Selasa, 16 Februari 2021

Profesi Petani itu Tak Kalah Keren Kok, Nak!


"Kalau beli sawah garapan setahun 5 juta, eh, pas panen sekali hanya laku 4 juta. Rugi bandar. Belum pupuknya. Biaya kombi. Tenaga yang ngangkut. Wis tobat tenan."

 

Begitulah obrolan orang-orang sepuh di sekitarku saat musim panen padi tiba seperti sekarang ini. Ini bisa jadi salah satu faktor kenapa orang-orang pada malas garap sawah. Lebih memilih untuk menjual garapan (disewakan) kepada orang lain dibandingkan menanaminya sendiri.

Ironisnya, saat harga gabah (padi yang sudah dipanen) murah meriah, tapi di pasaran harga beras masih mahal. Kan lucu.

Di sana tuh yang ada rumahnya, dulu, di sana itu, ya, sawah semua.


Faktor lain adalah harga pupuk yang mahal terus dapetinnya juga susah. Lengkap sudah alasan untuk tidak jadi petani. Orang-orang di sekitarku memilih cari kerja serabutan di Semarang dari pada mencangkul di sawah yang hasilnya ora mbejaji (tidak menguntungkan).

Wajar juga kalau lama-lama banyak juga lahan persawahan yang dijual kaplingan. Banyak juga yang melepas lahan sawahnya dengan harga fantastis untuk pembangunan pabrik. Tapi, apa kabar dengan anak cucu nanti yang di tahun 2050 masih berjuang survive mengarungi kehidupan nan fana ini? Apakah mereka tak akan melihat lagi sawah-sawah nan hijau? Apakah mereka hanya akan melihat gedung-gedung yang mengeluarkan asap hitam perusak dinding semesta ini? Kelak, berapa harga beras yang harus dibayar anak cucu kita kalau orang-orang tak mau lagi berprofesi sebagai petani?

Kalau setiap hari anak didikku mendengar keluhan orangtuanya seperti di atas, bagaimana mungkin mereka mau jadi petani di kemudian hari? Mereka hanya tahu kalau jadi petani itu rekoso (tak sebanding hasilnya).

Kemudian, apa yang bisa kulakukan untuk mengajak anak didikku untuk mau meneruskan profesi nenek moyangnya sebagai petani?


Oh, Green Job itu...

#SelasaSharingISB, 9 Februari 2021 lalu, aku mengikuti zoom meeting yang digawangi oleh ISB dan Coaction Indonesia dengan mengangkat tema tentang "Green Jobs dan peluangnya di Indonesia."

Awalnya, aku yang saat ini berprofesi sebagai guru SD, dengar kata "Green Jobs" itu terasa asing. Apakah gerangan? Profesi yang seperti apakah itu? Dan kenapa tema ini diangkat?

Sungguh beruntung aku bisa mendapatkan kesempatan ini.

Ternyata eh ternyata...

Setelah mendengarkan Teh Ani, Mbak Koiromah, dan Kak Ve menyampaikan tentang Green Jobs, aku baru manggut-manggut. Paling tidak inilah yang bisa kuserap dan mengendap di dalam ingatanku dari apa yang beliau-beliau paparkan.

Semua berawal karena dunia ini memang sudah sepuh, tua. Perubahan iklim yang ekstrem sangat memprihatinkan. Sekarang saja kita sudah merasakan, bulan apa, eh musim apa. Banjir, longsor, gempa, dan angin ribut di mana-mana.

Data dari BNPB, sepanjang bulan Januari 2021 ada 263 bencana. Per hari bisa 9 bencana terjadi. Ya Allah.


Kalau kita sebagai manusia hanya begini saja, jalan seperti ini, sampah di mana-mana, pohon-pohon ditebangi, lahan sawah jadi pabrik semua, tanah ditambang terus menerus, jangan tanya 20-30 tahun ke depan dunia jadi apa. Bisa-bisa gulung tikar sebelum kiamat. Amit-amit.

