Tuesday, 25 August 2015

Diamuk Pengamen Eh Pengemis Eh Mungkin Pengamen

Assalamualaikum.

Tepatnya saat bulan puasa kemarin. Sepulang dari rumah mertua, saya mengajak suami untuk mampir ke pasar terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Saya hendak beli kulit lumpia. Mau buat lumpia sendiri gitu deh ceritanya. 

Sesampainya di pasar, berputarlah saya ke sana ke mari mencari pedagang yang menjual kulit lumpia. Setelah saya tanya sana-sini, akhirnya ketemu juga. Kemudian, lewatlah saya di los pedagang ikan basah.

Tampak berjejer ikan-ikan segar di sana. Ikan bandeng, patin, gurami, nila, udang, lele, dan masih banyak lagi. Oya, ada juga kepiting segar. Sayang, saat itu ibu tidak mengijinkan saya makan kepiting. Takut kalau nanti anak saya pecicilan. Katanya, itu termasuk pantangan bagi bumil, seperti yang pernah saya ceritakan di 14 Pantangan Bagi Ibu Hamil.

Kembali ke los ikan basah. Melihat udang yang besar dan segar-segar, saya kok tertarik. Langsung deh setelah negosiasi dengan pedagangnya, saya pun langsung memesan.

"Dua bungkus ya, Bu." pinta saya. Sebungkus harganya Rp 3.000. Dua bungkus untuk lauk berempat lebih dari cukup lho. Maklum di pasar tradisional kan serba murah. Yuk, belanja ke pasar tradisional! *loh promosi*

Sambil menunggu pesanan, saya mengobrol dengan suami. Dari kejauhan terdengar suara kentrung dipetik ala kadarnya. Seenaknya. Suara pembawa kentrung itu pun tak jelas. Sesekali berhenti memetik kentrung dan menjulurkan tangan ke arah pembeli yangada di sekitarnya.

Gambar dari google
Kalau bulan puasa dijamin deh jumlah pengamen eh pengemis eh mungkin pengamen (bingung nyebutnya dibilang pengamen nyanyi nggak jelas, kentrung hanya untuk pelengkap, ah sebut saja pengemis ya) makin nambah. Mumpung banyak yang ingin bersedekah kali ya. Ah, bersedekah kan tidak harus menunggu bulan puasa ya? *pengingat*
"Memberi pengemis hukumnya haram jika uang tersebut ternyata digunakan untuk berjudi, berzina, minum khamr dan merokok."
Seperti yang saya duga, pengamen eh pengemis eh mungkin pengamen itu mendekat ke arah kami. Saya melambaikan tangan dan mengucapkan maaf. Saya menolak memberinya uang. Dia tetap menyodok-nyodokkan tangannya yang menengadah di dekattas belanja saya. Saya pun tetap menolak. Pikir saya, tubuh masih segar bugar, subur, tak cacat sedikitpun, nyanyi juga nggak kok PD banget langsung menengadahkan tangan.
"Sedekah kepada pengemis menjadi haram jika diketahui pengemis tersebut  tidak termasuk golongan orang yang boleh mengemis (bukan orang miskin)."
Jengkel dia. "Oalah Mbak...Mbak, meteng, hamil kok pelit!!" teriaknya sambil berlalu mencari mangsa lain. Iya, saya Diamuk Pengamen Eh Pengemis Eh Mungkin Pengamen.

Sontak pembeli yang juga antre langsung melihat ke arah kami. Saya cuek aja. Suami yang agak melotot. Malu, mungkin.

Pas meninggalkan los pedagang ikan, saya lihat suami masih agak manyun.

"Memberi uang kepada pengemis dianggap sunnah ketika pengemis tersebut tergolong kaum fakir atau miskin."
"Abi malu ya? Maaf. Tapi Ummi lebih malu kalau membiarkan dia (pengamen eh pengemis eh mungkin pengamen) tak punya harga diri seperti itu. Mau jadi apa dia? Rasa-rasanya kok ya nggak berkah nasi yang masuk di perut anak istrinya. Tapi entahlah, Ummi ngerasa nggak ikhlas saja. Mending diberikan ke mbah-mbah tua renta yang jelas lebih membutuhkan sebagian harta kita."

