Senin, 07 Desember 2020

Aku Adalah Korban Kekerasan Berbasis Gender, Jangan Sampai Ini Menimpa Anak Didikku


Di dalam bus patas Surabaya-Semarang, kunikmati perjalananku. Di luar gerimis. Syahdu. Karena seharian kuliah, lelah, kupejamkan mataku sejenak.

Tiba-tiba bus berhenti, menaikkan penumpang. Kusadari penumpang baru itu duduk di sampingku. Parfumnya begitu menohok. Tak kupedulikan kehadirannya. Kugeser posisiku dan kupeluk erat tas ranselku. Maksud hati hendak melanjutkan tidur tahi ayamku, tapi aku merasa orang di sebelahku makin mendesak bahuku.

"Maunya apa sih nih orang?"

Kugeser lagi dudukku sambil kupicingkan mataku. Duh, ternyata laki-laki, berjaket kulit hitam dan kelihatan terlalu klimis.

Tapi, kok duduknya makin mendesakku?

Secepat kilat tangan setan itu menyentuh sedikit bagian payudaraku. Sontak, aku berdiri. Dia kaget. Kupelototi. Dia menyingkir dan aku memilih berdiri dekat kernet saja.

***

Bodoh sekali, aku ini!!

Aku ingin mengumpat setiap kali ingat kejadian itu. Kenapa dulu nggak teriak minta tolong biar laki-laki itu digebukin orang banyak? Kenapa hanya menghindar dan diam?!

Kejadian yang terjadi lebih dari sewindu lalu ini tersingkap kembali dalam ingatanku saat menyaksikan Webinar 15 - Anti Kekerasan Berbasis Gender oleh Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Sabtu, 21 November 2020 pukul 10.00 - 12.00 WIB. Sampai sekarang, setiap kali ingat kejadian itu rasanya ingin marah, jengkel, jijik, malu, sedih, semua campur aduk.

Benar adanya kalau kejadian ini membawa trauma dalam diriku. Apakah akan kubawa seumur hidupku? Ya Allah, ini begitu menyiksa.

Dari rasa itulah, sebagai guru, aku ingin sekali kejadian yang kualami tidak dirasakan juga oleh anak didikku. Apa yang harus kulakukan untuk mencegah adanya kekerasan berbasis gender di kelasku?



Baca juga tulisanku: VERBAL BULLYING YANG BIASA TERJADI DI KELAS 1 SD


1. Aku tetap stay di kelas saat jam istirahat

Enam tahun menjadi guru di kelas satu membuatku terbiasa untuk duduk manis di kelas saat jam istirahat tiba. Kenapa? Karena saat itulah mereka 'bersinggungan' dengan temannya. Ada saja yang mereka lakukan.


Seperti yang disampaikan Mbak Ella, Gisella Tani Pratiwi, selaku narasumber webinar, bahwa anak melakukan kekerasan gender karena dia tidak tahu kalau apa yang dilakukannya itu adalah sebuah kekerasan. Makanya, sebagai guru aku harus selalu mengawasi kegiatan anak-anak karena inilah tugasku, tidak hanya mengajar, melainkan mendidik juga.

2. Menyampaikan materi tentang jaga diri dengan cara menyenangkan

Kurikulum 2013, di kelas satu, pada tema satu subtema dua ada materi tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh dipegang orang lain. Aku merasa sangat dimudahkan dengan adanya materi ini. Karena ini melancarkan upayaku untuk mencegah adanya kekerasan berbasis gender di kelasku.


Tugasku sebagai guru adalah membuat materi ini mudah dipahami dan bisa diterapkan anak-anak. Salah satu caraku adalah membuat kreasi tepuk jaga diri seperti video di atas.

3. Sigap setiap kali ada keluhan

Setiap kali ada keluhan, seadil mungkin aku pertemukan pelaku, korban, dan saksi kejadian. Kemudian akan aku selesaikan di lingkup kecil ataupun kelas, tergantung tingkat parah tidaknya suatu kasus. Hari itu juga harus selesai. Setelah itu, aku hubungi secara personal wali murid terkait, dan terakhir akan kukomunikasikan kejadian tersebut di grup kelas, agar semua wali murid juga tahu apa yang terjadi di kelas.

