Friday, 18 January 2019

Berdamai dengan Liburan, Cari yang Murah Tapi Tetap Asik


Umumnya, setiap orang saat mendengar kata liburan pasti hepi. Gambaran tempat-tempat wisata yang menggugah rasa begitu jelas tergambar. Dulu, itu tidak berlaku untukku.


**** 

“Pyaaaarrrrr….”

Kepingan celengan kudaku berceceran. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku meringkuk di dekat kursi yang ada di ruang tamu. Bapak dan ibuku saling membentak. Nada suaranya semakin meninggi. Tiba-tiba nenekku sudah masuk ke dalam rumah dan bergabung dalam bentakan demi bentakan. Apa seperti itu kegemaran orang dewasa? Selalu bertengkar.

Di usiaku yang belum genap untuk masuk TK, aku sudah sering sekali melihat bapak dan ibuku bertengkar. Ingatanku dipenuhi dengan situasi mencekam, piring pecah, dinding rumah yang dihantam, minyak tanah berhamburan, foto pernikahan yang dibakar dan terakhir adalah celengan kudaku.

Sedih dan takut, itu yang kurasa. Tak ada yang memelukku. Bahkan kedua orangtuaku seakan egois dengan perasaannya. Padahal sehari sebelumnya kami begitu bahagia menikmati liburan di Pantai Parangtritis. Bapak mengajakku naik kuda, bermain pasir, dan membelikanku celengan kuda berwarna cokelat. Tapi, bahagiaku sirna begitu saja saat melihat mereka bertengkar lagi dan lagi.

Semenjak kejadian itu, setiap kali mendengar kata liburan, aku selalu ketakutan. Satu yang kutakutkan, saat aku pulang dari liburan, aku akan melihat kedua orangtuaku bertengkar lagi. Sungguh, aku merasa tidak nyaman dengan ketakutan itu. Aku ingin sekali seperti orang lain. Tapi, semua kupendam sendiri. Pojok kamarku adalah saksi di mana aku selalu meringkuk ketakutan saat kedua orangtuaku bertengkar.


Berdamai dengan Masa Lalu 

"Jika bercerita kepada orang lain bisa membuatmu lebih baik, lakukanlah!" kata Kak Yasin, trainer ESQ, di depan semua peserta workshop.

Sepulang mengikuti workshop ESQ (Emotional Spiritual Quotient) di kampus, kutekadkan untuk menceritakan 'sakitku' selama ini kepada seseorang. Aku sudah tidak sanggup menanggung rasa itu sendirian.

Aku ingat betul, waktu itu selepas isya, warnet depan kos sudah mulai sepi. Kubuka akun facebook. Kulihat seseorang yang kumaksud sudah online. Kuceritakan semua yang kualami kepada seseorang yang kukenal dari sana. Entahlah, rasa nyamanku tumbuh begitu saja dengannya. Beruntung, laki-laki itu kok ya sekarang jadi pasangan hidupku. (((Kapan-kapan aku ceritakan perkenalanku dengan suami lewat Facebook)))

“Sabar dan maafkanlah…”, begitu beliau memberiku nasihat. Aku sempat menolaknya, tidak semudah itu. Tapi, rasa takut yang menyiksa itu justru memaksaku untuk mau nggak mau menerima semuanya.

Dari beliau aku belajar pelan-pelan menikmati hidupku tanpa tekanan rasa takut. Aku melewati proses yang panjang dan bertahun-tahun untuk menyembuhkan diriku sendiri, self healing.



Mengakui
Pelan, kuraba sedikit demi sedikit rasa takut dalam diriku. Semua berawal dari tahap mengakui ini. Dulu aku sering menutupi bahwa aku ini baik-baik saja. Aku pintar menyembunyikan perasaanku. Apalagi aku anak tunggal. Kebanyakan orang tahunya kalau anak tunggal itu hidupnya bahagia. Ku-iyakan semuanya. Padahal belasan tahun aku hidup dengan rasa takut yang luar biasa. Pelan-pelan kuakui bahwa aku memang tidak bahagia dan aku bermasalah.

Membuka diri
Kok masalah satu belum selesai sudah ada lagi ya? Hidupku menderita banget. Padahal yang lain hepi-hepi saja.

Aku pernah berada di titik seperti itu. Betapa aku tidak bersyukur banget ya? Tapi, itulah nyatanya. Lambat laun kusadari bahwa setiap manusia tidak akan pernah jauh dari masalah. Masalah hadir karena ada solusi yang ditawarkan. Toh, dengan masalah, ketakutan yang begitu menyiksa itu, justru aku merasa lebih kuat. Aku bisa setegar sekarang setiap kali ada masalah, ya, karena masa laluku yang begitu menyiksa.

Memaafkan
Ketakutan itu hadir jelas meninggalkan luka yang dalam pada diriku. Aku selalu menyalahkan kedua orangtuaku, betapa mereka sangat egois. Bisakah mereka tidak hobi bertengkar, saling marah satu sama lain? Pertanyaan itu selalu berulang-ulang dalam benakku. Mengendap sampai berkerak, mungkin.

Ternyata Allah punya cerita yang tak pernah kuduga sebelumnya. Profesiku sebagai guru yang dipilhkan oleh orangtuaku pula ini, justru menyadarkanku, betapa marah-marah itu lumrah terjadi dalam kehidupan kita. Tergantung bagaimana kita menerapkan dan menerimanya. Nyatanya saat ada anak didikku yang tidak sesuai dengan norma, aku jelas akan marah. Mungkin begitu juga pada kedua orangtuaku. Kenapa tidak aku memaafkan mereka? Toh, mereka juga bukan malaikat.

