Minggu, 06 Oktober 2019

ASUS VivoBook Ultra A412 Memang Layak Diidamkan



Penasaran dan pembuktian. Atas dasar perasaan itulah aku langsung gercep alias gerak cepat saat Mbak Uniek men-share info roadshow ASUS VivoBook Ultra A412 di Semarang.

Kenapa?


Batinku, ini kan laptop yang pernah aku review untuk ikutan lomba di blog Mbak Dian Radiata pemilik adventurose.com, tapi waktu itu aku belum beruntung jadi juara. Hihihi.

Kalau boleh berkeluh kesah, untuk persiapan lomba itu aku sampai ngepoin plus melototin 12 akun youtuber yang unboxing dan review laptop ASUS ini. Belum lagi ngumpulin kabar beritanya yang lain.

Tiba-tiba ada yang berbisik, "Yakin, situ usahanya sudah maksimal?"

Hehehe. Kalau lihat tulisan teman-teman lainnya memang masih jauh, sih.

"Nah, kaaaaaaan!"

Ya, sudah, ya, sudah, balik ke pendaftaran roadshow ASUS VivoBook Ultra A412.

Setelah daftar, sebenarnya nyaliku sedikit menciut, bakalan kepilih nggak, ya? Karena aku dapat bocoran di grup WA, peserta yang terpilih terbatas jumlahnya. Kemudian, kalau kepilih, boleh izin nggak oleh kepala sekolah.

Hatiku mulai gusar. Berharap banget bisa kepilih sekaligus dapat izin dari bos. Hatiku kecilku berbisik, kalau rezekiku nanti pasti ada jalan.

"Yo wis, pasrah wae. Lanjut fokus kerja seperti biasa."

Sampai hari Rabu aku belum bisa izin ke kepala sekolah. Lha wong Mbak Uniek juga belum memberi tahu siapa-siapa yang lolos ikut roadshow ASUS kali ini. Meskipun sudah pasrah, tak kupungkiri, perasaanku saat itu campur aduk. Tegang, takut, ragu, tapi sedikit senang saat tahu kabar kalau hari Sabtu akan ada acara di sekolah kami. Itu artinya anak-anakku nggak akan lama di sekolah, pulang gasik. Jadi, kalau aku tinggal kan nggak terlalu 'korupsi' waktu mereka. Hihihi.

"Ah, jangan senang dulu, kamu belum tentu terpilih!" bisik hatiku.

Gemes, gemes, gemes.

Aku tidak sabar.
Kapan sih Mbak Uniek mau mengumumkan peserta yang lolos? Sembari menunggu, aku memikirkan alasan yang tepat untuk kugunakan saat mengajukan izin kepada kepala sekolah. Maklum, ya, ini pertama kalinya aku izin di sekolah baru. Kalau di sekolah lama mah kepala sekolahnya sangat support dengan tetek bengek kegiatan yang berhubungan dengan bloggingku.

Ah, jadi kangen dengan sekolah yang lama. Tiba-tiba melow.

Akhirnya Aku Berangkat Piknik Ketemu ASUS  VivoBook Ultra A412


Kamis, saat kubuka grup WA, Mbak Uniek memberitahukan bahwa beliau sudah mengirim email ke peserta yang lolos jadi peserta roadshow ASUS VivoBook Ultra A412 di Semarang.

Jedug. Jedug. Jedug.

Jantungku.

Tak ada notifikasi email masuk. Lah iya, soalnya kumatikan notifikasinya. Hihi.

Pelan-pelan kubuka aplikasi emailku.

Melihat nama Mbak Uniek di deretan teratas email masuk yang belum terbaca, aku ingin melompat dari atas meja saking kegirangan. Ini kesannya lebay, tapi hatiku berbisik, akhirnya, aku bakalan piknik.
Yes, pergi ke Semarang untuk nge-event, bisa ketemu dengan teman-teman bloger yang lain, meninggalkan anak-anak sejenak (walau berat, tapi ini bakalan jadi rindu bagi mereka kepadaku. Hahaha) bak piknik plus plus bagiku.

Alhamdulillah.

Akhirnya, izin kepala sekolah, anak-anak, dan wali murid pun kukantongi. Terselip rasa sedih meninggalkan anak-anak. Tapi, restu mereka yang membuatku bangkit dan kuharap itu mempermudah langkahku sampai tujuan dan kembali sanpai rumah.

Sabtu, 28 September 209, pukul 09.00, aku sudah sampai di Platinum room (lantai 2), Aston Semarang Hotel & Convention. Aku datang terlalu dini, satu jam sebelum jadwal yang tertera di email. Memang aku sengaja, karena dari rumah aku membawa Kak Ghifa (kemudian kutitipkan ke ibuku yang jualan di pasar), maka aku berangkat lebih pagi. Biar di jalan tidak kepanasan, debunya tidak terlalu banyak, tidak kesusu apalagi ada titik kemacetan di Gubug.


Saat masuk, jelas, kursi-kursi masih kosong. Hanya ada dua orang, yang akhirnya kuketahui, mereka adalah Mas Danu dan Mas Firman dari pihak ASUS Indonesia.

Setelah menaruh tas dan mendapat izin dari Mas Danu, kudekati dua laptop ASUS yang didisplay. Pertama yang kulakukan adalah menyentuhnya, oh, ini ASUS VivoBook Ultra A412.

Tipiiiissss banget.

Itulah kesan pertama yang kutangkap saat melihat laptop ASUS yang dikenalkan pertama kali di Indonesia pada Juni 2019 lalu.

Tak lama Mbak Winda datang bersama anak laki-lakinya yang cool banget. Setelah sapa-menyapa, kami pun nimbrung bersama mendekati display laptop ASUS. Mas Danu pun menerangkan sedikit tentang keunggulan laptop ASUS VivoBook Ultra A412 dan K403 (bonus kenalan sama yang satu ini).

Mas Danu menerangkan perbedaan antara A412 dan K403

"Harganya kisaran berapa, nih, Mas?" Mbak Winda penasaran. Tapi, apa jawaban dari Mas Danu?

"Nanti aku bocorin. Kalau sekarang..."

Kami pun tertawa bersama. Lah iya, kalau dibocorin sekarang, kita nggak jadi ikutan acara ini dong. Kalau aku sih sudah tahu kisaran harganya. Lha wong sudah pernah ngereview. Hahaha. Mau tahu berapa kisaran harganya?

((((Baca sampai akhir ya, hihihi, nggak bakalan rugi kok)))))

Satu per satu teman bloger mulai berdatangan. Kami dipersilakan untuk mengambil foto bersama laptop ASUS dengan gaya sesuka hati. Kenapa? Karena ada kompetisi foto yang hadiah utamanya adalah ASUS Zenfone 5. Ulala. Siapa yang nggak ngiler coba? Hanya modal foto doang. ASUS memang loyal banget, ya.

Cus deh, kami bergantian untuk meminjam dan saling memotret. Mbak Dani, Mbak Tanti, Icha, Virly, dan Mbak Winda adalah korban potretanku.

Apakah mereka ada yang menang? Atau justru aku yang dapat hadiah utamanya?

ASUS VivoBook Ultra A412 Memang Layak Diidamkan

Baru kali ini aku ikut event, tapi nggak berasa lama ataupun capek. Dari pukul 09.00 kemudian pukul 11.00 acara baru dimulai. Dua jam lho ya aku di situ, karena bawaanku hepi, ke sana-sini motretin teman, rasanya hepi sampai nggak ingat waktu.

Tahu-tahu Mbak Marisa, yang sering diomongin sama bloger, pun aku baru ketemu saat itu, dibuatnya kagum. Perempuan bermata sipit, kalem, dan santun.

Mbak Marisa yang murah senyum

"Terima kasih banyak teman-teman sudah meluangkan waktu untuk hadir di sini..." sapa Mbak Marisa, terdengar ramah di telingaku.

Kemudian hadir juga Mas Firman yang menceritakan dengan singkat perjalanan ASUS selama 30 tahun ini. Ya, 30 tahun. Bahkan dengan usiaku saja banyakan ASUS, lho. Keren-keren.

Dari yang disampaikan oleh Mas Firman (Head of PR ASUS Indonesia), aku menangkap pesan penting bahwa ASUS tidak bernah berhenti berinovasi dan tak main-main saat mempersembahkan yang terbaik bagi konsumen.

Mas Firman saat menyampaikan sejarah singkat perjalanan ASUS selama 30 tahun

Salah satunya, ya, ASUS VivoBook Ultra A412 ini. Kamu yang penasaran sama harga dan keunggulannya, baca ceritaku sampai akhir.

"Iya, nanti beli, ya." seloroh Mas Danu saat menerangkan keunggulan ASUS VivoBook Ultra A412 dan Queen, putri Mbak Maya, tiba-tiba berceloteh riang meramaikan ruangan.

Semua yang hadir tertawa serempak. Suasana siang itu begitu cair. Menyenangkan.

ASUS Indonesia Technical PR


Apa saja keunggulan dari ASUS VivoBook Ultra A412?


Bukti nyata sudah terpampang jelas di depan mata. Aku nggak lagi hanya nonton Youtube untuk tahu keunggulannya. Ya, kalau secara fisik aku tahu. Ditambah penjelasan langsung dari Mas Danu, berikut rincian yang bisa kutularkan kepadamu.

Tipis, Ringkas, dan Ringan
Tak Perlu Pakai Backpack, Cukup Pakai Sling Bag
"Umumnya, laptop dengan ukuran 14" tuh seberapa, sih?" Mas Danu mulai membuka pertanyaan.

Batinku, ya, segitulah, seperti biasanya. Kenapa pakai tanya kayak gitu, sih, Mas?

Hihihi.

Baru deh aku melongo saat tahu kalau ternyata ASUS VivoBook Ultra A412 ukurannya lebih kecil 20% dibandingkan ukuran laptop 14" lainnya. Biasanya kan ukuran laptop 14" tuh 348 mm x 242,8 mm. Nah, ASUS VivoBookUltra A412 ini hanya  322,4 mm x 212,7 mm.

Sumpah, kukira, ya, sama.
Sumpah, ini enteng banget, Gaes!

Walah, berarti kemarin reviewku untuk lomba memang betul-betul kurang mendalam. Makanya, KALAH. Hihihi.

Tebalnya berapa? Hanya 1,9 cm. Ya Allah, tadi pas pegang, aku juga mikir, ini kok tipis banget. Memang benar-benar muat kalau dimasukkan ke dalam slig bag. Apalagi beratnya hanya 1,5 kg. Berasa lagi nenteng Gulaku pas belanja di minimarket, deh. Enteng.

Pas banget kalau laptop yang satu ini menyasar generasi milenial sepertiku yang banyak kegiatannya, pun di luar, pindah sana-sini. Selama ini, bahkan saat mengetik postingan ini aku lebih senang mengandalkan HP. Alasannya, ya, simpel, laptopku yang lawas berat kalau dibawa ke mana-mana. Nah, kalau kamu cari laptop yang ringan, ASUS VivoBook Ultra A412 ini cocok banget.

Kemudian, apa keunggulan lainnya?

Layar Telah Menggunakan Teknologi NanoEdge

Inilah salah satu bentuk inovasi ASUS, yaitu teknologi Nano Edge. Apa itu? Teknologi yang membuat layar laptop lebih besar karena bezelnya hanya 5,7 mm. Bezel yang kecil banget ini juga jadi salah satu penopang kenapa laptop yang satu ini lebih ringan.

Selain itu, teknologi ini juga memiliki lapisan anti-silau matte yang mengurangi pantulan sehingga rasio layar ke tubuh mencapai 87%. Karena itulah, saat memandangi layar ini, kesan yang begitu mendalam akan muncul dan diharapkan itu bisa menambah produktivitas kita saat menggunakannya sebagai gawai untuk kawan saat bermain atau bekerja.

Sampai sini, makin yakin nggak sama ASUS VivoBook Ultra A412? Layarnya keren lho ini, nggak butek kayak wajahku, lho, ya.

Ya, sudah, lanjut, yuk, apalagi to keunggulan laptop yang satu ini?

Desain Ergolift yang Bermanfaat

Kamu sudah tahu desain ergolift yang seperti apa?

Kalau belum tahu, wajar, kok. Aku juga baru tahusetelah mereview beberpa laptop ASUS. Soalnya, laptop teman-teman sejawatku pun belum ada yang pakai desain ini. Bisa dikatakan ini juga termasuk inovasi dari ASUS. Gila, ASUS memang membuktikan kalau selalu berinovasi.

Desai Ergolift ini, kalau kamu perhatikan di gambar yang aku tampilkan, keyboard akan terangkat saat laptop dibuka. Sudut yang dibentuk sebesar dua derajat. Tujuannya apa to kok pakai desain beginian?


Satu, berapa lama kamu saat mengetik? Satu, dua, atau bahkan lima jam? Apa yang terasa di tanganmu? Pegal? Nah, desain ini digadang-gadang mampu memberikan kenyamanan dan lebih ergonomis untuk kita selama mengetik. Ditambah lagi punya keyboard backlit yang bisa kita atur sesuai keinginan kita. Kalau di tempat redup pun, mau ngetik tombol keyboardnya tetap terlihat dna terasa nyaman.

Dua, terangkatnya bodi laptop akan memberikan ruang agar udara bisa masuk dan memperlancar sirkulasi udara pada sistem pendinginan. Kalau sistem pendinginannya oke-oke saja, sehingga, hardware pun bisa berjalan dengan lebih optimal.

Kamu pernah mengalami nggak ngipasin laptop? Atau beli aksesoris meja yang ada kipasnya tuh, terus ada lampu warna biru dan hijau? Hihihi. Kalau pakai ASUS VivoBook Ultra A412 ini mah nggak usah keluar dana lagi buat beli itu.

