Rabu, 03 April 2019

Ikhlas itu Memang Tak Mudah


Dulu, saat baru masuk kuliah, fakultasku mengadakan pemilihan mahasiswa yang akan mewakili lomba baca puisi untuk acara malam keakraban. Sebagai mantan peserta lomba baca puisi pas SMA di tingkat provinsi, meskipun saat itu tidak menang, aku pasti ingin memakai ilmu yang kumiliki.

Di hari yang sudah di tentukan, bertempat di bawah pohon, aku dan beberapa mahasiswa mengikuti seleksi untuk mewakili fakultas. Singkat cerita, saat itu juga diumumkan kalau yang lolos itu bukan aku, melainkan si Nungky, teman se-program studiku.

Hatiku berguguran, kecewa

Kecewa? Banget.

Apalagi saat teman-temanku pada ngomporin, "Duh, padahal bagusan kamu lho bacanya."

"Mungkin karena dia lebih cantik kali ya?" Keluhku menutup pembicaraan.

___________

Semenjak hari itu, aku jadi selalu jaga-jaga, bahkan tertarik setiap kali ada yang ngomongin soal si Nungky. Bahkan, kadang aku juga kepo tentangnya.

"Dia kalau di kelas tuh gimana sih?"

Iya, aku segitunya. Tapi, di lain sisi, justru itu memotivasiku untuk tidak mau kalah dengan si Nungky. Paling tidak aku membuktikan sama diriku sendiri aku itu tidak kalah kok sama dia.

Sebut saja aku benci dia dalam diam.

Sampai akhirnya, Allah seperti sedang gemas kepadaku.

Ditakdirkanlah kami, aku dan Nungky, dalam suatu penilitian dosen yang berhubungan dengan puisi. Jujur, aku sempat kikuk. Ini sainganku, kenapa sekarang malah jadi satu tim?

Mau tidak mau, aku harus profesional lah. Dan ternyata, kami bisa jadi tim yang solid lho. Bahkan, setelah penelitian itu selesai pun kami tetap berhubungan baik.

Apa kabar perasaan yang dulu?
Rasa bersaing?
Entahlah, semua hilang begitu saja.

___________

Kini, kalau aku flashback nih ya, sebenarnya Nungky memang pantas jadi wakil fakultas saat malam keakraban itu. Dia lebih terbiasa tampil di depan orang banyak dibandingkan dengan aku.

Sayang, dulu saat malam keakraban aku tak berniat sedikitpun melihatnya tampil. Padahal kan aku bisa memetik ilmu tampil di depan orang banyak darinya.

Kemudian, yang membuatku ingin menuliskan cerita yang sudah hampir berlalu sekitar delapan tahun ini adalah karena kini aku mengalami hal yang sama.

What?!

Saat ini aku dihadapkan pada posisi yang sama seperti kepada Nungky. Lagi-lagi aku yang kalah bersaing. Tapi, mau tidak mau aku harus satu tim dengan orang ini. Satu sekolah dengannya.

Dia adalah peringkat 1 di ujian CPNS kemarin. Keduanya ya aku ini. Hihi 

Ngomong, iya aku ikhlas. Atau, iya aku mengaku kalah. Itu tuh mudah ya? Tapi, yang sulit saat menjalaninya.

Ternyata ikhlas itu...

Sebelum dia datang ke sekolah, oke semua baik-baik saja. Bahkan, aku merasa kalau sudah benar-benar ikhlas. Aku sudah tidak peduli dengan omongan jelek, belas kasihan, dan sebangsa itu.

Eh, giliran salaman dengannya untuk pertama kali, duh, seperti ada luka baru.

Yes, ikhlas itu ternyata tidak mudah ya. Setulus-tulusnya ikhlas memang berat.

Berkali-kali, saat rasa tidak ikhlas itu muncul, aku berusaha untuk beristighfar. Karena aku sadar betul, kalau aku tidak bisa ikhlas, sama saja aku meragukan rezeki Allah untukku.

Ujung-ujungnya, rezeki itu tidak hanya lewat CPNS saja. Ditambah lagi gurauan guruku, "Kalau kamu jadi CPNS, aku malah takut kalau kamu tidak bisa idealis lagi. Padahal Indonesia butuh guru idealis sepertimu."

Baca juga: Menjadi Guru Honorer yang Open Minded? Harus Dong!

Bwahahaha.

Baiklah, lupakan soal ikhlas. Insyaallah ini semua butuh waktu. Pelan tapi pasti.

Sekarang, fokus, fokus, dan fokus kepada anak-anak.

Bismillah. Bisa, bisa, bisa. Pasti bisa.


Nah, apakah kamu pernah mengalami atau melewati masa-masa ikhlas yang begitu sulit?