Apalagi saat ini, setelah aku memiliki anak, betapa susahnya menjaga diri untuk tidak marah-marah kepada suami atau sebaliknya di depan anak. Padahal aku tahu, kalau bertengkar di depan anak akan menciptakan trauma pada sang buah hati. Seperti yang kualami. Bukankah ini sangat memalukan untukku? Kusalahkan orangtuaku tapi nyatanya aku melakukan kesalahan yang sama.

Alhamdulillah, kini kubisa memaafkan semua. Termasuk memaafkan diriku sendiri dan menghaturkan taubat. Tak lupa kusampaikan maaf yang setulus-tulusnya kepada bapak dan ibu, serta mendoakan mereka agar selalu diampuni Allah. Bismillah, semua kulakukan karena Allah.



Sekarang, masih takut liburan? Hoooo...ya tidaklah. Takut liburan maka obatnya yang paling mujarab adalah liburan itu sendiri.

Sudah tiga tahun ini aku melawan rasa takutku untuk liburan. Tunggu dulu, liburan sih liburan, tapi tetap ada syaratnya, diantaranya harus bersama keluarga besar dan tidak terlalu jauh dari rumah. Pelan-pelan dulu lah. Semoga kelak aku berani liburan bertiga dengan suami dan Kak Ghifa ke tempat yang lebih jauh, syukur-syukur dengan naik pesawat.

Berenang itu Liburan yang Murah Tapi Tetap Asik

Kak Ghifa itu sangat hepi saat aku, suami, bapak, dan ibu bisa berkumpul bersama. Sepanjang hari dia bisa tertawa riang dan nyaris tidak pernah rewel. Akan tetapi itu tidak selalu bisa terwujud. Kenapa? Karena aku liburnya hari Minggu sedangkan bapak dan ibu hari Jumat. Alhasil kita bisa kumpul lengkap kalau hari Kamis malam saja.

Demi kebahagiaan kami semua, bisa nggak bisa setiap akhir tahun kami harus meluangkan waktu bersama. Sudah cukuplah setiap hari selalu memegang prinsip time is money. Waktunya meregangkan tubuh sejenak tanpa memikirkan pekerjaan.

Berenang, itulah liburan yang kami pilih. Akhir tahun 2018 kemarin adalah untuk ketiga kalinya kami menghabiskan waktu dengan kegiatan dan di tempat yang sama. Letaknya tidak jauh dari rumah kok, sekitar 30 menit sudah sampai.
Insya Allah keluarga kita termasuk keluarga yang bahagia.
Jangan lupa liburan ya agar keluarga dan pekerjaan tetap seimbang!

Seminggu sebelum berenang, agar liburan berjalan dengan lancar, aku selalu membuat perencanaan. Apa saja sih yang kurencanakan?
  1. Waktu pemberangkatan dari rumah pukul 07.00 dan keluar dari kolam renang sekitar pukul 11.00. Karena biasanya kalau makin siang makin ramai. Jadi, kami berangkat saat pengunjung kolam renang masih sepi dan saat orang-orang baru berdatangan, kami giliran pulang. Ini berdasarkan pengalaman dari tahun ke tahun. Karena kalau datang kesiangan Kak Ghifa akan rewel (adaptasinya di tempat baru memang agak susah), tidak dapat gazebo, dan tentunya kulit Kakak yang sensitif akan berakhir dengan gatal-gatal.
  2. Mendata siapa saja yang akan ikut berenang. Rencana dari awal aku, suami, Kak Ghifa, bapak, ibu, Rena (keponakanku), dan bulek. Total ada 7 orang. Karena Kakak masih di bawah 90 cm, jadi yang beli tiket masuk hanya 6 orang x Rp 25.000. Jadi, tiket masuk Rp 150.000. Ditambah lagi uang solar mobil bapak Rp 50.000, biaya parkir Rp 5.000, sewa pelampung besar Rp 10.000 dan sewa gazebo Rp 20.000. Yah, paling tidak aku harus sedia uang Rp 250.000an.
  3. Menyiapkan makanan berat, buah, serta minuman apa saja yang akan dibawa. Aku bahkan sengaja membawa snack untuk Kak Ghifa. Karena Kak Ghifa kalau sudah main air sering lupa makan. Makanya, makanan ringan sangatlah penting. Untuk budget makanan dan minuman kujatah 250.000 juga.
  4. Membuat list bawaan dalam tasku; ada handuk, baju ganti, sampo, minyak telon, bedak, dan beberapa alat perangnya Kak Ghifa.
  5. Membawa beberapa mainan favorit Kak Ghifa.
  6. Air di botol untuk mandi Kak Ghifa agar tidak kelamaan antre.
  7. Sunblock jangan sampai ketinggalan
  8. Transportasi yang kami pilih mobil bapak
Namanya manusia hanya bisa berencana akan tetapi tetap Allah yang berkehendak. Tiga hari sebelum berangkat renang, semua sudah siap termasuk dananya. Akan tetapi, kabar buruk datang. Ban mobil bapak pecah dan nokselnya minta ganti. Wassalam. Uang dari mana? Itu dalam keadaan mobil bawa dagangan yang akan dijual esok hari. Kalau nggak dibelikan ban, bagaimana sampai rumah?

