Selasa, 31 Agustus 2021

Yummy App, Kehadirannya Makin Berarti Pasca Aku Melahirkan


“Bi, kok oseng (tumis) kangkung e aneh gini?”

Mosok to? (Apa, iya?)”

“Bumbunya apa ini tadi? Pasti asal-asalan deh. Kok nggak bangunin Ummi, sih, tanya dulu gitu lho?! Apa saja, coba sebutin bumbunya?!”

Aku mulai emosi. Kemudian suami menyebutkan nama-nama bumbu yang dipakai.

Oseng (tumis) kangkung kok pakai kemiri, sih, Biiiiii!? Abi numisnya hangus pula?! Makanya aneh gini. Pahit.”

Meski ngomel dari A sampai Z, mau nggak mau ya masakan suami tetap kumakan. Kunyah tiga kali, kutelan, minum air putih, kunyah lagi, telan, minum lagi. Lha gimana? Aku sudah lapar banget. Sarapan buah seperti nggak bisa ngganjel perutku. Bayiku nenennya kuat pula.

Sampai kapan kudu makan masakan suami yang aneh seperti ini? Mau turun tangan sendiri jahitan perineumku baru sehari. Ah, sudahlah.

***

Cerita di atas adalah secuil drama kehidupan yang kualami sejak Jumat, 6 Agustus 2021, selepas aku melahirkan anak keduaku. Salahku juga sih, karena aku meng-iyakan permintaan suami untuk tidak pakai jasa asisten rumah tangga sekaligus mbak momong dulu selama masa pemulihan pasca melahirkan.

“Iya sih, Bi, sayang juga uangnya. Kan bisa kita pakai untuk keperluan yang lainnya dulu, ya. Ummi juga cutinya masih lama. Pakai jasa mbak momong nanti, sebulan sebelum Ummi berangkat saja.”

Setelah melahirkan dan melewati hari pertama, apa yang terjadi? Aku menyesal dengan keputusan itu.

Benar-benar aku yang salah. Meng-iyakan permintaan suami, tapi aku tidak membekali abi dengan kemampuan masak dengan baik. Selama ini abi selalu membantu pekerjaan rumah, seperti ngepel, nyapu, nyuci, dan jemur baju, tapi urusan masak, no, aku tidak pernah mengajak abi memasak bersama. Karena kalau aku lagi masak, itu ibaratnya jadi me time-ku. Jadi, abi nggak boleh dekat-dekat. Terpenting, nanti saat masakanku sudah siap, abi selalu jadi komentator ulung.


Apa akibat dari keputusanku itu? Selamat untuk diriku sendiri, habis lahiran bukannya makan enak biar hepi selalu, eh, malah, ya begitulah. Nasib, nasib.

Seandainya aku mengenalkan bumbu ini untuk masakan ini, bumbu itu untuk masakan B dari jauh-jauh hari. Hihi, stop berandai-andailah. Percuma. Sudah telat. Mendingan cari cara yang lebih solutif.

Yummy App, Aplikasi Tempatku Mencoba Masakan yang Tak Seperti Biasanya

Sejak bulan syawal lalu bapakku tidak tinggal bersamaku lagi. Karena beliau memutuskan menikah kembali dan ikut dengan istrinya. Semenjak itulah aku makin hobi memasak, mencoba resep masakan ini dan itu.

Pas bapak masih ikut aku, mana bisa masak yang neko-neko? Hihi. Bukan bermaksud jelek, akan tetapi, bapak kan hanya doyan makan dengan sayur yang itu-itu saja. Sayur bening plus penyet tempe atau penyet ikan asap. Kalau nggak gitu tumis tongkol, tumis rebung, dan lodeh terong. Itu mulu menunya.

Ya, nggak papa sih, asal bapak doyan, aku dan abi akan mengalah.

Makanya, saat bapak nggak serumah lagi, cus deh. Aku jadi masak mulu kalau pas di rumah. Me time bangetlah kalau di dapur.

Sebenarnya masakan yang kubuat nggak lepas dari masakan asli Indonesia kok. Malahan masakan yang kumasak itu sering dimasak oleh almarhumah ibuku. Karena dulu ibu yang masak, aku sibuk nguli dan tinggal makan, tahu rasanya seperti apa, kini, aku memanfaatkan kemudahan teknologi yang ada. Apa itu? Nyontek resep masakan dong di Yummy App.

