Selasa, 30 Juli 2019

Cari Obat Tetes Mata Kering? Ya, Insto Dry Eyes



Cari Obat Tetes Mata Kering? Ya, Insto Dry Eyes– Pagi itu, kudengar suamiku teriak-teriak di dapur. Ada apa gerangan?

“Asapnya Ya Allah, membuat mata sepet."

Aku yang masih ogah-ogahan bangun, terpaksa melompat dari kasur untuk membungkam mulut suamiku.

Duh.
Liburan hari pertamaku jadi kacau. Niat hati mau sesekali bangun siang, pas berhalangan juga, malah bubar jalan. Koki baru yang menawarkan diri untuk menggantikan tugasku di dapur malah mengamuk.

“Sudah, sudah, abi keluar! Ummi saja yang masak.”

“Ya nggak gitu, Mi, asapnya ini lho. Mak Lim tuh keterlaluan kok.” jawab suamiku, masih dengan sewot.

Akhirnya abi keluar dari dapur.

"Pintunya ditutup agar asapnya nggak masuk!" teriakku.


Nikmati saja seni bertetangga 



Seninya bertetangga tuh lucu ya? Ada-ada saja.

Kejadian pagi itu, semua tuh bermula karena "dapur".

Kebetulan, dapurku dengan dapur tetangga (selanjutnya kupanggil Mak Lim) itu berhadapan. Nah, Mak Lim ini setiap harinya memasak dengan tungku kayu. Imbasnya? Jelas, asap tebalnya selalu menyambangi dapurku.

Aku sudah pernah menegurnya. Tapi, untuk perkara lain. Yaitu, letak kandang hewan ternaknya yang tepat di sebelah dapurku sih. Hasilnya? Zonk.

Bayangkan saja, siapa yang nggak jengkel, kalau musim kemarau gini mah tidak terlalu ngefek ya, kalau musim penghujan, duh Ya Allah, bau kotoran ternaknya itu lho, bisa bikin pingsan. Dah gitu kalau malam, suaminya selalu membuat genen (api unggun). Asapnya ke mana? Ya masuk dapurku lagi. 

Teguranku nggak ngefek, gantian bapakku yang naik pitam. Saat ditegur bapakku, apa jawabnya?

"Apa iya? Aku tidak merasa bau."

Bapakku menimpali, "Lha hidungmu setiap hari ketutup tai ayam! Makanya sudah kebal. Dinding dapurku bolong-bolong, juga bukan ayammu yang notoli (mematuk-matuk)?!"

Percuma. Amarah kami tidak ada hasilnya.

Akhirnya, kami mengalah.

Dinding dapurku yang terbuat dari kayu itu ditambal abi dengan bahan asbes. Silakan deh kalau mau dipatuk-patuk. Biar paruh ayamnya jontor sekalian. *sisi jahat keluar*

Siapa sih yang tidak ingin memiliki lingkungan yang sehat? Masalah kandang ternak belum kelar. Ditambah masalah asap tungku kayu. Tapi, ya balik lagi, inilah seni bertetangga. Yang waras, mengalah. Hahaha. Katanya begitu, bukan?

Usai teguran itu, semua berjalan seperti layaknya tidak ada apa-apa. Mak Lim juga masih selalu main ke rumahku. Ya, seperti tidak pernah ada perang di antara kami.

Hadeh. Kenapa malah ngelantur nih ceritanya? *tarik napas dulu*

Tak perlu menambah masalah orang




Terus, bagaimana dengan perkara asap di setiap kali Mak Lim memasak?

Saat bercanda ria di teras rumahku, aku iseng menyinggung perkara asap itu.

Apa jawabnya?

"Lha mau gimana lagi to, Ka? Mau pakai gas saja nggak jalan. Modal jualanku nggak kembali. Punya kayu banyak, ya, kumanfaatkan. Itung-itung ada sisa uang bisa beli gula dan teh untuk Mbah Tinah."

Aduh, mak nyes hatiku. Kalimat terakhirnya itu lho, seketika bikin aku ngaca.

