedhen ego, minta maaf duluan masih ogah. Padahal minta maaf terlebih dahulu tuh bukan karena memang kita yang salah.

Lihat kejadian saling memaafkan dan kemudian anak-anak berpelukan tuh ya rasanya mak nyeeess banget. Ya Allah. Haru banget.

Alhamdulillah, ini entah anak-anak atau memang sudah manusiawi, setelah maaf-maafan seperti itu kurasa tidak ada yang mengganjal di hati mereka. Berbeda denganku, dulu, mengadu masalah, tapi tidak ada penyelesaiannya, sampai sekarang masih mengganjal di hati. Toh,  kejadian-kejadian tersbut bisa jadi contoh untuk teman lainnya pula. Mikir ulang lah ya kalau mau membully temannya?

Apakah sudah selesai? Belum. Biasanya nih, kejadian seperti ini aku video, aku share di grup kelas agar wali muridku tahu kejadian di kelas. Tentu dengan segala pengertian tidak untuk 'menjatuhkan' anak-anak yang saat itu bermasalah dan menjadikan kejadian hari itu sebagai pelajaran bersama.

Secara pribadi, aku akan japri wali murid anak-anak yang hari itu menjadi 'artisnya'. Membesarkan hati mereka, meminta tidak memarahi anak-anaknya karena itulah sifat khas anak-anak. Aku hanya ingin ada peran orangtua dalam mengurangi adanya verbal bullying.

Kan aku nggak tahu persis bagaimana mereka apabila saat di rumah. Bisa jadi anak melakukan verbal bullying kepada temannya karena dia juga sering mendapatkan hal yang sama dari orangtuanya atau lingkungan terdekat. Bisa kan seperti ini?

Alhamdulillah, sejauh ini, langkah seperti yang kuceritakan di atas cukup berhasil. Setiap kali selesai ada kejadian tersebut, esoknya, kugoda anak-anak 'artis' tadi.

"Kemarin sampai rumah dimarahin ibuk?"

"Enggak. Cuma dikasih tahu kayak yang Bu Ika bilang. Nggak boleh ngejek teman. Kasihan."

Ehm, syukurlah.

Eits, tunggu dulu, sebagai guru, aku bukan hanya mampu menyelesaikan masalah verbal bullying di kelas. Aku juga pernah kena verbal bullying dari anak didikku sendiri. Bisa? Bangeeeettt.

Contoh simpelnya, misal aku menggambar di papan tulis, jumlahnya ternyata kelebihan, pokoknya ada yang salah, kemudian ada salah satu anak didikku yang ngasih tahu.

Nah, pasti ada saja anak didikku yang lain tertawa di belakangku, "Hahahaha...Hooooo bu guru ki salah-salah, piye wi?"

Kalau sudah seperti itu, aku membalik badan, lihat anak-anak sejenak dengan muka kecewa,

"Bu Ika minta maaf, ya, kalau ada yang harus menghapus dan menulis ulang karena Bu Ika salah nulis. Tapi, kan Bu Ika juga manusia. Kalau Bu Ika salah sedikit saja, kalian langsung pada ngetawain Bu Ika. Coba saja kalau Bu Ika nggak salah, kalian pernah nggak ngasih jempol ke Bu Ika, seperti kalian kalau pas kerjanya bagus selalu Bu Ika kasih jempol?"

Mereka diam. Yang tadi ketawa menundukkan kepalanya begitu dalam.

"Tolong, besok lagi jangan seperti itu, ya. Kan sakit di sini (aku nunjuk di dadaku)." Kataku sembari tersenyum.

Mereka ikutan tersenyum manis.

***

Seringkali memang begitu, ya, kita sering melihat salahnya doang, kebenarannya yang lebih dominan malah jarang diapresiasi.

Yuk, ah, biasakan untuk lebih sering mengapresiasi orang di sekitar kita, dengan harapan itu juga bisa memutus rantai verbal bullying. Semoga.

Kamu, pernah jadi korban bullying juga pasti, kan? Coba deh tulis di kolom komentar bawah ini. Siapa tahu bisa jadi proses penyembuhan untukmu sendiri. Atau biar makin afdol, tulis saja di blog kamu.