Mau cari apa di blog Diyanika?

Sunday, 15 July 2018

Hampir Drop Out, Pemuda Asli Kudus ini Malah Menulis Novel Menara Cinta


Hampir Drop Out, Pemuda Asli Kudus ini Malah Menulis Novel Menara Cinta - Yaah, hampir mirip cerita hidup tokoh terkenal, sebutlah Bill Gates, Oprah Winfrey, Mark Zuckerberg, atau Walt Disney, mereka drop out, tapi, jadi apa sekarang? Terancam drop out (walau kuliah di universitas swastapemuda asli Kudus ini malah menulis novel Menara Cinta. Kenapa sampai terancam drop out? Bagaimana bisa menghasilkan sebuah novel Menara Cinta yang begitu menginspirasi?

Novel menara cinta

Dia adalah Danar Ulil Husnugraha. Teman sekelasku saat menempuh pendidikan S1 PGSD, di Universitas Muria Kudus. Kalau sedikit mengingat memori zaman kuliah dulu, Pak Ulil, begitu aku memanggilnya, menurutku dia adalah pemuda yang misterius.

Kok bisa? 

Pak Ulil itu pendiam. Tapi, sekali bicara langsung membuat yang mendengar heran. Gak cucuk (nggak sesuai) sama tampangnya, begitu pikirku. Penampilannya klimis, rapi, celana kain membersamai (meskipun dulu pernah boleh pakai jins untuk mahasiswa fakultas keguruan), sepatu pantofel yang selalu bisa bikin ngaca. Saat digosipin sama teman sekelas, responnya sama, cuma senyum-senyum saja. Hahaha. Oiya, satu lagi, dia terkenal sebagai mahasiswa yang suka telat masuk kelas.

Tahun 2017, tepat setelah tiga tahun diwisuda, aku kaget saat di grup alumni, nama Pak Ulil disebut sebagai mahasiswa yang dicari oleh dosen pembimbing skripsinya dan meminta tolong siapapun yang punya nomor kontaknya untuk membantu menghubungi.

“Nih orang belum lulus juga? Ngapain aja selama tiga tahun ini?” batinku.

Kabar itu berlalu begitu saja. Sampai akhirnya, aku lihat promosi buku karya Pak Ulil di facebook.

“Nggak lulus-lulus, bikin buku? Emang nggak bisa ditebak ini orang.”

Seketika itu juga aku pesan bukunya. Novel Menara Cinta pun mendarat di tanganku.

*** 
Benar adanya jika cinta itu bisa datang kapan, di mana dan untuk siapa. Solikin, seorang pemuda biasa jatuh cinta dengan anak Kiai-nya, Yuni sang kembang desa. Betapa girang hati Solikin saat tahu ternyata pujaan hatinya pun membalas apa yang dirasa.

“Bukannya aku tak mau punya menantu Solikin. Tapi apa tidak ada lelaki lain yang lebih pantas? Nanti kucarikan Gus yang cocok buat Yuni, Mi.” (hal 39)

Jelas lah hubungan mereka mendapat pertentangan, terutama dari Kiai Mukhtar Ali, abah Yuni. Keluarganya begitu terpandang. Sedangkan Solikin?

Sampai suatu hari,

“………………Abdul Rohman merupakan ketua Rijaul Ansor Jekulo dan aktif di BEM UIN Sunan Kudus. Aku sudah menganalisa pribadinya. InsyaAllah dia bisa jadi imam yang bertanggung jawab. Semoga kamu menerimanya…………….” isi surat dari abah yang dibaca Yuni saat dia sedang berjuang menempuh pendidikan untuk penguasaan bahasa internasional di Pare. (hal 84)

Novel menara cinta
Yuni, janganlah berduka.

Hati Yuni seakan remuk tak berbentuk lagi. Di saat dia dan Solikin sedang berjuang untuk memperbaiki dirinya, meningkatkan kualitas diri masing-masing, ternyata sang abah punya rencana lain.

Mendengar kabar Yuni yang akan dilamar oleh pemuda pilihan Kiai, keluarga Solikin meradang. Impian untuk memiliki menantu idaman seakan-akan sirna begitu saja. Solikin, apa kabar dengannya?

