Saturday, 27 May 2017

Begini Kalau Si Kecil Main di Luar Rumah


"Ghifa, main teruuusss!" komen salah satu tetanggaku. Aku hanya nyengir sambil megangin baju bagian belakang Kak Ghifa. Lah Kak Ghifa emang ngapain, kok dipegangi? Dia berjalan di atas pondasi pinggir kali. Hihi.

Wajar sih tetanggaku komentar demikian. Karena saat itu matahari sudah terik banget. Tapi, mau bagaimana lagi, dilarang juga nangis. Diajak masuk rumah malah teriak histeris. Terpenting dia senang, aman-aman saja, dan aku pas selo.

Anak-anak main di kali
Anak-anak main di kali
sumber foto: pilkada.tempo.co
Semua bermula dari Mbah Uti yang dari kemarin berburu ikan di kali depan rumah (lebarnya hanya 50cm) untuk mainan Kak Ghifa. Dia jadi suka sekali ikutan nengok-nengok ke kali eh lama-lama berani naik pondasi. Kalau nggak ditunggui bisa bahaya.

Apalagi tadi pagi, ada beberapa anak yang main di jembatan dekat kali. Kak Ghifa yang sudah kelar mandi minta dipakein sepatu dan mengajakku untuk ikut bermain bersamanya. Lah dalah, ternyata dia langsung berani naik pondasi dan menyusuri sepanjang pondasi tadi. Tentu aku jagain dengan memegang baju bagian belakangnya.

Yang membuatku kaget adalah dia kok ya jeli bisa lihat ikan yang kecil banget sambil nunjuk-nunjuk pakai jarinya.

"Uh uh uh."

Saat aku menyingkirkan kayu kecil yang ada di depannya, eh, malah diminta. Kupikir mau buat apa? Ternyata dia menirukan gaya Mbah Uti pas nangkap ikan. Ha-ha-ha. Aku malah ketawa sendiri. Kubiarkan saja dia mengekspresikan imajinasinya.

Wajahnya tampak girang sekali saat ada air yang muncrat mengenai wajahnya. Aku bagai lihat surga di matanya.

Anak-anak tuh gitu ya, otaknya mudah banget menyerap sesuatu yang dia lihat. Hati-hati nih kalau kelepasan melakukan sesuatu hal yang kurang baik.

Hal yang membuatku terheran-heran lagi adalah saat Kak Ghifa berhasil menyebrangi jembatan yang terbuat dari dua kayu. Jembatan itu lebarnya hanya 20 cm-an.

Awalnya dia itu ngeloyor gitu saja. Aku sampai teriak histeris melihatnya menyebrangi jembatan itu. Tak tahunya dia berhasil melewati jembatan itu dengan sukses. Kakiku sampai merinding. Karena kalau sampai jatuh dia bakalan nyungsep di dalam kali.

Pak guru menggendong muridnya menyebrangi jembatan
Pak guru menggendong muridnya untuk menyebrangi jembatan gantung yang rusak
Sumber foto


Lah kok malah diulangi lagi. Kali ini tak kubiarkan begitu saja. Meskipun nggak kupegangi, aku mengikutinya dari belakang dan menyiapkan tanganku di samping kanan kirinya. Tapi, dia berhasil kembali melewati jembatan itu sambil tertawa nyengir, seakan mau bilang,

"Aku bisa, Ummi."

Aku hanya bisa ikut tersenyum. 

Hari makin siang, Kak Ghifa maunya main terus di pinggir kali. Tapi, sudah waktunya untuk tidur. Ku paksa dia pulang. Ku kunci pintu depan. Dia menangis histeris.

Sementara itu kusiapkan air untuknya mandi. Sambil mengikutiku ke belakang, tangisnya mereda saat bertemu dengan kompor. Ya, dia mainin tuh tombol on off kompor. Hahaha. Gemes banget. Pokoknya ada saja yang dijadikan mainan.

