Sabtu, 03 April 2021

Diingatkan Selalu untuk Belajar Toleransi dengan Sesama Guru


Dulu, pas aku masih jadi guru wiyata bakti di sekolah lama, aku lebih sering di kelas dibandingkan di kantor. Alasanku, karena aku mengajar di kelas 1. Kalau aku tinggal njagong sebentar saja di kantor bersama guru lain, pasti ada saja kejadian di kelas. Ada yang nangis, numpahin air di dalam kelas, ada yang minta dibukain jajan, atau malah nyebokin anak yang selesai BAB.

Itu pas ada muridnya, kalau pas pandemi gini?

Aku masih setia di kelas, karena pagi aku harus membuat video pembelajaran atau menyampaikan materi untuk anak didikku. Bahkan aku melakukan home visit dan kembali ke sekolah saat jam makan siang tiba.

Seperti itu terus.

Nah, di sekolah baru ini beda situasinya. Beda pula teman sejawatnya.

Aku setiap hari di kantor mulu. Merasa nyaman saja, karena memang temannya pada sibuk sendiri-sendiri dengan pekerjaannya. Bahkan ikut webinar atau bikin video singkat pembelajaran juga di kantor. Kalau pas memang butuh banget ke kelas, baru deh aku buka kelas dan sibuk bekerja di sana. Tapi, itu jarang banget.

Suatu pagi, ada kejadian yang membuatku terkejut. Ada seorang teman, guru senior, yang tiba-tiba menggendong tas dan membawa laptopnya jalan di sampingku menuju pintu keluar sambil mengomel,

"Nggak fokus kalau di sini."

Di depanku, sisi sebelah kiri sedang ada guru senior lain yang sedang senam sambil melihat video di youtube. Volume HP tuh seberapa sih kerasnya? Nggak sampai menyakitkan telinga, bukan?

Maksud dari guru yang keluar tadi, ya, siapa lagi kalau bukan karena suara HP guru yang senam tadi.

Aku hanya istighfar. Bukan menghakimi, tapi malah introspeksi diri, dulu, aku juga pernah deh beralasan malas ke kantor karena nggak bisa fokus kalau kerja di antara orang banyak. Ini kok menemui teman yang seperti itu dan aku merasa kurang nyaman. Berarti dulu teman-temanku juga merasa nggak nyaman denganku dong.

Astagfirullah.

Kemudian aku berpikir, bukankah perasaan 'tidak bisa fokus' itu kita sendiri yang ciptakan, ya? Kenyataannya, sekarang aku juga bisa berbaur dengan teman-teman di kantor, masih tetap produktif. Padahal dulu aku ya gitu, nggak bisa kalau bekerja di antara kerumunan orang yang berbicara ataupun ada aktivitas lain.

Menurutku, tuntutan kerja kemudian perasaan yang kita ciptakan sendiri itu sangat berpengaruh dengan perilaku kita, lho. Kalau kita mikirnya sudah, ah, gak nyaman nih di sini, ya sudah, semesta bakalan menciptakan suasana seperti yang kita pikirkan. Bahkan kesaanya kita yang nggak bisa berbaur dengan teman lainnya dan toleransi antar teman minim sekali.

Dari sekarang, hayuk ah, mikirnya yang positif-positif saja, karena yang negatif pasti bakalan buang energi kita secara sia-sia. Namanya hidup berdampingan kita memang harus pandai membawa diri.


Selamat hari Sabtu,

Bu Ika 💗

14 komentar:

  1. Ih aku merasa diingatkan juga jadinya sama bu guru. Harus nanemin mindset betah ditempat baru YaAllah ❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, Lulu.
      Semua tergantung apa yang kita rasa dan pikirkan. Karena alam semesta ini bekerja sesuai apa yang kita pikirkan dan bayangkan dalam otak kita.

      Hapus
  2. Bener nih Mbak. Semesta bekerja sesuai apa yang ada di pikiran kitam meski sulit awalnya tapi aku juga masih belajar melihat sisi positif dunia 😁

    BalasHapus
  3. Toleransi memang kata kunci untuk sebuah relationship yg sehat ya Mbaaa
    bisa antar teman satu profesi... atau bisa juga dalam kaitannya dgn pasangan atau anak kita.
    makasiii insight-nya ya mba

    BalasHapus
  4. betul2, skrga akupun gitu mba, kalau ada masalah buru2 reframing, supaya bisa berpikir positif dan gak stres ngejalaninnya

    BalasHapus
  5. bener bangeet mba.. memang sejak awal harus sudah berpikir positif supaya bisa menjalani segalanya dengan baik

    BalasHapus
  6. Setuju banget, Bu Guru... Kita adalah apa yang kita pikirkan. Semacam sugesti, yaa... Terima kasih sudah mengingatkan untuk selalu berbaik sangka dan berpikir positif, Bu.. :)

    BalasHapus
  7. Aku juga berusaha berpikir positif demi kesehatan diri sendiri, mba. Walau kadang mendengar celutukan2 yg bikin kuping panas dan mulut ingin menyehut. Sabar dan berpikir positif memang perlu usaha dan tekad.

    BalasHapus
  8. Penting banget emang berfikir positif itu ya, karea sebenarnya yang merusak diri kita itu bukan orang lain tapi pikiran buruk kita...

    BalasHapus
  9. Nah ini kadang aku juga gitu di rumah sekarang merasa gak fokus mau ngeblog atau nulis, trus suami bilang gak boleh gitu, kita harus bisa mengikuti kondisi :-D iya juga sih. Karena gak bisa mengatur orang lain juga kan

    BalasHapus
  10. Ya mba saya juga sama sekarang selalu untuk berpikiran positif dengan lingkungan, berusaha untuk selalu berhubungan baik biar terhindar hal2 yg gak diinginkan krn bisa2 ujungnya stress kalau dipikirkan semuanya

    BalasHapus
  11. Hehehe aku kyknya tipe kyk temannya mbak gtu, gak bisa kerja kalau ada suara. Apalagi musik, gak bisa hehe.
    Tapi kalau emang ruangan kerjanya di situ ya mau gak mau kudu adaptasi, menyesuaikan kondisi aja. Kalau temannya keterlaluan keras volumenya ya ditegur aja, krn aku gak sungkanan haha :P

    BalasHapus
  12. Benar.
    Tapi kalau lagi sensi, suka mikir yang negative juga sih..

    Alhamdulillah,
    Dapat insight dari blog kak Diyanika untuk menciptakan suasana hati yang senantiasa berpikir positive.

    BalasHapus
  13. Tapi memang ada loh Ika tipe orang yang kalau kerja harus di tempat sunyi. Itu bukan masalah tidak bisa menerima orang lain, tapi lebih kepada kesadaran diri bahwa dirinya memiliki keterbatasan dalam berkonsentrasi.

    Bisa nulis gini karena aku tipe yang kayak gitu hehehe... Soal berbaur dengan orang lain tentunya dirimu tau lah ya tipeku gimana. Tapi kalau untuk kerja serius, memang tidak bisa barengan dengan orang lain. Bahkan untuk membaca buku aja aku kesulitan saat berada di tengah banyak orang.

    BalasHapus