Senin, 11 Februari 2019

Pengalaman Kurang Menyenangkan Saat Cetak Kaos Muridku


Pengalaman Kurang Menyenangkan Saat Cetak Kaos Muridku – Salah satu tugas yang dimiliki oleh guru kelas 1 SD adalah mengurus seragam baru untuk anak didik. Ada seragam batik dan kaos olahraga. Kalau untuk seragam merah putih, anak-anak sudah membeli sendiri di pasaran. Nah, kali ini aku akan menceritakan pengalaman kurang menyenangkan saat cetak kaos olahraga anak-anak. Harapanku, kamu bisa mengambil pelajaran dari apa yang aku alami.


Sewajarnya, seragam batik dan kaos olahraga untuk anak didik sudah dibagikan kepada anak-anak saat minggu pertama di sekolah. Kalau di sekolahku tidak. Kemarin sudah satu semester mereka baru dapat seragam baru. Wajar saja kalau wali muridku banyak yang bertanya, “Bu, seragamnya kok belum jadi-jadi ya?”

Kujawab saja sekenanya, “Pesannya kan di Arab, Bu. Mohon dimaklumi ya. Hehehe.”

Tidak hanya satu atau dua wali murid saja yang bertanya demikian lho. Hampir semua. Sekolah sebelah juga sudah pada pakai seragam baru semua. Lihat anak-anaknya masih pakai seragam dari TK kan ya pasti merasa sungkan sendiri.

Kok bisa sampai lama sekali seragamnya baru jadi, kenapa? Ini menurutku pemilik jasa yang dipilih sekolahku yang kurap sip. Awalnya, di akhir semester 1, seragam sudah jadi. Akan tetapi, barang yang dipesan tidak sesuai. Harusnya atasannya lengan panjang, eh, yang datang malah pendek semua. Kemudian ukurannya juga tidak sesuai dengan yang kami pesan. Kedua seragam, yaitu kotak-kotak dan kaos olahraga semua salah. Ya sudah seragam ditarik lagi. Anak-anak gigit jari deh.
Sebenarnya aku sudah pernah mengusulkan untuk memakai jasa konveksi dekat sekolah sini, pun aku kenal dengan pemiliknya. Tapi, usulku tidak pernah digunakan. Akhirnya, saat kaos olahraga yang sudah dibenahi sampai di sekolah, eh, ukurannya masih salah lagi. Terpaksa, Naja, Sofa, Zaky, Fabiyan dan beberapa temannya yang mendapat ukuran tidak sesuai hanya bisa memakai seragamnya yang lama. Kasian.


Nah, untuk kamu yang hendak mencari jasa cetak kaos yang terpercaya  (khususnya) dalam jumlah besar maupun kecil, pikirkanlah dengan matang pemilik jasa mana yang akan digunakan. Agar tidak menyesal karena merasa dirugikan berkali-kali. Apalagi kalau ini perkara anak-anak. Kasian lho, temannya memakai seragam baru sedangkan dia tidak.

Oleh karena itu, akan aku share beberapa hal yang perlu diperhatikan dan pertimbangkan sebelum akhirnya memutuskan untuk cetak kaos!

Muridku masih pakai seragam warna-warni karena seragamnya belum jadi
1.Ketahui Bahan yang Digunakan
Bahan merupakan salah satu komponen utama yang sangat penting. Pastikan bahan kaos yang akan digunakan mempunyai kualitas sesuai dengan keinginan kita. Beberapa kali pesan kaos olahraga muridku, aku sering kecewa dengan bahan yang digunakan.Namanya kaos olahraga kan bahannya harus yang nyaman dan menyerap keringat ya. Nah, ini kaosnya baru dicuci dua kali langsung jebrut-jebrut. Kalau aku sih lebih milih mahal dikit tapi bahan nyaman dipakai daripada murah tapi ya gitu deh kualitasnya. Yang ada aku bakalan dikomplain sama wali murid. Padahal kutak tahu apa-apa. Hihihi.

2.Tanyakan Perihal Metode, Teknik dan Teknologi yang Digunakan
Untuk mendapatkan hasil cetak kaos yang sesuai, berkualitas, bermutu, awet dan tahan lama tentu saja diperlukan penanganan khusus. Metode, teknik dan teknologi yang digunakan merupakan komponen yang sangat mendukung terciptanya hasil cetak kaos dengan kualitas tertentu. Ada lho konveksi yang masih menggunakan tenaga manual. Mereka sangat memperhatikan kualitas jahitan produknya. Sebaliknya, ada yang manual, tapi hasil jahitannya ada yang terlewatkan.

3.Kerapian Lokasi Produksi Cetak Kaos
Pernah nggak sih datang ke rumah konveksi/tukang jahit dan melihat lokasinya berantakan banget? Kain, gunting, meteran, dan kapur jahit berserakan di mana-mana. Apa yang kemudian kamu pikirkan? Errr....Lokasi yang berantakan dan tidak tertata dengan baik, pasti akan sangat mengganggu kegiatan operasionalnya.

Lokasi produksi cetak kaos juga penting untuk diperhatikan. Karena aku penganut kualitas kerja bisa ditentukan dari penampakan lokasi produksinya. Kerapian lokasi mencerminkan baik tidaknya sebuah usaha. Kalau kamu, gimana, sepakatkah?

4.Prosedur Kerja yang Diterapkan
Keteraturan prosedur kerja juga bisa menjadi poin penentu bagaimana gambaran pemilik usaha yang bersangkutan. Jika prosedur kerja yang dilakukan terstruktur dengan baik, berarti perusahaan tersebut sudah matang untuk serius dalam memberikan pelayanan kepada para konsumennya. Poin ini mungkin jarang sekali yang memperhatikan, padahal sedikit banyak hal ini ikut andil dalam menentukan kualitas produk yang dihasilkan.

Nah, kalau pakai kaos olahraga kayak gini kan lebih indah dipandang mata


Bisa belajar deh ya dari apa yang aku alami. Jangan sampai saat ukuran kaos yang dipesan sudah diterima, eh, pas sampai lokasi ukurannya amburadul semua! Apa kabar dengan prosedur kerja mereka?

5.Kedisiplinan dalam Penyelesaian Pekerjaan
Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh – sungguh dan disiplin pasti akan berbuah manis. Betul, bukan? Nah pada poin ini juga bisa dijadikan sebagai patokan seberapa profesional sebuah usaha dijalankan. Jika janji – janji manis saja yang ditawarkan oleh pelaku usaha tanpa adanya bukti, maka anda perlu mempertimbangkannya berulang kali. Contohnya saja pada ketepatan waktu pengerjaan yang dijanjikan. Jika pada tahap awal saja sudah mengecewakan karena tidak tepat waktu, besok lagi masih mau pakai?

6.Lihatlah Testimoni yang Ada Pada Website atau Media Sosial
Keberadaan testimoni bisa dijadikan sebagai acuan untuk memberikan penilaian terhadap seberapa baik dan berkualitasnya produk cetak kaos yang dihasilkan. Gampangnya saja begini, saat kita sedang mencari tempat makan baru, pasti yang kita perhatikan paling utama adalah tempatnya banyak dikunjungi atau tidak. Jika banyak konsumen yang berkunjung, bisa diambil kesimpulan kemungkinan makanannya enak. Sama seperti halnya dalam menentukan jasa cetak kaos, jika terstimoninya banyak dan sebagian besar positif, maka tidak diragukan lagi kemungkinan besar kualitas yang ditawarkan pun juga baik.

Lantas? Langsung cus, pesan deh! Hari gini kita harus bisa jadi konsumen yang cerdas, bukan? gJadikan penhalamanku ini sebagai batu pijakan agar tidak kena tipu-tipu mereka yang hanya ingin meraup untung sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kepuasan pelanggan. Kamu pernah punya pengalaman serupa denganku?

Minggu, 03 Februari 2019

Menaklukkan Wali Murid yang Terlalu Memanjakan Anak



Menaklukkan Wali Murid yang Terlalu Memanjakan Anak - Ini adalah cerita tentang Kanaia di awal semester satu. Terlalu lama ngendon di draft, akhirnya bisa selesai juga. Menuliskan cerita tentang serba-serbiku mengajar ternyata membuatku lebih waras. Cerita ini bisa jadi catatanku yang bisa kubuka kembali suatu hari ketika aku menemui masalah yang sama. Pun, saat aku butuh semangat kala jiwa dan raga begitu lelah menghadapi kenyataan kalau ternyata menjadi guru itu tidaklah mudah.