Saya pun berpikir kalau selama ini pemerintah (tepatnya di kota-kota) sudah berusaha keras untuk menertibkan para pengemis atau pengamen tapi tidak berhasil, ya karena jumlah mereka yang semakin hari semakin bertambah. Bertambah karena alasan apa? Dengan mengamen atau mengemis mereka merasa terlepas dari sebutan pengangguran dan mendapatkan penghasilan yang tak sedikit. Bisa ratusan ribu rupiah per hari. Bukan karena alasan mereka kekurangan secara ekonomi.

Kalau Anda? Punya pendapat apa tentang pengamen atau pengemis ini?

Referensi:
http://www.muslimdaily.net/berita/hukum-memberi-uang-kepada-pengemis-2.html
https://www.facebook.com/biografi.ulama/posts/10151598209255835

32 comments:

  1. Sama mb aku juga suka kezel ma golongan ini
    Biasanya klo di aku nemunya pas naek angkot, na si pe gamen or pengemis ini dandan punk hitu, nyanyisnnys penuh sindiran dn doa jelek bagi yg ga ngasih,
    Klo yg mb alamin, waduh misal aku jd mb, uda kusewotin balik tu ngomong kasar gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya betul mbak. Pas naik bus sering tuh pengamennya nyanyi yg nyindir plus doain yg jelek2 buat yg nggak ngasih. *nyesek*

      Hihihihi...biasanya saya baru ingat mau ngomelin balik kalau orangnya dah kabur mbak.

      Delete
  2. ada2 aja ya mbak,prihatin,akhir2 ini banyak P dan P yang seperti itu

    ReplyDelete
  3. hiihihi, kita punya pengalaman yang hampir mirip. saya juga sering nolak untuk ngasih sedekah buat orangn-orang yang seperti itu. Tapi suami selalu ngingetin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi...tos dulu mbak. Senasib nih ceritanya. Iya, suami jadi penyeimbang hidup kita ya mbak.

      Delete
  4. Rumahku hampir tiap hari di datangin...yg minta sodaqoh lah, yg ngamen lah....aku kasih aja sekedarnya. Habis itu tutup pintu...jebrett!! haha..
    *yg minta sodaqoh..masih muda, ngrokok lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di rumah saya malah jarang mbak. Soalnya rumah saya kan agak masuk gitu ya terpencil lah intinya. Tapi pernah ada anak2 muda ngamen di depan rumah suaranya bagus ya tak ada salahnya untuk berbagi.

      Delete
  5. Mending kalo ada pengamen atau pengemis yang masih kuat buat kerja gak usah di kasih, itu cuma orang-orang yang males kerja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan seperti itu paling tidak kita bantu pemerintah untuk mengurangi angka pengemis dan pengamen di jalanan. Asalkan kita tegas.

      Delete
  6. kadang kalo aku makn di warung selalu didatangi pengemis..mereka meminta minta...nggak dikasih kasihan dikasih tapi kok sepertinya dia mampu bekerja yg lain..jdi bingung :(

    ReplyDelete
  7. aku tergantung orangnya sih, kadang ada yang kasian, kadang ada yang emang pantes dikasih (pengamen dengan suara bagus maksudnya), ada juga yang bikin gedek. nah yang begini yang bikin gedek, preman ala-ala pengamen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang terakhir itu yang bikin ngeri kalau pas mintanya di bus. Pernah soalnya Mbak.

      Delete
  8. Biasanya aku bilang maaf sambil kekepin dompet erat-erat, Mbaaaak.. Hihihi :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sampai lepas ya dek dompetnya. xixixi

      Delete
  9. kok kayak peristiwa yang pernahkualami pas naik kereta dari Jakarta-Semarang. Saat kereta berhenti di sebuah stasiun skitar jawa barat, ada penjual kuliner tidak segan-segan ngomel gara-gara penumpangnya gak pada beli..hahaha (aku sih pura2 merem) jadi bisa denger mereka jengkel "Wow semua penumpang semarange miskin :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh sampe nyebut merk gitu ya mbak. Parah!

      Delete
  10. kadang bingung juga, sambil nungguin makanan datang, udah lebih 5 orang yg nadah tangan, kadang suka beri walaupun sering ga sih krn diliat, seger2 badannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, banyak banget sampai ada 5 orang :(

      Delete
  11. Menolak memberi dengan cara halus memang sudah benar. Cuma memberi hukumnya haram itu yang aku masih kurang begitu haram. Kita kan nggak tahu kalau digunakan untuk minum-minuman. Kalau kita tahu, baru itu hukumnya haram.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan memang sudah diterangkan di kutipan memang seperti itu Mas.

      Delete
  12. Aku sm suami sepakat gk ngasih uang ke pengamen/pengemis yg msh mampu kerja. Biarin mw diamuk atau apa.

    ReplyDelete
  13. Aku sebel bacanya.. Sebel kalo ada pengemis/pengamen yang marah2 kalo nggak dikasih. Nggak sopan banget ih menurutku.. Apalagi kalo badannya masih keliatan bugar. Mungkin lebih baik bisa banting setir jadi satpam, supir, atau apa lah yang lebih 'niat' - Aku sendiri punya pengalaman kayak gini. Bedanya, pengemis ini masih anak-anak. Tapi, walo masih anak-anak, entah kenapa aku nggak terenyuh. Karena wajahnya galak dan keliatan maksa nya. Cenderung kurang ajar menurutku malah. Jadi aku lagi makan, dia minta uang. Tapi belum-belum, cara awalnya minta uang adalah dengan MENCOLEK pinggangku. Aku kan kaget banget dong, Mak. Lagi enak-enak makan ada yang nyolek pinggang. Dia nyolek dari belakang, otomatis aku kan nggak bisa prediksi bakal ada yang nyolek. Jadi itu setelah dicolek aku beneran kageeettt. Kirain cowok mau godain atau berniat jahat atau malah mau gendam atau nyolong. Karena cara minta-minta nya kayak gitu, aku jadi malas kasih. Salah nggak ya kalo gitu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, kalau sampe nyolek-nyolek gitu kok kebangetan deh Mak. Ngerriii juga. Tahu-tahu kok ada yang nyolek dari belakang. Saya nggak pernah sih nemuin yang kayak gitu. Kalau pun ketemu mending saya langsung ngipriiittt pergi.

      Delete
  14. kadang suka kesel sama pengemis ataupun pengamen yang mana mereka itu masih punya tubuh yang bagus, sehat, dan masih muda. Terkadang mereka malas banget utk kerja, mereka lebih suka mengemis dibandingkan bekerja ...

    http://sastraananta.blogspot.com/2015/08/peluang-keuntungan-bernama-investasi.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan kalau ngemis modalnya nggak banyak dan tenaga yang dikeluarkan juga tidak poolll Mas. Jadi, enakan ngemis daripada kerja.. #eh

      Delete
  15. serrrrinngggg banget kayak gitu mbaakkk.. pernah juga kan koin tinggal 500 perak tak kasih ke pengamen, eh dilempar doongggg.. sebel kaannn.. masa harus kasih 50rebu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciiiiaaahhh...ngeri banget ya. Masih mending di sini, dikasih 500 masih mau.

      Delete
  16. Aduh Mbak, jaman sekarang aku kayak udah nggak punya iba sama mereka. Iba malah pada orang yg berusaha dagang gak laku2. :(

    ReplyDelete
  17. saya pernah juga dimarahi pengamen mba.. "ngomong dong kalo ngga mau ngasih", gitu coba.. emang pengamen semarang galak-galak kayaknya yaa.. tapi saya mbatin, "horee..saya menang", hihihi

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!