Sedikit potret kebersamaan kami saat liburan

Mau tidak mau ban dan noksel bapak harus dipentingkan. Saat iku aku hanya berpikir, ya sudahlah, berenangnya kapan-kapan saja kalau ada rezeki lagi. Aku juga sampaikan ke Rena dan bulek kalau tidak jadi mengajak mereka berenang dengan alasan yang sebenarnya.

Pucuk dicinta ulampun tiba, sehari sebelum hari H, alhamdulillah, aku mendapat email penawaran job membuat artikel dari orang luar negeri. Senangnya lagi, dia langsung membayarnya di muka. Tapi, konsekuensinya memang artikel harus jadi esok hari juga. Sssttt......Kamu tahu tidak, jumlah fee yang kuterima itu sama jumlahnya dengan uang yang kugunakan untuk menservis bapak. Subhanallah. Maha Suci Allah.


Pagi hari, kami sudah siap semua. Semua perencanaan yang kususun sudah beres. Kami pun berangkat tepat pukul 07.00. Sampai di kolam renang baru ada 2 mobil dan beberapa sepeda motor.

Seperti biasa, di awal-awal turun ke kolam renang Kak Ghifa agak talut-takut gitu. Untung saja membawa mainannya, jadi ya sangat terbantu. Lama-kelamaan dia sangat enjoy. Dari pinggir kolam, lama-kelamaan minta naik pelampung. Kemudian main busa-busa yang berhamburan. Bahkan saat waktunya naik dan mandi, Kak Ghifa sempat rewel

"Emoh mentas (Tidak mau mentas)." tolak Kak Ghifa.

Dari ketiga kalinya liburan akhir tahun, inilah liburan yang paling asik. Sekalipun liburan sambil mengerjakan job menulis, melihat Kak Ghifa hepi dan kebersamaan keluarga kami, itu lebih dari sekadar cukup bagiku. Liburan yang murah tapi tetap asik. Bukan perkara sejauh mana kami pergi, tapi kebersamaan keluarga itu sangat berharga. Bukankah, begitu?


Semakin asik lagi apabila liburan kemarin ada ASUS Zenbook UX391UA di dalam tasku. Kemarin itu aku membawa notebookku untuk menyelesaikan job di gazebo sambil menunggu Kak Ghifa selesai berenang bersama abinya lho. Karena beratnya sampai 3 kg, saat berangkat sampai terjun ke kolam renang, aku sengaja memakai baju yang sama. Datang langsung nyemplung deh. Itulah salah satu caraku agar meringankan tas yang kubawa. Terpenting keperluan Kak Ghifa sudah masuk semua lah.

Berbeda cerita lagi kalau yang kubawa itu ASUS Zenbook UX391UA. Bisa jadi, aku dan suami tidak perlu menomor duakan kebutuhan kami dibandingkan milik Kak Ghifa. Karena laptop yang dilengkapi engsel ErgoLift nan unik ini beratnya kisaran satu koma sekian dan ketebalannya 12,9 mm. Mili meter lho ya. Tipis banget, kan? Sulit membayangkan tipisnya? Kamu tahu buku tulis anak sekolah yang isinya 38 lembar, nah, itu ukurannya 5 mm, ya, laptop ini tebalnya kira-kira 2 buku tulis isi 38 lembar itulah.

Liburan membawa anak tentu beda dengan berlibur sendiri atau bersama pasangan saja ya. Kesenangan dan kenyamanan anak adalah yang utama agar tidak rewel. Awal-awal masuk ke air, aku berusaha banget mendampingi Kak Ghifa agar tidak takut. Setelah dia nyaman dengan situasi dan kondisinya, baru kulepas dengan abinya. Kemudian aku langsung ganti baju dan cus mengerjakan job.

Saat mengerjakan job, sesekali kulirik ke arah kolam renang. Ada rasa khawatir kalau tiba-tiba Kak Ghifa kembali ke gazebo dan menarikku untuk ikut terjun ke kolam lagi. Alhasil beberapa kali kuubah posisiku, kumiringkan lagi layar notebookku. Mencari posisi yang pas antara mata dan layar agar aku bisa nyaman mengetik. Karena kalau aku nyaman mengetik, jelas pekerjaanku bisa cepat kelar.
ASUS Zenbook UX391UA, meskipun ringan dan tipis, tapi dengan ErgoLIft Design, laptop ini sudah mendapat pengakuan dan penghargaan tingkat internasional kalau pemakaiannya sangat nyaman, performa audio kelas premium, dan sirkulasi udara yang lancar sehingga tidak mudah panas. Oiya, satu lagi, keyboard yang berlampu latar warna emas beserta lid sewarna menambah anggun dan mewah laptop ini. Siapa yang tak bermimpi memilikinya?

Tipis, ringan, tingkat kenyamanan penggunanya sangat diperhatikan, dilengkapi dengan desain yang ciamik, kemudian bagaimana dengan komponen lainnya seperti prosesor, baterai, RAMnya?  ASUS Zenbook UX391UA ini dilengkapi dengan RAM 16 GB dan prosesor Intel® Core™ terbaru (generasi ke-8) yang tentu tidak akan membuat penggunanya jengkel karena menunggu loading yang lama. Pun baterainya, digadang-gadang bisa mengisi sebanyak 60% dalam 45 menit saja. Bukankah ini benar-benar asik apabila digunakan untuk liburan? Jadi, waktu kita tidak akan habis terbuang sia-sia. Liburan jalan, pekerjaan pun jalan.

Kemudian, kamu sering nggak sih, pas liburan, eh, tahu-tahu memori kamera atau HP kita penuh? Mau dipindah ke laptop takut kelamaan malah kehilangan momen-momen indah. Eitss....tunggu dulu, berbeda kalau pakainya ASUS Zenbook UX391UA. Karena dengan dilengkapi Thunderbolt™ 3 di dua dari tiga port USB-C™, dan ketiga port tersebut mendukung pengisian cepat, transfer data dan konektivitas layar. Wow, betapa Zenbook ini begitu memanjakan perjalanan liburan kita ya!
Setelah pekerjaanku beres, alhamdulillah Kak Ghifa juga sudah mulai naik dari kolam. Kulihat bibirnya sudah mulai pucat. Kalau dibiarkan berlama-lama bakalan masuk angin deh. Akhirnya kumandikan Kak Ghifa di dekat gazebo dengan menggunakan air yang sudah kami siapkan dari rumah. Sembari ganti baju dan dibalur seluruh tubuhnya dengan minyak telon, dia mulai merengek minta makan. Lapar ya, Kak? Hihihi.

Liburan akhir tahun kami tutup tepat pukul 11.00. Kolam renang pun sudah mulai penuh dengan lautan manusia. Sampai di luar kolam renang, betapa mobil dan bus-bus memenuhi pinggir jalan. Kami yang melihat merasa beruntung karena memilih datang lebih pagi. Kak Ghifa pun tadi asik main air, baru naik mobil langsung tertidur pulas di pangkuanku dengan bahagia.

Foto diambil oleh ibu yang duduk di jok depan.

Tak lupa kuucapkan, "Sampai jumpa akhir tahun 2019. Semoga bisa ke sini lagi dengan jumlah keluarga yang lebih banyak."

Terakhir, apa yang kualami di masa lalu, ketakutan yang ada dalam diriku sesungguhnya adalah wujud dari kemarahan-kemarahanku yang terlalu dalam. Benar adanya apabila Ustadz Danu mengatakan bahwa serahkan semua kepada Allah. Karena apa yang terjadi di dunia ini atas izin Allah dan karena Allah. Tugas kita sebagai manusia adalah selalu memohon ampun dengan sungguh-sungguh atas kesalahan-kesalahan kita dan melakukan apapun karena Allah.

Mari kita nikmati hidup dengan cara yang terbaik. Menghabiskan waktu bersama keluarga adalah satu cara yang paling mudah. Yuk, berlibur bersama keluarga, tidak perlu yang jauh apalagi mahal, yang penting selalu bersama! Nah, akhir tahun kemarin kamu ke mana dan bersama siapa? Semoga kamu juga merasakan kebahagiaan di penghujung akhir tahun 2018 untuk menyongsong kebahagiaan-kebahagiaan selanjutnya ya.

Ssssstttt.....satu lagi. Tahu tidak, apa kabar dengan notebookku setelah liburan kemarin? Ujung layarnya pecah. Mungkin karena tertimpa bawaan yang lain. Karena saat sudah rempong ngurusin makan Kak Ghifa, tas ranselku dibawa oleh suami dan diletakkan begitu saja di mobil. Lupa kali ya kalau ada notebook di dalam. Makanya, penting banget nih kalau ada yang mau beli laptop baru di tahun 2019 ini, coba deh cari ASUS Zenbook UX391UA. Karena sudah menggunakan desain bodi khusus dan tersertifikasi Military Grade MIL-STD 810G. Jadi, laptop ini sangat kokoh karena sudah melewati pengujian yang ekstrem. Mau jatuh, guncangan yang kuat, penggunaan di ketinggian, sampai tes di suhu tinggi dan rendah pun lolos secara mulus. Jadi, jangan salah pilih ya!

Tuesday, 15 January 2019

Tahukah Kamu Sisi Lain Guru Honorer? Sssttt....Sekolah Membawa Anak



Tahukah Kamu Sisi Lain Guru Honorer? Sssttt....Sekolah Membawa Anak. Memangnya ada? Ada, aku. Kalau saja diminta memilih antara mengajar dengan membawa anak atau tidak, jelas, aku akan memilih tidak membawa anakku, Kak Ghifa. Aku terpaksa membawanya.

Saat aku melihat nilai ujian CPNSku hanya berada di peringkat kedua, satu hal yang terasa berat di hatiku, yaitu tentang siapa nantinya yang akan momong anakku. Selain karena aku ingin memperjuangkan mimpi kedua orangtuaku agar aku jadi CPNS, aku mengikuti semua proses ini agar aku bisa menitipkan anakku di tempat penitipan anak atau orang lain.




