Minggu, 18 Agustus 2019

Guru Milenial Pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA yang Super Tipis? Apa Jadinya?


“Walah, gaya banget. Kelas 1 SD re pakai LCD, kayak anak kuliahan saja.”

Baca komentar tersebut, aku kaget. Loh, memangnya ada yang salah?

Begitulah kesan yang kudapat saat aku posting foto proses pembelajaranku di facebook. Terlebih lagi, sangat kusayangkan, si pemberi komentar itu adalah seorang guru milenial juga, sepertiku. Bukan bermaksud menghakimi atau aku merasa lebih baik darinya, tapi, bukankah seharusnya memang tidak ada pembeda, mau itu anak TK, SD, atau bahkan mahasiswa, kalau tempat mereka belajar memiliki fasilitas laptop dan LCD, kenapa tidak proses pembelajaran dibuat semenarik mungkin?

Sebagai guru milenial (generasi Y), yang dilahirkan kisaran tahun 1980-1997, senjata paling ampuh yang harus kugunakan di kelas bukanlah kayu panjang (ukuran 1 meter dengan diameter 2 cm) lagi. Itu tuh, kayu yang biasanya digebukkan di atas meja untuk memaksa anak duduk diam memperhatikan. Melainkan, apa?

Kita lihat, siapa to yang saat ini jadi anak didikku? Mereka adalah yang lahir di atas tahun 2010, alias Generasi Alfa. Di dalam makalah Beyond Z: Meet Generation Alpha disebutkan bahwa Generasi Alfa akan lebih akrab dengan teknologi dibandingkan Generasi Z (padahal aku ini generasi Y, sebelum Z). Nah, kenapa tidak, kalau pembelajaran di kelas didesain sedemikian rupa dengan memanfaatkan laptop dan LCD? Bukankah itu ‘dekat’ dengan mereka?

Alasan apa lagi yang bisa kita gunakan untuk tidak menghadirkan teknologi dalam pembelajaran di kelas? Atau, mungkin inikah yang kita takutkan?

"Guru akan tergantikan oleh aplikasi."

Memang, banyak ahli mengatakan bahwa dengan berkembangnya teknologi lama-kelamaan peran guru di era digital ini akan tergantikan. Anak didik tak akan butuh kehadiran guru lagi. Lihat saja, sekarang ini bimbingan belajar online menjamur, seperti Ruangguru, Ruang Juara, Rumah Belajar, Rumah Juara, Quipper, Bimbel SMARRT, Kelas Kita, CBT Ujian Nasional SMP, dan masih banyak lagi lainnya, yang tinggal pegang gawai, unduh, sudah deh, tinggal belajar, nggak harus ada guru.

Eits, tunggu dulu.

Kurasa kehadiran guru akan tetap dibutuhkan kok. Sesuai akronim dalam bahasa Jawa, guru; digugu lan ditiru, sosok yang dipercaya dan diikuti.

Ini diperkuat dengan adanya Taksonomi Bloom yang masih dipakai di Indonesia, bahwa penilaian dalam pembelajaran itu meliputi ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Okelah, yang kognitif bisa digantikan oleh aplikasi bimbingan belajar online atau perkembangan teknologi lainnyaTapi, yang afektif? Psikomotorik?

No no no.

Insyaallah, anak-anak tetap butuh kita, gurunya. Oleh karena itu, kenapa tidak kita berikan yang terbaik untuk mereka? Kenapa tidak kita 'ambil hati'-nya?

Jujur, baru 5 tahun jadi guru (honorer), aku merasa, Ya Allah, ternyata gini banget, ya. Tugasnya banyak, tanggungjawabnya segunung. Apalagi mereka yang sudah PNS.

Administrasi kelas yang segambreng, ada kalau 30 macam lebih, belum administrasi yang lain. Setiap hari, sepulang anak-anak, harus menyiapkan media, buat soal ulangan, atau tetek bengek untuk pembelajaran esok hari. Kemudian merapikan kelas, menyapu, ngepel pula. Hahahahaha.

Aku mau bilang, menjadi guru itu melelahkan, tapi, setiap hari aku kok makin jatuh cinta dengan profesiku ini.

Jatuh cinta rasa apaan ini? 

Benar kata sesepuh guru, profesi guru itu panggilan jiwa. Kalau hanya sekadar setengah hati, kuat sebulan saja, sudah syukur banget.

Aku jadi ingat anak didikku di sekolah baruku ini. Jumlahnya hanya 24, tapi, serasa 40 anak. Ada yang jalan ke sana-sini, naik meja, gangguin teman, ada yang nangis karena pensilnya patah, hahahahahaha. Semuanya ada.

Giliran di kelas ada layar gedhe, semua aman terkendali.

Giliran aku mengeluarkan gawai untuk menunjukkan gambar perempuan Ethiopia yang berleher panjang, mereka takjub, berebut karena antusias ingin lihat.

Yes, sebenarnya, segitu receh cara mengambil hati mereka. Apalagi kalau bukan memanfaatkan perkembangan teknologi?

Program Satu Guru Satu Laptop, Angin Segar, Tapi Kok Tidak Ada Keberlanjutannya?


Pada tahun 2009, pertama kali program Satu Guru Satu Laptop moncer di mana-mana. Tak tanggung-tanggung, surat kabar dipenuhi berita kabupaten ini dan itu, dari pelosok Timur ke Barat, membagikan laptop gratis untuk gurunya.

Ini lho sebenarnya contoh nyata kalau pemerintah peka akan kebutuhan guru di Indonesia.

Sayang, kini, program tersebut tidak ada baunya lagi. Padahal kebutuhan laptop bagi guru, kini, malah makin penting. Apalagi untuk guru milenial. Kalau menurutku, guru kok nggak bisa pakai laptop atau tidak punya laptop, dijamin tidak bisa berkutik. Siap-siap saja bakalan terlindas zaman.

Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari. Bagaimanapun caranya, kelak, siswa memang akan lebih pandai dibandingkan gurunya. Akan tetapi, masak iya, sih, kita hanya berpangku tangan? Katanya profesi ini panggilan jiwa. Maka, guru harus mau belajar lebih banyak dan rajin lagi. Tidak bisa memakai laptop, belajar. Tidak punya laptop, ya, beli. Apa, iya, mau menunggu durian runtuh dari pemerintah?

Tak kupungkiri, banyak teman sejawat yang mengeluhkan begini,

"Gaji sebulan tidak cukup, Mbak, kalau buat beli laptop."

(((Laptop sekolah hanya sebiji kemudian dipakai bergilir)))

Blaik. Ini nyata sih di lapangan.

Lah iya, apalagi untukku yang baru jadi guru honorer. Percaya deh, kalau sudah niat, apalagi untuk media mencerdaskan anak bangsa, insyaallah akan ada jalannya.

Sekarang, toh banyak juga produsen laptop yang pintar membidik konsumen, salah satunya guru milenial. Banyak laptop yang harganya masih masuk akal, tapi spek-nya mumpuni untuk menghandle pekerjaan seorang guru. Salah satunya ASUS, perusahaan TI paling TOP di dunia.

Di tahun 2019 ini, ASUS menghadirkan ASUS VivoBook Ultra A412DA yang super tipis. Memang sih perangkat ini memakai prosesor AMD Ryzen 3000, tapi, performanya tidak kalah kok dengan intel. Pun kita bisa pilih mau varian prosesor AMD Ryzen 3 atau AMD Ryzen 5. Bisa kusebut, dibanderol dengan harga 6,5 jutaan, laptop ini murah, tapi, nggak murahan kok.

Nah, kira-kira nih, kalau sudah ada ASUS VivoBook Ultra A412DA, kolaborasi apa sih yang bisa dilakukan guru milenial agar kelas makin hidup, pun anak-anak makin kecantol sama kita?

Jadilah Guru yang Berkarakter



Aku masih ingat betul dengan nasihat dosen pembimbing utama skripsiku dulu, bahwa menjadi guru itu harus berkarakter. Apalagi kita adalah panutan anak-anak. Segala tingkah laku dan ucapan kita, dipercaya dan ditiru oleh anak didik.

Guru harus punya karakter pekerja keras dan tentunya cerdas di setiap saat. Jangan pernah gengsi untuk mengucapkan terima kasih dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan.

Ada satu kejadian, saat aku menggantikan guru kelas 5, ada anak didikku bertanya tentang letak bagian lidah yang merasakan asin. Karena aku tidak yakin antara sebelah kiri atau kanan, aku pun meminta maaf dan memintanya untuk bersabar, agar aku bisa mencarikan jawabannya di internet dan esok hari memberitahunya.

Apa yang terjadi esok harinya? Dia sudah tahu jawabannya.

"Aku pinjam HP bapak, kucari di internet, Bu."

Untung saja, aku nggak asal jawab. Kalau sampai salah, apa jadinya? Anak didikku tadi akan mempercayai jawabanku yang asal-asalan. Nanti, kalau dia tahu jawaban yang betul dan jawabanku salah, bukankah rasa percaya anak tersebut ke aku malah berkurang? Ke mana karakter guru; digugu dan ditiru, ku?

Sejak itu, kuperbanyak membaca, membaca, dan membaca, terutama untuk materi yang akan aku sampaikan ke anak-anak. Pokoknya jangan sampai malu-maluin lah. Apalagi, pertanyaan anak-anak tuh sering tak terduga lho.

"Bu, kenapa astronot bajunya model gitu? Kan kelihatan gendut. Aku kalau jadi astronot, nggak mau ah pakai baju kayak gitu." Salah satu pertanyaan terpolos dari muridku kelas 1 SD.
Atau yang ini, saat melihat gambar perempuan Ethiopia yang berleher panjang.

"Itu mamaknya jahat banget ya, Bu. Lehernya pasti sakit. Bapaknya ke mana, kok dibiarin?!"

Kira-kira jawaban apa yang tepat? Hahaha.

Belajar, euy, belajar. Buka laptopnya, searching di Google. Kalau nggak ketemu? Cari terus, jangan putus asa! Hahaha.

Kalau berselancar memakai ASUS VivoBook Ultra A412DA yang sudah dilengkapi dengan desain ErgoLift mah enak. Karena desain ini membuat bagian laptop yang ada keyboardnya, saat dibuka, akan terangkat sebesar dua derajat. Ini membuat kita yang memakainya merasa nyaman walau lama mengetik. Mesin laptop pun tidak mudah panas. Kalau sedang berada di ruangan yang kurang cahaya, kita bisa mengubah tiga kali pencahayaan atau backlit keyboardnya.

Mau multitasking? Ya, mengetik, eh, mau buka Youtube, atau main game, santai, ASUS VivoBook Ultra A412DA ini mumpuni banget. Karena laptop ini memiliki prosesor AMD Ryzen™ 5 3500U dan dilengkapi grafis Radeon™ Vega 8.

Takut bakalan muser-muser saat mencari video atau sekadar informasi lainnya? Santai, nggak akan, kecuali jaringan pas jelek, ya. Karena kecepatan onlinenya sampai 867 Mbps. Pun, jangan khawatir kalau keyboard sering dipencet nanti akan cepat rusak! Laptop ini sudah dilengkapi chiclet keyboard yang teruji dengan daya tahan sepuluh ribu kali penekanan.

Jadilah Guru yang Mengenal Siswa Lebih Dalam 


Sudah mau mengenali diri sendiri sebagai guru milenial, itu bagus. Akan lebih baik lagi kalau kita mau mengenali, siapa to anak didik kita?

Generasi Alfa itu cenderung melek teknologi dan media, senang melakukan komunikasi efektif, bahkan bisa dibilang banyak bicara, kritis, senang diberi tantangan atau senang memecahkan masalah, dan berkolaborasi.

Aku sendiri merasa anak zaman Google Kids (sebutan lain untuk Generasi Alfa) tuh rasa ingin tahunya luar biasa banget. Apa saja ditanyakan, disentuh. Pokoknya kalau belum terjawab, dikejar terus.

Nah, seringkali saat laptopku di kelas, kutinggal sebentar ke kantor untuk ambil minum, pasti nanti ada yang laporan,

"Bu Ika, tadi Agung pencet-pencet laptop Bu Ika. Terus laptopnya nyala."

Kutahu, mereka sangat kepo dengan laptopku. Sesekali kupersilakan mereka untuk melihat dan mencoba memencet keypadnya. Hoooo, balasannya adalah senyum lebar mereka. Akan tetapi, namanya juga masih anak-anak, kutetap harus waspada, maka saat kutinggal, laptop harus kumatikan, nanti baru kunyalakan lagi. Jangan ditanya, proses bootingnya lama banget. Keburu waktu istirahat habis.

Berbeda kalau pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA, karena sudah dilengkapi dengan sensor fingerprint yang terletak di bagian atas kanan touchpad. Laptop aman deh. Mau disentuh-sentuh, kalau bukan sidik jari si empunya kan semua data aman. Alias tidak akan terbuka.

Yang menarik lainnya dari touchpad  ASUS VivoBook Ultra A412DA, adalah cukup mengeklik ikon touchpad khusus, keypad akan berubah menjadi Numberpad yang memudahkan kita saat melakukan perhitungan.

Laptop ASUS VivoBook Ultra A412DA ini juga makin recommended karena sudah pre-install dengan Windows 10 asli. Tak ada  lagi yang namanya bajakan. Jadi, nggak heran kalau laptop ini makin aman saat ditinggal karena didukung fitur Windows Hello juga. Tampakin saja wajah kita di depan laptop, secepat kilat, laptop ini akan memindai dan sistem operasinya siap digunakan. Fingerprint OK, Windows Hello pun jalan.

Begini penampakan Windows Halo

Kembali ke soal karakter aak yang baik.

Bukan hanya perkara di atas saja, tahu karakter siswa secara mendalam akan lebih mempermudah kita untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Masing-masing pun punya gaya belajar yang berbeda-beda. Penting banget nih kita perhatikan, bahwa seorang anak tidak bisa dipukul rata dengan teman lainnya.

Aku punya murid namanya Nabiel. Dia itu membacanya sudah lancar banget, sedangkan Ipank, huruf alfabet saja belum hafal. Tidak mungkin dong kalau standar penilaian dan perlakuan belajarnya kusamakan. Inilah gunanya kita kenal  dan paham betul karakter anak didik kita.

Mampu Menciptakan Pembelajaran yang Sesuai Kenyataan




Masih pernah dengar kalau pembelajaran itu harus yang kontekstual atau nyata? Zaman now tidak lagi yang nyata, tapi harus sesuai dengan kenyataan. Bahkan disesuaikan dengan kebutuhan anak di masa yang akan datang.

Sayang saja, masih banyak lho buku pegangan guru yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misal, ketika ada materi macam-macam suara benda di sekitar kita. Di buku ditulis suara HP itu kring kring kring. Padahal, zaman now, apakah masih ada HP yang bunyinya demikian? Kalaupun masih ada, seribu satulah, ya. Jelas, materi ini tidak sesuai dengan kenyataan zaman now.

Benar adanya kalau guru tidak boleh malas untuk selalu mempersiapkan secara matang pembelajaran yang akan dilakukan esok hari. Wong yang dipersiapkan secara matang saja pasti ada yang terlewatkan, apalagi yang tidak. Dijamin bedundukan (tidak sistematis)  deh dan anak-anak banyak yang kurang antusias, bahkan rewel, nangis.

Pernah ada kejadian, aku rebutan LCD sama guru lain. Dari siang hari sebelumnya, aku booking LCD yang hanya dua jumlahnya. E e e, esok hari, saat aku mau pakai, LCD sudah nggak ada di lemari. Ternyata di meja guru kelas 4, rebutan, ya, rebutan, deh. Tapi, akhirnya aku mengalah. Sadar diri karena katanya aku keseringan pakai LCD. *tepok jidat*

Akhirnya, ya, aku harus kerja ekstra. Nggak mungkin dong kalau pembelajaran kuganti dengan yang lainnya, karena aku sudah telanjur janji kepada anak-anak.

Mutar otak, kudesain ulang deh pembelajaran hari itu. Yang harusnya anak-anak tinggal nonton video pembuatan plastisin, kemudian tinggal ngikutin, ya, mau nggak mau harus per kelompok deh maju, kemudian melototin laptopku yang layarnya hanya seuprit, baru kemudian mempraktikkan proses pembuatan plastisin.

Wajar kan kalau aku ingin ganti laptop seperti ASUS VivoBook Ultra A412DA. Soalnya layarnya sudah memakai teknologi NanoEdge, yang luas banget, sampai 14'' dan serasa tak berbingkai. Pokoknya tipis banget, kemudian beratnya juga hanya 1,5 kg.

Guru milenial pasti suka nih yang ringan, tipis, performa kece, terus warnanya yang eye-catching. Kalau misalnya diminta memilih dari keempat warna yang ada, yaitu Slate Grey, Peacock Blue, Transparent Silver, dan Coral Crush, aku pilih yang Coral Crush saja deh. Nohok banget warnanya, ya, sesuai jiwa milenial.

Kubayangkan kalau aku pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA ini di kelas, anak-anak pasti pada heboh penasaran. Tapi, paling nggak kalau pakai laptop yang satu ini, anak-anak lebih puas melihatnya, karena layarnya luas banget. Kemudian, kalau menonton video, suara yang keluar pun mantab. Bass nya lebih jedag-jedug dan tak ada suara bising kayak semut ngamuk. Teknologi ASUS SonicMaster memang tidak bisa diragukan lagi.

Apa kabar dengan baterainya? Jangan-jangan boros kalau dipakai untuk nge-game atau youtube-an?! Oh, tidak, baterai ASUS VivoBook Ultra A412DA ini diklaim awet banget, bisa seharian digunakan, karena baterainya 2 cell 37 Whr. Dari review youtuber Billy Dolmen, laptop ini saat dicas dalam waktu 49 menit sudah terisi 60%. Cepat banget, ya?!


Ajak Siswa untuk Gila Membaca



Aku nggak mau menjelaskan seberapa jeblognya minat membaca orang Indonesia. Aku hanya ingin menjadi bagian dari pejuang literasi di sekolahku.

Kurikulum 2013 ini kurasa bagus untuk saat ini. Sebelum pembelajaran dimulai, siswa diwajibkan melakukan budaya literasi. Seperti, membaca, mendengarkan dongeng, sampai menonton video. Sayang, di sekolahku tidak terlalu gencar budaya ini. Tapi, tidak papa, walau sendiri, aku akan berjuang terus.

Aku tidak akan pernah lelah untuk membacakan buku cerita ke anak-anak, setiap pagi. Seringkali aku mendongeng dengan ide cerita yang otodidak. Alhamdulillah, mereka antusias. Bahkan kalau aku lupa tidak bercerita, mereka yang nagih.

Syukur alhamdulillah, sekarang mudah sekali untuk mencari cerita khusus anak-anak. Tinggal ketikkan 'cerita anak usia 7 tahun', maka akan muncul banyak sekali pilihannya. Enak lagi, ini bisa memudahkan kita, tapi, dengan catatan di kelas ada LCD, tinggal unduh tuh video-video dongeng anak di youtube. Jangan takut jebol memorinya, kalau laptop yang kita pakai itu adalah ASUS VivoBook Ultra A412DA. Karena bisa muat sampai 512 GB (SSD)+ 1TB (HDD). Selain itu slot USBnya juga lengkap. Misalnya ada video di flashdisk, colokin saja, secepat kilat, data akan segera terbaca.

Catatan terpenting sebagai guru milenial adalah sebelum video yang kita unduh itu ditampilkan di depan anak-anak, kita harus menontonnya terlebih dahulu. Kira-kira videonya cocok nggak untuk anak-anak. Saat nonton, selingi dengan nasihat-nasihat.

Ah, sebenarnya menjadi guru milenial tuh enak, kok, ya. Kalau gadget bisa membuat mereka kecanduan, kenapa tidak, kita, guru mereka membuat mereka kecanduan juga? Kecanduan ke sekolah dan bertemu kita maksudnya. Hahaha.

"Ah, jadi guru itu melelahkan. Sering dikomplain keluarga karena tidak ada waktu untuk mereka."

Semua memang kembali ke niat kita, guru milenial. Kalau nurutin capek, ya, capek.  Kita harus dinamis, tapi, juga disiplin. Tugas seperti tidak ada habisnya. Permudah saja pekerjaan kita dengan adanya media yang mumpuni, seperti ASUS VivoBook Ultra A412DA. Laptop ini termasuk murah, ringkas, tipis, pilihan warnanya zaman now banget, performa juga mumpuni, tapi tetap bisa ditenteng ke mana-mana.

Eh, kamu, iya, kamu, nggak tertarik sama ASUS VivoBook Ultra A412DA ini?

Terakhir, pokoknya, kalau sudah nyemplung ke dunia guru, jangan tanggung-tanggung, ya!? Hajaaaaaarrr teruusss! Hai guru milenial, semangat ya! Lelah kita akan terbayar lunas dengan senyum lebar mereka.

Spesifikasi ASUS Vivobook Ultra A412DA
Layar
4.0″ (16:9) LED backlit FHD (1920×1080) 60Hz Anti-Glare Panel
Processor 
AMD Ryzen™ 5 3500U 4 Core 8 Thread Clockspeed hingga 3.7 Ghz
Grafis
Radeon™ Vega 8 Graphics
RAM
4 GB DDR4 2400MHz, Tersedia 1x Slot Upgrade Kapasitas Total 12 GB
Storage
SSD M.2 256 GB
Konektivitas
Combo BT 4.2 + Wi-Fi AC (2×2)
Webcam
HD 720p
I/O 
1 x COMBO audio jack
1 x Type-A USB2.0
1 x Type-A USB 3.1 (Gen 1)
1 x Type-C USB 3.0 (USB 3.1 Gen 1 / Gen 2)
1 x HDMI
Baterai    
2 Cell 37 Whr
OS
Windows 10
Fitur Unggulan
Illuminated chiclet keyboard (optional), Fingerprint, Windows Hello, Fast Charging, Asus SonicMaster.
Dimensi dan Berat
322 x 212 x 19.9 mm (PxLxT)
1.5 Kg Termasuk Baterai



Sumber bacaan:
https://www.asus.com/Laptops/ASUS-VivoBook-14-X412DA
https://jalantikus.com/tips/aplikasi-belajar-online-android/
https://www.koranbernas.id/berita/detail/menjadi-guru-milenial
https://www.nu.or.id/post/read/99445/guru-cerdas-di-era-milenial

Selasa, 06 Agustus 2019

Hai Anak Tunggal, Siapkan Asuransi Kesehatan untuk Kedua Orangtuamu Sedini Mungkin



Sisi yang jarang dipandang orang lain dari seorang anak tunggal adalah tanggungjawabnya merawat kedua orangtua. Bisa dibayangkan, kalau punya saudara 3, satu merawat orangtua, yang satu mengurus tetek bengek keperluan rumah, yang lainnya karena ada kesibukan bisa menopang soal biaya. Semua bisa dikerjakan bersama-sama dengan saudara. Lha kalau anak tunggal?

Anak tunggal menanggung semua sendiri. Seringkali, saat berdoa sama Allah, ingin rasanya kulepas pundakku untuk sementara. Hihi. Tapi, mana bisa?

Saat perasaan ini muncul, kok, Allah gini, ya, sama aku? Stop. Aku nggak mau terus-terusan berburuk sangka sama Allah. Aku adalah orang pilihan. Ya, aku spesial, maka dipilih Allah untuk merawat kedua orangtuaku sendiri. Ingat, ini pahala besar. Kenapa kuharus berkeluh kesah?


Dulu, pas masih awal-awal kuliah, aku ngebet banget punya suami yang kaya raya dengan kekayaan tujuh turunan nggak habi-habis. Hahahaha. Kenapa? Ya, karena aku punya pemikiran biar nanti kedua orangtuaku sudah sepuh, aku tidak kelabakan mencari dana apabila mereka sakit.

Tapi, apa yang terjadi saat ini?

Itu hanya mimpi, Gaes. Hahaha.

Yaaaaah, paling tidak, meskipun tidak kaya raya secara materi, tapi insyaallah suamiku kaya hatinya. Hahahaha. Duit mah tinggal minta sama Allah. Ntar juga dikasih. Bukan, begitu?

Gayaneeeee...

Saat tahu ibuku sakit


Sejak anakku lahir, 3 tahun 10 bulan yang lalu, sebenarnya ibuku sudah mengeluhkan tentang benjolan di payudaranya. Karena masih kecil, kami pun menganggapnya itu bukan kanker. ((Bodohnya))

Setiap kali kuajak untuk periksa, pun ibuku menolak. Katanya sih itu bukan masalah yang besar. Kuturuti saja. Meskipun hatiku tetap ketar-ketir.

Sampai akhirnya, aku lupa awalnya karena apa, BPJS ibu sempat nonaktif karena nunggak pembayarannya hampir dua tahun lebih. Oh, ya, ya, aku pernah berpikir, buat apa bayar BPJS terus setiap bulan tapi tidak pernah dipakai. 

Sampai akhirnya, ibu mulai sering berkeluh kesah tentang benjolannya lagi. Akhirnya kutawarkan untuk periksa lagi dan lagi. Tapi, ya, tetap saja menolak. ((Sabar))

Apa mungkin ibu merasa kasihan kepadaku soal biaya. Sampai sini aku menyesal, kenapa BPJS ibu sampai tak kubayar? Hiks. Penyesalan memang selalu datang belakangan, ya.

Kucari pinjaman sana-sini untuk membayar tunggakan BPJS ibu yang menginjak angka 2 juta lebih. Alhamdulillah, tanpa berhutang, Allah kasih rezeki yang tidak terduga. Niat yang baik ternyata memang dipermudah sama Allah. BPJS ibu pun aktif kembali.

Benjolan di payudara ibu makin membesar, sekitar sejempol, ibu makin kalang kabut. Kubawa deh periksa ke dokter keluarga. Di sana, kami diberi rujukan untuk segera ke dokter bedah. Sampai rumah ibuku langsung menangis. Beliau nggak siap kalau harus dibedah, terlebih lagi kalau periksa di rumah sakit besar antrenya puanjaaaaaaaang.

"Kalau periksa ke rumah sakit pakai BPJS, kamu apa nggak ingat, Bulekmu yang awalnya sakit nggak terlalu parah, antre dari subuh, jam 12 baru kepegang sama dokter, pulang-pulang bukan malah sembuh, eh, malah.... Tadi periksa ke dokter keluarga saja antrenya kaya gitu (1,5 jam antre)." terang ibuku.

Iya, sih, memang demikian adanya. Tapi, ya, tidak kemudian seutuhnya menyalahkan pelayanan rumah sakit dan adanya BPJS. Toh, banyak juga yang sangat terbantu dengan adanya BPJS.

Asuransi Kesehatan yang lain

Aku jadi teringat obrolan dengan guru SMAku saat berkunjung ke rumahnya, lebaran dua tahun yang lalu.

"Asuransi kesehatan ini ada yang mulai 50 ribu per bulan, ya, ada, Mbak. Pokoknya menyesuaikan dengan kebutuhan kita lah. Kalau pakai ini tuh ya nggak pakai antre panjang pas mau periksa. Enaklah pokoknya."

Itulah sekelumit ucapan Pak Kirno, guru SMA-ku. Nah, karena penasaran, pun aku lupa asuransi apa yang beliau ceritakan, semalam aku coba browsing tentang cara memilih asuransi kesehatan di internet sebelum menentukan mau pakai asuransi apa.

Ternyata ada hal terperinci yang harus kita perhatikan betul-betul ketika hendak memilih suatu asuransi. Apa sajakah itu?

  1. Pilih asuransi kesehatan dengan premi yang sesuai kantong kita.
  2. Pastikan perlindungan apa saja yang diberikan oleh asuransi kesehatan. Apakah menanggung biaya rawat inap, rawat jalan, kesehatan gigi, kehamilan, kesehatan mata, dll. Itupun berlalu berapa lama harus dipastikan betul.
  3. Apabila kita diberikan kesehatan terus, alhamdulillah, apakah premi kita akan kembali walau hanya berapa persen? Kalau BPJS kan jelas tidak akan kembali. Pastikan, asuransi kesehatan kita memberikan pernyataan jelas mengenai pengembalian premi ini. Pengennya, ya, sehat selalu, ya, aamiin.
  4. Apakah asuransi kesehatan yang kita pilih menanggung biaya pengobatan di luar negeri? Sekarang kan lagi ngetrend banget, ya berobat ke luar negeri. Ah, namanya juga berobat, kalau ada dananya, ke mana pun dijangkau asal bisa sembuh.
  5. Apakah prosesnya mudah dan cepat? Misalnya pembayarannya, mau nambah anggota keluarga baru, proses pengambilan klaimnya berbelit-belit, tidak. Ini bisa tanya-tanya ke pengguna asuransi kesehatan yang sudah lebih dulu memakainya. Bisa juga dengan membaca testimoni dari konsumen di web penyedia asuransi kesehatan tersebut.
  6. Pastikan jaringan rumah sakit yang menerima asuransi kesehatan kita ada di mana-mana. Lebih utama, tentunya ada di sekitar kita.
  7.  Dapatkah keuntungan tambahan, mialnya bonus cek kanker, dialisis, kematian, dsb?
***


Alhamdulillah, insyaallah, kini, keadaan ibuku lebih baik dari sebelumnya. Namanya orang berobat itu memang harus sabar. Sabar sekabehane (seluruhnya). Yang sakit, ya, sabar, apalagi yang merawat.

Sungguh, aku berpesan kepada anak tunggal di luar sana, kalau saat ini belum ada asuransi kesehatan untuk orangtua, yuk, segera buat agar hidup kita sedikit bisa bernapas lega lah. Walaupun kita minta doa sama Allah, ya, semoga selalu diberikan kesehatan. Biaya rumah sakit tuh naik muluuuuuu. Padahal gaji kita nggak naik-naik. Kalaupun naik, ya, nggak seberapa. ((Curhat))

Benar nasihat lama itu, lebih baik mencegah daripada mengobati dan lebih baik sedia payung sebelum hujan. Percayalah, insyaallah, kalau niat kita baik, Allah akan memudahkan rezeki kita.  Nanti ada saja jalan untuk membayar asuransi kesehatan mereka. Apalagi ini untuk kedua orangtua.



Kamu, anak tunggal yang di luar sana, mari kita saling menguatkan. Hidup ini memang berat. Tapi, kamu, aku, kita nggak sendiri. Semangat berjuang merawat kedua orangtua, insyaallah, surgaNya di depan mata. Aamiin.

Selasa, 30 Juli 2019

Cari Obat Tetes Mata Kering? Ya, Insto Dry Eyes



Cari Obat Tetes Mata Kering? Ya, Insto Dry Eyes– Pagi itu, kudengar suamiku teriak-teriak di dapur. Ada apa gerangan?

“Asapnya Ya Allah, membuat mata sepet."

Aku yang masih ogah-ogahan bangun, terpaksa melompat dari kasur untuk membungkam mulut suamiku.

Duh.
Liburan hari pertamaku jadi kacau. Niat hati mau sesekali bangun siang, pas berhalangan juga, malah bubar jalan. Koki baru yang menawarkan diri untuk menggantikan tugasku di dapur malah mengamuk.

“Sudah, sudah, abi keluar! Ummi saja yang masak.”

“Ya nggak gitu, Mi, asapnya ini lho. Mak Lim tuh keterlaluan kok.” jawab suamiku, masih dengan sewot.

Akhirnya abi keluar dari dapur.

"Pintunya ditutup agar asapnya nggak masuk!" teriakku.


Nikmati saja seni bertetangga 



Seninya bertetangga tuh lucu ya? Ada-ada saja.

Kejadian pagi itu, semua tuh bermula karena "dapur".

Kebetulan, dapurku dengan dapur tetangga (selanjutnya kupanggil Mak Lim) itu berhadapan. Nah, Mak Lim ini setiap harinya memasak dengan tungku kayu. Imbasnya? Jelas, asap tebalnya selalu menyambangi dapurku.

Aku sudah pernah menegurnya. Tapi, untuk perkara lain. Yaitu, letak kandang hewan ternaknya yang tepat di sebelah dapurku sih. Hasilnya? Zonk.

Bayangkan saja, siapa yang nggak jengkel, kalau musim kemarau gini mah tidak terlalu ngefek ya, kalau musim penghujan, duh Ya Allah, bau kotoran ternaknya itu lho, bisa bikin pingsan. Dah gitu kalau malam, suaminya selalu membuat genen (api unggun). Asapnya ke mana? Ya masuk dapurku lagi. 

Teguranku nggak ngefek, gantian bapakku yang naik pitam. Saat ditegur bapakku, apa jawabnya?

"Apa iya? Aku tidak merasa bau."

Bapakku menimpali, "Lha hidungmu setiap hari ketutup tai ayam! Makanya sudah kebal. Dinding dapurku bolong-bolong, juga bukan ayammu yang notoli (mematuk-matuk)?!"

Percuma. Amarah kami tidak ada hasilnya.

Akhirnya, kami mengalah.

Dinding dapurku yang terbuat dari kayu itu ditambal abi dengan bahan asbes. Silakan deh kalau mau dipatuk-patuk. Biar paruh ayamnya jontor sekalian. *sisi jahat keluar*

Siapa sih yang tidak ingin memiliki lingkungan yang sehat? Masalah kandang ternak belum kelar. Ditambah masalah asap tungku kayu. Tapi, ya balik lagi, inilah seni bertetangga. Yang waras, mengalah. Hahaha. Katanya begitu, bukan?

Usai teguran itu, semua berjalan seperti layaknya tidak ada apa-apa. Mak Lim juga masih selalu main ke rumahku. Ya, seperti tidak pernah ada perang di antara kami.

Hadeh. Kenapa malah ngelantur nih ceritanya? *tarik napas dulu*

Tak perlu menambah masalah orang




Terus, bagaimana dengan perkara asap di setiap kali Mak Lim memasak?

