Monday, 17 October 2016

Kebahagiaan Anak-Anak Itu Murah Harganya


Setiap hari bergelut dengan anak-anak, ada-ada saja cerita yang ku dapatkan. Aku sendiri sedikit lupa bagaimana cerita masa sekolahku dulu. Ada sih yang diingat, tapi tak banyak. Pertanyaan ku, apakah aku dulu juga sepolos mereka ya?

Anak-anak itu memang polos dan apa adanya. Bahkan soal arti bahagia. Aku sering melongo mendapati hal-hal yang menurutku-sebagai orang dewasa- kok kayak gitu lucu ya? Cuma seperti itu mereka bisa tertawa?

Ada satu cerita, begini..

Model tas anak-anak
Sumbe gambar di sini
Di tempatku ngajar ini kan punya tradisi keagamaan yang tiap tahunnya diperingati dalam rangka mendoakan sesepuh setempat. Nah, saat acara ini ada banyak sekali pengunjung dari berbagai daerah bahkan luar pulau yang berdatangan. Otomatis, itu semua dimanfaatkan oleh banyak pedagang untuk menjajakan dagangannya dong.

Aku pernah sekali ke acara tersebut. Ramai banget. Pengunjung dan penjualnya sama berjubelnya. Hehehe...

Apa hubunganya sama muridku?

Anak mana sih yang tak suka keramaian dengan berbagai dagangan yang dipamerkan? Ada pakaian, tas, sepatu, jajanan, permainan, sampai hewan peliharaan. Apalagi, sekolah sengaja diliburkan demi acara tersebut. Dijamin mereka semua nggak ada yang nggak ke acara tersebut.

Alhasil, saat berangkat sekolah mereka pada berebut cerita kepadaku.

"Kemarin kalian beli apa?"

Semua pada angkat tangan dan berteriak.

"Bakso."
"Yuyu rumpung."
"Tas."
"Es krim."
"Ikan mas."
"Siomay."
"Cepet (aksesoris rambut)."
"Jam tangan."

Dari kesekian anak yang berteriak, aku penasaran dengan anak yang katanya beli tas.

"Ini ya tas barumu?" tanyaku.
"Iya." jawab muridku antusias.
"Harganya berapa?"
"SEPULUH RIBU."
"Yang bener?" tanyaku heran.
"Iya, Bu."
"Punya ku LIMA BELAS RIBU." usul muridku lainnya.

Aku bengong dong. Mereka? Ceria banget. Satu sama lain saling bercerita secara antusias apa saja yang dibelinya. Aku malah membatin. Masih ada ya tas seharga sepuluh ribu? Ini tas sekolah lho. Bahannya juga nggak jelek-jelek banget. Pantas lah dipakai. Terlebih lagi muridku pada seneng banget dengan tas barunya atau barang lainnya yang dibeli.

Hanya karena uang SEPULUH RIBU mereka bahagia banget?

Kalau untukku sendiri uang segitu dapat apa? Beli belanjaan buat sehari masih kurang.

Ehm, aku jadi ingat masa kecilku dulu. Tepatnya saat aku masih duduk di kelas 1 Madin. Dulu, aku paling seneng banget kalau ibu membelikanku tas dari plastik warna hitam yang bertuliskan Garuda Indonesia. Sumpah...seneng banget! Tas seharga DUA RATUS LIMA PULUH RUPIAH itu jarang yang punya. Puol bahagia ku. Iya, bahagia dengan tas seharga itu.

Haruskah membeli pakaian bermerk?
Sumber gambar di sini

Tapi, sekarang...

Sedihnya, makin ke sini aku sering merenung. Bisa nggak ya kalau nggak harus beli baju, tas, sepatu, kerudung, bahkan daleman yang bermerek dan tentunya dengan harga agak mahal. Apa iya harga bahagia akan semakin meningkat berbanding lurus dengan usia? Bahagiamu harganya berapa?

25 comments:

  1. Senang ya mb menjd guru bertemu dg anak2 tiap hr...aku dulu pengin bgt jd guru tp g kesampaian.hiks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi sekarang kan jadi gurunya anak-anak ya mbak. Sepanjang hari malah.

      Delete
  2. Bahagia itu tidak perlu mahal, cukup sederhana dan berkecukupan aja udah bahagia saya mah mba :-)

    ReplyDelete
  3. Kalau saya pribadi mah malah suka eman kalau beli barang di atas harga 250 ribuan mbak, bagi saya yang penting saya suka dan nyaman pakenya, mau tas, sepatu, daleman harga di bawah 100ribuan aja gak masalah kok heuheu, bahagia itu sederhana, tidak diukur dengan uang, tapi kalau hadiahnya gratis mah dikasih mahal juga gak nolak hihihi

    ReplyDelete
  4. Aku bukan ke gengsinya Mbak, melainkan sama kualitas barangnya. Apalagi sekarang aku nerapin hidup minimalis. Kalok gak perlu ya gak belik :D

    ReplyDelete
  5. Sesungguhnya yang dibutuhkan adalah barang berikutnya, bukan mereknya. Maka, mari berpikir sebagaimana anak-anak itu. Ya, sesederhana itu. Agar lebih mudah bahagia :)

    ReplyDelete
  6. memang mbak, anak2 itu gampang bgt dibikin bahagia :D.. anakku udh sangat happy kalo tiap malam aku mw bacain cerita buat dia , ato bhkan beli buku gambar tipis yg cuma 2 halaman di penjual yg bawa gerobak gitu doang.. hrgnya jg cuma 500 perak! biasanya dia beli kalo abis pulang sekolah dgn baby sitternya. dan itu aja udh dgn bangga nunjukin ke aku pas pulang kerja :D.. ga ush takut kantong bolong kalo utk nyenengin anak2 ya :)

    ReplyDelete
  7. Kalau aku mungkin melihat dari kualitas barang mbak. Soalnya lbh baik beli yg mahal berkualitas baik tapi bisa awet, ketimbang beli yg murah tapi gampang rusak. Lbh mikir ke hemat dan ekonomis di awal hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, kadang kala berpikiran seperti itu juga.

      Delete
  8. Ada kalanya beli yang harga menengah biar lebih awet untuk barang-barang tertentu, tapi kalau untuk pakaian lebih milih yang murah meriah.

    Anak-anak polos sekali ya... seneng melihat mereka tertawa :) kudu belajar dari cara mereka yang sederhana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh Mbak.
      Perhatiin aja tingkal polah Hasna pasti ada cerita setiap gerak geriknya.

      Delete
  9. Anak2 gak paham brand dan harga ya mba. Kmrn ipadnya rusak n krn sbnrnya gak pingin beliin mrk gadget krn banyak pwrtimbangan dibeliin lah tab dr mrk lain yg harganya jauh bedam sekedar utk sabtu minggu. Dan mrk tetep seneng2 aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kita bisakah tidak mengenal brand? Hahaha

      Delete
  10. Anak-anak adalah guru paling jujur bagi kehidupan. Dulu saat masih kanak-kanak kita juga seperti mereka melihat dunia apa adanya...bukan ada apanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Dwi, kalimat terakhir menohok banget!

      Delete
  11. Bahagiaku cukup window shopping di SmartPhone aja mba,syukur2 jaid beli hihi

    ReplyDelete
  12. Ish, dulu dikasih ortu buat sangu sekolah 500 perak aja sudah senang, sementara yang lain bisa 2000-an.

    Sekarang? Hmm, baju saya masih yang itu-itu juga. Harganya juga gak ada yang fantastis dan bukan brand ternama. Yah, masih gini-gini aja.
    Bedanya hari ini saya tahu merk dan bahagia banget kalau bisa dapatin itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...
      Kebanggaan tersendiri ya Mbak misal bisa dapat yang bermerk. Apalagi dapatnya yang gratis alias endors. Hahahaha

      Delete
  13. Anak2 mah polos, mereka bahagia jika mendapat sesuatu yg baru walo ga bermerk. Orangtuanya yg kadang tanpa sadar merubah sifat polos itu. Membelikan anak barang yang mahal. Dari yang ga ngerti lama2 anak mulai menerima dan terbiasa dengan barang bermerk, betul ga?

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!