*** 
Membaca novel karya Pak Ulil ini seakan mendapatkan cermin dirinya. Apa yang ditulis di sana, itulah pola pikirnya. Menyeluruh, detail, dan wawasan sejarah islamnya begitu sangat kental. Tak hayal kalau novel ini banyak diburu oleh pemuda santri di berbagai penjuru Indonesia. Yang nggak santri juga boleh banget baca. Karena bahasa yang dipakai tidak yang islami saklek. Pun kalau ada istilah yang sulit, di bagian bawah ada footnote yang menerangkan istilah tersebut.

Aku yang empat tahun di Kudus dibuat terperangah, betapa sejarah islam di Kudus begitu menakjubkan. Aku merasa, selama empat tahun di Kudus, aku ngapain saja ya?

Baca novel ini, tidak hanya romansa percintaan sesama manusia saja yang bakalan kita dapat. Banyak hal, tentang rasa sabar, nerimo ing pandum, berbakti kepada orang tua, sampai tentang berprasangka baik san cinta yang seutuhnya kepada Allah SWT.

Novel bersampul menara Kudus ini sebenarnya sudah cetak dua kali. Banyak sekali perubahan di cetakan yang kedua. Mulai dari;
  1. Warna dan gambar cover
  2. Kertas yang digunakan
  3. Editing beberapa kata
  4. Terdapart quotes di setiap akhir sub judul
  5. Adanya beberapa ilustrasi yang semakin memperkuat isi cerita
  6. Di setiap halaman sub judul ditambah semacam border yang menambah apik novel ini
Novel menara cinta

Yang membuatku heran adalah novel ini ditulis berawal dari rasa patah hati kepada seseorang yang dicintainya. Yah, cinta. Orang yang kukenal sebagai aktivis FORMI, pernah terlena dengan namanya cinta. Tapi, itu manusiawi.

Selain karena sibuk menjadi aktivis ditambah patah cinta kuliahnya jadi molor sampai 7 tahun ya, Pak? Hahaha. Amazing, menurutku. Semoga novel ini menjadi kado terindah bagi kedua orangtua selain melihat Pak Ulil yang akhirnya diwisuda juga di tahun 2017 lalu. Yeay!

Kamu, kalau mau nulis novel, jangan menunggu patah hati dulu ya. Apalagi nunggu jadi mahasiswa yang diburu sama dosen. Karena inspirasi itu bisa datang dari arah mana saja. Yang nulis ini nggak pengen nulis novel juga? Hahaha. Untuk saat ini nggak dulu. Masih enjoy nulis di blog ini.

Kalau kamu?

Untuk Pak Ulil, good job untuk novel pertamamu ini. Ditunggu karya selanjutnya. Denger-denger sih mau kasih mahar istri dengan novel teranyar. Semoga terlaksana. Aamiin.

Misalnya kamu mau mengadopsi novel Menara Cinta ini kamu bisa cari tahu di instagramnya nih, @novelmenaracinta.


8 comments:

  1. ((Patah cinta)) begitulah kehidupan. Tapi ada hikmahnya ya. Jadi bisa berkarya. Dulu sempet juga pengen nulis novel pas patah hati. Tapi saya cuma di angan2 saja sampai skrg... hhh

    ReplyDelete
  2. Keren banget ya bisa nulis novel dengan riset mendalam, selamat buat pak Ulil semoga karyanya makin cling dan produktif..

    ReplyDelete
  3. Wah..jadi pengen baca novelnya juga nih

    ReplyDelete
  4. Menarik deh, jadi pingin tahu hasil riset yg kemudian dituangkan dlm Buku jd seperti apa

    ReplyDelete
  5. Hohoho, pak ulil mo nikah ya? Baarakallah..

    ReplyDelete
  6. Kita memang gk bisa menebak sifat orang hanya dari tampilan luar ya. Kayaknya pendiam ternyata langsung mengeluarkan novel.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih Bu Ika...atas ulasan Menara Cinta...
    Jazakallah kher

    ReplyDelete
  8. Wah kasih mahar pakai novel teranyar? Istimewa banget..

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!