Saat bercanda ria di teras rumahku, aku iseng menyinggung perkara asap itu.

Apa jawabnya?

"Lha mau gimana lagi to, Ka? Mau pakai gas saja nggak jalan. Modal jualanku nggak kembali. Punya kayu banyak, ya, kumanfaatkan. Itung-itung ada sisa uang bisa beli gula dan teh untuk Mbah Tinah."

Aduh, mak nyes hatiku. Kalimat terakhirnya itu lho, seketika bikin aku ngaca.

Kalau boleh jujur, aku tuh jengkeeeeeeeel banget nget nget. Tapi, balik lagi, mendengar alasannya di atas, membuatku harus banyak bersyukur. Kenapa alasan itu tidak terpikirkan olehku?

Sudah ada 3 tahun lebih, beliau dititipkan amanah merawat ibunya yang sudah jompo, Mbah Tinah namanya. Ditambah lagi menghidupi kedua anaknya yang masih kecil-kecil, usia sekolah. Usahanya bersama suami berkali-kali gulung tikar yang menyebabkan hutangnya menumpuk di mana-mana.

Keadaan rumahnya pun memprihatinkan. Kalau rumah-rumah saat ini umumnya sudah berlantai keramik, rumahnya masih beralasakan tanah. Saat hujan besar datang, atapnya sering melayang terbawa angin. Kasihan banget.

Belum lagi keadaan Mbah Tinah yang mulai pikun dan matanya yang tidak bisa melihat. Setiap hari kudengar teriakan-teriakan Mbah Tinah minta minum dan sarapan. Padahal sarapan sudah disajikan  di sampingnya dan disampaikan oleh Mak Lim sendiri lho. Kalau tidak ada sahutan dari Mak Lim, Mbah Tinah meracau tidak jelas. Kemudian Mak Lim marah-marah. Kalau nggak gitu, Mbah Tinah sering menghilang juga. Pas dicari-cari sudah sampai di depan rumah orang. Mak Lim, di mana dirimu membeli sabar yang melimpah itu?

Melihat gelagat Mak Lim sehari-hari, sebenarnya dia tampak sungkan dengan keluargaku. Kuyakin dia juga nggak mau kalau setiap hari merasakan dampak dari asap tungku kayunya. Selain harus mondar-mandir memastikan kayunya terbakar sempurna, asapnya yang keluar pasti sangat menyiksa matanya. Tapi, mau bagaimana lagi? Semua serba kepepet.

Memang nggak enak banget kalau pas masak, sudah kena asap dari kompor dan masakanku sendiri, eh, ditambah kena asap dari tungku kayu milik Mak Lim. Alhasil, mata sepet, pegel, dan perih tidak bisa terhindarkan. Ujung-ujungnya mata kering.

Ah, sudahlah, bukankah keluargaku memang lebih, lebih, dan lebih beruntung dari keluarganya? Makanya, tak tega rasanya kalau aku harus mengeluhkan soal asap yang masuk ke dapurku, lagi dan lagi. Sudah banyak masalah yang harus dihadapi oleh Mak Lim. Kiranya soal asap ini tidak perlu aku besar-besarkan. Kalau sampai itu kulakukan, bukan meringankan beban, malah mau menambah masalahnya saja. Aku tidak mau.

Mencari solusi tanpa menambah masalahnya



Kucari celah, bagaimana caranya agar aku tetap bisa memasak tanpa merasa mata kering? Sejauh ini, berikut yang kulakukan.

1. Aku bangun dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB. Karena semua bahan masakan sudah kusiapkan di kulkas pada malamnya, jadi bisa langsung plung plung. Kelar. Saat aku sudah selesai memasak, Mak Lim baru bangun tidur. Mata kering bisa kuhindari.

Baca juga: KALAU BISA TIDUR LEBIH AWAL DAN BANGUN LEBIH PAGI, KENAPA HARUS BEGADANG?

2. Tutup pintu tengah. Sudah bangun dan memasak dini hari, tetap saja asap dari tungku kayu Mak Lim bisa masuk bagian utama rumah. Otomatis, pintu penghubung antara dapur dengan ruang lainnya langsung kututup rapat. Alhamdulillah, asap yang masuk tidak terlalu tebal. Mata kering bisa kuhindari lagi.

3. Pakai Insto Dry Eyes. Sudah prepare dengan baik, namanya orang kan kadang ada apesnya, seperti kejadian di awal tulisan ini. Kalau terpaksa harus masak sambil berperang dengan asap yang tebal, ya, selesai masak langsung tutup pintu dan teteskan Insto Dry Eyes ke mata. Agar mata tidak sepet, pegel, dan terasa perih.

Kenapa mata kering harus dihindari? Yuk, pakai Insto Dry Eyes!



Menyiksa.

Apalagi untukku yang berkacamata. Sekalinya mata kering, ujung-ujungnya kalau tidak segera kuatasi, akan membuatku pusing sepanjang hari. Rasanya tuh nyunteng, pening yang banget banget, di bagian dahi tepat di antara kedua mataku. Kalau sudah kayak gitu, mau ngapa-ngapain jadi males banget. Kepala terasa berat. Andai, kepala bisa dilepas. Hihi.

Mata kering buatku nggak produktif.

Dari baca-baca artikel di alodokter.com, baru kupahami kalau mata kering itu adalah keadaan saat mata kita kurang pelumas air mata. Hubungannya apa dengan mata yang terasa sepet, pegel, perih, dan lama-kelamaan mata lelah?

Gini gini, udara di sekitar kita kan kotor. Apalagi kalau kena asap tungku kayu. Nah, debu atau benda asingnya otomatis ada yang masuk ke mata kita. Karena kurang pelumas (air mata), debu tidak bisa hilang. Ngganjel, kan?

Bagaimana agar mata tetap lancar menghasilkan pelumas air mata? Secara normalnya, mata kita akan menghasilkan pelumas air mata setiap kali kita berkedip. Air mata itu sendiri tersusun dari bahan-bahan penting (senyawa campuran dari lemak, air, lendir, serta lebih dari 1500 protein) yang bisa membuat permukan mata tetap halus dan melindungi dari hal-hal yang mengganggu.

Bukankah fungsi air mata sangatlah penting?

Ah, aku jadi membayangkan saat mataku diserang asap dari tungku kayu Mak Lim, set set set. Asap sebagai benda asing masuk dalam mataku bak peluru yang memborbardir tiada henti. Seketika mataku tertutup, tak berkedip sedikitpun karena terasa begitu periiiiihh.

Sebelum aku menemukan Insto Dry Eyes, saat menghadapi situasi seperti di atas, aku langsung ke kamar mandi. Ngapain lagi kalau tidak membasuh mukaku dengan harapan mataku tidak perih lagi. Akan tetapi, apa yang terjadi? Malah makin perih, kukucek-kucek, dan lama kelamaan mataku malah merah, tampak seperti mata lelah.

Menyedihkan.

Dulu, itu dulu.

Sekarang, kalau mata sepet, pegel, dan perih, wah, ini tanda-tanda mata kering nih, langsung deh pakai Insto Dry Eyes yang sengaja kusimpan di lemari P3K. Kenapa memilih Insto Dry Eyes?

  • Merek ini paling legendaris di keluargaku. Dari dulu kalau ada masalah mata, ya, pakai merek yang satu ini.
  • Halal dan sudah terdaftar di BPOM (nomor tertera di kardus kemasan)
  • Bisa dibeli di warung dekat rumah, apotek, minimarket, supermarket, sampai online shop dengan kisaran harga mulai Rp 13.000 - Rp16.600/ botol isi 7,5mL.
  • Setiap mL mengandung Hydroxypropyl methylcellulose 3,0 mg. Benzalkonium chloride 0,1  mg. Aku memang tidak paham betul arti kandungan tersebut. Tapi, setelah memakai tetes mata ini, mak cessssss, adem banget. Pun, tidak muncul rasa pahit di tenggorokan.
  • Penggunaannya sangat mudah, tinggal teteskan ke mata sebanyak 1-2 tetes atau sesuai anjuran dokter. Tapi, karena termasuk obat keras, penggunaan dalam angka panjang dan berlebihan akan merusak selaput mata. Ya, sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, kan?
  • Bentuk mungil membuat obat tetes dengan tutup botol ulir warna biru ini mudah dibawa ke mana saja. Saranku, kalau bisa kemasan atau kardusnya jangan sampai hilang. Karena terlalu mungil, kadang malah susah mencarinya saat berada di antara obat-obat lain. Hihihi.
  • Dipercaya oleh warga dan banyak menerima penghargaan tingkat nasional. Terbaru, Insto mendapat penghargaan Indonesia WOW Brand 2019 yang diselenggarakan oleh Mark Plus Insight.

