Diyanika Journal

Thursday, 11 October 2018

Tabungan Berencana Saja Tidak Cukup

October 11, 2018 30
Tabungan Berencana Saja Tidak Cukup

Aku dan abi memiliki perbedaan usia sekitar sepuluh tahun. Setelah ada Kak Ghifa, barulah aku sadar ternyata pilihanku menikah dengan abi memiliki banyak resiko. Salah satunya adalah nasib anakku nanti. Bukan aku menyepelekan rezeki dari Allah atau aku tidak percaya akan rezeki anakku. Tidak ada salahnya bukan kalau aku mawas diri sejak dini?

via Depositephotos

Kubayangkan, saat anakku masuk kuliah, kira-kira lima belas tahun yang akan datang, berarti suamiku sudah berusia lebih dari lima puluh tahun. Dalam usia segitu, tentu suamiku tidak lagi se-produktif sekarang. Bagaimana kalau aku menuruti nasihat seorang teman yang mengatakan demikian?

Aku nggak ada tabungan sama sekali untuk pendidikan anak-anakku. Percaya saja nanti ada rezeki anak yang diberikan sama Allah.

Aku percaya betul akan ada rezeki Allah. Akan tetapi, terselip rasa ragu kalau aku juga memiliki prinsip seperti di atas. Keadaan keluarganya jelas berbeda dengan keluarga kecilku.

Apalagi aku pernah menyaksikan sendiri bagaimana kedua orangtuaku berjuang mati-matian mencari dana pendidikan untukku. Dari situlah aku belajar bahwa memiliki rencana sejak dini itu lebih baik dibandingkan suatu hari berhutang atau menjual harta satu-satunya yang kumiliki.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku dan abi membuka tabungan berencana untuk pendidikan Kak Ghifa dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan. Tabungan ini sudah berjalan satu tahun terakhir. Perhitungannya sebagai berikut.

Misal, per bulan 200 ribu

Satu tahun berarti 200 ribu x 12 bulan= 2.400.000 dengan bunga per tahun kisaran 4%

Sepuluh tahun kurang lebih jadi 25.000.000

Lumayan, bukan?

Kami sadar penghasilan kami belum seberapa. Karena sudah tekad, demi masa depan anak yang lebih baik lagi, ya bismillah. Aku dan abi berjuang sangat keras. Berusaha hidup lebih irit lagi. 

Kami sepakat fee menulisku harus masuk ke tabungan berencana ini. Akan tetapi, jasa menulisku kan tidak selalu lancar. Terkadang fee menulis baru cair sebulan kemudian. Nah, kupilih tabungan berencana dengan potongan otomatis. Misalnya, bulan lalu aku tidak ada fee menulis, otomatis tidak ada yang dipotong, bulan ini kalau ada fee yang cair bisa dipotong double. Pokoknya kalau ada fee menulis yang cair, aku langsung tujukan ke tabungan berencana ini. Sisanya bisa kupakai untuk membeli buku atau untuk kepentingan lainnya.

Awalnya memang ragu, ah, apakah bisa mengalokasikan uang untuk tabungan berencana ini? Ternyata bisa. Semua memang harus berawal dengan niat, disiplin dan harus konsisten.
Foto bersama dengan Presdir MAMI

Sudah tenang ada tabungan berencana, eh, waktu ikut Kopdar Investarian bersama Reksa Dana Manulife (30/10/2018), Pak Legowo Kusumonugroho, Presdir dari Manulife Asset Management (MAMI), membuatku sadar ternyata memiliki tabungan berencana saja belum cukup untuk membuat masa depanku tenang.

Bertempat di kantor PT. Asuransi Jiwa Manulife yang beralamatkan di Jalan Pandanaran nomor 16, Randusari, Semarang ini, Pak Legowo mengibaratkan kondisi keuangan kita saat ini dan dua puluh tahun yang lalu. Dua puluh tahun yang lalu, harga ayam goreng sekitar 2.500. Sekarang? Harga ayam goreng bisa mencapai 25.000.

