Kamis, 31 Januari 2019

ASUS Zenfone Max M2 Mendukung Kolaborasi Apik Antara Guru dan Wali Murid


ASUS Zenfone Max M2 Mendukung Kolaborasi Apik Antara Guru dan Wali Murid – Sebagai guru kelas 1 SD, aku merasa beruntung karena memiliki wali murid yang sangat kooperatif. Di awal tahun ajaran baru, proses peralihan dari TK yang selalu ditunggui orangtuanya, makan disuapi, jajan diantar, sampai setelah pipis pun diceboki, membuatku yang notabene guru muda harus bekerja lebih ekstra dibandingkan saat mengajar di kelas 3 (3 tahun yang lalu). Tanpa peran serta, dukungan, dan kepercayaan dari wali muridku, apalah aku ini?

Ini adalah foto saat pertama kali aku berjumpa dengan wali muridku, difoto oleh rekan guru dengan HP ASUSku

Satu tahun pertama, kedua, dan kali ini yang ketiga tahun mengajar di kelas 1 SD, wali muridku tahun ini luar biasa. Dari awal berjumpa di tahun ajaran baru - saat sosialisasi proses pembelajaran yang akan aku lakukan selama satu tahun- mereka tampak antusias. Tentu aku sangat bersyukur. Karena menurut pengalamanku, kalau wali muridnya excited dengan dunia pendidikan, insya Allah kesuksesan anak-anak di sekolah akan tinggi.

Hari pertama bertemu dengan wali muridku, tidak kusia-siakan kesempatan itu. Selain melempar formulir data-data penting berkaitan sang anak, menyampaikan program kelas 1, pun aku dengan percaya diri membagikan kartu namaku.

“Ibu, Bapak, sudah banyak yang punya WhatsApp ya? Tolong nanti sampai rumah, SMS atau WA saya. Karena saya akan membuat grup khusus wali murid agar njenengan di rumah bisa tahu anak-anak kalau di sekolah ngapain saja.”


Setelah berjalan selama tiga tahun, sebagai guru, aku merasa dengan adanya grup WhatsApp wali murid ini ada beberapa kelebihan. Diantaranya:

Konsultasi
Ada yang sering bilang kalau anak-anak itu lebih bisa nurut dengan gurunya dibandingkan dengan orangtua. Betul apa betul? Betul banget.

Sering sekali ada orangtua yang cerita anaknya masih ngompol dan ngedot. Kemudian minta tolong kepadaku, agar anaknya bisa lepas dari kebiasaan tersebut. Bimsalabim, mereka sudah tidak ngompol dan ngedot. Wali murid kemudian memberitahukan kabar gembira itu lewat WhatsApp dengan penuh suka cita. Sesungguhnya, bahagiaku melebihi bahagianya, wali murid.

Sering juga wali murid bertanya langsung kepadaku, bagaimana anaknya saat di kelas, apakah memperhatikan? Bisa mengikuti kegiatan di kelas? Nakal tidak di sekolah? Dll. Sebaliknya, aku yang gurunya juga balik konsultasi, misalnya, menemukan sebuah kasus, apakah anak ini kalau di rumah demikian juga? Tapi, ya, selalu memperhatikan batasan-batasan tertentu. Selama aku bisa mengarahkan anak didikku ke arah yang lebih baik, pasti akan kulakukan dengan semaksimal mungkin.

Pengontrolan Terhadap Siswa
Pernah saat istirahat, ada muridku yang lari tergopoh-gopoh ke dalam kelas kemudian mengadu kepadaku, “Bu, Salsa keluar gerbang. Katanya mau pulang.”

Aku yang mendengarnya kaget. Loh kok tidak izin aku? Nanti kalau di jalan kenapa-napa, waduh, bakalan jadi kasus ini. Saat kususul di depan gerbang, Salsa sudah tidak ada. Kemudian aku langsung membuka WhatsApp dan mengirim kabar ke grup tentang kejadian yang dialami Salsa.

