Mau cari apa di blog Diyanika?

Monday, 2 July 2018

Menantu yang Bermasalah


Lebaranku kali ini rasanya nano-nano banget. Dan akan jadi lebaran yang tak akan pernah terlupakan. Kenapa? Karena ada salah satu kenyataan mengenaskan yaitu tentang cerita tanteku (adik bungsu ibu) yang minggat dari rumah sejak sehari sebelum lebaran.

Tak bisa kubayangkan, saat semua orang berkumpul dengan keluarga besar, tante dan suaminya malah minggat dari rumah. Hatiku ngenes.



"Setelah kakekmu meninggal, aku nggak menikah lagi demi mikir tantemu. Sekarang balasannya seperti ini? Abot (berat) suami daripada aku!" Cerita nenekku dengan penuh emosi.
Aku hanya diam. Tak berkomentar banyak. Aku tahu nenekku terkadang sering bingung juga menyikapi anak-anaknya saat bermasalah.

"Suaminya itu lho, nggak tahu diri. Numpang di rumah orang (rumah tanteku yang sekarang menetap di Malaysia dan hanya pulang 2 tahun sekali ke Indonesia), tapi nggak mau merawat rumah. Pintu rumah nggak bisa ditutup, dibiarkan. Almari dapur lepas, cuek cuek saja. Lantai 2 berantakan kayak kapal pecah. Kompor, selang, adonan kue, tumpukan baju jadi satu. Ya Allah. Istrinya baru 3 hari keluar dari rumah sakit karena hamil BO, malah dibiarkan bekerja (sekalipun alasan tanteku ingin menyibukkan diri agar tidak sedih setelah kehilangan anak, tapi keluarga besarku tetap nggak bisa terima. Kami merasa suaminya tidak bisa memberitahu istrinya efek ke depan seperti apa). Bla...bla...bla..."
Aku dan ibu masih setia mendengarkan.

Kukirim WA ke tanteku yang minggat itu.

"Aku sudah datang tadi sekitar pukul 08.30 WIB. Kamu nggak ke sini?"

"Hahaha. Kangen aku ya? Atau nenekmu yang kangen aku?"

Kujawab, "Semua kangen kamu, Tan."

Aku ini hanya orang luar, tak tahu apa-apa. Mendengar cerita demikian hanya bisa diam.

"Bayangin saja pukul 12 Ryan pulang sekolah, lapar, dia malah masih tidur sama suaminya. Teman Ryan main ke rumah, kamar dia di lantai atas, tapi depan pintu berantakan semua. Tiap bulan kukirim 3 juta, bayar sekolah minta lagi, listrik rumah juga aku yang bayar. Lah anakku mau minta uang sama dia malah kayak orang ngemis. Wajar kan kalau Ryan ngadu ke aku? Dia sudah besar. Dipikir dia nggak ngadu? Kupikir Ryan bohong. Baru deh aku pulang ternyata betul semua yang diceritakan orang rumah." Begitu kira-kira kata tanteku dengan logat Malaysia. Kalimat yang keluar masih penuh emosi yang menggebu-gebu.

Sebenarnya akupun tahu keadaan rumah demikian. Beberapa kali saat berkunjung memang keadaannya seperti itu, rumah berantakan padahal hari sudah siang. Ehm, atau memang sepanjang hari demikian?

Pernah, saat aku ke sana mau jenguk anak Om (adik ibu yang keempat) yang masuk rumah sakit, aku mampir ke rumah, nenek sudah berangkat kerja, pukul 09.00 rumah masih tertutup rapat. Lampu depan masih nyala. Olala...

Aku dan ibu ya hanya diam. Saling berpandangan untuk memberikan isyarat agar tidak memperkeruh suasana.

"Sampai tukang yang pasang pintu ini lho, Mbak, bilang, pengantin baru (menikah hampir 2 tahun lalu) sudah bangun? Lah kok yo lucu banget. Ternyata orang luar kok ya heran."

Semuanya diam.

"Gedek lagi saat buka puasa, Mbak, sudah dia tinggal makan, datang-datang ambil botol minuman langsung dikokop. Dikira botol dia sendiri apa? Kan diminum orang banyak. Padahal gelas sudah disiapkan mama di depan masing-masing piring lho. Orang sudah numpang nggak punya etika pula. Siapa yang nggak jengkel, Mbak?"

Lebaran sudah berlalu. Tanteku yang punya rumah juga sudah kembali ke Malaysia. Aku nggak tahu sekarang tanteku sudah balik ke rumah atau masih di rumah mertuanya.

Ah, kalau tanteku menerima, kenapa aku dan keluarga lainnya yang rese ya?

***

Mari kita tinggalkan jalan hidup tanteku. Mohon doanya agar dia dikuatkan. Kalau memang saat ini jalan keluarganya berbelok, semoga segera diluruskan lagi oleh Allah.

Sungguh, aku begitu nelangsa setiap kali mengingat semua yang terjadi padanya. Semua keluarga besar kami sangat prihatin dengan masalah ini. Tapi, kembali lagi, tante merasa bahagia dengan keluarganya dan dia begitu mati-matian membela suaminya. Kalaupun dia tak bahagia dengan suaminya, pasti ditutupi dari keluarga karena takut membuat keluarga ikut berduka. Tante berhak akan itu.

Sebagai penonton, aku hanya bisa mengambil hikmah dari apa yang dialami oleh tanteku. Banyak sekali. Terutama sebagai seorang istri dan menantu.

Aku yang saat ini masih serumah sama bapak ibu, suamiku berarti menantu yang menumpang. Suamiku ya bukan menantu idaman. Namanya manusia pasti ada saja kurangnya, bukan?

Jujur saja aku ini istri yang cerewet, apa-apa kukomentari. Alhamdulillah suami mau ngerti dan menerima masukanku. Cerewetku itu seimbanglah dengan komentar bapak dan ibu tentang suami.

Agar tidak jadi salah kaprah, cara penyampaiannya pun beda. Kadang ya sambil bercanda, disampaikan saat mau tidur sambil bermanja-manjaan (ups...), ya pokoknya apa yang dikomentari sama bapak ibu tidak kemudian aku telan mentah-mentah, atau langsung, "Kata ibu, kamu itu......." atau "Kata bapak, abi gini........"

Ujung-ujungnya kalau seperti itu akan mengundang masalah lagi. Iya, aku bakalan mengadu domba keluargaku dengan suami. Kemudian suami nggak terima, benci sama bapak ibu. Kalau sudah benci mau dicolek model apapun bakalan 'nggak sudi'. Yang salah siapa kalau sudah seperti itu?

Aku.

Nggak enak lho, serumah kemudian bermasalah.

Belajar dengan berjalannya waktu. Lama-kelamaan ya tahu apa yang harus disampaikan baik ke orangtuaku atau ke suami. Dulu ya sudruk sana sini. Kini? Disaring dulu, sampaikan dengan bahasa terhalus dan cara yang terbaik agar tidak melukai satu sama lain. Berusaha menjaga hubungan yang baik dalam satu atap itu keharusan.

Itu menyikapi suami sebagai menantu. Lah aku kalau jadi menantu di rumah mertua?

Hahaha.

Jujur saja, aku ini menantu yang jarang tidur rumah mertua. Kalau aku bilang, aku ini tipe orang yang susah tidur kalau nggak di kasur rumah sendiri, kamu bakal tertawa? Aku menantu bermasalah juga ya? Hihihi.

Waktu tempuh rumahku ke rumah mertua sekitar 30 menit, setiap hari juga ke sana (tempat kerjaku dekat mertua tapi jarang mampir, hahaha). Saat di rumah mertua ya biasa saja. Selesai makan ya cuci piring, kalau kakak nggak rewel ya nyapu, suruh bantuin masak ya berangkat. Tahu dirilah.

Setiap hari belajar untuk menjadi menantu yang baik.

Alhamdulillah, setiap bulan walau tak seberapa, suami kupinta untuk mengirim sedikit uang untuk mertua. Atau kalau pas ada orderan yang melimpah dengan senang hati suami juga berbagi kepada mertua. Sama halnya, kami sepakat, kalau orang tuaku dapat jatah, ya mertuaku dapat juga. Sebaliknya. Dalam jumlah yang sama. Kami berusaha seadil mungkin. Kami sadar, kalau tidak ada mereka, apalah kami.

