Wednesday, 6 December 2017

Andai Nilaiku Tidak B



Ehm, aku mulai dari mana ya ceritanya? Oke, sebenarnya tema arisan yang ke 16 ini, dari Mbak Icha dan Mbak Yuli, aku bingung mau cerita tentang guru yang mana. Tapi saat aku baca postingan notes FB milik Mbak Dede Harjanti dengan judul Mendidik, aku malah teringat satu kejadian yang membuatku sampai sekarang masih merasa menyesal. Kenapa dulu aku nggak mencoba klarifikasi sama Bu Y ya?

Mungkin...

Ah...

Sudahlah...

Begini ceritanya,

Seingatku, kejadian ini terjadi saat aku semester 6. Ada salah satu mata kuliah yang menuntut kami mampu menghasilkan 1 media pembelajaran dalam 1 minggu. Kemudian media itu dipresentasikan di depan kelas pada seminggu berikutnya.

Salah satu media pembelajaran yang kelompokku buat

Tugas itu berkelompok, masing-masing ada 4 orang. Pokoknya selama 1 semester itu, per kelompok harus bisa menghasilkan media pembelajaran yang sifatnya visual, audio, maupun audio visual.

Tugas tersebut sangat menantang bagiku. Makanya, aku selalu semangat mengikuti mata kuliah ini.

Setiap tugas selalu kukerjakan dengan sungguh-sungguh. Kebetulan aku dapat kelompok yang selalu mengandalkan ide-ideku. Semua tugas aku yang bikin skenarionya. Bahkan bisa dibilang aku yang paling mati-matian semangatnya.

Hampir setiap hari aku pulang malam. Dulu aku sudah nglajo, pergi-pulang, Demak-Kudus (1 jam). Kalau sampai di jalan yang sepi, aku selalu ngintili (apa ya bahasanya, pokoknya ngikut di belakang) truk. Maklum jalanan yang kulalui itu sering banget ada yang kena begal.

Salah satu adegan saat kelompokku membuat film

Pulang malam, pagi, pukul 07.00 harus standby lagi di kampus, capek tak kurasa. Pikirku, biar imbang, sama enaknya, karena semua ide sudah dariku, giliran presentasi di depan kelas, kuserahkan kepada temanku yang lainnya. Aku hanya membantu menjawab saat mereka sudah benar-benar tidak bisa memberikan jawaban sesuai harapan penanya. Ya, aku dulu sok yes gitu deh pas kuliah. Hahaha.

Sampai akhirnya, saat nilai mata kuliah ini keluar.

DOAR!

Tahu aku dapat nilai apa?

Nilaiku hanya dapat B. Dan itu satu-satunya nilai B yang kudapatkan selama 6 semester kuliah.

Kecewa? Banget. Apalagi, teman sekelompokku, yang menurutku kerjanya hanya emnyeh-emnyeh dibandingkan aku, mereka malah dapat nilai AB, di atasku.

Teman sekelasku saja pada bertanya-tanya, why? Bahkan ada yang menyarankanku untuk menemui Bu Y. Untuk apa?

"Siapa tahu ada yang salah, Cha." Begitu terang temanku.

Saat itu tak ada keberanian dalam diriku. Kupikir ya sudahlah, mungkin itulah nilaiku. Takdirku. Sudah keluar juga di portal kampus. (Pas kejadian ini, dosenku nggak ada keterangan memberikan waktu kepada mahasiswa yang mau mengusulkan ketidak-terimaan mendapat nilai sekian).

Sampai akhirnya, rasa penyesalan baru kurasakan saat aku hendak mendaftar wisuda.

Siapa sih yang nggak mau diwisuda sebagai mahasiswa terbaik?

Saat itu, kulihat ada nama mahasiswa perempuan seangkatanku, tapi aku nggak tahu betul orangnya, hahaha, terpampang jelas IPKnya. Ya Allah, hanya selisih 0,01 denganku.

A post shared by Ika Hardiyan Aksari (@diya_nika) on


Seketika itu aku kayak patung. Otakku berputar-putar. Andai dulu aku menemui Bu Y. Bisa jadi nilaiku yang B itu bisa berubah. Ya, minimal AB lah. Pasti nama yang terpampang sebagai mahasiswa terbaik di sana adalah namaku.

Rasanya itu nyeseeeeeel banget. Kenapa nggak mengikuti saran dari temanku waktu itu? Kenapa? Kenapaaaaa woy?!

Sedihnya lagi, saat hari wisudaku tiba. Sepanjang perjalanan berangkat sampai kampus, tak ada rona bahagia di wajah ibuku. Baru kutahu alasannya saat kami hendak pulang setelah seharian mengikuti prosesi wisuda.

"Bapak-Ibu jauh-jauh sampai Kudus tapi namamu tidak dipanggil sebagai mahasiswa terbaik itu rasanya rugi banget, Nduk."

Bagai tersengat listrik. Saat itu juga aku pengen banget nangis di pangkuan ibuku. Memohon ampun, memohon maaf kepadanya. Tapi aku tidak sampai hati melakukannya. Aku hanya diam. Menyalahkan diriku sendiri.

Bukan, aku tak menyalahkan Bu Yuni. Beliau kan memang tidak tahu proses aku melewati mata kuliah itu. Beliau tahunya saat tampil di depan kelas, saat presentasi di depannya. Bukan prosesnya. Bukan perkara aku sering pulang malam, bukan perkara semua ide dari siapa, atau siapa yang membuat slide presentasinya.

Aku bahkan berusaha terus-terusan meng-iyakan apa yang sudah terjadi.

"Ah, apalah arti sebuah huruf A, AB, atau B. Yang penting aku dapat ilmunya." Padahal hatiku rasanya nyeseeeeeeelll puol. Apalagi karena nilai B itu aku membuat ibuku kecewa. Maafin aku, Bu.

Sampai sekarang, semenjak kejadian itu, aku belajar untuk selalu berusaha berjuang dan memperjuangkan sesuatu sampai titik darah penghabisan. Selama masih ada kesempatan, hajar! Berusaha menuntut pada kenyataan hidup atas apa yang sudah kuperjuangkan. Kalau memang hasilnya masih tak sesuai apa yang kuinginkan, berarti Allah punya skenario lain yang lebih ciamik untukku. Bukan begitu?

Kalau kamu jadi aku, apakah kamu akan konfirmasi ke dosen atau guru kamu? Apa yang kamu lakukan/rasakan saat orangtuamu mengungkapkan kekecewaannya?

19 comments:

  1. Pasti nyesel banget yaa mba, smg menjadi pelajaran ke depannya. Yg lalu mari kita ikhlaskan biar hati damai :)

    ReplyDelete
  2. Sedih bacanya mbak. Infertilitas banget jaman sekolah dulu ....

    ReplyDelete
  3. Sering ky gitu... Soalnya saya memang ga pede kalau presentasi, pdhl di belakang kerja abis2an... Ya sudahlah :)

    ReplyDelete
  4. Nyesek deh bacanya... Semangat ya mb. Pasti kejadian itu yang terbaik menurut Allah :)

    ReplyDelete
  5. Kalo aku, ga akan konfirmasi lagi, krn yg jd bahan penilaian bu dosennya adalah pada saat kita memaparkannya. Org yg tampil ke depan, apalagi mampu menyampaikannya dengan baik dan mempesona, maka dia lah yg akan dinilai sebagai pemrakarsa, apalagi jk dia juga terlihat mampu menguasai materinya.

    Bu dosen ga akan mau tau the actor behind the scene sejauh pemaparan ini berjalan meyakinkan.

    Kalo aku, akan menjadikannya pembelajaran, untuk ga obral ide, kerja keras yang tak berimbang. Jika ini teamwork, mk semua hrs solid. Bagi tugas yg seimbang, terutama saat tampil. Jika kita yg punya ide, ya kita yg tampil, agar dosennya bisa melihat dan meyakininya, sehingga dia ga slh ngasih nilai.

    Hayyah, jd panjang deh ini. Punteeeeen. Hehe.

    ReplyDelete
  6. Orangtuanya harapannya tinggi juga ya, mba?
    Orangtuaku nggak pernah menuntut demikian walau namaku dsebut dua kali saat wisuda. Mungkin permintaan orangtua beda ya mba.
    Mmh, aku juga ga tahu apakah akan nanya lagi ke dosen atau nggak karena beda kondisi juga menentukan

    ReplyDelete
  7. Ga usah disesali lagi mbak ilmu yg didapat lebih penting dari sekedar nilai B kan. Buktinya sekarang jadi guru yg cethar membahana. Semangaatt :*

    ReplyDelete
  8. Akuu, ngga tau mau ngomong apa hehe. Tapi semua sudah berlalu, jadi punya pelajaran berharga ya mba

    ReplyDelete
  9. Keinget dulu kalau sekolah harus dapat ranking krn pasti dapat beasiswa dari kantor bapak, pernah sekali gak dapat dan ortu kecewa. Trus skrng saya bertekad jd ibu yang gak nuntut anak2 saya utk dapat nilai tertinggi, yang penting jd org baik dan bermanfaat buat org lain. Krn ada yg lbh penting dr sekadar nilai, meski emang gk bohong jauh dari lubuk hati saya terdalam sayapun ingin anak2 berprestasi, tapi apaun yg mereka dapat saya akn lbh hargai

    ReplyDelete
  10. Terharu... semoga di kesempatan lain ada sesuatu hal yang buat bapak ibu bangga, who knows. Tetap semangat dan berbesar hati ya.

    ReplyDelete
  11. Mungkin yang bikin nyesek adalah kita ga bisa membahagiakan ortu lewat prestasi. Tapi kalau aku memandangnya nilai mbak cuma beda 0,001 dengan mahasiswa terbaik bukannya itu sebuah prestasi juga? Dan ga perlu ada yang disesali. Toh dalam dunia karir dan bekerja nanti ga ada yang akan melihat kita baik atau buruk, prestasi atau tidak dari hanya sekedar nilai atau penyandang mahasiswa terbaik. In the real life, kita akan berjuang lagi dan disitulah mungkin kesempatan kita membahagiakan ortu lebih terbentang luas. IMO. Semangat ya mbak

    ReplyDelete
  12. Aduh mbak. Aku bacanya juga ikutan nyesel banget. InsyaAllah selalu ada hikmah dari sebuah kejadian ya. Oiya selamat atas wisudanya mbak. Saya juga dulu dari IKIp tapi mengajar di rumah saja. Ngajari anak anak dan jadi volunteer kegiatan masyarakat. Alhamdulillah, sederhana tapi tetap membuat bahagia. Makasih sharingnya mbak dan salam kenal 💞

    ReplyDelete
  13. Nyesel emang selalu datang belakangan, akupun...

    aku malah pernah dapat nilai D loh Mbak... dan emang iya, ada temen yang seenaknya sendiri malah dapat nilai lebih

    buat menghibur diri, aku mikirnya gini, gpp dapat nilai segitu, yang penting aku bisaa

    ReplyDelete
  14. Aku juga gitu berjuang banget buat dapat nilai waktu sekolah supaya kata emak bisa masuk sekolah bagus dan ga bayar tapi krn kepintaran. Tapi bnyak juga yg cuma pake uang demi untuk masuk sebuah sekolah atau ingin mendapatkan nilai

    ReplyDelete
  15. Aku jaman kuliah pernah ngalamin kayak gini. Temen sekelompokku dapat B aku malah dapat D. Aku protes katanya nggak ngumpulin tugas padahal aku bikin tugas kelompok. Sudahlah mungkin ibunya sensi. Tapi alhamdulillah nilaku jadi BC

    ReplyDelete
  16. Seorang guru yang ketceh nih , salut buat mbakny kunbal y

    ReplyDelete
  17. Setiap orang pasti punya kejadian masa lalu yang ingin diulang.
    Semoga suatu saat, kita bisa menghargai usaha orang lain lebih dari apapun. Karena proses yang tidak kita tahu.

    ReplyDelete
  18. sekarang sih aku bakal lebih fokus dengan mengaplikasikan ilmuku dibanding mikirin B atau AB. Setelah wisuda, waktunya menebar manfaat ke masyarakat. *mendadakbijak

    ReplyDelete
  19. Kalo aku kayaknya nggak bakalan bilang ke dosennya Mbak. Pasrah terima apa adanya. Pembelajaran yang bener-bener masuk di hati ya Mbak. Semangat!!

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!