Rabu, 21 Juli 2021

Kesulitan Menjawab Soal dari Bu Guru? Santai, Ada Roboguru dari Ruangguru

 


Hai, foto di atas adalah fotoku zaman SMA. Bisa menemukan aku yang mana? Hihihi... dijamin pangling lah. Tapi, itu nggak penting, kenapa aku menampilkan fotoku di zaman SMA? Karena ada kaitannya dengan Roboguru dari Ruangguru yang ingin aku share.

Setelah kemarin aku bahas tentang ruangbelajar dari Ruangguru di postingan Anak-anak Kembali PJJ? Tak Perlu Panik, Bu. Ada Ruangbelajar dari Ruangguru, kali ini aku mau membahas tentang kegunaan dari Roboguru yang memang dari dulu dibutuhkan oleh siapapun yang ikut bimbingan belajar.

Sebut saja temanku ini, Ria. Dia bisa dibilang teman karibku. Kami sama-sama anak tunggal. Hanya saja beda nasib, dia anak orang berada dan aku anak orang yang bisa dikatakan pas-pas-an, pas bayar iuran sekolah, eh, kebetulan ibuku dapat rezeki atau pinjaman. Hihihi.

Ria ini anaknya pintar. Ditunjang dengan ekonomi keluarganya yang sangat berkecukupan, dia selalu ikut bimbingan belajar bergengsi di zaman SMA ku dulu. Memang bawaan dari sana sudah encer, anaknya rajin, tak heran kalau dia selalu dapat peringkat 1 di angkatanku.

Suatu hari, aku baru tahu kalau ternyata dia itu punya rahasia perusahaan yang tidak diketahui oleh banyak orang. Aku tahu pun tanpa sengaja. Apa itu?

Beberapa SMS rahasia.

Ceritanya begini,

Pas jam kosong, kalau anak SMA itu ngapain sih di kelas? Yes, pasti ngrumpi, ya, sembari main HP bersama di pojok kelas. Nah, saat itulah rahasia Ria terbongkar olehku.

Saat kami bertukar HP, kutemukan ada SMS dari seseorang yang diberi nama Mbak X. Dasar aku yang kepo (maaf, ya), kubuka itu SMS. Eh, ternyata SMSnya panjang banget.

Kok? Lho, kok sepertinya ini soal di PR Kimia dan Fisika?

Ternyata, Ria menanyakan jawaban PR Kimia ke Mbak X. Aku langsung berpikir, “Oh, mungkin Mbak X ini tutor di tempat dia ikut bimbingan belajar. Wah, enak, ya, kalau ada PR Kimia dan Fisika yang sulit bisa dibantu jawab kayak gini.”

Pikiranku langsung menerawang jauh.

Pantesan saja, Ria selalu bisa menjawab PR yang sulitnya minta ampun dengan benar. Tentu dengan seperti itu dia selalu mendapat nilai bagus, ditambah penilaian plus dari guru. Lha teman-teman satu kelas pada nggak bisa.

Akan tetapi, ya, nggak ada salahnya sih, kan bapak ibunya sudah keluar uang banyak untuk biaya bimbingan belajarnya? Kalau dia bisa mendapat keuntungan untuk bertanya ke tutornya, pun tutornya dengan senang hati menjawab, why not?

Nah, keuntungan yang didapatkan Ria-mendapat bantuan untuk menjawab soal yang sulit- itu juga akan kamu dapatkan kalau kamu berlangganan bimbingan belajar online dari Ruangguru. Nama produknya adalah Roboguru dari Ruangguru.

Contoh pertanyaan di Roboguru


Roboguru dari Ruangguru ini gratis, ya. Saat kamu menggunakan produk ini, ya, tinggal pakai saja. Enaknya lagi, saat kamu menanyakan soal yang kamu anggap sulit, soal kamu akan dijawab langsung oleh tutor atau sering disebut Master Teacher lho. Bahkan, yang menyenangkan lagi, cara jawabnya pun sangat lengkap, kalau perlu disertai video. Selain itu, kamu juga akan ditunjukkan materi di mana soal sulit yang kamu ajukan itu dibahas.

Apakah hanya Master Teacher saja yang menjawab? Tidak, teman kamu juga biasanya ada yang ikut membantu menjawab. Asyik, kan?

Dari sisi orangtua, ini sangat melegakan. Karena tidak kupungkiri, misalkan aku harus membantu menjawab soal anak SMA pun harus membuka materi lagi, membacanya sejenak, dan itupun belum tentu langsung paham. Hahaha.

Jadi, tak mustahil kalau cerita Ria juga bisa kamu dapatkan, bukan? Nilai kamu oke, penilaian plus dari gurumu juga bisa kamu dapatkan. Jadi, kenapa tidak berlangganan bimbingan belajar online di Ruangguru saja?

Selasa, 20 Juli 2021

Anak-anak Kembali PJJ? Tak Perlu Panik, Bu. Ada Ruangbelajar dari Ruangguru


Hai, Bu, apa kabar?

Saat membaca tulisanku ini, anak-anak sedang apa? Apakah sedang PJJ dan asyik dengan gadgetnya? Atau justru anak-anak sedang main di luar bersama teman-temannya (murid-muridku banyak yang seperti ini, mancing, mandi di kali, main layang-layang, petak umpet, dsb)? Mungkin ada juga yang sedang les privat di tempat bimbel, padahal lagi pandemi gini?

Sebagai guru SD yang mengajar di kampung, aku banyak sekali mendapat keluhan dan curhatan dari orangtua murid ataupun tetangga selama PJJ berlangsung ini lho, Bu. Apakah ada salah satu keluhan yang Ibu alami juga?

“Anak malas, Bu, kalau belajar sama orangtuanya. Kapan to, Bu, sekolahnya berangkat lagi?”

“Kalau bangun siang-siang, Bu, kalau diminta mengerjakan tugas malah kabur, main.”

“Saya tidak paham, Bu, sama pelajarannya. Wong saya tidak lulus SD.”

“Gurunya tidak mau menerangkan dulu, langsung ngasih tugas begitu saja di WA. Anaknya, ya, ngamuk, nggak paham apa-apa langsung diminta mengerjakan tugas dua lembar LKS, Mbak.”

Tentu, alasan di atas hanya sebagian saja. Kalau dibuat list pasti tidak cukup satu halaman kertas.

Selain sebagai guru SD, selaku orangtua yang punya anak sekolah juga, pun merasakan yang namanya PJJ, kalau ada yang berkeluh kesah seperti di atas, aku hanya bisa kembalikan semua kepada pola asuh dan didik kita ke anak.

Memang, semua rasanya terasa lebih berat jika dibandingkan saat anak-anak belajar di sekolah. Akan tetapi, ini semua terjadi pada semua orang. Justru selama PJJ ini aku malah lebih mengenal hubunganku dan anakku. Seperti bisa mengoreksi diri sendiri, seberapa jauh aku mengenal anakku dan sudah tepatkah caraku mendidiknya?

Selain itu, aku sebagai guru juga tidak munafik dan tidak menutupi, kalau di luar sana, teman-teman sejawatku tidak semua bisa melaksanakan PJJ ini dengan maksimal. Seperti yang dikeluhkan banyak orangtua, ada oknum guru yang hanya memberikan tugas dan tugas tanpa ada inisiatif membuat inovasi PJJ agar lebih menyenangkan bagi anak.

Toh, kenyataannya, kalau kamu pernah membaca tulisanku dengan judul ini Aku Memilih Anakku Tidak Ke Sekolah Selama Pandemi, aku pun mengalami kekecewaan terhadap guru anakku. Kembali lagi, terus mau bagaimana lagi? Mau menyalahkan gurunya? Aku ini juga guru. Endingnya, ya, aku yang harus cari solusinya sendiri.

Setiap kali ada wali murid yang mengeluhkan soal PJJ, salah satunya tentang penguasaan materi anaknya, aku hanya bisa memberi solusi, “Keadaan seperti ini, kita memang harus proaktif dan mau lebih meluangkan waktu mendampingi anak-anak.”

Jawaban mereka kebanyakan begini, “Aku kerja, Mbak, pulang sore, dan bla bla bla.... Kalau malam aku sudah capek. Bla bla bla ....”

Ehm...

“Ya sudah, kalau begitu, jangan hanya njagake (mengandalkan) sekolah (guru) saja. Di les-ke wae.”

“Pandemi gini, Mbak, aku ya was was. Kalau les privat yang datang ke rumah, ya, mahal.”

Hihihi. Kebanyakan alasan nggak sih kalau ada orangtua yang demikian? Bisa jadi sih, iya. Tapi, kita kerja untuk siapa sih, kalau bukan untuk anak? Aku sering jengkel sendiri kalau ada yang berkeluh kesah, kemudian diberi solusi malah dibalikin lagi solusinya.

Kalau aku, melihat situasi seperti saat ini, belum menentu pula kapan anak akan kembali ke sekolah, selain mendapat (materi pembelajaran) dari guru, juga les di luar. Tak perlu yang harus datang langsung ke bimbel, wong ya sekarang ada ruangbelajar dari Ruangguru. Hari gini, siapa yang tidak kenal Ruangguru? Anak mana pula yang tidak suka pegang gadget untuk belajar?

Ruangguru, sering lihat di mana? Ya, di TV, apalagi saat tahun ajaran baru atau awal semester. Bahkan, ada di beberapa channel TV, ya. Promosinya keren banget pokoknya. Akan tetapi, aku sendiri juga penggunanya, kok. Baik sebagai guru maupun sebagai murid sesuai kelas yang aku mampu. Tak kupungkiri kalau di ruangbelajar milik Ruangguru ini aku dapat banyak referensi pembelajaran yang bisa kuaplikasikan kepada muridku. Jujur, aku sebagai guru senang belajar di ruangbelajar, apalagi anak-anak? Apa keunggulan dari ruangbelajar yang bisa didapatkan?

Sebelumnya, ruangbelajar ini adalah salah satu produk dari Ruangguru. Ruangbelajar itu:

  1. Tidak hanya bisa diakses lewat HP saja, ruangbelajar juga bisa di akses di laptop.
  2. Tempatnya belajar online terlengkap; materinya sesuai kurikulum, ada ribuan video pembelajaran yang pakai animasi, kemudian rangkuman dengan infografis yang membuat kita makin mudah paham.
  3. Paling ngerti kita, apa yang kita pahami, maka pengalaman belajar itu akan mengarahkan materi selanjutnya sesuai yang telah kita pahami.
  4. Ada latihan ribuan soal dan pembahasan.
  5. Bisa diakses secara offline, karena materi bisa didownload.
  6. Ada Ruangguru adventure dan teman belajar, seperti game, jadi anak-anak bisa makin semangat belajar karena merasa tidak bosan.
  7. Orangtua bisa memantau rapor anak selama mengakses ruangbelajar.

Setidaknya, itulah tujuh keunggulan dari ruangbelajar. Terpenting, di masa pandemi ini anak-anak tidak perlu keluar rumah untuk les. Karena cukup modal gadget, di rumah saja pun bisa tetap belajar.

Mumpung ini masih awal tahun ajaran baru dan masih ada promo juga potongan 60%, langkah yang tepat kalau kita sebagai orangtua memilihkan ruangbelajar dari Ruangguru ini sebagai teman belajar anak-anak selama PJJ. Dicoba dulu satu bulan, kalau ada progres yang baik, cus langganan satu tahun, lebih murah. Tapi, kalau aku sih mending langsung ambil yang satu tahun, murah banget.

Minggu, 20 Juni 2021

Ogah-ogahan Nulis di Blog


Kemarin-kemarin ogah, sekarang kangen.

Kangen. Iya, aku kangen banget nulis di blog ini. Aku sampai malas banget ngecek kapan terakhir kali aku posting tulisan. Malu pada diri sendiri karena tidak pernah memberikan kesempatan untuk healing lewat tulisan.

Selama ini ke mana?

Ya, nggak ke mana-mana. Di sini saja. Hanya saja aku merasa butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan semuanya. Setengah tahun belakangan ini banyak hal yang terjadi dalam hidupku. Kebanyakan dari kejadian itu lebih ke arah berbau 'kesedihan'.

Kenyataan bahwa aku hamil anak kedua di saat aku harus fokus CPNS-ku.

Fitnah dari saudara-saudara Bapak yang sangat melelahkan jiwa dan raga.

Komunikasi dengan bapak yang kurang baik.

Tuntutan hutang bapak yang harus kulunasi.

Bapak yang menikah lagi.

Posisi bayiku yang sempat sungsang.

Tuntutan kerja yang segunung dan harus aku lalui dengan keadaan hamil tua.

Semua itu membuatku merasa begitu lelah, disisa-sisa tenaga per harinya lebih kugunakan untuk bersama suami dan anakku.

Sampai akhirnya, semua, ya begitulah. Kulalui dengan "Gusti, kuikuti saja semua alur ini. Aku percaya ini sudah jadi bagianku."

Saat kita yakin, ternyata ya bisa kok dilalui. Meski terseok-seok, tapi kuucapkan terima kasih kepada diriku sudah sampai ke tahap ini, hari ini.

Bismillah, yuk kembali menulis kembali. Nggak pakai ogah-ogahan lagi. Aku juga tertarik mengikuti beberapa lomba menulis lagi. Semangat! Insyaallah,  ubah fokus dan lihat saja apa yang terjadi.

Rabu, 19 Mei 2021

Terima Kasih Allah, Ini Rumah Tangga yang Kuidamkan


Hati-hati dengan apa yang kita pikirkan, apalagi kalau setiap hari mikirnya itu mulu. Karena apa? Nanti pasti Allah kabulkan. Tentu di waktu yang tepat menurut-Nya.

Aku buktinya. Di awal pernikahan, siapa yang tidak menginginkan bisa hidup mandiri terpisah dari orangtua atau mertua? Sekalipun akhirnya menerima kenyataan harus tinggal serumah dengan orangtua, apalagi aku ini anak tunggal, tapi, perasaan ingin hidup secara mandiri masih selalu ada.

Bukan sok-sok-an sudah berpengalaman dalam berumah tangga, akan tetapi, kamu yang bisa tinggal mandiri tentu tahu kan rasanya? Serumah berempat, dengan pola pikir, latar belakang pendidikan, bahkan kebiasaan yang berbeda tentunya kerikil-kerikil tajam akan selalu terinjak.

Sampai akhirnya, setelah hampir 5 tahun menikah dan tinggal dengan kedua orangtuaku, semua berubah.

Ibuku Meninggal Karena Kanker Payudara

Ada rasa syukur yang tak terkira sampai sekarang karena aku bisa tinggal serumah dengan kedua orangtuaku. Khususnya ibu. Dengan tinggal serumah, aku bisa merawat ibu, menemaninya berjuang melawan sakitnya yang begitu mendadak (hanya 3 bulan setelah ketahuan) sampai akhirnya ibu menutup mata, aku bisa ada di sampingnya. Aku nggak tahu kalau sampai tak ada di samping ibu sampai akhir hayatnya. Rasa sesal akan begitu menggunung pastinya karena ego-ku untuk hidup mandiri lebih kuutamakan dibandingkan berada dekat dengannya.

Hai, Bu apa kabar?

Di lain sisi, aku merasa kaget karena kehilangan ibu. Apalagi kalau bukan karena campur tangannya selama ini. Aku terlalu terlena karena semua dibantu oleh ibu, baik dari mulai keuangan sampai mengurus anakku, Kak Ghifa. Di sinilah muncul, “Seandainya kalau aku sudah terbiasa hidup mandiri sejak awal, pasti tidak seperti ini.”

Ah, namanya hidup. Pasti ada sisi satu dan sebaliknya. Balik lagi ke Allah. Dia pasti memiliki maksud dan tujuan yang kita tak pernah tahu di awal. Nanti deh ending-endingnya bakalan bilang, ‘Oh, jadi ini rencana-Mu?”

Bersama Bapak Sampai Akhirnya Beliau Menikah Lagi

Ternyata, lebih berat merawat bapak dibandingkan ibuku yang sedang sekarat. Karena jujur, susah sekali menuruti keinginan bapak. Banyak maunya tapi kurang pengertian balik ke anak dan menantunya. Bisa jadi karena beliau sudah terbiasa semua yang handle ibu. Sekarang, saat ibu sudah nggak ada, mau nggak mau, bisa nggak bisa, kami (aku dan suami) harus menjadi seperti ibu yang bisa menuruti semua keinginannya. Padahal, kami sama-sama bekerja, pun punya balita.

Bapak makin tak ada waktu di rumah, pulang hanya saat maghrib tiba. Itupun membawa pekerjaan segambreng ke rumah yang harus kami bantu untuk menyelesaikannya. Aku dan suami mengidamkan, karena seharian sudah bekerja, selepas maghrib bisa menemani anakku untuk belajar dan mengaji. Tapi, apa? Akhirnya harus dipendam dalam-dalam. Nggak mungkin.

Berani membantah perintah Bapak, ho, ngamuk. Kami hidup seperti dalam tekanan. Padahal dengan orangtua kami sendiri. Ya, apalagi kalau bukan karena maunya dimengerti saja tapi tidak mau saling mengerti satu sama lain.

Ending cerita, selepas idul fitri Bapak menikah lagi, saat hari kematian ibuku baru satu tahun berlalu. Itupun dengan penuh konflik juga.

Ya Allah, bahagiakan Bapak.

Semua yang Terjadi Membuatku Sadar Akan Kehadiran Suamiku

Jeleknya tinggal serumah dengan orangtua itu adalah peranku dan suami akan tetap jadi anak, bukan orangtua. Setuju? Hal itu ternyata membuatku tidak menyadari peran suamiku juga. Karena apalagi kalau bukan masih ada bapak dan ibu yang bisa kuandalkan. Seakan-akan suami itu ya sekadar status suami. Kalau ada apa-apa orangtua yang selalu kuutamakan. Mau diskusi hal apapun juga orangtua yang pertama kuajak bicara, bukan suami.

Dari kenyataan kalau ibuku meninggal sampai bapakku menikah lagi dan tidak lagi hidup serumah dengan kami, kehadiran suami yang selalu ada untukku begitu kusyukuri. Sumpah, kalau tak ada suami, aku pasti sudah oleng.

Aku tahu setiap orang memiliki kekurangan, tapi suami bisa menerima kekuranganku, kenapa aku tidak? Bahkan, kalau boleh jujur, suamiku itu orangnya terlalu ‘nrimo’.

Dan satu hal yang membuatku selalu terenyuh adalah suamiku sampai sekarang masih setia ziarah ke makam ibu setiap Kamis sore dan sepulang salat Jumat. Orang-orang banyak yang heran, “Suamimu itu anak menantu, tapi melebihi anak ibumu sendiri. Beruntungnya ibumu.”

Padahal, dulu, suamiku disangsikan oleh kedua orangtuaku, apakah bisa menghidupiku kalau tanpa mereka? Sekarang? Lebih dari itu. Huhuhu, aku jadi sedih kalau ingat. Maafkan aku, Suamiku.

Sekarang, alhamdulillah, kami serumah hanya bertiga, aku, suami, dan Kak Ghifa. Alhamdulillah, meski awal ditinggal ibu rasanya terseok-seok, kini kami bisa berdiri lebih berani menegakkan kepala, tak tertunduk lagi karena menangis pilu.

Bahagia kami itu sederhana, bisa menghabiskan waktu bersama

Terlebih, kegiatan harian kami juga lebih tertata. Ya, sesuai yang kami idamkan. Selepas maghrib, aku bisa mengaji, kemudian menemani Kak Ghifa untuk belajar dan mengaji. Kami bisa makan malam bersama sembari cerita kegiatan seharian tadi. Setelah itu dilanjutkan dengan menonton TV bersama atau hanya bercengkrama di kamar. Alhamdulillah, nikmatnya.

Kehadiran suami makin kusyukuri saat aku harus melewati kehamilan anak keduaku saat ini. Dulu, saat hamil Kak Ghifa, semua yang handle ibu. Mulai dari makan mah aku tinggal makan saja, pokoknya dimanja banget. Sekarang, karena hanya tinggal bertiga, kalau nggak gerak, ya, nggak makan. Hihihi.

Alhamdulillah, alhamdulillah, suami selalu cekatan. Dia tak pernah berpangku tangan dengan pekerjaan rumah, ya, nyuci, jemur baju, ngepel, nyuapin Kakak, bahkan gantian memasak pun dia bisa. Tapi, aku juga tidak seenak udelku sendiri. Selama tidak loyo banget, aku tetap mengerjakan kewajibanku. Kalau sekiranya capek, baru deh minta tolong kepada suami.

Wong ya suami seharian juga sudah kerja, kan kasihan kalau harus menghandle pekerjaan rumah juga. Tapi, yang pasti, sejak tinggal bertiga kami selalu membagi pekerjaan rumah untuk dikerjakan bersama. Oleh karena itu, aku juga sadar diri, kalau pas malam tiba, suami ingin me time ya kupersilakan.

Me time suami tak aneh-aneh sih, suami juga bukan tipe orang yang suka keluar malam atau sekadar njagong ke rumah tetangga. Suami lebih suka menghabiskan waktunya dengan keluarga atau hanya menonton bola lewat HP atau laptop.

Andalan suami kalau misalkan mau menonton pertandingan sepak bola serie a big match, dia sering memantau jadwalnya di UseeTV. UseeTV adalah layanan portal hiburan, informasi dan lifestyle, berupa berbagai macam konten streaming digital maupun aplikasi, seperti video film, video klip musik, Live TV, TV on Demand yang dapat diakses melalui berbagai media seperti laptop, smartphone (handphone), dan tablet. Jadi, modal laptop dan internet saja suami sudah anteng.

Itulah curhatanku tentang rumah tangga yang kuidamkan. Tentunya kamu juga memiliki kisah tersendiri, ya, bagaimana rasanya bisa hidup mandiri ataupun harus tinggal dengan mertua ataupun kedua orangtua? Terpenting, apapun yang saat ini kamu alami, do the best. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

Minggu, 25 April 2021

Sel Kulit Mati di Hidung Rontok dengan Treecos Cosmetics

 

Halo. Hari Minggu ini jadi kesempatanku untuk memasak sesuatu yang sedikit riwil. Sejak pagi tadi aku sudah sibuk di dapur, karena mau bikin botok lamtoro atau botok petai cina. Kubayangkan, nanti pas buka puasa ditemani sayur bening dan botok lamtoro yang pedas, ehm, yaaamiiiiii.

Resep bisa kamu baca di resep botok lamtoro.

Sebenarnya, bisa sih kalau beli botok di tempat bulekku yang selama ramadan ini jualan lauk-pauk di depan gang. Hanya saja kan beda kalau masak sendiri sama beli. Iya, sih, lebih rempong, tapi kan yang dimasak jadinya banyak dan lebih hemat. Bisa buat lauk besok lagi, hihi.

Entahlah, aku memang tidak hobi jajan di luar. Karena bisa nemu menu masakan yang sesuai dengan lidah itu susahnya seperti mencari jodoh untukku.

Sama halnya kalau ngomongin soal produk skincare, makin ke sini aku makin sadar kalau menemukan skincare yang cocok untuk kulitku itu nggak mudah. Karena;

  1. Skincare A cocok untuk kulit kamu, belum tentu cocok juga untukku.
  2. Ada skincare yang cocok banget, tapi harganya nggak cocok dengan kantong.
  3. Ada iklan skincare yang heboh banget, reviewnya bagus, eh, setelah pakai sendiri kok biasa-biasa aja. Nggak ngefek seperti kabar beredar.

Alasan lain masih banyak lagi.

Dulu nih, pertama kali aku kenal skincare waktu SMP. Itupun hanya sebatas cuci muka, pelembab, yang endingnya mengandalkan bedak tabur agar muka kelihatan lebih terang. Seperti itu terus sampai awal kerja.

Semenjak bekerja, sebagai guru SD, bertemu banyak orang, kok mereka mukanya pada bersih-bersih, ya, dilihat tuh enak gitu, di situlah aku mulai ngaca dan sadar. Ya, aku juga harus berubah dalam hal penampilan mukaku.

Rasa ingin 'orang melihatku dengan enak' itu muncul dengan kuat. Dari situlah, dengan gaji yang empat ratus ribu per bulan, kuberkenalan dengan lisptik terlebih dahulu. Jadi, setelah mandi, kini cuci muka, pelembab, bedak, dan lipstik menjadi teman karibku.

Hihihi. Kalau ingat masa-masa itu tuh aku pengen banget ketawa, kenapa? Karena pertama kalinya beli lisptik, aku tuh beli yang warna cokelat, Teman. Saking nggak pedenya. Padahal, tahulah, karena kulitku itu cenderung gelap, bukannya memberikan kesan lebih bercahaya, mukaku malah tampak tua.

Lama-kelamaan aku mulai deh belajar soal warna lisptik dan akhirnya nemu warna yang pas dengan kulitku.