Alhamdulillah, sejauh ini semua berjalan dengan baik. Yuk, kita mulai lawan kekerasan berbasis gender di lingkungan terdekat kita. Aku sudah mulai, kamu, kapan?


Tulisan ini terinpirasi setelah mengikuti Webinar 15 - Anti Kekerasan Berbasis Gender oleh Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Sabtu, 21 November 2020 pukul 10.00 - 12.00 WIB. Follow sosial medianya agar kamu juga bisa ikutan juga webinar lainnya dengan tema yang selalu uptodate.

31 komentar:

  1. Ikut prihatin mbak, dulu saya juga sering mengalami pelecehan seksual di transportasi umum. Jijik banget rasanya. Duh, betapa pentingnya ya mengajari anak-anak sedini mungkin tentang cara menghormati perempuan.

    BalasHapus
  2. Ngeri banget, Mbak. Merinding bacanya. Dulu, teman-teman di pesantren menjadi korban pelecehan guru sendiri. Tapi, sekian tahun nggak ada yang berani bilang. Sampai di tahun terakhir kami di sana, barulah ada yang cerita. Hingga akhirnya, saya dan teman-teman yang bukan korban berani melaporkan. Sampai sekarang, guru itu masih di sana. Berharapnya sih udah nggak begitu lagi kelakukannya. Memang penting sekali mengedukasi sejak dini. Karena, usia SD kelas 3 aja udah ada yang aneh-aneh dari teman anak saya. Bahkan mungkin lebih kecil lagi juga ada :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau angkat suara takut disalahpahami Mbak.. Saya juga menyaksikan 2 pondok pesantren yang gurunya suka melecehkan santri putri. Ada yang disentuh-sentuh bagian tertentu tubuhnya. Saya melihat langsung juga pernah.

      Hapus
  3. Memang patut di waspadai bila berada di transportasi misalnya kereta, bus apalagi penumpangnya berdesak-desakan itu biasanya mereka melancarkan aksinya demi kepuasan hasrat.

    Lebih baik hindari berdesak-desakkan bila di transportasi umum.

    BalasHapus
  4. semoga traumanya segera dipulihkan ya mba, saya seringnya disuit-suit sih kalau lewat digerombolan cowok gitu, marah dan kesal karena merasa dilecehkan gitu. semoga makin banyak yang speak up ya terhadap kekerasan yang terjadi dengan mereka, dan semoga aturan tentang hal ini lebih jelas lagi. Dan saya sering melihat laki-laki yang kurang ajar melakukan itu di jalanan. geram rasanya saya kalau sudah membaca soal pelecehan terhadap perempuan seperti ini

    BalasHapus
  5. ya ampun mbak, gilaaa memang laki2 itu ya. aku ikutan gemes, dan emosi sendiri. nggak kebayang kalau aku ada di posisi mbak, huhu
    bener sih, edukasi semacam ini harus sejak dini. aku pun mengajar anak2 SD dan kebanyakan mereka blm tahu bagian tubuh mana yang nggak boleh di sentuh orang lain, mungkin karena dari keluarga juga nggak diedukasi, semoga banyak guru2 yang terbuka dan mengedukasi anak2 tentang kekerasan berbasis gender ini

    BalasHapus
  6. Semoga Mbak Diyanika pulih traumanya ya dan lebih berhati-hati lagi kalau naik transportasi umum. Yang ditakutkan itu kalau kejadiannya di tempat sepi, gak ada yg lihat sehingga pelaku lebih bebas lagi melanjutkan aksinya.
    Anak saya juga sudah mulai diedukasi sejak kelas 3 SD tentang mana bagian yg boleh disentuh, mana yg tidak.

    BalasHapus
  7. Aku juga pernah tuh, mba. Pas Naik Bus, udah mah penuh banget tapi ada saja yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
    Soal mengajarkan kekerasan gender pada anak SD pasti tidak mudah ya, Mba. Sebagai guru harus menggunakan metode yang mampu di pahami anak.

