Rabu, 23 November 2022

Ceritaku Mengenali dan Mengembangkan Inner Strengt Anak Bersama Biskuat Academy 2022


“Kenapa anakku tidak seperti anak-anak pada umumnya, ya?”

Itulah pertanyaanku dengan ditemani rasa jengkel nan keheranan saat anakku yang pertama masuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Bedanya apa dengan anak seusianya? Kalau anak-anak lainnya mau ditunggui di luar kelas, beda dengan anakku, yang nunggui harus di samping kursi tempat duduknya. Begitu terus sampai awal masuk TK. Dari murid satu kelas, hal itu hanya terjadi pada anakku. Bahkan, saat TK B, di saat teman-temannya pada menolak diantar sampai masuk kelas, anakku? Ya, harus drama dulu, nangis sambil gedor-gedor pintu kelas.

Lihat ke arah yang nganter sekolah

Anakku Berbeda

Saat itu, pertanyaan yang muncul dalam diriku, yang notabene sebagai guru SD, kenapa anakku terlalu beda dengan teman-temannya? Kenapa?

Beda cerita saat anakku masuk SD. Dengan keputusan mantab, kumasukkan dia di sekolah tempatku mengajar. Belum ada sebulan, kupingku setiap hari dibikin panas.

“Anakmu itu lho Mbak, nggak punya sopan santun. Kalau ditanya diam saja. Giliran jawab malah membantah.”

“Anakmu, Mbak, ngomong kasar kepada ibu kepala sekolah.”

Saat pertama kali mendapat cerita dari teman guru tersebut, duh, rasanya darahku seketika naik sampai ubun-ubun. Aku langsung memanggil anakku ke kantor guru dan memarahinya habis-habisan tanpa mendengar cerita kejadian yang sebenarnya versi dia.

Lagi, saat kabar kurang mengenak-kan hati datang dari guru kelasnya tentang teman sekelas anakku, yang sama-sama anak guru, tapi beda tempat tugas,

“Si ini itu pinter kalau pelajaran Matematika, bla bla bla bla....”

Padahal sebelumnya guru tersebut baru selesai cerita kalau anakku dapat nilai 20 di mata pelajaran tersebut.

Aku dan anak pertamaku

Ya Allah, rasanya, entahlah, bingung harus bagaimana. Sampai-sampai aku pernah mikir, apakah anakku tidak punya hal yang bisa dibanggakan? Guru yang satu bilang anakku nggak sopan, yang lain bilang anakku lemah di pelajaran Matematika. Kok rasanya lingkungan begitu mengintimidasi anakku, pun aku. Sebagai guru, aku sampai berpikir, bagaimana caranya menemukan ‘sesuatu’ dalam diri anakku sendiri? Jujur, aku juga malu.

Disadarkan oleh Nasihat Orang Lain

Hampir setiap hari mendapat celoteh dari teman guru mengenai kekurangan anakku, aku pernah berpikir, apakah keputusanku memasukkan dia di sekolah tempatku mengajar ini adalah keputusan yang salah? Tapi, nggak mungkin juga kalau tiba-tiba kupindah ke sekolah sebelah.

Setiap anak-anakku sudah terlelap, obrolan sebelum tidur antara aku dan suami tak jauh-jauh dari cerita anak pertamaku di sekolah.

“Kita harus bagaimana, ya, Abi? Aku takutnya kalau ini malah berakibat tidak baik dengan Kakak. Jujur, aku juga merasa tidak nyaman, malu juga, Bi. Kalau anak kita terus-terusan dicemooh seperti itu, bagaimana?”

Suamiku menjawab, “Kamu yang sabar, Kakak nggak perlu dimarahi. Diajak ngobrol baik-baik saja.”

Gelisah, pasti. Setiap hari aku jadi deg-deg-an juga. Hari ini bakal ada kabar buruk apa lagi tentang anakku dari teman sejawat?

Hingga suatu ketika, aku hanya berdua dengan teman guru yang sudah senior di kantor guru.

“Bu, menurut panjenengan, saya harus bagaimana, ya?”

