Rabu, 17 April 2019

Belilah, Jangan Ditawar Apalagi Dihina



Belilah, Jangan Ditawar Apalagi Dihina - Kemarin malam, saat bapak pulang dari pasar, beliau membawa bungkusan plastik hitam.

"Ketan, Ka." Bapak menawariku.

Ibu yang menjawab, "Kok tumben beli ketan?"

"Sakne, sing dodol mbah-mbah tuwek. Pas udan sisan. (Kasihan. Yang jualan nenek tua. Saat hujan pula)"

Ibuku masih menimpali, "Lah, kok podho karo Ika. Bali-bali ngeter lomba nggowo terasi. (Lah kok sama dengan Ika. Pulang dari mengantar lomba, pulang-pulang bawa terasi). Padahal stok terasi di rumah masih panjang sampai beberapa bulan depan. Kalian berdua memang cocok."

Sumber: phinemo.com

Aku yang mendengar perkataan ibu hanya tersenyum. Lha mau bagaimana? Memang kasihan.
_____________________________

Aku jadi ingat momen-momen Ustadz Danu menangis ketika melihat seorang ibu dengan kaki yang tulangnya meleset dari tempat semestinya. Apa hubungannya dengan ceritaku?

Ibu itu mengalami hal demikian setelah kejadian tawar menawar dengan penjual cobek. Ibu itu menawar cobeknya dengan harga 50 ribu dari harga asli 80 ribu.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya masih masuk akal ya nawarnya. Akan tetapi, mungkin ada embel-embel perasaan yang berbeda. Bisa jadi ada rasa jengkel dari penjual atau ibu tersebut yang berlebihan atau perasaan merendahkan orang lain.

Yang sering melihat acara Ustadz Danu pasti paham ya kalau apa yang terjadi pada diri kita adalah akibat dari perilaku kita sendiri. Itupun sudah diterangkan di dalam ayat suci Alquran.

Terlepas dari masalah dalam diri ibu tersebut, masih untung penjual cobek itu mau berusaha berjualan. Bukan meminta-minta. Eh, kok masih ditawar pula. 

Duh, malah ingat kasus laki-laki yang pernah tertangkap razia karena didapati sebagai pengemis tapi punya mobil. Kamu pasti tahu juga, kan? Viral banget beritanya.

Guruku pernah bilang kalau setiap hari kita itu diberi kesempatan oleh Allah untuk berbagi kepada siapapun. Terpenting adalah niat kita. Kalau dari rumah niat mau berbagi, kalau ketemu dengan orang, baik itu mau pengemis masih muda, yang berkebutuhan khusus, atau mbak-mbak menggendong anak, kalau mau berbagi ya berbagi saja.


Itu kepada pengemis, bagaimana kalau dengan penjual barang, seperti penjual cobek, ketan, dan terasi yang kuceritakan di atas? Jelas, kedudukan mereka lebih mulia dibandingkan pengemis. Mereka rela menahan malu demi mendapatkan untung yang tidak seberapa.

Ngomong-ngomong soal penjual terasi yang kutemui. Saat itu aku tahu kalau ibuku masih punya stok terasi banyak banget. Akan tetapi, melihat perjuangan bapak tersebut, datang di antara kumpulan guru-guru dengan berpakaian rapi, beliau juga berusaha berpenampilan rapi walaupun dengan baju dan sepatu yang seadanya.

Aku pernah juga menemui penjual keripik singkong saat aku jadi SPG di acara dinas pendidikan di kabupaten. Beliau hanya menjual keripik singkong seharga 2000 perak, lengkap dengan pikulannya yang usang, baju batik yang mulai lusuh, tapi beliu mau berjuang. Tidak hanya menengadahkan tangan.

Kalau lihat orang-orang yang mau berusaha dan malu meminta-minta seperti itu, apakah tega untuk menawar? Kalaupun tidak butuh-butuh banget, yuk, beli! Karena 5000 perak yang tidak terlalu besar bagi kita, belum tentu begitu juga bagi mereka.

Jangan sampai kita mudah berbagi dengan pengemis, tapi dengan mereka yang mau berusaha dengan berjualan (entah barang apa-penting halah), kita malah lalai!

