Rabu, 14 April 2021

Jerawat dan Bruntusan Berkurang dengan Perawatan Acne Series dari Scarlett


Kalau begadang, dijamin deh, paginya, di mukaku akan muncul jerawat. Ada yang sama denganku? Makanya, kalau nggak perlu banget mana mau aku begadang?

Selain jerawat, masalah di mukaku yang paling ganggu banget adalah bruntusan di area hidung. Parah banget lho sampai kelihatan merah kehitaman gitu. Kelihatan njendul-njendul, jelek abis.

Di bagian bawah mulutku juga ada lho. Hitam gitu. Kalau yang bagian ini tuh karena dulu pernah muncul jerawat terus aku pencet. Jadinya ya gitu, bruntusan kecil-kecil terus menghitam. Kalau pas gak pakai BB cream, kelihatan banget. Malu ah.

Sejak awal tahun 2021 ini kan aku sering melakukan foto studio untuk keperluan pemberkasan CPNS. Nah, kalau pas lihat hasilnya tuh suka malu sendiri. Terutama yang bagian bawah mulut. Jelas kelihatan.

"Mas, itu yang bagian bawah mulut tolong diedit, ya. Biar nggak hitam gitu." Aku selalu pesan ke tukang fotonya gitu.

Benar-benar malu sebenarnya. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Makanya, sekarang setelah sadar kalau muka yang bersih dan terawat itu adalah aset saat melayani masyarakat, aku mulai memperhatikan face care yang aku pakai. Nggak minta putih bersinar, yang penting bersih terawat saja sudah cukup.

Akhirnya, aku nyobain produk face care dari Scarlett yang baru-baru ini diluncurkan. Diantaranya ada facial wash, day cream dan night creamnya. Bagaimana kesanku memakainya? Apakah ada perubahan di area yang sering muncul bruntusan? Apakah jerawat kabur? Kemudian sensasinya selama dua minggu ini seperti apa? Cus deh, simak ulasanku.


Scarlett Whitening Facial Wash
BPOM: NA18181202303

Sehari, idealnya kita kan mencuci muka sebanyak dua kali, yaitu pagi dan malam, ya. Nah, aku seringkali memakai facial wash ini pas mandi pagi dan saat mau tidur malam.

Facial wash dari Scarlett ini bisa digunakan untuk tipe kulit apapun lho, Teman. Kesan saat pertama kali melihat kemasannya ini sih, unik. Baru pertama kali ini lihat facial wash kemasannya botol panjang dengan tutup flip flop seperti ini. Tutupnya itu ternyata bisa dibuka dengan cara diulir. Tapi, santai tetap aman kok, nggak mudah tumpah.

Facial wash yang ada butiran scrubnya merah (ini nggak skait saat diaplikasikan ke muka lho ya) dan kelopak bunga mawar ini tampak cantik banget. Teksturnya encer dan baunya soft banget, enak kalau diciumin mulu. Oh iya, itu yang kelopak bunga mawarnya itu kenyal-kenyal gitu seperti agar-agar, hihihi.

Cara pakainya seperti facial wash yang lain, ya:

  1. Basahi muka
  2. Tuangkan secukupnya facial wash di telapak tangan
  3. Usap secara merata ke seluruh bagian muka
  4. Pada bagian muka yang ada jerawat kuusap perlahan dan bagian yang bruntusan kuusap agak lama tapi nggak pakai tekanan
  5. Bilas sampai bersih

Kesan setelah pakai facial wash ini, bagaimana? Enak dan bersih banget. Nggak berminyak, nggak kering, terasa lembab dan kenyal gitu kalau habis pakai facial wash ini. Ini pasti karena kandungan dalam facial wash ini ada Glutathione, Aloevera, Rose Petals, Vitamin E, dan SLS free.

Berapa harganya? Rp 75.000 saja. Sebotol ukuran 100 ml ini bisa dipakai hampir sebulan dengan pemakaian sewajarnya, ya. Murahlah kalau sebulan hanya Rp 75.000.

