Sunday, 18 June 2017

Begini ya Rasanya Patah Hati dengan Anak Sendiri


"Kalau ada yang bertanya, kenapa saya tidak ikut diklat? Saya pertegas "tidak lain, karena anak saya. Saya tidak bisa meninggalkan anak saya terlalu lama. Anak saya masih sangat membutuhkan saya". Monggo jika mau membanding-bandingkan saya dengan "guru+ibu rumah tangga" lain yang sama-sama punya balita. Karena saya dan "guru+ ibu rumah tangga" itu sangat berbeda dan tidak akan pernah bisa disamakan. Ingatlah, bagiku karier terbaik seorang istri dari suami adalah menjadi istri yang sholehah buat suamiku dan menjadi seorang ibu yang baik buat anak-anakku."

Kira-kira begitulah status FB temanku. Nggak tahu apa yang melatar belakanginya menulis status tersebut, tapi aku merasa tak ada yang salah dengan prinsipnya.



Aku yang statusnya sama dengannya, yaitu guru dan ibu rumah tangga dengan balita usia 21 bulan memang belum bisa sepertinya. Aku memilih tetap ikut diklat/bimtek kurikulum 2013 yang tidak semua guru dapat kesempatan ini. Diklat itu sudah terlaksana tanggal 12-17 Juni kemarin. Diantaranya selama 5 hari diklat dilaksanakan sampai sore hari.

Ku pikir semua pilihan hidup ini ada resikonya. Sama halnya dengan pilihanku untuk ikut diklat dan meninggalkan Kak Ghifa.

Untungnya, aku dapat ilmu dan keluarga baru yang belum tentu kudapatkan kalau aku hanya pulang pergi dari sekolah kemudian momong Kak Ghifa. Ilmu itu yang selama ini ku harapkan dari pemerintah. Giliran pemerintah perhatian dengan guru wiyata macam aku ini, merasa sangat sayang kalau melewatkannya begitu saja. Apalagi setelah ikut diklat ini, gairahku untuk mencerdaskan anak bangsa terasa sangat bergelora. Selain itu, aku bertemu dengan banyak orang yang tak pernah ku sangka-sangka sangat berpengaruh bagi kehidupanku dalam berkeluarga dan mendidik anak-anak di sekolah.

Ruginya, hiks...pengen mewek deh kalau mengingatnya.

"Salah satu penyebab stres anak selanjutnya adalah ditinggal dinas orang tuanya. Bobotnya sampai 63℅." Kata Pak Martono, fasilitatorku selama diklat.

Deg!

Aku ingat Kak Ghifa.

Iya, Kak Ghifa juga mengalaminya, stres. Dia marah denganku. Pas aku pulang dari diklat di hari pertama, dia tak menyambutku. Duh, boro-boro menyambut, lha aku di sampingnya aja nggak dianggap.


Di situ aku merasa patah hati. Sepatah-patahnya. Bahkan lebih patah hati ini dibandingkan patah hati sama mantan pacar.

Beneran lho, rasanya sakiiiit banget di dada. Tapi, mau bagaimana lagi, inilah resiko yang harus ku terima. Tugasku adalah mencari cara, bagaimana agar Kak Ghifa nggak ngambek kayak gitu?

Pas hari kedua diklat, saat sampai rumah, aku hanya meletakkan tas kemudian bersama Abi berinisiatif untuk mengajak Kak Ghifa motor-motoran sambil melihat bebek. Alhamdulillah, cara tersebut cukup manjur juga. Kak Ghifa nempel mulu, tak ada penolakan lagi yang bikin aku patah hati.

Beda cerita pas hari kedua sampai kelima. Kak Ghifa ngambek lagi. Dia tak mau ku sentuh kecuali pas mau nenen untuk tidur malam. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Nyesek banget rasanya. Dadaku rasanya, Ya Allah...beginikah rasanya ditolak anak sendiri?

Sepanjang mengantarkan Kak Ghifa tidur, ku sounding dia sambil kubelai rambutnya. "Ummi tak pernah bermaksud meninggalkan Kakak. Kakak anak yang cerdas. Kakak tahu Ummi seperti ini karena ummi adalah guru. Ummi berkewajiban untuk mencerdaskan Mas-Mas dan Mbak-Mbak yang di sekolah. Kakak harus kuat. Maafin Ummi ya selalu pulang sore. Tapi, Ummi yakin Kakak anak yang cerdas. Kakak nggak akan marah terus sama Ummi."

Alhamdulillah, diklatpun selesai. Malam tadi, ku ajak Kak Ghifa untuk jalan-jalan. Tak lain agar Kak Ghifa dan aku bisa quality time setelah seminggu ini seperti ada jarak di antara kita. Pastinya sama Abi juga. Sambil nunggu Kak Ghifa naik mobil-mobilan, ku lirik Abi, ternyata Abi lagi ngintip jaket di olshop. Hihihi. Tahu aja kalau THR sudah turun.

Hayo, kamu sudah punya baju lebaran belum? Kalau belum, mumpung masih ada waktu, bisa lho ceki-ceki di sini. Banyak banget pilihannya. Abi aja naksir sama jaketnya. Hihi.



Saat ku tulis cerita ini, Kak Ghifa sedang nenen dan menuju ke alam tidurnya. Iya, alhamdulillah, dia sudah kembali ke pelukanku lagi. Tak ada lagi sorot mata marah atau tangan yang menolak darinya. Yang ada ciuman manja dan pukulan kecil dari tangannya yang gemas dengan pipiku.

Ah, Kak Ghifa! Ummi sayang Kakak.

Satu hal yang membuatku bertahan sampai sekarang, aku percaya saat aku menjaga dan mendidik anak-anak orang, saat aku berjuang demi anak-anak bangsa ini, Allah akan menjaga anak dan keluargaku. Allah tak pernah tidur.

7 comments:

  1. Memang harus Super sabar dan penuh taktik ya hadapi anak-anak nih

    ReplyDelete
  2. Kalau aku yang sering bikin patah hati tuh si Adek. Asal dia pulang simboknya belum di rumah njur dicuekpun. Kalau si Kakak sih simboknya baru nyetandarin motor maunya nguyel uyel terus

    ReplyDelete
  3. Jg inget hari pertama kerja dulu mbak nadia lgs demam tp tak gendong ga mau untung ngambeknya sehari aja

    ReplyDelete
  4. Ya begitulah dilema ibu yang berkarir sekaligus ibu rumah tangga ya, mamah dan bumerku juga dari honorer pe pns pe pensiun, berhasil mendidik anak sendiri dan anak orang, bumerku guru sd, kalau mamahku bendahara pu 😊

    ReplyDelete
  5. Aku ibu rumah tangga. Tapi pernah ninggalin anak, karena menemani pengobatan alm ibu. Dan itu berkali-kalin hingga ibu meninggal. Sekalinya pergi sampai seminggu. Aduh rasanya syediiih dan merasa bersalah ...

    ReplyDelete
  6. Loh kak Ghifa laki-laki ya? Saya kira perempuan... 😁

    ReplyDelete
  7. Wahhhh bunda pengen pelukkkk ikhhhh jadinya. Pasti sedih ya digituin ama anak. Tetapi sesungguhnya dia begitu juga teramat sedih ditinggalkan oleh kita. Sering minta maaf dan pelukkk anaknya ya bun 😘😘😘

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!