Senin, 15 April 2019

Meski Berstatus Ibu Bekerja Tanpa ART, Cara Simpel Berikut Bisa Kamu Lakukan untuk Menjaga Kewarasan dan Merawat Kulit Agar Tetap Putih, Lembut, dan Sehat


Seperti lagu dangdut, hidup ini memang penuh dengan lika-liku. Hari ini aku waras, besok pagi harus lebih waras agar rumah tanggaku tidak gonjang-ganjing. Kalau kata pakar parenting, kunci keluarga bahagia terletak pada ibu yang waras, ini benar adanya.

***

Hai, perkenalkan, murid-muridku memanggilku Bu Ika. Aku seorang guru milenial yang mengajar dengan membawa serta balitaku (3,5 tahun).

Aku, Kak Ghifa, Kanaia, Afika, dan N'Vidia

Keadaanlah yang memaksaku untuk membawa Kak Ghifa. Ibuku, yang dulu membantuku untuk menjaga anakku, kini, tidak boleh terlalu capek secara fisik maupun psikisnya. Ibuku harus selalu happy.

Kenapa Kak Ghifa tidak dititipkan ke daycare atau pakai ART saja? Untuk saat ini, aku lebih butuh uang itu untuk biaya terapi ibuku.

Seminggu setelah tahu keadaan ibu, giliran kabar kurang baik datang dari bapakku. Beliau diduga terkena gejala struk. Alhamdulillah, bapak masih tampak sehat dan tetap bekerja seperti biasa. Akan tetapi, dua kali dalam seminggu, beliau harus terapi juga seperti ibuku.

Semua alur hidupku berubah arah. Dulu, sebelum ibu dan bapakku sakit, semua pekerjaan rumah kami handle bersama, kami berbagi tugas. Sekarang, mau tidak mau, aku dibantu oleh suamilah yang membereskan semuanya. Awalnya terasa berat. Tapi, kami harus berdamai dengan keadaan.

Aku Sudah Tidak Peduli dengan Pandangan Orang Lain Terhadapku

Di usia 27 tahun ini, alhamdulillah, aku sudah diizinkan oleh Allah untuk merasakan, oh, beginikah rasanya jadi anak tunggal yang sesungguhnya? Di saat aku dan suami belum merasa mapan dalam hal finansial, Allah memberikan kabar sakitnya bapak dan ibu hampir bersamaan. Rasanya itu seperti ada batu gedhe banget diletakkan di pundakku.

Berat.

Minggu pertama menerima kabar tersebut, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Di otakku hanya ada satu kalimat, "Kalau aku tidak kuat, siapa yang akan menguatkan kedua orangtuaku?"

Ditambah lagi perasaan tidak enak kepada teman sejawatku di sekolah. Mereka memang tidak mengutarakan perasaannya secara langsung kalau keberatan aku membawa anak, tapi aku yang merasa tidak enak.

Lambat laun, persetan dengan perasaan itu. Aku mulai cuek. Meskipun aku hanya guru honorer, kemudian sekolah membawa anak, akan kubuktikan kalau aku tetap profesional saat berada di kelas. Modalku hanya bismillah.

Parahnya, di saat-saat sulit dalam hidupku, ada saja yang mencibir. Katanya, aku ini anak yang tidak tahu balas budi. Suka hura-hura tanpa memikirkan nasib orangtua.

Sebenarnya, cibiran itu muncul karena foto yang kupasang ke sosial media. Aku, suami, dan anakku sedang berada di tempat makan. Kami sedang makan dan diambillah foto untuk keperluan bahan tulisan. Padahal, kami makan waktu itu tanpa membayar dengan uang, melainkan melalui tulisanku.

Yaaa...Orang memang tahunya sepotong demi sepotong hidup kita. Itupun hanya dari sosial media dan dengan mudahnya mereka berkomentar, se-enak udhele dhewe.



Jengkel? Jelas. Tapi, aku tidak perlu capek-capek menjelaskan ini dan itu. Aku hidup butuh kewarasan, bukan pengakuan.

Agar Tetap Waras, Inilah yang Kulakukan


Mengarungi bahtera rumah tangga baru masuk gerbang 5 tahun, tolong dimaklumi kalau aku masih sering kagetan. Pelan-pelan aku sadar, menjalani kesempatan hidup, itu artinya aku harus mau learning by doing. Menciptakan problem solving setiap saat.

Menghadapi kenyataan hidup yang kuceritakan di atas, aku sok-sok-an menghandle semua sendiri. Aku merasa ini tugasku, tanggung jawabku. Sudah cukup suamiku lelah bekerja. Ini saatnya aku membalas baktiku kepada bapak dan ibu juga.

Di benakku hanya satu, hidupku untuk kerja, kerja,dan kerja. Aku harus menghasilkan banyak uang untuk terapi bapak dan ibu. Pekerjaan rumah juga harus beres semua. Urusan di skeolah juga harus sempurna.

Eh lha dalah, ternyata aku oleng, Saudara. Aku melupakan kodratku sebagai perempuan, sekuat-kuatnya tenagaku, pun butuh bantuan orang lain juga. Aku lupa bahwa tubuhku juga punya hak untuk bernapas sejenak.

"Jangan sungkan untuk minta tolong!" suamiku mengingatkan.

Akhirnya, kususun ulang pola hidupku. Kuubah kebiasaan-kebiasaan lama yang kini jelas tidak bisa kulakukan karena ada peran bapak dan ibuku di sana.

Beginilah keseharianku,

Bangun lebih pagi. Aku percaya bahwa orang yang bangun lebih pagi, maka dia lebih siap untuk menjalani hari-harinya. Kuusahakan, paling lambat aku bangun pukul 03.00 WIB. Beribadah, kemudian membuat list kegiatan yang akan aku lakukan dalam satu hari. Tak lupa aku mengecek materi yang akan aku sampaikan ke murid-muridku.



Bajuku dan Kak Ghifa tak luput dari persiapanku. Setelah semua beres, kusempatkan untuk menulis, tidak harus selesai menjadi satu artikel. Terpenting aku membuat outline tulisan dengan jelas. Biasanya, kegiatanku di atas selesai menjelang adzan subuh dan bersamaan dengan bau kepulan nasi dari rice cooker.

Saat cuaca mendukung, aku ikut berjamaah sembari jalan-jalan pagi. Pulang dari musala, baru deh tempur di dapur. Untuk bahan masakan, aku sudah siapkan semua di kulkas. Jadi, tinggal cemplung-cemplung. Tidak ketinggalan, mesin cuci dan seperangkat piring, gelas, dan kawan-kawannya juga melengkapi irama musik pagi hariku.

Jumlah langkah kakiku saat jalan-jalan setelah sholat subuh


Urusan menyapu lantai, mengepel, dan siram-siram tanaman depan rumah, suamiku sudah siap sedia. Alhamdulillah.

Sarapan itu harus. Sejak kecil, ibuku mendidikku untuk wajib sarapan sebelum keluar rumah. Alhamdulillah, kebiasaan itu terbawa hingga kini. Bedanya, sejak bapak dan ibu sakit, menu makan kita banyak berubah. Mulai dari tidak pakai micin, tidak ada santan, mengurangi konsumsi kacang-kacangan, hanya makan bagian dada dan paha ayam luar negeri, makan ikan air tawar itupun hanya bagian perut sampai ekor dan tidak minum es.

Otomatis, aku dan suami mengikuti pola makan bapak dan ibu. Kami lebih memperbanyak makan buah dan sayur. Nasipun setengah porsi dari biasanya dan hanya dimakan saat siang dan makan malam. Kalau aku dari dulu terbiasa sarapan dengan buah, jadi tidak ada masalah.

Justru, 2 bulan terakhir ini aku merasakan ada sesuatu yang beda dalam diriku. Kalau biasanya menjelang menstruasi, tubuhku rasanya seperti dipukuli maling. Kali ini tidak sama sekali. Malahan aku tidak sadar jadwal menstruasiku telah datang. Benar adanya kalau apa yang kita makan, sangat mempengaruhi kesehatan tubuh kita.

Ribet banget? Awalnya aku merasa demikian, tapi, kini sudah terbiasa. Justru itu malah mempermudah aku saat memasak.

Bekerja dengan fokus. Kalau pernah membaca buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya karya Ajahn Brahm, di sana dituliskan 3 pertanyaan yang bisa mengubah hidup kita. Inti dari 3 pertanyaan tersebut adalah apa, siapa, dan di mana kita berada, maka lakukan dengan maksimal, fokus.

Kalau dipikir, betul juga, bukan?