Scarlett Acne Cream Day (Siang/Pagi Hari)
BPOM: NA18200107956

Rangkaian setelah pakai facial wash di atas, aku biasanya menepuk-nepuk muka dengan lembut menggunakan handuk. Setelah itu baru memakai toner untuk membersihkan sisa-sisa kotoran ataupun facial wash yang tertinggal. Setelah toner benar-benar meresap, aku baru pakai serum. Sembari menunggu meresap, kipas angin mana kipas angin? Hihihi.

Baru deh, cus memakai acne cream day dari Scarlett ini.

Kemasannya tabung mungil. Lucu pemilihan warnanya. Untuk kemasan acne ini berwarna pink, ungu, dan putih. Bahan kemasannya dari kaca, pernah jatuh dari kursi karena nggak sengaja kesenggol anakku, alhamdulillah nggak pecah lho, Teman. Tahan banting banget.

Tutupnya diulir, kemudian di dalamnya itu ada sekat lagi. Jadi, jangan takut kalau tumpah-tumpah, ya, creamnya. Pembatasnya pun ada bagian yang nongol dikit dan itu memudahkan kita saat akan memakai cream ini.

Teksturnya seperti cream biasa, lumayan encer, tapi pas diaplikasian ke kulit muka tuh cepat banget meresap. Kalau biasanya aku buru-buru kan pakai kipas listrik, plus kipas manual. Ini biasa saja, pakai, ratakan, kipas sebentar dah meresap ke kulit.

Oiya, khusus bagian yang bruntusan, kalau pas pakai cream ini, duh, rasanya, cekit-cekit banget. Rasa itu paling lama 10 menitan, ntar lama-lama, ya, biasa saja, hilang. Ini karena efek cream ini bekerja memerangi bruntusan tadi kali, ya.

Karena nyatanya, dua mingguan ini aku rutin pakai cream ini, bruntusanku mengecil lho. Kemudian pori-pori di sekitar hidung juga tampak lebih merapat. Hati siapa coba yang nggak senang?

Apa kabar dengan jerawat di jidatku yang muncul karena begadang? Jerawat tersebut malu-malu setelah tiga hari kupakai cream ini lho, Teman. Ya, memang tidak langsung hilang, pelan tapi pasti. Setelah tiga hari itu kan dia kempes, kulitku menghitam karena bekas jerawat tadi, setelah rutin memakai cream ini juga bekas hitamnya tadi hilang sendiri. Semua butuh proses, nggak bisa bimsalabim.

Cocoklah, ya, kalau Scarlet Acne Cream Day ini disebut mampu meredakan peradangan jerawat serta kemerahan pada kulit muka.

Berapa harganya? Rp 75.000 saja. Sebotol ukuran 20 gram.

Scarlett Acne Cream Night
BPOM: NA18200107955

Ah, bagian pakai cream malam ini lho banyak sekali godaan. Paling sering karena ngantuk dan endingnya malas. Padahal cream malam ini juga penting banget.

Untuk tahapan pemakaiannya, sama seperti yang day cream. Pertama ya pakai facial wash-nya terlebih dahulu, lanjut toner, serum, baru kemudian cream malam ini.

Soal kemasan dan warna kombinasinya sama. Hanya saja penempatan warna kemasannya berbeda sedikit.

Perkara tekstur, cream malam ini tidak terlalu encer seperti milik day cream. Jadi, ini lebih mudah menyerap lagi ke kulit muka. Soal bau, sama, nggak strong, lembut dan nyaman di hidung bumil sepertiku.

Pas bangun tidur, ho, kurasakan kulit muka sangat kenyal dan nyaman. Nggak berminyak pula. Cocok kalau cream malam ini berfungsi sebagai anti bakteri dan anti inflamasi alami. Gunanya untuk apa? Jelas dong melawan bakteri penyebab jerawat.

Berapa harganya? Rp 75.000 saja. Sebotol ukuran 20 gram.

Ah, aku mau merutinkan memakai face care ini. Soalnya aku nggak nyaman banget sama bruntusan bagian hidung dan bawah mulutku. Apalagi ini mau lebaran, mau dong bumil tampil cantik. Hihihihi.

