Sunday, 9 August 2015

Apakah Salah Jika Anak Nakal?

Cerita Pertama

“Tadi pas ibu pulang dari pasar, ada anak kecil dipukulin pakai sandal. Iya, sama ibunya, bapaknya juga ikutan. Bukan orang sini sih. Kasihan. Ihh...bajunya sampai kotor semua. Kena debu yang nempel di sandal bapak ibunya.”

Begitulah cerita ibu. Ia juga menambahkan kalau anak tersebut menangis sampai dipukuli orangtuanya karena meminta dibelikan mainan. Akan tetapi, anak tersebut tidak sronto (sabar) atas janji ibunya yang akan membelikan mainan tersebut di dekat rumah mereka saja. Pukulan bertubi-tubi jadi hadiah atas kenakalannya.

“Kenapa nggak dibeliin di sini saja ya? Kan anaknya biar nggak rewel.” imbuh ibu saya.

*** 
Apakah salah jika anak nakal?
Cerita Kedua

“Kasihan banget, Dek. Kan tadi antre beli cabe. Sebelah ibu ada perempuan seumuran kamu-lah. Sama anaknya umurnya 3 tahunan. Mungkin capek kali ya, tahu-tahu dari posisi duduk anak itu langsung berdiri. Nah, kepalaya itu kejedot dagu ibunya. Refleks. Ibunya tadi nyubit tangan anaknya sampai merah sambil marah-marah. Anaknya tadi langsung menangis. Sesenggukan. Bukannya kepala anak itu juga sakiit ya? Eh, malah ditambah cubitan maut. Kan kasihan. Ibu nggak tega. Ibu cup cup sambil ibu elus tangannya tadi dia langsung diem.”

Saya yang mendengar cerita ibu malah pengen mewek sendiri. Terharu. Ngerasa kok kejam banget ya ibunya itu. Duh, segitunya kah? Sudah cukup cerita pertama membuat sesak di dada, eh ditambah cerita yang kedua ini.

Mungkin ada yang nyeletuk, “Ah, kamu kan belum punya anak, jadi komentarnya gitu. Coba aja nanti kalau punya anak sendiri juga pasti gitu.”

***

Ibu saya itu memang cerewet. Tapi selama 23 tahun ini saya tidak pernah sekalipun merasakan ada tangan ibu mendarat kasar di tubuh saya. Ada lho tetangga yang hobi banget main tangan kepada anak-anaknya, sekarang anaknya jadi apa? Amburadul.

Beda lagi cerita saya saat di sekolah. Di tahun ajaran baru ini murid saya hanya 23 siswa (dulu 33 siswa). Tapiii.....yang tahun ini sungguh keterlaluan nakalnya. Setiap hari saya bisa habis air minum 3 botol karena mulut tak berhenti ngoceh sana-sini.

Sebenarnya ‘pembuat onar’ di kelas saya hanya 4 siswa, ya namanya juga anak-anak, yang lain pada ikutan terpengaruh. Ya sudah deh bubar jalan. Lelah? Iya. Terlebih lagi saat ini sedang mengandung. Tubuh lebih mudah lelah. Tapi saya tak mau menyerah. Harus selalu cari cara agar anak-anak nakal ini bisa diatasi.

Selama mengajar, yang selalu saya ingat adalah jangan sampai main tangan. Sesekali memang kalau pas gemeeeesss banget, tangan saya pengen nyubit. Akan tetapi, ada perasaan takut kalau cubitan itu akan membekas di hati anak-anak. Ini nih yang menakutkan.

Sejauh ini, jurus jitu saya ya, mulut nerocos terus sambil membimbing mereka pelan-pelan. Oya, saya juga biasanya mencomot ‘pembuat onar’ untuk berdiri di samping saya untuk beberapa waktu. Kalau dia sudah tampak ‘melas’ saya pun bertanya padanya apakah tahu kesalahannya apa. Sejauh ini cara trersebut berhasil. Tapiii (lagi), namanya juga anak-anak, ‘pembuat onar’ satu tobat yang lain tumbuh.
Setidaknya ada tiga pilihan yang diberikan oleh syariat saat kita tak mampu menghadapi ketidak beresan.
  1. Merubahnya dengan tangan kita, dengan kekuatan, jika kita punya power dan wewenang.
  2. Jika tidak bisa dengan tangan, maka dengan lisan kita, melalui nasihat, teguran atau bentakan.
  3. Jika tidak bisa semua, maka dengan ingkar dalam hati, menyatakan bahwa perbuatan amoral itu salah. Dan ini tingkatan iman terindah.
Inilah seninya jadi guru. Setiap hari harus belajar. Bukan hanya tentang materi pelajaran melainkan tentang psikologi anak-anak pula. Oke. Ini adalah lumrah. Lagipula baru awal tahun ajaran. Saya punya keyakinan penuh kalau anak-anak ini bisa kok diatur. Paling tidak mereka tahu apa itu namanya tanggung jawab.

