Rabu, 05 Agustus 2020

Arti Keluarga Bagiku dan Alasan Kenapa Aku Harus Melindunginya




"Saat kamu pernah mengalami kehilangan, di situlah kamu bisa merasakan arti yang sesungguhnya dari kelengkapan anggota keluarga."
 
Berbeda, sangat berbeda saat aku harus benar-benar menyadari bahwa ibuku telah tiada.

Terhitung saat aku menulis postingan ini, sudah 100 hari lebih ibuk meninggalkanku, tapi rasanya, Ya Allah, aku masih seperti mimpi. Aku selalu berharap ini adalah mimpi panjangku dan saat aku bangun ibuk masih ada di kamarnya. Aku masih merasa ibuk ada di sisiku. Ada di rumah ini.

Hampa. Begitulah yang kurasakan. Aku rela jungkir balik di luar sana, asalkan semua bisa ditukar dengan kehadiran ibuku kembali. Bisa?

Tidak.

Itu tidak mungkin.

Aku harus benar-benar belajar ikhlas dan menerima bahwa aku telah kehilangan ibuku tercinta. Jantung dalam hidupku. Tempatku berpulang, berkeluh kesah, di saat aku telah kelelahan berlari di luaran sana.

Kini rumahku kosong. Setiap kali pulang, tak ada lagi yang benar-benar kutengok di kamar sebelah. Tak ada. Benar-benar tak ada.

Ya Allah, maaf, rasanya begitu berat bagiku untuk membuat postingan ini.

Rasa rindu ini berada di ujung pelupuk mataku. Mengambang, tapi tak bisa meluap. Beku.

Aku sadar betul, aku berusia 28 tahun, beranak satu, tapi aku begitu mengidamkan keluargaku yang lengkap. Ada bapak, ibu, aku, suami, dan anakku dalam satu rumah mungil ini. Tapi, kini keluargaku sudah berbeda.

Sangat-sangat berbeda.


Arti Keluarga Bagiku


Keluarga Adalah Tempatku Berpulang

Pergi ke manapun, sekalipun ke tempat terindah di dunia ini, aku akan tetap merasa rindu dengan keluargaku. Aku ingin bertemu dengan mereka, selalu berada dekat dengan mereka dan menghabiskan waktu bersama.


Mungkin, saat aku pulang dari suatu tempat, lelah mendera begitu hebat, tapi saat melihat semua anggota keluargaku, lelah itu sirna seketika. Semburat cahaya muka mereka begitu meneduhkan.

Keluargalah yang Bisa Menerimaku Apa Adanya

Aku adalah korban bullying semasa sekolah. Orang di luar sana bilang aku seperti orang Timur. Orang di luar sana bilang aku seperti mak lampir dengan rambut mengambangnya. Orang di luar sana bilang aku seperti Omas, aktris dengan bibir agak maju.


Sedih. Terpojokkan setiap hari. Bertahun-tahun mendapat perlakuan seperti itu selama sekolah dari SMP sampai SMA. Kamu bisa membayangkan, apa yang kurasa?

Tidak dengan keluargaku. Mereka menerimaku apa adanya. Penuh dengan cinta dan kehangatan. Hingga kini.

Sama halnya saat harus keluar rumah, aku harus berpakaian rapi, berdandan cantik, di rumah, keluargaku dengan senang hati menerimaku hanya dengan berdaster.

Keluarga adalah Motivatorku

Selain selalu memberikan kehangatan dan kebahagiaan, keluarga adalah motivator untukku. Kalau kamu pernah membaca tulisanku tentang ibu yang sering meremehkanku, kamu pasti tahu, di keluargaku, siapa yang jadi motivator utamaku, ya, ibuku.




Kupikir, setelah ibu nggak ada, aku kehilangan motivator dalam keluargaku. Ternyata tidak. Suami dan anakku kini menjadi motivator utamaku untuk melanjutkan hidup. Melihat mereka setiap hari membuatku semakin kuat. Tak terpuruk apalagi menyalahkan diri sendiri atas kepergian ibuku.


Kurasa, apa yang aku ungkapkan di atas berlaku juga untukmu, bukan? Betapa berharganya mereka untuk kita. Sampai-sampai aku baru menyadari tanpa mereka aku ini apa, to? Nothing. Oleng.

Baru ditinggal ibuk saja aku sudah seperti helaian kapas yang dihempaskan oleh angin. Apalagi kalau sampai amit-amit aku harus kehilangan seluruh anggota keluargaku. Tapi, kelak, dan itu pasti, memang kita, manusia, akan sendiri. Kita akan berteman dengan amalan kita selama hidup di dunia. Bagaimana kita bisa menjaga dan melindungi keluarga yang saat ini masih benar-benar berada di samping kita?

Sebenarnya ada banyak cara. Salah satunya mewujudkan berkah keluarga dengan mendaftarkan mereka dalam asuransi syariah dari Sun Life Indonesia. Ngomong soal perbedaan antara asuransi syariah dengan asuransi konvensial terletak pada pengelolaan dananya. Pada asuransi syariah tentu menganut investasi syariah dan jauh dari unsur ribawi. Tentunya sebagai keluarga muslim, siapa yang tak ingin menjauhi riba, ya, sekalipun itu kecil banget sifatnya? Aku dan suami pun sedang belajar pelan-pelan menjauhi riba ini. Bismillah.