Kalau boleh jujur, aku tuh jengkeeeeeeeel banget nget nget. Tapi, balik lagi, mendengar alasannya di atas, membuatku harus banyak bersyukur. Kenapa alasan itu tidak terpikirkan olehku?

Sudah ada 3 tahun lebih, beliau dititipkan amanah merawat ibunya yang sudah jompo, Mbah Tinah namanya. Ditambah lagi menghidupi kedua anaknya yang masih kecil-kecil, usia sekolah. Usahanya bersama suami berkali-kali gulung tikar yang menyebabkan hutangnya menumpuk di mana-mana.

Keadaan rumahnya pun memprihatinkan. Kalau rumah-rumah saat ini umumnya sudah berlantai keramik, rumahnya masih beralasakan tanah. Saat hujan besar datang, atapnya sering melayang terbawa angin. Kasihan banget.

Belum lagi keadaan Mbah Tinah yang mulai pikun dan matanya yang tidak bisa melihat. Setiap hari kudengar teriakan-teriakan Mbah Tinah minta minum dan sarapan. Padahal sarapan sudah disajikan  di sampingnya dan disampaikan oleh Mak Lim sendiri lho. Kalau tidak ada sahutan dari Mak Lim, Mbah Tinah meracau tidak jelas. Kemudian Mak Lim marah-marah. Kalau nggak gitu, Mbah Tinah sering menghilang juga. Pas dicari-cari sudah sampai di depan rumah orang. Mak Lim, di mana dirimu membeli sabar yang melimpah itu?

Melihat gelagat Mak Lim sehari-hari, sebenarnya dia tampak sungkan dengan keluargaku. Kuyakin dia juga nggak mau kalau setiap hari merasakan dampak dari asap tungku kayunya. Selain harus mondar-mandir memastikan kayunya terbakar sempurna, asapnya yang keluar pasti sangat menyiksa matanya. Tapi, mau bagaimana lagi? Semua serba kepepet.

Memang nggak enak banget kalau pas masak, sudah kena asap dari kompor dan masakanku sendiri, eh, ditambah kena asap dari tungku kayu milik Mak Lim. Alhasil, mata sepet, pegel, dan perih tidak bisa terhindarkan. Ujung-ujungnya mata kering.

Ah, sudahlah, bukankah keluargaku memang lebih, lebih, dan lebih beruntung dari keluarganya? Makanya, tak tega rasanya kalau aku harus mengeluhkan soal asap yang masuk ke dapurku, lagi dan lagi. Sudah banyak masalah yang harus dihadapi oleh Mak Lim. Kiranya soal asap ini tidak perlu aku besar-besarkan. Kalau sampai itu kulakukan, bukan meringankan beban, malah mau menambah masalahnya saja. Aku tidak mau.

Mencari solusi tanpa menambah masalahnya



Kucari celah, bagaimana caranya agar aku tetap bisa memasak tanpa merasa mata kering? Sejauh ini, berikut yang kulakukan.

1. Aku bangun dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB. Karena semua bahan masakan sudah kusiapkan di kulkas pada malamnya, jadi bisa langsung plung plung. Kelar. Saat aku sudah selesai memasak, Mak Lim baru bangun tidur. Mata kering bisa kuhindari.

Baca juga: KALAU BISA TIDUR LEBIH AWAL DAN BANGUN LEBIH PAGI, KENAPA HARUS BEGADANG?

2. Tutup pintu tengah. Sudah bangun dan memasak dini hari, tetap saja asap dari tungku kayu Mak Lim bisa masuk bagian utama rumah. Otomatis, pintu penghubung antara dapur dengan ruang lainnya langsung kututup rapat. Alhamdulillah, asap yang masuk tidak terlalu tebal. Mata kering bisa kuhindari lagi.

3. Pakai Insto Dry Eyes. Sudah prepare dengan baik, namanya orang kan kadang ada apesnya, seperti kejadian di awal tulisan ini. Kalau terpaksa harus masak sambil berperang dengan asap yang tebal, ya, selesai masak langsung tutup pintu dan teteskan Insto Dry Eyes ke mata. Agar mata tidak sepet, pegel, dan terasa perih.

Kenapa mata kering harus dihindari? Yuk, pakai Insto Dry Eyes!



Menyiksa.

Apalagi untukku yang berkacamata. Sekalinya mata kering, ujung-ujungnya kalau tidak segera kuatasi, akan membuatku pusing sepanjang hari. Rasanya tuh nyunteng, pening yang banget banget, di bagian dahi tepat di antara kedua mataku. Kalau sudah kayak gitu, mau ngapa-ngapain jadi males banget. Kepala terasa berat. Andai, kepala bisa dilepas. Hihi.

Mata kering buatku nggak produktif.

Dari baca-baca artikel di alodokter.com, baru kupahami kalau mata kering itu adalah keadaan saat mata kita kurang pelumas air mata. Hubungannya apa dengan mata yang terasa sepet, pegel, perih, dan lama-kelamaan mata lelah?

Gini gini, udara di sekitar kita kan kotor. Apalagi kalau kena asap tungku kayu. Nah, debu atau benda asingnya otomatis ada yang masuk ke mata kita. Karena kurang pelumas (air mata), debu tidak bisa hilang. Ngganjel, kan?

Bagaimana agar mata tetap lancar menghasilkan pelumas air mata? Secara normalnya, mata kita akan menghasilkan pelumas air mata setiap kali kita berkedip. Air mata itu sendiri tersusun dari bahan-bahan penting (senyawa campuran dari lemak, air, lendir, serta lebih dari 1500 protein) yang bisa membuat permukan mata tetap halus dan melindungi dari hal-hal yang mengganggu.

Bukankah fungsi air mata sangatlah penting?

Ah, aku jadi membayangkan saat mataku diserang asap dari tungku kayu Mak Lim, set set set. Asap sebagai benda asing masuk dalam mataku bak peluru yang memborbardir tiada henti. Seketika mataku tertutup, tak berkedip sedikitpun karena terasa begitu periiiiihh.

Sebelum aku menemukan Insto Dry Eyes, saat menghadapi situasi seperti di atas, aku langsung ke kamar mandi. Ngapain lagi kalau tidak membasuh mukaku dengan harapan mataku tidak perih lagi. Akan tetapi, apa yang terjadi? Malah makin perih, kukucek-kucek, dan lama kelamaan mataku malah merah, tampak seperti mata lelah.

Menyedihkan.

Dulu, itu dulu.

Sekarang, kalau mata sepet, pegel, dan perih, wah, ini tanda-tanda mata kering nih, langsung deh pakai Insto Dry Eyes yang sengaja kusimpan di lemari P3K. Kenapa memilih Insto Dry Eyes?

  • Merek ini paling legendaris di keluargaku. Dari dulu kalau ada masalah mata, ya, pakai merek yang satu ini.
  • Halal dan sudah terdaftar di BPOM (nomor tertera di kardus kemasan)
  • Bisa dibeli di warung dekat rumah, apotek, minimarket, supermarket, sampai online shop dengan kisaran harga mulai Rp 13.000 - Rp16.600/ botol isi 7,5mL.
  • Setiap mL mengandung Hydroxypropyl methylcellulose 3,0 mg. Benzalkonium chloride 0,1  mg. Aku memang tidak paham betul arti kandungan tersebut. Tapi, setelah memakai tetes mata ini, mak cessssss, adem banget. Pun, tidak muncul rasa pahit di tenggorokan.
  • Penggunaannya sangat mudah, tinggal teteskan ke mata sebanyak 1-2 tetes atau sesuai anjuran dokter. Tapi, karena termasuk obat keras, penggunaan dalam angka panjang dan berlebihan akan merusak selaput mata. Ya, sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, kan?
  • Bentuk mungil membuat obat tetes dengan tutup botol ulir warna biru ini mudah dibawa ke mana saja. Saranku, kalau bisa kemasan atau kardusnya jangan sampai hilang. Karena terlalu mungil, kadang malah susah mencarinya saat berada di antara obat-obat lain. Hihihi.
  • Dipercaya oleh warga dan banyak menerima penghargaan tingkat nasional. Terbaru, Insto mendapat penghargaan Indonesia WOW Brand 2019 yang diselenggarakan oleh Mark Plus Insight.