Maka dari itu, nantinya, manusia itu akan mengalami yang namanya perubahan besar-besaran. Terutama soal profesinya. Di saat anak didikku tumbuh di usia produktif nanti, mereka diharapkan memiliki profesi yang tak hanya mengenyangkan perut, akan tetapi juga menciptakan rasa nyaman di lingkungannya.

Tentu, nggak enak kalau bisa makan mie rebus lengkap dengan telur dan cabe rawit tapi dalam keadaan dikepung air, kan?

Nah, profesi yang seperti apakah yang dibutuhkan kelak bahkan digadang-gadang bakal menggusur profesi konvensional saat ini?

Profesi inilah yang dikategorikan dalam green jobs, pekerjaan yang ramah lingkungan. Ada banyak macamnya, dan saat ini, anak muda mulai banyak merambahnya. Apa sajakah itu? Diantaranya ada; petani urban, perencana perkotaan, ilmuwan lingkungan, insinyur lingkungan, ilmuwan konservasi, ahli hidrologi, Geoscientists, pengacara lingkungan, Chief Sustainability Officer, dsb.

Sembari mendengarkan Mbak Koir menjelaskan hasil penelitiannya.

Ssstt...dengar-dengar, gaji dari macam green jobs di atas tuh sangat fantastis lho. Wow. Kantong penuh, lingkungan terjaga, siapa yang nolak, bukan?

Aku juga ngiler banget pas Kak Ve memaparkan cerita di atas. Jelas, aku sudah nggak bisa mengejar green jobs tersebut. Tapi, Mbak Koiromah juga mengingatkan, bahwa saat ini, profesi apapun yang kita jalani sekarang, kita masih bisa berkontribusi untuk lingkungan.

Iya, ya. Aku jadi mikir, apa ya yang selama ini sudah kulakukan untuk lingkungan? Dan apa yang bisa kulakukan lagi agar bisa lebih berkontribusi terhadap lingkungan?

Sembari Mbak Koir dan Teh Ani tektokan, aku jadi menelisik profesiku sebagai guru SD ini sudah berkontribusi apa untuk lingkungan? Ternyata...

  1. Sekarang administrasi kelas sudah meminimalisir penggunaan kertas. Kalau dulu RPP aja untuk satu pertemuan/hari bisa 12 lembar. Kalau sebulan bisa habis berapa lembar? Setahun? Itu baru satu guru, padahal di sekolahku ada 12 guru. Bayangkan berapa banyak pohon yang harus ditebang? Sekarang, kebijakan baru Mas Menteri, 1 RPP 1 lembar. Lumayan ngirit, kan?
  2. Pandemi ini membawa dampak ramah lingkungan juga. Kalau pas anak-anak tatap muka, otomatis setiap seminggu sekali akan ada ulangan harian. Nah, selama pandemi ini ulangan selalu kulakukan lewat google form. Bukankah ini juga termasuk langkah mendukung ramah lingkungan?
  3. Soal penggunaan listrik di kelas, saat ini kelas kosong dan hanya berisikan kursi terbalik. Tentu saja lampu dan kipas angin tak pernah nyala.
  4. Otomatis, karena anak-anak tak masuk sekolah, semua kegiatan guru terpusat di ruang guru. Nah, di sini nih colokan terpakai semua. Ada yang untuk kipas angin, printer, ngecharge laptop dan HP. Pas pulang, biasanya pada lupa tuh nyabut colokan, yah, nggak ada salahnya mulai dari diri sendiri, kucabut colokanku dan kalau masih ada teman yang kelupaan, ya, saling mengingatkan.
Coba tengok, colokan di ruanganmu masih nyantol?

Adakah yang bisa kulakukan lagi? Jelas, ada. Peranku sebagai guru, digugu dan ditiru oleh anak didikku harus kulaksanakan. Kira-kira, apakah itu?

Lahan Ada, Nenek Moyangnya Petani, Apa Iya Mau Alih Profesi?! Jangan!!