Setelah siap, kumandikan Kak Ghifa. Ku ganti bajunya dan kusiapkan kerupuk potato. Sambil ganti baju sambil makan. Kalau nggak gitu dia bisa lari keluar lagi, gedor-gedor pintu. Kalau nggak gitu ya balik nangis lagi. Sifat kejam emaknya keluar nih. Hihi.

Baca juga: Berubah Menjadi Ibu yang Kejam Saat Anak Terkena Diare, Muntah, dan Sakit Perut

Akhirnya, saat aku rebahan dia ikut rebahan sambil nenen dan lihat tipi yang entah acara apa. Daripada sepi sih. Hihi. 

Tak selang lama, Kak Ghifa sudah terlelap tidur di pelukanku.

Kesimpulan,
Jangan pernah melarang anak bermain di luar rumah. Selama permainan itu aman dan dia tampak senang sekali, ijinkan. Kalau aku dengan senang hati akan menemaninya selama memang tak ada kegiatan lain yang sangat urgent.

Dengan bermain, banyak hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Seperti Kak Ghifa yang bahagia banget saat melihat air yang muncrat karena kayu yang dipukulkan ke air. Berhasilnya dia menyebrangi jembatan kecil. Terus matanya yang jeli banget sama ikan kecil di kali.

Toples jadi topi
Mi, topiku baru.

Rugi banget seandainya aku melarang Kak Ghifa untuk ini dan itu. Seperti kemarin malam, aku juga dibuatnya kaget. Aku lagi asyik nonton tipi, dia teriak-teriak ku pikir kenapa ternyata mau nunjukin kalau dia pakai topi dari toples bekas kerupuk yang dia makan. Ha-ha-ha 

Kalau kamu, apakah masih suka melarang si kecil main di luar? Biasanya main apa sih yang dilarang? Bagaimana caramu melarangnya?

10 comments:

  1. Ghifa lucunyaaa. Jadi inget anak-anak waktu kecil dulu. Aku larang mainan benda tajam seperti pisau atau silet, duh ngeriii. Saat mereka sudah masuk TK, bisa diberi pengertian, baru kulepas pelan2, mulai dari gunting kertas dulu sambil didampingi :)

    ReplyDelete
  2. Saya pun biarin aja anak bermain selama tidak membahayakannya dan masih tau waktu :)

    ReplyDelete
  3. Saat PSPA dulu diajarin, bebaskan anak selama tidak melanggar aturan agama, negara, tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.. Kalau Ifa hobi banget main pasir, udah dibeliin pasir mainan, tetap aja main pasir di jalan.. :D

    ReplyDelete
  4. Ghifa lucu banget deh, bener main di luar perlu, biar kenal alam dan lingkungan sekitar ☺

    ReplyDelete
  5. klo anakku dulu terlihat paling liar, sebab di antara sekian kawan sebaya, dialah yang paling bebas main di luar, aku cuci bajunya bisa lebih dari 4 setel per hari, apalagi klo hujan..woww, hujan2an dia

    ReplyDelete
  6. Berani ya Dik Ghifa. Anakku paling hobi ngeluyur Mbak, apalagi di desa. Kalo nggak kupanggil2 atau kucari ya angel pulangnya. Kecuali pas azan, udah kupesenin kalo azan musti pulang (kadang nurut seringnya nggak) hehehe...

    ReplyDelete
  7. Seru kalo main diluar,banyak pengalaman...

    ReplyDelete
  8. Seru saja main di luar, mba. Anak suka mencoba hal-hal baru. Tapi kadang bikin deg-degan.

    ReplyDelete
  9. Anakku tiap hari wajib jalan2 keliling komplek hehehe

    ReplyDelete
  10. Gemeess liaaat kak ghifaaaaa. . 😘
    Sepakaat mbaaak. . Baiknyaa ortu juga memberikan kebebasan pada anak untuk bsa berani mengeksolari diri dgn ttp memberikan pegawasan 😁 nice sharing. .

    ReplyDelete

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!