Varian Warna Ada Empat


Stylish dan ceria, inilah kesan yang juga menonjol pada ASUS VivoBook Ultra A412. Tak heran kalau dapat julukan ultrabook dengan layar 14" paling berwarna dan paling kecil di dunia atau "worlds smallest colorful 14 inch ultrabook".

Kalau kamu bisa memilih, suka warna yang mana?

Performa dan Penyimpanan Insyaallah Powerful

Jelas berbeda kalau laptop keluaran terbaru 2019 ini dibandingkan terdahulunya, ya. Apalagi laptopku. Hahaha. ASUS VivoBook Ultra A412 ini sudah ditenagai oleh prosesor Intel Core generasi ke-8. Makanya, set set set. Gesit banget.

Kalau misalnya kamu mau pakai laptop ini untuk urusan grafis, bisa tuh pilih varian yang ditenagai oleh chip grafis yaitu NVIDIA GeForce MX250. Kemudian ditemani dengan RAM DDR4 serta M.2 SSD, SSD lho, ya, insyaallah, laptop ini makin kencang.

Begini contoh tampilan Windows Hello


Oiya, ASUS VivoBook Ultra A412 sudah memakai sistem operasi Windows 10 asli dan menyediakan sensor fingerprint dan juga mendukung fitur Windows Hello untuk login cepat.

Cepat? Iya, kalau pakai Windows Hello, kapanpun, saat laptop dalam kondisi stand-byhibernate, atau baru menyala, kita bisa langsung masuk ke sistem Windows 10 dengan cepat.

Bagaimana cara ngaktifinnya? Cari di bagian setting > accounts > sign in options > set up. Sudah deh, nggak perlu pakai password segala agar laptop ini aman.


Konektivitas Tidak Kalah Meyakinkan

ASUS VivoBook Ultra A412 memang tipis banget, adakah ketakutan soal colokan? Hahaha, colokan, bahasa planet mana ini? Soal konetivitas, laptop ini memiliki 1x USB 3.1 (Gen1) Type-C, 1x USB 3.1 (Gen1) Type-A, 1x USB 2.0 Type-A, 1x HDMI, 1x Audio Jack, 1x MicroSD card reader.


Soal internetan, santai. Ada koneksi WiFi dual-band 802.11ac (2x2) yang mampu membuat ultrabook ini tetap was wus was wus saat diajak berselancar di duniamaya. Kemudian, saat acara gathering kemarin, ada lima teman yang dapat hadiah flasdisk tapi bisa diakses dengan bluetooth. Nah, kalau dikawinkan dengan Bluetooth 4.2 milik ASUS VivoBokk Ultra A412 ini cocok nih.

Baterai

Baterainya memakai 2-cell berukuran 37 Wh jenis polimer-lithium berkualitas tinggi. Sehingga kaau dipakai seharian untuk pemakaian normal tak ada masalah.
Satu lagi, ASUS mengklaim kalau laptop ini dicharge selama 49 menit, akan terisi 60% baterainya. Iya, kayak HP - HP zaman now, laptop ini juga sudah dilengkapi dengan teknologi pengisian daya fast charging.


Suaranya Jedug Jedug

Ada yang suka ngeblog dengan mendengarkan musik? Kalau aku nggak sih nggak bisa kayak gitu. Tapi, akhir-akhir ini aku lagi suka mendengarkan ceramah Gus Miftah dan Ust Hanan Attaki, nih. Kubayangkan kalau pakai laptop ini dengan ASUS SonicMaster -nya, berasa lagi ada di depan langsung alias live bersama ulama favoritku kali ya. Habisnya, suaranya nendang banget, jedug-jedug, mantab.


Berapa Harganya?

Ini nih yang paling penting. Makin yakin, kan mau beli laptop ini?

Nah, pas Mas Danu menutup pemaparannya tentang ASUS VivoBook Ultra A412, beliau juga memberi bocoran kalau harganya mulai 6.599.000 saja.


Kelar sudah Mas Danu memaparkan keunggulan ASUS VivoBook Ultra A412. Kemudian kami dipersilakan untuk makan siang, salat, dan kalau mau ambil foto lagi untuk kompetisi foto di Instagram juga monggo. Terakhir upload fotonya sebelum pukul 13.00 WIB.

Jeng jeng jeng.

Apakah aku jadi salah satu pemenangnya?

Tidak, Kawan. Hiks.

Kecewa pasti. Pulang nggak bawa HP apalagi voucher belanja. Tapi, nggak papalah, kan ini piknik. Kalau belum dapat plus plusnya, ya, siapa tahu di lain kesempatan.



Terima kasih banyak untuk ASUS Indonesia. Sering-sering mampir ke Semarang, ya. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan.

Dan di jalan, aku salah pilih jalur. Kemudian mampir makan bakso karena ngantuk. Hihihi. Tulisan ini bersambung, ya.

Main Spec.
ASUS VivoBook Ultra A412
CPU
Intel Core i3-8145U Processor
Intel Core i5-8265U Processor
Intel Core i7-8565U Processor
Operating System
Windows 10
Memory
4GB DDR4 RAM
8GB DDR4 RAM
Storage
512GB M.2 PCIe Gen3X2 NVME SSD
Display
14.0" (16:9) LED backlit FHD (1920x1080) Anti-Glare, NTSC 45%
Graphics
NVIDIA GeForce MX250 with 2GB GDDR5 VRAM
Integrated Intel HD Graphics 620             
Input/Output
1x USB 3.1 (Gen1) Type-C, 1x USB 3.1 (Gen1) Type-A, 1x USB 2.0 Type-A, 1x HDMI, 1x Audio Jack, 1x MicroSD card reader
Camera
HD Web Camera
Connectivity
Dual-band 802.11ac Wi-Fi (2x2), Bluetooth 4.2
Audio
Sonic Master audio, Array Microphone
Battery
37WHrs, 2S1P, 2-cell Li-ion Battery
Dimension
32.2(W) x 21.2(D) x 1.90 ~ 1.95 (H) cm
Weight
1.5Kg
Colors
Transparent Silver, Slate Grey, Peacock Blue, Coral Crush
Price
Start from Rp 6.599.000
Warranty
2 tahun garansi global


*Foto dan gambar adalah editan saya sendiri
Sumber bacaan: https://www.asus.com/id

Senin, 30 September 2019

Ternyata Nyaman Lho Pakai USB OTG SanDisk untuk Back Up Data yang Ada di HP!




Sumpah. Hari itu aku ingin mengutuki diriku sendiri.

'Apa kubilang? Pembelajaran yang sudah disiapkan matang-matang kayak gini saja masih ada yang miss. Apalagi kalau kamu ogah-ogahan?', batinku.

Tanganku masih sibuk mencabut, memasukkan, mencabut, memasukkan colokan speaker ke HPku. Kuputar volumenya, sudah mentok tapi nggak ada suaranya juga. Padahal colokan ke sumber listrik juga sudah kupasang. Entah setan apa yang nemplok di sana? HPku tiba-tiba ngambek, tak ada suara instrumen Indonesia Raya yang keluar.