Salah satu contoh green jobs yang mencuri perhatianku adalah urban farmer/petani urban. Karena apa? Mereka yang tak ada lahan saja ada kemauan untuk menjadi petani. Nah, kondisi sebaliknya di sini, ada lahan, orangtua punya pengalaman, eh, kini hanya kakek nenek yang mau menjadi petani.

Sebenarnya ini sejalan dengan temuan artikel yang kubaca di Kompas.com bahwa hanya ada 1% anak muda yang mau jadi petani dibandingkan yang berusia tua. Ironis, bukan?

Ini tentu jadi masalah. Padahal peluang ke depan, kesempatan bekerja sebagai petani begitu menjanjikan.

Kalau diperhatikan lebih lanjut, teknologi yang memudahkan pekerjaan seorang petani pun mulai banyak bermunculan. Misalnya, dulu panen padi secara manual atau menggunakan tenaga manusia, kini panen padi sudah tak pakai tenaga manusia lagi. Tak laku karena sudah ada combine harvester, orang sini menyebutnya kombi.

Kombi bak robot di tengah sawah
dok: mongabay.co.id


Kombi ini termasuk sangat efisien, dulu panen padi sehektar, dengan tenaga manusia, bisa memakan waktu seharian penuh baru bisa selesai. Tapi, dengan kombi, tinggal duduk manis sambil ngopi, tiga jam pun bisa selesai dan padi hasil panen bisa diangkut pulang ke rumah atau ke tengkulak. Hanya saja, memang, biaya penggunaan kombi di sini masih terhitung mahal. Ini bisa jadi karena belum banyak orang yang punya alat ini. Lama-kelamaan, masalah ini insyaallah pasti bisa diminimalisir.

Masih ada peralatan lain yang canggih dan bisa memudahkan pekerjaan petani, diantaranya ada;

  • Tranplanter, alat untuk menanam bibit padi
  • Mesin pemilah bibit unggul
  • Alat pengering kedelai
  • Instalasi pengolahan limbah
Tidak menutup kemungkinan secepat mungkin akan ada inovasi teknologi lainnya yang akan bermunculan.

Dasar aku terlanjur kepo, kucari tuh ada nggak sih petani muda yang sukses bisa berlimpah materi. Ternyata ada, lho. Banyak lagi, tiga diantaranya:
  • Rayndra, usianya di bawah 30 tahun, dari Magelang, omsetnya per bulan 100 juta sampai 250 juta.
  • Sandi Octa Susila, S2 IPB, penggerak 373 petani, mengelola total 120 hektare, omsetnya sampai milyaran.
  • Roni Hartanto, 27 tahun, alumnus Teknologi Benih, Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, omsetnya sampai 240 juta per bulan.
Bukankah ini bukti kalau jadi petani itu nggak kalah kerennya dengan profesi yang lain? Materi insyaallah tercukupi, lingkungan juga tetap terjaga.

Mengenalkan Dunia Petani Kepada Anak Didikku dengan Cara yang Mudah


Nah, selesai mengikuti #SelasaSharingISB kemarin, aku langsung mikir, iya, ya, ini aku bisa melakukan apa agar anak didikku yang notabene anak petani bisa ada kesan kalau ternyata jadi petani itu nggak selamanya akan seperti nasib orangtuanya yang banyak rugi dibandingkan untungnya?

Tentu yang kusampaikan harus sesuai dengan materi pembelajaran. Pas, di kelas dua SD ini, semester dua, ada materi tentang merawat hewan dan tumbuhan di tema 6. Karena saat ini baru masuk sub tema 3, semenjak minggu lalu anak-anak sudah kuberi tugas dari rumah untuk menanam tanaman yang bisa dikonsumsi sehari-hari dengan memanfaatkan sampah plastik yang ada di rumahnya. Begini penampakannya.


Tidak hanya sekadar menanam kemudian selesai. Tugas ini akan berkelanjutan sampai kenaikan kelas. Jadi, nanti per minggu anak-anak wajib mengirimkan foto tanamannya, adakah perubahan yang terjadi? Atau jangan-jangan malah mati kering kerontang?