Apa Itu Asuransi Salam Anugerah Keluarga?


Kamu pernah dengar Sun Life Indonesia? Aku dulu pernah mengulas salah satu platform online milik Sun Life, yaitu Bright Advisor di tahun 2016.  Yang kuingat tentang Sun Life tuh ya asuransi jiwa. Tapi, kali ini aku ingin menyinggung tentang Asuransi Salam Anugerah Keluarga.


Adalah asuransi dengan mengangkat tagline “Selalu menemani, selamanya melindungi”. Produk asuransi ini dikaitkan dengan investasi (unit link) yang hadir sebagai solusi perencanaan keluarga secara menyeluruh. Asuransi ini juga hadir dengan santunan asuransi untuk pasangan suami istri dan dua orang anak.

Asalkan bersama mereka, mau makan apa saja, di mana saja, kok ya bawaannya hepi mulu 

Ada yang berbeda dari asuransi ini, setidaknya ada empat pembeda dibandingkan asuransi yang lainnya. Diantaranya:
  1. Satu polis memberikan perlindungan asuransi untuk empat peserta sekaligus.
  2. Kontribusi yang terjangkau (minimal 1,5 juta per top up, padahal untuk 4 peserta, ya) dengan perlindungan yang menyeluruh.
  3. Dilengkapi asuransi tambahan asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga hingga maksimal enam peserta.
  4. Kesempatan untuk bersedekah jariyah dengan berwakaf
Mengenai manfaat dan fiturnya secara lengkap bisa kamu lihat di infografis di bawah ini.


Bagiku, Asuransi Salam Anugerah Keluarga ini cukup menarik, terutama keunggulannya berkaitan perawatan bagi penderita kanker. Asuransi ini meng-cover cukup banyak perawatan bagi penderita kanker, seperti radioterapi atau kemoterapi, imuoterapi, dan pengobatan hormonal, rawat jalan cuci darah, ICU, operasi rekonstruksi akibat kanker sesuai tagihan.

Yah, mau bagaimana lagi, karena kenyataannya, aku kehilangan ibuku karena beliau mengidap kanker payudara. Tentu aku ingin memilih asuransi yang memberikan perlindungan bagi keluargaku, seluruhnya. Karena kehilangan itu rasanya menyesakkan.

Kalau di drama korea yang kutonton dengan judul Rain or Shine ada pesan yang menurutku apik, apa itu?


Saat ini, jika kamu masih memiliki kesempatan untuk melindungi keluargamu, segerakan!

Semoga Asuransi Salam Anugerah Keluarga ini bisa jadi referensi buatku dan kamu untuk melindungi keluarga kita dengan cara kita pula.

Jumat, 10 Juli 2020

Berburu Iwak Manuk


Kok diburu? Memangnya di hutan?

Bukan. Ini di pasar. Apakah akhirnya kudapati iwak manuk yang selama ini sebagai ikonnya Mintreng, dukuh tempatku tinggal?

***

"Ayo, Mi, abi habis ini mau cari besi."

"Ya sudahlah, nggak usah saja. Sudah siang pula. Paling sudah habis." Antara jengkel karena abi dan Kakak pada lelet, malah main di kamar mulu.

"Dicoba dulu." Bujuk abi lagi.

Tepat pukul 09.30, aku, abi, dan Kak Ghifa pergi ke Pasar Wonopolo, Dempet. Santai, kami tetap memperhatikan protokol kesehatan kok.


Perjalanan sekitar 15 menit kami tempuh. Pasar sudah mulai lengang. Firasatku kalau nggak akan nemu iwak manuk (burung) pun mulai meningkat.

Seingatku, biasanya, di dekat parkiran ada yang jualan. Ini kok nggak ada.

Kak Ghifa dan abi menunggu di parkiran, aku segera meluncur ke lapak khusus lauk. Muter ke lapak sebelah Timur, nihil. Sebelah Barat? Semoga ada. Eh, ternyata nggak ada juga.

Saat melewati lapak buah, melihat buah naga kok aku jadi ingat pesan Kak Ghifa. Akhirnya, ke pasar hanya belanja buah naga, pir, dan apel pesanan Kak Ghifa.

Kami pulang tanpa membawa iwak manuk.

Kata tukang parkir, "Kawanen, Mbak. Kalau pagi ya banyak kok yang jual."

Iya, ya, mungkin kami datang kesiangan.


Iwak manuk, ini adalah satu-satunya makanan tradisional yang identik dengan daerah tempat tinggalku.

Saat pertama kali tugas di SD yang lama, saat ada pengawas yang tanya rumahku, dan kusebutkan kata Mintreng, beliau langsung tanya balik,

"Lha kalau sama warung makan iwak manuk, rumahmu sebelah mananya?"

Bahkan, kemarin pas ada akreditasi di sekolahku yang sekarang, oleh-oleh untuk peniliknya juga iwak manuk.