Ini gambaran inflasi pada ayam goreng. Artinya setiap tahun, inflasi ayam goreng sebesar 40%

Aku tertegun, iya juga ya? Itu baru ayam goreng, bagaimana dengan inflasi pendidikan yang setiap tahun mencapai 15% dan kesehatan sebesar 18%? Benar adanya kalau banyak yang bilang inflasi itu adalah perampok yang kejam dan kita tak sadar akan hal itu.

Kemudian aku mikir tentang tabungan berencana yang kumiliki. Saat ini uang 25.000.000 tentu masih terhitung banyak. Bagaimana dengan lima belas tahun yang akan datang? Apakah masih cukup saat uang itu kujadikan uang pangkal Kak Ghifa masuk kuliah? Atau malah tergerus dengan inflasi?


Kira-kira, tabungan Anda ada di bagan yang mana? tanya Pak Legowo

Bagan di atas menggambarkan posisi tabungan kita yang dirampok oleh inflasi. Paling kiri, ibaratkan itu adalah tabungan kita di celengan. Bagan tengah, ibaratkan itu tabungan kita berupa deposito atau tabungan berencana. Paling kanan, itu gambaran tabungan kita berupa investasi Reksa Dana.

Agar kamu juga tambah paham, kuscreenshootkan slide yang ditampilkan Pak Legowo berikut ini.

Inflasi harga daging saat ini dan tabungan kita

Aku melongo melihat tabel tersebut. Jawaban atas tabungan berencanaku jelas terjawab dari tabel di atas. Dua puluh lima juta rupiah di sepuluh tahun yang akan datang jelas tidak bisa kujadikan uang pangkal untuk kuliah Kak Ghifa nanti. Nilai uang itu dirampok oleh inflasi selama sepuluh tahun ke depan.

Kemudian, bagaimana?

Kalau mau tabungan kita berkembang dan tidak kalah dengan inflasi, salah satu caranya dengan menginvestasikan uang kita dalam bentuk Reksa Dana Manulife. Salah satu dari tujuh jenis investasi Reksa Dana Manulife ini, sebut saja Reksa Dana Pasar Uang, bahkan bisa dimulai dari uang 10.000. Punya kan ya kalau uang segitu?

Ada beberapa kelebihan investasi Reksa Dana yang bisa kita perhitungkan, diantaranya:
  1. Naik turunnya stabil
  2. Tidak ada pajak
  3. Banyak pilihan
  4. Aman
  5. Bisa beli dan dicairkan kapan saja
  6. Jangka waktu investasi beragam, pendek, menengah, panjang juga ada

Aku jadi ingat tiga tahun lalu punya rekening investasi Reksa Dana Manulife ini. Setelah mendengar sharing Pak Legowo, aku jadi ingin me-reaktifkan nomor rekeningku dan mengalihkan tabungan berencana Kak Ghifa ke investasi Reksa Dana. Orangtua mana sih yang tak ingin anaknya memiliki pendidikan yang tinggi? Semoga rezeki Kak Ghifa bisa sekolah tinggi. Aamiin.

Aku begitu yakin dengan MAMI, karena sudah sembilan belas tahun beroperasi di Indonesia. Dalam empat tahun terakhir juga sudah menggondol tiga puluh lima penghargaan. Apalagi dana yang dikelola saat ini mencapai enam puluh tujuh triliun. Itu uang semua lho ya, bukan daun.

Kalau kamu mau ikut investasi Reksa Dana Manulife, siapkan saja data diri, nomor rekening bank dan juga KTP. Agar lebih jelas, kamu  juga bisa tanya-tanya langsung ke https://www.klikmami.com dan live chat bersama LANI. Santai, pelayanan MAMI ini tujuh hari non stop, mulai pukul 08.00 - 22.00 WIB. Mau pelayanan yang cepat juga bisa tanya-tanya lewat email di bawah ini ya.



Postingan ini insya Allah akan ada lanjutannya lagi. Akan kuceritakan juga bagaimana proses reaktifnya nomor rekening Reksa Dana Manulife-ku, nanti.

Nah, kira-kira, kamu tertarik tidak dengan investasi Reksa Dana ini? Jangan-jangan kamu malah sudah jadi investariannya sejak lama? Atau mau bertahan dengan investasi emas, tabungan berencana, properti, atau saham?

Saturday, 29 September 2018

10 Hal yang Kupelajari dari Pelatihan Guru Menulis Bertema Sagu Sabu

September 29, 2018 28
10 Hal yang Kupelajari dari Pelatihan Guru Menulis Bertema Sagu Sabu

Awal Agustus lalu, aku seperti mendapat angin segar. Akhirnya, di Grobogan ada pelatihan menulis untuk guru yang didukung penuh oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan. Walaupun biayanya senilai gajiku sebulan, malah tombok lima puluh ribu, hihi, kubulatkan tekad untuk izin dua hari tidak mengajar.

suasana pelatihan 

Pelatihan ini dilaksanakan selama dua hari dan diikuti hampir dua ratus guru. Bahkan beberapa peserta datang dari luar Kabupaten Grobogan. Luar biasa semangat guru-guru ini.

Bertempat di Hotel Kyriad Grand Master Purwodadi, apa yang kudapatkan dari pelatihan menulis sagu sabu (satu guru satu buku) ini?

1. Guru berprestasi itu harus punya buku. Apapun genre bukunya asal menggunakan nama asli sesuai KTP dan ber-ISBN. Tentu ini konteksnya untuk guru PNS. Saat ini aku memang masih guru honorer. Paling tidak, setelah ikut pelatihan ini aku sudah punya modal pengetahuan dulu. Siapa tahu rezekiku? Eh, diangkat jadi PNS dan suatu hari jadi guru berprestasi. Akan tetapi, poin penting saat ini adalah aku harus punya buku solo dulu. Perkara jadi PNS atau tidak, itu urusan Allah.

2. Buku jadi salah satu senjata ampuh bagi guru PNS untuk kenaikan pangkat. Setiap kali mengusulkan kenaikan pangkat, ada poin tertentu yang harus dilampaui seorang guru. Nah, buku ini jadi salah satu penyumbang poin tersebut.

3. Banyak guru berprestasi yang sering gagal di kancah lomba guru berprestasi nasional karena tidak punya karya, yaitu buku.

4. Sebelum mau menulis tentang apa, kenali dulu 33 jenis buku. Diantaranya: buku mata pelajaran, buku pengayaan, buku referensi, kamus, ensiklopedia, buku TTS, autobiografi, biografi, memoar, novelet, novel fiksi, novel faksi, buku kumpulan puisi, buku kumpulan cerpen, buku kuliner, buku cerita rakyat, asal usul daerah, buku cerita anak, buku media pembelajaran, buku how to, komik pembelajaran, buku catatan harian, buku religi, buku sejarah, buku fotografi, kumpulan status media sosial, buku pprofil sekolah, buku tentang pendidikan inklusi, buku sekolah vokasi, buku saduran, buku kumpulan soal, buku saku, buku parenting, kumpulan opini, dan buku politik.

5. Buatlah mind mapping dari buku yang akan kita tulis agar lebih terarah.

6. Menulislah. Pokoknya tulis saja, jangan mikir salah dulu. Karena nanti akan ada tim editor. Saat proses menulis ini, saranku, modali diri dengan pengetahuan EBI walau sangat minim.

7. Setelah selesai menulis, baca ulang, lakukan editing semaksimal mungkin.

8. Sebelum mengirim ke penerbit, lengkapi naskah buku kita dengan beberapa poin di bawah ini dan jangan lupa digabung dalam satu file
  • Halaman judul
  • Sekapur sirih/prakata
  • Kata pengantar(optional)
  • Daftar isi
  • Isi buku
  • Daftar pustaka (optional)
  • Profil penulis )berbetuk narasi/paragraf dan disertai foto)
  • Sinopsis


9. Pilih penerbit yang melayani self publising. Saranku, sesuaikan biayanya dengan kantong kita. Karena untuk guru yang penting buku itu terbit, ber-ISBN, maka sudah bisa dijadikan sebagai poin kenaikan pangkat.

10. Promosikan bukumu sendiri. Baik itu ke sesama guru penulis, teman sejawat, keluarga, wali murid, atau bisa disumbangkan ke almamater.

Dari sembilan hal di atas, alhamdulillah sudah kupahami selama ini. Poin terpenting dari pelatihan sagu sabu ini adalah soal niat, tekad yang kuat, dan konsistensi dalam menulis buku.

Jujur, godaan saat mau memulai itu begitu dahsyat. Inilah tantangan yang harus dilewati. Karena untuk naik tingkat sebagai guru penulis kita harus benar-benar siap.



Nah, kalau di daerahmu ada pelatihan serupa, jangan ragu untuk ikutan! Pastikan kamu mendapat pengetahuan, pengalaman, dan teman baru.

Yuk, guru-guru di Indonesia, kita menulis! Aku juga sedang berjuang nih menyelesaikan buku soloku. Biar nggak terasa berat, yuk, berjuang bersama-sama!

Friday, 28 September 2018

Cegah Stunting dengan Kebiasaan CTPS di Sekolah

September 28, 2018 39
Cegah Stunting dengan Kebiasaan CTPS di Sekolah

Menurut dr Atmarita, MPH, cuci tangan pakai sabun dapat mengurangi risiko stunting hingga 15%*


Setelah kamu membaca judul dan kutipan di atas? Apa yang muncul dalam benakmu? Apakah pertanyaan berikut?

Apa kaitan antara CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) dengan stunting?

Infografis ini kubuat dengan canva.com

Dari infografis di atas dapat dijelaskan kaitan antara stunting dan CTPS adalah apabila seorang anak rajin mencuci tangan, maka dia bisa menurunkan risiko diare. Apabila dia tidak diare, maka gizi yang dikonsumsinya dapat diserap dengan baik oleh tubuh sehingga menurunkan risiko stunting.

***

Orang awam sering mengartikan stunting adalah keadaan kerdil atau lebih pendek dibandingkan orang lain yang seumurannya. Secara rinci, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi**.

Stunting bisa terjadi saat janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Akan tetapi, intervensi gizi saja belum cukup untuk mengatasi masalah stunting. Karena faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan juga berpengaruh untuk kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak.

Aku sudah CTPS, tanganku bersih, aku bebas dari stunting

Dari sisi faktor sanitasi, cuci tangan pakai sabun (CTPS) menjadi salah satu solusi paling sepele yang bisa dilakukan setiap orang untuk pencegahan stunting. Mengapa dianggap sepele? Karena mudah dilakukan, masyarakat tahu akan pentingnya cuci tangan, tapi sering diabaikan.

Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2 persen, meningkat dari tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Artinya, pertumbuhan tak maksimal diderita oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau satu dari tiga anak Indonesia. Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%).***

Membaca hasil riset di atas, bukankah keadaan Indonesia sangat memprihatinkan? Saat ini memang belum terasa. Akan tetapi, apabila anak-anak Indonesia mengalami stunting, otomatis memiliki kemampuan kognitif yang rendah, dan tentu ke depannya akan mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang bagi Indonesia. Oleh karena itu, kenapa tidak kita biasakan CTPS di lingkungan kita untuk membantu kemajuan Indonesia Sehat dengan cara yang paling mudah?


Terima kasih PAMSIMAS

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) adalah salah satu program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia, program ini dilaksanakan di wilayah perdesaan dan pinggiran kota sejak tahun 2008. Karena menuai kesuksesan, PAMSIMAS menjadi salah satu program andalan nasional (Pemerintah dan Pemerintah Daerah) untuk meningkatkan akses penduduk perdesaan terhadap fasilitas air minum dan sanitasi yang layak dengan pendekatan berbasis masyarakat.

Dua kamar kecil dari PAMSIMAS

"Selamat, Bu Ika, harapan njenengan untuk punya wastafel di kelas akan terkabulkan." 

Aku bahagia sekali saat guru senior memberitahu kalau sekolah kami akan mendapat sumbangan dua kamar kecil dan enam wastafel dari PAMSIMAS. Selama ini aku memang sering mengeluh kepada teman sejawat ataupun pimpinan untuk dibuatkan kran di beberapa titik. Akan tetapi, karena dana sekolah sering kekurangan, akhirnya aku pendam saja keinginan itu.

Bagiku, keberadaan tempat cuci tangan di sekolah itu sangat perlu. Apalagi untuk anak SD. Aku yang tiga tahun ini mengajar di kelas 1 SD, mengaku sangat butuh. Terlebih lagi untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013. Pada pembelajaran ini anak-anak sering sekali membuat keterampilan seperti menggunting, menempel berbagai benda, plastisin, figura dari bubur koran, finger dan hand painting, membuat gantungan kunci, dsb. Semua keterampilan tersebut tentu membuat tangan anak-anak kotor dengan bahan yang digunakan. Belum lagi kalau mereka jajan sembarangan. Bukankah kuman itu ada di mana-mana?

Sebelum ada wastafel, pagi-pagi sebelum masuk kelas, aku selalu berinisiatif menyediakan ember besar berisi air di depan kelas. Saat selesai pembelajaran, satu per satu mereka akan antre mencuci tangan. Apa yang aku lakukan? Aku berdiri di dekat mereka untuk mengawasi dan mengantisipasi apabila ada anak yang main air dan sabun.

Wastafelnya siap dipakai


Sungguh, secara pribadi, aku mengucapkan terima kasih kepada PAMSIMAS karena sudah melirik SDku untuk mendapat jatah sumbangan kamar kecil dan wastafel. Ini sangat membantu kinerjaku sebagai guru. Terlebih lagi ini membuktikan bahwa pemerintah tidak main-main dalam menggarap negeri ini agar terbebas dari stunting.


Guru Berperan dalam Pencegahan Stunting Sejak Dini

Digugu lan ditiru, dipercaya dan dijadikan teladan, begitu kepanjangan dari guru dalam bahasa Jawa. Orang tua anak-anak di sekolah adalah aku, gurunya. Keberlangsungan hidup mereka selama di sekolah adalah tanggung jawabku. Oleh karena itu, aku memiliki andil cukup besar dalam membentuk kebiasaan hidup mereka ke depan.

Kamu pasti pernah mendengar atau mungkin mengalami sendiri.

"Anakku itu kalau yang memberi perintah gurunya mau menurut. Tapi, kalau dengan orang tuanya malah melawan."

Aku sering sekali mendapat pengaduan seperti di atas. Bahkan, aku sering dimintai tolong.

"Bu, Danu masih ngedot, tolong diberi tahu ya, Bu."

"Bu Ika, Afika tolong dinasihati kalau sekolah suruh bawa sepeda sendiri. Jangan minta dijemput terus. Kapan mandirinya?"

"Bu, Arif kalau di sekolah kok mau ya nulis. Tapi, kalau di rumah, suruh belajar susah. Tolong dinasihati ya, Bu."

Dan masih banyak lagi keluhan-keluhan orang tua muridku.