Ternyata oh ternyata, Salsa pulang ke rumah hanya untuk memberi kabar kepada ibunya kalau giginya lepas. Semua anggota grup mengirim emoticon bergambar tertawa terpingkal-pingkal. Sesampainya di kelas, Salsa tersenyum-senyum sambil memamerkan gigi depannya yang sudah tidak lengkap. Tak lupa kuingatkan secara halus, kalau esok hari ada apa-apa dan harus pulang ke rumah, izin kepada Bu Ika. Huh, lega rasanya dan pembelajaran pun berlanjut seperti biasa.

Pengawasan dan Evaluasi
Ini kasus terbaru, suatu siang, selepas anak-anak pulang, aku masih sibuk dengan administrasi kelas dan persiapan untuk materi esok hari. Tiba-tiba ada WhatsApp masuk, tertera nama salah satu siswaku. Ada apa nih?

Ternyata, wali murid mengabarkan kalau anaknya, saat di sekolah dipalak oleh temannya dengan inisial F dan A. Seketika aku kaget. Karena aku tahu betul F anaknya seperti apa. Dia kalau menemukan uang di mana saja, di dalam atau di luar kelas selalu mengadu dan memberikan uang itu kepadaku, masak ini dia sampai malak? Heranku.

Wali murid yang mengadu itu sebenarnya anaknya baru masuk kelas di semester 2 ini. Karena aku belum paham karakternya seperti apa, aku pun tidak kemudian mengambil tindakan yang frontal ke F dan A. Kuselidiki pelan-pelan. Kutanyai mereka secara tidak langsung saat bermain.

Jelas, kasus seperti ini mengganggu ketenangan hatiku. Kalau sampai ada anak yang bertindak demikian, itu termasuk kesalahanku juga. Tapi, Alhamdulillah, tabir kepalsuan pun terungkap. Ternyata anak yang mengadu kepada ibunya itulah yang perlu bimbingan. Ternyata dia takut kepada sang ibu karena uang sakunya sering habis dipakai utuk membeli mainan. Makanya, agar tidak dimarahi oleh ibunya dia mengaku dipalak oleh F dan A.

Saat kutanya secara halus, anak baru itu tak pernah berani menatap mataku. Bahkan dia mengelak selalu ingin duduk. Kupersilakan mereka untuk saling maaf-memaafkan. Tapi, anak baru itu masih angkuh, tidak mau melakukannya. Ya, sudahlah, pelan-pelan saja. Kuberikan pengertian kepada F dan A agar mereka tidak merasa sakit hati ke depannya.

Dari kasus WhatsApp wali muridku tadi, aku bisa banyak belajar, bagaimana aku harus bersikap kepada anak didikku juga kepada orangtuanya? Baik dalam menerima masukan, kritikan, maupun saran yang sifatnya membangun untuk kemajuan anak-anak. Intinya, setiap kali membaca WhatsApp wali murid, apalagi itu tentang studi kasus, aku harus berkepala dingin. Tidak boleh ada timbangan berat sebelah, karena semua adalah anak didikku.

Pengembangan Kegiatan Siswa di Sekolah
Semenjak jadi guru, aku belajar untuk menjadi orang yang lebih open minded. Saran dan kritikan dari wali murid kutampung semua kemudian kupilah mana yang akan kumodifikasi untuk perkembangan murid-muridku di kelas.

Seperti saat kegiatan membuat plastisin. Setelah sampai rumah, banyak wali murid yang memamerkan karya-karya anaknya di grup. Kemudian chat sana-sini dan ada salah satu wali murid yang bercerita kalau semalam beliau dan anaknya sudah mencoba membuat. Berdasarkan pengalaman mereka, plastisin anak-anak akan lebih bagus dan awet kalau jumlah garamnya banyak. Dengan senang hati aku mengucapkan terima kasih untuk informasi yang diberikan. Karena ilmu itu bisa kugunakan lagi di lain waktu. Tapi, jujur saja, karena harus mengurus 33 anak, mereka bereksperimen sendiri-sendiri. Aku hanya menerangkan caranya step by step dan membantu apabila ada yang mengalami kesulitan. Aku tak begitu perhatian soal banyak sedikitnya garam berpengaruh dengan kualitas plastisin anak-anak. Bagiku, ilmu yang diberikan wali muridku itu sangat berguna untuk pengembangan kegiatan anak-anak ke depan.

Chatting dengan wali murid yang men-share pengalamannya membuat plastisin di rumah

Itu poin untuk kelebihan yang kurasakan selama menjadi guru dengan adanya grup wali murid. Sebenarnya dengan adanya grup ini, pekerjaanku sebagai guru semakin bertambah. Setiap hari aku harus selalu laporan kegiatan demi kegiatan yang terjadi di kelas. Apalagi saat ada kegiatan keterampilan. Aku harus siap sedia mengambil foto atau video anak-anak, kemudian menyampaikannya di grup.

Kalau ibarat pisau bermata dua, grup WhatsApp wali murid ini sebenarnya ada kelemahannya juga. Satu, ada wali murid yang sering mengirim pesan pribadi dan kesannya sok dekat (tidak ada urusannya dengan anak-anak) dengan guru. Dua, seperti kasusnya anak baru yang mengaku dipalak temannya, ini akan lebih baik kalau disampaikan secara langsung. Kalau disampaikan lewat WhatsApp dengan bahasa halus pun kadang memunculkan perasaan yang kurang tepat bagi yang membaca. Akan lebih baik kalau duduk berhadapan, bicara dari hati ke hati. Yah, tidak semua memang terselesaikan dengan pesan WhatsApp kalau sifatnya urgent seperti itu. Ketiga, ada kalanya wali murid mengirim pesan yang tidak semestinya pantas dishare di grup wali murid.

Di lain sisi, adanya grup WhatsApp ini juga memudahkanku. Tiga tahun lalu saat aku mengajar di kelas 3, aku berkomunikasi dengan wali murid melalui buku penghubung yang harus kutulis satu per satu siswa. Buku penghubung aku bagikan ke wali murid, dibawa pulang, ditandatangani, kelar. Ada satu atau dua wali murid yang membalas isi buku penghubungku. Tapi, secara umum komunikasi yang terjadi hanya satu arah. Berbeda kalau ada grup di WhatsApp, semua bisa nimbrung dalam obrolan. Kesannya justru lebih seru dan ada keterbukaan untuk kemajuan anak-anak.

Beberapa foto kegiatan anak-anak di kelas

Selain itu, pembelajaran juga berlangsung dengan lancar. Terutama kalau ada tugas membawa bahan-bahan keterampilan. Meskipun anak-anak sudah mencatat di bukunya, aku akan tetap mengirim kabar di grup. Tujuannya ya agar orangtua aware dengan tugas anak. Bukankah anak menjadi manja dan tidak mandiri karena orangtua sudah tahu? Ya, tidaklah. Aku tidak pernah cerita kalau aku selalu mengirim kabar ke orangtua mereka. Hihihi. Jadi, mereka punya tanggungjawab untuk menyiapkan tugasnya sendiri.

Seru. Jelas, itu yang kurasa. Ternyata menjadi guru itu tidak hanya berkawan dengan anak didikku, tapi juga dengan kedua orangtuanya. Banyak sekali pengalaman berharga yang kudapatkan. Sungguh beruntung aku bisa menjadi guru, apalagi di era milenial seperti sekarang ini. Insya Allah semua serba mudah, terutama untuk menjalin komunikasi dengan wali murid lewat WhatsApp.

Tentu guru-guru di luar sana juga banyak yang merasakan apa yang kurasakan di atas. Antara aku dan wali murid saling mengisi dan berbagi sehingga menjadi kolaborasi yang apik. Dengan bermodalkan smartphone dan aplikasi WhatsApp, komunikasi dengan wali murid untuk mendukung kemajuan belajar anak didik menjadi lebih mudah.

Ngomong-ngomong tentang smartphone, aku ingin meng-upgrade smartphoneku sekarang, yaitu ASUS Zenfone Max yang sudah menemaniku sejak Februari 2017 lalu dengan ASUS ZenFone Max M2. Kenapa harus ZenFone Max M2? Karena smartphone ini adalah keluaran terbaru dari ASUS (Desember 2018) dengan harga aman di kantong tapi punya spesifikasi yang ciamik. Ini HP gaming lho, tapi harganya nggak sampai 3 jutaan. Berikut kupamerkan keunggulannya untukmu, siapa tahu kamu juga lagi hunting smartphone untuk mendukung hobi nge-gamemu. Untuk yang tidak hobi nge-game, smartphone yang satu ini sangat cocok untuk mendukung aktivitas sehari-hari.