Iya, di pertigaan sana tuh ada warung makan yang sangat terkenal dengan oalahan iwak manuk. Sekarang warungnya masih ada. Tapi, nggak setenar saat dipegang oleh pemilik utamanya dulu (sudah almarhumah). Sekarang yang megang adalah anak perempuannya.

Sebenarnya, asal mula daerah tempat tinggalku dikenal dengan iwak manuk-nya tak lepas dari jasa warganya.

Kok bisa? Bukan karena memang banyak iwak manuk?

Begini, dulu, orang sini tuh banyak yang berprofesi sebagai tukang golek manuk, atau pencari burung. Mereka membawa sepeda lengkap dengan klaras (daun pisang yang kering sebagai perangkap) di boncengan, berkeliling dari satu sawah ke sawah yang lain. Dari satu desa ke desa yang lain. Setiap kali pulang membawa hasil tangkapannya, ya, warung makan itu yang membelinya.

Lama-kelamaan, burung makin berkurang jumlahnya, pencari burung pun mulai banyak yang beralih profesi. Hanya mereka yang bisa naik dan memiliki motor yang masih bertahan sebagai pencari burung. Kalau dulu dari desa ke desa untuk mencari burung, kini bisa dari kabupaten ke kabupaten.

Ya, semua karena memang alam yang berbicara. Populasi burung semakin berkurang dan manusia hobi menebang pohon.

Kini, iwak manuk mulai langka. Sayang sekali bukan, kuliner Indonesia liner Indonesia yang satu ini terancam punah.

Oiya, adakah yang penasaran jenis burung apa yang terkenal dan mendapat julukan iwak manuk paling endeus. Yaitu, manuk mbom-mbok. Burungnya besar, daging nggak alot, bau nggak apek, dan paruh warna putih. Kalau kata sesepuh, pas hamil kok bisa makan burung ini, nanti kalau anaknya lki-laki akan tampan, kalau perempuan bakalan cantik. Benarkah?

Buktinya, aku. Apakah anakku tampan? Hahaha. Karena dulu pas hamil Kak Ghifa, ibuk sengaja beliin iwak manuk mbom-mbok ini untukku. Bahkan sampai dua kali. Satunya bisa sampai 25 ribu.

Nah, terus, yang kuburu ke pasar itu burung apa? Apakah mbom-mbok ini?

BUKAN.

Sekarang mah sudah susah. Bahkan nyaris nggak ada. Sekarang ini yang dijual iwak manuk puyuh, yes, burung puyuh yang rasa dagingnya agak apek-apek gitu deh. Tapi, enak sih menurutku. Hahaha.

Cus kelanjutan ceritaku berburu iwak manuk.

Tadi pagi, selesai bikin sarapan, aku langsung ke pasar dekat rumahku. Biasanya memang ada yang jual iwak manuk.

Masih pukul 07.00, tapi penjual lauk sudah mulai penuh. Mataku jelalatan ke sana-sini.

NIHIL.

Tak ada satupun iwak manuk yang dijual. Terus bagaimana? Apa kabar dengan foto konten? Hahaha. Demi konten blog ini sampai berburu iwak manuk.

Akhirnya, tanpa pikir panjang, belum mandi, masih pakai celana kolor buat tidur, tapi, tetap pakai masker dong, aku meluncur ke Pasar Wonopolo, Dempet, pasar yang kuceritakan di atas.



Pikirku, "Kemarin kan kesiangan, siapa tahu ini ntar ada tuh iwak manuk. Wong masih pagi."

Kutarik gas motorku. Dingin euy. Nggak pakai jaket pula. Ah, peduli amat. Yang penting sampai dan dapat iwak manuk.

Setelah parkir, kok, penjual yang di sini juga nggak ada.

Masuk lebih dalam ke pasar, kok nggak ada juga.

"Kok kayaknya nggak ada iwak manuk ya, Mbak?" tanyaku ke penjual ikan asap.

"Memang lagi nggak musim puyuh, Mbak. Kalau pas musim, ya, banyak."

Oke, fix. Aku pulang dengan tangan kosong. Sampai jumpa di musim iwak manuk.

Di tempat kamu, ada juga nggak kuliner iwak manuk kayak gini?

Rabu, 08 Juli 2020

Jualan Aneka Keripik dengan Alat Kasir yang Pintar


"Kamu sudah jadi guru, suamimu ada usaha bengkel las, masih mau bikin keripik juga?"

Begitu tanya temanku.

"Mumpung masih muda dan mampu, Mbak."

Apa yang aku dan suami lakukan salah?

aneka keripik dan alat kasir

Sejak lama suami memang ingin buka usaha sampingan bikin aneka keripik, khususnya keripik singkong. Karena mertuaku dulu pernah ada usaha keripik singkong dan suami ikut mengolahnya. Paling tidak dia tahu ilmunya.

Sayang, alat-alatnya kami belum punya. Alhasil, kami nekad. Untung dari bengkel las suami kami belikan alat-alat tersebut. Ya, satu per satu sih, nyicil. Sebagian untuk keperluan makan sehari-hari, sebagian lagi untuk membeli alat.

Sampai akhirnya, alatnya sudah mulai lengkap. Ya, belum lengkap-lengkap banget. Terpenting sudah bisa dipakai produksi.

Alat dan bahan apa saja yang kami beli dan siapkan?
  1. Kompor howos plus selangnya
  2. Wajan besar
  3. Serok penggorengan yang lubangnya besar-besar
  4. Gobet/parutan ketela
  5. Timbangan
  6. Sealer
  7. Plastik kemasan
  8. Logo kemasan keripik
  9. Bubuk perasa makanan
  10. Baking soda bisa juga kapur sirih
  11. Minyak goreng
  12. Tempat dan kertas pengering
Bahan bakunya gimana? Nitip bapak yang setiap hari ke pasar induk. Mulanya kami mencoba bikin hanya dua kilo. Kami pakai resep yang dari mertua, ternyata rasa keripiknya enak, tapi masih atos alias keras dan kaku.

Percobaan kedua, kami mencoba resep dari mertua dan dikombinasi dengan yang didapat dari youtube. Hasilnya? Enak dan teksturnya lebih mendingan tapi masih agak keras.

Akhirnya, kami beranikan diri untuk menyebar keripik itu ke beberapa kerabat dan teman di kantorku. Tujuan kami adalah meminta testimoni. Apa kata mereka?

MASIH KERAS.

Dan rasa ketumbarnya masih kurang.

Bukan kurang, memang nggak dikasih ketumbar sama suami. Hihi.

Masukan demi masukan kami terima. Suami yang awalnya bersikeras menggunakan resep ibunya, mertuaku, sampai adu pendapat hebat denganku lho, akhirnya luluh juga dan mau menerima resep yang baru kami temukan.

"Kalau mau berbisnis, ya, harus mau terima masukan dari mana saja. Benar, bukan?"

Oiya, kenapa kami memilih usaha aneka keripik ini, khususnya saat ini masih fokus ke keripik singkong, karena usaha ini minim modal. Bisa sambil jalanlah beli alat-alatnya. Jadi, buat kamu yang saat ini sedang bingung mau bikin usaha apa, kenapa nggak coba bikin usaha keripik juga di tempatmu.

Meskipun usahaku baru mau jalan, aku ingin berbagi informasi nih cara bikin keripik singkong yang enak dan renyah. Ya, nggak hanya untuk usaha sih, kalau mau bikin sendiri buat camilan nonton TV bersama keluarga juga asyik.

Cekidot.

1. Pilih singkong yang bagus.

Cirinya bagus itu bagaimana? Yang masih baru dipanen. Saat dikupas, kulitnya mudah terkelupas.

singkong sebagai bahan utama

2. Bersihkan kemudian rendam

Setelah dikupas, dicuci bersih, tiriskan. Setelah ditiriskan, siap untuk dipotong tipis-tipis dengan gobet. Tambahkan air yang sudah dicampur dengan baking soda/kapur sirih. Rendam paling lama 30 menit. Ada yang sering tanya, baking soda atau kapur sirihnya seberapa? Takarannya menurutku nggak pasti.  Dikira-kira saja. Karena nanti dengan berjalannya waktu, sering praktik buat, bakal nemu takaran yang paling pas.

singkong mulai diparut
Pisahkan bagian singkong yang jelek, jangan dicampur, akan merusak singkong yang bagus

3. Buat bumbu encer

Bumbu ini seperti bumbu saat kita membuat tempe goreng. Isinya ada bawang putih, ketumbar, garam, dan gula. Campir dengan air. Koreksi rasanya.

bumbu keripik singkong
Ini tanpa ketumbar. Pakai ketumbar, makin jos.

4. Panaskan minyak dan goreng.

Gunakan minyak yang banyak, se-wajan besar. Pastikan apinya benar-benar panas dan stabil. Makanya harus pakai kompor howos, bukan kompor biasa. Kalau di tempatmu banyak kayu bakar, malah enak lagi. Apinya bisa stabil. Karena faktor api yang stabil dan minyak yang panas, itu sangat berpengaruh dengan kerenyahan keripik singkongnya.


5. Goreng dengan sabar

Saat minyak sudah panas, masukkan sedikit deki sedikit singkongnya. Api yang panas ditandai dengan langsung munculnya singkong saat digoreng. Tidak mengendap dulu di bawah. Langsung muncul di permukaan saat dimasukkan ke minyak goreng. Jangan sering dibolak-balik. Nanti keripiknya keriting alias mengkerut atau kelipat-lipat.

6. Beri bumbu biar makin endeus

Kapan memberi bumbu encer? Saat keripik singkong setengah matang. Masukkan saja ke dalam minyak. Ingat, takarannya harus selalu sama. Misalnya, setiap sekali goreng bumbunya 5 sendok makan, ya, segitu terus. Jangan diganti-ganti. Nanti rasanya malah beda-beda.

7. Angkat jangan nunggu cokelat warnanya

Keripik singkong tuh manja. Kalau kelamaan gosong, kalau nggak pas nanti cepat melempem. Ya, nanti lama-kelamaan bakal paham lah warna yang paling pas saat hendak diangkat tuh yang seperti apa.




Setelah minyaknya tiris, bisa kamu beri bumbu tabur seperti balado, jagung manis, atau mau yang original. Kalau di tempatku banyak banget yang suka rasa balado. Tapi, kalau orang sepuh-sepuh, suka yang rasa original.