Banyak alasan untuk memilih Insto, terutama Insto Dry Eyes untuk mengatasi mata kering kamu, bukan?


Kegiatan lain yang juga menyebabkan mata kering



Tiga gejala yang sering jadi tanda-tanda mata kering adalah saat mata sudah mulai terasa sepet (melekat, berasa nempel susah terbuka), pegel, dan perih (seperti ada yang mengganjal). Gejala-gejala itu tidak bisa dihindari karena memang setiap harinya kita selalu beraktivitas baik di dalam maupun di luar ruangan.

Nah, berikut beberapa kegiatan yang kulakukan dan mau tidak mau gejala mata kering akan selalu menghampiri. Tentunya ini selain kegiatan memasakku yang terkena asap dari tungku kayu tetangga ya. Apa saja itu?

1. Jalan kaki di pagi hari
Setiap pagi, kuusahakn untuk berolahraga ringan, yaitu jalan kaki ke arah sawah. Tapi eh tapi, meskipun hidup di desa tidak kemudian menjamin udara paginya bersih. Kalau sudah kelewat pukul 06.00 pagi, hooooo, kendaraannya mulai ramai banget.

Kalau mau dapat udara segar dan bersih, kemudian mata nggak sepet karenanya, ya, selesai jamaah salat subuh langsung cus jalan pagi. Sehat iya, mata sepet karena asap? No no no.


2. Pakai kipas angin
Punya anak yang nggak bisa lepas dari kipas angin tuh bikin eerrrr... Akhir-akhir ini kalau dini hari kan dingin banget ya. Pas kipas dimatiin, dia pasti tahu. Akhirnya, hingga pagi hari kipas angin tetap nyala. Bangun tidur dijamin mataku sering terasa perih. Padahal mata merem lho.

Sama halnya oas siang hari, lagi panas-panasnya, pakai kipas angin lagi. Mata perih tidak mungkin bisa dihindari. Ini hampir sama dengan penggunaan hair dryer. Panas dari udara yang dihasilkan bisa membuat mata kering.

Pokoknya, sebisa mungkin mengurangi penggunaan kipas angin jadi pilihanku agar terhindar dari gejala mata kering.

3. Kelamaan main HP dan di depan layar komputer
Dalam sehari, berapa jam yang kamu habiskan untuk mantengin HP? Sejam jauh dari HP bisa, nggak?

Kalau tidak bisa, ya, siap-siap saja mata jadi pegel dan lelah karena terpapar sinar UV. Jangan lupa berkedip ya, agar pelumas air mata tetap dihasilkan dengan baik oleh mata. Mentang-mentang lagi asyik, sampai lupa tak berkedip. Jangan!

4. Terlalu lama menyetir
Ini nih penyakitku banget. Atau mungkin memang penyakitnya semua orang yang berkacamata?

Spaneng, tegang, berkutat dengan jalanan yang ramai, apalagi macet, mata jadi cepat lelah. Paling mentok aku berani nyetir selama 2 jam saja. Selebihnya, mending naik kendaraan umum atau minta diantar suami. Karena kalau nggak gitu, ujung-ujungnya, ya, dahi bagian tengah, di antara mata pasti akan sakit. Pusingnya bakal nggak ketulungan sampai seharian.

5. Membaca buku dan Alquran
Sehari minimal membaca buku berapa lembar? Atau punya waktu khusus untuk membaca Alquran?

Selepas salat maghrib atau isya, kuusahakan untuk membaca Alquran walau tidak sampai berpuluh-puluh lembar. Namanya membaca, pasti kan dipelototin, ya, hurufnya. Nah, agar mata lelah terhindari, kuusahakan untuk membacanya di ruang yang terang, dalam posisi duduk, dan menggunakan Alquran yang berbentuk besar.

