Wednesday, 17 May 2017

Si Miskin Dilarang Berprestasi


"Kenapa sekarang aku jadi guru? Padahal semasa kecil, aku beberapa kali dibully oleh oknun mereka dan itu masih membekas sangat dalam."

Orang miskin dilarang berprestasi

Mau kaya, miskin, cantik, berkulit hitam, rambut keriting, laki-laki, perempuan, anaknya dokter, anaknya petani, bahkan anaknya pemulung, bukankah mereka berhak berprestasi?

Ini adalah kisahku, tentang kenangan masa kecil yang paling membekas ingatan. Kisah ini ku tulis untuk menjawab tantangan dari Mbak Anjar Sundari sama Mbak Nia Nurdiansyah, sekaligus sebagai terapi agar ingatan yang menyiksa ini sedikit menguap.

Waktu itu aku kelas 5 SD. Seperti pada umumnya, kelas 5 itu masa unjuk gigi. Apapun lombanya, kelas 5 lah yang maju.

Tak pakai seleksi, aku dan temanku, Desi (bukan nama sebenarnya) ditunjuk oleh guruku untuk dilatih main alat musik pianika. Kabarnya, 3 bulan lagi akan ada lomba main pianika di tingkat kabupaten.

Hati anak mana yang tak girang? Setiap sore, sepulang sekolah madrasah, aku mengayuh sepedaku ke rumah Pak Giyono (bukan nama sebenarnya). Mau hujan, ada angin ribut, petir menyambar-nyambar, aku tetap semangat sekali latihan.

Aku masih ingat saat itu lagu yang ku pelajari ada 2, yaitu Indonesia Raya (lagu wajib) dan Desaku (lagu pilihan).


Setiap ada waktu kosong di rumah, aku selalu berlatih main pianika. Aku jadi keranjingan main musik yang ditiup itu. Bahkan, saking seringnya latihan, aku sampai hapal letak tuts-nya. Jadi, pas main pianika matanya ke mana, jarinya ke mana. Sombong banget ya diriku. Hihi.

Sampai akhirnya, sore yang kelam itu tiba. Sebelum pulang latihan, seperti biasa, ada koreksi ini dan itu. Tapi, ada yang beda dari raut wajah guruku. Serius banget. Ternyata hal itu karena,

"Ika, latihannya sampai hari ini saja. Pianika yang kamu bawa ditinggal sini. Dan kamu Desi, besok pagi kamu akan berangkat lomba. Papa dan Mama mu sudah pak guru beri tahu."

Deg! Deg! Deg!

Aku masih nggak percaya apa yang dikatakan oleh guruku. Apa aku salah dengar?

Jadi, hanya seperti ini saja? Aku nggak dipilih? Kenapa selama ini diajak latihan? Kenapa dari awal tidak diberitahu kalau dari kami akan dipilih salah satu. Bukan dua-duanya?

Bukankah selama ini kalau latihan Desi selalu salah main pianikanya? Dia juga sering telat. Bahkan sering absen latihan.

Aku pulang dengan lesu. Masih merasa tak adil. Kenapa Desi? Kenapa tidak aku? Apa aku yang terlalu kepedean?

Pagi harinya, saat di sekolah, kulihat Desi turun dari mobil papanya, yang seorang dokter itu. Dia masuk ke dalam kantor guru. Pak Giyono dan 1 guru lainnya mengikuti Desi kembali ke dalam mobil.

Ternyata, mereka berangkat lomba dengan menumpang mobil papa Desi. Seketika aku yang saat itu masih polos dan unyu-unyu merasa, "Karena aku nggak punya mobil, makanya aku nggak dipilih?"

Entah aku yang terlalu suudzon atau tidak, rasanya guruku itu pilih kasih. Kenapa bukan karena kemampuan yang kami miliki-lah yang jadi indikator penilaiannya?

Siangnya, saat istirahat kedua, Desi sudah sampai di sekolah lagi. Teman-teman lain langsung mengerumuninya, "Dapat juara berapa, Des?" Dia hanya senyam-senyum nggak jelas. Aku hanya bisa memperhatikan dari jauh. Aku nggak sampai hati kalau harus mendekatinya.