    BalasHapus
  8. Kuat selalu ya mbak dan semoga kita semua dilindungi oleh Allah Swt, aamiin.
    Sejak dini memang harus diterangkan bagaimana cara menjaga diri, baik untuk anak perempuan maupun anak laki-laki, agar perilaku penyimpangan tersebut bisa diantisipasi.

    BalasHapus
  9. Ikut sebel bacanya mba. Aku juga dulu pernah kalo naik bus ada orang yg duduknya deketin gitu.memang harus waspada ya

    BalasHapus
  10. Mbak Diyan, terima kasih sudah mau cerita di sini pasti tidak mudah saat menuliskannya harus mengenang masa2 itu. Alhamdulillah mbak Diyan bisa menjadikan stimulus kebaikan dgn mengajarkan antisipasi pada anak didik mbak .... Memang kekerasan berbasis gender itu bisa terjadi dimana saja, karena ada niat pelaku dan kesempatan ya mbak

    BalasHapus
  11. Ih serem mbak. Saya jadi parno klo naik kendaraan umum jadinya. Jadi semakin aware dan memperhatikan lingkungan sekitar. Siapa tahu ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Selalu hati-hati ya mbak.

    BalasHapus
  12. Aku jaman kuliah dulu di Jakarta mba, di kendaraan umum/bis juga. Tetapi dimana saja pasti ada aja kejadian seperti ini. Harus tetap waspada dan mengajarkan anak juga untuk melindungi diri

    BalasHapus
  13. Memang saking kesel dan kagetnya itu kadang enggak bisa teriak, ya. Apa lagi kalau dasarnya anak pendiam. Semoga kita selalu senantiasa terjaga dari keburukan.

    BalasHapus
  14. Aku pernah juga Mbak, ketemu Exhibisionist yang suka pamer alat kelamin..waktu itu kejadiannya jaman kuliah juga perjalanan pulang ke rumah dari Semarang menuju Sukorejo Kendal. Saat melewati hujan pas di tikungan ada seorang pria yang melambaikan alat kelaminnya wajahnya ditutupi helm rasanya sangat jengkel dan jijik saya langsung tancap gas sekenceng-kencengnya. Semoga anak-anak kita dan juga para perempuan di luar sana terhindar dari korban kekerasan seksual ya aamiin

    BalasHapus
  15. Insya Allah edukasi anak yg dilakukan Bu Guru Ika ini berhasil mencegah anak2 sebagai korban maupun pelaku pelecehan ya.. TFS Bu guru...

    BalasHapus
  16. Terimakasih kak sudah mengedukasi anak anak tentang permasalahan ini. Turut prihatin karena sekarang marak dengan kekerasan berbasis gender dan pasti untuk mengajarkan kewaspadaan kekerasan ini kepada anak anak didik pasti cukup menantang. Salut kak

    BalasHapus
  17. Aku juga hampir saja jadi korban Mbak. Waktu itu pas kuliah memang lagi rame kasus ada laki-laki iseng yang tiba-tiba megang PD mahasiswi yang lagi jalan sendirian gtu. Dia motoran. Nah, suatu ketika aku jalan sendirian karena ada keperluan ke perpus. Qadarullah, saat melancarkan aksinya dia hanya nyenggol tasku kayak narik gtu. Setelah hari itu, ada kasus anak FK (tetangga fakultasku) yang jadi korban juga sampai trauma berkepanjangan. Smg traumanya Mbak bisa sembuh ya Mbak. Terima kasih sudah banyak sharing hal yang sangat bermanfaat. Semoga semakin banyak lagi orang yang peduli ttg pentingnya edukasi menghindari dan mencegah kekerasan dan pelecehan berbasis gender ini.

    BalasHapus
  18. Dulu aku pernah menghajar cowok usil yang sengaja megang PD temanku. Eh, dia malah ga merasa salah, malah bilang kalo aku iri krn pengen dipegang juga. Aku tambahi tinjuku ke mulutnya sekalian.
    Pendidikan kayak gini harus diberikan sedini mungkin kepada anak-anak, agar mereka nantinya tidak menjadi korban atau menjadi pelaku.

    BalasHapus
  19. Kejadian di bus kyk gt kok byk jg yang ngalami ya mba ikaaa. Aku dan bbrp temanku jg pernah punya cerita yg sama. Semoga pelaku pelcehan bgtu kelak dpt ganjarannya. Krn kl ingey itu rasa traumanya kok smpai skgpun tetap ada ya

    BalasHapus
  20. Yuni sepakat. Kita harus mengedukasi anak-anak mengenai hal ini. Yuni pernah menemukan satu kasus di tetangga Yuni. Ada sesebapak yang kalau di dekat wanita tu suka colak-colek. Memang sih hanya bahu. Cuma kan nggak nyaman kalau mudah banget towel-towel begitu.

    Bagi orang yang nggak segan ngomong mungkin akan langsung konfrontasi. Tapi bagi yuni paling sebisa mungkin nggak pernah satu frame sama dia. Males aja rasanya.

    Apalagi kalau anak-anak. Dia bisa jadi diam saja kan. Iya kalau sesebapaknya cuma sebatas towel-towel pundak. Yang yuni dengar kok bapak itu pernah towel-towel dada ponakannya. Duh miris kan?

    BalasHapus
  21. Duh aku sedih baca cerita awalnya. Meski masih diingat, apakah trauma masa lalu itu sudah hilang mbak? Tp sepertinya sudah bisa mengatasi perlahan ya. Semoga harapan mbak spy anak didik mbak & perempuan lain nggak jadi korban kekerasan macam begini ya.

    BalasHapus
  22. Pernah ngalamin juga kejadian seperti mb Diyan, tapi sesaat sebelum turun saya sempat tonjok muka orangnya terus kabur. Dari kejadian itu jadi lebih suka pakai motor...
    Sekarang punya anak perempuan jadi lebih was-was ya

    BalasHapus
  23. merasa tertohok. Aku jg termasuk yg lebih memilih diam ketika menghadapi situasi seperti itu. Nggak berani langsung speak up dan baru menyesal ketika udah berlalu. Salut sm orang yg berani dan bisa langsung speak up.

    BalasHapus
  24. Wah, pas bener ini. Di Lombok Tengah, mau ada Ruang Pintar bersama anak-anak.
    Bisa dah ini nyontek Tepok Pintarnya buat cegah sex abuse.

    BalasHapus
  25. I feel you mbak ... Tugas kita sebagai orang tua dan pendidik untuk memberikan pemahaman buat mereka supaya terhindar dari menjadi korban atau pelaku kejahatan seksual

    BalasHapus
  26. Aku juga pernah mbak sama temen ngajiku, setan banget kok asli sengaja megang pd ku sampe sekarang aku benci banget

    BalasHapus
  27. Perlakuan sekecil apapun akan tetap membengkas yg membuat trauma berkepanjangan. Untuk bisa menjelaskan kayak gini pasti butuh keberanian ya mbak. Kamu kuat

    BalasHapus
  28. Duh miris ya bahkan di tempat umum pun bisa terjadi pelecehan seksual seperti yang Mbak alami. Bukan hal yang mudan untuk menceritakan pengalaman buruk ini, saya juga butuh belasan tahun lamanya baru berani cerita kalau saya juga pernah mengalami kejadian serupa.

    BalasHapus
  29. kurang ajar banget ya cowo itu:(
    Tidak menghargai perempuan, mungkin bagi dia itu suatu hal sepele
    Tapi bagi peremuan yang mengalami itu suatu hal yang besar, dimana itu menyangkut harga diri
    Semangat ya mbak , Aku suka liat guru inspiratif kayak gini :D
    Sukses terus

    BalasHapus
  30. Aku pun sebenarnya juga pernah jadi korban kekerasan seksual. Waktu itu, umurku masih lima belas tahun, kelas tiga SMP dan berniat pulang dengan menumpang angkutan umum. Aku beneran takut, karena di depanku, ada laki-laki dewasa yang terang-terangan menunjukkan alat kelaminnya di hadapanku. Aku nggak bisa ngjelasin kondisi angkutan gimana, yang jelas waktu itu aku takut. Aku nggak bisa teriak, karena si pelaku terus-terusan mengintimidasi ku. Itu beneran hal buruk yang pernah aku alami. :( Semoga nggak pernah keulang lagi :(

    BalasHapus