Kalau sedang ada di sekolah, ya fokus dengan urusan sekolah, lakukan tetek-bengeknya dengan maksimal, jangan tanggung-tanggung! Sebaliknya, kalau sedang berada di rumah, urusan sekolah ya jangan dibawa pulang.

Apa kabar dengan Kak Ghifa yang ikut sekolah? Di luar dugaanku, dia begitu enjoy bahkan sangat happy setiap kali di sekolah. Benar adanya kalau setiap anak itu dilahirkan sangat cerdas. Toh, Kak Ghifa justru paham posisiku saat di sekolah bukanlah milik dia sepenuhnya, seperti saat di rumah. Bahkan, dia mulai hapal berbagai lagu, tepuk ice breaking yang sering kulantunkan bersama murid-muridku. Lucunya lagi, saat di sekolah dia memanggilku dengan panggilan, Bu Ika, bukan Ummi. Hihihi.



Makan siang tepat waktu. Aku tipe orang yang kalau telat makan langsung pusing. Ujung-ujungnya badan jadi tidak fit. Makanya, telat makan siang bagiku adalah haram. Kalau aku jatuh sakit, malah berantakan semua. Ibu bekerja dilarang sakit. Kalau sakit, bagaimana urusan rumah dan sekolah?

Tidur siang walau hanya 30 menit. Kegiatan ini wajib. Aku pulang sekolah paling lambat pukul 13.30 WIB. Sembari Kak Ghifa tidur, aku ikut tidur juga. Orang sering bilang, ibu itu apa bisa tidur siang? Bisa. Kalau aku nih ya, pekerjaan menanti, ya, tidak masalah. Kalau jatah tubuh minta tidur, ya, tidur saja.

Ah, jadi ingat 3 pertanyaan yang kuceritakan di atas. Hidup ini sebenarnya memang simpel. Kita (eh, kita) saja yang membuatnya ruwet.

Me time itu harus. Selain suka makan es krim di depan emperan minimarket sepulang sekolah, me time yang bisa kulakukan tanpa modal banyak, ya, dengan mandi.

Sejak kuliah, aku merasa nyaman sekali saat mandi. Di dalam kamar mandi, aku sering sekali berceloteh ke sana-sini sambil memainkan busa sabun. Kemudian ide-ide liar yang tak terhitung jumlahnya pun bermunculan. Sampai sekarang, kebiasaan unik ini masih melekat dalam diriku.

Hampir setiap hari aku bisa melakukan me time ini. Tepatnya saat sore hari. Selain karena pekerjaan rumah sudah selesai, juga ada suami yang mau gantian menjaga Kak Ghifa. Tidak lucu lah kalau sedang asyik mandi kemudian Kak Ghifa menggedor-gedor pintu (hihihi...pengalaman). Bubar jalan deh me timenya.


Aku dan produk Velvy

Ya, me time bagiku itu tidak melulu harus pergi keluar rumah, apalagi menghabiskan uang untuk belanja-belanja. Cukup 20 menit mandi di kamar mandi, tanpa meninggalkan keluarga, pekerjaan rumah pun beres semua, me time tetap bisa tercipta.

Ngomongin soal me timeku, mandi, aku ingin cerita tentang skincare yang kugunakan. Yaitu, produk keluaran dari Velvy, ada Velvy Goat’s Milk Shower Cream Green Tea & Aloe Vera (untuk volume 250 ml harganya 20 ribu) dan Velvy Goat’s Milk Body Lotion Green Tea & Aloe Vera (dengan harga 47 ribu mendapat kemasan dengan isi 600ml) yang kubeli di JD.ID.

Selain sudah terbukti halal, aku tertarik mencoba produk ini karena bahannya dari susu kambing Netherlands. Umumnya kan kalau produk kecantikan itu terbuat dari susu sapi. Nah, aku penasaran, apa sih keunggulannya? Sebelum memesannya, kucari di berbagai sumber, ternyata, susu kambing itu memiliki 3 keunggulan utama, yaitu:
  • Mudah diserap kulit kita
  • pH sama dengan pH manusia
  • Cocok untuk kulit kering atau sensitif
Kulitku kan kering, baiklah, akhirnya aku makin yakin untuk mencobanya.

Kesan pertama kali mandi dengan sabun susu kambing Velvy ini, aromanya segar dan tidak menyengat. Mengenai tekstur, hampir sama dengan sabun mandi lain. Berwarna putih agak encer dan busanya banyak. Aku ingat betul rasa yang menempel di kulitku itu lembut banget. Seperti ada minyak-minyaknya gitu. Akan tetapi, setelah penggunaan untuk kedua kalinya dan sampai sekarang, di kulit makin terasa lembut dan kenyal.

Sabun susu kambing Velvy
Sumber foto dari IG @velvybeauty

Berbeda dengan  sabun sebelumnya, dulu, aku terbiasa menggunakan sabun batangan, setelah mandi di kulit justru terasa kesat dan cenderung kering. Makanya, aku jadi beralih dan ketagihan mandi dengan sabun susu kambing Velvy ini.

Bagaimana dengan lotion susu kambing Velvy? Aku punya pengalaman lucu dengan produk yang satu ini. Aku biasanya kalau pakai body lotion kan setelah mandi dan sebelum tidur. Nah, saat bangun pagi di hari Minggu, Kak Ghifa mengendus tanganku. Dia bilang, "Wangi, Mi." Aku tidak langsung percaya, karena saat itu aku belum mandi dan baru selesai memasak di dapur. Akan tetapi, saat aku mengendus tanganku, ternyata, iya. Aroma green tea dan aloe vera yang khas tetap nempel di kulitku.

Lotion susu kambing Velvy
Sumber foto dari IG @velvybeauty

Aku jadi merasa untung berlipat ganda. Selain me time ku makin asyik, dengan menggunakan produk dari Velvy ini kulitku juga makin lembut dan sehat. Aku berharap dengan konsisten memakai produk Velvy ini, kulitku juga makin putih alami. Tentunya kalau ingin hasilnya maksimal, aku juga harus memperhatikan asupan makananku, tidak stres, menggunakan baju lengan panjang yang longgar dan tabir surya saat keluar rumah.

Aku jadi ingin mencoba produk Velvy yang lainnya, itu tuh Velvy Goat’s Milk Body Scrub Green Tea & Aloe Vera. Bair makin lengkap produk oerawatan kulit tubuhku. Nah, kalau kamu penasaran dengan produknya Velvy, kamu bisa kunjungi sosial medianya atau kepoin langsung websitenya di http://velvybeauty.com/ ya. Tenang, produk ini ternyata sudah dijual di supermarket dan online shop.

Oiya, aku juga buat video review produk Velvy yang aku pakai lho. Di sana kamu bisa tahu teksturnya lebih jelas.



Terakhir, usahakan jangan begadang. Jack Ma menyebutkan cara agar bisa bangun pagi adalah dengan tidur yang cukup. Aku sudah mulai jarang sekali tidur lewat pukul 21.00 WIB, kalau tidak sangat sangat terpaksa. Kuusahakan, sebelum tidur, semua bahan yang akan aku masak esok hari sudah siap di kulkas. Kemudian memastikan tidak ada piring di cucian. Satu lagi, sudah sholat isya. Bismillah, tidur nyenyak berkualitas.



Itulah keseharianku. Dari semua kegiatan yang kulakukan, aku belajar yang namanya konsistensi dan disiplin. Karena kalau satu kegiatan molor terlaksana, maka dipastikan yang lainnya juga demikian. Bubar jalan.

Satu hal yang tidak lupa ingin kusampaikan, bahwa hidup ini ternyata memang lucu. Saat pertama kali tahu bapak dan ibu sakit, mendadak aku bingung, ini bagaimana? Aku anak tunggal, siapa yang bisa kuajak berbagi? Kak Ghifa siapa yang momong?

Seakan-akan aku ini hilang arah, tidak punya Allah. Eh, giliran, ya, sudahlah, dijalani saja. Semua kok ya baik-baik saja. Bahkan lebih baik dari yang kukira sebelumnya.



Aku jadi ingat pesan guruku "Wong urip kuwi kudu sumeleh." (Orang hidup itu harus pasrah, ikhlas, nrimo, patrap, dan apa adanya). Tidak usah ngoyo sampai diri sendiri dikorbankan. Ingat, apapun yang terjadi, me time yang simpel akan tetap menyenangkan! Yuk, manjakan juga diri kita!


Bahan bacaan:
https://www.hipwee.com/hubungan/jadi-ibu-yang-bekerja-bisa-jadi-tak-punya-banyak-waktu-tapi-ada-6-kebaikan-yang-bisa-kamu-turunkan-ke-anakmu-kelak/
https://m.kumparan.com/amp/fitri-riduan/tantangan-ibu-bekerja-zaman-now
https://m.klikdokter.com/amp/3590482/5-cara-merawat-kulit-untuk-ibu-bekerja
http://velvybeauty.com/product/velvy-goats-milk-shower-cream-green-tea-aloe-vera/
http://velvybeauty.com/cantik-dari-dalam-itu-lebih-mudah/
http://velvybeauty.com/me-time-lewat-mandi/
http://velvybeauty.com/kenali-bahan-dalam-pemutih-kulitmu/
http://velvybeauty.com/goodbye-dry-hello-soft/
http://velvybeauty.com/product/velvy-goats-milk-body-lotion-green-tea-aloe-vera/

Jumat, 12 April 2019

Kecil - Kecil Berani Komplain


Rutinitas Jumat pagi di sekolahku adalah jalan-jalan atau senam. Setelah itu makan bersama kemudian pelajaran dimulai. Berhubung akhir-akhir ini sering hujan, lapangan sekolahku penuh dengan air. Ya sudah, jalan-jalan keliling kampung menjadi pilihan.

Aku ikut senang kalau jalan-jalan keliling kampung. Itu artinya aku juga bisa ikut olahraga lebih berkeringat. Keuntungan lainnya adalah semua muridku bisa berbaur bersama dengan murid lainnya. Saatnya belajar bersosialisasi.

Ada sisi kurang baiknya sih kalau jalan-jalan keliling kampung. Apa itu? Muridku sering bubar jalan memenuhi jalanan. Tentu ini akan mengganggu pengguna jalan lainnya. Jalan satu-satunya, ya, kami, guru-guru, harus teriak sana-sini agar murid-murid juga memberikan kesempatan kepada pengguna jalan yang lain untuk lewat.

"Ayo, sebelah kiri semua, satu-satu barisnya!!"

Hari ini, ada satu kejadian yang menurutku lucu tapi unik. Muridku, Khusna namanya, saat perjalanan pulang ke sekolah dia ngintil di belakangku. Seperti biasa ini anak cerita ke sana-sini sambil memegangi tanganku.

Saat ada muridku kelas 6 yang ikut menyusulku kemudian berbaris di depanku, tahu apa yang dikatakan oleh Khusna?

"Kok kerudungnya pink?"

Eh.



Kakak kelas yang mendengar celotehnya seketika menoleh. Kemudian menjawab dengan cengengesan, "Memangnya kenapa?"

"Kan harusnya pakai warna orange kayak punyaku. Kalau ada kuning-kuningnya dikit ya tidak apa-apa. Itu kok pink?"

Semua yang mendengar tertawa.

"Oh, murid Bu Ika ki."

Aku tersenyum.

"Tapi, Khusna betul, tidak?" tanyaku.

Mereka malah cengengesan lagi.


***

Sebenarnya aku sudah sering mengingatkan anak-anak untuk menyamakan warna kerudungnya. Beda-beda dikit ya wajar karena tidak dihandle oleh sekolah. Sayang, itu tidak berlaku untuk kelas lain. Kadang ada guru yang tahu itu kurang pas, tapi ya apa daya, hanya sekadar teguran saja.

Kalau dibilang tidak ada sinergi, ya, ada. Akan tetapi, sifatnya sangat lemah. Jadi, seolah-olah aku bilang harus pakai A tapi kalau yang lain menghalalkan pakai B atau Z, ya sudah. Paling tidak aku akan tetap memakai aturan yang kutahu itulah yang terbaik.

Aku dan Khusna berfoto bersama

Ehm. Tahun depan, kalau aku masih di sini, kemudian masih dipercaya mengajar di kelas 1, ingin rasanya mengusulkan pemesanan kerudung agar bisa seragam. Jelas aku akan mempertimbangkan harga kerudung dan bahannya dengan kondisi wali murid.

Soal warna kerudung ini kesannya memang sepele sih. Tapi, kuyakin ini bisa melatih kedisiplinan anak-anak. Ya, tak berbeda dengan peraturan memakai warna kaos kaki. Gitu deh, pokoknya.