Sampai sekarang, Desi juara berapa, masih jadi misteri. Akan tetapi, seandainya dapat juara, dia pasti pulang bawa piala. Kemudian pas upacara bendera akan diumumkan. Kenapa tak ada piala yang nongol juga?

Jahatnya diriku saat itu adalah, "Rasain deh, nggak dapat juara!"

Hihihi. Dasar anak-anak ya.

Bukankah perasaan itu wajar?

Ah, itu belum seberapa. Selama latihan sebenarnya sudah kelihatan juga sih kalau Pak Giyono itu pilih kasih. Beliau sering sekali main tangan, mencubitku saat aku melakukan kesalahan. Kuku jari jempolnya yang panjang itu serasa menusuk tulangku. Sakit.

Saat Desi yang melakukan kesalahan bahkan sering, mana pernah beliau mencubitnya? Di sini aku merasa, si miskin memang diperlakukan tak adil.

Sampai hari ini, ingatan kejadian itu selalu berputar dalam otakku. Bahkan, saat aku bertemu dengan Pak Giyono, yang ada hanya pikiran kalau beliau jahat, pilih kasih, tidak adil. Begitu terus.

***
Bu Ika lagi akting nih

"Aku ingin diingat murid-muridku sebagai guru yang bisa menginspirasi. Sebagai panutan, teladan yang baik, sampai kapanpun."

Ku pikir, guru seperti Pak Giyono itu hanya ada di zamanku, dulu. Ternyata tidak, Saudara! Sekarang pun ada.

"Oh, goblok (bodoh)! Begini lho!" tangannya sambil mendorong pelipis muridnya.

"Kamu itu sudah dibilangin dari kemarin, bacanya yang keras! Keras! Malah nggak ada suaranya sama sekali. Ngisin-ngisini (malu-maluin), Pak Guru!

Pernah menemui yang seperti itu? Aku sering. Apalagi saat mengantar lomba muridku. Miris memang. Aku yang melihatnya ikutan sedih. Nyesek banget dadaku. Seketika ingatan masa lalu yang kelam akan berputar kembali.

Dari tahu rasanya sakit di-bully oleh guruku itulah, aku tak mau meninggalkan luka di hati murid-muridku juga.

Jujur, anak sekarang itu beda dengan zamanku, dulu. Yaiyalah yaa...contoh nyatanya saja, dulu, aku kalau dipilih mewakili sekolah untuk lomba, duh, senangnya minta ampun. Anak sekarang? Ditunjuk buat lomba malah ogah-ogahan.

Bisa dibilang, anak zaman sekarang itu motivasi belajarnya kurang. Entah, kalau di tempatmu seperti apa? Nggak bisa kalau anak zaman sekarang itu dikasar. Lha terus bagaimana?

Mendidiknya dengan hati. Sepenuh hati. Tanpa adanya embel-embel apapun. Sungguh, aku ini hanya manusia biasa. Aku pun belum bisa menerapkannya secara maksimal.

Satu hal yang bisa jadi indikator keberhasilan mendidik dengan cinta yang mudah dikenali itu saat aku tak berangkat ngajar, muridku akan sedih. Pas berangkat, mereka akan bergelayut manja sambil bertanya, "Bu Ika, kenapa kemarin tidak berangkat? Aku kangen, Bu." mulut polos muridku kelas 1 SD memang tidak bisa berbohong. Mata mereka yang selalu berbinar-binarlah yang selama ini membuatku bertahan.

Bagaimana caranya agar berhasil mendidik dengan cinta?

Kuncinya, niat dan tulus. Saat di luar kelas ada masalah, lupakan sejenak. Curahkan segala hati, pikiran, dan raga hanya untuk mereka. Bismillah, tak akan ada marah-marah di kelas, murid juga kooperatif, dan pembelajaran jadi menyenangkan serta bermakna.

Mendidik dengan hati tak melulu di dalam kelas saat pelajaran. Melatih lomba pun juga harus dengan hati. Tak ada cubitan, bentak-bentak, no no no!

Berbeda kalau pas dari rumah sudah suntuk, sampai sekolah terlambat kemudian ditegur pimpinan ya sudah dijamin 99,999 % pembelajaran akan amburadul. Murid susah diatur, pembelajaran berlangsung membosankan, siap deh bubar jalan. Nggak ada makna yang didapat.

