Wednesday, 28 August 2013

Review Kompas Edisi Selasa, 27 Agustus 2013 “Guru Diajak Kenali Daerah Perbatasan”


Saya merasa beruntung dilahirkan di tanah Jawa
Semua serba mudah
Apapun murah
Saya juga merasa beruntung telah digiring menjadi calon guru



Guru juga butuh kesejahteraan! Tak memungkiri sekalipun telah mengabdikan diri pada negara untuk membayar hutang negara pada anak negeri dalam mencerdaskan anak bangsa, guru juga butuh uang “transport”.

Kemah Wilayah Perbatasan yang diadakan di Nunukan, Kalimatan Utara itu bertujuan agar 47 guru SMA/SMK/MA dari 34 provinsi di Indonesia tahu bahkan sadar akan keadaan pendidikan di daerah perbatasan.

Tujuannya mungkin ingin menyentil guru yang 'enak-enakan' di sekolah. Lupa tugasnya. Sedangkan di luar sana? Ngelus dada.

Daerah perbatasan, ini adalah suatu daerah terdepan di negeri kita yang menyapa negara tetangga. Tapi kenapa justru kurang perhatian ya? Bukankah kalau dianalogikan layaknya diri kita, maka daerah perbatasan ini seperti busana yang kita pakai. Tak perlu yang mahal, sederhana tapi bersahaja. Tapi kenyataan daerah perbatasan di negara kita bagaimana?

Memang benar, selama ini jumlah pendidik PNS dan fasilitas di sana cukup memprihatinkan. Giliran pendidik  non-PNS hadir secara sukarela untuk mengabdikan diri malah tak tersentuh. Hoh~

Saya sebagai mahasiswa calon guru sesungguhnya prihatin. Karena secara umum mahasiswa saat ini inginnya mendapat tugas di kota. Lha yang daerah? Sekalipun kalau SK awalnya di daerah maka nantinya akan minta pindah juga. Sebenarnya salah anak daerah itu apa ya? Bukankah mereka juga sama-sama memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Ya, itupun sudah tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945, kebanggan kita. Koreksi diri L

6 comments:

  1. Pemerataan pendidikan yg kurang mengakibatkan orang pinggiran itu tidak mempunyai kesempatan yg sama dalam pendidikan, hanya dari mereka yg kayalah yg keluar untuk belajar di kota besar. Dan lagi2 pendidikan kita kurang mengajarkan tentang etika, empati dan moral sehingga mereka yg sudah keluar ke kota tidak mau kembali kedaerah.
    Orang kotapun demikian juga tidak mau peduli kedaerah karena sudah terlalu enak dan serba tercukupi dan dalam pendidikan kita sangat minim diajarkan bagaimana untuk menjadi petarung yg handal dan pembawa perubahan.

    ReplyDelete
  2. aku sudah mengalami ngajar sebagai pendidik di daerah. Jauuuuh banget situasi plus fasilitas dengan kota. Pokoknya serba minim deh. Kapan yaa kesempatan maju bisa sama diperoleh dengan yang dikota ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kata ibuk ku mbak, ketika satriyo piningit keluar dari gentong mbak.

      Delete
  3. salah satu impian saya, ingin jadi bagian tim Indonesia Mengajar :)
    salam kenal, (calon guru juga hhe...)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga tercapai.
      Kalau bisa jangan hanya pas jadi bagian dari Tim Indonesia Mengajar, selanjutnya setelah itu juga harus dilanjutkan!

      Delete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!