Tuesday, 10 May 2016

Jadilah Ibu yang Tegas Saat Anak Sembelit


Jadilah Ibu yang Tegas Saat Anak Sembelit. Lihat si kecil mengejan sampai keluar keringat kemudian menangis tapi tak ada BAB yang keluar dari duburnya. Apa yang Anda rasakan? Apa yang kemudian Anda lakukan? Cari solusi di internet? Tanya teman sana-sini dan makin bingung saran mana yang ingin Anda lakukan? Ah, saya pernah melewati masa itu dan menyebalkan sekali setiap mengingatnya. Bodohnya saya ini.

Kata orang, si kecil yang sedang MPASI wajar-wajar saja kena sembelit karena saluran pencernaannya sedang menyesuaikan makanan yang masuk. Tapi kenapa Kak Ghifa mengalaminya saat dia sudah hampir sebulan MPASI? Lagi pula menu MPASI-nya juga gak beda-beda amat. Mungkinkah pengaruh obat ya?

Saat Kak Ghifa kena sembelit, memang berbarengan momen saat dia kena bapil (batuk pilek). Dasar saya itu panik-an, anak sakit langsung dibawa ke bidan terdekat. Padahal kata orang, “Awas nanti dikasih antibiotik. Itu nggak bagus buat pertumbuhan anak.” Ya Allah... saya nggak paham betul soal ini. Setelah sampai di rumah, ya minum obat. Saran teman pula, bapil pada si kecil itu kalau nggak parah-parah banget nggak perlu dibawa ke dokter, cukup dijemur aja. Dan saya nggak paham soal itu (lagi). Yang saya tahu jemur itu ya buat si kecil di bawah 6 bulan, kan geraknya belum terlalu mencak-mencak. Kalau sudah hampir 8 bulan kayak Kak Ghifa sudah keterlaluan geraknya. Susah dijemur. Lari mulu.

*Obat bapil itu diminum Kak Ghifa selama 3 hari tapi nggak terlalu ada efeknya, akhirnya saya stop, dan beberapa hari kemudian sembuh dengan sendirinya.

Balik lagi soal sembelit. Hampir 5 hari Kak Ghifa gak bisa BAB. Dia kentut terus, duh baunya, busuk banget. Kayak kentut orang dewasa, malah lebih parah.

Saat tak sembelit, Kak Ghifa rutin BAB sehari dua kali, pagi dan sore. Nah, bisa dibayangkan-lah ya, kalau 5 hari belum BAB tapi makan tetap lahap. Saat asik bermain, tiba-tiba dia mengambil posisi merangkak kemudian mengejan, eeekk, keringatnya keluar memenuhi keningnya, tapi saat saya intip celananya, tak ada yang keluar. Kemudian dia agak ihik-ihik, perutnya saya pijat sebentar saya kasih minyak telon, dan dia kembali main kembali. Seperti itu terus.

Apa yang saya lakukan selama 5 hari itu? Inilah yang saya lakukan hasil dari browsing dan tanya teman-teman.
  1. Tetap memberi makan Kak Ghifa seperti biasa. Setelah curhat sama teman katanya kasih jus buah, saya beri jus pepaya dan pir, alhamdulillah lahap. Apakah langsung BAB? Tidak.
  2. Saat bermain bersama (Kak Ghifa mau dibaringkan) atau hendak pergi tidur, saya ajak dia melakukan gerakan gowes sepeda. Dua kakinya saya pegang dan saya tuntun untuk melakukan gerakan gowes.
  3. Saat Kak Ghifa mengejan saya memijat perutnya dengan gerakan ILU.

Jadilah Ibu yang Tegas Saat Anak Sembelit
Gerakan ILU
sumber gambar: pijitbayi.blogspot.co.id
Apakah ada hasilnya? Ada. Kak Ghifa BAB, tapi dikit-dikit. Dia tetap mengejan, berkeringat, dan nangis. Akhirnya saya nggak tahan melihat penderitaan Kak Ghifa. Tak peduli lagi nasihat teman, risih juga mendengar ibu ngomel minta saya buat beli obat pencahar, saya pun pergi ke apotek buat beli obat pencahar itu.

Sesampai saya di rumah (habis dzuhur), ibu saya langsung tak sabar untuk memasukkan setengah dari obat tersebut lewat dubur Kak Ghifa. Tak ada satu menit, Kak Ghifa langsung mengejan dan menangis sekeras-kerasnya. Bersamaan dengan itu, keluarlah tinjanya dalam bentuk seperti tinja orang dewasa tapi sangat keras menyerupai kotoran kucing. Saya sampai tak tega mendengar tangisannya. 

Apakah Kak Ghifa hanya BAB sekali? Tidak. Satu jam setelah BAB pertama, Kak Ghifa BAB lagi, bentuknya masih seperti kotoran kucing tapi tak sekeras yang pertama. Sekitar pukul 16.00, Kak Ghifa BAB lagi, banyak, agak lembek dan seperti ada lendirnya. Mungkinkah lendir itu jel obat pencahar?

Lega rasanya Kak Ghifa bisa BAB. Dia tak lagi mengejan-ejan. Ibu saya sampai bilang, “Kenapa nggak kemarin-kemarin sih belinya (obat pencahar)?” Duh, kalau dijelasin panjang lebar nggak bakalan selesai deh. Saran dari beberapa dokter (hasil baca di internet), obat pencahar bukanlah obat satu-satunya untuk mengatasi sembelit. Kalaupun menggunakannya harus sesuai saran dari dokter. Pun karena darurat saja, makanya saya pakai ini.

Apa kabar hari selanjutnya? Pagi hari, Kak Ghifa BAB lagi, tapi sedikit. Sampai akhirnya, dua hari Kak Ghifa nggak BAB lagi. Masak iya sih harus pakai obat pencahar lagi? No...obat itu tidak untuk penggunaan rutin. Saya panik lagi. Piye to iki? Sambil tanya-tanya sama teman lagi, ada saran masuk, “Saat anak sembelit, yang dikoreksi tidak hanya menu makan anak saja. Karena Ghifa masih ASI ya kamu juga harus ngoreksi makanan kamu apa? Berserat nggak? BAB kamu bagaimana?”

Betul kata teman, sebenarnya BAB saya juga sedang tak teratur. Biasanya sehari sekali ini kok sudah dua hari belum BAB. “Coba kamu konsumsi yogurt. Nanti kan Kak Ghifa juga bisa merasakan lewat ASI. Yogurt itu ampuh untuk melancarkan pencernaan.”

Jadilah Ibu yang Tegas Saat Anak Sembelit

Yogurt? Itu kan minuman kesukaan saya sejak hamil. Iya ya, kok nggak kepikiran. Sepulang dari sekolah saya langsung mampir ke mini market dan beli tiga botol yogurt dengan varian rasa yang berbeda. Saya minum satu botol di sana dengan harapan nanti pas saya pulang dan Kak Ghifa menyusu bisa merasakan yogurt tersebut dan bisa BAB lancar.

“Bismillah.” Saya teguk yogurt tersebut.

Sesampainya di rumah, Kak Ghifa masih tidur. Setelah saya beres bersih-bersih badan, Kak Ghifa pun bangun dan segera saya susui. Saya ceritakan soal yogurt itu pada ibu, dan kami harap-harap cemas sambil berdoa Kak Ghifa akan BAB. Maghrib tiba, Kak Ghifa pun BAB juga, dan banyak sekali. Alhamdulillah.

Dari kejadian Kak Ghifa yang sembelit, bisa saya ambil kesimpulan kalau jadi ibu itu harus tegas. Jangan ela-elu, kut sana-sini. Kalau mantab dengan satu obat ya hajar. Kalau percaya sama yang alami ya cap cus. Bertanya kepada teman itu penting, tapi jangan sampai membuat kita bingung. Nah, apa saja sih yang harus dilakukan kalau sampai si kecil sembelit? Berdasarkan pengalaman saya, berikut tips mengatasi anak agar terhindar dari sembelit.
  1. Koreksi menu makan si kecil dan ibu (misal masih ASI). Apakah menu si kecil kurang encer?
  2. Koreksi kekentalan susu formulanya.
  3. Koreksi asupan air dan serat untuk si kecil, apakah sudah cukup?
  4. Lakukan pijatan model ILU, pijatan seperti gerak jarum jam –mulai kanan atas kemudian ke kiri, dan gerakan gowes setiap ada kesempatan, akan lebih baik kalau rutin pagi, sore, dan menjelang tidur, baik saat sembelit atau tidak.
  5. Perbanyak minum jus buah pir dan pepaya. Stop makan pisang, karena ada kalanya pisang menjadi bumerang bagi si kecil, yaitu menyebabkan sembelit. Tapi untuk beberapa kasus pisang aman-aman saja bagi si kecil, lainnya.
  6. Apakah setiap kali makan, si kecil sudah diberi lemak tambahan? Misalnya minyak, VCO, dsb?
  7. Konsumsi yogurt secukupnya untuk ibu menyusui (cari aman misal si kecil yang sudah MPASI tapi lambungnya sensitif)

Itulah tujuh tips dari saya agar si kecil terhindar dari sembelit. Kalau seminggu BAB kurang dari dua kali, perlu waspada lho. Tapi tidak menutup kemungkinan rutinitas BAB setiap anak itu berbeda ya. Kalau menemui tanda-tanda sembelit, segera waspada dan jadilah ibu yang tegas saat anak sembelit.

5 comments:

  1. kalo ponakan sembelit, biasanya sih disuruh makan pepaya matang

    ReplyDelete
  2. Setuju dengan tips koreksi di atas.Mau nambahin ya mak. Kalau sudah terjadi sembelit Bayi yang belum 1 tahun hentikan mpasinya dulu sementara termasuk sufor, dia perlu enzim2 dari ASI agar bisa mencerna makanan di ususnya. Enzim pencernaannya sendiri kadang belum memadai untuk makanan, apalagi jika frekuensi dan jumlah makannya banyak ^_^

    ReplyDelete
  3. semoga gak sembelit lagi ya. paling khawatir ya ibunya kalau anak sembelit

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah udah lancar ya, setahuku pijat ILU bukan saat mengejan tapi rutin dilakukan pagi ato sore hari

    ReplyDelete
  5. sembelin memang bikin pusing Mba :(
    dulu anak saya juga sempat sembelit karena gak cocok sama susunya. setelah ganti susu alhamdulillah BABnya lancar kembali :)

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!