Sabtu, 13 April 2013

Cerita dari Website Tetangga: Kuikuti jejakmu, Guru



Guru, malam ini Rabu, 23 Nopember 2011, kusengaja menulis sesuatu untukmu. Walau sudah jam 11 malam, kuingin mengingatmu ... saat-saat bersamamu. Ya Allah, mengapa airmata ini telah menetes membasahi pipi? Sedang hamba masih menulis 2 baris kalimat. Hamba ingin tulisan ini dapat dibaca oleh siapa saja yang membuka Web Blog Sejuta Guru ini, sebelum Peringatan Hari Guru pada Jumat, 25 Nopember 2011 ini tiba. Ku tak sanggup membendung airmata bahagia ini. Ya ... aku bahagia, karena "Telah Kuikuti Jejakmu, Guruku Sayang."


Tulisan ini kutujukan untuk Guru tercintaku, Almarhumah Ibu Mardiyah. Ibu, wajahmu tampak begitu jelas, senyum kepuasan, kebanggaan, keikhlasan, dan rasa syukurmu tak mungkin kulupakan. Masih terngiang ditelingaku saranmu Ibu:

"Anakku, jadilah seorang guru kimia, sebagai penggantiku kelak."

"Insya Allah, Bu. Saya memang sudah menjadi guru cilik sejak SMP. Saya menyukai pekerjaan ini."

"Ya, aku dengar seperti itu. Pulang sekolah hingga jam 10 malam engkau memberi les privat dari rumah ke rumah. Namun engkau tak pernah kelihatan mengeluh atau capek. Mungkin yang terbaik untukmu adalah terus menjadi guru. Guru itu kaya nak, kau dapat amalkan kekayaan ilmu titipan Allah terus menerus setiap hari. Jangan pernah berhenti selama masih hidup. Ilmu itu tak pernah mati; walau suatu saat kita dipanggil oleh Allah SWT, ilmu itu tetap hidup dan terus berkembang."

"Terima kasih Bu atas saran, motivasi, dan doanya. Insya Allah saya dapat melaksanakan saran Ibu. Ibu bagaikan ibu keduaku dalam hidup ini."

"Ya nak, kau tahu ku tak punya anak. Kau bagaikan anakku sendiri. Kudapat membaca apa yang sedang kau pikirkan. Sekarang pulanglah, engkau masih harus membantu ibumu."

"Ya Bu, terima kasih. Saya masih mau ke rumah murid, mau memberi les. Hehehe, maaf ya Bu."

Sewaktu duduk dibangku SMA, sejak kelas 1 aku memang menyukai kimia. Tiga tahun aku diajar oleh Bu Mardiyah. Malam ini banyak sekali kejadian bersama beliau terus bermunculan dikepalaku. Oh ... banyak sekali yang kuingat. Saat di kelas 1, suatu hari pada jam istirahat aku bersama teman-teman lari ke kantin membeli tempe dan tahu goreng yang dimakan dengan sambal petis. Antriannya panjang sekali; namun karena badanku kecil, aku suka mencari kesempatan untuk menyusup masuk dan tahu-tahu sudah sampai di depan murid kelas 3 yang suka menggodaku. Hihihi lumayan, dia mengalah. Eh setelah dapat gorengannya terus makan dan waduh ... bel tanda masuk kelas berbunyi. Kami lari ... oh Bu Mar sudah di dalam kelas. Teman-temanku meloncat jendela belakang terus duduk dibangku terdekat yang kosong. Ya sudah, aku meloncat juga. Namun aku kan kecil, eh jendelanya agak tinggi. Selagi aku berhasil duduk di atas jendela dan akan turun, eh ... telingaku ada yang memegang.

"Ayo ... ketahuan ya, loncat jendela."

"Maaf Bu, ampun ... sakit."

"Sini berdiri di depan ... angkat kakimu yang satu, ayo angkat. Ya ... angkat kedua tanganmu, pegang telingamu."

"Bu ... saya malu, saya tidak akan melakukannya lagi."

Hanya sekali aku dihukum oleh Bu Mar, setelah itu aku tak berani lagi melakukannya. Selain malu, aku tak tega melakukannya. Beliau baik sekali, tak pernah marah. Hanya kadang-kadang jengkel. Waktu itu sebenarnya bukan pelajaran kimia, namun beliau menggantikan guru yang tidak masuk. Beliau geleng-geleng kepala, wah ... aku benar-benar malu. Bayangkan, aku suka kimia, nilaiku selalu 90 - 100. Tak pernah di bawahnya. Aku sering ditunjuk untuk menjelaskan soal-soal di papan tulis.

Naik ke kelas 2 nilai kimiaku makin baik, hampir setiap ulangan mendapat nilai 100. Pernah kertas ulanganku ditarik dan diambil oleh teman-teman, eh sudah 10 menit belum juga dikembalikan. Yah ... segera aku menulis lagi. Lima menit sebelum bel, selesailah sudah pekerjaanku. Kertas ulanganku ternyata dikembalikan 2 menit sebelum bel. Oh ... kertas itu kumal dan ujungnya ada yang sobek. Untunglah aku sudah menulis lagi.

Di kelas 3  bangkunya panjang, untuk 4 orang. Aku duduk di deretan bangku pertama berempat. Berturut-turut dari kiri ke kanan: Nur Hidayati, Etna, Syafi'i, dan Pungky. Bu Mar sering meminta aku menulis di papan atau menjelaskan konsep jika teman-teman kurang mengerti. Aku dan Nur teman sebangkuku sering membantu Bu Mar. Selama di kelas 3 inilah Bu Mar makin perhatian padaku dan aku makin menyukai cara mengajarnya, humornya, dan disiplinnya. Beliau terus berpesan agar aku menjadi guru kimia.

Setelah lulus SMA tahun 1969, akhirnya aku masuk ke FKIE IKIPN Surabaya jurusan kimia. Karena aku dan kakakku sibuk bekerja membantu ibu, maka nilaiku di IKIP tak sebagus waktu SMA. Namun, lumayanlah aku tak pernah kena ujian ulang. Aku tiap hari naik sepeda engkol, berangkat pagi dan pulang sekitar jam 10 malam. HR-ku sebagai guru privat lumayan dapat membantu ibuku. Semenjak Bapak wafat, aku sekolah sambil bekerja.

Tahun 1973 bulan Februari aku praktik mengajar di SMAN 3, Gentengkali Surabaya, ya sekolah yang hingga hari ini aku menjadi guru kimia. Awalnya tak terasa bahwa dalam mengajar, aku selalu menggunakan cara-cara yang digunakan oleh guruku, Ibu Mardiyah. Disiplinku, humorku, cara-cara praktis untuk menalar konsep, trik-trik nalar untuk menghindari trik hafalan, ternyata mirip sekali dengan Bu Mar. Terima kasih Ya Allah, Engkau kirimkan kepadaku seorang guru handal seperti almarhumah Ibu Mardiyah, ternyata hamba mengidolakannya. Setiap hamba akan melakukan sesuatu yang berbeda, hamba selalu ingat pada beliau. Terimalah Ibu Mardiyah disisimu Ya Allah beserta amal ibadahnya. DihadapanMu hamba berjanji untuk terus mengamalkan kimia dan pendidikan karakter yang telah beliau ajarkan, sampai akhir hayatku, seperti yang beliau pesankan kepadaku.

Setelah aku menjadi guru di SMAN 3 Surabaya yang kemudian berubah menjadi SMPPN dan berubah lagi menjadi SMAN 16, aku sering berkunjung ke Bu Mar di sekolahku dahulu. Beliau tetap mengajar kimia di SMAN 5 Surabaya. Beliau selalu menciumku, bangga sekali melihatku. SMAN 5 sebenarnya memintaku untuk mendampingi Bu Mar mengajar, namun kepala sekolahku tak mengijinkan. Kuceritakan kepada beliau bahwa cara mengajarku ternyata mirip beliau, eh ... lha kok beliau menangis dan aku diciuminya. Di tahun 1980 aku menjadi instruktur pembantu PKG IPA Jatim, beliau sangat bangga dan puas. Sekitar tahun 1983 aku menjadi guru inti, beliau rajin hadir dan malahan banyak bertanya kepadaku tentang perkembangan kimia.

Suatu hari di tahun 1986 aku berada di BPG Surabaya menjadi instruktur sedang melatih guru kimia se Jatim. Pada hari pertama pelatihan ternyata aku diminta untuk mengambil pembantu (asisten) instruktur sebanyak 2 (dua) orang, karena pesertanya banyak. Aku segera menghubungi Ibu Kustiari dari SMAN 4 Surabaya dan Ibu Mardiyah dari SMAN 5 Surabaya, guruku sendiri. Ternyata beliau berdua langsung hadir sekitar jam 11 siang. Beliau berdua sangat gembira kulibatkan dalam penataran ini, Bu Mar berkelakar:

"Hehehe ... Kebo nyusu gudel. Memang sudah jamannya, kita yang tua harus belajar dari anaknya."

Komentarku: "Eh Bu tidak begitu, saya membutuhkan Ibu berdua untuk membimbingku."

Beliau berdua tertawa: "Huahahaha. Ya ya ya kami siap membantu, namun sebenarnya kamu bisa sendirian."

Begitulah kami bertiga bekerjasama, senang rasanya, banyak humor, namun tetap disiplin, lelah dan bosanpun tak terasa.

Pada tahun 1988 aku di kirim ke London, beliau makin bangga. Namun sebelum aku berangkat beliau menitip pesan untuk terus berbuat yang terbaik, meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa, membuat Indonesia menjadi lebih baik. Ternyata itulah pesan terakhir dari beliau sebelum wafat. Saat aku berada di Inggris, aku ditilpun bahwa 2 (dua) hari yang lalu beliau telah wafat dan sebelumnya memanggil namaku dan menanyakan aku. Inna lillahi wa inna lillahi roji'un. Terimalah Ibu Mardiyah disisimu Ya Allah beserta amal ibadahnya dan ampuni dosa-dosanya. Oh ibu, maafkan aku tak berada di sampingmu pada saat-saat terakhir. Ya Allah benar-benar Ibu Mardiyah ini ibu keduaku dan Guru Idolaku.

Hari ini, Kamis jam istirahat siang, aku baru membaca kembali tulisan ini yang sempat terhenti tak terselesaikan, karena tadi malam sekitar jam 1 dini hari aku harus segera tidur, agar jam 5 pagi aku dapat berangkat mengajar seperti biasanya. Ibu, besok Jumat, 25 Nopember 2011 adalah hari Guru, Harimu Ibu, juga Hariku. Insya Allah aku terus dapat berbuat yang terbaik seperti yang ibu pesankan. "Kuikuti Jejakmu, Guruku Sayang."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar