2018 - Diyanika Journal

Monday, 5 November 2018

Pengalaman Membeli Tiket Pesawat Dengan PayLater Traveloka

November 05, 2018 0
Pengalaman Membeli Tiket Pesawat Dengan PayLater Traveloka

Semenjak adanya fitur baru dari Traveloka yang bernama Paylater, membeli tiket pesawat sudah tidak lagi sama. Jika dahulu kita harus memiliki uang terlebih dahulu sebelum membeli tiket, kini kita tak harus membayar di awal. Kita bisa membayarnya di bulan berikutnya, bahkan bisa dijadikan cicilan sampai dengan satu tahun. Enak, bukan?

Fitur ini akan mengakomodasi liburan kita menjadi semakin mudah dan menyenangkan, tanpa merasa berat di kemudian hari. Buat kamu yang masih bingung tentang cara penggunaannya, berikut ini aku sajikan khusus pengalaman membeli tiket pesawat dengan Paylater Traveloka.

Aktifkan akun paylater kamu


Untuk mengaktifkan akun paylater traveloka, kamu hanya perlu mengisi data diri serta menyiapkan kartu identitas asli saat proses verifikasi. Masuklah ke menu paylater, dan ikuti petunjuk yang ada dalam menu tersebut. Tak perlu takut data kamu akan disalahgunakan, karena paylater traveloka adalah metode pembayaran resmi yang diawasi langsung oleh OJK. Verifikasi akun hanya akan membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam setelah pendaftaran.

Pilih tiket pesawat yang kamu inginkan

Setelah akunmu terverifikasi, kamu sudah bisa langsung menggunakannya. Pilihlah tiket pesawat yang hendak kamu beli. Bagaimana kalau liburan akhir tahun ini liburan sekitar Asia, mumpung ‘dibayarin dulu’ sama Traveloka. Masukkan bandara keberangkatan, bandara tujuan, dan tanggal keberangkatan yang kamu pilih. Setelah itu, pilih maskapai yang sesuai dan isi data penumpang. Sama seperti saat melakukan pembelian tiket pesawat pada umumnya. 

Ubah metode pembayaran dengan paylater


Pada saat pemilihan metode pembayaran, pilih metode pembayaran dengan klik tombol paylater yang ada di layar ponselmu.

Pilih jumlah cicilan yang kamu inginkan


Karena Paylater Traveloka adalah salah satu terobosan baru dalam hal cicilan. Kamu bisa cicil tiket pesawat tanpa kartu kredit lho. Di menu tersebut, kamu bisa memilih jumlah cicilan yang sesuai dengan budget kamu. Cicilan ini bisa dimulai dari 1 bulan hingga 12 bulan lamanya, namun dengan syarat minimal cicilan per bulan adalah Rp. 100.000. Untuk pilihan cicilan 1 sampai dengan 3 bulan, kamu tidak akan dikenakan bunga sepeserpun. 

Klik Bayar dengan paylater


Setelah proses di atas, kamu tinggal klik bayar dengan paylater pada menu bagian bawah aplikasi kamu. Kamu akan mendapatkan password OTP yang menjamin keamanan ordermu. Setelah memasukkan OTP, kode booking tiket pesawatmu akan dikirimkan via email beberapa saat kemudian. Mudah bukan?

Keuntungan lain jika menggunakan paylater traveloka adalah kamu akan mendapatkan diskon khusus yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan membayar normal. Terlebih lagi, tak hanya tiket pesawat yang bisa dibayar menggunakan fitur baru ini. Kamu juga bisa membeli tiket kereta, booking hotel, tiket bus, dan juga tiket tempat wisata yang ada di Traveloka. Jadi, yuk jalan-jalan sekarang dan bayar nanti hanya di paylater traveloka.

Wednesday, 31 October 2018

Jadi Guru Kelas 1 SD itu Seru

October 31, 2018 1
Jadi Guru Kelas 1 SD itu Seru


Apa yang ada di benak kamu saat muncul kata ‘guru kelas 1 SD’? Perempuan, penyabar dan sepuh? Ternyata tidak selalu seperti itu lho.

Tahun ini adalah tahun ketiga aku menjadi guru kelas 1 SD. Rasanya? Seru banget. Ada saja cerita yang ingin kutiliskan di sini. Terutama tentang tuntutan multitalenta seorang guru kelas 1 SD. Apa saja itu?

#Tukang Sisir
Berbaris adalah kegiatan di pagi hari yang selalu jadi favoritku. Karena saat kegiatan ini, taringku pasti keluar. Mak lampir datang. Heeeeh...eh...eh...eh...eh...

“Bajunya yang masih di luar dimasukkan dulu.”

“Tali sepatu, dilihat!”

“Yang pakai jilbab, ayo, dimasukkan rambutnya yang masih kelihatan.”

“Rizki, rambutmu besok dipotong ya, sudah kena telinga itu. Biar tambah ganteng gitu lho.”

“Belakang, belakang, kalau tidak bisa lurus tidak usah masuk saja.”

Saat mataku mengamati satu per satu, ”Alya, kamu tidak menyisir rambutmu lagi?”

Yang dipanggil namanya hanya nyengir dan berdalih takut terlambat. Tidak hanya Alya, seringnya malah anak laki-laki yang tidak menyisir rambutnya. Setelah kusisir, mereka hanya cengar-cengir. Ini sebenarnya mereka sengaja atau bagaimana? Andai saja nanti kalau mereka sudah kenal rasa ‘suka’, berapa kali sehari mereka akan menyisir rambut? Sekarang sih masih polos, sebentar lagi?

#Penjual Pensil
“Sudah puas bermain? Yuk, kita lemaskan juga jari kita dengan menggambar.”

Di tengah asyiknya menggambar, berkelilinglah aku. “Puji, kok masih kosong bukunya?”

“Tidak punya pensil, Bu.”

Kasus tidak punya pensil, pensil ketinggalan, atau pensil hilang ini menjadi makananku setiap hari. Bahkan sering juga wali murid yang cerita kalau sebenarnya dari rumah sudah bawa pensil dua, eh, di kelas hilang, dsb.


“Kalau tidak bawa atau tidak punya pensil, pinjamlah ke teman. Atau Bu Ika jualan pensil saja di kelas?”

Apa yang mereka lakukan saat mendengar perkataanku di atas?

“Hahahaha”

Mereka itu keterlaluan banget ndableknya. Tapi, sangat menggemaskan. Sehari saja aku tak jumpa, rasanya rindu.

#Dokter Idaman
“Aku mau disuntik Bu Ika saja." rengek Syifa saat ada imunisasi campak. Saat itu aku memang berpura-pura pegang jarum suntik dan memeluknya dengan erat.

"Kalau takut, jarumnya tidak usah dilihat, Syifa. Siap ya, Bu Ika suntik." dia mengangguk dan seketika petugas langsung menyuntiknya.

Berbeda lagi dengan Greva. Muridku yang gendut dan berkulit sawo matang ini langsung memelukku dengan erat saat petugas kesehatan kecamatan setempat hendak mengimunisasinya.

"Greva takut?" (badan boleh gede, kalau di kelas paling heboh, tapi namanya anak-anak lihat jarum suntik kayak kerupuk masuk kuah bakso, mlempem)

Kalau boleh jujur, saat ada jadwal imunisasi (biasanya 2 kali dalam setahun), aku pun ketar-ketir. Kenapa? Aku takut muridku banyak yang menangis atau memberontak. Dulu ada lho yang sembunyi di rak buku, masuk lemari, disuntik malah ngajak berantem, nendang perutku, dan macam-macam reaksinya.

Sudah, sudah kuberi pengertian pastinya saat hendak diimunisasi. Ditambah lagi penjelasan dari petugas kesehatan yang datang. Tapi, yang paling menyebalkan adalah seringkali muridku dapat kabar bocor dari kakak kelas kalau esok hari akan ada imunisasi. Alhasil, esok harinya nggak berangkat. Atau berangkat tapi pakai acara rewel minta ditunggui ibunya. Ini nyebelin banget.


Jadi, kalau ada jadwal imunisasi, aku meminta semua teman sejawat untuk meng-keep kabar tersebut. Alhamdulillah, tahun ini sukses. Nggak ada yang menangis sama sekali. Kelas sebelah pada teriak-teriak tuh. Murid Bu Ika mah jempol.

#Satpam Keliling
Namanya anak-anak, kalau sudah telanjur istirahat, inginnya main terus. Giliran sudah bel masuk, mereka ogah berbaris dan masuk kelas. Kadang ada juga yang sudah dengar bel berbunyi malah tenang-tenang saja di kantin. Alhasil, saat sudah masuk semua dan, "Siapa yang belum ada?"

"Faza, Bu."

Lari deh ke kantin, menyisir ke kamar mandi, tempat parkir, kalau semua tidak ada? Larinya ke grup WhatsApp wali murid. Tanya deh ke wali murid, apakah anak mereka pulang? Ternyata, iya.

Ada yang pulang ke rumah karena pengen pup-lah, uangnya habis, sampai ada yang hanya mau mengadu karena giginya copot. ((gerbang sekolahku nggak lengkap euy, anak-anak bisa kabur kapan saja :( terutama saat jam istirahat))

Tarik napas. Lega. Sering banget seperti itu, keliling sekolahan, keringat mengucur di dahi, baju bagian punggung basah. Tapi, kok ya nggak kurus-kurus ya aku ini.

#Tukang Cebok
Pelajaran sedang berlangsung. Muridku sedang asyik menggambar lambang dalam sila Pancasila. Berkelilinglah aku menengok hasil kerja mereka. Semakin ke belakang, kok seperti ada bau yang tak asing. Aku mulai curiga.

"Bu, kok seperti ada bau sepiteng ya?" tanya salah satu muridku yang duduk di belakang.

Mulai ada yang curiga nih.

Tak ada yang mengaku. Aku mencurigai murid laki-laki yang duduk paling depan. Tak biasanya dia bertingkah aneh. Akan tetapi, teman yang lainnya menuduh temannya yang duduk di belakang (mengira sumber bau dari belakang). Bahkan, ada anak yang dengan sigap mencium pantat anak tersebut.

"Nggak bau kok, Bu."

Berarti benar dugaanku.

"Kenapa harus pup di dalam celana. Apakah Bu Ika menakutkan? Kalaupun kamu mau pup, pasti bu guru tunggu sampai kamu kembali baru kemudian lanjut menggambar lagi."

Sebagai guru aku pasti kecewa. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku malah lebih senang kalau ada yang jujur, "Bu, aku nggak bisa cebok." Setelah itu kuceramahi deh orangtuanya. Hahaha. Lain kesempatan, saat dia pup lagi sudah bisa sendiri.

Tahun lalu ada anak perempuan yang pup di pojok kelas. Tahun ini malah anak laki-laki yang pup di celana. Berasa gagal deh jadi guru.

#Wasit Paling Cantik
Anak-anak kelas 1 SD itu hobi banget bertengkar. Perkaranya sepele, seperti diejek temannya lah, tasnya kesenggol dikit, pensilnya direbut temannya, ada teman belakangnya pinjam penghapus nggak bilang, dll. Ujung-ujungnya nangis atau teriak-teriak nggak jelas, kemudian ngadu, "Bu Guru si ini nakal."

Kalau dipikir pakai nalar orang dewasa, ini apaan sih? Tapi, inilah anak-anak. Aku harus jadi anak-anak juga untuk menyelesaikannya.



Kudatangi mereka, bicara baik-baik (tatap mata mereka dengan posisi mata sejajar alias merendahkan tubuh di hadapan mereka), maaf-maafan, berpelukan, kelar, mereka ketawa-ketiwi lagi. Sesimpel itu.

#Pelatih Handal
Sebutan ini berlaku sejak di kelasku pakai kurikulum 2013. Karena PJOK kan gabung dalam satu tema dan guru PJOKnya agak errrr... Nanti kalau urusan rapotan aku suruh mengarang sendiri nilainya. Duh, duh, duh. Mendingan aku ajar sendiri deh murid-muridku.

Materi PJOK anak kelas 1 SD kan ya nggak berat-berat banget. Misalnya, lempar bola dari berbagai arah, berjalan di titian, bergelantungan, berjalan berurutan, berjalan lurus sambil berkelompok, sampai guling ke depan.

Nah, untuk kegiatan yang terakhir, aku punya cerita lucu. Kegiatan guling ke depan itu kan dilakukan di kelas. Tentu aku harus memberi contoh terlebih dahulu ya.

Dengan semangat yang membara, kuangkat pantatku dan bruuukk. Pantatku mendarat tidak sempurna. Aku bagaikan gajah yang duduk terbengong-bengong. Muridku melongo, takut aku kenapa-kenapa.

"Hahahahaha...Bu Ika kan kayak gajah, jadi susah berguling. Maaf ya hahaha..."

Murid-muridku ikut tertawa. Alamaaak, ternyata matras yang kupakai untuk berguling tak seempuk bayanganku. Kalau dipakai anak-anak sih masih oke. Nah, aku? Benar-benar gajah berguling yang gagal total.

Cool gray surface pink side air tumble track

Cool gray surface pink side air tumble track

Pas lagi asyik download video untuk materi pelajaran esok hari, kulihat iklan di Youtube tentang air track hire kok tergiur. Bentuknya tipis tapi bisa mental gitu kalau dipakai. Jenisnya juga banyak, salah satunya air track tumbling mat. Seru ya kalau di rumah punya sendiri. Bisa untuk main bersama Kak Ghifa yang suka jumpalitan juga. Terlebih lagi bisa dipakai saat di air. Mumpung ada airtrack mat for sale juga. Ah, bisa usul nih kepada kepala sekolah kalau mau beli semacam matras pakai merek ini saja. Biar nggak kejadian sepertiku. Gajah yang oleng.

#Pelukis Amatiran
Sejelek-jeleknya gambar yang kuhasilkan di papan tulis, mereka pasti bilang, "Wah, baguuuuus, Bu." ((Mata mereka langsung keluar love love-nya))

Padahal, aku nyontek di Google. Aku kan nggak jago-jago amat menggambar. Tapi, karena menjadi guru kelas 1 SD, aku dituntut harus mau belajar menggambar. Ternyata, aku berhasil. Berhasil membohongi mereka, karena sesungguhnya gurunya adalah pelukis amatiran. Hihi.

Bagaimana, seru kan jadi guru kelas 1 SD itu? Kalau misalnya kamu ada tawaran untuk menjadi wali kelas 1 SD, hajar saja! Kita patahkan tradisi kalau guru kelas 1 SD itu harus perempuan, sepuh dan penyabar. Karena semua bisa dipelajari.

Menjadi guru kelas 1 SD itu intinya harus paham karakteristik siswa, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, sajikan media pembelajaran yang konkret dan siapkan stok sabar. Yah, ada kalanya harus bertingkah seperti anak-anak juga agar kelas semakin hidup. Satu lagi, jangan jadi guru yang jaim sama anak didik.



Salam,
Diyanika-Guru Kelas 1 SD.

Thursday, 25 October 2018

Tips Ngeblog: Membuat Subdomain Keren untuk Pemula

October 25, 2018 30
Tips Ngeblog: Membuat Subdomain Keren untuk Pemula


Tips ngeblog: membuat subdomain keren untuk pemula - Di tengah kesibukan mengajar dan mempersiapkan tes CPNS, Allah menyelipkan kebahagiaan tersendiri kepadaku. Yaitu, trafik blog yang tetap bagus. Malah bisa kusebut lebih bagus dari bulan sebelumnya.

Sebulan terakhir ini aku memang menyempatkan diri untuk ikutan grup blogwalking. Alhamdulillah manfaatnya ke trafik blog sudah terlihat. Saat blogwalking itulah, aku mendapat ilmu baru tentang subdomain. Aku penasaran sama manfaat menggunakan subdomain untuk mendongkrak trafik blog. Oleh karena itu, aku mencoba mempelajarinya dan aku share di sini ya.

Subdomain itu apa?

Kalau domain kamu sudah tahu, bukan? Seperti milikku ini diyanika.com, inilah domain. Lebih mudahnya aku sebut alamat blog yang berbayar.

Ada yang berbayar, ada juga yang gratis, seperti saat pertama kali aku membuat blog ini dengan alamat ichaituika.blogspot.com (inilah yang disebut subdomain). Dari ichaituika.blogspot.com kita uraikan demikian, blogspot.com itu domain utamanya, sedangkan ichaituika.blogspot.com-nya itu adalah sub domain.

Subdomain ini sering digunakan dengan berbagai tujuan. Diantaranya:
  1. Untuk mengkategorikan artikel, misalnya: sport.detik.com (untuk kategori olahraga) dan inet.detik.com (untuk kategori teknologi)
  2. Untuk memberikan tampilan tertentu, misalnya: m.facebook.com (untuk tampilan mobile Facebook) dan mobile.twitter.com (untuk tampilan mobile Twitter)
  3. Untuk menjangkau daerah tertentu, misalnya: jogja.tribunnews.com (untuk mewakili daerah Jogja) dan id.yahoo.com (untuk negara Indonesia)
  4. Untuk penggunaan bahasa tertentu, misalnya: id.wikipedia.org untuk penggunaan Bahasa Indonesia

Itulah beberapa tujuan dari penggunaan subdomain yang kupelajari dari internet. Nah, kalau mau buat subdomain keren untuk blog kamu juga bisa lho. Apalagi untuk bloger yang sudah professional. Tidak ada salahnya kalau mulai sekarang melirik penggunaan subdomain ini.

Bagaimana cara membuatnya?

Subdomain keren bisa kita buat apabila sudah punya domain terlebih dahulu. Kalau belum punya domain, kita bisa menggunakan jasa dari IDwebhostcom dan coba ikuti langkah-langkah sebagai berikut.

Panduan Membuat Subdomain Keren untuk Startup dan Bloger Profesional


Sebelum kita membuat subdomain keren, maka kita harus menambahkan terlebih dahulu subdomain di cPanel akun hosting kita. Di sini masuk ke cPanel dan pilih menu add subdomain. Kemudian, pilih nama subdomain yang ingin kita buat. Jika subdomain itu sudah tersedia, kini saatnya kita kelola dengan baik.

Tahap #1: Pilih Nama Subdomain yang Tepat

Kita bisa membuat subdomain keren sesuai keinginan kita. Akan tetapi, kita juga harus memperhatikan nama subdomain tersebut. Karena subdomain sama saja dengan nama kita di dunia maya. Jangan sampai kalau kita salah pilih nama, malah merusak branding yang sudah kita bangun selama ini! Usahakan pilih nama subdomain yang tidak lekang oleh waktu.

Tahap #2: Berikan Fitur dan Tema yang Bagus

Subdomain keren juga bisa kita ciptakan dengan memperhatikan tentang penggunaan widget, menu, background dan juga tema yang tepat. Tunjukkanlah kalau subdomain itu adalah web yang mencerminkan situs utama yang kita miliki. Jangan sampai malah bertolak belakang, karena subdomain ini kita buat untuk mendukung web utama kita. Pokoknya pilih tampilan yang rapi, bersih dan background yang clean agar mata pengunjung betah saat berkunjung.


Tahap #3: Berikan Backlink Menuju Situs Utama

Salah satu tujuan utama membuat subdomain keren adalah untuk meningkatkan trafik blog kita. Nah, bagaimana caranya? Cantumkan link di sana yang mengarah ke blog utama kita. Tentu trafik blog kita tidak langsung kemudian naik drastis. Semua tetap butuh proses dan waktu. Kunci utamanya adalah telaten dan konsisten. Kira-kira, kamu sanggup tidak?

Tahap #4: Tunjukkan Bahwa Subdomain pun Tak Kalah Canggih dengan Situs Utama

Ketika membuat subdomain, kita harus bertekad meskipun gratisan tapi kemasannya jangan sampai kalah jauh dengan blog utama kita. Alangkah lebih baiknya kalau kita bisa menambah fitur Live Chat agar bisa terjalin komunikasi atau interaksi antara pengunjung dan pemiliknya. Fitur lain yang bisa kita sematkan adalah deskripsi mengenai apa situs kita dan fungsinya. Kemudian, jangan lupa sertakan juga kontak yang bisa dihubungi.

Tips Memilih Nama Untuk Subdomain

Nama subdomain keren akan berpengaruh dengan popularitas blog kita. Jadi, usahakan memilih nama subdomain dengan tepat.

Tips pertama, pilihlah nama subdomain sesuai kegunaan blog kita. 

Tips kedua, terkait pembuatan nama untuk subdomain keren, kita juga harus mempertimbangkan pilihan nama domain yang benar-benar sesuai kebutuhan. Jadi, jangan membuat URL terlalu panjang. Karena URL yang terlalu panjang, akan membuat pengunjung kesulitan menghapalkannya.


Tips ketiga, memilih nama subdomain yang tidak lekang oleh waktu


Kesimpulan


Untuk bisa membuat sebuah subdomain keren memang perlu usaha yang nyata. Meskipun gratis dan bukan blog utama, sebaiknya diurus dengan semaksimal mungkin agar bisa memberikan manfaat. Salah satunya menaikkan trafik blog kita. Karena saat kita mampu membangun subdomain ini dengan benar, maka situs ini akan dengan mudah terindex di mesin pencari Google. Pemilihan nama yang tepat juga menjadi solusi efektif saat ada orang yang memasukkan kata kunci tertentu di mesin pencari, mereka akan bisa menemukan hasil di blog kita. Satu hal yang pasti, subdomain juga tak boleh diremehkan karena keberadaannya tak kalah pentingnya. 

Thursday, 11 October 2018

Tabungan Berencana Saja Tidak Cukup

October 11, 2018 30
Tabungan Berencana Saja Tidak Cukup

Aku dan abi memiliki perbedaan usia sekitar sepuluh tahun. Setelah ada Kak Ghifa, barulah aku sadar ternyata pilihanku menikah dengan abi memiliki banyak resiko. Salah satunya adalah nasib anakku nanti. Bukan aku menyepelekan rezeki dari Allah atau aku tidak percaya akan rezeki anakku. Tidak ada salahnya bukan kalau aku mawas diri sejak dini?

via Depositephotos

Kubayangkan, saat anakku masuk kuliah, kira-kira lima belas tahun yang akan datang, berarti suamiku sudah berusia lebih dari lima puluh tahun. Dalam usia segitu, tentu suamiku tidak lagi se-produktif sekarang. Bagaimana kalau aku menuruti nasihat seorang teman yang mengatakan demikian?

Aku nggak ada tabungan sama sekali untuk pendidikan anak-anakku. Percaya saja nanti ada rezeki anak yang diberikan sama Allah.

Aku percaya betul akan ada rezeki Allah. Akan tetapi, terselip rasa ragu kalau aku juga memiliki prinsip seperti di atas. Keadaan keluarganya jelas berbeda dengan keluarga kecilku.

Apalagi aku pernah menyaksikan sendiri bagaimana kedua orangtuaku berjuang mati-matian mencari dana pendidikan untukku. Dari situlah aku belajar bahwa memiliki rencana sejak dini itu lebih baik dibandingkan suatu hari berhutang atau menjual harta satu-satunya yang kumiliki.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku dan abi membuka tabungan berencana untuk pendidikan Kak Ghifa dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan. Tabungan ini sudah berjalan satu tahun terakhir. Perhitungannya sebagai berikut.

Misal, per bulan 200 ribu

Satu tahun berarti 200 ribu x 12 bulan= 2.400.000 dengan bunga per tahun kisaran 4%

Sepuluh tahun kurang lebih jadi 25.000.000

Lumayan, bukan?

Kami sadar penghasilan kami belum seberapa. Karena sudah tekad, demi masa depan anak yang lebih baik lagi, ya bismillah. Aku dan abi berjuang sangat keras. Berusaha hidup lebih irit lagi. 

Kami sepakat fee menulisku harus masuk ke tabungan berencana ini. Akan tetapi, jasa menulisku kan tidak selalu lancar. Terkadang fee menulis baru cair sebulan kemudian. Nah, kupilih tabungan berencana dengan potongan otomatis. Misalnya, bulan lalu aku tidak ada fee menulis, otomatis tidak ada yang dipotong, bulan ini kalau ada fee yang cair bisa dipotong double. Pokoknya kalau ada fee menulis yang cair, aku langsung tujukan ke tabungan berencana ini. Sisanya bisa kupakai untuk membeli buku atau untuk kepentingan lainnya.

Awalnya memang ragu, ah, apakah bisa mengalokasikan uang untuk tabungan berencana ini? Ternyata bisa. Semua memang harus berawal dengan niat, disiplin dan harus konsisten.
Foto bersama dengan Presdir MAMI

Sudah tenang ada tabungan berencana, eh, waktu ikut Kopdar Investarian bersama Reksa Dana Manulife (30/10/2018), Pak Legowo Kusumonugroho, Presdir dari Manulife Asset Management (MAMI), membuatku sadar ternyata memiliki tabungan berencana saja belum cukup untuk membuat masa depanku tenang.

Bertempat di kantor PT. Asuransi Jiwa Manulife yang beralamatkan di Jalan Pandanaran nomor 16, Randusari, Semarang ini, Pak Legowo mengibaratkan kondisi keuangan kita saat ini dan dua puluh tahun yang lalu. Dua puluh tahun yang lalu, harga ayam goreng sekitar 2.500. Sekarang? Harga ayam goreng bisa mencapai 25.000.

Ini gambaran inflasi pada ayam goreng. Artinya setiap tahun, inflasi ayam goreng sebesar 40%

Aku tertegun, iya juga ya? Itu baru ayam goreng, bagaimana dengan inflasi pendidikan yang setiap tahun mencapai 15% dan kesehatan sebesar 18%? Benar adanya kalau banyak yang bilang inflasi itu adalah perampok yang kejam dan kita tak sadar akan hal itu.

Kemudian aku mikir tentang tabungan berencana yang kumiliki. Saat ini uang 25.000.000 tentu masih terhitung banyak. Bagaimana dengan lima belas tahun yang akan datang? Apakah masih cukup saat uang itu kujadikan uang pangkal Kak Ghifa masuk kuliah? Atau malah tergerus dengan inflasi?


Kira-kira, tabungan Anda ada di bagan yang mana? tanya Pak Legowo

Bagan di atas menggambarkan posisi tabungan kita yang dirampok oleh inflasi. Paling kiri, ibaratkan itu adalah tabungan kita di celengan. Bagan tengah, ibaratkan itu tabungan kita berupa deposito atau tabungan berencana. Paling kanan, itu gambaran tabungan kita berupa investasi Reksa Dana.

Agar kamu juga tambah paham, kuscreenshootkan slide yang ditampilkan Pak Legowo berikut ini.

Inflasi harga daging saat ini dan tabungan kita

Aku melongo melihat tabel tersebut. Jawaban atas tabungan berencanaku jelas terjawab dari tabel di atas. Dua puluh lima juta rupiah di sepuluh tahun yang akan datang jelas tidak bisa kujadikan uang pangkal untuk kuliah Kak Ghifa nanti. Nilai uang itu dirampok oleh inflasi selama sepuluh tahun ke depan.

Kemudian, bagaimana?

Kalau mau tabungan kita berkembang dan tidak kalah dengan inflasi, salah satu caranya dengan menginvestasikan uang kita dalam bentuk Reksa Dana Manulife. Salah satu dari tujuh jenis investasi Reksa Dana Manulife ini, sebut saja Reksa Dana Pasar Uang, bahkan bisa dimulai dari uang 10.000. Punya kan ya kalau uang segitu?

Ada beberapa kelebihan investasi Reksa Dana yang bisa kita perhitungkan, diantaranya:
  1. Naik turunnya stabil
  2. Tidak ada pajak
  3. Banyak pilihan
  4. Aman
  5. Bisa beli dan dicairkan kapan saja
  6. Jangka waktu investasi beragam, pendek, menengah, panjang juga ada

Aku jadi ingat tiga tahun lalu punya rekening investasi Reksa Dana Manulife ini. Setelah mendengar sharing Pak Legowo, aku jadi ingin me-reaktifkan nomor rekeningku dan mengalihkan tabungan berencana Kak Ghifa ke investasi Reksa Dana. Orangtua mana sih yang tak ingin anaknya memiliki pendidikan yang tinggi? Semoga rezeki Kak Ghifa bisa sekolah tinggi. Aamiin.

Aku begitu yakin dengan MAMI, karena sudah sembilan belas tahun beroperasi di Indonesia. Dalam empat tahun terakhir juga sudah menggondol tiga puluh lima penghargaan. Apalagi dana yang dikelola saat ini mencapai enam puluh tujuh triliun. Itu uang semua lho ya, bukan daun.

Kalau kamu mau ikut investasi Reksa Dana Manulife, siapkan saja data diri, nomor rekening bank dan juga KTP. Agar lebih jelas, kamu  juga bisa tanya-tanya langsung ke https://www.klikmami.com dan live chat bersama LANI. Santai, pelayanan MAMI ini tujuh hari non stop, mulai pukul 08.00 - 22.00 WIB. Mau pelayanan yang cepat juga bisa tanya-tanya lewat email di bawah ini ya.



Postingan ini insya Allah akan ada lanjutannya lagi. Akan kuceritakan juga bagaimana proses reaktifnya nomor rekening Reksa Dana Manulife-ku, nanti.

Nah, kira-kira, kamu tertarik tidak dengan investasi Reksa Dana ini? Jangan-jangan kamu malah sudah jadi investariannya sejak lama? Atau mau bertahan dengan investasi emas, tabungan berencana, properti, atau saham?

Saturday, 29 September 2018

10 Hal yang Kupelajari dari Pelatihan Guru Menulis Bertema Sagu Sabu

September 29, 2018 28
10 Hal yang Kupelajari dari Pelatihan Guru Menulis Bertema Sagu Sabu

Awal Agustus lalu, aku seperti mendapat angin segar. Akhirnya, di Grobogan ada pelatihan menulis untuk guru yang didukung penuh oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan. Walaupun biayanya senilai gajiku sebulan, malah tombok lima puluh ribu, hihi, kubulatkan tekad untuk izin dua hari tidak mengajar.

suasana pelatihan 

Pelatihan ini dilaksanakan selama dua hari dan diikuti hampir dua ratus guru. Bahkan beberapa peserta datang dari luar Kabupaten Grobogan. Luar biasa semangat guru-guru ini.

Bertempat di Hotel Kyriad Grand Master Purwodadi, apa yang kudapatkan dari pelatihan menulis sagu sabu (satu guru satu buku) ini?

1. Guru berprestasi itu harus punya buku. Apapun genre bukunya asal menggunakan nama asli sesuai KTP dan ber-ISBN. Tentu ini konteksnya untuk guru PNS. Saat ini aku memang masih guru honorer. Paling tidak, setelah ikut pelatihan ini aku sudah punya modal pengetahuan dulu. Siapa tahu rezekiku? Eh, diangkat jadi PNS dan suatu hari jadi guru berprestasi. Akan tetapi, poin penting saat ini adalah aku harus punya buku solo dulu. Perkara jadi PNS atau tidak, itu urusan Allah.

2. Buku jadi salah satu senjata ampuh bagi guru PNS untuk kenaikan pangkat. Setiap kali mengusulkan kenaikan pangkat, ada poin tertentu yang harus dilampaui seorang guru. Nah, buku ini jadi salah satu penyumbang poin tersebut.

3. Banyak guru berprestasi yang sering gagal di kancah lomba guru berprestasi nasional karena tidak punya karya, yaitu buku.

4. Sebelum mau menulis tentang apa, kenali dulu 33 jenis buku. Diantaranya: buku mata pelajaran, buku pengayaan, buku referensi, kamus, ensiklopedia, buku TTS, autobiografi, biografi, memoar, novelet, novel fiksi, novel faksi, buku kumpulan puisi, buku kumpulan cerpen, buku kuliner, buku cerita rakyat, asal usul daerah, buku cerita anak, buku media pembelajaran, buku how to, komik pembelajaran, buku catatan harian, buku religi, buku sejarah, buku fotografi, kumpulan status media sosial, buku pprofil sekolah, buku tentang pendidikan inklusi, buku sekolah vokasi, buku saduran, buku kumpulan soal, buku saku, buku parenting, kumpulan opini, dan buku politik.

5. Buatlah mind mapping dari buku yang akan kita tulis agar lebih terarah.

6. Menulislah. Pokoknya tulis saja, jangan mikir salah dulu. Karena nanti akan ada tim editor. Saat proses menulis ini, saranku, modali diri dengan pengetahuan EBI walau sangat minim.

7. Setelah selesai menulis, baca ulang, lakukan editing semaksimal mungkin.

8. Sebelum mengirim ke penerbit, lengkapi naskah buku kita dengan beberapa poin di bawah ini dan jangan lupa digabung dalam satu file
  • Halaman judul
  • Sekapur sirih/prakata
  • Kata pengantar(optional)
  • Daftar isi
  • Isi buku
  • Daftar pustaka (optional)
  • Profil penulis )berbetuk narasi/paragraf dan disertai foto)
  • Sinopsis


9. Pilih penerbit yang melayani self publising. Saranku, sesuaikan biayanya dengan kantong kita. Karena untuk guru yang penting buku itu terbit, ber-ISBN, maka sudah bisa dijadikan sebagai poin kenaikan pangkat.

10. Promosikan bukumu sendiri. Baik itu ke sesama guru penulis, teman sejawat, keluarga, wali murid, atau bisa disumbangkan ke almamater.

Dari sembilan hal di atas, alhamdulillah sudah kupahami selama ini. Poin terpenting dari pelatihan sagu sabu ini adalah soal niat, tekad yang kuat, dan konsistensi dalam menulis buku.

Jujur, godaan saat mau memulai itu begitu dahsyat. Inilah tantangan yang harus dilewati. Karena untuk naik tingkat sebagai guru penulis kita harus benar-benar siap.



Nah, kalau di daerahmu ada pelatihan serupa, jangan ragu untuk ikutan! Pastikan kamu mendapat pengetahuan, pengalaman, dan teman baru.

Yuk, guru-guru di Indonesia, kita menulis! Aku juga sedang berjuang nih menyelesaikan buku soloku. Biar nggak terasa berat, yuk, berjuang bersama-sama!

Friday, 28 September 2018

Cegah Stunting dengan Kebiasaan CTPS di Sekolah

September 28, 2018 44
Cegah Stunting dengan Kebiasaan CTPS di Sekolah

Menurut dr Atmarita, MPH, cuci tangan pakai sabun dapat mengurangi risiko stunting hingga 15%*


Setelah kamu membaca judul dan kutipan di atas? Apa yang muncul dalam benakmu? Apakah pertanyaan berikut?

Apa kaitan antara CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) dengan stunting?

Infografis ini kubuat dengan canva.com

Dari infografis di atas dapat dijelaskan kaitan antara stunting dan CTPS adalah apabila seorang anak rajin mencuci tangan, maka dia bisa menurunkan risiko diare. Apabila dia tidak diare, maka gizi yang dikonsumsinya dapat diserap dengan baik oleh tubuh sehingga menurunkan risiko stunting.

***

Orang awam sering mengartikan stunting adalah keadaan kerdil atau lebih pendek dibandingkan orang lain yang seumurannya. Secara rinci, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi**.

Stunting bisa terjadi saat janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Akan tetapi, intervensi gizi saja belum cukup untuk mengatasi masalah stunting. Karena faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan juga berpengaruh untuk kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak.

Aku sudah CTPS, tanganku bersih, aku bebas dari stunting

Dari sisi faktor sanitasi, cuci tangan pakai sabun (CTPS) menjadi salah satu solusi paling sepele yang bisa dilakukan setiap orang untuk pencegahan stunting. Mengapa dianggap sepele? Karena mudah dilakukan, masyarakat tahu akan pentingnya cuci tangan, tapi sering diabaikan.

Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2 persen, meningkat dari tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Artinya, pertumbuhan tak maksimal diderita oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau satu dari tiga anak Indonesia. Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%).***

Membaca hasil riset di atas, bukankah keadaan Indonesia sangat memprihatinkan? Saat ini memang belum terasa. Akan tetapi, apabila anak-anak Indonesia mengalami stunting, otomatis memiliki kemampuan kognitif yang rendah, dan tentu ke depannya akan mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang bagi Indonesia. Oleh karena itu, kenapa tidak kita biasakan CTPS di lingkungan kita untuk membantu kemajuan Indonesia Sehat dengan cara yang paling mudah?


Terima kasih PAMSIMAS

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) adalah salah satu program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia, program ini dilaksanakan di wilayah perdesaan dan pinggiran kota sejak tahun 2008. Karena menuai kesuksesan, PAMSIMAS menjadi salah satu program andalan nasional (Pemerintah dan Pemerintah Daerah) untuk meningkatkan akses penduduk perdesaan terhadap fasilitas air minum dan sanitasi yang layak dengan pendekatan berbasis masyarakat.

Dua kamar kecil dari PAMSIMAS

"Selamat, Bu Ika, harapan njenengan untuk punya wastafel di kelas akan terkabulkan." 

Aku bahagia sekali saat guru senior memberitahu kalau sekolah kami akan mendapat sumbangan dua kamar kecil dan enam wastafel dari PAMSIMAS. Selama ini aku memang sering mengeluh kepada teman sejawat ataupun pimpinan untuk dibuatkan kran di beberapa titik. Akan tetapi, karena dana sekolah sering kekurangan, akhirnya aku pendam saja keinginan itu.

Bagiku, keberadaan tempat cuci tangan di sekolah itu sangat perlu. Apalagi untuk anak SD. Aku yang tiga tahun ini mengajar di kelas 1 SD, mengaku sangat butuh. Terlebih lagi untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013. Pada pembelajaran ini anak-anak sering sekali membuat keterampilan seperti menggunting, menempel berbagai benda, plastisin, figura dari bubur koran, finger dan hand painting, membuat gantungan kunci, dsb. Semua keterampilan tersebut tentu membuat tangan anak-anak kotor dengan bahan yang digunakan. Belum lagi kalau mereka jajan sembarangan. Bukankah kuman itu ada di mana-mana?

Sebelum ada wastafel, pagi-pagi sebelum masuk kelas, aku selalu berinisiatif menyediakan ember besar berisi air di depan kelas. Saat selesai pembelajaran, satu per satu mereka akan antre mencuci tangan. Apa yang aku lakukan? Aku berdiri di dekat mereka untuk mengawasi dan mengantisipasi apabila ada anak yang main air dan sabun.

Wastafelnya siap dipakai


Sungguh, secara pribadi, aku mengucapkan terima kasih kepada PAMSIMAS karena sudah melirik SDku untuk mendapat jatah sumbangan kamar kecil dan wastafel. Ini sangat membantu kinerjaku sebagai guru. Terlebih lagi ini membuktikan bahwa pemerintah tidak main-main dalam menggarap negeri ini agar terbebas dari stunting.


Guru Berperan dalam Pencegahan Stunting Sejak Dini

Digugu lan ditiru, dipercaya dan dijadikan teladan, begitu kepanjangan dari guru dalam bahasa Jawa. Orang tua anak-anak di sekolah adalah aku, gurunya. Keberlangsungan hidup mereka selama di sekolah adalah tanggung jawabku. Oleh karena itu, aku memiliki andil cukup besar dalam membentuk kebiasaan hidup mereka ke depan.

Kamu pasti pernah mendengar atau mungkin mengalami sendiri.

"Anakku itu kalau yang memberi perintah gurunya mau menurut. Tapi, kalau dengan orang tuanya malah melawan."

Aku sering sekali mendapat pengaduan seperti di atas. Bahkan, aku sering dimintai tolong.

"Bu, Danu masih ngedot, tolong diberi tahu ya, Bu."

"Bu Ika, Afika tolong dinasihati kalau sekolah suruh bawa sepeda sendiri. Jangan minta dijemput terus. Kapan mandirinya?"

"Bu, Arif kalau di sekolah kok mau ya nulis. Tapi, kalau di rumah, suruh belajar susah. Tolong dinasihati ya, Bu."

Dan masih banyak lagi keluhan-keluhan orang tua muridku.

Kugunakanlah peran itu untuk menanamkan hal atau kebiasaan baik kepada anak didikku. Salah satunya adalah kebiasaan untuk CTPS. Apalagi CTPS ini juga masuk dalam materi pembelajaran pada Tema 1 Diriku, Sub Tema 3 Aku Merawat Tubuhku. Tak lupa kusampaikan juga kepada anak-anak tentang 5 waktu CTPS yang disarankan, diantarnya sebelum makan, sesudah buang air besar, sebelum memegang bayi, sesudah menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan.

Materi CTPS di buku siswa

Tepatnya dua minggu yang lalu, akhirnya wastafel di kelasku sudah bisa digunakan. Karena materi CTPS sudah berlalu, aku tinggal memberi penguatan saja akan pentingnya CTPS dengan menggunakan video yang aku download dari Youtube seperti berikut.




***

"Tadi kan baru selesai Jumat bersih (memungut sampah di lapangan), kalian tidak cuci tangan dulu sebelum makan bekal?!"

Tantangan yang kuhadapi adalah ketidak-disiplinan anak-anak. Aku sering marah-marah kalau ada anak yang lupa mencuci tangan sebelum makan bekalnya. Akan tetapi, aku sendiri pun sadar kalau ini adalah hal baru bagi mereka. Jadi, aku tak henti-hentinya untuk memberikan teladan kepada mereka dan tidak lelah untuk mengingatkannya.

Selain itu, sebagai guru, untuk menyukseskan CTPS di sekolah, aku harus memperhatikan betul kebutuhan untuk CTPS. Misalnya, menyediakan sabun untuk cuci tangan dan handuk/lap/tisu. Tidak lupa juga selalu mengingatkan tata cara CTPS yang benar.

Alhamdulillah, setelah dua minggu ada wastafel, kesadaran mereka untuk CTPS sudah lumayan. Tanpa disuruh, saat jam istirahat mereka sudah mencuci tangan. Bagusnya lagi, mereka tidak berebutan wastafel yang jumlahnya satu berbanding tiga puluh tiga.

Harapanku untuk CTPS di sekolah adalah anak-anak bisa membawa kebiasaan baik ini di keluarganya. Karena apabila kebiasaan itu terjadi juga di rumah, secara tidak langsung anak-anak menjadi tangan panjangku. Mereka akan mengedukasi anggota keluarganya yang lain untuk sadar akan pentingnya CTPS.

Tetap mendampingi anak-anak saat CTPS

Melalui tulisan ini, aku juga ingin mengajak guru di luar sana untuk ikut serta dalam mencegah stunting dengan membiasakan CTPS di sekolah. Kalau di sekolahmu sudah ada wastafel, gunakanlah dengan baik dan selalu beri perhatian khusus kepada anak-anak akan tata cara CTPS yang benar. Kalau sekolahmu belum ada wastafel, gunakanlah air yang ada, khususnya air mengalir dan sabun untuk CTPS. Karena keterbatasan materi dan media bukanlah penghalang bagi kita untuk berkontribusi membangun negeri ini agar lebih maju lagi ke depannya.

Yakinlah, kamu bisa kok membanggakan Indonesia hanya dengan CTPS!



Sumber bacaan:
*dilansir dari lifestyle.okezone.com
** dan *** www.mca-indonesia.go.id
http://new.pamsimas.org/media.php?module=detailberita&id=936&cated=11
http://www.ampl.or.id/program/program-nasional-penyediaan-air-minum-dan-sanitasi-berbasis-masyarakat-pamsimas-/2
https://lifestyle.okezone.com/read/2017/10/21/196/1799877/kebiasaan-mencuci-tangan-ternyata-membawa-dampak-positif-bagi-perkembangan-anak
http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20180918/3827958/kemenkes-utamakan-pencegahan-dan-perlindungan-kesehatan-bagi-generasi-penerus-bangsa/
http://www.depkes.go.id/article/view/18091700004/menkes-nila-moeloek-generasi-indonesia-jangan-stunting.html

Monday, 24 September 2018

Cara Mudah Menemukan Niche Blog

September 24, 2018 46
Cara Mudah Menemukan Niche Blog

*Tulisan ini dipersembahkan untuk bloger yang sudah lama ngeblog, tapi belum menemukan niche blog yang ‘gue banget’.*

“Kalau kamu kesulitan menemukan niche blog kamu, coba lihat di dasbor, artikel apa yang paling banyak dicari pengunjung?”

Aku lupa baca pernyataan itu di mana. Akan tetapi, karena pernyataan itu, aku jadi mikir, kenapa tidak dari dulu sadar akan hal ini?



Aku mulai sadar, semakin ke sini, waktuku untuk ngeblog makin berkurang. Kesibukan menjadi ibu rumah tangga sekaligus sebagai guru di suatu sekolah dasar negeri itu ternyata luar biasa. Maka, aku ingin sekali posting, artikelku itu bisa berkualitas, bisa menjawab pertanyaan pembaca, banyak yang mencari, dan memiliki pembaca yang loyal.

Untuk mewujudkan keinginan itu, salah satu hal yang harus kuperhatikan adalah perkara niche blog. Niche blogku saja tidak jelas. Ngakunya lifestyle blogger, tapi aku merasa kok nggak aku banget.

“Kalau ngeblog, biasanya menulis tentang apa?” tanya seseorang yang kusodori kartu namaku.

Setiap kali mendapat pertanyaan di atas, aku sering gelagapan mau menjawab apa. Ujung-ujungnya, aku menjawab, “Apapun kutulis, Kak.”

Kemudian diam, tidak ada obrolan selanjutnya.

Aneh, begitulah yang kurasakan.

***

Aku tidak menyebut kalau lifestyle bloger itu nggak bagus. Ini hanya perasaanku saja. Karena kenyataan di lapangan, banyak lifestyle bloger yang sukses di luar sana. Banyak jobnya, page view blog menjulang, dan sering menang lomba menulis.

Lagipula aku percaya, kalau kita fokus pada satu hal, hasilnya akan lebih maksimal daripada kita fokus ke banyak hal. Nah, aku ingin membuktikan hal itu untuk blogku ke depan. Tidak munafik, selain bertujuan untuk berbagi, aku juga ingin menghasilkan pundi-pundi uang agar bisa menyeimbangkan keuangan keluarga.

Sebut saja ini juga soal prinsip. Aku merasa kalau seandainya aku memilih suatu niche blog, blogku ini akan lebih dari sekarang. Akan tetapi, niche blog apa yang pas untuk blogku ini agar aku lebih mudah membranding diri. Agar suatu hari saat ditanya lagi, menulis tentang apa?, aku bisa menjawab dengan penuh percaya diri.

Akhirnya, tiga bulan terakhir ini, aku mulai membranding blog ini sebagai blog dengan niche yang lebih jelas, yaitu membahas tentang keseharianku sebagai guru SD dan ibu rumah tangga. Keputusan itu tentunya dengan perhitungan yang matang. Diantaranya;
  • Lima artikel di blog ini yang sering dicari berhubungan dengan tetek bengek ibu rumah tangga.
  • Banyak email, komentar, dan WA pembaca blog ini yang sering menanyakan artikel yang berhubungan dengan kesehatan ibu hamil dan busui. Ini masuk kategori pembaca yang loyal.
  • Memiliki keseharian sebagai guru tentu akan memudahkanku untuk mendapatkan ide untuk menulis. Tulislah sesuatu yang kita suka dan kita alami. Alhamdulillah, di blog ini ada lebih dari lima puluh postingan dengan label sekolah. Pengunjungnya juga lumayan, apalagi artikel yang berkaitan dengan calistung, hampir dua ribu yang membaca.

Ini penampakan page view via Google analytics

Ini penampakan page view via dasbor blog


Sebenarnya apa yang kupelajari ini bisa dibilang cukup telat. Karena di luar sana, bloger lain sudah banyak yang sadar akan pentingnya branding blognya. Tapi, tidak masalah, namanya belajar tidak ada kata terlambat. Kamu kalau belum menemukan niche blog yang pas, coba deh gunakan ilmu dari pernyataan di atas.

Apakah jalan untuk membranding blog yang membahas keseharian seorang guru dan ibu rumah tangga itu mulus-mulus saja? Tidak. Terutama soal tawaran job dan tema lomba blog.

Saat memutuskan untuk fokus pada satu niche saja, justru tawaran job datang bertubi-tubi. Kisarannya juga WOW. Hihihi. Sabar. Ini tantangan dari Allah. Dia ingin menguji, apakah aku kuat melewati tantangan ini? Atau apakah aku akan tergoda? Tidaklah. Aku juga berusaha untuk tidak memaksakan suatu tema untuk masuk ke nicheku. Terpenting, akan ada rezeki lewat cara yang lain. Bismillah.

Nah, untuk kamu yang saat ini sedang terjun ke dunia bloger dan menemukan tulisan ini, akan lebih baik kalau dari awal kamu sudah tahu mau membuat blog dengan niche tertentu. Selain itu, agar blog kamu lebih diperhitungkan oleh mesin pencari sekaligus pencari informasi/pembaca, jangan lupa untuk membeli domain, misalnya .com untuk blog kamu.

Ngomong-ngomong soal membeli domain blog, kamu bisa cek Niagahoster. Karena di sana tidak hanya penyedia domain yang terpercaya saja, melainkan juga terkenal sebagai penyedia tetek bengek web murah.

Kamu, iya, kamu? Sudah ketemu sama niche blog yang pas? Pilih jalan saja, dengan cara begini ya enjoy-enjoy saja? Nggak penasaran sama artikel apa yang sering diburu sama pembaca di bog kamu? Atau kamu punya cara tersendiri untuk menemukan niche yang kamu banget? Boleh dong share di komentar! 

Friday, 21 September 2018

30 Hari Produktif Menulis Buku dengan ASUS X555

September 21, 2018 43
30 Hari Produktif Menulis Buku dengan ASUS X555

“Guru yang kadaluarsa adalah guru yang berbicara. Sedang guru yang sesungguhnya, adalah guru yang mampu mentransformasikan ilmunya. Akan tetapi, guru yang luar biasa dan dapat diharapkan untuk memaju-hebatkan negeri ini, adalah guru yang berhasil menebarkan inspirasi. Dengan karyanya, dengan keteladanannya.”

Lenang Manggala,
Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia


Guru mana yang tidak ingin seperti pernyataan Lenang Manggala di atas? Membaca kata demi kata di atas saja sudah membuatku merinding. Aku ingin menjadi guru seperti itu. Sebenarnya banyak cara yang bisa kulakukan. Salah satunya adalah dengan menulis buku.

Sudah hampir delapan tahun aku terjun di dunia bloger. Kegiatan menulis sudah tidak asing lagi untukku. Menulis adalah makanan harianku. Tapi, kenapa belum menulis buku juga?

Sejujurnya, semenjak menjadi guru (empat tahun lalu) aku memiliki keinginan untuk menulis buku. Berkomunitas dengan bloger yang sekaligus berprofesi sebagai penulis sudah kulakukan. Tapi, tidak tahu kenapa, aku masih bingung harus mulai dari mana?

Insya Allah, bisa!
Sampai akhirnya, Agustus lalu aku nekat untuk mengikuti semacam pelatihan menulis buku yang disebut sagusabu (satu guru satu buku). Di pelatihan ini aku bertemu dengan 200 guru se-kabupaten yang punya mimpi sama, yaitu menulis buku.

Suasana pelatihan sagusabu

Aku merasa malu karena hampir 75% dari peserta sudah berusia di atas 40 tahun. Betapa mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menjadi seorang guru yang tidak kadaluarsa. Dari situ, niatku untuk menulis buku seperti mendapat jalan.

Apa yang kulakukan setelah mengikuti pelatihan sagusabu? Action!

Semua kumulai dari...


Banyak Membaca

Senjata untuk menulis buku, yaitu menulis, menulis, dan menulis. Kegiatan itu sudah setiap hari kulakukan. Persoalan tidak ada mood untuk menulis tak pernah ada dalam kamusku. Karena aku percaya mood menulis itu kita sendiri yang menciptakan, bukan keadaan atau orang lain.

Masalah lain muncul dari diriku sendiri, yaitu penguasaan kosa kata. Aku merasa diksi yang kupilih dalam setiap artikelku kok itu-itu terus. Aku harus membaca banyak buku lagi.

Percayalah, saat kita memiliki niat yang kuat, semesta akan mendukung. Selama ini aku tak pernah memiliki rencana investasi buku untuk kubaca sendiri. Menulis ya menulis saja. Bacaan yang kubaca seringnya postingan teman sesama bloger atau press release dari klien.

Sampai akhirnya, aku menceletuk di dalam hati, “Mulai sekarang, kalau ada job atau menang lomba menulis, aku harus beli buku dari 10% uang yang kudapat. Otak selalu diajak bekerja tapi tidak pernah diberi makanan yang bergizi.”

Apa yang terjadi? Semenjak celetukan itu, Allah ingin aku membuktikan apa yang kuceletukkan. Aku menang beberapa lomba menulis dan job mengalir begitu saja. Subhanallah. Percayalah, celetuk saja Allah kabulkan, apalagi doa yang kita panjatkan dengan bersungguh-sungguh.

Aku dan buku Ubah Lelah jadi Lillah

Kembali tentang buku. Sebagian uangku tadi kubelikan buku baik secara online maupun langsung datang ke toko buku. Buku baru atau bekas, semua kubeli asal masih bisa dibaca. Segala jenis buku kubaca, novel, cerita anak, sampai buku motivasi. Setiap hari kuluangkan waktu kisaran 30 menit untuk membaca baru kemudian menulis. Ternyata memang rasanya berbeda. Menulis seakan mengalir begitu saja.

Ada satu buku yang menurutku tepat sekali dengan keadaanku saat ini. Yaitu, aku sedang memperjuangkan sebuah mimpi, menulis buku. Dari buku yang berjudul Ubah Lelah jadi Lillah, kudapatkan langkah baru untuk lebih memudahkan mimpiku menulis buku bisa terwujud.



Membuat Goal yang Jelas; 30 Hari Menulis Buku

Ibarat orang yang sedang berpuasa ramadan, mereka rela untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu untuk sebuah goal. Yaitu, mendapatkan rahmat sampai janji surga dari Allah.

Apa goalku? 30 hari menulis buku. Agar goalku itu bisa kucapai dengan lebih semangat, yakin, dan mantab, goal itu harus lebih kuperjelas dengan rumus SMART yang kudapatkan dari buku Ubah Lelah jadi Lillah.


Rumus goalku sudah jelas, kutempelkan di beberapa tempat yang mudah kulihat. Terutama di buku catatanku yang sering kubawa ke manapun pergi. Kamu juga bisa mempraktikkan apa yang kulakukan di atas. Bismillah, insya Allah bisa!


Kukumpulkan Ide dan Merumuskannya

Pilihlah tema yang kita suka dan kuasai. Apalagi kalau kita sudah mengalami sendiri dan sebagai pemeran utamanya. Insya Alah itu akan mempermudah kita dalam menulis. Misalnya, aku seorang guru honorer. Aku bisa ambil tema tentang pengorbanan waktu.

Setelah itu menetapkan mau membuat buku genre apa? Ada banyak sekali genre buku, mulai dari buku mata pelajaran, buku pengayaan, buku referensi, buku TTS, novel fiksi, novel faksi, cerita anak, cerita rakyat, memoar, buku how to, dan sebagainya. Pilih salah satu dan sesuaikan dengan tema kita.


Kira-kira begini mind mapping bukuku

Genre buku sudah dipilih, langkah selanjutnya adalah membuat mind mapping. Mau terdiri dari berapa bab, per bab bahas apa, ada berapa cerita dalam setiap bab, dan minimal berapa halaman setiap cerita.

Berkaitan dengan ide menulis bukuku, sebagian kudapatkan dari blog ini. Banyak sekali cerita keseharianku sebagai guru di label sekolah. Tinggal kupilah-pilah cerita mana yang tepat kemudian kuedit sedemikian rupa agar tidak terdeteksi sebagai karya plagiarisme.

Saat menyusun untuk tiap cerita, langkah awal yang kulakukan adalah membuat outline. Outline itu biasanya berisi rumus 5W + 1H yang harus selalu muncul, kemudian ditambahkan kalimat hikmah. Setiap kali selesai menulis satu cerita, kututup terlebih dahulu, kemudian menulis lagi. Kegiatan editing kulakukan esok hari. Karena setiap kali penulis selesai menulis, dia masih emosional dan merasa tulisannya sudah sempurna. Padahal sudah diedit dua kali juga sering ada yang kelewatan ya? Hihihi. Ini pengalaman banget.


Ku-uninstall Beberapa Sosial Media

Ada yang sering kelupaan selanjutnya mau nulis apa setelah tergoda buka notifikasi sosial media? Kamu, iya juga? Berarti banyak temannya ya?

Selama aku menulis buku sampai hari ini, hari ke enam belas, aku sudah meng-uninstall aplikasi Twitter, Instagram, LinkedIn, Line dan Facebook. Awalnya seperti ada yang aneh. Kok HP ku sepi banget ya? Buka-buka HP nggak jelas padahal tidak ada notifikasi. Tapi, kalau ingat ada deadline buku, berusaha untuk mengalahkan perasaan aneh itu. Ternyata, enam belas hari tanpa sosial media, bisa.

Maxmanroe.com
Berhubung dapur harus tetap mengepul, salah satu sosial media harus kuaktifkan kembali karena kebutuhan job. Setelah selesai, ku-uninstall lagi. Hari-hariku terasa lebih produktif. Kamu mau coba juga?


Ceritakan dan Sampaikan Goal ini ke Orang lain

“Kalau kamu ingin segera selesai menulis buku, buatlah foto profil di sosial media, open order buku Jangan Mau Jadi Guru SD, hubungi nomor sekian-sekian,” kata salah satu narasumber di pelatihan sagusabu

Lucu? Awalnya aku juga tertawa terbahak-bahak bersama dengan peserta lain. Tapi, setelah mengalaminya sendiri, baru kutahu, ternyata cara itu sangat jitu.

Kuceritakan mimpiku untuk menulis buku ini kepada orang terdekatku, suami, beberapa teman sejawat, kenalan penulis, dan Bu Us (pembimbingku yang murah hati). Di saat aku jenuh, merasa lelah dan tidak sanggup untuk melanjutkan, mereka yang dengan senang hati mengejekku, “Cuma segini doang semangatmu? Malu-maluin.”

Percayalah, sadar tidak sadar, tangan-tangan Allah itu ada di mana-mana. Di saat menemui kesulitan, ada saja yang datang membantu dengan tangan terbuka. Terima kasih untuk Bu Us, Kak Kus, dan Kak Slam yang kurepotkan setiap kali menemui kendala dalam menulis buku ini.

Tak bisa bersua secara langsung, WA-pun jadi media konsultasi yang paling bermanfaat


Tantangan itu Pasti Ada

Saat kita memiliki suatu goal, tentu ada hal yang harus dilalui dan itu jadi hal baru bagi kita. Misalnya, aku sedang menulis buku. Tentu awalnya aku belum tahu prosesnya seperti apa, aku harus cari tahu itu. Pertama kali langkah yang harus ditempuh apa. Bagaimana cara membuat sinopsis buku yang menarik? Bagaimana teknik membuat cerita yang hanya 1000 kata tapi padat, enak dibaca, dan memiliki unsur humor? Kata pengantar buku yang beda dari yang lain itu seperti apa?, dan sebagainya.

Anggap semua pertanyaan di atas itu adaah sebuah tantangan. Agar bisa mencapai goal itu, kita harus melewati tantangan tersebut. Karena tantangan itu sebenarnya berguna untuk menguji kesiapan kita. Apakah kita benar-benar siap mendapatkan impian kita?

Sejauh ini aku justru merasakan tantangan itu seperti mengubah diriku dengan kebiasaan baru. Misalnya, lebih menghargai waktu, pintar membagi waktu, bangun dini hari, rajin membaca buku, bersilaturahmi dengan banyak orang, selalu berpikir positif, dan semangat berkarya dengan keterbatasan.



Action dengan ASUS X555

Hampir sebulan ini sering terjadi pemadaman listrik. Aku cukup sedih. Karena notebook ini tidak bisa nyala kalau tidak dialiri listrik. Langkah paling tepat yang bisa kuambil adalah membuka mind mapping, kemudian membuat draft tulisan baru di buku catatanku. Aku tidak ingin membuang waktu menulisku untuk kegiatan lain. Nanti saat listrik sudah menyala, aku langsung salin di notebook.

Manusiawi kalau aku juga pernah berandai-andai punya laptop baru. Apalagi saat ini siapa yang tidak butuh gadget yang satu ini? Notebook adalah senjata utamaku untuk menulis buku. Nggak mungkin juga aku nulis di buku dengan pulpen. Duh duh duh, bisa-bisa langsung ditolak editor. Karena notebook, pekerjaan lebih mudah dan cepat diselesaikan dengan modal ketik, geser, dan sentuh.

Tak muluk-muluk, untuk produktif menulis buku aku butuh notebook yang memiliki baterai tahan lama, ringan, tidak cepat panas, dan tentunya nyaman dipakai. Kriteria itu ada semua di notebook merek ASUS dengan tipe X555 series.



Belajar dari pengalaman notebookku saat ini yang bisa nyala kalau dicolokkan ke sumber listrik, tidak ada salahnya kalau aku mengidamkan notebook yang memiliki baterai tahan lama, bukan? Agar saat asyik dengan aliran ide yang meluncur begitu saja, aku tidak perlu khawatir dengan posisiku. Tak perlu sibuk cari colokan. Karena tahu sendiri kan, sering kali ide datang begitu saja. Sayang kalau tidak langsung ditangkap (diketik), sibuk cari colokan, eh, idenya menguap begitu saja.

Seberapa tahannya sih baterai dari ASUS X555 ini? ASUS X555 ini diklaim memiliki ketahanan baterai sampai dengan 2.5 kali lebih kuat dibandingkan baterai Li-Ion silinder lho? Bukankah notebook ini patut dimasukkan ke dalam list incaran dan disebut dalam doa?



Empat tahun lamanya aku menggendong tas ransel berisi notebook, charger, dan beberapa buku penting setiap kali ke sekolah. Berat yang harus kupikul setiap hari kisaran 8 kg. Aku memang sudah terbiasa dengan berat tersebut. Tapi, ada yang kutakutkan, apa kabar dengan punggungku kelak di usia senja?

Andai saja kalau ASUS X555 yang ada di dalam tasku. Paling berat kisaran 3 kg saja yang harus kupikul di dalam tas ranselku. Selain itu, ada banyak lagi barang-barang lain yang bisa masuk dan tentunya punggungku lebih bermakna kegunaannya.



Waktu yang bisa kugunakan menulis adalah saat selesai mengajar (sambil menunggu waktu pulang) dan dini hari sampai subuh tiba. Nah, masalah yang sering kualami adalah aku hanya meng-hibernate notebookku saja dengan alasan biar lebih cepat saat membuka naskah buku yang kutulis. Tak tahunya, hal itu membuat notebookku lebih panas.

Aku penasaran, saat melihat detail informasi dari notebook ASUS X555 disebutkan bahwa gadget ini menggunakan teknologi IceCool. Inovasi yang menarik karena dengan teknologi tersebut, temperatur notebook hanya kisaran 28 sampai dengan 35 derajat. Temperatur itu jelas di bawah suhu tubuh manusia dan tentunya membuat tangan kita lebih nyaman saat memakainya.



Dalam sehari kamu bisa berapa jam di depan notebook? Tenggang waktu kita memakai notebook itu ternyata berpengaruh pada kinerja jari dan mata kita saat mengetik. Notebook yang sekarang ini, jarak antara tuts keyboard satu dengan yang lainnya dekat sekali. Saat aku lihat desain keyboard ASUS X555, kok beda ya?

Keyboard ASUS X555 ini ternyata dirancang secara ergonomis dan membuat keyboard lebih responsif dan bekerja secara maksimal. Bahkan, keyboard ini sudah diuji coba lho. Hasilnya keyboard tahan banting kegunaannya hingga 10 juta pengetikan. Wow!

Selain itu, berprosesor AMD®Quadcore A10, ASUS X555 memiliki performa yang halus dan responsif. Didukung juga dengan teknologi ASUS Splendid, notebook ini menyajikan warna yang nyata tapi tetap nyaman di mata minusku. Ini sangat penting banget karena semakin betah di depan notebook, maka semakin cepat bukuku kelar. Aamiin ya Allah.

Bagaimana, ASUS X555 ini memang cocok kan untukku yang sedang terjun ke dunia menulis buku? Kubayangkan notebook ini ada di hadapanku dan jari-jariku menari dengan begitu lincahnya. Ah, pengeeeeen.

Oya, kabar baiknya, belum 30 hari, aku sudah menghasilkan satu buku lho. Buku pertamaku ini berupa antologi cerita dongeng yang akan diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah dan akan disebar luaskan ke sekolah-sekolah se-Jawa Tengah secara gratis. Walaupun buku kroyokan, tapi rasanya bahagia banget. Ini seperti pelecut semangatku untuk segera menyelesaikan buku kedua, buku soloku. Aamiin. Tolong bantu aamiinkan ya?

Bismillah, semoga 14 hari ke depan naskah bukuku sudah kelar. Dari 18 cerita sudah ada 10 cerita yang jadi dan semoga ada rezeki untuk punya ASUS X555. Apalagi sekarang ASUS X555 juga dijual di Tokopedia. Nggak perlu jauh-jauh ke Semarang untuk berburu notebook ini. Kalau kamu, dalam waktu dekat atau punya mimpi beli notebook nggak? ASUS yang tipe apa?