Nah, dari situ aku berharap akan ada kesan tersendiri, -oh, menanam tanaman itu nggak susah kok- di hati anak-anak selama bertanggung jawab merawat tanamannya. Dan rasa itu akan dibawa sampai kelak mereka dewasa.

Siapa tahu, ini siapa tahu, ya, akan muncul petani muda sukses di antara murid-muridku ini. Semoga. Aamiin.

Terakhir, kita yang saat ini sudah memiliki profesi tetap, ya, apapun itu, kita wajib mendukung dan berkontribusi untuk lingkungan. Sekecil apapun! Yuk, bergerak!


Sumber bacaan:

https://blog.tanihub.com/en/peralatan-teknologi-canggih-petani-indonesia-untuk-memenuhi-kebutuhan-pangan-kita/

https://borobudurnews.com/kisah-sukses-petani-muda-asal-ngablak-magelang-beromzet-ratusan-juta-tiap-bulan/

https://paktanidigital.com/artikel/roni-hartanto-petani-sayuran-hidroponik

https://www.trubus-online.co.id/kisah-sukses-45-petani-muda/

https://kompas.com/edu/read/2020/08/13/081606071/petani-muda-indonesia-hanya-1-persen-pakar-ipb-peluang-usaha-tani-besar

https://coaction.id/green-jobs-pekerjaan-ramah-lingkungan/

18 komentar:

  1. Bu Guru, I looveee You!
    Keren banget Mba, dirimu sangat bisa menginspirasi para siswa untuk (nantinya) memilih pekerjaan yang beraura Green Jobs!
    Artikel ini enlightening buangeett mba. Banyak hal yg bisa kita lakukan demi lingkungan yang kian sehat, dan planet Bumi yg makin menyenangkan untuk dihuni yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Love you too, Mbak.
      Aamiin, semoga Mbak, semoga. Aku berharap ada yang nyantol di hati anak didikku saat menerima tugas dan pembelajaran di tema ini. Selain itu aku juga berharap memang akan ada petani muda sukses dari daerahku.

      Hapus
  2. Aku sendiri juga ngalamin kok garap sawah dan harga jual pas panen anjlog. Sedih memang dan nggak sebanding dgn susahnya dapetin pupuk dgn harga yg yaaaaa bikin mengeluh. Tapi memang butuh edukasi juga buat generasi sekarang gimana caranya bikin pekerjaan bertani itu nampak lebih bergengsi.

    BalasHapus
  3. Bener juga ya mbak, setidaknya pandemi ini berdampak positif pada pengurangan pemakaian kertas ya. Selain itu meski kadang kasihan dengan pemilik kantin, dengan liburnya sekolah maka anak2 juga tidak jajan, bungkus jajan di kantin kadang juga menimbulkan limbah yang merusak lingkungan. Meski begitu aku berharap semoga pandemi segera berakhir dan kita hidup normal kembali....tapi emang menjadi petani itu banyak pengalamannya...aku salut sama petani muda yang sukses.

    BalasHapus
  4. wah seru sekali ceritanya, klo profesi petani bisa diteruskan oleh generasi-generasi jaman now, mungkin akan berbeda ya...dr cara mengelola sawah smpe kostum pak taninya hehe

    BalasHapus
  5. justru profesi petani itu keren, bisa menghasilkan makanan sendiri, nggak kayak kita yang apa2 beli hehee

    BalasHapus
  6. Bicara soal petani, keluarga besar saya merupakan petani mbak dan memang profesi ini tidak diminati lagi di kampung. Namun, hadirnya kesadaran beberapa teman tamatan IPB akhirnya kembali ke kampung dan mengembangkan dunia pertanian di Tanah Karo mbak.

    BalasHapus
  7. Kampungku sekarang juga sedang mengalami alih fungsi lahan pertanian menjadi hunian tempat tinggal, anak2 mudanya pada memilih merantau. Semoga dengan adanya informasi tentang Green Jobs ini akan membuka banyak kesadaran pada generasi penerus bahwa penduduk di negeri agraris ini profesi petani harus terus ada dan berkembang. Jangan sampai negeri yg subur ini mengimpor semua kebutuhan pokok masyarakatnya.
    Bu guru inspiratif sekali menimbulkan minat bertani pada anak didik. Semangat utk kita semua menjaga lingkungan dan lahan pertanian yg masih tersisa.