Makan sendiri dan nggak pakai drama

Kuceritakan semua yang terjadi. Belum selesai ceritaku, beliau langsung menjawab, “Alah, Mbak, sudah biarkan saja. Panjenengan fokus kepada Ghifari (nama anakku). Namanya anak-anak, apalagi kelas 1, ya, wajar seperti itu. Tugas kita sebagai guru, apalagi orangtuanya, ya memang membenahi. Kalau panjenengan dapat kabar seperti itu, jangan langsung dimarahi! Itulah anak-anak. Anak-anak saya juga dulu seperti itu, kok. Maklum. Diarahkan saja.”

Belajar Menghargai Anakku Apa Adanya

Semenjak obrolanku dengan teman guru senior waktu itu, semua mulai kubenahi. Pelan-pelanlah. Kusadari dan terima bahwa semua butuh proses.

Aku sadar betul, ternyata, selama ini jago menghadapi problem murid-muridku, tetapi menghandle masalah anak sendiri malah kelimpungan. Hihihi, tunjuk hidungku sendiri. Malu.

Nah, saat teman sejawat mulai mengeluarkan keluhan tentang anakku, aku cukup menjawab, “Oh, ya? Maaf, ya, Mbak. Nanti kuperingatkan.”

Apakah aku marah dengan anakku setiap kali teman guruku mengadu kekurangannya? Tidak. Tapi, kuajak ngobrol dengan baik-baik. Biasanya, saat mengantar dia pulang, di atas motor, kami ngobrol ngalor ngidul. Kalau tidak sempat, saat makan dan hendak tidur adalah pilihan waktu yang paling pas untuk mengulas kegiatan yang dilakukannya selama seharian.

Pertanyaan yang kuajukan tidak langsung menjurus ke inti masalah. Kupancing dia dengan pertanyaan yang simpel, biasanya dia akan bercerita panjang lebar. Kalau memang kurasa ada yang kurang pas, aku pun memberitahunya mana yang salah dan harusnya seperti apa.

Dari kebiasaan yang kulakukan, yaitu lebih sering mendengarkan ceritanya, ternyata ada perubahan dalam diri anakku. Bisa jadi dia merasa lebih dihargai. Hal yang paling terasa bedanya adalah sekarang kalau aku minta bantuan, nggak perlu deh ngulang tolong tolong sampai beberapa kali. Alhamdulillah.

Kedua anakku, teruslah saling menyayangi.

Ada suatu momen yang baru-baru ini terjadi dan membuat hatiku hangat. Suatu Minggu, di rumah ada acara memperingati 1000 hari ibuku. Sore hari, saat semua orang sudah pada pulang, kemudian suami sedang ke rumah mertua, tinggal aku dan anak-anak, tiba-tiba ada empat orang tamu. Eh, si adik rewel minta gendong terus. Padahal aku hendak menyiapkan minuman untuk tamu. Tahu-tahu, Kakak dari belakang sudah membawa gelas sesuai jumlah tamu, kemudian dengan tergopoh-gopoh menuang cerek berisi teh.

Mataku terkesiap melihat momen itu. Bibirku sejurus mengucapkan terima kasih kepadanya dan Kakak menghampiriku, memeluk pinggangku, dan berkata, “Lha adik rewel, Ummi repot.”

Seketika mataku mengembun. Ternyata, anakku bisa juga seperti itu.

Menjadi Orangtua yang Sabar dan Full Senyum

Namanya juga anak-anak, mereka sangat unik, rasa ingin tahunya tinggi, dan banyak sekali idenya. Sekarang ini, anakku sedang gandrung banget dengan yang namanya barongan. Hampir setiap saat main ke rumah sepupu untuk main barongan. Selepas isya dia sudah mengantuk, akhirnya tugas sekolah tidak tersentuh.

Pagi hari, susahnya minta ampun kalau dibangunkan. Alasannya, “Masih ngantuk, Mi. Ngantuk.” 

Huuuhhh... sabar. Aku harus cari cara agar dia memiliki tanggungjawab dan disiplin terhadap tugas sekolahnya. Tapi, yang pasti kusampaikan adalah anakku tahu kalau yang dilakukannya adalah salah dan harus diperbaiki untuk ke depannya. Bagiku sangat wajar kalau anak melakukan kesalahan. Asalkan dia juga tahu bahwa kesalahan itu harus dijadikan pelajaran berharga untuk masa depannya, nanti.

Berbeda cerita kalau urusan salat berjamaah di masjid (kecuali subuh) bersama abi. Baru dengar adzan sudah teriak-teriak, “Abi, ayo jamaah, jangan malas!”, kemudian wudhu dan mengganti baju dan sarung terbaiknya, pakai parfum, kemudian mengeluarkan sepedanya untuk berangkat ke masjid.

