Sabtu, 18 Mei 2019

Serumah dengan Orangtua Bisa Tetap Akur? Harus Bisa Dong!


Setelah menikah, apakah hidup kita pasti akan bahagia? Belum tentu. Bahkan, ada yang mengumbar cerita, bukan bahagia yang datang, melainkan bencana. Ada saja masalah yang menyapa. Mau perkara kecil maupun yang segedhe gajah.



Bagaimana dengan menurutku?

Sepertinya, dulu, aku tidak pernah baca buku lika-liku pernikahan. Atau mungkin belum ada buku yang membahas betapa 'menyedihkannya' kehidupan setelah menikah?

Baiklah, mungkin ceritaku ini akan memberikan sedikit gambaran, betapa kehidupan setelah menikah itu SESUATU BANGET.

Aku ini anak tunggal. Masih hidup serumah sama bapak dan ibuku. Aku menikah dengan abi yang punya empat saudara. Jelas, karena lahir dari rahim yang berbeda, punya tetek bengek yang berbeda. Salah satunya adalah perbedaan pola asuh dari kedua orangtua kami.

Nah, karena perbedaan itulah kerikil-kerikil kecil setiap hari muncul. Kalau tidak lapang dada menghadapinya, dijamin, bakalan bubar jalan. Dikit-dikit jadi masalah. Emosi sampai ke ubun-ubun. Huaaaaaaaaa. Stres.


Baru-baru ini, puasaku juga sedang diuji sama Allah lewat ibu dan abi. Pokoknya, apa yang dilakukan abi selalu dapat komentar pedas dari ibuku yang notabene orangnya ceplas-ceplos.

"Bojomu kuwi lho, egois. Ngerti yen bue numpak bus kok yo ora dijemput." (Suamimu itu lho, egois. Tahu kalau ibu naik bus kok ya tidak dijemput.

Detik itu juga, saat selesai membaca isi pesan WA dari ibu, aku langsung naik pitam. Langsung deh pikiran burukku ke abi muncul. Abi tuh emang gitu orangnya. Sama orangtua tidak ada peduli-pedulinya. Tahu kalau ibu fisiknya mudah loyo, eh, malah. Bla bla bla bla. *Mulutku komat-kamit tidak jelas*

Aku buru-buru WA abi. Apa yang ada dalam pikiran dan perasaanku, kutumpahkan semua. Tapi, apa yang terjadi? Abi malah balik marah. Abi yang kukenal selama ini tak pernah marah, tiba-tiba sekasar itu (menurutku).

Apa aku sudah keterlaluan?

Aku yang saat itu masih di sekolah, bersama Kak Ghifa, sampai nangis dleweran. Buru-buru kuseka air mataku, takut dilihat Kak Ghifa. Tapi, nggak tahu kenapa, makin kuseka, kok, makin dleweran.

"Ummi nangis, ya?" tanya Kak Ghifa.

Aku cuma bisa peluk dia. Eh, dia malah ikut menangis.


Sampai rumah, suasananya jadi canggung banget. Karena di rumah ada bapak dan ibu, kamu tahu kami berkomunikasi lewat apa? Yes, WA.

Aku minta maaf kepada abi.

"Lain kali, Ummi jangan langsung marah-marah! Cari tahu dulu duduk perkaranya. Ummi kan baru dengar cerita versi ibu. Belum dari abi juga." Terang abi via WA.

Iya, juga ya. Aku begitu gegabah. Emosiku terlalu meledak-ledak. Kalau dipikir-pikir, masalah ini kan hanya sepele.

Kalau dirinci tuh begini, 

Ibu itu orangnya kan disiplin banget, pengennya, abi itu tanpa disuruh sudah paham apa yang harus dilakukan. Tek, tek, tek, kerjaan kelar. Kalau ibu harus memberitahu mulu, gengsi. Padahal, kalau ibu WA abi saat itu untuk minta dijemput di pertigaan, kan kelar. Tapi, ya, karena besar gengsi dan pekewuhnya, terjadilah seperti itu.

Sebaliknya, abi (dan mungkin laki-laki lain di luar sana) mempunyai sifat, yaitu kalau bertindak harus didikte terlebih dahulu. Kudu ini dulu, kemudian itu, baru ini lagi. Kalau tidak didikte, mana jalan?

Benar nggak sih, semua laki-laki seperti itu?


Akhirnya, tanpa ingin menjadikan ibu sebagai pengadu domba dalam keluarga kecilku, aku dan abi yang sadar diri. Kami yang kurang sabar dan telaten saat menghadapi ibu.

Aku meminta maaf atas nama suami, kalau ada yang tidak berkenan di hati ibu. Pokoknya aku tidak mau kalau sampai ibu jadi jengkel, kemudian jadi beban pikiran. Akhirnya, suasana pun kembali seperti biasa.

Ahhhh, cuman gini doang lho. Benar adanya kalau semua yang terjadi di dalam kehidupan ini butuh yang namanya KOMUNIKASI INTENSIF. Benar, bukan?

Ngomong, woy, ngomong, jangan diem saja. Emangnya aku dukun, bisa baca isi hati dan pikiranmu?

Hihi. Kira-kira seperti itulah ya 👆

Apa kabar dengan abi?

Sebenarnya, kami termasuk pasangan yang tidak pernah bisa diem-dieman lama. Pokoknya kalau hari ini ada masalah, sebelum tidur harus kelar.

Nah, agar suasana hati kami benar-benar cair, kuajak abi dan Kak Ghifa untuk buka bersama di luar, tidak ke restoran atau kafe, melainkan ke seberang rumah yang sering kita gunakan sebagai tempat untuk ngabuburit.


Nggak perlu yang ribet-ribet. Cukup bawa tikar, makanan dan minuman, serta seperangkat alat makan Amethyst Colander Dining Set dari Medina, yang piring dan mangkuknya mudah ditumpuk. Rasa-rasanya waktu berbuka, kemarin, terasa sangat berbeda, apalagi didukung dengan suasana nan hijau. Hihi. Padahal hanya di seberang rumah. Alhamdulillah, sukses membuat suasana hati lebih adem ayem.

Saat aku share foto di atas via instagram, ada temanku yang kepincut sama peralatan makan yang kupakai. Warnanya memang cantik banget kan? Aku banget malah. Unyuk-unyuklah. Hihi.


Kalau kamu pengen punya juga, Amethyst Colander Dining Set dari Medina ini, kamu bisa cek instagram @dusdusan. Untuk satu set isi 12 dibanderol dengan harga 565 ribu. Saat kucek di websitenya dusdusan.com, malah sedang ada promo dan harganya hanya 499 ribu (ada ketentuan waktunya, buruan beli).

Satu set Amethyst Colander Dining Set dari Medina berisi berikut:

Ada garansi seumur hidupnya lho

Ini biasanya kita lihat sebagai wadah sambal. Tapi ini ukurannya cukup besar. Untuk wadah sayur juga bisa.

Dua mangkuk
Aku menyebutnya mangkuk anti tumpah. Bentuknya unik, cekung, kemudian mulutnya lebar. Jadi, kalau dipegang nyaman. Kemudian ringkas. Bisa ditumpuk.

Dua piring, garpu, dan sendok
Piring ini favorit Kak Ghifa. Katanya, piring bagus sama sendok lucu.

Tempat nasi lengkap dengan tutup dan centong

Kenapa aku pilih Medina untuk melengkapi peralatan makan keluargaku?