Begini potret awal mengenal lipstik, bandingkan dengan sebelumnya


Itulah sekelumit cerita ke-culu-anku saat pertama kali berkenalan dengan lipstik dan kawan-kawannya. Bagaimana dengan sekarang?

Kesadaranku untuk selalu tampil prima saat di depan anak-anak, atau saat ini sering bersinggungan juga dengan wali murid karena anak-anak BDR (belajar dari rumah), membuatku makin sadar kalau penampilan seorang pelayan masyarakt itu memang penting. Makanya, sampai sekarang pun aku masih bergerilya mencari produk skincare yang memang cocok untuk kulitku. Terutama bisa mengatasi sel kulit mati yang menumpuk di lipatan hidung yang menurutku sudah sangat mengganggu.

Berangkat dari situ, aku cerita dengan salah satu temanku mengenai masalah sel kulit mati yang menumpuk di lipatan hidungku. Ditawarkannya produk dari Treecos Cosmetics berupa facial wash bio oily dan face tonic bio oily khusus untuk mukaku yang cenderung berjerawat dan ada tumpukan sel kulit mati di bagian hidung.

Treecos Cosmetics

adalah produk skincare yang menggunakan bahan alami dan sudah terdaftar di BPOM sehingga skincare yang satu ini tidak akan mengakibatkan kecanduan bagi penggunanya. Treecos Cosmetics memiliki beberapa jenis produk yang dapat digunakan pada jenis-jenis kulit normal dan berminyak. Perlu diperhatikan bahwa produk skincare ini hanya disarankan bagi pria dan wanita yang berusia 18 - 55 tahun.

Kita bisa lihat lebih lanjut ke websitenya di https://treecos.com/. Sebelum membeli produk dari Treecos Cosmetics, sangat disarankan untuk berkonsultasi mengenai keluhan dan keadaan kulit wajah kita agar produk yang kita pakai tepat sasaran dan bisa mengatasi masalah yang kita alami. Konsultasinya di mana? Tuh, di websitenya sudah ada menu konsultasi.

Jangan lupa konsultasi terlebih dahulu, ya! Tenang, kerahasiaan data kita terjaga kok

Bagaimana Kesanku Memakai Produk Treecos Cosmetics?

Treecos Cosmetis ini dikirim dari Sleman, Yogyakarta dengan kemasan yang cantik dan aman sekali. Peratama kali terima dari kurir, kupikir dikemas dengan kertas karton cokelat, ternyata bukan, melainkan plastik tebal dengan buble wrap berlapis di dalamnya. Insyaallah, aman selama perjalanan.

Dua produk yang dikirim sesuai konsultasi dan keadaan kulitku adalah facial wash bio oily dan face tonic bio oily. Bagaimana kemasannya, kandungan di dalamnya, dan cara pemakaiannya akan aku ulas secara singkat di bawah ini kemudian apa respon kulitku akan kutulis juga, ya.

Kumulai dari,

Facial Wash Bio Oily


Isi 100 ml dengan harga Rp 70.000 (harga bisa berubah saat ada promo)

BPOM NA 18201203070

Facial wash ini diformulasikan untuk mencegah timbulnya jerawat, efektif untuk kulit berminyak dan tidak membuat kulit menjadi kering, serta membantu menghaluskan kulit.

Kemasannya berbentuk botol segenggaman tangan orang dewasa, lengkap dengan pump dan tutupnya. Dominan warna putih dan cream. Saat dipencet, keluar cairan bening encer dan baunya lembut. Sekali pakai, kupencet 3 sampai 4 kali.

Kandungan aktifnya, apa saja? Ada Salicylic acid, Tea Tree Oil, dan Alpha Bisabol.

Cara pemakaiannya juga mudah:

  • Basahi wajah dengan air
  • Tuang secukupnya ke telapak tangan
  • Busakan dan usap lembut ke seluruh wajah & leher dengan gerakan melingkar keluar
  • Diamkan selama 1-2 menit
  • Bilas sampai bersih
  • Keringkan dengan handuk; ditepuk perlahan

Face Tonic Bio Oily


Isi 100 ml dengan harga Rp 50.000 (harga bisa berubah saat ada promo)

BPOM NA18201203069

Toner ini diformulasikan khusus untuk membersihkan kulit wajah yang berminyak / berjerawat dari kotoran dan sisa riasan. Menyegarkan kulit dan mencegah timbulnya jerawat sehingga kulit tetap halus, bersih dan terasa segar. (Dapat digunakan setelah cuci muka).