Ya, menjadi orangtua memang harus sabar, syukur-syukur bisa selalu full senyum agar tetap waras dalam menyikapi plah tingkah anak-anak.

Aku Harus Bisa Menjadi Orangtua yang Bijak

Aku menerima kalau saat ini anakku memang lemah di pelajaran Matematika terutama materi pengurangan dengan teknik meminjam. Kalau aku bijak, kenyataan tersebut harusnya tidak membuatku kemudian menjudge bahwa anakku tidak bisa pelajaran Matematika. Toh, ke depannya, kesuksesan anakku tidak dijamin hanya dengan nilai akademiknya yang bagus saja. Karena aku sendiri pun mengalaminya. Dari SD sampai kuliah selalu mendapatkan nilai yang terdepan, akan tetapi saat terjun di lapangan, justru bukan perkara nilai yang membuatku bertahan sampai sekarang. Melainkan kekuatan dari dalam atau sering disebut dengan inner strength yang kumiliki.

Agustus lalu, saat aku disibukkan dengan kegiatan perkuliahan onlineku, sayup-sayup kudengar nama anakku disebut oleh suporter lomba di lapangan sekolah. Dari kejauhan ternyata anakku masuk final dalam lomba memasukkan pensil dalam botol. Ternyata, karakter pemberani dalam diri anakku kini tumbuh dengan pesat. Dulu, kalau ingat saat dia masih TK, tentu sangat berbeda dengan sekarang. Tanpa aku ada di dekatnya, dia sudah berani tampil di depan umum. Good job, Kakak!

Dari berbagai literatur yang kubaca, inner strength itu kuartikan sebagai karakter yang kuat dan positif, seperti percaya diri, kebaikan hati, rendah hati, tekun, dan sebagainya. Nah, karakter itulah yang dibutuhkan seseorang untuk bisa bertahan dalam menghadapi tantangan dan rintangan di kehidupannya ke depan.

Banyak cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mengembangkan inner strenght pada anak. Seperti anakku, yang ternyata semangat sekali mengikuti pelajaran olahraga di luar kelas.

"Kalau jam olahraga aku bisa main sepak bola, Mi, dengan teman-temanku." jelas anakku.

Wah, mendengar anakku suka main sepak bola tentu girang hatiku. Karena sepak bola menjadi salah satu olahraga yang bisa mengembangkan inner strenght anak-anak. Karena dengan bermain sepak bola anak-anak bisa belajar mengasah kemampuan motoriknya, melatih fokus, ketangkasan, percaya diri, kontrol diri, belajar mengambil keputusan, rasa empati terhadap sesama, latihan berkomunikasi dengan orang lain, bekerja sama dengan orang lain, dan belajar menerima kekalahan.

Nah, saat ini ada Sekolah Bola Online BISKUAT ACADEMY 2022. Sekolah bola online ini sudah ada sejak tahun 2019, didukunh oleh Kemenpora dan Kemendikbud Ristek, setiap tahun jumlah pesertanya selalu bertambah (kini mencapai 50.000 peserta), pelatihnya berlisensi internasional no ecek-ecek pokoknya, hadiah utamanya yang bikin ngiler, yaitu tur ke stadion sepak bola di Eropa, dan khusus tahun ini ada pelatihan bagi guru olahraga tingkat SD dan SMP.

Sudah lihat video berikut?

Tidak tergiur untuk mendukung anak untuk mencintai sepak bola? Karena kalau melihat video tersebut bukankah ini peluang bagus? Hanya bermodalkan biskuit, anak-anak bisa mengikuti Sekolah Bola Online dari BISKUAT ACADEMY 2022.

Apalagi cara mendaftarnya juga mudah sekali, kita hanya membeli biskuit Biskuat bertanda khusus di warung terdekat, kemudian lihat deh kemasan di baliknya. Di sana ada kode promo yang bisa kita daftarkan lewat WA. 


Anakku saja langsung gercep lho! Memang sehari-hari dia memang suka membeli biskuit andalan dari Mondelez Indonesia tersebut. Tak hanya anakku, aku pun suka rasa cokelatnya yang nggak enek di mulut.