21 komentar:

  1. Ikhlas memang tidak mudah di balik kegagalan ada suatu peristiwa yang bisa kita ambil.

    Pelajari mengapa teman mba menang dan saya kalah. Ikhlas tapi berusaha jadi lebih baik lagi di masa depan

    BalasHapus
  2. Ikhlas itu mudah dituliskan, mudah diucapkan, tapi menjalaninya memang butuh proses ya Mbak. Kalau ikhlas, insya Allah mendapat yang lebih baik. *sok bijak

    BalasHapus
  3. Ikhlas menerima kekalahan ya lebih tepatnya. Itu lebih susah daripada kehilangan sesuatu. Apalagi dalam hal yang menurut kita, kita jago di situ. Aku juga sering mbak mengalami hal yang sama. Bukan masalah ikhlas dan saingannya, tapi "didekatkan" sama orang yang kurang aku suka. Ujung2nya malah klop sampe sekarang :)))

    BalasHapus
  4. Ikhlas itu susah banget, skrg ini aku sendiri masih berproses untuk ikhlas thd sesuatu yang aku alamin..moga2 kita bisa melewatinya ya Mbak

    BalasHapus
  5. Beraaat mbaaa. Dan sampai kapaun selalu ada ujian kehidupan yang menuntut kita buat iklas. Hihihi

    BalasHapus
  6. Semangat Makkk... Bener deh kalah itu gak enak. Awalnya aku biasa aja waktu kalah di seleksi gupres. Tapi yang menang itu teriak banget di depan muka ngejek. Ya Allah kesel sampai sekarang 😂

    BalasHapus
  7. Kadang kalau mengatakan saya ikhlas, saya ikhlas itu ada yang mengganjal di hati ya mba. Tapi kalau misal dituangin dalam tulisan segala uneg uneg ga enak di hati dan sebagainya malah jadi lebih plong. Semangat mba ya. Mba pasti bisa.🙂

    BalasHapus
  8. Ikhlas adalah bentuk dari merendahkan hati untuk mendapatkan posisi terbaik di hari depan. Sebenarnya enggak enak punya perasaan atau sikap seperti ini tapi saya percaya segala sesuatu indah pada waktunya.

    BalasHapus
  9. MasyaAllah kamu idolaku mbaa
    Selalu bijak meski lemah juga kadang.
    Sama kayak aku. Sebagai manusia biasa memang kadang hal-hal. Yang susah ikhlasnya. Bismillah pelan pelan aku juga gitu mba. Kadang ga ikhlas juga

    BalasHapus
  10. Bener banget ikhlas itu mudah diucapkan tapi prakteknya kadang kita (eh aku) ada perasaan yang gak diterima. Tapi lama-lama aku juga belajar kok menerima kekalahan apalagi ada anak juga kan mereka suka bersaing juga dan bisa mengajarkan ikhlas menerima kekalahan. Kaya kemaris si bungsu lomba lagi dan gak lolos, dia tanya kalo kalah gpp kan? :) aku bilang gpp tetp dicium kok hahaha

    BalasHapus
  11. Bener ya mbak kata2 bahwa ikhlas itu tidak hanya di awal, tapi di tengah dan akhir sebuah amal.

    Ujiannya banyak banget, setannya juga banyak... *istighfar
    Semoga Allah menerima amal2 kita. Aamiin

    BalasHapus
  12. Hmmm... Aku sendiri sampe bingung aama diri sendiri.. masa depanku mungkin bukan jadi PNS. Heheh

    BalasHapus
  13. Wooo... sering banget Ika. Bisa mencapai tahapan ikhlas itu tak semudah ngupil *eehh...

    Ada banyak ego yang kudu disingkirkan ketika kita berusaha untuk ikhlas. Bersedia menerima ketetapan Allah seberapa berat dan menyakitkan. Pasti banyak ga enaknya dong ya, lha wong menyakitkan dan potensial menimbulkan rasa sirik tak terperi.

    Insya Allah akan berangsur2 bisa ya seiring dengan kekuatan niat kita untuk menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari.

    BalasHapus
  14. Dulu iya, susah buat ikhlas, banyak bapernya.
    Sekarang sih udah percaya apapun yg aku dapat karena itu yg terbaik menurut Allah, kalau aku dapat yg sesuai dengan apa yg aku mau belum tentu juga aku bisa menjaga amanah itu, bisa jadi aku malah jumawa. Jadi sekarang santai aja, yg penting do my best untuk kepuasan sendiri :)

    BalasHapus
  15. Swmangat selalu yaa mba..aku tau persis beratnya ikhlas, apalagi untuk pastikan di hati juga bener-bener ikhlas. Tapi aku yakin Allah SWT adil yaa mba

    BalasHapus
  16. Memang dalam suatu kompetisi kyknya kita juga kudu nyiapin siap menang, siap klah ya mbak, siap kalah ini yg ada hubungannya ma ikhlas. AKu jg pernah kok bbrp kalki kecewa gtu andai kalah kompetisi tapi saat tau yg menang emang lbh baik, ya mau gak mau ikhlas dan mengakui trus review lagi supaya kita bisa instrispeksi kurangnya kita dmn #imho

    BalasHapus
  17. Pernah lah mba, dan memang ikhlas sama sabar itu beraaat. Mungkin karena itu ya surat al ikhlas pendek tapi sangat bermakna dan banyak fadilahnya hihihi *sok cocoklogi

    BalasHapus
  18. Ikhlas itu kadang perlu perjuangan batin. Tapi pasti bisa kok. Kan kita strong dan keren. Hihi. Semangaaaat, Mbak.

    BalasHapus
  19. Susah banget ikhlas itu, tapi bersama waktu dan tekad, insyaAllah bisa kok.

    BalasHapus
  20. belajar ikhlas itu sulit, mbak. Sering kita minta diberi rasa ikhlas oleh Allah, tapi yang ada malah Allah kasih kita ujian dengan rasa kecewa. Ternyata, melalui ujian kecewa itu lah kita bisa belajar ikhlas. Jadi, Allah itu emang mengabulkan doa kita. Memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. :))

    BalasHapus
  21. Ikhlas tulisanya cuma dikit tapi susah banget jalaninya

    BalasHapus

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!