Senin, 22 Juni 2020

New Normal di Sekitarku


Semua terasa biasa saja.

Wong pas ramai-ramai ada covid 19 pun, ya, biasa saja. Apalagi setelah tiga bulan berlalu.

Halo, saya Ika, seorang guru dan tinggal di Kebonagung, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak. Aku akan menceritakan kehidupan selama adanya pandemi di dukuh tempatku tinggal.

new normal
Antre saat hendak dites suhu tubuh dan disemprot

Khawatir nggak sih ada pandemi ini? Secara pribadi, iya pasti, sudah kuceritakan di Bye Bye Khawatir pula. Tapi, secara umum, orang-orang di sekitarku, tampak biasa-biasa saja. Seperti tak ada pandemi. Ke mana-mana, ya, nggak pakai masker. Bahkan pas ramadan lalu, saudaraku banyak yang pada jeng-jeng ke pasar Johar, Semarang, hanya untuk membeli baju lebaran.

Setelah pulang dari pasar, dengan santainya, tanpa mandi atau cuci tangan dulu, mereka berbaur dengan kami yang di rumah. Hadeh. Aku yang berusaha jaga jarak sendiri. Wajar kan?

Begitu juga dengan bapakku sendiri. Setiap kali kuingatkan untuk memakai masker, selalu menolak. Tapi, kalau pulang dari pasar (bapakku jualan di pasar krempyeng Pucang Gading Semarang) kemudian harus langsung mandi, bapak mau mendengarkan.

Ujung-ujungnya, karena setiap kali harus ambil barang di rumah warga, kebetulan desanya melakukan protokol kesehatan yang ketat dengan mewajibkan siapa saja yang berkunjung harus pakai masker, suhu tubuhnya dites, dan kudu disemprot, bapakku baru mulai mau memakai masker.

Apa kabar dengan salat tarawih? Masih melaksanakan seperti biasa. Saf salatnya memang berjarak. Tadarus juga masih selalu ada. Yang tidak ada hanya takbiran doang. Lebaran kemarin rasanya sungguh berbeda. Sepi. Sesepi hari-hariku setelah kepergian ibuk. Tapi, aku merasa Allah sayang kepadaku. Karena temannya banyak.

Ya, seperti itulah kehidupan di sekitarku sini.

Ke mana-mana masih banyak yang nggak mau pakai masker sebagai rutinitas. Alasannya pengap, bibirnya gatal, nggak ada masker di rumah.

Padahal, selama pandemi ini, kami dapat jatah masker kain (agak memprihatinkan sih bahannya) dari pemerintah desa, per rumah dapat jatah dua biji. Selain itu, di pertigaan jalan sana pernah ada yang bagi-bagi masker gratis, setahuku dua kali ada kegiatan ini. Di toko aksesoris atau bahkan konter-konter, tetangga yang bisa jahit, di pasar, banyak yang jual masker dengan kisaran harga paling murah sepuluh ribu dapat tiga.

Tapi, ya, begitulah.
Uangnya banyak yang dipakai buat beli barang-barang keperluan lebaran. Untuk beli masker nomor sekian.

Eh, apa kabar dengan tempat cuci tangan depan rumah? Tidak ada. Krik krik krik krik 😝😜 depan rumah warga semua bersih dari tempat cuci tangan.

Jujur nih, soal perekonomian apa ngefek juga di dukuhku? Banget sih. Banyak yang mengeluh. Bapakku yang jualan bahan pokok, biasanya kalau pulang bawa uang 2 juta, jadi turun sekitar 1,5 jutaan. Penjual es tebu dan siomay yang di depan makam sana tuh juga ngeluh, sepi banget. Pelanggannya kan anak sekolah. Anak sekolah pada libur, ya, wassalam. Wis pokoke sepi semua karena Corona.

Sudah tahu seperti itu efeknya, masih banyak yang bandel dan bilang, "Ini kan kerjaannya orang 'gedhe' yang ada di atas sana."

Ada lagi yang komentar begini, "Kalau nggak ada pendatang baru dari luar kota berzona merah, sini ya, aman-aman saja."

Yo wis bar kalau semua beranggapan seperti itu.

New Normal, Memang Ada?


New normal life tuh nggak berlaku di sini. Karena memang dari awal sudah new normal. Hihi. Lha wong supermarket yang dekat sini juga masih buka seperti biasa. Bedanya cuma ada beberapa pengunjung yang sadar pakai masker. Soal jaga jarak? Nggak banyak yang berlaku. Asyik uyel-uyelan.

Pernah sekali aku keluar rumah, malam 13 di bulan ramadan, aku belanja keperluan untuk peringatan 100 hari ibuku, Ya Allah, orang pada uyel-uyelan di supermarket depan toko yang kutuju. Lha wong toko yang kudatangi pun ramainya minta ampun. Pada beli toples lebaran, Gaes. Hahahaha. Aku sampai senyum-senyum sendiri. Memang ada yang bakalan berkunjung? Ah, lucu banget pokoke.

