Sabtu, 17 Agustus 2013

Resep Suskes Seorang ABK



“Alhamdulillah.”
Ya, kata hamdallah-lah yang pertama kali ingin aku ucapkan. Karena apa? He, bab 1 proposal skripsiku sudah 95 % (padahal temanku sudah ada yang sudah kelar, semangat Cha!!). Apa hubungannya coba? Kemarin sebenarnya aku janji pada diriku sendiri kalau bab 1 belum kelar, aku nggak akan nge-blog dulu.
Oya, berhubung masih dalam suasana lebaran, aku mau ngucapin “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Maafin ya salahku selama berkeliaran di dunia blog ini?
Kembali ke judul.
Membaca sekilas judul postingan ini apa yang paling membuat kamu tertarik untuk mengklik link-nya? Semoga karena kata SUKSES. Sukses, bagiku dulu sampai sekarang sukses itu masih ada kaitanya dengan materi. Meskipun lambat laun agak tergerus dengan kesadaran atas nama pikiran ‘dewasa’. Sukses bagiku kini cukup dengan arti tidur nyenyak. Mengenai materi? Itu bonus dari Allah. He, pinjam kata teman-teman blogger yang sudah urun saran di postingan Pikirku...
Kemudian siapa ABK? Anak Buah Kapal? Sukses baginya?
Berawal dari SMS lebaran dari nomor asing yang masuk di HPku tepat di hari lebaran. SMS itu bunyinya seperti ini, “Mohon Maaf Lahir Batin yo lek”. Mendapat SMS itu aku tidak langsung membalasnya, hanya bergumam, ini nomor siapa ya? Kalau manggil aku “lek” pasti teman jaman SMA. Akhirnya karena aku ini kepo, SMS balasan pun saya kirim, singkat, “Siapa?”.
Kekepoanku hilang begitu saja dengan adanya kegiatan yang super padat di hari lebaran kemarin (sok ngartis, he). Tak peduli kabar nomor asing itu lagi. Hingga, 14 Agustus 2013, ada SMS dari nomor asing lagi yang masuk.
“Prasetyo”
Aku membaca SMS sambil mengernyitkan dahi. Si Cumi’? Ah iya ini, masak nomornya baru lagi? Nomor yang kemarin itu nomornya Cumi’? Balas nggak ya? Tapi kan nomor Indonesia, kemarin katanya dia di Vietnam? Ntar kalau aku balas pulsaku kesedot banyak aku bangkrut dong? He, pelitnya kumat. Akhirnya aku pun membalas SMS dari Cumi’. Ini nih, penamakannya.

5 menit tidak ada balasan, aku pun memutuskan untuk tidur karena baru pulang dari Semarang. Eh, tiba-tiba ada yang bergetar. Nama “Prasetyo” nongol di layar HPku.
“Cumi’ ngapain telepon?” tanyaku heran pada diri sendiri sambil melihat ke layar Hpku. Ibuk yang ada di sampingku menyahut, “Udah angkat saja.”
“Assalamualaikum..”
Dari sana terdengar suara renyah Cumi’. Ah, ini anak kapan terakhir telepon aku?
“Kamu di mana ini?” tanyaku pada Cumi’.
“Singapura, Ka” jawabnya.
“Kemarin pas di facebook katamu di Vietnam?”
“Iya, terus ke Malaysia sekarang udah di Singapura.”
“Ciaaahhh...kayak lintang ngaleh kamu. Eh, kok pake nomor indosoot?” kepoku kumat.
“Iya, kan masih kecantol sinyal dari Indonesia.”
“Ohh....” aku manggut-mangguut.
Ya, Cumi’ itu adalah ABK Kontainer. 3 tahun lalu kami akrab sebagai teman sekelas. Tapi nasib kami berbeda, dia cowok ganteng, sedangkan aku upik abu. Ciah, nggak ada hubungannya sama sekali dah!
Nama lengkapnya, Prasetyo Darmo Sesomo. Sering dipanggil Pras, Tyo, dan hanya aku dan sampai sekarang yang masih manggil dia Cumi’. Saat ini dia magang sebagai ABK di kapal milik perusahaan asing. Desember nanti dia akan kembali ke darat untuk kuliah 1 tahun (PIP Semarang) dan setelah lulus dia akan kembali ke kapal tersebut karena sudah dikontrak.