Performa
Smartphone untuk gaming biasanya dia punya spesifikasi prosesor yang tinggi kemudian baterainya cepat ludes. Memang benar untuk prosesornya, ZenFone Max M2 ini dilengkapi dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 632. Performanya begitu kuat, lebih cepat 40% dari generasi prosesor sebelumnya, yaitu Qualcomm Snapdragon 625. Tapi, tenang, smartphone ini tetap hemat baterai dan nggak cepat panas. Apalagi sistem operasinya pure Android Oreo 8.0 yang sangat ringan untuk bermain game. Untuk main game saja ciamik, apalagi kalau hanya untuk keseharian ya.



Kubayangkan ketika aku harus berpacu dengan kesempatan, saat ingin memotret atau mengambil video anak-anak yang asyik berkegiatan, aku tak perlu menunggu loading yang lama. Bet, bet, bet, kelar langsung kirim ke wali murid.

Senangnya lagi, ASUS ZenFone Max M2 ini dilengkapi dengan RAM 3GB/4GB dan ruang simpannya sampai 32 GB/64 GB. Aku juga nggak perlu buru-buru untuk mindahin dokumen, foto, dan video ke laptop karena smarphone ini juga mumpuni untuk slot MicroSD hingga 2TB.

Baterai
Bagi kamu yang keseringan lupa nge-charge, berbahagialah, karena smartphone satu ini dilengkapi dengan baterai li-polimer 4000mAh. Dengan kapasitas baterai yang besar kemudian didukung dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 632 yang mampu menyeimbangkan performa dan konsumsi daya baterainya, maka tak heran, apabila digunakan sewajarnya (tidak digunakan untuk main game), smartphone ini bisa bertahan lebih dari 3 hari.

Berdasarkan hasil uji coba dari laboratorium ASUS, untuk bermain game seperti Garena Free Fire, smartphone ini bisa bertahan selama 8 jam. Ini jelas mengurangi barang bawaan kita kalau biasanya nenteng-nenteng powerbank ke mana-mana. Kalau pas lagi di jalan atau makan di suatu tempat juga nggak harus celingak-celinguk cari tempat duduk yang dekat colokan. Kalau aku, misalnya pakai smartphone ini ya nggak perlu cari pinjeman charger ke teman guru karena kelupaan nge-charge HP. Saking awetnya.

Layar
ASUS yang kupakai sekarang memiliki layar 5,5 inci, itu saja rasanya sudah WOW banget. Lah, ini ASUS ZenFone Max M2 hadir dengan layar yang lebih lebar lagi, yaitu 6,3 inci dengan resolusi 1520 x 720 piksel (19:9 resolusi HD+). Selain itu, smartphone ASUS ini juga mengusung layar berponi/lekukan bagian atas (notch) yang lagi ngetren. Kita kalau mau nonton video atau melihat hasil jepretan kamera, tenang, akan tetap nyaman di mata. Yang suka main game bakalan makin betah. Baterainya awet kemudian layarnya mendukung, hajar terus.



Desain
Dengan ketebalan 7,7 mm dan berat 160 gram, ASUS ZenFone Max M2 ini memiliki desain metal body yang tampak mriyayeni (mahal, anggun, dan kokoh) tapi tetap nyaman saat digenggam atau digunakan untuk nge-game. Dari tiga warna pilihan yang ditawarkan, yaitu Midnight Black, Space Blue, Meteor Silver, yang terakhir jadi pilihanku.

Pilihan warna ASUS ZenFone Max M2

Kamera
ASUS ZenFone Max M2 ini terdiri dari kamera depan dan belakang. Untuk kamera depan (selfie) memiliki resolusi 8MP dengan aperture f 2.0, ada softlight LED flashnya, juga memiliki fitur real time beautification. Pokoknya cocok untuk kita - cewek-cewek- yang suka selfie tapi pengen secara instan jerawat hilang, bentuk wajah seimbang, kulit cerah dan lain-lain. Pokoknya nggak usah pakai aplikasi di HP lagi, jepret langsung cantik. Hihihi. Mau banget, kan?