Sesuai pengalaman dan info yang kudapat dari http://www.inspirasimedina.com, Medina memiliki beberapa keunggulan.
  • Plastic Foodware Halal pertama di Indonesia dan mendapat sertifikat dari MUI, sehingga kalau kita menyimpan makanan dan minuman kan makin tenang. Perlu kita tahu juga kalau jaminan Halal ini dimulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, serta distribusi. Tentunya ini berpengaruh juga dengan tingkat konsistensi higienis yang tinggi.
  • Karya anak bangsa alias diproduksi oleh perusahaan Indonesia.
  • Medina memberikan garansi produk seumur hidup (*S&K berlaku dan tertera di buku garansi) dengan kualitas produk yaitu BPA Free, Phtalate Free, Heavy Material Free, serta FDA Approved.
  • Produk Medina lolos uji Air Tight atau kedap udara.
  • Aman kalau kita masukkan ke microwave dan freezer.
  • Mudah banget dicuci. Saat terkena minyak pekat, kalau peralatan makan dari plastik biasa, meskipun sudah memakai sabun cuci, minyaknya membandel. Kalau produk Medina, tidak. Mudah sekali dibersihkan.

Kalau orang Jawa bilang, ono rego ono rupo, ada harga ada rupa. Tapi, aku tidak menyeseal sudah memilih produk dari Medina ini.

Terpenting, Medina sudah jadi saksi kalau aku juga manusia biasa. Sering khilaf kepada suami. Alhamdulillah, dengan kegiatan buka bersama di luar ini, suasana hatiku dan abi bisa lebih baik lagi.

Kami juga berjanji akan selalu saling menghargai satu sama lain. Khusus untukku, aku akan mengurangi grusa-grusuku. Tidak cepat terpancing emosi juga.

Awalnya aku tidak pernah sampai hati memikirkan perasaan abi yang ikut aku. Bagaimanapun keadaannya, abi sangat butuh dukunganku. Belum tentu juga kalau aku ada di posisi abi, ikut mertua, bisa sekuat abi. Apalagi kalau mertuanya bawel seperti bapak dan ibuku. Ups.

Aku kemarin sempat bilang ke abi, "Jadi menantu bapak dan ibu itu susah kan? Aku saja yang anaknya, 27 tahun hidup bersama mereka, insyaallah kuat. Abi juga. Kita niatkan untuk ibadah."

Ya, kami memang harus saling menguatkan. Apapun yang terjadi. Abi adalah suami pilihanku. Masak iya, pilihanku mau kujelek-jelekin sendiri? Bukankah lebih baik kalau saling mendukung dan tak lupa mengingatkan dalam kebaikan?

Kupercaya, tak ada orangtua yang ingin anaknya hidup ketulo-tulo, alias sengsara. Satu pesan dari Ustadz Danu yang selalu kuingat, "sebejat-bejatnya orangtua kita. Tugas kita sebagai anak ya tetap sama, menghargai, menghormati, dan mengayomi mereka."

Nah, kalau kamu, ada pengalaman atau cerita apa dengan orangtua atau mertua yang serumah?

37 komentar:

  1. Di awal saya bingung sosok ibu ini ibunya Mbak atau ibunya suami? Baru ketemu jawabannya di paragraf 5 dan 4 terkahir dari bawah

    Alhamdulillah punya suami yg mau tinggal dengan orang tua kita, suami saya mana mau. Padahal ibu saya tinggal sendiri. Saat sakit atau mau puasa kemarin pun, ibu saya yg datang menemui saya, bukan menantu yg menemui mertua.

    Dalam soal ini saya hanya bisa berdoa, semoga suatu saat suami diberi kesadaran, ibu saya juga perlu perhatian. Saga anak perempuan nya paling besar, adalah tulang punggung bagi ibu.

    BalasHapus
  2. Gregetan kalo ngomongin sifat cowo ihh, pengen nya marah marah aja ya hehehe.. btw aku salfok sama foodware plastik nya medina, bagus banget model dan warnanya

    BalasHapus
  3. aku dulu tinggal sama ibu suami alias bu mertua. Banyak positif dan negatifnya sih, yang baik kita bisa contoh dan yang negatifnya mah jangan. Dan emang serumah sama ortu tuh rawan miskom.

