Saturday, 22 April 2017

Berubah Menjadi Ibu yang Kejam Saat Anak Terkena Diare, Muntah, dan Perut Sakit


Tak ada ibu yang ingin membuat anaknya sakit. Bukan begitu? Kecuali ia tak waras. Mati rasa.

Selasa, 11 April 2017

Biasanya saat aku pulang sekolah, Kak Ghifa langsung menyambutku. Hari ini tidak. Dia terlihat lemas di pangkuan ibuku.

"Kak Ghifa muntah."

Waduh.

"Habis jatuh?"

"Tidak."

“Makan apa tadi?”

"Nggak makan aneh-aneh kok."

Tanpa alasan yang jelas Kak Ghifa muntah. Bahkan saat aku selesai ganti baju, Kak Ghifa muntah lagi. Terus, seperti itu. Muntah berkali-kali.

Selepas adzan ashar, ku bawa Kak Ghifa ke dukun bayi. Badannya saat itu memang dingin. Terutama bagian telapak kaki, telapak tangan, dan telinga. Orang sini mengenalnya dengan istilah kena sawan (orang meninggal, bayi lahir, dll).

Hasilnya?

Tak ada perubahan yang signifikan. Masih muntah terus. Apalagi setiap kali minum air putih, pasti langsung keluar lagi.

Selepas maghrib, ku bawa Kak Ghifa ke bidan setempat. Jangan tanya, "Kok nggak ke dsa?" Di sini jauh banget kalau ke dsa. Ada sih yang dekat, tapi aku tahu sepak terjangnya seperti apa. Jadi, lebih memilih yang lain.

Pas menunggu obat dari bidan, aku seperti mencium bau kentut yang baunya ajegile. Ternyata Kak Ghifa BAB. Itupun aku baru tahu saat sampai di rumah.

Bu bidan memberi obat anti muntah dan pastinya antibiotik (hiks). Selesai minum obat, muntahnya bukan berkurang malah lanjut terus. Ditambah lagi dengan diare setiap 30 menit sekali. Semalaman suntuk kami tidak tidur. Kasihan sekali Kak Ghifa.

media.tenor.co

Keadaan Kak Ghifa hari ini: muntah dan diare entah berapa kali. Aku sampai tak bisa menghitung. Perutnya terdengar krucuk-krucuk kemudian muntah dan diare. BAB hanya air saja berwarna kuning. Seharian pipis hanya beberapa kali, jumlahnya pun sedikit.

Rabu, 12 April 2017

Abi memutuskan tidak bekerja. Pun aku pastinya. Kak Ghifa maunya nempel terus. Ibu, bapak, dan suamiku nggak laku.

Hari ini Kak Ghifa masih muntah, tetapi intensitasnya mulai berkurang. Aku berpikir mungkin ini pengaruh obat yang diberikan bu bidan.

Selasa malam, aku dan ibu berencana akan membawa Kak Ghifa ke dsa di Purwodadi ( 1 jam lebih perjalanan), esok harinya (Rabu). Melihat kondisi Kak Ghifa yang diare dan sedikit rewel, aku mengurungkan niat. Pagi-pagi ku bawa lagi ke bidan. Dari sana, diberinya obat untuk diare.

Setelah minum obat, Kak Ghifa masih tetap saja muntah dan diare. Bahkan diarenya parah banget. Tanpa harus mengejan, diarenya keluar sendiri. Itu pun hanya air saja. Tak ada ampas sedikitpun.

Setiap kali habis muntah dan diare, Kak Ghifa selalu minta minum air putih. Padahal, setelah minum air putih dia selalu muntah lagi. Bu bidan menyarankan untuk memberi air hangat dan madu. Awalnya mau, habis segelas, selanjutnya dia menolak. Kak Ghifa selalu memilih tidur setelah muntah atau diare. Nanti bangun lagi untuk muntah atau diare. Tanpa ada sesuatu yang masuk kecuali ASIku. Oiya, hari ini aku sempat googling dan berinisiatif untuk memberikan pocari ke Kak Ghifa.

Baca juga: Pocari Sweat Penyelamat Hidup Ibu

Sorenya, Kak Ghifa mau main. Bahkan sampai main kuda-kudaan. Agak enakan kali ya? Kan ada cairan yang masuk. Tapi tak lama dia muntah lagi. Lemas lagi.

Malamnya, aku dan suami begadang lagi. Kak Ghifa masih tetap diare dan muntah. Minta minum air putih, muntah lagi, diare lagi. Seperti itu terus. Ia tak mau lagi minum pocari. Badannya lemas.



Keadaan Kak Ghifa hari ini: intensitas muntah sudah berkurang, diare masih lanjut. Awalnya mau minum air madu dan pocari. Trauma muntah kemudian menolak minum pocari. Badannya lemas. BAB nya masih air saja. Pipisnya sering tapi hanya sedikit keluarnya.

Kamis, 13 April 2017 

Sambil menjaga Kak Ghifa yang semakin lemas, napasnya juga cepat, aku tanya-tanya sama teman dan googling untuk mengatasi diare dan muntah ini. Intinya, setiap kali anak diare dan muntah jangan sampai dehidrasi. Ku baca tanda-tanda dehidrasi, ku cocokkan dengan keadaan Kak Ghifa. Alhamdulillah, aman.

Saat anak diare dan muntah jangan sampai air mata anak tak keluar, menolak ASI, tangan dan kaki dingin, mata cekung, ubun-ubun cekung, tidak pipis lebih dari 6 jam dan tak sadarkan diri.

Aku hanya bisa mengusahakan makan makanan bergizi dan terus menerus minum dan ngemil. Karena apa? Perut Kak Ghifa hanya mau menerima ASIku. Ditawari makan, biskuit, ditolak semuanya. Mulutnya pahit kali ya.

Siangnya, ku bawa Kak Ghifa ke orang pintar (lagi-beda orang). Diberilah air untuk diminum dan beberapa tanaman yang harus dicari untuk dijadikan sawanan. Sorenya, Kak Ghifa mau main meskipun hanya naik sepeda dorongnya. Sesekali aku suapi, hanya masuk beberapa suap. Lumayan. Tapi, pas kelar minum air putih, muntah lagi. Hadeh, sabar. Aku coba lagi, dia menolak.

Apa kabar diarenya? Alhamdulillah sudah berhenti. Hanya saja, perutnya masih krucuk-krucuk. Biasanya setelah terdengar suara tersebut, ia akan BAB atau kentut. Nah, hari itu, dia hanya sering sekali kentut dan ada ampas sedikit yang keluar.

Dia tak BAB lagi bisa jadi karena perutnya sudah tak ada isinya.

“Lha gimana ini? Kak Ghifa makin lemas. Apa dibawa ke rumah sakit saja biar dapat infus?” pinta ibuku.

whatthegirl.com

Aku diam.

Keadaan Kak Ghifa hari ini: diare sudah berhenti, muntah sesekali, mau makan walaupun sedikit dan muntah setiap kali minum air putih. Badannya makin lemas. Muka dan bibirnya pucat.

Jumat, 14 April 2017

Diare memang sudah berhenti, tapi muntahnya masih lanjut. Tak mau makan dan hanya merengek minta minum air putih terus. Haus akut. Tapi, perutnya tak mau menerima. Diberi air madu hanya sesekali saja mau membuka mulut.

“Kak Ghifa ini lemas karena perutnya kosong. Kalau saja mau makan pasti cepat sembuh. Apa minta nafsu makan saja ya ke dokter?” ucapku ke ibu.

Sekitar setengah 6, ku bawa Kak Ghifa pergi. Sampai di tempat dokter, eh, dokternya nggak datang-datang, Kak Ghifa rewel banget minta pulang. Akhirnya, aku pindah ke dokter lain. Eh, di sana malah dikira Kak Ghifa terkena DBD karena perutnya ada bintik-bintik merah.

“Nggak deh, Dok. Ini bisa jadi karena saya kasih parutan bawang merah sama telon.”

Dokternya hanya mengangguk. Sedihnya lagi, dokter tersebut menyarankan Kak Ghifa untuk dirawat karena sangat rewel.

“Ini rewel banget karena tidak mau diperiksa, Dok. Nanti kalau keluar, pulang, pasti tidak. Terlebih lagi saya juga trauma, karena Februari lalu baru saja keluar rumah sakit.”


Dokter yang kearab-araban ini memberikan resep antibiotik dan penurun panas. Kepala Kak Ghifa memang hangat, tapi telapak kaki dan tangannya dingin. Kalau menurut bu bidan yang ku temui hari Selasa, demamnya itu karena tubuhnya kurang cairan.

Apa kabar sama nafsu makan?

Saat aku meminta nafsu makan, jawabnya begini, “Kalau diare nggak boleh diberi nafsu makan, nanti malah makin hebat diarenya.”

Padahal aku baca blog teman, anaknya saat diare kayak Kak Ghifa diberi nafsu makan sama dsa. Ehm, yang betul yang mana ini?

Keluar dari rumah dokter tersebut, cep, Kak Ghifa langsung berhenti menangis.

“Kalau Kak Ghifa nggak mau diperiksa, Kak Ghifa harus mau makan. Biar nggak lemas. Cepat sembuh dan main lagi.” Ku peluk erat tubuhnya. Rasanya tubuhnya mengurus. Ringan banget di gendonganku.

Sebelum sampai rumah, aku meminta bapak untuk berhenti di depan apotek temanku. Masih tutup sih, aku ketok pintu rumahnya. Alhamdulillah segera dibuka.

"Ada apa, Ka?" sapanya ramah.

Ku utarakan maksudku untuk membeli oralit. Pulangnya, bapak temanku ikutan doain Kak Ghifa agar segera sembuh. Terima kasih ya, Pak.

Sesampainya di rumah,

“Gimana? Dikasih nafsu makan?” tanya ibuku.

"Nggak, Bu. Buburnya sudah jadi? Tolong dong, Bu, ambilkan sedikit. Abi, tolong oralit ini diseduh sesuai takaran, bawa sini."

Ibu dan suamiku hanya menurut.

"Apa dibawa ke rumah sakit saja biar dapat infus?" pinta ibuku lagi dengan nada suara cemas.

"Nggak. Kakak itu akan sembuh kalau dia mau makan dan minum oralit ini. Mau nggak mau harus makan. Tolong ibu pegangi Kakak." firasatku sangat kuat soal ini. Kak Ghifa akan sembuh kalau mau makan dan minum oralit.


Ku paksa Kak Ghifa untuk makan bubur. Dia meronta. "Kakak harus makan. Biar badannya nggak lemas."

Ku jejali lagi, Kak Ghifa meronta lagi. Dia juga berusaha untuk menyemburkan bubur tersebut. Ku jejali lagi.

"Sudah sudah, kasihan, Ka." ibuku malah menangis melihat Kak Ghifa ku perlakukan seperti itu. Tapi ini ku lakukan agar dia sembuh.

Setelah makan ku beri Kak Ghifa oralit. Pakai gelas ditolak. Sendok? Disembur, akhirnya pakai pipet. Setiap kali minum 5 kali. Kemudian Kak Ghifa istirahat sambil nonton TV. 15 menit kemudian ku ulangi lagi, makan bubur 3 suap dan 5 pipet air oralit. Istirahat lagi. Ku ulangi lagi terus dan terus.

Sempat Kak Ghifa muntah, ku biarkan dulu selama 10 menitan, kemudian baru ku suapi oralit lagi. Kenapa kok tidak langsung ku kasih minum? Agar perutnya menyesuaikan dulu, biar nggak kaget. Karena pengalaman kalau langsung kuberi oralit secara langsung malah muntah. Sia-sia kan?

Alhamdulillah, sampai sore Kak Ghifa lumayan bisa tersenyum setiap kali ku goda. Makannya juga nggak mau ku suapi secara paksa. Malah dia mau makan sendiri. Minum oralitnya juga nggak harus dipaksa. Dia selalu membuka mulutnya dengan senang hati.

Percayalah, bahwa anak-anak kita sebenarnya cerdas. Tahu kalau dengan makan dan minum badannya enakan, langsung deh mau makan dan minum sendiri.

Keadaan Kak Ghifa hari ini: Sudah jarang sekali muntah, mau makan dan minum oralit, lama-lama minum air putih nggak muntah. Bisa jadi karena lambungnya ada isinya kali ya. Jadi, nggak kaget lambungnya. Oiya, seharian ini Kak Ghifa BAB 5 kali saja. Itupun sudah mulai ada ampasnya dan lama-lama seperti bubur. Pipisnya pun mulai banyak dan sering. Alhamdulillah.

Sabtu, 15 April 2017

Setiap waktu makan, Kak Ghifa maunya makan sendiri. Porsi makannya pun sudah nambah. Mau ngemil juga. Minum oralitnya makin semangat.

Soal BAB, hari ini Kak Ghifa BAB sebanyak 3 kali. Teksturnyapun mulai berubah. Makin kental.

Pemberian oralit masih ku lakukan karena Kak Ghifa masih agak lemas. Kepalanya mulai normal, tak panas lagi. Sesekali dia muntah. Ku kira itu karena dia kekenyangan, habis makan, minum oralit, eh minta minum air putih lagi.

Malam harinya, Kak Ghifa mulai pecicilan. Hihi..sudah enakan ya, Kak?

Keadaan Kak Ghifa hari ini: Makan mulai lahap, semangat minum oralit, muntah sudah berkurang, BAB hanya 3 kali dengan warna kuning cerah. Tapi, telapak tangan dan kakinya masih dingin.

Minggu, 16 April 2017

Hal yang membuat hatiku bahagia adalah saat Kak Ghifa bangun tidur dengan ceria. Alhamdulillah, semua penderitaan Kak Ghifa mulai sirna.

Sekitar pukul 05.30, aku membawa Kak Ghifa ke orang pintar (lagi). Kenapa? Karena menurutku telapak tangan dan kakinya yang dingin ini nggak wajar. Iya, kalau dehidrasi kan salah satu cirinya itu, tapi Kak Ghifa sudah mulai pulih lho. Pun kalau semuanya dingin itu tanda-tanda dehidrasi tingkat tinggi. Nggak sesuai kan dengan keadaan Kak Ghifa.

Benar saja, ya, percaya nggak percaya, sepulangnya dari sana, Kak Ghifa makin ceria. Sampai malam hari Kak Ghifa nggak rewel lagi. Waktunya makan ya hayuk saja. Makin lahap malah. Oiya, pas hari ini aku masih memberi Kak Ghifa oralit. BABnya maish 3 kali tapi dengan warna coklat seperti saat normal.

Keadaan Kak Ghifa hari ini: Alhamdulillah hanya sekali muntah dan BAB pun hanya 3 kali dengan warna seperti saat dia tak lagi sakit.


Kesimpulan,

  1. Saat anak diare dan muntah jangan langsung panik kemudian membawanya ke dokter atau bidan. Karena pada dasarnya diare dan muntah bisa diobati di rumah.
  2. Intinya, saat anak diare dan muntah jangan sampai dehidrasi. Bagaimana caranya biar tidak dehidrasi? Tetap beri makan seperti biasa dan beri oralit. Kalau masih mau minum air putih, lanjutkan. Anak masih ASI? Sering-seringlah diberi ASI.
  3. Bagaimana kalau anak menolak makan? Misalnya baru sekali muntah kemudian menolak makan, siapkan stok sabar yang banyak. Sepertiku di atas, PAKSA. Ini demi anak. Agar dia nggak lemas apalagi dehidrasi.
  4. Beri makan dan minum sedikit-sedikit tapi terus. Kalau untuk makan, aku memberi Kak Ghifa makan 20-30 menit sekali. Kalau minum oralit makin sering, 10 menit sekali.
  5. Saat anak muntah, biarkan dulu selama 10 menit. Jangan langsung diberi minum atau makan. Tujuannya agar perutnya menyesuaikan keadaannya. Baru setelah 10 menit berilah minum atau makan. Begitu seterusnya. Jangan pernah lelah mencoba agar anak tidak dehidrasi.
  6. Perhatikan juga intensitas, jumlah dan warna pipisnya. Makin sering pipis dan jumlahnya banyak berarti itu kabar baik.
  7. Saat anak sakit jangan sampai bikin masalah. Misalnya, mempermasalahkan siapa penyebab anak sakit. Lebih baik meningkatkan kerjasama dengan pasangan. Gantian jagain, karena sungguh saat merawat anak sakit itu sangat melelahkan. Hampir seminggu menjaga Kak Ghifa saja aku seperti diet alami. Berat badanku turun. Hihi. Ini bingung mau senang apa sedih tahu BB turun.
  8. Sediakan oralit di rumah. Kalau mau buat resep sendiri sih monggo. Di internet juga banyak. Kalau aku sih cari simpelnya saja. Sebenarnya takut kalau salah takaran. Karena kalau salah takaran malah bikin anak makin diare. Oralit yang aku beli itu juga murah banget lho, cuma 750/ bungkus.
  9. Dari dokter dan bidan yang ku temui tak ada yang menyarankan untuk memberikan oralit saat anakku diare dan muntah. Ternyata hasil survey yang aku baca benar, bahwa banyak tenaga medis yang belum paham betul bahwa oralit ini obat diare dan muntah yang disarankan oleh WHO. Karena memang komposisinya tepat untuk mengganti cairan tubuh manusia yang hilang karena muntah dan diare.
  10. Kalau bisa jangan pakai diaper dulu. Lebih baik pakai celana biasa saja. Agar tahu kapan BAB dan ciri pipisnya.
  11. Usahakan tekstur makanannya yang halus. Misalnya, bubur. Hindari dulu sayuran yang kaya serat karena akan memperparah diare. Buah seperti semangka dan melon juga hindari dulu. Kalau mau makan buah, pisang dan apel bisa jadi salah satu solusi.
Saat diare dan muntah sudah kabur, jangan kaget ya kalau si kecil ditimbang kemudian BB nya turun drastis! Kak Ghifa saja kemarin turun 7 ons. Badannya kurus banget. Tulang dadanya saja sampai kelihatan. Sedih euy!

Alhamdulillahnya, setelah sembuh betul Kak Ghifa seperti balas dendam. Doyan banget makan. Apapun masuk. Habis sarapan, aku sarapan dia ikut makan, nanti neneknya makan ikut makan lagi. Hahaha. Tak apalah ya, Kak. Semoga saja bulan depan kalau nimbang BB nya sudah naik dan tidak masuk garis kuning. Aamiin.

Punya pengalaman juga sama anak yang terkena diare dan muntah? Boleh dong dishare bagaimana penanganan yang kamu lakukan?

29 comments:

  1. Semoga selalu sehat ya kak ghifa, daun jambu yang direbus dan teh tawar kalu minum rutin bisa mencegah diare mbak, mungkin bisa dicoba 😉

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jambu klutuk ya, Mbak? Sama teh tawar, tak simpan ya, Mbak. makasih.

      Delete
  2. Hancur rasa nya hati ini yaa mb kalau liat anak sakit.pernah ngerasain diposisi nya mb,maksa anak makan biar bisa minum obat..walau ga tega tapi ga ada cara lain, Alhamdulillah sembuh :) kalau kamila diuji nya sakit batpil, radang dan demam..bikin galau kalau udah kena penyakit ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu pas Kak Ghifa seumuran Kamila juga balik, radang, sama demam, Mbak. Ini sudah pada bosen kali ya ganti diare. Wkwkwkwk

      Delete
  3. Waktu balita, anak-anak saya selalu dikasih Lacto B setiap kali diare. Setelah agak gedean dikasih yakult. Biasanya neneknya yang suka cemas. Lagi diare malah dikasih yang asem. Padahal itu kan lacto bacillus untuk mengembalikan bakteri baik yang ikut keluar saat diare :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas pulang dari RS juga dikasih Lacto B, Mbak. karena gak paham dikira obat, takut kalo kebanyakan minum obat, ginjalnya malah yang kalah.

      Delete
  4. memang kalau muntah dan diare kita hrs telaten, beri mkn bubur sedikit tp sering dan minum oralit sdkt2 tapi sering

    ReplyDelete
  5. makasih infonya, emang kalo anak gak ceria kayak biasanya itu bikin hati ibu lemes

    ReplyDelete
  6. Semoga sehat sellau ya,,kalau anak udah diare suka was-was dan biasanya aku minumin teh pait dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, makasih, Mbak. ini usia berapa Mbak? Kak Ghifa kalo minum teh langsung batuk.

      Delete
  7. Harus siap diuji kesabaran pokonya ya, Mbak. Sehat terud Kak Ghifa!

    ReplyDelete
  8. Makasiih sharingnyaa mbaak. Semogaa kak ghifaaa sehaat dan bahagiaa teruss yaa. Aamiin. Kalau anak udah sakit itu rasanya sedihh dan was was mbak yaa. Butuhh sabar yang ekstra juga. . :"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh, Mbak.
      Sama-sama makasih sudah mampir.

      Delete
  9. Semoga selalu sehat ya, ghifa dan ibunya. Sakit emang ga enak, apalagi bikin lemes ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo anak yg sakit ibunya jangan sampai ikutan loyooo

      Delete
  10. Duuuhh ikut sedih ya ngerasain jadi ibu yg anaknya lagi sakit gini. Untung saja kau tabah sekali, Ika. Semoga Ghifa habis ini sehat2 terus ya Nak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anion, Budhe.
      Semoga dengan sakit ini, dosa2 Kak Ghifa diampuni Allah. Dan akunya makin sabaaaar

      Delete
  11. semoga lekas sembuh ya mbak dek Ghifanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas aku nulis ini Alhamdulillah sudah sembuh kok Mbak.

      Delete
  12. kalo anak sakit kita jadi sedih dan bingung mbak, beruntung ghifa punya ibu kayak mbak,
    aku kalau anak sakit sering cemas gitu
    seharian masih diare besoknya langsung dibawa ke dokter karena takut hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku dulu juga gitu, Mbak. Sakit dikit bawa ke dokter. Tapi karena kalo tiap periksa dikasih antibiotik aku mikir ulang. Ntar anakku jadi apa?

      Delete
  13. Ya Allah.. Ghifa.. Semoga gak kejadian gini lagi ya nak..

    ReplyDelete
  14. Wah lumayan lama ya diare dan muntahnya. Anakku juga beberapa kali begitu. Memang benar, selalu pastikan anak yang muntah dan diare selalu dikontrol air minumnya. Paksa minum. Pernah kubawa ke dsa, awalnya niat pingin di rawat inap aja, gak tega ngelihat lemes. Tapi sama dsa gak boleh dirawat, kasihan. Muntah biarin muntahk, diare biarin diare karena badan ingin membersihkan diri. Obat anti muntah dan anti diare gak dikasih, hanya AB dan penurun panas, usahakan untuk makan. Hehee, panjang aja komenku. Sehat sehat selalu ya, Nak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Itu saja nya bagus, Mbak. Jarang Nemu DSA yg kayak gitu.
      Aamiin, makasih ya, Mbak.

      Delete
  15. Wah, Kalau anak sakit lebih cemas daripada sakit diri sendiri

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!