Hasil jepretan dengan ASUS Zenfone Max M2

Kamera belakangnya memiliki resolusi 13MP dan 2MP dengan apertur f/1.8. Ada flashnya juga. Dengan kamera ASUS ZenFone Max M2 ini kita dapat mengambil foto yang lebih jelas dan detail pada situasi apapun. Kalau aku pakai smartphone ini tidak perlu khawatir nih kalau mendung datang dan pintu kelas ditutup. Karena hasil jepretannya tidak mengecewakan. Soal ambil video? Tenang, ada fitur EIS  yang membantu pengguna smartphone ini mengambil video dengan lebih stabil.

Audio
Untuk kamu yang suka mendengarkan musik atau menikmati audio saat main game, ASUS Zenfone Max M2 ini menggunakan 5 magnet speaker dengan lapisan metal dan amplifier NXP dengan distorsi rendah, sehingga menghasilkan suara yang jernih dan jelas.


Triple Slots
Kalau misalnya membeli smartphone baru, salah satu yang akan aku perhitungkan ya jumlah slotnya. Aku malas banget kalau harus menenteng banyak gadget di tas. Karena nomorku dengan suami sama, tapi dengan kedua orangtuaku berbeda. Tentu butuh satu gadget tapi sudah bisa meng-handle semua. Nah, ASUS ZenFone Max M2 ini memiliki dua slot kartu SIM ganda yang mendukung jaringan 4G LTE (kecepatan lebih dari 300Mbps) dan 1 slot untuk MicroSD yang bisa menyimpanan data sampai 2TB.


Harga:
3GB/32GB dibanderol dengan harga hanya Rp.2.299.000
4GB/64GB dibanderol dengan harga Rp. 2.699.000

Setelah membaca ulasanku di atas, tak salah kalau smartphone ini dipamerkan sebagai smartphone yang murah meriah, berkamera cihuy, dan asyik untuk main game, bukan? Apalagi ditambah dengan fitur konektivitas WLAN 802.11b/g/n, Wi-Fi Direct, dan dilengkapi dengan Bluetooth 4.2. Untuk fitur keamanannya pun memiliki sistem pengenalan wajah, cukup melihatnya saja sudah terbuka. Terdapat juga sensor fingerprint di bagian belakang dan untuk mengaktifkannya pun hanya butuh 0.3 detik. Cling, kelar deh ya.

Bagaimana, harganya masih aman kan di kantong? Duh, ingin sekali kukantongi satu untuk senjataku berkomunikasi dengan wali murid. Biar makin cas cis cus, bet, bet, bet kalau harus mengirim kabar ke mereka. Kamu yang punya resolusi ganti smartphone di awal tahun 2019 dengan harga murah meriah, ASUS ZenFone Max M2 ini rekomended.

*Sumber foto dan informasi diunduh dari website resmi ASUS Indonesia dan diedit dengan aplikasi Canva.com


SPESIFIKASI ASUS ZENFONE MAX M2
Ukuran Layar
:
IPS LCD 6,3 inci, 720 x 1520 piksel, rasio 19:9
Dimensi Fisik
:
158,4 x 76,3 x 7,7 mm
Bobot
:
160 gram
Prosesor
:
Qualcomm Snapdragon 632, Octa-core 1,8 GHz Adreno 506
RAM
:
3 GB/4GB
Media Penyimpanan
:
32 GB/64 GB, microSD slot hingga 2TB
Kamera Belakang
:
13 megapiksel (f/1,8) dan 2 megapiksel
Kamera Depan
:
8 megapiksel (f/2.0)
Kapasitas Baterai
:
4000 mAh
Konektor
:
microUSB 2.0
USB OTG
3,5 mm audio jack
GPS
:
Ya, A-GS, GLONASS, BDS
Konektivitas
:
4G, Wi-Fi 802.11, Bluetooth 4.2, Hotspot
Kartu SIM
:
Dual SIM
Biometrik
:
Fingerprint sesnsor (di belakang), face unlock
Sistem Operasi
:
Android Oreo 8.1, Android Stock
Pilihan Warna
:
Midnight Black, Space Blue, Meteor Silver
Harga
:
Rp 2,3 juta (3/32 GB) dan 2,7 juta (4/64 GB)

33 komentar:

  1. ASUS Zenfone Max M2 Emang keren banget, performanya bagus, baterainya besar dengan 4000 mAh udah puas banget lah, melakukan aktivitas apapun gak perlu khawatir lagi deh..