Gara-gara Yummy App, aku bisa memanjakan lidah abi dan Kak Ghifa. Mulai dari masakan ndeso banget seperti sayur jantung pisang sampai yang masakan untuk lebaran ketupat berhasil kueksekusi lho.

Di tegalan, suamiku menanam banyak pohon pisang. Pas musim berbuah, jantung pisangnya kan sayang banget kalau dibuang begitu saja. Dulu, ibu sering banget bikin sayur ini. Selain enak rasanya, kalau masak sayur yang satu ini jadi lebih hemat di kantong.

Ilmu baru yang kudapat dari mengolah sayur ini adalah kalau ngolahnya nggak tepat, kuahnya jadi berwarna gelap banget. Tips nih, saat merebus jantung pisang, masukkan saat airnya sudah mendidih, ya. Jangan dimasukkan saat airnya belum mendidih!

Senangnya lagi, Yummy App tuh bikin aku disanjung sama teman-teman di sekolah. Kenapa? Pas lebaran ketupat kemarin aku kan bawa pecel dan lodeh. Kata teman-temanku, endeus rasanya dan laris manis. Hihi.

Syukur deh, nggak rugi, saat itu lagi hamil masuk trimester 3 bela-belain bangun pagi buat masak.

Kemudian yang paling bikin aku hepi adalah bisa bikin mie ayam sendiri di rumah. Sudah lama banget aku pengen makan mie ayam. Karena lagi pandemi jadi maju mundur dong untuk makan mie ayam di tempat langganan.

Nekad.

Bermodalkan Yummy App dan mie basah yang kubeli dari teman, kuolah deh jadi mie ayam rumahan. Kalau kata suami,

"Mi, kukasih tahu, ini jujur, ya, nggak bohong, Ummi mending pensiun saja dari guru terus buka usaha mie ayam. Ini enak banget. Lebih enak dari mie ayam langganan kita."

Hahaha.

Aku tertawa. Suamiku ini ada-ada saja.

Baby Blues yang Menimpaku dan Yummy App Jadi Andalan Suami Juga

Boleh kan ya kalau aku mau mengucapkan terima kasih banyak ke pembuat Yummy App. Nggak nyangka saja, awalnya tidak sengaja ketemu Yummy App di aplikasi berita kesayanganku IDN Times, eh, sekarang jadi andalan banget untuk teman memasak.

Yummy App ini isinya lengkap banget. Resep masakan dan minuman apapun ada. Mau ala Indonesia, barat, sampai korea, ada semua. Aku merasa nyaman memakai Yummy sebagai tempat mencari resep masakan dan minuman karena ada keterangan berapa langkah dan waktu yang digunakan untuk mengolahnya. Selain itu, setiap resep pun ada gambarnya (beberapa ada juga videonya). Jadi, nggak perlu deh buang-buang kuota internet karena harus menonton videonya dari awal sampai selesai. Kemudian, setiap resep juga ada ratingnya lho, kalau ratingnya bintang lima, ehm, patut dicoba dong pastinya.


Nah, punya Yummy App tapi kok sampai makan nggak enak pasca melahirkan?

Saat itu yang kupikirkan adalah segera sehat dan bisa beraktivitas seperti biasa. Apalagi melihat suami harus mengurusi aku, Kak Ghifa, dan bayiku. Sendiri, tanpa bantuan orangtua atau saudara. Aku merasa kasihan. Tapi, tak ada yang tahu rencana Allah. Aku malah kena baby blues.

Kulansir dari alodokter.com, baby blues merupakan gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Sekitar 80 persen wanita yang baru melahirkan mengalami baby blues. Apa yang kurasakan selama mengalami baby blues? Setiap kali maghrib tiba, suasana hatiku langsung berubah drastis menjadi sedih, merasa sendirian, sepi banget. Nanti ujung-ujungnya aku menangis nggak karuan.

Baby blues yang kualami diperparah dengan tekanan darah yang masih tinggi, setiap malam begadang, dan puting yang lecet. Sesekali aku malas menyusui bayiku. Bahkan aku merasa jengkel banget kalau melihat bayiku menangis. Duh, rasanya nggak karuan. Untungnya aku sadar betul kalau aku kena baby blues, makanya aku harus mengurai apa yang kualami ini agar segera membaik.

Salah satu cara mengatasi baby blues yang paling instan, ya, dengan makan enak. Kalau begadang mau nggak mau harus tetap begadang, kalau ngandalin suami untuk ngurus bayiku setiap malam kan kasihan, suami juga harus bekerja esok harinya. Puting lecet pun nggak bisa kalau bimsalabim langsung sembuh. Ya sudah, nikmati saja. Tapi, urusan makan, harus enak. Makanya, setelah seminggu pertama hanya makan sayur bening (ini resep makanan yang paling suami kuasai, daripada makan tumis kangkung pahit?) mulu, aku baru ingat kalau ada Yummy App di HPku.

Bermodalkan Yummy App di HPku, setiap malam suami selalu ngubek-ngubek aplikasi tersebut untuk mencari resep makanan yang akan dipraktikkan keesokan harinya. Kalau dari pengakuan suami, beliau senang dengan fitur Yummy App yang Masak. Karena hanya dengan memasukkan nama dua bahan makanan yang ada di kulkas, suami sudah bisa mendapatkan rekomendasi beberapa resep masakan apa yang bisa diolah. Cara memasukkan nama bahan-bahannya pun mudah karena bisa disesuaikan dengan huruf alfabet yang ada di samping kanan layar. Di gambar berikut, kumasukkan tahu dan brokoli.

"Kok, ya, nggak dari kemarin-kemarin to, Bi, pakai Yummy App. Kan aku nggak harus makan tumis kangkung pahit atau malah hanya makan sayur bening mulu selama satu minggu."

Memangnya abi bisa masak apa? Hoooo, jangan remehkan suamiku, ya. Meski setiap kali masak minta kukoreksi soal rasanya terlebih dahulu, tapi beliau bisa masak makanan request dari Kak Ghifa, yaitu soto dan ikan nila bakar lho.

Bagiku, abi mau masak soto untuk Kak Ghifa itu jempolan. Tahu sendiri kan kalau buat soto itu ribet banget? Tapi, demi Kak Ghifa yang selalu minta soto setiap kali kangen Mba Uti (almarhumah ibuku) abi jabanin. Terima kasih, ya, Bi, dengan memenuhi permintaan Kakak, aku ikutan ayem. Tak perlu menungguku sampai pulih betul, Kak Ghifa bisa menyalurkan rasa kangennya ke Mbah Uti lewat soto buatan abi.

Nah, nyatanya, berkat Yummy App, bukan hanya aku saja yang hepi bisa makan enak, bukan? Kak Ghifa juga. Alhamdulillah. Kini, setelah 25 hari pasca melahirkan, aku sudah lebih baik. Baby blues menjauh dariku. Bismillah, sehat.

Sekali lagi, terima kasih untuk pembuat Yummy App, karena aplikasi ini sungguh membantuku pulih lebih cepat dan memudahkan abi dalam merawatku. Kini, aku sudah bisa mengambil alih tugas memasak lagi. Setiap hari aku tetap mengandalkan Yummy App untuk teman memasakku. Apalagi saat ini, sekali membuka aplikasi Yummy App per harinya kita mendapatkan kesempatan untuk menang undian berhadiah spatula set, chopper, dan blender. Modalnya hanya jari kok. Cukup ketik Mau, pencet Putar, kemudian Kirim.



Monggo, kamu yang hobi masak atau nggak terlalu jago masak sepertiku, download saja Yummy App, baik pengguna android ataupun apple! Karena di Yummy App, kamu yang mau menulis resep di sana bisa dapat penghasilan lho. Lumayan, bisa buat beli bumbu dapur lagi.

Terakhir, pertengahan bulan September nanti Kak Ghifa ulang tahun ke enam. Aku berdoa agar bisa membuatkan kue ulang tahun sendiri seperti tahun lalu untuknya. Ya, meski tak sebagus kalau pesan di toko kue, paling tidak bermodalkan Yummy App, tahun lalu aku bisa membuat Kak Ghifa hepi dengan kue spidermannya. Insyaallah, tahun ini kebahagiaan Kak Ghifa akan terulang bahkan lebih bahagia lagi. Aamiin.


Yummy App, terima kasih sudah hadir dan melengkapi hari-hariku.

Minggu, 15 Agustus 2021

Mau Jadi Fresh Graduate yang Siap Kerja? Pilih Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak WBI!

Yap. Mau di kampus negeri ataupun swasta, entah selemparan kolor dari rumah atau harus merantau, kalau kamu sungguh-sungguh belajarnya, insyaallah, masa depan yang menjanjikan bisa diraih.

Nasihat tersebut berlaku untukku. Kalau kamu, bagaimana?

Tak dipungkiri orang kuliah tujuannya tidak hanya untuk melatih pola pikir dan menyelesaikan suatu masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan lebih tertata. Melainkan juga untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa menghidupi ke depannya. Oleh karena itu, penting sekali tepat memilih program studi yang kelak memiliki banyak peluang kerja.

Saat ini eranya perkembangan dunia digital yang begitu menggila. Nah, kira-kira program studi apakah yang ke depannya menyedot banyak fresh graduate yang siap kerja?


Salah satunya yaitu program studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) yang ada di Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia (WBI). Perguruan tinggi vokasi ini beralamat di Jalan Kapten Batu Sihombing, Percut, Sumatera Utara.

Berangkat dari keprihatinan seorang pebisnis sukses Indonesia, yaitu Martua Sitorus, WBI didirikan karena semakin banyaknya angka pengangguran di Indonesia. Februari 2020 tercatat ada 6.88 juta pengangguran dari penambahan per tahunnya sebanyak 60 ribu orang. Dari 60 ribu itu disumbang juga dari mereka yang lulusan perguruan tinggi. Bukankah ini menjadi masalah baru? Sudah mengeluarkan biaya yang tak sedikit, eh, setelah mendapat gelar sarjana malah jadi pengangguran?

Oleh karena itu, yuk kamu yang saat ini masih SMA, belum memutuskan mau kuliah di mana, atau mungkin baru menginjak semester awal, sudah tepatkah jurusan yang kamu pilih?! Jangan sampai kamu juga masuk dalam list pengangguran. Amit-amit.

Kulansir dari website pintek.id, enam dari sembilan profesi yang menjanjikan untuk sepuluh tahun ke depan berkaitan dengan dunia rekayasa perangkat lunak, seperti: digital marketer, spesialis SEO, pengembang aplikasi, software developer dan engineer, data analyst, kontruksi dan teknik. Nah, bukankah TRPL WBI memang tepat jadi jurusan kuliah pilihan kamu, apalagi WBI merupakan Kampus Entrepeneur di Sumut dan Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak WBI?

Ada 7 alasan yang menjadikan TRPL WBI bisa jadi jurusan kuliah untuk menyongsong masa depanmu yang mensejahterakan. Diantaranya:

1. Tujuan jelas

Program studi TRPL bertujuan menghasilkan lulusan yang terampil, teruji dan tersertifikasi serta berjiwa entrepreneur.

2. Menghayati dan menerapkan 5 nilai inti

WBI secara umum memiliki 5 nilai inti yang tentunya dijadikan pedoman untuk pelaksanaan pembelajaran, pengelolaan manajemen program studi, sampai kegiatan kemahasiswaan. Apa saja nilai inti itu? Ada profesionalisme, integritas, inovasi, kepedulian, dan kerjasama.

3. Dosennya masih muda, banyak pengalaman dan prestasi

Kata siapa kalau yang muda kurang pengalaman? Itu tidak berlaku untuk zaman serba mudah seperti saat ini. Karena aku sendiri termasuk hasil cetakan dosen muda yang idealis, banyak pengalaman dan prestasi. Jadi, tunggu apa lagi? TRPL WBI, insyaallah menjanjikan. 

4. Ada diskon 50% biaya kuliah

Sekarang mau sekolah tuh enak, ya? Dari SD-SMA ada bantuan dari pemerintah. Ini mau kuliah ada diskon 50%. Masak iya sih sudah ada banyak kemudahan, kamu mau berleha-leha atau malah salah pilih jurusan kuliah? TRPL WBI saja, yuk!