Padahal di pojok kelasku sudah ada kepala sekolah yang siap dengan instrumen penilaian guru.

Iya, pagi itu aku sedang mendapat jatah dinilai saat mengajar oleh kepala sekolahku. Setiap hari, ya, mengajar. Tapi, kalau tiba-tiba ada yang nungguin kok, ya, gembrobyos alias keringat dingin bercucuran di mana-mana. Ditambah lagi speakernya so-ak.



Ya Allah, tamatlah riwayatku.

"Maaf, ya, Anak-anak, entah speaker atau HP Bu Ika yang error, kita nyanyi Indonesia Raya-nya manual saja, ya? Tidak usah pakai lagu instrumen seperti biasanya."

Anak-anak mengangguk. Hatiku lega, tak ada yang komplain. Tapi, kutahu, mereka kecewa. Raut wajahnya tidak bisa menipuku.

Okelah, beres.

Tunggu, tunggu, apa kabar dengan nilaiku nanti?



Aku Tidak Sendiri, Gaes!


Ahhhhhh...kalau ingat kejadian hari itu, hanya ada satu kata, MENYEBALKAN.

Terbiasa HP oke-oke saja, tanpa masalah, kemudian mengalami kejadian seperti di atas, tentu saja aku menyesal, "Kenapa kok nggak menyimpan lagu instrumen Indonesia Raya di flashdisk atau di laptop juga? Mentang-mentang biasanya baik-baik saja?!"


Biasanya memang tidak ada masalah. Aku sempat berpikir apa memang benar-benar karena memori HPku mulai full, ya? Soalnya, pagi itu, saat aku mencuci piring sambil mengunduh video Ust. Hanan Attaki di Youtube. Lumayan banyak, sih.

Apa karena hampir penuh itu, ya? Sempat ada peringatan, sih, kalau memori HPku sudah 90%  lebih terpakai.

Nyatanya, saat aku (terpaksa) menghapus beberapa video tausiah Ust. Hanan Attaki, kemudian HP kurestart, kok, ya, lagu instrumen Indonesia Raya itu bisa diputar. Nggemeske bianget

Apa memang seperti itu, ya, kalau memori HP terlalu penuh, jadi suka bermasalah?

Sebelum masalah yang kualami, sebenarnya aku sudah dapat keluhan dari abi, suamiku. HP jadulnya 'kan memori internalnya hanya 1 GB, nah, aplikasinya hanya WhatsApp saja, sering banget keluar notifikasi kalau memorinya penuh. SMS dan WA tidak bisa masuk. Padahal semua pesan di dalamnya sudah dihapus. Ditambah lagi foto-foto di galeri juga banyak yang (terpaksa) dihapus dan sebagian dikirimkan ke HPku.

Sekali, dua kali, setiap kali abi mengeluhkan hal yang serupa aku masih ladenin. Eh, ketiga kalinya, aku ikutan sebel.

"Lem biru sajalah, Bi. Rempong banget."

Abi hanya manyun terus menengadahkan tangannya memberikan kode, MANA UANGNYA?


Hahaha.

Hampir serupa dengan kasusku dan Abi, ada Mbak Erina, teman bloger yang memberikan job content placement kepadaku beberapa hari yang lalu. Dia mengeluhkan kalau HPnya sedang bikin sebel karena memorinya terlalu penuh. Padahal semua kerjaan dihandle via HP. Semua penting, masak iya, harus ada yang dibuang dulu?

Ulala.

Yaaah, sebelnya Mbak Erina ini sebelas dua belas lah, ya, sama seperti yang aku dan abi alami.

Hahaha.

Eits, kamu pernah juga mengalaminya? Santai, aku, abi, Mbak Erina dan tentunya kita semua pernah mengalami hal serupa. Temannya banyak kok.

Judul paling tepat untuk kasus kita, "Dibikin Sebel dengan Memori HP yang Penuh dan Terpaksa Merelakan Beberapa Data Dihapus."

Kenapa aku berani bilang kalau teman senasib kita banyak? Karena sudah ada survei yang membahas tentang "Indonesian Consumer Mobile Habit and Data Management Survey"  dan memberikan hasil yang menurutku cukup "emang bener nyatanya aku mengalaminya".

Survei oleh DEKA yang dikomisikan oleh Western Digital Corp tersebut dilakukan dengan melibatkan sebanyak 1.120 responden dari 6 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Makassar. Iya, sih, Semarang nggak masuk dalam kota sasaran di atas. Tapi, percayalah, hasilnya memang sangat mewakili kita yang tinggal di luar 6 kota tersebut.

Penasaran, ya, hasil surveinya seperti apa? Sabar. Aku rincikan sebagai berikut, ya.
  • 67% orang Indonesia pernah kehilangan data di smartphone mereka, yang berujung pada perasaaan kesal.
  • Lebih dari 80% responden survei telah menyadari pentingnya melakukan back-up data. Namun, hanya sepertiga dari mereka yang melakukan back-up secara teratur selama sebulan sekali.

Nah, apakah kamu termasuk dalam 67% tersebut? Kalau aku, sih, iya. Suamiku, iya. Mbak Erina juga. Bisa jadi saudara, tetangga, teman kantor, dan guru-guru kita pernah mengalami hal serupa. Akan tetapi, apakah mau jadi bagian dari 80% juga? Kalau aku sih ogah.


Berburu Diskon USB OTG SanDisk di Shopee


Aku tahu ini tidak kebetulan. Saat aku sedang mengalami kejadian harus merelakan nilai evaluasi diriku sebagai guru acakadut gara-gara HPku yang so-ak, di salah satu grup komunitas bloger yang aku ikuti sedang membahas tentang USB OTG SanDisk.

Aku menangkap inti dari obrolan mereka adalah USB OTG SanDisk ini flashdisk untuk HP. Flashdisk tapi colokannya seperti colokan charger HP. Tinggal colokkan, maka data yang ingin kita simpan akan berpindah ke HP. Jadi, insyaallah, memori HP nggak bakalan penuh lagi, urusan hapus -menghapus foto atau video #DibuangSayang dengan terpaksa juga tidak akan terjadi lagi, sekaligus kejadian kehilangan data juga akan terminimalisir.

Jelas, aku tergoda. Kok enak benar? Batinku saat itu.



Kubukalah aplikasi Shopee di HPku.

Sebagai orang yang tinggal di pinggiran kota sepertiku ini, ya, bisa dibilang sangat terbantu dengan adanya online shop seperti Shopee ini. Lha kalau mau ke toko komputer terdekat, nggak lengkap. Mau ke Gramedia, berat di ongkos perjalanan, belum lagi capek, macet di mana-mana. Hadeh. Yo wis, lariku ya ke online shop.

Sebenarnya kalau belanja di online shop kudu pinter juga memilihnya. Ongkirnya mahal, euy, kalau sampai sini. Dari Jakarta biayanya ke sini di atas 20 ribu. Kalau tak pandai memanfaatkan diskon ongkir, tekor juga.