Aku bilang mendidik model seperti itu memang wajib dilakukan oleh setiap guru. Tapi, susaaaaaah. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencoba. Karena aku ingin dicintai pula oleh anak didikku. Bukan seperti Pak Giyono. Hiks.

Pernah bertemu guru seperti Pak Giyono? Atau bahkan kamu punya guru yang cara mendidiknya penuh dengan cinta? Tentu kamu juga ingat namanya kan? Hayo, siapa?


Sumber gambar
pianika, https://www.tokopedia.com/hot/pianika
mengintip, http://tong-dishare.blogspot.co.id


32 comments:

  1. Mba, aku bacanya ikut terbawa suasana lhoo, membayangkan Mba Ika waktu lagi latihan pianika...kemudian pas hari H lomba justru ngga brngkt itu rasanya makjleb bgt u anak2...apalagi stlh tahu alasannya ga terkait dgn kemampuan tapi justru hal lain. Pengalaman yg buat sebagian orang akan jd stereotip, beruntung Mba Ika skrg bisa membalik stereotip itu dan melakukan sebaliknya. Semangat terus untuk jadi guru yg disayang dan jd panutan murid2 yaa 😊😊

    ReplyDelete
  2. duh ngenes bgt mba uda latian capek2 y kok bisa gtu alhamdulilah selama ini aku ga pernah ketemu kek pak Giyono gtu. Emang beda y mba anak skrg sama jamannya kita bener mesti pake hati smg mb ttp semangat y mjd guru yang sll dirindukan 👌💪

    ReplyDelete
  3. Aduh pasti sedih sekali ya mbak Ika, udah ikutan latihan terus akhirnya ngga dipilih padahal Desi tidak lebih baik dari mbak Ika. Hiks nyesek deh..

    Saya juga punya pengalaman hampir sama waktu SMA mbak, dengan guru matematika. Beliau pilih kasih. Kalau dg anak yg cantik/kaya pasti perhatian sebaliknya kalau anak biasa kurang perhatian. Untung saya selalu dapat nilai bagus pelajaran ini, kalau tidak pasti dimarah2i di depan kelas spt teman lain. Tapi kalau yg cantik nggak pernah dimarahi. Sebel nggak sih.. :(

    ReplyDelete
  4. y masih banyak guru yang mengabdi sama anak yg kaya, amsih banyak loh apalagi kl ortunay suka ngasih hadiah

    ReplyDelete
  5. Salut untuk Bu guru :)
    Didikan jadul.emang gt ya..main sabet kapur..mukul pake penggaris gede @-@

    Sampai sekarang masih ketemu ga ama temennya itu? Heheheeehe

    ReplyDelete
  6. Saya apresiasi atas apa yg dilakukan oleh guru yang sejatinya ingin di gugu dan ditiru, tidak banyak guru yang memang benar2 menikmati profesinya. Semangat buat guru

    ReplyDelete
  7. Aku juga pernah ikut lomba pianika, alhamdulillah jadi ikut karena yang disuruh maju aku doang.

    Kalau aku bebannya karena anak guru, capek juga jadi anak guru. Kalau berprestasi dibilang iya aja, kamu anak guru. Kalau nggak berprestasi masih diomong lagi, masa anak guru begitu. Serba salah. Makanya aku nggak mau sekolah di tempat ibuku ngajar, hihi.

    Kayanya di mana2 guru seperti ada deh, aku punya guru kelas 4 sukanya jenggiti (narik ujung rambut si bagian pelipis), dan sekelas digituin semua. Akhirnya kita kasih remason bagian itu biar kl dijenggit nggak sakit.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah guru2ku waktu SD nggak ada yg kyk gitu, malah mereka support banget kalo anak2 didiknya ikut lomba. Nggak peduli mau dr keluarga miskin ato kaya. Dulu aku juga sering diikutkan lomba, terutama yg berhubungan dengan seni

    Semangat ya bu Guru :D

    ReplyDelete
  9. Anak bungsuku ngalami dibully waktu kelas 5 SD, makanya baca ini kayak gimanaaa rasanya, sediiih...

    Alhamdulillah waktu SMP aku pilihkan sekolah yg bagus, yg ngajari agama gak sekedar teori tapi aplikasinya juga dinilai. Anak2 yg punya bakat di luar akademik, sangat diperhatikan sekolah. Jadi yg dapat penghargaan gak hanya yg cerdas akademik tapi juga yg non akademik kayak anakku

    ReplyDelete
  10. Aku jadi terharuuu 😍😍
    Terus berjuang ibu guru kece!!! Para orang tua macam kami membutuhkanmu.. 😚

    ReplyDelete
  11. Semoga pengalaman masa lalu itu bisa jadi pengingat untuk menjadi guru yang lebih baik ya mbak. Semangat mbak :)

    ReplyDelete
  12. Wah saya juga dulu sering di bully guru karena gambar saya jelek sampai akhirnya saya sekarang jadi Guru gambar yang selalu memuji hasil karya anak hahha

    ReplyDelete
  13. Sedih bgt ya mbak dpt perlakuan seperti itu huhu aku ngebayanginnya udh cukup sebel. Tp alhamdulillah malah bikin mbak termotivasi gitu untuk jd guru yg berbeda :)

    ReplyDelete
  14. Semangaaat terus ya mba jadi guru.. Semoga cerita di blog ttg kenangan gak ngenakin di masa lalu itu bisa bikin hati jd lebih lega ya mba.. Aku punya guru SMA yg baik bgt, deket sama murid2nya, sampai kita bisa curhat gitu sama dia.. Dan sampai skrg masih inget bgt sama kebaikan guruku itu.. :)

    ReplyDelete
  15. Aku belum pernah sih mba punya guru kayak pak giyono ini.. Mksdnya yg pilih kasih.. Tp kalo dapet guru yg ga enakin, kal ngajar suka marah2, itu adaaa.. :D. Tp dia merata marahnya ke smua murid :D. Malah pernah punya guru yg kalo marah, sempet lempar kursi.. Nggilani toh.. Tp krn kita dulu udh smu, jdnya tingkah guru yg begini malah ga bikin kita takut.. Jd bahan olok2an, jadi guru kok g ada wibawa :p.

    Moga2 guru anak2ku nanti ga ada yg seperti pak giyono ini, pilih kasih..

    ReplyDelete
  16. kalau aku jaman sma mbak. gurunya cuma mau memerhatikan anak anak pejabat. emang seh sma aku terkenal banget. sma bergensi yang isinya anak anak pinter dan banyak anak orang kaya serta pejabat. sekolahnyapun turun temurun dari bapaknya tantenya kakaknya sampelah dianya.

    ya aku yang ortu ntah sekolah di mana. dulu cuma gara gara nem cukup jadi nyemplung ke sma bergengsi gitu jadi deh kayak buih aja gitu gak dikenal sama guru kadang gak dianggap 😆

    ReplyDelete
  17. Pengalamannya ga enak banget itu, tapi justru dapet pelajaran berharga dari kejadian masa lalunya ya mba.. :)

    Btw aku justru ingetnya sama guru yang mengajar penuh cinta. Guru Fisika sekaligus wali kelas pas SMA. Orangnya strict tapi aura keibuannya tetep ada dan bahkan kami kalo lebaran hampir selalu ke rumahnya sampe sekarang. :)

    ReplyDelete
  18. Semangaat terus mbak Ika, jd guru yg baik, bijaksana dan penuh kasih sayang. Sedih baca ceritanya kalau guru pilih kasih gtu mbak, apalagi mbak Ika sudah berlatih dengan sungguh". Allah Maha Baik mbaak, dan kebaikan selalu bersama org-org baik seperti mbaak :)

    ReplyDelete
  19. Ih Mbak, ikut sebel banget bacanya. Ada ya yang kayak gitu. Menyebalkan sekali. Aku pernah ngalamin saat SMP, urusan puisi, mengarang dan melukis, aku tu merasa oke dan diatas rata2. Tapi yg maju ya itu2 aja, huh, bikin geram sekali. Tapi alhamdulillah, aku nggak trauma Mbak. Luweh pokoknya, jadi nggak kepikiran. walau sakitnya tuh di sini (nunjuk dada sebel). Waktu SMA semua berubah... aku bener2 bisa jadi aku!! Puas banget rasanya

    ReplyDelete
  20. Semangat Mbak, meskipun pengalaman pahit mengahadapi guru seperti Pak Giyono jangan sampai kejadiannya terjadi dengan Mbak, jadi nanti muridnya malah berfikaran negatif sampai kapan pun, seperti perasaan mbak dengan guru mbak itu. Alhamdulillah aku nggak menemukan guru seperti itu semasa aku sekolah, meskipun aku dari keluarga yang pas2an mereka tetap memperlakukanku dengan baik.