((Wajahku gitu banget 😅😅)) Kalau bisa memilih antara membawa anak ke sekolah atau tidak, jelas, aku akan memilih tidak. Ini terpaksa. Kemarin, Senin (14 Januari 2019), aku terpaksa membawa (lagi) Kak Ghifa ke sekolah. Kupikir, Senin aku hanya mengajar pukul 08.00 sampai 08.35, nggak papa lah. Jujur. Namanya bawa anak, fokus mengajarku jelas terbagi. Tapi, aku sangat berusaha untuk maksimal mengajar. Beruntung, Kak Ghifa nggak rewel. Bahkan dia selalu hepi ketika ikut sekolah. Pun ada anak-anak kelas 6 yang dengan senang hati ikut momong Kak Ghifa saat mereka sedang istirahat. Jadi, saat anak-anakku pulang sekolah, aku bisa membereskan administrasi kelas, menyiapkan pembelajaran esok hari dan tetap bisa mengajari mereka membaca. Oiya, aku akan menuliskan cerita atau sisi lainku menjadi seorang guru honorer di blog. Insya Allah nanti agak siang akan aku share link hidupnya di bio. #ceritabuguru
Sebuah kiriman dibagikan oleh Ika Hardiyan Aksari (@diya_nika) pada


((Plis, jangan bilang kalau demi mengajar dan mendidik anak orang aku malah menitipkan anakku kepada orang lain!))


Pikirku, kalau aku jadi PNS, jelas, gajiku akan berkali-kali lipat dari gajiku sebagai guru honorer dan aku bisa menitipkan anakku setengah hari. Ternyata Allah punya rencana lain.

(Ini menurutku) Masalah pun datang. Ibuku yang dulu momong Kak Ghifa, kini ikut bapakku jualan di pasar dan baru pulang pukul 10.00, kadang dzuhur baru pulang. Suamiku memang kerja di rumah, tapi akhir-akhir ini sering mendapat panggilan kerja ke luar rumah. Sempat Kak Ghifa ikut sekolah dengan tetanggaku yang punya anak PAUD, dia mau berangkat semingguan, eh, selanjutnya nggak mau. Lha terus anakku melu sopo?

Tetanggaku berseloroh, "Kamu apa nggak tega kalau anakmu dititipkan di penitipan anak?"

Ini bukan perkara tega nggak tega, wong makan saja masih ndompleng sama orangtua.

Ya Allah, cukupkanlah rezeki keluarga kami. Kutahu semua yang terjadi ini atas kehendak-Mu.

Di situ aku makin merasa gagal menjadi seorang ibu. Apalagi Kak Ghifa kini pintar sekali memprotesku. Setiap pagi pun sering memancing emosiku. Disaat aku sudah siap berangkat sekolah atau dia melihatku membawa handuk, mulai deh.

"Ummi, dulang neh, Ummi." Kak Ghifa minta disuapin lagi padahal sudah makan sepiring.

Susu ditumpahin lah.

Telur sudah digoreng minta digoreng lagi.

Minta pup atau pipis dan kutunggui.

Kaki robotnya pada lepas minta aku yang mencari dan masangin.

Huaaaaaa.....

Aku makin bertanya-tanya dengan kelanjutan hidupku, apakah aku harus bertahan menjadi guru atau lebih baik di rumah menemani anakku?

Kalau saat ini juga ibu dan suamiku bilang stop untuk mengabdi menjadi guru, aku akan berhenti. Sungguh. Hatiku rasanya pilu. Aku sering kelepasan marah-marah sama Kak Ghifa. Padahal ini jelas bukan salahnya. Maafkan, Ummi.

Kak Ghifa yang hobi naik sepeda

Sampai akhirnya aku berada di titik terendahku, aku kelepasan menangis di depan Kak Ghifa. Selama ini aku hampir nggak pernah menangis di depannya. Tapi, kelepasan.


“Ummi, Ummi nangis? Ojo nangis, Mi.” ucapnya sambil menyentuh ujung mataku yang meneteskan airmata.


Hati ibu mana yang tak luluh lantah? Ummi ini nggak lagi strong seperti dulu, Kak. Maaf, Ummi menangis di depanmu.

Hari ini (14 Januari 2019), aku terpaksa membawa (lagi) Kak Ghifa ke sekolah. Karena hari Senin aku hanya mengajar dari pukul 08.00 sampai 08.35. Setelah itu anak-anak akan diajar oleh guru pendidikan agama islam dan budi pekerti. Okelah, nggak masalah, pikirku.

Akan tetapi, apa yang terjadi kalau aku sampai membawa anak ke sekolah? Jelas, pembelajaran tidak bisa berjalan maksimal seperti biasa. Saat asyik-asyiknya ngajar anakku minta minum, nggak fokus deh, mau nggak mau pembelajaran jadi berhenti sebentar. Anak-anak pun ikut-ikutan memperhatikan anakku.

Sebenarnya anak-anak hepi kalau anakku ikut sekolah, tapi aku sendiri merasa ruang gerakku terbatas. Pernah lho, saat pembagian rapot semester 1 kemarin, aku presentasi di depan wali murid dengan menggendong Kak Ghifa yang rewel. Setelah digendong, dia tidur. Satu jam lebih aku presentasi di depan wali murid dengan menggendong Kak Ghifa, luar biasa rasanya. Terima kasih, Bapak Ibu mengerti keadaanku. Mereka juga dengan senang hati membantuku saat membagikan rapot dan selebaran informasi. Terima kasih banyak.

Bagaimana dengan teman guru yang lain saat aku membawa anak ke sekolah? Mereka biasa saja. Asalkan tugasku terselesaikan. Akan tetapi, namanya orang hidup, pasti ada yang suka dan tidak. Aku sadar akan hal itu. Merekapun tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi soal menaikkan gaji. Uhuk!