Kerja jadi makin hepi dengan muka tanpa jerawat

Oiya, pasti ada yang tanya, memangnya aman, ya, bumil memakai face care dari Scarlett ini? Aku berani memakai face care ini karena produk dari Scarlett ini bebas dari bahan-bahan berbahaya seperti:

Paraben

Oxybenzone

Retinoid

Apalagi produk ini juga sudah terdaftar di BPOM. Nanti setelah paket face careku ini habis, aku mau beli lagi. Tapi, biar lebih murah mau beli sepaket yang Rp 300.000 dapat 5 produk bebas pilih. Murah banget, kan?

Kamu juga bisa ikutan order via:

WhatsApp di 087700353000).

Line (@scarlett_whitening)

DM instagram @scarlett_whitening

Ataupun shopee (Scarlett_whitening)

Selasa, 13 April 2021

Kenapa Memilih Nama Diyanika?


Pernyataan itu dilontarkan oleh salah satu founder komunitas bloger perempuan di Semarang yang kuikuti, saat aku memenangkan salah satu lomba blog dengan hadiah laptop seharga 25 juta bulan ini. Tulisan yang menang itu bisa kamu baca di sini.

Iya, nama lengkapku adalah Ika Hardiyan Aksari, tiga kata, menurutku terlalu panjang kalau dipakai sebagai nama blog. Makanya kupakai nama Diyanika sebagai domain blog ini. Kemudian karena aku ingin blog ini menjadi sebagai catatan harianku selaku seorang guru SD dan juga ibu dari anak-anakku, ya, sudah, yang paling gampang kuberi nama Diyanika Journal.

Terus kok tiba-tiba muncul nama Diyanika, bagaimana ceritanya?

Begini...begini..

Diyanika ini sebenarnya adalah nama impianku saat menjadi seorang penyiar radio kampus. Dulu pas awal masuk radio, seniorku bilang kalau kami harus punya nama siar yang singkat, unik, dan mudah diingat.

Eh, pas aku usul pengen pakai nama itu nggak di ACC. Endingnya, dulu aku pakai nama Icha sebagai nama siarku. Padahal, ya, semalaman aku memikirkan nama yang pas untukku tuh apa. Kuutak-atik namaku bersama teman sekamar kost ku. Sampai ketemu nama Diyanika, dari (har)Diyan dan Ika malah nggak dipakai.

Dari kekecewaan itulah, kupakai deh hasil begadangku dan teman sekamarku itu sebagai nama blogku ini.

Seingatku, dulu, nama blog ini bukan Diyanika Journal. Tapi, entah, aku juga sudah lupa dulu namanya apa, hihihi. Aku berharap sampai kapanpun namanya tetap Diyanika Journal saja.

Jujur, aku sendiri merasa nama tersebut makin ke sini makin nggak cocok dengan isi blog ini. Karena kesibukanku makin sering nulis suka-sukaku. Bukan lagi tentang keseharianku sebagai guru dan ibu. Wis pokoke suka-suka aku ya kumasukkan ke sini. Hihihi.

Yang penting bisa bantu dapur ngebul. Alamak.

Pastinya, aku sayang banget sama blog ini dan sampai kapanpun akan kupertahankan. Karena blog ini juga aku mendapat branding seorang guru bloger yang alhamdulillah memberikan berkah tersendiri kepadaku.

Pe-er besarku saat ini dan ke depan adalah makin sadar kalau blog ini harus diisi. Bukan hanya sekadar mau, ikutan lomba, melainkan blog ini butuh 'makanan'. Buat apa setiap tahun diperpanjang domainnya kalau tidak digunakan dengan semaksimal mungkin.

Bahkan aku ada feeling kalau suatu hari blog ini akan membesarkan namaku, bahkan memberikan kebermanfaat yang lebih untukku. Soon. Aamiin.

Hayuklah, semangat menulis setiap hari lagi!