6. Berada di ruangan ber-AC
Satu hal selain sering pengen pipis saat ikut seminar di ruang ber-AC, aku sering merasa mata cepat perih. Apalagi kalau narasumbernya menyampaikan materi lebih dari 2 jam dan peserta banyak kemudian aku duduk di tengah-tengah. Ya sudah, dijamin mata nggak nyaman banget.

Kalau bisa datang lebih awal, aku akan lebih memilih duduk di depan. Kenapa? Ya, biar tidak kesulitan saat memperhatikan narasumber atau materi yang disampaikan. Lagi-lagi ini perkara orang yang punya minus dan berkacamata.

7. Binge watching, menonton film berturut-turut
Halo pecinta drama korea, mana suaranya? Cung! *aku ikutan cung*

Salah satu cara termudah, termurah, dan tercepat yang bisa kulakukan untuk menghadiahi diri sendiri setelah melakukan hal-hal (yang menurutku) besar, adalah dengan menonton drama korea. Kalau kamu apa?

Alhamdulillah, itu berhasil banget untuk mengembalikan semangatku kembali setelah berjuang. Jeleknya, kalau sudah telanjur memilih satu judul, eh, kok ada beberapa episode, bahkan sampai 32, pengennya diselesaikan dalam satu duduk. Kalau nggak disiplin pada diri sendiri, akhirnya sampai lupa tidur, malah asyik nonton terus. Takut ganggu penghuni rumah yang lain, akhirnya lampu dimatikan semua. Yes, nonton dalam keadaan gelap gulita.

Lengkap, nggak bakal deh kalau mata nggak sepet, pegel, dan perih. Mata kering bakalan nemplok. Duh duh duh.

8. Kurang minum air
Setiap orang memiliki kebutuhan air yang berbeda-beda. Hal itu dipengaruhi oleh tempat tinggal, aktivitas sehari-hari, dan kesehatannya. Beruntungnya diriku, karena aku tipe orang yang hobi banget minum air putih. Insyaallah dalam sehari, 1,5 liter air terpenuhi.

Apa hubungan air yang kita konsumsi dengan mata kering? Jelas ada hubungan erat diantaranya. Kalau kebutuhan air tercukupi, maka tubuh akan bekerja dengan baik. Bukankah, mata kita selalu membutuhkan air mata juga agar tidak kering?

Institute of Medicine menyarankan pria untuk mengonsumsi 3 liter (13 gelas), sedangkan perempuan sebaiknya mengonsumsi 2,2 liter (sekitar 9 gelas) dari jumlah minuman setiap harinya. Karena 4 gelas air putih yang dikonsumsi setiap harinya, akan berkurang melalui proses pernafasan, keringat dan pergerakan usus. Bagaimana dengan organ dan proses lainnya? Kalau 9 gelas itu tidak tercukupi?

Nah, bukankah sangat penting kalau kita memperhatikan jumlah konsumsi air dalam sehari?

9. Kurang istirahat
Kamu pasti setuju kalau yang namanya begadang itu nggak enak banget. Tapi, mau bagaimana lagi kalau ada tugas atau deadline lomba yang harus diselesaikan?

Kamu yang hobi begadang, duh, duh, yuk, dikurangi! Boleh sesekali. Kalau setiap hari, remuk redam badanmu. Selain itu, yang paling terasa banget kalau habis begadang adalah saat bangun tidur, mata sepet banget. Iya, kan? Bukannya pagi makin semangat, eh, mata sepet jadi ganggu produktivitas kita.

Aku sendiri punya trik, kalau malam hendak lembur, kusempatkan tidur siang walau sejenak. Yaaaah, biar nggak kaget-kaget banget lah. Soalnya kan kalau pagi aku harus ngadepin anak-anak di sekolah. Nggak banget dong kalau gara-gara lembur jadi ogah-ogahan ngajar.