Kemudian, kami mau membuat keripik apalagi? Aku sudah pernah sukses bikin keripik bayam. Nanti kalau pas musim pisang harga ancur-ancuran, mau bikin keripik pisang juga. Hahaha. Oiya, satu lagi, ada keripik sukun dan juga talas.

Ya Allah, ternyata begini, ya, kalau sudah terjun ke dunia usaha, hawanya semua mau dibikin duit. Ampun dah. Asal halal kenapa tidak?

Kami pun sebenarnya punya impian kelak bisa punya ruko sendiri yang jual oleh-oleh serba keripik. Di sini juga belum ada ruko yang jual khusus oleh-oleh. Padahal kalau lebaran, banyak banget pemudik yang datang kemari dan sering kebingungan mau membawa oleh-oleh apa dari kampung halamannya sini.

Semoga, kelak. Aamiin.

Makanya, dari sekarang, kami benar-benar memikirkan usaha ini jangka panjang. Biarlah baru mulai. Tapi, kami bertekad suatu saat mimpi itu tercapai.

Banyak hal yang kami persiapkan. Dalam waktu dekat ini, selain dijual di toko-toko terdekat, di angkringan, dan di pasar, kami hendak menjualnya secara online, baik di marketplace atau lewat GoFood agar menjangkau pelanggan yang ada di sekitar kami juga.

Aku sendiri sekarang kalau mau beli apa-apa, apalagi masih dalam keadaan new normal seperti ini, lebih memilih serba online kalau memang tersedia di sana. Kalau terpaksa adanya secara offline, ya, mau bagaimana lagi.

Salah satu alasan kenapa tertarik jualan online, khususnya jadi Mitra Usaha Gojek, adalah karena sangat terbantu dengan adanya mesin kasir yang ditawarkan oleh Gojek sebagai perangkat multifungsi dari GoBiz.

Apa to itu?

Begini, kalau kami tergabung dalam Mitra Usaha Gojek, yang jual aneka keripik dan bisa dipesan di GoFood, kami bisa memiliki alat kasir yang multifungsi dari GoBiz.

Alatnya seperti apa? Kayak di bawah ini lho, kamu pasti sudah sering lihat, tapi nggak ngeh.

alat kasir multifungsi

Gimana, sudah paham?

Nah, keuntungan kalau pakai alat kasir tersebut adalah lebih memudahkan kerja kami. Apalagi kami baru mulai usaha. Tentunya banyak hal yang harus kami pelajari dan ada beberapa hal yang mungkin saja terlewatkan seperti pencatatan pengeluaran dan pemasukan, jumlah pembelian hari ini berapa. Ya, kan kami baru bekerja berdua, misalnya mau langsung cari rewang kan ya, masih mikir, apakah pemasukan kami sudah klop?

Nah, selain harus memiliki aplikasi GoBiz di HP, melengkapi alat tempur kami dengan perangkat multifungsi dari GoBiz ini banyak gunanya. Apa saja?
  1. Biayanya murah, hanya 4.900/hari*
  2. Tidak perlu membeli printer lagi. Karena perangkat multifungsi dari GoBiz ini sudah otomatis bisa untuk nge-print struk. Setiap kali pembelian sudah dapat dua gulung kertas struk. Kalau habis, tenang, di toko alat sekolah sini juga ada atau mau beli secara online yang biasanya memiliki harga bersaing, lebih murah.
  3. Meja kasir bersih nggak banyak perangkat. Karena cukup tersedia HP yang ada aplikasi GoBiz dan perangkat multifungsi dari GoBiz yang kuceritakan ini.
  4. Bisa menerima pembayaran dengan kartu debit dan digital apapun. Dari bank apapun tanpa harus mendaftar ke bank tersebut.
Berkaitan dengan pembayaran, ada yang di saat new normal ini pergi ke pasar, terus minta penjualnya masukkin uang kembalian ke plastik, sampai rumah kemudian dicuci uangnya?

Ada?

Ya, nggak papa.

Memang harus seperti itu, bukan?

Atau malah dikucilkan sama tetangga karena melakukan hal tersebut? Atau penjualnya tersenyum sinis sambil melayani permintaan kita?

Sabar.

Apa yang kamu lakukan itu sudah tepat, kok. Kalau nggak, ya, mending bayar pakai uang digital saja. Tapi, apa di pasar ada yang melayani demikian?

Makanya, penting juga kan perangkat multifungsi dari GoBiz ini? Dulu yang awalnya kupikir, apa iya, lama-kelamaan uang fisik akan tergeser dengan adanya uang digital? Nyatanya, sekarang, semua terjawab.

Ah, sudahlah. Terpenting, kini kita harus menjaga betul kesehatan dan daya tahan tubuh kita. Setidaknya, usahakan kalau bisa membayar dengan uang digital, ya, pakai itu saja.

Balik lagi soal aneka keripik usaha kami, doakan ya, semoga laris manis. Semoga kami bisa istiqomah dalam menjalankan usaha ini dan banyak pelanggan yang suka.

Banyak hal yang harus kami persiapkan, semoga dimampukan sama Allah. Kamu, yang tiba-tiba terinspirasi untuk bikin usaha serupa, yuk, yuk, saling tukar resep, atau mau tanya-tanya juga boleh. Dengan senang hati. Lain kali, aku akan update lagi cerita aneka keripik kami. Tunggu, ya 😃

Rabu, 01 Juli 2020

Sekamar dengan Orang Asing


Lah, kok bisa?

Laki-laki apa perempuan?

Ya, perempuan lah. Emang aku emak-emak apaan?

Bagaimana ceritanya, sih?

Memang bisa tidur?

Berapa lama tidur dengannya?

Pertanyaan terakhir itu... 😠

***

cerita sekamar dengan orang asing


Kejadian ini sudah lama terjadi, April 2018. Kok bisa sekamar dengan orang asing? Karena aku ikut lokakarya penulisan buku selama dua hari satu malam di Hotel Pandanaran, Semarang.

Seingatku, awalnya dari flyer yang dishare di grup mendongeng. Melihat kalau ada lokakarya, nama-nama narasumbernya, kemudian GRATIS MENGINAP DI HOTEL, duh, siapa sih yang nggak mau? Apalagi saat itu aku belum pernah menginap di hotel sendiri kecuali saat acara kampus. Yo wis, mangkat.

Alhamdulillah, aku dipanggil sebagai bagian dari 50 peserta yang lolos untuk ikut acara tersebut. Dengan restu suami dan tentunya ibuk, karena aku nitip Kak Ghifa, aku pun berangkat dengan bus.

Bismillah, kuniatkan lokakarya kali ini rasa traveling sendirian.

Sampai di hotel, acara dibuka sekitar pukul 09.00. Nah, saat sesi ini aku mulai merasa kok isinya mahasiswa semua, ya? Ada sih beberapa ibu-ibu, pun ada juga guru dari Semarang kota.  Tapi, jumlahnya hanya seuprit. Lama-kelamaan, kuketahui acara ini digawangi oleh salah satu partai berbasis islam.

"O...makanya kok kerudungnya lebar semua." batinku.

Satu per satu narasumber mengisi acara lokakarya tersebut. Sesekali aku ingat Kak Ghifa, sedang apa anakku? Rewel nggak ya?

Materi yang disampaikan kebanyakan sudah pernah kupelajari. Bahkan setiap kali menulis di blog ini selalu kupraktikkan. Bukan merasa sombong karena sudah menguasainya, tapi, kesannya malah agak bosen.

Kuniatkan kembali keikutsertaanku untuk mere-charge pengetahuan yang kumiliki. Kuyakini pula pasti ada pelajaran lain yang bisa kuambil karena narasumbernya berbeda-beda.

Sampai waktu makan siang tiba. Panitia mengumumkan tentang pembagian kamar. Di sinilah baru kutahu kalau aku harus sekamar dengan orang asing.

Sumpah. Satupun aku tak kenal dengan peserta lokakarya tersebut. Berbeda dengan peserta lain, mereka datang bersama rombongannya.

Kupikir,
"Ini saatnya aku untuk mengenal dunia luar. Jangan berada di zona nyaman mulu. Kenal orang lebih banyak lagi. Dari berbagai kota dengan kalangan yang berbeda pula."
Mikir gitu ya buat ngayemke atiku, menenangkan diriku.

Namaku disebut. Diikuti nama teman sekamarku. Kutengok pemilik nama itu. Ehm, seorang ibu, sepertinya dia seumuran dengan ibuku. Tapi, tampaknya kok kurang meyakinkan.

Maaf, bukan suudzon, kadang kala saat kita bertemu dengan seseorang kan ada suatu perasaan klik atau nggak kan. Nah, ketika melihatnya, tak ada rasa klik. Tapi, aku harus tetap bersikap sopan, bukan?

cerita sekamar dengan orang asing

Di sini aku belajar menjaga sikap. Meskipun nggak suka, harus tetap sopan. Harus.

Masuklah kami ke kamar. Alhamdulillah, ranjangnya ada dua. Aku sedikit lega.

Kami ngobrol seperlunya. Tepatnya, aku yang jarang ngomong. Bahkan aku yang biasanya mengingat nama orang dengan mudah, sekarang kalau ditanya siapa nama teman sekamarku, aku lupa. Pertanda banget kalau saat itu aku tidak nyaman.

Setelah ngecek perlengkapan kamar, aku ambil air wudhu dan salat. Setelah salat, dia bercerita kalau sudah sering ikut acara lokakarya seperti ini dengan partai yang sama.

"Setiap bulan ada, ya, Bu?" tanyaku.

"Iya, bisa dua sampai tiga kali. Enak, Mbak, makan, minum, mendengarkan, tidur di hotel, pulang dapat uang saku ganti bensin. Sampai hapal panitianya sama aku."

Eh.

"Kan pasti ada tugasnya juga, Bu? Kayak acara ini kan goal-nya bikin buku kumpulan cerita dari peserta."

"Santai saja, Mbak."

Masih sambil ngobrol, kami meninggalkan kamar kemudian makan siang. Terpisah. Meskipun sekamar, aku milih cari tempat duduk yang nggak satu meja dengannya. Niat banget cari kenalan yang lainnya. Sudah telanjur kecemplung pula.

Acara hari itu baru selesai pukul 21.00. Capeknya minta ampun. Masih ada tugas pula untuk membuat artikel yang nantinya dibuat antologi oleh panitia.

Setelah bersih-bersih, salat isya, kunyalakan laptopku. Baru dapat setengah, mataku sudah sepet banget, nggak tahan. Kulirik teman sekamarku, Ya Allah, pules banget.

"Kok nggak bikin tugas, ya? Apa sudah selesai? Tapi, tadi habis mandi, pegang tablet hanya untuk telepon anaknya doang."

Kurapikan semua barangku. Laptop kupeluk, uang yang ada di dompet kubagi dua, kutaruh di saku celana dan di dompet yang kutaruh di bawah bantal.

Hahahaha. Separno itu. Ya, mau bagaimana lagi, aku nggak kenal baik dengan teman sekamarku? Preventif boleh kan?

Pukul 03.00 aku bangun lagi. Sakit semua badanku. Terutama kakiku karena seharian hanya duduk mendengarkan.

Aku melanjutkan artikel yang baru setengah jalan. Kulirik lagi teman sekamarku, masih pulas.

"Tuh orang beneran nggak ngerjain tugas?"

Lewat pukul 05.00 alhamdulillah artikelku selesai dan segera kukirim ke email panitia. Segera aku mandi dan bersiap-siap untuk melanjutkan acara lokakarya yang akan dimulai pukul 07.00.

Sampai pukul 06.00 lewat, teman sekamarku tadi masih juga tertidur pulas.

"Ini orang memang numpang tidur, kah?"

Kubangunkan. Aku sekalian pamit duluan untuk sarapan dan sekalian membawa barang-barangku. Karena nanti pukul 10.00 sudah penutupan acara lokakarya.

Pas di ruangan lokakarya, panitia berkali-kali mengumumkan kalau yang mengirim artikel belum ada 50%. Dimohon segera menyelesaikan tugasnya sebelum acara berakhir. Aku melirik teman sekamarku, mukanya santai sekali. Tak memasang muka buru-buru mengerjakan atau sejenisnya. Di akhir acara semua peserta dibagikan kaos dan amplop berisikan uang ganti bensin. Semua dapat. Tanpa terkecuali yang belum selesai mengerjakan tugas.

Sampai hari ini, buku antologi yang dijanjikan bakalan terbit setelah acara lokakarya ini pun tidak jelas kabarnya. Aku juga sudah keluar dari grup WA.

Sungguh, permata pengalamanku mengikuti lokakarya sekaligus sekamar dengan orang asing ini membuatku melongo. Oh, jadi, saat dia bilang, santai saja, Mbak, ini to artinya?

Ya, Allah itu kan tidak pernah keliru membawa kita ke mana, dengan siapa, dan dengan cara bagaimana kita dipertemukan. Kuanggap kejadian dua tahun lalu ini sebagai pengingatku. Pengingat tentang ilmu yang sudah kumiliki, bagaimana harus menyikapinya, dan mengaktualisasikannya dengan sesama.

Ah, ambil yang baik-baik saja, ya, dari tulisanku kali ini.

Selasa, 30 Juni 2020

Tertipu Belanja Online di Facebook


Semalam HP ku-charge di ruang TV. Pagi, setelah selesai masak, kunyalakan data selulernya. Ada dua panggilan dari bapak, dua panggilan dari saudara, beberapa WA dari grup, dan empat pesan WA dari teman.

Mataku melotot saat melihat pesan dari temanku.

"Mbak,

Aku lagi sedih

Aku ketipu online

Sepedanya miko itu."


Makdeg.

tertipu belanja online
Kutengok di Shopee, beginian malah hanya 600 ribuan


Sabtu lalu, sebelum libur sekolah, pas break rapat akhir tahun, temanku ini memang cerita kalau mau membelikan sepeda semi stroller buat anaknya. Nggak tahu kenapa saat itu kok aku komentar begini,
"Pengalamanku sama Kakak, beli gituan tuh sudah mahal, kepakainya pun cuma sebentar, Mbak. Sayang uangnya. Tapi, ya monggo."

Lah, kok malah strollernya bermasalah tenan.

Dia ketipu.

Berapa? Sejuta kurang dikit. Sejuta tuh ya banyak, kan? Apalagi di masa pandemi gini.

Demi menghiburnya, kubongkar rahasiaku.

"Ramadan tahun lalu, aku kayak kamu, Mbak. Ketipu tawaran kerjasama, 3 juta melayang. Padahal saat itu aku lagi butuh uang 10 juta. Yo wis, jadi butuh uang 13 juta. Hahaha."

Dia membalas dengan emotikon tertawa.

Cerita demi cerita, dia menyembunyikan kejadian ini dari orang rumah.

"Lah, sama dong. Ibuku meninggal kemarin tuh ya nggak tahu kalau aku pernah ketipu. Apalagi bapakku. Suamiku doang yang tahu. Sampai sekarang, eh, nambah kamu ndeng. 😃" (sama kamu, pembaca blogku)

Kupikir, semoga dia sedikit terhibur. Kutahu, rasanya kena tipu tuh nano-nano. Sedih iya, jengkel iya, tapi pengen ketawa.