    BalasHapus
  4. Tak nyaman serumah dengan orang tua atau mertua. Akan ada pihak lain yang mengipasi hingga ricuh atau pada dasarnya tak suka. Itu yang saya alami.
    Saya juga bersyukur punya suami yang baik dalam pandangan saya dan anak. Bertanggung jawab, Itu yang utama. Sedih saja karena suami pun pernah diserang oleh ibu saya dan neneknya untuk soal yang berbeda. Makanya, hidup seatap denagn yang namanya ortu atau mertua bisa tak nyaman bagi pihak tertentu. Ada saja gesekannya jika menyangkut perubahan hidup.
    Soal laki-laki yang hanya bertindak jika diminta atau disuruh> Ha ha, iyalah gitu.
    Suka dengan peralatan makan Medina, saya cuma punya Duo Mini Set. Kualitas bahannya bagus. Yang halal adalah hal utama karena tak mengandung bahan berbahaya.

    BalasHapus
  5. Sekarang papa aku tinggal ama aku sejak 2 tahun ini mba. Dan memang menurutku butuh kesabaran dua pihak buat tetap bagus komunikasinya. Malah suamiku yang lebih penggertian dari pada aku mba :)

    BalasHapus
  6. Keren banget ya food servernya buat dibawa piknik. Mau juga dong..
    Aku jg tinggal serumah sama ortu.
    Alhamdulillah suami lumayan peduli sih sama kebutuhan ortu. Ga perlu diminta udah inisiatif duluan bantu dan kasi fasilitas ini-itu.
    Cuma ya daya inisiatifnya ini kadang malah bisa agak keblabasan. Kalau ada keinginan langsung disampaiin ke ortu. Kadang yg ga biasa bisa nganggepnya kyk merintah ortu hihihi..
    Semua ada plus minusnya

    BalasHapus
  7. Sejak SMA aku sudah merantau ke bumi Borneo. Apalagi suami malah sejak SMA sudah merantau juga.
    Kami juga bertemunya di perantauan.
    Jadi semua kami kerjakan sendirian tanpa campur tangan kedua orang tua.
    Ini adalah kehidupan impian kami berdua.
    Memutuskan segala sesuatu berdua saja.

    Aku percaya, hidup satu atap baik dengan orang tua atau mertua itu pastilah ada plus minus ya.

    Baidewei,
    Aku suka banget warna koleksi Medinanya^^
    Terus langsung kepikiran Madinah deh

    BalasHapus
  8. hihihi sabar mba tapi dibalik ujian ternyata ada hikmahnya ya, jadi bisa makan bersama apalagi dengan produk Medina yang lucu banget warnanya, multifungsi dan aman. Foodgrade nih jadi pertimbangan utama ku kalo cari tempat makan berbahan plastik dan sejenisnya.

    BalasHapus
  9. Aku dan suami juga pernah tinggal di rumah orang tua masing-masing, meski waktu itu udah punya rumah sendiri. Diniatkan untuk belajar hidup dengan ngumpul sama orang tua. Alhamdulillah karena udah terbiasa mengalah jadi ya enggak ada konflik, hihii. Aku dan suami memang orang yang suka momong orang tua, tetangga, kakak adik, pengen hidup itu yang sederhana aja. Misal ada masalah, dibikin sederhana, semua pasti ada solusinya

    BalasHapus
  10. MashaAllah mbak.. memang ya dalam hidup itu kita harus bersyukur.. Alhamdulilla masih bisa dekat dengan orangtua.. apalagi orangtua kandung.. Ibu saya sudah Almarhum, sekarang aku bersama Ibu mertua yang mashaAllah sangat sayang dan pengertian banget sama aku dan anak-anak.. bersyukur kuncinya menurut aku.. nice to share mbak

    BalasHapus
  11. Begitulah mba, suamiku juga tipe yang harus didikte ga akan inisiatif cesss lgsg jemput hahaha..btw salfok sama peralatan makannya mayan harganya tapi lagi diskon y mba :)

    BalasHapus
  12. Aku naksir liat tempat nasinya. Warnanya unyu-unyu pulaaak.. :D
    Eh tapi kalau dalam berumah tangga emang kayak gitu ya. ada aja hal sepele yang jadi besar gegara kita gak bisa komunikasi dengan baik :)

    BalasHapus
  13. Ku liat iklan dusdusan sliweran mupeeng apik2 yooo, ditambah ika posting lagi ginian haduuh.

    BalasHapus
  14. Aaaah...komunikasi memang penting banget ya, Mbak. Ngga kebayang kalau pada diem-dieman terus, ngga enak. Btw, peralatan makannya memang manis, menggoda iman. Hahaha

    BalasHapus
  15. Wah. Alhamdulillah menantuku yang saat ini tinggal bersamaku akrab ama aku. Jadi nggak berssa kayak menantu tapi kayak anak.

    BalasHapus
  16. Memang betul ya Ika..komunikasi adalah kunci utama. Kadangkala aku juga merasa gemes dg ipar yg menurutku kurang inisiatif..eh ternyata beda pola asuh memang hasilnya beda karakter..hehe.. Jadi kalau nggak mau berkomunikasi ya rempong sendiri di hati..haha.. BTW..itu peralatannya cakeeep...unguuu..

    BalasHapus
  17. Aku kalau bisa milih sih tinggal pisah sama ortu kalau udah nikah. Tapi kalau anak tunggal beda lagi ya Mbak pemikirannya. Saudaraku banyak sih. Memang kudu saling memahami. Btw, naksir sama alat makannya. Aku pengen deh buat tabungan rumah tangga nanti

    BalasHapus
  18. Wah ternyata anak tunggal ya mbak e. Berbeda sama suami yang keluarga rame hehe. Btw beneran dari kemarin penasaran sama dusdusan ini lho mbak, apalagi gambar ungu yang wara-wiri di timeline IG haha jadi pengen buat persiapan acara. Harganya cuma 400 ribuand dapat banyak gitu, siap meluncur...

    BalasHapus
  19. medina ini bagus ya aku suka warna nya menarik dan colorful, apalagi dia udah halal jadi berasa lebih aman

    BalasHapus
  20. Memamg kuncinya di komunikasi. Waktu baru menikah juga saya beberapa kali konflik dengan orang tua. Tetapi, orang tua saya justru gak pernah konflik ma menantunya sampai sekarang. Sampai kadang-kadang suami lebih pantas jadi anak mereka hahaha.

    Tetapi sementara aja. Lama-lama juga kami kembali akur. Saling memahami aja dan komunikasi. Karena konfliknya memang karena saya juga yang suka kurang luwes. Punya standar kaku bagaimana berumah tangga pada awalnya. Padahal kan masih satu atap dengan orang tua

    BalasHapus
  21. Aah drama begini ternyata umum dihadapi ya mba. Btw aku juga anak tunggal mba hahaha senaseb banget nih ;))

    BalasHapus
  22. Butuh komunikasi produktif memang
    Saya pun kalau ada yang ga sesuai harus dibicarakan dan tipe suami kudu disampaikan. Nggak bisa nunggu dia ngeramal isi hati dan pikiran.

    BalasHapus
  23. Suka sama warnanya , kalem gitu ya terus keliatan juga kakau barangnya mudah dibersihkan. Btw bener banget sih klo komunikasi itu penting banget biar ga gampang slek gt.

    BalasHapus
  24. Aku pikir selama ini masalah komunikasi datang kalau tinggal dengan mertua hihihi itu sih cerita dari orang-orang. Ternyata tinggal degan orangtua juga tetap ada kendala ya. Allhamdulillah kalau bisa diatasi.

    BalasHapus
  25. Wow keren...produk Medina bisa menyatukan kembali sebuah keluarga hingga makin harmonis. Memang begitulah namanya orang tua kita mbak, pastinya ada rasa iri ketika anaknya sudah berkeluarga, sehingga beliau ingin selalu diperhatikan. Salah sedikit saja bisa jadi masalah. Tugas kita sebagai anak hrs mengalah. Memang penting dalam sebuah keluarga itu adanya sikap keterbukaan. Jangan sampai diem-dieman ...sekecil apapun masalah itu hendaknya dapat diselesaikan dengan penuh keterbukaan.

    BalasHapus
  26. Haruslah akur dengan orang tua. Apalagi masih serumah saat sudah berkeluarga. Btw, aku juga punya nih Medina seri ini. Cakep banget ya. Multifungsi. Dan bikin tenang juga kehalalannya.

    BalasHapus
  27. Bener banget ya mbak,
    kalau ada peristiwa apapun yang bikin kita suudzon sama pasangan, lebih baik tabayun dulu agar semua permasalahan clear sebelum rumah tangga jadi ruwet :D

    BalasHapus
  28. Wah keren nih..bagus ya warnanya jg suka ceria gitu..Eh kalau tinggal.serumah sama ortu memang suka aja ada ini itunya, tp emang hrs banyak.sabarnya ya krn semakin sepuh semakin sensi..ntarbjg kita pasti merasakannya ya hehe

    BalasHapus
  29. Hmmm ya, ada aja ya suka dukanya kalau msh tinggal ma ortu/ mertua. Yg penting emang komunikasi sih jd gak ngganjel.
    Wah peralatan makannya bagus mbak. Warnanya unyu2 :D

    BalasHapus
  30. Hahaha...suami juga gitu. Kalau nggak disuruh suka nggak inisiatif. padahal aku juga orang gengsian. memang tiap keluarga punya trik khusus untuk menyelesaikan masalah intern dengan damai ya. Btw itu lucuk banget warna ungu peralatan makannya. aku sendiri penggila ungu soalnya...

    BalasHapus
  31. Semua ada solusinya sih kalau kita mau ngalah sama orang tua. Aku ya punya beberapa pengalaman tinggal bareng ortu maupun mertua. Tapi yakin deh, semua kejadian seperti di atas justru memberikan kita pengalaman menuju level yang lebih tinggi lagi dalam mengurus orang tua. Semoga kesabaran kita berbuah berkah untuk rumah tangga yaaa... Aamiin.

    BalasHapus
  32. Kalau pas ke Surabaya, otomatis tinggal di rumah mertua atau orangtua ku.
    Yhaa...selalu ada aja memang kesalah pahaman.
    Semoga dengan tinggal bersama orangtua, makin menambah keberkahan dan pahala.

    BalasHapus
  33. Wah desain peralatan makan Medina cukup simple ya. Bisa nih buat jadi peralatan makan baru buat lebaran nanti. Saya bakal kasih tahu ibu saya nih supaya cek-cek peralatan Medina. Makasih infonya Mba :)

    BalasHapus
  34. Komunikasi mampet bener-bener bisa jadi masalah ya mba. Btw aku naksir dengan set makanannya yang warnanya favorit aku

    BalasHapus
  35. Aaah asyik banget itu buka puasanya.. Suasana kayak gitu dijamin bakal bikin perasaan-perasaan gak enak yang sempat muncul langsung hilang seketika. Malah bisa bikin makin cinta yaaa..

    BalasHapus
  36. Aku suka ih dengan Medina set-nya, warnanya eye catching. Tapi lebih penting lagi ternyata kualitasnya bagus ya meski buatan dalam negeri. Garansinya seumur hidup, desainnya compact, materialnya aman dari segi kesehatan dan yang paling aku suka juga karena certified halal. Aman rasanya pakai produk halal.

    BalasHapus
  37. betul banget komunikasi adalah segalanya... saya pun sama ga bisa diem dieman satu sama lain kalo sampe berantem dan harus diselesaikan hari itu juga

    BalasHapus

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!