Kemasannya hampir sama dengan facial wash, akan tetapi tutup botolnya berbentuk flip flop. Saat dituangkan di kapas, toner ini memberikan warna cream kekuningan pada kapas. Kalau toner yang biasa kupakai saat dituang di kapas tak berwarna, hanya ada kesan basah saja. Melihat kesan dari produk ini ya terasa beda saja.

Kandungan aktifnya, apa saja? Ada Bio Sulfur dan Lactic Acid.

Cara pemakaiannya juga mudah:

  • Setelah memakai facial wash, tuang toner secukupnya di kapas pembersih
  • Tepuk perlahan dan merata pada wajah. Hindari kelopak mata
  • Jangan dibilas
  • Untuk kompres jerawat: tuang secukupnya di kapas pembersih ( kapas nya tipis saja ), tempelkan pada kulit yang berjerawat

Setelah 14 Hari Pemakaian...


Ehm, cukup bikin WOW.

Karena apa?

Pertama kali pakai facial washnya nyaman, kemudian pakai tonernya, ulala, cekit-cekit banget di area hidung yang ada tumpukan kulit matinya. Rasa cekit-cekit itu bertahan ada kalau 10 menit. Tentu itu nggak nyaman. Setelah kukonsultasikan, memang efeknya seperti itu. Itu tandanya toner itu bekerja dengan optimal.

Sebenarnya aku pernah punya pengalaman memakai toner dengan rasa seperti itu. Ku-stop karena nggak nyaman banget. Setiap kali dipakai, warna kulit bagian hidungku itu jadi merah banget. Seperti luka yang menganga gitu. Tapi, pas pakai toner dari Treecos ini nggak ada kesan warna merah itu. Cekit-cekitnya, ya, 10 menit tadi saja, setelah 10 menit aman-aman saja.

Kemudian, yang bikin aku melongo, pas hari ketiga, malam hari, seperti biasa kubersihkan sisa-sisa makeup sebelum tidur. Pas pakai tonernya, loh, di bagian hidungku tuh seperti ada yang pada rontok. Aku berhenti membersihkan dan kupastikan dengan cara bercermin. Eh, kulit mati yang pada bertumpuk itu beneran rontok lho, Teman. Awalnya kan seperti daging pada tumbuh nggak jelas gitu, ini lebih halus lho. Nyenengin banget.

Tunggu dulu, setelah selesai kubersihkan, bagian hidung tadi kan kukompres kapas yang ada tonernya. Kemudian pas mau mapan tidur, duh duh duh, rasanya gatal banget, Teman. Gatal di bagian hidung doang. Pengen garuk-garuk tembok beneran lho. Aku sampai gemes banget.


Lagi-lagi, aku tanya dong, konsultasi lebih lanjut, ternyata memang itu tadi yang rontok kemungkinan besar sel kulit mati yang menumpuk. Rasa gatal tersebut muncul karena kulit wajahku sedang mengalami perbaikan. Aku kan jadi ingat, iya, ya, kalau punya luka dulu pas kecil kan gitu, kalau mau sembuh malah rasanya gatal banget. Aku tentu hepi dong.

Saranku nih ya, kalau misalnya kamu tertarik sama produk perawatan dari Treecos Cosmetics ini jangan asal beli saja, ya. Konsultasikan terlebih dahulu. Kan enak to, wong ya sudah dimudahkan dengan menu konsultasi gitu. Biar hasilnya pun makin jos markojos tepat sasaran.

Insyaallah, setelah lihat pemakaian selama dua minggu ini yang bikin aku senyum-senyum, bisa lanjut beli lagi nih kalau facial wash dan tonerku habis. Kulihat lagi ada diskon juga di bulan April ini. Kemudian juga kalau beli paketan harganya lebih miring. Wah, siapa yang mau nolak. Paket untuk muka berjerawat harus kuangkut segera.

Kamu kalau mau lihat-lihat produk dan harga dari produk Treecos bisa langsung  lihat langsung ke web Treecos Cosmetics, ya.