Kalau tidak salah, tepat saat ada promo 19-9-2019, aku membeli #SanDiskAPAC Ultra Dual Drive USB Type-C yang 32 GB (USB 3.1) dengan harga 110 ribu sudah kena diskon potongan harga sekaligus gratis ongkos kirim. Harga segitu murah nggak, sih? Murah banget, kan?

Menunggu selama tiga hari, akhirnya #SanDiskAPAC ku datang. Ini yang kutunggu-tunggu nih. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk segera mencobanya. Akan kupindahkan semua foto dan video ke sana. Agar memori HPku jadi perawan kembali.

USB OTG SanDisk sudah di tangan

Jeng jeng jeng.

Saat kubuka, lho, kok, begini colokannya?

Hahahaha. Yes, aku salah beli tipenya, Gaes!

Harusnya, aku membeli USB Type-B, ini malah yang C. Ini pasti gara-gara aku tergiur dengan diskon. Gercep, tapi, malah. Hahahaha.

Apa yang terjadi kemudian? Apakah aku melakukan pengembalian barang?

Terbersit pikiran, ah, ini dikembaliin saja. Memang nggak rusak, kalaupun rusak juga ada garansinya selama 5 tahun. Ini murni karena kesalahanku.

Akhirnya, aku googling, dan bertemulah aku dengan konektor. Aha! Solusi, nih. Tapi, masak iya sih harus beli online lagi? Akhirnya, aku membuat story di WA dan bertanya adakah yang tahu di mana bisa membeli konektor OTG yang aku maksud.

Masuklah pesan dari guruku, Pak Budi namanya. Kata beliau di setiap konter hampir semua jual beli konektor seperti yang kucari. Obrolan kami pun berlanjut, sampai akhirnya beliau cerita kalau sudah pakai USB OTG SanDisk yang Type B sejak 2016 ((Ke mana saja selama ini diriku, 2016 lho, ini sudah 2019, hahaha)).

Menurut beliau sejauh ini, USB OTG SanDisk yang dipakai tidak pernah rewel, oke-oke saja. Dikomporin seperti itu, aku jadi makin penasaran deh, seperti apa sih performa dari USB yang satu ini.



Sepulang sekolah, aku langsung deh mampir ke konter terdekat dan ternyata memang ada konektor USB OTG yang kucari. Di konter itu, aku langsung coba konektor tersebut. Setelah cocok dan USBnya bekerja, kubayar konektor tersebut dengan harga 7 ribu. Murah sih, tapi lain kali kalau belanja online kudu teliti lagi. Hihihi.


USB OTG SanDisk untukku, Guru Bloger


Urusan konektor, kelar.

Langsung deh aku colokkan ke HPku. Aku sempat deg-deg-an sih, bisa nggak ya? Kan colokannya berbeda tipe. Eh, ternyata bisa, Gaes!

Senang? Bangetlah. Nggak rugi gitu lho sudah bedundukan beli konektor di siang bolong.

Sudah siap dipakai nih, Gaes!


Langsung deh kubaca panduan yang tertera setelah kucolokkan USB OTG SanDiskku. Kuinstal aplikasi SanDisk Memory Zone dan kupilih back up secara manual saja, bukan yang otomatis.

Setelah memakainya lebih dari seminggu, bagaimana kesanku?

Nyaman.

Beneran.

Sangat memudahkanku.

Sebagai seoroang guru bloger, aku sering dapat masukan dari pembaca  blogku untuk selalu menuliskan tetek bengek cerita keseharianku sebagai guru. Ya, pas, sih, ya. Karena brandingku memang sebagai guru blogger.

Baca beberapa cerita anak-anakku di sekolah berikut ini.



Terlebih lagi, sebagai guru aku juga memiliki tugas untuk semaksimal mungkin memberikan gambaran kegiatan setiap hari di kelas sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai guru sekaligus kepada wali murid.

Setiapkegiatan, baik itu di dalam kelas, maupun di luar kelas, harus ada dokumentasinya. Agar wali murid paham betul, oh, anakku di sekolah sedang ini, berada di sini, belajar tentang ini, dan sebagainya.

Penampakan memori internal dan eksternalku dengan USB OTG SanDisk


Nah, bukankah kegiatanku itu tentu sangat membutuhkan memori yang besar di HPku, bukan? Memori perangkatku yang hanya 32 GB saja tentu tidak cukup. Makanya, saat kutaku obrolan di grup WA itu aku begitu antusias untuk segera membeli USB OTG SanDisk ini. Memang menguntungkan. 

Oh iya, aku ada cerita, saat aku mendokumentasikan kegiatan anak--anak saat lempar bola di halaman sekolah, kan, aku video tuh. Durasi videonya sampai 10:14 menit dengan memakan space 1,55 GB di HPku. Nggak tahu kenapa, mungkin karena memoriHPku yang sudah mulai penuh, video tersebut tidak bisa aku kirim ke grup WA wali murid. Akhirnya, aku pindahkan ke USB OTG SanDisk. Dalam waktu sekitar satu menit lebih sedikit, video tersebut sudah berpindah. Cepet banget, bukan?

Pantas deh, ya, kalau #SanDiskAPAC Ultra Dual Drive USB Type-C yang 32 GB (USB 3.1) ini punya kecepatan tinggi sampai 150MB/s.

Akhirnya, setelah terpindah ke USB, kucolokkan deh ke laptopku. Lanjut kukirim ke grup WA wali murid via laptop. Lah, ternyata kok bisa. Hihihi.

Terima kasih untuk SanDisk yang sudah memudahkan pekerjaanku. Walau harus pakai konektor segala, alhamdulillah, aku tetap merasa nyaman banget.

Kamu, nggak pengen punya USB OTG SanDisk juga? Nah, kalau kamu pengen beli juga, coba ikuti beberapa anjuranku berikut ini, ya.
  • USB OTG SanDisk ini bisa digunakan di HP, tablet, sekaligus di laptop juga
  • Saat hendak membeli USB OTG SanDisk ini pastikan apakah tipe HPmu mendukung pemakaiannya? Kamu bisa cek ke website SanDisk.
  • Saat sudah mengetahui kalau ternyataHPmu bisa pakai USB OTG tersebut, langsung deh cus ke online shop, atau toko aksesoris HP/komputer. Perhatikan betul tipe colokannya, ya. Jangan sampai salah pilih tipe sepertiku. Hihihi.
  • Gunakan USB OTG SanDisk untuk memback-up data kamu. Disarankan sebulan sekali. Kalau aku, misal kurasa data itu penting, langsung kuback-up. Lha wong, tinggal colok, crut, kelar, kok. Hihihi.
Bu guru saja punya USB OTG  SanDisk, kamu kapan beli?

Senin, 23 September 2019

Apakah Perempuan Harus Bisa Memasak Sejak Sebelum Menikah?


Ehm, kalau menurutku tidak.

Tapiiiiii, paling tidak, setidak-tidaknya lah, ya, jangan sampai babar blas alias sama sekali tidak tahu tetek bengek soal dapur.