Sekarang, saat new normal, bukan Dokter Reisa Broto Asmoro yang lagi hangat dibicarakan sebagai jubir Covid 19. Tidak sekecap pun ada yang bahas tentang pengaruh dokter cantik tersebut selama pandemi ini. Bahkan, menurutku mereka juga nggak update tentang jumlah korban yang meninggal setiap harinya. Pokoke wis embuh kunu. Penting iso mangan mbendinane.

Lah apa yang dihebohkan selama masa ini? Bantuan dari pemerintah, hahaha. Kudengar ada enam sumber yang turun ke desa, ada PKH, Basimda, Bansos, yang lainnya entah aku tak tahu.

Pokoknya ada yang dapat berupa uang. Ada juga yang berupa barang, seperti beras, mie, gula, sampai buah-buahan.

Soal beginian tuh riskan banget. Marai geger. Ternyata benar. Sudah ada kasus seorang perangkat desa didemo warga sekitar rumahnya karena nggak dapat bantuan dari pemerintah. Ini menggelikan. Lebih menggelikannya lagi, perangkat desa tersebut jalan menuju rumahnya (karena rumahnya memang lewat gang kecil antara rumah dengan rumah gitu) ditutup, Gaes. Nggak boleh lewat. Lah terus? Terbang gitu?

Ya Allah. Sumpah, ini menurutku lucu sekali. Yah, seperti kasus di sekolahku. Semua data anak kan dinaikkan ke pusat. Yang menentukan anak dapat PIP (bantuan untuk anak sekolah-Program Indonesia Pintar) kan pusat, ada wali murid yang datang-datang marah saat rapat. Malah ngancam mau diangkat ke media karena dia seorang wartawan. Sumpah, kejadian seperti ini tuh lucu banget menurutku. Oalah yo yo.

New Normal Untukku

Cukup kelimpungan. Karena awalnya stay di rumah terus. Hanya ke sekolah setiap hari Selasa, eh, ini harus berangkat setiap hari sejak lebaran ketiga. Cukup ngos-ngosan lagi sih untuk menyesuaikan jadwal harian.

Nggak jaga jarak 🙄

Setrikaanku numpuk banget.

Kupikir dari ke sekolah hanya duduk, ngobrol, ngerjain administrasi yang nggak seberapa, karena banyakan guyonan dengan teman sejawat, kan mending kerja dari rumah. Tapi, itu nggak mungkin. Pak Bupati sudah mengeluarkan edaran, di Kabupaten Demak tidak ada guru yang bekerja dari rumah. Semuanya masuk. Ehem, nggak kayak kabupaten sebelah. Envy.

Ya, sudah, ikuti saja alurnya.

Kalau di sekolah, setiap guru sih sadar betul sama protokol kesehatan. Apalagi kami di desa buat contoh. Tapi, ya, ada beberapa yang agak longgar. Tetap bersalaman dan duduknya nggak berjarak.

Di lain sisi, ada juga teman guru yang saklek sama protokol kesehatan. Tidak mau bersalaman, duduknya benar-benar dijaga jaraknya, setiap kali menerima uang disemprot atau malah dicuci, dan setelah megang apapun pakai hand sanitizer. Kami, ya, maklum.

Paling tidak, dengan setiap hari ke sekolah, nggak dikira makan gaji buta. Aku pun selama new normal ini keliling ke rumah murid-muridku. Kuceritakan di sini, kamu sudah baca?

Jadi, mau ada new normal life atau apa itulah, ya, memang sejak awal sudah seperti ini.

Segitu dulu, ya, aku cerita kehidupan plus kehebohan selama pandemi dan new normal di sekitarku. Di tempatmu pasti berbeda lagi, ya. Gimana? Gimana? Atau ada yang sama dengan tempatku kah?

21 komentar:

  1. Kayaknya kalau saya kerja di luar, saya masuk dalam golongan orang saklek :D
    Saya sejak dulu juga suka dibilang lebay, sedikit-sedikit cuci tangan, pakai hand sanitizer.
    Kalau sakit pakai masker, dan marah kalau didekatin teman batuk hahaha.
    Ampun deh saya.

    Soalnya daya tahan tubuh saya terhadap rasa sakit itu kecil, saya bisa krenki ga karuan kalau nggak enak badan, makanya saya selalu jaga kesehatan.

    Jadinya di masa new normal ini, nggak terlalu banyak hal yang sulit beradaptasi sih :)

    BalasHapus
  2. Perkara bantuan pemerintah ini sama banget. Pak RT di tempatku juga disindir warga soal bantuan yang tak kunjung diterima. Padahal orang yang ngarep bantuan itu rumahnya bagus dan punya beberapa motor. Ya begitulah yaaa....

    BalasHapus
  3. Klo di tempat tinggalku daerah bekasi, dr jaman corona muncul ....paling sepi dikit..masih kerja lho...hmm yg beda aja semua org pake masker dan dimana2 byk tmpt cuci tangan

    BalasHapus
  4. perumahan kami malah diminta sumbangan mbak :) ga ada yg dpt sumbangan sama sekali, nggak ngarep juga sih karena kami merasa masih mampu, walau nggak kaya

    BalasHapus
  5. Nah iya tuh..masalah bantuan itu memang marakke geger.. Ada tetangga yg kecewa karena tidak didaftarkan,agak marah meski sudah dijelaskan bahwa keluarganya tidak bisa.masuk data karena pensiunan ASN, meski memang bukan gol tinggi. Ah..selalu ramai deh

    BalasHapus
  6. Di deket2 rumah sini sudah banyak yang nongkrong2 sih mbak, cafe buka lagi dan mulai ramai. Aku sendiri sih masih ngeriii... hehe

    BalasHapus
  7. di desa saya pun heboh karena yang dapat bantuan 1 orang. Tapi karena bendahara RT bijak, ia minta keikhlasan orang yang diberi juga mau berbagi ke 2 orang lain yang kesulitan juga. Anak full libur dari Maret jadi sekitar 4 bulan di rumah. Katanya bosen di rumah, kangen sekolah. Mau masuk SD agak bingung kira-kira belajar online or mulai pembelajaran biasa.

    BalasHapus
  8. Ternyata ada banyak sekali keadaan yang terjadi di luar sana yaa...
    Kalau ditempatku pada ayem dirumahaja.
    Baru beberapa hari terakhir ini tampak anak-anak mulai bermain lagi di jalan, di dampingi orangtua dan semua wajib pakai masker.

    Anakku sendiri?
    Wanteeng...main di dalem rumahaja.

    Nanti kalo anak-anak lain uda pada masuk rumah, kita baru main keluar.
    Hahha...mamaknya parnoan.

    BalasHapus
  9. Setahuku semua anak didik bukannya dapat PIP, ya? Bahkan anakku yang ikut PKBM pun dananya tetap cair.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak setiap kali pencairan semua dapar, Mbak. Pas tahap 2 kemarin semua muridku, sekelas, dapat. Tahap 3 kemarin hanya 6 orang anak yang dapat.

      Hapus
  10. Huhu urusan ngikutin protokol kesehatan nggak mau ikutin tapi urusan bantuan ribut ya, di daerah saya juga kurang lebih sama soh, masih ketar-ketir kalau anak-anak jadi masuk sekolah bulan Juli nanti

    BalasHapus
  11. Di tempat ku juga nih masih banyak yang keluar ga pake masker. Untungnya pemerintah Jogja agak keras kalau masuk pertokoan ga pake masker disuruh di luarnya

    BalasHapus
  12. Sama banget nih kondisinya dengan daerah saya, yang pake masker malah dianggap lebay. Anggota keluarga juga malah pada santuy kecuali saya ampun dah

    BalasHapus
  13. Podo mawon mbak, sami. Sama aja hahaha.. gak ada new normal, sejak dulu normal normal aja. Kadang saya juga heran sama yang kongkow kongkow santuy. Tapi saya juga heran sama yang takutny berlebihan. Alhamdulillah.. saya gak kongkow dan gak takut berlebihan, seperti kehidupan biasanya. Di desa ibukku? Apalagi. Santuy bahkan sebelum ramadhan hahaha..

    BalasHapus
  14. Saya termasuk yang aneh melihat orang dikit-dikit oles handsanitizer. Lebay gitu lho. Tapi sekarang mulai biasa lihat begituan. Demi kesehatan diri memang harus begitu, terlebih sedang di tempat umum ya.

    Kondisi New Normal di lingkungan saya juga gak jauh beda dengan tempat Mbak Diyanika. Ya udah, solusinya menjaga diri sendiri aja

    BalasHapus
  15. Sudah ada edukasi dr pihak pemdes untuk masyarakat, Mbak? Di sini saat new normal paea oedagang keliling udah mulai bertebaran lagi nih. Dulu, pas awal2 kan dilarang masuk desa. Sekarang udah dibiarkan. :D

    BalasHapus
  16. akhirnya bapak mau juga pake masker hahaha aku suka deg2an karena aku juga takut kalau ke kantor ga pake masker jadi udah habit nih pake masker pake HS mba..
    aku waktu itu sebelum lebaran ke pasar duh penuhnya mba untungnya minggu depanna ga ke pasar dan pasarnya ditutup krn ada yg kena 5 orang

    BalasHapus
  17. Ini mirip di daerahku mbak, orang-orangnya santuy banget.
    Pas dengar ada bantuan, eh langsung berubah jadi misqueen semua hahaha

    BalasHapus
  18. Sejak dr reisa jadi juru bicara covid jadi seneng mantengin berita update perkembangan covid hihi btw di tempatku juga sudah mulai new normal

    BalasHapus
  19. Pas baca bagian orgtua yg merong merong karena anaknya nggak dapet bantuan PIP, aku jg gemes, malah ngancem mau ngangkat ke media pula, hadeehh. New Normal di tempat tinggalku nggak jauh beda dg yg kmu ceritain ini mbak, apa mungkin semua daerah gitu yak.ah semoga nggak, aamiin

    BalasHapus
  20. Surabaya infonya tak ada New Normal tapi PSBB berlanjut terus
    Sayangnya warga banyak yang ndablek bahkan ada juga yang ga tabhu sama sekali

    BalasHapus