    BalasHapus
  8. Iya nih, colokan tu kadang suka lupa banget cabut, untuk kepraktisan sih awalnya yaa. Tapi baca-baca katanya memang masih nyedot daya juga ya, kalau colokannya tetap di posisi stand by

    Green Job semoga anak-anak kita mendapatkan pekerjaan, tanpa harus merusak lingkungan dan tetep melestarikan lingkungan ya, bu guru

    BalasHapus
  9. wah greenjobs ini ternyata profesi yang bagus sekali ya, udahlah bagus untuk lingkungan plus incomenya juga cukup menjanjikan nih, aku mau mulai infoin ke anakku sejak dini ahh tentang green jobs ini

    BalasHapus
  10. Sektor pertanian zaman sekarang mah udah modern. Pertanian 4.0 ya. Udah pake teknologi dan aplikasi berbasis internet. Dari proses hingga penjualan. Jadinya keren deh buat milenial. Semoga semakin banyak milenial ya yang menggeluti dunia pertanian ini. Mengingat kebutuhan kita yang semakin meningkat akan bahan pangan, dan perlunya kita akan Green Jobs yang ramah lingkungan.

    BalasHapus
  11. Boleh juga nih cara Bu Ika dalam menanamkan pikiran pada anak-anak, bahwa bertanam sesuatu itu semua bisa, asalkan tekun dan rajin merawatnya. Dipantau terus Bu sampai akhir masa pembelajaran, semoga tanaman anak-anak tetap hidup dan tambah subur.

    BalasHapus
  12. MashaAllah~
    Jadi guru ini memang tugas ganda, turut mencerdaskan bangsa. Hal yang dimulai dari memberikan contoh kebiasaan baik untuk anak-anak.

    Jangan pernah lelah, kak Diyanikaaa..
    Aku suka banget baca tulisan Bu Guru.

    BalasHapus
  13. Jadi teringat, sawah di dekat rumah saya mulai beralihfungsi, jadi perumahan. Biasanya anak pemilik tanah nggak tertarik bercocok tanam. Dan akhirnya tanah disewakan saja. Org lain yg menggarap. Tapi akhir2 ini mulai berubah jadi kavlingan rumah.
    Tapi sebenarnya nggak harus nunggu punya lahan banyak ya untuk bercocok tanam. Dengan mengajak anak menanam di pekarangan setidaknya bisa mengajarkan pada anak untuk menjaga lingkungan juga.

    BalasHapus
  14. Baca ini auto nyabut colokan Bu Ika, hahahah
    alhamdulillah makin tercerahkan, program green jobs ini sangat aku dukung sekali
    Bu Ika semangat dan sehat selalu ya

    BalasHapus
  15. Gara-gara pandemi, sekarang banyak orang belajar menanam sendiri. Semoga anak-anak muda di masa depan ga malu memilih profesi petani ya

    BalasHapus
  16. Di kotaku juga lahan persawahan udah mulai pada ganti jadi perumahan sama ruko-ruko,bener-bener masif banget pembangunannya, di beberapa lokasi bahkan ada yang full udah diurug sawahnya.. miris

    Dulu, sekolahku pas mau akreditasi ngeprint administrasi pembelajarannya gila-gilaan, soalnya ada dua puluh kelas ...

    Btw, tugas buat anak-anaknya keren banget ituuu, emang harus dimulai dari diri kita sendiri, lalu kita teruskan ke anak-anak ya, semoga anak2 jadi semakin cinta lingkungan

    BalasHapus
  17. ya, sebenarnya profesi apa saja jika ditekuni dengan baik, hidup akan "nyaman"

    bermanfaat tulisannya..... thank you for sharing.

    BalasHapus