Banyak alasan untuk memilih Insto, terutama Insto Dry Eyes untuk mengatasi mata kering kamu, bukan?


Kegiatan lain yang juga menyebabkan mata kering



Tiga gejala yang sering jadi tanda-tanda mata kering adalah saat mata sudah mulai terasa sepet (melekat, berasa nempel susah terbuka), pegel, dan perih (seperti ada yang mengganjal). Gejala-gejala itu tidak bisa dihindari karena memang setiap harinya kita selalu beraktivitas baik di dalam maupun di luar ruangan.

Nah, berikut beberapa kegiatan yang kulakukan dan mau tidak mau gejala mata kering akan selalu menghampiri. Tentunya ini selain kegiatan memasakku yang terkena asap dari tungku kayu tetangga ya. Apa saja itu?

1. Jalan kaki di pagi hari
Setiap pagi, kuusahakn untuk berolahraga ringan, yaitu jalan kaki ke arah sawah. Tapi eh tapi, meskipun hidup di desa tidak kemudian menjamin udara paginya bersih. Kalau sudah kelewat pukul 06.00 pagi, hooooo, kendaraannya mulai ramai banget.

Kalau mau dapat udara segar dan bersih, kemudian mata nggak sepet karenanya, ya, selesai jamaah salat subuh langsung cus jalan pagi. Sehat iya, mata sepet karena asap? No no no.


2. Pakai kipas angin
Punya anak yang nggak bisa lepas dari kipas angin tuh bikin eerrrr... Akhir-akhir ini kalau dini hari kan dingin banget ya. Pas kipas dimatiin, dia pasti tahu. Akhirnya, hingga pagi hari kipas angin tetap nyala. Bangun tidur dijamin mataku sering terasa perih. Padahal mata merem lho.

Sama halnya oas siang hari, lagi panas-panasnya, pakai kipas angin lagi. Mata perih tidak mungkin bisa dihindari. Ini hampir sama dengan penggunaan hair dryer. Panas dari udara yang dihasilkan bisa membuat mata kering.

Pokoknya, sebisa mungkin mengurangi penggunaan kipas angin jadi pilihanku agar terhindar dari gejala mata kering.

3. Kelamaan main HP dan di depan layar komputer
Dalam sehari, berapa jam yang kamu habiskan untuk mantengin HP? Sejam jauh dari HP bisa, nggak?

Kalau tidak bisa, ya, siap-siap saja mata jadi pegel dan lelah karena terpapar sinar UV. Jangan lupa berkedip ya, agar pelumas air mata tetap dihasilkan dengan baik oleh mata. Mentang-mentang lagi asyik, sampai lupa tak berkedip. Jangan!

4. Terlalu lama menyetir
Ini nih penyakitku banget. Atau mungkin memang penyakitnya semua orang yang berkacamata?

Spaneng, tegang, berkutat dengan jalanan yang ramai, apalagi macet, mata jadi cepat lelah. Paling mentok aku berani nyetir selama 2 jam saja. Selebihnya, mending naik kendaraan umum atau minta diantar suami. Karena kalau nggak gitu, ujung-ujungnya, ya, dahi bagian tengah, di antara mata pasti akan sakit. Pusingnya bakal nggak ketulungan sampai seharian.

5. Membaca buku dan Alquran
Sehari minimal membaca buku berapa lembar? Atau punya waktu khusus untuk membaca Alquran?

Selepas salat maghrib atau isya, kuusahakan untuk membaca Alquran walau tidak sampai berpuluh-puluh lembar. Namanya membaca, pasti kan dipelototin, ya, hurufnya. Nah, agar mata lelah terhindari, kuusahakan untuk membacanya di ruang yang terang, dalam posisi duduk, dan menggunakan Alquran yang berbentuk besar.

6. Berada di ruangan ber-AC
Satu hal selain sering pengen pipis saat ikut seminar di ruang ber-AC, aku sering merasa mata cepat perih. Apalagi kalau narasumbernya menyampaikan materi lebih dari 2 jam dan peserta banyak kemudian aku duduk di tengah-tengah. Ya sudah, dijamin mata nggak nyaman banget.

Kalau bisa datang lebih awal, aku akan lebih memilih duduk di depan. Kenapa? Ya, biar tidak kesulitan saat memperhatikan narasumber atau materi yang disampaikan. Lagi-lagi ini perkara orang yang punya minus dan berkacamata.

7. Binge watching, menonton film berturut-turut
Halo pecinta drama korea, mana suaranya? Cung! *aku ikutan cung*

Salah satu cara termudah, termurah, dan tercepat yang bisa kulakukan untuk menghadiahi diri sendiri setelah melakukan hal-hal (yang menurutku) besar, adalah dengan menonton drama korea. Kalau kamu apa?

Alhamdulillah, itu berhasil banget untuk mengembalikan semangatku kembali setelah berjuang. Jeleknya, kalau sudah telanjur memilih satu judul, eh, kok ada beberapa episode, bahkan sampai 32, pengennya diselesaikan dalam satu duduk. Kalau nggak disiplin pada diri sendiri, akhirnya sampai lupa tidur, malah asyik nonton terus. Takut ganggu penghuni rumah yang lain, akhirnya lampu dimatikan semua. Yes, nonton dalam keadaan gelap gulita.

Lengkap, nggak bakal deh kalau mata nggak sepet, pegel, dan perih. Mata kering bakalan nemplok. Duh duh duh.

8. Kurang minum air
Setiap orang memiliki kebutuhan air yang berbeda-beda. Hal itu dipengaruhi oleh tempat tinggal, aktivitas sehari-hari, dan kesehatannya. Beruntungnya diriku, karena aku tipe orang yang hobi banget minum air putih. Insyaallah dalam sehari, 1,5 liter air terpenuhi.

Apa hubungan air yang kita konsumsi dengan mata kering? Jelas ada hubungan erat diantaranya. Kalau kebutuhan air tercukupi, maka tubuh akan bekerja dengan baik. Bukankah, mata kita selalu membutuhkan air mata juga agar tidak kering?

Institute of Medicine menyarankan pria untuk mengonsumsi 3 liter (13 gelas), sedangkan perempuan sebaiknya mengonsumsi 2,2 liter (sekitar 9 gelas) dari jumlah minuman setiap harinya. Karena 4 gelas air putih yang dikonsumsi setiap harinya, akan berkurang melalui proses pernafasan, keringat dan pergerakan usus. Bagaimana dengan organ dan proses lainnya? Kalau 9 gelas itu tidak tercukupi?

Nah, bukankah sangat penting kalau kita memperhatikan jumlah konsumsi air dalam sehari?

9. Kurang istirahat
Kamu pasti setuju kalau yang namanya begadang itu nggak enak banget. Tapi, mau bagaimana lagi kalau ada tugas atau deadline lomba yang harus diselesaikan?

Kamu yang hobi begadang, duh, duh, yuk, dikurangi! Boleh sesekali. Kalau setiap hari, remuk redam badanmu. Selain itu, yang paling terasa banget kalau habis begadang adalah saat bangun tidur, mata sepet banget. Iya, kan? Bukannya pagi makin semangat, eh, mata sepet jadi ganggu produktivitas kita.

Aku sendiri punya trik, kalau malam hendak lembur, kusempatkan tidur siang walau sejenak. Yaaaah, biar nggak kaget-kaget banget lah. Soalnya kan kalau pagi aku harus ngadepin anak-anak di sekolah. Nggak banget dong kalau gara-gara lembur jadi ogah-ogahan ngajar.


Berbagi Insto, berbagi dunia untuk mereka



facebook.com/asiancrush.tv


Sudah nonton video yang diadaptasi dari kisah nyata di atas?

Kalau ngomongin soal ibu tuh nggak akan pernah ada habisnya, ya. Aku yang kini berstatus sebagai ibu pun rasanya pengen mewek menonton perjuangan dari Ibu Zhang Yulian. Beliau rela keluar dari desa untuk pertama kalinya, menyeberangi sungai, naik turun gunung sejauh 28 km, berganti bus sebanyak 3 kali, menghabiskan waktu selama 36 jam di dalam bus, belum lagi saat sampai di kota, dengan mata yang katarak bahkan hampir buta seluruhnya, beliau tetap ingin bertemu dengan anaknya untuk membuatkannya sup ayam.

Selesai melihat video tersebut, bayang-bayang perempuan hebat di sekitarku datang silih berganti. Salah satunya adalah Mak Lim yang berjuang merawat ibunya yang jompo, pun buta karena katarak.

Aku memang belum bisa membantu Mak Lim. Bahkan aku malah pernah menambah masalah untuknya berkaitan dengan kandang ayam dan asap tungku kayu. Tapi, paling tidak, aku ingin sekali berbagi walau sedikit.


Aku ingin memberikan Insto Dry Eyes kepada Mak Lim karena setiap hari matanya akan sering terpapar asap dari tungku kayunya. Iya, memang obat tetes mata ini tidak bisa dipakai secara terus menerus. Tapi, paling tidak, saat mata kering menghampirinya, sudah ada Insto Dry Eyes yang tersedia di rumah.

Sayang saja, jika sampai mata kering selalu mengganggunya. Padahal ada banyak hal yang harus dilakukannya, setiap hari. Apa kabar anak-anaknya yang masih kecil kalau sampai ibunya tidak bisa produktif? Apa kabar Mbah Tinah kalau sampai mata Mak Lim juga terganggu karena mata kering?

Terima kasih Insto Dry Eyes, sudah hadir di tengah-tengah kami.

Berikut ada video reviewku tentang Insto Dry Eyes, semoga bermanfaat, ya. Kalau kamu mengalami mata kering, ingat Insto Dry Eyes!






Sumber bacaan:
https://www.alodokter.com/mata-kering
https://parenting.orami.co.id/magazine/seberapa-banyak-kita-harus-minum-air-putih-dalam-sehari-cari-tahu-perhitungannya

Cerita ini ditayangkan sudah mendapat persetujuan dari Mak Lim dan keluarga.

Rabu, 24 Juli 2019

Pengalaman Pertama Kali ke Solo Makin Berkesan Karena Prive Uri-cran


Pengalaman Pertama Kali ke Solo Makin Berkesan Karena Prive Uri-cran - Pas dapat ajakan dari Mbak Ika Puspita untuk menghadiri #womenscommunity area #jogjasolo bersama #combiphar tanggal 14 Juli 2019 lalu, hoooo tanpa pikir panjang, langsung ku-iyakan.

Karena, satu, aku butuh piknik. Liburan sekolah sudah mau kelar, tapi, aku belum ke mana-mana. Pengen dong me-recharge pikiran. Biar ntar kalau sudah masuk sekolah, pikiranku jadi fresh. Siap tempur sama anak-anak di lingkungan sekolah yang baru.

Dua, sejak awal kuliah, aku ingin menghirup udara Solo, tapi, belum kesampaian. Pengen honeymoon, eh, keburu masuk kerja, kemudian hamil. Ini ada kesempatan, kenapa tidak kuambil?

Ketiga, materi talkshow yang disampaikan narasumber dekat sekali denganku, perempuan, yaitu tentang anyang-anyangan. Bukankah ini paket komplit? Maka, bismillah, aku harus berangkat ke Solo.


Eits, tunggu dulu! Rasanya kalau apa-apa yang kualami kok mulus banget jalannya itu bakalan nggak seru. Makanya, tak heran kalau masalah datang ustru sehari tepat sebelum keberangkatanku.

Pertanyaan ini baru muncul dalam benakku, tuing, besok pagi, aku ke Solo naik apa? Bus? Kalau naik motor nggak mungkin lah. Bisa-bisa nggeblak di jalan.

Bwahahaha.

Kenapa dari kemarin nggak dipikirin juga?

Dodolnya diriku.

"Naik kereta saja, Say", begitu usul temanku.

Oh iya, ya, kereta. Tentu, ongkos lebih murah dan waktu tempuhnya nggak lama.

Buru-buru kucari info kereta dari rute Semarang-Solo via aplikasiTraveloka. Ternyata zonk, sudah nggak ada yang kosong. Bahkan kereta Kalijaga yang paling murah meriah itupun hanya melayani rute ke Solo di atas pukul 09.00 WIB. Ya, nggak mungkin lah aku naik ini. Wong acaranya pukul 09.00 WIB.

Blaik.

Yo wis, akhirnya, mau tidak mau, aku naik bus ke Purwodadi, kemudian naik bus lagi yang ke Solo. Malam hari sebelum keberangkatanku, kusiapkan apa-apa yang harus kubawa. Kuusahakan barang bawaanku tidak terlalu banyak.

Diantaranya,
1. Dompet
2. Buku jurnal + bolpoin
3. Botol minuman
4. Pouch kosmetik
5. Baju ganti sesuai dresscode
6. Jaket

Semua kumasukkan ke tas ransel, biar mudah dipeluk saat di bus. Maklum, aku ini kalau sudah naik bus langsung tidur. Jadi, kuusahakan tidak bawa banyak barang.

Solo, Aku Datang


Sumber: solo.tribunnews.com

Pukul 06.00 WIB, aku sudah nongkrong di pertigaan dekat rumahku. Sebenarnya jadwal tersebut molor dari waktu yang kutetapkan semula. Itu tuh anak lanang sempat ngambek saat hendak kutinggal. Padahal malam-malam sebelumnya sudah kusounding kalau aku akan pergi seharian. Maklum, kelamaaan libur sekolah, jadi mbok-mbok-en.

Lima belas menit kemudian, aku baru dapat bus menuju terminal Purwodadi. Setelah membayar ongkos sebesar 10 ribu (per 36 km), akupun tidur. Bwahahaha.

Saat aku terbangun, bus sudah mendekati pintu masuk terminal. Karena cuaca dingin, ehm, hasrat ingin pipisku muncul. Tapi, apa yang terjadi setelah turun dari bus?

Saat kuarahkan kaki menuju toilet umum, ada kondektur bus yang teriak-teriak, "Solo berangkat Solo berangkat Solo berangkat."

Kulihat semua penumpang yang punya tujuan sama sepertiku mengejar bus Solo itu. Reflek, aku kok ya ikutan mengejar bus tersebut. Aku lupa keinginan pipisku.

Duh duh duh, ternyata aku latah, ya.

Apakah aku menahan pipisku sampai di Solo?

Iya, Saudara.

Hahaha. Nggak tahu kenapa, pagi itu rasanya aku ngantuk berat. Sepanjang perjalanan Purwodadi-Solo, yang memakan waktu sampai 1,5 jam, kuhabiskan untuk tidur. Hahaha. Entahlah, apa kabar dengan hasrat pipisku? Yang pasti, saat memasuki kota Solo, rasa pipisku tak tertahankan lagi. Tapi, lihat jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul 09.05 WIB. Telat telat telaaaaaaaatttt.

Nggak peduli, setelah bus masuk di Terminal Tirtonadi, Solo, aku langsung mencari toilet. Sesekali kuberdecak kagum, terminalnya keren, ya, kayak bandara. Tempatnya bersih dan ada papan petunjuk di mana-mana.

Setelah selesai pipis, kupandangi wajahku di cermin, Ya Allah, muka bantal banget. Lha tidur mulu di bus. Hahaha.

Sempat terbesit untuk ganti baju sekalian, tapi, nanti mau naik ojek online, kalau pakai rok malah ribet. Akhirnya, cus deh, dengan bantuan petugas toilet terminal dan warga sekitar, aku sukses dijemput-antar babang ojek online dengan selamat. Perjalananku di Solo kali ini terbantu banget dengan adanya ojek online.

Apakah aku sampai di Hotel Harris dengan selamat? Jelas. Tapi, nyasar dulu. Hahaha.

Kok bisa?

Lha iya, abang ojek online salah nurunin aku. Hahaha. Aku diturunin di lobi hotel sebelah. Untung saja, orang Solo ramah-ramah. Nggak salah deh aku kelayapan sendirian ke Solo.

Sampai di lobi Hotel Harris, aku langsung mencari toilet. Bukan untuk pipis lagi, melainkan ganti kostum.

Tepat pukul 09.30 WIB, aku masuk ke ruangan. Sudah banyak yang hadir di sana. Nuansa merah marun memenuhi mataku.

Ngobrolin Anyang-anyangan dengan Suasana yang Menyenangkan



Tepat pukul 10.00 WIB, Mas Puja Praditya, sebagai MC memulai acara yang mengusung tema "Aktif dan Percaya  Diri dengan Memelihara Saluran Kemih" ini. Namun, sebelum itu, MC menyapa anak-anak yang sedang asyik mewarnai gambar bertema buah cranberry di meja bagian belakang.

Yes, di acara ini, anak-anak boleh ikutan, pun merasa senang, sedangkan emak-emak siap memahami ilmu tentang anyang-anyangan. Eits, tidak hanya emak-emak saja lho yang hadir di acara ini. Bapak-bapak juga ikutan belajar tentang anyang-anyangan.


Sembari menikmati kudapan, narasumber pertama, ada Bu Dyah Parikoening, selaku Head of Brand Activation Combiphar, yang menyapa peserta dengan sangat hangat. Pertanyaan pertama yang beliau sampaikan dan membuk tabir kenyataan adalah, "Siapa yang pernah anyang-anyangan?"

Jawabannya? Hampir semua peserta mengangkat tangannya. Ini sudah jadi fakta kalau anyang-anyangan itu memang bisa menyerang siapa saja.

Sebelum ke acara inti, cieeehhh, kayak pembelajaran aja, hihihi, MC mengajak peserta untuk memilih salah satu bentuk bangun datar yang akan mencerminkan kepribadian kami. Kamu, misalnya diminta untuk memilih antara lingkaran, persegi, segitiga, dan zigzag, akan memilih apa? Temukan jawabannya di bawah ini, sesuaikah dengan kepribadianmu?

Montage dibuat Bloggif
Tunggu beberapa saat

Setelah seseruan dengan bentuk gambar kepribadian, narasumber yang kedua, yaitu dr. Erwin Gunawan, SpOG, langsung siap untuk berbagi. Sejak tahun 2004 sampai sekarang, beliau bertugas di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Siapa nih yang langganan ke beliau?


Secara gamblang dr. Erwin dan sesekali diselingi dengan canda ringan, menjelaskan bahwa anyang-anyangan itu bisa mengakibatkan gagal ginjal sampai kematian bayi saat dilahirkan. Kalau bisa dicegah, kenapa tidak? Beliau juga menerangkan betapa mahalnya perawatan gagal ginjal. Per hari di ruang ICU bisa sejuta. Kenapa tidak kita cegah anyang-anyangan dengan cara yang sebenarnya mudah? Diantaranya dengan menjaga pola makan, rajin olah raga, dan mencuci tangan dengan baik dan benar.

Oke, mudah caranya, tapi istiqomahnya itu lhoooo yang sulit.


Kemudian ada juga Kakak Michaela Talitha, Brand Manager Combiphar, yang menawarkan solusi paling enak untuk mengatasi anyang-anyangan. Apa itu? Akan aku ulas secara lebih mudah dan terperinci tentang apa yang disampaikan oleh ketiga narasumber dan  beberapa info yang kudapat dalam keseharian sebagai berikut.

Anyang-anyangan, Prive Uri-cran yang Manis, Asam, Segar, dan Enak

Anyang-anyangan adalah keadaan saat kita ingin pipis terus menerus, apalagi dalam jumlah sedikit. Apabila saat pipis disertai dengan rasa nyeri, itu akan disebut dengan ISK (Infeksi Saluran Kemih). Jadi, gampangnya tuh gini, kalau ISK pasti anyang-anyangan. Tapi, kalau anyang-anyangan belum tentu ISK.

Nah, di dalam keseharianku, banyak sekali mitos yang beredar tentang anyang-anyangan. Akan aku tuliskan poin demi poin kemudian kulanjutkan dengan apa yang kuterima saat mengikuti talkshow di Solo kemarin ya.

Mitos tentang anyang-anyangan:

  1. Saat anyang-anyangan melanda, ikatlah jempol kaki dengan karet gelang/benang/rafia/batang padi. Dijamin akan mereda.
  2. Hanya terjadi pada perempuan.
  3. Agar anyang-anyangan cepat sembuh, minumlah air putih sebanyak-banyaknya.
  4. Saat cuaca dingin, jangan minum air putih banyak-banyak, nanti anyang-anyangan.
  5. Anyang-anyangan itu lumrah terjadi. Hal biasa.

Fakta:
  1. Tidak ada kaitan antara ikat jempol dengan anyang-anyangan.
  2. Semua orang bisa mengalami anyang-anyangan, baik perempuan, laki-laki, dan anak-anak. Ingat, tidak hanya perempuan.
  3. Perempuan lebih sering atau mudah anyang-anyangan karena secara anatomi, saluran kemihnya lebih pendek dibandingkan laki-laki.
  4. ISK adalah salah satu infeksi yang umum terjadi pada kita.
  5. Menahan buang air kecil bisa menimbulkan anyang-anyangan.
  6. 80% ISK disebabkan oleh bakteri E.Coli yang hidup di saluran pencernaan kita.
  7. Saat cebok, perhatikan caranya, yang betul itu depan ke belakang, bukan sebaliknya. Kenapa? Karena kalau salah langkah, justru bakteri E. Coli yang keluar bersama feses kita akan masuk ke saluran kemih dan, ya, bisa ditebak apa yang akan terjadi. Jika didiamkan akan menyebabkan ISK.
  8. Selain lewat feses, bakteri bisa masuk dalam tubuh kita melalui toilet yang kurang bersih, air kotor, hubungan seksual, dan menahan buang air kecil itu tadi.
  9. 50-60% ISK terjadi pada perempuan dan 25% bisa berulang.
  10. Gejala ISK yang paling umum terjadi adalah nyeri saat pipis, nyeri perut bagian bawah, demam ringan, anyang-anyangan, nyeri pinggang, dan mual.
  11. Apabila ibu hamil yang mengalami ISK, bisa menimbulkan komplikasi, seperti, kelahiran prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah, preeklamsia, hipertensi, gagal ginjal, dan kematian janin.
Nah, solusi enak apa sih yang sudah kubocori di atas untuk mengatasi anyang-anyangan?

Ada buah CRANBERRY.

Buah yang satu ini sudah lama diteliti dan digunakan untuk mengatasi Infeksi Saluran Kemih (ISK). Hasilnya? Efektif. Karena buah berwarna merah marun ini banyak mengandung Proantocyanidin (PAC) yang bisa mencegah penempelan bakteri E.Coli pada dinding saluran kemih.

Pertanyaan pasti muncul dalam benakmu, di mana bisa mendapatkan buah Cranberry ini? Harganya mahal, bukan? Iya, memang susah dapat buah yang satu ini. Mahal pula. Tapi, tenaaaaang. Sudah ada Prive Uri-cran, ekstrak Cranberry, yang bisa kita beli di apotek lho.


Prive Uri-cran ini ada dua macam, yaitu yang serbuk dan kapsul. Kalau aku lebih suka yang serbuk. Penyajiannya juga mudah kok. Sediakan air dingin (bukan air yang diberi es batu lho ya) 150 ml, kemudian tuang Prive-Uricran, aduk, minum deh.


Sensasi, segar, asam, manis bakalan memenuhi lidah dan tenggorokan. Paling asyik kalau di minum pas siang hari yang panas. Cocok banget lah.

Saat anyang-anyangan atau ISK melanda, sehari, minumlah dua kali untuk hasil yang maksimal. Minum berturut-turut selama 10 hari dan rasakan perubahan yang terjadi.

Memangnya boleh minum setiap hari? Boleh banget.

Oiya, ada pertanyaan dari seorang teman, boleh tidak kalau diminum anak usia 4 tahun? Saat kutanyakan ke Kak Talitha, disarankan untuk anak di atas 5 tahun.

Oke, deh.

Siang itu, karena aku sempat nahan pipis, nggak mau dong kalau kena anyang-anyangan. Selain minum yang disediakan oleh mbak-mbak SPG, untuk jaga-jaga, aku beli sekotak isi 15 sachet Prive Uri-cran yang serbuk. Buat stok di rumah. Apalagi pas beli di pop up table dapat haga khusus. Siapa yang nolak?


Rasanya puaaasss banget menimba ilmu hari ini. Eh, jalan-jalan yang berilmu deh.

Talkshow siang itu selesai sekitar pukul 13.00 WIB dan ditutup dengan pembagian door prize dari panitia. Aku sih belum beruntung, tapi nggak papa karena bisa sampai Solo saja sudah lebih dari door prize. Alhamdulillah.


Apakah aku langsung pulang? Tidak, Saudara. Bermodalkan jari, kuberkeliling sebentar di kota Solo. Kemudian mampir ke salah satu mall untuk memakai voucher MAPku. Lengkap sudah deh perjalananku di Solo. Secepatnya, aku ingin kembali lagi ke Solo. Tentunya bersama abi dan Kak Ghifa. Syukur-syukur bisa staycation di Solo.

Terima kasih untuk Prive Uri-cran, karena talkshow bergizi ini aku bisa sampai ke Solo. Oiya, kamu bisa juga baca-baca tentang Prive Uri-cran secara lengkap di berbagai laman berikut. Atau ikutan weekly quiz di instagramnya.

Web: www.uricran.id
IG: @uricran.id
Fb: Prive Uri-cran
Harga yang serbuk: Rp 110.000 isi 15 sachet
Harga yang kapsul: 1 Dos isi 3 Strip x 10 Kapsul
Rp 48.311/Strip

*Harga bisa berubah setiap saat