***

“Bu, tolong dimaklumi ya kalau Kanaia sering rewel di kelas. Ibunya biar di dalam (kelas) saja.”

Begitu kira-kira isi pesan WhatsApp ayah Kanaia. Aku kaget. Bagaimana bisa aku membiarkan ibu Kanaia di dalam kelas terus-terusan sementara aku sedang mengajar? Aku merasa ruang gerakku seperti terbatas. Terlebih lagi saat pelajaran berlangsung, Kanaia dan ibunya sering ngobrol di waktu yang tidak tepat. Alhasil, konsentrasi muridku yang lain juga jadi terganggu.

“Soalnya Kanaia itu punya indra keenam, Bu. Dia bisa melihat makhluk halus. Jadi, sering takut masuk kelas.”

Pesan ayah Kanaia lagi. Membaca pesan itu, mataku mendelik. Oh ya? Aku sedikit tak percaya. Tiga tahun lamanya aku mengajar di kelas satu, tak ada masalah demikian. Tahun lalu ada juga anak yang punya kelebihan yang sama, tapi semua aman-aman saja.

“Huuuuuuh....,” aku buang napas.

Oke, mungkin inilah ujianku di awal tahun ajaran baru 2018 ini. Mau nggak mau aku harus mencari cara, bagaimana agar Kanaia tidak harus ditunggui ibunya di dalam kelas?

Pendekatan kepada Kanaia pun kulakukan. Kutelusuri setiap jengkal kepribadiannya. Apakah benar anak ini manja? Tidak percaya diri? Kesulitan mengikuti pelajaran? Sampai perkara, benarkah dia melihat makhluk halus di dalam kelas? Hihihi. Aku jadi merinding sendiri.

“Kanaia takut sama Bu Ika ya?” tanyaku kepada Kanaia yang sedang duduk di pangkuanku. Dia menggeleng.

“Terus, apa yang membuat Kanaia takut masuk ke dalam kelas? Padahal sebulan awal sekolah, Kanaia anak yang pemberani,” gadis berkulit putih itu tak menjawab juga. Diam, malu-malu menatapku.

Aku lega saat Kanaia mengaku tidak takut kepadaku. Berarti bukan aku penyebanya dan pasti ada penyebab yang lain. Sehari dua hari, sampai satu bulan, aku berusaha bersabar dan membiarkan ibu Kanaia di dalam kelas. Tapi, lama-kelamaan, muridku banyak yang protes.

“Bu, Kanaia sama ibunya berisik! Aku nggak suka. Aku nggak bisa belajar.”

Tidak tahu kenapa, gara-gara protes itu emosiku seperti terbakar. Aku merasa murid yang kulayani sudah protes, mengapa aku hanya tinggal diam menanti nasib? Apa aku tak bisa melakukan sesuatu yang lebih? Kalau terus-terusan seperti ini, apa jadinya kelasku?

Kudekati lebih intens ibu Kanaia. Kukorek-korek semua informasi tentang Kanaia, baik itu lewat obrolan langsung maupun pesan WhatsApp. Sampai akhirnya aku menemukan titik terang, siapa yang sebenarnya bermasalah.

“Bu Ika, itu mbok ya o ibu Kanaia disuruh pulang. Anak sudah masuk kelas ya harusnya pasrah sama gurunya. Sudah dua bulan sekolah kok masih ditunggui.” keluh wali murid lain.

“Pas njenengan tidak masuk karena diklat di Purwodadi, saya kan ngajar di kelas satu. Eh, ibunya mau keluar kelas, tapi malah di depan pintu sambil da-da-da-da bawa es teh. Terus Kanaia lari sambil nangis. Saya patah hati. Lha baru action di depan anak-anak, kok malah ada yang ngeloyor keluar. Haduh. Ini jelas ibunya yang bermasalah. Bukan anaknya. Calistung nyatanya juga bisa, kan?” curhat teman guru lainnya.

Aku makin terbakar emosi. Harga diriku sebagai guru seperti diinjak-injak. Kuberi saran dengan cara halus tak paham. Selalu Kanaia yang dibuat alasan, “Nanti kalau sampai rumah, pasti saya dimarahi, Bu.”

Sampai suatu hari, tepatnya hari Minggu, ibu Kanaia kirim WhatsApp yang isinya beliau pusing mengatasi Kanaia. Anak semata wayangnya mengancam esok hari tidak mau berangkat sekolah dengan alasan SD pulang siang tidak seperti di TK.

Entah setan apa yang merasuki diriku, saat itu juga kubalas pesan ibu Kanaia dengan bahasa yang kasar.

“Oalah, Bu, ini jelas yang bermasalah Anda. Bukan Kanaia. Anda saya beritahu secara halus tidak paham. Sebenarnya yang bodoh itu Anda. Bukan Kanaia. Anak Anda seperti itu bukan karena melihat makhluk halus di kelas. Tapi, karena Anda terlalu memanjakan Kanaia. Anda yang tidak tega-an. Sayang dengan anak itu bukan berarti semua yang diminta anak dituruti. Jelas kalau sekolah tidak boleh pakai lipstik, kenapa Kanaia sekolah pakai lipstik? Kenapa sekolah bawa mobil-mobilan dan HP? Satu bulan lebih Anda saya beri kesempatan. Tapi, apa? Anda yang mencetak Kanaia seperti sekarang ini. Punya anak yang cerdas malah Anda rusak sendiri. Pokoknya saya tidak mau tahu, bagaimana caranya besok pagi Anda tidak boleh masuk kelas, pulang! Serahkan urusan Kanaia kepada saya. Kalau tidak pulang, bawa pindah anak Anda ke sekolah lain yang memperbolehkan wali murid masuk ke dalam kelas seharian.”

Iya, aku sampai semarah itu. Sebenarnya ada rasa sesal dalam hati. Tapi, kupikir kejadian ini sudah sangat merugikan banyak pihak, terutama muridku yang lainnya.

Esok harinya, setelah upacara bendera, masuklah guru mata pelajaran lain. Ibu Kanaia masih dengan percaya diri ikut masuk. Astagfirullah.

Kupersilakan ibu Kanaia keluar. Kanaia langsung menangis meronta. Muridku yang lain spontan menutup telinganya. Kututup pintu kelasku dan ku-usir ibu Kanaia.

“Silakan pulang! Nanti saat jam pulang, silakan dijemput kalau njenengan mau Kanaia jadi anak yang mandiri.”

Di belakangku, Kanaia sudah tak bisa dikendalikan lagi. Menangis sambil guling-guling di lantai. Kubiarkan.

“Maafkan Bu Ika. Ini demi Kanaia juga kalian agar bisa belajar dengan lebih nyaman.”

Semua terdiam. Satu per satu mereka mulai menurunkan tangannya. Meskipun merasa terganggu dengan suara tangisan Kanaia, mereka tetap semangat mengikuti pelajaran.


Sementara itu Kanaia masih tetap berguling-guling di lantai. Bajunya kotor semua. Kutunggu beberapa saat sampai tangisnya mulai melemah.

Kudekati, kutawarkan sebuah pelukan. Kanaia memelukku. Saat itu juga tangisku ingin pecah. Aku tahu Kanaia anak yang manis. Dia tak seperti yang diceritakan ibunya.

Kugendong Kanaia menuju tempat duduknya. Ku-usap dadanya perlahan.

“Sabar. Nanti ibu Kanaia pasti ke sini lagi untuk jemput. Kamu bilang nggak takut kan sama Bu Ika? Kenapa kamu menangis? Diam ya. Kalau nangis terus, kasian temanmu. Nanti nggak bisa belajar. Bu Ika sudah pernah bilang, Kanaia itu anak yang cerdas. Kalau anak yang cerdas nggak usah ditunggui ibu terus.”

Kanaia masih berada dalam pelukanku. Dadanya sesekali masih terguncang. Lama-kelamaan tangisnya mulai berhenti.

“Bu, mimik,” pinta Kanaia.

Seketika aku ingin tertawa. Capek dia nangis terus. Kanaia tetaplah Kanaia.

