Jadi Guru Kelas 1 SD itu Seru - Diyanika Journal

Wednesday, 31 October 2018

Jadi Guru Kelas 1 SD itu Seru



Apa yang ada di benak kamu saat muncul kata ‘guru kelas 1 SD’? Perempuan, penyabar dan sepuh? Ternyata tidak selalu seperti itu lho.

Tahun ini adalah tahun ketiga aku menjadi guru kelas 1 SD. Rasanya? Seru banget. Ada saja cerita yang ingin kutiliskan di sini. Terutama tentang tuntutan multitalenta seorang guru kelas 1 SD. Apa saja itu?

#Tukang Sisir
Berbaris adalah kegiatan di pagi hari yang selalu jadi favoritku. Karena saat kegiatan ini, taringku pasti keluar. Mak lampir datang. Heeeeh...eh...eh...eh...eh...

“Bajunya yang masih di luar dimasukkan dulu.”

“Tali sepatu, dilihat!”

“Yang pakai jilbab, ayo, dimasukkan rambutnya yang masih kelihatan.”

“Rizki, rambutmu besok dipotong ya, sudah kena telinga itu. Biar tambah ganteng gitu lho.”

“Belakang, belakang, kalau tidak bisa lurus tidak usah masuk saja.”

Saat mataku mengamati satu per satu, ”Alya, kamu tidak menyisir rambutmu lagi?”

Yang dipanggil namanya hanya nyengir dan berdalih takut terlambat. Tidak hanya Alya, seringnya malah anak laki-laki yang tidak menyisir rambutnya. Setelah kusisir, mereka hanya cengar-cengir. Ini sebenarnya mereka sengaja atau bagaimana? Andai saja nanti kalau mereka sudah kenal rasa ‘suka’, berapa kali sehari mereka akan menyisir rambut? Sekarang sih masih polos, sebentar lagi?

#Penjual Pensil
“Sudah puas bermain? Yuk, kita lemaskan juga jari kita dengan menggambar.”

Di tengah asyiknya menggambar, berkelilinglah aku. “Puji, kok masih kosong bukunya?”

“Tidak punya pensil, Bu.”

Kasus tidak punya pensil, pensil ketinggalan, atau pensil hilang ini menjadi makananku setiap hari. Bahkan sering juga wali murid yang cerita kalau sebenarnya dari rumah sudah bawa pensil dua, eh, di kelas hilang, dsb.


“Kalau tidak bawa atau tidak punya pensil, pinjamlah ke teman. Atau Bu Ika jualan pensil saja di kelas?”

Apa yang mereka lakukan saat mendengar perkataanku di atas?

“Hahahaha”

Mereka itu keterlaluan banget ndableknya. Tapi, sangat menggemaskan. Sehari saja aku tak jumpa, rasanya rindu.

#Dokter Idaman
“Aku mau disuntik Bu Ika saja." rengek Syifa saat ada imunisasi campak. Saat itu aku memang berpura-pura pegang jarum suntik dan memeluknya dengan erat.

"Kalau takut, jarumnya tidak usah dilihat, Syifa. Siap ya, Bu Ika suntik." dia mengangguk dan seketika petugas langsung menyuntiknya.

Berbeda lagi dengan Greva. Muridku yang gendut dan berkulit sawo matang ini langsung memelukku dengan erat saat petugas kesehatan kecamatan setempat hendak mengimunisasinya.

"Greva takut?" (badan boleh gede, kalau di kelas paling heboh, tapi namanya anak-anak lihat jarum suntik kayak kerupuk masuk kuah bakso, mlempem)

Kalau boleh jujur, saat ada jadwal imunisasi (biasanya 2 kali dalam setahun), aku pun ketar-ketir. Kenapa? Aku takut muridku banyak yang menangis atau memberontak. Dulu ada lho yang sembunyi di rak buku, masuk lemari, disuntik malah ngajak berantem, nendang perutku, dan macam-macam reaksinya.