Kugunakanlah peran itu untuk menanamkan hal atau kebiasaan baik kepada anak didikku. Salah satunya adalah kebiasaan untuk CTPS. Apalagi CTPS ini juga masuk dalam materi pembelajaran pada Tema 1 Diriku, Sub Tema 3 Aku Merawat Tubuhku. Tak lupa kusampaikan juga kepada anak-anak tentang 5 waktu CTPS yang disarankan, diantarnya sebelum makan, sesudah buang air besar, sebelum memegang bayi, sesudah menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan.

Materi CTPS di buku siswa

Tepatnya dua minggu yang lalu, akhirnya wastafel di kelasku sudah bisa digunakan. Karena materi CTPS sudah berlalu, aku tinggal memberi penguatan saja akan pentingnya CTPS dengan menggunakan video yang aku download dari Youtube seperti berikut.




***

"Tadi kan baru selesai Jumat bersih (memungut sampah di lapangan), kalian tidak cuci tangan dulu sebelum makan bekal?!"

Tantangan yang kuhadapi adalah ketidak-disiplinan anak-anak. Aku sering marah-marah kalau ada anak yang lupa mencuci tangan sebelum makan bekalnya. Akan tetapi, aku sendiri pun sadar kalau ini adalah hal baru bagi mereka. Jadi, aku tak henti-hentinya untuk memberikan teladan kepada mereka dan tidak lelah untuk mengingatkannya.

Selain itu, sebagai guru, untuk menyukseskan CTPS di sekolah, aku harus memperhatikan betul kebutuhan untuk CTPS. Misalnya, menyediakan sabun untuk cuci tangan dan handuk/lap/tisu. Tidak lupa juga selalu mengingatkan tata cara CTPS yang benar.

Alhamdulillah, setelah dua minggu ada wastafel, kesadaran mereka untuk CTPS sudah lumayan. Tanpa disuruh, saat jam istirahat mereka sudah mencuci tangan. Bagusnya lagi, mereka tidak berebutan wastafel yang jumlahnya satu berbanding tiga puluh tiga.

Harapanku untuk CTPS di sekolah adalah anak-anak bisa membawa kebiasaan baik ini di keluarganya. Karena apabila kebiasaan itu terjadi juga di rumah, secara tidak langsung anak-anak menjadi tangan panjangku. Mereka akan mengedukasi anggota keluarganya yang lain untuk sadar akan pentingnya CTPS.

Tetap mendampingi anak-anak saat CTPS

Melalui tulisan ini, aku juga ingin mengajak guru di luar sana untuk ikut serta dalam mencegah stunting dengan membiasakan CTPS di sekolah. Kalau di sekolahmu sudah ada wastafel, gunakanlah dengan baik dan selalu beri perhatian khusus kepada anak-anak akan tata cara CTPS yang benar. Kalau sekolahmu belum ada wastafel, gunakanlah air yang ada, khususnya air mengalir dan sabun untuk CTPS. Karena keterbatasan materi dan media bukanlah penghalang bagi kita untuk berkontribusi membangun negeri ini agar lebih maju lagi ke depannya.

Yakinlah, kamu bisa kok membanggakan Indonesia hanya dengan CTPS!



Sumber bacaan:
*dilansir dari lifestyle.okezone.com
** dan *** www.mca-indonesia.go.id
http://new.pamsimas.org/media.php?module=detailberita&id=936&cated=11
http://www.ampl.or.id/program/program-nasional-penyediaan-air-minum-dan-sanitasi-berbasis-masyarakat-pamsimas-/2
https://lifestyle.okezone.com/read/2017/10/21/196/1799877/kebiasaan-mencuci-tangan-ternyata-membawa-dampak-positif-bagi-perkembangan-anak
http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20180918/3827958/kemenkes-utamakan-pencegahan-dan-perlindungan-kesehatan-bagi-generasi-penerus-bangsa/
http://www.depkes.go.id/article/view/18091700004/menkes-nila-moeloek-generasi-indonesia-jangan-stunting.html