Semua orang tua memang tak mementingkan soal materi itu. Tapi kami yakin mereka pasti ikut bahagia kalau kita mau berbagi sebagai bukti bahwa kami ini tidak kacang yang lupa pada kulitnya. Walau apa yang dilakukan orang tua kita tidak bisa kita balas secara setimpal, paling tidak mendengar kabar, atau malah hidup serumah dengan saling mengerti dan rukun sangatlah diidamkan.

Kesimpulan,
Hidup serumah dengan mertua itu nggak ada salahnya. Bahkan itu jadi salah satu cara kita sebagai menantu untuk berbakti kepada mertua. Apalagi yang mertuanya sudah sepuh.

Komunikasikan dengan pasangan apa-apa yang terjadi dalam rumah tangga. Ingat, tak semuanya harus kita sampaikan secara gamblang. Kita sebagai pasangan yang ditumpangi harus pintar mengolah kabar yang beredar. Saring, apa yang harus disampaikan kepada pasangan dan orang tua.

Bagaimana, sudah siap dan melanjutkan hidup bersama mertua, kan? Ingatlah selalu bahwa setiap manusia memiliki kekurangan. Paling tidak, tanyakan pada hati kecilmu, maukah kamu jadi menantu yang bermasalah?

27 comments:

  1. Aduh bingung jadinya mau komen kaya gmn. Tapi kalau bisa pasangan itu mending disuruh mandiri aja sih ya, Mba. Maaf kalau salah komennya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Nggak salah komen kok, Mbak. Iya, poatingan selanjutnya malah oengen bahas soal ikut mertua atau dibrumah sendiri.

      Delete
  2. Tanpa bermaksud men judge.
    Tapi menurut saya, tante yang minggat itu sudah semestinya seperti itu? Membela suaminya, karena bukankah ga ada cara lain selain itu.
    Dan saya yakin, si tante bukannya bodoh 'menderita' hidup sama suami yang 'gitu'

    Hanya saja dia punya cara sendiri untuk menghadapi suaminya tanpa mau merepotkan dan membuat keluarganya bersedih.

    Pelajaran yang bisa saya ambil hikmahnya adalah, sebaiknya komunikasikan sikap keluarga dan pasangan sebelum menikah dan memilih numpang di rumah ortu atau keluarga.
    Agar tidak ada hal-hal yang disesali

    ReplyDelete
  3. Dilema ya mba.. Sebenernya itu jg yg jd alasan aku ga mau tinggal dgn mertua ato ortuku setelah nikah. Takut ntr malah sama2 ga enak. Lbh baik tinggalnya pisah , tp damai dan saling kangen, drpd deket tapi ribut selalu. Cuma aku ngerti, ga semua pasangan yg menikah bisa lgs pindah dari mertua ato ortu. Tau sendiri hrg rumah ntah sewa ato beli ga murah. Kalo memang terpaksa hrs 1 rumah, moga2 masing2 pihak bisa mengontrol diri dan sikap supaya suasana ttp rukun ya.. :). Hrs ada yg mau mengalah sih. Kalo 2-2 nya panasan, yg ada malah ga ketemu titik temu, dan berakhir berantem :( . Semoga tantemu nanti bisa baik kembali ke ortunya ya mba :)

    ReplyDelete
  4. wah, sama aku juga jarang tidur di mertua krn g bisa tidur kalau g di kasur sdr alias kelop2.mn disana nyamuknya banyak he he

    ReplyDelete
  5. Aku milih ngontrak satu petak (pas baru menikah), drpd tinggal di rumah mertua walaupun rumahnya megah tingkat tiga.

    ReplyDelete
  6. Aku setahun tinggal bareng mertua. Mertuaku baik sih malah suka ngasih2. Tapi sebaik2 mertua ttp enak tinggal di rumah sendiri yaa..

    ReplyDelete
  7. Aq merasakan semuanya mbak, mulai dari mandiri kontrak setelah menikah, ikut ortu sendiri, dan yg terakhir ikut mertuaq πŸ˜‚ MasyaAlloh berwarna banget dan emg beda.

    Sebaliknya mbak, keputusan buat hijrah dan tgl di rumah mertua a.k.a ortu suami malah jadi bahan bullyam temen2 sekolah dulu. Katanya ga bisa hidup mandiri lah, keenakan entar, banyak konflik dll.

