Rabu, 01 Juli 2020

Sekamar dengan Orang Asing


Lah, kok bisa?

Laki-laki apa perempuan?

Ya, perempuan lah. Emang aku emak-emak apaan?

Bagaimana ceritanya, sih?

Memang bisa tidur?

Berapa lama tidur dengannya?

Pertanyaan terakhir itu... 😠

***

cerita sekamar dengan orang asing


Kejadian ini sudah lama terjadi, April 2018. Kok bisa sekamar dengan orang asing? Karena aku ikut lokakarya penulisan buku selama dua hari satu malam di Hotel Pandanaran, Semarang.

Seingatku, awalnya dari flyer yang dishare di grup mendongeng. Melihat kalau ada lokakarya, nama-nama narasumbernya, kemudian GRATIS MENGINAP DI HOTEL, duh, siapa sih yang nggak mau? Apalagi saat itu aku belum pernah menginap di hotel sendiri kecuali saat acara kampus. Yo wis, mangkat.

Alhamdulillah, aku dipanggil sebagai bagian dari 50 peserta yang lolos untuk ikut acara tersebut. Dengan restu suami dan tentunya ibuk, karena aku nitip Kak Ghifa, aku pun berangkat dengan bus.

Bismillah, kuniatkan lokakarya kali ini rasa traveling sendirian.

Sampai di hotel, acara dibuka sekitar pukul 09.00. Nah, saat sesi ini aku mulai merasa kok isinya mahasiswa semua, ya? Ada sih beberapa ibu-ibu, pun ada juga guru dari Semarang kota.  Tapi, jumlahnya hanya seuprit. Lama-kelamaan, kuketahui acara ini digawangi oleh salah satu partai berbasis islam.

"O...makanya kok kerudungnya lebar semua." batinku.

Satu per satu narasumber mengisi acara lokakarya tersebut. Sesekali aku ingat Kak Ghifa, sedang apa anakku? Rewel nggak ya?

Materi yang disampaikan kebanyakan sudah pernah kupelajari. Bahkan setiap kali menulis di blog ini selalu kupraktikkan. Bukan merasa sombong karena sudah menguasainya, tapi, kesannya malah agak bosen.

Kuniatkan kembali keikutsertaanku untuk mere-charge pengetahuan yang kumiliki. Kuyakini pula pasti ada pelajaran lain yang bisa kuambil karena narasumbernya berbeda-beda.

Sampai waktu makan siang tiba. Panitia mengumumkan tentang pembagian kamar. Di sinilah baru kutahu kalau aku harus sekamar dengan orang asing.

Sumpah. Satupun aku tak kenal dengan peserta lokakarya tersebut. Berbeda dengan peserta lain, mereka datang bersama rombongannya.

Kupikir,
"Ini saatnya aku untuk mengenal dunia luar. Jangan berada di zona nyaman mulu. Kenal orang lebih banyak lagi. Dari berbagai kota dengan kalangan yang berbeda pula."
Mikir gitu ya buat ngayemke atiku, menenangkan diriku.

Namaku disebut. Diikuti nama teman sekamarku. Kutengok pemilik nama itu. Ehm, seorang ibu, sepertinya dia seumuran dengan ibuku. Tapi, tampaknya kok kurang meyakinkan.

Maaf, bukan suudzon, kadang kala saat kita bertemu dengan seseorang kan ada suatu perasaan klik atau nggak kan. Nah, ketika melihatnya, tak ada rasa klik. Tapi, aku harus tetap bersikap sopan, bukan?

cerita sekamar dengan orang asing

Di sini aku belajar menjaga sikap. Meskipun nggak suka, harus tetap sopan. Harus.

Masuklah kami ke kamar. Alhamdulillah, ranjangnya ada dua. Aku sedikit lega.

Kami ngobrol seperlunya. Tepatnya, aku yang jarang ngomong. Bahkan aku yang biasanya mengingat nama orang dengan mudah, sekarang kalau ditanya siapa nama teman sekamarku, aku lupa. Pertanda banget kalau saat itu aku tidak nyaman.

Setelah ngecek perlengkapan kamar, aku ambil air wudhu dan salat. Setelah salat, dia bercerita kalau sudah sering ikut acara lokakarya seperti ini dengan partai yang sama.

"Setiap bulan ada, ya, Bu?" tanyaku.

"Iya, bisa dua sampai tiga kali. Enak, Mbak, makan, minum, mendengarkan, tidur di hotel, pulang dapat uang saku ganti bensin. Sampai hapal panitianya sama aku."