Senin, 05 April 2021

Ojo Ndablek

 

Ojo ndablek (Jangan mengulangi kesalahan padahal sudah tahu kalau itu salah, sudah diberi tahu mana yang benar, sekali bisa berubah, kemudian melakukan kesalahan itu lagi)

Pagi ini aku sudah ngomel-ngomel di WA group guru wiyata bakti SD ku yang lama. Aku memang tidak diperbolehkan keluar dari sana. Dari grup SDku yang lama juga tidak boleh keluar. Ya, sudah, aku manut saja. Resikonya, aku jadi tahu dapurnya SD lain.

Resiko itulah yang membuatku ngomel pagi ini. Kenapa? Hampir setiap pagi, ada salah satu guru yang tanya, hari ini pakai seragam apa, ya?

Tanpa basa-basi langsung keluar taringku,

"Mbak S apa nggak punya print-printan jadwal baju? Minta Mbak Fadhil, tempelkan kamar to, Mbak, daripada tanya terus. 🙏 Latihan disiplin! (emak2 ngomel 😂 di pagi hari)."

Di SD yang lama memang seragamnya banyak sekali sampai dibuat jadwal sama kepala sekolah. Tujuannya tentu baik, agar kami, guru-guru menjadi disiplin dan kompak. Apalagi SD kami itu setiap saat selalu saja menjadi tempat tujuan guru-guru lain berkegiatan dan sering ada kunjungan dadakan dari dinas. Penampilan semacam itu penting bagi kami.

Nah, kalau setiap hari sudah diingatkan, kemudian ada guru yang demikian, apa komentar kamu?

Dia beralasan pengantin baru kemudian pindah rumah ikut suami.

Lah, kan setiap hari ketemu sama operator sekolah, bisa kan kalau minta tolong lima menit saja untuk diprint-kan selembar jadwal itu. Alternatif lain kan bisa memotret jadwal tersebut yang ditempel di ruang guru.

Jujur, aku juga pernah tanya soal jadwal pakaian ini, tapi hanya memastikan saja perhitunganku betul apa tidak. Lha kalau setiap hari?

Aku ngomel seperti itu bukan karena aku tidak suka dengan dia. Melainkan perhatian. Apalagi dia sering curhat dan tanya-tanya denganku, 'Mbak gimana sih caranya bisa lolos CPNS?"

Bukan apa-apa, tapi kalau hal sepele saja dia abai, terus kalau misal jadi CPNS kayak apa?

Ayolah, berubah ke arah yang baik! Termasuk juga untuk diriku. Aku sendiri juga masih suka ndablek perkara jadwal datang. Aku masih sering berangkat mepet pukul 07.00 padahal rumahku dekat dari sekolah. Iya, berbagai alasan pasti muncul, anakku yang rewel, minta suapin makannya lama sekali, nyari kunci motor yang nyelip, tapi balik lagi, mana tanggungjawabku?

Bismillah, yuk, berubah bareng-bareng. Mumpung masih hari Senin, semangat 💪

Hayo, kalau kamu kira-kira masih suka ndablek perkara apa?


Salam semangat,

Bu Ika

Sabtu, 03 April 2021

SOAL ULANGAN HARIAN KELAS 2 TEMA 6 SUBTEMA 1

SOAL ULANGAN HARIAN TEMA 6 SUBTEMA 1

KELAS 2 SEMESTER 2


Nama :

  1. Tugas kelompok adalah tugas yang harus dikerjakan secara…
  2. Datang ke sekolah secara tepat waktu adalah contoh tata tertib di…
  3. Mengumpulkan tugas tepat waktu adalah contoh sikap…
  4. Saat olahraga kita menggunakan baju…
  5. Semua siswa harus mematuhi peraturan yang berlaku, agar…
  6. Tuliskan nama lengkapmu dengan penggunaan huruf kapital yang benar…
  7. Tempat untuk memelihara ikan adalah di…
  8. Hewan yang dipelihara bisa tetap sehat jika kandangnya selalu…
  9. Kelinci berkembangbiak dengan cara…
  10. Ghifa membantu ayahnya membersihkan kandang. Kata yang seharusnya memakai huruf kapital adalah…
  11. 3 ons sama dengan …  gram
  12. 7 kilogram sama dengan … ons
  13. Jika kambing jantan beratnya 27 kg dan kambing betina 24 kg, yang lebih berat adalah…
  14. Alat di bawah ini disebut…
  15. Gram, kilogram, dan ons merupakan satuan baku untuk mengukur…
  16. Agar suara kita bagus saat bernyanyi, maka harus rajin…
  17. Menyanyi dapat membuat hati kita…
  18. Lagu “Ayamku” diciptakan oleh…
  19. Bunyi pada lagu dibagi menjadi dua, yaitu…                    dan …..
  20. Untuk menandai bunyi pendek pada lagu dapat menggunakan tanda…