Aku beruntung memiliki anak-anak yang mengerti akan posisiku. Baik Kak Ghifa maupun anak-anak di sekolah. Selama di sekolah, Kak Ghifa kalau rewel ya nggak se-ekstrim kalau di rumah, dia tahu sedang berada di mana. Terima kasih, Kakak.

Kak Ghifa main dengan anak-anakku kelas 6

Kemudian, Kak Ghifa juga betah kalau di sekolah. Dia tidak pernah meminta untuk pulang. Jadi, pulangku ya tepat sesuai jam pulang seperti biasa. Mungkin karena di sekolah banyak teman-temannya. Saat muridku kelas 1 sudah pulang, jelas aku harus menyiapkan pembelajaran esok hari dan melengkapi adminstrasi kelas. Nah, anak-anak kelas 5 dan 6 sering ke kelasku, kemudian mengajak Kak Ghifa bermain. Alhamdulillah, bukankah benar, bersama kesulitan ada kemudahan yang Allah berikan.

Sampai saat aku menuliskan postingan ini, sepanjang sujudku, tak kenal lelah, satu doa ini tak pernah kulupakan. Aku memohon kepada Allah, jika memang menjadi guru ini adalah jalan hidupku, kumohonkan atas rezekiku di sana. Kumohon kepada-Nya agar menjaga selalu anakku di saat aku mengabdi ke masyarakat. Kalaupun tidak, aku ingin sekali mendidik Kak Ghifa di rumah. Aku mohon dimudahkan.

Sesungguhnya, kini, menjadi guru adalah passionku. Ah, sudahlah, kupercayakan semua kepada Allah

Kamu pernah mengalami hal yang serupa (tapi tak sama) sepertiku?

Thursday, 3 January 2019

Pras dan Kotak P3K

Pras dan Kotak P3K - Aku makin sadar bahwa tugasku menjadi guru tidak hanya mendidik, melainkan juga merawat dan melayani anak didikku dengan sepenuh hati.

Pagi tadi, saat anak-anak berolahraga, aku berkutat dengan laptop dan buku tabungan mereka. Saat aku sedang serius menghitung uang, tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundakku. Jelas aku terkaget.



"Loh kamu nggak ikut olahraga?"

Wajah anak laki-laki di depanku tampak pucat dan berkeringat.

"Nggak, Bu. Aku tadi eek lagi."

"Lho kamu eek lagi? Bukannya tadi sebelum berdoa kamu sudah eek? Perutmu sakit? Tadi pagi makan sambal?"

Anak bernama Pras itu hanya mengangguk lesu. Segera kuantarkan dia ke tempat duduknya. Sembari berjalan kupikirkan langkahku selanjutnya.

"Ibumu di rumah?"

"Ndak, tandur (menanam padi di sawah)."

"Bapakmu?"

"Kerja di tempat si mbah."

"Ok, Bu Ika antar pulang saja ya? Badanmu gemeteran gini."

Maukah dia kuantar pulang?

Tidak.

Berkali-kali kutawari tetap saja tak mau. Dia malah mau menangis. Oke, option lain nih.


"Kamu di sini saja, Bu Ika beli obat dulu. Kamu mau kan minum obat? Biar cepat sembuh perutnya."

Dia mengangguk.

"Perutmu mules? Pokoknya kalau mau eek lagi, keluar saja. Kalau nggak kuat, teriak ya."

Aku segera bergegas mengambil motorku di gudang. Di tengah jalan aku bertemu penjaga sekolahku yang membawa teh hangat. Kuingat bahwa teh hangat bagus untuk mengatasi masalah perut.

"Pras, ini ada teh hangat, diminum sedikit-sedikit ya."

Kulihat tangannya masih gemetaran.

"Nggak papa, Bu Ika bantu. Pelan-pelan saja. Nggak usah nangis. Kamu gemeter karena perutmu kosong."

Setelah beberapa kali meneguk teh hangat, aku pun pamit kembali. Kunyalakan motorku dan segera menuju toko terdekat. Kubeli obat anti diare dan beberapa perlengkapan kotak P3K ku yang sempat raib digondol tikus, liburan kemarin.

Sesampainya di kelas lagi, keadaan sudah ramai.

"Pras kenapa, Bu?" pertanyaan yang sama dilontarkan oleh semua anak yang ada di sana.

"Mencret."

Mereka semua diam seketika. Kubagi dua tablet anti diare kemudian kuhaluskan dengan sendok yang sudah kuambil dari dapur sekolah. Kuminta Pras untuk makan roti yang tadi kubeli.

"Berani, kan?" tanyaku kepada Pras.

Dia meminumnya dengan semangat. Bismillah. Alhamdulillah obat masuk dengan lancar. Kuoleskan minyak kayu putih ke perut Pras.

"Hiiiii...udele (pusar) Pras ketok (kelihatan)." ucap Dhea.

Semua yang mendengar malah tertawa. Begitu juga dengan Pras. Ah, anak-anak. Hal sepele selalu bisa membuat mereka hepi.

Selesai minum obat, kusarankan Pras untuk tetap minum teh hangat dan memakan rotinya sedikit demi sedikit. Aku juga sempat membujuknya untuk pulang, tapi tetap saja nggak mau.

Baiklah. Setelah kunasihati, "Pokoknya kalau ada apa-apa, panggil Bu Ika ya."

Eh, tahu-tahu pas jam istirahat mau selesai, sekitar pukul 09.00 WIB, dia pegang sapu.