Berbagi Insto, berbagi dunia untuk mereka



facebook.com/asiancrush.tv


Sudah nonton video yang diadaptasi dari kisah nyata di atas?

Kalau ngomongin soal ibu tuh nggak akan pernah ada habisnya, ya. Aku yang kini berstatus sebagai ibu pun rasanya pengen mewek menonton perjuangan dari Ibu Zhang Yulian. Beliau rela keluar dari desa untuk pertama kalinya, menyeberangi sungai, naik turun gunung sejauh 28 km, berganti bus sebanyak 3 kali, menghabiskan waktu selama 36 jam di dalam bus, belum lagi saat sampai di kota, dengan mata yang katarak bahkan hampir buta seluruhnya, beliau tetap ingin bertemu dengan anaknya untuk membuatkannya sup ayam.

Selesai melihat video tersebut, bayang-bayang perempuan hebat di sekitarku datang silih berganti. Salah satunya adalah Mak Lim yang berjuang merawat ibunya yang jompo, pun buta karena katarak.

Aku memang belum bisa membantu Mak Lim. Bahkan aku malah pernah menambah masalah untuknya berkaitan dengan kandang ayam dan asap tungku kayu. Tapi, paling tidak, aku ingin sekali berbagi walau sedikit.


Aku ingin memberikan Insto Dry Eyes kepada Mak Lim karena setiap hari matanya akan sering terpapar asap dari tungku kayunya. Iya, memang obat tetes mata ini tidak bisa dipakai secara terus menerus. Tapi, paling tidak, saat mata kering menghampirinya, sudah ada Insto Dry Eyes yang tersedia di rumah.

Sayang saja, jika sampai mata kering selalu mengganggunya. Padahal ada banyak hal yang harus dilakukannya, setiap hari. Apa kabar anak-anaknya yang masih kecil kalau sampai ibunya tidak bisa produktif? Apa kabar Mbah Tinah kalau sampai mata Mak Lim juga terganggu karena mata kering?

Terima kasih Insto Dry Eyes, sudah hadir di tengah-tengah kami.

Berikut ada video reviewku tentang Insto Dry Eyes, semoga bermanfaat, ya. Kalau kamu mengalami mata kering, ingat Insto Dry Eyes!






Sumber bacaan:
https://www.alodokter.com/mata-kering
https://parenting.orami.co.id/magazine/seberapa-banyak-kita-harus-minum-air-putih-dalam-sehari-cari-tahu-perhitungannya

Cerita ini ditayangkan sudah mendapat persetujuan dari Mak Lim dan keluarga.

35 komentar:

  1. Hiks, kisah Mak Lim bikin aku terenyuh juga, bener banget ya ngapain nyalahin tetangga yang jelas tau kondisinya begitu. Mau ga mau kitanya yang berubah, hhiiii untung ada insto yang mengatasi mata kering dari asap tungku bertebaran. Ahh semoga mata dan tubuh kita selalu sehat yaa.

    BalasHapus
  2. mata emang penting banget dijaga kesehatannya, sekarang hampir tiap malem mataku gatel, kalau udah dikucek malah perih, harus pake insto ini mah

    BalasHapus
  3. Dimana-mana lagi seru bahas tentang mata kering ya. Ini membuktikan kalau kesehatan mata itu emang nomor satu. Jangan biarkan mata kering dan menganggap nya gak masalah. Segera atasi dengan Insto, supaya mata bisa terasa sehat lagi.

    BalasHapus
  4. Mbkkk, aku banget nih kalo ke rumah ibu mertua. Mayoritas tetangga masaknya masih pake kayu, termasuk ibu mertuaku. Asap kayu bakar emang efek bikin hati nyesek ya, aku sering tiba2 nangis gara2 asap yang tajam banget kalo kena mata. Alhamdulillah sedia insto juga, cuma nggak kepikiran buat dipakai hahaha. Makasih mbk infonyaaa

    BalasHapus
  5. INSTO Dry Eyes berjasa banget untuk daily life kita semua ya Mak.
    Mata sehat, udah ngga perlu kuatir sergapan polusi, asap, dll
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  6. Aku jadi terharu sama mak lim yg masih masak pake kayu. Mudah-mudahan makin berkah jualannya ya mak

    BalasHapus
  7. insto emang the best, mbak...anakku aja mata keringnya bisa teratasi berkat insto ini

    BalasHapus
  8. Wah kl zaman dulu sdh kenal Instro dry eyes pasti deh mataku sekarang (barangkali)gak plusinus tebal seperti skrng ya. Itu 70 th yl. Kini sedikit saja mataku pegel langsung aku tetesin Insto dry eyes.lain dulu lain sekarang ya?

    BalasHapus
  9. Bener- bener penuh drama ya mba . Tapi solusinya oke juga, walaupun dengan pengorbanan. Yang penting mata kering bisa terobati yaaa

    BalasHapus
  10. Waktu saya masih di Bekasi juga suka sebel nih ma urusan asap. Suka ada aja yang bakar sampah. Bikin mata pedih dan napas pun gak nyaman

    BalasHapus
  11. Setuju mbak, sesuatu itu tidak perlu dipermasalahkan tetapi diperbaiki atau dicari solusi. Kalau gejala mata kering saya juga pakai Insto Dry Eyes mbak beneran ampuh mengatasi gejala mata kering saya.

    BalasHapus
  12. Wah mba aku langsung ingat kampung ayahku. mayoritas juga masih memasak dgn tungku tp tak banyak asap.mereka rajin menjemur kayu sebelum dipakai. mungkin bisa jd tambahan solusi. jd aku tuh ke kampung hampir jarang kena asap krn kayunya kering sempurna. makin lemban kayu makin parah asapnya

    BalasHapus
  13. Di rumah mertuaku juga ada dapur yang untuk masak pakai tungku, mba. Btw insto ini juga andalan aku, mb. Mungil dan mudah dbawa kemana-mana

    BalasHapus
  14. Insto membantu banget ya buat org2 spt saya yg sering menatap layar dlm wkt lama..

    BalasHapus
  15. Wah, aku gak jauh-jauh, tetangga di belakang rumah nih suka bakar sampah. Asapnya aduuuh, masuk semua ke rumah. Untungnya pas anak-anak lagi pada sekolah. Jadinya yang perih mata cuma saya. Boleh ini ya pake Insto Dry Eye ini buat segerin mata.

    BalasHapus
  16. Serba salah ya, satu sisi terganggu karena asapnya tapi Mak Lim juga butuh memasak pakai kayu bakar. Untungnya MBak Ika punya solusi ya pakai Insto Dry Eyes untuk mengatasi mata kering. Wah aku jadi kangen masa-masa SD dulu kalau ke tempat saudara suka cari kayu bakar buat masak

    BalasHapus
  17. Aku taunya kalo merah baru pakai insto huhu ternyata ngga juga ya.. kalo sudah merasa perih, gatal itu tanda tanda mata kering ya.. dan memang harus segera mengatasiya sehingga mata jadi tidak kering lagi..

    BalasHapus
  18. Masih jadi masalah nih mata saya. Suka lelah dan kadang kering rasanya enggak nyaman banget. Mana minus lagi. Tapi insto sudah tersedia di rumah, jadi kebutuhan juga nih. Terutama suami yang suka berkendara motor

    BalasHapus
  19. Nenek ku kalau bilang insto itu kecer mata hehe. Insto ini ngebantu banget buat kita pekerja digital yang sering depan laptop , jadi kalau mata terasa kering langsung teteskan aja.

    BalasHapus
  20. Nyesek banget deh punya tetangga kayak gitu. Tetanggaku juga suka bakar sampah. Aku pun sedia Insto di rumah.