5. Cara daftarnya mudah

Masa pandemi seperti ini, siapa yang tidak pikir ulang untuk keluar dari rumah, ya? Apalagi kalau kamu dari luar Sumatera. Bisa banget lho daftar TRPL WBI hanya lewat layar.

6. Memiliki banyak MOU dan MOA

Terbaru, untuk menjalakan program Kurikulum Merdeka Belajar pada 25/6/2021, WBI melaksanakan kerjasama dengan dua buah kantor konsultan pajak, tiga perusahaan distributor, dan perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis.

7. Fasilitas kampus yang mendukung

Selain ada dosen yang mumpuni, kurikulum dan manejemen yang oke, hadirnya fasilitas yang memadai seperti laboratorium IPA, laboratorium komputer, food curt, sampai dengan perpustakaan ada.


Mau mencari program studi seperti apa lagi untuk menyongsong masa depanmu yang lebih mensejahterakan? TRPL WBI pilihan tepat agar kamu memiliki skill untuk bersaing di 'hutan rimba' kehidupan ini. Selamat berjuang, Kawan!


Sumber bacaan:

http://wbi.ac.id/

Inilah 9 Pekerjaan Masa Depan yang Menjanjikan Kesejahteraan (pintek.id)

Gawat, Penganggur Sarjana Lebih Tinggi Daripada Lulusan SD Dan SMP (harianaceh.co.id)

*592 kata

Kamis, 05 Agustus 2021

Tinggal Menunggu Lahiran, Tensiku Naik Lagi, Kurang Tidurkah?


Mungkin karena kurang tidur tensiku jadi 129/85. Mungkin. Karena tensi darah itu kan misteri. Bukan misteri gunung berapi, ya.

Gara-gara kemarin siang mau mak ser tidur, eh, malah hujan. Aku buru-buru ngangkat jemuran. Setelah itu mau mapan tidur lagi nggak bisa. Sudah jam Kakak pulang sekolah madrasah, ya sudah, kemudian mandi dan beli kue bandung.

Setelah mandi ini aku mulai ngerasa kepalaku berat lagi nih. Duh, ini tensiku pasti naik lagi karena kurang tidur. Padahal tadi pagi aku masih minum obat penurun tensi dari dokter kandunganku. Masak iya sih nggak ngaruh?

Sebelum beli kue bandung, aku mampir ke rumah temanku yang berprofesi perawat. Aku minta tolong ditensi, dan bener, tensiku 129/85.

Mulai deh kepikiran. Tinggal nunggu brojolan, masalah tensi ganggu lagi. Mikir apa sih? Apa karena banyak orang yang tanya, kapan lahiran? Loh belum lahiran? Dan pertanyaan-pertanyaan lain itu jadi mikir mbathek?

Ah, apa-apaan sih kamu, Ka? Gitu aja dipikir? Sejak kapan jadi sensitif gitu?

Kue bandung sudah di tangan, mampir deh ke apotek, beli susu pembersihku yang habis. Karena lagi sepi, aku minta tolong tuh sama petugasnya, "Mbak, aku mau dong ditensi. Maaf, ya, ngrepotin."

Hasilnya? Sama saja, Gaes. Hahahaha. 129/85.

Oke, fix. Tensiku naik lagi. Mikiiiiiirrrr.

(Meski teman dan petugas apotek bilang, nggak papa, namanya hamil tua segitu normal, Mbak. Kalau di atas 140, perlu diwaspadai)

Aku tetap ambil pusing, karena bidan yang bakal menemaniku lahiran agak rewel kalau tensiku mencapai angka 130.

Sebelumnya, di pertengahan Juli lalu tensiku sampai 136. Kapan-kapan kuceritakan, why?

Akhirnya, aku pulang. Okelah, kuterima tensiku yang tinggi ini. Mulai lagi, kuasai diri.

Aku ingat kalimat wejangan dari guruku, "Jangan fokus dengan tensimu yang tinggi. Kalau kamu mikir tinggi, ya, bakal tinggi mulu. Sudah slow saja. Santai."

Tapi, nyatanya tak mudah.

Ah, mungkin aku kecapekan dan kurang tidur ini. Iya, betul gini nih.

