Kamis, 02 Juni 2022

Apakah Perlu Bekerja dengan Sempurna?

 


Apakah perlu bekerja dengan sempurna?

Saat murid-murid sedang melaksanakan penilaian akhir tahun atau kenaikan kelas, eh, tiba-tiba seorang guru sakit dengan alasan kelelahan setelah lembur nilai? Kok bisa?

Pagi tadi aku mendapat pesan kalau guru kelas sebelahku sakit.

Selasa lalu, dia memang sudah meriang. Beliau juga sudah mengeluh di depan teman-teman guru lainnya kalau badannya lagi nggak fit. Kupikir, tepatnya lumrahnya, kan kemarin sudah libur satu hari, beliau bisa menggunakan kesempatan libur itu untuk istirahat karena kebetulan juga masih lajang.

"Capek lembur nilai, ya?" tanyaku.

"Tahu aja."

Tearkih bertemu, kulihat di motornya memang ada banyak berkas soal dan administrasi kelas. Makanya aku menebak demikian.

Ini bukan kali pertama 'kesalahan' tersebut dilakukan oleh beliau. Waktu rapotan semester 1 kemarin pun beliau yang paling akhir membagikan rapot bahkan di hari berikutnya dan siang hari.

(Wali murid dan anaknya pasti bertanya-tanya, bukan? Yang lain sudah dibagi, kenapa kelas ini belum sendiri?)

Kalau kuamati, beliau memang sangat rapi pekerjaannya. Bahkan paling rapi di antara semua guru. Detail, lengkap, dan sangat teliti, akan tetapi banyak yang berceletuk,

"Apa gunanya sempurna, paling top, kalau tidak sesuai jadwal? Sama saja bohong."

Kurasa memang bekerja di ranah apapun, pasti kita dipatok untuk kerja maksimal, hasilnya terbaik, pun sesuai deadline. Betulkan?

Sejujurnya, dulu, pas zaman kuliah, aku juga miss perfect banget nget lho. Sampai-sampai aku rela tidak tidur untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan pastinya sesuai deadline.

Eh, pas kerja, masih lajang, itu bisa kuaplikasikan. Akan tetapi, saat punya anak satu, apalagi sekarang beranak dua yang satu masih bayi, rasa-rasanya mau jadi miss perfect kok mikir berkali-kali. Banyak hal yang akan kukorbankan.

Menjadi guru, makin ke sini, pekerjaannya itu memang semakin banyak dan penuh tantangan. Pekerjaan sakdetsaknyet alias tiba-tiba. Rasanya, bekerja mulai pukul 07.00 sampai 14.00 pun tidak cukup. Mau membawa pekerjaan ke rumah masih sering kelewatan karena bayi rewel minta kelon.

Kini aku bekerja sesuai tupoksiku saja, tapi tetap semaksimal mungkin tanpa mengorbankan siapapun termasuk diriku sendiri. Fleksibel-lah.

Pesan dari kepala sekolahku yang patut direalisasikan,

"Kerjakan setiap hari tanpa lembur."

Kalau menurutmu, mendapati apa yang dialami temanku ini, bagaimana? Pelajaran apa yang bisa kamu ambil?

Secara tulus kutuliskan kisah ini bukan untuk menghakimi seseorang, melainkan mengambil pelajarannya.

17 komentar:

  1. Sama mbaaa, dulu aku termasuk yg ngelakuin apapun kalo bisa harus perfect. Biarin telat daripada ngasih tugas yg belum sempurna 😅. Tapi itu duluuuu, zaman masih single, blm mikirin hak2 lain 🤣.

    Begitu udah nikah, jangan haraplah mau nerapin serba perfect. Bisa aja, tapi aku stress berat setelahnya. Bad mood Mulu, apalagi harus mikirin rumah tangga juga.

    Akhirnya sadar sendiri sih, kalo kita ga bisa harus selalu sempurna . Dipaksain juga yg ada stress, ga bisa nikmatin hidup, Ama pasangan jadi marah2 trus. Merembetnya ke hal2 lain. Akhirnya aku belajar utk kerja yg masuk akal aja 😄. Sebaik mungkin udah pasti, tapi harus sesuai kondisi

    BalasHapus
  2. Dijadwal itu lebih efektif memang dalam bekerja maupun belajar selain itu jadi tertata ga berantakan. Percuma kalau pinter tapi bingung mau ngerjain apa dan masih berantakan malah stress berat. Memang perlu manajemen tugas dan waktu sih, terimakasih sharingnya!

    BalasHapus
  3. akupun juga begitu, yang penting harus tepat waktu. Dan makin kesini jauh lebih fleksible bahkan mengusahakan untuk tidak lembur. Semangat yuk buguruuuu!!

    BalasHapus
  4. Setuju mba gak perlu jadi "Si selalu paling perfect" kalau akhirnya harus mengorbankan banyak hal. Kesempurnaan hanya milik Allah. Kita mah secukupnya, yang penting kerja bener, dan berusaha yg terbaik.

    BalasHapus
  5. kalau aku, sebisa mungkin melakukan tugas dg sebaik yg kubisa, karena menurutku hasil karyaku adalah cerminan dari diriku. tapiii...tetap saja harus melakukan berbagai penyesuaian bila diperlukan / berdasarkan skala prioritas..hehe..

    BalasHapus
  6. Memandang pekerjaan antara masih single dan sudah memiliki keluarga ini agak berat yaa..
    Karena kalau sudah berkeluarga, pasti waktu di rumah sudah gak bisa lagi mengerjakan pekerjaan di kantor.

    Jadi kudu bener-bener diselesaikan di kantor dan ketika di rumah, badan sudah lelah, jadi menikmati waktu kebersamaan bersama keluarga.

    BalasHapus
  7. aku tipikal yang penting tepat waktu mba wkwkkk bukan tipe yang ngoyo masalah akademis :)

    BalasHapus
  8. Tugas guru makin banyak yaaa belakangan ini :D
    Sebaiknya sih perfect tapi tetep patuh sama DL. Walaupun aku gak akan bilang yang perfect tapi molor tuh kek percuma. Tapi ya mestinya kalau kerjaan dia mempengaruhi yang lain dan ada tenggat waktunya sebaiknya jangan melewati DL #imho :D

    BalasHapus
  9. Makin ke sini, perfeksionis yg sempurna dilakukan, adalah menjaga tidak ada typo di setiap tulisan terbaru.
    Untuk yg lainnya, mending lebih sering berdamai dengan lemyataan atau keadaan saja. Alhamdulillah

    BalasHapus
  10. Kalau saya lebih suka mengerjakan sesuatu sesuai porsi waktu dan tenaga. Soal sempurna, nanti-nanti sajalah. Soalnya harus ingat tenaga, jangan sampai sakit.

    BalasHapus
  11. waa bahasamu mba haha btw aku juga gak suka kalau sakdet saknyet.. itu memberatkan banget lho. sesekali sih gapapa misalnya hal yang memang urgent, lha kalau keterusan jadi kebiasaan buruk.

    BalasHapus
  12. Saya selalu berusaha maksimal mengerjakan pekerjaan saya dan sebisa mungkin nggak lewat DL. Rasanya kurang setuju kalau 'sempurna' dijadikan alasan dan pembenaran biar bisa molor kerjanya. Karena sejak awal mestinya kita juga dapat menimbang semua hal supaya bisa tepat waktu sesuai kemampuan. Bisa dicicil, dll.

    BalasHapus
  13. Hmm semoga komentar ini tidak terkesan menghakimi. Tapi saya pikir ada yang salah dengan management waktunya.. atau dimana itu.. pokoknya ada yang salah, entah mungkin management stres? Lagi burnout dengan kerjaan sehingga jadi procastination dan jadi keteteran? Atau pendelegasian tugas rumah tangga? Kita ngga tahu kalau ngga nanya, dan kalau si teman tidak terbuka.
    Soal sempurna-nya suatu kerjaan.. Menurutku kalau sudah sampai menunda pembagian rapot itu kan jadi merugikan orang lain.. Sebaiknya jangan sampai.. Tapi kalau efeknya hanya dialami oleh diri sendiri, ngga begitu masalah melenceng sedikit dari standar kesempurnaan yg kita ciptakan.

    BalasHapus
  14. Laily Fitriani11 Juni 2022 09.47

    Menjadi guru itu kerjaannya so pasti seabrek. Menurut saya menjadi sempurna boleh namun harus tetap disiplin tepat waktu. Sama, saya pun begitu, kerap kali sebisanya saya kerjakan saya cicil lalu walau nggak sempurna-sempurna aman, nanti akan ada review dan mendatang berusaha lebih baik dan sempurna.

    BalasHapus
  15. Kalau urusan pekerjaan berusaha untuk profesional karena itu kan amanah juga. Yang penting sesuai SOP dan tidak melanggar aturan ya mbak

    BalasHapus
  16. Paling gak enak itu kalo telat.
    Duh jangan deh.
    Apalagi aku yg MUA, telat dtg n telat ngerjain client
    Bisa kemana2 itu jadi omongan haa

    BalasHapus
  17. Aku pernah diposisi seperti itu. Rasanya seperti dikejar-kejar apa gitu. Pokoknya harus tepat waktu jangan sampai enggak. Akhirnya ngerasa capek sendiri. Skrng gak mau gitu lagi.

    BalasHapus