Semenjak kejadian itu, setiap pagi aku selalu mendapat jatah menggendong Kanaia agar mau masuk kelas dan ditinggal ibunya. Sekitar seminggu kemudian, alhamdulillah Kanaia lulus dari ujian ini. Dia tak lagi ditunggui ibunya. Di dalam kelas pun dia bisa berbaur dengan teman-teman yang lainnya. Sesekali aku mendengar saat ada teman yang menggodanya, “Kanaia, kamu nggak nangis lagi? Nanti biar digendong Bu Ika lagi. Kayak anak bayi. Hahahaha.”

Aku yang mendengar ikut terkekeh. Dasar anak-anak.

***

Perjuanganku belum berakhir. Lepas dari perkara ibunya, Kanaia jadi sangat nge-fans kepadaku. Hahaha. Kalau aku tak ada di depan matanya, dia tak mau masuk kelas.

Saat jam olahraga, aku harus ngejogrok di depan kelas mendampinginya. Padahal ada guru olahraga tersendiri. Kalau aku tidak berangkat, dia guling-guling di depan kelas.

"Bu Ika mana? Bu Ika, Kanaia maunya sama Bu Ika."

Hahaha. Ternyata gini ya punya fans berat. *garuk-garuk tembok*

Alhamdulillah, saat tulisan ini tayang, Kanaia sudah jadi anak selayaknya teman-teman yang lain. Dia tetap nge-fans denganku, tapi sudah tidak berlebihan. Dia sudah tidak bergantung kepadaku. Palingan, seperti kejadian hari ini.

"Bu, ibuku mana? Aku belum sarapan." Aku pun memberi kabar ibunya dan 5 menit kemudian ibunya sudah membawa bekal makanan. Mendengar suara motor ibunya dia langsung cengengesan.

Atau saat pulang sekolah, "Bu Ika piye toh, ibuku kok belum jemput?!"

Blaik.
Hahaha.
Untung saja ada WhatsApp.


Jumat, 01 Februari 2019

Bagaimana Harusnya Orangtua Bertindak Saat Anak Mengadu Masalah di Sekolah?



Bagaimana Harusnya Orangtua Bertindak Saat Anak Mengadu Masalah di Sekolah? - Siang itu, saat anak-anak pulang, kubereskan tetek-bengek urusan kelas. Belum selesai kegiatanku, ada pesan WhatsApp masuk.

Seketika mataku terbelalak, dadaku berdegup kencang. Duh, ada masalah ini.

Salah satu wali muridku mengabarkan kalau anaknya (setelah ini kusebut K) hari itu uangnya dipalak oleh F dan A. Aku heran, F itu kalau menemukan uang di kelas atau di jalan selalu laporan kepadaku. Kalau si A dia cenderung pendiam tapi tidak pernah tampak bermain dengan K. Untuk karakter K, aku belum paham betul, karena dia anak baru di semester 2 pindahan dari Kalimantan.

Kubalas pesan wali muridku tadi dengan memberikan anjuran agar ditanyakan kembali, apakah F dan A benar-benar meminta secara paksa uang K. Eh, malah dibalas,

"Saya tahu betul anak saya seperti apa."

Duh, alamat bakal jadi masalah ini. Tak lama, beliau malah menulis status di WhatsApp begini,


Waduh, sabar sabar.

"Saya memang bukan orangtua kandung F dan A. Akan tetapi, saya juga sedikit tahu karakter mereka seperti apa, Bu. Mari kita selidiki terlebih dahulu! Tapi, ya jangan kemudian masalah ini dibuat status!"

Akhirnya, kuterpancing emosi. Kusampaikan beberapa temuanku tentang K selama dua minggu sekolah. Mulai dari dia yang suka borong mainan, buang sampah sembarangan di kelas, kalau mendapat tugas sering belakangan selesainya, sampai main air di tengah lapangan padahal sudah kuwanti-wanti sebelumnya. Saat bergaul dengan temannya pun sering rewel. Kalau orang Jawa bilang, ora kenengan (suka marah-marah karena hal kecil).

Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan K. Aku hanya ingin orangtuanya tahu, bagaimana sang anak kalau di sekolah? Biar imbang infonya. Agar tidak berat sebelah.

Hari berikutnya, dengan suasana yang santai, sambil bermain, kutanya F dan A tentang kejadian tersebut. Yang paling menguatkanku kalau mereka tidak melakukan hal yang dituduhkan adalah ekspresi F. Dia kalau melakukan kesalahan, kemudian kutegur, pasti akan sering mengangkat kepalanya sambil menahan tangis. Nah, saat itu tidak. Dia bersikeras bilang tidak, tidak, dan tidak. Sama halnya dengan A.

Aku pun meminta tolong kepada ibu F untuk ikut menyelidiki masalah ini. Tak lupa kusampaikan pesan untuk tidak langsung memarahi F karena belum tentu F bersalah. Kali ini aku benar-benar mengucapkan terima kasih banyak untuk founder WhatsApp, karena dengan adanya aplikasi ini, masalahku sedikit mendapat titik terang.

Dua hari K tidak berangkat sekolah dengan alasan sakit. Wah, padahal aku penasaran ingin bertanya langsung kepadanya.

Saat berangkat, kira-kira apa yang terjadi?

"Benar F dan A meminta uangmu dengan paksa?"

K diam. Dia tidak berani menatapku. Bahkan dia mau lari kembali ke tempat duduknya.

"Bu Ika nggak marah dan tidak akan bilang ke ibumu tentang ini. Tapi, asal K jujur sama bu guru. Benar nggak F dan A minta uangmu?"

Dia masih diam.

"Kalau kamu diam saja berarti kamu bohong sama ibumu? Kenapa? Uangmu buat beli mainan, kah? Bukan diminta F dan A?"

"Aku takut dimarahi mama." Akhirnya dia buka suara.

"Karena uangmu habis, kamu ngaku kalau F dan A minta uangmu secara paksa?" tanyaku lagi.

"K mau duduk, Bu."

"Lihat Bu Ika dulu! Yang kamu lakukan itu salah lho. Bu guru panggil F dan A dulu ya, kita maaf-maafan dulu."

K justru berlari kembali ke tempatnya. Oke, K ini belum bisa berbesar hati atas kesalahan yang dilakukan. Kusentuh hati F dan A saja dulu.

"F, ternyata uang K itu habis untuk beli mainan. Dia ngaku kamu yang ambil karena takut dimarahi ibunya. Kamu tidak bersalah. Tapi, kamu juga nggak perlu marah sama K. Maafkan dia ya."

F kembali bermain seakan tanpa ada rasa sedih apalagi dendam karena sudah dituduh atas apa yang tidak dia lakukan.

Pagi harinya, A mendatangiku, "Bu, uangnya K tidak saya ambil, tapi dibuat jajan, beli mainan."

"Loh, kamu tahu dari mana?" tanyaku heran.

Dia berlari keluar kelas dan kudapati dia sedang bermain dengan K. Ehm...anak-anak. Semenit yang lalu 'bermasalah', semenit kemudian sudah bermain bersama.

Sekarang, apa kabar? Semua sudah baik-baik saja. Seperti tidak ada masalah. Aku juga nggak laporan ke ibunya K untuk kelanjutan masalah ini, pengakuan K. Terpenting untukku adalah aku tahu muridku seperti apa. F, K, dan A pun tahu duduk permasalahannya. Semua pun baik-baik saja. Bahkan, setelah kejadian ini K justru lebih dekat denganku. Dia tak pernah sungkan untuk bercerita hal-hal kecil kepadaku.

"Bu, tadi aku sarapan sama tempe."

"Bu, aku dihukum sama ibu karena uangnya kubuat jajan semua."

Alhamdulillah, hepi rasanya kalau K jadi demikian. Itu tandanya aku berhasil mengalahkan egoku sendiri. Tidak mudah jadi orang yang netral. Dan gara-gara jadi guru, aku bisa belajar hal itu. Bagaimanapun anak didikku, mereka punya hak yang sama atas diriku.
Catatan penting dalam kejadian ini, sangat disayangkan apabila kemudian masalah ini dibuat status WhatsApp yang bisa dibaca oleh siapapun. Toh, kita belum tahu duduk permasalahannya seperti apa. Selidiki dulu, yuk! Pikiran yang slow harus kita gunakan. Lha aku juga sampai terbawa emosi. Meskipun mereka bukan anak kandungku, akupun berhak untuk membela mereka. Apalagi tidak ada bukti.