Ketawa?

Iya, ketawa. Sampai sekarang pun aku kalau ingat kejadian itu pengen ketawa. Ya sudah, aku pasti ketawa. Kalau pas sendirian, sepi, ya malah ketawanya kenceng banget. Kalau sudah, lega.

Akun penipu di facebook
Hati-hati sama akun facebook ini


Aku juga mengakui kalau aku ini bodoh sekali karena bisa kena tipu. Terlepas itu kena hipnotis via telepon atau nggak ya.

Perlu kan sesekali ngetawain diri sendiri?

Ngobrol ngalor ngidul, akhirnya aku kok nemu titik temu.

Dulu, keadaanku tuh hampir sama dengan temanku, saat kena tipu.

Ceritanya, dia mau transfer via ATM, kok kebetulan uang di ATMnya pas banget dengan jumlah harga stroller tadi. Otomatis nggak bisa. Dia mau minta tolong sama teman lainnya, eh, dia pergi. Akhirnya panas siang bolong diterjang pergi ke pangkalan mobil BRILink.

(Sebenarnya ini kan sudah diingatkan sama Allah, tapi ngoyo, memaksakan keadaan)

Setelah itu, tiga hari nggak dapat resi, dihubungi deh si penjualnya. Katanya salah hitung, suruh nambah 200 ribu.

Percakapan aneh si penipu
Bahasanya alus, ya. 


Sampai sini, makin masuk akal nggak sih? Nggak kan. Katanya kok barang ditahan di JNE kota. Baru dikirim lagi kalau sudah mengirim bukti transfer 200 ribu tadi.

Bwahahahaha.

INI LELUCON.

Endingnya? Sampai sekarang, ya, nggak ada kabarnya. Wong ketipu. Facebook dan WA temanku sudah diblokir sama penipu itu.

😭😭

Terus, kesamaan dengan kasusku dulu, apa?

Kalau dulu aku itu ya, panas-panas kuterjang. Padahal saat itu aku lagi ngelesi muridku. Buru-buru dia kuminta pulang. Aku pulang pas adzan dzuhur berkumandang. Padahal jelas nggak bawa uang, malah pulang ambil uang di celengan. Ditanya ibuk, jawabku singkat doang. Mau berangkat tiba-tiba hujan deras banget. Habis hujan, masih gerimis pula, kok kuterjang. Aneh bukan? Bwahahaaha. Bukan, bukan itu saja.

Tepatnya, perasaan ingin membahagiakan orang lain tapi malah ZONK.

Dulu, aku tuh ya dengan bahagianya menyambut tawaran kerjasama teman dengan maksud pengen bantu suami. Dari maksud itu apapun ditempuh sampai-sampai nggak mikir panjang.

Mungkin juga saat itu aku memang kena hipnotis.

Rasanya tuh ayo cepat, harus segera, apalagi penipu itu selalu menghubungi dan meyakinkanku.

Sebentar, aku teringat kejadian itu. Aku pengen tertawa dulu.

Hahahaha.

Dari cerita temanku, dia juga merasakan hal yang sama. Pas diberi tahu nomor rekening, bayar sekian, buru-buru pengen transfer biar anaknya senang punya sepeda baru.

Ini tuh apaan, ya? Pengaruh hipnotis? Apes? Atau temannya kebo-plonga-plongo? Hahaha.

Dari kejadianku dan temanku yang ketipu online gini, bisa kutarik benang merah.

  1. Komunikasi, dengan suami atau orang rumah tentang apapun yang hendak kita lakukan, terutama yang berkaitan dengan belanja online atau transaksi online lainnya. Kalau memang kita kena hipnotis, biar diguyur pakai air dan sadar. Kalau masih nggak bisa diberi tahu, gampar saja. Hihihi. Maksudnya, apakan harga barang dan permintaan pelaku ini tuh masuk akal?
  2. Lakukan apapun dengan membaca basmalah terlebih dahulu. Iling (ingat) Gusti Allah, ya.
  3. Jangan grusa-grusu alias tergesa-gesa melakukan hal apapun, teliti ngati-ati.
  4. Kalau ingin belanja online, pilih saja toko teman yang kita kenal dan bisa COD. Pilihan lain, marketplace yang tepercaya. Banyak kan yang menjamin uang kita nggak bakal kabur apabila kita belum pencet menu MENERIMA PESANAN.
Teknologi yang semakin canggih memang memudahkan kita. Tidak perlu keluar rumah, sepeda sudah diantar oleh kurir. Tapi, kita harus cerdas pula sebagai pembeli. Terpenting, ingat selalu Allah. Kalau khilaf, ya, sesekali saja. Jangan keblabasan!😝

Kamu, hayo, pernah ketipu online? Atau jangan-jangan kamu rahasiakan juga? Kalau ingat malah ketawa sendiri. Oiya, kalau bisa, misal ada teman yang menulis cerita tentang kasus penipuan online tuh dibaca dengan saksama. Biar paham betul langkah-langkahnya harus gimana. Karena ternyata aku pernah mengabaikan cerita di blog teman tentang penipuan yang sama denganku jenisnya, modus kerjasama, hahaha. Berarti aku memang bodoh sekali 😝.

Apes pula.