Selasa, 17 September 2019

Ke Pekan Raya Gubug 2019 Hanya Bawa Uang Seratus Ribu, Dapat Apa?



Ternyata, jalan-jalan sekeluarga hanya membawa uang seratus ribu kok bisa berujung dengan hepi, ya. Nagih, deh.

Hari gini lho, ya. Seratus ribu? Dapat apa?

Dulu, aku tipe orang yang kalau mau piknik bersama keluarga tuh kudu punya perencanaan yang matang banget. Baik itu perkara perencanaan tempat tujuan sampai dananya.

Alhasil, banyak perencanaan yang muluk-muluk, dananya nggak ada, piknikpun nggak pernah terlaksana. Kata orang Jawa, ati karep bondho cupet. Semenjak itulah, mindset kalau piknik itu butuh dana yang gedhe pun terbentuk. Dilarang mimpi piknik deh kalau nggak punya uang melimpah.

Kini, beda lagi ceritanya. Tuntutan hidup makin mencekik. Kesibukan di sekolah dan di rumah tidak pernah ada habisnya.  Huh. Karena keseringan dihimpit dengan pilihan hidup inilah, ditambah dengan tuntutan nafsu yang tak terkendali, piknik ala orang misquin ala aku pun tercipta. Modal duit seuprit, sekeluarga bisa 'ajeb-ajeb' untuk buang stres yang menumpuk.

Salah satu piknik ala orang misquin yang baru-baru ini kami lakukan adalah ke Pekan Raya Gubug 2019, Sabtu kemarin. Mau tahu kami ngapain saja, terus dengan uang seratus ribu bisa makan dan beli apa?

Kami sedang menunggu sosis panggang pesanan Kak Ghifa. Pekan Raya Gubug 2019 tampak lengang.

Pekan Raya Gubug 2019 ini, kali pertama diselenggarakan di Gubug, letaknya hanya 10 menit dari rumahku kalau ditempuh dengan sepeda motor. Bertempat di lapangan PUK, dekat pasar Gubug, acara yang digawangi oleh Sirup Kartika buka sejak tanggal 13 - 14 September 2019.

Pekan Raya Gubug ini tuh ada apa saja? Banyak banget. Ada berbagai lomba, hiburan artis lokal sampai ibu kota, colour run, jalan santai, stand yang jual produk-produk unggulan Grobogan, serta yang ingin kucari adalah food court. Yes, tujuan utamaku ke sini, ya, mau kulineran.

Sebulan sebelum Pekan Raya Gubug ini dimulai, baliho dan informasi via facebook dan instagram tuh sudah ramai banget. Makanya, aku dan abi ingin sekali meluangkan waktu. Mumpung. Soalnya jarang banget ada acara beginian di dekat rumah. Sekalian golek howo, cari udara segar.

Sayang, pagi hari itu aku sempat kecewa karena bakalan gagal ke Pekan Raya Gubug karena Kak Ghifa demam. Tapi, setelah minum tempra, tak lama langsung turun panasnya, dan sorenya langsung cus deh.

Kami siap menjemput kebahagiaan.

Aku, abi, dan Kak Ghifa, niat banget berangkat ke Pekan Raya Gubug selepas maghrib. Tentu tanpa makan malam dulu. Kan mau kulineran.

Ternyata pilihan kami untuk berangkat di jam itu tepat. Parkiran masih sepi euy. Setelah membayar parkir Rp 3.000 (ada teman yang cerita bayar parkirnya Rp 5.000, beruntungnya kami dapat harga lebih murah), kami langsung mencari pintu masuk ke area Pekan Raya Gubug. Sama dengan suasana parkiran, lapangan PUK saat itu masih sepi. Jalanan di area food court juga masih lengang. Hasratku untuk kulineran pun makin tak tertahankan.

Tujuan pertama kami saat itu adalah sosis panggang (seporsi isi 3 Rp 10.000, biasanya kalau di rumah, sih, seporsi itu hanya Rp 6.000. Dasar emak-emak pengiritan). Iya, siapa lagi kalau bukan untuk Kak Ghifa. Dari rumah dia sudah merapalkan, "Nanti beli sosis, ya, Mi." Nah, agar nggak rewel karena kelaparan, maka perutnya harus segera diisi.

Foto dari Ig Dek Enggi

Sambil menunggu sosis dipanggang, kuamati, kebanyakan food court di sana jual berbagai macam sate-satean, kebab, burger, ayam krispi, dan ayam geprek. Kupikir, ah, kalau itu-itu sih sudah sering makan. Aku mencari makanan yang beda dari biasanya, apa, ya?

Tertariklah mataku kepada Mas penjaja yang sedang semangat mengaduk makanan di atas wajan berbentuk persegi panjang. Ternyata food court di depannya juga ada makanan serupa. Karena penasaran, kudekati. Kutengadahkan kepalaku dan memandangi banner yang ada di atasku, "Bayi Gurita".


Wew.

Bagaimana, ya, rasanya?

Mas yang sedang memasak itupun tahu kalau aku kepo akan rasa bayi gurita, "Boleh nyobain dulu, Mbak. Silakan."

Tanpa basa-basi lagi, kuambil tusuk kayu yang tersedia dan mencoba olahan bayi gurita itu. Hup. Eh, kesan pertama, amis banget rasanya. Setelah dikunyah, ehm, kenyal, enak sih, tapi lebih enakan udang kalau menurut lidahku. Hihihi.

Karena masih penasaran, pun belum pernah makan olahan bayi gurita, kami membeli seporsi dengan harga Rp 30.000. Yah, mahal dikit nggak papalah. Kan nggak tiap hari makan.

Sampai sini, uang kami tinggal Rp 57.000. Dapat apa lagi, ya?

Bayi gurita yang tampak menggoda

Kami lanjut jalan mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut kami. Muter sana-sini, ketemunya ya burger, kebab, burger, kebab. Maklum, abi berlidah ndeso, makan begituan ya bisa menye-menye alias ogah-ogahan.

Sampai akhirnya, kami nemu ibu penjual lontong pecel dan campur (seperti ketoprak). Kami pesan seporsi lontong pecel, segelas kopi, dan sebungkus rempeyek. Nggak nyesel sih sudah duduk di tempat penjual lontong pecel ini. Rasanya enak, sambalnya nendang abis. Rempeyek kacangnya juga enak, ludes sampai lupa nggak aku foto.

Lontong pecel habis, sosis Kak Ghifa juga habis, kami pun berpamitan dengan membayar Rp 12.000. Kalau bukan karena ada pembeli lain yang sudah antre, ogah deh pindah dari tempat duduk. Hahahaha. Soalnya seru juga, makan sambil nglihatin orang pada lalu-lalang.

Lontong pecel, seporsi Rp 6.000

Perburuan makanan kami belum selesai. Kak Ghifa tiba-tiba, "Ummi, tumbas (beli) itu."

Saat kutengok ke mana arah tangannya menunjuk, baru kutahu, dia ingin menyanta Pop Mie yang sudah diidamkan dari seminggu yang lalu. Baiklah, karena hari itu kami mau hepi-hepi, mie instan, hayuklah.

Kami membeli dua Pop Mie dengan harga Rp 16.000. Di bawah gawang sepak bola yang diletakkan di pinggir lapangan, kami habiskan dua Pop Mie untuk bertiga. Ngirit banget, sih? Nggak deh, Kak Ghifa se-cup habis, aku sama abi makan berdua, biar romantis.

Makan Pop Mie dulu biar waras, Gaes

Sampai sini, uang kami tinggal Rp 29.000.

Mau ngapain lagi, ya? Perut kami sudah mulai begah karena terisi lontong dan Pop Mie. Bayi gurita pun belum sampai habis dimakan.

Kami memutuskan untuk ke tengah lapangan yang mulai ramai dengan pengunjung. Di tengah lapangan ada dua panggung. Satu, panggung kecil untuk lomba anak SMA (saat itu). Dua, panggung utama, besar dan megah, untuk fashion show yang diiringi oleh DJ Glavisto. Malamnya ada dangdut Metro.

Foto dengan latar padatnya pengunjung

Suara dentuman musik saat itu benar-benar menandakan kalau, ya, ini malam minggu. Ramai, penuh banget, lapangan yang tadinya lengang, kutinggal makan Pop Mie sejenak langsung penuh dengan lautan manusia. Panitia acara Pekan Raya Gubug 2019 ini sukses menghibur warga sekitar.

Sayang, kalau aku masih gadis nih, ya, kujabanin deh untuk ikutan berdiri di tengah lapangan menikmati suasana malam minggu. Hahaha. Gaya banget, ya? Ntar pulang-pulang langsung masuk angin. Kerokan. Anak rumahan, kok. klayapan.

No, no, no.

Ini panggung kedua mulai dipenuhi pengunjung


Baru berdiri di tengah kerumunan selama 10 menit, Kak Ghifa mulai gelisah. Yes, kutahu dia tak akan nyaman di tempat yang terlalu ramai seperti itu. Kami pun memutuskan untuk melipir. Kutawari untuk main di istana balon, tak mau. Ngeri kali, ya, lihat banyak banget anak-anak di sana. Oke, pulang saja deh. Tapi, mau ke pintu keluar saja, duh, susahnya. Ramai. Padat.

Begini penampakan panggung utama

Sampai di pintu keluar, Kak Ghifa tertarik untuk membeli gelembung sabun. Mainan yang satu ini tidak pernah absen dibelinya.

"Sepuluh ribu, Mbak."

Beli gelembung sabun dulu, Gaes

Eh, kok murah? Biasanya Rp 15.000 lho. Asyik, emak hemat Rp 5.000. Saking seringnya beli sampai syok dapat harga yang murah banget.

Berarti uang seratus ribu masih sisa dong? Iya, sisa Rp 9.000. Untuk apa, ya? Kami pilih menggunakan uang sisa tersebut untuk membeli gorengan sebagai oleh-oleh orang rumah. Alhamdulillah, lengkap sudah.

Rp 9.000 dapat gorengan segambreng


Eits, tunggu dulu. Cerita malam itu belum selesai, Gaes.

Pas perjalanan pulang, Kak Ghifa merengek minta minum. Padahal tadi sudah habis dua botol minuman yang sengaja kami bawa dari rumah. Tapi, nggak papalah, tombok dikit, nambah dikit pengeluaran untuk membeli minuman di minimarket.

Ngemper di minimarket

Setelah puas minum di depan minimarket, kami pun melanjutkan perjalan pulang. Sampai rumah, Kak Ghifa sudah tak sabar untuk main dengan gelembung sabunnya. Alhamdulillah, dengan uang seratus ribu, sekeluarga hepi. Orang rumah juga ikutan bahagia dengan oleh-oleh gorengan yang tak seberapa. Eh, masih ada bayi gurita juga.

Nah, untuk kamu yang punya dana terbatas, piknik ala orang misquin seperti ceritaku ini bisa juga lho kamu coba. Aku ada beberapa tips nih biar pengeluaran benar-benar terkendali saat pergi piknik. Apa saja itu?

  • Perencanaan sebelum pergi harus jelas. Mau ngapain saja. Paling nggak kalau kulineran sepertiku di atas, tetapkan nanti maksimal beli makanan berapa macam. Pilih makanan yang memang benar-benar belum pernah/jarang/pengen banget dimakan. 
  • Kalau pergi dengan anak kecil, usahakan bawa tetek bengeknya dari rumah. Misal tisu, telon, lotion anti nyamuk dan minuman mineral.
  • Kenakan baju yang paling nyaman. Kemarin aku sempat salah kostum. Kupikir kan dingin, tempatnya terbuka pula, aku pakai baju tunik kaos tebal. Eh, ternyata, panas banget di sana. Kak Ghifa malah pakai baju kostum karnaval. Hahaha. Dasar anak itu.
Untuk kamu yang berada di luar Grobogan, tahun depan ingin mengunjungi Pekan Raya Gubug? Bisa nih mulai ngintip-ngintip aplikasi booking hotel. Hahaha. Demi terwujudnya piknik keluarga yang berkesan, hari gini dana mepet mah bisa diakalin. Banyak juga kan promo yang ditawarkan setiap kesempatan.



Aku sering nengok-nengok situs Pegipegi.  Buat apalagi kalau bukan untuk berburu promo?

Paling senang kalau pas mantengin hotel di situs Pegipegi tuh banyak banget pilihannya. Hotel ternama, ada. Mau cari hotel dengan harga pas di kantongku juga banyak. Enaknya lagi, fiturnya memudahkan banget saat kita mau mencari hotel di daerah tertentu. Misalnya, aku mau menginap di hotel area Semarang Timur, bisa tuh tinggal klik dan pilih Semarang Timur, muncul deh beberapa hotel di area tersebut.

Balik lagi tentang Pekan Raya Gubug 2019. Menurutku, acara ini wajib banget untuk diulang pada tahun depan, 2020. Hanya saja, kalau bisa ditambah lagi stand dan food courtnya. Jenis kulinernya juga ditambah. Oiya, tempat sampahnya, euy, ngumpet di belakang. Diperbanyak lagi jumlah tong sampah agar area tidak penuh dengan sampah. Sukses selalu untuk semua yang sudah ada di balik layar Pekan Raya Gubug 2019 

Hari gini, mau piknik, kulineran tapi nunggu uang kumpul banyak dulu? Duh, duh, duh, nggak jadi berangkat! Wong modal seratus ribu juga bisa bikin hepi, kok. Aku sudah membuktikan. Kamu, kapan? 

6 komentar:

  1. Wah enak banget nih Mbak sosisnya wkwk. Menggoda banget. Itu ada cumi juga ya

    BalasHapus
  2. Wah seru banget nih Mbak ke sana bersama dengan si kecil dan pak suami

    BalasHapus
  3. Menggoda banget nih makanannya. Ramai banget nih ya Mbak itu, banyak pengunjungnya

    BalasHapus
  4. Ghifaaaa, senyumnyaaa. Alhmdulillah 100rb bs kulineran macem2. Nombok dikit tak apolah mbaaakkk.

    BalasHapus
  5. Gubug memang salah satu kecamatan yg kubilang produktif dan memang lebih maju. Dulu pas msh sering diajak mas ipar buat ikut acara juga macem-macem acaranya. Apalagi ada pabrik sirup kartika yg bisa dibilang lumayan getol menyokong kalau pas ada acara gtu....

    Seru ya.. ghifa heppy sekaliiiii

    BalasHapus
  6. memang tergantung orangnya sih yaaa, krn sbnrnya bahagia itubgamoang bgt dibikin :). piknik dengan uang terbatas toh bisa bikin happy. kdg kalo lg ada pasar malam deket rumahku, pak suami srg ajakin anak2 keluar beli mainan ato jajanan apapun dengan modal duit sedikit :). yg ptg toh anak2 happy kok, walo cuma sekedar mancing ikan kecil2 ato naik komidi putar kecil :D

    BalasHapus

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!