Wednesday, 15 July 2015

Saat Suami Sakit

Assalamualaikum.

Ah, abi itu sakit karena disengaja! Awalnya, saya berpikir seperti itu. Akan tetapi, melihat suami teler dan nggak berdaya, naluri sebagai seorang istri muncul dong dalam diri saya. Berusaha merawatnya dengan cekatan.

Saya sebut ini berkah di bulan ramadhan. Di minggu terakhir bulan ramadhan ini suami tiba-tiba jatuh sakit. Bukan sakit yang berat, hanya flu. Akan tetapi, flu kali ini berbeda dari biasanya. Kalau biasanya suami flu tanpa demam, eh ini demamnya tinggi banget. Otomatis saya kalap dong.

“Abi sih, dah tahu ada gejala flu malah minum es mulu!!” amuk saya. Suami malah nyengir.
***
Tepatnya saat selesai buka puasa dan sholat maghrib, tak seperti biasa, suami malah nggak kelihatan batang hidungnya. Pas saya tengok ke kamar, suami malah mapan dan tampak wajahnya mangar-mangar (memerah karena demam).

“Loh, kok panas banget?” tanya saya setelah memegang kening suami.

Segera deh saya minta suami mengenakan baju lengan panjang (saat itu hanya mengenakan kaos gandhul). “Panas banget, Mi, rasanya.” tutur suami. Segera saya mengambil air hangat dan mengompresnya. Tahu menantunya sedang tepar, ibu langsung membelikan obat penurun panas di apotek dan suami langsung meminumnya.

Ini sakit terparah yang pernah suami alami. Sampai-sampai saya harus terjaga tiap kali suami mengigau. Memastikan dia baik-baik saja dan mengganti kain kompresnya. Tidur sejenak, “Minum, Mi.” pinta suami. Sebentar-sebentar suami ngigau lagi, saya refleks bangun dan menanyakan keadaannya, “Nyuwun apa, Bi?” suami hanya menggeleng dan kembali tidur. Memegang keningnya, ah, masih panas. Berulang kali seperti itu.

Alhamdulillah sekali, dekbay dalam kandungan saya saat itu ngerti banget kalau saya sedang begadang. Jadi, dia tak banyak bergerak. Ikut prihatin kali ya pas Abinya sakit.
Saya kurang tidur. Gara-gara suami nih. Harusnya kan suami bisa mencegah sakit ini. Apa suami sengaja ya? Agar saya memperhatikannya terus. Sebel, sebel, sebel..!
Wajarkah pemikiran seperti itu? Di usia pernikahan hampir 8 bulan, di usia kehamilan saya yang ke 7 bulan, apakah saya masih memimpi-mimpikan kalau pernikahan itu adalah ladangnya kebahagiaan tanpa ada duka?

Kalau ngomongin soal pernikahan, saya masih abal-abal. Yang saya sadari inilah perjalanan hidup yang sesungguhnya, bukan? Bahwa pernikahan adalah sekolah terbaik bagi setiap manusia. Kalau saya belum menikah saya tak mungkin bisa seperti ini.

Ketika masih sendiri, mana ada rasa sedih melihat suami sedang sakit? Mana ada perasaan mengalah untuk tidak tidur demi menjaga suami? Mana ada rasa cemas saat suami tak kunjung pulang kerja? Mana ada rasa khawatir saat motor suami bocor di tengah perjalanan? Mana ada perjuangan mengalahkan ego dalam diri demi kepentingan keluarga? 

Pernikahan memberikan pelajaran penting bagi saya, apalagi kalau bukan mengalahkan ego yang terlalu terumbar, dulunya.

Tepat sekitar pukul 02.00 WIB, alhamdulillah, demam suami sudah mulai turun. Saya tinggalkan suami untuk mengambil air wudhu. Saat saya kembali, suami sudah tampak tidur pulas. Alhamdulillah. Saya kenakan mukena, bersyukur pada Allah atas berkahnya di bulan ramadhan ini.

Usai, saya setting alarm HP pukul 03.00 WIB. Alhamdulillah, atas izin Allah saya bisa bangun untuk sahur dan demam suami sudah turun. Alhamdulillah lagi, suami bisa ikut berpuasa, sekalipun awalnya harus drama dulu dengan saya.

“Kayak sakit parah saja! Abi akan puasa.”

Lagi-lagi saya hanya bisa bersyukur.

4 comments:

  1. alhamdulillah....semoga suami dan mbk ika serta debay diperut diberi kesehatan aamiin

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, semoga selalu sehat sekeluarga ya, mba Ika.

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!