Sampai rumah, aku makan kue bandung, terus makan nasi, istirahat.

Malamnya, abi membantuku membalur seluruh tubuhku dengan minyak gosok. Pikirnya, mungkin aku masuk angin. Kemudian dipijit sama abi. Aku tidur pulas. Bangun hanya dua kali untuk pipis.

Paginya, alhamdulillah kepalaku nggak terlalu berat. Mungkin memang kecapekan. Tapi, aku nggak tensi dulu, ntar malah stress kalau lihat hasilnya tinggi lagi. Besok aku akan tensi lagi, dan apa yang akan terjadi?

Seharian ini, aku minum dua kali jus kol dan timun. Kemudian banyak minum air putih. Bismillah, turun tensiku. Aamiin.

Kamu pernah mengalami tensi tinggi juga saat hamil trimester 3 atau malah tinggal menghitung hari brojolan sepertiku? Bagaimana caramu mengatasinya?

Rabu, 21 Juli 2021

Kesulitan Menjawab Soal dari Bu Guru? Santai, Ada Roboguru dari Ruangguru

 


Hai, foto di atas adalah fotoku zaman SMA. Bisa menemukan aku yang mana? Hihihi... dijamin pangling lah. Tapi, itu nggak penting, kenapa aku menampilkan fotoku di zaman SMA? Karena ada kaitannya dengan Roboguru dari Ruangguru yang ingin aku share.

Setelah kemarin aku bahas tentang ruangbelajar dari Ruangguru di postingan Anak-anak Kembali PJJ? Tak Perlu Panik, Bu. Ada Ruangbelajar dari Ruangguru, kali ini aku mau membahas tentang kegunaan dari Roboguru yang memang dari dulu dibutuhkan oleh siapapun yang ikut bimbingan belajar.

Sebut saja temanku ini, Ria. Dia bisa dibilang teman karibku. Kami sama-sama anak tunggal. Hanya saja beda nasib, dia anak orang berada dan aku anak orang yang bisa dikatakan pas-pas-an, pas bayar iuran sekolah, eh, kebetulan ibuku dapat rezeki atau pinjaman. Hihihi.

Ria ini anaknya pintar. Ditunjang dengan ekonomi keluarganya yang sangat berkecukupan, dia selalu ikut bimbingan belajar bergengsi di zaman SMA ku dulu. Memang bawaan dari sana sudah encer, anaknya rajin, tak heran kalau dia selalu dapat peringkat 1 di angkatanku.

Suatu hari, aku baru tahu kalau ternyata dia itu punya rahasia perusahaan yang tidak diketahui oleh banyak orang. Aku tahu pun tanpa sengaja. Apa itu?

Beberapa SMS rahasia.

Ceritanya begini,

Pas jam kosong, kalau anak SMA itu ngapain sih di kelas? Yes, pasti ngrumpi, ya, sembari main HP bersama di pojok kelas. Nah, saat itulah rahasia Ria terbongkar olehku.

Saat kami bertukar HP, kutemukan ada SMS dari seseorang yang diberi nama Mbak X. Dasar aku yang kepo (maaf, ya), kubuka itu SMS. Eh, ternyata SMSnya panjang banget.

Kok? Lho, kok sepertinya ini soal di PR Kimia dan Fisika?

Ternyata, Ria menanyakan jawaban PR Kimia ke Mbak X. Aku langsung berpikir, “Oh, mungkin Mbak X ini tutor di tempat dia ikut bimbingan belajar. Wah, enak, ya, kalau ada PR Kimia dan Fisika yang sulit bisa dibantu jawab kayak gini.”

Pikiranku langsung menerawang jauh.

Pantesan saja, Ria selalu bisa menjawab PR yang sulitnya minta ampun dengan benar. Tentu dengan seperti itu dia selalu mendapat nilai bagus, ditambah penilaian plus dari guru. Lha teman-teman satu kelas pada nggak bisa.

Akan tetapi, ya, nggak ada salahnya sih, kan bapak ibunya sudah keluar uang banyak untuk biaya bimbingan belajarnya? Kalau dia bisa mendapat keuntungan untuk bertanya ke tutornya, pun tutornya dengan senang hati menjawab, why not?

Nah, keuntungan yang didapatkan Ria-mendapat bantuan untuk menjawab soal yang sulit- itu juga akan kamu dapatkan kalau kamu berlangganan bimbingan belajar online dari Ruangguru. Nama produknya adalah Roboguru dari Ruangguru.

Contoh pertanyaan di Roboguru


Roboguru dari Ruangguru ini gratis, ya. Saat kamu menggunakan produk ini, ya, tinggal pakai saja. Enaknya lagi, saat kamu menanyakan soal yang kamu anggap sulit, soal kamu akan dijawab langsung oleh tutor atau sering disebut Master Teacher lho. Bahkan, yang menyenangkan lagi, cara jawabnya pun sangat lengkap, kalau perlu disertai video. Selain itu, kamu juga akan ditunjukkan materi di mana soal sulit yang kamu ajukan itu dibahas.

Apakah hanya Master Teacher saja yang menjawab? Tidak, teman kamu juga biasanya ada yang ikut membantu menjawab. Asyik, kan?

Dari sisi orangtua, ini sangat melegakan. Karena tidak kupungkiri, misalkan aku harus membantu menjawab soal anak SMA pun harus membuka materi lagi, membacanya sejenak, dan itupun belum tentu langsung paham. Hahaha.

Jadi, tak mustahil kalau cerita Ria juga bisa kamu dapatkan, bukan? Nilai kamu oke, penilaian plus dari gurumu juga bisa kamu dapatkan. Jadi, kenapa tidak berlangganan bimbingan belajar online di Ruangguru saja?

Selasa, 20 Juli 2021

Anak-anak Kembali PJJ? Tak Perlu Panik, Bu. Ada Ruangbelajar dari Ruangguru


Hai, Bu, apa kabar?

Saat membaca tulisanku ini, anak-anak sedang apa? Apakah sedang PJJ dan asyik dengan gadgetnya? Atau justru anak-anak sedang main di luar bersama teman-temannya (murid-muridku banyak yang seperti ini, mancing, mandi di kali, main layang-layang, petak umpet, dsb)? Mungkin ada juga yang sedang les privat di tempat bimbel, padahal lagi pandemi gini?

Sebagai guru SD yang mengajar di kampung, aku banyak sekali mendapat keluhan dan curhatan dari orangtua murid ataupun tetangga selama PJJ berlangsung ini lho, Bu. Apakah ada salah satu keluhan yang Ibu alami juga?

“Anak malas, Bu, kalau belajar sama orangtuanya. Kapan to, Bu, sekolahnya berangkat lagi?”

“Kalau bangun siang-siang, Bu, kalau diminta mengerjakan tugas malah kabur, main.”

“Saya tidak paham, Bu, sama pelajarannya. Wong saya tidak lulus SD.”

“Gurunya tidak mau menerangkan dulu, langsung ngasih tugas begitu saja di WA. Anaknya, ya, ngamuk, nggak paham apa-apa langsung diminta mengerjakan tugas dua lembar LKS, Mbak.”

Tentu, alasan di atas hanya sebagian saja. Kalau dibuat list pasti tidak cukup satu halaman kertas.

Selain sebagai guru SD, selaku orangtua yang punya anak sekolah juga, pun merasakan yang namanya PJJ, kalau ada yang berkeluh kesah seperti di atas, aku hanya bisa kembalikan semua kepada pola asuh dan didik kita ke anak.

Memang, semua rasanya terasa lebih berat jika dibandingkan saat anak-anak belajar di sekolah. Akan tetapi, ini semua terjadi pada semua orang. Justru selama PJJ ini aku malah lebih mengenal hubunganku dan anakku. Seperti bisa mengoreksi diri sendiri, seberapa jauh aku mengenal anakku dan sudah tepatkah caraku mendidiknya?

Selain itu, aku sebagai guru juga tidak munafik dan tidak menutupi, kalau di luar sana, teman-teman sejawatku tidak semua bisa melaksanakan PJJ ini dengan maksimal. Seperti yang dikeluhkan banyak orangtua, ada oknum guru yang hanya memberikan tugas dan tugas tanpa ada inisiatif membuat inovasi PJJ agar lebih menyenangkan bagi anak.

Toh, kenyataannya, kalau kamu pernah membaca tulisanku dengan judul ini Aku Memilih Anakku Tidak Ke Sekolah Selama Pandemi, aku pun mengalami kekecewaan terhadap guru anakku. Kembali lagi, terus mau bagaimana lagi? Mau menyalahkan gurunya? Aku ini juga guru. Endingnya, ya, aku yang harus cari solusinya sendiri.

Setiap kali ada wali murid yang mengeluhkan soal PJJ, salah satunya tentang penguasaan materi anaknya, aku hanya bisa memberi solusi, “Keadaan seperti ini, kita memang harus proaktif dan mau lebih meluangkan waktu mendampingi anak-anak.”

Jawaban mereka kebanyakan begini, “Aku kerja, Mbak, pulang sore, dan bla bla bla.... Kalau malam aku sudah capek. Bla bla bla ....”

Ehm...

“Ya sudah, kalau begitu, jangan hanya njagake (mengandalkan) sekolah (guru) saja. Di les-ke wae.”

“Pandemi gini, Mbak, aku ya was was. Kalau les privat yang datang ke rumah, ya, mahal.”

Hihihi. Kebanyakan alasan nggak sih kalau ada orangtua yang demikian? Bisa jadi sih, iya. Tapi, kita kerja untuk siapa sih, kalau bukan untuk anak? Aku sering jengkel sendiri kalau ada yang berkeluh kesah, kemudian diberi solusi malah dibalikin lagi solusinya.

Kalau aku, melihat situasi seperti saat ini, belum menentu pula kapan anak akan kembali ke sekolah, selain mendapat (materi pembelajaran) dari guru, juga les di luar. Tak perlu yang harus datang langsung ke bimbel, wong ya sekarang ada ruangbelajar dari Ruangguru. Hari gini, siapa yang tidak kenal Ruangguru? Anak mana pula yang tidak suka pegang gadget untuk belajar?

Ruangguru, sering lihat di mana? Ya, di TV, apalagi saat tahun ajaran baru atau awal semester. Bahkan, ada di beberapa channel TV, ya. Promosinya keren banget pokoknya. Akan tetapi, aku sendiri juga penggunanya, kok. Baik sebagai guru maupun sebagai murid sesuai kelas yang aku mampu. Tak kupungkiri kalau di ruangbelajar milik Ruangguru ini aku dapat banyak referensi pembelajaran yang bisa kuaplikasikan kepada muridku. Jujur, aku sebagai guru senang belajar di ruangbelajar, apalagi anak-anak? Apa keunggulan dari ruangbelajar yang bisa didapatkan?

Sebelumnya, ruangbelajar ini adalah salah satu produk dari Ruangguru. Ruangbelajar itu:

  1. Tidak hanya bisa diakses lewat HP saja, ruangbelajar juga bisa di akses di laptop.
  2. Tempatnya belajar online terlengkap; materinya sesuai kurikulum, ada ribuan video pembelajaran yang pakai animasi, kemudian rangkuman dengan infografis yang membuat kita makin mudah paham.
  3. Paling ngerti kita, apa yang kita pahami, maka pengalaman belajar itu akan mengarahkan materi selanjutnya sesuai yang telah kita pahami.
  4. Ada latihan ribuan soal dan pembahasan.
  5. Bisa diakses secara offline, karena materi bisa didownload.
  6. Ada Ruangguru adventure dan teman belajar, seperti game, jadi anak-anak bisa makin semangat belajar karena merasa tidak bosan.
  7. Orangtua bisa memantau rapor anak selama mengakses ruangbelajar.

Setidaknya, itulah tujuh keunggulan dari ruangbelajar. Terpenting, di masa pandemi ini anak-anak tidak perlu keluar rumah untuk les. Karena cukup modal gadget, di rumah saja pun bisa tetap belajar.

Mumpung ini masih awal tahun ajaran baru dan masih ada promo juga potongan 60%, langkah yang tepat kalau kita sebagai orangtua memilihkan ruangbelajar dari Ruangguru ini sebagai teman belajar anak-anak selama PJJ. Dicoba dulu satu bulan, kalau ada progres yang baik, cus langganan satu tahun, lebih murah. Tapi, kalau aku sih mending langsung ambil yang satu tahun, murah banget.