Yuk, bermodal biskuit, kita dukung anak-anak untuk mengembangkan inner strenghtnya dalam bidang non akademik, khususnya sepak bola. Siapa tahu, pemain sepak bola handal dari Indonesia adalah lulusan dari BISKUAT ACADEMY 2022 nantinya. Aamiin.


Sumber bacaan:

https://temposiana.com/inner-strength-anak-bantu-si-kecil-dapatkan-kesuksesan-di-masa-depan/

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/09/28/105105220/pentingnya-inner-strength-untuk-dorong-potensi-anak


Rabu, 16 November 2022

Besok, Asus Zenfone 9 Akan Dilaunching!

Dari tahun 2019 aku masih setia dengan Asus Zenfone Max M2 yang kudapatkan dari lomba menulis. Sudah pernah ganti LCD dua kali, kalau ditotal biayanya sampai 950 ribuan. Kenapa kok masih milih bertahan dan tidak beli saja gadget baru?

Alasan utamanya adalah kalau saat itu harus beli HP baru dengan budget sekitar sejutaan, aku nggak bisa dapat gadget dengan fitur yang ada di Asus Zenfone Max M2. Padahal aku lagi butuh banget fitur anti goyang saat pengambilan video untuk tugas kuliahku. Selain itu, ya, aku masih nyaman dengan HP ini. Pokoknya selama masih bisa diperbaiki akan kupakai. Uangnya bisa dipakai untuk kebutuhan yang lain. Hahaha. Tetap, jiwa emaknya selalu yang utama!

Keinginan untuk ganti HP pasti ada. Apalagi saat ada jam pelajaran yang mengharuskan murid-muridku membawa HP ke sekolah untuk proses pembelajaran, duh, ternyata HP ku paling jadul sendiri. Hihihi. Gurunya kalah beberapa langkah ini dari muridnya.

Sing tenang, akan ada waktunya nanti.

Ada yang punya cerita sama denganku? Masih ter-Asus-Asuskan sampai setia banget dengan Asus yang sekarang? Kalau Asus melaunching Asus Zenfone yang terbaru, apakah tidak tergoda memilikinya? Yakin, tidak tergoda?

Besok, 17 November 2022, Asus Indonesia akan melaunching Asus Zenfone 9!

Iya, kalau tidak salah sebulan yang lalu Asus telah melaunching ASUS ROG, kali ini gantian buat kamu, hei, pecinta Asus Zenfone 9.

Bocorannya, Asus Zenfone 9 ini dilengkapi dengan fitur kamera yang mampu merekam video jauh lebih stabil bahkan tahan terhadap guncangan saat kita merekamnya dengan menggunakan tangan tanpa gimbal. Wah.

Bentuk dari Asus Zenfone 9 pun kini lebih ringkas dibandingkan kakaknya, Asus Zenfone 8. Pokoknya kalau masuk saku tinggal sleeep, deh. Karena panjangnya kurang dari 14,8 cm dan lebar kurang dari 7cm. Untuk layarnya masih sama seperti kakaknya, yaitu 5,9 inci. Bisa dibayangin ya, kalau Asus Zenfone 9 ini mungil tapi fiturnya gedhe.

Ah, pokoknya besok jangan lewatkan launching dari Asus Zenfone 9 di channel youtube Asus, ya! Siapa tahu kita (kita lho ya) bisa dapat salah satu Asus Zenfone 9. Aamiin.

Nantikan pula ulasan lengkap Asus Zenfone 9 di blog ini, segera!


Sabtu, 22 Oktober 2022

Nonton Drakor itu Hadiah untuk Kesibukanku


Kupikir setelah Uji Pengetahuan (UP) PPG Minggu lalu, aku akan sedikit bernapas legas. Ternyata tidak, jadwal masih saja padat merayap. Tupoksi sebagai guru harus berdesak-desakan dengan tugas tambahan sebagai proktor ANBK, handle teman-teman PIGP se-kecamatan, dan entahlah tugas apa lagi belum sempat kubuat list.

Kalau ngomongin pekerjaan memang tidak pernah ada habisnya, ya. Pinter-pinternya aku saja ngatur waktu. Memangnya cuma aku doang yang banyak kerjaan, nggak kan? Hayuklah, semangat!

Salah satu semangat yang ingin kumulai lagi adalah kembali menulis di blog. Salah satu cara yang bisa kulakukan adalah dengan mengikuti kegiatan 1W1P (1 week 1 post) dari Komunitas Gandjel Rel.