    Jadi pengen nulis dg ide yg sama mbak πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  8. Akupun kalau misal disuruh ikut mertua mending ngontrak. Tapi disini posisiku sama seperti kamu, suami yang ikut pihak istri dan itu jadi PR banget gimana kita berkomunikasi satu sama lain biar ga terkesan adu domba dan menyakiti. Hidup masih campur memang rentan untuk diikut campuri.tapi ya dinikmati saja lah...

    ReplyDelete
  9. Setuju sama kesimpulannya bahwa tinggal serumah dengan orang tua atau mertua memang tidak ada salahnya, malah bisa jadi ladang pahala buat kita hehe

    ReplyDelete
  10. Setiap orang memang mempunyai pandangan masing masing ya, terkadang memang lebih nyaman tinggal di rumah sendiri mekipun rumahnya sederhana

    ReplyDelete
  11. Komunikasi dengan pasangan memang sangat perlu dilakukan untuk menjaga hubungan baik dengan mertua ataupun orang tua

    ReplyDelete
  12. Memang banyak pasangan yang lebih memilih tinggal sendiri daripada harus tinggal dengan orang tua atau mertua

    ReplyDelete
  13. Tinggal bersama orang tua atau mertua memang menjadi PR tersendiri untuk pasangan suami istri apalagi yang masih baru menikah

    ReplyDelete
  14. Komunikasi memang kunci terbaik supaya kejadian seperti diatas tidak terjadi.

    ReplyDelete
  15. Setelah menikah emang paling enak hidup terpisah sih. Apalagi pny habit beda2. Kalau gak memungkinkan ya kita yg hrs fleksible. Dlu aku tgl d rmh mertua 4 tahunan. Tp kami memutuskan pindah karena rmh udh gak cukup cyn, hihi.

    ReplyDelete
  16. Mau tinggal di rumah ortu sendiri, mertua ,atau ngontrak, semua ada lima likunya ya mbak. Semoga di tiap ujian, ada hikmah yang mendewasakan 😊😊

    ReplyDelete
  17. Aku ini juga menantu yang tinggal serumah sama mertua hahaha
    kadang kalo males ya ndablek. Kalau rajin ya rajin.

    ReplyDelete
  18. Nah kadang mertua yg kudu 'numpang' ke rumah anak. Tapi kan ga juga dianggep keset si mertua. Walaupun apa2 pake duit anaknya. Pancen ya hubungan 2 generasi ini susah2 gimana

    ReplyDelete
  19. Belum nikah jadi belum tahu gimana rasanya punya mertua. Tapi paling nyaman memang tidur di rumahnya sendiri ya mbak. Betul banget itu.

    ReplyDelete
  20. Hmmm.. Suamiku jg pernah numpang di mertua sih. Ya semua itu ada seninya hehehe..

    ReplyDelete
  21. Semakin hari kita akan semakin dewasa dan bijak dalam menghadapi ortu dan pasangan yg mungkin berbeda pendapat ya mbak. Kalau bisa kita jadi penengah dan mendamaikan, meng-ademkan kedua belah pihak supaya tdk saling menyakiti

    ReplyDelete
  22. Kalau aku setelah nikah tinggal sama ibuku tapi meski di rumah sendiri aku masih merasa kurang leluasa. Sekarang tinggal di rumah sendiri sama suami dan bapak mertua. Alhamdulillah sih aku senang

    ReplyDelete
  23. Saya pernah 8 bulan tinggal drumah mertua,pernah konflik juga gara2 masakn hehe terus awal2 menikah masa kayak rebutan merhatiin suami,dia kyk blm bs nerima anak bungsunya udah beristri kl diinget lucu juga...skrg km udah misah jauh beda kota,selalu pny cerita kl tinggal bareng mertua,yg ga enaknya kl kamar mandi bareng,apalg kl pagi2 bgt udah mandi,dgodainπŸ˜…

    ReplyDelete
  24. Tinggal bareng mertua selalu pny cerita tersendiri,saya jg pernah 8 bln bareng mertua,kadang jg ada gesekan kecil,kuncinya tetap dsuami sbg penengah

    ReplyDelete
  25. Sejak nikah saya tinggal di kastil mertua, gas n listrik misah jadi bnr2 mandiri, ga ngerepotin sama sekali tp siapa sih yg ga pengen punya rumah sendiri secara cash? Semoga😊

    ReplyDelete
  26. Pernah merasakan tinggal bareng ortu, insyAllah banyak pelajaran yang makin mendewasakan

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!