Sudah, sudah kuberi pengertian pastinya saat hendak diimunisasi. Ditambah lagi penjelasan dari petugas kesehatan yang datang. Tapi, yang paling menyebalkan adalah seringkali muridku dapat kabar bocor dari kakak kelas kalau esok hari akan ada imunisasi. Alhasil, esok harinya nggak berangkat. Atau berangkat tapi pakai acara rewel minta ditunggui ibunya. Ini nyebelin banget.


Jadi, kalau ada jadwal imunisasi, aku meminta semua teman sejawat untuk meng-keep kabar tersebut. Alhamdulillah, tahun ini sukses. Nggak ada yang menangis sama sekali. Kelas sebelah pada teriak-teriak tuh. Murid Bu Ika mah jempol.

#Satpam Keliling
Namanya anak-anak, kalau sudah telanjur istirahat, inginnya main terus. Giliran sudah bel masuk, mereka ogah berbaris dan masuk kelas. Kadang ada juga yang sudah dengar bel berbunyi malah tenang-tenang saja di kantin. Alhasil, saat sudah masuk semua dan, "Siapa yang belum ada?"

"Faza, Bu."

Lari deh ke kantin, menyisir ke kamar mandi, tempat parkir, kalau semua tidak ada? Larinya ke grup WhatsApp wali murid. Tanya deh ke wali murid, apakah anak mereka pulang? Ternyata, iya.

Ada yang pulang ke rumah karena pengen pup-lah, uangnya habis, sampai ada yang hanya mau mengadu karena giginya copot. ((gerbang sekolahku nggak lengkap euy, anak-anak bisa kabur kapan saja :( terutama saat jam istirahat))

Tarik napas. Lega. Sering banget seperti itu, keliling sekolahan, keringat mengucur di dahi, baju bagian punggung basah. Tapi, kok ya nggak kurus-kurus ya aku ini.

#Tukang Cebok
Pelajaran sedang berlangsung. Muridku sedang asyik menggambar lambang dalam sila Pancasila. Berkelilinglah aku menengok hasil kerja mereka. Semakin ke belakang, kok seperti ada bau yang tak asing. Aku mulai curiga.

"Bu, kok seperti ada bau sepiteng ya?" tanya salah satu muridku yang duduk di belakang.

Mulai ada yang curiga nih.

Tak ada yang mengaku. Aku mencurigai murid laki-laki yang duduk paling depan. Tak biasanya dia bertingkah aneh. Akan tetapi, teman yang lainnya menuduh temannya yang duduk di belakang (mengira sumber bau dari belakang). Bahkan, ada anak yang dengan sigap mencium pantat anak tersebut.

"Nggak bau kok, Bu."

Berarti benar dugaanku.

"Kenapa harus pup di dalam celana. Apakah Bu Ika menakutkan? Kalaupun kamu mau pup, pasti bu guru tunggu sampai kamu kembali baru kemudian lanjut menggambar lagi."

Sebagai guru aku pasti kecewa. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku malah lebih senang kalau ada yang jujur, "Bu, aku nggak bisa cebok." Setelah itu kuceramahi deh orangtuanya. Hahaha. Lain kesempatan, saat dia pup lagi sudah bisa sendiri.

Tahun lalu ada anak perempuan yang pup di pojok kelas. Tahun ini malah anak laki-laki yang pup di celana. Berasa gagal deh jadi guru.

#Wasit Paling Cantik
Anak-anak kelas 1 SD itu hobi banget bertengkar. Perkaranya sepele, seperti diejek temannya lah, tasnya kesenggol dikit, pensilnya direbut temannya, ada teman belakangnya pinjam penghapus nggak bilang, dll. Ujung-ujungnya nangis atau teriak-teriak nggak jelas, kemudian ngadu, "Bu Guru si ini nakal."

Kalau dipikir pakai nalar orang dewasa, ini apaan sih? Tapi, inilah anak-anak. Aku harus jadi anak-anak juga untuk menyelesaikannya.



Kudatangi mereka, bicara baik-baik (tatap mata mereka dengan posisi mata sejajar alias merendahkan tubuh di hadapan mereka), maaf-maafan, berpelukan, kelar, mereka ketawa-ketiwi lagi. Sesimpel itu.

#Pelatih Handal
Sebutan ini berlaku sejak di kelasku pakai kurikulum 2013. Karena PJOK kan gabung dalam satu tema dan guru PJOKnya agak errrr... Nanti kalau urusan rapotan aku suruh mengarang sendiri nilainya. Duh, duh, duh. Mendingan aku ajar sendiri deh murid-muridku.

Materi PJOK anak kelas 1 SD kan ya nggak berat-berat banget. Misalnya, lempar bola dari berbagai arah, berjalan di titian, bergelantungan, berjalan berurutan, berjalan lurus sambil berkelompok, sampai guling ke depan.

Nah, untuk kegiatan yang terakhir, aku punya cerita lucu. Kegiatan guling ke depan itu kan dilakukan di kelas. Tentu aku harus memberi contoh terlebih dahulu ya.

Dengan semangat yang membara, kuangkat pantatku dan bruuukk. Pantatku mendarat tidak sempurna. Aku bagaikan gajah yang duduk terbengong-bengong. Muridku melongo, takut aku kenapa-kenapa.

"Hahahahaha...Bu Ika kan kayak gajah, jadi susah berguling. Maaf ya hahaha..."

Murid-muridku ikut tertawa. Alamaaak, ternyata matras yang kupakai untuk berguling tak seempuk bayanganku. Kalau dipakai anak-anak sih masih oke. Nah, aku? Benar-benar gajah berguling yang gagal total.

Cool gray surface pink side air tumble track

Cool gray surface pink side air tumble track

Pas lagi asyik download video untuk materi pelajaran esok hari, kulihat iklan di Youtube tentang air track hire kok tergiur. Bentuknya tipis tapi bisa mental gitu kalau dipakai. Jenisnya juga banyak, salah satunya air track tumbling mat. Seru ya kalau di rumah punya sendiri. Bisa untuk main bersama Kak Ghifa yang suka jumpalitan juga. Terlebih lagi bisa dipakai saat di air. Mumpung ada airtrack mat for sale juga. Ah, bisa usul nih kepada kepala sekolah kalau mau beli semacam matras pakai merek ini saja. Biar nggak kejadian sepertiku. Gajah yang oleng.

#Pelukis Amatiran
Sejelek-jeleknya gambar yang kuhasilkan di papan tulis, mereka pasti bilang, "Wah, baguuuuus, Bu." ((Mata mereka langsung keluar love love-nya))

Padahal, aku nyontek di Google. Aku kan nggak jago-jago amat menggambar. Tapi, karena menjadi guru kelas 1 SD, aku dituntut harus mau belajar menggambar. Ternyata, aku berhasil. Berhasil membohongi mereka, karena sesungguhnya gurunya adalah pelukis amatiran. Hihi.

Bagaimana, seru kan jadi guru kelas 1 SD itu? Kalau misalnya kamu ada tawaran untuk menjadi wali kelas 1 SD, hajar saja! Kita patahkan tradisi kalau guru kelas 1 SD itu harus perempuan, sepuh dan penyabar. Karena semua bisa dipelajari.

Menjadi guru kelas 1 SD itu intinya harus paham karakteristik siswa, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, sajikan media pembelajaran yang konkret dan siapkan stok sabar. Yah, ada kalanya harus bertingkah seperti anak-anak juga agar kelas semakin hidup. Satu lagi, jangan jadi guru yang jaim sama anak didik.



Salam,
Diyanika-Guru Kelas 1 SD.

1 comment:

  1. Seru banget ceritanya, Bu. Kebayang kehidupan guru SD yang selalu ceria.

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!