Eh, baru jalan 3 minggu, aku sudah nunggak 2 tulisan. Perlu ditoyor banget neh komitmenku dalam menulis. Semangat, semangat, semangat nulis, Ika!

Baiklah, bismillah.

Salah satu tema tulisan yang akan aku ulas tuh tentang drakor, drama korea.

Aku bukan termasuk orang yang gandrung banget nonton drakor. Ya, sekadar suka saja. Nonton, selesai, ya sudah. Kalau nanti ditanya, judul drakor yang kamu tonton apa? Aku seringnya lupa. Apalagi ditanya siapa saja nama tokohnya? Embuh, susah-susah sih namanya. Hihi. Karena ya aku nonton drakor, kunikmati saat itu, pesannya kuresapi. Kelar.

Genre-nya apa? Apa saja kutonton. Tapi, yang bau-bau kerajaan agak kuhindari sih. Terlalu berat. Niatnya mau cari hiburan malah mikir, males banget.

Nah, kapan sih biasanya aku nonton drakor? 

Drakor tuh bagiku sebagai hiburan dan hadiah untuk suatu pencapaianku. Pas aku lagi banyak banget pekerjaan, sampai-sampai weekend pun masih numpuk kerjaanku, saat itulah kujanjikan pada diriku sendiri kalau pekerjaan ini selesai, boleh lho Ika nonton drakor. Tapi, kalau pas anak-anakku sudah aman alias tidur semua. Hahaha. Biar lebih nikmat nontonnya.

Satu lagi momen yang kuhadiahi dengan nonton drakor, yaitu saat menjelang ujian. Kalau umumnya menjelang ujian diisi dengan belajar. Kalau aku, sehari sebelum ujian nggak ada kata belajar, malah nonton drakor. Ini wajib banget sih untukku.

Kebiasaan itu kulakukan sejak ikut tes CPNS. Simpel saja sih tujuannya, biar selow, nggak tegang bin gugup esoknya saat menghadapi soal. Karena menurutku, kemarin-kemarin, bahkan berbulan-bulan yang lalu sudah tempur mulu dengan materi ujian, bolehlah jeda sehari saja biar otaknya rileks dan di hari H siap tempur. Alhamdulillah, sejauh ini, hasil ujian yang kulalui tidak menghianati proses yang telah kuperjuangkan.

Seperti kemarin waktu menjelang Ujian Pengetahuan (UP) PPG, malamnya aku nonton drakor satu episode. Setelah nonton pikiran dan perasaanku malah jauh lebih rileks dan tenang. Alhasil saat bertempur dengan soal, aku bisa lebih fokus. Mengenai hasilnya, insyaallah akan diumumkan pada tanggal 3 November nanti. Mohon doa aku insyaallah lulus ya, Teman.

Itulah ceritaku tentang drakor dan momen aku menonton drakor untuk hadiah di tengah kesibukanku sebagai guru. Kalau kamu ada judul drakor yang mau direkomendasikan untuk kutonton, tulis ya di kolom komentar.

Sabtu, 08 Oktober 2022

Saat Orang Terkasih Pergi Secara Tiba-tiba

 



Maknyes hatiku baca postingan terkait tragedi Kanjuruhan di atas.

Aku termasuk dalam tipe orang yang men-skip berbagai pemberitaan berkaitan tragedi Kanjuruhan. Terutama di instagram, duh, beritanya ada mulu, lengkap dengan foto dan videonya pula. Ngeri. Aku sampai meng-unfollow akun berita yang selama ini kuikuti. Ya, karena energi sedihnya kuat banget.

Eh, pas baca postingan Habib Ja'far, duh dek, otomatis mewek. Ikutan ngilu. Aku nggak mau ngebayangin bagaimana perasaan ibu yang dipamiti anaknya nonton bola, tapi pamitnya ternyata untuk selamanya.

Karena saat orang terkasih pergi secara tiba-tiba itu rasanya...
Tidak bisa diketik menjadi kata.

Ibuku, 11 Februari 2020 lalu meninggal dunia. Bisa dibilang sakitnya dari September tahun 2019, itupun beliau masih bisa beraktivitas seperti biasa dan menjalani terapi di rumah sakit. Seperti orang sehat, tak tampak sakit. Tapi secara mendadak, Desember beliau drop dan divonis kanker payudara stadium 3C yang dokternya berbisik, "Kemungkinan hidupnya tak lama lagi."