    ReplyDelete
  21. Wah kok gurunya pilih kasih sih, dan kdgm, kekerasan dalam guru murid, mbak ika mah sekarang pasti guru sd yang disayangi muridnya ya kan 😊

    ReplyDelete
  22. semangat mba jadi guru yang selalu menjadi idola di mata anak murid. tinggalkan kesan terbaik dan selalu jadi yang dikenang kapanpun..

    ReplyDelete
  23. dulu saya juga punya guru yang seperti pak giyono ini (banyak bahkan) tapi yaudahlah, ikhlasin aja, karena nantinya kualitas diri kita juga akan bicara. toh kita di sekolah cuma beberapa tahun, sedangkan di dunia nyata kan selamanya

    ReplyDelete
  24. semg pak giyono insaf ya... tapi kasusmu hampir sama kaya aku sih...cuma bedanya KS mengganti anak2 yang sudah 75% aku persiapkan untuk lomba.. lebih baper mana coba?

    ReplyDelete
  25. duh pak Giyono..., tega bener dirimu...

    ReplyDelete
  26. aku jg pernah ngalamin mba. tp bukan krna ulah guru, tp justru official.lombanya. Jadi ceritanya maju lomba puisi menang di dabin. pas maju di kecamatan, selssai baca puisi dpt twpukan paling meriah. bahkan wktu kmbali ke bangku, banyak guru pengantar yg menyalamiku. katanya aku pasti menang. pas pengumuman, aku juara 2. byk guru2 yg heran. setelah mpe sekolah tyta guruku cerita ke temen2nya sesama guru (yg slh satunya adalah ibuku) kalo jurinya adalah salah satu rivalnya. yg sering saingan buat jd gru pelatih dan official anak2 lomba yg maju ke tingkat berikutnya. hiksss. ga cuman sampe dirumah, wktu diatas becak plg dr lombapun aku sudah nangis terus... *.*

    ReplyDelete
  27. Aku bersyukur semua kemauanku untuk ikut lomba selalu terpenuhi dan Alhamdulillah selalu pulang bawa juara. Tapi ya gitu, ternyata piala nggak membuatku bebas dari sifat pilih kasih guru. Bahkan ini wali kelas lho. Sifat pilih kasihnya kelihatan sekali. Dan ternyata hal itu nggak cuma saat SD. Sampai SMA pun ada yang seperti itu. Malah SMA-ku di kota besar. Jadi, yah, maybe it's all about your money. Oleh karena itu aku nggak pernah suka sama guru. Ada sih, just a few. Aku jadi pilih-pilih sekali siapa guru yang aku anggap "berjasa tiada tara". Nggak cuma fake friends, fake teachers sekarang banyak. Semoga mbak bener-bener bisa jadi teladan murid-muridnya ya. Sungguh, murid itu tahu mana guru yang mengajar dengan hati :")

    ReplyDelete
  28. Ada juga ya guru seperti Pak Giyono itu. Alhamdulillah dulu guru2ku tidak begitu. Aku sering disuruh ikut lomba ini itu walaupun aslinya aku ogah2an hahahaa... bawaan anak2 sih, senengnya maen, klo suruh lomba udah males duluan.

    ReplyDelete
  29. Aku punya guru mbaa, baiiik banget dan semoga kamu bisa jadi guru yang baik untuk anak-anakmu ya mbaaa :)

    ReplyDelete
  30. Bravo Bu Ika...semoga mampu menggugah hati pak Giyono...pak Giyono lain agar bisa bekerja dengan hati :)

    ReplyDelete
  31. Semangat ibu guru! Alhamdulillah belum pernah mengalami memiliki guru seperti pak Giyono. Serem ah.

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!