Terlebih lagi, bukankah itulah sifat khas anak-anak yang muncul karena keingintahuan mereka akan sesuatu sedang memuncak. Apa-apa ingin dia ketahui, penasaran. Mencoba ini dan itu. Ah, sayangnya, masih banyak yang menganggap kalau semua itu adalah suatu kenakalan anak yang harus dibatasi bahkan ditiadakan. Lagi, bukankah ini tugas orangtua, guru, untuk selalu membimbing, mengarahkan, memberitahu,  dan memberi contoh kepada anak-anak. Ah, semoga kita semua bisa menjadi orangtua yang tepat bagi anak-anak kita. Aamiin.

Kalau Anda, apa yang sering Anda lakukan tiap kali anak sudah mulai muncul tanda-tanda nakalnya? Bagaimana menyikapi kenalakan anak-anak?

18 comments:

  1. iya mbak kadang gemes klo anak udah mulai "pinter" klo udah ga sabaran...brasa nguap deh teori psikologi pendidikan sm pedagogika.. nyesel juga akhirnya klo udh marah sama anak apalagi anak sendiri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar ya Bu dalam mendidik anak.. ehh tapi saya juga kadang begitu ding.. hehheh :D

      Delete
    2. Mbak Tetty: Secara teori emang mudah ya mbak eeeeee praktiknya hihihihi

      Delete
  2. kalo menurut yg pernah saya baca, kalo anak lagi tantrum orang tua ak boleh ikut tantrum, harus bisa sabar, biasanya anak nakal karena lingkungan atau dari rumah sendiri jadi lebih baik diberi pengenrtian tanpa kasar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh mbak. Pas ikut seminar parenting juga gituuu kudu sabar tapi tetap kgan terlenaaa.

      Delete
  3. Waaah gimana ya? Kadang nggak terkontrol juga sih kalau sudah marah. Tapi sama seperti ibumu, jangan pernah tangan melayang.

    ReplyDelete
  4. Betul Mak, sebenernya nggak ada anak yang nakal. Kadang aku sakit hati banget kalo ada anak tetangga yang dimarahin ortunya habis-habisan. Pengen negor, tapi kok ya sungkan T___T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perkara negor itu yg sering jadi perkara ya mbak. Nggak negor kok kayaknya nggak peduli eh negor kok ya lancang banget.

      Delete
  5. Artikel yang angat memberi infirasi buat menekuni kesabaran dalam mengasuh dan mendidik Anak buah hati belahan jantung ya Mbak..?

    ReplyDelete
  6. kalo baca-baca artikel parenting, katanya sih gak ada yang namanya anak nakal :) adanya anak yang mencari perhatian, anak yang kurang kasih sayang, anak yang serba ingin tahu.. dan sebagainya.. sepertinya yang dibutuhkan banyak orang tua adalah "pengetahuan" dan "ilmu" bagaimana jadi orang tua yang bijak dan bisa menstimulasi anak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah maka benar kalau jadi orangtua itu nggak ada sekolahnya ya mbak. Tapiiiii kudu tiap hari belajar.

      Delete
  7. Jangan sampai tangan melayang, sakit di kulit udah nggak terasa tapi sakit hatinya bisa tak terlupakan. Aku sih berusaha jangan sampai mencubit, dll nya itu. Biasanya kalo sampai anak melakukan kesalahan, cukup diajak ngomong dari hati ke hati. Tapi bungsuku dl sempat juga bikin panas emosi, hihii. Kalo udh gitu, aku biasanya pergi ke ruangan lain, tarik napas atau ambil wudlu. Langsung hilang deh amarah hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita sendiri juga haruus bisa mengendalikan diri kita ya Mbak. Takutnya nanti malah kita yang kebawa suasana malah keblabasan.

      Delete
  8. Aduuuh, anak itu kan titipan Allah koq ya malah disakitin sih. Yang lain mengharap dengan harapan yang menggebu belum juga dikabulkan, sampe ada yang mancing anak, maksudnya supaya hamil dengan mengambil anak dari Panti. Semoga Ibu2 seperti itu cepat disadarkan olehNya. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Bun. Semoga doa kita semua terkabulkan.

      Delete
  9. Samaa nih mak, suka geregetan pengen nyubit kl anak2 lg pada pecicilan di kelas. Kl saya sih suka nyoba panggil langsung anak yg ribut, kasih dy tugas jwb ptanyaan, dsb biar dy lebih sibuk.

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!