    BalasHapus
  2. Udah speknya smartphone gaming, untuk kebutuhan mobilisasi kegiatan sebagai guru pasti lebih gesit mbak
    Semoga sukses meminang Zenfone Max M2 nya, Mbak.e ^_^

    BalasHapus
  3. Selalu seneng baca cerita mba Ika ttg anak2. Kalo punya hp ini bisa semakin mendukung komunikasi dgn ortu ya mbak :D

    BalasHapus
  4. Kereeeeeeeen ... ga semua guru lho mba yg memanfaatkan teknologi sbg sarana spt ini. Barakallah ya mba ... asik ya jadi guru. Dapet hepi sama dapet gaji hihihi

    BalasHapus
  5. desain handphone yang full screen bikin aku kepincuuttt...
    mungkin 2/3 tahun lagi aku akan ganti handphone, Asus jadi salah satu brand yang jadi pilihanku.
    semoga asus makin banyak mengeluarkan produk baru yaaa.. aamiin.

    BalasHapus
  6. Wah mantap nih semangatnya manfaatkan teknologi
    Harga di kisaran 2 juta, enggak termasuk mahal kalau.lihat speknya yang kexe

    BalasHapus
  7. Sejatinya pendidikan anak itu merupakan tanggung jawab semua pihak. Dari guru hingga orang tua murid. Tentunya akan lebih baik lagi kalau semua pihak kompak ya...

    BalasHapus
  8. Dengan spesifikasi selengkap itu, harganya termasuk terjangkau ya. Keren, bisa dimanfaatkan utk keperluan sekolah.

    BalasHapus
  9. Seru ya jadi bu guru, yang pasti banyak sabarnya menghadapi muridnya. Nah soal grup WA gini, sekarang rata-rata udah pada bikin umtuk komunikasi guru dan wali murid ya

    BalasHapus
  10. teknologi smakin memudahkan manusia ya. tentunya dengan catatan tertentu agar bs maksimal gunanya. Kalau salah kaprah makainya ya justru merugikan. Btw Asus produknya emang selalu kece. Mupeng juga pengin beli tp nunggu dananya ada dulu huhuhu...

    BalasHapus
  11. Wah keren bu ika guru kelas1. Aku yang paling berkesan juga guru kelas 1 sd dulu. Walau sekarang sudah mau 30tahun lebih tetap beliau terkenang.
    Aku juga pecinta asus. Sekarang make zenfone maxpro. Emang hp asus gak ngecewain kalau sudah ditangan.

    BalasHapus
  12. Membaca interaksi Bu Guru Ika dg murid2nya selalu menyenangkan.. Oya semoga sukses berjodoh dg Asus Zenfone Max2 ini ya..

    BalasHapus
  13. Aku juga user Asus Zenfone 3 Max dan belakangan sering baca review tentang Asus Zenfone Max 2 yang cocok banget buat pencinta game namun juga punya kamera yang bisa diandalkan untuk pencinta fotografi.





    BalasHapus
  14. Aku naksir juga nih Max M2, baterainya kuat banget, kamera mumpuni, storage besar. Cocok banget buat dibawa travelling :)

    BalasHapus
  15. Swmoga menaaang ya mba.. memang whatsapp group sangat banyak membantu. Di kantor juga jadi alat komunikasi yang efektif

    BalasHapus
  16. Kapasitas batereinya lumayan besar ya 4000 mAH duh ini mah awet banget pasti dari pagi sampai malam. Untuk wag sekolah aku juga punya mba secara anak2 ku pada beda sekolah dan kelas jadi puhya wag banyak hehe.

    BalasHapus
  17. dulu awal anakku TK tahun 2017, kaget kok ada WAG sekolah ternyata sekarang zamannya ingetin tugas sampe report harian lewat WA hahaha aku merasa jadi ortu kerenlah setiap hari bisa mantau kegiatan anak meski aku kerja mba :p

    btw HP keren ini yah pengen beli ini udah bilang ke pak suami semoga ganti hp thn ini :p

    BalasHapus
  18. Kak Diyanika keren banget...
    Aktivitas yang padat saat menjadi guru, lalu masih bisa beraktivitas di dunia maya.

    Semoga bersama ASUS Zenfone Max M2 makin lancar mengerjakan segala aktivitasnya.

    BalasHapus
  19. Aku senang kalau gurunya anak-anak mudah dihubungi dan cepat membalas pesan di whatsaap wkwk. Biasanya guru kelas 1-3 masih begitu tapi kelas 4-6 sudah agak sulit dihubungi.

    BalasHapus
  20. Perlu banget pengingat dari guru ke orang tua namanya juga anak-anak kadang suka lupa menyampai pesannya sama orangtua. Kalau di grup sekolah aku biasanya menjawab seperlunya saya. Kalau dari sisi guru sebaiknya ada orangtua izin anaknya gak masuk lewat grup atau japri? kok aku suka risih ya kalau ada orangtua yang minta izin di grup

    BalasHapus
  21. Grup Whatsapp-ku segambreng sampai bikin HP agak nge-lag. Sepertinya butuh upgrade ke Max M2 nih.

    BalasHapus
  22. Membantu banget nih handphonenya. Kudukung mb Ika punya hape ini. Pasti bermanfaat banget untuk ngajar dan mencari bahan pelajaran ya.

    BalasHapus
  23. Hape ini memang bisa memfasilitasi semua jenis pekerjaan. Termasuk ibu guru. Bahkan ibu rumah tangga. Kehebatannya bikin kita gak kudet. Dan ternyata terjangkau ya harganya. Padahal canggih dan keren fiturnya.

    BalasHapus
  24. Kapasitas batere 4000mAh kuat banget nih, ga bakal cepet panas ya hapenya

    BalasHapus
  25. Bu guru keren. Aku juga samaa enaknya komunikasi di grup wa dg orang tua wali murid

    BalasHapus
  26. Alhamdulillah.. suka banget dengan kolaborasinya.. aku dukung hal-hal positif seperti ini.. memang jika ingin lebih baik dalam salah satu hal, kolaborasi menjadi pilihan tepat ya.. untuk saling belajar dan saling support juga

    BalasHapus
  27. Asus emang idaman banget ya Mba DIyanika.
    Kita jadi bisa berekspresi jadi segala macem hehehe baterainya itu awaet banget, apalagi prosesornya kece bikin baterai ga panas

    BalasHapus
  28. Zenfone Max M2 ini pernah aku pegang dan hasilnya bikin saya pengen ganti Zenfone 4 Max Pro ku haha

    BalasHapus
  29. Zaman skrng komunikasi guru wali murid lebih mudah ya mbaakk. Zamanku dulu kyknya rtu yg datang ke sekolah atau rumah guru hehe.
    Bagus hapenya mbak, kameranya mumpuni ya, naksir aku hehe. Moga2 bisa punya hape kyk gtu juga :D

    BalasHapus
  30. Bu guru teladan banget nih Ika. Aku ngebayangin ya riweuhnya mengasuh anak2 kelas 1 uwwhhh... Dulu aja pernah pas Kelas Inspirasi aku masuk ke kelas 1. Seperempat jam udah pengin nyerah :))

    Bener banget, dengan device yang mumpuni dan awet baterainya, semoga makin maksimal ya berkarya sebagai guru. Keren banget lah pokoknya Bu Guru Ika ini.

    BalasHapus
  31. MasyaAllah mbak, barakallah, moga selalu diberikan kesehatan dan umur panjang. Aku suka sama guru yang inspiratif kayak dirimu. Btw keren ya smartphone ini. Fotonya bagus bagus.

    BalasHapus
  32. Belum punya pengalaman jadi wali murid, tapi kakak saya punya 4 anak tiap2 anak bunya grup whatsapp hehehe, tapi memang sangat membantu katanya untuk informasi mengenai anaknya.. dan untuk asus banyak banget review yang keren yah, soalnya untuk asus cuman pake laptopnya aja, dan itu tahan banting banget.. jadi pengen cobaa pake asus..

    BalasHapus
  33. seru ya mbak jadi wali murid itu, bisa deket juga sama siswa dan orangtuanya juga
    anyway ini zenfone juara deh selalu dengan performa RAM dan memory yang besar

    BalasHapus

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!