Cumi’ punya adik 4 (woow banget bagiku). Dia anak sulung, adiknya nomor dua perempuan sekarang ambil radiologi di Poltekkes Semarang semester 3, adiknya nomor 3 sampai 5, laki semua. Kelas 6 SD dan dua yang terakhir TK kecil dan TK besar. Kalau bicara tentang saudaranya aku ingat kalimat dia kemarin, “Bapakku sregep banget kok, Ka.” Dan aku hanya tertawa. Dasar Cumi’!
Gelak tawa, ya selama kegiatan bertelepon bersama Cumi’ ada aja yang dibicarakan. Dari tadi ngomongin Cumi, aku kasih lihat penampakan dia deh.

Foto ini aku comot dari facebook Cumi'
“Ka, tahu nggak kapalku panjangnya seberapa?” tiba-tiba dia membuka bahasan baru.
“Berapa memangnya?”
“Melebihi kapal Titanic deh pokoknya.” Ciah, sombong.
“Masak siiihh?” gayaku sok tahu padahal juga lihat Titanic dari televisi. Nggak paham ukuran aslinya. He.
“Tahu ukuran lapangan bola?”
“Ho-oh? Trus?” Belagak sok tahu lagi padahal aku nggak paham ukuran lapangan bola. Astaghfirullah, maklum waktu SMA nyontek pas ujian teori olahraga.
“3 kalinya. Kapalku panjangnya 300 meter Ka, tingginya tahu?”
“Berapa??”
“Pohon kelapa aja lewaaat, Ka.”
“Ah masak sih? Kapan-kapan kamu foto dong sama kapalmu itu biar aku tahu. Kamu mesti kayak semut kalau foto sama tu kapal.”
Di antara tawa kami, terselip sebuah cerita. Semua berawal dari kalimat yang kulontarkan. “Wah, kamu enak ya Mi’ keliling dunia. Bisa lihat sana-sini. Aku malah ngejogrok di rumah mulu.”
Kemudian dari seberang sana dia menjawab, “Uangnya juga banyak?”
“Pasti tooo!” jawabku seperti mencibirnya.
“Ah, kamu tuh sama ma orang lain.” jawab Cumi’ agak merendah suaranya.
“Maksudnya???” kepoku.
“Aku bisa seperti ini juga ada rekosone (susahnya), Ka. Bukannya aku sok menggurui. Tapi kamu tahu kan dulu aku pernah cerita pas aku cari perusahan semacam perusahaan kapal yang aku tempatin sekarang ini di Jakarta?”
“Heem...”
“Percaya atau nggak terserah kamu, dulu aku di Jakarta cari perusahaan nggak semudah yang orang bayangin. Pernah dicuekin, nggak dianggep sama sekali pokoknya, dilihat aja nggak. Naik turun metromini kemana-mana, Ka. Sampai-sampai aku kan dikasih jatah uang sama bapak itu Rp 200.000 buat dua minggu, eh ternyata belum dua minggu uang itu udah mau abis. Tahu sendiri, Ka hidup di Jakarta kayak gimana? (sayangnya aku belum pernah hidup di Jakarta Mi’-batinku) Pas itu waktu bulan puasa, aku ngirit (berhemat). Aku cari perusahaan jalan kaki dari tempat tinggalku sementara sampai karet alas pantopelku habis. Puasa dah pokoknya tak tahan-tahan Ka. Demi masa depanku pokoknya. Memang hidup jadi seorang pelayar kalau di jalan lurus akan mudah dapet materi, Ka, tapi kalau nggak tahan godaan, jangan ditanya. Godaan bagi orang pelayaran sepertiku ini juga sangat berat.”
“Iya Mi’. Yang kuat ya?”
Masih mendengarkan Cumi’ bercerita di seberang sana, pelupuk mataku menghangat. Cumi’ yang dulu manja kemana? Sekarang digantikan Cumi’ yang sungguh matang.
“Ka, di kapal ini ada 24 ABK.”
“Apa? Kapal sebesar itu hanya 24 orang yang ngisi?” kepoku kumat lagi.
“Ya, dari 24 orang, 2 diantaranya aku dan temanku yang orang Timur. Hampir semua yang lainnya adalah orang Barat.”
“Berarti kemarin kamu puasa sendiri dong Mi’. Ya Allah Mi’, bagaimana rasanya?” aku iba.
“Ya, aku nggak sendiri kan ada temanku juga yang dari Indonesia. Rasanya biasa aja Ka. Tapi yang perlu kamu tahu, paling enak itu kerja dengan orang kita sendiri.” terang Cumi’ buatku penasaran.
“Kenapa emangnya? Kan enak punya kenalan orang luar.”
“Ah kamu sih nggak tahu. Bagi mereka kita itu teroris Ka. Bekerja dengan orang kulit putih pasti akan ada diskriminasi meskipun itu sangat kecil.”
Mendengar cerita Cumi’ aku menghela napas panjang. Benarkah? Begitukah rasanya? Ya, selama ini aku selalu melihat nikmatnya saja, nikmat yang dialami Cumi’ tapi tak pernah melihat dari sisi lawannya. Apakah kamu juga termasuk orang yang sepertiku? Mari segera diubah.
“Kamu tetap harus bertahan ya Mi’.”
“Pasti Ka, jalanku masih panjang. Kamu juga ya? Kuliah yang bener. Skripsi segera dikelarin. Kalau kamu mau kerja keras pasti ada jalannya. Jangan malas mulu!”
“Ih...Cumi’ bijaksana kali. Cumi’ memang sudah berubah.” ejekku.
“Masak sih? Mungkin keadaan Ka yang telah berhasil mengubahku. Tapi ingat betul Ka, kalau kamu mau sukses, ada kuncinya.”
Kudengar Cumi’ megucapkan kunci sukses ala dirinya dengan menggebu.
1.    Kerja keras, mungkin ini dari perjuangan dia ngalor-ngidul cari perusahaan dengan keadaan puasa dan keuangan yang menipis.
2.    Sholat wajib jangan pernah telat, ditambah sholat sunnah. Meskipun di rantau, disangka teroris, didiskriminasi Cumi’ masih ingat Allah.
3.    Berdoa kemudian bersabar. Ya, bersabar setelah berikhtiar.
4.    Sodakoh (Beramal)
Sodakoh, aku jadi ingat kata-kata Cumi’, “Anggap sodakoh kita baik itu banyak atau sedikit yang penting ikhlas sebagai tabungan kita di hari besok Ka.” Ada lagi, pertanyaan usilku muncul, “Mi’ kalau di kapal gitu kamu sholatnya bagaimana?”
Dengan takzim Cumi’ menjawab, “Lillahi ta’ala Ka. Kuniatkan menghadap kiblat, tapi kadang aku juga pakai peta (kompas mungkin maksudnya).”
Ah, aku. Yang dari kemarin rasanya ogah betul untuk mengerjakan skripsi seakan-akan mendapat suntikan semangat dari kawan SMA ku ini. Terimakasih. Allah itu selalu menghadirkan kabar bahagia tanpa disangka datangnya dari mana dan kapan tepatnya. Terimakasih juga Cumi’ sudah menyempatkan waktu untuk telepon aku. Baru sadar kalau kemarin waktu telepon selama 49 menit. Dan telepon kami berhenti sejenak ketika telepon di kabin kamarnya berdering.
“Sebentar Ka.”
Belum menjawab “ya”, si Cumi’ sudah merespon si penelepon kamarnya.
“Siap Sir. Yes!” ku dengar Cumi’ menjawab dengan kata yang sama berulang-ulang.
“Halo Ka.”
“Ya, Mi’.”
“Setengah 5 (waktu Singapura) aku kerja lagi. Udah dulu ya.”
Ku tutup telepon dari Cumi’ dengan kobaran semangat hidup yang berbeda. Terimakasih Cumi’. Terimakasih Allah telah mengirimkan cerita Cumi’. Haruskah aku bermalas-malasan lagi? TIDAK. Rasa-rasanya cerita temanku itu sungguh melucuti rasa malasku. Memang, dulu dia tak pernah bermimpi akan menjadi seorang ABK, karena dia bermimpi menjadi seorang polisi. Tapi dia kini telah bersahabat dengan keadaan dan inginmnegubah dunianya. Kenapa aku tidak? Kamu?
Keinginan baru dalam hatiku muncul, skripsi jalan, nge-blog pun harus tetap jalan. Kalau skripsi mendapat 85 % perhatianku, paling tidak blog ku ini dapat 15 % doong! Jangan berhenti menulis dan menginspirasi sesama. Semangat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar