Senin, 11 Februari 2019

Pengalaman Kurang Menyenangkan Saat Cetak Kaos Muridku


Pengalaman Kurang Menyenangkan Saat Cetak Kaos Muridku – Salah satu tugas yang dimiliki oleh guru kelas 1 SD adalah mengurus seragam baru untuk anak didik. Ada seragam batik dan kaos olahraga. Kalau untuk seragam merah putih, anak-anak sudah membeli sendiri di pasaran. Nah, kali ini aku akan menceritakan pengalaman kurang menyenangkan saat cetak kaos olahraga anak-anak. Harapanku, kamu bisa mengambil pelajaran dari apa yang aku alami.


Sewajarnya, seragam batik dan kaos olahraga untuk anak didik sudah dibagikan kepada anak-anak saat minggu pertama di sekolah. Kalau di sekolahku tidak. Kemarin sudah satu semester mereka baru dapat seragam baru. Wajar saja kalau wali muridku banyak yang bertanya, “Bu, seragamnya kok belum jadi-jadi ya?”

Kujawab saja sekenanya, “Pesannya kan di Arab, Bu. Mohon dimaklumi ya. Hehehe.”

Tidak hanya satu atau dua wali murid saja yang bertanya demikian lho. Hampir semua. Sekolah sebelah juga sudah pada pakai seragam baru semua. Lihat anak-anaknya masih pakai seragam dari TK kan ya pasti merasa sungkan sendiri.

Kok bisa sampai lama sekali seragamnya baru jadi, kenapa? Ini menurutku pemilik jasa yang dipilih sekolahku yang kurap sip. Awalnya, di akhir semester 1, seragam sudah jadi. Akan tetapi, barang yang dipesan tidak sesuai. Harusnya atasannya lengan panjang, eh, yang datang malah pendek semua. Kemudian ukurannya juga tidak sesuai dengan yang kami pesan. Kedua seragam, yaitu kotak-kotak dan kaos olahraga semua salah. Ya sudah seragam ditarik lagi. Anak-anak gigit jari deh.
Sebenarnya aku sudah pernah mengusulkan untuk memakai jasa konveksi dekat sekolah sini, pun aku kenal dengan pemiliknya. Tapi, usulku tidak pernah digunakan. Akhirnya, saat kaos olahraga yang sudah dibenahi sampai di sekolah, eh, ukurannya masih salah lagi. Terpaksa, Naja, Sofa, Zaky, Fabiyan dan beberapa temannya yang mendapat ukuran tidak sesuai hanya bisa memakai seragamnya yang lama. Kasian.


Nah, untuk kamu yang hendak mencari jasa cetak kaos yang terpercaya  (khususnya) dalam jumlah besar maupun kecil, pikirkanlah dengan matang pemilik jasa mana yang akan digunakan. Agar tidak menyesal karena merasa dirugikan berkali-kali. Apalagi kalau ini perkara anak-anak. Kasian lho, temannya memakai seragam baru sedangkan dia tidak.

Oleh karena itu, akan aku share beberapa hal yang perlu diperhatikan dan pertimbangkan sebelum akhirnya memutuskan untuk cetak kaos!

Muridku masih pakai seragam warna-warni karena seragamnya belum jadi
1.Ketahui Bahan yang Digunakan
Bahan merupakan salah satu komponen utama yang sangat penting. Pastikan bahan kaos yang akan digunakan mempunyai kualitas sesuai dengan keinginan kita. Beberapa kali pesan kaos olahraga muridku, aku sering kecewa dengan bahan yang digunakan.Namanya kaos olahraga kan bahannya harus yang nyaman dan menyerap keringat ya. Nah, ini kaosnya baru dicuci dua kali langsung jebrut-jebrut. Kalau aku sih lebih milih mahal dikit tapi bahan nyaman dipakai daripada murah tapi ya gitu deh kualitasnya. Yang ada aku bakalan dikomplain sama wali murid. Padahal kutak tahu apa-apa. Hihihi.

2.Tanyakan Perihal Metode, Teknik dan Teknologi yang Digunakan
Untuk mendapatkan hasil cetak kaos yang sesuai, berkualitas, bermutu, awet dan tahan lama tentu saja diperlukan penanganan khusus. Metode, teknik dan teknologi yang digunakan merupakan komponen yang sangat mendukung terciptanya hasil cetak kaos dengan kualitas tertentu. Ada lho konveksi yang masih menggunakan tenaga manual. Mereka sangat memperhatikan kualitas jahitan produknya. Sebaliknya, ada yang manual, tapi hasil jahitannya ada yang terlewatkan.

3.Kerapian Lokasi Produksi Cetak Kaos
Pernah nggak sih datang ke rumah konveksi/tukang jahit dan melihat lokasinya berantakan banget? Kain, gunting, meteran, dan kapur jahit berserakan di mana-mana. Apa yang kemudian kamu pikirkan? Errr....Lokasi yang berantakan dan tidak tertata dengan baik, pasti akan sangat mengganggu kegiatan operasionalnya.

Lokasi produksi cetak kaos juga penting untuk diperhatikan. Karena aku penganut kualitas kerja bisa ditentukan dari penampakan lokasi produksinya. Kerapian lokasi mencerminkan baik tidaknya sebuah usaha. Kalau kamu, gimana, sepakatkah?

4.Prosedur Kerja yang Diterapkan
Keteraturan prosedur kerja juga bisa menjadi poin penentu bagaimana gambaran pemilik usaha yang bersangkutan. Jika prosedur kerja yang dilakukan terstruktur dengan baik, berarti perusahaan tersebut sudah matang untuk serius dalam memberikan pelayanan kepada para konsumennya. Poin ini mungkin jarang sekali yang memperhatikan, padahal sedikit banyak hal ini ikut andil dalam menentukan kualitas produk yang dihasilkan.

Nah, kalau pakai kaos olahraga kayak gini kan lebih indah dipandang mata


Bisa belajar deh ya dari apa yang aku alami. Jangan sampai saat ukuran kaos yang dipesan sudah diterima, eh, pas sampai lokasi ukurannya amburadul semua! Apa kabar dengan prosedur kerja mereka?

5.Kedisiplinan dalam Penyelesaian Pekerjaan
Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh – sungguh dan disiplin pasti akan berbuah manis. Betul, bukan? Nah pada poin ini juga bisa dijadikan sebagai patokan seberapa profesional sebuah usaha dijalankan. Jika janji – janji manis saja yang ditawarkan oleh pelaku usaha tanpa adanya bukti, maka anda perlu mempertimbangkannya berulang kali. Contohnya saja pada ketepatan waktu pengerjaan yang dijanjikan. Jika pada tahap awal saja sudah mengecewakan karena tidak tepat waktu, besok lagi masih mau pakai?

6.Lihatlah Testimoni yang Ada Pada Website atau Media Sosial
Keberadaan testimoni bisa dijadikan sebagai acuan untuk memberikan penilaian terhadap seberapa baik dan berkualitasnya produk cetak kaos yang dihasilkan. Gampangnya saja begini, saat kita sedang mencari tempat makan baru, pasti yang kita perhatikan paling utama adalah tempatnya banyak dikunjungi atau tidak. Jika banyak konsumen yang berkunjung, bisa diambil kesimpulan kemungkinan makanannya enak. Sama seperti halnya dalam menentukan jasa cetak kaos, jika terstimoninya banyak dan sebagian besar positif, maka tidak diragukan lagi kemungkinan besar kualitas yang ditawarkan pun juga baik.

Lantas? Langsung cus, pesan deh! Hari gini kita harus bisa jadi konsumen yang cerdas, bukan? gJadikan penhalamanku ini sebagai batu pijakan agar tidak kena tipu-tipu mereka yang hanya ingin meraup untung sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kepuasan pelanggan. Kamu pernah punya pengalaman serupa denganku?

Minggu, 03 Februari 2019

Menaklukkan Wali Murid yang Terlalu Memanjakan Anak



Menaklukkan Wali Murid yang Terlalu Memanjakan Anak - Ini adalah cerita tentang Kanaia di awal semester satu. Terlalu lama ngendon di draft, akhirnya bisa selesai juga. Menuliskan cerita tentang serba-serbiku mengajar ternyata membuatku lebih waras. Cerita ini bisa jadi catatanku yang bisa kubuka kembali suatu hari ketika aku menemui masalah yang sama. Pun, saat aku butuh semangat kala jiwa dan raga begitu lelah menghadapi kenyataan kalau ternyata menjadi guru itu tidaklah mudah.


***

“Bu, tolong dimaklumi ya kalau Kanaia sering rewel di kelas. Ibunya biar di dalam (kelas) saja.”

Begitu kira-kira isi pesan WhatsApp ayah Kanaia. Aku kaget. Bagaimana bisa aku membiarkan ibu Kanaia di dalam kelas terus-terusan sementara aku sedang mengajar? Aku merasa ruang gerakku seperti terbatas. Terlebih lagi saat pelajaran berlangsung, Kanaia dan ibunya sering ngobrol di waktu yang tidak tepat. Alhasil, konsentrasi muridku yang lain juga jadi terganggu.

“Soalnya Kanaia itu punya indra keenam, Bu. Dia bisa melihat makhluk halus. Jadi, sering takut masuk kelas.”

Pesan ayah Kanaia lagi. Membaca pesan itu, mataku mendelik. Oh ya? Aku sedikit tak percaya. Tiga tahun lamanya aku mengajar di kelas satu, tak ada masalah demikian. Tahun lalu ada juga anak yang punya kelebihan yang sama, tapi semua aman-aman saja.

“Huuuuuuh....,” aku buang napas.

Oke, mungkin inilah ujianku di awal tahun ajaran baru 2018 ini. Mau nggak mau aku harus mencari cara, bagaimana agar Kanaia tidak harus ditunggui ibunya di dalam kelas?

Pendekatan kepada Kanaia pun kulakukan. Kutelusuri setiap jengkal kepribadiannya. Apakah benar anak ini manja? Tidak percaya diri? Kesulitan mengikuti pelajaran? Sampai perkara, benarkah dia melihat makhluk halus di dalam kelas? Hihihi. Aku jadi merinding sendiri.

“Kanaia takut sama Bu Ika ya?” tanyaku kepada Kanaia yang sedang duduk di pangkuanku. Dia menggeleng.

“Terus, apa yang membuat Kanaia takut masuk ke dalam kelas? Padahal sebulan awal sekolah, Kanaia anak yang pemberani,” gadis berkulit putih itu tak menjawab juga. Diam, malu-malu menatapku.

Aku lega saat Kanaia mengaku tidak takut kepadaku. Berarti bukan aku penyebanya dan pasti ada penyebab yang lain. Sehari dua hari, sampai satu bulan, aku berusaha bersabar dan membiarkan ibu Kanaia di dalam kelas. Tapi, lama-kelamaan, muridku banyak yang protes.

“Bu, Kanaia sama ibunya berisik! Aku nggak suka. Aku nggak bisa belajar.”

Tidak tahu kenapa, gara-gara protes itu emosiku seperti terbakar. Aku merasa murid yang kulayani sudah protes, mengapa aku hanya tinggal diam menanti nasib? Apa aku tak bisa melakukan sesuatu yang lebih? Kalau terus-terusan seperti ini, apa jadinya kelasku?

Kudekati lebih intens ibu Kanaia. Kukorek-korek semua informasi tentang Kanaia, baik itu lewat obrolan langsung maupun pesan WhatsApp. Sampai akhirnya aku menemukan titik terang, siapa yang sebenarnya bermasalah.

“Bu Ika, itu mbok ya o ibu Kanaia disuruh pulang. Anak sudah masuk kelas ya harusnya pasrah sama gurunya. Sudah dua bulan sekolah kok masih ditunggui.” keluh wali murid lain.

“Pas njenengan tidak masuk karena diklat di Purwodadi, saya kan ngajar di kelas satu. Eh, ibunya mau keluar kelas, tapi malah di depan pintu sambil da-da-da-da bawa es teh. Terus Kanaia lari sambil nangis. Saya patah hati. Lha baru action di depan anak-anak, kok malah ada yang ngeloyor keluar. Haduh. Ini jelas ibunya yang bermasalah. Bukan anaknya. Calistung nyatanya juga bisa, kan?” curhat teman guru lainnya.

Aku makin terbakar emosi. Harga diriku sebagai guru seperti diinjak-injak. Kuberi saran dengan cara halus tak paham. Selalu Kanaia yang dibuat alasan, “Nanti kalau sampai rumah, pasti saya dimarahi, Bu.”

Sampai suatu hari, tepatnya hari Minggu, ibu Kanaia kirim WhatsApp yang isinya beliau pusing mengatasi Kanaia. Anak semata wayangnya mengancam esok hari tidak mau berangkat sekolah dengan alasan SD pulang siang tidak seperti di TK.

Entah setan apa yang merasuki diriku, saat itu juga kubalas pesan ibu Kanaia dengan bahasa yang kasar.

“Oalah, Bu, ini jelas yang bermasalah Anda. Bukan Kanaia. Anda saya beritahu secara halus tidak paham. Sebenarnya yang bodoh itu Anda. Bukan Kanaia. Anak Anda seperti itu bukan karena melihat makhluk halus di kelas. Tapi, karena Anda terlalu memanjakan Kanaia. Anda yang tidak tega-an. Sayang dengan anak itu bukan berarti semua yang diminta anak dituruti. Jelas kalau sekolah tidak boleh pakai lipstik, kenapa Kanaia sekolah pakai lipstik? Kenapa sekolah bawa mobil-mobilan dan HP? Satu bulan lebih Anda saya beri kesempatan. Tapi, apa? Anda yang mencetak Kanaia seperti sekarang ini. Punya anak yang cerdas malah Anda rusak sendiri. Pokoknya saya tidak mau tahu, bagaimana caranya besok pagi Anda tidak boleh masuk kelas, pulang! Serahkan urusan Kanaia kepada saya. Kalau tidak pulang, bawa pindah anak Anda ke sekolah lain yang memperbolehkan wali murid masuk ke dalam kelas seharian.”

Iya, aku sampai semarah itu. Sebenarnya ada rasa sesal dalam hati. Tapi, kupikir kejadian ini sudah sangat merugikan banyak pihak, terutama muridku yang lainnya.

Esok harinya, setelah upacara bendera, masuklah guru mata pelajaran lain. Ibu Kanaia masih dengan percaya diri ikut masuk. Astagfirullah.

Kupersilakan ibu Kanaia keluar. Kanaia langsung menangis meronta. Muridku yang lain spontan menutup telinganya. Kututup pintu kelasku dan ku-usir ibu Kanaia.

“Silakan pulang! Nanti saat jam pulang, silakan dijemput kalau njenengan mau Kanaia jadi anak yang mandiri.”

Di belakangku, Kanaia sudah tak bisa dikendalikan lagi. Menangis sambil guling-guling di lantai. Kubiarkan.

“Maafkan Bu Ika. Ini demi Kanaia juga kalian agar bisa belajar dengan lebih nyaman.”

Semua terdiam. Satu per satu mereka mulai menurunkan tangannya. Meskipun merasa terganggu dengan suara tangisan Kanaia, mereka tetap semangat mengikuti pelajaran.


Sementara itu Kanaia masih tetap berguling-guling di lantai. Bajunya kotor semua. Kutunggu beberapa saat sampai tangisnya mulai melemah.

Kudekati, kutawarkan sebuah pelukan. Kanaia memelukku. Saat itu juga tangisku ingin pecah. Aku tahu Kanaia anak yang manis. Dia tak seperti yang diceritakan ibunya.

Kugendong Kanaia menuju tempat duduknya. Ku-usap dadanya perlahan.

“Sabar. Nanti ibu Kanaia pasti ke sini lagi untuk jemput. Kamu bilang nggak takut kan sama Bu Ika? Kenapa kamu menangis? Diam ya. Kalau nangis terus, kasian temanmu. Nanti nggak bisa belajar. Bu Ika sudah pernah bilang, Kanaia itu anak yang cerdas. Kalau anak yang cerdas nggak usah ditunggui ibu terus.”

Kanaia masih berada dalam pelukanku. Dadanya sesekali masih terguncang. Lama-kelamaan tangisnya mulai berhenti.

“Bu, mimik,” pinta Kanaia.

Seketika aku ingin tertawa. Capek dia nangis terus. Kanaia tetaplah Kanaia.

Semenjak kejadian itu, setiap pagi aku selalu mendapat jatah menggendong Kanaia agar mau masuk kelas dan ditinggal ibunya. Sekitar seminggu kemudian, alhamdulillah Kanaia lulus dari ujian ini. Dia tak lagi ditunggui ibunya. Di dalam kelas pun dia bisa berbaur dengan teman-teman yang lainnya. Sesekali aku mendengar saat ada teman yang menggodanya, “Kanaia, kamu nggak nangis lagi? Nanti biar digendong Bu Ika lagi. Kayak anak bayi. Hahahaha.”

Aku yang mendengar ikut terkekeh. Dasar anak-anak.

***

Perjuanganku belum berakhir. Lepas dari perkara ibunya, Kanaia jadi sangat nge-fans kepadaku. Hahaha. Kalau aku tak ada di depan matanya, dia tak mau masuk kelas.

Saat jam olahraga, aku harus ngejogrok di depan kelas mendampinginya. Padahal ada guru olahraga tersendiri. Kalau aku tidak berangkat, dia guling-guling di depan kelas.

"Bu Ika mana? Bu Ika, Kanaia maunya sama Bu Ika."

Hahaha. Ternyata gini ya punya fans berat. *garuk-garuk tembok*

Alhamdulillah, saat tulisan ini tayang, Kanaia sudah jadi anak selayaknya teman-teman yang lain. Dia tetap nge-fans denganku, tapi sudah tidak berlebihan. Dia sudah tidak bergantung kepadaku. Palingan, seperti kejadian hari ini.

"Bu, ibuku mana? Aku belum sarapan." Aku pun memberi kabar ibunya dan 5 menit kemudian ibunya sudah membawa bekal makanan. Mendengar suara motor ibunya dia langsung cengengesan.

Atau saat pulang sekolah, "Bu Ika piye toh, ibuku kok belum jemput?!"

Blaik.
Hahaha.
Untung saja ada WhatsApp.


Jumat, 01 Februari 2019

Bagaimana Harusnya Orangtua Bertindak Saat Anak Mengadu Masalah di Sekolah?



Bagaimana Harusnya Orangtua Bertindak Saat Anak Mengadu Masalah di Sekolah? - Siang itu, saat anak-anak pulang, kubereskan tetek-bengek urusan kelas. Belum selesai kegiatanku, ada pesan WhatsApp masuk.

Seketika mataku terbelalak, dadaku berdegup kencang. Duh, ada masalah ini.

Salah satu wali muridku mengabarkan kalau anaknya (setelah ini kusebut K) hari itu uangnya dipalak oleh F dan A. Aku heran, F itu kalau menemukan uang di kelas atau di jalan selalu laporan kepadaku. Kalau si A dia cenderung pendiam tapi tidak pernah tampak bermain dengan K. Untuk karakter K, aku belum paham betul, karena dia anak baru di semester 2 pindahan dari Kalimantan.

Kubalas pesan wali muridku tadi dengan memberikan anjuran agar ditanyakan kembali, apakah F dan A benar-benar meminta secara paksa uang K. Eh, malah dibalas,

"Saya tahu betul anak saya seperti apa."

Duh, alamat bakal jadi masalah ini. Tak lama, beliau malah menulis status di WhatsApp begini,


Waduh, sabar sabar.

"Saya memang bukan orangtua kandung F dan A. Akan tetapi, saya juga sedikit tahu karakter mereka seperti apa, Bu. Mari kita selidiki terlebih dahulu! Tapi, ya jangan kemudian masalah ini dibuat status!"

Akhirnya, kuterpancing emosi. Kusampaikan beberapa temuanku tentang K selama dua minggu sekolah. Mulai dari dia yang suka borong mainan, buang sampah sembarangan di kelas, kalau mendapat tugas sering belakangan selesainya, sampai main air di tengah lapangan padahal sudah kuwanti-wanti sebelumnya. Saat bergaul dengan temannya pun sering rewel. Kalau orang Jawa bilang, ora kenengan (suka marah-marah karena hal kecil).

Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan K. Aku hanya ingin orangtuanya tahu, bagaimana sang anak kalau di sekolah? Biar imbang infonya. Agar tidak berat sebelah.

Hari berikutnya, dengan suasana yang santai, sambil bermain, kutanya F dan A tentang kejadian tersebut. Yang paling menguatkanku kalau mereka tidak melakukan hal yang dituduhkan adalah ekspresi F. Dia kalau melakukan kesalahan, kemudian kutegur, pasti akan sering mengangkat kepalanya sambil menahan tangis. Nah, saat itu tidak. Dia bersikeras bilang tidak, tidak, dan tidak. Sama halnya dengan A.

Aku pun meminta tolong kepada ibu F untuk ikut menyelidiki masalah ini. Tak lupa kusampaikan pesan untuk tidak langsung memarahi F karena belum tentu F bersalah. Kali ini aku benar-benar mengucapkan terima kasih banyak untuk founder WhatsApp, karena dengan adanya aplikasi ini, masalahku sedikit mendapat titik terang.

Dua hari K tidak berangkat sekolah dengan alasan sakit. Wah, padahal aku penasaran ingin bertanya langsung kepadanya.

Saat berangkat, kira-kira apa yang terjadi?

"Benar F dan A meminta uangmu dengan paksa?"

K diam. Dia tidak berani menatapku. Bahkan dia mau lari kembali ke tempat duduknya.

"Bu Ika nggak marah dan tidak akan bilang ke ibumu tentang ini. Tapi, asal K jujur sama bu guru. Benar nggak F dan A minta uangmu?"

Dia masih diam.

"Kalau kamu diam saja berarti kamu bohong sama ibumu? Kenapa? Uangmu buat beli mainan, kah? Bukan diminta F dan A?"

"Aku takut dimarahi mama." Akhirnya dia buka suara.

"Karena uangmu habis, kamu ngaku kalau F dan A minta uangmu secara paksa?" tanyaku lagi.

"K mau duduk, Bu."

"Lihat Bu Ika dulu! Yang kamu lakukan itu salah lho. Bu guru panggil F dan A dulu ya, kita maaf-maafan dulu."

K justru berlari kembali ke tempatnya. Oke, K ini belum bisa berbesar hati atas kesalahan yang dilakukan. Kusentuh hati F dan A saja dulu.

"F, ternyata uang K itu habis untuk beli mainan. Dia ngaku kamu yang ambil karena takut dimarahi ibunya. Kamu tidak bersalah. Tapi, kamu juga nggak perlu marah sama K. Maafkan dia ya."

F kembali bermain seakan tanpa ada rasa sedih apalagi dendam karena sudah dituduh atas apa yang tidak dia lakukan.

Pagi harinya, A mendatangiku, "Bu, uangnya K tidak saya ambil, tapi dibuat jajan, beli mainan."

"Loh, kamu tahu dari mana?" tanyaku heran.

Dia berlari keluar kelas dan kudapati dia sedang bermain dengan K. Ehm...anak-anak. Semenit yang lalu 'bermasalah', semenit kemudian sudah bermain bersama.

Sekarang, apa kabar? Semua sudah baik-baik saja. Seperti tidak ada masalah. Aku juga nggak laporan ke ibunya K untuk kelanjutan masalah ini, pengakuan K. Terpenting untukku adalah aku tahu muridku seperti apa. F, K, dan A pun tahu duduk permasalahannya. Semua pun baik-baik saja. Bahkan, setelah kejadian ini K justru lebih dekat denganku. Dia tak pernah sungkan untuk bercerita hal-hal kecil kepadaku.

"Bu, tadi aku sarapan sama tempe."

"Bu, aku dihukum sama ibu karena uangnya kubuat jajan semua."

Alhamdulillah, hepi rasanya kalau K jadi demikian. Itu tandanya aku berhasil mengalahkan egoku sendiri. Tidak mudah jadi orang yang netral. Dan gara-gara jadi guru, aku bisa belajar hal itu. Bagaimanapun anak didikku, mereka punya hak yang sama atas diriku.
Catatan penting dalam kejadian ini, sangat disayangkan apabila kemudian masalah ini dibuat status WhatsApp yang bisa dibaca oleh siapapun. Toh, kita belum tahu duduk permasalahannya seperti apa. Selidiki dulu, yuk! Pikiran yang slow harus kita gunakan. Lha aku juga sampai terbawa emosi. Meskipun mereka bukan anak kandungku, akupun berhak untuk membela mereka. Apalagi tidak ada bukti.

Maklum kalau setiap orangtua ingin membela anak. Akan tetapi, kita harus tahu, selain bersama kita, mereka juga bergaul dengan lingkungan sekitar yang tidak bisa selalu dalam pengawasan kita. Luangkan tempat, walau sedikit dalam hati dan pikiran kita untuk menampung kabar dari orang lain. Asal nggak baper.

Mari saling mengerti! Mungkin orangtua K khilaf saat itu. Lagi banyak masalah atau hormon ibu hamil yang sedang meluap-luap. Kuanggap tak ada apa-apa. Semua akan baik-baik saja dan selamat datang pelajaran hidup yang baru