"Lho Prass, perutmu nggak sakit lagi?"

Dia cengengesan dan mengaku sudah enakan. Raut mukanya juga sudah memerah. Tak sepucat tadi pagi.


Belajar dari kasus Pras, aku makin sadar kalau kotak P3K itu memang benar-benar harus ada di setiap kelas. Sebenarnya sekolahku ada UKSnya. Tapi, karena nggak ada yang mendapat tugas jaga dan merawat, kemudian digunakan untuk ruang latihan tenis meja, yaaa gituuu deh. Hilang semua tuh.

Akhirnya semenjak tahun ajaran baru kemarin, kubeli deh perlengkapan P3K dan kusimpan di kelasku sendiri. Ada obat merah, minyak kayu putih, pembalut luka, kapas, dan revanol.

Namanya juga tempat umum ya, kabar kalau P3K kelas 1 lengkap, eh, selalu jadi tujuan kalau ada anak yang terluka. Aku ya nggak masalah. ASALKAN kalau sudah selesai dikembalikan. Begini deh kalau KEDISIPLINAN siswa nggak dipupuk sejak dini dan dari hal yang sepele. Bahkan saat aku sakit tipes, ketika aku kembali ke sekolah, isi kotak P3K ku berantakan semua dan hilang satu per satu. Hadeh.

Lama-kelamaan, isi kotak P3K ku kembali seperti semula bahkan kutambah sisir, jarum, benang, pemotong kuku, dan gunting. Ah, semua untuk anak-anakku. Rencana ke depan ingin kutambah tablet diare dan penurun panas.

_____________________________________

Betapa aku makin sadar bahwa menjadi guru itu tidaklah mudah. Perkara printilan seperti kotak P3K saja harus kuperhatikan. Apalagi di sana juga terselip pelajaran-pelajaran hidup yang harus dipahami dan diterapkan oleh anak didikku agar kelak menjadi anak yang berkarakter.

Betapa bodohnya diriku karena sempat muncul keinginan untuk memulangkan Pras saja karena tidak mau repot. Tapi, jujur aku takut kalau dia kenapa-napa. Beruntung, Pras memiliki semangat belajar yang tinggi sehingga dia tetap bertahan di kelas.

Sehat selalu ya, anak-anak Bu Ika. Terima kasih kalian memberikan pelajaran atas nama "bertanggungjawab" kepada Bu Ika. Bukankah memang tugas Bu Ika di sekolah seperti orangtua kalian di rumah? Merawat kalian dalam sehat maupun sakit. Baik suka maupun duka. Uhuk!

Tuesday, 1 January 2019

Uang Hasil Ngeblog untuk Apa?


Uang hasil ngeblog untuk apa? Hayo untuk apa? Atau ngeblog sudah dapat apa? Halah, penghasilan belum seberapa sudah pamer. Bukan, bukan gitu maksudnya. Justru kalau belum seberapa harus bisa menjawab judul di atas. Sebelum terlambat sepertiku. Kalau sudah terencana dengan baik, boleh lah sharing di komentar.



Aku teringat kisah seorang bloger, perempuan pula, dia bisa membeli beberapa hewan ternak berkaki empat dari ngeblog. Keren ya? Nah, saat aku membaca kisahnya, otomatis aku mikir, lha aku ngeblog selama ini dapat apa? (Plis jangan jawab dapat ilmu dan networking lah, ini sudah pasti)

Aku ngeblog yang benar-benar bisa menghasilkan uang itu sekitar tiga tahun terakhir ini. Uangnya bisa dari menang lomba atau fee menulis. Kalau soal hadiah lomba blog dalam bentuk barang nggak aku bahas ya. Nah, soal uangnya ini ke mana saja?

Setelah kurenungkan, muncul deh kesalahan-kesalahan yang ternyata kubuat sendiri dan ini fatal banget. Satu, selama ini aku tidak pernah mengalokasikan uang hasil ngeblogku itu khusus untuk apa. Pokoknya kalau dapat transferan ya butuhnya apa, ya dipakai. Uang dicampur aduk jadi satu dengan pemberian suami. Kedua, aku tidak pernah membuat catatan keuangan. Yo wis, uang blabas ke mana nggak jelas. Tahu-tahu dompet kosong saja. Penyesalan datang belakangan.

Nah, belajar dari pengalaman dari tahun ke tahun, kemudian mendapat inspirasi dari bloger lain, akhirnya kuberanikan diri untuk berubah. Sekarang, setelah jalan setahunan, memang rasa ngeblogku berbeda. Lebih terarah. Agak pintar sedikit. Hihihi. Namanya juga belajar ya.

