Rabu, 23 April 2014

Resensi Buku: Menanti Cinta by Adam Aksara

Judul: Menanti Cinta
Penulis: Adam Aksara
Penerbit: Mozaik Indie Publisher
Jumlah halaman: xiii + 221 halaman
ISBN: 978-602-14972-3-4
Genre: Novel

Cinta itu milik siapa saja. Begitu pula untuk laki-laki disable seperti Alex yang memilih Claire sebagai tambatan hatinya. Siapa itu Claire? Gadis disable pula-kah? Bukan! Dia adalah anak pelacur yang rela menjual anaknya demi uang.

“....Dari tempat duduk kuliahnya, dia dapat melihat seorang pria yang mendorong kursi rodanya memasuki ruangan dan memperkenalkan diri sebagai dosen mereka yang bernama Alex...” halaman 22.

Itulah kali pertama Claire bertemu dengan Alex. Dosen kimia di jurusannya, perawat. Setiap manusia itu memiliki sisi keunggulan tersendiri. Seperti Claire, berasal dari keluarga miskin akan tetapi memiliki kesempatan kuliah dari beasiswa sedangkan Alex?

Dilahirkan dari keluarga yang mumpuni dalam hal ekonomi, Alex tumbuh di luar dugaan. Bisa sekolah di sekolah umum sampai dengan mendapat gelar profesor di usianya yang ke 20 karena hasil temuannya di bidang kimia. Selain itu, Alex juga banyak menciptakan produk-produk sabun yang membantu pekerjaan rumah.

Berhasil menciptakan produk-produk yang luar biasa tak sejalan dengan kisah cintanya. Alex seperti tenggelam dengan dunianya sendiri. Sampai suatu hari ia dibuat penasaran oleh sosok Claire.

“Mahasiswa yang duduk di kursi sayap barat?” hal 26.

Atas dasar rasa penasaran dan kasihan yang diramu begitu indahnya, tumbuhlah bibit-bibit cinta yang siap disemai oleh Alex. Begitu abadi, hingga cinta itu sukses mencipta seorang Alex yang sadis. Menghalalkan segala cara untuk cinta Claire. Akankah Claire menyambut cinta Alex?

***

Berikut saya uraikan kekurangan dan kelebihan buku ini:
Kekurangan
  1. Ini kali pertama saya membaca karyan Adam Aksara. Ide cerita yang membuat saya bingung, antara biografi dan novel asli semua hanya fiksi. Kalaupun biografi, latar tempat dan waktu tak jelas digambarkan dalam cerita ini.
  2. Penggambaran tokoh Claire ambigu antara sosok yang tegar dan lemah.
  3. Font pada cover pada tulisan, “Cinta tak pernah membebani...Ia meringankan yang memilikinya...” akan lebih tampak eye catching apabila dipilih font yang lebih ramping.
  4. Penggunaan kata pada dan yang sering tumpang tindih sehingga menimbulkan pemahaman ganda.
  5. Typo-nya banyak banget, seperti di halaman 25, 26, 30, 32, 36, 42, 44, 45, 50, 51, 60, 83, 86, 97, 101, 104, 121, 131, 132, 135, 136, 137, 138, 141, 148, 153, 156, 161, 165, 167, 175, 198, dan 203.
  6. Banyak juga halaman yang lepas, seperti halaman 5-8, 33-36, 89-92, dan 145-148.
  7. Pada halaman i, pada tulisan Adam Aksara ada bercak tinta hitam di bawah tulisan tersebut.

Kelebihan
  1. Alur cerita yang yang maju-mundur berhasil membuat saya penasaran untuk membaca lagi dan lagi sampai tuntas.
  2. Pemilihan warna cover terlihat sangat manis yang memadukan warna pink, merah hati, putih dan kuning. Apalagi ditambah dengan gambar botol cebol yang tertutup, kunci dan bentuk love yang terpisah.
  3. Endingnya itu lho, bikin nyesek banget, “Kenapa seperti itu?” Bisa request ending yang lain nggak?
  4. Banyak pelajaran hidup dari novel ini, diantaranya:

“Cinta itu tak pernah memandang bulu, siapa pun berhak merasakannya”
“Hidup itu keras, karena itu kita harus berjuang.”
“Manusia itu hidup dengan segala kekurangan dan kelebihannya.”
Dan masih banyak lagi, makanya baca yuk...


Anda bisa dapatkan novel ini di Mozaik Indie Publisher.

3 komentar:

  1. penasaran apa kisah ini nyata ya, mengingat kayaknya nama Claire itu beneran ada

    BalasHapus
  2. belum baca novelnya jadi belum bisa bayangin, apa itu cerita di dalam cerita gitu.. seperti karya Clara Ng?

    BalasHapus
  3. penasaran apakah ini cerita di balik cerita seperti karya Clara Ng itu?

    BalasHapus