    BalasHapus
  21. Beneran deh ya mba, mata kering ini memang ga bisa dianggap remeh. Aku untuk menghindarinya juga sedia insto, apalagi kemana-mana pake motor. Hehe

    BalasHapus
  22. sepertinya saya juga butuh insto nih, akhir-akhir ini mataku sering perih dan lelah akibat kebanyakan begadang

    BalasHapus
  23. Bener kalau sering depan tv dan gadget juga lappy sering membuat mata kering. Termasuk di rungan ber-AC dan dan kipas angin. Selain kering ntar jadi sepet ya gak enak matanya, aku juga pakai insto buat hilangkan mata keringku..

    BalasHapus
  24. Asap ini bikin mata pedih yaa tapi emang ga enak mau negur. Yaudah cari solusi lain aja yg tidak menimbulkan masalah baru yaa. Aku sedia insto juga nih di rumah. Mata suka pedih kelamaan liat HP.

    BalasHapus
  25. Emang sebel banget kalau asap tuh masuk rumah. ganggu mata sama ganggu pernapasan juga. Tapi aku juga selalu sedia insto di rumah, karena kebetulan rumah ku juga dekat lokasi pembakaran sampah.

    BalasHapus
  26. Semoga silaturahmi dg Mak Lim terus terjaga ya Ika.. Ohya bener banget tuh klo insto ini gak bikin tenggorokan terasa pahit! Itu yg Kusuka..

    BalasHapus
  27. Balada asap memang menyebalkan, di dekat rumahku ada juga tuh yang suka bakar sampah, padahal kan udah gak boleh. Sebel deh, soalnya selain bikin sesek napas, bikin mata pedes juga. Emang harus selalu sedia insto..

    BalasHapus
  28. Semoga lambat laun kehidupan keluarga Mak Lim membaik, aamiin..

    Ngomong-ngomong soal mata, aku baru aja nyesel kemarin-kemarin sering diingetin suami untuk tidak buka HP di tempat gelap tapi akunya cuek. Jadinya mata minusku nambah... aku ganti lensa kacamata deh... hiks.

    BalasHapus
  29. Semoga berkah ya Ika jadi tetangga yang baik untuk Mak Lim, semoga ada rezekinya ngga usah pakai tungku kayu lagi..asap memang menyiksa ya baunya dan bikin mata sepet..

    BalasHapus
  30. Selain mata perih, sebenarnya asap ini lebih ke ga baik buat pernafasan ya, Mbak. Apalagi kalau ada bayi. Tapi mau gimana lagi, kita beliin gas terus menerus juga ga mungkin. Semoga Mak Lim makin baik usahanya. Bisa mapan & memasak dengan layak. Aamiin.

    BalasHapus
  31. Mbak, aku baca tulisanmj berasa baca cerpen lho. Emang ya, hidup bertetangga itu banyak dramanya, tapu di situlah serunya.
    Semoga Mak Lim lancar rejekinya & selalu kuat mengurus ibunya yak.

    BalasHapus
  32. Terharu banget pas baca bagian Mak Lim harus merawat ibunya yang kayaknya udah pikun gitu ya. Udah diberi makan masih teriak-teriak. Masha Allah... luar biasa sabarnya.

    Memang ya hidup bertetangga itu banyak seninya. Semoga Insto Dry eyesnya bisa membantu Mak Lim mengatasi mata perih kena asapnya dia sendiri.

    BalasHapus
  33. Aki terharu mba, sehat ya mbah Tinah,, semoga keihlasan mba lim merawat mbah tinah sbgai ladang surganya kelak, smoga rejeki mengalir terus...

    BalasHapus
  34. Alhamdulillah.
    Berkat Insto dry eyes, terhindar dari mata kering.
    Juga tetap bisa bertetangga baik dg Mak Lim.

    BalasHapus
  35. Kalau Mak Lim karena asap, kalau Saya karena hp kena mata kering..

    BalasHapus

Maaf ya teman-teman untuk sementara komentar saya moderasi. Selain banyaknya spam yang masuk, saya juga ingin membaca satu per satu komentar yang masuk dan bisa berkunjung balik ke blog teman-teman. Happy Blogging!