Ngomong-ngomong soal warna kerudung, ada yang punya kenalan tempat pemesanan kerudung dengan jumlah banyak dan harga miring pakai banget, nggak?

Rabu, 03 April 2019

Ikhlas itu Memang Tak Mudah


Dulu, saat baru masuk kuliah, fakultasku mengadakan pemilihan mahasiswa yang akan mewakili lomba baca puisi untuk acara malam keakraban. Sebagai mantan peserta lomba baca puisi pas SMA di tingkat provinsi, meskipun saat itu tidak menang, aku pasti ingin memakai ilmu yang kumiliki.

Di hari yang sudah di tentukan, bertempat di bawah pohon, aku dan beberapa mahasiswa mengikuti seleksi untuk mewakili fakultas. Singkat cerita, saat itu juga diumumkan kalau yang lolos itu bukan aku, melainkan si Nungky, teman se-program studiku.

Hatiku berguguran, kecewa

Kecewa? Banget.

Apalagi saat teman-temanku pada ngomporin, "Duh, padahal bagusan kamu lho bacanya."

"Mungkin karena dia lebih cantik kali ya?" Keluhku menutup pembicaraan.

___________

Semenjak hari itu, aku jadi selalu jaga-jaga, bahkan tertarik setiap kali ada yang ngomongin soal si Nungky. Bahkan, kadang aku juga kepo tentangnya.

"Dia kalau di kelas tuh gimana sih?"

Iya, aku segitunya. Tapi, di lain sisi, justru itu memotivasiku untuk tidak mau kalah dengan si Nungky. Paling tidak aku membuktikan sama diriku sendiri aku itu tidak kalah kok sama dia.

Sebut saja aku benci dia dalam diam.

Sampai akhirnya, Allah seperti sedang gemas kepadaku.

Ditakdirkanlah kami, aku dan Nungky, dalam suatu penilitian dosen yang berhubungan dengan puisi. Jujur, aku sempat kikuk. Ini sainganku, kenapa sekarang malah jadi satu tim?

Mau tidak mau, aku harus profesional lah. Dan ternyata, kami bisa jadi tim yang solid lho. Bahkan, setelah penelitian itu selesai pun kami tetap berhubungan baik.

Apa kabar perasaan yang dulu?
Rasa bersaing?
Entahlah, semua hilang begitu saja.

___________

Kini, kalau aku flashback nih ya, sebenarnya Nungky memang pantas jadi wakil fakultas saat malam keakraban itu. Dia lebih terbiasa tampil di depan orang banyak dibandingkan dengan aku.

Sayang, dulu saat malam keakraban aku tak berniat sedikitpun melihatnya tampil. Padahal kan aku bisa memetik ilmu tampil di depan orang banyak darinya.

Kemudian, yang membuatku ingin menuliskan cerita yang sudah hampir berlalu sekitar delapan tahun ini adalah karena kini aku mengalami hal yang sama.

What?!

Saat ini aku dihadapkan pada posisi yang sama seperti kepada Nungky. Lagi-lagi aku yang kalah bersaing. Tapi, mau tidak mau aku harus satu tim dengan orang ini. Satu sekolah dengannya.

Dia adalah peringkat 1 di ujian CPNS kemarin. Keduanya ya aku ini. Hihi 

Ngomong, iya aku ikhlas. Atau, iya aku mengaku kalah. Itu tuh mudah ya? Tapi, yang sulit saat menjalaninya.

Ternyata ikhlas itu...

Sebelum dia datang ke sekolah, oke semua baik-baik saja. Bahkan, aku merasa kalau sudah benar-benar ikhlas. Aku sudah tidak peduli dengan omongan jelek, belas kasihan, dan sebangsa itu.

Eh, giliran salaman dengannya untuk pertama kali, duh, seperti ada luka baru.

Yes, ikhlas itu ternyata tidak mudah ya. Setulus-tulusnya ikhlas memang berat.

Berkali-kali, saat rasa tidak ikhlas itu muncul, aku berusaha untuk beristighfar. Karena aku sadar betul, kalau aku tidak bisa ikhlas, sama saja aku meragukan rezeki Allah untukku.

Ujung-ujungnya, rezeki itu tidak hanya lewat CPNS saja. Ditambah lagi gurauan guruku, "Kalau kamu jadi CPNS, aku malah takut kalau kamu tidak bisa idealis lagi. Padahal Indonesia butuh guru idealis sepertimu."

Baca juga: Menjadi Guru Honorer yang Open Minded? Harus Dong!

Bwahahaha.

Baiklah, lupakan soal ikhlas. Insyaallah ini semua butuh waktu. Pelan tapi pasti.

Sekarang, fokus, fokus, dan fokus kepada anak-anak.

Bismillah. Bisa, bisa, bisa. Pasti bisa.


Nah, apakah kamu pernah mengalami atau melewati masa-masa ikhlas yang begitu sulit?

Senin, 01 April 2019

Hidup Ini untuk Ditertawakan


Pagi tadi, tiba-tiba teman sejawatku tapi beda SD mengirim pesan whatsapp.

“Tumben, Mbak, berangkatnya pagi bener?” pesannya diakhiri dengan emoji tertawa yang ditutupi dengan tangan.

Aku berpikir, nih orang lihat aku di mana? Tadi aku tidak menyalipnya. Oh, mungkin dia melihatku pas aku lewat depan rumahnya?


Mungkin dia mengirim pesan tersebut untuk mentertawakanku. Dasar guru suka telat! Makanya nggak lolos CPNS kayak dia. Hahahaha.

Heran kali, dia melihatku berangkat lebih pagi dari biasanya. Karena dia tahu aku kalau berangkat mepet jam masuk. Bahkan, lebih sering duluan dia yang jarak sekolahnya lebih dekat.

Jujur, aku maklum kalau dia berkomentar demikian. Memang kenyataannya seperti itu.

Saat anak-anak sudah istirahat, kubalas pesan itu, ”Berarti Kak Ghifa tidak rewel say.”


***

Dulu, saat aku masih lajang seperti temanku di atas, aku juga pernah lho berkomentar seperti itu ke teman sejawatku, meskipun dalam diam. Eh, giliran sekarang aku sudah punya anak, bisa berangkat lebih awal satu menit saja dari jadwal biasanya sudah juara.

Apalagi sekarang Kak Ghifa ikut sekolah. Ritual pagi hari seperti masak, mencuci piring, sarapan dan mandi kulalui tanpa teriak-teriak begitu luar biasa. Itu belum termasuk menyiapkan bekal abi yang sering terlewatkan. Untung saja abi ngerti banget. Beliau selalu mementingkan aku dan Kakak berangkat sekolah dulu. Tahu sendiri lah, telat semenit saja, nyawa taruhannya, senggol bacok dengan pengguna jalan lainnya.


Baca juga: TAHUKAH KAMU SISI LAIN GURU HONORER? SSSTTT....SEKOLAH MEMBAWA ANAK


Setelah aku merasakan semuanya...

Baru deh aku bicara dalam hati, ternyata memang beda ya kalau sudah berkeluarga dengan masih lajang. Tanggungjawabnya sudah jelas beda, pekerjaan bertambah, urusannya makin ruwet-ruwet sedap.

“Maafkan aku, Teman.”

Kembali lagi soal pesan temanku di atas, apakah itu artinya hidup ini serasa saling tertawa-mentertawakan ya?

Soalnya, aku dulu pernah mentertawakan rumah temanku yang berantakan penuh dengan mainan anaknya. Sekarang rumahku juga berantakan. Banget malah.

Dulu, aku nyeletuk, tuh orang banyak hutang, pasti karena tidak bisa mengatur keuangan keluarganya. Sekarang, aku juga punya hutang. Hahahaha.

Ya Allah, lucunya hidup ini.

Atau memang aku yang membuat hidupku terasa lucu?

Sampai akhirnya, kejadian itu membuat jariku gatel untuk menulis status di Whatsapp,

Seringkali kita mentertawakan orang lain karena kita belum pernah mengalami apa yang dia alami. Giliran kita sudah mengalai hal yang sama, gantian kita yang ditertawakan oleh orang lain. Begitu seterusnya. Bagai mata rantai yang tidak ada putusnya. Pokoknya, apapun yang dialami oleh orang lain, jangan ditertawakan!



Hayo-hayo, kira-kira pernah tidak merasakan hal serupa?

*Semua GIF diunduh dari tenor.com