Maklum kalau setiap orangtua ingin membela anak. Akan tetapi, kita harus tahu, selain bersama kita, mereka juga bergaul dengan lingkungan sekitar yang tidak bisa selalu dalam pengawasan kita. Luangkan tempat, walau sedikit dalam hati dan pikiran kita untuk menampung kabar dari orang lain. Asal nggak baper.

Mari saling mengerti! Mungkin orangtua K khilaf saat itu. Lagi banyak masalah atau hormon ibu hamil yang sedang meluap-luap. Kuanggap tak ada apa-apa. Semua akan baik-baik saja dan selamat datang pelajaran hidup yang baru

Kamis, 31 Januari 2019

ASUS Zenfone Max M2 Mendukung Kolaborasi Apik Antara Guru dan Wali Murid


ASUS Zenfone Max M2 Mendukung Kolaborasi Apik Antara Guru dan Wali Murid – Sebagai guru kelas 1 SD, aku merasa beruntung karena memiliki wali murid yang sangat kooperatif. Di awal tahun ajaran baru, proses peralihan dari TK yang selalu ditunggui orangtuanya, makan disuapi, jajan diantar, sampai setelah pipis pun diceboki, membuatku yang notabene guru muda harus bekerja lebih ekstra dibandingkan saat mengajar di kelas 3 (3 tahun yang lalu). Tanpa peran serta, dukungan, dan kepercayaan dari wali muridku, apalah aku ini?

Ini adalah foto saat pertama kali aku berjumpa dengan wali muridku, difoto oleh rekan guru dengan HP ASUSku

Satu tahun pertama, kedua, dan kali ini yang ketiga tahun mengajar di kelas 1 SD, wali muridku tahun ini luar biasa. Dari awal berjumpa di tahun ajaran baru - saat sosialisasi proses pembelajaran yang akan aku lakukan selama satu tahun- mereka tampak antusias. Tentu aku sangat bersyukur. Karena menurut pengalamanku, kalau wali muridnya excited dengan dunia pendidikan, insya Allah kesuksesan anak-anak di sekolah akan tinggi.

Hari pertama bertemu dengan wali muridku, tidak kusia-siakan kesempatan itu. Selain melempar formulir data-data penting berkaitan sang anak, menyampaikan program kelas 1, pun aku dengan percaya diri membagikan kartu namaku.

“Ibu, Bapak, sudah banyak yang punya WhatsApp ya? Tolong nanti sampai rumah, SMS atau WA saya. Karena saya akan membuat grup khusus wali murid agar njenengan di rumah bisa tahu anak-anak kalau di sekolah ngapain saja.”


Setelah berjalan selama tiga tahun, sebagai guru, aku merasa dengan adanya grup WhatsApp wali murid ini ada beberapa kelebihan. Diantaranya:

Konsultasi
Ada yang sering bilang kalau anak-anak itu lebih bisa nurut dengan gurunya dibandingkan dengan orangtua. Betul apa betul? Betul banget.

Sering sekali ada orangtua yang cerita anaknya masih ngompol dan ngedot. Kemudian minta tolong kepadaku, agar anaknya bisa lepas dari kebiasaan tersebut. Bimsalabim, mereka sudah tidak ngompol dan ngedot. Wali murid kemudian memberitahukan kabar gembira itu lewat WhatsApp dengan penuh suka cita. Sesungguhnya, bahagiaku melebihi bahagianya, wali murid.

Sering juga wali murid bertanya langsung kepadaku, bagaimana anaknya saat di kelas, apakah memperhatikan? Bisa mengikuti kegiatan di kelas? Nakal tidak di sekolah? Dll. Sebaliknya, aku yang gurunya juga balik konsultasi, misalnya, menemukan sebuah kasus, apakah anak ini kalau di rumah demikian juga? Tapi, ya, selalu memperhatikan batasan-batasan tertentu. Selama aku bisa mengarahkan anak didikku ke arah yang lebih baik, pasti akan kulakukan dengan semaksimal mungkin.

Pengontrolan Terhadap Siswa
Pernah saat istirahat, ada muridku yang lari tergopoh-gopoh ke dalam kelas kemudian mengadu kepadaku, “Bu, Salsa keluar gerbang. Katanya mau pulang.”

Aku yang mendengarnya kaget. Loh kok tidak izin aku? Nanti kalau di jalan kenapa-napa, waduh, bakalan jadi kasus ini. Saat kususul di depan gerbang, Salsa sudah tidak ada. Kemudian aku langsung membuka WhatsApp dan mengirim kabar ke grup tentang kejadian yang dialami Salsa.

Ternyata oh ternyata, Salsa pulang ke rumah hanya untuk memberi kabar kepada ibunya kalau giginya lepas. Semua anggota grup mengirim emoticon bergambar tertawa terpingkal-pingkal. Sesampainya di kelas, Salsa tersenyum-senyum sambil memamerkan gigi depannya yang sudah tidak lengkap. Tak lupa kuingatkan secara halus, kalau esok hari ada apa-apa dan harus pulang ke rumah, izin kepada Bu Ika. Huh, lega rasanya dan pembelajaran pun berlanjut seperti biasa.

Pengawasan dan Evaluasi
Ini kasus terbaru, suatu siang, selepas anak-anak pulang, aku masih sibuk dengan administrasi kelas dan persiapan untuk materi esok hari. Tiba-tiba ada WhatsApp masuk, tertera nama salah satu siswaku. Ada apa nih?

Ternyata, wali murid mengabarkan kalau anaknya, saat di sekolah dipalak oleh temannya dengan inisial F dan A. Seketika aku kaget. Karena aku tahu betul F anaknya seperti apa. Dia kalau menemukan uang di mana saja, di dalam atau di luar kelas selalu mengadu dan memberikan uang itu kepadaku, masak ini dia sampai malak? Heranku.

Wali murid yang mengadu itu sebenarnya anaknya baru masuk kelas di semester 2 ini. Karena aku belum paham karakternya seperti apa, aku pun tidak kemudian mengambil tindakan yang frontal ke F dan A. Kuselidiki pelan-pelan. Kutanyai mereka secara tidak langsung saat bermain.

Jelas, kasus seperti ini mengganggu ketenangan hatiku. Kalau sampai ada anak yang bertindak demikian, itu termasuk kesalahanku juga. Tapi, Alhamdulillah, tabir kepalsuan pun terungkap. Ternyata anak yang mengadu kepada ibunya itulah yang perlu bimbingan. Ternyata dia takut kepada sang ibu karena uang sakunya sering habis dipakai utuk membeli mainan. Makanya, agar tidak dimarahi oleh ibunya dia mengaku dipalak oleh F dan A.

Saat kutanya secara halus, anak baru itu tak pernah berani menatap mataku. Bahkan dia mengelak selalu ingin duduk. Kupersilakan mereka untuk saling maaf-memaafkan. Tapi, anak baru itu masih angkuh, tidak mau melakukannya. Ya, sudahlah, pelan-pelan saja. Kuberikan pengertian kepada F dan A agar mereka tidak merasa sakit hati ke depannya.

Dari kasus WhatsApp wali muridku tadi, aku bisa banyak belajar, bagaimana aku harus bersikap kepada anak didikku juga kepada orangtuanya? Baik dalam menerima masukan, kritikan, maupun saran yang sifatnya membangun untuk kemajuan anak-anak. Intinya, setiap kali membaca WhatsApp wali murid, apalagi itu tentang studi kasus, aku harus berkepala dingin. Tidak boleh ada timbangan berat sebelah, karena semua adalah anak didikku.

Pengembangan Kegiatan Siswa di Sekolah
Semenjak jadi guru, aku belajar untuk menjadi orang yang lebih open minded. Saran dan kritikan dari wali murid kutampung semua kemudian kupilah mana yang akan kumodifikasi untuk perkembangan murid-muridku di kelas.

Seperti saat kegiatan membuat plastisin. Setelah sampai rumah, banyak wali murid yang memamerkan karya-karya anaknya di grup. Kemudian chat sana-sini dan ada salah satu wali murid yang bercerita kalau semalam beliau dan anaknya sudah mencoba membuat. Berdasarkan pengalaman mereka, plastisin anak-anak akan lebih bagus dan awet kalau jumlah garamnya banyak. Dengan senang hati aku mengucapkan terima kasih untuk informasi yang diberikan. Karena ilmu itu bisa kugunakan lagi di lain waktu. Tapi, jujur saja, karena harus mengurus 33 anak, mereka bereksperimen sendiri-sendiri. Aku hanya menerangkan caranya step by step dan membantu apabila ada yang mengalami kesulitan. Aku tak begitu perhatian soal banyak sedikitnya garam berpengaruh dengan kualitas plastisin anak-anak. Bagiku, ilmu yang diberikan wali muridku itu sangat berguna untuk pengembangan kegiatan anak-anak ke depan.

Chatting dengan wali murid yang men-share pengalamannya membuat plastisin di rumah

Itu poin untuk kelebihan yang kurasakan selama menjadi guru dengan adanya grup wali murid. Sebenarnya dengan adanya grup ini, pekerjaanku sebagai guru semakin bertambah. Setiap hari aku harus selalu laporan kegiatan demi kegiatan yang terjadi di kelas. Apalagi saat ada kegiatan keterampilan. Aku harus siap sedia mengambil foto atau video anak-anak, kemudian menyampaikannya di grup.

Kalau ibarat pisau bermata dua, grup WhatsApp wali murid ini sebenarnya ada kelemahannya juga. Satu, ada wali murid yang sering mengirim pesan pribadi dan kesannya sok dekat (tidak ada urusannya dengan anak-anak) dengan guru. Dua, seperti kasusnya anak baru yang mengaku dipalak temannya, ini akan lebih baik kalau disampaikan secara langsung. Kalau disampaikan lewat WhatsApp dengan bahasa halus pun kadang memunculkan perasaan yang kurang tepat bagi yang membaca. Akan lebih baik kalau duduk berhadapan, bicara dari hati ke hati. Yah, tidak semua memang terselesaikan dengan pesan WhatsApp kalau sifatnya urgent seperti itu. Ketiga, ada kalanya wali murid mengirim pesan yang tidak semestinya pantas dishare di grup wali murid.

Di lain sisi, adanya grup WhatsApp ini juga memudahkanku. Tiga tahun lalu saat aku mengajar di kelas 3, aku berkomunikasi dengan wali murid melalui buku penghubung yang harus kutulis satu per satu siswa. Buku penghubung aku bagikan ke wali murid, dibawa pulang, ditandatangani, kelar. Ada satu atau dua wali murid yang membalas isi buku penghubungku. Tapi, secara umum komunikasi yang terjadi hanya satu arah. Berbeda kalau ada grup di WhatsApp, semua bisa nimbrung dalam obrolan. Kesannya justru lebih seru dan ada keterbukaan untuk kemajuan anak-anak.

Beberapa foto kegiatan anak-anak di kelas

Selain itu, pembelajaran juga berlangsung dengan lancar. Terutama kalau ada tugas membawa bahan-bahan keterampilan. Meskipun anak-anak sudah mencatat di bukunya, aku akan tetap mengirim kabar di grup. Tujuannya ya agar orangtua aware dengan tugas anak. Bukankah anak menjadi manja dan tidak mandiri karena orangtua sudah tahu? Ya, tidaklah. Aku tidak pernah cerita kalau aku selalu mengirim kabar ke orangtua mereka. Hihihi. Jadi, mereka punya tanggungjawab untuk menyiapkan tugasnya sendiri.

Seru. Jelas, itu yang kurasa. Ternyata menjadi guru itu tidak hanya berkawan dengan anak didikku, tapi juga dengan kedua orangtuanya. Banyak sekali pengalaman berharga yang kudapatkan. Sungguh beruntung aku bisa menjadi guru, apalagi di era milenial seperti sekarang ini. Insya Allah semua serba mudah, terutama untuk menjalin komunikasi dengan wali murid lewat WhatsApp.

Tentu guru-guru di luar sana juga banyak yang merasakan apa yang kurasakan di atas. Antara aku dan wali murid saling mengisi dan berbagi sehingga menjadi kolaborasi yang apik. Dengan bermodalkan smartphone dan aplikasi WhatsApp, komunikasi dengan wali murid untuk mendukung kemajuan belajar anak didik menjadi lebih mudah.

Ngomong-ngomong tentang smartphone, aku ingin meng-upgrade smartphoneku sekarang, yaitu ASUS Zenfone Max yang sudah menemaniku sejak Februari 2017 lalu dengan ASUS ZenFone Max M2. Kenapa harus ZenFone Max M2? Karena smartphone ini adalah keluaran terbaru dari ASUS (Desember 2018) dengan harga aman di kantong tapi punya spesifikasi yang ciamik. Ini HP gaming lho, tapi harganya nggak sampai 3 jutaan. Berikut kupamerkan keunggulannya untukmu, siapa tahu kamu juga lagi hunting smartphone untuk mendukung hobi nge-gamemu. Untuk yang tidak hobi nge-game, smartphone yang satu ini sangat cocok untuk mendukung aktivitas sehari-hari.



Performa
Smartphone untuk gaming biasanya dia punya spesifikasi prosesor yang tinggi kemudian baterainya cepat ludes. Memang benar untuk prosesornya, ZenFone Max M2 ini dilengkapi dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 632. Performanya begitu kuat, lebih cepat 40% dari generasi prosesor sebelumnya, yaitu Qualcomm Snapdragon 625. Tapi, tenang, smartphone ini tetap hemat baterai dan nggak cepat panas. Apalagi sistem operasinya pure Android Oreo 8.0 yang sangat ringan untuk bermain game. Untuk main game saja ciamik, apalagi kalau hanya untuk keseharian ya.



Kubayangkan ketika aku harus berpacu dengan kesempatan, saat ingin memotret atau mengambil video anak-anak yang asyik berkegiatan, aku tak perlu menunggu loading yang lama. Bet, bet, bet, kelar langsung kirim ke wali murid.

Senangnya lagi, ASUS ZenFone Max M2 ini dilengkapi dengan RAM 3GB/4GB dan ruang simpannya sampai 32 GB/64 GB. Aku juga nggak perlu buru-buru untuk mindahin dokumen, foto, dan video ke laptop karena smarphone ini juga mumpuni untuk slot MicroSD hingga 2TB.

Baterai
Bagi kamu yang keseringan lupa nge-charge, berbahagialah, karena smartphone satu ini dilengkapi dengan baterai li-polimer 4000mAh. Dengan kapasitas baterai yang besar kemudian didukung dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 632 yang mampu menyeimbangkan performa dan konsumsi daya baterainya, maka tak heran, apabila digunakan sewajarnya (tidak digunakan untuk main game), smartphone ini bisa bertahan lebih dari 3 hari.

Berdasarkan hasil uji coba dari laboratorium ASUS, untuk bermain game seperti Garena Free Fire, smartphone ini bisa bertahan selama 8 jam. Ini jelas mengurangi barang bawaan kita kalau biasanya nenteng-nenteng powerbank ke mana-mana. Kalau pas lagi di jalan atau makan di suatu tempat juga nggak harus celingak-celinguk cari tempat duduk yang dekat colokan. Kalau aku, misalnya pakai smartphone ini ya nggak perlu cari pinjeman charger ke teman guru karena kelupaan nge-charge HP. Saking awetnya.

Layar
ASUS yang kupakai sekarang memiliki layar 5,5 inci, itu saja rasanya sudah WOW banget. Lah, ini ASUS ZenFone Max M2 hadir dengan layar yang lebih lebar lagi, yaitu 6,3 inci dengan resolusi 1520 x 720 piksel (19:9 resolusi HD+). Selain itu, smartphone ASUS ini juga mengusung layar berponi/lekukan bagian atas (notch) yang lagi ngetren. Kita kalau mau nonton video atau melihat hasil jepretan kamera, tenang, akan tetap nyaman di mata. Yang suka main game bakalan makin betah. Baterainya awet kemudian layarnya mendukung, hajar terus.



Desain
Dengan ketebalan 7,7 mm dan berat 160 gram, ASUS ZenFone Max M2 ini memiliki desain metal body yang tampak mriyayeni (mahal, anggun, dan kokoh) tapi tetap nyaman saat digenggam atau digunakan untuk nge-game. Dari tiga warna pilihan yang ditawarkan, yaitu Midnight Black, Space Blue, Meteor Silver, yang terakhir jadi pilihanku.

Pilihan warna ASUS ZenFone Max M2

Kamera
ASUS ZenFone Max M2 ini terdiri dari kamera depan dan belakang. Untuk kamera depan (selfie) memiliki resolusi 8MP dengan aperture f 2.0, ada softlight LED flashnya, juga memiliki fitur real time beautification. Pokoknya cocok untuk kita - cewek-cewek- yang suka selfie tapi pengen secara instan jerawat hilang, bentuk wajah seimbang, kulit cerah dan lain-lain. Pokoknya nggak usah pakai aplikasi di HP lagi, jepret langsung cantik. Hihihi. Mau banget, kan?


Hasil jepretan dengan ASUS Zenfone Max M2

Kamera belakangnya memiliki resolusi 13MP dan 2MP dengan apertur f/1.8. Ada flashnya juga. Dengan kamera ASUS ZenFone Max M2 ini kita dapat mengambil foto yang lebih jelas dan detail pada situasi apapun. Kalau aku pakai smartphone ini tidak perlu khawatir nih kalau mendung datang dan pintu kelas ditutup. Karena hasil jepretannya tidak mengecewakan. Soal ambil video? Tenang, ada fitur EIS  yang membantu pengguna smartphone ini mengambil video dengan lebih stabil.

Audio
Untuk kamu yang suka mendengarkan musik atau menikmati audio saat main game, ASUS Zenfone Max M2 ini menggunakan 5 magnet speaker dengan lapisan metal dan amplifier NXP dengan distorsi rendah, sehingga menghasilkan suara yang jernih dan jelas.


Triple Slots
Kalau misalnya membeli smartphone baru, salah satu yang akan aku perhitungkan ya jumlah slotnya. Aku malas banget kalau harus menenteng banyak gadget di tas. Karena nomorku dengan suami sama, tapi dengan kedua orangtuaku berbeda. Tentu butuh satu gadget tapi sudah bisa meng-handle semua. Nah, ASUS ZenFone Max M2 ini memiliki dua slot kartu SIM ganda yang mendukung jaringan 4G LTE (kecepatan lebih dari 300Mbps) dan 1 slot untuk MicroSD yang bisa menyimpanan data sampai 2TB.


Harga:
3GB/32GB dibanderol dengan harga hanya Rp.2.299.000
4GB/64GB dibanderol dengan harga Rp. 2.699.000

Setelah membaca ulasanku di atas, tak salah kalau smartphone ini dipamerkan sebagai smartphone yang murah meriah, berkamera cihuy, dan asyik untuk main game, bukan? Apalagi ditambah dengan fitur konektivitas WLAN 802.11b/g/n, Wi-Fi Direct, dan dilengkapi dengan Bluetooth 4.2. Untuk fitur keamanannya pun memiliki sistem pengenalan wajah, cukup melihatnya saja sudah terbuka. Terdapat juga sensor fingerprint di bagian belakang dan untuk mengaktifkannya pun hanya butuh 0.3 detik. Cling, kelar deh ya.

Bagaimana, harganya masih aman kan di kantong? Duh, ingin sekali kukantongi satu untuk senjataku berkomunikasi dengan wali murid. Biar makin cas cis cus, bet, bet, bet kalau harus mengirim kabar ke mereka. Kamu yang punya resolusi ganti smartphone di awal tahun 2019 dengan harga murah meriah, ASUS ZenFone Max M2 ini rekomended.

*Sumber foto dan informasi diunduh dari website resmi ASUS Indonesia dan diedit dengan aplikasi Canva.com


SPESIFIKASI ASUS ZENFONE MAX M2
Ukuran Layar
:
IPS LCD 6,3 inci, 720 x 1520 piksel, rasio 19:9
Dimensi Fisik
:
158,4 x 76,3 x 7,7 mm
Bobot
:
160 gram
Prosesor
:
Qualcomm Snapdragon 632, Octa-core 1,8 GHz Adreno 506
RAM
:
3 GB/4GB
Media Penyimpanan
:
32 GB/64 GB, microSD slot hingga 2TB
Kamera Belakang
:
13 megapiksel (f/1,8) dan 2 megapiksel
Kamera Depan
:
8 megapiksel (f/2.0)
Kapasitas Baterai
:
4000 mAh
Konektor
:
microUSB 2.0
USB OTG
3,5 mm audio jack
GPS
:
Ya, A-GS, GLONASS, BDS
Konektivitas
:
4G, Wi-Fi 802.11, Bluetooth 4.2, Hotspot
Kartu SIM
:
Dual SIM
Biometrik
:
Fingerprint sesnsor (di belakang), face unlock
Sistem Operasi
:
Android Oreo 8.1, Android Stock
Pilihan Warna
:
Midnight Black, Space Blue, Meteor Silver
Harga
:
Rp 2,3 juta (3/32 GB) dan 2,7 juta (4/64 GB)

Kamis, 17 Januari 2019

Berdamai dengan Liburan, Cari yang Murah Tapi Tetap Asik


Umumnya, setiap orang saat mendengar kata liburan pasti hepi. Gambaran tempat-tempat wisata yang menggugah rasa begitu jelas tergambar. Dulu, itu tidak berlaku untukku.


**** 

“Pyaaaarrrrr….”

Kepingan celengan kudaku berceceran. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku meringkuk di dekat kursi yang ada di ruang tamu. Bapak dan ibuku saling membentak. Nada suaranya semakin meninggi. Tiba-tiba nenekku sudah masuk ke dalam rumah dan bergabung dalam bentakan demi bentakan. Apa seperti itu kegemaran orang dewasa? Selalu bertengkar.

Di usiaku yang belum genap untuk masuk TK, aku sudah sering sekali melihat bapak dan ibuku bertengkar. Ingatanku dipenuhi dengan situasi mencekam, piring pecah, dinding rumah yang dihantam, minyak tanah berhamburan, foto pernikahan yang dibakar dan terakhir adalah celengan kudaku.

Sedih dan takut, itu yang kurasa. Tak ada yang memelukku. Bahkan kedua orangtuaku seakan egois dengan perasaannya. Padahal sehari sebelumnya kami begitu bahagia menikmati liburan di Pantai Parangtritis. Bapak mengajakku naik kuda, bermain pasir, dan membelikanku celengan kuda berwarna cokelat. Tapi, bahagiaku sirna begitu saja saat melihat mereka bertengkar lagi dan lagi.

Semenjak kejadian itu, setiap kali mendengar kata liburan, aku selalu ketakutan. Satu yang kutakutkan, saat aku pulang dari liburan, aku akan melihat kedua orangtuaku bertengkar lagi. Sungguh, aku merasa tidak nyaman dengan ketakutan itu. Aku ingin sekali seperti orang lain. Tapi, semua kupendam sendiri. Pojok kamarku adalah saksi di mana aku selalu meringkuk ketakutan saat kedua orangtuaku bertengkar.


Berdamai dengan Masa Lalu 

"Jika bercerita kepada orang lain bisa membuatmu lebih baik, lakukanlah!" kata Kak Yasin, trainer ESQ, di depan semua peserta workshop.

Sepulang mengikuti workshop ESQ (Emotional Spiritual Quotient) di kampus, kutekadkan untuk menceritakan 'sakitku' selama ini kepada seseorang. Aku sudah tidak sanggup menanggung rasa itu sendirian.

Aku ingat betul, waktu itu selepas isya, warnet depan kos sudah mulai sepi. Kubuka akun facebook. Kulihat seseorang yang kumaksud sudah online. Kuceritakan semua yang kualami kepada seseorang yang kukenal dari sana. Entahlah, rasa nyamanku tumbuh begitu saja dengannya. Beruntung, laki-laki itu kok ya sekarang jadi pasangan hidupku. (((Kapan-kapan aku ceritakan perkenalanku dengan suami lewat Facebook)))

“Sabar dan maafkanlah…”, begitu beliau memberiku nasihat. Aku sempat menolaknya, tidak semudah itu. Tapi, rasa takut yang menyiksa itu justru memaksaku untuk mau nggak mau menerima semuanya.

Dari beliau aku belajar pelan-pelan menikmati hidupku tanpa tekanan rasa takut. Aku melewati proses yang panjang dan bertahun-tahun untuk menyembuhkan diriku sendiri, self healing.



Mengakui
Pelan, kuraba sedikit demi sedikit rasa takut dalam diriku. Semua berawal dari tahap mengakui ini. Dulu aku sering menutupi bahwa aku ini baik-baik saja. Aku pintar menyembunyikan perasaanku. Apalagi aku anak tunggal. Kebanyakan orang tahunya kalau anak tunggal itu hidupnya bahagia. Ku-iyakan semuanya. Padahal belasan tahun aku hidup dengan rasa takut yang luar biasa. Pelan-pelan kuakui bahwa aku memang tidak bahagia dan aku bermasalah.

Membuka diri
Kok masalah satu belum selesai sudah ada lagi ya? Hidupku menderita banget. Padahal yang lain hepi-hepi saja.

Aku pernah berada di titik seperti itu. Betapa aku tidak bersyukur banget ya? Tapi, itulah nyatanya. Lambat laun kusadari bahwa setiap manusia tidak akan pernah jauh dari masalah. Masalah hadir karena ada solusi yang ditawarkan. Toh, dengan masalah, ketakutan yang begitu menyiksa itu, justru aku merasa lebih kuat. Aku bisa setegar sekarang setiap kali ada masalah, ya, karena masa laluku yang begitu menyiksa.

Memaafkan
Ketakutan itu hadir jelas meninggalkan luka yang dalam pada diriku. Aku selalu menyalahkan kedua orangtuaku, betapa mereka sangat egois. Bisakah mereka tidak hobi bertengkar, saling marah satu sama lain? Pertanyaan itu selalu berulang-ulang dalam benakku. Mengendap sampai berkerak, mungkin.

Ternyata Allah punya cerita yang tak pernah kuduga sebelumnya. Profesiku sebagai guru yang dipilhkan oleh orangtuaku pula ini, justru menyadarkanku, betapa marah-marah itu lumrah terjadi dalam kehidupan kita. Tergantung bagaimana kita menerapkan dan menerimanya. Nyatanya saat ada anak didikku yang tidak sesuai dengan norma, aku jelas akan marah. Mungkin begitu juga pada kedua orangtuaku. Kenapa tidak aku memaafkan mereka? Toh, mereka juga bukan malaikat.

Apalagi saat ini, setelah aku memiliki anak, betapa susahnya menjaga diri untuk tidak marah-marah kepada suami atau sebaliknya di depan anak. Padahal aku tahu, kalau bertengkar di depan anak akan menciptakan trauma pada sang buah hati. Seperti yang kualami. Bukankah ini sangat memalukan untukku? Kusalahkan orangtuaku tapi nyatanya aku melakukan kesalahan yang sama.

Alhamdulillah, kini kubisa memaafkan semua. Termasuk memaafkan diriku sendiri dan menghaturkan taubat. Tak lupa kusampaikan maaf yang setulus-tulusnya kepada bapak dan ibu, serta mendoakan mereka agar selalu diampuni Allah. Bismillah, semua kulakukan karena Allah.



Sekarang, masih takut liburan? Hoooo...ya tidaklah. Takut liburan maka obatnya yang paling mujarab adalah liburan itu sendiri.

Sudah tiga tahun ini aku melawan rasa takutku untuk liburan. Tunggu dulu, liburan sih liburan, tapi tetap ada syaratnya, diantaranya harus bersama keluarga besar dan tidak terlalu jauh dari rumah. Pelan-pelan dulu lah. Semoga kelak aku berani liburan bertiga dengan suami dan Kak Ghifa ke tempat yang lebih jauh, syukur-syukur dengan naik pesawat.

Berenang itu Liburan yang Murah Tapi Tetap Asik

Kak Ghifa itu sangat hepi saat aku, suami, bapak, dan ibu bisa berkumpul bersama. Sepanjang hari dia bisa tertawa riang dan nyaris tidak pernah rewel. Akan tetapi itu tidak selalu bisa terwujud. Kenapa? Karena aku liburnya hari Minggu sedangkan bapak dan ibu hari Jumat. Alhasil kita bisa kumpul lengkap kalau hari Kamis malam saja.

Demi kebahagiaan kami semua, bisa nggak bisa setiap akhir tahun kami harus meluangkan waktu bersama. Sudah cukuplah setiap hari selalu memegang prinsip time is money. Waktunya meregangkan tubuh sejenak tanpa memikirkan pekerjaan.

Berenang, itulah liburan yang kami pilih. Akhir tahun 2018 kemarin adalah untuk ketiga kalinya kami menghabiskan waktu dengan kegiatan dan di tempat yang sama. Letaknya tidak jauh dari rumah kok, sekitar 30 menit sudah sampai.
Insya Allah keluarga kita termasuk keluarga yang bahagia.
Jangan lupa liburan ya agar keluarga dan pekerjaan tetap seimbang!

Seminggu sebelum berenang, agar liburan berjalan dengan lancar, aku selalu membuat perencanaan. Apa saja sih yang kurencanakan?
  1. Waktu pemberangkatan dari rumah pukul 07.00 dan keluar dari kolam renang sekitar pukul 11.00. Karena biasanya kalau makin siang makin ramai. Jadi, kami berangkat saat pengunjung kolam renang masih sepi dan saat orang-orang baru berdatangan, kami giliran pulang. Ini berdasarkan pengalaman dari tahun ke tahun. Karena kalau datang kesiangan Kak Ghifa akan rewel (adaptasinya di tempat baru memang agak susah), tidak dapat gazebo, dan tentunya kulit Kakak yang sensitif akan berakhir dengan gatal-gatal.
  2. Mendata siapa saja yang akan ikut berenang. Rencana dari awal aku, suami, Kak Ghifa, bapak, ibu, Rena (keponakanku), dan bulek. Total ada 7 orang. Karena Kakak masih di bawah 90 cm, jadi yang beli tiket masuk hanya 6 orang x Rp 25.000. Jadi, tiket masuk Rp 150.000. Ditambah lagi uang solar mobil bapak Rp 50.000, biaya parkir Rp 5.000, sewa pelampung besar Rp 10.000 dan sewa gazebo Rp 20.000. Yah, paling tidak aku harus sedia uang Rp 250.000an.
  3. Menyiapkan makanan berat, buah, serta minuman apa saja yang akan dibawa. Aku bahkan sengaja membawa snack untuk Kak Ghifa. Karena Kak Ghifa kalau sudah main air sering lupa makan. Makanya, makanan ringan sangatlah penting. Untuk budget makanan dan minuman kujatah 250.000 juga.
  4. Membuat list bawaan dalam tasku; ada handuk, baju ganti, sampo, minyak telon, bedak, dan beberapa alat perangnya Kak Ghifa.
  5. Membawa beberapa mainan favorit Kak Ghifa.
  6. Air di botol untuk mandi Kak Ghifa agar tidak kelamaan antre.
  7. Sunblock jangan sampai ketinggalan
  8. Transportasi yang kami pilih mobil bapak
Namanya manusia hanya bisa berencana akan tetapi tetap Allah yang berkehendak. Tiga hari sebelum berangkat renang, semua sudah siap termasuk dananya. Akan tetapi, kabar buruk datang. Ban mobil bapak pecah dan nokselnya minta ganti. Wassalam. Uang dari mana? Itu dalam keadaan mobil bawa dagangan yang akan dijual esok hari. Kalau nggak dibelikan ban, bagaimana sampai rumah?

Sedikit potret kebersamaan kami saat liburan

Mau tidak mau ban dan noksel bapak harus dipentingkan. Saat iku aku hanya berpikir, ya sudahlah, berenangnya kapan-kapan saja kalau ada rezeki lagi. Aku juga sampaikan ke Rena dan bulek kalau tidak jadi mengajak mereka berenang dengan alasan yang sebenarnya.

Pucuk dicinta ulampun tiba, sehari sebelum hari H, alhamdulillah, aku mendapat email penawaran job membuat artikel dari orang luar negeri. Senangnya lagi, dia langsung membayarnya di muka. Tapi, konsekuensinya memang artikel harus jadi esok hari juga. Sssttt......Kamu tahu tidak, jumlah fee yang kuterima itu sama jumlahnya dengan uang yang kugunakan untuk menservis bapak. Subhanallah. Maha Suci Allah.


Pagi hari, kami sudah siap semua. Semua perencanaan yang kususun sudah beres. Kami pun berangkat tepat pukul 07.00. Sampai di kolam renang baru ada 2 mobil dan beberapa sepeda motor.

Seperti biasa, di awal-awal turun ke kolam renang Kak Ghifa agak talut-takut gitu. Untung saja membawa mainannya, jadi ya sangat terbantu. Lama-kelamaan dia sangat enjoy. Dari pinggir kolam, lama-kelamaan minta naik pelampung. Kemudian main busa-busa yang berhamburan. Bahkan saat waktunya naik dan mandi, Kak Ghifa sempat rewel

"Emoh mentas (Tidak mau mentas)." tolak Kak Ghifa.

Dari ketiga kalinya liburan akhir tahun, inilah liburan yang paling asik. Sekalipun liburan sambil mengerjakan job menulis, melihat Kak Ghifa hepi dan kebersamaan keluarga kami, itu lebih dari sekadar cukup bagiku. Liburan yang murah tapi tetap asik. Bukan perkara sejauh mana kami pergi, tapi kebersamaan keluarga itu sangat berharga. Bukankah, begitu?


Semakin asik lagi apabila liburan kemarin ada ASUS Zenbook UX391UA di dalam tasku. Kemarin itu aku membawa notebookku untuk menyelesaikan job di gazebo sambil menunggu Kak Ghifa selesai berenang bersama abinya lho. Karena beratnya sampai 3 kg, saat berangkat sampai terjun ke kolam renang, aku sengaja memakai baju yang sama. Datang langsung nyemplung deh. Itulah salah satu caraku agar meringankan tas yang kubawa. Terpenting keperluan Kak Ghifa sudah masuk semua lah.

Berbeda cerita lagi kalau yang kubawa itu ASUS Zenbook UX391UA. Bisa jadi, aku dan suami tidak perlu menomor duakan kebutuhan kami dibandingkan milik Kak Ghifa. Karena laptop yang dilengkapi engsel ErgoLift nan unik ini beratnya kisaran satu koma sekian dan ketebalannya 12,9 mm. Mili meter lho ya. Tipis banget, kan? Sulit membayangkan tipisnya? Kamu tahu buku tulis anak sekolah yang isinya 38 lembar, nah, itu ukurannya 5 mm, ya, laptop ini tebalnya kira-kira 2 buku tulis isi 38 lembar itulah.

Liburan membawa anak tentu beda dengan berlibur sendiri atau bersama pasangan saja ya. Kesenangan dan kenyamanan anak adalah yang utama agar tidak rewel. Awal-awal masuk ke air, aku berusaha banget mendampingi Kak Ghifa agar tidak takut. Setelah dia nyaman dengan situasi dan kondisinya, baru kulepas dengan abinya. Kemudian aku langsung ganti baju dan cus mengerjakan job.

Saat mengerjakan job, sesekali kulirik ke arah kolam renang. Ada rasa khawatir kalau tiba-tiba Kak Ghifa kembali ke gazebo dan menarikku untuk ikut terjun ke kolam lagi. Alhasil beberapa kali kuubah posisiku, kumiringkan lagi layar notebookku. Mencari posisi yang pas antara mata dan layar agar aku bisa nyaman mengetik. Karena kalau aku nyaman mengetik, jelas pekerjaanku bisa cepat kelar.
ASUS Zenbook UX391UA, meskipun ringan dan tipis, tapi dengan ErgoLIft Design, laptop ini sudah mendapat pengakuan dan penghargaan tingkat internasional kalau pemakaiannya sangat nyaman, performa audio kelas premium, dan sirkulasi udara yang lancar sehingga tidak mudah panas. Oiya, satu lagi, keyboard yang berlampu latar warna emas beserta lid sewarna menambah anggun dan mewah laptop ini. Siapa yang tak bermimpi memilikinya?

Tipis, ringan, tingkat kenyamanan penggunanya sangat diperhatikan, dilengkapi dengan desain yang ciamik, kemudian bagaimana dengan komponen lainnya seperti prosesor, baterai, RAMnya?  ASUS Zenbook UX391UA ini dilengkapi dengan RAM 16 GB dan prosesor Intel® Core™ terbaru (generasi ke-8) yang tentu tidak akan membuat penggunanya jengkel karena menunggu loading yang lama. Pun baterainya, digadang-gadang bisa mengisi sebanyak 60% dalam 45 menit saja. Bukankah ini benar-benar asik apabila digunakan untuk liburan? Jadi, waktu kita tidak akan habis terbuang sia-sia. Liburan jalan, pekerjaan pun jalan.

Kemudian, kamu sering nggak sih, pas liburan, eh, tahu-tahu memori kamera atau HP kita penuh? Mau dipindah ke laptop takut kelamaan malah kehilangan momen-momen indah. Eitss....tunggu dulu, berbeda kalau pakainya ASUS Zenbook UX391UA. Karena dengan dilengkapi Thunderbolt™ 3 di dua dari tiga port USB-C™, dan ketiga port tersebut mendukung pengisian cepat, transfer data dan konektivitas layar. Wow, betapa Zenbook ini begitu memanjakan perjalanan liburan kita ya!
Setelah pekerjaanku beres, alhamdulillah Kak Ghifa juga sudah mulai naik dari kolam. Kulihat bibirnya sudah mulai pucat. Kalau dibiarkan berlama-lama bakalan masuk angin deh. Akhirnya kumandikan Kak Ghifa di dekat gazebo dengan menggunakan air yang sudah kami siapkan dari rumah. Sembari ganti baju dan dibalur seluruh tubuhnya dengan minyak telon, dia mulai merengek minta makan. Lapar ya, Kak? Hihihi.

Liburan akhir tahun kami tutup tepat pukul 11.00. Kolam renang pun sudah mulai penuh dengan lautan manusia. Sampai di luar kolam renang, betapa mobil dan bus-bus memenuhi pinggir jalan. Kami yang melihat merasa beruntung karena memilih datang lebih pagi. Kak Ghifa pun tadi asik main air, baru naik mobil langsung tertidur pulas di pangkuanku dengan bahagia.

Foto diambil oleh ibu yang duduk di jok depan.

Tak lupa kuucapkan, "Sampai jumpa akhir tahun 2019. Semoga bisa ke sini lagi dengan jumlah keluarga yang lebih banyak."

Terakhir, apa yang kualami di masa lalu, ketakutan yang ada dalam diriku sesungguhnya adalah wujud dari kemarahan-kemarahanku yang terlalu dalam. Benar adanya apabila Ustadz Danu mengatakan bahwa serahkan semua kepada Allah. Karena apa yang terjadi di dunia ini atas izin Allah dan karena Allah. Tugas kita sebagai manusia adalah selalu memohon ampun dengan sungguh-sungguh atas kesalahan-kesalahan kita dan melakukan apapun karena Allah.

Mari kita nikmati hidup dengan cara yang terbaik. Menghabiskan waktu bersama keluarga adalah satu cara yang paling mudah. Yuk, berlibur bersama keluarga, tidak perlu yang jauh apalagi mahal, yang penting selalu bersama! Nah, akhir tahun kemarin kamu ke mana dan bersama siapa? Semoga kamu juga merasakan kebahagiaan di penghujung akhir tahun 2018 untuk menyongsong kebahagiaan-kebahagiaan selanjutnya ya.

Ssssstttt.....satu lagi. Tahu tidak, apa kabar dengan notebookku setelah liburan kemarin? Ujung layarnya pecah. Mungkin karena tertimpa bawaan yang lain. Karena saat sudah rempong ngurusin makan Kak Ghifa, tas ranselku dibawa oleh suami dan diletakkan begitu saja di mobil. Lupa kali ya kalau ada notebook di dalam. Makanya, penting banget nih kalau ada yang mau beli laptop baru di tahun 2019 ini, coba deh cari ASUS Zenbook UX391UA. Karena sudah menggunakan desain bodi khusus dan tersertifikasi Military Grade MIL-STD 810G. Jadi, laptop ini sangat kokoh karena sudah melewati pengujian yang ekstrem. Mau jatuh, guncangan yang kuat, penggunaan di ketinggian, sampai tes di suhu tinggi dan rendah pun lolos secara mulus. Jadi, jangan salah pilih ya!