Yah, punya modal pengetahuan eh ini kunyit, garam, gula pasir, ketumbar, kemiri, ini panci, kompor, hahahaha.


Bisa makan bersama dengan keluarga itu nyenengin banget. Apalagi kalau mereka suka dengan masakan yang kita buat.

Tulisan ini berawal dari komentar tetanggaku yang sama-sama punya anak tunggal dan perempuan pula. Posisinya kayak ibuku, sama-sama punya anak tunggal yang sudah berumah tangga tapi masih satu atap.

Beliau main ke rumah saat aku hendak memasak untuk makan siang.

Soto buatanku memang belum seenak buatan ibu.


"Kamu malah bisa masak." Begitu komentarnya saat melihatku membungkus ikan pindang untuk kubuat pepes kemangi.

"Hahahaha. Kalau nggak aku, siapa lagi, Dhe. Kasihan ibu, pulang, capek dari pasar harus masak." Jawabku.

"Iya. Nggak kayak Fatus (anaknya). Masak ora iso (nggak bisa)."

Aku tak menyahut. Mulutku terkunci dan tanganku asyik menusukkan lidi ke daun pisang.

Dalam hatiku, dulu aku sama sekali tidak bisa memasak.

Dari situlah aku punya anggapan, kalau sebelum menikah, perempuan tidak harus bisa memasak. Buktinya adalah aku.

Saat masih lajang, aku benar-benar tak bisa memasak. Semasa kuliah aku hanya bisa memasak mie instan. Karena jarang di rumah, sehari-hari harus berkutat di kampus dan TK (mengajar di TK), kemudian ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, yang ada aku hanya jadi tukang makan doang.

Soal perbumbuan, aku kenal sejak SD. Karena suka main masak-masakan (suka ngambil bahan-bahan dapur ibu) dan aktif di pramuka (karena terpaksa tuntutan nilai). Sudah, karena itu aku tahu mana bedanya ketumbar dan merica, mana kunyit mana kencur.

Lulus kuliah, jeda dua bulan setelah wisuda aku langsung menikah. Mana ada acara kursus memasak. Hahaha. Aku justru heboh mempersiapkan pernikahanku yang serba 'aku' semua. Bikin undangan sendiri, ditambah siang malam berkutat dengan souvenir pernikahan.

Lebaran kemarin aku bikin nastar sendiri. Belajarnya, ya, dari internet.

Sumpah, nggak ada waktu untuk kursus memasak. Toh, tak ada dana untuk itu.

Kini, meskipun tak pandai-pandai banget, aku bisa memasak. Terkhusus makanan kesukaan suami.

Hahaha.

Santai, masakan kesukaan suamiku mudah banget kok buatnya, cukup didihkan air, kasih garam dan gula, kemudian masukkan mentimun. Itu namanya plonco.

Ditemani dengan ikan asin hangat dan sambal terasi, suami sudah hepi dan lahap makanannya.

Masak begitu doang, sudah diganjar pahala sama Allah, pun suami benar-benar merasa diperhatikan. Soalnya menu makanan itu tidak ada yang suka di keluargaku. Kalau bukan aku yang buatin, siapa lagi?

Sampai sini, aku percaya kalau keadaan akan 'memaksa' seseorang mau belajar memasak setelah menikah. Demi siapa? Suami dan nantinya akan ditambah dengan anak.

Masih tentang keadaan, semenjak ibuku jadi ibu pekerja alias ikut ke pasar bapakku, mau tidak mau kalau ibu tidak sempat memasak karena capek, ya, aku yang memasak.

Awalnya, bapakku komplain, jelas, rasa masakanku kalah enak dibandingkan masakan ibuku yang endol markendol. Tapi, mau bagaimana lagi, ibuku terlalu capek.

"Asin, Ka, sambalmu."

"Sayur beningmu kurang garam."

"Rasa gudegmu nggak ngalor nggak ngidul (nggak jelas)."

Dulu, pas awal-awal memasak, komentar-komentar seperti itu sering banget kuterima dari bapak dan ibu. Apakah aku sakit hati? Jelas. Sudah capek-capek masak, malah dipaido, siapa yang tahan?

Lagi-lagi karena keadaan. Kalau aku ngambek nggak mau masak, siapa lagi yang mau masak?

Biki sambal pecel yang puedeeeessss

Akhirnya aku banyak lihat resep-resep di Mbah Google, nonton video memasak di Youtube, dan nggak sungkan untuk tanya sama ibu walau sering diejek. Hahaha.

Alhamdulillah, kini, setelah terjun ke dapur selama 2 tahun lebih, yaaa, masakanku nggak separah dulu lah. Aku juga sudah bisa bikin kue ulang tahun Kak Ghifa awal bulan lalu. Komentar yang makan sih, sukses kue ulangtahunnya. Sampai-sampai lupa difoto karena ludes duluan.


Semua modalnya hanya satu, terdesak. Kalau sudah terdesak, kita akan mau belajar. Setelah belajar, kok nggak enak, mau belajar lagi. Namanya juga belajar, sekali dua kali memasak, kalau belum endol markendol, ya, wajarlah.

Kamu, bagaimana, sependapat nggak sama aku? Atau mungkin kamu ada cerita lain? Kapan kamu bisa memasak? Apakah sudah jago memasak sebelum menikah? Atau mungkin punya cerita unik serupa? Bisa tuh tulis juga di blog kamu, insyaallah aku akan berkunjung. Jadi, jangan lupa japri aku, ya!

Terakhir, yang ada rencana segera menikah, jangan sampai mundur karena perkara belum bisa memasak, ya. Learning by doing saja. Semua bisa diobrolin kok sama si dia. Ihiiirrr.

Minggu, 22 September 2019

Sabtu Ceria dengan Hadiah Sarapan yang Ulala




Rasanya kalau pagi tuh buru-buru banget. Untung saja, hari ini Kakak libur. Kehebohan pagi lumayan bisa terminimalisir.

Hari ini terakhir anak-anak PTS (Penilaian Tengah Semester 1) dan diisi dengan membuat mozaik (tapi anak-anak ngotot bilang ini kolase) buah anggur.

Sudah sejak hari Senin aku kowar-kowar tentang rencana kegiatan hari ini. Pas hari Jumat juga sudah kuingatkan lagi kalau Sabtu pagi anak-anak membawa kardus dengan ukuran yang sudah kuberi contoh dan juga gunting.

Apa daya? Namanya anak-anak, adaaaaa saja yang tidak bawa gunting. Ada David, Arfa, dan Gea. Ada juga yang ukuran kardusnya tidak sesuai permintaanku. Hadeh.

Gemes.
Gemes.
Gemes.

Baca juga: Pindah Sekolah

Khilmi dan Amel membuat kolase
Aku jadi ingat kebiasaanku di sekolah lama. Dulu, setiap anak mengumpulkan stopmap dengan isi lem, gunting, krayon/pensil warna, dan buku gambar. Jadi, kalau ada kegiatan gunting menggunting, atau mewarnai tuh nggak ada teriakan dari anak, "Bu, aku nggak bawa gunting." atau, "Bu, aku nggak bawa krayon."