Saat ini aku sudah lumayan sukses konsisten dengan perubahan pengelolaan uang hasil ngeblog. Dan aku pun sangat bangga dengan diriku sendiri. Kenapa seperti itu? Ya karena aku ini bukan tipe orang yang bisa hemat alias boros akut. Tipsnya apa? Setidaknya ada tiga catatan penting yang kuterapkan agar uang hasil ngeblogku lebih terarah. Diantaranya berikut ini:
  1. Aku menggunakan mobile banking yang hanya bisa untuk mengecek saldo saja. Jadi, tanganku nggak gatel untuk transfer sana-sini, beli ini itu yang nggak jelas.
  2. Kugunakan hanya satu nomor rekening untuk menerima uang ngeblog.
  3. Kukumpulkan dulu uang ngeblog paling nggak sekitar sejutaan baru kemudian kucairkan.
Kalau ditanya, uang hasil ngeblog untuk apa? Aku sudah bisa menjawab dengan percaya diri, kira-kira kugunakan untuk:


50% untuk ditabung

Dari kecil aku nggak terbiasa menabung. Untuk makan saja susah, begitu kalau kata ibuku. Akan tetapi, semenjak punya anak, keadaan yang mengubahku. Aku teringat saat Kak Ghifa masuk rumah sakit karena nggak bisa kentut (aku ceritakan di Mau Kentut Kok ke Rumah Sakit Dulu). Saat itu aku nggak pegang uang sepeserpun. Aku tidak lagi mengandalkan BPJS. Kalut pikiranku. Alhamdulillah, lagi-lagi pertolongan Allah selalu ada.

Setelah kejadian itu, mau nggak mau harus punya tabungan. Aku nekad, entah uang darimana, pokoknya harus punya tabungan. Kucoba berbagai tabungan, mulai dari tabungan berencana, tabungan emas di Pegadaian, investasi emas, investasi reksadana, sampai ikut arisan RT. Akhirnya, kutemukan tabungan yang paling nyaman dan tepat untukku, sesuai kebutuhanku pula.

Untuk tabungan ini aku memiliki beberapa pos, setiap kali mencairkan uang hasil ngeblog, kupilih salah satu pos. Nanti saat pencairan berikutnya mengisi pos yang lainnya. Alhamdulillah, melihat hasilnya membuat hati bungah. Aku percaya akan pertolongan Allah, tapi paling tidak kalau punya tabungan (walau tidak seberapa) hidup lebih terencana lho.

25% untuk orangtua

Kita tak akan bisa membalas jasa orangtua. Kebahagiaan mereka memang tidak bisa kita beli dengan uang, paling tidak bisa berbagi dengan mereka rasanya begitu menyenangkan. Eh, membelikan mereka pulsa, buah-buahan, baju, atau tas. Kesannya sepele, tapi insya Allah akan memberikan kesan tersendiri kepada orangtua.


Sebenarnya aku sering sekali sedih. Aku anak tunggal, tapi kok aku hanya guru wiyata bakti dengan gaji per bulan 300 ribu. Usaha suamiku juga baru merintis, kadang ada orderan, seringnya nihil. Aku masih numpang sama orangtua, duh, pokoknya kalau dihitung-hitung soal materi memang nggak akan ada ujungnya. Maka dari itu, sekecil apapun penghasilanku, ingin rasanya berbagi kepada orangtua, pun mertua. Tak lupa kuucapkan syukur kepada Allah, sekalipun gajiku hanya segitu, Allah selalu menghadirkan rezeki (materi) lewat passion menulisku.

 

10% untuk membeli buku

Ibarat otak selalu bekerja tapi masak iya sih nggak pernah diberi makan? Aku ini lagi gandrung-gandrungnya membeli buku. Lah dulu mana bisa beli buku sendiri?

Aku ingat saat masih kuliah, setiap kali akan ada bazar buku, kurela makan hanya sama nasi putih dan tempe mendoan  (2 ribu perak seporsi) berminggu-minggu. Setelah itu cari stand dengan diskon paling gede. Buku apapun kubeli, asal aku bisa baca. Kalau mentok nggak punya uang ya harus bahagia hanya dengan nongkrong di perpustakaan sepanjang jam istirahat.



Dasar manusia, sekarang bisa beli buku malah alasannya nggak punya waktu untuk membaca. Duh, parah! Tapi kuusahakan paling tidak sehari membaca buku selama 30 menit. Biasanya kulakukan saat menunggu jam pulang ngajar atau hendak tidur siang.

Oiya, terkadang aku kalau pas lihat diskon buku, apalagi online kemudian gratis ongkos kirim sering kalap. Kalau sampai harganya melewati jatah uang membeli buku, berarti pas pencairan uang ngeblog selanjutnya nggak ada jatah membeli buku.

 

15% lain-lain

Ehm…ini biasanya buat jajan, beli susu, bakso atau beli es krim di minimarket. Aku, Abi, dan Kak Ghifa sering sekali beli es krim kemudian dihabiskan langsung di depan indom***t sambil menghitung kendaraan yang lewat. Hahaha. Gitu saja sudah bahagia banget. Kalau uangnya masih sisa untuk bantu bayar cicilan motor (Alhamdulillah, Januari ini L.U.N.A.S).


Nah, itu jawaban dari pertanyaan yang ada di judul postingan ini, uang hasil ngeblog untuk apa? Kalau kata orang bijak sih kita perempuan harus melek literasi keuangan. Ya, semoga saja, aku sudah termasuk yang sedikit melek literasi keuangan ini ya. Satu hal juga yang membuatku ingin berubah dalam mengelola rezekiku, yaitu pertanggungjawabannya sama Allah. Rasanya tuh sayang banget kalau pas kita sadar ternyata banyak uang yang kita hasilkan selama ini ternyata untuk hal yang sebenarnya bisa ditunda.

Kalau kamu, uang hasil ngeblog untuk apa saja? Bagaimana mengelolanya? Kalau panjang jawabannya bisa lho jadi satu postingan di blog kamu. Jangan lupa colek-colek link url-nya ya! Insya Allah akan kusambangi.
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES