Rabu, 17 April 2019

Belilah, Jangan Ditawar Apalagi Dihina



Belilah, Jangan Ditawar Apalagi Dihina - Kemarin malam, saat bapak pulang dari pasar, beliau membawa bungkusan plastik hitam.

"Ketan, Ka." Bapak menawariku.

Ibu yang menjawab, "Kok tumben beli ketan?"

"Sakne, sing dodol mbah-mbah tuwek. Pas udan sisan. (Kasihan. Yang jualan nenek tua. Saat hujan pula)"

Ibuku masih menimpali, "Lah, kok podho karo Ika. Bali-bali ngeter lomba nggowo terasi. (Lah kok sama dengan Ika. Pulang dari mengantar lomba, pulang-pulang bawa terasi). Padahal stok terasi di rumah masih panjang sampai beberapa bulan depan. Kalian berdua memang cocok."

Sumber: phinemo.com

Aku yang mendengar perkataan ibu hanya tersenyum. Lha mau bagaimana? Memang kasihan.
_____________________________

Aku jadi ingat momen-momen Ustadz Danu menangis ketika melihat seorang ibu dengan kaki yang tulangnya meleset dari tempat semestinya. Apa hubungannya dengan ceritaku?

Ibu itu mengalami hal demikian setelah kejadian tawar menawar dengan penjual cobek. Ibu itu menawar cobeknya dengan harga 50 ribu dari harga asli 80 ribu.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya masih masuk akal ya nawarnya. Akan tetapi, mungkin ada embel-embel perasaan yang berbeda. Bisa jadi ada rasa jengkel dari penjual atau ibu tersebut yang berlebihan atau perasaan merendahkan orang lain.

Yang sering melihat acara Ustadz Danu pasti paham ya kalau apa yang terjadi pada diri kita adalah akibat dari perilaku kita sendiri. Itupun sudah diterangkan di dalam ayat suci Alquran.

Terlepas dari masalah dalam diri ibu tersebut, masih untung penjual cobek itu mau berusaha berjualan. Bukan meminta-minta. Eh, kok masih ditawar pula. 

Duh, malah ingat kasus laki-laki yang pernah tertangkap razia karena didapati sebagai pengemis tapi punya mobil. Kamu pasti tahu juga, kan? Viral banget beritanya.

Guruku pernah bilang kalau setiap hari kita itu diberi kesempatan oleh Allah untuk berbagi kepada siapapun. Terpenting adalah niat kita. Kalau dari rumah niat mau berbagi, kalau ketemu dengan orang, baik itu mau pengemis masih muda, yang berkebutuhan khusus, atau mbak-mbak menggendong anak, kalau mau berbagi ya berbagi saja.


Itu kepada pengemis, bagaimana kalau dengan penjual barang, seperti penjual cobek, ketan, dan terasi yang kuceritakan di atas? Jelas, kedudukan mereka lebih mulia dibandingkan pengemis. Mereka rela menahan malu demi mendapatkan untung yang tidak seberapa.

Ngomong-ngomong soal penjual terasi yang kutemui. Saat itu aku tahu kalau ibuku masih punya stok terasi banyak banget. Akan tetapi, melihat perjuangan bapak tersebut, datang di antara kumpulan guru-guru dengan berpakaian rapi, beliau juga berusaha berpenampilan rapi walaupun dengan baju dan sepatu yang seadanya.

Aku pernah juga menemui penjual keripik singkong saat aku jadi SPG di acara dinas pendidikan di kabupaten. Beliau hanya menjual keripik singkong seharga 2000 perak, lengkap dengan pikulannya yang usang, baju batik yang mulai lusuh, tapi beliu mau berjuang. Tidak hanya menengadahkan tangan.

Kalau lihat orang-orang yang mau berusaha dan malu meminta-minta seperti itu, apakah tega untuk menawar? Kalaupun tidak butuh-butuh banget, yuk, beli! Karena 5000 perak yang tidak terlalu besar bagi kita, belum tentu begitu juga bagi mereka.

Jangan sampai kita mudah berbagi dengan pengemis, tapi dengan mereka yang mau berusaha dengan berjualan (entah barang apa-penting halah), kita malah lalai!

15 komentar:

  1. Saya juga sedih campur ngga tega kalau lihat orang udah sepuh masijlh jualan dengan gigih. Sementara saya yang muda masih sering ngerasa buang2 waktu. Harus lebih banyak belajar dengan beliau-beliau yang semangatnya luar biasa:(

    BalasHapus
  2. Persis yg dilakukan mamaku dan ibu mertua hahaha,selalu ada saja dengan dasar empati.Jadi contoh baik ya bagi orang2 sekitarnya

    BalasHapus
  3. Mungkin kalau ngga mau beli karena ga sepakat ya gpp. Tp kalo menghina ya keterlaluan

    BalasHapus
  4. Kebiasaan inspiratif ini.
    Aku juga masih sering belajar untuk tidak terlalu menawar saat belanja di pasar.Anggap saja sedang belanja di minimarket.
    Kalau pun terpaksa nawar, ya nggak sadis-sadis amat. InshaAllah.

    BalasHapus
  5. Iya mbak, tawar-menawar emang lihat orangnya, & harga yg ditawarkan. Kalo masih wajar, ya nggak aku tawar.

    BalasHapus
  6. Sama Mba, sering banget trenyuh lihat penjual yang sudah sepuh. Nggak tega rasanya.

    Kalau belanja di pasar selain pakaian, biasanya aku nggak nawar, nggak tega sama penjualnya. sayangnya banyak penjual di pasar tradisional yang nawarin dagangannya terlalu tinggi bahkan kadang bisa kebeli sampai 50% dari harga yang ditawarin. Jadinya banyak orang yang berpikir semua penjual seperti itu.

    Aku lebih suka yang di pasar tapi harga pas, kadang bisa turun 5-10ribu, daripada keblondrok :D

    BalasHapus
  7. Aku pun sering gitu cikgu liat penjualnya ga tega akhirnya dibeli padahal ya ga butuh ga pengen tapi diniatkan sadaqah aja deh

    BalasHapus
  8. Kalo aku ama pengemis malah sekarang udah gak pernah tak gubris mbak. Aku lebih suka beli di orang yang berusaha gitu. Walau aku tahu mungkin yang aku beli gak bermanfaat. Tapi aku tahu aku udah membuat satu orang bernafas agak lega..

    BalasHapus
  9. Love banget Mba
    Alhamdulillah kita sekubu yang tiap liat orang nggak tegaan
    tapi kadang pernah juga malah keblasak wakakak

    BalasHapus
  10. Iya bener banget. Sebisa mungkin kita tuh nglarisi dagangan orang-orang yang mau bersusah payah berjualan, tidak sekedar meminta-minta.

    Di kampungku sering ada nih penjual opak yang kelilingan, kesian sampe sore gitu opaknya masih banyak. Kalau pas ketemu ya kubeli meskipun opaknya udah agak amem kena angin ;)

    BalasHapus
  11. Aku gak tega nawar barang, inget aja ketika belanja di mall pun kita manut harga yang tercantum di display nya ya.

    Aku mending nggak jadi beli kalo emang ada penjual menawarkan barang kemahalan. dari dapa ntar nawar malah dimarahi

    BalasHapus
  12. Setuju Mbak. para sepuh gini kasihan sekali jika tidak habis dagangannya. InsyaAllah selalu beli, dan ga pakai tawar

    BalasHapus
  13. Himbauan yang bijak, jauhkan perasaan untuk menghina, kita tidaklah lebih mulia mereka

    BalasHapus
  14. Aku kalo melihat mereka terkadang sedih, (salut akan semangatnya) terkadang saya langsung beli dan setelah itu entah kenapa air mataku netes hmmmm

    BalasHapus
  15. Setuju banget mbak. Aku juga klo pas ketemu bapak/ibu penjual yg seperti di tulisannya mbak pasti selalu diingatkan suamiku. Usahakan membeli dari Beliau2 walaupun kita nggak butuh, dan jangan pernah nawar dagangan Beliau2. Klo bisa malah dilebihkan yg banyak.

    Kami juga suka terharu klo liat Beliau2 itu, walaupun banyak keterbatasan tapi bisa semangat mencari penghasilan yg halal. Kadang jadi kerasa klo kami yg masih muda ini tergolong "malas" jika dibandingkan perjuangan Beliau2

    BalasHapus

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!