Nyebelin.
Beneran.

Ujung-ujungnya, namanya juga anak-anak. Padahal hal sepele ini melatih tanggungjawab dan disiplin mereka. Poin itupun masuk dalam penilaian afektif.

Proses pembuatan kolase pun kumulai. Koreksi untuk diriku sendiri adalah, seharusnya aku sudah membuat satu yang sudah jadi. Kemudian buat lagi bersama anak-anak sebagai contoh nyata. Tapi, karena kesibukan Jumat lalu, mengantar ibu ke rumah sakit, sampai rumah aku sudah tepar. Tak sempat untuk membuat kolase di rumah. Hanya praktik di depan anak-anak saja.

Okelah, soal gunting akhirnya kuakalin. Kalau teman sebangkunya selesai menggunting, anak yang tak bawa gunting tadi kupersilakan untuk meminjamnya.

Sambil ikut membuat kolase yang kertasnya kutempel di papan tulis, sesekali anak-anak memanggilku, "Bu, lem-ku habis."

"OK, sini maju."

Oiya, untuk bahan-bahan kolase, seperti kertas marmer, kertas bergambar anggur, lem, tusuk gigi, dan cotton bud, semua ada di sekolah. Kami membelinya dengan uang kas anak-anak yang per Senin membayar Rp 1.000.

Lagi asyik membuat kolase, aku kok merasa ada yang aneh. Ada bau-bau tak sedap menohok hidungku. Wah, ada yang kentut nih. Tapi, kok anak-anak yang lain pada santai saja, ya.

"Eh, sepertinya ada yang kentut. Ada yang kentut beneran?"

'Anak spesial' yang duduk di sebelah papan tulis pun mengaku kalau dia kentut.

"Kalau kentut keluar, ya, Ipank. Bu Ika kan sudah bilang berkali-kali. Nggak sopan namanya." Kataku sambil membuka pintu kelas lebar-lebar berharap bau kentut Ipank segera terurai keluar.

Pas aku kembali ke depan papan tulis untuk melanjutkan kolaseku, kok, bau kentut tadi bukannya hilang malah semakin menohok hidungku.

Kemudian, mataku mengarah ke Ipank.

Blaik.

Ada sesuatu yang tercecer di bawah kursinya.

Memang jatahnya ngepel kalau hari Sabtu. Tapi, kali ini spesial.
Ya Allah, tadi pagi aku sarapan terburu-buru, hanya beberapa sendok, eh, ini nemu sarapan yang ulala punya.

Nikmatnya jadi guru kelas 1 SD, ya, begini.

Ya, Ipank pup di kelas. Pup nya encer pula.

"Ipank, perutmu sakit?"

Dia mengangguk.

Semua muridku pada heboh saat tahu Ipank pup di kelas. Bahkan ada yang marah-marah. Segera kuajak Ipank keluar. Kubawa tasnya.

Sebenarnya aku ingin mengajaknya ke kamar mandi untuk bersihin celananya yang kotor. Tapi, aku mikir lagi, nanti kalau basah mau pakai celana apa? Sekolah tak ada celana cadangan.

Ini jadi catatan penting untukku agar setelah ini menyediakan seperangkat baju ganti dan sabun mandi di kelas.

Akhirnya, Ipank pulang.

Tak tahu kenapa, perutku rasanya mual banget. Tapi, malu juga lah dilihat anak-anak. Jujur, baunya Ya Allah, aku pengen banget guling-guling.

Terakhir kali, di sekolah yang lama, ada juga muridku yang pup di kelas. Dia juga berkebutuhan khusus kayak Ipank. Tapi, nggak langsung di celana. Jadi, dia buka celananya seperti orang mau pup biasanya. Kemudian mojok di samping lemari kelas. Hahaha. Pas itu, orangtuanya langsung ke sekolah. Beliau membantuku dengan sigap. Lah, kasusnya Ipank ini, beda. Hahaha.

Setelah Ipank pulang, kukondisikan anak-anak yang lain. Alhamdulillah, mereka paham kesulitanku saat itu. Segera saja, kubersihkan pup Ipank dengan tisu. Baru kemudian ku-pel sampai bersih.

Selama lantai belum kering, aku duduk di dekat lokasi Ipank pup. Bahaya, Gaes, anak kelas 1 SD, kalau aku meleng dikit, bisa kepleset.

Inilah nikmatnya jadi guru kelas 1 SD. Hahaha.

Sepanjang hari ada-ada saja ceritanya. Pengen deh setiap hari bisa menuliskan cerita rupa-rupa di sekolah.

Aku butuh dukungan sih, kamu suka nggak baca tulisanku tentang sekolah seperti ini? Kalau suka, kasih komentar, ya.

Jumat, 20 September 2019

Kota Malang, Inilah yang Kuingat Tentangmu



Hari Selasa kemarin, saat sambil ngelonin Kak Ghifa tidur siang, kunikmati tayangan Tau Nggak Sih di Trans7.

Pas banget, di luar matahari terik banget, di TV malah lagi nayangin yang hangat binti segar khas Kota Malang. Apalagi kalau bukan bakso.

Duh, ngiler aku.

Kak Ghifa yang sudah tinggal 5 watt matanya saja sempat berujar, "Kakak mau bakso, Mi."

"Iya, babuk (tidur) dulu. Nanti sore beli bakso yang biasanya lewat." jawabku.

Tak lama kemudian Kak Ghifa telah tidur. Inginku juga segera bisa tidur menyusul Kak Ghifa. Maklum, setengah hari nguli di sekolah, capek juga ternyata. Tapi, apa daya? Pikiranku malah melayang ke masa-masa saat aku PPL bersama teman PGSD seangkatanku ke Kota Malang.

Tepatnya saat aku semester 6, sekitar pertengah November tahun 2013 lalu. Dengan biaya sekitar 800 ribu, kami melakukan beberapa kunjungan. Mulai dari kunjungan ke beberapa kampus di Malang, Selecta, BNS, sampai ke Bromo. Agar lebih terperinci, aku buat poin-poin saja, ya, ceritanya.

Kunjungan ke Kampus 


Hari pertama sampai di Malang, kami langsung berkunjung ke Universitas Negeri Surabaya. Di sana kami dikenalkan berbagai tetek bengek tentang jurusan PGSD. Mulai dari mata kuliah, kemudian ekstrakulikulernya apa saja, portofolio mahasiswa, masuk ke berbagai laboratorium yang dimiliki dan nguprek baca sekilas skripsi-skripsi alumni.

Rombongan kami saat berada di Universitas Negeri Malang

Di hari kedua, kami juga berkunjung ke kampus. Tepatnya di Universitas Negeri Malang. Di sana kami di kumpulkan di dalam aula. Kemudian anggota HIMA pada unjuk muka di depan. Ada narasumber yang hadir, HIMA dari kampus yang kami kunjungi, sedang memperkenalkan kampusnya sekaligus sharing mengenai PGSD versi mereka.

Nah, pas kegiatan ini, dosen-dosen kami ada acara sendiri dengan dosen pihak kampus yang kami kunjungi. Kampusku kan saat itu masih baru (aku angkatan kedua yang diwisuda), nah, ke kampus-kampus ini maksudnya menimba ilmu. Demi apa? Ya, memajukan PGSD di kampusku. Kalau ada yang baik, kan, dicontoh, diinovasi. Sekarang sih memang sudah beda banget. Makin keren pastinya. Hahaha. Pamer.


Menginap di Hotel Wonderland


Setelah kunjungan ke Universitas Negeri Surabaya, kami langsung menuju Hotel Wonderland. Di sana ada banyak sekali kamar. Aku mendapat kamar di lantai satu, dekat dengan kolam renangnya.

Kami berfoto di depan kamar, samping kiri kami ada kolam renang

Aku suka dengan hotel pilihan kampusku. Meskipun kami hanya semalam di sana, kasur yang empuk, kamar mandi yang bersih, bisa melihat kolam renang lewat pintu belakang, kemudian pemandangan pagi lengkap dengan gunung yang menjulang, rasanya lelah perjalanan di hari sebelumnya langsung terbayar lunas.

Dari dulu aku suka jadi tukang motret daripada dipotret

Aku jadi penasaran, apakah hotel yang kuinapi dulu itu masih ada? Kucoba cari hotel murah di Malang via aplikasi Traveloka. Eh, ternyata, Hotel Wonderland ada. Semoga nanti pas jalan-jalan ke Malang lagi, aku bisa ajak Kak Ghifa menginap di sini. Soalnya, pas aku lihatin foto kolam renangnya dengan patung dua gurita, mata Kak Ghifa sangat berbinar-binar. Semoga bisa ke sana beneran ya, Kak. Bareng sama abi. Aamiin.

Pagi-pagi lihatnya kayak gini, ulala nikmatnya.

Jalan-jalan ke Selecta, BNS, dan Mencicipi Dinginnya Gunung Bromo


Perjalanan kami saat itu disebut sebagai PPL nonkependidikan. Ya, kunjungan ke kampus, tapi banyak jalan-jalannya. Hihi.

Setelah makan siang di Hotel Wonderland, kami langsung check out dan cus jalan-jalan ke beberapa obyek wisata.

Baru masuk sudah disambut dengan ikan-ikan yang cantik

Halo!

Selecta, yang kuingat tentang tempat wisata ini adalah bunga-bunga yang cantik. Terletak di Batu, Malang, tempat ini cantik sekali. Banyak berbagai macam bunga ada di sini. Kalau sekarang, kulihat di berbagai situs jalan-jalan, tempat ini sudah dilengkapi dengan permainan.


Pokoknya kalau ke sini jangan lewatkan kesempatan untuk mengambil banyak foto-foto kece, ya. Siapin juga kaki yang tangguh, soalnya tempatnya luas banget.


Setelah ke Selecta, rombongan kampus kami meluncur ke BNS. Batu Night Spectacular (BNS) yang hanya buka mulai pukul 15.00 ini membuatku takjub. Banyak sekali permainan di sini. Ada rumah hantu, permain pemacu adrenalin, atau mau berfoto di antara lampion?



Lampion-lampion cantik ada di mana-mana. Bentuknya juga unik-unik. Selain itu bisa belanja oleh-oleh juga. Dulu, aku nggak banyak beli oleh-oleh. Padahal setelah dari sini sudah nggak mampir-mampir lagi ke tempat oleh-oleh. Nyeseeeeel banget nggak punya kenang-kenangan, walau hanya sekadar kaos tulisan I Love Malang.

Aku pernah kurus, Gaes.

Seingatku, dulu pulang dari BNS tuh sekitar pukul 22.00 WIB. Kemudian kami check in ke penginapan yang serba putih. Tempatnya lebih bagus dari Hotel Wonderland sih menurutku. Sayang, kami hanya makan malam, bersih-bersih, kemudian tidur. Aku sampai nggak ngeh menginap di mana. Foto-foto saja nggak sempat saking capeknya. Pukul 02.00 kami sudah langsung cus menuju Gunung Bromo.

Saat dini hari bangun, aku dan tiga teman sekamarku mengalami kejadian yang tak pernah kulupakan. Saat itu tiba-tiba pintu kamar kami digedor seseorang, kutahu belakangan itu adalah dosen kami yang membangunkan kami.

Saking kaget dan cuaca dingin Kota Malang, tiba-tiba temanku tadi mengerang kesakitan karena badannya sangat kaku dan dingin. Kami bertiga segera mencari cara untuk mengatasi kejadian tersebut. Ada yang menyelimuti, menggosok semua bagian tubuhnya dengan minyak kayu putih, sampai menenangkannya dengan beristighfar.

Sumpah, kejadian itu sangat menegangkan.

Menanti matahari terbit di kawasan GUnung Bromo


walau tertutup awan, tetap cantik


Hawanya memang, Ya Allah, dingiiiiiiiiiin banget. Padahal kami sudah tidur dengan mengenakan kaos kaki, jaket, kemudian pakai selimut lho. Ngeri. Sampai menusuk tulang.

Alhamdulillah, setelah 15 menitan, temanku bisa kembali baik-baik saja dan kami segera check out. Sampai di dalam bus, kejadian tersebut jadi bahan pembicaraan hangat menuju ke Gunung Bromo.

Lupakan tentang kejadian mengerikan tadi. Karena perjalanan  menuju kawasan Gunung Bromo lebih mengerikan lagi. Hahahaha. Setelah sampai di terminal pemberhentian bus, kami segera naik angkutan khusus.  Pas naik ini, Ya Allah, ngeriiiiii cuy. Jalannya kayak alas roban, naik turun tak terkendalikan. Karena dini hari, jujur, rasa kantuk tak bisa tertahankan. Tapi, mana bisa tidur kalau jalannya bikin deg-deg-an setiap saat. Entah, ya, kalau sekarang.

Bak di atas awan

Setelah naik angkutan, sekitar pukul 04.00 WIB, kami naik jeep menuju kawasan Gunung Bromo. Sampai sana, kami tak bisa berkata-kata. Kegiatan kami hanya berfoto-foto. Hahaha.

Saat itu, aku tidak naik ke puncak Gunung Bromo. Tidak tahu kenapa, rasanya malas saja. Kakiku sudah terasa capek setelah jalan keliling Selecta dan BNS. Nyesel juga sih, jauh-jauh tapi nggak naik ke puncak. Makanya, pengen balas dendam, kapan-kapan kudu ke sana lagi, bersama Kak Ghifa dan abi. Aamiin.


Nah, itu tadi ceritaku tentang Kota Malang yang masih melekat erat di ingatanku. Entah pukul berapa akhirnya aku tertidur. Saat aku terbangun sudah pukul 16.00 WIB. Hihihi.

Kalau kamu, sudah pernah ke Malang?