Eh.

"Kan pasti ada tugasnya juga, Bu? Kayak acara ini kan goal-nya bikin buku kumpulan cerita dari peserta."

"Santai saja, Mbak."

Masih sambil ngobrol, kami meninggalkan kamar kemudian makan siang. Terpisah. Meskipun sekamar, aku milih cari tempat duduk yang nggak satu meja dengannya. Niat banget cari kenalan yang lainnya. Sudah telanjur kecemplung pula.

Acara hari itu baru selesai pukul 21.00. Capeknya minta ampun. Masih ada tugas pula untuk membuat artikel yang nantinya dibuat antologi oleh panitia.

Setelah bersih-bersih, salat isya, kunyalakan laptopku. Baru dapat setengah, mataku sudah sepet banget, nggak tahan. Kulirik teman sekamarku, Ya Allah, pules banget.

"Kok nggak bikin tugas, ya? Apa sudah selesai? Tapi, tadi habis mandi, pegang tablet hanya untuk telepon anaknya doang."

Kurapikan semua barangku. Laptop kupeluk, uang yang ada di dompet kubagi dua, kutaruh di saku celana dan di dompet yang kutaruh di bawah bantal.

Hahahaha. Separno itu. Ya, mau bagaimana lagi, aku nggak kenal baik dengan teman sekamarku? Preventif boleh kan?

Pukul 03.00 aku bangun lagi. Sakit semua badanku. Terutama kakiku karena seharian hanya duduk mendengarkan.

Aku melanjutkan artikel yang baru setengah jalan. Kulirik lagi teman sekamarku, masih pulas.

"Tuh orang beneran nggak ngerjain tugas?"

Lewat pukul 05.00 alhamdulillah artikelku selesai dan segera kukirim ke email panitia. Segera aku mandi dan bersiap-siap untuk melanjutkan acara lokakarya yang akan dimulai pukul 07.00.

Sampai pukul 06.00 lewat, teman sekamarku tadi masih juga tertidur pulas.

"Ini orang memang numpang tidur, kah?"

Kubangunkan. Aku sekalian pamit duluan untuk sarapan dan sekalian membawa barang-barangku. Karena nanti pukul 10.00 sudah penutupan acara lokakarya.

Pas di ruangan lokakarya, panitia berkali-kali mengumumkan kalau yang mengirim artikel belum ada 50%. Dimohon segera menyelesaikan tugasnya sebelum acara berakhir. Aku melirik teman sekamarku, mukanya santai sekali. Tak memasang muka buru-buru mengerjakan atau sejenisnya. Di akhir acara semua peserta dibagikan kaos dan amplop berisikan uang ganti bensin. Semua dapat. Tanpa terkecuali yang belum selesai mengerjakan tugas.

Sampai hari ini, buku antologi yang dijanjikan bakalan terbit setelah acara lokakarya ini pun tidak jelas kabarnya. Aku juga sudah keluar dari grup WA.

Sungguh, permata pengalamanku mengikuti lokakarya sekaligus sekamar dengan orang asing ini membuatku melongo. Oh, jadi, saat dia bilang, santai saja, Mbak, ini to artinya?

Ya, Allah itu kan tidak pernah keliru membawa kita ke mana, dengan siapa, dan dengan cara bagaimana kita dipertemukan. Kuanggap kejadian dua tahun lalu ini sebagai pengingatku. Pengingat tentang ilmu yang sudah kumiliki, bagaimana harus menyikapinya, dan mengaktualisasikannya dengan sesama.

Ah, ambil yang baik-baik saja, ya, dari tulisanku kali ini.

18 komentar:

  1. Walah. Jadi temen sekamarnya beneran cuma numpang tidur ya Mba. Itu belum 50% juga yg ngirim, yg notabene juga sepikiran ama temen sekamarnya Mba, santai aja...ckck

    BalasHapus
  2. Kalau aku udah terbiasa tidur sama orang asing. Eh ini kok kaya nganu banget, hahaha. Maksudnya sih karena dulu pernah di ponpes. Jadi sebenarnya santai kalau ketemu orang baru. Btw, teman sekamarnya beneran santai, hahaha

    BalasHapus
  3. waa jadi bisa punya temen baru yaa hihihi, sebenernya aku malah seneng kalo sekamar dengan orang asing asalkan nggak cuma berdua sih hihihi, minimar betiga lah yaa biar lebih seru juga ngobrolnya ehhe

    BalasHapus
  4. Wah ada ya peserta yg begitu. Lha katanya sdg sering ikut, berarti panitia sdh tahu kebiasaannya..kok masih diundang trs? Hehe.. lha kok aku yg sewot.. Ttg sekamar dg orang asing sering juga aku krn tugas. Alhamdulillah nggak ada yg aneh2 hehe

    BalasHapus
  5. Aku dari SMA sudah jadi anak kos yg suka pindah2 dan berbagi kamar dengan teman baru yg tentu saja asing. Memang kadang ada yg klik, kadang ya gitu deh, saling menjaga aja.
    Teman sekamar mba kali ini benar2 nyantai habis hehe.

    BalasHapus
  6. Untung pada pandangan pertama sudah berasa ya mba kalau teman satu kamarnya kurang membawa pengaruh positif. Kalau dia keukeuh mempengaruhi, bahayya.

    BalasHapus
  7. Hahahaha ternyata orang asing yang dimaksud ini to mbak kukira orang asing yang gimana gitu. Tp emang disetiap lokakarya selalu ada peserta yang aneh....waaah jadi kasihan sama panitia ya yang ternyata salah mengundang orang. Kalau begini namanya tidak tanggung jawab cuma mau yang enak saja....

    BalasHapus
  8. Aku kalau gak klop dari awal suka gak perhatian segala-galanya aja, kak..
    Kak Diyanika masih perhatian banget...
    Aku jadi penasaran...jangan-jangan si orang asing ini adalah salah satu mata-mata (panitia).
    Hehhe~

    BalasHapus
  9. Bhuahahaha, ngakak aku bacanya Mbak. Aku beberapa kali ikut event blogger dan selalu teman sekamarnya dengan yang nggak kenal. Tapi gak separno itu, mungkin karena penyelenggara dan pesertanya meyakinkan kali ya

    Untuk yang ikut acara demi numpang hidup enak, hmm ada yang begitu. Saya sih menyayangkan anggarannya ya. Apakah acara diadakan hanya sebagai pengisi 'kesibukan' aja kali supaya tampak banyak kegiatan. Yang penting ada foto2 saat acara hehe

    BalasHapus
  10. temen sekamarnya terlihat sudah berpengalaman sekali ya mba.. wkwk..
    dia memang mengincar uang saku dan liburan gratis kayaknya.. wekekek

    BalasHapus
  11. wah keren kak, biasa aku kalo sekamar sama orang asing minimal 4 orang agar tidak canggung. kalo cuma berdua, perlu penuh kehati-hatian dan was was yaa

    BalasHapus
  12. Ternyata ada memang ya yang kayak gitu. Hobi ikutan acara workshop tapi doing nothing but eating n sleeping heheheee...

    Iya bener banget Ika, diambil hikmahnya saja. Pasti ada pembelajaran bagi kita. Diambil yg baik baik aja. Aku juga pernah pas kudu gathering gitu sekamar dengan orang ga kenal. Alhamdulillah aman.

    BalasHapus
  13. Aku jadi mengingat-ingat pernah ngalamin kayak gini nggak ya, whwhwh tapi gemes lho
    Ada sih yang begini sesantainya, tapi dia ngangkluhnya sakit padahal aslinya males aja katanya

    BalasHapus
  14. Waaah memang ada aja sih mbaa tabiat yang seperti itu. Mungkin karen udah sering ikutan acaranya kai ya mba

    BalasHapus
  15. Beberapa kali sekamar sama orang asing hehe warna warni banget sih ya ada yang nyaman dan enggak. Tp so far memang sih kalau ada hal yang ga suka jangan terlalu diperlihatkan aja takit ga enak hati atau gimana ya kan.

    BalasHapus
  16. Wahhh jadi permata pengalamannya adalah ini ya mbak..

    BalasHapus
  17. Assalamualaikum...mbak
    Blogwalking

    Wah kalau opini saya sih, Panitianya sembrono dengan memberi prasarana seperti itu, tidak aman. tetapi ya gimana ya mbak, namanya juga acara berkumpul dengan banyak orang yang tidak dikenal dan acaranya memerlukan waktu yang lama.

    Tapi alhamdulillah juga, daripada sekamar dengan makhluk asing. :)

    BalasHapus
  18. memang setiap orang itu punya kebiasaan masing masing mba dan harus siap kalau ketemu dengan orang unik hehehehehe

    BalasHapus