Diingatkan Selalu untuk Belajar Toleransi dengan Sesama Guru


Dulu, pas aku masih jadi guru wiyata bakti di sekolah lama, aku lebih sering di kelas dibandingkan di kantor. Alasanku, karena aku mengajar di kelas 1. Kalau aku tinggal njagong sebentar saja di kantor bersama guru lain, pasti ada saja kejadian di kelas. Ada yang nangis, numpahin air di dalam kelas, ada yang minta dibukain jajan, atau malah nyebokin anak yang selesai BAB.

Itu pas ada muridnya, kalau pas pandemi gini?

Aku masih setia di kelas, karena pagi aku harus membuat video pembelajaran atau menyampaikan materi untuk anak didikku. Bahkan aku melakukan home visit dan kembali ke sekolah saat jam makan siang tiba.

Seperti itu terus.

Nah, di sekolah baru ini beda situasinya. Beda pula teman sejawatnya.

Aku setiap hari di kantor mulu. Merasa nyaman saja, karena memang temannya pada sibuk sendiri-sendiri dengan pekerjaannya. Bahkan ikut webinar atau bikin video singkat pembelajaran juga di kantor. Kalau pas memang butuh banget ke kelas, baru deh aku buka kelas dan sibuk bekerja di sana. Tapi, itu jarang banget.

Suatu pagi, ada kejadian yang membuatku terkejut. Ada seorang teman, guru senior, yang tiba-tiba menggendong tas dan membawa laptopnya jalan di sampingku menuju pintu keluar sambil mengomel,

"Nggak fokus kalau di sini."

Di depanku, sisi sebelah kiri sedang ada guru senior lain yang sedang senam sambil melihat video di youtube. Volume HP tuh seberapa sih kerasnya? Nggak sampai menyakitkan telinga, bukan?

Maksud dari guru yang keluar tadi, ya, siapa lagi kalau bukan karena suara HP guru yang senam tadi.

Aku hanya istighfar. Bukan menghakimi, tapi malah introspeksi diri, dulu, aku juga pernah deh beralasan malas ke kantor karena nggak bisa fokus kalau kerja di antara orang banyak. Ini kok menemui teman yang seperti itu dan aku merasa kurang nyaman. Berarti dulu teman-temanku juga merasa nggak nyaman denganku dong.

Astagfirullah.

Kemudian aku berpikir, bukankah perasaan 'tidak bisa fokus' itu kita sendiri yang ciptakan, ya? Kenyataannya, sekarang aku juga bisa berbaur dengan teman-teman di kantor, masih tetap produktif. Padahal dulu aku ya gitu, nggak bisa kalau bekerja di antara kerumunan orang yang berbicara ataupun ada aktivitas lain.

Menurutku, tuntutan kerja kemudian perasaan yang kita ciptakan sendiri itu sangat berpengaruh dengan perilaku kita, lho. Kalau kita mikirnya sudah, ah, gak nyaman nih di sini, ya sudah, semesta bakalan menciptakan suasana seperti yang kita pikirkan. Bahkan kesaanya kita yang nggak bisa berbaur dengan teman lainnya dan toleransi antar teman minim sekali.

Dari sekarang, hayuk ah, mikirnya yang positif-positif saja, karena yang negatif pasti bakalan buang energi kita secara sia-sia. Namanya hidup berdampingan kita memang harus pandai membawa diri.


Selamat hari Sabtu,

Bu Ika 💗