Aku yang saat itu melihat semangat ibu berobat, kemudian cerita perjuangan pengidap kanker yang bisa bertahan hidup, merasa kok gini, saat ibuku meninggal seminggu setelah kemo yang pertama.

Iya, kok gini sih cerita Allah untukku?

Apalagi di saat ibuku dinyatakan meninggal justru aku, anak tunggalnya, harus mengurus semua tetek bengek kepulangan ibu dari rumah sakit, lari ke sana-sini mengurus administrasi, menguatkan saudara yang meraung-raung di depan kamar IGD, dan duduk di sebelah sopir ambulance yang membawa jenazah ibuku.

Rasa di hatiku tidak bisa diketik menjadi kata. Air mataku tak tumpah sedikitpun.

Setelah 7 hari kematian ibuku, aku bermimpi tapi begitu nyata, ibuku berbisik di telingaku, "Ka, ibu di sini baik-baik saja."

Semenjak mimpi itu, tatkala aku cuci piring sendirian, memasak, aku menangis.

"Bu, ternyata ibu sudah meninggal." begitu bisikku.

Ya, saat orang terkasih pergi secara tiba-tiba, rasanya memang...

Tapi, hidup ini harus tetap kita jalani, bukan?

Sudah 2,5 tahun, aku pun masih belajar meng-ikhlaskan, ya kalau ada masanya melow, wajarlah, ya. Sedikit berbagi saat orang terkasih pergi secara tiba-tiba dan kita harus tetap menjalani semua kenyataan yang ada:
  1. Akui, iya aku sedih karena kehilangan dia (orang terkasih). Pengalamanku saat tak bisa menangis-sebut saja tak bisa mengakui kenyataan, saat ibu meninggal membuatku terlalu lama 'sembuh'.
  2. Terima kalau ini memang sudah takdir. Memang harus seperti ini jalannya. Memang ini yang terbaik untuk siapapun. Mau secara tiba-tiba atau merawat orang terkasih sakit yang bertahun-tahun, semua punya cerita dan akan tetap memberikan bekas-sedih di hati kita. Inilah takdir yang terbaik untuk kita.
  3. Cerita, jangan dipendam. Kalau tak ada teman atau orang yang bisa diajak cerita, tulis saja. Insyaallah itu mujarab.
  4. Datangi makamnya. Semenjak kematian ibu, aku tipe orang yang jarang sekali menangis. Tapi, saat ke makam, aku bisa menangis nggak karuan. Bukan tangisan duka, akan tetapi lebih bersyukur karena diberikan takdir yang bisa menguatkanku untuk melanjutkan hidup.
  5. Percayalah, bersama kesulitan itu ada kemudahan. Ada maksud dari Allah, itu pasti. Kalau diminta, aku tidak usah diangkat PNS asal ibu tidak meninggal secepat ini. Tapi, aku sadar, selama ini aku berdiri dengan kaki ibu dan saat Allah mengambil ibu, Dia ganti dengan kemudahanku untuk berdiri di kakiku sendiri.
Di penghujung postingan ini, aku ingin mengucapkan ikut berbelasungkawa bagi korban tragedi Kanjuruhan. Insyaallah korban yang meninggal diberikan tempat terindah di sisi Allah SWT. Untuk keluarga yang ditinggalkan insyaallah diberikan ketabahan dan kelapangan dada. Aamiin.

Hidup ini harus tetap dijalani. Terlepas keriuhan dalam pengusutan tragedi Kanjuruhan, ini semua sudah menjadi takdir. Siapapun yang menjadi tersangka, biarlah yang berwenang mengurus semua ini. Toh, jika pengadilan di dunia tidak berkutik, pengadilan yang sesungguhnya tidak bisa dihindari.






Selasa, 12 Juli 2022

Kelas Karyawan Program Akuntansi, Seperti Apa Prospeknya Saat Ini?

 

Zaman sekarang ini, kita semua harus cerdas menyusun strategi agar bisa mendapatkan prospek karier yang menjanjikan di masa depan. Salah satunya bisa diwujudkan dengan mengambil program kuliah kelas karyawan. Seperti kelas karyawan program akuntansi yang ditawarkan oleh BINUS. Memangnya, seperti apa prospek jurusan akuntansi ini di masa depan?

Tentang Jurusan Akuntansi

Program jurusan akuntansi ini akan mempelajari metode pencatatan dan penyusunan sebuah laporan keuangan. Fungsinya untuk membantu perusahaan dalam mengambil keputusan yang bisa menguntungkan. Akuntansi ini sebenarnya bukan jurusan yang baru dan sudah sangat populer di kalangan masyarakat. Bahkan jurusan ini menjadi favorit bagi para pelajar, khususnya yang mengambil jurusan IPS. 

Bisa dikatakan bahwa jurusan ini selalu dekat dengan angka dan data. Oleh sebab itu, mahasiswa yang ingin mengambil jurusan akuntansi harus benar-benar teliti dan siap menghadapi banyak data. Prospek lulusan program akuntansi sampai sekarang masih sangat bagus dan menjanjikan. 

Prospek Kerja Lulusan Akuntansi

Lulusan program akuntansi punya banyak peluang kerja. Ada banyak jenis profesi yang bisa digeluti oleh lulusan akuntansi tersebut. dan tampaknya ini juga berlaku untuk beberapa tahun ke depan. Berikut ini beberapa prospek pekerjaan yang terbuka bagi lulusan akuntansi: 

1. Akuntan

Pertama ada profesi akuntan yang sudah pasti akan selalu dibutuhkan oleh perusahaan. Akuntan bertugas melakukan analisis keuangan dan menyusun laporan keuangan dengan baik untuk kepentingan perusahaan. Akuntan bisa bekerja secara independen maupun bergabung dengan perusahaan. Profesi ini punya prospek yang menjanjikan dan akan selalu dibutuhkan. 

2. Akademisi

Lulusan jurusan akuntansi juga bisa menjadi akuntan pendidik atau akademisi. Profesi ini cocok bagi lulusan akuntansi yang punya bakat mengajar. Bisa di jenjang sekolah karena jurusan akuntansi pun tersedia di SMK. Bisa juga di jenjang universitas, apalagi sekarang jurusan akuntansi ini cukup banyak diminati oleh para pelajar. Profesi ini juga pasti akan selalu dibutuhkan dari waktu ke waktu. 

3. Internal Auditor

Perusahaan juga pasti akan membutuhkan internal auditor. Tugasnya adalah melakukan pemeriksaan hasil laporan keuangan perusahaan dalam periode waktu tertentu. Auditor akan memastikan apakah laporan keuangan sudah sesuai atau belum. Selain itu pihak auditor juga akan memastikan bahwa manajemen perusahaan sudah menjalankan fungsi dengan baik. 

4. Akuntan Publik

Selain bekerja untuk perusahaan, lulusan akuntansi juga bisa bekerja sebagai akuntan publik. Profesi ini cukup populer dan memiliki prospek yang sangat menjanjikan di masa depan. Seorang akuntan publik akan menjadi pihak independen yang bisa membantu siapapun kliennya untuk mengurusi masalah akuntansi. 

5. Konsultan Akuntansi

Jenis profesi ini juga punya prospek yang sangat menguntungkan di masa depan. Konsultan akuntansi banyak dibutuhkan, khususnya oleh perusahaan-perusahaan besar. Biasanya konsultan akuntansi ini akan dibutuhkan sebelum perusahaan menjalani audit. Profesi ini terbagi menjadi dua kategori yaitu penasihat terbatas yang hanya menangani masalah tertentu dan penasihat keuangan independen. 

6. Akuntan Pajak

Lulusan akuntansi bisa juga bekerja sebagai akuntan pajak. Ini merupakan jenis profesi yang juga punya peran penting di Indonesia. Tugasnya adalah melakukan analisis dan memberi saran kepada pihak manajemen perusahaan terkait urusan pajak. Profesi ini secara tidak langsung akan membantu negara mendapatkan pemasukan pajak sesuai dengan aturan yang seharusnya. 

7. Pengusaha

Banyak mahasiswa yang memilih untuk masuk ke jurusan akuntansi karena ingin mendapat bekal memadai menjadi pengusaha. Jenis profesi ini memang butuh pengelolaan keuangan yang matang sehingga ilmu akuntansi sudah pasti sangat relevan. Tentu saja jenis profesi ini sudah pasti punya prospek tersendiri yang sangat menjanjikan baik di masa kini maupun masa depan. 

Kemampuan Dasar Berkuliah di Jurusan Akuntansi

Sebelum masuk berkuliah di jurusan ini, pastikan bahwa sudah ada kemampuan dasar yang bisa dijadikan modal. Ini akan mempermudah proses belajar sehingga bisa menjadi lulusan akuntansi yang kompeten dan berkualitas. Berikut adalah beberapa kemampuan dasar yang perlu dimiliki dan dikembangkan lebih lanjut:

1. Pengelolaan Keuangan

Jurusan akuntansi ini memang mempelajari tentang pengelolaan keuangan. Jadi secara otomatis mahasiswanya harus punya kemampuan dasar dalam mengelola uang. Kemampuan ini bisa dimulai dari kapasitas yang kecil dulu, misalnya dari uang pribadi. Setelah masuk jurusan akuntansi, maka ilmu pengelolaan uang ini bisa dikembangkan dan diasah lebih jauh lagi. 

2. Penyusunan Laporan Keuangan

Masuk ke jurusan akuntansi, mahasiswa harus siap mempelajari teknik menyusun laporan keuangan yang efektif dan rapi. Kemampuan menyusun laporan keuangan ini sebaiknya sudah dimiliki sebelum mulai masuk kuliah. Paling tidak sudah tahu seperti apa dasar-dasar dalam penyusunan laporan keuangan. Tentu saja kemampuan ini akan dikembangkan lebih jauh lagi jika program kuliah sudah dimulai. 

3. Analisis Laporan Keuangan

Akuntan juga harus bisa melakukan analisis laporan keuangan. Jadi hal ini dianggap sebagai modal penting untuk dimiliki jika ingin masuk jurusan akuntansi. Mahasiswa harus paham bagaimana caranya menganalisis sebuah laporan keuangan sehingga bisa menarik kesimpulan dari hasil analisis tersebut. 

4. Penyusunan Rekomendasi Finansial

Jika sudah melakukan analisis dan mengambil kesimpulan maka mahasiswa akuntansi juga harus paham cara menyusun rekomendasi finansial yang tepat. Perusahaan memakai jasa akuntan untuk mendapatkan rekomendasi finansial yang bisa menguntungkan dan menjaga stabilitas. Tentu saja rekomendasi ini harus didasari kondisi finansial perusahaan dan target yang ingin dicapai di masa depan. 

Ikuti Kelas Karyawan Program Akuntansi di BINUS

Jelas sekali bahwa program akuntansi ini bisa membuka peluang karier yang menjanjikan di masa yang akan datang. Tidak hanya bagi pelajar lulusan SMA, program ini juga bisa diambil oleh  para karyawan. BINUS menawarkan program kelas karyawan program akuntansi yang berkualitas. Program ini akan membantu para karyawan memiliki bekal ilmu akuntansi yang jauh lebih matang. 

Menariknya lagi, program kelas karyawan ini akan dijalankan secara online. Jadi, mahasiswa bisa mengikuti program belajar jarak jauh karena berjalan online melalui 2 jenis tahap. Pertama ada perkuliahan online via LMS (Learning Management System) sebanyak 62,5% dan perkuliahan tatap muka dengan menggunakan video conference sebanyak 37,5%. 

Program online ini sangat cocok dengan kebutuhan para karyawan. Pengaturan jadwal dan lokasi belajar bisa lebih fleksibel sehingga mudah untuk disesuaikan dengan jam kerja. Program ini dihadirkan BINUS sebagai bentuk solusi terbaik bagi karyawan yang ingin berkuliah lagi dan mendapatkan gelar yang relevan dengan profesinya. 

Meskipun dijalankan secara online, namun program kuliah ini tetap mengedepankan kualitas. Selain itu sistem pembelajarannya juga berjalan secara global dan tidak mengenal batasan tempat maupun waktu. Sistem LMS yang digunakan sudah terintegrasi dan dilengkapi dengan tenaga pengajar yang kompeten. 

Kelas karyawan program akuntansi dari BINUS ini bisa menjadi sebuah pilihan tepat demi masa depan. Gelar yang diperoleh bisa dimanfaatkan untuk meraih jenjang karier yang jauh lebih tinggi. Tentu saja kemampuan yang dimiliki juga bisa lebih meningkat berkat adanya bekal ilmu memadai dari program kuliah tersebut.